Uploaded by common.user9007

HISTERIA KELOMPOK 6

advertisement
Makalah
HISTERIA
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Asuhan Keperawatan Spiritual Muslim
Disusun Oleh :
Kelompok 6
1. Ghaida Bilqis Sopandi
312018062
2. Rima Isnaimun Sitompul
312018057
3. Rita Rahmawati
312018020
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
‘AISYIYAH BANDUNG
Jl. K. H. Ahmad Dahlan No. 6 Bandung
KATA PENGANTAR
‫ِب ۡس ِم ه‬
‫ٱلر ِح ِيم‬
‫ٱلر ۡح َٰم ِن ه‬
‫ٱَّللِ ه‬
Assalammuallaikum wr.wb
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana
telah melimpahkan rahmatnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah menegenai kasus “Hysteria” ini dengan lancar dan tanpa hambatan
sedikitpun. Allah Maha Besar.
Namun, kami menyadari kalau kami adalah manusia biasa yang tak pernah
luput dari kekurangan demikianpun apa yang kami buat ini. Kami banyak
berharap kritik dan saran dari pembaca sehingga kami dapat menyempurnakan
laporan-laporan yang akan kami buat kedepannya. Kiranya dapat berguna bagi
pendidikan kesehatan khususnya bagi perawat dan pembaca. Adapun tujuan kami
membuat analisa kasus ini yaitu untuk menyelesaikan tugas kuliah Asuhan
Keperawatan Spiritual Muslim.
Terimakasih kepada dosen-dosen yang mengajar kami sebagai pembimbing
kami dalam kuliah keperawatan jiwa, semua teman-teman dan semua pihak yang
telah membantu dalam pembuatakan makalah ini sehingga makalah ini dapat
terselesaikan. Kami tidak bisa membalas semua itu dan semoga semua itu akan di
balas oleh Allah SWT. Amien
Bandung, 31 Maret 2019
Kelompok 6
i
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar .............................................................................................. i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2
C. Manfaat Penulisan ................................................................................ 3
BAB II TINJAUAN TEORI .......................................................................... 4
A. Pengertian ............................................................................................ 4
1. Histeria Dari Sudut Bahasa dan Istilah .......................................... 4
2. Pandangan berasaskan Nas al-Quran dan Hadiths ......................... 5
3. Pandangan Para Sarjanawan Tentang Histeria ............................... 8
B. Etiologi Histeria ................................................................................... 11
C. Jenis-Jenis Histeria ............................................................................... 12
D. Tanda dan Gejala ................................................................................. 13
E. Perbedaan antara Histeria dan Kerasukan ............................................ 21
F. Pengobatan Histeria ............................................................................ 22
G. Prognosis Histeria ............................................................................... 28
BAB III PENUTUP ....................................................................................... 29
A. Kesimpulan .......................................................................................... 29
B. Saran .................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... iii
ii
DAFTAR PUSTAKA
American Psychological Association. (2009). APA Concise Dictionary of
Psychology. Washington DC
Amran Kasimin & Haron Din. (1994). Rawatan Gangguan Makhluk Halus
Menurut al-Quran dan as-Sunnah. Cetakan ke-4. Kuala Lumpur:
Percetakan Watan Sdn. Bhd
Hidayat, D. R. 2015. Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Bogor: Penerbit
Ghalia Indonesia
Ibn Manzur, Muhammad bin Mukram bin Manzur al-Afriqi al-Majani. (1955).
Lisan al-Arab jil. 2. Beirut: Dar al-Sadir
Ibn Qayyim al Jauziyyah, Sham al-Din Abu ‘Abd Allah, Muhammad bin Abi
Bakr. (1990. al-Tib al-Nabawi. Beirut Lubnan: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Malaysia, Journal Islamiyyat 36(2) 2014 dalam J.P. Chaplin. Dictionary of
Psychology. New York: Dell Publishing Co. Inc.
Intan Farhana Saparuddin et.al. (1985). Simptom Histeria dalam Kalangan
Remaja Sekolah di Malaysia. Journal Islamiyyat 36 (2) 2014 dalam Fakhir
Akil, Mu’jam ilm al-nafs. Beirut: Dar al-‘Ilm.
Joyce M. Hawkins. (2001). Kamus Oxford. London: Oxford University Press
Khadher Ahmad dan Ishak Hj. Suliaman. (2012). Sihir dan Rawatannya Menurut
Perspektif Ibn Qayyim Al-Jawziyyah (691H/1292M-751H/1350M): Satu
Analisis, dalam Jurnal ILIM. Bandar Baru Bangi, Selangor: Institut Latihan
Islam Malaysia (ILIM), bil.5
Khadher Ahmad. (2012). “Analisis Hadith-Hadith Mengenai Rawatan Sihir
Dalam al-Kutub al-Sittah: Aplikasi di Pusat Rawatan Islam di Malaysia”.
Tesis Ijazah Doktor Falsafah, Jabatan al-Quran & al-Hadith, Akademi
Pengajian Islam, Universiti Malaya, Kuala Lumpur.
iii
Khadher Ahmad. (2012). “Satu Kajian Kaedah Rawatan sihir di Pusat-pusat
Rawatan Islam di Malaysia” dalam PERSPEKTIF: A Sosial Sciences and
Humanities Journal, Tanjung Malim. Perak: Universiti Pendidikan Sultan
Idris (UPSI), vol.4, no.1.
Khadher Ahmad, Mohd Farhan Md Ariffin & Ishak Suliaman. (2014). Pusat
Rawatan Alternatif Islam di Malaysia: Analisis terhadap Latar Belakang
Pengasas dan Isu Penggunaan Jin dalam Rawatan. Jurnal Usuluddin 40
(Julai-Disember 2014): 71-98
Khadher Ahmad, Mohd Farhan Md Ariffin. (2015). Pusat Rawatan Alternatif
Islam di Malaysia: HISTERIA DARI PERSPEKTIF AL-QURAN DAN
HADITH: SATU ANALISIS (Hysteria from the Qur’anic and Hadith
Perspective: An Analysis). Jurnal al-Tamaddun Bil 10 (2) 2015, 35-5
Mohd Khairi Zainuddin, et al. (2007). Al-Miftah. Selangor: al-Azhar Media
Enterprise
Morgan, H.G. 1988. Segi Praktis Psikiatri. Binarupa Aksara, Jakarta.
Noresah bt Baharom. (2009). Kamus Dewan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka.
Wahid ‘Abd al-salam Bali. (2012). Jin Dan Syaitan Dalam Kehidupan Manusia.
Kuala Lumpur: Al-Hidayah House of Publisher
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa yang sudah lama di kenal sejak dulu ialah hysteria.
Sebenarnya sejarah histeria dikatakan sudah ada sejak lebih dari 2000 tahun,
dan bersifat misteri tanpa ada satu pun penerangan jitu yang dapat dikaitkan
dengannya. Histeria seringkali menjadi perdebatan dalam sejarah dunia medis
kerana usaha mengenal pasti pengertian dan penyebab histeria juga banyak
bergantung kepada faktor budaya, nilai dan kepercayaan sesuatu masyarakat.
Pada permulan orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini
hanya kaum wanita. Akan tetapi kemudian pendapat itu berubah setelah Freud
menemukan bahwa laki-laki pun dapat dihinggapi penyakit ini. Histeria
merupakan suatu respon psikologik, biasanya terjadi pada tingkat di bawah
sadar dan berhubungan dengan konflik internal yang tidak terselesaikan atau
stress eksternal yang akut.(H.G Morgan dan M.H Morgan). Histeria adalah
sejenis degenerasi sistem saraf yang tampak dalam kekurangmampuan untuk
menghadirkan pola pikir yang realistis dan sesuai dengan ketenangan jiwa
(Janet, 2007 dalam Psikoanalisis Sigmund Freud).
Histeria juga seringkali dikaitkan dengan kerasukan. Masyarakat umum
malah lazimnya menganggap histeria dan kerasukan adalah perkara yang sama
yaitu gangguan yang disebabkan oleh ‘hantu’ atau ‘makhluk halus’.
Tanggapan
ini
kebiasaannya
berlegar
sekitar
masyarakat
Melayu.
Walaubagaimanapun, perbedaan ini sukar untuk ditentukan yang mana ada
yang menyebut bahwa histeria berlaku terhadap orang banyak dan kerasukan
berlaku kepada individu.
1
Histeria berada dalam kategori ilmiah dan medis diartikan sebagai mental
dan penyakit kejiwaan. Menurut bagian diagnostik dan statistical manual of
mental disorder yang berisi daftar berbagai gangguan mental dan psikologis
menjadi tujuh tipe salah satunya gangguan jiwa biasa atau yang dikenal
sebagai histeria. Seperti gangguan jiwa lainnya hysteria juga terjadi akibat
ketidakmampuan
seseorang menghadapi
kesukaran-kesukaran,
tekanan
perasaan, kegelisahan, kecemasan, dan pertentangan batin. Dalam menghadapi
kesukaran ia tidak mampu menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu
melepaskan tanggung jawab dan lari secara tidak sadar kepada gejala-gejala
hysteria..
