Uploaded by syafiululum

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْخَلْقَ وَقَدَّرَ الأَشْيَاءَ

advertisement
َ ‫ص‬
‫س َل‬
ْ ‫ َوا‬،‫ي َخلَقَ ْالخ َْلقَ َو َقد ََّر األ َ ْش َيا َء‬
ُ ‫الر‬
ُّ ‫ط َفى ِم ْن ِع َبا ِد ِه‬
ْ ‫اَ ْل َح ْمدُ هللِ الَّ ِذ‬
‫س ْب َحانَهُ َوتَ َعالَى ِب َما‬
َّ َ ‫ بِ ِه ْم نَتَأ‬،‫َواأل َ ْنبِيَا َء‬
ُ ُ‫ أَ ْح َمدُه‬،‫ َو ِب ُهدَا ُه ْم نَ ْهتَدِي‬،‫سى َونَ ْقتَدِي‬
َ‫ َم ْن يَ ْه ِد ِه هللاُ فَال‬،‫علَ ْي ِه‬
ِ ُ ‫ َوأ‬،‫علَ ْي ِه‬
َ ‫وم ُن بِ ِه َوأَتَ َو َّك ُل‬
َ ‫ُه َو لَهُ أَ ْه ٌل ِمنَ ال َح ْم ِد َوأُثْنِي‬
‫ أَ ْش َهدُ أَ ْن الَ إِلَهَ إِالَّ هللاُ َو ْحدَهُ الَ ش َِري َْك‬،ُ‫ِي لَه‬
ْ ُ‫ض َّل لَهُ َو َم ْن ي‬
ِ ‫ُم‬
َ ‫ض ِل ْلهُ فَالَ هَاد‬
‫علَ ْي ِه‬
ُ ‫ع ْبدُهُ َو َر‬
َ ‫ أَ ْنزَ َل‬،ُ‫ي بَ ْعدَه‬
َ ‫س ِيِّدَنَا َونَ ِبيَّنَا ُم َح َّمدًا‬
َ ‫ َوأ َ ْش َهدُ أَ َّن‬،ُ‫لَه‬
َّ ‫س ْولُهُ الَ نَ ِب‬
، َ‫سالَتَهُ َر ْح َمةً ِل ْل َعالَ ِميْن‬
َ ‫ َو َج َع َل ِر‬، َ‫ ُهدًى َونُ ْو ًرا ِل ْل ُمؤْ ِمنِيْن‬, َ‫َربُّهُ ْالقُ ْرآنَ ْال ُمبِيْن‬
‫ص َحابَ ِة‬
ِ َ‫سائِ ِر األ َ ْنبِي‬
َّ ‫ َوآ ِل ُك ٍِّّل َوال‬, َ‫س ِليْن‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ‫سلَّ َم‬
َ ‫اء َو ْال ُم ْر‬
َ ‫علَى‬
َ ‫صلَّى هللاُ َو‬
َ
‫ص ِِ ْي ُك ْم‬
ِ ‫ فَ َيا ِع َبادَ هللاِ أ ُ ْو‬,ُ‫ أَ َّما َب ْعد‬.‫ان إِلَى َي ْو ِم ال ِدِّي ِْن‬
َ ‫َوالتَّابِ ِعيْنَ لَ ُه ْم ِبإِ ْح‬
ٍّ ‫س‬
َ ‫َونَ ْف ِس ْي ِبتَ ْق َوى هللاِ َو‬
. َ‫عتِ ِه لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِل ُح ْون‬
َ ‫طا‬
Hadirin Jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Seiring roda kehidupan yang terus berputar, jumat demi jumat pun berlalu, seiring itu pula khutbah demi khutbah telah
sering kita dengarkan, sebagai satu ikhtiar bagi kita untuk menasehati diri agar senatiasa patuh dan tunduk kepada
Allah Sang Pencipta. Melalui khutbah-khutbah itu pula, kesadaran kita seringkali muncul seketika, disertai tekad untuk
menjadi hamba-Nya yang benar-benar taat. Namun, padatnya rutinitas dengan berbagai persoalan yang kita hadapi
sehari-hari, acap kali membuat kesadaran dan tekad itu pelan-pelan luntur bahkan sirna. Oleh sebab itulah, melalui
mimbar jumat ini, marilah kita berupaya secara lebih sungguh-sungguh memperbaharui iman dan ketaqwaan kita
kepada Allah, memperbaiki kembali komitmen kita kepada Allah yang sering kita nyatakan berulang kali namun jarang
diresapi, sebuah komitmen yang mestinya selalu menyertai setiap perjalanan hidup kita, sebagaimana yang selalu
kita lafalkan di dalam shalat:
‫ الَ ش َِري َْك لَهُ َو ِبذَا ِل َك‬, َ‫ب ْال َعالَ ِميْن‬
ُ ُ‫صالَتِ ْي َون‬
ِ ِّ ‫اي َو َم َماتِ ْي هللِ َر‬
َ ‫ِإ َّن‬
َ َ‫س ِك ْي َو َم ْحي‬
. َ‫أ ُ ِم ْرتُ َوأَنَا ِمنَ ْال ُم ْس ِل ِميْن‬
