Uploaded by common.user15138

BAB 2 GEOMORFOLOGI WIFix

advertisement
BAB II
GEOMORFOLOGI
Geomorfologi merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari
bentuk - bentuk umum muka bumi, perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang
evolusinya dan hubungannya dengan keadaan struktur dibawahnya serta sejarah
perubahan geologi yang diperlihatkan atau tergambar pada bentuk permukaan
bumi (American Geological Institute, 1973, dalam Adjat Sudradjat, 1975).
Proses geomorfologi merupakan semua perubahan baik secara fisik, kimia,
biologis maupun aktivitas manusia yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi
yang akan selalu meninggalkan bekasnya yang tampak nyata pada bentuk lahan.
Faktor yang sangat mempengaruhi dalam bentuk umum muka bumi adalah proses
geomorfologi menurut Thornbury (1969). A. K. Lobeck (1939) menekankan
pengaruh struktur geologi dan proses yang berpengaruh terhadap bentang alam
yang ada sekarang. Brahmantyo dan Bandono (1999), membicarakan tentang
bentuk lahan dan proses yang terjadi dipermukaan bumi termasuk pergerakan
material air dan drainase, serta faktor lain yang memicu terjadinya proses
geomorfik.
Kajian geomorfologi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh
keadaan geologi terhadap morfologi daerah penelitian, yang meliputi bentuk
geomorfologi regional, bentuk geomorfologi daerah pemetaan dan sungai yang
ada pada daerah pemetaan serta aspek-aspek pengontrolnya.
2.1. Geomorfologi Regional
Menurut J.A.Aspden, dkk. 1982 pada peta geologi lembar Padangsidempuan
dan Sibolga dibagi menjadi tujuh satuan fisiografis yang di kontrol oleh keadaan
geologinya, yaitu :
1.
Fisiografis Dataran Pantai (The Coastal Plain)
2.
Fisiografis Bukit Minas (The Minas Hills)
3.
Fisiografis Cekungan Drainase Sosa/Barumun (The Sosa/Barumun Drainage
Basins)
4.
Fisiografis Barisan Bagian Timur (The Eastern Barisans)
5.
Dataran Tinggi Toba dan Permukaan Sibualbuali (The Toba Plateu and
Sibualbuali Surface)
6.
Zona Barisan Axial (The Axial Barisan Zone), dan
7.
Barisan Bagian Barat (The Western Barisan)
Dataran pantai (The Coastal Plain) merupakan dataran pesisir pantai yang
terletak di Timur Laut-Tenggara, Perbukitan Minas (The Minas Hills) terletak di
bagian Timur, Cekungan Barumun (The Sosa/Barumun Drainage Basins) terletak
diantara perbukitan Minas dan Eastern barisan yang terletak dari Timur LautTenggara. Selain itu, Barisan bagian Timur (The Eastern Barisans) merupakan
sayap pegunungan barisan yang menyambung dari Utara pegunungan Asahan
Kuala ke Selatan (Pematang Siantar), Zona Dataran Tinggi Toba dan Permukaan
Sibualibuali (The Toba Plateu and Sibualbuali Surface) merupakan daerah yang
memiliki dataran tinggi hingga kemiringan landai dengan arah Utara ke Selatan
dan didominasi vulkanik Toba dan vulkanik Sibual-buali, Zona Sumbu Barisan
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-2
(The Axial Zone) merupakan daerah barisan yang terbentuk akibat adanya
interaksi antar lempeng yang berarah Barat laut-Tenggara disepanjang pulau
Sumatra, Barisan bagian Barat (The Western Barisan) adalah daerah lanjutan
pegunungan Selatan yang berarah Tenggara-Barat daya yang disusun atas batuan
basemen.
Secara fisiografi daerah pemetaan dominan termasuk kedalam Zona
Barisan Timur (The Eastern Barisans) sedangkan di utara daearah penelitan
berada pada Zona Dataran Tinggi Toba dan Permukaan Sibualibuali (The Toba
Plateu and Sibualbuali Surface) (Gambar 2.1). Pada Pegunungan Bukit Barisan
ini umumnya terdiri dari batuan berumur Pra-Tersier yang memiliki tingkat
resistensi yang tinggi. Pegunungan ini juga didasari oleh blok-blok sesar yang
berada pada formasi-formasi berumur Tersier yang lebih tua. Sedangkan di bagian
utara daerah pemetaan terdapat zona fisiografi Permukaan Sibualbuali
(Sibualbuali Surface), yang terdiri dari lipatan, resistensi batuan yang rendah, dan
sedimen-sedimen Tersier muda.