Fenomena histeria sering juga terjadi pada remaja di sekolah. Banyak di
berbagai sekolah yang diberitakan di televisi maupun surat kabar bahwa siswi
mereka mengalami histeria massal. Boleh dikatakan bahawa kejadian histeria
hampir berlaku setiap tahun khususnya dalam kalangan pelajar sekolah. Ini
tidak termasuk kejadian yang tidak dilaporkan dalam berita. Jadi, apakah
sebenarnya kasus histeria ini dan bagaimana untuk memahami kejadian ini
berdasarkan rujukan terhadap dalil al-Quran, hadith dan sarjanawan. Untuk
itu, penulis berusaha untuk mengemukan nas daripada al-Quran dan hadith
serta dikemukakan bersama pandangan para ulama dalam menjelaskan tentang
histeria dari berbagai sudut pandangan, turut dikaitkan juga pemahaman dalam
kalangan sarjanawan Barat supaya pemahaman terhadap istilah histeria ini
adalah jelas dan nyata.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui teori mengenai hysteria secara umum
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui definisi dari Histeria
b. Mengetahui apa saja etiologi dari berbagai pandangan
c. Mengetahui dan memahami apa saja tanda dan gejala histeria
2
d. Mendeskripsikan jenis – jenis dari histeria
e. Mengetahui dan memahami pengobatan yang dapat diterapkan bagi
penderita histeria
f. Mengetahui prognosis dari histeria
g. Mengetahui penanganan yang tepat bagi klien histeria massal
C. Manfaat Penulisan
1. Membantu mahasiswa dalam proses belajar mengajar dalam memberikan
Asuhan Keperawatan Spiritual Muslim pada pasien histeria
2. Membantu mahasiswa dalam mempelajari fenomena histeria
h. Membantu mahasiswa mengembangkan pemahaman mengenai perawatan
dan pengobatan pada kasus histeria
3
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
1. Histeria Dari Sudut Bahasa dan Istilah
Histeria merupakan suatu respon psikologik, biasanya terjadi pada tingkat
di bawah sadar dan berhubungan dengan konflik internal yang tidak
terselesaikan atau stress eksternal yang akut (H.G Morgan dan M.H Morgan).
Histeria menggambarkan gangguan pada gerak-gerik jiwa dan rasa dengan
gejala luapan emosi yang sering tidak terkendali seperti tiba-tiba berteriakteriak, menangis, tertawa, mati rasa, lumpuh, dan berjalan dalam keadaan
sedang tidur, (https://kbbi.web.id/histeria).
Histeria dari sudut bahasa bermaksud melempar, jatuh ke tanah (Ibn
Manzur, Muhammad bin Mukram bin Manzur al-Afriqi al-Majani , 1955).
Manakala merujuk kepada istilah bahasa ‘Arab, histeria disebut sebagai alDarra, yang sering dikaitkan dengan gangguan makhluk halus. Perkataan
histeria sebenarnya berasal daripada istilah Greek yaitu hystron yang
bermaksud rahim yang merayau-rayau. Manakala menurut Mu’jam ‘Ilm alNafs menyatakan histeria di dalam istilah Arab disebut histiriya (‫) ايريتسه‬
atau hara’un (‫ ) عره‬yaitu satu istilah umum yang digunakan bagi
menggambarkan kecelaruan fungsi yang disifatkan dengan kebimbangan
tanpa alasan yang kukuh. Seperti yang ditunjukkan dengan beberapa gejala
pengasingan dan pertukaran seperti amnesia, hilang deria rasa fungsi, lumpuh,
personaliti pelbagai dan seumpamanya (Intan Farhana S, et.al, 2014).
Menurut Kamus Dewan, histeria adalah penyakit urat saraf yang terlihat
pada letusan-letusan emosi yang tidak dapat dikawal (Noresah bt Baharom,
2009). Dalam Kamus Oxford Joyce M. Hawkins (2001), histeria
diterjemahkan sebagai sesuatu keadaan di mana seseorang atau sekumpulan
manusia tidak dapat mengawal perasaan mereka, sebagai contoh tidak dapat
4
berhenti tertawa, menangis, menjerit dan sebagainya. Sedangkan dalam kamus
Dictionary of Psychology American Psychological Association (2009)
Hysteria disebut sebagai gangguan somatik dengan simptom seperti lumpuh,
hilang daya penglihatan, hilang deria rasa, halusinasi dan sering berada dalam
keadaan mudah dipengaruhi. Merriam Webster Dictionary mengartikan
histeria sebagai keadaan di mana emosi (seperti takut) adalah begitu kuat dan
berkelakuan dengan cara yang tidak terkawal. Ia juga dikaitkan dengan
keadaan di mana beberapa orang berkelakuan atau bertindak balas dengan cara
yang melampau atau tidak terkawal kerana takut, marah, dan lain-lain.
Sedangkan menurut Mohd khairi Zainuddin, et al. (2007) dalam al-Miftah,
histeria disebut al-Sar’u bermaksud sawan babi atau menghidap sawan babi
atau epilepsy.). Histeria juga disebut kekacauann neurosis yang secara
umumnya dikategorikan sebagai emosi yang tidak stabil, penekanan,
penarikan diri dan keadaan mudah dipengaruhi. Ciri-ciri penting kekacauan
ini ialah conversion histeria yaitu keadaan konflik mental yang ditukarkan
kepada simptom fisik seperti lumpuh, buta dan tidak sedar. Ciri-ciri lain ialah
berjalan semasa tidur, penarikan diri atau hilang ingatan mengenai diri masa
lampau dan kepelbagaian personaliti iaitu individu memiliki kepelbagaian
personaliti yang berbeda daripada keadaan sadarnya (Intan Farhana S, et.al,
2014).
2. Pandangan Berasaskan Nas al-Quran dan Hadiths
Histeria atau dalam istilah Melayu lebih dikenali sebagai kerasukan
merupakan sesuatu yang benar-benar wujud. Terdapat nas al-Quran dan hadith
yang menyebutkannya sama ada bersifat khusus ataupun secara rawak/umum.
Dalam al-Quran, Allah SWT berfirman:
“Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri betul
melainkan seperti berdirinya orang yang dirasuk syaitan dengan
terhuyung-hayang kerana sentuhan (syaitan) itu....” (Al-Baqarah
2:275)
Istilah ‘dirasuk’ ditafsirkan oleh Ibn Kathir dalam tafsir al-Quran al-‘Azim
sebagai keadaan pemakan riba yang tidak dapat berdiri dengan betul pada hari
5
kiamat, mereka akan berjalan terhuyung-hayang seperti orang kerasukan.
Menurut Imam al-Qurtubi ayat ini yang menjadi dalil kepada mereka yang
tidak mempercayai wujudnya rasukan syaitan ke dalam jasad manusia.
Di dalam al-Quran juga Allah SWT banyak menyebut berkaitan Syaitan
dan rasukannya sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh
oleh sesuatu imbasan hasutan dari Syaitan, mereka ingat (kepada ajaran
Allah) maka dengan itu mereka nampak (jalan yang benar).” (Al-A’raf
7:201)
Ibn Kathir dalam mentafsir ayat ini mengatakan bahwa sesungguhnya para
pentafsir ada yang mentafsir sebagai serangan atau rasukan. Menurut al-Imam
al-Tabari berkaitan dengan ayat di atas yaitu gangguan syaitan kepada
manusia di dunia yakni dengan cara merasukinya sehingga terjadi seakan
orang gila, hal ini dinamakan sebagai hysteria (Al-Tabari, Muhammad Ibn
Jarir al-Tabari,1978).
Adapun Firman Allah SWT dalam surat Al-Mujadalah 58:19 :
“Syaitan telah menguasai dan mempengaruhi mereka, sehingga
menyebabkan mereka lupa mengingati (ajaran dan amaran) Allah;
mereka itulah puak Syaitan. Ketahuilah bahawa puak Syaitan itu
sebenarnya orang-orang yang rugi.” (Al-Mujadalah 58:19).
Ibn Kathir menyebut di dalam tafsirnya bahwa syaitan menguasai diri mereka
dari mengingati Allah yaitu menguasai hati mereka yang menurut Sheikh
Muhammad Sulaiman Asyqar membawa maksud seperti kena rasukan. Oleh
yang demikian, kerasukan ialah suatu ungkapan yang dipahami dan merujuk
kepada gangguan yang menimpa akal manusia sehingga dia tidak memahami
apa yang dia katakan. Seseorang yang kerasukan tidak boleh menghubungkan
perkataannya, antara yang telah dia katakan, dan yang akan dia ucapkan. Dia
juga akan menderita, hilang ingatan akibat gangguan pada urat-urat saraf
(otak). Akibatnya, penderita penyakit akal ini mengalami gangguan dalam
tingkah lakunya. Dia akan bingung serta canggung ketika bergerak dan
bertindak (Dar al- Bashar Islamiyyah, h.217).
6
Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani, rasukan ialah suatu perkara yang
berkaitan dengan gangguan atau kekacauan akal (mental) seseorang manusia.
