Uploaded by astamarsatria

PENERAPAN FITUR ARSITEKTUR INDUSTRIAL PADA RANCANGAN KEDAI KOPI DI KOTA BANDUNG STUDI KASUS : KEDAI KOPI CONTRAST JALAN ANGGREK NO.46

advertisement
STUDI MANDIRI
ARS-180810
LAPORAN AKHIR PENELITIAN
PENERAPAN FITUR ARSITEKTUR
INDUSTRIAL PADA RANCANGAN KEDAI
KOPI DI KOTA BANDUNG
STUDI KASUS : KEDAI KOPI CONTRAST JALAN
ANGGREK NO.46
NAMA : ASTAMAR SATRIA NUGRAHA
NPM : 2015420112
PEMBIMBING: IR. C. SUDIANTO ALY, M.T.
UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN
FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
Akreditasi Institusi Berdasarkan BAN Perguruan Tinggi No: 4339/SK/BANPT/Akred/PT/XI/2017 dan Akreditasi Program Studi Berdasarkan BAN Perguruan
Tinggi No: 429/SK/BAN-PT/Akred/S/XI/2014
BANDUNG
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke haditat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa karena
penulis dapat menyelesaikan laporan akhir penelitian arsitektur pada mata kuliah studi
mandiri ini. Laporan ini dibuat untuk memenuhi syarat tugas mata kuliah studi mandiri
serta sebagai laporan akhir dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani selama bulan
Maret hingga April 2019. Selama proses penulisan berlangsung, penulis mendapatkan
bimbingan, arahan, dukungan, dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu saya
berterimakasih kepada :
-
Dosen pembimbing, Bapak Ir.C.Sudianto Aly atas saran, pengarahan, dan
masukan mengenai substansi topik arsitektur modern, arsitektur industrial serta
mengenai tata cara penulisan karya ilmiah.
-
Orang tua dan saudara kandung yang selalu mengerti keadaan dan memberikan
dukungan baik secara materi, mental, dan spiritual untuk penulis agar dapat
berjuang dalam menyelesaikan proses studi di dalam kisaran semester akhir ini.
-
Sdr.Gumilang Dwi Bintana Wastuwidya mahasiswa magister arsitektur ITB, yang
juga pengusaha kedai kopi SAKATA , serta sebagai rekan penulis yang telah
memberikan banyak pendapat kritis mengenai persoalan desain arsitektur kedai
kopi.
-
Bpk. Dika Ramadhan selaku pemilik kedai kopi Contrast Coffee atas
kesediaannya dalam memberikan data penelitian
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam laporan penelitian ini. Oleh
karena itu, penulis selalu bersifat terbuka pada tiap kritik dan saran yang membangun
agar dapat terciptanya kajian yang lebih baik di masa mendatang.
Bandung, Februari 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………...ii
DAFTAR GAMBAR………………………………………………………………..iii
BAB I : PENDAHULUAN………………………………………………………….1
1. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang………………………………………………………………1
1.2.Identifikasi Masalah…………………………………………………………3
1.3.Pertanyaan Penelitian……………………………………………………….3
1.4.Tujuan dan Manfaat………………………………………………………...3
1.4.1. Tujuan Penelitian………………………………………………………..3
1.4.2. Manfaat Penelitian………………………………………………………4
1.5.Metodologi Penelitian……………………………………………………….4
1.5.1. Metoda Pengumpulan Data…………………………………………….4
1.5.2. Variabel Penelitian……………………………………………………...5
1.5.3. Teknik Analisis Data……………………………………………………6
1.6.Sistematika Pembahasan…………………………………………………....6
BAB II : KAJIAN PUSTAKA……………………………………………………….8
2. KAJIAN PUSTAKA
2.1.Pengantar Arsitektur Modern………………………………………………8
2.2.Arsitektur Industrial…………………………………………………………13
2.3.Fitur Arsitektur Industrial…………………………………………………..14
2.3.1. Elemen Arsitektur Sebagai Fitur Fisik………………………………….18
A. Elemen Tetap…………………………………………………………………18
B. Elemen Semi-Tetap…………………………………………………………...20
C. Elemen Non-Tetap…………………………………………………………….22
2.3.2. Pemikiran Arsitektur Sebagai Fitur Non-Fisik…………………………23
A. Penerapan Wujud Geometrik (Clean Disciplined Rectangles)……………..23
B. Susunan Rangka Terbuka (Stark of Exposed Framing)……………………24
C. Kejujuran Material (Honest Use of Material)……………………………….25
2.4.Tinjauan Umum Kedai Kopi………………………………………………….26
2.5.Sejarah Perkembangan Kedai Kopi………………………………………….27
BAB III : DATA OBJEK STUDI…………………………………………………….30
3. DATA OBJEK STUDI
3.1.Kedai Kopi Contrast…………………………………………………………..30
3.1.1. Lokasi Kedai Kopi Contrast………………………………………………30
3.1.2. Sejarah Kedai Kopi Contrast……………………………………………..31
3.1.3. Konsep Rancangan Arsitektur Kedai Kopi Contrast……………….......32
BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN………………………………………..34
4. ANALISIS
4.1.Penerapan Fitur Arsitektur Industrial pada Rancangan Kedai Kopi
Contrast………………………………………………………………………..34
4.1.1. Penerapan Fitur Fisik ditinjau berdasarkan Elemen Arsitekturnya….34
A. Penerapan pada Elemen Tetap……………………………………………….34
B. Penerapan pada Elemen Semi-Tetap………………………………………...47
C. Penerapan pada Elemen Non-Tetap…………………………………………49
4.1.2. Penerapan
Fitur
Non-Fisik
ditinjau
berdasarkan
Prinsip
Arsitekturnya...............................................................................................51
A. Penerapan Wujud Geometrik (Clean and Disciplined Rectangles)……….51
B. Susunan Rangka Terbuka (Stark of Exposed Framing)……………………52
C. Kejujuran Material (Honest Use of Material)……………………………….53
BAB V : KESIMPULAN……………………………………………………………...56
5. KESIMPULAN
5.1.Temuan dalam Penelitian……………………………………………………..56
5.2.Bagaimana Pengaruh Arsitektur Industrial pada Rancangan Kedai Kopi
Ditinjau dari segi Penerapan Fitur?.................................................................57
5.3.Saran…………………………………………………………………………...57
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………59
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH
Saya yang bertandatangan di bawah ini :
Nama
: Astamar Satria Nugraha
Pekerjaan
: Mahasiswa Sarjana (Strata-1) Program Studi Teknik Arsitektur
Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan Bandung
Nomor Pokok Mahasiswa
: 2015420112
Judul Karya Tulis Ilmiah
: PENERAPAN FITUR ARSITEKTUR INDUSTRIAL PADA
RANCANGAN KEDAI KOPI DI KOTA BANDUNG STUDI
KASUS : KEDAI KOPI CONTRAST JALAN ANGGREK NO.46
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan karya tulis ilmiah ini berdasarkan hasil penelitian
yang telah saya lakukan, olah pikir, dan pemaparan asli dari diri saya sendiri. Tidak ada bagian di
dalamnya yang merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiplakan atau
pengutipan dengan cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat
keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya
apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau
ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.
Bandung, Mei 2019
Yang membuat pernyataan,
Astamar Satria Nugraha
BAB I
PENDAHULUAN
1. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Arsitektur modern merupakan arsitektur yang mendunia, arsitektur yang
dengan pemikiran barunya terlepas dari cengkeraman sejarah. Penemuan mesin dan
teknologi industri menjadikan masyarakat dalam suatu peradaban dapat membuat
suatu karya atau produk yang sebelumnya belum dapat dilakukan pada masa
sebelum modern. Keunggulan dari arsitektur modern yaitu menjadi arsitektur yang
mudah, cepat, praktis, dan efisien.
Indonesia merupakan
salah satu
negara
yang terpengaruh oleh
perkembangan pemikiran arsitektur modern, salah satunya adalah arsitektur
industrial. Arsitektur industrial merupakan arsitektur yang berkembang pada masa
modern utamanya dilatarbelakangi oleh peristiwa revolusi industri. Arsitektur jenis
ini merupakan arsitektur yang berbeda dengan paham-paham arsitektur modern
lainnya. Arsitektur industrial dicirikan dengan perwujudan rancangan arsitektur
yang bergantung pada ketersediaan produk-produk industri, serta perwujudan
pensuasanaan ruangnya yang memiliki asosiasi dengan bangunan khusus industri
seperti bangunan pabrik.
Kini arsitektur industrial berkembang pula pada bangunan khusus industri
di Indonesia, namun berdasarkan fenomena yang terjadi di keseharian perwujudan
arsitektur industrial diduga tidak hanya nampak pada bangunan khusus industri,
namun juga nampak pada bangunan komersil. Bangunan komersil yang diduga
menerapkan arsitektur industrial pada rancangannya yaitu bangunan dengan fungsi
restorasi berupa kedai kopi. Mewabahnya gejala kekinian di masyarakat
kontemporer, menjadikan kedai-kedai kopi di Indonesia menerapkan rancangan
arsitektur yang juga dinilai kekinian, salah satunya adalah arsitektur industrial.
1
Gambar 1 : Fenomena Keseragaman Rancangan Arsitektur Kedai
Kopi di Kota Bandung
Sumber : Dokumen Pribadi
2
Berdasarkan pengalaman penulis berkunjung ke berbagai kedai kopi di Kota
Bandung, penulis melihat adanya fenomena keseragaman dari segi rancangan
arsitektur pada tiap-tiap kedai kopi yang telah dikunjungi. Setelah membaca buku
berjudul Buildings for Industry yang di dalamnya berisi mengenai arsitektur
industrial, penulis menduga adanya pengaruh arsitektur industrial yang diterapkan
pada rancangan arsitektur kedai kopi, sehingga hal tersebut menjadi pemicu dan
alasan untuk dilakukannya penelitian ini. Sebagai bahan analisa digunakan objek
studi berupa bangunan kedai kopi di Kota Bandung yang rancangannya diduga
dipengaruhi arsitektur industrial, serta sebagai bahan acuan digunakan buku
Buildings for Industry.
1.2.
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti melihat adanya suatu
permasalahan untuk diteliti, yaitu berupa dugaan berpengaruhnya arsitektur
industrial pada rancangan arsitektur bangunan kedai kopi. Berpengaruhnya
arsitektur industrial pada rancangan kedai kopi dapat ditinjau melalui fitur-fitur
yang diterapkan pada rancangan. Diharapkan dapat terjadinya suatu diskusi dan
kajian terkait arsitektur industrial dan arsitektur kedai kopi di masa mendatang.
1.3.
Pertanyaan Penelitian
Bagaimana pengaruh arsitektur industrial terhadap rancangan kedai kopi ditinjau
dari segi penerapan fitur ?
1.4.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian arsitektur ini mengacu pada rumusan masalah yaitu :
a. Untuk mengetahui dan memahami pengaruh arsitektur industrial pada
rancangan kedai kopi ditinjau dari segi penerapan fitur
b. Untuk menjadi bahan acuan penelitian lanjutan oleh peneliti lain dengan
topik arsitektur industrial maupun arsitektur kedai kopi
3
c. Untuk menambah wawasan serta ilmu pengetahuan arsitektur
khususnya pada kajian bangunan restorasi kedai kopi
1.4.2. Manfaat Penelitian
a. Penelitian ini diharapkan mampu menjelaskan fenomena keseragaman
rancangan arsitektur pada bangunan kedai kopi yang diduga dipengaruhi
pemikiran arsitektur industrial
b. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perencana, perancang,
dan pelaku konstruksi di Indonesia, sebagai salah satu bahan
pertimbangan ilmiah dalam proses perancangan bangunan dengan
fungsi restorasi kedai kopi
c. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat juga bagi para pembisnis,
pengusaha, dan entrepreneur yang terlibat dalam dunia bisnis kopi di
Indonesia,
sebagai
bahan
pertimbangan
sebelum
membuka,
mengadakan usaha, dan membangun bangunan kedai kopi.
d. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi akademisi arsitektur sebagai
landasan dalam perencanaan, dan perancangan, serta pengkajian lebih
lanjut mengenai arsitektur kedai kopi dan arsitektur industrial di masa
mendatang.
