Makalah HISTERIA Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Asuhan Keperawatan Spiritual Muslim Disusun Oleh : Kelompok 6 1. Ghaida Bilqis Sopandi 312018062 2. Rima Isnaimun Sitompul 312018057 3. Rita Rahmawati 312018020 PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) ‘AISYIYAH BANDUNG Jl. K. H. Ahmad Dahlan No. 6 Bandung KATA PENGANTAR ِب ۡس ِم ه ٱلر ِح ِيم ٱلر ۡح َٰم ِن ه ٱَّللِ ه Assalammuallaikum wr.wb Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana telah melimpahkan rahmatnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah menegenai kasus “Hysteria” ini dengan lancar dan tanpa hambatan sedikitpun. Allah Maha Besar. Namun, kami menyadari kalau kami adalah manusia biasa yang tak pernah luput dari kekurangan demikianpun apa yang kami buat ini. Kami banyak berharap kritik dan saran dari pembaca sehingga kami dapat menyempurnakan laporan-laporan yang akan kami buat kedepannya. Kiranya dapat berguna bagi pendidikan kesehatan khususnya bagi perawat dan pembaca. Adapun tujuan kami membuat analisa kasus ini yaitu untuk menyelesaikan tugas kuliah Asuhan Keperawatan Spiritual Muslim. Terimakasih kepada dosen-dosen yang mengajar kami sebagai pembimbing kami dalam kuliah keperawatan jiwa, semua teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam pembuatakan makalah ini sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Kami tidak bisa membalas semua itu dan semoga semua itu akan di balas oleh Allah SWT. Amien Bandung, 31 Maret 2019 Kelompok 6 i DAFTAR ISI Halaman Kata Pengantar .............................................................................................. i DAFTAR ISI .................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang ..................................................................................... 1 B. Tujuan Penulisan .................................................................................. 2 C. Manfaat Penulisan ................................................................................ 3 BAB II TINJAUAN TEORI .......................................................................... 4 A. Pengertian ............................................................................................ 4 1. Histeria Dari Sudut Bahasa dan Istilah .......................................... 4 2. Pandangan berasaskan Nas al-Quran dan Hadiths ......................... 5 3. Pandangan Para Sarjanawan Tentang Histeria ............................... 8 B. Etiologi Histeria ................................................................................... 11 C. Jenis-Jenis Histeria ............................................................................... 12 D. Tanda dan Gejala ................................................................................. 13 E. Perbedaan antara Histeria dan Kerasukan ............................................ 21 F. Pengobatan Histeria ............................................................................ 22 G. Prognosis Histeria ............................................................................... 28 BAB III PENUTUP ....................................................................................... 29 A. Kesimpulan .......................................................................................... 29 B. Saran .................................................................................................... 30 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... iii ii DAFTAR PUSTAKA American Psychological Association. (2009). APA Concise Dictionary of Psychology. Washington DC Amran Kasimin & Haron Din. (1994). Rawatan Gangguan Makhluk Halus Menurut al-Quran dan as-Sunnah. Cetakan ke-4. Kuala Lumpur: Percetakan Watan Sdn. Bhd Hidayat, D. R. 2015. Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia Ibn Manzur, Muhammad bin Mukram bin Manzur al-Afriqi al-Majani. (1955). Lisan al-Arab jil. 2. Beirut: Dar al-Sadir Ibn Qayyim al Jauziyyah, Sham al-Din Abu ‘Abd Allah, Muhammad bin Abi Bakr. (1990. al-Tib al-Nabawi. Beirut Lubnan: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Malaysia, Journal Islamiyyat 36(2) 2014 dalam J.P. Chaplin. Dictionary of Psychology. New York: Dell Publishing Co. Inc. Intan Farhana Saparuddin et.al. (1985). Simptom Histeria dalam Kalangan Remaja Sekolah di Malaysia. Journal Islamiyyat 36 (2) 2014 dalam Fakhir Akil, Mu’jam ilm al-nafs. Beirut: Dar al-‘Ilm. Joyce M. Hawkins. (2001). Kamus Oxford. London: Oxford University Press Khadher Ahmad dan Ishak Hj. Suliaman. (2012). Sihir dan Rawatannya Menurut Perspektif Ibn Qayyim Al-Jawziyyah (691H/1292M-751H/1350M): Satu Analisis, dalam Jurnal ILIM. Bandar Baru Bangi, Selangor: Institut Latihan Islam Malaysia (ILIM), bil.5 Khadher Ahmad. (2012). “Analisis Hadith-Hadith Mengenai Rawatan Sihir Dalam al-Kutub al-Sittah: Aplikasi di Pusat Rawatan Islam di Malaysia”. Tesis Ijazah Doktor Falsafah, Jabatan al-Quran & al-Hadith, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Kuala Lumpur. iii Khadher Ahmad. (2012). “Satu Kajian Kaedah Rawatan sihir di Pusat-pusat Rawatan Islam di Malaysia” dalam PERSPEKTIF: A Sosial Sciences and Humanities Journal, Tanjung Malim. Perak: Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), vol.4, no.1. Khadher Ahmad, Mohd Farhan Md Ariffin & Ishak Suliaman. (2014). Pusat Rawatan Alternatif Islam di Malaysia: Analisis terhadap Latar Belakang Pengasas dan Isu Penggunaan Jin dalam Rawatan. Jurnal Usuluddin 40 (Julai-Disember 2014): 71-98 Khadher Ahmad, Mohd Farhan Md Ariffin. (2015). Pusat Rawatan Alternatif Islam di Malaysia: HISTERIA DARI PERSPEKTIF AL-QURAN DAN HADITH: SATU ANALISIS (Hysteria from the Qur’anic and Hadith Perspective: An Analysis). Jurnal al-Tamaddun Bil 10 (2) 2015, 35-5 Mohd Khairi Zainuddin, et al. (2007). Al-Miftah. Selangor: al-Azhar Media Enterprise Morgan, H.G. 1988. Segi Praktis Psikiatri. Binarupa Aksara, Jakarta. Noresah bt Baharom. (2009). Kamus Dewan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Wahid ‘Abd al-salam Bali. (2012). Jin Dan Syaitan Dalam Kehidupan Manusia. Kuala Lumpur: Al-Hidayah House of Publisher iv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan jiwa yang sudah lama di kenal sejak dulu ialah hysteria. Sebenarnya sejarah histeria dikatakan sudah ada sejak lebih dari 2000 tahun, dan bersifat misteri tanpa ada satu pun penerangan jitu yang dapat dikaitkan dengannya. Histeria seringkali menjadi perdebatan dalam sejarah dunia medis kerana usaha mengenal pasti pengertian dan penyebab histeria juga banyak bergantung kepada faktor budaya, nilai dan kepercayaan sesuatu masyarakat. Pada permulan orang menyangka bahwa yang dihinggapi penyakit ini hanya kaum wanita. Akan tetapi kemudian pendapat itu berubah setelah Freud menemukan bahwa laki-laki pun dapat dihinggapi penyakit ini. Histeria merupakan suatu respon psikologik, biasanya terjadi pada tingkat di bawah sadar dan berhubungan dengan konflik internal yang tidak terselesaikan atau stress eksternal yang akut.(H.G Morgan dan M.H Morgan). Histeria adalah sejenis degenerasi sistem saraf yang tampak dalam kekurangmampuan untuk menghadirkan pola pikir yang realistis dan sesuai dengan ketenangan jiwa (Janet, 2007 dalam Psikoanalisis Sigmund Freud). Histeria juga seringkali dikaitkan dengan kerasukan. Masyarakat umum malah lazimnya menganggap histeria dan kerasukan adalah perkara yang sama yaitu gangguan yang disebabkan oleh ‘hantu’ atau ‘makhluk halus’. Tanggapan ini kebiasaannya berlegar sekitar masyarakat Melayu. Walaubagaimanapun, perbedaan ini sukar untuk ditentukan yang mana ada yang menyebut bahwa histeria berlaku terhadap orang banyak dan kerasukan berlaku kepada individu. 