KATA PENGANTAR AssalamuAlaikumwarahmatullahiwabaratu. Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan kekuasaan-Nyalah kami dapat menyelesaikan Proposal Mengenai “ Industri Pengolahan Udang Beku Di Kab Pinrang”. Dalam pembuatan Proposal ini cukup banyak kendala yang kami hadapi, tetapi berkat kerja sama penyusun dan bantuan dari beberapa pihak kami dapat menyelesaikannya dengan tepat waktu. Ucapan terimakasih kami yang tak terbatas pada pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan kerja praktek ini antara lain : 1. Puji syukur kepada ALLAH SWT, yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan laporan ini sesuai dengan yang diharapkan. 2. Dosen pembimbing PROPOSAL, Aris Alimuddin ST., MT., dan Harianto A Halim ST., MT.,yang memberikan gambaran tentang Bagaimana tatacara penulisan yang baik. 3. Terima kasih pula kepada pihak – pihak yang telah membantu saya dalam proses pengerjaan Proposal Ini. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan imbalan yang setimpal. Kami menyadari bahwa Proposal ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran sehubungan dengan Proposal ini sehingga bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca, Amin. BillahitaufikwalhidayahWassalamualaikumWr. Wb Makassar, Maret 2019 Penulis Industri Pengolahan Udang Beku | Page i|v DAFTAR ISI Hal HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN JUDUL KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iv DAFTAR GAMBAR v BAB I 1 PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1 B. Rumusan Masalah 4 C. Tujuan 4 BAB II 5 TINJAUAN PUSTAKA 5 A. B. Teori Rancangan Sarana Industri Pengolahan Udang Beku di Kabupaten Pinrang 5 1. Industri Pengolahan Udang Beku 5 2. Lokasi Kawasan Industri 6 3. Proses Pengolahan Udang Beku 8 4. Lingkungan Bangunan Industry Pengolahan Udang 17 Tinjauan Khusus Perancangan Industri Pengolahan Udang Beku 17 1. Site dan Tapak bangunan industri 17 2. Persyaratan Konstruksi Dan Material Bangunan 21 3. Bentuk Bangunan Industri 28 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e ii | v C. 4. Fasilitas dan Ruang 29 5. Instalasi IPAL 37 Studi Banding Bangunan Sejenis 41 1. PT. Bogatama Marinusa 41 2. 43 PT. Central Pertiwi Bahari 3. BD Seafood 44 BAB III 50 TINJAUAN KHUSUS 50 A. B. Tinjauan Umum Kabupaten Pinrang 1. Kondisi Wilayah 2. Rencana Tata Ruang 49 Tinjauan Umum Industri Udang Beku Di Kabupaten Pinrang 49 1. Proyeksi Industri Udang Beku Di Kabupaten Pinrang 49 2. Potensi ketersediaan bahan baku 52 BAB IV 50 ANALISA DAN PEMBAHASAN 50 A. Konsep Dasar 50 B. Pendekatan Konsep Makro 50 1. Pemilihan Lokasi 50 2. Analisis Lokasi 50 3. Analisa Lokasi Terpilih 50 C. Pendekatan Konsep Mikro 50 1. Pencapaian Ke Tapak 50 2. Sirkulasi Tapak 50 3. Orientasi Sinar Matahari 50 4. Pergerakan Arah Angin 50 5. Kebisingan 50 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e iii | v D. Analisis Bangunan 50 1. Program Pelaku Dan Aktifitas 50 2. Alur Sirkulasi Pengguna 50 3. Analisa Kebutuhan Ruang 50 4. Analisa Besaran Ruang 50 5. Analisa Utilitas Bangunan 50 6. Analisa Struktur 50 DAFTAR PUSTAKA 55 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e iv | v DAFTAR TABEL Hal Table 1. Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kawasan Industri 18 Table 2. Besaran Ruang Pengolahan Udang 32 Table 3. Besaran Akomodasi Kantor Dan Fasilitas Terkait 32 Table 4. Beban Pencemaran Limbah Cair Industri Perikanan 38 Table 5. Studi Banding Bangunan Sejenis BDSeafood 48 Industri Pengolahan Udang Beku | Page v|v DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1. Fase Dalam Pemrosesan Udang Beku 11 Gambar 2. Diagram Alir Proses Penanganan Udang Beku 13 Gambar 3. detail lantai 23 Gambar 4. Layout Ruang Pengolahan Udang 30 Gambar 5. Layout Ruang Pengolahan Udang 31 Gambar 6. System Produksi Pararel Pengolahan Udang 33 Gambar 7. Diagram Layout Dan Zoning Industri 33 Gambar 8. Beberapa Modul Bangunan Industri 34 Gambar 9. Beberapa Modul Bangunan Industri 34 Gambar 10. penerapan ventilasi udara dengan exhaust pada Bangunan Industri 35 Gambar 11. Penerapan Cerobong Pembuang Udara Dengan Exhaust Pada Bangunan Industri 35 Gambar 12. Penerapan Ventilasi Udara Dengan Exhaust Pada Bangunan Industri 36 Gambar 13. Teknik Penyimpanan Strorange 36 Gambar 14. Pola Penyimpanan Strorange 37 Gambar 15. Susunan Gudang Dan Bangunan Produksi 37 Gambar 16. Pengolahan Limbah Cair Anaerobic-Aerobic 40 Gambar 17. Pengolahan Lanjut Anaerobic-Aerobic 40 Gambar 18. Diagram alir prototipe IPAL industri pengolahan ikan 41 Gambar 19. PT Bogatama Marinusa atau PT BOMAR 42 Gambar 20. PT Bogatama Marinusa atau PT BOMAR 42 Gambar 21. PT Central Pertiwi Bahari 43 Gambar 22. PT Central Pertiwi Bahari 44 Gambar 23. Tampak Depan Industri 45 Gambar 24. Ruang Penerimaan Bahan Baku 45 Gambar 25. Ruang Laboratorium 45 Gambar 26. Ruang Ganti Kariawan 46 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e vi | v Gambar 29. Ruang penimbangan dan Pencucian 46 Gambar 30. Ruang pencucian 2 46 Gambar 27. Ruang pencucian 3 dan pemotonagn kepala 47 Gambar 28. Ruang Proses Iqf Dan Pembekuan 47 Gambar 29. Ruang pengepakan dan Pelabelan melalui metal detector 47 Gambar 30. Ruang Gudang Penyimpanan beku 48 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e vii | v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri Hasil Perikanan merupakan seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha pengolahan hasil laut, seperti pengalengan, pengeringan, pembekuan dan sebagainya ( Budiharsono, 2001). Perikanan merupakan salah satu subsektor yang berperan dalam perekonomian nasional. Udang segar dan udang beku merupakan produk unggulan ekspor perikanan yang berkontribusi untuk Indonesia sebagai negara eksportir udang. (Ashari dkk., 2015). Potensi perikanan di Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan, karena didukung oleh keanekaragaman biota laut yang tinggi dan dapat di manfaatkan oleh masyarakat secara maksimal (Jauhid, 2015). Potensi sumberdaya ikan, sumberdaya manusia serta permintaan pasar yang terus meningkat, memungkinkan bagi kita untuk mewujudkan industri perikanan yang kokoh, mandiri dan berkelanjutan serta memperluas penyerapan tenaga kerja, meningkatkan pendapatan nelayan, meningkatkan konsumsi dalam negeri, dan meningkatkan penerimaan devisa negara yang pada gilirannnya akan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional (Nikijuluw 2002 dalam Oktaviani dkk,. 2012). Sulawesi Selatan sebagai salah satu daerah produsen udang terbesar di Indonesia memiliki luas areal pertambakan ± 109.561 hektar dari potensi lahan seluas 176.869.54 hektar. Kabupaten Pinrang sebagai bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai lahan tambak seluas 15.062,2 Ha hektar dari potensi lahan seluas 36.000 hektar atau 18% dari total luas tambak Sulawesi Selatan yang memproduksi berbagai Komoditas sesuai potensi perikanan Kabupaten Pinrang, yakni udang, ikan Bandeng, rumput laut dan berbagai jenis lainnya (Badan Pusat Statistik [BPS] Kab Pinrang, 2018). Kabupaten Pinrang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil produksi perikanan terutama budidaya tambak yang memiliki nilai pasar ekspor ke daerah hingga ke luar negeri. (Jauhid, 2015). Volume Ekspor Ikan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 1 | 119 dan Udang Sulawesi selatan pada tahun 2013 12.268,4 ton dengan nilai FOB 92.889 US $, pada 2014 yaitu 12.341,48 ton dengan nilai FOB 96.382 US $, pada tahun 2015 yaitu 12.190,29 ton dengan nilai FOB 82.133 US $, pada 2016 yaitu yaitu 11.350 ton dengan nilai FOB 68.515, pada tahun 2017 yaitu 18.573 ton dengan nilai FOB 108.909 US $. (BPS Sulawesi Selatan, 2018) Udang merupakan salah satu jenis komoditi unggulan Kab Pinrang , jenis udang yang dibudidayakan yaitu udang Windu, vename, api api yang merupakan daerah yang mempunyai potensi tambak yang terbesar di Sulawesi Selatan. Volume produksi udang tahun 2013 ialah 5.691,58 ton, pada tahun 2014 naik menjadi 5.742,23 ton, tahun 2015 naik signifikan menjadi 7.180,45 ton, pada tahun 2016 menjadi 7.386,29 ton, dan 2017 naik kembali menjadi 7.467.29 ton. Ini menunjukkan volume produksi udang kabupaten pinrang meningkat per tahunnya. (Kab. Pinrang Dalam Angka, 2018). Volume produksi udang yang di serap industri pada tahun 2013 ialah 4268.69 ton, pada tahun 2014 naik menjadi 4478.94 ton, tahun 2015 naik signifikan menjadi 5744.36 ton, pada tahun 2016 menjadi 5909.03 ton, dan 2017 naik kembali menjadi 5973.83 ton. Ini menunjukkan volume produksi udang yang di serap industri kabupaten pinrang meningkat per tahunnya. (Dinas Perikanan Kab. Pinrang, 2019) Hasil Survei Industri menunjukkan Industry pangan perikanan kabupaten pinrang hanya tersedia 4 jenis industry perikanan yaitu industry ikan kering, ikan asap, abon ikan, serta krupuk ikan dan udang. Ketersediaan sarana industry pengolahan perikanan dan udang yang merupakan komoditi utama kabupaten pinrang terbilang sangat minim dengan jumlah 76 industri yang merupakan industry kecil. (Kab. Pinrang Dalam Angka, 2018) Pengolahan hasil perikanan yang memegang peranan penting dalam kegiatan pasca panen, sebab dengan melakukan usaha pengolahan, hasil perikanan sebagai komoditi yang sifatnya mudah rusak dan membusuk dapat ditingkatkan daya awetnya, disamping itu usaha pengolahan juga dapat meningkatkan nilai tambah (added value) produk tersebut. (Nuryani, 2006). Sedangkan peran utama pengolahan adalah pelestarian, pengolahan tidak I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 2 | 119 hanya memperpanjang umur simpan tetapi juga menciptakan yang baru berbagai produk. (Boziaris, 2014) Standar pembangunan pengolahan hasil perikanan yaitu Standar kebersihan yang lebih tinggi, penanganan yang lebih baik, penggunaan ruang yang lebih ekonomis dan biaya yang lebih rendah untuk pemanasan atau pengaturan suhu dapat dicapai jika semua operasi terbatas pada satu bangunan (FAO, 1984). Penanganan ikan sebaiknya dibatasi hanya di lantai dasar karena ini akan Membuat drainase yang baik lebih mudah dan lebih murah, biaya struktural akan berkurang dan area kerja utama akan lebih mudah diakses oleh kendaraan dan dengan demikian memastikan penanganan yang cepat dan menghindari penundaan (FAO, 1984). Tata letak pabrik yang disarankan untuk memproses 800 kg / jam udang ukuran kecil sampai menengah menggunakan operasi pengupasan mesin mempunyai luasan 600 m2 meliputi Aneka pengolahan 494 m2 denangan suhu +15, Mengerikan 42 m2 denangan suhu +1, Penyimpanan dingin 64 m2 denangan suhu -30, Akomodasi kantor dan fasilitas terkait (FAO, 1984). Udang yang lebih besar lebih mungkin cocok untuk diproses dengan operasi manual terutama, dan tata letak yang khas bersama dengan diagram alur yang sesuai (FAO, 1984). Masalah yang dihadapi adalah dimana tingkat produksi udang per tahun kabupaten pinrang terus meningkat namun tidak memiliki fasilitas yang memadai seperti tidak adanya industri pengolahan dan pengepakan. padahal Dalam Lamia dkk (2017), Standar sarana penunjang kawasan kota perikanan (Minapolitan) harus meliputi lembaga masyarakat ( kelompok tani/nelayan masyarakat), TPI, industry pengolahan ikan kecil dan rumah tangga, lapangan penjemuran ikan, pabrik es, lembaga keuangan, SPBU/SPDN, Gudang pengolahan/ pengepakan, lemari pendingin (cold room) , docking bengkel. Serta penanganan limbah industry sesuai PP No. 20/1990 . Dan ini juga di dukung oleh arah kebijakan RPJMD urusan kelautan dan perikanan tentang pembangunan infrastruktur/sarana dan prasarana dari perikanan budi daya tangkap dan pengelolaan kelautan, arah kebijakan RPJPD Kabupaten pinrang I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 3 | 119 tahun 2009-2029 tentang revitalisasi hasil olahan perikanan dan terbangunnya Prioritas sarana dasar, Dari uraian tersebut menyimpulkan bahwa Industri Pengolahan Udang Beku Di Pinrang tentu menjadi kejelasan akan urgensi pemenuhan sasaran pemerintah dalam pengembangan sarana kawasan minapolitan. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang dikemukakan diatas maka pokok permasalahannya dapat dirumuskan yaitu 1. Bagaimana menentukan Lokasi Dan site Industri Pengolahan Udang di Kab. Pinrang? 