1.5.Metodologi Penelitian
1.5.1. Metoda Pengumpulan Data
Data-data yang akan diperlukan dalam menganalisis fitur arsitektur industrial
pada kedai kopi Contrast diperoleh melalu cara-cara sebagai berikut :
a. Wawancara
Teknik wawancara dilakukan langsung kepada sumber sekunder, yaitu pemilik
kedai kopi Contrast. Teknik ini berfungsi untuk memperoleh data yang
berhubungan dengan penelitian. Wawancara juga diharapkan dapat membantu
menggali motif-motif dan latar belakang pemikiran dibalik rancangan dari tiaptiap kedai kopi yang dijadikan objek studi.
4
b. Observasi , Pengukuran, dan Dokumentasi
Teknik observasi dilakukan secara langsung di lapangan untuk mengenal objek
studi lebih dalam, dan mengamati keadaan eksisting. Instrumen penelitian yang
digunakan sebagai alat pengukuran yaitu meteran bangunan , didukung oleh
ketersediaan dokumen digital yang berisi informasi mengenai ukuran blok-blok
bangunan dan tata Kota Bandung yang dikeluarkan oleh Dinas Tata Ruang.
Instrumen yang digunakan sebagai alat dokumentasi adalah kamera tablet iPad,
kamera telepon selular Samsung J2, pensil, tinta, dan buku sketsa, kemudian
laptop sebagai alat dokumentasi sekaligus alat rekonstruksi digital tiga dimensi
menggunakan program komputer SketchUp Pro 2018.
c. Studi Literatur
Studi Literatur dilakukan untuk memperoleh referensi data yang berkaitan
dengan objek penelitian berupa bangunan kedai kopi terutama berasal dari buku
berjudul Buildings for Industry. Dalam studi literature ini peneliti berusaha
memahami mengenai pengertian secara mendalam mengenai arsitektur
industrial, prinsip-prinsip arsitektur industrial, serta fitur arsitektur industrial,
kemudian penulis juga berusaha memahami mengenai sejarah kedai kopi,
budaya minum kopi, perkembangan kedai kopi, dan keberpengaruhan antara
arsitektur industrial dan arsitektur kedai kopi.
1.5.2. Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang akan diteliti yaitu mengenai fitur arsitektur industrial yang
berada pada sebuah kedai kopi, fitur tersebut terbagi dua , fitur fisik yaitu fitur yang
nampak dan dapat dilihat seperti elemen struktur, elemen pelingkup ruang, material
bangunan, fitur non fisik yaitu prinsip arsitektur industrial yang berada pada ranah
konseptual, keberadaanya dapat dirasakan melalui pengalaman ruang.
5
1.5.3. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dilakukan dengan cara mengurai data hasil observasi yang telah
didapatkan di lapangan dan direkonstruksi secara digital. Data hasil observasi akan
diuraikan secara deskriptif, dan kemudian dibandingkan dengan kajian literatur
arsitektur berupa prinsip arsitektur industrial serta penerapannya pada fitur.
Pandangan arsitek praktisi selaku ahli bidang ilmu arsitektur yang eksis pada masa
berkembangnya arsitektur industrial juga akan dianalisa bersama dengan kajian
literatur yang ada. Hasil dari proses diatas adalah sebuah kesimpulan yang
merupakan jawaban dari pertanyaan penelitian.
1.6.Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN
Bab pendahuluan merupakan pengantar dalam penulisan sebuah laporan penelitian
yang berisi mengenai penjelasan latar belakang penelitian, rumusan masalah
penelitian, pertanyaan penelitian, tujuan dan manfaat yang dilakukan, metodologi
penelitian, kerangka berpikir penelitian, dan sistematika pembahasan.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bab kajian pustaka berisi kajian yang diperoleh melalui teori-teori, pendapat para
ahli yang digunakan untuk mendasari penelitian ini. Teori yang dirumuskan akan
menjadi pembanding terhadap data-data objek yang diperoleh di lapangan untuk
kemudian dianalisa. Hal ini juga mendukung metodologi penelitian yang dilakukan,
yaitu analisis komparatif.
BAB III DATA OBJEK STUDI
Bab ini berisi data objek-objek yang dijadikan objek penelitian, yang didapat dari
berbagai sumber, yaitu melalui observasi dan pengukuran lapangan, wawancara
terhadap pemilik objek studi, serta studi literatur. Penjelasan objek tersebut antara
lain : data keseluruhan objek, lokasi objek, tatanan bentuk dan ruang, elemen fisik
ruang, serta sejarah dan latar belakang objek studi. Dilakukan pula pengukuran
langsung terhadap objek untuk memperoleh data berupa gambar kerja arsitektural
6
dan representasi tiga dimensi yang diperlukan dalam analisa. Pada bab ini juga
dilengkapi data berupa foto-foto serta gambar-gambar teknikal arsitektural yang
berkaitan dengan objek penelitian.
BAB IV ANALISIS
Bab ini berisi analisis dari perbandingan antara data-data yang terkumpul dengan
teori utama yang terdapat pada bab kajian pustaka. Metoda analisa menggunakan
metoda analisa komparatif. Teori pendukung digunakan untuk memperkaya dan
memperjelas analisa yang dilakukan.
BAB V KESIMPULAN
Pada bab ini terdapat jawaban dari rumusan masalah yang ada pada bab
pendahuluan. Selain itu akan disertakan juga temuan, yaitu beberapa hal yang
mendukung kesimpulan penelitian namun tidak termasuk dalam ruang lingkup
pembahasan.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2. KAJIAN PUSTAKA
2.1.Pengantar Arsitektur Modern
Gambar 2 : Diagram Periodisasi Arsitektur
Arsitektur modern merupakan arsitektur yang lahir pada akhir abad ke-18
akibat terjadinya peristiwa revolusi industri dan kebangkitan demokrasi pasca
perang dunia ke 2, peristiwa tersebut memacu terbentuknya modern age atau zaman
modern. Menurut Reyner Bernham dalam bukunya berjudul Guide to Modern
Architecture, arsitektur modern merupakan arsitektur jenis baru, arsitektur yang
kekinian, ‘up to date’ dan tidak ketinggalan zaman. (Banham, 1962)
Gambar 3 : Pionir dan Tokoh Penting Arsitektur Modern, Kiri : Le Corbusier, Kanan :
Ludwig Mies van der Rohe
Sumber : www.archdaily.com
Dalam arsitektur modern terdapat beberapa pemikiran arsitektur yang
berkembang dan menyebar ke seluruh dunia, mulai dari prinsip-prinsip
perancangan baru, manifesto rancangan, serta langgam-langgam arsitektur.
8
Langgam arsitektur internasional atau international style merupakan salah satu
yang menandai perkembangan arsitektur modern. Langgam arsitektur internasional
menekankan prinsip universal pada tiap-tiap rancangan tanpa harus terikat pada
kontekstualitasnya, arsitektur minimalisme menekankan pada penerapan ekspresi
desain ‘less is more’ yang berarti kesederhanaan merupakan suatu kelebihan,
sedang pada arsitektur industrial menekankan pada pemikiran bahwa ‘arsitektur
adalah sebuah mesin untuk ditinggali’ dan menjunjung tinggi nilai efisiensi.
Langgam
arsitektur
internasional
atau
international
style
mulai
diperkenalkan dan di inisiasi oleh arsitek berdwikewarganegaraan Swiss-Perancis
bernama Charles Edouar Jeanneret atau dalam karirnya lebih dikenal sebagai Le
Corbusier. Arsitek Le Corbusier sebagai salah satu pionir arsitektur modern
berpendapat bahwa arsitektur haruslah menjadi fungsional, murni, serta bebas dari
dekorasi dan ornamentasi yang berasosiasi terhadap sejarah. (Corbusier, 1920) Le
Corbusier menerapkan
pemikirannya tersebut
pada beberapa rancangan
arsitekturnya yang dibangun di beberapa kota di Perancis.
Salah satu rancangan Arsitek Le Corbusier berada di daerah Poissy, di
pinggiran kota Paris bernama Villa Savoye. Villa Savoye merupakan sebuah
bangunan yang berfungsi sebagai rumah peristirahatan sementara atau villa. Le
Corbusier sebagai arsitek dari Villa Savoye serta sebagai pionir arsitektur modern,
mencoba menerapkan fitur arsitektur khas dirinya pada rancangan, fitur arsitektur
tersebut merupakan sebuah manifesto rancangan yang bernama Lima Poin
Arsitektur Baru atau Five Points of Architecture. Manifesto rancangan ini ditulis
oleh Le Corbusier dalam jurnal L’Esprit Nouveau dan di dalam bukunya yang
berjudul Toward an Architecture. Lima Poin Arsitektur Baru berisikan poin-poin
sebagai berikut :
1. Pilotis, yaitu penggantian dinding pemikul dengan kolom-kolom berbahan
beton bertulang dengan dikomposisikan sesuai dengan tatanan grid, kolomkolom menjadi elemen arsitektur yang berfungsi sebagai penyalur beban
utama pada bangunan, serta ekspresi bentuknya menjadi dasar dari estetika
baru
9
2. The free designing of the ground floor plan, perancangan lantai dasar yang
bersifat bebas, bebas disini berarti lantai dasar terbebas dari keberadaan
dinding pemikul beban, dan menjadi sangat fleksibel secara fungsi karena
elemen pembatas ruang seperti dinding hanya bersifat mengisi.
3. The free design of the façade, perancangan tampak atau fasad yang bersifat
bebas, bebas disini berarti bahwa tampak bangunan tidak menunjukkan
fungsinya sebagai struktur,
4. Ribbon Window, jendela menerus secara horizontal, yang juga merupakan
efek dari perancangan tampak yang bersifat bebas. Jendela horizontal
menerus secara fisika bangunan dapat memberikan pencahayaan alami yang
cukup bagi bangunan, kemudian secara filosofis Le Corbusier menerapkan
jendela horizontal agar terlepas dari hantu-hantu sejarah (evil historism)
5. Roof Garden, penerapan taman yang diletakkan pada atap bangunan dengan
permukaan datar, yang berfungsi sebagai langkah penghijauan domestik,
dan memberikan solusi penguatan material beton bertulang.
Gambar 4 : kiri : Weissenhofmuseum di Stuttgart, Jerman ; kanan : Villa Savoye karya Le
Corbusier
Sumber : archdaily.com
Penerapan prinsip Lima Poin Arsitektur Baru tersebut menjadikan
rancangan Le Corbusier mendunia dan kemudian dikenal sebagai langgam
arsitektur internasional atau international style.
Pemikiran arsitektur modern lain yang berkembang yaitu arsitektur
minimalis, dikembangkan oleh arsitek berdwikewarganegaraan Jerman-Amerika
bernama Maria Ludwig Michael Mies atau dalam karirnya dikenal sebagai Ludwig
Mies van der Rohe. Arsitektur minimalis berkembang pada akhir tahun 1980 di
10
New York, Amerika Serikat dan di London, Inggris. Arsitektur ini didalamnya
berisikan pemikiran bahwa sebuah karya arsitektur haruslah merupakan bentukbentuk yang memiliki kesan bersih dan rapi, terhindar dari pengadaan bentukbentuk volumetrik tiga dimensi, namun perwujudan ruang dilakukan melalui
susunan bidang-bidang datar dengan diberi pencahayaan alami agar menciptakan
suasana elegan. Ludwig Mies van der Rohe menyatakan hal ini sebagai ekspresi
estetika ‘less is more’.
Gambar 5 : kiri : Barcelona Pavillion, Barcelona, Spanyol ; kanan : Farnsworth House, Illinois,
Amerika Serikat , arsitektur minimalis karya Ludwig Mies van der Rohe
Sumber : en.wikipedia.com/minimalist-architecture
Pemikiran lainnya yaitu arsitektur industrial, arsitektur ini berkembang
karena terjadinya beberapa peristiwa. Peristiwa kebangkitan demokrasi dimana
negara-negara di Eropa Barat mulai terbebas dari Perang Dunia II dan mulai
membenahi negaranya masing-masing, dalam rangka pembangunan ulang negaranegara tersebut pemerintah membutuhkan pemikiran arsitektur yang dapat
memberikan
kemudahan,
kecepatan
pembangunan,
serta
efisien
dalam
pembiayaan, kemudian peristiwa kedua yang melatarbelakangi berkembangnya
arsitektur industrial yaitu revolusi industri, dimana peradaban masyarakat di
negara-negara Eropa mulai menggunakan teknologi automasi berupa mesin dalam
pembuatan produk-produk industrinya. Arsitektur berkembang dari segi
ketersediaan material bangunan jenis baru yang belum ada sebelumnya seperti
material berdimensi modular, penggunaan material jenis baru tersebut memberikan
keuntungan bagi proyek arsitektur yaitu kemudahan, kecepatan, serta efisiensi
biaya. Arsitektur industrial pada masa itu belum dikenal sebagai langgam atau
11
pemikiran, melainkan arsitektur yang diperuntukkan bagi bangunan industri seperti
pabrik, sehingga rancangan yang dihasilkan memiliki pensuasanaan ruang seperti
layaknya bangunan industri atau pabrik.