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada satu pun
sekutu bagi-Nya, demikianlah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Kaum Muslimin Jamaah Jum’at yang berbahagia,
Al-Imam Abul Fida’ Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, atau yang lebih dikenal
dengan nama Imam Ibnu Katsir, seorang ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H,
menerangkan di dalam tafsirnya, bahwa suatu ketika Umar bin Khathab RA bertanya kepada seorang sahabat
bernama Ubay bin Ka’ab RA tentang “taqwa”. Walaupun istilah taqwa tersebut merupakan sesuatu yang sudah
sangat mereka ketahui, namun bertanya satu sama lain di antara mereka dalam rangka lebih mendalami maknanya
adalah hal yang sangat lumrah dan mereka sukai. Ubay bin Ka’ab lalu balik bertanya: “Wahai Umar, pernahkah
engkau melewati jalan yang penuh duri?”, Umar bin Khathab menjawab, "Ya, saya pernah melewatinya”. Kemudian
Ubay bertanya lagi: “Apa yang akan engkau lakukan saat itu?”. Umar menjawab: “Saya akan berjalan dengan sangat
berhati-hati, agar tak terkena duri itu”. Lalu Ubay berkata: “Itulah takwa”.
Dari riwayat ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran penting, bahwa taqwa adalah kewaspadaan diri, rasa takut
kepada Allah, kesiapan diri, kehati-hatian agar tidak mudah terjebak dalam duri-duri syahwat dansyubhat di tengah
perjalanan menuju Allah, menghindarkan diri dari perbuatan syirik, dan sekuat tenaga meninggalkan perbuatan
maksiat dan dosa, serta berjuang sungguh-sungguh dalam mentaati dan melaksanakan perintah-perintah Allah
dengan hati yang tunduk dan ikhlas.
Hadirin Jama’ah Jum’at rahimakumullah,
Setiap orang yang beriman pasti menyadari bahwa kehidupan di muka bumi ini bukanlah tanpa batasan waktu. Setiap
orang menjalani kehidupan sesuai “kontraknya” masing-masing dalam batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah
SWT. Umur manusia berbeda satu dengan lainnya, begitu pun amal dan perbuatannya. Setiap mukmin akan
menyadari bahwa ia tidak akan selamanya hidup dan tinggal di dunia ini; bahwa keberadaannya di alam ini hakikatnya
sedang menempuh proses perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat yang kekal dan hakiki. Sikap yang demikian
sungguh sangat berbeda dan bertolak belakang dengan sikap orang-orang yang hakikatnya tidak beriman.
Sebagaimana hal ini disinggung dalam firman Allah SWT:
‫اآلخ َرة ُ َخي ٌْر َوأَ ْبقَى‬
ِ ‫ َو‬.‫َب ْل تُؤْ ثِ ُرونَ ْال َح َياةَ الدُّ ْن َيا‬
"Akan tetapi kalian (orang-orang yang ingkar) justeru lebih memilih kehidupan duniawi. Padahal sungguh kehidupan
akhirat itu jauh lebih baik dan kekal. (QS. al-A’la: 16-17).