2. Bagaimana merencanakan bentuk, fasilitas, serta kebutuhan ruang sesuai standar bangunan industri pengolahan udang beku? 3. Bagaimana menerapkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pada bangunan industri pengolahan udang beku? C. Tujuan dan Sasaran Pembahasan 1. Tujuan a. Untuk menentukan Lokasi Dan site Industri Pengolahan Udang di Kab. Pinrang b. Untuk merencanakan bentuk, fasilitas, serta kebutuhan ruang sesuai standar bangunan industri pengolahan udang beku c. Untuk menerapkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pada bangunan industri pengolahan udang beku 2. Sasaran a. Untuk merencanakan suatu wadah industri pengolahan udang beku Kabupaten pinrang b. Untuk menganalisis landasan konseptual fisik bangunan sebagai acuan dalam perancangan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 4 | 119 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Teori Rancangan Sarana Industri Pengolahan Udang Beku di Kabupaten Pinrang 1. Industri Pengolahan Udang Menurut Undang Undang Republik Indonesia no 3 tahun 2014 pasal 1 tentang Perindustrian, industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengolah bahan baku dan atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industry. Industri Hasil Perikanan merupakan seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha pengolahan hasil laut, seperti pengalengan, pengeringan, pembekuan dan sebagainya ( Budiharsono, 2001). Pengolahan hasil perikanan yang memegang peranan penting dalam kegiatan pasca panen, sebab dengan melakukan usaha pengolahan, hasil perikanan sebagai komoditi yang sifatnya mudah rusak dan membusuk dapat ditingkatkan daya awetnya, disamping itu usaha pengolahan juga dapat meningkatkan nilai tambah (added value) produk tersebut. (Nuryani, 2006). Menurut Wibowo., dkk (2014) Pengolahan merupakan salah satu cara untuk mempertahankan daya awet dan juga meningkatkan nilai ekonomis ikan. Sedangkan peran utama pengolahan adalah pelestarian, pengolahan tidak hanya memperpanjang umur simpan tetapi juga menciptakan yang baru berbagai produk. (Boziaris, 2014). Industri pengolahan udang dapat di simpulkan sebagai suatu proses dan mata rantai pengolahan hasil udang baik itu pengalengan, pengerikan, maupun pembekuan yang bertujuan meningkatkan daya awet dan meningkatkan nilai tambah pada produk udang itu sendiri. Berikut beberapa produk hasil olahan pada industri udang: I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 5 | 119 a. Udang beku Tanpa kepala Produk udang beku tanpa kepala ini merupakan produk murni dari pengolahan awal udang tanpa pemasakan degan pengolahan sesuai prosedur dan di bekukan tanpa di olah kembali kembali menjadi produk jadi. Tetapi menjadi produk setngah jadi. Gambar 1. Udang beku tanpa kepala Sumber : PT. Bomar (2019) Gambar 1. Udang beku tanpa kepala Sumber : PT. Bomar (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 6 | 119 b. Sushi-Ebi Produk udang sushi eby ini merupakan produk jadi yang diolah dengan pemasakan setelah proses pencucian sebelum akhirnya di bekukan dan dikemas. Gambar 1. Produk Udang Sushi Ebi Sumber : PT. Bomar (2019) i. Udang tepung ( Ebyfurrai) Pada produk udang tepung ini udang yang telah melewati proses pencucian kemudian di masak dengan dicampurkan dengan tepung, telur, penyedap rasa dan lain lain sebelum akhirnya di kemas dibekukan dan di simpan. Gambar 1. Produk Udang Sushi Ebi Sumber : PT. Bomar (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 7 | 119 c. Tempura udang Pada produk Tempura udang ini udang yang telah melewati proses pencucian kemudian dimasak dengan dicampurkan dengan adonan tepung, telur, penyedap rasa dan lain-lain sebelum akhirnya di kemas dibekukan dan di simpan. d. Nugget udang Pada produk Nugget udang ini udang yang telah melewati proses pencucian kemudian dimasak dengan dicampurkan dengan adonan tepung, telur, penyedap rasa dan lain-lain sebelum akhirnya di kemas dibekukan dan di simpan. Gambar 1. Produk Nugget Udang Sumber : PT. Bomar (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 8 | 119 2. Lokasi Kawasan Industri Dalam permen perindustrian RI no 35 tahun 2010 disebutkan bahwa Berkembangnya suatu Kawasan Industri tidak terlepas dari pemilihan lokasi kawasan industri yang akan dikembangkan, karena sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor/variabel di wilayah lokasi kawasan. Selain itu dengan dikembangkannya suatu Kawasan Industri juga akan memberikan dampak terhadap beberapa fungsi di sekitar lokasi kawasan. Oleh sebab itu, beberapa kriteria menjadi pertimbangan di dalam pemilihan lokasi Kawasan Industri, antara lain dapat dilihat pada table. Dengan pengembangan kawasan minapolitan maka di perlukan lahan baru untuk penempatan sarana dan prasarana penunjang kawasan minapolitan (jaudid, 2015). Menurut RTRW Kab Pinrang tahun 20122032 pada paragraph 4 pasal 39 di sebutkan bahwa kawasan pengolahan ikan sebagaimana di maksud di tetapkan di sebagian wilayah suppa, sebagian wilayah lanrisang, sebagian wilayah mattiro sompe, sebagian I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 9 | 119 wilayah cempa, sebagian wilayah duampanua, dan sebagian wilayah kecamatan lembang. Table 1. Pertimbangan Pemilihan Lokasi Kawasan Industri Sumber :Permen Deprin RI no 35 2010 tentang pedoman teknis kawasan industri 3. Proses Pengolahan Udang Dalam pelaksanaannya, pengolahan perikanan termasuk udang udang menurut Menurut Wibowo., dkk (2014) merupakan salah satu cara untuk mempertahankan daya awet dan juga meningkatkan nilai ekonomis ikan. Sedangkan peran utama pengolahan adalah pelestarian, pengolahan tidak hanya memperpanjang umur simpan tetapi juga menciptakan yang baru berbagai produk (Boziaris, 2014). Faktor utama yang menentukan kualitas ikan beku dapat dikelompokkan menjadi tiga bidang utama: pra-pembekuan, proses pembekuan dan penyimpanan / I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 10 | 119 distribusi produk beku. Area-area utama ini akan bersifat umum untuk pemrosesan ikan apa saja (goncalves, et al., 2011) Dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) No 2705-2014 telah di tetapkan beberapa ketentuan sebelum pengolahan yaitu meliputi : a. Bahan baku Meliputi semua jenis udang segar konsumsi hasil penangkapan atau budidaya, bahan baku berasal dari peraiaran yang tidak tercemar, dengan bentuk udang segar dengan atau tanpa kepala, dengan mutu sesuai sni 2728 b. Bahan penolong Meliputi Air yang dipakai sebagai bahan penolong untuk kegiatan di unit pengolahan harus memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Serta es yang sesuai dengan SNI 4872 c. Persyaratan mutu dan keamanan udang beku Persyaratan mutu serta kemanan dapat di lihat pada table d. Pengambilan contoh Cara uji sesuai sensori, cemaran mikroba, cemaran logam, cemaran fisika, dan cemaran fisik e. Teknik sanitasi dan higen Penanganan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, pemuatan dan pemasaran udang beku dalam kemasan dilakukan dengan menggunakan wadah, cara dan alat yang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan higiene dalam unit pengolahan hasil penkanan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Produk akhir harus bebas dan benda asing yang mengganggu kesehatan manusia. f. Peralatan dan persyaratan peralatan g. Penanganan dan pengolahan h. Persyaratan pengemasan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 11 | 119 Bahan kemasan harus bersih, tidak mencemari produk yang dikemas, terbuat dan bahan yang baik dan memenuhi persyaratan bagi produk pangan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Teknik pengemasan Produk dikemas dengan cepat, cermat, saniter dan higienis. Pengemasan diakukan dalam kondisi yang dapat mencegah terjadinya kontaminasi. Pelabelan Setiap kemasan produk yang akan diperdagangkan dibeni label sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 1. Pengolahan Produk Udang Beku Tanpa Pemasakan ( Beku ) Produk ekspor udang yang paling umum adalah udang beku, di mana udang diproses menjadi udang Individual Quick Frozen (IQF). Kita dapat membedakan empat fase dalam pemrosesan beku: (I) pra-perawatan; (II) de-heading; (III) pemangkasan dan (IV) pembekuan, pengemasan, dan penyimpanan (Gbr). Kami dapat menyebut fase-fase ini sebagai sub sistem pemrosesan. Dua sub-sistem lainnya perlu disebutkan: (V) produksi es untuk udang dingin selama pemrosesan; dan (VI) membersihkan semua langkah selama dan setelah pemrosesan. ( Anh, 2011) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 12 | 119 Gambar 1. Fase Dalam Pemrosesan Udang Beku Sumber : anh (2011) Di Indonesia sendiri penanganan dan pengolahan udang beku telah di tetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) no 2705-2014 yang dapat di lihat pada diagram alir proses penanganan udang beku di bawah I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 13 | 119 Gambar 2. Diagram Alir Proses Penanganan Udang Beku Sumber :SNI No 2507-2014 tentang Udang Beku I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 14 | 119 Alur Proses Penanganan dan pengolahan Udang Beku menurut SNI no 2507-2014 meliputi : a) Penanganan 1) Penerimaan Kemasan Kemasan yang diterima di unit pengolahan diverifikasi terkait keamanan pangan dan terlindung dan sumber kontaminasi kemudian disimpan pada gudang penyimpanan yang saniter. 2) Label Label yang diterima di unit pengolahan divenfikasi terkait keamanan pangan dan kesesuaian produknya, kemudian disimpan pada gudang penyimpanan yang saniter 3) Bahan Baku Bahan baku yang diterima di unit pengolahan diuji secara organoleptik dan ditangani secara cepat, cermat dan saniter sesuai dengan prinsip teknik penanganan yang baik dan benar dalam kondisi dingin. b) Teknik Penanganan dan Pengolahan 1) Bahan baku udang segar dengan atau tanpa kepala bahan baku ditangani secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 2) Pencucian I bahan baku dicuci dengan menggunakan air mengalir secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 15 | 119 dingin. Untuk produk yang tidak mengalami pemotongan kepala, Iangsung dilakukan sortasi. 3) Pemotongan kepala kepala udang dipotong dengan atau tanpa alat pemotong dan bagian atas kepala kebawah secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi suhu dingin. 4) Pencucian 2 bahan baku dicuci dengan menggunakan air mengalir secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 5) Sortasi bahan baku dipisahkan berdasarkan jenis, mutu, dan ukuran. Sortasi mutu dilakukan secara organoleptik. Sortasi dilakukan secara hati-hati, cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 6) Penimbangan produk dimasukan ke dalam keranjang plastik dan kemudian ditimbang sesuai dengan berat yang ditentukan. Penimbangan dilakukan secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 7) Pencucian 3 bahan baku dicuci dengan menggunakan air mengalir secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 8) Penyusunan Dalam Pan udang disusun dalam pan pembekuan satu per satu sesuai spesifikasi. Proses penyusunan dilakukan dengan cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 9) Pembekuan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 16 | 119 produk dibekukan dengan pembekuan cepat, dengan cara disusun dalam pan selanjutnya dimasukkan pada alat pembeku Contact Plate Freezer (CPF) atau Air Blast Freezer (ABF) untuk semi block dan frozen block, sedangkan untuk Individual Quick Freezing (IQF), produk disebar merata diatas conveyor belt 1QF atau dítebar dalam pan dan dibekukan dalam ABF hingga mencapai suhu pusat produk maksimum -18 oc. 10) Penggelasan untuk produk frozen block dicelupkan ke dalam air dingin atau disiram air dingin, sedangkan untuk produk lOF disemprot dengan air dingin dalam tunnel IQF atau ditampung dalam keranjang dan dicelupkan dalam air dingin secara cepat, cermat dan saniter. 11) Pengemasan dan pelabelan I produk dimasukan ke dalam plastik, selanjutnya dimasukan ke dalam inner carton yang telah diberi label. Proses pengemasan dilakukan secara cepat, cerrnat dan saniter. 12) Pendeteksian logam produk dalam inner carton dilewatkan ke dalam metal defector sesuai spesimennya. Proses dilakukan secara cepat, cermat dan saniter. 13) Pengemasan dan Pelabelan 2 produk dalam inner carton dimasukkan ke dalam master carton yang telah diberi label. Proses pengepakan dilakukan secara cepat, cermat dan saniter dengan mempertahankan suhu pusat udang maksimum -18 °C. 14) Penyimpanan Beku I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 17 | 119 Produk disusun secara rapi di dalam gudang penyimpanan beku dan suhu penyimpanan dipertahankan stabil maksimum -18 °c dengan sistem penyimpanan First In First Out (F1FO). 15) Pemuatan roduk dalam kemasan dimuat secara cepat. cermat, saniter dan higienis dan dimuat dalam alat transportasi yang terlindung dan penyebab yang dapat merusak atau menurunkan mutu dengan mempertahankan suhu pusat produk maksimum -18 C. 2. Pengolahan Produk Udang Beku dengan Pemasakan ( cooking and Freezing ) Pengolahan produk udang beku ini berlaku pada produk udang yang diolah dengan dimasak. pada fase ini bahan baku udang diolah dengan mencampurkan bahan baku lain seperti tepung, garam, telur, margarin, penyedap rasa dan lain-lain. Pengolahannya tak jauh berbeda dengan pengolahan udang beku pada umumnya hanya saja di pada fase setelah pencucian 3 terdapat fase pemasakan baik itu meliputi penggorengan, perebusan, dan lain-lain. Proses ini dapat di lihat pada gambar di bawah ini I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 18 | 119 Gambar 2. Diagram Alir Proses Penanganan Udang dengan di masak Sumber :SNI No 2507-2014 tentang Udang Beku I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 19 | 119 4. Lingkungan Bangunan Industri Pengolahan Udang Menurut (Neufert,2003 :52) dengan bertambahnya tinggi biaya untuk energi dan buruh maka peran lingkungan bangunan dalarn mendukung usaha penghematan biaya pelaksanaan peran dan produktifitas menjadi semakin penting. Faktor yang diperlukan untuk membentuk kondisi tempat kerja yang baik yaitu: 1. Sistem penyaringan debu 2. Sistem ventilasi 3. Sistem pencahayaan buatan dan alarni 4. Sistern pengendalian kebisingan B. Tinjauan Khusus Perancangan Industri Pengolahan Udang 1. Site dan Tapak Bangunan industri Menuru (Neufert,2003 :39) perencanaan pabrik atau pergudangan membutuhkantuas ruangan dan data yang diberikan pemilik. Biasanya mencakup beberapa hat dibawah ini : 1. potensi perluasan bangunan 2. paJa parkir kendaraan untuk pengunjung. karyawan dan kendaraan truk, 3. Daerah gudang tuar atau gudang terbuka. 4. Perencanaan pertamanan. 5. Pola pencapaian dari jatan raya. kereta api dan dermaga laut. 6. Peraturan-peraturan nasional dan lokal. 7. Perkiraan pengaruh dampak lingkungan. Rasio bidang tanah bangunan dan pengemhangan tapak Rasio bidang tanah dengan perbandingan 1:1 dengan rasio maksimal pada semua jenis bangunan industri dengan kantor. Luas tapak yang dibangun tidak lebih 75% dan tuas tapak yang ada (Neufert,2003 :39) Menurut Hadiguna dan Setiawan (2008), perancangan fasilitas meliputi penataan unsur fisik, pengaturan aliran bahan, dan penjaminan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 20 | 119 keamanan pekerja. Salah satu prinsip aliran dari suatu proses kerja dalam industri adalah untuk menghindari adanya gerakan bolak balik (back-tracking), gerakan memotong (cross-movement), kemacetan produksi (congestion), sehingga material produksi selalu bergerak tanpa terjadi suatu interupsi (Wignjosoebroto, 2000). Kecil kemungkinannya bahwa dalam situasi apa pun hanya ada satu tata letak ideal untukbarea pemrosesan, tetapi pada tahap perencanaan harus dilakukan upaya untuk menyesuaikan dengan beberapa persyaratan mendasar. dua pertimbangan utama adalah kebersihan dan ekonomi, dan karena jarang ada ruang untuk kompromi tentang kebersihan, aspek ini harus selalu menjadi prioritas. Persyaratan lain sering dalam konflik, oleh karena itu, kompromi harus dilakukan tergantung pada pentingnya elemen yang berbeda dalam situasi lokal. Tata letak pabrik tergantung pada bangunan yang tersedia dan terutama pada ukuran dan bentuknya. Oleh karena itu lebih mungkin bahwa tata letak yang baik akan dicapai dengan bangunan baru daripada dengan mengubah yang lama, dan pertimbangan ini dapat mempengaruhi keputusan pada pilihan bangunan dan situs. (FAO,1984). Food and Agriculture organization (FAO) dalam peraturannya mengemukakan bahwa Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, ketika merencanakan tata letak pabik, tercantum di bawah ini tetapi yang lain, yang mungkin tergantung pada kondisi lokal, mungkin sama pentingnya, terutama yang berkaitan dengan peraturan bangunan dan peraturan terkait lainnya, hal itu meliputi : 1. Tata letak harus diatur agar bahan mentah dan produk jadi tetap terpisah, sehingga menghindari kemungkinan kontaminasi silang. 