Jeremy Till dan Sarah Wigglesworth, arsitek berkebangsaan Inggris dalam
(Prajawati & Fuad, 2013) mengatakan bahwa dalam arsitektur modern antara image
dan realitas terlihat kabur, arsitektur modern terkait dengan bentuk (form),
penggayaan atau langgam (style), dan teknologi. Teknologi membawa keseragaman
rancangan yang terpengaruh oleh budaya industri, di dalamnya terdapat suatu
standar yang telah dianggap ideal oleh para penguasa. (Prajawati & Fuad, 2013)
Keseragaman ini dihadirkan dengan image dan disebarluaskan dengan paksaan dan
bujukan seperti iklan, politik, dan juga gaya hidup yang seolah memberikan tanda
kebahagiaan, kepuasan, dan kesejahteraan.
Arsitektur modern tidak lain dan tidak bukan merupakan suatu periode
dalam perjalanan waktu arsitektur dimana pemikiran arsitektur berkembang akibat
masyarakat berada dalam situasi pasca peperangan, dimana pemerintah
memerlukan pemikiran baru dalam rangka mempercepat pembangunan peradaban
negara-negara, kemudian merupakan imbas dari penemuan teknologi automasi
berupa mesin yang mengakibatkan barang-barang industri dapat diproduksi secara
massal, serta arsitektur modern merupakan upaya masyarakat dalam mengkritik
kekurangan sejarahnya masing-masing pada masa lampau.
Secara garis besar arsitektur modern menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut,
dimana prinsip-prinsip berikut diperoleh dari berbagai pemikiran arsitek-arsitek
kenamaan pada masa modern, manifesto rancangan, paham-paham, serta ekspresiekspresi estetika.
1. Penyederhanaan bentuk (simplicity of form) yang sejalan dengan ekspresi
‘less is more’,berarti kesederhanaan merupakan kelebihan, dikemukakan
oleh Arsitek Ludwig Mies van der Rohe. Juga sejalan dengan ‘Form
Follows Function’ dimana bentuk ruang arsitektur haruslah menjadi
fungsional, tanpa ruang terbuang, dan tanpa dekorasi.
12
2. Pengeliminasian Ornamen ( Elimination of Ornament ) yang sejalan dengan
ekspresi ‘Ornament is Crime’, berarti penggunaan ornament adalah tindak
kriminal, dikemukakan oleh Arsitek Adolf Loos.
3. Arsitektur adalah mesin untuk ditinggali, sejalan dengan ‘A House is a
Machine to Live In’ dikemukakan oleh Arsitek Le Corbusier, dimana ia
menyadari arsitektur harus memenuhi permintaan zaman mesin (machine
age)
2.2.Arsitektur Industrial
Arsitektur industrial merupakan salah satu pemikiran yang berkembang
pada masa modern. Pemikiran ini lahir utamanya karena dipengaruhi oleh peristiwa
revolusi industri di Inggris yang mengakibatkan perubahan signifikan pada sektor
ekonomi. Pemikiran ini juga dipengaruhi oleh pembangunan infrastruktur di
negara-negara Eropa, salah satunya pengadaan kawasan industri seperti
pembangunan pabrik. Istilah ‘industrial architecture’ mulai muncul, ditaruhnya
perhatian besar secara arsitektural pada bangunan yang fungsinya diperuntukkan
bagi Industri seperti bangunan pabrik, gudang, dan pusat pengolahan. Arsitektur
industrial pada masa itu belum dipahami sebagai pemikiran, langgam, atau trend,
melainkan sebagai kajian arsitektur khusus bangunan industri.
Dalam buku berjudul Buildings for Industry, Arsitek kenamaan Amerika
Serikat Irving E. Graham yang merupakan arsitek pada masa berkembangnya
industri, menjelaskan pengertian bahwa arsitektur industrial kontemporer
merupakan arsitektur yang dicirikan oleh integrasi antara rancangan arsitektur
dengan keseluruhan produk-produk keteknikan, industri modern menyadari bahwa
bangunan merupakan bagian penting dari proses operasi produktif dan merupakan
faktor besar kekuatan distribusi. (Architectural Record, 1957)
Berdasarkan pengertian diatas dapat diuraikan bahwa arsitektur industrial
merupakan arsitektur yang mengintegrasikan rancangannya dengan produk-produk
keteknikan, yang didalamnya juga mengacu pada produk-produk industri. Produk
industri dapat berupa perabot atau furnitur, dan material bangunan hasil industri,
kemudian dunia industri menyadari pentingnya arsitektur sebagai kekuatan
13
industri, yaitu sebagai wadah untuk menyebarluaskan pengaruh, iklan, dan sebagai
tempat pajang (showcase) dari produk-produk industri, sehingga menjadi ajang
kompetisi distribusi.
Arsitektur industrial penerapannya berkembang tidak hanya pada bangunan
yang diperuntukkan bagi industri seperti pabrik dan pusat pengolahan, namun juga
mulai diterapkan pada bangunan dengan fungsi komersil seperti kantor, restoran,
dan hunian.
2.3.Fitur Arsitektur Industrial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fitur memiliki arti dalam kelas
nomina atau kata benda sehingga fitur dapat menyatakan nama dari seseorang,
tempat, benda, atau segala sesuatu yang dibendakan, fitur juga berarti karakteristik
yang terdapat pada sesuatu (televisi, ponsel, dsb.). Fitur arsitektur industrial maka
dapat diartikan sebagai karakteristik yang terdapat pada arsitektur industrial.
Karakteristik arsitektur industrial yaitu ciri khas arsitektur industrial yang memiliki
keunikan dan tidak dapat ditemukan pada arsitektur non-industrial. Fitur dalam
arsitektur dapat ditinjau melalui keberadaan elemen arsitektur yang dapat dilihat
secara visual dan penerapan prinsip yang dapat dirasakan, serta dapat dimengerti
secara konseptual.
Gambar 6 : The R.Laidlow Lumber Company Office, Weston, Ontario, Kanada, 1871 Pentland
and Barker Architects
Sumber : Buku Building for Industry Halaman 86
14
Pentland and Barker Architects, sebuah firma arsitektur asal Kanada dalam
buku Buildings for Industry menjelaskan penerapan arsitektur industrial yang
berada pada rancangan bangunan kantor yang terletak di dekat pabrik pengolahan
kayu (wood processing plant), penjelasannya sebagai berikut :
“As for matter of appearance, “it was the owner’s wish to use the architect
word’s that the plant should be economical in cost and contemporary in
design, emphasizing the potential uses of wood, both as finish, and as a
structure. The entire plant was to be a showroom of those products sold
and manufactured by the company, but at the same time no special
matching or selection of materials other than those readily obtainable
from stock was permitted.”
The result is architecturally and philosophically interesting. The clean,
disciplined rectangles and the stark of exposed framing of this design are
those that today associates more naturally with metal construction. Here
it is executed in wood and timber.” (Architectural Record, 1957, p. 88)
Translasi ke Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut :
“Mengenai soal penampilan, “itu merupakan keinginan sang pemilik untuk
menerapkan nasihat dari arsitek bahwa pabrik haruslah ekonomis secara
pembiayaan dan kontemporer secara desain, menekankan potensi
penggunaan kayu, baik sebagai material finishing, maupun sebagai
material struktur. Seluruh pabrik akan menjadi ruang pamer dari produkproduk yang dijual dan diproduksi oleh perusahaan, tetapi pada saat yang
sama tidak ada proses pencocokan secara khusus selain menggunakan
bahan yang diperoleh dari stok yang diizinkan”
Hasilnya menarik baik secara arsitektural maupun filosofis. Penerapan
wujud geometrik yang disiplin, serta susunan rangka yang terbuka ini
merupakan yang sekarang diasosiasikan secara lebih alami dengan
konstruksi berbahan logam. Disinilah kemudian dieksekusi menggunakan
kayu alami dan kayu olahan.” (Architectural Record, 1957, p. 88)
15
Berdasarkan pemaparan diatas, fitur arsitektur industrial yang diterapkan
pada sebuah bangunan, dalam hal ini bangunan komersil berupa kantor terdiri atas
dua jenis fitur, pertama adalah fitur yang dapat dilihat secara fisik, dan kedua adalah
fitur yang tak dapat dilihat secara fisik atau fitur non-fisik. Fitur yang dapat dilihat
secara fisik merupakan elemen-elemen arsitektur yang melekat pada bangunan,
sedang fitur yang tak dapat dilihat secara fisik atau fitur non-fisik merupakan kesan
dan ekspresi keruangan yang berada pada tataran konseptual serta bersifat filosofis
dan hanya dapat hadir dengan cara dirasakan melalui pengalaman ruang. Fitur tak
terlihat tersebut tak lain merupakan hasil pemikiran arsitektur dari seorang arsitek
yang dapat berupa manifesto, prinsip, paham, ideologi perancangan yang
digunakan oleh arsitek sebagai pedoman dalam mewujudkan rancangan ruang
secara fisik.
2.3.1. Elemen arsitektur sebagai fitur fisik
Elemen arsitektur merupakan kumpulan elemen yang menyusun,
melingkupi, membatasi, dan mendifinisikan sebuah ruang. Menurut Francis D.K.
Ching dalam bukunya yang berjudul Arsitektur : Bentuk Ruang dan Tatanan,
elemen tersebut disebut elemen primer yang secara konseptual terdiri dari
kumpulan titik, garis, bidang, dan gempal atau volume. (Ching, 1979) Susunan
elemen primer tersebut kemudian terwujud dalam suatu entitas fisik berupa bidang
lantai, bidang dinding, bidang langit-langit yang kemudian menjadi elemen
pembatas ruang. Pengertian ruang berkaitan dengan disiplin ilmu arsitektur adalah
sebagai suatu area yang secara fisik dibatasi oleh tiga elemen pembatas ruang yaitu
lantai, dinding, dan langit-langit. Dalam hal berkaitan dengan arsitektur industrial,
elemen arsitektur industrial yaitu elemen pelingkup, atau pembatas ruang yang
tersusun dari produk-produk hasil industri. Berdasarkan sifat kedudukannya,
elemen arsitektur industrial tersebut dibagi menjadi tiga yaitu :
A. Elemen Tetap
Elemen tetap merupakan elemen arsitektur yang memiliki ketetapan
kedudukan pada sebuah ruang, dalam hal ini dapat diartikan sebagai elemen yang
16
memiliki fungsi utama sebagai penyusun ruang, dan kedudukannya tak dapat
diubah. Elemen penyusun ruang yang tak dapat diubah kedudukannya yaitu elemen
struktur. Elemen struktur yaitu terdiri dari :
a. Struktur Kolom dan Balok
Gambar 7 : kiri : Struktur Kolom Beton Bertulang finishing ekspos ; kanan :
Struktur Kolom dan Balok Baja Profil IWF
Sumber :
Gambar 8 : Struktur Kolom
dan Balok Baja Profil IWF
pada bangunan kantor
Sumber : Buku Buildings
for Industry halaman
Gambar 9 : Struktur Kolom Baja
Profil IWF pada bangunan
Kedai Kopi
Sumber :
17
Pada arsitektur industrial, penerapan struktur kolom dan balok berbeda
dengan bangunan publik pada umumnya, dimana kolom menggunakan material
beton bertulang, dengan diberi penyelesaian (finishing) cat dinding, pada arsitektur
industrial struktur kolom dan balok menggunakan material yang memiliki asosiasi
dengan dunia industri, dan yang dapat mendukung pensuasanaan ruang layaknya
bangunan industri seperti pabrik. Struktur kolom dan balok yang digunakan pada
bangunan industrial yaitu menggunakan material baja profil, material beton
bertulang, namun perbedaanya adalah struktur tersebut diberi penyelesaian secara
minimal atau tidak diberi penyelesaian secara total atau dibiarkan utuh.
b. Struktur Plat Lantai
Gambar 10 : kiri : Bagian Bawah Struktur Lantai Plat Beton Bertulang dengan Cetakan Metal
Deck ; kanan : Struktur Lantai Beton Ekspos Pada Ruang Interior Arsitektur Industrial
Sumber : www.tatasteelconstruction.com
www.buildingmaterials.com.my
Pada arsitektur industrial, struktur lantai memiliki perbedaan dengan
bangunan pada umumnya, struktur lantai menggunakan material beton bertulang
yang di cetak baik dengan bentuk sederhana, maupun dicetak diatas lempengan
metal deck, kemudian pada bagian bawah lantai tidak terdapat elemen plafon.
c. Struktur Tangga
Gambar 11 : Ragam Struktur Tangga Industrial
Sumber : www.houzz.com
18
Gambar 12 : Tangga Baja Arsitektur Industrial, Foto Oleh Hugh
Robertson-Panda
Sumber : Buku Buildings for Industry
Pada arsitektur industrial, struktur tangga merupakan elemen yang masih
dapat di eksplorasi, namun struktur tangga yang digunakan tidak jauh dari
penggunaan material khas bangunan industri. Struktur tangga pada arsitektur
industrial umumnya menggunakan material baja profil, beton bertulang yang
diselesaikan secara minimal, atau dibiarkan utuh. Ditinjau dari elemen penyusun
tangganya, tangga industrial menggunakan baja profil sebagai struktur, kayu papan
atau lempengan besi sebagai step tangga, dan baja pipa sebagai railing.
