Uploaded by common.user6543

outline bab 123

advertisement
PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, DAN
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BURSA
EFEK INDONESIA (BEI) PERIODE 2014 – 2017
THE INFLUENCE OF COMPANY SIZE, PROFITABILITY, AND
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) ON CORPORATE
VALUE STUDY ON MANUFACTURING COMPANIES OF CONSUMER
GOODS INDUSTRIAL SECTORS REGISTERED IN INDONESIA STOCK
EXCHANGE (IDX) PERIOD OF 2014 -2017
SKRIPSI
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar
Sarjana Ekonomi
Disusun Oleh:
NAMA
: MUHAMMAD RIFQI IZZAT R.
NO. MAHSISWA
: 1514190065
N.I.R.M
:
FAKULTAS
: EKONOMI
PROGRAM STUDI
: AKUNTANSI
PROGRAM
: STRATA – I
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PERSADA INDONESIA
JAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan dunia usaha di era globalisasi sangat pesat di
Indonesia saat ini, hal tersebut dilihat berdasarkan perusahaan –
perusahaan yang baru berdiri dengan diiringi persaingan yang sangat ketat
dan kompetitif. Dengan hadirnya perusahaan- perusahaan membuat
ketatnya persaingan dan menuntut manajemen perusahaan untuk
manambah pengetahuan tentang manajemen keuangan. Pengetahuan
tentang manajemen keuangan tersebut sangat penting bagi manajer guna
mengetahui perkembangan perusahaan dan pengetahuan tersebut juga
penting bagi investor dalam mengetahui masalah keuangan pada
perusahaan tersebut.
Analisis terhadap nilai perusahaan merupakan suatu hal yang harus
dipertimbangkan dengan baik. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi
keinginan para pemilik modal, karena dengan nilai yang tinggi menunjukkan
kemakmuran pemegang sahamnya juga tinggi. Memaksimalkan nilai
perusahaan merupakan tujuan dari manajemen keuangan itu sendiri.
Tujuan ini dapat dicapai apabila pelaksanaan fungsi manajemen keuangan
dilakukan dengan teliti dan dapat mengingat setiap
1
keputusan keuangan yang diambil akan mempengaruhi keputusan
keuangan lainnya yang berdampak terhadap nilai perusahaan.
Nilai perusahaan dihitung dengan menggunakan PBV (Price Book
Value). Rasio ini digunakan untuk mengukur nilai yang diberikan pasar
keuangan kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai sebuah
perusahaan yang terus tumbuh (Sukimi, 2012) semakin tinggi nilai PBV,
maka semakin tinggi nilai perusahaannya.
Prasetyorini (2013:186) Ukuran perusahaan adalah suatu skala
dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahan menurut berbagai
cara antara lain dengan aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain – lain.
Besar kecilnya perusahan akan mempengaruhi kemampuan dalam
menanggung risiko yang mungkin timbul dari berbagai situasi yang dihadapi
perusahaan. Setiap perusahaan mempunyai ukuran yang berbeda – beda.
Semakin besar ukuran perusahaan maka semakin mudah pula perusaan
memperoleh sumber pendanaan melalui investor yang masuk. Perusahaan
yang besar lebih diminati ketimbang perusahaan kecil. Perusahaan yang
lebih besar menunjukkan perusahan mengalami perkembangan sehingga
investor akan merespon positif dan nilai perusahaan akan meningkat.
Arif Firmansyah dan Suwitho (2017) pengaruh ukuran perusahaan
dan profitabilitas terhadap nilai perusahan melalui kebijakan deviden.
Ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikasn terhadap nilai
perusahaan. Ta’dir Eko Prasetia, perengkuan Tommy, dan Ivone S.
Saerang (2014) struktur modal, ukuran perusahaan dan risiko perusahaan
terhadap nilai perusahaan otomotif yang terdaftar di bei. Hasil penelitian
2
Ukuran perusahaan (Total Asset) secara parsial berpengaruh positif dan
signifikan terhadap Nilai Perusahan.
