REFERAT
Vaginal Birth After Cesarean (VBAC)
atau
Persalinan Pervaginam setelah Sectio Saecarea
Oleh :
Ardilla Zhafira Sari
4151171516
Pembimbing
dr. Ifa Siti Fasihah.,Sp.OG
DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
FAKULTAS KEDOKTERAN
CIMAHI 2019
Pendahuluan
Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) atau persalinan pervaginam setelah
sectio saecarea adalah salah satu strategi untuk mengkontrol peningkatan angka
kejadian sectio saecarea. Pada tahun 1916, Cragin mengatakan ”sekali melakukan
sectio saecarea, akan selalu dilakukan sectio saecarea”. Pada saat itu adalah masa
klasik sectio saecarea. Pada saat kini masa Lower Segment Caesarean Section
(LCSC), morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan sectio saecarea
berkurang. Diktum saat ini adalah “ sekali telah melakukan sectio saecarea, selalu
melkakukan persalinan di rumah sakit yang dilengkapi peralatan dengan baik”.1
operasi sectio saecarea elektif berhubungan dengan meningkatnya risiko
komplikasi surgical dan meningkatnya risiko plasentasi abnormal pada kehamilan
selanjutnya. Di sisi lain, percobaan persalinan pervaginam setelah sectio saecarea
berhubungan dengan meningkatnya risiko ruptur uteri dan komplikasi maternal dan
infan lainnya. Pada beberapa wanita yang mencoba persalinan pervaginam setelah
sectio saecarea akan membutuhkan persalinan sectio saecarea darurat, sehingga
meningkatkan risiko komplikasi pada maternal dan infan.2
Pada wanita yang mengalami sectio saecarea berulang memiliki risiko tinggi
terjadi cedera pada usus dan kandung kemih, transfusi darah, dan histerektomi.
Survey yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) menyatakan
bahwa wanita yang memiliki riwayat satu kali sectio saecarea dan kehamilan
tunggal adalah kontributor utama angka kejadian sectio saecarea. Hasil penelitian
oleh Ellen dan Eileen menemukan bahwa VBAC menghasilkan penurunan angka
kejadian ruptur uteri dan mortalitas fetal dibandingkan dilakukan sectio saecarea
berulang. VBAC yang berhasil dapat menurunkan morbiditas demam, transfusi
darah dan histerektomi.3
Indikasi VBAC
VBAC dapat direncanakan pada wanita dengan kehamilan janin tunggal,
presentasi kepala pada usia kehamilan 37 minggu atau lebih yang memiliki riwayat
sectio saecarea sekali dengan insisi segmen bawah rahim, dengan atau tanpa
memiliki riwayat persalinan pervaginam. 4
Kontraindikasi VBAC
Kontraindikasi VBAC yang direncanakan adalah pada wanita yang memiliki
riwayat ruptur uterus sebelumnya atau yang memiliki riwayat sectio saecaria klasik,
dan pada wanita yang memiliki kontraindikasi absolut lain untuk kelahiran secara
pervaginam yang berlaku terlepas dari ada atau tidak adanya bekas luka (contoh:
plasenta previa mayor).5
a. Riwayat ruptur uterus
Wanita yang memiliki riwayat ruptur uterus seblumnya memiliki
risiko 5% terjadi ruptur uterus kembali.5
b. Tipe insisi pada sectio saecaria sebelumnya
Bila riwayat sectiosaecaria sebelumnya adalah sectio saecaria
klasik, maka hal tersebut adalah kontraindikasi dilakukan VBAC karena
meningkatkan risiko ruptur uterus.5