19
d. Struktur Atap
Gambar 13 : Penerapan Penutup Atap Metal Roof disertai Struktur Atap Kuda-Kuda Baja pada
bangunan Industri
Sumber : Buku Buildings for Industry
Pada arsitektur industrial, struktur atap umumnya menggunakan material-material
hasil industri antara lain dengan sistem metal roof, atap polimer bergelombang, atap
asbes, namun tidak menggunakan material seperti bangunan umum seperti genting
tanah liat, bitumen, atau bahkan material tradisional seperti ijuk dan lainnya.
B. Elemen Semi Tetap
Elemen semi tetap merupakan elemen arsitektur yang memiliki ketetapan
kedudukan pada sebuah ruang, namun memiliki fleksibilitas dalam penggunaannya
karena kedudukannya masih dapat diubah, dalam hal ini elemen semi tetap dapat
diartikan sebagai elemen yang berfungsi sebagai pengisi ruang. Elemen pengisi
ruang yaitu :
20
a. Dinding dan Jendela
Gambar 14 : Struktur Dinding berupa Jendela
Kaca menggunakan material rangka besi hollow
Foto oleh Hugh Robertson-Panda
Sumber : Buku Buildings for Industry
Gambar 15 : Penerapan Dinding Rangka Kaca
Pada Ruang Kamar dengan konsep Industrial
Sumber : www.interiordesign.id
Pada arsitektur industrial, dinding bersifat sebagai pengisi ruang, sehingga
material yang digunakan pada dinding tidak bersifat sebagai material yang
menumpu beban. Dinding yang umum digunakan pada rancangan arsitektur
industrial yaitu dinding kaca dengan rangka besi hollow, dinding juga bersifat
sebagai jendela.
b. Pintu
Gambar 16 : Penerapan Pintu Rangka Kaca dengan konsep Industrial
Sumber : www.ebay.co.uk
21
Pintu merupakan elemen yang masih dapat dieksplorasi dalam rancangan
arsitektur industrial, namun seiring dengan penggunaan elemen dinding berupa
rangka besi dengan kaca, maka pintu yang menjadi switch antara ruang juga
menggunakan material yang sama.
C. Elemen Non-Tetap
Elemen non tetap merupakan elemen arsitektur yang tidak memiliki
ketetapan kedudukan pada sebuah ruang, elemen-elemen ini dapat berubah dan
dapat digerakkan. Elemen yang dapat digerakkan dan diubah yaitu elemen perabot.
Terkait dengan fungsinya sebagai kedai kopi, berikut elemen perabot yang
digunakan yaitu :
a. Coffeebar
Gambar 17 : Ragam Coffee bar dengan konsep Industrial. Kiri : Coffeebar dengan material beton
bertulang dan finishing ekspos ; kanan : Coffeebar dengan material kayu dan finishing flaming
Sumber : www.tripadvisor.com ; www.digsdigs.com
Coffeebar atau meja peracik kopi merupakan elemen penting dalam sebuah
rancangan kedai kopi, coffeebar dapat berupa sebuah perabot meja namun juga
dapat berupa konstruksi solid yang menyatu dengan struktur bangunan.
22
b. Meja dan Kursi
Gambar 18 : Perabot Meja dan Kursi Minum Kopi
Sumber : www.tripadvisor.com ; www.aliexpress.com
Perabot berupa meja dan kursi minum kopi merupakan elemen penting
dalam sebuah kedai kopi, dalam kaitannya dengan arsitektur industrial, meja dan
kursi harus merupakan sebuah produk industri.
2.3.2. Pemikiran arsitektur sebagai fitur non fisik
Imanuel Kant, berpendapat bahwa ruang bukanlah sebuah sesuatu yang
objektif atau nyata, tetapi merupakan sesuatu yang subyektif sebagai hasil pikiran
dan perasaan manusia. Pendapat Imanuel Kant tersebut menunjukkan bahwa
karakteristik dari arsitektur yang berupa ruang juga dapat merupakan hasil
pemikiran dan perasaan manusia. Pemikiran dalam hal terkait arsitektur industrial,
yaitu prinsip arsitektur industrial, prinsip yang dijadikan pedoman bagi arsitek
dalam merancang ruang, prinsip menuntun arsitek agar hasil rancangan dapat
memiliki kesan atau ekspresi sesuai yang diharapkan. Berikut adalah beberapa
prinsip penerapan arsitektur industrial :
A. Penerapan Wujud Geometrik Disiplin ( Clean and Disciplined
Rectangles )
Persegi panjang yang rapi dan disiplin merupakan kesan dan ekspresi ruang yang
memiliki sifat bersih (clean) dan rapi (discipline), dan diwujudkan pada elemen
arsitektur berupa bidang, dapat berupa bidang dinding, bidang, lantai, bidang langitlangit, dan bidang atap dengan menggunakan bentuk-bentuk dasar geometrik.
Ekspresi dan kesan rapi di indikasikan dengan ketiadaan pengolahan bentuk pada
23
sebuah bidang, sehingga bidang memiliki permukaan yang datar (flat), sedang
ekspresi dan kesan disiplin di indikasikan dengan keberadaan elemen garis lurus.
Prinsip ini juga terinfluensi dari arsitektur minimalisme yang juga berkembang
pada periode yang sama dengan arsitektur industrial.
B. Susunan Rangka Terbuka (Stark of Exposed Framing)
Gambar 19 : The R. Laidlaw Lumber
Company Office, Weston, Ontario,
Kanada, 1871, Pentland and Barker
Architects
Sumber : Buku Buildings for Industry
halaman 86
Gambar 20 : Rangka Terbuka pada Kedai
Kopi Contrast Bandung
Gambar 21 : Rangka Terbuka pada kedai kopi
Sejiwa Bandung
Susunan rangka yang terbuka telah menjadi salah satu fitur dari arsitektur
industri, hal tersebut merupakan suatu konsekuensi penggunaan sistem struktur
rangka kaku (rigid frames). Sistem struktur rangka kaku merupakan sistem struktur
yang terdiri dari penggunaan kolom dan balok, kolom berfungsi sebagai sarana
24
pemikul beban vertikal pada bangunan, sedang kolom sebagai pemikul beban
horizontal yang keseluruhannya berasal dari struktur lantai bangunan. Sistem
struktur rangka kaku dikomposisikan berdasarkan tatanan grid, tatanan grid tercipta
akibat penggunaan bentuk-bentuk sederhana dan bentuk yang bersifat geometrik.
Pada arsitektur industrial susunan struktur baik kolom dan balok disusun
berdasarkan komposisi tertentu, namun yang menjadi ciri yaitu sistem struktur
tersebut dibiarkan terbuka atau terekspos sehingga yang pada mulanya sistem
struktur bangunan terkesan bersembunyi, kini dibiarkan terlihat oleh pengguna
bangunan.
C. Kejujuran Material (Honest Use of Materials)
Arsitektur industrial ditandai dengan perkembangan teknologi automasi
berupa mesin, mesin dapat membuat produk industri diproduksi secara masal, salah
satu produk industri tersebut yaitu material bangunan. Material bangunan yang
banyak berkembang pada masa ini yaitu material baja, baja mulai populer
digunakan sebagai material struktur bangunan dikarenakan keuntungannya yaitu
lebih efisien dari segi pembiayaan dan dari segi waktu pembangunan serta memiliki
dimensi yang modular. Material baja mulanya digunakan pada bangunan industri,
namun seiring perkembangannya material ini mulai digunakan pada bangunan
komersil. Penerapan material baja pada bangunan komersil menjadikan bangunan
komersil tersebut memiliki kesan terekspos, kesan seperti bangunan industri,
namun pada masa ini baja dinilai memiliki nilai keindahan tersendiri akibat
kejujuran materialnya. Kejujuran material dapat diartikan sebagai penggunaan
material secara apa adanya tanpa diberi finishing apapun. Secara ekonomi
bangunan prinsip ini dapat berimbas pada efisiensi biaya akibat tidak perlunya
pengadaan material finishing. Pada masa kini prinsip kejujuran material juga tidak
hanya berada pada material baja, namun juga material lain seperti bata ekspos, hebel
ekspos, kayu ekspos, dan beton ekspos.
25
Gambar 22 : kiri : Ekspresi Material Bata Ekspos pada elemen dinding dan kanan;
Ekspresi Material Beton Ekspos finishing plester semen pada elemen lantai
Sumber : buildingmaterials.com.my
Gambar 23 : Ekspresi Kayu Ekspos dengan finishing flaming pada
elemen kolom di Kedai Kopi The Parlor Bandung
Sumber : Dokumen Pribadi
Gambar 24 : Ekspresi
Baja dengan finishing cat
besi warna hitam pada
elemen kolom
Sumber :
www.interiordesign.id
2.4.Tinjauan Umum Kedai Kopi
Kedai kopi adalah sebuah tempat berupa bangunan yang difungsikan
sebagai tempat menjual kopi, minuman kopi, serta tempat menikmati minuman
kopi, bangunan kedai kopi merupakan bagian dari fungsi restorasi atau restoran.
Kedai kopi atau coffeeshop adalah suatu jenis restoran yang dipandang sebagai
tempat yang mewakili gaya hidup serta kelas sosial sebagian dari masyarakat
perkotaan. Kedai kopi biasanya dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul dan
bersantai bersama teman, rekan, kolega, dan keluarga di akhir pecan atau
26
sekedar untuk melepas kepenatan dan rutinitas sehari-hari. Kalangan eksekutif
dan professional umumnya memanfaatkan tempat ini sebagai sarana alternatif
untuk menjalin hubungan bisnis serta menjamu rekan bisnis dalam pertemuan
yang bersifat santai dan informal. (Torsina, 2000)
2.5.Sejarah Perkembangan Kedai Kopi
Kedai kopi bermunculan dalam berbagai waktu dan di seluruh dunia,
selepas tempat asalnya yaitu di Timur Tengah. Kedai kopi pertama telah
terlacak yaitu ditemukan sekitar 500 tahun yang lalu, dan dipercaya bahwa
dibawa oleh bangsa Arab. (Oldenburg, 1989) Melalui perdagangan, bangsa
Eropa mulai mengadopsi tempat-tempat seperti ini. Kedai kopi Inggris pertama
muncul pada abad ke-17 dan dijuluki sebagai “Penny House” karena mengacu
pada harga kopi yang mahal pada saat itu. Penny House mewabah ke seluruh
tempat sebagai alternatif dari keberadaan Pub atau Bar yang memiliki pengaruh
cukup buruk terhadap lingkungan. Di Inggris ada sebuah kata-kata dalam
sebuah novel popular masyarakat yang bercerita sebagai berikut,
“By the end of the century, any man in London could easily find a coffee
house. He needed only to follow his nose down to the nearest street level”.
