Uploaded by User15354

reviewakpersos

advertisement
REVIEW
AKUNTANSI PERTANGGUNG JAWABAN SOSIAL
AKUNTANSI SOSIAL DAN LINGKUNGAN MODERN
Disusun oleh :
Dinar Sumarginingrum F.
(155020301111084)
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
Akuntansi Sosial dan Lingkungan Modern
Pergeseran filosofis pengelolaan organisasi entitas bisnis yang mengalami perubahan dari
pandangan manajemen klasik ke manajemen moderen khususnya di beberapa negara industri
seperti Amerika dan Eropa telah melahirkan sebuah orientasi baru tentang tanggung jawab
perusahaan. Pandangan Manajemen klasik tentang tanggung jawab perusahaan yang hanya
beorientasi kepada pemilik modal dan kreditur dengan mencapai tingkat laba maksimum telah
bergeser dengan adanya konsep manajemen modern, dimana orientasi perusahaan dalam mencapai
laba maksimum perlu dihubungkan dengan tanggung jawab sosial perusahaan kearah
keseimbangan antara tuntutan para pemilik perusahaan, kebutuhan para pegawai, pelanggan,
pemasok, lingkungan dan juga masyarakat umum, karena menurut pandangan Manajemen modern
perusahaan dalam menjalankan operasionalnya harus berinteraksi dengan lingkungan sosialnya
dan sumber-sumber ekonomi yang digunakan oleh perusahaan semuanya berasal dari lingkungan
sosial dimana perusahaan itu berada. Oleh karena itu perusahaan sebagai organisasi bisnis harus
mampu merespon apa yang dituntut oleh lingkungan sosialnya, sehingga entitas bisnis dan entitas
sosial dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi untuk kepentingan bersama.
Ide dasar yang melandasi perlunya dikembangkan akuntansi sosial adalah tuntutan
terhadap perluasan tanggung jawab perusahaan. Akuntansi sosial mengisyaratkan bahwa suatu
entitas bisnis tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan sosial dimana entitas tersebut berada,
sehingga interaksi antara keduanya perlu diakomodasi dalam teknik dan metode akuntansi
Seiring dengan perkembangan konsep manajemen tersebut, para akuntan juga
membicarakan bagaimana permasalahan tanggung jawab sosial ini dapat diadaptasikan dalam
ruang lingkup akuntansi, sehingga tujuan utama pelaporan keuangan guna memberikan infromasi
kepada para pemegang saham dan kreditur menjadi ikut bergeser pula kearah bahwa perlunya
pelaporan yang bersifat dari luar organisasi perusahaan (eksternal) dalam rangka memberikan
infromasi kepada beberapa kelompok orang luar yang berkepentingan terhadap perusahaan.
Contoh kongkrit yang dapat dianggap sebagai externality, antara lain seperti melaporkan jumlah
karyawan, jaminan kesehatan, informasi tentang upaya pencegahan pencemaran lingkungan,
standar kualitas, pengepakan produk ramah lingkungan, penyaluran beasiswa pendidikan,
kesempatan magang, pelatihan kerja bagi mahasiswa, dan kepedulian sosial kepada masyarakat
sekitar industri. Permasalahan penting lainnya yang menjadi isu dikalangan para akuntan
sehubungan externalily adalah mengenai seberapa jauh perusahaan harus bertanggung jawab
terhadap sosial ekonomi seluruhnya, dan bagaimana perlakuan akuntansi yang tepat untuk
menggambarkan transaksi yang terjadi antara perusahaan dengan lingkungan sosialnya tersebut.
Berdasarkan tujuan akuntansi sosial yang diuraikan diatas dapat dipahami bahwa
akuntansi sosial berperan dan menjalankan fungsinya sebagai bahasa bisnis yang
mengakomodasi masalah–masalah sosial yang dihadapi oleh perusahaan, sehingga pos–pos biaya
sosial yang dikeluarkan kepada masyarakat dapat menunjang operasional dan pencapaian tujuan
jangka panjang perusahaan.