Si mangsa tidak sedar apa yang diucapkannya dan dia juga tidak mampu
menghubungkaitkan di antara apa-apa yang sedang atau telah diucapkan
lantaran hilangnya daya ingatan sebenar akibat berlakunya kekacauan
terhadap sistem saraf otak. Kekacauan di bagian mental ini secara tidak
langsung akan menyebabkan berlakunya kekacauan bahagian-bahagian lain
yang telah dirasuk itu, dan seterusnya si mangsa mulalah menggeletar atau
meracau-racau tidak tentu arah, (Wahid ‘Abd al-Salam, 1996).
Imam al-Alusi mentafsirkan lafaz “al-takhabbuttu” (kerasukan) ialah suatu
bentuk tindakan yang puncaknya ialah memukul dengan tangan terus menerus
ke segala arah. Kemudian, maksud firman Allah SWT “minal massi” (lantaran
gangguan) ialah kegilaan. Ada yang berkata, “mussarrajulu” (seseorang
terganggu), menurut orang Arab berarti dia tertimpa penyakit gila kerana
kerasukan jin. Sedangkan makna aslinya ialah menyentuh dengan tangan.
Disebutkan sedemikian, kerana syaitan adakalanya menyentuh manusia,
sehingga kelenjar-kelenjarnya rosak dan akhirnya ditimpa kegilaan, (Wali Zar
Shahizuddin, 1996).
Dari sudut psikologi Islam, makna histeria adalah selaras dengan
pandangan ilmuan-ilmuan Islam yaitu rasukan atau kecelaruan fungsi yang
dikaitkan dengan kebimbangan tanpa alasan yang kukuh, (Fakhir A, 1985).
Perspektif psikologi Islam melihat histeria sebagai kecelaruan fungsi fisikal
yang berkait dengan keadaan jiwa individu yang mungkin berada dalam
keadaan tidak tenteram atau terganggu. Fungsi fisikal yang terganggu itu
disebabkan gangguan jiwa yang melanda individu sama ada disebabkan faktor
jiwa tidak tenteram atau rasukan syaitan.
Kebanyakan pendapat para ulama’ bersetuju mengatakan bahawa jin boleh
merasuk dan mengganggu otak manusia bahkan boleh melakukan kesakitan
pada badan manusia dengan izin Allah. Pendapat ini diutarakan oleh Ibn
Taimiyah dalam hadith daripada Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya syaitan itu memasuki tubuh manusia menurut aliran darah.
7
Dan sesungguhnya aku takut syaitan itu akan mencampakkan sesuatu dalam
hati kamu berdua” (Hadith riwayat al-Bukhari).
Sebagaimana menurut Haron Din, yang di sebutkan di dalam kitab al-Tibb
al-Nabawi menyebut sakit seperti histeria ini dinamakan al-sar’u (rasukan),
yang berlaku akibat rasukan roh-roh jahat yang menyerang roh manusia yang
boleh memberi kesan buruk kepada fisikal mangsanya. Rasukan roh-roh jahat
ini berupa Jin dan syaitan yang memasuki aliran darah manusia lalu
menyesatkannya melalui perlakuan di luar kawalan akal dan rohani,
pandangan ini juga disokong oleh Asri Zainal Abidin didalam ceramah beliau
yang menafsirkan dan menghuraikan ayat al-Quran yang dibahas di atas
(Amran Kasimin & Haron Din 1990).
3. Pandangan Para Sarjanawan Tentang Histeria
Histeria adalah sejenis degenerasi sistem saraf yang tampak dalam
kekurangmampuan untuk menghadirkan pola pikir yang realistis dan sesuai
dengan ketenangan jiwa (Janet, 2007 dalam Psikoanalisis Sigmund Freud).
Histeria berada dalam kategori ilmiah dan medis diartikan sebagai mental dan
penyakit kejiwaan. Menurut bagian diagnostik dan statistical manual of mental
disorder yang berisi daftar berbagai gangguan mental dan psikologis menjadi
tujuh tipe salah satunya gangguan jiwa biasa atau yang dikenal sebagai
histeria.
Histeria juga merujuk kepada rahim yang merayau-rayau (wandering
uterus) kerana pada zaman Greek kuno histeria hanya menyerang wanita
saja terutama wanita yang menderita hidupnya dan tidak berlaku kepada
wanita yang puas dari aspek kehidupan seksual mereka, (Chodoff, Histeria
and Women American Journal Psychiatry 133 (11), 1295-1299).
Menurut Ibn al-Qayyim, "Penyakit tidak sadarkan diri ini (hysteria)
terdapat di dalam dua bentuk yaitu: tidak sedarkan diri kerana rasukan roh-roh
bumi yang jahat (Jin) dan tidak sedarkan diri kerana mabuk." Ibn Hazam pula
berkata bahwa "Pendapat yang sahih ialah makhluk syaitan ini sememangnya
boleh merasuk seseorang insan atas izin Allah SWT dan inilah sebagaimana
yang telah dinyatakan oleh al-Quran., makhluk tersebut akan bertindak
8
menyerang pusat rangsangan utama yaitu otak. Dan dengan izin Allah SWT,
pemikiran si mangsa akan rusak lantaran perlaksanaan tabiat-tabiat buruk dan
jahat yang dimilikinya. Demikianlah sebagaimana yang selalu kita saksikan
terhadap mangsa-mangsa tragedi rasukan ini. Inilah juga yang telah diakui
oleh al-Quran yang wajib diimani ".(Wahid ‘Abd al-Salam, 1996).
Pendapat di atas sama seperti pendapat Syeikh Muhammad al-Hamid yang
berkata, “Kalau Jin merupakan jenis makhluk halus, maka secara aqli (akal,
pemahaman) mahupun naqli (periwayatan), tidak menolak kalau jin dapat
merasuk ke dalam tubuh manusia. Sesuatu yang halus dan lembut boleh
menembusi pada sesuatu yang tebal, contohnya angin yang boleh masuk ke
tubuh manusia, api yang masuk ke dalam bara api, aliran elektrik yang masuk
pada kabel elektrik. Bahkan, air juga masuk ke dalam tanah, pasir dan
pakaian, walaupun tidak halus dan lembut seperti angin dan aliran elektrik.”
(Dar al-Bashar, h.91).
Sementara itu Al-Qadhi Abdul Jabbar al-Hamzani pun berkata, “Kalau
memang benar apa yang dikatakan bahawa tubuh bangsa jin itu halus serta
lembut seperti angin, maka kita juga tidak menolak kalau mereka dapat
memasuki tubuh kita sebagaimana keluar masuknya udara dan nafas ke dalam
tubuh dengan helaan dan tiupan. Namun hal itu tidak menunjukkan bahwa
mereka bersatu dengan manusia (terutama) kerana bersatunya mereka dengan
manusia melalui cara berdampingan. Jin masuk ke dalam tubuh kita seperti
benda yang halus memasuki suatu benda", ((Dar al- Kutub: Beirut, h.122). AlQadi Abd al-Jabbar al-Hamdani pun telah mengeluarkan buah fikirannya:
"Sekiranya sahih apa yang kami buktikan iaitu betapa unik dan halusnya
keadaan jasad makhluk tersebut (Jin) bagaikan udara, maka tidak ada
halangan untuk makhluk tersebut masuk ke dalam tubuh badan kita.
Konsep ini lebih kurang sama seperti oksigen (udara) dan juga roh yang
juga mampu membolos masuk ke dalamnya. Dan kemasukan unsur- unsur
tersebut tidaklah menyebabkan masing-masing saling bercantum sehingga
menjadi satu unsur yang lain. Kerana, kaedah cantuman beberapa unsur
sehingga membentuk satu unsur di dalam sebatian yang lain, mestilah
9
terlebih dahulu melalui proses adunan tertentu, bukan sekadar melalui
campuran semata-mata. Jelasnya, makhluk tersebut mampu memasuki ke
dalam jasad kita sama seperti jisim-jisim.” (Wahid ‘Abd al-Salam Bali
(1996), Ibid., h.147).
Imam al-Sha'ari telah menyebut sekalian pendapat Ahli al-Sunnah wa alJama’ah berkata: "Sesungguhnya makhluk Jin itu boleh memasuki ke dalam
badan seseorang yang mampu dirasukinya, sebagaimana penegasan Allah
SWT pada ayat 275 surah al-Baqarah artinya: "Orang-orang yang makan
(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
dirasuki syaitan lantaran (terkena) penyakit gila". Uthman ‘Amru ibn 'Ubaid
pula pernah berkata bahwa "orang yang mengingkari kebenaran mengenai
kemampuan makhluk Jin memasuki ke dalam tubuh badan manusia dikira
golongan al-Dahri (Freedom)". Menurut al-Qadi Badr al-Din al- Syibli
"sesungguhnya di sana ada nas yang telah menegaskan bahawa makhluk
tersebut (Jin), mampu memasuki ke dalam tubuh badan manusia. Ibn alQayyim berkata, "kerasukan ada dua jenis: Kerasukan kerana masuknya roh
jahat dan kerasukan yang disebabkan penyakit-penyakit fisikal”.