Gambar 2.1. Peta fisiografi daerah pemetaan ditandai kotak merah pada lembar Padangsidempuan
dan Sibolga (J.A.Aspenden, dkk, 1982).
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-3
2.2. Geomorfologi Daerah Pemetaan
Berdasarkan pembagian Zona Fisiografi diatas, serta memperhatikan
bentuk-bentuk bentang alam dan batuan penyusun bentang alam yang terdapat di
daerah pemetaan, maka daerah pemetaan berada pada Zona Barisan Bagian Timur
(The Eastern Barisans) dan Dataran Tinggi Toba dan Permukaan Sibualbuali (The
Toba Plateu and Sibualbuali Surface).
Morfologi daerah pemetaan berdasarkan peta topografi merupakan daerah
pegunungan dengan elevasi terendah 250 mdpl dan elevasi tertinggi 800 mdpl,
Sehinga hal tersebut sesuai dengan fisiografi regional dengan kondisi daerah
pemetaan. Ketinggian di atas 500 mdpl merupakan kategori bentang alam
pegunungan (Erni Suharini, dkk 2014). Budi Brahmantyo, dkk, 1992
mengklasifikasi morfologi berdasarkan bentang alam, proses-proses yang
mempengaruhinya dalam pembentukannya mencakup proses endogen maupun
proses eksogen (morfogenesa) serta bentuk muka bumi. Secara umum bentang
alam dibagi menjadi 4 yaitu, bentang alam pegunungan, bentang alam gurun,
bentang alam dataran dan bentang alam glasial. Bentang alam pegunungan dan
dataran dibagi lagi berdasarkan proses keterbentukannya (morfogenesa) yang
disebut sub-bentang alam.
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-4
Gambar 2.2. Bentang alam pegunungan lipatan
Gambar 2.3. Bentang alam pegunungan sesar
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-5
Berdasarkan genetika pembentukan bentang alam, Analisa morfologi yang
diinterpretasikan melalui citra satelit (google earth), peta Topografi dan hasil
pengamatan dilapangan, serta merajuk pada struktur, proses dan stadia (tahapan)
geomorfiknya yang mana pada peta topografi dilakukan dengan mengamati
bentuk dan kerapatan kontur yang menggambarkan kondisi morfologi dilapangan.
Pengamatan citra satelit (google earth) untuk melihat kodisi 3D di lokasi
pemetaan. Kemudian morfologi yang diperoleh dilapangan dibandingkan dengan
peta topografi serta didukung dengan data struktur dan pengamatan citra satelit
kemudian data tersebut diklasifikasi berdasarkan bentuk bentang alam menurut
Budi
Brahmantyo
dan
Bandono
(1999)
maka
dapat
diinterpretasikan
geomorfologi daerah pemetaan terdiri dari satuan Bentang Alam Pegunungan
Lipatan dan Satuan Bentang Alam Pegunungan Sesar, yang dibagi lagi kedalam
Sub-satuan, yaitu :
1. Satuan Morfologi Punggungan Antiklin
2. Satuan Morfologi Punggungan Horst
3. Satuan Morfologi Lembah Graben
2.2.1. Satuan Morfologi Punggungan Antiklin
Genetika satuan geomorfologi punggungan antiklin yang terdapat di daerah
pemetaan dikontrol oleh struktur perlipatan yang memiiki jurus perlapisan berarah
barat-timur dan penunjaman kearah Tenggara. Satuan geomorfologi ini disusun
oleh batuan-batuan dari formasi Sihapas. Satuan geomorfologi ini menempati
±15% dari luas daerah pemetaan (lampiran peta Geomorfologi). Secara
morfometri satuan geomorfologi ini berada pada ketinggian 200 – 500 mdpl dan
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-6
kelerengan berkisar 10o-30o dengan relief yang bergelombang membentuk bukit .
(Lampiran peta Geomorfologi).
U
Foto 2.1. Morfologi Punggungan Antiklin dengan penunjaman ke arah Tenggara lokasi di Dolok
Marantina Godang.