Dengan lahirnya akuntansi sosial, produk akuntansi juga dapat digunakan oleh
manajemen sebagai sarana untuk mempertanggung jawabkan kinerja sosial perusahaan dan
memberikan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan bagi stakeholders. Segala
aktivitas perusahaan sebenarnya baik disadari maupun tidak, akan membawa dampak negatif
ataupun positif bagi lingkungan sosial di sekitarnya. Oleh sebab itu, perusahaan tidak hanya
memikirkan kepentingannya sendiri untuk mencapai laba semaksimal mungkin, tapi juga harus
memikirkan dampak aktivitasnya bagi lingkungan sosial di sekitarnya. Selama perusahaan masih
menjalankan aktivitasnya, selama itu pula perusahaan akan memberikan pengaruh bagi
lingkungannya. Perusahaan dan lingkungannya seharusnya dapat saling menguntungkan demi
kepentingan bersama. Dalam lingkup wilayah Indonesia, standar akuntansi keuangan Indonesia
belum mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial, akibatnya yang terjadi di
dalam praktik perusahaan hanya dengan sukarela mengungkapkannya.
Akuntansi sosial tidak hanya di gunakan oleh manajemen saja tapi umumnya digunakan
dalam konteks bisnis, atau tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), meskipun setiap
organisasi, termasuk lembaga swadaya masyarakat, lembaga amal, dan lembaga pemerintah
dapat terlibat dalam akuntansi sosial.
Tanggung jawab sosial ini erat kaitannya dengan munculnya konsep coorporate
social responsibility (CSR). Secara singkat CSR merupakan suatu upaya untuk meningkatkan
kualitas hidup dari stakeholder. Stakeholder yang dimaksudkan disini diantaranya adalah
karyawan, pembeli, pemilik, pemasok, dan komunitas lokal, organisasi nirlaba,
aktivis, pemerintah, dan media, yang pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama yakni
kemakmuran. Dengan demikian, perusahaan sebagai entitas bisnis hendaknya peduli terhadap
akibat sosial dan berusaha mengatasi kerugian lingkungan sebagai akibat dari aktivitas usaha
perusahaan.Kita ketahui bersama prinsip perusahaan adalah mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya tanpa memikirkan lingkungan sekitarnya, sehingga seringkali menyebabkan
tindakan yang menjurus menghalalkan segala cara. Polusi air dan udara, kebisingan suara,
keracunan, radiasi, serta limbah kimia yang bisa mengancam masyarakat dan ekosistem adalah
suatu contoh bentuk dampak negative yang dapat timbul dari keberadaan dan aktivitas
perusahaan.
Dengan berbagai dampak dari keberadaan perusahaan ditengah-tengah masyarakat,
menyadarkan masyarakat di dunia bahwa sumber daya alam adalah terbatas dan oleh karenanya
pembangunan ekonomi harus dilaksanakan secara berkelanjutan, dengan konsekuensi bahwa
perusahaan dalam menjalankan usahanya perlu menggunakan sumberdaya dengan efisien dan
memastikan bahwa sumber daya tersebut tidak habis, sehingga tetap dapat dimanfaatkan oleh
generasi di masa datang.
Akuntansi pertanggungjawaban sosial juga merupakan alat yang sangat berguna bagi
perusahaan dalam mengungkapan aktivitas sosialnya di dalam laporan keuangan. Pengungkapan
tanggung jawab sosial dalam laporan keuangan penting karena melalui social reporting
disclosure, pemakai laporan keuangan akan dapat menganalisis sejauh mana perhatian dan
tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjalankan bisnis.
Akuntansi sosial dan lingkungan telah menjadi topik yang perlu mendapat perhatian
akuntan. Isu ini menjadi penting karena perusahaan perlu mempertanggungjawabkan dampak
aktivitas operasinya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Akuntansi pertanggungjawaban
sosial dan lingkungan telah diterapkan oleh perusahaan di Indonesia. Namun khususnya
penerapan akuntansi lingkungan masih kurang karena adanya kendala dalam penerapannya.
Akuntan perlu mencari jalan keluar untuk meningkatkan penerapannya.
Pertama, dengan pembuatan standar pelaporan sustainability reporting (SR). Standar
yang baku dan mewajibkan penerapannya khusus bagi perusahaan yang aktivitasnya berdampak
pada lingkungan. Kedua, mewajibkan perusahaan untuk menyusun SR dengan pedoman yang
telah ada, misalnya pedoman SR yang dikeluarkan oleh GRI. Ketiga, memberikan penghargaan
bagi perusahaan yang telah menerapkan SR dengan baik. Keempat, audit lingkungan untuk
meningkatkan kredibilitas SR. Terakhir, mekanisme GCG perlu dikembangkan untuk
melindungi seluruh pemangku kepentingan.
Download