Walau bagaimanapun terdapat golongan yang ingkar bahwa jin boleh
memasuki badan manusia di antaranya sebahagian daripada golongan
Mu’tazilah seperti al-Jubai’ dan Abu Bakr al-Razi. Abu al-Hasan al-Asha’ari
menolak pandangan Ahli Sunnah wa al-Jama’ah berpendapat bahawa Jin
dapat masuk ke dalam tubuh badan orang yang kerasukan. Manakala al-Juba’i
dan Abu Bakr Muhammad bin Zakariyya pula mengatakan mana mungkin
kewujudan dua ruh dalam jasad yang satu.
Berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan hadith yang dikemukakan serta
pandangan sarjanawan di atas, muncul pandangan bahwa penyakit-penyakit
gangguan yang berlaku adalah berpunca daripada gangguan oleh syaitan dan
makhluk halus. Meskipun terdapat beberapa pandangan bahwa syaitan dan
makhluk halus tidak boleh mengganggu atau merasuk fisikal manusia, nas-nas
al-Quran dan hadith-hadith Rasulullah yang dibawakan di atas menjadi dalil
bahwa syaitan dan makhluk halus itu mampu masuk ke dalam tubuh manusia
10
dan mengganggu manusia, malah membuat manusia menjadi tidak normal
seperti keadaan manusia yang lazim.
Berdasarkan kepada ulasan terhadap makna histeria dari sudut pandangan
ulama, dapat disimpulkan bahawa histeria adalah satu istilah yang digunakan
untuk merujuk kepada rasukan yang berpunca dari gabungan antara gangguan
makhluk halus dan masalah individu itu sendiri, seperti kurangnya kekuatan
diri, berada dalam keadaan yang tidak tenteram dan celaru yang seterusnya
memberi ruang kepada makhluk halus untuk menguasai diri mereka lantaran
daripada kelemahan yang ada.
Merujuk kepada pandangan-pandangan di atas juga, terdapat persamaan di
antara sisi pandang Barat dan Islam berkaitan histeria, yaitu kedua-duanya
bersetuju bahawa ia berkait rapat dengan gangguan fungsi tubuh badan dan
akal yang tidak tenteram.
B. Etiologi dari Histeria
Histeria atau rasukan adalah suatu perkara realiti yang benar-benar berlaku
dalam kehidupan masyarakat. Di dalam al-Quran, Allah SWT telah menyebut
perkataan ‘syaitan’ sebanyak 70 kali dan ‘iblis’ sebanyak 11 kali manakala
perkataan ‘jin’ disebut sebanyak 14 kali. Makhluk halus ini menjadi ejen
utama penyebab kepada kepada berlakunya hysteria, (Abdullah Bukhari
‘Abdul Rahim, 2012).
Beberapa teori juga mnyebutkan penyebab hysteria sebagai berikut :
a. Teori psikoanalisa
Ansietas yang ditekan oleh impuls-impuls instinktual akan menimbulkan
gejala - gejala histeria yang sering memilki arti simbolik dan keuntungan
sekunder. Menghilangkan konflik – konflik secara radikal perlu dihindarkan.
Pada beberapa kasus, mungkin berupa masalah seksual: oedipus kompleks
tampaknya relevan untuk histeria, fiksasi pada fase falik pada perkembangan
psikoseksualnya. Ansietas fobik tampaknya sebagai bentuk dari ansietas
histerik, ansietas yang di represi, dialihkan pada objek netral atau situasi.
11
b. Genetik
Terjadi peningkatan insidens histeria pada keluarga – keluarga histerik,
namun mereka juga menunjukkan peningkatan inseidns pada kondisi lain.
c. Sugesti dan ansietas bersama
Munculnya histeria secara massal dalam masyarakat. Charcot dapat
menimbulkan gejala histeria melalui sugesti yang kuat dan melihat histeria
sebagai suatu kesatuan penyakit
d. Kepribadian
Pada 40%
histerik:
kasus histeria yang didahului oleh ciri – ciri kepribadian
ketergantungan,
manipulatif,
egosentrik.
Mencari
perhatian,
histrionik, labil dan emosi yang dangkal.
e. Peran sakit
Mencari melalui tingkah laku yang dipelajari pada saat dihadapkan dengan
kesulitan hidup yang tidak dapat ditolerir, konflik atau penyakit fisik. Variasi
tingkat kesadaran terhadap mekanisme pembentukan gejala – gejala dan
pembedaannya dari malingering sangat sulit dilakukan.
f. Neurosis kompensasi
Sering dijumpai pada kecelakaan yang tidak hebat yang berkaitan dengan
tuntutan kompensasi. Dapat menunjukkan perbaikan bila tuntutan dipenuhi.
Mungkin berhubungan dengan kemampuan bahasa yang sangat kurang, lebih
sering terdapat pada kelas sosial IV dan V dan pada orang yang berpendidikan
rendah, khususnya pada imigran baru.
C. Jenis – Jenis Histeria
Terdapat berbagai jenis histeria, antaranya conversion histeria, fainting
hysteria, sleep roaming, roaming subconscious dan various personality (Intan
Farhana S, et.al, 2014).
a. Histeria konversia, dengan tanda konflik – konflik mental yang diubah
kedalam gejala fisik, seperti kelumpuhan, kebutaan, kejang dan anestesia
atau mati rasa.
12
b. Somnabulisme (tidur berjalan).
c. Fugue (pelarian), sehingga individu yang bersangkutan menjadi amnesia
atau kehilangan ingatan mengenai masa lalu pribadinya.
d. Multiple Personality (kepribadian majemuk), sehingga kepribadian
individu pecah menjadi dua atau lebih, disertai disosiasi kesadaran.
D. Tanda dan Gejala
Faraj ‘Abd al-Qadir Taha di dalam Mawsu’ah ‘ilm al-Nafs wa al-Tahlil alNafs menterjemahkan kalimah histeria di dalam bahasa Arab sebagai alhistiriya yaitu penyakit kejiwaan (psychiatry) neurotik, salah satu penyakit
mental yang mempunyai gejala-gejala dan ciri-ciri tertentu.
Gejala kemasukan Jin yang berupa roh-roh jahat ke dalam badan manusia
ini turut dihuraikan oleh Wahid ‘Abd al-Salam Bali yang menyebut al-Sar’u
(‫) عرصلا‬, merupakkan suatu gejala kekurangan fungsi yang menimpa akal
manusia sehingga tidak dapat menyedari apa yang diucapkannya dan tidak
dapat menghubungkan antara apa yang sudah diucapkan dengan apa yang
akan diucapkannya. Orang yang terkena penyakit ini mengalami kehilangan
ingatan akibat dari kecelaruan yang berlaku pada saraf otak (Dar al-Bashar,
h.51). Dalam arti kata lain, histeria dari sudut pandangan Islam adalah berlaku
disebabkan gangguan rohani yang berpuncak daripada jiwa yang bercelaru dan
kacau yang akhirnya dijelmakan kepada gangguan fisikal.
Selain daripada ketenteraman jiwa yang terganggu, kewujudan jin dan
syaitan yang menyesatkan manusia juga mempengaruhi puncak individu
mengalami histeria. Oleh sebab itu histeria dari pandangan Islam turut dilihat
sebagai gejala kerasukan atau (al-sar’u) yaitu kemasukan roh-roh jahat dari
kalangan Jin dan syaitan yang memasuki badan manusia sehingga
mengganggu kewarasan akal dan jiwa. Ini bertepatan dengan sabda Rasulullah
SAW yang menjelaskan perihal Jin dan syaitan berupaya memasuki tubuh
manusia lalu merusakan hati dan akal manusia melalui hadith Abu Hurairah
RA daripada Rasulullah bersabda:
13
“Sesungguhnya syaitan berjalan pada anak manusia seperti jalannya
darah pada peredarannya.” (Hadith riwayat al-Bukhari).
Menurut pengamat perubahan Islam, Fauzi Mustapa, histeria mengikut
perspektif Islam adalah merujuk kepada keaadaan di mana manusia tidak
sadar, dirasuk dan hilang ingatan akibat gangguan emosi yang tidak terkawal
dan tekanan perasaan akibat masalah peribadi, rumah tangga ataupun
kepincangan masyarakat (Idris, R 2008).
Tanda dan Gejala Histeria
1. Lumpuh hysteria
Lumpuhnya salah satu anggota fisik, akibat tekanan atau pertentangan
batin yang tidak dapat diatasi. Biasanya penderita menggunakan gejala ini
secara tidak sadar untuk membela diri dan untuk mengatasi kesukarankesukaran yang dihadapinya. Biasanya gejala lumpuh itu terjadi tiba-tiba dan
penderita sebelum itu tidak merasa apa-apa.
Contoh :
Di waktu perang, seorang anggota militer tiba-tiba mengalami lumpuh
pada jari telunjuknya (tidak bis digerakkan) diwaktu ia berhadapan dengan
musuh. Pada waktu dioperasi ternyata tidak terdapat apa-apa pada jarinya
tersebut. Dari penelitian selanjutnya terbukti bahwa kelumpuhan telunjuk itu
adalah akibat dari perasan bimbang waktu ia akan menembak musuhnya. Ia
bimbang antara menembak (matinya musuh) dengan tak ingin menembaknya.
Akhirnya kelumpuhan jarinya itu menolongnya dalam mengatasi problemnya.