(Desai, 2001)
“Di akhir abad, semua orang di London akan sangat mudah menemukan
kedai kopi. Dia hanya perlu untuk sedikit menundukkan hidung dan
mengikuti tingkatan jalan terdekat”. (Desai, 2001)
Kedai kopi mulai berkembang menjadi sebuah gerobak-gerobak dagangan
di penjuru Eropa. Seiring waktu, kedai kopi kemudian naik menjadi sebuah
institusi urban. (C Grafe, 2007) Perkembangan kedai kopi menjadi sangat banyak
di Eropa terutama pasca Perang Dunia II. Walau begitu, kedai kopi Eropa telah
berhasil mengambil tempat sebagai kultur penting dan menyebar ke seluruh dunia.
Perkembangan kedai kopi merupakan pengaruh dari perkembangan budaya
minum kopi. Eka Saputra (2008) mengatakan bahwa perkembangan budaya minum
kopi dipengaruhi oleh beberapa peristiwa antara lain penemuan teknologi
27
pembuatan kopi instan, kemudian kemunculan perusahaan kopi multinasional
Starbucks di Amerika Serikat, dan penemuan para ilmuwan berupa mesin espresso
yang digunakan untuk menghasilkan sari kopi. Mesin espresso ditemukan di Italia
pada tahun 1946. Kemudian mesin tersebut berkembang di negara-negara Eropa
termasuk negara Perancis yang sangat terkenal dengan kedai kopinya dengan istilah
‘café’ yang berarti kopi.
Howard Schultz, pemilik Starbucks melakukan perjalanan ke Italia,
kemudian ia sangat terpikat dengan coffeebar disana yang memiliki suasana penuh
romansa dalam pengalaman menikmati secangkir kopi, sepulang dari Italia Howard
Schultz mencoba membawa konsep-konsep kedai kopi yang ada di Italia antara lain
konsep coffeebar. Ia ingin kedai kopi di Amerika Serikat dapat menjadi ruang
berkumpul bagi komunitas urban dan para intelek perkotaan. Setelah
perkembangannya di Amerika Serikat kemudian kedai kopi menjadi tempat ketiga
(third place) antara tempat tinggal (living place) dan tempat bekerja (working
place). Sebagai third place kedai kopi dituntut untuk bersifat netral, artinya dapat
menerima pengguna dari golongan apapun, sehingga pensuasanaan ruangnya pun
dituntut untuk memiliki sifat ‘welcome’ terhadap pengunjung.
Hadirnya Starbucks di Indonesia pada sebuah mall di Jakarta bernama Mall
Plaza Indonesia yang mulai beroperasi pada tanggal 17 Mei 2002 menjadi salah
satu tonggak budaya minum kopi dan perkembangan kedai kopi di Indonesia.
Budaya minum kopi masyarakat Indonesia tidak lagi hanya sekedari di ‘warung
kopi’ atau ‘warkop’ namun menjadi memiliki kesan eksklusif. Meminum kopi di
kedai kopi seperti Starbucks menjadi sebuah gaya hidup masyarakat perkotaan.
Terkait dengan arsitekturnya, keberadaan kedai kopi Starbucks di Indonesia yang
sangat dipengaruhi oleh arsitektur industrial membuat Kedai kopi di Indonesia juga
mengikuti rancangan yang hampir sama.
Kesuksesan sebuah kedai kopi dalam beberapa waktu dapat dilihat dari
pengaruhnya terhadap sosial dan telah dianggap menjadi sebuah nilai budaya.
Penny House di Inggris mulai menjadi tempat berkumpul masyarakat intelektual
dan digunakan oleh anggota masyarakat untuk mendiskusikan hal-hal penting serta
28
hubungan sosial masyarakatnya. Pada waktu ini, hirarki dan kelas sosial mulai
bermunculan, Penny House menawarkan ruang yang menyediakan kesetaraan kelas
sosial bagi tiap individunya. Para masyarakat kelas menengah kebawah mulai
dihargai dan disetarakan statusnya dengan keberadaan kedai kopi. Ruang-ruang
yang terorganisir ini membuat pelanggan menjadi nyaman dana man. Kedai kopi
pertama di Eropa menawarkan tempat berkumpul bagi komunitas, para pengkaji
politik, seni, dan para pemikir kesetaraan.
Ketika kedai kopi di masa modern ini tidak lebih terstruktur seperti pada
abad ke-17, salah satu keberadaan kedai kopi di Inggris yang dijuluki Penny House
memegang peranan penting dalam tiap-tiap kedai kopi pada masa kini. Orang
menggunakan ruang ini sebagai tempat menghabiskan waktu bersama rekan,
kerabat, dan kolega serta bertemu orang baru, bahkan beberapa masyarakat
bergantung pada keberadaan kedai kopi sebagai tempat melewati hari-harinya.
Kedai kopi kini telah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat modern dan
memiliki fungsi sosial di dalamnya.
29
BAB III
DATA OBJEK STUDI
3. KEDAI KOPI
3.1.Kedai Kopi Contrast
3.1.1. Lokasi Kedai Kopi Contrast
Kedai kopi Contrast atau dengan nama usaha Contrast Coffee merupakan
sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan Anggrek nomor 46 Kota Bandung. Kedai
kopi ini dimiliki oleh Sdr.Dika Ramadhan, seorang pengusaha dan purna peracik
kopi atau seringkali disebut barista.
Gambar 25 : Lokasi Kedai Kopi Contrast di Jalan
Anggrek No.46, ditinjau dari peta Kota Bandung
Sumber : Dokumen Pribadi
Gambar 26 : Suasana Depan Kedai Kopi Contrast
Sumber : Dokumen Pribadi
30
3.1.2. Sejarah Kedai Kopi Contrast
Berdasarkan wawancara kepada Sdr.Dika Ramadhan selaku pemilik kedai
kopi Contrast pada tanggal 18 April 2019, dengan pertanyaan “Bagaimana Sejarah
Kedai Kopi Contrast ?”, berikut merupakan jawaban dari narasumber yang disusun
kembali oleh penulis :
Sejarah dimulainya kedai kopi Contrast berawal dari kecintaan Sdr.Dika
kepada kopi, hal tersebut merupakan penularan dari kedua orang tuanya yang
sangat suka kopi. Selama perjalanan hidupnya sebelum membangun usaha kedai
kopi Sdr.Dika adalah mahasiswa jurusan hukum di universitas swasta di Bandung,
yang kemudian berpindah ke sekolah tinggi pariwisata. Sdr.Dika mulai menemukan
bakatnya dalam meracik kopi pada setelah berpindah ke STP, kemudian beliau
memulai mencari pengalaman untuk berkeliling kedai kopi di Bandung untuk
sekedar menikmati minuman kopi. Seiring berjalannya waktu Sdr.Dika mulai
menyadari bahwa bakatnya dalam meracik minuman kopi tidak boleh di sia-sia kan,
kemudian ia mulai berpikir untuk memulai bisnis usaha kopi.
Sdr.Dika mulai melakukan perencanaan dan usaha awal dalam rangka
memulai bisnis kopi pada tahun 2010, ia memulainya dengan perlahan-lahan
membeli peralatan yang digunakan untuk meracik kopi, kemudian ia juga mulai
berkeliling di Kota Bandung, dan di Jakarta untuk menemukan kedai kopi yang
pantas untuk dijadikan referensi serta panutan sebelum ia mulai membangun. Saat
berkeliling kedai kopi di kedua kota, Sdr.Dika melihat adanya fenomena dalam
dunia bisnis kopi, dimana fenomena berikut menjadi beberapa aspek penting dalam
perencanaan usaha kedai kopi, antara lain

Market atau Kondisi Pasar ( Keberadaan Pelanggan )

Coffee Culture atau Budaya Minum Kopi

Rancangan Kedai Kopi yang menarik.
Sdr.Dika mengatakan bahwa kedai kopi yang memiliki daya tarik tinggi
harus memperhatikan ketiga aspek diatas. Selain itu Sdr.Dika juga menemukan
fenomena janggal dalam dunia bisnis kopi, yaitu adanya penggolongan market atau
31
penggolongan pasar terhadap pelanggan berdasarkan pada unsur identitas tertentu
yang melekat pada pelanggan. Beliau menemukan kedai-kedai kopi yang
diasosiasikan hanya kepada identitas tertentu dari suatu komunitas, contohnya
kedai kopi yang hanya diperuntukkan bagi anggota komunitas, kedai kopi yang
hanya layak didatangi oleh suatu ras tertentu dalam masyarakat, serta kedai kopi
yang menjadi pusat berkumpul golongan masyarakat tertentu.
Berdasarkan fenomena tersebut Sdr.Dika memiliki visi yaitu di kemudian hari ia
ingin memiliki kedai kopi yang memiliki keadaan jauh berbeda dengan fenomena
yang ia temui. Ia menginginkan kedai kopi seperti di Italia, dimana menurutnya di
Italia kedai kopi memiliki fungsi sosial, yaitu sebagai tempat bersosialisasi.
Menurutnya kedai kopi seharusnya menjadi alat untuk bersosialisasi namun dalam
bersosialisasi di kedai kopi pelanggan harus terbebas dari batasan-batasan tertentu
seperti ras, agama, keanggotaan komunitas, cara berpakaian. Kedai kopi yang ia
inginkan yaitu kedai kopi yang memiliki sifat ramah kepada semua golongan
masyarakat, tetap mengikuti perkembangan zaman, serta market pelanggan
utamanya adalah generasi muda yang senantiasa melakukan aktivitas produktif.
3.1.3. Konsep Rancangan Arsitektur Kedai Kopi Contrast
Berdasarkan hasil wawancara dengan Sdr.Dika Ramadhan selaku pemilik
kedai kopi Contrast pada tanggal 18 April 2019 dengan pertanyaan Apa Konsep
Rancangan Kedai Kopi Contrast dan Siapa Perancangnya ?, berikut merupakan
hasil wawancara yang ditulis kembali secara singkat oleh penulis :
Sdr.Dika menyewa jasa perancangan dari arsitek bernama Tjeo Boen Yeong
dan interior desainer bernama Amril Kunaefi. Konsep rancangan yang diusung
adalah menciptakan ruang dapat digunakan untuk bersosialisasi atau sociable
space, dengan beberapa ruang terbuka open space, dengan pendekatan arsitektur
industrial sebagai salah satu usaha menurunkan biaya pembangunan, serta
memenuhi selera atau trend di kalangan masyarakat kontemporer yang memiliki
sifat kekinian. Pemilihan arsitektur industrial ini menurutnya juga tidak hanya
berdasarkan selera masyarakat namun lebih kepada menciptakan pensuasanaan dan
32
pengalaman ruang yang baik saat meminum kopi, menurutnya saat seseorang
minum kopi, ia harus dapat menenangkan pikiran, merasa rileks, dan menemukan
siapa dirinya hal tersebut tentu harus didukung dengan pensuasanaan ruang yang
baik, dalam hal ini dengan warna-warna hangat yang memiliki kedekatan dengan
warna kopi.
33
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1.Penerapan Fitur Arsitektur Industrial pada Rancangan Kedai Kopi Contrast
4.1.1.
Penerapan Fitur Fisik ditinjau berdasarkan Elemen Arsitekturnya
A. Penerapan pada Elemen Tetap
a. Struktur Kolom dan Balok
Bangunan kedai kopi menggunakan sistem struktur rangka kaku (rigid
frames) sebagai sistem strukturnya maka dari itu sebagai konsekuensi penggunaan
sistem struktur rangka kaku, maka penyaluran beban bangunan baik beban vertikal
maupun beban horizontal disalurkan melalui elemen struktur berupa kolom dan
balok. Elemen kolom pada bangunan yaitu menggunakan kolom bermaterial beton
bertulang dengan ukuran penampang 20cm x 30cm sebagai struktur utama,
kemudian kolom bermaterial baja profil tipe IWF 180 sebagai struktur penyalur
beban lantai mezanin, dan kolom baja pipa berdiameter 8cm sebagai kolom
penyangga atap pada bagian teras.