2. Pemrosesan setelah operasi pembersihan atau mencuci harus dipisahkan dan proses pra-pembersihan. 3. Tata letak harus memastikan bahwa drainase selalu jauh dan produk jadi dan area bersih lainnya. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 21 | 119 4. Area “basah” yang digunakan untuk mencuci. icing, pengolahan mesin dan operasi lainnya harus disimpan terpisah dan area “kering”. seperti yang digunakan untuk menimbang, mengemas, dan memberi label. 5. Tata letak harus memungkinkan akses mudah ke semua peralatan untuk pembersihan dan perawatan yang efektif. 6. Peralatan yang menggunakan pendingin harus diletakkan sehingga ruang tanam umum dapat digunakan untuk mesin yang bukan merupakan bagian integral dan peralatan. 7. Pengiriman dan pengiriman bahan mentah dan barang jadi harus disimpan terpisah untuk menghindari kontaminasi dan juga masalah lalu lintas. Menurut FAO (1984) Daftar berikut ini tidak komprehensif, tetapi memberikan panduan tentang beberapa factor yang mungkin harus dipertimbangkan ketika memilih situs untuk kompleks penyimpanan beku dan dingin: a) Biaya tanah b) Lokasi dari lokasi sehubungan dengan pasokan bahan baku c) Ketersediaan persediaan bahan baku terus menerus d) Lokasi situs sehubungan dengan pasar dan outlet lainnya e) Apakah mungkin ada keberatan lokal terhadap kompleks f) Akankah kondisi lokal menambah biaya bangunan g) Tarif lokal dan pajak h) Hibah lokal atau bantuan lain tersedia i) Biaya persiapan lokasi j) Ketersediaan air yang cukup dengan kualitas yang tepat k) Pasokan daya yang memadai l) Apakah ada layanan pendukung tambahan terdekat seperti pabrik es m) Biaya pembuangan limbah cair dan padat I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 22 | 119 n) Apakah ada lahan dan layanan lain yang tersedia untuk perluasan di masa mendatang 2. Persyaratan Konstruksi Dan Material Bangunan Kondisi ruang produksi pada industri pangan berpengaruh terhadap kesehatan dan higienis produk maupun pelaku industri. Konstruksi bangunan industri disesuaikan dengan dimensi bangunan yang meliputi ketinggian, panjang bangunan, lebar bangunan, lantai gantung, maupun alat angkut yang digunakan. Standar bangunan industri secara umum adalah 3 m dengan ketinggian optimum sebesar 5,6 m untuk penanganan suhu ruang. Namun, ketinggian maksimum bangunan disesuaikan dengan tinggi mesin atau truk barang.Panjang dan lebar bangunan mengacu pada kelipatan rentang kolom dengan penyesuaian proporsi bentang baja >200 m setiap 15-20 m atau 30 m untuk keadaan maksimal (REIDSteel dalam Rahayu., dkk 2015). Menurut badan pengawasan obat dan makanan (BPOM) Dalam peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) No.HK.03.1.23.04.12.2206 Tahun 2012 dinyatakan bahwa bangunan dan fasilitas industri seharusnya menjamin bahwa pangan tidak tercemar oleh bahaya fisik, biologis, dan kimia selama dalam proses produksi serta mudah dibersihkan dan disanitasi. Higienis ruang produksi berkaitan dengan persyaratan ruang yang meliputi desain dan tata letak, lantai, dinding dan pemisah ruang, langit-langit, bukaan, ventilasi, dan permukaan tempat kerja. a. Dinding Tahan lama, kedap air, rata, berwarna terang, tidak mudah terkelupas, tidak beracun. Pintu ruangan sebaiknya menggunakan 4ndust bukaan ke luar atau ke samping sehingga kotoran dari luar tidak terbawa masuk ke dalam ruang produksi (BPOM,2012). Semua dinding dan partisi di area persiapan makanan, peralatan, dan area cuci peralatan dan unit pendingin I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 23 | 119 berjalan harus dari permukaan yang halus dan tidak mudah menyerap dan mudah dibersihkan (Manitoba, 2018). Dinding harus halus dan tahan air. Brickwork atau blockwork dari blok beton padat lebih disukai untuk dinding utama karena mereka menyediakan dasar yang baik untuk hasil akhir yang dapat dicuci halus; Baja yang terkena harus dilindungi terhadap korosi dan mungkin juga membutuhkan lapisan yang mencegah kondensasi. Penguatan baja harus ditutup dengan setidaknya 40 mm beton. Satu penyelesaian dinding yang memuaskan diperoleh dengan ubin keramik. Ini mahal. dan jika ubin dengan ketinggian penuh dinding adalah keluar dari pertanyaan, maka cocokkan ubin ke ketinggian 1-1 1/2 m dan memiliki semen yang diberikan selesai di atas. Ujung atas ubin harus diselesaikan dengan ubin bulat, atau ubin yang dibuat rata dengan permukaan dinding di atas. (FAO, 1984) b. Lantai Kedap air, padat dank eras, tahan terhadap air, asam, basa maupun bahan reactor lainnya. Permukaan rata, memudahkan pembuangan atau pengaliran air dalam ruang, Menghindari adanya sudut tajam penyebab akumulasi kotoran, Tidak menggunakan karpet pada area preparasi makanan (BPOM,2012). Lantai dan penutup lantai dari semua area persiapan makanan, area penyimpanan makanan, perlengkapan dan area mencuci peralatan dan unit pendingin berjalan harus terbuat dari bahan yang halus, tahan air dan tahan lama baik yang mulus atau tidak dengan jahitan yang disegel panas atau terikat secara kimia. Penutup lantai di area persiapan makanan, peralatan dan area mencuci peralatan harus ditutup dan disegel di semua persimpangan lantai dan dinding. Semua lantai di kamar mandi harus terbuat dari bahan tahan lama dan dinding dan persimpangan lantai coved dan disegel (Manitoba, 2018) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 24 | 119 Gambar 3. Detail lantai Sumber :Manitoba (2018) Lantai harus keras dipakai, tidak berpori, bisa dicuci, dikeringkan dengan baik, tidak licin dan tahan terhadap kemungkinan serangan dari air asin, amonia lemah, minyak ikan, dan jeroan. Beton diserang oleh minyak ikan dan juga oleh aksi lanjutan dari air asin yang kuat; itu juga diserang oleh asam tetapi tidak oleh amonia. Tingkat serangan tergantung padakerapatan beton dan jumlah keausan yang menghilangkan material yang diserang untuk mengekspos material segar; dengan demikian, ketika beton digunakan sebagai penutup lantai, maka harus berkualitas tinggi. Jika permukaan dikenakan keausan yang sangat berat, oleh besi-roda beroda misalnya, maka beton sangat tidak cocok. Ubin tanah liat atau paviors membuat lantai yang paling keras dipakai untuk ruang kerja ikan. Mereka harus sekitar 50 mm tebal dan meletakkan siram dalam sambungan yang terbuat dari furane atau kacang mete. Semen lateks dapat diganti sebagai bahan sambungan yang lebih murah, tetapi tidak begitu memuaskan. Hindari kerusakan parah pada permukaan lantai dengan mengurangi seret peralatan yang diperlukan dan menjatuhkan kotak; muat batang dan troli Anda dengan roda karet-tyred sintetis bukan yang terbuat dari baja. Debu permukaan kadang-kadang mengganggu lantai beton berkualitas baik. Pengobatan dengan larutan natrium silikat atau dengan magnesium atau larutan zinc silco-fluoroide sering efektif. Lembaran selesai, seperti karet atau PVC yang harus ditancapkan, biasanya tidak cocok untuk lantai kerja ikan. Karet I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 25 | 119 diserang oleh minyak ikan, dan PVC membengkak ketika Dibasahi. Lantai kerja ikan terus dibasahi, maka drainase yang memadai sangat penting. Kemiringan 1 dalam 100 biasanya cukup, dan kemiringannya harus diatur sedemikian rupa sehingga lalu lintas reguler manusia dan kendaraan melintasinya, bukan naik dan turun; ada lebih sedikit bahaya kecelakaan. Lereng yang lebih besar dari 2,5 dalam 100 berbahaya, oleh karena itu, kemiringan lantai harus berada di antara batas-batas sebelumnya. ika lantai selain lantai dasar bangunan harus digunakan untuk mengolah ikan basah, lantai yang ditopang seperti itu membutuhkan membran kedap air atau lapisan bawah antara lantai struktural dan lapisan akhir beton atau beton; bahan yang cocok untuk lapisan seperti itu termasuk aspal tahan asam dan aspal. Saran ahli harus dicari untuk memastikan bahwa lantai seperti itu diletakkan dengan cara yang tepat untuk melindungi struktur di bawah. (FAO, 1984) c. Langit –langit Tahan lama, ringan, kedap air, dan tidak mudah bocor. Ketinggian langit-langit disesuaikan dengan aktivitas, mesin, dan kebutuhan, serta disediakan akses untuk mengontrol utilitas (BPOM,2012). Langit-langit di semua persiapan makanan, peralatan, dan area mencuci peralatan harus dari lapisan yang halus dan tidak mudah menyerap dan mudah dibersihkan. Jika plafon T-bar digunakan, dengan persetujuan, sisipan harus nonberlubang dan dilapisi plastik atau memiliki lapisan akhir lain yang tidak terserap dan dapat dicuci. (Manitoba, 2018) Idealnya, langit-langit harus menjadi permukaan yang kontinyu, halus, tidak terputus yang dapat dengan mudah dibersihkan, misalnya, bagian bawah lempengan beton. Namun, jika ada ruang atap yang memuat balok, rangka, pemipaan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 26 | 119 layanan atau permesinan, maka langit-langit yang ditopang diinginkan kecuali jika bangunannya sangat tinggi. Papan langit-langit harus tidak terpengaruh oleh kelembaban; papan asbestos tidak sesuai. Kondensasi mungkin merepotkan dalam cuaca dingin karena kelembaban yang tinggi di dalam gedung; insulasi harus disediakan di atas plafon gantung dan ruang atapberventilasi baik ke udara terbuka. Beberapa ventilasi udara hangat mungkin diperlukan dalam kasus-kasus ekstrim dan saran ahli kemudian harus dicari. Langit-langit berinsulasi dapat diselesaikan dengan cat kilap keras dalam warna terang. Langitlangit gantung yang tidak diisolasi harus terbuat dari bahan penyerap, seperti plester, dan diakhiri dengan distemper yang tidak dapat dicuci; mencuci warna penyerap jenis ini harus dicuci dan diperbarui setiap enam bulan sekali. Jika balok atau rangka atap terpapar, disitulah tidak ada plafon gantung, cat untuk pekerjaan baja harus dipilih secara hati-hati untuk menghindari risiko serpihan jatuh ke dalam pabrik. Struktur aluminium harganya lebih mahal tetapi bisa dibiarkan tidak dicat. Ketinggian internal yang jelas harus sesuai dengan produksi dan penyimpanan pabrik, dan kecukupan untuk semua persyaratan masa depan harus dipertimbangkan. Pabrik harus diakomodasi dengan izin yang cukup untuk pemasangan, pelepasan dan pemeliharaannya, sementara peralatan bergerak, seperti truk pengangkat, dapat meminta ruang kepala khusus untuk pekerjaan yang efisien. Kecenderungan apapun untuk jenis mesin produksi yang diberikan untuk meningkatkan ketinggian juga harus dipertimbangkan ketika memutuskan ketinggian yang jelas untuk kerangka bangunan pabrik. Peralatan tambahan saat ini umumnya tersampir dari struktur atap; ini dapat meningkatkan persyaratan ketinggian. Ruang penyimpanan yang diberikan oleh peningkatan arah vertikal I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 27 | 119 mungkin akan terbukti lebih murah untuk menyediakan daripada yang setara diperoleh dengan peningkatan luas lantai (FAO, 1984). d. Ventilasi Dapat mengeluarkan uap asap, debu, dan panas dengan menggunakan alat penghisap. Lubang ventilasi dapat mencegah masuknya hama dan penumpukan debu. Aspek pengaturan suhu dan oksigen menjadi factor utama yang mempengaruhi jenis ventilasi pada ruang fermentasi. (BPOM,2012). Ventilasi yang tepat diperlukan di semua perusahaan pengolahan makanan dan harus memenuhi persyaratan Kode Bangunan di mana uap sarat lemak diproduksi seperti dari penggorengan dalam, panggangan atau peralatan sejenis, diperlukan sistem pembuangan ventilasi (Manitoba, 2018). Suasana di tanaman ikan lembab; ventilasi yang baik akan mengurangi gangguan kondensasi. hilangkan udara lembab yang dimuat bakteri. debu dan bau. Kontrol suhu yang baik dapat memberikan kondisi kerja yang nyaman tanpa membiarkan suhu udara naik terlalu tinggi dan dengan cepat merusak produk. Jendela dan skylight dapat digunakan untuk ventilasi. tetapi penggunaan yang bijaksana dari exhaust fan atau ventilasi atap khusus lebih disukai. Saluran ventilasi harus dipasang dalam dinding atau langit-langit. atau dipegang dengan jelas pada pembawa agar mudah dibersihkan. Lubang masuk harus tahan serangga dan jauh dari tempat berdebu. Semua perlengkapan logam yang cenderung berkarat harus terlindung dengan baik oleh cat. Layar harus bisa dilepas untuk dibersihkan. Sistem AC mekanis dapat dipasang untuk mengontrol suhu dan kelembapan, dalam hal ini pemanasan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 28 | 119 yang kompeten dan teknisi ventilasi harus dikonsultasikan. (FAO, 1984). e. Pencahayaan Mampu menerangi area kerja produksi. Lampu dilengkapi dengan screen Jumlah penerangan disesuaikan luas ruangan yang ada. Tingkat pencahayaan area kerja bangunan (pekerjaan menengah) sebesar 200-500 lux, warna cool white/putih netral, dan daylight. Tingkat pencahayaan gudang penyimpanan sebesar 100 lux dengan rederasi kelompok 3 (BSN, 2000) (BPOM,2012). Pencahayaan yang terang dan langsung diperlukan di semua area persiapan makanan dan area pencuci piring. Minimal 215 lux (20 kaki lilin) diperlukan di semua permukaan kerja di area ini. Disarankan minimal 540 lux (50 kaki lilin). Area penyimpanan dan ruang cuci harus dilengkapi dengan perlengkapan pencahayaan yang cukup untuk memungkinkan operasi pembersihan yang tepat. Minimal 215 lux (20 kaki lilin) diperlukan pada jarak 76 cm (30 inci) dari lantai. Semua penerangan di area persiapan makanan, area pencuci piring, makanan dan peralatan makanan area penyimpanan dan area tampilan makanan harus dilindungi untuk melindunginya menghancurkan dan melindungi makanan dan peralatan dari pecahan kaca. Catatan: Lampu anti pecah atau tabung fluorescent yang dapat pecah dapat digunakan sebagai pengganti kaca jika diperlukan. (Manitoba, 2018). Pencahayaan tanaman yang baik akan memungkinkan pekerja untuk melakukan pekerjaannya dengan baik tanpa ketegangan, dan mengekspos kotoran dan sumber kontaminasi lainnya. Penggunaan maksimal harus dilakukan dari cahaya alami dengan menyediakan jendela dan skylight yang memadai. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 29 | 119 Pencahayaan umum difus yang baik untuk menambah atau mengganti cahaya matahari paling baik dicapai dengan lampu fluorescent. Tingkat cahaya 500-750 lux biasanya cukup, tergantung pada kesulitan tugas-tugas visual yang dilakukan di pabrik. Lampu berwarna mengurangi alih-alih meningkatkan tanggung jawab seseorang untuk mendeteksi perbedaan warna pada bahan makanan. Pencahayaan umum harus ditambah, jika diperlukan. oleh lampu individu pada titik-titik penimbangan dan inspeksi misalnya. Corak dan pelapis cahaya harus memiliki desain sederhana dan mudah dibersihkan (FAO, 1984). 3. Bentuk Bangunan Industri Jika dinilai dan penampilan arsitektur, bangunan industri memiliki Volume bangunan dijaga agar biaya pembangunan pegoperasian. dan pemeliharaan terkendali dan lebih hemat. Bangunan dirancang dengan massa ruang. keterbukaan ruang. dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar. ventilasi bersilangan. dan void berimbang yang secara klimatik tropis berfìingsi untuk sirkulasi pengudaraan dan pencahayaan alarni merata ke seluruh ruangan agar hemat energi. Untuk bentuk dan massa bangunan industri biasanya memiliki bentuk-bentuk geometris elementer yang praktis dan sederhana (Setyawan, 2010). 4. Fasilitas dan Ruang Banyak detail dalam desain dan tata letak akan diatur oleh peraturan bangunan lokal dan persyaratan khusus dan pengguna karena itu harus dimasukkan dalam batasan ini. standar kebersihan yang lebih tinggi, penanganan yang lebih baik, penggunaan ruang yang lebih ekonomis dan biaya yang lebih rendah untuk pemanasan atau pengaturan suhu dapat dicapai jika semua operasi terbatas pada satu bangunan. Penanganan ¡kan sebaiknya dibatasi hanya di lantai dasar karena ini akan membuat drainase yang baik lebih mudah dan lebih I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 30 | 119 murah, biaya struktural akan berkurang dan area kerja utama akan lebih mudah diakses oleh kendaraan dan dengan demikian memastikan penanganan yang cepat dan menghindari penundaan. (FAO, 1984). Gambar 4. Layout Ruang Pengolahan Udang Sumber :Food and Agriculture Organization (1984) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 31 | 119 Gambar 5. Layout Ruang Pengolahan Udang Sumber :Food and Agriculture Organization (1984) Tata letak pabrik yang disarankan untuk memproses 800 kg / jam udang ukuran kecil sampai menengah menggunakan operasi pengupasan mesin mempunyai luasan 600 m2 meliputi Aneka pengolahan 494 m2 denangan suhu +15, Mengerikan 42 m2 denangan suhu +1, Penyimpanan dingin 64 m2 denangan suhu -30, Akomodasi kantor dan fasilitas terkait (FAO, 1984). I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 32 | 119 Table 2. Besaran Ruang Pengolahan Udang Sumber :Food and Agriculture Organization (1984) Table 3. Besaran Akomodasi Kantor Dan Fasilitas Terkait Sumber :Food and Agriculture Organization (1984) Industri pengolahan membutuhkan ruang khusus yang dapat digunanakan secara nyaman. Perencanaan kerja: Penggambaran hasil kerja di dalam hasil produksi merupakan alasan dasar untuk menempatkan mesin-mesin dan bahan-bahan sistem produksi ditinjau dari penyesuaian alat dan hasil produksi (Neufert,2003 :62). I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 33 | 119 Gambar 6. System Produksi Pararel Pengolahan Udang Sumber : Neufert,2003 :62 Gambar 7. Diagram Layout Dan Zoning Industri Sumber : Neufert,2003 :62 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 34 | 119 Gambar 8. Beberapa Modul Bangunan Industri Sumber : Neufert,2003 Gambar 9. Beberapa Modul Bangunan Industri Sumber : Neufert,2003 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 35 | 119 Gambar 10. penerapan ventilasi udara dengan exhaust pada Bangunan Industri Sumber : Neufert,2003 Gambar 11. Penerapan Cerobong Pembuang Udara Dengan Exhaust Pada Bangunan Industri Sumber : Neufert,2003 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 36 | 119 Gambar 12. Penerapan Ventilasi Udara Dengan Exhaust Pada Bangunan Industri Sumber : Neufert,2003 Mesin pengupas udang otomatis (terdiri dari lima mesin) (i) Pengupas, (ii) pembersih, (iii) pemisah sampah, (iv) deveiner, (v) grader. Total luas lantai yang diperlukan untuk kelima mesin, ketika dirakit di posisi yang benar, 80m². (FAO, 1984). Gambar 13. Teknik Penyimpanan Strorange Sumber : Neufert,2003 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 37 | 119 Gambar 14. Pola Penyimpanan Strorange Sumber : Neufert,2003 Gambar 15. Susunan Gudang Dan Bangunan Produksi Sumber : Neufert,2003 5. Istalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Limbah cair industri perikanan mengandung bahan organik yang tinggi. Tingkat pencemaran limbah cair industri pengolahan perikanan sangat tergantung pada tipe proses pengolahan dan spesies ikan yang diolah (Ibrahim,2015). I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 38 | 119 Menurut River et al., dalam Ibrahim (2015) jumlah debit air limbah pada efluen umumnya berasal dari proses pengolahan dan pencucian. Setiap operasi pengolahan ikan akan menghasilkan cairan dari pemotongan, pencucian, dan pengolahan produk. Cairan ini mengandung darah dan potongan-potongan kecil ikan dan kulit, isi perut, kondensat dari operasi pemasakan, dan air pendinginan dari kondensor. Selanjutnya River et al., menyatakan bahwa bagian terbesar kontribusi beban organik pada limbah perikanan berasal dari industri pengalengan dengan beban COD 37,56 kg/m3, disusul oleh industri pengolahan fillet ikan salmon yang menghasilkan beban limbah 1,46 kg COD/m3. Kemudian industri krustasea dengan beban COD yang kecil. Perbandingan beban organik yang disumbangkan oleh industri pengalengan, pemfiletan salmon dan krustasea adalah 74,3%, 21,6% dan 4,1%. Peneliti yang lain juga melaporkan hal yang sama dengan indikator beban pencemar organik yang lain yang berasal dari industri pengolahan perikanan. Hal ini dapat dilihat pada Tabel Table 4. Beban Pencemaran Limbah Cair Industri Perikanan Sumber : Ibrahim (2015) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 39 | 119 Proses pengotahan limbah dengan proses biofilter terdiri dan beberapa bagian yakni bak pengendap awal. biofilter anaerobik, biofilter aerobik, bak pengendap akhir, dan jika perlu dilengkapi dengan bak kiorinasi. Limbah yang berasal dan proses penguraian anaerobik (pengolahan tahap pertama) dialirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran lainnva. Selain sebagai bak pengendapan. juga berfungsi sebagai bak pengontrol aliran. serta bak pengurai senyawa organik yang berbentuk padatan, pengurai lumpur dan penampung lumpur (kaswinarni, 2007). Proses pengolahan prototipe IPAL untuk industri pengolahan ikan terlihat pada gambar 2 . Air limbah dialirkan ke alat pengolahan melalui lubang pemasukan (inlet) masuk ke ruang (bak) pengendapan awal. Selanjutnya air limpasan dari bak pengendapan awal air dialirkan ke zona anaerob (Setiyono., Yudo, Satmoko,2010) Zona anaerob tersebut terdiri dari dua ruangan yang diisi dengan media dari bahan plastik sarang tawon untuk pembiakan mikroba. Pada zona anaerob pertama air limbah mengalir dengan arah aliran dari atas ke bawah, sedangkan pada zona anaerob kedua air limbah mengalir dengan arah aliran dari bawah ke atas. Selanjutnya air limpasan dari zona anaerob ke dua mengalir ke zona aerob melalui lubang (weir). Di dalam zona aerob tersebut air limbah dialirkan ke unggun media plastic sarang tawon dengan arah aliran dari bawah ke atas, sambil dihembus dengan udara. Air limbah dari zona aerob masuk ke bak pengendapan akhir melalui saluran yang ada di bagian bawah. Air limbah yang ada di dalam bak pengendapan akhir tersebut disirkulasikan ke zona anaerob pertama, sedangkan air limpasan dari bak pengendapan akhir tersebut merupakan air hasil olahan dan keluar melalui lubang pengeluaran, selanjutnya air limpasan dari bak ini dibuangke saluran umum. Setelah proses berjalan selama dua sampai empat minggu pada permukaan media sarang tawon akan tumbuh lapisan mikro-organisme, I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 40 | 119 yang akan menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air limbah (Setiyono., Yudo, Satmoko,2010). Gambar 16. Pengolahan Limbah Cair Anaerobic- Aerobic Sumber : kaswinarni, 2007 Gambar 17. Pengolahan Lanjut Anaerobic-Aerobic Sumber : kaswinarni, 2007 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 41 | 119 Gambar 18. Diagram alir prototipe IPAL industri pengolahan ikan Sumber : Setiyono., Yudo, Satmoko, 2010 C. Studi Banding Bangunan Sejenis 1. PT Bogatama Marinusa (PT BOMAR) PT Bogatama Marinusa atau PT BOMAR adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis di bidang pengolahan dan pembekuan udang yang beralamat di kawasan perindustrian KIMA Daya, Makassar, Sulawesi Selatan. Pada awal berdirinya, yaitu tahun 1980-an, PT BOMAR terjun dalam bisnis budidaya dan hatchery (pembenihan) udang, khususnya udang windu dan udang vannamei. Sampai akhirnya pada 2001, perusahaan ini memilih untuk fokus sebagai industri pengolahan udang. Menyadari meningkatnya permintaan pangsa pasar atas produk seafood yang ramah lingkungan, PT BOMAR berkomitmen untuk terlibat dalam program perbaikan perikanan budi daya AIP (Aquaculture Improvement Program) melalui keikutsertaan dalam program Seafood Savers. Dengan menandatangani Perjanjian Kerjasama Anggota Seafood Savers, PT BOMAR menjadi I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 42 | 119 perusahaan anggota Seafood Savers keempat yang medaftarkan komoditas budidaya dalam program perbaikan yang difasilitasi WWFIndonesia. Melalui skema keanggotaan ini, PT BOMAR akan bersinergi dengan tim aquaculture WWF-Indonesia untuk melakukan perbaikan praktik budidaya udang windu menuju sertifikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC). Gambar 19. PT Bogatama Marinusa atau PT BOMAR Sumber : Google, 2019 Gambar 20. PT Bogatama Marinusa atau PT BOMAR Sumber : Google, 2019 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 43 | 119 2. PT Central Pertiwi Bahari Di Indonesia sendiri industry udang sangat berkembang, salah satu industry perikanan udang terbesar ialah PT central Pertiwi Bahari (anak PT Central Proteina Prima Tbk) pada provinsi lampung yang merupakan produsen udang dan makanan budidaya mengexpor 18.204.742,37 udang beku per tahun 2017 (cpp prima,2018). PT Central Pertiwi Bahari adalah anak perusahaan PT. Central Proteina Prima, Tbk. (CPP) merupakan perusahaan yang memiliki tambak terbesar di Indonesia dan terintegrasi vertikal mulai dari indukan udang, pembesaran benur, budidaya udang, pabrik pakan udang, proses panen, pembekuan dan pemrosesan udang hingga ekspor. Gambar 21. PT central Pertiwi Bahari Sumber : cpp prima,2018 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 44 | 119 Gambar 22. PT central Pertiwi Bahari Sumber : cpp prima,2018 3. BD Seafood Limited BD Seafood Limited (anak perusahaan BD Group) adalah perusahaan industri pengolahan yang unggul dalam menyediakan udang beku dan makanan laut terbaik dari Bangladesh dengan pabrik pemrosesan canggih yang dirancang dan direkayasa dengan pengawasan langsung dari Para Ahli Eropa. Mulai dari tahun 2007, kami terkenal secara global karena memberikan standar kualitas produk yang paling dapat diandalkan. Fasilitas inti kami memiliki lebih dari 19.000 kaki persegi ruang gudang berpendingin / beku, dengan 33.000 kaki persegi Area Pemrosesan dan seluruh ruang Lantai Pabrik seluas lebih dari 100.000 kaki persegi melengkapi kemampuan paling canggih dalam industri ini (BD Group, 2018) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 45 | 119 No 1 Gambar Gambar 23. Tampak Depan Industri Sumber : BD Seafood, 2018 Uraian Fasilitas inti memiliki lebih dari 19.000 kaki persegi ruang gudang berpendingin / beku, dengan 33.000 kaki persegi Area Pemrosesan dan seluruh ruang Lantai Pabrik seluas lebih dari 100.000 kaki persegi melengkapi kemampuan paling canggih dalam industri ini (BD Group, 2018) 2 Udang diterima dalam kantong plastik dalam bentuk beku. Jika diproses tidak mulai secara langsung, udang disimpan di ruang pembekuan. Gambar 24. Ruang Penerimaan Bahan Baku Sumber : BD Seafood, 2018 3 Setaelah udang diterima udang akan di uji sampel sebelum pelasanaan proses pengolahan di lakukan Gambar 25. Ruang Laboratorium Sumber : BD Seafood, 2018 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 46 | 119 3 Sebelum kariawan masuk pada ruang peprosesan. Ada tahap pemeriksaan saniteir pada ruang ganti kariawan Gambar 26. Ruang Ganti Kariawan Sumber : BD Seafood, 2018 4 Ruang pemprosesan tahap satu meliputi pencucian satu dan tahap penimbangan bahan baku udang yang telah di terima. Gambar 27. Ruang penimbangan dan Pencucian 1 Sumber : BD Seafood, 2018 5 Gambar 28. Ruang pencucian 2 Ruang pemprosesan tahap dua meliputi udang dicuci bersih wadah lain untuk melepaskan kotoran, dan udang ditimbang sebelum pergi ke fase de-heading atau pemotongan kepala Sumber : BD Seafood, 2018 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 47 | 119 6 Gambar 29. Ruang pencucian 3 dan pemotonagn Ruang proses ini udang dikepalai dan dimasukkan ke dalam keranjang, dengan sekitar 5 kg / keranjang. Semi-produk ini menjalani pemeriksaan kualitas dan mencuci kedua dalam air, sebanyak 3 kali. kepala Sumber : BD Seafood, 2018 7 Udang dicelupkan ke dalam larutan dengan aditif dan es, dan dinilai memiliki bentuk yang lebih baik. Dan udang menjalani pembekuan dan re-icing IQF. Gambar 31. Ruang Proses Iqf Dan Pembekuan Sumber : BD Seafood, 2018 8 Gambar 32. Ruang pengepakan dan Pelabelan melalui metal detektor Sumber : BD Seafood, 2018 Udang beku produk dikemas dalam kantong plastik 450 g, dimasukkan ke dalam kotak karton dan ditempatkan di ruang penyimpanan pada —18 ° C hingga —20 ° C, siap untuk diangkut. Semua air untuk mencuci mengandung es untuk memastikan suhu air rendah (sering <7 ° C) untuk menjaga kualitas udang selama pro berhenti. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 48 | 119 9 Gambar 33. Ruang Gudang Penyimpanan beku produk disusun secara rapi di dalam gudang penyimpanan beku dan suhu penyimpanan dipertahankan stabil maksimum -18 °c dengan sistem penyimpanan First In First Out (F1FO). Sumber : BD Seafood, 2018 Table 5. Studi Banding BDSeafood Sumber : BD Seafood, 2018 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 49 | 119 DAFTAR PUSTAKA Anh, P.H., Dieu, T.T.M., Mol, Arthur.P.J.Moi., Kroeze, Carolien., Bush, S.R. (2011). Towards eco-agro industrial clusters in aquatic production: the case of shrimp processing industry in Vietnam. Journal Of Cleaner Production, 19(2011), 5-6. Ashari, Ulfira., Sahara., Hartoyo, Sri. (2015). Daya Saing Udang Segar Dan Udang Beku Indonesia Di Negara Tujuan Ekspor Utama, journal IPB, 1. Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Kabupaten [BPS] Kab Pinrang, 2016). Badan Pusat Statistik (BPS). 2017. kabupaten Pinrang Dalam Angka Tahun 2017. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pinrang. Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) No.HK.03.1.23.04.12.2206 (2012) Bdseafood.Com. Diakses Pada Tanggal 1 Januari 2019, Pukul 01:15 Budiharsono, (2001). Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Pradnya Boziaris, I.S. 2014. Seafood Processing Technology, Quality, and Safety. Volos: Willey Blackwell FAO. 1984. Planing And Engineering Data Fish Freezing. Food And Agriculture Organization Goncalves, A.a., Blaha, farancisco. 2011. Refrigeration chapter Cold Chain In Seafood Industry. Mossoro: Nova Science Publisher. Jahid, Jamaluddin. (2015). Studi Pengembangan Kecamatan Mattiro Sompe Sebagai Kawasan Minapolitan Kabupaten Pinrang. Plano Madani, 4(1), 1-48. Kementerian Kelautan Dan Perikanan. 2013. Pengembangan Kawasan Minapolitan. Lamia, L.B., Rengkung, M.M., ST, MSi., Takumansang, E.D., ST, MT. (2017). Ketersediaan Prasarana Sarana Dalam Mendukung Kawasan Minapolitan Di Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Spasial, 20-21. Manitoba. 2018 Guideline For The Design, Construction And Reconstruction Of A Food Processing Establishment. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 50 | 119 Mirzah., Filawati. (2013). Pengolahan Limbah Udang Untuk Memperoleh Bahan Pakan Sumber Protein Hewani Penggant Tepung Ikan. Jurnal Peternakan Indonesia, Vol 15 (1), 1 Peraturan Menteri No 12 tahun 2010 Minapolitan Peraturan Daerah Provinsi Sul-Sel no. 9 tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009-2029. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) RPJPD Kabupaten pinrang tahun 2009-2029 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) RPJPD Kab Pinrang Neufert, ernest. 2003. Data arsitek jilid 1. Jakarta :Erlangga Neufert, ernest. 2003. Data arsitek jilid 2. Jakarta :Erlangga PERPE no 24 tahun 2009 tentang kawasan industri Nuryani, AG. B. (2006), “Pengendalian Mutu Penanganan Udang Beku Dengan Konsep Hazard Analysis Critical Control Point ( Studi Kasus di Kota Semarang dan Kabupaten Cilacap )” [Tesis]. Semarang (ID): Universitas Diponegoro Semarang. Oktaviani, D., Sarjito. (2012). Pengembangan Industri Berbasis Perikanan dengan Pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal di Kabupaten Tuban. Jurnal Teknik Pomits vol. 1, no.1. 2. Rahayu, R.D., Purwono, E.H., Sujudwijono, Nurachmad. (2015). Perancangan Bangunan Industri Terasi di Tuban. StudentJournalUB, 1-2 Setiono., Yudo, Satmoko., (2010) Prototipe Instalasi Pengolahan Air Limbah Industry Pengolahan Ikan Di Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Tek Lingkungan. Vol. 11, no. 1. 1-2. Standar Nasional Indonesia (SNI) no 2705 (2014) Udang Beku Team Dosen Fakultas Ilmu Komputer UMI, (2015). Pedoman Penyusunan Penulisan Proposal Penelitian dan Skripsi. Wibowo, Imam Restu., YS Darmanto., Apri Dwi Anggo (2014) Pengaruh Cara Kematian Dan Tahapan Penurunan Kesegaran Ikan Terhadap Kualitas Pasta Ikan Nila (Oreochromis Niloticus). Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan, Vol 3(3). 1 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 51 | 119 Www.Cpp.Co.Id Central Pertiwi Bahari Diakses Pada Tanggal 12 Desember 2018, Pukul 23:00 ` I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 52 | 119 BAB III TINJAUAN KHUSUS A. Tinjauan Umum Kabupaten Pinrang 1. Kondisi wilayah Dikutip dari data BPS Kabupaten Pinrang, merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Sulawesi yang terletak kira-kira 185 Km di sebelah Utara Kota Makassar (Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan). Secara astronomis, Kabupaten Pinrang terletak antara 3°19’-4°10’ Lintang Selatan dan 119°26’119°47’ Bujur Timur, masing-masing berbatasan dengan : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja. 2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Enrekang dan Sidrap. 3. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar serta Kabupaten Polewali Mandar. 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Parepare. a) Keadaan Geografis, Topografis dan Demografis Kabupaten Pinrang berada pada ketinggian 0-2.600 meter dari permukaan laut. Kabupaten Pinrang berada ± 180 Km dari Kota Makassar, dengan memiliki luas ±1.961,77 Km2, terdiri dari tiga dimensi kewilayahan meliputi dataran rendah, laut dan dataran tinggi. Kabupaten Pinrang secara administratif pemerintahan terdiri dari 12 (dua belas) Kecamatan, 39 Kelurahan dan 65 Desa yang meliputi 96 Lingkungan dan 181 Dusun. Sebagian besar dari wilayah kecamatan merupakan daerah pesisir yang memiliki luas 1.457,19 Km2 atau 74,27% dari luas keseluruhan Wilayah Kabupaten Pinrang dengan panjang garis pantai ± 101 Km. 12 kecamatan di kabupaten pinrang meliputi kecamatan Suppa, Mattiro Sompe, Lanrisang, Mattiro Bulu, Watang Sawitto, Paleteang, Tiroang, Patampanua, Cempa, Duampanua I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 57 | 119 , Lembang. Jumlah penduduk Kabupaten Pinrang pada tahun 2017 sebanyak 372.230 jiwa yang terdiri dari 180.586 jiwa penduduk lakilaki dan 191.644 penduduk perempuan (BPS Kabupaten pinrang, 2018) b) Pemerintahan Instansi pemerintah di Kabupaten Pinrang berdasarkan tingkat pendidikan SD 21 org; SMP sederajat 46org ; SMA sederajat 963 org ; Diploma I,II, 371 org; Dipoma III/sarjana muda 425 org; 1,81% dan Sarjana/Magister/Doktor 4231 org. dengan total 6057 orang. (BPS Kabupaten pinrang, 2018) c) Sosial dan Ketenagakerjaan Penduduk menurut tingkat umur 0-14 tahun yaitu 28,4 %; penduduk dengan usia 15-64 tahun ialah 66,70%; dan 4,67 % dengan usia 65 tahun keatas. Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2017, jumlah Penduduk Usia Kerja di Kabupaten Pinrang sebanyak 262.913 jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 153.422 jiwa merupakan Angkatan Kerja atau sekitar 58,3 persen dari Penduduk Usia Kerja. Pada tahun 2017 jumlah penduduk yang bekerja di Kabupaten Pinrang sebanyak 146.653 orang dan pengangguran sebanyak 6.769 orang. Yang dimaksud bekerja disini adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan paling sedikit selama satu jam dalam seminggu yang lalu. Bekerja selama satu jam tersebut harus dilakukan secara berturut-turut dan tidak terputus. (BPS Kabupaten pinrang, 2018) d) Sektor Pertanian dan Perikanan Sektor Pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Pinrang. Pada tahun 2017,kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB sebesar 48,67 persen. Beberapa komoditas tanaman pangan yang paling banyak dihasilkan di Kabupaten Pinrang antara lain: padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang-kacangan. produksi perikanan darat di kabupaten Pinrang, terlihat bahwa, produksi I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 58 | 119 perikanan tahun 2017 di perairan umum mencapai 27.068,89 ton, jika dibandinkang dengan tahun sebelumnya terjadi peningkatan sebesar 0,1 persen, dimana pada tahun 2016 jumlah produksi mencapai 25.276,60 ton. Gambar 34. Peta Administrasi Kabupaten Pinrang Sumber : BPS Kabupaten Pinrang I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 59 | 119 2. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Penetapan fungsi kawasan dilihat dari adanya keterkaitan kawasan satu dengan lainnya bertujuan untuk memperkuat kelompok kawasan. Mengingat kawasan-kawasan perkotaan sangat strategis peranannya dalam pengembangan wilayah secara keseluruhan, maka kawasan-kawasan perkotaan perlu diarahkan kepertumbuhan dan pengembangannya agar mampu saling berinteraksi melalui keterkaitannya dan keteraturan fungsifungsi pengembangannya. Pengembangan sistem ini diwujudkan melalui pusat-pusat perdesaan yang diberikan peluang untuk tumbuh dan berkembang secara bersama-sama, sehingga pembangunan perkotaan akan saling dukung dengan pembangunan pedesaan. Dengan rencana tata ruang, sebuah daerah atau wilayah akan lebih teratur. Karena ada penataan dan pembagian ruang yang sesuai dengan peruntukannya. Sebuah industri harus berada pada kawasan industri atau perindustrian, Sebuah sekolah harus berada pada kawasan pendidikan, dan seterusnya sesuai peruntukan lahan yang telah di atur oleh pemerintah setempat. Agar kegiatan dan aktivitas daerah tidak terpusat pada satu titik, yang akan mengakibatkan kesenjangan pembangunan pada titik-titik tertentu.berikut peruntukan lahan RTRW kabupaten pinrang: No 1 Kecamatan Suppa 2 Mattiro Sompe 3 Lanrisang 4 Mattiro Bulu 5 Watang Sawitto 6 7 Paleteang Tiroang Peruntukan Lahan (RTRW) Pertanian, perikanan, pemukiman, perindustrian, pariwisata Pertanian, perikanan, pemukiman, perindustrian, pariwisata Pertanian,peternakan, pemukiman, perikanan Perindustrian, Pertanian, peternakan, pemukiman perkantoran, pelayanan masyarakat, perdagangan, pemukiman, pendidikan, olahraga Pemukiman, pertambangan, pertanian Pemukiman, pertanian I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 60 | 119 8 9 10 Patampanua Cempa Duampanua 11 12 Batulappa Lembang Pertanian, pertambangan, pemukiman Pemukiman, pertanian, perikanan Perikana, Pertanian, pertambangan, pemukiman Pertanian,pemukiman Pariwisata, pemukiman, perikanan Table 6. Peruntukan lahan RTRW kabupaten Pinrang Sumber : RTRW kabupaten pinrang 2012-2013 Gambar 35. Peta RTRW kabupaten pinrang Sumber : RTRW kabupaten pinrang 2012-2013 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 61 | 119 Gambar 36. Peta Pola Ruang Kab. Pinrang tahun 2012-2032 Sumber : RTRW kabupaten pinrang 2012-2013 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 62 | 119 Gambar 37. Peta peruntuakan lahan untuk industri dan perikanan Kab. Pinrang tahun 2012-2032 Sumber : RTRW kabupaten pinrang 2012-2013 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 63 | 119 B. Tinjauan Umum Industri Udang Beku Di Kabupaten Pinrang 1. Proyeksi Industri Udang Beku Di Kabupaten Pinrang Industri pengolahan udang beku di kabupaten Pinrang dapat di simpulkan sebagai suatu proses dan mata rantai pengolahan hasil udang dengan pembekuan yang bertujuan meningkatkan daya awet dan meningkatkan nilai tambah pada produk udang itu sendiri yang akan di bangun di kabupaten pinrang sesuai dengang pemilihan lokasi dan peruntukan lahan indusri dalam RTRW kab Pinrang. Kegiatan kegiatan yang dilakukan di dalam industri pengolahan udang beku ini ialah pem-prosesan udang dimana dilakukan secara bertaham mulai dari penerimaan bahan baku, pemprosesan, pembekuan dan penyimpanan serta distribusi yang melibatkan setidaknya 300-800 pekerja dan pengelola (Data Studi banding bangunan sejenis, PT. Bogotama Marinusa). Rasio bidang tanah bangunan dan pengemhangan tapak Rasio bidang tanah dengan perbandingan 1:1 dengan rasio maksimal pada semua jenis bangunan industri dengan kantor. Luas tapak yang dibangun tidak lebih 75% dan tuas tapak yang ada (Neufert,2003 :39) Menurut Hadiguna dan Setiawan (2008), perancangan fasilitas meliputi penataan unsur fisik, pengaturan aliran bahan, dan penjaminan keamanan pekerja. Salah satu prinsip aliran dari suatu proses kerja dalam industri adalah untuk menghindari adanya gerakan bolak balik (back-tracking), gerakan memotong (cross-movement), kemacetan produksi (congestion), sehingga material produksi selalu bergerak tanpa terjadi suatu interupsi (Wignjosoebroto, 2000). Dalam hal ini maka diperlukan beberapa proses pemilihan lokasi, site dan tapak pada bangunan yang dimana hal ini akan di bahas pada bab selanjutnya. 