2. Cramp hysteria
Disebabkan pula oleh tekanan perasaan, yang sering kali terjadi pada
penulis yang mencari penghidupan dengan tulisan-tulisannya. Apalagi ia
mengalami bahwa tulisannya tidak banyak mendapat sambutan dari orang, ia
kadang-kadang dihinggapi oleh cramp pada jari-jarinya waktu menulis.
Tapi untuk mengerjakan pekerjaan lain jari-jarinya masih dapat digunakan.
Cramp hysteria banyak pula terjadi pada pemain biola, juru tik, tukang jam,
pegawai kantor telephone. Penyakit ini terjadi karena kegelisahan dan
14
kecemasan yang dirasakannya akibat kebosanan menghadapi pekerjaanpekerjaan itu.
3. Kejang hysteria
Seluruh badan terasa kaku, tidak sadar akan diri, kadang-kadang sangat
keras, disertai dengan teriakan-teriakan dan keluhan-keluhan, tapi tidak
mengeluarkan air mata. Kejang-kejang ini biasa terjadi pada siang hari selama
beberapa menit saja, tapi mungkin juga sampai beberapa hari lamanya.
Diantara tanda-tanda kejang hysteria adalah dalam pandangan matanya
terlihat kebingungan. Setelah kejadian itu biasanya penderita kebingungan,
tidak mau berbicara atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Biasanya serangan
ini terjadi karena serangan emosi yang sangat menekan, seperti rasa
tersinggung, tertekan perasaan, penyesalan, sedih dan sebagainya. Orang yang
terserang biasanya memegang atau menarik apa yang dapat ia capai.
Sebaiknya orang yang diserang kejang hysteria itu ditinggalkan saja
sebagaiamana adanya.
Contoh :
Seorang calon mahasiswi berusia 20 tahun sedang menjalakan masa
prabakti. Ketika apel tengah hari dengan kawan-kawannya tiba-tiba ia jatuh
pingsan. Teman-teman bingung dan berusaha menolongnya, tetapi tak
berhasil. Setelah akhirnya dia sadar, si gadis memandang sekelilingnya
dengan mata kebingungan, dan ia minta gado-gado. Kawan-kawannya
semakin bingung. Setelah penelitian, terbukti bahwa si gadis dengan ibu
tirinya yang sangat membatasi kebebasan dan belanjanya. Waktu masa
prabakti ia merasa sangat sedih, karena memerlukan uang jajan lebih banyak,
tetapi takut memintanya pada orang tuanya. Ketika ia merasa lapar ia teringat
akan kesusahan sehari-hari yang selalu dialaminya di rumah dan terlihatlah
gejala-gejala itu.
Banyak ditemukan contoh-contoh seperti itu yang terlihat dalam
kehidupan sehari-hari. Orang tiba-tiba pingsan, tegang dan kaku badannya,
yang disangkanya sakit ayan,sawan atau kena guna-guna. Padahal gejala ini
adalah akibat dari rasa tertekan dan kegelisahan yang terlalu hebat.
15
4. Mutism (hilang daya bicara)
Mutism itu ada dua macam, pertama tak sanggup berbicara dengan keras
dan kedua tak mampu berbicara sama sekali. Hilangnya kemampuan untuk
berbicara itu bukan disebabkan oleh kerusakan pada alat-alat percakapan
seperti lidah, kerongkongan, pernapasan dan sebagainya. Alat-alat itu masih
dapat
melakukan
fungsinya,
tetapi
orang
tidak
dapat
berbicara.
Biasanya gejala ini terjadi akibat tekanan perasaan, kecemasan, putus asa,
merasa hina, gagal dan sebagainya. Demikian besarnya pertentangan batin
sehingga menyebabkan lidah menjadi lumpuh.
Contoh :
Seorang laki-laki berumur 42 tahun, badannya tegap, tiba¬-tiba hilang
kemampuannya untuk berbicara. Ia berusaha keras mengeluarkan kata-kata,
tetapi tidak berhasil. Hilangnya kemampuan berbicara itu berlangsung sampai
berbulan- bulan. Dalam pemeriksaan dokter, terbukti tidak ada kerusakan apaapa pada alat percakapannya.
Dari penyelidikan terhadap latar belakang kehidupannya terbukti bahwa
gejala itu mulai tampak ketika dilaksanakan landreform terhadap tanahnya.
Rupanya ia tidak dapat menerima tindakan pemerintah mengambil tanahnya
untuk dibagikan kepada orang lain. Tetapi penolakannya itu tidak dapat
diucapkannya, karena takut akan dianggap menentang hukum. Timbullah
pertentangan batin dalam dirinya antara ingin membela haknya, dengan takut
akan hukuman yang mungkin diterimanya akibat pembelaan itu. Demikian
besar¬nya pertentangan batin itu, sehingga lidahnya menjadi lumpuh, tidak
bisa bicara, sebagai penyelesaian dari ke¬tegangan batin dan tekanan perasaan
itu.
5. Amnesia (hilang ingatan)
Hilang ingatan atau lupa pada kejadian-kejadian tertentu dalam hidup
sangat erat hubungannya dengan emosi. Ia lupa akan sesuatu, kejadian
tertentu, lupa pada orang yang dikenalnya bahkan lupa pada dirinya sendiri,
namanya, rumahnya, pekerjaannya, dan sebagainya.
16
Contoh :
Seorang petani ditemui dalam keadaan sedang linglung, lalu dibawa ke
rumah sakit. Waktu ditanya namanya, rumahnya, pekerjaannya dan
sebagainya, satupun tidak bisa dijawabnya, karena ia lupa akan semuanya itu.
Waktu diperiksa badannya tidak ditemui sesuatu penyakit, atau, gangguan
kesehatan fisik. Setelah beberapa hari di rumah sakit, barulah ia sadar dan
menanyakan apa sebabnya ia dibawa ke rumah sakit.
Sejak itu barulah dapat diketahui namanya, dari mana datangnya dan apa
yang terjadi pada dirinya. Dia menceritakan bahwa ia seharusnya pergi ke
kantor polisi, karena ia telah menyebabkan kematian seorang tua, ketika ia
mendorong gerobak sayurnya di salah satu tikungan jalan dan sangat sukar
baginya menghindari kecelakaan itu.
Kejadian itu sangat membingungkannya dan menyebabkannya sangat
takut dan gelisah. Ketika ia menceritakan peristiwa itu kepada kawannya,
mereka menakut-nakuti dan menyuruhnya pergi ke kantor polisi. Di jalan
waktu menuju kantor polisi itulah terjadinya peristiwa lupa akan dirinya itu,
karena ia takut akan dihukum mati oleh polisi.
6. Kepribadian kembar (double personality)
Kepribadian kembar adalah salah satu gejala hysteria, yang disebabkan
oleh kegelisahan yangamat sangat, dan dijadaikan cara untuk menghukum
dirinya atau melepaskan diri dari ketegangan batin, kecemasan, atau konflik
yang dirasakannya. Dalam hal ini penderita secara tidak sadar mengurung
kepribadiannya yang pertama, sampai terpisah sama sekali dengan alam
kenyataan. Disamping menghukum diri, hal ini digunakan sebagai penarik
perhatian orang padanya.
Dalam kepribadian kembar, tindakan-tindakan yang negatif terlihat jelas
sekali dimana penderitanya tidak mungkin bekerja sama dengan orang –orang
yang sebelum sakit sering berhubungan dengannya. Penderita mendapat dua
keuntungan yang jelas tanpa disadarinya yaitu pertama penderita menjauhkan
sama sekali dari kesadarannya. Semua aspek kehidupan yang mencakup
perasaan, tindakan, pengalaman,-pengalaman dan keseluruhan kepribadian
17
yang lama, terpisah dari kesadarannya. Dalam hal kedua, salah satu
kepribadian ditekan dengan jalan melupakan segala pengalaman-pengalaman
yang dilaluinya dan menghapusnya dari ingatan. Hal ini dilakukan oleh
kepribadian yang kedua.
7. Mengelana secara tidak sadar (fugue)
Salah satu gejala hysteria lain ialah, orang pergi mengelana berjalan tanpa
tujuan, tidak tahu mengapa ia pergi dan kemana ia pergi.
Contoh :
Seorang laki-laki berumur 30 tahun, pada suatu hari berangkat dari
rurnahnya dengan tujuan pergi menghadiri rapat. Akan tetapi ia tidak sampai
ke tempat rapat dan tiga hari kemudian ia ditemui berada di kota lain yang
tidak begitu jauh dari kotanya. Ia tidak dapat mengingat apa-apa yang telah
terjadi pada dirinya dan mengapa ia sampai ke sana. Dari penelitian terbukti,
bahwa laki-laki ini mempunyai hubungan dengan seorang wanita yang telah
bersuami. Ia sangat takut bila rahasianya terbongkar. Pada waktu ia akan
berangkat ke tempat rapat itu telepon berbunyi, lalu diangkatnya, akan tetapi
tidak ada yang menjawab. Tanpa curiga sedikitpun, ia pergi. Selagi
mengendarai mobilnya, tiba-tiba ia rnelihat di belakangnya ada mobil yang
dikendarai oleh suami wanita tersebut. Timbullah kecemasannya, mobil
dihentikannya dan ia melompat ke luar, lari tanpa tujuan. Akhirnya ia sampai
ke tempat di mana ia ditemui dalam kebingungan. Ketika berlari itu, ia
didorong oleh rasa takut yang amat sangat dan keinginan untuk lari dari
kesukaran yang dihadapinya itu.