Hadirin Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Terkait bagaimana seharusnya kita memanfaatkan hidup, jika kita membuka lembaran kisah-kisah ulama salafus
shalih terdahulu, kita akan menemukan karakteristik amal yang berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam konteks
keilmuan misalnya, di antara mereka ada yang konsen pada bidang kajian tafsir, hadits, fiqih, akhlak, tasawuf, dan
berbagai macam kajian ilmu lainnya. Namun, satu titik persamaan yang dapat kita temukan dari berbagai macam
amal kajian yang digeluti para ulama tersebut, adalah ketulusan dan kesungguhan hati mereka dalam beramal demi
memberikan sumbangan terbaik untuk mendidik kehidupan manusia. Sebuah amal yang tidak hanya bersifat
pengabdian diri secara personal antara seorang hamba dengan Tuhannya (ibadah munfaridah), namun juga memiliki
nilai manfaat yang luar biasa bagi umat manusia dan generasi setelahnya hingga sekarang (ibadah ijtima’iyah). Dalam
hal ini, kiranya patut kita renungkan kembali firman Allah berikut:
َّ ‫اك‬
‫َصي َب َك ِمنَ الدُّ ْن َيا َوأَ ْحس ِْن َك َما‬
َ َ‫َوا ْبتَغِ فِي َما آت‬
ِ ‫َّار‬
ِ ‫سن‬
َ ‫َّللاُ الد‬
َ ‫اآلخ َرةَ َوال تَ ْن‬
َّ ‫ض ِإ َّن‬
َّ َ‫سن‬
َ‫ب ْال ُم ْف ِسدِين‬
ُّ ‫َّللاَ ال يُ ِح‬
ْ ‫سادَ فِي‬
ِ ‫األر‬
َ َ‫َّللاُ إِلَي َْك َوال تَبْغِ ْالف‬
َ ‫أَ ْح‬
“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu berupa (kebahagiaan) akhirat, dan janganlah kamu
melupakan nasibmu di dunia; berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu,
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.” (QS. al-Qashash: 77).
Hadirin yang dirahmati Allah,
Dari ayat ini kita dapat menggali beberapa point penting tentang prinsip-prinsip yang perlu kita pedomani dalam
menjalani kehidupan di muka bumi:
Pertama, prinsip mengutamakan kebahagiaan akherat. Prinsip ini menganjurkan kita agar dalam melaksanakan
urusan-urusan duniawi, hendaknya selalu dibarengi dengan mempertimbangkan nilai-nilai ukhrawi. Dalam hal ini,
penting dipahami bahwa mengutamakan kebahagiaan akherat bukan berarti mengabaikan sama sekali persoalan
duniawi. Artinya, dalam melakukan aktifitas apapun di dunia ini, dalam pekerjaan dan profesi apapun, hendaknya
semua itu kita landasi atas dasar ibadah kepada Allah SWT demi meraih ridho-Nya dan berharap kebahagiaan kelak
di akhirat. Dengan prinsip ini, maka segala prilaku dan usaha kita di dunia, apapun bentuknya, akan senantiasa
terarah dan terjaga sekaligus bernilai ibadah, serta tidak mudah melakukan upaya-upaya kotor dengan menghalalkan
segala cara demi meraih ambisi-ambisi atau syahwat duniawi.
Kedua, prinsip yang dalam ayat di atas disebutkan dalam bentuk perintah (fi’il amr): ‘ahsin’, yakni agar kita senantiasa
berbuat kebaikan. Artinya, dalam melakukan aktifitas apapun, hendaknya selalu kita orientasikan untuk tujuan berbuat
baik terhadap sesama, tidak sebatas memaknai kebaikan hanya untuk diri atau kelompok kita sendiri. Dengan prinsip
ini, seseorang akan terhindar dari sikap ananiyah (egoisme), sebuah sikap yang sering menjadi sumber pertikaian dan
permusuhan antar sesama. Selain itu, prinsip ini akan menumbuhkan sikap selalu berprasangka baik (husnudzan)
kepada orang lain, serta memupuk sikaptasamuh (toleransi) dan saling menghargai.