Brigham dan Houston (2003:107). Rasio Profitabilitas adalah
sekelompok rasio yang menunjukkan gabungan efek – efek dari likuiditas,
manajemen aktiva, dan hutang pada hasil – hasil oprasi. Rasio profitabilitas
mengukur kemampuan perusahan dalam menghasilkan seberapa efisien
perusahaan menggunakan asset dalam melakukan operasinya untuk
menghasilkan keuntungan. Rasio profitabilitas merupakan hasil akhir dari
sejumlah kebijakan dan keputusan yang dilakukan oleh perusahan.
Variabel profitabilitas dipilih karena terdapat perbedaan hasil penelitian
terdahulu,. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Soliha dan Taswan
(2002), mununjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai
perusahaan. Yunita (2010), profitabilitas berpengaruh terhadap nilai
perusahaan.
Mahendra
(2011),
menunjukkan
bahwa
profitabilitas
berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian Indrajaya dan
Setiadi (2011), mununjukkan bahwa negatif terhadap struktur modal karena
apabila struktur modal turun makan nilai perusahaan juga akan turun.
Corporate Social Responsibility adalah bentuk dimana tanngung
jawab perusahaan dalam memperbaiki kesenjangan social dam kerusakan
lingkungan yang terjadi akibat aktivitas operasional perusahaan. Semakin
banyak bentuk pertanggung jawaban yang dilakukan perusahan terhadap
lingkungannya, makan image perusahaan menjadi meningkat.
Investor lebih memilih perusahaan yang memiliki citra yang baik di
masyarakat karena semakin baiknya citra perusahaan, loyalitas konsumen
3
semakin tinggi sehingga dalam dalam jangka pendek dan jangka panjang
penjualan perusahaan akan membaik. Jika perusahan berjalan lancar maka
nilai saham perusahan akan meningkat. Hal ini akan mempengaruhi pola
pikir masyarakat dalam menentukan dan memilih produk yang akan mereka
konsumsi. Sekarang, masyarakat cenderung untuk memilih produk yang di
produksi oleh perusahaan yang peduli terhadap lingkungan atau
melaksanakan Corporate Social Responsibility.
Corporate
Social
Responsibility
mempunyai
peran
dalam
meningkatkan nilai perusahaan dengan cara melakukan berbagai aktivitas
sosial dilingkungan sekitarnya. Meningkatnya nilai perusahaan yang tinggi
dapat meningkatkan kemakmuran bagi para pemegang saham, sehingga
para pemegang saham akan menginvestasikan modalnya kepada
perusahaan tersebut (Haruman. T,2008).
Rustiarini
(2010)
mengungkapkan
meningkatkan
suatu
nilai
menyatakan
informasi
perusahaan.
jika
bahwa
perusahaan
informasi
Perusahaan
dapat
tersebut
akan
dapat
menggunakan
informasi tanggung jawab sosial sebagai keunggulan kompetitif dalam
meningkatkan nilai perusahaan.
Siti Sapia Latupono dan Andayani (2015) meneliti pengaruh
Corporate Social Responsibility terhadap nilai perusahaan Good Corporate
Governance Variable Moderatting. Hasil pengujian menyatakan bahwa
CSR berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan dengan arah
koefisien positif.
4
Hanni Chyntia Maita Putri Surya (2013) pengaruh Corporate Social
Responsibility terhadap nilai perusahaan dengan kepemilikan manajerial
sebagai variabel moderating Corporate Social Responsibility memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
Berdasarkan yang diuraikan dalam latar belakang masalah dalam
pengaruh nilai perusahaan, maka peneliti tertarik melakukan penelitian
mengenai.
“PENGARUH
UKURAN
PERUSAHAAN,
PROFITABILITAS,
CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN STUDI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR INDUSTRI
BARANG
KONSUMSI
YANG
TERDAFTAR
INDONESIA (BEI) PERIODE 2014 – 2017”
5
DI
BURSA
EFEK
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar
belakang
masalah
diatas,
maka
identifikasi
masalahnya yakni :
1. Terdapat Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap nilai perusahan pada
perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia Periode 2014 – 2017.