8.
Jalan-jalan sedang tidur (somnabulism)
Orang yang diserang gejala ini di kuasai oleh sejumlah pikiran dan
kenangan-kenangan yang berhubungan satu sama lain. Meskipun ia sedang
tidur, tapi masih dapat mengenal dan membedakan mana pintu yang tertutup
dan mana pintu yang terbuka, dan mudah disuruh kembali ke tempat tidurnya.
Waktu bangun pagi harinya, ia tidak tahu apa yan terjadi pada dirinya waktu
tidur itu.
18
Contoh :
Seorang anak berumur 6 tahun, tiap-tiap malam sedang tidur selalu
berjalan-jalan. Kadang-kadang naik ke jendela, membuka pintu dan
sebagainya. Setelah diperiksa, terbukti bahwa si anak mempunyai watak yang
keras, pendiam, dan suka mengganggu dengan suatu cara, yang menyebabkan
orang tidak menyangka bahwa ia yang bersalah. Orangtua anak ini,
mempunyai banyak anak, semuanya masih kecil-kecil. Dalam mendidik anakanaknya mereka sering menggunakan kekerasan, sering memukul, kadangkadang sampai berbekas pada badan anak-anaknya. Dan yang paling sering
dipukul adalah anaknya yang menderita penyakit itu.
Rupanya si anak ingin lari dari orangtua yang sangat kejam itu, akan tetapi
ia tidak berani, karena tidak tahu ke mana ia akan pergi. Timbul pertentangan
dalam batinnya antara ingin inenghindari kekerasan orangtua, dengan takut
berpisah dari mereka. Akhirnya sedang tidur, ia masih dikuasai oleh pikiran pikiran ingin lari itu. Gejala-gejala itu disebabkan oleh kegoncangan jiwa,
kecemasan, tekanan perasaan, ketakutan dan sebagainya.
Tanda khas yang sering menyertai gejala tersebut adalah
1. Sering merasa pusing. Bisa juga mengalami stupor bagaikan terbius dan
tidak merasakan apa-apa. Kadang-kadang seperti dalam keadaan trance
(seperti dalam mimpi yang spiristis, merawankan jiwa )
2. Menjadi
sangat
pelupa
atau
pikun,
sering
dibarengi
symptom
somnabulistis, fugue, ataupun pribadi majemuk.
3. Adakalanya timbul keakitan-kesakitan histeris sekalipun tidak ada
kesakitan organis yang disebabkan oleh sugesti diri dan ide-ide fixed yang
salah ( merasa betul-betul sakit ).
4. Ada juga yang menderita kelumpuhan, anggota badan menjadi kaku, buta,
tuli dan disertai invalidisme lain-lain yang sifatnya sementara.
5. Sangat sugestibel, egosentris , selfish, dengan emosi yang tidak stabil.
6.
Ada tics ( gerak-gerak fical, diwajah ) dan tremor atau selalu bergetar atau
gemetaran, ada juga yang sering kali kejang-kejang dan mau muntah.
19
7. Ada anaesthesia, yaitu tidak bisa merasa apa-apa. Dan sering mendapat
gangguan pada alat pernapasan.
Ciri – ciri kepribadian penderita histeria sebagai berikut :
1. Pasien bersifat sangat egoistis, selfish dan semau sendiri, perangainya
semisal anak yang manja. Selalu menginginkan perhatian dan belas
kasihan sebanyak-banyaknya, disamping mengharapkan pujian.
2. Selalu merasa tidak bahagia sangat sugestibel dan sensitive sekali terhadap
opini orang lain. Selanjutnya dia melakukan semua sugesti orang lain itu
untuk mendapatkan pujian, perhatian dan persetujuan. Akibatnya, ia malah
mengalami banyak kebingungan dan konflik batin.
3. Emosinya sangat kuat dan semua penilaiannya ditentukan oleh rasa suka
tidak suka yang kuat.
4. Selalu cenderung untuk melarikan diri dari kesulitan dan hal-hal yang
tidak menyenangkan. Lalu berusaha dengan symptom-simptom fisik yang
sengaja dibuat-buat, ditiru atau dihebatkan berupa gejala pingsan dan purapura sakit, untuk memperpanjang usaha melarikan diri , atau berusaha
untuk mendapat kan maaf serta belas kasihan dari orang luar, tujuan utama
dari perbuatannya ialah untuk menghindari tugas-tugas tertentu atau
menghindari situasi yang tidak menyenangkan.
Pendapat aliran psikoanalisa mengatakan bahwa kelemahan pribadi berupa
pembawaan. Timbul fiksasi ide-ide yang keliru dan macam-macam perasaan
negative ( malu, bersalah, berdosa, gagal ) yang ditekan menjadi komplek
terdesak dan kemudian timbul menjadi banyak komplik internal, elemenelemen yang ditekan dalam ketidaksadaran itu lalau ditampilkan keluar
melalui motor behavior. Jadi, symptom histeris itu merupakan ekspresi yang
dikamuflase dari fiksasi ide-ide dan elemen-elemen yang ditekan tadi.
Selanjutnya terjadi dissosiasi antara dirinya dengan lingkungannyadalam
berbagai bentuk dan graadasi.
20
E. Perbedaan Antara Histeria Dan Kerasukan
Histeria seringkali dikaitkan dengan kerasukan. Masyarakat umum malah
lazimnya menganggap histeria dan kerasukan adalah perkara yang sama yaitu
gangguan yang berpuncak daripada ‘hantu’ atau ‘makhluk halus’. Tanggapan
ini kebiasaannya berlegar sekitar masyarakat Melayu. Walau bagaimanapun,
perbedaan ini sukar untuk ditentukan yang mana ada yang menyebut bahwa
histeria berlaku terhadap ramai mangsa dan kerasukan berlaku kepada
individu.
Tanggapan ini ada agak kurang tepat jika diteliti dari sudut konteks
konseptual dan penggunaan istilah tersebut. Secara konsepnya kerasukan lebih
cenderung untuk dipahami sebagai perbuatan gangguan makhluk halus seperti
jin dan syaitan, manakala histeria pula merupakan keadaan atau natijah yang
berlaku ke atas seseorang individu kesan daripada rasukan, atau secara
ringkasnya, rasukan itu menyebabkan terjadinya histeria.
Berdasarkan pengamatan terhadap pandangan beberapa orang ilmuan,
antaranya Amran Kasimin dan Haron Din, histeria merupakan akibat
gangguan personaliti yang menyebabkan kehilangan fungsi fisik. Antara
penyebab histeria terjadi adalah disebabkan oleh faktor psikologi, tekanan
hidup, atau gangguan makhluk halus yaitu Jin dan syaitan. Sedangkan
menurut Ustadz Muna b. Hamzan mengatakan: “Histeria adalah suatu bentuk
gangguan yang dialami oleh seseorang yang disebabkan dari faktor kejiwaan
atau ganguan jin yang berlaku secara tiba-tiba atau luar kawalan”.
Jin dan syaitan adalah unsur yang wujud dalam kepercayaan agama Islam
yaitu salah satu makhluk Allah yang diciptakan dan mendiami bumi bersama
manusia. Kejadiannya adalah salah satu bukti kekuasaan Allah dan
mengandungi hikmah dan pengajaran kepada umat manusia, sebagaimana
firman Allah SWT dalam al-A’raf 7:16-17 :
“Iblis berkata: Oleh kerana Engkau (wahai Tuhan) menyebabkan daku
tersesat (maka) demi sesungguhnya aku akan mengambil tempat
menghalangi mereka (dari menjalani) jalanMu yang lurus; (16) Kemudian
aku datangi mereka dari hadapan mereka serta dari belakang mereka,
21
dan dari kanan mereka serta dari kiri mereka dan Engkau tidak akan
dapati kebanyakan mereka bersyukur.”.
Pada pandangan umum, seringkali tidak dapat membedakan di antara
histeria dan rasukan. Istilah histeria merujuk kepada gangguan yang berlaku
terhadap ramai pesakit. Sekiranya gangguan yang berlaku terhadap individu,
maka ia diistilahkan sebagai rasuk. Artinya, histeria dan rasukan makhluk
halus sememangnya ada unsur persamaan. Histeria berlaku kerana makhluk
halus atau jin marah atau berdendam terhadap manusia selepas ia diganggu.
Jin memang boleh meresapi badan manusia dan ada hadith menyokong
kenyataan ini.
Walau bagaimanapun, hasil pengamatan tidak menolak pandangan yang
mengatakan bahawa histeria adalah berkait dengan masalah psikolgi yang
mana menjadikan mangsa tertekan dan tidak dapat mengawal perasaan dan
emosi lantas bertindak di luar kawalan sebagaimana yang dinyatakan oleh
Ketua Jabatan Perubatan Psikologi Pusat Pakar Universiti Malaya, Profesor
Mohamad Hussain Habil. Masalah histeria berkait rapat dengan kepercayaan
seseorang terhadap perkara mistik dan karut marut, namun ia sebenarnya
disebabkan masalah psikologi serta tekanan perasaan. Kepercayaan karut
mempengaruhi jiwa seseorang sehingga mereka mengalami histeria.