Ketiga, prinsip “walaa tabghil fasada fil ardh’”, yaitu prinsip tidak berbuat keonaran dan kerusakan di muka bumi. Bila
prinsip ini dipegang secara teguh dan sungguh-sungguh, seseorang akan dapat dengan mantap mewujudkan prinsip
yang kedua, yakni kemampuan berbuat baik terhadap sesama dibarengi kemampuan menghindari kerusakan. Dalam
situasi tertentu, bahkan prinsip ketiga ini harus lebih diprioritaskan ketimbang prinsip yang kedua, yaitu apabila
misalnya kita dihadapkan pada 2 pilihan dalam situasi yang serba sulit dan dilematis: “antara berbuat baik (mengambil
mashlahat namun kontraproduktif) ataukah mencegah kerusakan?!”. Sebagaimana dalam sebuah kaidah ushul alfiqhiyah disebutkan: “dar’ul mafaasid muqaddamun ‘alaa jalbil mashaalih” (mencegah kerusakan, harus lebih
didahulukan dari pada mengambil mashlahah atau kebaikan). Untuk menerapkan prinsip ini dan membiasakannya
dalam prilaku kita sehari-hari, paling tidak, harus kita mulai dari hal-hal kecil, seperti: jika kita merasa tidak bisa
berbuat baik kepada orang lain, minimal kita jangan suka menyakiti orang lain; jika kita sulit untuk bertutur kata yang
baik kepada orang lain, minimal kita tidak perlu mencela atau melukai hati orang lain dengan perkataan kita, artinya
kita lebih baik diam” (qul khoiran aw liyashmut). Prinsip ini juga sangat penting dipahami dalam konteks upayaamar
ma’ruf nahi munkar, artinya, sebuah upaya amar ma’ruf (kebaikan) tidak boleh dilakukan dengan cara-cara
yang munkar (cara-cara yang merusak, anarkis, bertentangan dengan hukum dan prinsip-prinsip syariat). Karena
ketidakpahaman akan prinsip ini akan mengakibatkan seseorang atau sekelompok orang dengan mudah melakukan
aksi-aksi brutal, anarkis, radikal, bahkan tindakan terorisme dengan mengatasnamakan “jihad” dan “agama”,
sebagaimana yang marak terjadi akhir-akhir ini. Prilaku semacam itu sesungguhnya amat bertentangan dengan
hakikat ajaran Islam itu sendiri sebagai rahmatan lil ‘alamin(penebar kasih sayang dan kedamaian bagi alam semesta).
Sehingga tidak aneh, oleh kalangan guru-guru kita: para kiai dan ulama-ulama pesantren kharismatik yang lebih
mewarisi spirit dakwah Wali Songo, prilaku-prilaku kelompok tersebut sering dikatakan dengan bahasa sindirian:
“amar ma’ruf nyambi munkar”, bukan amar ma’ruf nahi munkar.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah,
Ayat lain yang juga sangat penting kita renungkan dalam menapaki kehidupan ini adalah firman Allah berikut:
َّ ‫َوتَزَ َّودُواْ فَإِ َّن َخي َْر‬
...‫الزا ِد الت َّ ْق َوى‬
“Persiapkanlah bekal, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqoroh: 197)
Meskipun konteks ayat ini menjelaskan tentang perbekalan dalam perjalanan ibadah haji, namun sesungguhnya ayat
itu juga menjelaskan gambaran ketika manusia akan menghadap Allah di padangmahsyar kelak. Di mana, ibadah haji
merupakan miniatur gambaran manusia yang akan dikumpulkan di padang mahsyar seperti halnya mereka berkumpul
di padang Arafah. Maka, bekal utama yang dapat menyelamatkan manusia adalah taqwa.
Firman Allah di atas juga mengandung makna tersirat bahwa manusia memiliki 2 macam perjalanan, yakni perjalanan
di dunia dan perjalanan dari dunia menuju akherat. Perjalanan manusia di dunia memerlukan bekal, baik bekal berupa
makanan, minuman, harta, pangkat dan kedudukan, kendaraaan, dan sebagainya. Demikian pula perjalanan manusia
dari dunia menuju akherat, juga memerlukan bekal. Bahkan bekal perjalanan yang dibutuhkan dari dunia menuju
akhirat ini jauh lebih penting dari pada perbekalan di dunia.
Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin al-Husain bin al-Hasan, at-Tamimi, al-Bakri, at-Thabaristani, ar-Rozi,
atau yang populer dengan nama Imam Fakhruddiin (Kebanggaan Islam), seorang mufassir dan ulama besar
bermadzhab Syafi’i di zamannya, dalam dalam tafsirnya yang berjudul Tafsir al-Kabir atauMafaatih al-Ghaib,
menyebutkan 5 perbandingan antara perbekalan di dunia dan perbekalan di akherat:
Pertama, perbekalan dalam perjalanan di dunia, akan menyelamatkan manusia dari ancaman penderitaan yang
BELUM TENTU terjadi. Sedangkan bekal perjalanan dari dunia menuju akherat, akan menyelamatkan manusia dari
penderitaan yang PASTI terjadi jika seseorang tidak membawa bekal.
Kedua, perbekalan dalam perjalanan di dunia, akan menyelamatkan manusia dari kesulitan sementara. Tetapi bekal
perjalanan dari dunia menuju akherat, akan menyelamatkan manusia dari kesulitan selama-lamanya yang tiada tara
dan tiada batasnya.
Ketiga, perbekalan dalam perjalanan di dunia, akan menghantarkan manusia pada kenikmatan sesaat, dan pada saat
yang sama ia juga mengalami rasa sakit, keletihan dan kepayahan. Sementara bekal perjalanan dari dunia menuju
akherat, akan membuat manusia terlepas dari marabahaya apapun dan terlindung dari kebinasaan yang sia-sia.
Keempat, perbekalan dalam perjalanan di dunia, pada saatnya akan kita lepaskan dan kita tinggalkan di tengah
perjalanan. Adapun bekal perjalanan dari dunia menuju akherat, senantiasa akan kita bawa, dan kita akan lebih
banyak menerima bekal-bekal tambahan hingga kita sampai pada tujuan, yaitu akherat.
Kelima, perbekalan dalam perjalanan di dunia, akan mengantarkan manusia pada kepuasan syahwat dan hawa nafsu
yang rendah. Sedangkan bekal perjalanan dari dunia menuju akherat, akan semakin membawa manusia pada
kesucian dan kemuliaan karena yang ia bawa adalah sebaik-baik bekal. (Tafsir ar-Raazi 5/168)
Hadirin sekalian hadaniyallahu wa iyyakum,
‫‪Demikian uraian khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat khususnya bagi pribadi khathib dan‬‬