2. Terdapat
Pengaruh
Profitabilitas terhadap
nilai
perusahaan
pada
perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia Periode 2014 – 2017.
3. Terdapat Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap nilai
perusahaan pada perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014 – 2017.
4. Terdapat kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan pada perusahaan
Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2014 – 2017.
6
C. Batasan Masalah
Batasan
masalah
yang
dimaksudkan
untuk
memperoleh
pemahaman dari penelitian tersebut agar lebih jelas dan terarah serta tidak
menyimpang dari masalah yang ada. Adapun pembatasan masalahnya
antara lain :
1. Variabel Independen yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Ukuran
Perusahaan, Profitabilitas, dan Corporate Social Responsibility (CSR)
sedangkan Variabel Dependen yang akan diteliti adalah Nilai Perusahaan.
2. Perusahaan yang akan dijadikan sampel penelitian ini adalah perusahaan
Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2014 – 2017.
3. Periode penelitian yang digunakan adalah data tahun 2014 – 2017.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan, maka
perumusan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut :
1. Apakah terdapat pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap nilai perusahaan
pada perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada periode 2014 – 2017 ?
2. Apakah terdapat pengaruh Profitabilitas terhadap nilai perusahaan pada
perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia pada periode 2014 – 2017 ?
7
3. Apakah terdapat pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap
nilai perusahaan pada perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2014 – 2017 ?
4. Apakah terdapat pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan
Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap nilai perusahaan pada
perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia periode 2014 – 2017?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan yang ada diangkat, penelitian ini
memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap
nilai perusahaan pada Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia periode 2014 – 2017.
2. Untuk mengetahui apakah tedapat pengaruh Profitabilitas terhadap nilai
perusahan pada Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia periode 2014 – 2017.
3. Untuk
mengatahui
apakah
Responsibility (CSR) terhadap
terdapat
pengaruh
Corporate
Social
nilai perusahaan pada perusahaan
Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2014 – 2017.
4. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh Ukuran Perusahaan,
Profitabilitas, dan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap nilai
8
perusahaan pada perusahaan Manufaktur Industri Barang Konsumsi yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014 – 2017.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini ada dua aspek, yaitu :
1. Aspek teoritis (keilmuan)
a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan ilmu pengetahuan,
terutaman pada bidang akuntans manajemen.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bahn kepustakaan dan
mampu memberikan kontribusi pada pengembangan teori, terutama yang
berkaitan dengan akuntansi manajemen.
c. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang konsep
Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Corporate Social Responsibility (CSR),
dan nilai perusahaan.
d. Penelitian ini dijadikan sebagai bahan referensi dan bahan pertandingan
untuk penulisan selanjutnya, sehingga kekurangan yang ada dalam
penulisan in dapat diperbaiki.
9
2. Aspek Praktis
a. Penelitian ini diharapkan dapat memberi suatu masukan yang bermanfaat
bagi pihak perusahaan dan sebagai bahan pertimbangan dalam kemajuan
perusahaan dimasa yang akan datang.
b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis untuk
organisasi perusahan dalam menentukan nilai perusahaan untuk mencapai
tujuan organisaasi perusahaan.
c. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi organisasi
perusahaan mengenai pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan
Coporate Social Responsibility (CSR) terhadap nilai perusahaan
10
BAB II
LANDAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. TINJAUAN TEORI
1. Teori Sinyal (Signalling Theory)
Menurut Brigham dan Houston (2012), teori sinyal adalah tindakan
perusahaan dalam memberi sinyal kepada investor tentang bagaimana
manajemen memandang perusahaan. Sinyal – sinyal keberhasilan atau
kegagalan manajeman (agen) disampaikan kepada pemilik (principal).