1 Histeria berada dalam kategori ilmiah dan medis diartikan sebagai mental dan penyakit kejiwaan. Menurut bagian diagnostik dan statistical manual of mental disorder yang berisi daftar berbagai gangguan mental dan psikologis menjadi tujuh tipe salah satunya gangguan jiwa biasa atau yang dikenal sebagai histeria. Seperti gangguan jiwa lainnya hysteria juga terjadi akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi kesukaran-kesukaran, tekanan perasaan, kegelisahan, kecemasan, dan pertentangan batin. Dalam menghadapi kesukaran ia tidak mampu menghadapinya dengan cara yang wajar, lalu melepaskan tanggung jawab dan lari secara tidak sadar kepada gejala-gejala hysteria.. Fenomena histeria sering juga terjadi pada remaja di sekolah. Banyak di berbagai sekolah yang diberitakan di televisi maupun surat kabar bahwa siswi mereka mengalami histeria massal. Boleh dikatakan bahawa kejadian histeria hampir berlaku setiap tahun khususnya dalam kalangan pelajar sekolah. Ini tidak termasuk kejadian yang tidak dilaporkan dalam berita. Jadi, apakah sebenarnya kasus histeria ini dan bagaimana untuk memahami kejadian ini berdasarkan rujukan terhadap dalil al-Quran, hadith dan sarjanawan. Untuk itu, penulis berusaha untuk mengemukan nas daripada al-Quran dan hadith serta dikemukakan bersama pandangan para ulama dalam menjelaskan tentang histeria dari berbagai sudut pandangan, turut dikaitkan juga pemahaman dalam kalangan sarjanawan Barat supaya pemahaman terhadap istilah histeria ini adalah jelas dan nyata. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui teori mengenai hysteria secara umum 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui definisi dari Histeria b. Mengetahui apa saja etiologi dari berbagai pandangan c. Mengetahui dan memahami apa saja tanda dan gejala histeria 2 d. Mendeskripsikan jenis – jenis dari histeria e. Mengetahui dan memahami pengobatan yang dapat diterapkan bagi penderita histeria f. Mengetahui prognosis dari histeria g. Mengetahui penanganan yang tepat bagi klien histeria massal C. Manfaat Penulisan 1. Membantu mahasiswa dalam proses belajar mengajar dalam memberikan Asuhan Keperawatan Spiritual Muslim pada pasien histeria 2. Membantu mahasiswa dalam mempelajari fenomena histeria h. Membantu mahasiswa mengembangkan pemahaman mengenai perawatan dan pengobatan pada kasus histeria 3 BAB II TINJAUAN TEORI A. Pengertian 1. Histeria Dari Sudut Bahasa dan Istilah Histeria merupakan suatu respon psikologik, biasanya terjadi pada tingkat di bawah sadar dan berhubungan dengan konflik internal yang tidak terselesaikan atau stress eksternal yang akut (H.G Morgan dan M.H Morgan). Histeria menggambarkan gangguan pada gerak-gerik jiwa dan rasa dengan gejala luapan emosi yang sering tidak terkendali seperti tiba-tiba berteriakteriak, menangis, tertawa, mati rasa, lumpuh, dan berjalan dalam keadaan sedang tidur, (https://kbbi.web.id/histeria). Histeria dari sudut bahasa bermaksud melempar, jatuh ke tanah (Ibn Manzur, Muhammad bin Mukram bin Manzur al-Afriqi al-Majani , 1955). Manakala merujuk kepada istilah bahasa ‘Arab, histeria disebut sebagai alDarra, yang sering dikaitkan dengan gangguan makhluk halus. Perkataan histeria sebenarnya berasal daripada istilah Greek yaitu hystron yang bermaksud rahim yang merayau-rayau. Manakala menurut Mu’jam ‘Ilm alNafs menyatakan histeria di dalam istilah Arab disebut histiriya () ايريتسه atau hara’un ( ) عرهyaitu satu istilah umum yang digunakan bagi menggambarkan kecelaruan fungsi yang disifatkan dengan kebimbangan tanpa alasan yang kukuh. Seperti yang ditunjukkan dengan beberapa gejala pengasingan dan pertukaran seperti amnesia, hilang deria rasa fungsi, lumpuh, personaliti pelbagai dan seumpamanya (Intan Farhana S, et.al, 2014). Menurut Kamus Dewan, histeria adalah penyakit urat saraf yang terlihat pada letusan-letusan emosi yang tidak dapat dikawal (Noresah bt Baharom, 2009). Dalam Kamus Oxford Joyce M. Hawkins (2001), histeria diterjemahkan sebagai sesuatu keadaan di mana seseorang atau sekumpulan manusia tidak dapat mengawal perasaan mereka, sebagai contoh tidak dapat 4 berhenti tertawa, menangis, menjerit dan sebagainya. Sedangkan dalam kamus Dictionary of Psychology American Psychological Association (2009) Hysteria disebut sebagai gangguan somatik dengan simptom seperti lumpuh, hilang daya penglihatan, hilang deria rasa, halusinasi dan sering berada dalam keadaan mudah dipengaruhi. Merriam Webster Dictionary mengartikan histeria sebagai keadaan di mana emosi (seperti takut) adalah begitu kuat dan berkelakuan dengan cara yang tidak terkawal. Ia juga dikaitkan dengan keadaan di mana beberapa orang berkelakuan atau bertindak balas dengan cara yang melampau atau tidak terkawal kerana takut, marah, dan lain-lain. Sedangkan menurut Mohd khairi Zainuddin, et al. (2007) dalam al-Miftah, histeria disebut al-Sar’u bermaksud sawan babi atau menghidap sawan babi atau epilepsy.). Histeria juga disebut kekacauann neurosis yang secara umumnya dikategorikan sebagai emosi yang tidak stabil, penekanan, penarikan diri dan keadaan mudah dipengaruhi. Ciri-ciri penting kekacauan ini ialah conversion histeria yaitu keadaan konflik mental yang ditukarkan kepada simptom fisik seperti lumpuh, buta dan tidak sedar. Ciri-ciri lain ialah berjalan semasa tidur, penarikan diri atau hilang ingatan mengenai diri masa lampau dan kepelbagaian personaliti iaitu individu memiliki kepelbagaian personaliti yang berbeda daripada keadaan sadarnya (Intan Farhana S, et.al, 2014). 2. Pandangan Berasaskan Nas al-Quran dan Hadiths Histeria atau dalam istilah Melayu lebih dikenali sebagai kerasukan merupakan sesuatu yang benar-benar wujud. Terdapat nas al-Quran dan hadith yang menyebutkannya sama ada bersifat khusus ataupun secara rawak/umum. Dalam al-Quran, Allah SWT berfirman: “Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri betul melainkan seperti berdirinya orang yang dirasuk syaitan dengan terhuyung-hayang kerana sentuhan (syaitan) itu....” (Al-Baqarah 2:275) Istilah ‘dirasuk’ ditafsirkan oleh Ibn Kathir dalam tafsir al-Quran al-‘Azim sebagai keadaan pemakan riba yang tidak dapat berdiri dengan betul pada hari 5 kiamat, mereka akan berjalan terhuyung-hayang seperti orang kerasukan. Menurut Imam al-Qurtubi ayat ini yang menjadi dalil kepada mereka yang tidak mempercayai wujudnya rasukan syaitan ke dalam jasad manusia. Di dalam al-Quran juga Allah SWT banyak menyebut berkaitan Syaitan dan rasukannya sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh oleh sesuatu imbasan hasutan dari Syaitan, mereka ingat (kepada ajaran Allah) maka dengan itu mereka nampak (jalan yang benar).” (Al-A’raf 7:201) Ibn Kathir dalam mentafsir ayat ini mengatakan bahwa sesungguhnya para pentafsir ada yang mentafsir sebagai serangan atau rasukan. Menurut al-Imam al-Tabari berkaitan dengan ayat di atas yaitu gangguan syaitan kepada manusia di dunia yakni dengan cara merasukinya sehingga terjadi seakan orang gila, hal ini dinamakan sebagai hysteria (Al-Tabari, Muhammad Ibn Jarir al-Tabari,1978). Adapun Firman Allah SWT dalam surat Al-Mujadalah 58:19 : “Syaitan telah menguasai dan mempengaruhi mereka, sehingga menyebabkan mereka lupa mengingati (ajaran dan amaran) Allah; mereka itulah puak Syaitan. Ketahuilah bahawa puak Syaitan itu sebenarnya orang-orang yang rugi.” (Al-Mujadalah 58:19). Ibn Kathir menyebut di dalam tafsirnya bahwa syaitan menguasai diri mereka dari mengingati Allah yaitu menguasai hati mereka yang menurut Sheikh Muhammad Sulaiman Asyqar membawa maksud seperti kena rasukan. Oleh yang demikian, kerasukan ialah suatu ungkapan yang dipahami dan merujuk kepada gangguan yang menimpa akal manusia sehingga dia tidak memahami apa yang dia katakan. Seseorang yang kerasukan tidak boleh menghubungkan perkataannya, antara yang telah dia katakan, dan yang akan dia ucapkan. Dia juga akan menderita, hilang ingatan akibat gangguan pada urat-urat saraf (otak). Akibatnya, penderita penyakit akal ini mengalami gangguan dalam tingkah lakunya. Dia akan bingung serta canggung ketika bergerak dan bertindak (Dar al- Bashar Islamiyyah, h.217). 