‫‪umumnya bagi seluruh jama’ah sekalian.‬‬
‫ش ْي َ‬
‫ع ْوذُ ِباهللِ ِمنَ ال َّ‬
‫ص ِر‪ِ ,‬إ َّن‬
‫أَ ُ‬
‫الر ِحي ِْم‪َ :‬و ْال َع ْ‬
‫الر ْح َم ِن َّ‬
‫الر ِجي ِْم‪ِ ,‬ب ْس ِم هللاِ َّ‬
‫ان َّ‬
‫ط ِ‬
‫ق‬
‫صا ِل َحا ِ‬
‫ع ِملُوا ال َّ‬
‫سانَ لَ ِف ْي ُخ ْس ٍّر‪ِ ,‬إالَّ الَّ ِذيْنَ آ َمنُ ْوا َو َ‬
‫اإل ْن َ‬
‫ت َوتَ َوا َ‬
‫ِ‬
‫ص ْوا ِب ْال َح ِّ ِ‬
‫آن ْالعَ ِظي ِْم‪َ ,‬ونَفَعَنِ ْي َو ِإيَّا ُك ْم بِ َما‬
‫ص ْوا بِال َّ‬
‫َوتَ َوا َ‬
‫صب ِْر‪ .‬بَ َ‬
‫ار َك هللاُ ِل ْي َولَ ُك ْم فِي ْالقُ ْر ِ‬
‫س ِم ْي ُع‬
‫ِف ْي ِه ِمنَ اآل َيا ِ‬
‫ت َوال ِذِّ ْك ِر ْال َح ِكي ِْم‪َ ,‬وتَقَبَّ َل ِم ِنِّ ْي َو ِم ْن ُك ْم ِتالَ َوتَهُ ِإنَّهُ ُه َو ال َّ‬
‫ْالعَ ِل ْي ُم‪ .‬أَقُ ْو ُل قَ ْو ِل ْي َهذَا َوا ْست َ ْغ ِف ُر هللاَ ْال َع ِظي َْم ِل ْي َولَ ُك ْم فَا ْستَ ْغ ِف ُر ْوهُ‪ ،‬إِنَّهُ ُه َو‬
‫الر ِح ْي ُم‪.‬‬
‫ْالغَفُ ْو ُر َّ‬
‫‪Khutbah Kedua:‬‬
‫سانِ ِه‪َ ,‬وال ُّ‬
‫امتِنَانِ ِه‪ .‬أَ ْش َهدُ أ َ ْن الَ إِلَهَ‬
‫علَى تَ ْوفِ ْي ِق ِه َو ْ‬
‫ش ْك ُر لَهُ َ‬
‫اَ ْل َح ْمدُ هللِ َ‬
‫علَى ِإ ْح َ‬
‫س ْولُهُ‬
‫ع ْبدُهُ َو َر ُ‬
‫س ِيِّدَنَا ُم َح َّمدًا َ‬
‫إِالَّ َِ هللاُ َو ْحدَهُ الَ ش َِري َْك لَهُ‪َ ,‬وأ َ ْش َهدُ أَ َّن َِ َ‬
‫ص َحا ِب ِه‬
‫علَى آ ِل ِه َوأَ ْ‬
‫س ِيِّ ِدنَا ُم َح َّمدٍّ‪َ ,‬و َ‬
‫ص ِِّل َ‬
‫علَى َ‬
‫الدَّا ِعى ِإلَى ِرض َْوانِ ِه‪ .‬اللَّ ُه َّم َ‬
‫ع َّما‬
‫س ِلِّ ْم ت َ ْس ِل ْي ًما َكثِي ًْرا‪ .‬أَ َّما بَ ْعدُ‪ ,‬فَ َيا أَيُّ َها النَّ ُ‬
‫اس‪ ,‬اِتَّقُوا هللاَ فِ ْي َما أ َ َم َر َوا ْنت َ ُه ْوا َ‬
‫َو َ‬
‫نَ َها ُك ْم‪َ .‬وا ْعلَ ُم ْوا أ َ َّن َِ هللاَ أَ َم َر ُك ْم ِبأ َ ْم ٍّر بَدَأَ فِ ْي ِه ِبنَ ْف ِس ِه َوثَـنَّى ِب َمآلئِ َكتِ ِه ِبقُ ْد ِس ِه‪,‬‬
‫صلُّ ْوا‬
‫صلُّ ْونَ َ‬
‫ي ِ يَآأَيُّ َها الَّ ِذيْنَ آ َمنُ ْوا َ‬
‫َوقَا َل تَعَالَى إِ َّن َِ هللاَ َو َمآلئِ َكتَهُ يُ َ‬
‫علَى النَّبِ ِّ‬
‫س ِل َك‬
‫علَى أَ ْن ِب َيآ ِئ َك َو ُر ُ‬
‫س ِيِّ ِدنَا ُم َح َّم ٍّد َو َ‬
‫ص ِِّل َ‬
‫َ‬
‫علَى َ‬
‫علَ ْي ِه َو َ‬
‫س ِلِّ ُم ْوا ت َ ْس ِل ْي ًما‪ .‬اللَّ ُه َّم َ‬
‫ع َم َر‬
‫الرا ِش ِديْنَ أَبِ ْي َب ْك ٍّر َو ُ‬