2.2.2. Satuan Morfologi Punggungan Horst
Morfologi punggungan horst merupakan bentang alam yang berbentuk
bukit-bukit relatif lebih tinggi dipisahkan dengan morfologi lainnya yang relatif
lebih rendah oleh bidang patahan. Pada daerah pemetaan berupa daerah yang
memiliki elevasi ketinggian antara 250-800 mdpl dan kemiringan lereng berkisar
15o-30o, pada peta topografi ditunjukkan dengan rangkaian kontur berbentuk U
atau V (Lampiran 1 Lokasi Pengamatan) serta pola kontur yang rapat kemudian
merenggang secara tiba-tiba yang memperlihatkan perbedaan secara signifikan
(Gambar 2.5) dan dilihat juga dari penampang geologi memperlihatkan adanya
perbedaan ketinggian yang kontras (Lampiran 6 Penampang Geologi).
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-7
Luas sebaran satuan morfologi ini berkisar ± 30% dari seluruh daerah
pemetaan (Lampiran 3 Peta Morfologi) yang berada pada bagian Barat di lokasi
pemetaan serta membentang dari Utara sampai Tenggara dari daerah pemetaan.
Satuan morfologi ini secara geologi dipisahkan oleh struktur sesar normal.
Litologi penyusun satuan ini meliputi satuan Metagamping (Lampiran 5 Peta
Geologi). Pada satuan morfologi ini terdapat sungai-sungai stadia muda yang
mengalir seperti Aek Arsik, Aek Pargarutan, Aek Simardona, Aek Nabara dan
sebagainya.
A
B
Foto 2.2. A, Morfologi Punggungan Horst, B. Morfologi Lembah Graben
2.2.3. Satuan Morfologi Lembah Graben
Bentuk satuan morfologi Lembah Graben pada daerah pemetaan yaitu
berupa daerah yang memiliki elevasi ketinggian antara 150 – 250 mdpl
merupakan daerah yang diapit oleh dua tinggian (lampiran 3 penampang
morfologi), pada peta topografi dicirikan dengan kontur yang renggang (Lampiran
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-8
1 peta Lintasan). Penamaan satuan morfologi lembah Graben ini disebabkan oleh
adanya perbedaan ketinggian di kedua sisi daerah tersebut. Satuan ini berada di
tengah-tengah dari daerah pemetaan, menyebar sepanjang Utara sampai Selatan
daerah pemetaan. Pada daerah pemetaan satuan ini dicirikan dengan kenampakan
berupa bentuk lahan yang relatif datar dengan kemiringan berkisar 2o-5o. Sebaran
dari morfologi ini diperkirakan memiliki luas ±35% dari seluruh luas daerah
pemetaan. Litologi penyusun satuan ini meliputi Tufa, endapan Aluvial dan
materila dari erosian Metagamping. Terdapat sungai stadia dewasa yang
berkembang pada satuan morfologi ini yaitu sungai Aek Sihapas.
Selain itu dapat juga dilihat pada Citra satelit (google earth), penampang
morfologi serta gambar 3D daerah pemetaan yang bertujuan menunjukkan letak
dari masing-masing satuan geomorfolgi di daerah pemetaan.
Morfologi
Punggungan
Antiklin
Morfologi
Punggungan Horst
Morfologi Lembah
Graben
Gambar 2.4. Peta 3D bentang alam Punggungan Horst, Lembah Graben dan Punggungan
Antiklin di lapangan dengan bentuk muka bumi daerah pemetaan.
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-9
Gambar 2.5. Sayatan penampang morfologi daerah pemetaan, menunjukkan elevasi dan relif dari
masing-masing satuan geomorfologi
Gambar 2.6. Kotak merah menunjukkan kenampakan bentang alam dari daerah pemetaan di Citra
Satelit
2.3. Sungai
Sungai merupakan wadah atau tempat berkumpulnya air yang berasal dari
mata air dan air hujan yang mengalir dari hulu ke hilir dan bermuara di laut. Air
yang jatuh kepermukaan bumi membentuk tubuh air berupa alur, parit, jurang,
anak-anak sungai yang kemudian menyatu pada satu sungai besar yang
merupakan sungai utama pada suatu cekungan atau lembah besar, yang masih
dapat pula membentuk danau, rawa untuk terus dialirkan ke laut, Athur D.
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-10
Howard (1967) yang dipengaruhi gaya – gaya endogen cenderung bersifat
konstruktif.
A
B
Gambar 2.7. A).Pola Aliran dasar terdiri dari dendritik, parallel, trellis, rectangular, radial, annular,
multi basinal dan contorted. B).Pola Aliran Ubahan terdiri dari Subdendritik,
Pinnote, Subparallel, Colinear, dll(Howard, 1967).