6 Menurut al-Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani, rasukan ialah suatu perkara yang berkaitan dengan gangguan atau kekacauan akal (mental) seseorang manusia. Si mangsa tidak sedar apa yang diucapkannya dan dia juga tidak mampu menghubungkaitkan di antara apa-apa yang sedang atau telah diucapkan lantaran hilangnya daya ingatan sebenar akibat berlakunya kekacauan terhadap sistem saraf otak. Kekacauan di bagian mental ini secara tidak langsung akan menyebabkan berlakunya kekacauan bahagian-bahagian lain yang telah dirasuk itu, dan seterusnya si mangsa mulalah menggeletar atau meracau-racau tidak tentu arah, (Wahid ‘Abd al-Salam, 1996). Imam al-Alusi mentafsirkan lafaz “al-takhabbuttu” (kerasukan) ialah suatu bentuk tindakan yang puncaknya ialah memukul dengan tangan terus menerus ke segala arah. Kemudian, maksud firman Allah SWT “minal massi” (lantaran gangguan) ialah kegilaan. Ada yang berkata, “mussarrajulu” (seseorang terganggu), menurut orang Arab berarti dia tertimpa penyakit gila kerana kerasukan jin. Sedangkan makna aslinya ialah menyentuh dengan tangan. Disebutkan sedemikian, kerana syaitan adakalanya menyentuh manusia, sehingga kelenjar-kelenjarnya rosak dan akhirnya ditimpa kegilaan, (Wali Zar Shahizuddin, 1996). Dari sudut psikologi Islam, makna histeria adalah selaras dengan pandangan ilmuan-ilmuan Islam yaitu rasukan atau kecelaruan fungsi yang dikaitkan dengan kebimbangan tanpa alasan yang kukuh, (Fakhir A, 1985). Perspektif psikologi Islam melihat histeria sebagai kecelaruan fungsi fisikal yang berkait dengan keadaan jiwa individu yang mungkin berada dalam keadaan tidak tenteram atau terganggu. Fungsi fisikal yang terganggu itu disebabkan gangguan jiwa yang melanda individu sama ada disebabkan faktor jiwa tidak tenteram atau rasukan syaitan. Kebanyakan pendapat para ulama’ bersetuju mengatakan bahawa jin boleh merasuk dan mengganggu otak manusia bahkan boleh melakukan kesakitan pada badan manusia dengan izin Allah. Pendapat ini diutarakan oleh Ibn Taimiyah dalam hadith daripada Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya syaitan itu memasuki tubuh manusia menurut aliran darah. 7 Dan sesungguhnya aku takut syaitan itu akan mencampakkan sesuatu dalam hati kamu berdua” (Hadith riwayat al-Bukhari). Sebagaimana menurut Haron Din, yang di sebutkan di dalam kitab al-Tibb al-Nabawi menyebut sakit seperti histeria ini dinamakan al-sar’u (rasukan), yang berlaku akibat rasukan roh-roh jahat yang menyerang roh manusia yang boleh memberi kesan buruk kepada fisikal mangsanya. Rasukan roh-roh jahat ini berupa Jin dan syaitan yang memasuki aliran darah manusia lalu menyesatkannya melalui perlakuan di luar kawalan akal dan rohani, pandangan ini juga disokong oleh Asri Zainal Abidin didalam ceramah beliau yang menafsirkan dan menghuraikan ayat al-Quran yang dibahas di atas (Amran Kasimin & Haron Din 1990). 3. Pandangan Para Sarjanawan Tentang Histeria Histeria adalah sejenis degenerasi sistem saraf yang tampak dalam kekurangmampuan untuk menghadirkan pola pikir yang realistis dan sesuai dengan ketenangan jiwa (Janet, 2007 dalam Psikoanalisis Sigmund Freud). Histeria berada dalam kategori ilmiah dan medis diartikan sebagai mental dan penyakit kejiwaan. Menurut bagian diagnostik dan statistical manual of mental disorder yang berisi daftar berbagai gangguan mental dan psikologis menjadi tujuh tipe salah satunya gangguan jiwa biasa atau yang dikenal sebagai histeria. Histeria juga merujuk kepada rahim yang merayau-rayau (wandering uterus) kerana pada zaman Greek kuno histeria hanya menyerang wanita saja terutama wanita yang menderita hidupnya dan tidak berlaku kepada wanita yang puas dari aspek kehidupan seksual mereka, (Chodoff, Histeria and Women American Journal Psychiatry 133 (11), 1295-1299). Menurut Ibn al-Qayyim, "Penyakit tidak sadarkan diri ini (hysteria) terdapat di dalam dua bentuk yaitu: tidak sedarkan diri kerana rasukan roh-roh bumi yang jahat (Jin) dan tidak sedarkan diri kerana mabuk." Ibn Hazam pula berkata bahwa "Pendapat yang sahih ialah makhluk syaitan ini sememangnya boleh merasuk seseorang insan atas izin Allah SWT dan inilah sebagaimana yang telah dinyatakan oleh al-Quran., makhluk tersebut akan bertindak 8 menyerang pusat rangsangan utama yaitu otak. Dan dengan izin Allah SWT, pemikiran si mangsa akan rusak lantaran perlaksanaan tabiat-tabiat buruk dan jahat yang dimilikinya. Demikianlah sebagaimana yang selalu kita saksikan terhadap mangsa-mangsa tragedi rasukan ini. Inilah juga yang telah diakui oleh al-Quran yang wajib diimani ".(Wahid ‘Abd al-Salam, 1996). Pendapat di atas sama seperti pendapat Syeikh Muhammad al-Hamid yang berkata, “Kalau Jin merupakan jenis makhluk halus, maka secara aqli (akal, pemahaman) mahupun naqli (periwayatan), tidak menolak kalau jin dapat merasuk ke dalam tubuh manusia. Sesuatu yang halus dan lembut boleh menembusi pada sesuatu yang tebal, contohnya angin yang boleh masuk ke tubuh manusia, api yang masuk ke dalam bara api, aliran elektrik yang masuk pada kabel elektrik. Bahkan, air juga masuk ke dalam tanah, pasir dan pakaian, walaupun tidak halus dan lembut seperti angin dan aliran elektrik.” (Dar al-Bashar, h.91). Sementara itu Al-Qadhi Abdul Jabbar al-Hamzani pun berkata, “Kalau memang benar apa yang dikatakan bahawa tubuh bangsa jin itu halus serta lembut seperti angin, maka kita juga tidak menolak kalau mereka dapat memasuki tubuh kita sebagaimana keluar masuknya udara dan nafas ke dalam tubuh dengan helaan dan tiupan. Namun hal itu tidak menunjukkan bahwa mereka bersatu dengan manusia (terutama) kerana bersatunya mereka dengan manusia melalui cara berdampingan. Jin masuk ke dalam tubuh kita seperti benda yang halus memasuki suatu benda", ((Dar al- Kutub: Beirut, h.122). AlQadi Abd al-Jabbar al-Hamdani pun telah mengeluarkan buah fikirannya: "Sekiranya sahih apa yang kami buktikan iaitu betapa unik dan halusnya keadaan jasad makhluk tersebut (Jin) bagaikan udara, maka tidak ada halangan untuk makhluk tersebut masuk ke dalam tubuh badan kita. Konsep ini lebih kurang sama seperti oksigen (udara) dan juga roh yang juga mampu membolos masuk ke dalamnya. Dan kemasukan unsur- unsur tersebut tidaklah menyebabkan masing-masing saling bercantum sehingga menjadi satu unsur yang lain. Kerana, kaedah cantuman beberapa unsur sehingga membentuk satu unsur di dalam sebatian yang lain, mestilah 9 terlebih dahulu melalui proses adunan tertentu, bukan sekadar melalui campuran semata-mata. Jelasnya, makhluk tersebut mampu memasuki ke dalam jasad kita sama seperti jisim-jisim.” (Wahid ‘Abd al-Salam Bali (1996), Ibid., h.147). Imam al-Sha'ari telah menyebut sekalian pendapat Ahli al-Sunnah wa alJama’ah berkata: "Sesungguhnya makhluk Jin itu boleh memasuki ke dalam badan seseorang yang mampu dirasukinya, sebagaimana penegasan Allah SWT pada ayat 275 surah al-Baqarah artinya: "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang dirasuki syaitan lantaran (terkena) penyakit gila". Uthman ‘Amru ibn 'Ubaid pula pernah berkata bahwa "orang yang mengingkari kebenaran mengenai kemampuan makhluk Jin memasuki ke dalam tubuh badan manusia dikira golongan al-Dahri (Freedom)". Menurut