Gambar 27 : Aksonometri 3D Struktur Kedai Kopi Contrast menunjukkan Struktur Kolom
Balok
34
r
KETERANGAN
LOKASI KOLOM
BETON BERTULANG
LOKASI KOLOM BAJA
IWF 180
LOKASI KOLOM BAJA
PIPA d 8cm
Gambar 28 : Denah Lantai Dasar Kedai Kopi Contrast
35
KETERANGAN
LOKASI KOLOM
BETON BERTULANG
LOKASI KOLOM BAJA
IWF 180
LOKASI KOLOM
BENTUK V BAJA
HOLLOW 8/12
Gambar 29 : Denah Lantai Mezanin Kedai Kopi Contrast
36
Jenis
Foto
Gambar
Gambar
Struktur
Lapangan
Rekonstruksi
Acuan Pada
Digital
Kajian
Kolom
dan Balok
Pustaka
Kolom
Tidak
Beton
Tersedia
Bertulang
dimensi
penampang
Keterangan
Penerapan
elemen kolom
bermaterial
beton bertulang
tidak sesuai
dengan acuan
pada buku
buildings for
Industry
20cm x
30cm
Kolom
Baja Profil
IWF 180
Sumber : buku
Buildings for
Penerapan
elemen kolom
bermaterial
baja profil IWF
pada rancangan
kedai kopi
memiliki
kemiripan
dengan
penerapan
kolom pada
bangunan
komersil di
buku Buildings
for Industry
Industry
Kolom
Baja Profil
Pipa d 8cm
Sumber : buku
Penerapan
elemen kolom
bermaterial
baja pipa pada
rancangan
kedai kopi
memiliki
kemiripan
dengan
penerapan pada
bangunan
Industri di buku
Buildings for
Industry
Buildings for
Industry
37
Kolom
Tidak
Baja Profil
Tersedia
Hollow
Bentuk V
8/12
Balok Baja
Profil IWF
Sumber : buku
Buildings for
Industry
Bila ditinjau
dari segi visual
penerapan
elemen kolom
baja profil
hollow pada
rancangan tidak
sesuai dengan
acuan gambar
pada buku
Buildings for
Industry,
namun
penggunaan
material baja
profil hollow
merupakan
salah satu ciri
metal
construction
yang juga
merupakan
fitur khas
arsitektur
industrial.
Penerapan
kolom
bermaterial
baja hollow
yang
dikombinasikan
dengan kolom
IWF
merupakan
variasi
rancangan.
Penerapan
elemen balok
bermaterial
baja pipa pada
rancangan
kedai kopi
memiliki
kemiripan
dengan
penerapan pada
bangunan
komersil di
buku Buildings
for Industry
38
Tabel 1 : Tabel Analisis Penerapan Fitur Fisik Elemen Struktur Kolom dan Balok di Kedai Kopi
Contrast
Berdasarkan tinjauan analisis, elemen struktur kolom dan balok pada
rancangan kedai kopi Contrast beberapa memiliki kemiripan dengan kolom-kolom
yang diterapkan pada rancangan bangunan Industri atau rancangan bangunan
komersial pada berkembangnya arsitektur industrial di dalam buku Buildings for
Industry. Secara garis besar elemen struktur kolom dan balok pada rancangan kedai
kopi Contrast didominasi oleh struktur dan konstruksi berbahan logam atau disebut
metal construction, hal tersebut memberikan indikasi adanya kesesuaian antara
rancangan dengan prinsip penerapan arsitektur industrial yang di dalamnya juga
terkait dengan keberadaan konstruksi berbahan logam atau metal construction.
b. Penerapan pada Struktur Plat Lantai
Elemen lantai pada lantai dasar bangunan menggunakan material beton
dengan diberi finishing plester semen ekspos, kemudian pada lantai mezanin
menggunakan plat lantai bermaterial beton bertulang yang dicetak pada metal deck,
dan diberi finishing pelapis lantai parket kayu.
Gambar 30 : Aksonometri 3D Struktur Menunjukkan Struktur Lantai
39
Struktur
Lantai
Foto Lapangan
Rekonstruksi
Gambar Acuan
Digital
pada kajian
Keterangan
pustaka
Beton
dengan
finishing
plester
semen
Penerapan
elemen lantai
bermaterial
beton dengan
finishing
plester semen
pada
rancangan
kedai kopi
memiliki
kemiripan
dengan
penerapan
pada
bangunan
komersil di
buku
Buildings for
Industry.
40
Penerapan
elemen lantai
plat beton
bertulang
dengan
cetakan metal
deck
memiliki
kesesuaian
dengan
gambar
acuan yang
berada pada
buku
Buildings for
Industry.
Beton
bertulang
dengan
cetakan
metal
deck dan
finishing
kayu
parket
Tabel 2 : Analisis Penerapan Fitur Fisik Elemen Struktur Lantai
Berdasarkan data yang diperoleh dan analisis, penerapan lantai beton
dengan finishing plester pada lantai dasar kedai kopi merupakan usaha perancang
dalam memenuhi permintaan klien agar terciptanya suatu efisiensi dari segi
pembiayaan pembangunan, karena dengan menggunakan finishing plester, pihak
pembangun tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk mengadakan material
finishing lantai seperti keramik dan sebagainya. Pada lantai mezanin, penerapan
material plat lantai beton bertulang dengan diberi cetakan metal deck merupakan
usaha perancang dalam memenuhi permintaan klien agar terwujudnya
pembangunan dalam waktu yang lebih cepat sehingga akan tercipta suatu efisiensi,
hal tersebut dapat terjadi akibat penggunaan cetakan metal deck, apabila
menggunakan cetakan konvensional maka akan berdampak pada bertambahnya
waktu pembangunan.
Terkait dengan arsitektur industrial, penerapan elemen lantai pada bangunan
sesuai dengan acuan pada buku Buildings for Industry, dimana material lantai pada
bangunan industri yang menggunakan material beton dengan finishing plester
ekspos memiliki kemiripan dengan yang diterapkan pada objek studi. Metal deck
pada lantai mezanin juga tidak hanya berfungsi sebagai elemen lantai, namun juga
41
sekaligus menjadi elemen langit-langit (ceiling), dimana dari lantai dasar langitlangit berupa metal deck dapat terlihat dengan kondisi terekspos.
Gambar 31 : Plat Lantai Beton Bertulang dengan Cetakan Metal
Deck sebagai Elemen Lantai sekaligus sebagai elemen langit-langit
(ceiling)
Gambar 32 : Potongan Prinsip Lantai Mezanin
42
c. Penerapan pada struktur tangga
PIJAKAN TANGGA KAYU, DENGAN RANGKA
RAILING TANGGA BESI PIPA
STRUKTUR TANGGA BAJA PROFIL IWF
Gambar 33 : kiri; Elemen Struktur Tangga tipe baja, kanan; Potongan Tangga Baja
Sumber : buku Buildings for Industry
Gambar 35 : Elemen
Tangga Plat Lipat
pada kedai kopi
Contrast
Gambar 34 : Rekonstruksi Digital, Elemen Tangga Plat
Lipat pada kedai kopi Contrast
Gambar 36 : Potongan Detail Tangga Plat Lipat
43
Indikator
Jenis Tangga
Struktur Tangga
Pijakan Tangga
Pada Tangga Acuan
Pada Objek Studi
di Kajian Pustaka
Kedai Kopi Contrast
Tangga Baja dengan
Tangga Baja dengan
prinsip bentuk U
prinsip bentuk linear
Rangka Baja Profil
Plat Lipat (Folded
IWF
Plate)
Kayu dengan rangka
Plat Baja, kesatuan
besi, koneksi di las
dengan struktur folded
plate
Railing Tangga
Railing Besi Pipa
Tidak ada
Tabel 3 : Analisis Penerapan Fitur Fisik Struktur Tangga
Berdasarkan tinjauan analisis, terdapat perbedaan antara tangga yang berada
pada objek studi dengan tangga yang menjadi acuan di buku Buildings for Industry,
perbedaan yaitu terlihat pada jenis tangganya. Tangga pada gambar acuan
menggunakan tangga baja, sedang tangga pada objek studi menggunakan tangga
berjenis plat lipat (folded plate).
Ditinjau berdasarkan elemen penyusunnya, tangga pada gambar acuan
menggunakan struktur bermaterial baja profil IWF yang langsung bertumpu pada
struktur balok baja, lantai pijakan tangga atau step menggunakan material kayu
papan yang kemudian dipasangkan pada sebuah rangka yang langsung terkoneksi
ke struktur tangga, pengaman tangga atau railing menggunakan material besi pipa.
Tangga pada objek studi menggunakan struktur plat lipat atau (folded plate) yang
bertumpu pada balok baja pada bagian yang menempel dinding, lantai pijakan atau
step menggunakan material plat baja yang juga merupakan kesatuan dari tangga
plat lipat, namun tangga pada objek studi tidak memiliki railing.
Berdasarkan analisis penerapan tersebut, antara elemen tangga pada gambar
acuan dengan elemen tangga pada objek studi, walaupun keduanya berbeda, namun
masih memiliki kesamaan yaitu ditinjau dari segi materialnya. Arsitektur industrial
ditinjau dari segi material bangunan yaitu terkait dengan material konstruksi
berbahan logam (metal construction), yang mana material-material konstruksi
44
berbahan logam seperti baja profil merupakan salah satu produk industri. Elemen
tangga merupakan elemen struktur yang masih dapat di eksplorasi bentuk dan
rupanya, sejauh elemen tersebut masih menerapkan material konstruksi yang
berasal dari produk-produk industri seperti material baja, kayu olahan, maka
elemen tersebut menjadi sebuah fitur khas arsitektur industrial.
d. Penerapan pada struktur atap
Gambar 37 : Acuan pada buku Buildings for Industry, menunjukkan suasana bangunan pabrik dan
penerapan struktur atap
Sumber : buku Buildings for Industry
Gambar 38 : kiri, foto struktur atap PVC corrugated roof dan rangka atap; kanan,
rekonstruksi digital
45
Gambar 39 : Aksonometri 3D Struktur menunjukkan Struktur Ranka Atap dan
Penutup Atap
Indikator
Pada Gambar Acuan
Pada Objek Studi
di Buku Buildings for
Kedai Kopi Contrast
Industry
Penutup Atap
Corrugated Metal Roof
Corrugated PVC
Transparent Roof
Struktur Reng Atap
Baja Profil CNP
Baja Profil Hollow
Penampang 3cm x 4cm
finishing cat besi hitam
Struktur Tumpuan Kaso
Tidak Tersedia
Struktur Tumpuan
Tidak Tersedia
Gording
Struktur Kuda-Kuda
Baja Profil IWF
Baja Profil Hollow
Utama
monobeam
penampang 6cm x 12cm
finishing cat besi hitam
Tabel 4 : Analisis Penerapan Fitur Fisik Elemen Struktur Atap
Berdasarkan tabel tersebut, terdapat kemiripan antara gambar acuan dengan
objek studi, yaitu pada penggunaan penutup atap berjenis corrugated roof atau atap
bergelombang. Atap bergelombang merupakan atap yang umum digunakan pada
bangunan industri seperti pabrik, namun dalam perwujudannya, atap bergelombang
46
memiliki beberapa varian lain. Penerapan atap bergelombang yang ada pada objek
studi merupakan atap bergelombang berjenis PVC atau berbahan plastik yang
bersifat transparan. Keduanya baik material penutup atap bergelombang berbahan
logam atau corrugated metal roof, maupun PVC corrugated roof merupakan
material hasil produksi industri. Material tersebut pada masanya digunakan pada
bangunan industri seperti pabrik. Hal tersebut memberikan penjelasan bahwa
elemen atap yang diterapkan pada rancangan kedai kopi Contrast sesuai dengan ciri
dari fitur arsitektur industrial.
B. Penerapan pada Elemen Semi Tetap
a. Dinding dan Jendela
Gambar 40 : Penerapan Elemen Dinding dan Jendela kaca
dengan rangka besi Foto Oleh : Hugh Robertson-Panda
Sumber : buku Buildings for Industry
Gambar 41 : kiri, Tampak Depan Perspektif; kanan, Tampak Depan kedai kopi Contrast
47
Gambar 42 : Suasana Depan Kedai Kopi Contrast
Berdasarkan gambar acuan pada buku Buildings for Industry, elemen
dinding pada rancangan yang menerapkan arsitektur industrial yaitu menggunakan
dinding bermaterial bata ekspos, bata dengan finishing semen plester ekspos, dan
dinding bermaterial khusus industri lainnya, sedangkan pada jendela yaitu
menerapkan jendela bermaterial kaca dengan rangka besi hollow.