c. Riwayat operasi pada uterus
Pada wanita yang memiliki riwayat laparaskopi atau miomektomi
abdominal atau pada operasi yang cavum uterusnya dilakukan tindakan
memiliki risiko lebih tinggi terjadi ruptur uterus.5
d. Plasenta previa
Plasenta previa totalis merupakan kontraindikasi dari melahirkan
secara pervaginam maupun VBAC. Pada wanita yang memiliki riwayat
sectio caesaria, memiliki risiko akan terjadi plasenta previa pada kehamilan
selanjutnya.5
Pada wanita yang memiliki riwayat sectio caesaria 2 kali dengan insisi pada
segmen bawah rahim perlu konsul terlebih dahulu pada dokter spesialis obstetri dan
ginekologi senior. Hasil penelitian menunjukkan angka keberhasilan dilakukan
VBAC pada wanita yang memiliki riwayat sectio caesaria 2 kali adalah 71,1% dan
angka terjadi ruptur uteri 1,36%. Perbandingan terjadinya histerektomi pada wanita
yang memilii riwayat sectio caesaria 2 kali adalah 56/10000 sedangkan pada wanita
yang memiliki riwayat sectio caesarea 1 kali adalah 19/10000. transfusi pada wanita
dengan riwayat sectio caesaria 2 kali lebih tinggi yaitu 1,99% dibanding dengan
riwayat 1 kali 1,22%. Namun menurut Queensland Clinical Guide, memiliki
riwayat sectio caesaria 2 kali perlu dipertimbangkan terlebih dahulu untuk
dilakukan VBAC. Hal lain yang perlu dipertimbangkan lainnya adalah apabila ada
kemungkinan makrosomia.5
Faktor-faktor yang meningkatkan keberhasilan VBAC
Menurut penelitian, IMT kurang dari sama dengan 25, tinggi lebih dari sama
dengan 150cm dan usia kehamilan kurang dari sama dengan 40 minggu memiliki
hubungan dengan keberhasilan VBAC.3 beberapa penelitian menggunakan VBAC
skor yang menilai 5 aspek yaitu bishop score, usia, riwayat indikasi sectio caesarian
sebelumnya, IMT, dan riwayat persalinan pervaginam. Semakin tinggi VBAC skor,
semakin tinggi angka keberhasilan VBAC. Angka keberhasilan dengan ibu yang
memiliki VBAC skor 8-10 adalah 95%. Bila VBAC skor 0-2, angka
keberhasilannya 49%.
VBAC score
skor
Usia <40 tahun
Riwayat
pervaginam
tidak
0
ya
+2
persalian Persalinan
sebelum
pervaginam +4
dan
sesudah
sectio saecarea pertama
Persalinan
pervaginam +2
setelah sectio saecarea
pertama
Persalinan
pervaginam +1
sebelum sectio saecarea
Tidak
ada
riwayat 0
persalinan pervaginam
Alasan
lain
selain Tidak
0
indikasi sectio caesarian
pertama
Pendataran serviks
ya
+1
>75%
+2
25-75%
+1
<25%
0
Pembukaan lebih dari tidak
0
sama dengan 4
ya
+1
Faktor-faktor yang meingkatkan risiko terjadinya ruptur uterus
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko terjadinya ruptur uterus adalah jarak
kehamilan yang terlalu dekat dengan sebelumnya (<12 bulan), kehamilan postterm, usia ibu lebih dari 40 tahun, obesitas, bishop score rendah, makrosomia.5
Risiko dan keuntungan dari VBAC (Vaginal Birth After Caesarian) dan ERCS
(Elective Repeated Caesarean)
Angka kemungkinan VBAC berhasil 72-75%. Bila VBAC berhasil, maka hari
rawat dan masa pemulihan lebih sebentarm dibanding ERCS. Selain itu,
meningkatkan kemungkinan terjadi persalinan pervaginam pada kehamilan
selanjutnya. Angka kejadian kematian pada ibu yang VBAC adalah 4/100000.