al-Qadi Badr al-Din al- Syibli "sesungguhnya di sana ada nas yang telah menegaskan bahawa makhluk tersebut (Jin), mampu memasuki ke dalam tubuh badan manusia. Ibn alQayyim berkata, "kerasukan ada dua jenis: Kerasukan kerana masuknya roh jahat dan kerasukan yang disebabkan penyakit-penyakit fisikal”. Walau bagaimanapun terdapat golongan yang ingkar bahwa jin boleh memasuki badan manusia di antaranya sebahagian daripada golongan Mu’tazilah seperti al-Jubai’ dan Abu Bakr al-Razi. Abu al-Hasan al-Asha’ari menolak pandangan Ahli Sunnah wa al-Jama’ah berpendapat bahawa Jin dapat masuk ke dalam tubuh badan orang yang kerasukan. Manakala al-Juba’i dan Abu Bakr Muhammad bin Zakariyya pula mengatakan mana mungkin kewujudan dua ruh dalam jasad yang satu. Berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan hadith yang dikemukakan serta pandangan sarjanawan di atas, muncul pandangan bahwa penyakit-penyakit gangguan yang berlaku adalah berpunca daripada gangguan oleh syaitan dan makhluk halus. Meskipun terdapat beberapa pandangan bahwa syaitan dan makhluk halus tidak boleh mengganggu atau merasuk fisikal manusia, nas-nas al-Quran dan hadith-hadith Rasulullah yang dibawakan di atas menjadi dalil bahwa syaitan dan makhluk halus itu mampu masuk ke dalam tubuh manusia 10 dan mengganggu manusia, malah membuat manusia menjadi tidak normal seperti keadaan manusia yang lazim. Berdasarkan kepada ulasan terhadap makna histeria dari sudut pandangan ulama, dapat disimpulkan bahawa histeria adalah satu istilah yang digunakan untuk merujuk kepada rasukan yang berpunca dari gabungan antara gangguan makhluk halus dan masalah individu itu sendiri, seperti kurangnya kekuatan diri, berada dalam keadaan yang tidak tenteram dan celaru yang seterusnya memberi ruang kepada makhluk halus untuk menguasai diri mereka lantaran daripada kelemahan yang ada. Merujuk kepada pandangan-pandangan di atas juga, terdapat persamaan di antara sisi pandang Barat dan Islam berkaitan histeria, yaitu kedua-duanya bersetuju bahawa ia berkait rapat dengan gangguan fungsi tubuh badan dan akal yang tidak tenteram. B. Etiologi dari Histeria Histeria atau rasukan adalah suatu perkara realiti yang benar-benar berlaku dalam kehidupan masyarakat. Di dalam al-Quran, Allah SWT telah menyebut perkataan ‘syaitan’ sebanyak 70 kali dan ‘iblis’ sebanyak 11 kali manakala perkataan ‘jin’ disebut sebanyak 14 kali. Makhluk halus ini menjadi ejen utama penyebab kepada kepada berlakunya hysteria, (Abdullah Bukhari ‘Abdul Rahim, 2012). Beberapa teori juga mnyebutkan penyebab hysteria sebagai berikut : a. Teori psikoanalisa Ansietas yang ditekan oleh impuls-impuls instinktual akan menimbulkan gejala - gejala histeria yang sering memilki arti simbolik dan keuntungan sekunder. Menghilangkan konflik – konflik secara radikal perlu dihindarkan. Pada beberapa kasus, mungkin berupa masalah seksual: oedipus kompleks tampaknya relevan untuk histeria, fiksasi pada fase falik pada perkembangan psikoseksualnya. Ansietas fobik tampaknya sebagai bentuk dari ansietas histerik, ansietas yang di represi, dialihkan pada objek netral atau situasi. 11 b. Genetik Terjadi peningkatan insidens histeria pada keluarga – keluarga histerik, namun mereka juga menunjukkan peningkatan inseidns pada kondisi lain. c. Sugesti dan ansietas bersama Munculnya histeria secara massal dalam masyarakat. Charcot dapat menimbulkan gejala histeria melalui sugesti yang kuat dan melihat histeria sebagai suatu kesatuan penyakit d. Kepribadian Pada 40% histerik: kasus histeria yang didahului oleh ciri – ciri kepribadian ketergantungan, manipulatif, egosentrik. Mencari perhatian, histrionik, labil dan emosi yang dangkal. e. Peran sakit Mencari melalui tingkah laku yang dipelajari pada saat dihadapkan dengan kesulitan hidup yang tidak dapat ditolerir, konflik atau penyakit fisik. Variasi tingkat kesadaran terhadap mekanisme pembentukan gejala – gejala dan pembedaannya dari malingering sangat sulit dilakukan. f. Neurosis kompensasi Sering dijumpai pada kecelakaan yang tidak hebat yang berkaitan dengan tuntutan kompensasi. Dapat menunjukkan perbaikan bila tuntutan dipenuhi. Mungkin berhubungan dengan kemampuan bahasa yang sangat kurang, lebih sering terdapat pada kelas sosial IV dan V dan pada orang yang berpendidikan rendah, khususnya pada imigran baru. C. Jenis – Jenis Histeria Terdapat berbagai jenis histeria, antaranya conversion histeria, fainting hysteria, sleep roaming, roaming subconscious dan various personality (Intan Farhana S, et.al, 2014). a. Histeria konversia, dengan tanda konflik – konflik mental yang diubah kedalam gejala fisik, seperti kelumpuhan, kebutaan, kejang dan anestesia atau mati rasa. 12 b. Somnabulisme (tidur berjalan). c. Fugue (pelarian), sehingga individu yang bersangkutan menjadi amnesia atau kehilangan ingatan mengenai masa lalu pribadinya. d. Multiple Personality (kepribadian majemuk), sehingga kepribadian individu pecah menjadi dua atau lebih, disertai disosiasi kesadaran. D. Tanda dan Gejala Faraj ‘Abd al-Qadir Taha di dalam Mawsu’ah ‘ilm al-Nafs wa al-Tahlil alNafs menterjemahkan kalimah histeria di dalam bahasa Arab sebagai alhistiriya yaitu penyakit kejiwaan (psychiatry) neurotik, salah satu penyakit mental yang mempunyai gejala-gejala dan ciri-ciri tertentu. Gejala kemasukan Jin yang berupa roh-roh jahat ke dalam badan manusia ini turut dihuraikan oleh Wahid ‘Abd al-Salam Bali yang menyebut al-Sar’u () عرصلا, merupakkan suatu gejala kekurangan fungsi yang menimpa akal manusia sehingga tidak dapat menyedari apa yang diucapkannya dan tidak dapat menghubungkan antara apa yang sudah diucapkan dengan apa yang akan diucapkannya. Orang yang terkena penyakit ini mengalami kehilangan ingatan akibat dari kecelaruan yang berlaku pada saraf otak (Dar al-Bashar, h.51). Dalam arti kata lain, histeria dari sudut pandangan Islam adalah berlaku disebabkan gangguan rohani yang berpuncak daripada jiwa yang bercelaru dan kacau yang akhirnya dijelmakan kepada gangguan fisikal. Selain daripada ketenteraman jiwa yang terganggu, kewujudan jin dan syaitan yang menyesatkan manusia juga mempengaruhi puncak individu mengalami histeria. Oleh sebab itu histeria dari pandangan Islam turut dilihat sebagai gejala kerasukan atau (al-sar’u) yaitu kemasukan roh-roh jahat dari kalangan Jin dan syaitan yang memasuki badan manusia sehingga mengganggu kewarasan akal dan jiwa. Ini bertepatan dengan sabda Rasulullah SAW yang menjelaskan perihal Jin dan syaitan berupaya memasuki tubuh manusia lalu merusakan hati dan akal manusia melalui hadith Abu Hurairah RA daripada Rasulullah bersabda: 13 “Sesungguhnya syaitan berjalan pada anak manusia seperti jalannya darah pada peredarannya.” (Hadith riwayat al-Bukhari). Menurut pengamat perubahan Islam, Fauzi Mustapa, histeria mengikut perspektif Islam adalah merujuk kepada keaadaan di mana manusia tidak sadar, dirasuk dan hilang ingatan akibat gangguan emosi yang tidak terkawal dan tekanan perasaan akibat masalah peribadi, rumah tangga ataupun kepincangan masyarakat (Idris, R 2008). Tanda dan Gejala Histeria 1. Lumpuh hysteria Lumpuhnya salah satu anggota fisik, akibat tekanan atau pertentangan batin yang tidak dapat diatasi. Biasanya penderita menggunakan gejala ini secara tidak sadar untuk membela diri dan untuk mengatasi kesukarankesukaran yang dihadapinya. Biasanya gejala lumpuh itu terjadi tiba-tiba dan penderita sebelum itu tidak merasa apa-apa. Contoh : Di waktu perang, seorang anggota militer tiba-tiba mengalami lumpuh pada jari telunjuknya (tidak bis digerakkan) diwaktu ia berhadapan dengan musuh. Pada waktu dioperasi ternyata tidak terdapat apa-apa pada jarinya tersebut. Dari penelitian selanjutnya terbukti bahwa kelumpuhan telunjuk itu adalah akibat dari perasan bimbang waktu ia akan menembak musuhnya. Ia bimbang antara menembak (matinya musuh) dengan tak ingin menembaknya. Akhirnya kelumpuhan jarinya itu menolongnya dalam mengatasi problemnya. 