Berdasarkan analisis, terdapat kemiripan antara gambar acuan dengan objek
studi. Pada objek studi elemen dinding pada lantai dasar menerapkan dinding
bermaterial bata ekspos dan dinding bermaterial bata dengan finishing plester
ekspos, pada lantai mezanin menerapkan dinding bermaterial asbes bergelombang
yang disambungkan dengan rangka baja profil hollow. Elemen jendela menerapkan
jendela kaca dengan rangka besi hollow. Hal tersebut memberikan penjelasan
bahwa penerapan elemen dinding dan jendela pada rancangan kedai kopi Contrast
sesuai dengan ciri dari fitur arsitektur industrial.
b. Pintu
Pintu merupakan elemen yang masih dapat di eksplorasi dalam rancangan,
dalam hal terkait arsitektur industrial, pintu yang digunakan pada rancangan
haruslah merupakan hasil industri. Pada rancangan, elemen pintu menerapkan pintu
bermaterial besi dengan diberi finishing cat besi berwarna hitam, pintu lainnya
menerapkan pintu bermaterial kaca dengan rangka besi. Hal tersebut memberikan
48
penjelasan bahwa penerapan elemen pintu pada rancangan kedai kopi Contrast
sesuai dengan ciri dari fitur arsitektur industrial.
Gambar 44 : Elemen Pintu di
bagian belakang kedai kopi
Contrast
Gambar 43 : Elemen Pintu Besi di
bagian dalam kedai kopi contrast
C. Penerapan pada Elemen Non Tetap
a. Coffeebar
Coffeebar pada rancangan kedai kopi Contrast berjenis coffebar yang
menyatu dengan elemen struktur. Coffeebar pada rancangan menerapkan material
beton bertulang dengan finishing keramik berwarna hitam. Terkait arsitektur
industrial, elemen coffeebar pada rancangan tidak memiliki kesesuaian dengan ciri
dari fitur arsitektur industrial.
Gambar 45 : Coffebar Beton dengan finishing
keramik hitam di kedai kopi Contrast
49
b. Meja dan Kursi
Meja dan kursi merupakan elemen non tetap berupa perabot yang dapat
berpindah kedudukannya dan bersifat tidak permanen. Terdapat dua jenis meja pada
objek studi, meja pertama yaitu meja alat kopi yang berfungsi sebagai tempat
menyimpan alat-alat kopi, meja kedua yaitu meja pelanggan yang memiliki satu
kesatuan dengan kursi pelanggan, berikutnya akan disebut meja dan kursi
pelanggan. Meja dan kursi pelanggan menerapkan material kayu dan besi yang
dapat ditekuk, berdasarkan data yang diperoleh, meja dan kursi tersebut dirancang
secara spesifik dan diproduksi secara masal oleh suatu industri perabot kecil.
Arsitektur industrial merupakan arsitektur yang terintegrasi dengan produkproduk industri, hal tersebut tidak hanya dapat ditinjau melalui penerapan material
bahan bangunan yang didominasi oleh bahan industri, namun juga dapat ditinjau
melalui elemen perabotnya. Rancangan kedai kopi Contrast merupakan rancangan
yang terintegrasi dengan produk industri, karena terdapat produk industri berupa
perabot meja dan kursi hasil industri.
Gambar 47 : Elemen
Perabot Kursi Duduk
Pelanggan
Gambar 46 : Elemen
Perabot Set Meja dan Kursi
Pelanggan
50
4.1.2. Penerapan
fitur
Non-Fisik
ditinjau
berdasarkan
Prinsip
Arsitekturnya
A. Penerapan wujud geometrik disiplin (Clean and Disciplined Rectangles)
Pada rancangan kedai kopi Contrast penerapan prinsip berikut ditemukan
pada elemen pelingkup ruang antara lain bidang lantai di lantai dasar, elemen
dinding bata ekspos, kemudian pada bidang penutup atap. Penerapan wujud
geometrik dimaksudkan agar terciptanya suatu penyederhanaan bentuk sehingga
akan berdampak pada efisiensi bangunan baik dari segi biaya pembangunan,
maupun waktu pengerjaan. Penyederhanaan bentuk disini juga sejalan dengan
prinsip arsitektur modern. Berdasarkan hal tersebut rancangan kedai kopi Contrast
memiliki kesesuaian dengan prinsip arsitektur industrial.
Gambar 48 : Analisis Bentuk Geometri pada rancangan kedai kopi Contrast
51
B. Susunan Rangka Terbuka ( Stark of Exposed Framing )
Rangka terbuka merupakan suatu konsekuensi dari penerapan sistem
struktur rangka kaku (rigid frames). Sistem struktur rangka kaku merupakan sistem
struktur yang diterapkan akibat adanya penyederhanaan bentuk, penggunaan bentuk
geometri, sehingga penataan titik-titik pembebanan struktur dikomposisikan secara
grid. Sejalan dengan pemikiran arsitektur modern, dimana arsitektur jenis baru
ingin terbebas dari cengkeraman sejarah, dan bebas dari ornamentasi. Sistem
struktur rangka kaku yang terbuka merupakan upaya pengeliminasian ornamen
yang umumnya diterapkan pada balok-balok struktur, arsitektur modern juga
berusaha mendefinisikan keindahan baru melalui elemen struktur yang terekspos.
Ditinjau dari segi penerapan prinsip rangka terbuka, berdasarkan gambar
acuan pada buku Buildings for Industry rancangan kedai kopi Contrast memiliki
beberapa kesesuaian yaitu struktur kolom dan balok yang dibiarkan terbuka dan
terlihat oleh pelanggan, tanpa disembunyikan.
Gambar 49 : Rekonstruksi Digital Interior Kedai Kopi Contrast,
menunjukkan susunan Rangka Terbuka
52
Gambar 50 : Suasana Interior Kedai Kopi ,
menunjukkan susunan rangka terbuka
Gambar 51 : Suasana Interior Kedai Kopi Contrast
di Lantai Mezanin, menunjukkan susunan rangka
terbuka pada kolom balok dan atap
C. Kejujuran Material (Honest Use of Materials)
Berdasarkan data dan analisis, rancangan kedai kopi Contrast ditinjau dari
segi penerapan materialnya menunjukkan dominasi material yang bersifat
terekspos. Material terekspos merupakan material yang hanya diberi sedikit
penyelesaian atau tidak sama sekali sehingga ekspresi dari material tersebut
menjadi terkesan mentah (raw material). Material tersebut memiliki ekspresi jujur
dan apa adanya akibat tak diberi penyelesaian. Tujuan dari penggunaan material
bahan bangunan ekspos yaitu agar terciptanya suatu efisiensi dari segi pembiayaan
pembangunan. Berdasarkan keseluruhan penerapan material pada rancangan kedai
kopi Contrast yang memiliki sifat terekspos, maka telah jelas bahwa rancangan
memiliki kesesuaian dengan fitur arsitektur industrial ditinjau melalui penerapan
prinsipnya.
Gambar 52 : Ekspresi Kejujuran Material dari kiri ke kanan, Bata Ekspos, Beton
Ekspos, PVC Ekspos di kedai kopi Contrast
53
BAB V
KESIMPULAN
4. KESIMPULAN
4.1.Temuan dalam Penelitian
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada objek studi kedai kopi
Contrast, penulis menemukan bahwa rancangan kedai kopi Contrast secara dominan
terpengaruh oleh pemikiran arsitektur industrial bila ditinjau dari segi penerapan
fitur, fitur tersebut terutama berada pada penerapan material bahan bangunannya.
Rancangan kedai kopi Contrast dinilai memiliki kemiripan dari segi pensuasanaan
ruang seperti layaknya suasana bangunan industri seperti pabrik dan pusat
pengolahan. Arsitektur industrial yang pada mulanya merupakan arsitektur khusus
bangunan industri seperti pabrik dan pusat pengolahan produk, kini telah
berkembang penerapannya pada bangunan dengan fungsi komersil, salah satunya
bangunan restorasi kedai kopi.
Tidak seluruh kedai kopi di Kota Bandung dan baik dimanapun itu berada
menerapkan pemikiran arsitektur industrial, sebagai dasar dalam proses
perancangan kedai kopi. Berdasarkan hasil analisis, penerapan arsitektur industrial
melalui fitur rupanya merupakan hasil perwujudan rancangan dari arsitek yang
didominasi oleh permintaan klien. Pemilik kedai kopi lah sebagai klien yang
memiliki kuasa dalam suatu perencanaan dan perancangan kedai kopi, ialah yang
memiliki alasan-alasan yang terkadang tak nampak dalam prosesnya merencanakan
sebuah kedai kopi. Klien yang umumnya berasal dari masyarakat awam, bukan
akademisi, pemerhati, atau penikmat seni dan arsitektur menggunakan pertimbangan
yang berasal dari refleksi pribadinya terhadap realitas keseharian yang ada di
masyarakat.
Refleksi klien terhadap realitas keseharian masyarakat menjadi aspek yang
dipertimbangkan dalam proses perencanaan dan perancangan kedai kopi, maka dari
itu aspek-aspek yang bersumber dari disiplin ilmu lain diluar seni dan arsitektur
baginya menjadi penting untuk dipertimbangkan. Aspek-aspek tersebut tak lain dan
54
tak bukan antara lain aspek sosial, aspek budaya, aspek ekonomi, dan beragam lagi
yang ada di masyarakat.
Mempelajari faktor sejarah terbentuknya suatu kedai kopi merupakan
sebuah upaya memahami motif-motif yang bersifat tersembunyi, terselubung, dan
tak nampak dari serangkaian proses perencanaan dan perancangan suatu kedai kopi.
Pada rancangan kedai kopi Contrast, pengambilan keputusan terhadap rancangannya
rupanya tak semata-mata merupakan hasil proses perancangan arsitektur secara
murni yang berdasarkan kebutuhan dan menggunakan analisis yang metodik, namun
aspek-aspek yang telah disebutkan diataslah yang menjadi pertimbangan dasar sang
pemilik kedai kopi Contrast dalam memulai proses perencanaan dan perancangan
kedai kopi.
Pemilik kedai kopi Contrast memiliki keinginan agar kedai kopinya menjadi
sebuah tempat yang ramai, menjadi tempat bersosialisasi bagi masyarakat
kontemporer
yang
senantiasa
melakukan
aktivitas
produktif.
Pemilik
mempertimbangkan aspek sosial dan budaya yang berada pada keseharian
masyarakat. Menurutnya bila rancangan arsitektur tak mengikuti kekinian dan
tuntutan masyarakat maka akan menjadi rancangan yang gagal. Pemilik
menginginkan rancangan yang sangat menjunjung tinggi nilai efisiensi dari sisi
pembiayaan, namun masih memiliki daya jual dari segi estetika rancangan. Hal
tersebutlah yang kemudian menjadikan pemilik kedai kopi Contrast menyewa
arsitek untuk merancang suatu rancangan, yang pada penelitian ini kemudian disebut
dengan arsitektur industrial.
Sejalan dengan penjelasan biro arsitektur Pentland and Barker Architects,
pada masa berkembangnya industri, terkait penerapan arsitektur industrial pada
bangunan komersil itu sendiri yang telah dikaji pada bab sebelumnya yang berbunyi
:
“As for matter of appearance, “it was the owner’s wish to use the
architect word’s that the plant should be economical in cost and
contemporary in design, emphasizing the potential uses of wood, both as
55
finish, and as a structure. The entire plant was to be a showroom of those
products sold and manufactured by the company, but at the same time no
special matching or selection of materials other than those readily
obtainable from stock was permitted.”
Arsitektur industrial merupakan sebuah pilihan yang keputusannya
dikembalikan pada klien, karena klien memiliki keinginan untuk mendapatkan hasil
rancangan arsitektur yang ekonomis secara pembiayaan, namun kontemporer dari
segi desain.
Fenomena berkembangnya arsitektur industrial yang juga merupakan nama
lain dari arsitektur modern senada dengan yang dikatakan oleh Jeremy Till dan
Sarah Wigglesworth dalam (Prajawati & Fuad, 2013) bahwa dalam arsitektur
modern antara image dan realitas terlihat kabur, arsitektur modern terkait dengan
bentuk (form), penggayaan atau langgam (style), dan teknologi. Teknologi
membawa keseragaman rancangan yang terpengaruh oleh budaya industri, di
dalamnya terdapat suatu standar yang telah dianggap ideal oleh para penguasa.