Namun kemungkinan terjadinya ruptur uterus pada VBAC lebih tinggi yaitu 0,5%,
sedangkan pada ERCS samgat rendah yaitu 0,02%. 5
Pada bayi yang dilahirkan VBAC kemungkinan risiko morbiditas transient
respiratory 2-3%. Sedangkan pada ERCS angka lebih tinggi yaotu 4-5%. Pada bayi
VBAC, 8/10000 terjadinya hipoksia iskemik ensefalopati, pada ERCS <1 per
10.000 terjadinya HIE.5
Menurut penelitian, histerektomi, penyakit tromboembolitik, transfusi dan
endometritis tidak berbeda secara signifikan antara VBAC dan ERCS.
Manajemen persalinan pada ibu yang memilih VBAC
Manajemen pada VBAC sama dengan manajemen persalinan pervaginam
normal. Konsultasi antepartum dengan dokter spesialis dibutuhkan tergantung
drngan situasi klinis. Perlu dilakukan observasi pada kemajuan persalinan,
kesejahteraan janin, kesejahteraan ibu, epidural atau analgesik lain bisa diberikaan,
monitoring janin menggunakan alat direkomendasikan karena tanda penting
terjadinya ruptur uterus.6
Induksi dan augmentasi
Induksi pada persalinan membutuhkan kematangan serviks yang
berhubungan dengan rendahnya angka keberhasilan VBAC dan meningkatnya
risiko ruptur uterus, kebanyakan pada wanita yang tidak memiliki riwayat
persalinan pervaginam. Induksi dan augmentasi pada VBAC saat ini masih
kontroversi. Macones, dkk, menyatakan hasil penelitian kontrol kasus retrospektif,
dari 11,299 wanita yang sectio caesarean berulang dan 12,535 wanita yang VBAC
dengan riwayat 1 kali sectio caesarean sebelumnya dan 1171 wanita dengan riwayat
2 kali sectio caesarean. Wanita yang diinduksi atau augmentasi memiliki risiko 3
kali lipat terjadi ruptur. Penulis menunggunakan berbagai metode untuk
menganalisis data dan menunjukkan angka kejadian ruptur uterus hanya meningkat
pada pemberian oksitosin dan prostaglandin. Pada wanita yang memiliki riwayat
sectio caesarian 2 kali memiliki risiko lebih tinggi terjadi ruptur uterus daripada
wanita yang memiliki riwayat sectio caesarian 1 kali. Wanita yang memiliki riwayat
persalinan pervaginam lebih rendah risiko terjadi ruptur uterus dibanding dengan
yang tidak memiliki riwayat sebelumnya. 6
Pada penelitian oleh Landon, dkk. melaporkan pada 227 wanita yang
mendapat prostaglandin pada persalinan, tidak ada yang mengalami ruptur uterus.
Didapatkan kesimpulan penggunaan oksitosin bukan suatu kontraindikasi namun
pengawasan ketat diperlukan. Penggunaan oksitosin disertai prostaglandin adalah
kontraindikasi.6
DAFTAR PUSTAKA
1. Vidyadhar B, Purushottam A, Kunaal K. Vaginal Birth after Cesarean
Section. North American Journal of Medical Sciences. 2016;140-143.
2. Carmen b, Shiliang Liu, Giulia M. Mode of delivery after a previous
cesarean birth, and associated maternal and neonatal morbidity. CMAJ.
2018; 556-563.
3. K. ZH. Sakiyeva, Ibrahim A, M farghali. Outcome of the vaginal birth after
cesarean section during the second birth order in West Kazakhstan. Journal
of family medicine and primary care. 2019; 1542-1546.
4.
Birth after previous caesarean birth. Royal College of Obstetricians &
Gynaecologists (RCOG). 2015
5. Yanhua liu, guangpu liu, Zheng wang. The clinical analysis of vaginal
delivery after cesarean section, and favorable factors for vaginal delivery.
Journal of gynecology and obstetrics. 2018; 113-119.
6. Vaginal birth after cesarean section. Chapter 19, fourth edition of the alarm
international program. Pg. 1-19.