2. Cramp hysteria Disebabkan pula oleh tekanan perasaan, yang sering kali terjadi pada penulis yang mencari penghidupan dengan tulisan-tulisannya. Apalagi ia mengalami bahwa tulisannya tidak banyak mendapat sambutan dari orang, ia kadang-kadang dihinggapi oleh cramp pada jari-jarinya waktu menulis. Tapi untuk mengerjakan pekerjaan lain jari-jarinya masih dapat digunakan. Cramp hysteria banyak pula terjadi pada pemain biola, juru tik, tukang jam, pegawai kantor telephone. Penyakit ini terjadi karena kegelisahan dan 14 kecemasan yang dirasakannya akibat kebosanan menghadapi pekerjaanpekerjaan itu. 3. Kejang hysteria Seluruh badan terasa kaku, tidak sadar akan diri, kadang-kadang sangat keras, disertai dengan teriakan-teriakan dan keluhan-keluhan, tapi tidak mengeluarkan air mata. Kejang-kejang ini biasa terjadi pada siang hari selama beberapa menit saja, tapi mungkin juga sampai beberapa hari lamanya. Diantara tanda-tanda kejang hysteria adalah dalam pandangan matanya terlihat kebingungan. Setelah kejadian itu biasanya penderita kebingungan, tidak mau berbicara atau menjawab pertanyaan-pertanyaan. Biasanya serangan ini terjadi karena serangan emosi yang sangat menekan, seperti rasa tersinggung, tertekan perasaan, penyesalan, sedih dan sebagainya. Orang yang terserang biasanya memegang atau menarik apa yang dapat ia capai. Sebaiknya orang yang diserang kejang hysteria itu ditinggalkan saja sebagaiamana adanya. Contoh : Seorang calon mahasiswi berusia 20 tahun sedang menjalakan masa prabakti. Ketika apel tengah hari dengan kawan-kawannya tiba-tiba ia jatuh pingsan. Teman-teman bingung dan berusaha menolongnya, tetapi tak berhasil. Setelah akhirnya dia sadar, si gadis memandang sekelilingnya dengan mata kebingungan, dan ia minta gado-gado. Kawan-kawannya semakin bingung. Setelah penelitian, terbukti bahwa si gadis dengan ibu tirinya yang sangat membatasi kebebasan dan belanjanya. Waktu masa prabakti ia merasa sangat sedih, karena memerlukan uang jajan lebih banyak, tetapi takut memintanya pada orang tuanya. Ketika ia merasa lapar ia teringat akan kesusahan sehari-hari yang selalu dialaminya di rumah dan terlihatlah gejala-gejala itu. Banyak ditemukan contoh-contoh seperti itu yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Orang tiba-tiba pingsan, tegang dan kaku badannya, yang disangkanya sakit ayan,sawan atau kena guna-guna. Padahal gejala ini adalah akibat dari rasa tertekan dan kegelisahan yang terlalu hebat. 15 4. Mutism (hilang daya bicara) Mutism itu ada dua macam, pertama tak sanggup berbicara dengan keras dan kedua tak mampu berbicara sama sekali. Hilangnya kemampuan untuk berbicara itu bukan disebabkan oleh kerusakan pada alat-alat percakapan seperti lidah, kerongkongan, pernapasan dan sebagainya. Alat-alat itu masih dapat melakukan fungsinya, tetapi orang tidak dapat berbicara. Biasanya gejala ini terjadi akibat tekanan perasaan, kecemasan, putus asa, merasa hina, gagal dan sebagainya. Demikian besarnya pertentangan batin sehingga menyebabkan lidah menjadi lumpuh. Contoh : Seorang laki-laki berumur 42 tahun, badannya tegap, tiba¬-tiba hilang kemampuannya untuk berbicara. Ia berusaha keras mengeluarkan kata-kata, tetapi tidak berhasil. Hilangnya kemampuan berbicara itu berlangsung sampai berbulan- bulan. Dalam pemeriksaan dokter, terbukti tidak ada kerusakan apaapa pada alat percakapannya. Dari penyelidikan terhadap latar belakang kehidupannya terbukti bahwa gejala itu mulai tampak ketika dilaksanakan landreform terhadap tanahnya. Rupanya ia tidak dapat menerima tindakan pemerintah mengambil tanahnya untuk dibagikan kepada orang lain. Tetapi penolakannya itu tidak dapat diucapkannya, karena takut akan dianggap menentang hukum. Timbullah pertentangan batin dalam dirinya antara ingin membela haknya, dengan takut akan hukuman yang mungkin diterimanya akibat pembelaan itu. Demikian besar¬nya pertentangan batin itu, sehingga lidahnya menjadi lumpuh, tidak bisa bicara, sebagai penyelesaian dari ke¬tegangan batin dan tekanan perasaan itu. 5. Amnesia (hilang ingatan) Hilang ingatan atau lupa pada kejadian-kejadian tertentu dalam hidup sangat erat hubungannya dengan emosi. Ia lupa akan sesuatu, kejadian tertentu, lupa pada orang yang dikenalnya bahkan lupa pada dirinya sendiri, namanya, rumahnya, pekerjaannya, dan sebagainya. 16 Contoh : Seorang petani ditemui dalam keadaan sedang linglung, lalu dibawa ke rumah sakit. Waktu ditanya namanya, rumahnya, pekerjaannya dan sebagainya, satupun tidak bisa dijawabnya, karena ia lupa akan semuanya itu. Waktu diperiksa badannya tidak ditemui sesuatu penyakit, atau, gangguan kesehatan fisik. Setelah beberapa hari di rumah sakit, barulah ia sadar dan menanyakan apa sebabnya ia dibawa ke rumah sakit. Sejak itu barulah dapat diketahui namanya, dari mana datangnya dan apa yang terjadi pada dirinya. Dia menceritakan bahwa ia seharusnya pergi ke kantor polisi, karena ia telah menyebabkan kematian seorang tua, ketika ia mendorong gerobak sayurnya di salah satu tikungan jalan dan sangat sukar baginya menghindari kecelakaan itu. Kejadian itu sangat membingungkannya dan menyebabkannya sangat takut dan gelisah. Ketika ia menceritakan peristiwa itu kepada kawannya, mereka menakut-nakuti dan menyuruhnya pergi ke kantor polisi. Di jalan waktu menuju kantor polisi itulah terjadinya peristiwa lupa akan dirinya itu, karena ia takut akan dihukum mati oleh polisi. 6. Kepribadian kembar (double personality) Kepribadian kembar adalah salah satu gejala hysteria, yang disebabkan oleh kegelisahan yangamat sangat, dan dijadaikan cara untuk menghukum dirinya atau melepaskan diri dari ketegangan batin, kecemasan, atau konflik yang dirasakannya. Dalam hal ini penderita secara tidak sadar mengurung kepribadiannya yang pertama, sampai terpisah sama sekali dengan alam kenyataan. Disamping menghukum diri, hal ini digunakan sebagai penarik perhatian orang padanya. Dalam kepribadian kembar, tindakan-tindakan yang negatif terlihat jelas sekali dimana penderitanya tidak mungkin bekerja sama dengan orang –orang yang sebelum sakit sering berhubungan dengannya. Penderita mendapat dua keuntungan yang jelas tanpa disadarinya yaitu pertama penderita menjauhkan sama sekali dari kesadarannya. Semua aspek kehidupan yang mencakup perasaan, tindakan, pengalaman,-pengalaman dan keseluruhan kepribadian 17 yang lama, terpisah dari kesadarannya. Dalam hal kedua, salah satu kepribadian ditekan dengan jalan melupakan segala pengalaman-pengalaman yang dilaluinya dan menghapusnya dari ingatan. Hal ini dilakukan oleh kepribadian yang kedua. 