‫ع ِن ْال ُخلَفَ ِ‬
‫َو َمآلئِ َكتِ َك ْال ُمقَ َّر ِبيْنَ ‪َ ,‬و ْ‬
‫اء َّ‬
‫ض اللَّ ُه َّم َ‬
‫ار َ‬
‫ان‬
‫َو ُ‬
‫ع ْن بَ ِقيَّ ِة ال َّ‬
‫ي ٍّ َو َ‬
‫عثْ َمانَ َو َ‬
‫ص َحابَ ِة َوالتَّا ِب ِع ْينَ َوتَابِ ِعي التَّابِ ِعيْنَ لَ ُه ْم ِبإِ ْح َ‬
‫س ٍّ‬
‫ع ِل ِّ‬
‫اح ِميْنَ ‪.‬‬
‫الر ِ‬
‫إِلَى يَ ْو ِم ال ِدِّي ِْن‪َ ,‬و ْ‬
‫عنَّا َمعَ ُه ْم بِ َر ْح َمتِ َك يَاأ َ ْر َح َم َّ‬
‫ض َ‬
‫ار َ‬
‫آء ِم ْن ُه ْم‬
‫ت َو ْال ُم ْس ِل ِميْنَ َو ْال ُم ْس ِل َما ِ‬
‫اللَّ ُه َّم ا ْغ ِف ْر ِل ْل ُمؤْ ِم ِنيْنَ َو ْال ُمؤْ ِمنَا ِ‬
‫ت األ َ ْحيَ ِ‬
‫اإل ْسالَ َم َو ْال ُم ْس ِل ِميْنَ‬
‫س ِم ْي ٌع قَ ِري ٌ‬
‫ْب َم ِجي ُ‬
‫ْب الدَّ َ‬
‫َواأل َ ْم َواتِ‪ِ ,‬إنَّ َك َ‬
‫ع َواتِ‪ .‬اللَّ ُه َّم أَ ِع َّز ِ‬
‫صيْنَ َو ْ‬
‫َوأَ ِذ َّل ِِ ال ِّ‬
‫اخذُ ْل‬
‫ش ِْر َك َو ْال ُم ْش ِر ِكيْنَ َوا ْن ُ‬
‫ص ْر ِعبَادَ َك ْال ُم َو ِ ِّح ِديْنَ ْال ُم ْخ ِل ِِ ِ‬
‫َم ْن َخذَ َل ْال ُم ْس ِل ِميْنَ ودَ ِ ِّم ْر أ َ ْعدَآئَنَا َوأ َ ْعدَآ َء ال ِدِّي ِْن وأَ ْع ِل َك ِل َماتِ َك إِلَى يَ ْو ِم‬
‫عنَّا ْال َبالَ َِ َء َو ْال َو َبا َء َو َّ‬
‫س ْو َء ْال ِفتْنَ ِة َما‬
‫الزالَ ِز َل َو ْال ِم َحنَ َو ُ‬
‫ال ِدِّي ِْن‪ .‬اللَّ ُه َّم ا ْدفَ ْع َ‬
‫ظ َه َر ِم ْن َها َو َما َب َ‬
‫َ‬
‫ان ْال ُم ْس ِل ِميْنَ‬
‫ع ْن بَلَدِنا إِ ْند ُْونِ ْي ِس َيا خَآ َّ‬
‫صةً َو َ‬
‫طنَ َ‬
‫ع ْن َ‬
‫سائِ ِر ْالبُ ْلدَ ِ‬
‫سنَةً َوقِنَا‬
‫عآ َّمةً يَا َر َّ‬
‫سنَةً َوفِي ِ‬
‫َ‬
‫اآلخ َرةِ َح َ‬
‫ب ْال َعالَ ِميْنَ ‪َ .‬ربَّنَا آتِنَا فِي الدُّ ْنيَا َح َ‬
‫آء ذِي ْالقُ ْربَى‬
‫ان َوإِ ْيت َ ِ‬
‫عذَ َ‬
‫َ‬
‫اإل ْح َ‬
‫اب النَّ ِ‬
‫ار‪ِ .‬عبَادَ هللاِ! إِ َّن َِ هللاَ يَأ ْ ُم ُر بِ ْالعَ ْد ِل َو ِ‬
‫س ِ‬
‫َآء َو ْال ُم ْن َك ِر َو ْال َب ْغي ِ َي ِع ُ‬
‫ع ِن ْالفَ ْحش ِ‬
‫َو َي ْن َهى َ‬
‫ظ ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَذَ َّك ُر ْونَ ‪َ ,‬وا ْذ ُك ُروا هللاَ‬
‫ض ِل ِه يُ ْع ِطكم‪,‬‬
‫علَى نِ َع ِم ِه يَ ِز ْد ُك ْم َوا ْسئَلُ ْوهُ ِم ْن فَ ْ‬
‫ْال َع ِظي َْم َي ْذ ُك ْر ُك ْم َوا ْش ُك ُر ْوهُ َ‬
‫ِكر هللاِ أَ ْكبَ ُر‪.‬‬
‫َولَذ ُ‬
Diposkan oleh Mohamad Kholil, S.S., M.S.I. di 21.04
Download