2. Potensi ketersediaan bahan baku Kabupaten Pinrang sebagai bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai lahan tambak seluas 15.062,2 Ha hektar dari potensi lahan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 64 | 119 seluas 36.000 hektar atau 18% dari total luas tambak Sulawesi Selatan yang memproduksi berbagai Komoditas sesuai potensi perikanan Kabupaten Pinrang, yakni udang, ikan Bandeng, rumput laut dan berbagai jenis lainnya (Badan Pusat Statistik [BPS] Kab Pinrang, 2018). Volume produksi udang kabupaten pinrang dengan luas lahan keseluruhan mencapai 15.026,20 Ha tahun 2013 ialah 5.691,58 ton, pada tahun 2014 naik menjadi 5.742,23 ton, tahun 2015 naik signifikan menjadi 7.180,45 ton, pada tahun 2016 menjadi 7.386,29 ton, dan 2017 naik kembali menjadi 7.467.29 ton. Ini menunjukkan volume produksi udang kabupaten pinrang meningkat per tahunnya. (Kab. Pinrang Dalam Angka, 2018). Jumlah produksi udang rata-rata 5 tahun terakhir yang di ekspor ke luar mencapai 5274.97 ton per tahun. (Dinas Perikanan Kab. Pinrang, 2019) ini menjukkan bahwa total 5274.97 ton dapat di serap oleh industri udang ini sendiri karena sebelum di ekpor udang harus melalui suatu industri udang untuk menambahkan daya awet sebelum di ekspor ke luar. Peruntukan Hasil Tahun Luas lahan Produksi Konsumsi/pasar Export Home (Ha) (ton) (ton) (ton) industri (ton) 2013 15.02620,20 5691.58 853.74 4268.69 N/a 2014 15.02620,20 5742.23 631.65 4478.94 N/a 2015 15.02620,20 7180.45 1077.07 5744.36 N/a 2016 15.02620,20 7386.29 886.35 5909.03 N/a 2017 15.02620,20 7467.29 1045.42 5973.83 N/a Table 7. Peruntukan Hasil Produksi Udang Kab. Pinrang Sumber : Dinas Perikanan Kab. Pinrang, 2019 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 65 | 119 Tahun 2018 No Uraian Komoditi Udang 1 2 WIndu Udang Vennamei Udang 3 Api-api Satuan/Unit Produksi Harga Nilai Satuan (000 Produksi Rp/Kg) (000 Rp/Kg) Ton 2874.25 108 310.419.000 Ton 5796.9 60 347.814.000 Ton 2371.2 35 82.992.000 741.225.000 Jumlah Table 7. Daftar Harga Dan Nilai Produksi Udang Kabupaten Pinrang tahun 2018 Sumber : Dinas Perikanan Kab. Pinrang, 2018 Gambar 38. Exisiting Condition kawasan monipolitan kab Pinrang Sumber : Survey Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 66 | 119 Gambar 39. Exisiting Condition Lahan Produksi Udang kab Pinrang Sumber : Survey Penulis (2019) Gambar 40. Exisiting Condition Lahan Produksi Udang kab Pinrang Sumber : Survey Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 67 | 119 Gambar 41. Exisiting Condition Lahan Produksi Udang kab Pinrang Sumber : Survey Penulis (2019) Gambar 42. Exisiting Condition Lahan Produksi Udang kab Pinrang Sumber : Survey Penulis (2019) ` I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 68 | 119 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Konsep Dasar Konsep dasar yang diterapkan pada desain Industri Udang Beku di Kabupaten Pinrang adalah dengan tampilan bentuk industrial yang dinamis serta Bangunan dirancang dengan massa ruang. keterbukaan ruang. dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar. Untuk bentuk dan massa bangunan industri biasanya memiliki bentuk-bentuk geometris elementer yang praktis dan sederhana. pendekatan-pendekatan yang disesuaikan dengan bangunan. 1. Pendekatan konsep makro Pendekatan ini membahas tentang penentuan lokasi, tapak dan akses dariluar menuju site terpilih. 2. Pendektan konsep mikro Pendekatan konsep ini mengacu pada pelaku bangunan, aktiftas, kebutuhan ruang, sirkulasi ruang (dalam maupun luar bangunan) dan besara ruang. 3. Pendekatan Analisa Bangunan Dasar pendekatan ini yakni analisi pola massa, analisis pola sirkulasi ruang, analisis struktur bangunan dan analisis utilitas bangunan. B. Pendekatan Konsep Makro 1. Pemilihan Lokasi Berdasarkan kriteria/syarat lokasi yang ideal yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya atau berdasarkan studi pustaka tentang lokasi ideal untuk dibangunnya Industri Udang Beku Di Kabupaten Pinrang adalah sebagai berikut : a. Sesuai Rencana Umum Tata Ruang Wilayah dengan peruntukan Lahan Industri I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 69 | 119 b. Memiliki prasarana jalan yang mudah untuk transportasi dan pengiriman perbekalan. c. System jaringan yang melayani (listrik dan komunikasi) d. Pertimbangan Lokasi dekat dengan bahan baku. Menurut RTRW Kab Pinrang tahun 2012-2032 pada paragraph 4 pasal 39 di sebutkan bahwa kawasan pengolahan ikan sebagaimana di maksud di tetapkan di sebagian wilayah suppa, sebagian wilayah lanrisang, sebagian wilayah mattiro sompe, sebagian wilayah cempa, sebagian wilayah duampanua, dan sebagian wilayah kecamatan lembang. Dijelaskan pula dalam paraghraph 6 pasal 41 Kawasan peruntukan industri besar (100 pekerja atau lebih) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan kawasan industri ditetapkan di sebagian wilayah Kecamatan Suppa, dan sebagian wilayah Kecamatan Mattiro Sompe. Berdasarkan analisa serta uraian yang mengacu dengan standar yang ada maka didapatkan 2 pilihan lokasi untuk penentuan lokasi Industri Pengolahan Udang Beku Di kabupaten pinrang yaitu lokasi Pertama (1) Berada di Kecamatan Suppa; Lokasi kedua(2) Berada di kecamatan Mattiro Sompe. 1) Kecamatan Suppa ( lokasi 1) Secara geografis Kecamatan Suppa berada di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan dengan batas wilayah bagian utara berbatasan dengan kecamatan Lanrisang, wilayah bagian barat berbatasan degan selat Makassar, wilayah bagian timur berbatasan dengan kecamatan mattiro bulu dan Kabupaten Sidrap, dan wilayah bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Pare-Pare. Luas kecamatan ini adalah 74,20 km2 dengan ibukota kecamatan Majennang dengan jarak 24 km dari ibukota kabupaten. Sebagian besar topografi wilayah desa merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian rata-rata I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 70 | 119 kurang dari 265 mdpl (2-265 mdpl). Luas wilayah administrasi Kecamatan Suppa sampai tahun 2018 terdiri dari 10 kelurahan, 2 lingkungan, 22 dusun, 60 rw, dan 110 rt. Dengan jumlah penduduk sebanyak 32.159 jiwa. Gambar 34. Peta Kecamatan Suppa Sumber : Kec suppa dalam angka (2017) 2) Kecamatan Mattiro Sompe (Lokasi 2) Luas wilayah Kecamatan Mattiro Sompe sebesar 96,99 Km Dengan luas wilayah pesisir 7.386 ha atau 10,66 %, memiliki panjang pantai pantai 9,10 km2 atau 9.700 ha. Secara administrasi Kecamatan Mattiro Sompe di bagi atas 9 (sembilan) Desa/Kelurahan dengan jarak ke ibukota Kabupaten 17 Km. Untuk lebih jelas dapat lihat pada peta administrasi Kecamatan Mattiro Sompe. Kecamatan Mattiro Sompe merupakan wilayah daratan yang datar berada pada ketinggian 0 – 2% dan landai 2 –5%. Sumber air yang ada pada Kecamatan Mattiro Sompe dimanfaatkan sepanjang tahun dan bersumber air baku untuk pengolahan air baku untuk pengolahan air bersih. Namun kapasitasnya semakin menurun I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 71 | 119 terutama pada musim kemarau. Selain mata air, masyarakat Kecamatan Mattiro Sompe juga memanfaatkan air tanah dalam berupa sumur, selain itu masyarakat sebagian sudah mengunakan air PDAM. Penduduk Kecamatan Mattiro Sompe yang terdiri dari 9 (sembilan) desa/kelurahan memiliki jumlah penduduk sebesar 27.511 jiwa dimana jumlah penduduk laki laki yaitu 13.254 jiwa dan jumlah penduduk perempuan yaitu 14.257 jiwa. Gambar 35. Peta Kecamatan Mattiro sompe Sumber : Kec Mattiro sompe dalam angka (2017) 2. Analisis Lokasi Sesuai dengan syarat dan kriteria lokasi yang disebutkan pada subbab sebelumnya , maka didapatkan analisa lokasi yang terpilih dan mendekati kriteria yang telah disebutkan antara lain : a) Jarak ke pusat kota minimal 10 km b) Sesuai Rencana Umum Tata Ruang Wilayah dengan peruntukan Lahan Industri I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 72 | 119 c) Memiliki prasarana jalan yang mudah untuk transportasi dan pengiriman perbekalan. d) System jaringan yang melayani (listrik dan komunikasi) e) Pertimbangan Lokasi dekat dengan bahan baku. f) Prasarana angkutan (pelabuhan laut) Kriteria Kecamatan 1 2 3 4 5 6 Suppa Mattiro Sompe Tabel 8. Analisa Lokasi Sumber : Analisa Penulis (2017) Ket : Iya Sedang Tidak (1) Jarak ke pusat kota minimal 10 km (2) Sesuai Rencana Umum Tata Ruang Wilayah dengan peruntukan Lahan Industri (3) Memiliki prasarana jalan yang mudah untuk transportasi dan pengiriman perbekalan. (4) System jaringan yang melayani (listrik dan komunikasi) (5) Pertimbangan Lokasi dekat dengan bahan baku. (6) Prasarana angkutan (pelabuhan laut) Berdasarkan analisa pada tabel diatas, maka lokasi yang mendekati dengan kriteria lokasi Industri udang beku yang ideal adalah Kecamatan Suppa. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 73 | 119 3. Analisa Lokasi Terpilih a. Gambaran Umum Kecamatan Suppa Secara geografis Kecamatan Suppa berada di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan dengan batas wilayah bagian utara berbatasan dengan kecamatan Lanrisang, wilayah bagian barat berbatasan degan selat Makassar, wilayah bagian timur berbatasan dengan kecamatan mattiro bulu dan Kabupaten Sidrap, dan wilayah bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Pare-Pare. Luas kecamatan ini adalah 74,20 km2 dengan ibukota kecamatan Majennang dengan jarak 24 km dari ibukota kabupaten. Sebagian besar topografi wilayah desa merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian rata-rata kurang dari 265 mdpl (2-265 mdpl). Luas wilayah administrasi Kecamatan Suppa sampai tahun 2018 terdiri dari 10 kelurahan, 2 lingkungan, 22 dusun, 60 rw, dan 110 rt. Dengan jumlah penduduk sebanyak 32.159 jiwa. b. Analisa site Analisa pemilihan site/tapak berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain : 1. Jarak ke pusat kota 2. Jaringan jalan 3. Tipografi 4. Jarak Terhadap Perairan 5. Peruntukan Lahan 6. Orientasi Lokasi( Aksesibilitas Tinggi ) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 74 | 119 1) Jarak ke pusat kota Tabel 8. Jarak Setiap Kelurahan Ke Pusat Kota Kabupaten Sumber : Kec Suppa dalam angka (2017) 2) Jaringan jalan Tabel 9. Jaringan Jalan Kecamatan Suppa Sumber : Dinas PUK Kab Pinrang (2017) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 75 | 119 3) Tipografi Kelurahan/desa Pantai 1 1 1 1 1 1 1 1 Lero Ujung labuang Wiring tasi Tasiwalie Maritangngae Watang suppa Tellumpanua Wattang pulu Polewali Lotang salo Ketinggian dari permukaan Lereng Dataran laut (m) 2 2 2 2 2 2 2 1 50 1 2 2 Letak kelurahan/desa Bukan pantai Lembah - Tabel 10. Tipografi Wilayah Kecamatan Suppa Sumber : Kec Suppa Dalam Angka (2017) 4) Jarak Terhadap Perairan Jarak ke perairan (sungai/laut) 1 0 - 0.35 km Lero 2 0 - 1.5 km Ujung labuang 3 0 - 1 km Wiring tasi 4 0 - 1.14 km Tasiwalie 5 0 - 3.2 km Maritangngae 6 0 - 3.60 km Watang suppa 7 0 - 7.2 km Tellumpanua 8 2 - 6.5 km Wattang pulu 9 1.5 - 5 km Polewali 10 0 - 2.7 km Lotang salo Tabel 11. Jarak Terhadap Perairan Wilayah Kecamatan Suppa No Kelurahan/desa Sumber : Data Google Earth (2019) 5) Peruntukan Lahan Seluruh kelurahan dan desa pada wilayah suppa memiliki peruntukan lahan untuk perikanan, pertanian, industri, I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 76 | 119 6) Orientasi Lokasi( Aksesibilitas Tinggi ) Tabel 12. Index aksesibilitas Jaringan Jalan Kecamatan Suppa Sumber : Dinas PUK Kab Pinrang (2017) Tabel 13. Analisa dan Klasifikasi Pemilihan Site Sumber : Analisa Penulis, 2019 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ket : Kelurahan/desa 1 2 Kriteria 3 4 5 Lero Ujung labuang Wiring tasi Tasiwalie Maritangngae Watang suppa Tellumpanua Wattang pulu Polewali Lotang salo Baik Sedang Cukup Tidak I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 77 | 119 6 1. Jarak ke pusat kota 2. Jaringan jalan 3. Tipografi 4. Jarak Terhadap Perairan 5. Peruntukan Lahan 6. Orientasi Lokasi( Aksesibilitas Tinggi ) Berdasarkan analisa klasifikasi pemilihan site sebagaimana yang terdapat didalam tabel, didapatkan 3 Kelurahan yang mendekati dengan kriteria yang ditentukan yaitu Kelurahan Maritangngae, Watang suppa, Tellumpanua. Gambar 36. Analisa Pemilihan Site Sumber : Data Primer (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 78 | 119 a) Meritengengae (Site 1) 1) Berada di dataran rendah dengan ketiggian 0-2 m diatas permukaan laut 2) Memiliki luas lahan 2 hektar (20.000 m2) 3) Jarak ke ibukota = 25 km atau dapat di tempuh dengan 30 menit perjalanan angkurtan darat 4) Dekat dengan bahan baku 5) Merupakan daerah peruntukan lahan perikanan dan pertanian 6) Dilalui jalur utilitas kota b) Wattang Suppa (Site 2) 1) Berada di dataran rendah dengan ketiggian 0-2 m diatas permukaan laut 2) Memiliki luas lahan 2 hektar (20.000 m2) 3) Jarak ke ibukota = 22 km atau dapat di tempuh dengan 25 menit perjalanan angkurtan darat 4) Dekat dengan bahan baku 5) Merupakan daerah peruntukan lahan perikanan pertanian dan industri 6) Dilalui jalur utilitas kota c) Tellumpanua (Site 3) 1) Berada di dataran rendah dengan ketiggian 0-2 m diatas permukaan laut 2) Memiliki luas lahan 2 hektar (20.000 m2) 3) Jarak ke ibukota = 19 km atau dapat di tempuh dengan 20 menit perjalanan angkurtan darat 4) Dekat dengan bahan baku 5) Merupakan kawasan pengembangan industri 6) Dilalui jalur utilitas kota 7) Dilalui jalan arteri primer antar kabupaten I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 79 | 119 Gambar 37. Lokasi Site 1 (meritengengae) Sumber : Google Earth (2019) Gambar 38. Lokasi Site 2 (Wattangsuppa) Sumber : Google Earth (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 80 | 119 Gambar 39. Gambar 24. Lokasi Site 3 (Telumpanua) Sumber : Google Earth (2019) Dari hasil analisa diatas, site terpilih dan mendekati kriteria yang ideal untuk dibangunnya stadion berdasarkan teori dan standar yang ditetapkan adalah site ke-3 yaitu Kelurahan Tellumpanua. C. Pendekatan Konsep Mikro 1. Pencepaian Ke Tapak Pencapaian pada tapak mengacu pada analisa untuk memudahkan pengunjung / pengguna mencapai Industri Udang Beku Ini menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Dalam analisa pencapaian pencapaian Pencapaian secara langsung dapat melalui jalan poros Pinrang pare-pare dimana akses jalan merupakan jalan arteri primer ibukota kecamatan menuju ibukota kabupaten serta kabupaten ke kabupaten lainnya seperti kota madya pare-pare. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 81 | 119 Gambar 40. Tapak Industri terpilih Sumber : Analisa Penulis (2019) Gambar 41. Tapak Pencapaian Ke Tapak Sumber : Analisa Penulis (2019) 2. Sirkulasi Tapak Ada beberapa pertimbangan dalam menganalisa tapak untuk dibangunnya Industri Udang di Kab. Pirang antara lain : 1. Aktifitas pelaku kegiatan. 2. Perletakan main entrance I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 82 | 119 3. Pencapaian kedalam bangunan. a. Main entrance Syarat untuk menentukan main entrance adalah sebagai berikut : 1) Kemudahan pencapaian ke tapak. 2) Kemudahan jalur masuk dan keluar. 3) Kelancaran arus lalu lintas. 