7. Mengelana secara tidak sadar (fugue) Salah satu gejala hysteria lain ialah, orang pergi mengelana berjalan tanpa tujuan, tidak tahu mengapa ia pergi dan kemana ia pergi. Contoh : Seorang laki-laki berumur 30 tahun, pada suatu hari berangkat dari rurnahnya dengan tujuan pergi menghadiri rapat. Akan tetapi ia tidak sampai ke tempat rapat dan tiga hari kemudian ia ditemui berada di kota lain yang tidak begitu jauh dari kotanya. Ia tidak dapat mengingat apa-apa yang telah terjadi pada dirinya dan mengapa ia sampai ke sana. Dari penelitian terbukti, bahwa laki-laki ini mempunyai hubungan dengan seorang wanita yang telah bersuami. Ia sangat takut bila rahasianya terbongkar. Pada waktu ia akan berangkat ke tempat rapat itu telepon berbunyi, lalu diangkatnya, akan tetapi tidak ada yang menjawab. Tanpa curiga sedikitpun, ia pergi. Selagi mengendarai mobilnya, tiba-tiba ia rnelihat di belakangnya ada mobil yang dikendarai oleh suami wanita tersebut. Timbullah kecemasannya, mobil dihentikannya dan ia melompat ke luar, lari tanpa tujuan. Akhirnya ia sampai ke tempat di mana ia ditemui dalam kebingungan. Ketika berlari itu, ia didorong oleh rasa takut yang amat sangat dan keinginan untuk lari dari kesukaran yang dihadapinya itu. 8. Jalan-jalan sedang tidur (somnabulism) Orang yang diserang gejala ini di kuasai oleh sejumlah pikiran dan kenangan-kenangan yang berhubungan satu sama lain. Meskipun ia sedang tidur, tapi masih dapat mengenal dan membedakan mana pintu yang tertutup dan mana pintu yang terbuka, dan mudah disuruh kembali ke tempat tidurnya. Waktu bangun pagi harinya, ia tidak tahu apa yan terjadi pada dirinya waktu tidur itu. 18 Contoh : Seorang anak berumur 6 tahun, tiap-tiap malam sedang tidur selalu berjalan-jalan. Kadang-kadang naik ke jendela, membuka pintu dan sebagainya. Setelah diperiksa, terbukti bahwa si anak mempunyai watak yang keras, pendiam, dan suka mengganggu dengan suatu cara, yang menyebabkan orang tidak menyangka bahwa ia yang bersalah. Orangtua anak ini, mempunyai banyak anak, semuanya masih kecil-kecil. Dalam mendidik anakanaknya mereka sering menggunakan kekerasan, sering memukul, kadangkadang sampai berbekas pada badan anak-anaknya. Dan yang paling sering dipukul adalah anaknya yang menderita penyakit itu. Rupanya si anak ingin lari dari orangtua yang sangat kejam itu, akan tetapi ia tidak berani, karena tidak tahu ke mana ia akan pergi. Timbul pertentangan dalam batinnya antara ingin inenghindari kekerasan orangtua, dengan takut berpisah dari mereka. Akhirnya sedang tidur, ia masih dikuasai oleh pikiran pikiran ingin lari itu. Gejala-gejala itu disebabkan oleh kegoncangan jiwa, kecemasan, tekanan perasaan, ketakutan dan sebagainya. Tanda khas yang sering menyertai gejala tersebut adalah 1. Sering merasa pusing. Bisa juga mengalami stupor bagaikan terbius dan tidak merasakan apa-apa. Kadang-kadang seperti dalam keadaan trance (seperti dalam mimpi yang spiristis, merawankan jiwa ) 2. Menjadi sangat pelupa atau pikun, sering dibarengi symptom somnabulistis, fugue, ataupun pribadi majemuk. 3. Adakalanya timbul keakitan-kesakitan histeris sekalipun tidak ada kesakitan organis yang disebabkan oleh sugesti diri dan ide-ide fixed yang salah ( merasa betul-betul sakit ). 4. Ada juga yang menderita kelumpuhan, anggota badan menjadi kaku, buta, tuli dan disertai invalidisme lain-lain yang sifatnya sementara. 5. Sangat sugestibel, egosentris , selfish, dengan emosi yang tidak stabil. 6. Ada tics ( gerak-gerak fical, diwajah ) dan tremor atau selalu bergetar atau gemetaran, ada juga yang sering kali kejang-kejang dan mau muntah. 19 7. Ada anaesthesia, yaitu tidak bisa merasa apa-apa. Dan sering mendapat gangguan pada alat pernapasan. Ciri – ciri kepribadian penderita histeria sebagai berikut : 1. Pasien bersifat sangat egoistis, selfish dan semau sendiri, perangainya semisal anak yang manja. Selalu menginginkan perhatian dan belas kasihan sebanyak-banyaknya, disamping mengharapkan pujian. 2. Selalu merasa tidak bahagia sangat sugestibel dan sensitive sekali terhadap opini orang lain. Selanjutnya dia melakukan semua sugesti orang lain itu untuk mendapatkan pujian, perhatian dan persetujuan. Akibatnya, ia malah mengalami banyak kebingungan dan konflik batin. 3. Emosinya sangat kuat dan semua penilaiannya ditentukan oleh rasa suka tidak suka yang kuat. 4. Selalu cenderung untuk melarikan diri dari kesulitan dan hal-hal yang tidak menyenangkan. Lalu berusaha dengan symptom-simptom fisik yang sengaja dibuat-buat, ditiru atau dihebatkan berupa gejala pingsan dan purapura sakit, untuk memperpanjang usaha melarikan diri , atau berusaha untuk mendapat kan maaf serta belas kasihan dari orang luar, tujuan utama dari perbuatannya ialah untuk menghindari tugas-tugas tertentu atau menghindari situasi yang tidak menyenangkan. Pendapat aliran psikoanalisa mengatakan bahwa kelemahan pribadi berupa pembawaan. Timbul fiksasi ide-ide yang keliru dan macam-macam perasaan negative ( malu, bersalah, berdosa, gagal ) yang ditekan menjadi komplek terdesak dan kemudian timbul menjadi banyak komplik internal, elemenelemen yang ditekan dalam ketidaksadaran itu lalau ditampilkan keluar melalui motor behavior. Jadi, symptom histeris itu merupakan ekspresi yang dikamuflase dari fiksasi ide-ide dan elemen-elemen yang ditekan tadi. Selanjutnya terjadi dissosiasi antara dirinya dengan lingkungannyadalam berbagai bentuk dan graadasi. 20 E. Perbedaan Antara Histeria Dan Kerasukan Histeria seringkali dikaitkan dengan kerasukan. Masyarakat umum malah lazimnya menganggap histeria dan kerasukan adalah perkara yang sama yaitu gangguan yang berpuncak daripada ‘hantu’ atau ‘makhluk halus’. Tanggapan ini kebiasaannya berlegar sekitar masyarakat Melayu. Walau bagaimanapun, perbedaan ini sukar untuk ditentukan yang mana ada yang menyebut bahwa histeria berlaku terhadap ramai mangsa dan kerasukan berlaku kepada individu. Tanggapan ini ada agak kurang tepat jika diteliti dari sudut konteks konseptual dan penggunaan istilah tersebut. Secara konsepnya kerasukan lebih cenderung untuk dipahami sebagai perbuatan gangguan makhluk halus seperti jin dan syaitan, manakala histeria pula merupakan keadaan atau natijah yang berlaku ke atas seseorang individu kesan daripada rasukan, atau secara ringkasnya, rasukan itu menyebabkan terjadinya histeria. Berdasarkan pengamatan terhadap pandangan beberapa orang ilmuan, antaranya Amran Kasimin dan Haron Din, histeria merupakan akibat gangguan personaliti yang menyebabkan kehilangan fungsi fisik. Antara penyebab histeria terjadi adalah disebabkan oleh faktor psikologi, tekanan hidup, atau gangguan makhluk halus yaitu Jin dan syaitan. Sedangkan menurut Ustadz Muna b. Hamzan mengatakan: “Histeria adalah suatu bentuk gangguan yang dialami oleh seseorang yang disebabkan dari faktor kejiwaan atau ganguan jin yang berlaku secara tiba-tiba atau luar kawalan”. Jin dan syaitan adalah unsur yang wujud dalam kepercayaan agama Islam yaitu salah satu makhluk Allah yang diciptakan dan mendiami bumi bersama manusia. Kejadiannya adalah salah satu bukti kekuasaan Allah dan mengandungi hikmah dan pengajaran kepada umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT dalam al-A’raf 7:16-17 : “Iblis berkata: Oleh kerana Engkau (wahai Tuhan) menyebabkan daku tersesat (maka) demi sesungguhnya aku akan mengambil tempat menghalangi mereka (dari menjalani) jalanMu yang lurus; (16) Kemudian aku datangi mereka dari hadapan mereka serta dari belakang mereka, 21 dan dari kanan mereka serta dari kiri mereka dan Engkau tidak akan dapati kebanyakan mereka bersyukur.”