(Prajawati & Fuad, 2013) Keseragaman ini dihadirkan dengan image dan
disebarluaskan dengan paksaan dan bujukan seperti iklan, politik, dan juga gaya
hidup yang seolah memberikan tanda kebahagiaan, kepuasan, dan kesejahteraan.
Pada akhirnya arsitektur industrial yang diterapkan pada rancangan kedai
kopi dimanapun berada merupakan upaya pembentukan citra (images), yang
diwujudkan melalui rancangan fisik yang mengikuti perkembangan zaman sesuai
dengan perkembangan teknologi, mengikuti tuntutan kekinian masyarakat
kontemporer, dan sehingga rancangan fisik yang memiliki kesamaan dimana-mana
menjadikannya sebuah gaya atau langgam (style). Keseragaman tersebut
disebarluaskan melalui gaya hidup yaitu melalui gaya hidup minum kopi, sehingga
seolah memberi kesan bahwa menerapkan rancangan arsitektur dengan pemikiran
industrial yang seragam pada sebuah kedai kopi masa kini merupakan simbol
keberhasilan, kebahagiaan, kepuasan, dan kesejahteraan bagi pemiliknya.
56
4.2.Bagaimana Pengaruh Arsitektur Industrial pada Rancangan Kedai
Kopi Bila ditinjau dari segi penerapan fitur ?
Berdasarkan penelitian berjudul Penerapan Fitur Arsitektur Industrial pada
Rancangan Kedai Kopi di Kota Bandung Studi Kasus : Kedai Kopi Contrast yang
telah dilakukan pada bulan Maret hingga April 2019, maka jawaban atas pertanyaan
penelitian yang berupa “Bagaimana pengaruh arsitektur industrial pada rancangan
kedai kopi bila ditinjau dari segi penerapan fitur?” adalah:
Pengaruh pemikiran arsitektur industrial pada fitur arsitektur antara lain
menuntut perancang menerapkan fitur-fitur arsitektur yang senantiasa mendukung
pemikiran industrial, seperti menekankan kepada efisiensi pembiayaan, kecepatan
pembangunan, serta menggunakan teknologi yang tersedia pada industri. Fitur-fitur
arsitektur tersebut pada perwujudan fisiknya merupakan elemen-elemen arsitektur
yang menyusun keseluruhan bangunan, seperti elemen struktur, elemen pengisi,
dan elemen perabot. Sistem struktur yang digunakan pada rancangan akan mengacu
pada efisiensi secara pembiayaan sehingga terlahirlar penerapan bentuk-bentuk
dasar geometris yang diiringi oleh penggunaan material-material industri yang
umumnya memiliki sifat modular. Elemen pengisi bangunan akan menggunakan
elemen pengisi yang memiliki efisiensi biaya, fungsional, serta menunjukkan
ekspresi kekinian seperti pada penggunaan bata ekspos yang memiliki kejelasan
fungsi sebagai pembatas ruang, namun tak perlu diberi penyelesaian (finishing) dan
dibiarkan ekspos, kemudian ekspresi ekspos tersebut mendukung berjalannya trend
yang terjadi pada bangunan kedai kopi yang mewabah di masyarakat. Elemen
perabot juga akan berorientasi kepada industri, dimana industri yang dapat
memproduksi perabot secara masal dan memenuhi kriteria permintaan klien akan
menjadi pilihan sebagai fitur.
4.3.Saran
Penulis menyadari masih banyak hal-hal yang memiliki kekurangan dalam
penelitian ini, maka dari itu penulis sangat membuka diri atas kritik dan saran yang
dikemukakan oleh siapapun terkait dengan topik yang telah dibahas dalam
57
penelitian ini. Besar harapan bahwa penelitian ini akan dilanjutkan pada kemudian
hari baik oleh penulis sendiri, maupun oleh peneliti lain,
58
DAFTAR PUSTAKA
Architectural Record. (1957). Buildings For Industry. F.W.Dodge Corporation.
Architectural Record. (1957). Buildings For Industry. F.W. Dodge Corporation.
Banham, R. (1962). Guide to Modern Architecture. Architectural Press.
C Grafe, F. B. (2007). Cafes and bars : The Architecture of Public Display. New
York: Routledge.
Ching, F. D. (1979). Architecture : Form, Space, and Order. New York: Van
Nostrand Reinhold.
Corbusier, L. (1920). 'L'Espirit Nouveau.
Desai, A. (2001). The Function and Design of Cafes Throughout Time. WIM DEA 1500.
Oldenburg, R. (1989). The Great Good Place : Cafes, Coffeeshops, Community
Centers, Beauty Parlors, General Stores, Bars, Hangouts, and How They
Get Through the Day. New York: Paragon House.
Prajawati, D., & Fuad, A. H. (2013). Domesticity dan Modernity dalam Ruang
Interior Coffee Shop. Jurnal Ilmiah Universitas Indonesia, 7.
Torsina. (2000). Usaha Restoran yang Sukses. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer.
www.google.com
www.interiordesign.id
www.buildingmaterials.com.my
59
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Fenomena Keseragaman Rancangan Arsitektur Kedai Kopi di Kota
Bandung .................................................................................................................. 2
Gambar 2 : Diagram Periodisasi Arsitektur ............................................................ 2
Gambar 3 : Pionir dan Tokoh Penting Arsitektur Modern, Kiri : Le Corbusier,
Kanan : Ludwig Mies van der Rohe ....................................................................... 2
Gambar 4 : kiri : Weissenhofmuseum di Stuttgart, Jerman ; kanan : Villa Savoye
karya Le Corbusier .................................................................................................. 2
Gambar 5 : kiri : Barcelona Pavillion, Barcelona, Spanyol ; kanan : Farnsworth
House, Illinois, Amerika Serikat , arsitektur minimalis karya Ludwig Mies van der
Rohe ........................................................................................................................ 2
Gambar 6 : The R.Laidlow Lumber Company Office, Weston, Ontario, Kanada,
1871 Pentland and Barker Architects ...................................................................... 2
Gambar 7 : kiri : Struktur Kolom Beton Bertulang finishing ekspos ; kanan :
Struktur Kolom dan Balok Baja Profil IWF ........................................................... 2
Gambar 8 : Struktur Kolom dan Balok Baja Profil IWF pada bangunan kantor .... 2
Gambar 9 : Struktur Kolom Baja Profil IWF pada bangunan Kedai Kopi ............. 2
Gambar 10 : kiri : Bagian Bawah Struktur Lantai Plat Beton Bertulang dengan
Cetakan Metal Deck ; kanan : Struktur Lantai Beton Ekspos Pada Ruang Interior
Arsitektur Industrial ................................................................................................ 2
Gambar 11 : Ragam Struktur Tangga Industrial ..................................................... 2
Gambar 12 : Tangga Baja Arsitektur Industrial, Foto Oleh Hugh Robertson-Panda
................................................................................................................................. 2
Gambar 13 : Penerapan Penutup Atap Metal Roof disertai Struktur Atap KudaKuda Baja pada bangunan Industri ......................................................................... 2
Gambar 14 : Struktur Dinding berupa Jendela Kaca menggunakan material rangka
besi hollow Foto oleh Hugh Robertson-Panda ....................................................... 2
Gambar 15 : Penerapan Dinding Rangka Kaca Pada Ruang Kamar dengan konsep
Industrial ................................................................................................................. 2
Gambar 16 : Penerapan Pintu Rangka Kaca dengan konsep Industrial .................. 2
Gambar 17 : Ragam Coffee bar dengan konsep Industrial. Kiri : Coffeebar dengan
material beton bertulang dan finishing ekspos ; kanan : Coffeebar dengan material
kayu dan finishing flaming...................................................................................... 2
Gambar 18 : Perabot Meja dan Kursi Minum Kopi ................................................ 2
Gambar 19 : The R. Laidlaw Lumber Company Office, Weston, Ontario, Kanada,
1871, Pentland and Barker Architects ..................................................................... 2
Gambar 20 : Rangka Terbuka pada Kedai Kopi Contrast Bandung ....................... 2
Gambar 21 : Rangka Terbuka pada kedai kopi Sejiwa Bandung............................ 2
Gambar 22 : kiri : Ekspresi Material Bata Ekspos pada elemen dinding dan kanan;
Ekspresi Material Beton Ekspos finishing plester semen pada elemen lantai ........ 2
60
Gambar 23 : Ekspresi Kayu Ekspos dengan finishing flaming pada elemen kolom
di Kedai Kopi The Parlor Bandung ......................................................................... 2
Gambar 24 : Ekspresi Baja dengan finishing cat besi warna hitam pada elemen
kolom ...................................................................................................................... 2
Gambar 25 : Lokasi Kedai Kopi Contrast di Jalan Anggrek No.46, ditinjau dari
peta Kota Bandung .................................................................................................. 2
Gambar 26 : Suasana Depan Kedai Kopi Contrast ................................................. 2
Gambar 27 : Aksonometri 3D Struktur Kedai Kopi Contrast menunjukkan
Struktur Kolom Balok ............................................................................................. 2
Gambar 28 : Denah Lantai Dasar Kedai Kopi Contrast .......................................... 2
Gambar 29 : Denah Lantai Mezanin Kedai Kopi Contrast ..................................... 2
Gambar 30 : Aksonometri 3D Struktur Menunjukkan Struktur Lantai .................. 2
Gambar 31 : Plat Lantai Beton Bertulang dengan Cetakan Metal Deck sebagai
Elemen Lantai sekaligus sebagai elemen langit-langit (ceiling) ............................. 2
Gambar 32 : Potongan Prinsip Lantai Mezanin ...................................................... 2
Gambar 33 : kiri; Elemen Struktur Tangga tipe baja, kanan; Potongan Tangga
Baja ......................................................................................................................... 2
Gambar 34 : Rekonstruksi Digital, Elemen Tangga Plat Lipat pada kedai kopi
Contrast ................................................................................................................... 2
Gambar 35 : Elemen Tangga Plat Lipat pada kedai kopi Contrast ......................... 2
Gambar 36 : Potongan Detail Tangga Plat Lipat .................................................... 2
Gambar 37 : Acuan pada buku Buildings for Industry, menunjukkan suasana
bangunan pabrik dan penerapan struktur atap ......................................................... 2
Gambar 38 : kiri, foto struktur atap PVC corrugated roof dan rangka atap; kanan,
rekonstruksi digital .................................................................................................. 2
Gambar 39 : Aksonometri 3D Struktur menunjukkan Struktur Ranka Atap dan
Penutup Atap ........................................................................................................... 2
Gambar 40 : Penerapan Elemen Dinding dan Jendela kaca dengan rangka besi
Foto Oleh : Hugh Robertson-Panda ........................................................................ 2
Gambar 41 : kiri, Tampak Depan Perspektif; kanan, Tampak Depan kedai kopi
Contrast ................................................................................................................... 2
Gambar 42 : Suasana Depan Kedai Kopi Contrast ................................................. 2
Gambar 43 : Elemen Pintu Besi di bagian dalam kedai kopi contrast .................... 2
Gambar 44 : Elemen Pintu di bagian belakang kedai kopi Contrast ...................... 2
Gambar 45 : Coffebar Beton dengan finishing keramik hitam di kedai kopi
Contrast ................................................................................................................... 2
Gambar 46 : Elemen Perabot Set Meja dan Kursi Pelanggan ................................. 2
Gambar 47 : Elemen Perabot Kursi Duduk Pelanggan ........................................... 2
Gambar 48 : Analisis Bentuk Geometri pada rancangan kedai kopi Contrast ........ 2
Gambar 49 : Rekonstruksi Digital Interior Kedai Kopi Contrast, menunjukkan
susunan Rangka Terbuka ........................................................................................ 2
Gambar 50 : Suasana Interior Kedai Kopi , menunjukkan susunan rangka terbuka2
61
Gambar 51 : Suasana Interior Kedai Kopi Contrast di Lantai Mezanin,
menunjukkan susunan rangka terbuka pada kolom balok dan atap ........................ 2
Gambar 52 : Ekspresi Kejujuran Material dari kiri ke kanan, Bata Ekspos, Beton
Ekspos, PVC Ekspos di kedai kopi Contrast .......................................................... 2
62
Download