Berdasarkan kajian diatas histeria merupakan gabungan dua faktor yaitu
disebabkan tekanan dan gangguan. Apabila tertekan sama ada di sekolah,
tempat kerja, cinta atau pergaduhan, diri hilang pertimbangan dan karena hal
tersebut makhluk halus atau Jin mudah menguasai diri.
F. Pengobatan Histeria
Kebanyakan masyarakat beranggapan bahawa histeria merupakan
gangguan terhadap seseorang yang akan hilang atau pergi dengan sendirinya.
Walau bagaimanapun, tanggapan ini ternyata tidak berasas kerana secara
keilmuan, histeria dikategorikan sebagai salah satu bidang penyakit mental
dan psikatri. Pandangan ini disokong oleh Mufti Kerajaan Brunei Darussalam
di dalam bukunya bahawa histeria adalah satu penyakit kerana ia memerlukan
perawatan untuk penyembuhan. Rawatan yang disarankan bagaimanapun
22
adalah rawatan yang menggunakan ayat-ayat al-Quran berbanding rawatan
biasa seperti ujian darah, x-ray dan sebagainya, (Abdul Aziz bin Juned (2005).
‘Abd Latif Othman berkata bahwa histeria adalah sebagian daripada
kebanyakan penyakit yang berlaku di berbagai bangsa di dunia. Menurut
beliau lagi penyakit ini telah dikenali semenjak dahulu yaitu kurun ke lima
Masehi dan penyakit ini berlaku secara tiba-tiba dan akan hilang juga secara
tiba-tiba, (Maktabah al-Turath Islami, h.122). Sedangkan menurut Dr. Ahmad
Fahmy (2015), histeria adalah dikatogorikan sebagai penyakit: “Histeria
adalah boleh dikaitkan dengan keadaan psikologi yang tidak stabil dan
ditambah buruk dengan faktor gangguan luar. Ini karena hasil penelitian yang
telah dibuat terhadap penderita histeria mendapati penderita histeria ini
mengalami tekanan perasaan atau emosi yang tinggi semasa serangan
tersebut.”
Histeria seringkali menjadi perdebatan dalam sejarah dunia medis karena
usaha mengenal pasti wujud histeria juga banyak bergantung kepada faktor
budaya, nilai dan kepercayaan sesuatu masyarakat. Sedangkan secara teorinya,
pernah terjadi semenjak penciptaan Nabi Adam AS. Ini dapat dibuktikan
dengan peristiwa-peristiwa yang dirakamkan di dalam hadith Nabi SAW,
dalam satu peristiwa, Ibn Mas’ud ada meriwayatkan sebuah hadith dengan
katanya yang bermaksud: Apabila Rasulullah bersembahyang, baginda
membaca: “Wahai Tuhanku aku berlindung kepada-Mu daripada kejahatan
syaitan yang direjam, juga daripada rasukan, daripada tiupan dan
hembusannya”, sehingga menurut Amran Kasimin (1994), hadith ini boleh
dijadikan dalil ataupun hujah wujudnya penyakit akibat rasukan Jin terhadap
manusia, karena telah di contohkan oleh Rasulullah membaca doa
perlindungan (yang bermaksud di atas) untuk mengelakkan daripada terkena
penyakit tersebut.
Di dalam hadith yang lain, Abi al-Yasar meriwayatkan bahawa Rasulullah
pernah berdoa dengan doa yang bermaksud ialah : “Ya Allah, Aku berlindung
kepada-Mu daripada lemah kerana tua, daripada ditimpa keburukan,
kecelakaan, kedukaan, kebakaran serta lemas. Aku juga berlindung kepada-
23
Mu daripada dirasuk syaitan di saat-saat menghadapi kematian. Lindungilah
akan daku daripada ditikam curi (dibunuh), ketika berjihad di jalan-Mu. Dan
aku berlindung dengan-Mu daripada mati dipatuk binatang buas.” (Sunan
Abu Dawud Bab. al-Isti’adhah, no.Hadith 1328).
Hadith berkaitan rawatan Nabi terhadap rasukan sebagaimana peristiwa
yang terjadi kepada Ubay Ibn Ka’ab ketika dia bersama dengan Rasulullah,
Ubay Ibn Ka’ab pernah berkata: “Ketika aku sedang bersama-sama
Rasulullah seorang Badwi telah datang menemui baginda lalu berkata,
“Wahai Nabi Allah, aku mempunyai seorang saudara yang sedang dihidapi
penyakit.” Rasulullah bertanya: “Apa sakitnya?” Lelaki tadi menyataka: “Dia
terkena sakit gila.” Lalu baginda menyuruhnya agar membawakan
saudaranya itu menemui baginda. Pesakit dibawa menghadap dan duduk di
hadapan Nabi. Baginda telah berdoa memohon kesembuhan bagi pesakit tadi,
lalu dengan izin Allah, sembuh.” (Sunan Ibn Majah Kitab al-Tib, Bab al-Far’u
Wa al-Irq Wa Ma Yatawwazu Minhu no. Hadith: 3549)
Begitu juga dengan kisah Imam Ahmad mengusir jin dari badan orang
yang kerasukan yang mana diceritakan oleh al-Qadi Abu Ya’la mengatakan
bahawa seorang budak perempuannya kerasukan jin. Maka utusan itu meminta
agar Imam Ahmad mengubatinya. Lalu dia mengeluarkan kasutnya dari kayu
yang biasa dia gunakan untuk mengambil wudhu. Kemudian dia berkata
kepada utusannya itu, “Pulanglah ke rumah Amirul Mukminin, duduklah di
dekat budak itu dan ucapkan kepada Jin yang merasukinya mana yang lebih
kamu sukai kamu keluar dari tubuh badan budak ini, ataupun dipukul dengan
terompah kayu ini sebanyak tujuh puluh kali”. Maka utusan itu pun kembali
dan mengucapkan sebagaimana yang diajar oleh Imam Ahmad tadi. Maka
menerusi lisan budak itu jin pun berkata, “Aku tunduk dan patuh. Sekiranya
Imam Ahmad menyuruhku untuk keluar dari lraq, kami pun melakukannya,
kerana dia taat kepada Allah. Siapa pun yang taat kepada Allah aku akan taat
kepadanya.”, maka jin itu keluar dari tubuh budak itu dan setelah itu dia
menjadi normal kembali. Setelah Imam Ahmad meninggal dunia, jin kembali
masuk ke budak itu. Al-Mutawakkil mengirim utusan kepada rakannya, Abu
al-Marwazi dan menceritakan apa yang terjadi lalu al-Mawarzi mengambil
24
terompahnya dan pergi menemui budak perempuan tadi. Maka menerusi lisan
budak itu, jin berkata, “Aku tidak akan keluar dari tubuh wanita ini. Aku tidak
mahu taat kepadamu dan aku tidak mahu menerima apapun darimu.” Imam
Ahmad adalah seorang yang taat kepada Allah dan kami diperintahkan untuk
taat kepadanya, (Al-Hafiz Jalal al-Din al-Suyuti, 2007).
Menurut Amran Kasimin (1994), peristiwa-peristiwa seperti ini banyak
tercatat dalam hadith-hadith, membuktikan bahwa sakit seperti ini
sememangnya ada dan pernah berlaku di zaman Rasulullah juga pada zaman
para sahabat. Terapi histeria hendaknya dilakukan dengan membacakan ayatayat al - Quran dan sunah rosululloh SAW sebagaimana yang dilakukan para
sahabat, Imam Ahmad Bin Hambal, Ibnu Tayimiyah, Ibnul Qayyim alJauziyah.
Adapun cara pengobatan atau perawatan yang berkembang saat ini. Akan
tetapi sebelumnya pasien harus menyadari bahwa simptom-simptomnya itu
adalah akibat dari cara berfikir, cara bertindak dan cara penyesuaian diri yang
salah terhadap segenap kesulitan hidup yang dihadapi. Tujuan pengobatan
adalah untuk menemukan masalah mendasar dan membantu orang
mengatasinya. Tidak ada pengobatan medis dapat menyembuhkan gejala
histeria, jadi semuanya tergantung pada simpatik, psikoterapi pasien. Satusatunya obat yang dapat diresepkan untuk histeria adalah obat penenang untuk
membantu orang bersantai sementara masalah mendasar sedang ditemukan
dan gejala-gejala secara bertahap dieliminasi
Pengobatan spontan dan cepat terlihat bila disebabkan dari stres yang
menjadi penyebabnya. Model komunikasi yang sering bermanfaat: titik berat
diberikan pada pengertian dari ketidakmampuannya yang ingin diberitahukan
kepada orang lain atau konflik intervalnya. Beri psikoterapi bila reaksi yang
timbul didasarkan atas suatu konflik emosional yang berlangsung lama.