2.3.1. Pola Pengaliran
Pola pengaliran sungai pada daerah pemetaan dipengaruhi oleh adanya
struktur geologi, litologi dan proses erosi dan setiap pola aliran mencerminkan
struktur dan proses yang mengontrolnya. Menurut Howard (1967), pola
pengaliran merupakan suatu kenampakan jalur-jalur pengaliran pada suatu daerah
yang dibentuk oleh anak sungai dengan induknya.
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-11
Adapun faktor–faktor yang mempengaruhi perkembangan pola pengaliran
adalah kemiringan lereng, perbedaan resistensi batuan, kontrol struktur,
pembentukan perbukitan dan proses geologi. Penentuan pola aliran sungai di
daerah pemetaan dilakukan berdasarkan interpretasi peta topografi dan
pengamatan langsung di lokasi pemetaan. Berdasarkan interpretasi dan
pengamatan tersebut dan mengacu kepada klasifikasi Howard (1967), maka pola
pengaliran daerah pemetaan ini adalah Paralell, Subparalell dan Sub-Dendritik
(Lampiran 2 Peta Pola Aliran).
2.3.2. Stadia Sungai
Pembentukkan pola sungai dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti litologi
batuan, kemiringan lereng, tenaga tektonik, dan lainnya. Menurut A.K.Lobeck,
1939 tahap perkembangan sungai terbagi menjadi 5 Stadia yaitu stadia awal,
muda, dewasa, tua dan stadia peremajaan. Keanekaragaman tahapan-tahapan ini
dikontrol oleh tingkat erosional vertikal terhadap horizontal dimana erosionla itu
dikontrol oleh tingkat resistensi batuan dan gradient aliran sungai. Hal tersebut
menyebabkan perubahan bentang alam yang meliputi bentuk morfologi lembah
sungai seperti “V” untuk ciri sungai stadia muda, bentuk “U” untuk sungai stadia
dewasa. Hal ini semua dapat ditafsirkan dari ciri-ciri morfologi, sub satuan
morfologi, pola aliran sungai dan ciri-ciri lainnya. Mengacu pada hal diatas
berdasarkan kenampakan bentuk morfologi yaitu bentuk lembah yang dihasilkan
oleh erosi dan dikaitkan dengan tingkat resistensi batuan, maka stadia sungai yang
terdapat di daerah pemetaan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu sungai stadia dewasa
dan sungai stadia muda.
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-12
2.3.2.1. Sungai Stadia Muda
Sungai yang termasuk dalam stadia muda adalah sungai-sungai yang
aktivitas aliran sungainya mengerosi ke arah vertikal. Aliran sungai yang
menempati seluruh lantai dasar suatu lembah. Umumnya profil lembahnya
membentuk seperti huruf “V”. Bentuk profil tersebut disebabkan karena daya
kikis vertikal yang kuat, sungai masih banyak terdapat bidang-bidang erosi. Ciriciri sungai stadia muda yaitu penampang melintang lembah membetuk V, banyak
erosi yang bekerja, daya angkut aliran besar, lebar bawah lembah sama dengan
lebar saluran sungai, dasar lembah belum merata keseluruhan. Batuan yang
tertransportasi pada sungai ini berupa kerakal hinggah bongkah. Pada umumnya
Batuan pada sungai ini adalah batu beku yang memiliki resistensi yang keras.
Salah satu sungai stadia muda berada pada daerah Pangkal Dolok Jae (Foto 2.3).
Foto 2.3. Sungai stadia muda pada daerah Pangkal Dolok Jae
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-13
2.3.2.2. Sungai Stadia Dewasa
Sungai stadia dewasa dicirikan semakin lama semakin lebar dan akhirnya
terisi oleh aliran sungai yang berbentuk meander. Pada stadia ini, aliran arus
sungai sudah memperlihatkan keseimbangan antara laju erosi vertikal dan erosi
lateral sehingga penampang sungai berbentuk seperti huruf “U” dan melebar
(Thornbury, 1964). Pada daerah pemetaan sungai stadia dewasa ini terdapat
sungai utama Sayur Matinggi Julu. Ciri-ciri sungai stadia dewasa yaitu
penampang sungai gradiennya lebih kecil, erosiannya lateral atau menyamping,
mengalami pendataran dasar sungai, lembah membentuk huruf U, berbentuk
meander dan tidak ada erosi dasar pada sungai karena dasar lembah sungai sudah
mengalami pendataran dan masih terdapat
material-material yang berukuran
kerakal hingga bongkah namun tidak dominan dan mulai membentuk meander
(foto 2.4).