. Pada pandangan umum, seringkali tidak dapat membedakan di antara histeria dan rasukan. Istilah histeria merujuk kepada gangguan yang berlaku terhadap ramai pesakit. Sekiranya gangguan yang berlaku terhadap individu, maka ia diistilahkan sebagai rasuk. Artinya, histeria dan rasukan makhluk halus sememangnya ada unsur persamaan. Histeria berlaku kerana makhluk halus atau jin marah atau berdendam terhadap manusia selepas ia diganggu. Jin memang boleh meresapi badan manusia dan ada hadith menyokong kenyataan ini. Walau bagaimanapun, hasil pengamatan tidak menolak pandangan yang mengatakan bahawa histeria adalah berkait dengan masalah psikolgi yang mana menjadikan mangsa tertekan dan tidak dapat mengawal perasaan dan emosi lantas bertindak di luar kawalan sebagaimana yang dinyatakan oleh Ketua Jabatan Perubatan Psikologi Pusat Pakar Universiti Malaya, Profesor Mohamad Hussain Habil. Masalah histeria berkait rapat dengan kepercayaan seseorang terhadap perkara mistik dan karut marut, namun ia sebenarnya disebabkan masalah psikologi serta tekanan perasaan. Kepercayaan karut mempengaruhi jiwa seseorang sehingga mereka mengalami histeria. Berdasarkan kajian diatas histeria merupakan gabungan dua faktor yaitu disebabkan tekanan dan gangguan. Apabila tertekan sama ada di sekolah, tempat kerja, cinta atau pergaduhan, diri hilang pertimbangan dan karena hal tersebut makhluk halus atau Jin mudah menguasai diri. F. Pengobatan Histeria Kebanyakan masyarakat beranggapan bahawa histeria merupakan gangguan terhadap seseorang yang akan hilang atau pergi dengan sendirinya. Walau bagaimanapun, tanggapan ini ternyata tidak berasas kerana secara keilmuan, histeria dikategorikan sebagai salah satu bidang penyakit mental dan psikatri. Pandangan ini disokong oleh Mufti Kerajaan Brunei Darussalam di dalam bukunya bahawa histeria adalah satu penyakit kerana ia memerlukan perawatan untuk penyembuhan. Rawatan yang disarankan bagaimanapun 22 adalah rawatan yang menggunakan ayat-ayat al-Quran berbanding rawatan biasa seperti ujian darah, x-ray dan sebagainya, (Abdul Aziz bin Juned (2005). ‘Abd Latif Othman berkata bahwa histeria adalah sebagian daripada kebanyakan penyakit yang berlaku di berbagai bangsa di dunia. Menurut beliau lagi penyakit ini telah dikenali semenjak dahulu yaitu kurun ke lima Masehi dan penyakit ini berlaku secara tiba-tiba dan akan hilang juga secara tiba-tiba, (Maktabah al-Turath Islami, h.122). Sedangkan menurut Dr. Ahmad Fahmy (2015), histeria adalah dikatogorikan sebagai penyakit: “Histeria adalah boleh dikaitkan dengan keadaan psikologi yang tidak stabil dan ditambah buruk dengan faktor gangguan luar. Ini karena hasil penelitian yang telah dibuat terhadap penderita histeria mendapati penderita histeria ini mengalami tekanan perasaan atau emosi yang tinggi semasa serangan tersebut.” Histeria seringkali menjadi perdebatan dalam sejarah dunia medis karena usaha mengenal pasti wujud histeria juga banyak bergantung kepada faktor budaya, nilai dan kepercayaan sesuatu masyarakat. Sedangkan secara teorinya, pernah terjadi semenjak penciptaan Nabi Adam AS. Ini dapat dibuktikan dengan peristiwa-peristiwa yang dirakamkan di dalam hadith Nabi SAW, dalam satu peristiwa, Ibn Mas’ud ada meriwayatkan sebuah hadith dengan katanya yang bermaksud: Apabila Rasulullah bersembahyang, baginda membaca: “Wahai Tuhanku aku berlindung kepada-Mu daripada kejahatan syaitan yang direjam, juga daripada rasukan, daripada tiupan dan hembusannya”, sehingga menurut Amran Kasimin (1994), hadith ini boleh dijadikan dalil ataupun hujah wujudnya penyakit akibat rasukan Jin terhadap manusia, karena telah di contohkan oleh Rasulullah membaca doa perlindungan (yang bermaksud di atas) untuk mengelakkan daripada terkena penyakit tersebut. Di dalam hadith yang lain, Abi al-Yasar meriwayatkan bahawa Rasulullah pernah berdoa dengan doa yang bermaksud ialah : “Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu daripada lemah kerana tua, daripada ditimpa keburukan, kecelakaan, kedukaan, kebakaran serta lemas. Aku juga berlindung kepada- 23 Mu daripada dirasuk syaitan di saat-saat menghadapi kematian. Lindungilah akan daku daripada ditikam curi (dibunuh), ketika berjihad di jalan-Mu. Dan aku berlindung dengan-Mu daripada mati dipatuk binatang buas.” (Sunan Abu Dawud Bab. al-Isti’adhah, no.Hadith 1328). Hadith berkaitan rawatan Nabi terhadap rasukan sebagaimana peristiwa yang terjadi kepada Ubay Ibn Ka’ab ketika dia bersama dengan Rasulullah, Ubay Ibn Ka’ab pernah berkata: “Ketika aku sedang bersama-sama Rasulullah seorang Badwi telah datang menemui baginda lalu berkata, “Wahai Nabi Allah, aku mempunyai seorang saudara yang sedang dihidapi penyakit.” Rasulullah bertanya: “Apa sakitnya?” Lelaki tadi menyataka: “Dia terkena sakit gila.” Lalu baginda menyuruhnya agar membawakan saudaranya itu menemui baginda. Pesakit dibawa menghadap dan duduk di hadapan Nabi. Baginda telah berdoa memohon kesembuhan bagi pesakit tadi, lalu dengan izin Allah, sembuh.” (Sunan Ibn Majah Kitab al-Tib, Bab al-Far’u Wa al-Irq Wa Ma Yatawwazu Minhu no. Hadith: 3549) Begitu juga dengan kisah Imam Ahmad mengusir jin dari badan orang yang kerasukan yang mana diceritakan oleh al-Qadi Abu Ya’la mengatakan bahawa seorang budak perempuannya kerasukan jin. Maka utusan itu meminta agar Imam Ahmad mengubatinya. Lalu dia mengeluarkan kasutnya dari kayu yang biasa dia gunakan untuk mengambil wudhu. Kemudian dia berkata kepada utusannya itu, “Pulanglah ke rumah Amirul Mukminin, duduklah di dekat budak itu dan ucapkan kepada Jin yang merasukinya mana yang lebih kamu sukai kamu keluar dari tubuh badan budak ini, ataupun dipukul dengan terompah kayu ini sebanyak tujuh puluh kali”. Maka utusan itu pun kembali dan mengucapkan sebagaimana yang diajar oleh Imam Ahmad tadi. Maka menerusi lisan budak itu jin pun berkata, “Aku tunduk dan patuh. Sekiranya Imam Ahmad menyuruhku untuk keluar dari lraq, kami pun melakukannya, kerana dia taat kepada Allah. Siapa pun yang taat kepada Allah aku akan taat kepadanya.”, maka jin itu keluar dari tubuh budak itu dan setelah itu dia menjadi normal kembali. Setelah Imam Ahmad meninggal dunia, jin kembali masuk ke budak itu. Al-Mutawakkil mengirim utusan kepada rakannya, Abu al-Marwazi dan menceritakan apa yang terjadi lalu al-Mawarzi mengambil 24 terompahnya dan pergi menemui budak perempuan tadi. Maka menerusi lisan budak itu, jin berkata, “Aku tidak akan keluar dari tubuh wanita ini. Aku tidak mahu taat kepadamu dan aku tidak mahu menerima apapun darimu.” Imam Ahmad adalah seorang yang taat kepada Allah dan kami diperintahkan untuk taat kepadanya, (Al-Hafiz Jalal al-Din al-Suyuti, 2007). Menurut Amran Kasimin (1994), peristiwa-peristiwa seperti ini banyak tercatat dalam hadith-hadith, membuktikan bahwa sakit seperti ini sememangnya ada dan pernah berlaku di zaman Rasulullah juga pada zaman para sahabat. Terapi histeria hendaknya dilakukan dengan membacakan ayatayat al - Quran dan sunah rosululloh SAW sebagaimana yang dilakukan para sahabat, Imam Ahmad Bin Hambal, Ibnu Tayimiyah, Ibnul Qayyim alJauziyah. Adapun cara pengobatan atau perawatan yang berkembang saat ini. Akan tetapi sebelumnya pasien harus menyadari bahwa simptom-simptomnya itu adalah akibat dari cara berfikir, cara bertindak dan cara penyesuaian diri yang salah terhadap segenap kesulitan hidup yang dihadapi. Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan masalah mendasar dan membantu orang mengatasinya. Tidak ada pengobatan medis dapat menyembuhkan gejala histeria, jadi semuanya tergantung pada simpatik, psikoterapi pasien. Satusatunya obat yang dapat diresepkan untuk histeria adalah obat penenang untuk membantu orang bersantai sementara masalah mendasar sedang ditemukan dan gejala-gejala secara bertahap dieliminasi Pengobatan spontan dan cepat terlihat bila disebabkan dari stres yang menjadi penyebabnya. Model komunikasi yang sering bermanfaat: titik berat diberikan pada pengertian dari ketidakmampuannya yang ingin diberitahukan kepada orang lain atau konflik intervalnya. Beri psikoterapi bila reaksi yang timbul didasarkan atas suatu konflik emosional yang berlangsung lama. Hindarkan preokupasi yang tidak perlu terhadap keluhan fisik: terapi hanya diberikan berdasarkan indikasi medik yang tepat dan bukan sebagai metode “reassurance” (meyakinkan). Kurangi sebanyak mungkin keuntungan yang diperoleh dari peran sakit. (H.G MORGAN dan M.H MORGAN, 1988) 25 . Dalam kasus yang jarang pengobatan yang dikenal sebagai "abreaksi," yang