Dorongan untuk mendapatkan sinyal timbul karena adanya informasi
tidak sesuai antara perusahaan dengan pihak luar, dimana investor
mengetahui informasi internal perusahaan yang relative lebih sedikit dan
lebih lambat dari pihak manajemen. Menurut atmaja (2008:14), manajer
pad umumnya termotivasi untuk menyampaikan informasi yang baik
mengenai perusahaannya ke publik, namun pihak diluar perusahaan
tidak tahu keberadaan dari informasi yang disampaikan tersebut. Jika
manajer dapat memberi sinyal yang meyakinkan, maka publik akan
terkesan dan hal ini akan terefleksi pad harga sekuritas. Jadi dapat
disimpulkan pemberian sinyal kepada investor atau publik melalui
11
keputusan – keputusan manajemen sangat penting informasi yang
dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi
investor dalam pengambilan keputusan investasi. Pada saat informasi
diumumkan, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan
menganalisis informasi tersebut sebagai signal baik (good new) atau signal
buruk (bad news). Jika pengumuman informasi tersebut dianggap sebagai
signal baik, maka investor akan tertarik umtuk melakukan perdagangan
saham, dengan demikian pasar akan bereaksi yang tercermin melalui
perubahan dalam volume perdagangan saham (Jogiyanto, 2012:392)
Salah satu jenis informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang
dapat menjadi sinyal bagi pihak luar perusahaan, terutaman investor
adalah laporan keuangan. Kepentingan investor terhadap laporan
keuangan
perusahaan
adalah
untuk
mengetahui
seberapa
menguntungkan suatu perusahaan dikaitkan dengan investasi mereka
pada perusahaan tersebut.
2. Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori Keagenan (Agency Theory) merupakan suatu hubungan
kerjasama keagenan sebuah kontrak antara manajer dengan investor.
Menurut Jensen dan Meckling (1976) dalam Isnanta, 2008) hubungan
keagenan merupakan pemisahan antara kepemilikan (investor) dan
pengendalian (agent/manajer). Pemisahan antara fungsi kepemilikan
(ownership) dan fungsi pengendalian (control) dalam hubungan
keagenan sering menimbulkan masalah-masalah keagenan (agency
12
problems). Masalah-masalah keagenan timbul Karena perbedaan
kepentingan antara investor dan agent. Permasalahan yang sering
terjadi yaitu adanya conflict of interest antara pemilik perusahaan dan
manajemen yang dapat menimbulkan masalah agensi, dimana
manjemen
tidak
bertindak
sesuai
dengan
kepentingan
pemilik
perusahaan dan hal ini akan berpengaruh kepada kinerja perusahaan.
Teori agensi banyak dijadikan dasar teori yang mendasari praktik bisnis
perusahaan yang dipakai selama ini.
3. Ukuran Perusahaan
a. Pengertian Ukuran Perusahaan
Menurut Brigham & Houston (2010:4) ukuran perusahaan
merupakan: “Ukuran besar kecilnya sebuah perusahaan yang
ditunjukkan atau dinilai oleh total aset, total penjualan, jumlah laba,
beban pajak dan lain – lain.” Dan Sartono (2010:249) menyatakan
bahwa: “Perusahaan besar yang sudah well-establhished akan lebih
mudah memperoleh modal dipasar dibanding dengan perusahaan
kecil. Karena kemudahan akses tersebut berarti perusahan besar
memiliki fleksibilitas yang lebih besar pula.”
Pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai peusahaan didukung
oleh signaling theory. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Ross
pada tahun 1977. Menurut Brigham dah Houston (2014:186) Teori
Signaling adalah: “Suatu tindakan yang diambil oleh manajemen suatu
perusahaan memberikan petunjuk kepada investor tentang bagaimana
13
manajemen menilai prospek perusahaan tersebut.” Dan Sugiarto
(2009:48-49) menyatakan bahwa: “Teori signalling didasarkan pada ide
bahwa manajer yang memiliki informasi bagus tentang perusahaan
berupaya menyampaikan informasi tersebut kepada investor luar agar
harga saham perusahaan meningkat.”
Ukuran perusahaan yang besar dapat ditandai dengan total aset
perusahaan yang mengalami kenaikan dan lebih besar dibandingkan
dengan jumlah kenaikan dan lebih besar dibandingkan dengan jumlah
utang
perusahaan.