Foto 2.4. Sungai berstadia dewasa pada daerah Sayur Matinggi Julu
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-14
2.3.3. Genetika Sungai
Genetika sungai dinyatakan sebagai hubungan arah mengalirnya sungai mengikuti
arah kedudukan dari lapisan batuan atau berlawanan dengan arah lapisan batuan.
Genetika sungai menurut Lobeck (1939), dapat dibagi sebagai berikut :
1.
Sungai Konsekuen adalah sungai yang berkembang dan mengalir searah
lereng topografi aslinya. Sungai konsekuen sering diasosiasikan dengan
kemiringan asli dan struktur lapisan batuan yang ada dibawahnya. Selama
tidak dipakai sebagai pedoman, bahwa asal dari pembentukan sungai
konsekuen adalah didasarkan atas lereng topografinya bukan pada kemiringan
lapisan batuannya.
2.
Sungai Subsekuen adalah sungai yang berkembang disepanjang suatu garis
atau zona yang resisten. Sungai ini umumnya dijumpai mengalir disepanjang
jurus perlapisan batuan yang resisten terhadap erosi, seperti lapisan batupasir.
3.
Sungai Resekuen adalah sungai yang mengalir searah dengan arah kemiringan
lapisan batuan sama seperti tipe sungai konsekuen, Perbedaannya adalah
sungai resekuen berkembang belakangan.
4.
Sungai Antiseden adalah sungai yang lebih dulu ada dibandingkan dengan
keberadaan struktur batuannya dan dalam perkembangannya air sungai
mengikis hingga ke bagian struktur yang ada di bawahnya. Pengikisan ini
dapat terjadi karena erosi. Arah vertikal lebih intensif dibandingkan arah
lateral.
5.
Sungai Obsekuen adalah sungai yang mengalir berlawanan arah terhadap arah
kemiringan lapisan dan berlawanan terhadap sungai konsekuen. Definisi ini
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-15
juga mengatakan bahwa sungai konsekuen mengalir searah dengan arah
lapisan batuan.
6.
Sungai Insekuen adalah sungai yang tidak jelas pengendaliannya, tidak
mengikuti struktur batuan dan tidak jelas mengikuti kemiringan lapisan
batuan. Pola alirannya umumnya dendritik dan banyak menyangkut sungaisungai kecil.
7.
Sungai Superposed atau Sungai Perinposed adalah sungai yang terbentuk atas
permukaan bidang struktur dan dalam perkembangannya erosi vertikal sungai
memotong ke bagian bawah hingga mencapai permukaan bidang struktur
agar sungai dapat mengalir ke bagian yang lebih rendah. Dengan kata lain
Sungai
Superposed
adalah
sungai
yang
berkembang
belakangan
dibandingkan pembentukan struktur batuannya.
Berdasarkan hasil pengamatan aliran sungai, jenis batuan dan kedudukan
perlapisan batuan dilapangan maka diinterpretasikan bahwa jenis sungai pada
daerah pemetaan merupakan sungai Konsekuen dan Superposed (Lampiran 2 Peta
Pola Aliran).
2.3.3.1. Genetika Sungai Konsekuen
Genetik sungai dapat diamati pada aliran sungai disekitar daerah pemetaan
(dilihat pada lampiran peta aliran sungai). Dimana arah aliran sungainya
mengikuti atau searah pada arah kemiringan lapisan aluvial dan tuffa, dimana arah
kemiringan aluvia mengarah ke Tenggara sedangkan arah aliran sungainya juga
mengarah ke Tenggara maka genetik sungai pada pemetaan adalah konsekwen.
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-16
Arah Kemiringanlapisan
Arah aliran sungai
Foto 2.5. Foto genetik sungai berupa konsekwen pada daerah pemetaan
2.3.3.2. Genetika Sungai Superposed
Kontur yang landai ke arah sungai utama yang berada pada arah barat dari
lokasi pengamatan menyebakan genetika sungai superposed berkembang dengan
sempurna di daerah tersebut dengan posisi dari sungai yang melewati bidang
struktur batuan yang resistennya baik dan badan sungai yang melewati batuan
tersebut resistennya buruk mengakibatkan erosi di sekitarannya dengan arah
pengaliran sungai ke arah barat daya dan lapisan dengan kemiringan mengarah
pada tenggara sehingga sungai ini tergolong tipe superposed.
Arah
Kemiringanlapisan
Arah aliran sungai
Foto 2.6. Foto genetik sungai berupa superposed pada daerah pemetaan
Geologi Daerah Pasar Matanggor dan Sekitarnya
Kecamatan Batangonang Kabupaten Padang Lawas Utara
Provinsi Sumatera Utara
II-17
Download