4) Menghindari terjadinya crossing sirkulasi di dalam site. 5) Memudahkan dalam pengawasan. b. Service entrance Service entrance berada pada bagian akses main entrance tapidi pisahkan dengan jalan masuk dan jalan keluar karena merupakan alternatif pencapaian ke dalam tapak untuk bongkar muat barang dan dan kebutuhan pewarta pertandingan. Gambar 42. Enterance Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 83 | 119 Gambar 43. Sirkulasi Sumber : Analisa Penulis (2019) 3. Orientasi Bangunan Terhadap Matahari Orientasi Terhadap Matahari yang tepat adalah terletak pada utaraselatan bangunan. Sehingga sinar matahari tidak langsung mengenai bangunan. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 84 | 119 Gambar 44. Orientasi Sinar Matahari Sumber : Analisa Penulis (2019) 4. Pergerakan Arah Angin Bentuk penataan pola tata massa bangunan dibangun dengan longgar dan ber space dimaksudkan agar sirkulasi angin dapat berputar kesegala arah bangunan, sehingga kebutuhan akan pendingin ruangan buatan dapat diminimalisir penggunaannya. Gambar 45. Orientasi Arah Angin Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 85 | 119 5. Kebisingan penggunaan vegetasi dan pagar pada kawasan industri untuh menghalau kebisingan yang masuk Gambar 46. Orientasi Kebisingan Sumber : Analisa Penulis (2019) D. Analisa Bangunan 1. Program Pelaku Dan Aktifitas Pemakai adalah merupakan individu/ sekelompok yang secara langsung maupun tidak langsung berhubungan dalam rangka menunjang segala aktifitas yang berlangsung di dalam perusahaan/ industri/ pabrik tersebut, yaitu: a) Pemilik adalah kelompok atau individualitas yang tergabung dalam suatu lingkungan usaha. b) Pengelola adalah kelompok atau individualitas yang menerima mandat/izin dari pemilik untuk menjalankan roda usaha. c) Pengguna adalah kelompok atau individualitas yang dengan sengaja memakai fasilitas didalam pabrik. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 86 | 119 d) Pengunjung adalah pembawa bahan baku, konsumen, pemerintah, dunia pendidikan dan bisnis yang datang langsung berhubungan dengan aktifitas di pabrik. NO 1 2 KETERANGAN WAKTU PENGGUNA Pengelola/ Direktur Setiap hari kerja Pemilik Wakil Direktur Setiap hari kerja Sekretaris Setiap hari kerja Kabag produksi Setiap hari kerja Staf produksi Setiap hari kerja Kabag personalia administrasi umum Setiap hari kerja Staf personalia/administrasi umum Setiap hari kerja Kabag keuangan Setiap hari kerja Staf keuangan Setiap hari kerja Kabag engineering Setiap hari kerja Staf engineering Setiap hari kerja Kabag pemasaran Setiap hari kerja Staf pemasaran Setiap hari kerja Karyawan Setiap hari kerja Petugas kebersihan Setiap hari kerja Petugas keamanan Setiap hari kerja Pengunjung Suplier Setiap hari kerja Masyarakat dalam dan luar kota Sewaktu-waktu Pelajar Sewaktu-waktu Tabel 14. Analisa Pengguna Industri udang beku JENIS Sumber : Analisa Penulis, 2019 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 87 | 119 No Aktifitas 1 Area produksi/ karyawan 2 Pengelola/ pemilik 3 Pengunjung Aktifitas Jenis Pengguna Datang, parkir, Karyawan absen, ganti baju, pakai masker dan sarung tangan, menuju ruang kerja masingmasing, istirahat, ke kamar mandi, sholat, kantin, absen, menuju parkir, pulang . Datang, parkir, Pengelola menuju ruang dan staff kerja masing – masing, rapat, menerima tamu, pengawasan produksi, kamar mandi, istirahat, kantin, sholat,menuju parker, pulang Datang, Pengunjung parker, menuju luar dan lobby, ke dalam kota, ruang pelajar. produksi, ke ruang pengolahan limbah, ke toilet, kantin, parkir, pulang Sifat Jumlah Rentan Aktifitas Pengguna Waktu Privat, 600 org 08.00aktif, 15.00 teratur Privat, aktif, teratur 40 orang 08.0015.00 Publik 40 orang 08.0015.00 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 88 | 119 4 Suplier Datang, Supplier/ Privat, 15 org loading dock, kariawan service parkir, wc, mushollah, kantin, pulang Tabel 15. Analisa aktifitas Pengguna Industri udang beku Sumber : Analisa Penulis, 2019 2. Alur Sirkulasi Pengguna Alur sirkulasi pengguna dapat dibedakan menjadi 4 yaitu alur sirkulasi kariyawan, sirkulasi pengelola, sirkulasi pengunjung, dan alur sirkulasi supplier, adpun ilustrasi sebagai berikut : Gambar 47. Alur sirkulasi Pengelola Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 89 | 119 08.0009.00 dan 15.0016.00 Gambar 48. Alur sirkulasi Pengelola Sumber : Analisa Penulis (2019) Gambar 49. Alur sirkulasi Suplier Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 90 | 119 Gambar 50. Alur sirkulasi Pengunjung Sumber : Analisa Penulis (2019) 3. Analisa Kebutuhan Ruang Dari hasil analisis pelaku dan aktifitas serta studi literature (bangunan sejenis) maka Ruang-ruang yang di butuhkan dalam bangunan industri udang beku ini adalah : No Jenis Area 1 Fasilitas produksi 2 Fasilitas Pengelola 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Ruang Gedung produksi Cold storange Loading dock Gudang Penyimpanan jadi Rg. Direktur Rg. Wakil Direktur Rg. Sekretaris Rg. Kabag Produksi Rg. Staf Produksi Rg. Kabag Personalia Administrasi umum Rg. Staf personalia/ administrasi umum I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 91 | 119 3 4 5. 10. Rg. Kabag keuangan 11. Rg. Staf keuangan 12. Rg. Kabag engineering 13. Rg. Staf engineering 14. Rg. Kabag pemasaran 15. Rg. Staf pemasaran 16. Rg. Rapat 17. Lobby 18. Rg. Informasi 19. Rg. Pajang 20. Pantry 21. Toilet Fasilitas 1. Mess Karyawan penunjang 2. Aula Tempat Ibadah 3. Mushola 4. Klinik 5. Koperasi/ kafetaria Fasilitas 1. Bangunan persiapan karyawan service 2. Kantin karyawan 3. Laboratorium 4. Bengkel 5. Reservoir pump 6. Power house 7. IPAL 8. Pos jaga/ security Fasilitas 1. Parkir Kendaraan Pengunjung parker dan 2. Parkir Kendaraan Pengelola olahraga 3. Parkir Kendaraan Pengangkut bahan jadi 4. Parkir Kendaraan Pengangkut bahan baku 5. Fasilitas olahraga Tabel 16. Analisa Kebutuhan Ruang Sumber : Analisa Penulis, 2019 4. Anaisa Besaran Ruang Besaran ruang yang dibutuhkan pada perancangan industri udang ini didasarkan pada standar luasan yang umum dipakai, yaitu a) FAO : Food And Agriculture Organization Of The United Nation b) NAD : Neufert Architect Data I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 92 | 119 c) NMH : New Metric Handbook d) ASM : Asumsi e) An : Analisa 1) Fasilitas Produksi No Jenis ruang Standar Kapasitas m2/org (org) 1 500 org 2 Gedung 0.8 produksi Cold storange 1.2 3 Loading dock 10 org 4 Gudang penyimpanan jadi 1.2 20 org 20 org Standar Sumber Luasan Besaran (m2) Total Ruang (m2) (m2) 600 NAD, 1000 FAO 64 NAD, 152 FAO 30 NAD, 42 AN 252 FAO 252 1446 m2 Sirkulasi 30%, sehingga luas fasilitas Produksi adaah adalah : 1879.8 (1446 x 30%) + 1446 = 1879.8 m2 m2 Tabel 17. Analisa Besaran Ruang Fasilitas produksi Jumlah Sumber : Analisa Penulis, 2019 2) Fasilitas Pengelola No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis ruang Rg. Direktur Rg. Wakil Direktur Rg. Sekretaris Rg. Kabag Produksi Rg. Staf Produksi Rg. Kabag Personalia Administrasi umum Rg. Staf personalia/ administrasi umum Standar Kapasitas Sumber m2/org 25 15 15 15 6 15 1 org 1 org 1 org 1 org 4 org 1 org An An An An An An Luasan Total (m2) 25 15 15 15 24 15 6 9 org An 54 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 93 | 119 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Rg. Kabag keuangan 15 1 org An Rg. Staf keuangan 6 4 org An Rg. Kabag engineering 15 1 org An Rg. Staf engineering 6 4 org An Rg. Kabag pemasaran 15 1 org An Rg. Staf pemasaran 6 9 org An Rg. Rapat 1,5 40 org NMH Lobby 0,9 100 0rg An Rg. Informasi 4,5 2 org NMH Rg. Pajang 4.5 2 org An Pantry ASM Toilet 3 6 buah An Jumlah Sirkulasi 30%, sehingga luas fasilitas Pengelola adaah adalah (508 x 30%) + 508 = 660.4 m2 15 24 15 24 15 54 60 90 9 9 12 18 508 m2 660.4 m2 Tabel 18. Analisa Besaran Ruang Fasilitas Pengelola Sumber : Analisa Penulis, 2019 3) Fasilitas Penunjang No Jenis ruang Standar m2/org 1 2 3 Mess Karyawan Aula Tempat Ibadah 0,98 0,98 Mushola 4 5 Klinik Koperasi/ kafetaria 6 0,7 Kapasitas Sumber 50 orang 100 orang 6 orang 100 orang ASM An An Luasan Total (m2) 1200 49 98 An NAD 36 170 Jumlah Sirkulasi 30%, sehingga luas fasilitas Penunjang adalah (1418 x 30%) + 1418 = 1843.4 m2 1418 m2 1843.4 m2 Tabel 19. Analisa Besaran Ruang Fasilitas Penunjang Sumber : Analisa Penulis, 2019 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 94 | 119 4) Fasiitas Service No Jenis ruang Standar m2/org Kapasitas Sumber 1 Bangunan persiapan karyawan Kantin karyawan Laboratorium Bengkel Reservoir pump Power house IPAL Pos jaga/ security 0.8 600 org 2 3 4 5 ASM 0.7 600 org NAD 25 5 org FAO 100 5 org ASM 25 ASM 120 ASM 50 ASM 12 2 ASM Jumlah Sirkulasi 30%, sehingga luas fasilitas Service adalah (1232 x 30%) + 1232 = 1660.6 m2 Luasan Total (m2) 480 420 25 100 25 120 50 12 1232 m2 1660.6 m2 Tabel 20. Analisa Besaran Ruang Fasilitas Service Sumber : Analisa Penulis, 2019 5) Fasilitas Parkir No 1 Jenis ruang Kendaraan pegelola/ kariawan Kap asita s 800 org Perhitungan Mobil Asumsi pengelola yang menggunakan mobil = 20% dengan asumsi per mobil di isi oleh 2 org. stadar ruang 12.5-14 m2 (NAD) per mobil 800 x 20% = 160 orang 160/2 = 80 mobil 80 x 14m2 = 1120 m2 Motor asumsi Pengelola yang menggunakan Motor = 60 % dengan asumsi per motor diisi oleh 2 org. Standar ruang 2m2 (NAD) per motor 800 x 60% = 480 orang 480/2 = 240 motor 240 x 2m2 = 480 m2 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 95 | 119 Total Luasan 1600 m2 2 Kendaraan Pengunjun g 100 org Bus Asumsi Pengunjung yang menggunakan bus = 50% dengan asumsi per bus diisi oleh 25 org. Standar Ruang 28 m2 (NAD) per Bus 100 x 50% = 50 orang 50 / 25 = 2 Bus 2 x 28 m2 = 56 m2 286 m2 Mobil Asumsi pengunjung yang menggunakan mobil = 30% dengan asumsi per mobil di isi oleh 2 org. stadar ruang 12.5-14 m2 (NAD) per mobil 100 x 30% = 30 orang 30/2 = 15 mobil 15 x 14m2 = 210 m2 3 Kendaraan pengankut bahan baku / Jadi Motor asumsi Pengunjung yang menggunakan Motor = 60 % dengan asumsi per motor diisi oleh 2 org. Standar ruang 2m2 (NAD) per motor 100 x 20% = 200 orang 20/2 = 10 motor 10 x 2m2 = 20 m2 200 m2 Truk Box asumsi Kendaraan pengankut bahan baku = 10 truck kapasitas 16 Ton Standar ruang 20 m2 (NAD) per Truk Box 10 x 20 m2 = 200 m2 jumlah Sirkulasi 30%, sehingga luas fasilitas Parkir adalah (2086 x 30%) + 2086 = 2711.8 m2 Tabel 21. Analisa Besaran Ruang Fasilitas Parkir Sumber : Analisa Penulis, 2019 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 96 | 119 2086 m2 2711.8 m2 No Fasilitas Besaran Ruang 1 Fasilitas Produksi 1879.8 m2 2 Fasilitas Pengelola 660.4 m2 3 Fasilitas Penunjang 1843.4 m2 4 Fasilitas Service 1660.6 m2 5 Fasilitas Parkir 2711.8 m2 Jumlah 8756 m2 Tabel 22. Analisa Total Besaran Ruang Sumber : Analisa Penulis, 2019 Dan tabel diatas diperoleh luasan untuk membangun industri Udang Beku di kabupaten pinrang. Berdasarkan peraturan daerah area industri menurut Kabupaten pinrang tahun 2012 sebesar RTH 10%, KDB 60%, KDH 30%. KLB 1.8. Luas tapak yang di butuhkan sehingga luas lahan maksimal terbangun adalah sebagai berikut : No Perhitungan Total 1 Total luas Tapak DIbutuhkan = besaran Ruang 8756 m2 + perbandingn 6:4 dengan 4 KDH dan RTH dan Terbang 6 KDB un Minimal RTH dan KDH = (8756 m2 x 40 %) = 3502.4 m2 RTH dan KDH Minimal RTH dan KDH adalah 3502.4 m2 Total Tapak Efektif = RTH dan KDH + Total Besaran Ruang 3502 + 8756 = 12258.4 m2 SIsa Lahan DIalokasikan untuk RTH dan 11244 KDH m2 Total Site – Total Tapak Efektif RTH 20000 m2 - 12258.4 m2 = 7741.6 m2 dan 7741.6 m2 + 3502.4 m2 = 11244 m2 KDH Tabel 23. Analisa Total Besaran Ruang I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 97 | 119 5. Analisa Utilitas Bangunan a. Jaringan Komunikasi Jaringan komunikasi sangat memegang peran dalam menentukan kelancaran/efisieansi pekerjaan didalam bangunan industri . penerapan penggunaan jaringan telekomunikasi antara lain: 1) Sistem administrasi data 2) Siaran televisi 3) Sistem manajemen bangunan 4) Mesin ATM 5) Sistem penunjukkan waktu 6) Sistem alarm kebakaran 7) Penjualan makanan 8) telepon 9) Kontrol pencahayaan 10) Sistem komunikasi keamanan 11) Akses kontrol keamanan 12) Akses CCTV 13) Sound systems 14) Perawatan utilitas telekomunikasi 15) WiFi b. Jaringan Listrik Penggunaan generator aliran ke dalam ruang panel induk, yang kemudian dialirkan ke panel distributor setiap unit bangunanSistem kabel distributr dipasang melalui truking (saluran) demi keamanan, kemudahan pengontrolan dan keselamatan Gambar 80: Skema penyaluran energi listrik Sumber: Analisa penulis I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 98 | 119 c. Pencahayaan Mampu menerangi area kerja produksi. Lampu dilengkapi dengan screen Jumlah penerangan disesuaikan luas ruangan yang ada. Tingkat pencahayaan area kerja bangunan (pekerjaan menengah) sebesar 200-500 lux, warna cool white/putih netral, dan daylight. Tingkat pencahayaan gudang penyimpanan sebesar 100 lux dengan rederasi kelompok 3 (BSN, 2000) (BPOM,2012). Pencahayaan yang terang dan langsung diperlukan di semua area persiapan makanan dan area pencuci piring. Minimal 215 lux (20 kaki lilin) diperlukan di semua permukaan kerja di area ini. Disarankan minimal 540 lux (50 kaki lilin). Area penyimpanan dan ruang cuci harus dilengkapi dengan perlengkapan pencahayaan yang cukup untuk memungkinkan operasi pembersihan yang tepat. Minimal 215 lux (20 kaki lilin) diperlukan pada jarak 76 cm (30 inci) dari lantai. Semua penerangan di area persiapan makanan, area pencuci piring, makanan dan peralatan makanan area penyimpanan dan area tampilan makanan harus dilindungi untuk melindunginya menghancurkan dan melindungi makanan dan peralatan dari pecahan kaca. Catatan: Lampu anti pecah atau tabung fluorescent yang dapat pecah dapat digunakan sebagai pengganti kaca jika diperlukan. (Manitoba, 2018). d. Penghawaan Penggunan bukaan yang lebar pada desain untuk meminimalisir penggunaan penghawaan alami. Pada bangunan produksi dan gudang barang jadi di gunakan AC central agar suhu ruangan dapat dijaga kestabilannya dan diatur dengan mudah pada seluruh ruangan produksi. Pada bangunan pengelola dan penunjang digunakan AC unit untuk aplikasi penghawaan buatan. e. Sisitem Air Bersih Sumber utama air dari PAM dan utilitas jalur kota. Sedangkan cadangan dari sumur pompa yang dialirkan ke ground reservoir I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 99 | 119 kemudian dipompa secara vertikal yang berfungsi sebagai penampungan air bersih dan pencadangan apabila terjadi kebakaran. Air tersebut kemudian didistribusikan ke masing-masing unit bangunan secara vertical maupun horizontal melalui jaringan pipa. Gambar 78: Skema penyaluran air bersih dengan sistem down feed Sumber: Analisa penulis f. Sistem Disposal Air kotor yang berasal dari pembuangan bangunan penujang industri disalurkan ke septic tank utama dan selanjutnya dialirkan ke peresapan. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan pada sistem ini antara lain : 1) Saluran pembuangan tidak diperkenankan langsung mengarah kedalam tanah. 2) Perlu ada bak control pada saluran induk. 3) Saluran pembuangan harus tertutup. g. Sistem IPAL Proses pengotahan limbah dengan proses biofilter terdiri dan beberapa bagian yakni bak pengendap awal. biofilter anaerobik, biofilter aerobik, bak pengendap akhir, dan jika perlu dilengkapi dengan bak kiorinasi. Limbah yang berasal dan proses penguraian anaerobik (pengolahan tahap pertama) dialirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel lumpur, pasir dan kotoran lainnva. Selain sebagai bak pengendapan. juga berfungsi sebagai bak pengontrol aliran. serta bak pengurai senyawa organik yang I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 100 | 119 berbentuk padatan, pengurai lumpur dan penampung lumpur (kaswinarni, 2007). Proses pengolahan prototipe IPAL untuk industri pengolahan ikan terlihat pada gambar 2 . Air limbah dialirkan ke alat pengolahan melalui lubang pemasukan (inlet) masuk ke ruang (bak) pengendapan awal. Selanjutnya air limpasan dari bak pengendapan awal air dialirkan ke zona anaerob (Setiyono., Yudo, Satmoko,2010) Zona anaerob tersebut terdiri dari dua ruangan yang diisi dengan media dari bahan plastik sarang tawon untuk pembiakan mikroba. Pada zona anaerob pertama air limbah mengalir dengan arah aliran dari atas ke bawah, sedangkan pada zona anaerob kedua air limbah mengalir dengan arah aliran dari bawah ke atas. Selanjutnya air limpasan dari zona anaerob ke dua mengalir ke zona aerob melalui lubang (weir). Di dalam zona aerob tersebut air limbah dialirkan ke unggun media plastic sarang tawon dengan arah aliran dari bawah ke atas, sambil dihembus dengan udara. Air limbah dari zona aerob masuk ke bak pengendapan akhir melalui saluran yang ada di bagian bawah. Air limbah yang ada di dalam bak pengendapan akhir tersebut disirkulasikan ke zona anaerob pertama, sedangkan air limpasan dari bak pengendapan akhir tersebut merupakan air hasil olahan dan keluar melalui lubang pengeluaran, selanjutnya air limpasan dari bak ini dibuangke saluran umum. Setelah proses berjalan selama dua sampai empat minggu pada permukaan media sarang tawon akan tumbuh lapisan mikro-organisme, yang akan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 101 | 119 menguraikan senyawa polutan yang ada dalam air limbah (Setiyono., Yudo, Satmoko,2010). Gambar 51. Pengolahan Limbah Cair Anaerobic- Aerobic Sumber : kaswinarni, 2007 Gambar 52. Pengolahan Lanjut Anaerobic-Aerobic Sumber : kaswinarni, 2007 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 102 | 119 Gambar 53. Diagram alir prototipe IPAL industri pengolahan ikan Sumber : Setiyono., Yudo, Satmoko, 2010 6. Analisa Struktur a. Struktur Bawah Untuk struktur bawah, Bangunan Industri Udang Beku menggunakan pondasi Sumuran untuk zona produksi dan pondasi telapak untuk zona penunjang dan pengelola dimana pondasi ini cocok dengan kondisi tanah di site yang merupakan berpasir sampai padat. I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 103 | 119 Gambar 54. Pondasi Telapak Sumber : Google Images (2019) Gambar 55. Pondasi Sumuran Sumber : Google Images (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 104 | 119 b. Struktur Tengah Untuk struktur Tengah digunakan kolom beton dan konstruksi kolom baja yang mana sangat baik untuk bangunan industri, selain baik, konstruksi baja juga mudah dalam pemeliharaan dan pemugaran atau penambahan bangunan. Selain itu konstruksi baja juga dapat melawan kekuatan bahan kimia sehingga sangat di sarankan penggunaannya untuk pembnagunan industri (data arsitek). Gambar 56. Kolom Baja Sumber : Google Images (2019) c. Struktur Atas Struktur atas bangunan industri menggunakan konstruksi baja yang dimana sangat mendukung bangunan dengan bentang lebar dan ruang yang lebar dan panjang sebagaimana karakteristik I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 105 | 119 bangunan indusri, selain mudah dalam pengerjaan dan perawatan struktur konstruksi baja juga tahan terhadap kebakaran sehingga sangat di rekomendasikan pada bangunan industri. Gambar 57. Atap Baja Sumber : Google Images (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 106 | 119 BAB V KESIMPULAN DAN ACUAN PERANCANGAN A. Kesimpulan 1. Konsep Desain Industri Udang Konsep dasar yang diterapkan pada desain Industri Udang Beku di Kabupaten Pinrang adalah dengan tampilan bentuk ndustrial yang dinamis serta Bangunan dirancang dengan massa ruang. keterbukaan ruang. dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar. Untuk bentuk dan massa bangunan industri biasanya memiliki bentuk-bentuk geometris elementer yang praktis dan sederhana. 2. Program Ruang Industri Udang Program ruang pada industri Udang Beku di Kabupaten Pinrang ini di bedakan menjadi empat sesuai fungsi Pengguna banagunan itu sendiri yaitu, area Produksi / kariawan , area pengelola, area pengunjung, dan area supplier yang dimana dapat dibagi menjadi lima jenis fasilitas yaitu fasilitas produksi, fasilitas pengelola, fasilitas penunjang, fasilitas Service, dan Fasilitas parker dan Olahraga. 3. Bentuk Dan Struktur Industri Udang Fungsi utama dari struktur adalah dapat memikul secara aman dan efektif beban yang bekerja pada bangunan, serta menyalurkannya ketanah melalui pondasi. Beban yang bekerja terdiri dari beban vertikal dan beban horizontal. Pemilihan struktur pada Industri udang beku ini adalah penggunaan pondasi Sumuran pada bangunan produksi dan gudang, pondasi telapak pada bangunan penunjang pada stuktur bawah. Penggunaan kololom baja pada bangunan produksi dan kolom beton pada bnagunan pendukung lainnya, serta penggunaan atap baja pada bangunan produksi dan atap baja ringan pada bangunan pendukung lainnya. 4. Utilitas dan Perlengkapan Bangunan Industri Udang Perencanaan sebuah bangunan tidak lepas dari beberapa pertimbangan I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 107 | 119 untuk dampak yang dihasilkan dalam beberapa waktu yang akan datng baik itu dampak positif ataupun dampak negatif yang akan dihasilkan dari bangunan tersebut, salah satunya adaah perencanaan sistem utilitas yang digunakan, baik sistem utilitas Jaringan listrik, jaringan komunikasi, pencahayaan, penghawaan, jaringn air bersih, utilitas air kotor, dan dan yang terpenting adalah penerapan IPAL (instalasi Pengolahan Air Limbah) yang harus di terapkan pada semua jenis industri sebulum limbah hasil olahan dibuang ke perairan.. Jenis utilitas tersebut berpengaruh terhadap kebersihan lingkungan, kenyamanan, serta dapat mengantisipasi terjadinya kebakaran. B. Acuan Perancangan Berdasarkan teori-teori dan analisa yang telah dibahas pada bab serta sub-bab sebelumnya maka dapat disimpulkan acuan perancangan pada Industri dang beku ini Adalah : 1. Acuan Desain Konsep dasar yang diterapkan pada desain Industri Udang Beku di Kabupaten Pinrang adalah dengan tampilan bentuk yang dinamis serta Bangunan dirancang dengan massa ruang. keterbukaan ruang. dan hubungan ruang luar-dalam yang cair, teras lebar. Untuk bentuk dan massa bangunan industri biasanya memiliki bentuk-bentuk geometris elementer yang praktis dan sederhana. 2. Acuan Lokasi Perancangan a. Lokasi Industri Udang yangakan di bangun berada di Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. b. Lokasi ini berada di kawasan peruntukan bangunan industri yang berada tepat di jalan arteri yang menyambungkan kabupaten pinrang dengan pare-parse hingga menjadikan lokasi insustri ini sangat strategis. c. Jarak ke pusat kota minimal 10 km. Jarak ke ibukota = 19 km atau dapat di tempuh dengan 20 menit perjalanan angkurtan darat I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 108 | 119 d. Memiliki prasarana jalan yang mudah untuk transportasi dan pengiriman perbekalan. e. System jaringan yang melayani (listrik dan komunikasi) f. Pertimbangan Lokasi ini dipilih juga berdasarkan kedekatan dengan bahan baku. g. Berada dekat dengan Prasarana angkutan (pelabuhan laut) h. Mempunyai tipografi lahan yang mendukung berdirinya sebuah industri yang Berada di dataran rendah dengan ketiggian 0-2 m diatas permukaan laut i. Jarak Terhadap Perairan yang mendukung j. Memiliki luas lahan 2 hektar (20.000 m2) k. Dekat dengan bahan baku l. Merupakan kawasan pengembangan industri m. Dilalui jalur utilitas kota n. Dilalui jalan arteri primer antar kabupaten Gambar 41. Lokasi terpilih perencanaan Industri Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 109 | 119 3. Acuan Program Ruang sirkulasi Pengguna Program ruang pada industri Udang Beku di Kabupaten Pinrang ini di bedakan menjadi empat sesuai fungsi Pengguna banagunan itu sendiri yaitu, area Produksi / kariawan , area pengelola, area pengunjung, dan area supplier yang dimana dapat dibagi menjadi lima jenis fasilitas yaitu fasilitas produksi, fasilitas pengelola, fasilitas penunjang, fasilitas Service, dan Fasilitas parkir dan Olahraga. Gambar 47. Alur sirkulasi Pengelola Sumber : Analisa Penulis (2019) Gambar 48. Alur sirkulasi Pengelola Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 110 | 119 Gambar 49. Alur sirkulasi Suplier Sumber : Analisa Penulis (2019) Gambar 50. Alur sirkulasi Pengunjung Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 111 | 119 4. Jumlah pengguna Jumlah Pegguna pada Industri Udang Beku Ini Meliputi 800 orang pengguna dengan asumsi 600 orang pekerja, 100 pengelola dan 100 orang pengunjung. a. Direktur 1 org b. Wakil Direktur 1 org c. Sekretaris 1 org d. Kabag produksi 1 org e. Staf produksi 4 org f. Kabag personalia administrasi umum 1 org g. Staf personalia/administrasi umum 9 org h. Kabag keuangan 1 org i. Staf keuangan 9 org j. Kabag engineering 1 org k. Staf engineering 4 org l. Kabag pemasaran 1 org m. Staf pemasaran 9 org n. Karyawan 600 org o. Petugas kebersihan 30 org p. Petugas keamanan 4 org q. pengunjung 100 org 5. Program Ruang a. Fasilitas produksi 1) Gedung produksi 2) Cold storange 3) Loading dock 4) Gudang Penyimpanan jadi b. Fasilitas Pengelola 1) Rg. Direktur 2) Rg. Wakil Direktur I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 112 | 119 3) Rg. Sekretaris 4) Rg. Kabag Produksi 5) Rg. Staf Produksi 6) Rg. Kabag Personalia 7) Administrasi umum 8) Rg. Staf personalia/ 9) administrasi umum 10) Rg. Kabag keuangan 11) Rg. Staf keuangan 12) Rg. Kabag engineering 13) Rg. Staf engineering 14) Rg. Kabag pemasaran 15) Rg. Staf pemasaran 16) Rg. Rapat 17) Lobby 18) Rg. Informasi 19) Rg. Pajang 20) Pantry 21) Toilet c. Fasilitas penunjang 1) Mess Karyawan 2) Aula Tempat Ibadah 3) Mushola 4) Klinik 5) Koperasi/ kafetaria d. Fasilitas service 1) Bangunan persiapan karyawan 2) Kantin karyawan 3) Laboratorium 4) Bengkel 5) Reservoir pump I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 113 | 119 6) Power house 7) IPAL 8) Pos jaga/ security e. Fasilitas parker dan olahraga 1) Parkir Kendaraan Pengunjung 2) Parkir Kendaraan Pengelola 3) Parkir Kendaraan Pengangkut bahan jadi 4) Parkir Kendaraan Pengangkut bahan baku 5) Fasilitas olahraga 6. Besaran Ruang Perincian besaran ruang Industri Udang Beku Kab. Pinrang adalah sebagai berikut : a) Fasilitas Produksi 1879.8 m2 b) Fasilitas Pengelola 660.4 m2 c) Fasilitas Penunjang 1843.4 m2 d) Fasilitas Service 1660.6 m2 e) Fasilitas Parkir 2711.8 m2 Total 8756 m2 Total luas Tapak DIbutuhkan = besaran Ruang + perbandingn 6:4 dengan 4 KDH dan RTH dan 6 KDB Minimal RTH dan KDH = (8756 m2 x 40 %) = 3502.4 m2 RTH dan KDH Minimal RTH dan KDH adalah 3502.4 m2 Total Tapak Efektif = RTH dan KDH + Total Besaran Ruang 3502 + 8756 = 12258.4 m2 SIsa Lahan DIalokasikan untuk RTH dan KDH Total Site – Total Tapak Efektif 20000 m2 - 12258.4 m2 = 7741.6 m2 7741.6 m2 + 3502.4 m2 = 11244 m2 I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 114 | 119 7. Acuan Pengolahan Tapak Gambar 41. Tapak Pencapaian Ke Tapak Sumber : Analisa Penulis (2019) Gambar 42. Enterance Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 115 | 119 Gambar 43. Sirkulasi Sumber : Analisa Penulis (2019) Gambar 44. Orientasi Sinar Matahari Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 116 | 119 Gambar 45. Orientasi Arah Angin Sumber : Analisa Penulis (2019) Gambar 46. Orientasi Kebisingan Sumber : Analisa Penulis (2019) I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 117 | 119 8. Acuan Sistem utilitas a) Jaringan air bersih Untuk desain Industri udang beku, sistem down feed dinilai lebih efisien dari tinjauan operasional dan kebutuhan energi listrik, karena pompa hanya digunakan untuk menarik air ke tangki penyimpanan atas, sedangkan distribusi hanya menggunakan tenaga grafitasi. Gambar 47: Skema penyaluran air bersih dengan sistem down feed Sumber: Analisa penulis b) Jaringan air kotor SISTEM IPAL Gambar 48: Skema penyaluran air kotor Sumber: Analisa penulis c) Jaringan listrik Gambar 80: Skema penyaluran energi listrik Sumber: Analisa penulis I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 118 | 119 d) Pembuangan sampah Unit service dan pendukung Pembuangan sampah Mobil sampah Unit pengelolaan Tempat pembuangan akhir Gambar.81: Skema pembuanagn sampah Sumber: Analisa penulis I n d u s t r i P e n g o l a h a n U d a n g B e k u | P a g e 119 | 119