Uploaded by User17970

COD

advertisement
PENENTUAN KADAR CHEMICAL OXYGEN
DEMAND DALAM AIR
(Sabtu, 2 Maret 2013)
1. Tujuan Praktikum

Agar siswa dapat menentukan kadar COD (chemical oxygen demand) dalam
sampel air kolam.
2. Prinsip dan Teori Dasar
2.1 Prinsip
Pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat
(K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan volume diketahui) yang telah
ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat, kemudian dipanaskan selama
beberapa waktu. Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi.
Dengan demikian kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam
sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan.
2.2 Teori Dasar
COD adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sampel air, dimana pengoksidasi K2Cr2O7
digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) (G. Alerts dan SS Santika,
1987).
COD adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada
dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia baik yang dapat didegradasi secara
biologis maupun yang sukar didegradasi. Bahan buangan organic tersebut akan
dioksidasi oleh
kalium bikromat yang digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) menjadi
gas CO2 dan gas H2O serta sejumlah ion chrom. Reaksinya sebagai berikut :
HaHbOc + Cr2O72- + H+ → CO2 + H2O + Cr3+
Jika pada perairan terdapat bahan organic yang resisten terhadap degradasi
biologis, misalnya tannin, fenol, polisacharida dansebagainya, maka lebih cocok
Analisis Air
Page 1
dilakukan pengukuran COD daripada BOD. Kenyataannya hampir semua zat organic
dapat dioksidasi oleh oksidator kuat seperti kalium permanganat dalam suasana asam,
diperkirakan 95% - 100% bahan organic dapat dioksidasi.
Seperti pada BOD, perairan dengan nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi
kepentingan perikanan dan pertanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar
biasanya kurang dari 20 mg/L, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200
mg/L dan pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/ (UNESCO,WHO/UNEP,
1992).
Metode Analisa COD
Metoda standar penentuan kebutuhan oksigen kimiawi atau Chemical Oxygen
Demand (COD) yang digunakan saat ini adalah metoda yang melibatkan penggunaan
oksidator kuat kalium bikromat, asam sulfat pekat, dan perak sulfat sebagai katalis.
Kepedulian akan aspek kesehatan lingkungan mendorong perlunya peninjauan kritis
metoda standar penentuan COD tersebut, karena adanya keterlibatan bahan-bahan
berbahaya dan beracun dalam proses analisisnya. Berbagai usaha telah dilakukan
untuk mencari metoda alternatif yang lebih baik dan ramah lingkungan.
Perkembangan metoda-metoda penentuan COD dapat diklasifikasikan menjadi
dua kategori. Pertama, metoda yang didasarkan pada prinsip oksidasi kimia secara
konvensional dan sederhana dalam proses analisisnya. Kedua, metoda yang
berdasarkan pada oksidasi elektrokatalitik pada bahan organik dan disertai
pengukuran secara elektrokimia.
KOK= Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen Demand = COD)
adalah jumlah oksidan Cr2O7(2-) yang bereaksi dengan contoh uji dan dinyatakan
sebagai mg O2 untuk tiap 1000 ml contoh uji. Senyawa organik dan anorganik,
terutama organik dalam contoh uji dioksidasi oleh Cr2O7(2-) dalam refluks tertutup
menghasilkan Cr(3+). Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen
oksigen (O2 mg /L) diukur secara spektrofotometri sinar tampak. Cr2O7(2-) kuat
mengabsorpsi pada panjang gelombang 400 nm dan Cr(3+) kuat mengabsorpsi pada
panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai KOK 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L
ditentukan kenaikan Cr(3+) pada panjang gelombang 600 nm. Pada contoh uji dengan
nilai KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum
Analisis Air
Page 2
pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau sama dengan 90 mg/L ditentukan
pengurangan konsentrasi Cr2O7(2-) pada panjang gelombang 420 nm.
3. Alat dan Bahan
Alat
:

Pendingin air

Labu didih

Mantel pemanas

Pipet seukuran

Buret

Gelas ukur

Labu seukuran
Bahan
:

Larutan standar kalium bikromat 0,25 N

Larutan standar Fero ammonium Sulfat 0,25 N

H2SO4 pekat pa.