Hindarkan preokupasi yang tidak perlu terhadap keluhan fisik: terapi hanya
diberikan berdasarkan indikasi medik yang tepat dan bukan sebagai metode
“reassurance” (meyakinkan). Kurangi sebanyak mungkin keuntungan yang
diperoleh dari peran sakit. (H.G MORGAN dan M.H MORGAN, 1988)
25
. Dalam kasus yang jarang pengobatan yang dikenal sebagai "abreaksi,"
yang tidak melibatkan obat-obatan, mungkin disarankan. Ia bekerja terbaik
bagi orang-orang yang histeris karena shock, tunggal emosional parah.
Seseorang mengalami abreaksi harus berbaring di ruangan yang tenang dan
gelap. Untuk lebih datang resistensi untuk membahas subjek yang
menyakitkan, orang itu dimasukkan ke dalam keadaan hipnosis baik dengan
bernapas eter atau disuntik dengan obat khusus. Kemudian, ketika benar-benar
santai, ia diminta untuk mengingat dalam pengobatan penyakit rinci insiden
yang memicu reaksi histeris. Hanya menghidupkan kembali pengalaman
ditekan dengan cara ini sering menghilangkan gejala histeria. Karena yang
sebenarnya tubuh tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Beberapa artikel menjelaskan cara pengobatan alternatif terhadap
penderita hysteria, namun masih perlu penelitian lebih lanjut untuk menilai
kesesuaian dari pengobatan alternative tersebut, diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Perawatan histeria menggunakan Jamblang
Buah berry hitam dianggap sebagai obat rumah yang efektif untuk histeria.
Caranya yaitu dengan memasukkan tiga kilogram buah bery kedalam kendi air
yang telah dilarutkan segenggam garam. Kendi harus disimpan di bawah sinar
matahari selama seminggu. Seorang perempuan yang menderita histeria harus
memakan buah-buahan ini dalam keadaan perut kosong, dan minum secangkir
air dari kendi. Perawatan ini dilakukan selama dua minggu.
2. Pengobatan menggunakan Madu
Madu dianggap sebagai alternatif lain untuk histeria. Dianjurkan untuk
meminum satu sendok madu setiap hari.
3. Perawatan histeria menggunakan labu Botol
Botol labu berguna sebagai aplikasi eksternal dalam histeria. Pulp
Macerated segar sayuran ini harus diterapkan di atas kepala pasien dalam
pengobatan penyakit ini.
26
4. Perawatan histeria menggunakan Selada
Selada dianggap berharga dalam penyakit ini. Secangkir jus segar daun
selada, dicampur dengan satu sendok teh Indian gooseberry (indian
gooseberry) jus, harus diberikan setiap hari di pagi hari selama satu bulan,
sebagai obat dalam pengobatan histeria.
5. Perawatan histeria menggunakan Rauwolfia
Rauwolfia rempah ini sangat berguna untuk histeria. Satu gram bubuk akar
harus diberikan dengan satu cangkir susu di pagi hari maupun di malam hari.
Perawatan harus dilanjutkan sampai obat lengkap telah diperoleh.
6. Perawatan histeria menggunakan Asafoetida
Asafoetida juga telah terbukti bermanfaat dalam pengobatan penyakit ini.
Berbau permen karet ini mencegah serangan histeris. Jika diambil secara lisan,
dosis harian harus 0,5-1,0 mg. Suatu emulsi terdiri dari 2 mg dari karet dengan
120 ml air adalah Enema berharga dalam histeria, ketika pasien menolak
mengambil karet secara lisan.
Dalam kebanyakan kasus histeria, itu diharapkan bagi pasien untuk memulai
perawatan dengan mengadopsi buah yang semuanya diet selama beberapa
hari, mengambil makan tiga kali sehari dari buah-buahan segar seperti jeruk,
apel, anggur, jeruk, pepaya, dan nanas.
7. Susu eksklusif diet
Hal ini mungkin diikuti dengan diet susu eksklusif selama sekitar satu
bulan. Diet susu akan membantu untuk membangun lebih baik memberi
makan darah dan saraf. Jika diet susu penuh tidak nyaman, diet susu dan buahbuahan mungkin dapat diadopsi. Pasien mungkin, setelah itu, secara bertahap
memulai atas diet seimbang dari biji-bijian, kacang-kacangan, biji-bijian,
sayuran, dan buah-buahan.
8. Hindari teh, kopi, alkohol dll
Pasien harus menghindari alkohol, teh, kopi, tembakau, gula putih dan
tepung putih, dan produk yang dibuat dari mereka.
27
9. Menduduki kontrol diri dan pikiran
Pasien harus diajarkan pengendalian diri dan dididik dalam kebiasaan
yang benar berpikir. Pikirannya harus ditarik jauh dari dirinya sendiri dengan
beberapa cara. Pendidikan seks yang layak harus disediakan dan pasien yang
sudah menikah harus diajarkan untuk menikmati hubungan seksual yang
normal.
10. Latihan dan permainan di luar ruangan
Latihan dan permainan di luar ruangan juga penting. Mereka mengambil
pikiran jauh dari diri dan mendorong kegembiraan.
11. Yogasanas
Yogasanas
shalabhasana,
yang
berguna
matsyasana,
dalam
histeria
Dhanurasana,
adalah
halasana,
bhujangasana,
Paschimottanasana,
yogamudra, dan shavasana. Pasien lemah, yang tidak mampu berbuat banyak
aktif latihan, mungkin akan diberi pijatan tiga atau empat kali seminggu.
G. Prognosis dari Histeria
Tergantung
pada
kondisi
yang
menyertai,
masalah
lingkungan,
kepribadian dan masalah – masalah yang menjadi penyebabnya.
Dikatakan Baik : bila timbul akut, konfliknya jelas, faktor – faktor sosial
yang mudah diselesaikan atau berkaitan dengan intoksikasi obat. Dan Buruk :
bila berhubungan dengan kepribadian yang sukar dikendalikan atau problem
situasional yang sulit. Pasien tetap bersifat bermusuhan dan kurang kooperatif
dalam pengobatan. Pria 43%, wanita 35% mempunyai gejala – gejala residu
setelah 1th.
28
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan kepada pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kerasukan
adalah sesuatu yang benar-benar ada dan menjadi penyebab berlakunya
histeria. Selain daripada itu, segala pandangan dan buah pemikiran para ulama
yang diketengahkan juga menyokong perihal rasukan jin ke dalam diri
manusia dapat mengakibatkan seseorang tidak sadarkan diri dan mengalami
histeria. Hal ini mengacu pada dalil ‘aqli, al-Quran dan al-Sunnah serta
pandangan-pandangan daripada para ulama yang dikemukakan, yang sangat
bertepatan dan selaras dengan pemahaman yang sebenarnya tentang histeria
dan kaitannya dengan rasukan dan gangguan jin.
Dalam memuktamadkan pandangan dan kajian terhadap gangguan dan
rasukan jin sebagai penyebab dari timbulnya histeria ini, penulis tidak pula
menolak pandangan para ilmuan kontemporari yang menunjukkan bahwa
histeria, selain daripada disebabkan gangguan jin dan syaitan, juga
dipengaruhi oleh faktor tekanan psikologi, keadaan emosi yang tidak stabil
dan keadaan fisik yang lemah. Aspek-aspek psikologi dan fisik sepertimana
yang diikemukakan oleh ilmuan kontemporari ini pula bagaimanapun perlu
diteliti dan dianalisa dengan lebih mendalam agar histeria itu tidak dilihat dari
sudut pandangan fisik saja.
Karena kejadian histeria tidak seharusnya dipandang sebagai akibat
daripada gangguan dan tekanan psikologi semata, di mana seseorang atau
penderita hanya diobati dan di tangani oleh dokter ataupun dokter psikologi
yang pakar di dalam bidang tersebut. Namun penting untuk diingatkan bahwa
setiap kejadian, peristiwa dan penyakit yang menimpa seseorang manusia itu
tidak akan berlaku melainkan atas izin Allah SWT.
29
Oleh sebab itu, dalam mencari jalan penyelesaian utuk kejadian-kejadian
histeria melalui sudut penyelesaian menggunakan kepakaran dokter dan
kemahiran psikologi semata-mata adalah tidak begitu tepat. Seseorang itu juga
perlu mengimani bahwa Allah SWT adalah Maha berkuasa dan dialah yang
memberi kebaikan dan keburukan kepada manusia dengan izin-Nya, sehingga
setiap orang yang sakit memerlukan kuasa Allah SWT sebagai penyembuh.
B. Saran
1. Institusi Pendidikan
Agar memberikan feedback positif terhadap makalah ini, agar bila terjadi
kesalahan dalam penulisan ataupun kekeliruan dalam isi materi makalah ini
dapat di perbaiki dan tidak menimbulkan salah tafsir datau pro kontra yang
menyebabkan timbulnya masalah baru, sehingga di penulisan kedepan
makalah ini dapat dikembangkan dengan lebih baik.
2. Mahasiswa
Agar Mahasiswa lebih bisa mengembangkan pemahaman mengenai kasus
“Hysteria” yang terjadi di kalangana masyarakat, mempelajari fenomena dan
literature yang terbaru sehingga makalah ini dapat diperbaiki dan
menghasilkan acuan literartur
yang dapat
pembelajaran keperawatan.
30
digunakan dalam proses
Download