Sehingga
perusahaan
sedang
mengalami
perkembangan dan pertumbuhan yang baik dan akan meningkatkan
nilai perusahaan.
b. Klasifikasi Ukuran Perusahaan
Klasifikasi ukuran perusahaan menurut UU No. 20 Tahun 2008
dibagi kedalam 4 (empat) kategori yaitu :
1) Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan
dan atau badan usaha perorangan yan memenuhi kriteria
usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang – undang ini.
2) Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri
sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan
usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah
atau usaha besar yang memenuhi kriteria usaha kecil
14
sebagaimana dimaksud besar yang memenuhi kriteria usaha
kecil sebagaimana dimaksud undang – undang ini.
3) Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri
sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan
usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik
yang langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau
usaha benar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang –
undang ini.
4) Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan
oleh badan usaha dengan sejumlah kekayaan bersih atau hasil
penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang
meliputi usaha nasional milik Negara atau Swasta, usaha
patungan, dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi
di Indonesia.
Adapun kriteria ukuran perusahaan yang diatur dalam UU No. 20
tahun 2008 diuraikan dalam tabel
15
Tabel 2.1
Kriteria Ukuran Perusahaan
Ukuran
Perusahaan
Usaha Mikro
Usaha Kecil
Usaha Menengah
Usaha Besar
Kriteria
Aset (tidak
termasuk tanah dan
bangunan)
Maksimal 50 Juta
> 50 juta - 500 juta
> 500 juta - 10 M
> 10 M
Penjualan
Tahunan
Maksimal 300 juta
> 300 juta -2.5 M
> 2.5 M - 50 M
> 50 M
c. Pengkuran Ukuran Perusahaan
Menurut Hartono (2015:254) Ukuran Perusahaan (Firm size)
adalah: “Besar kecilnya perusahaan yang dapat diukur dengan total
aktiva/ besar harta perusahaan dengan menggunakan perhitungan nilai
logaritma total aktiva.”
π‘ˆπ‘˜π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘Žπ‘› = 𝐿𝑛 (π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑒𝑑)
4. Profitabilitas
a. Pengertian Profitabilitas
Dwi Kartikasari dan Marissa (2016:40) “Profitabilitas adalah
kemampuan perusahaan unutk menghasilkan laba untuk jangka
waktu tertentu. Semakin tinggi rasio profitabilitas, semakin tinggi laba
16
yang dihasilkan perusahaan dalam periode tertentu.” Menurut
Sartono (2010:122), “Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan
memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aktiva,
dan modal.”
Harahap
(2010:304)
menyatakan
bahwa
“Profitabilitas
merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.”
Profitabilitas menunjukkan keberhasilan suatu badan usaha dalam
menghasilkan pengembalian (return) kepada pemiliknya. “Rasio
profitabilitas mencerminkan hasil kahir dari seluruh kebijakan
keuangan dan keputusan operasional dan keputusan operasional
(Brigham dan Houston (2012:146)).”
b. Perhitungan Profitabilitas
Menurut Kieso (2015:723) bahwa rasio profitabilitas digunakan
untuk mengukur pendapatan atau keberhasilan operasi perusahaan
untuk
suatu
periode
tertentu.
Pendapatan
tersebut
dapat
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh utang
dan pendanaan aktivitas.