Larutan indikator feroin

Aqua dm
4. Prosedur Kerja dan Pengamatan (Data analisis)
No.
Prosedur Kerja
1.
Masukkan 25 mL contoh air kedalam Labu
Erlenmeyer 250 mL.
Analisis Air
Pengamatan
Sampel : Air kolam SMKN 7 Bandung
(Cair, sdikit keruh)
Page 3
2.
Tambah 12,5 mL larutan standar K2Cr2O7 0,25N
kemudian 75 mL H2SO4 pekat dengan hati – hati
melalui dinding labu.
K2Cr2O7 0,25N : cair, oranye
H2SO4 pekat : Cair, tidak berwarna
Sampel + K2Cr2O7  kuning
+H2SO4  sedikit oranye
3.
Masukkan beberapa butir batu didih, kemudian
campuran diaduk dengan jalan menggoyangkan
labu dengan hati –hati.
1.
Sekarang campuran direfluks selama 2 jam.
Analisis Air
Setelah diaduk  homogen
Page 4
2.
Dinginkan, bilasi alat refluks 3x dengan sedikit air
kemudian encerkan hingga isinya menjadi 150 mL
dengan air suling.
+ aqua dm  oranye
3.
Tambahkan 2-3 tetes indikator feroin, kemudian
titrasi dengan larutan standar (NH4)2Fe(SO4)2
sampai terjadi perubahan warna dari biru hijau ke
merah kebiruan.
+ Indikator feroin  hijau biru
Dititrasi hingga titik akhir  warna
merah
Pembakuan
I
II
FAS
Akhir
11,18
10,98
Awal
0,00
0,00
Pemakaian
11,18
10,98
Blanko
Sampel
Akhir
11,88
11,65
Awal
0,00
0,00
Pemakaian
11,88
11,65
4.
Lakukan penetapan blakno dengan perlakuan
seperti diatas tetapi tidak menggunakan contoh air
melainkan menggunakan aqua dm.
5. Pengolahan Data / Perhitungan, Persamaan Reaksi
Persamaan Reaksi
Reaksi kalium bikromat dengan sampel
HaHbOc + Cr2O72- + H+  CO2 + H2O + Cr3+
Reaksi saat titrasi
(NH4)2Fe(SO4)2 + K2Cr2O7 + H2SO4  (NH4)2Fe(SO4)2 + K2SO4 + Cr2(SO4)3 +
(NH4)2SO4 + H2O
Analisis Air
Page 5
Perhitungan
Pembakuan FAS
VFAS . NFAS = VK2Cr2O7 . NK2Cr2O7
11,08 . NFAS = 10 . 0,25
11,08 . NFAS = 2,5
NFAS
= 2,5 : 11,08
NFAS
= 0,2256 N
Penentuan kadar COD
mg/L COD = (mL titrant blanko – mL titrant sampel) NFAS x 8000
mL contoh
= (11,8 – 11,65) 0,2256 x 8000
25
= 10,83 mg/L
6. Pembahasan
Pada penetapan kadar COD ini, penambahan larutan K2Cr2O7 sebagai
pengoksidasi zat organik yang terdapat dalam sampel (air kolam). lalu H2SO4 pekat
berfungsi untuk menaikan pH (mengubah larutan menjadi keadaan asam). Refluks
dilakukan untuk mempercepat reaksi. Fero Amonium Sulfat bereaksi dengan
kelebihan K2Cr2O7.
Pada praktikum ini, didapat hasil titrasi pada sampel yaitu 11,65 mL dan pada
blanko yaitu 11,8 mL sehingga didapat konsentrasi 10,83 mg/L.
7. Kesimpulan
Setelah dilakukan praktikum penetapan kadar COD didalam sampel air kolam.
Dapat disimpulkan bahwa air kolam memiliki konsentrasi 10,83 mg/L yang berarti
bahwa air kolam SMKN 7 memiliki kadar COD dan zat organic yang relative kecil
dibandingkan dengan air kolam yang biasanya.
Analisis Air
Page 6
8. Daftar Pustaka
 http://teknologikimiaindustri.blogspot.com/2011/02/chemical-oxygendemand-cod.html
 http://karuniacahayafajar.blogspot.com/2012/11/cod.html
 http://dc300.4shared.com/doc/l7s3tNsU/preview.html
Analisis Air
Page 7
Download