tidak melibatkan obat-obatan, mungkin disarankan. Ia bekerja terbaik bagi orang-orang yang histeris karena shock, tunggal emosional parah. Seseorang mengalami abreaksi harus berbaring di ruangan yang tenang dan gelap. Untuk lebih datang resistensi untuk membahas subjek yang menyakitkan, orang itu dimasukkan ke dalam keadaan hipnosis baik dengan bernapas eter atau disuntik dengan obat khusus. Kemudian, ketika benar-benar santai, ia diminta untuk mengingat dalam pengobatan penyakit rinci insiden yang memicu reaksi histeris. Hanya menghidupkan kembali pengalaman ditekan dengan cara ini sering menghilangkan gejala histeria. Karena yang sebenarnya tubuh tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Beberapa artikel menjelaskan cara pengobatan alternatif terhadap penderita hysteria, namun masih perlu penelitian lebih lanjut untuk menilai kesesuaian dari pengobatan alternative tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Perawatan histeria menggunakan Jamblang Buah berry hitam dianggap sebagai obat rumah yang efektif untuk histeria. Caranya yaitu dengan memasukkan tiga kilogram buah bery kedalam kendi air yang telah dilarutkan segenggam garam. Kendi harus disimpan di bawah sinar matahari selama seminggu. Seorang perempuan yang menderita histeria harus memakan buah-buahan ini dalam keadaan perut kosong, dan minum secangkir air dari kendi. Perawatan ini dilakukan selama dua minggu. 2. Pengobatan menggunakan Madu Madu dianggap sebagai alternatif lain untuk histeria. Dianjurkan untuk meminum satu sendok madu setiap hari. 3. Perawatan histeria menggunakan labu Botol Botol labu berguna sebagai aplikasi eksternal dalam histeria. Pulp Macerated segar sayuran ini harus diterapkan di atas kepala pasien dalam pengobatan penyakit ini. 26 4. Perawatan histeria menggunakan Selada Selada dianggap berharga dalam penyakit ini. Secangkir jus segar daun selada, dicampur dengan satu sendok teh Indian gooseberry (indian gooseberry) jus, harus diberikan setiap hari di pagi hari selama satu bulan, sebagai obat dalam pengobatan histeria. 5. Perawatan histeria menggunakan Rauwolfia Rauwolfia rempah ini sangat berguna untuk histeria. Satu gram bubuk akar harus diberikan dengan satu cangkir susu di pagi hari maupun di malam hari. Perawatan harus dilanjutkan sampai obat lengkap telah diperoleh. 6. Perawatan histeria menggunakan Asafoetida Asafoetida juga telah terbukti bermanfaat dalam pengobatan penyakit ini. Berbau permen karet ini mencegah serangan histeris. Jika diambil secara lisan, dosis harian harus 0,5-1,0 mg. Suatu emulsi terdiri dari 2 mg dari karet dengan 120 ml air adalah Enema berharga dalam histeria, ketika pasien menolak mengambil karet secara lisan. Dalam kebanyakan kasus histeria, itu diharapkan bagi pasien untuk memulai perawatan dengan mengadopsi buah yang semuanya diet selama beberapa hari, mengambil makan tiga kali sehari dari buah-buahan segar seperti jeruk, apel, anggur, jeruk, pepaya, dan nanas. 7. Susu eksklusif diet Hal ini mungkin diikuti dengan diet susu eksklusif selama sekitar satu bulan. Diet susu akan membantu untuk membangun lebih baik memberi makan darah dan saraf. Jika diet susu penuh tidak nyaman, diet susu dan buahbuahan mungkin dapat diadopsi. Pasien mungkin, setelah itu, secara bertahap memulai atas diet seimbang dari biji-bijian, kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan. 8. Hindari teh, kopi, alkohol dll Pasien harus menghindari alkohol, teh, kopi, tembakau, gula putih dan tepung putih, dan produk yang dibuat dari mereka. 27 9. Menduduki kontrol diri dan pikiran Pasien harus diajarkan pengendalian diri dan dididik dalam kebiasaan yang benar berpikir. Pikirannya harus ditarik jauh dari dirinya sendiri dengan beberapa cara. Pendidikan seks yang layak harus disediakan dan pasien yang sudah menikah harus diajarkan untuk menikmati hubungan seksual yang normal. 10. Latihan dan permainan di luar ruangan Latihan dan permainan di luar ruangan juga penting. Mereka mengambil pikiran jauh dari diri dan mendorong kegembiraan. 11. Yogasanas Yogasanas shalabhasana, yang berguna matsyasana, dalam histeria Dhanurasana, adalah halasana, bhujangasana, Paschimottanasana, yogamudra, dan shavasana. Pasien lemah, yang tidak mampu berbuat banyak aktif latihan, mungkin akan diberi pijatan tiga atau empat kali seminggu. G. Prognosis dari Histeria Tergantung pada kondisi yang menyertai, masalah lingkungan, kepribadian dan masalah – masalah yang menjadi penyebabnya. Dikatakan Baik : bila timbul akut, konfliknya jelas, faktor – faktor sosial yang mudah diselesaikan atau berkaitan dengan intoksikasi obat. Dan Buruk : bila berhubungan dengan kepribadian yang sukar dikendalikan atau problem situasional yang sulit. Pasien tetap bersifat bermusuhan dan kurang kooperatif dalam pengobatan. Pria 43%, wanita 35% mempunyai gejala – gejala residu setelah 1th. 28 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan kepada pembahasan, dapat disimpulkan bahwa kerasukan adalah sesuatu yang benar-benar ada dan menjadi penyebab berlakunya histeria. Selain daripada itu, segala pandangan dan buah pemikiran para ulama yang diketengahkan juga menyokong perihal rasukan jin ke dalam diri manusia dapat mengakibatkan seseorang tidak sadarkan diri dan mengalami histeria. Hal ini mengacu pada dalil ‘aqli, al-Quran dan al-Sunnah serta pandangan-pandangan daripada para ulama yang dikemukakan, yang sangat bertepatan dan selaras dengan pemahaman yang sebenarnya tentang histeria dan kaitannya dengan rasukan dan gangguan jin. Dalam memuktamadkan pandangan dan kajian terhadap gangguan dan rasukan jin sebagai penyebab dari timbulnya histeria ini, penulis tidak pula menolak pandangan para ilmuan kontemporari yang menunjukkan bahwa histeria, selain daripada disebabkan gangguan jin dan syaitan, juga dipengaruhi oleh faktor tekanan psikologi, keadaan emosi yang tidak stabil dan keadaan fisik yang lemah. Aspek-aspek psikologi dan fisik sepertimana yang diikemukakan oleh ilmuan kontemporari ini pula bagaimanapun perlu diteliti dan dianalisa dengan lebih mendalam agar histeria itu tidak dilihat dari sudut pandangan fisik saja. Karena kejadian histeria tidak seharusnya dipandang sebagai akibat daripada gangguan dan tekanan psikologi semata, di mana seseorang atau penderita hanya diobati dan di tangani oleh dokter ataupun dokter psikologi yang pakar di dalam bidang tersebut. Namun penting untuk diingatkan bahwa setiap kejadian, peristiwa dan penyakit yang menimpa seseorang manusia itu tidak akan berlaku melainkan atas izin Allah SWT. 29 Oleh sebab itu, dalam mencari jalan penyelesaian utuk kejadian-kejadian histeria melalui sudut penyelesaian menggunakan kepakaran dokter dan kemahiran psikologi semata-mata adalah tidak begitu tepat. Seseorang itu juga perlu mengimani bahwa Allah SWT adalah Maha berkuasa dan dialah yang memberi kebaikan dan keburukan kepada manusia dengan izin-Nya, sehingga setiap orang yang sakit memerlukan kuasa Allah SWT sebagai penyembuh. B. Saran 1. Institusi Pendidikan Agar memberikan feedback positif terhadap makalah ini, agar bila terjadi kesalahan dalam penulisan ataupun kekeliruan dalam isi materi makalah ini dapat di perbaiki dan tidak menimbulkan salah tafsir datau pro kontra yang menyebabkan timbulnya masalah baru, sehingga di penulisan kedepan makalah ini dapat dikembangkan dengan lebih baik. 2. Mahasiswa Agar Mahasiswa lebih bisa mengembangkan pemahaman mengenai kasus “Hysteria” yang terjadi di kalangana masyarakat, mempelajari fenomena dan literature yang terbaru sehingga makalah ini dapat diperbaiki dan menghasilkan acuan literartur yang dapat pembelajaran keperawatan. 30 digunakan dalam proses