1) Profit Margin
Profit margin adalah ukuran dari persentase penjualan yang
menghasilkan laba bersih. Besarnya perhitungan margin laba
bersih menunjukkan seberapa besar laba setelah pajak yang
17
diperoleh perusahaan untuk tingkat penjualan tertentu. Profit
margin dapat dirumuskan sebagai berikut:
π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘“π‘–π‘‘ π‘€π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘–π‘› =
𝑁𝑒𝑑 πΌπ‘›π‘π‘œπ‘šπ‘’
𝑁𝑒𝑑 π‘†π‘Žπ‘™π‘’π‘ 
2) Return On Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) merupakan rasio antara saldo laba
bersih setelah pajak dengan jumlah asset perusahaan secara
keseluruhan. ROA juga menggambarkan sejauh mana tingkat
pengembalian dari seluruh asset yang dimiliki perusahaan. Maka
Return On Assets dapat dirumuskan sebagai berikut:
π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› 𝑂𝑛 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑𝑠 =
πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π΄π‘“π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘‡π‘Žπ‘₯
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑𝑠
3) Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) menggambarkan berapa persen
diperoleh laba bersih bila diukur dari modal sendiri. Semakin tinggi
rasio ini semakin baik karena posisi pemilik perusahaan semakin
kuat, demikian juga sebaliknya. Adapun tujuan penggunaan
Retrun On Equity adalah:
1) Mengukur atau menghitung laba yang dihasilkan
2) Menilai perkembangan laba dari waktu ke waktu
3) Menilai besar laba bersih sesudah pajak dengan modal
sendiri
18
4) Mengukur produktivitas perusahaan dari seluruh dana
perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman
maupun modal sendiri.
Sementara itu, manfaat yang diperoleh Return On Equity adalah
1) Mengetahui besar tingkat laba
2) Menegtahui perkembangan laba dari waktu ke waktu
3) Mengetahui laba bersih sesudah pajak dengan modal
sendiri
4) Mengetahui
produktivitas
dari
seluruh
dana
perusahaan yang digunakan, baik modal pinjaman
maupun modal sendiri.
Return On Equity dapat dirumuskan sebagai berikut
π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› 𝑂𝑛 πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦ =
πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π΄π‘“π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘‡π‘Žπ‘₯
π‘†β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’β„Žπ‘œπ‘™π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘  ′ 𝑠 πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦
5. Corporate Social Responsibility
a. Pengertian corporate social responsibility (CSR)
Corporate Social Responsibility atau pertanggung jawaban
sosial perusahaan adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk
secara suka rela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan
dan
social
kedalam
operasinya
dan
interaksinya
dengan
stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi dibidang
hukum. Menurut Wibisono (2007:7) Corporate Social Responsibility
19
merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk
bertindak etis dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan
ekonomi dari komunitas setempat ataupun masyarakat luas,
bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerja beserta
keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal
masyarakat secara luas.
Menurut
Suhandari
M.Putri
dalam
(Hendrik
2008:1),
Corporate Social Responsibility (CSR) adalah komitmen perusahaan
atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi
berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab social
perusahaan dan menitikberatkan pada keseimbangan antara
perhatian terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Menurut ISO 26000 Corporate Social Responsibility (CSR)
adalah tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampakdampak dari keputusan dan kegiatan – kegiatan pada masyarakat
dan lingkungan yang diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan
dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan
kesejahteraan masyarakat, mempertimbangkan harapan para
pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan
norma – norma perilaku internasional, serta terintegrasi dengan
organisasi secara menyeluruh.
Dengan demikian Coporate Social Responsibility adalah
kepedulian perusahaan yang menyisihkan keuntungannya (profit)
20
bagi kepentingan pembangunan manusia (people) dan lingkungan
(planet) secara berkelanjutan berdasarkan prosedur yang tepat dan
profesional.
b. Prinsip-Prinsip Corporate Social Responsibility
Crowther David(2006) dalam Hadi (2011) Mengurai prinsip –
prinsip tanggung jawab sosial (social responsibility) menjadi tida
yaitu :
1) Sustainability, berkaitan dengan bagaimana perusahaan
dalam melakukan aktivitas (action) tetap memperhitungkan
keberlanjutan sumberdaya dimasa depan. Sustainability
berputar pada keberpihakan dan upaya bagaimana society
memanfaatkan sumberdaya agar tetap memperhatikan
generasi masa datang.
2) Accountability, merupakan upaya perusahaan terbukan dan
bertanggung jawab atas aktivitas yang telah dilakukan.
Konsep
ini menjelaskan
perusahaan
terhadap
pengaruh
pihak
kuantitatif
internal
dan
aktivitas
eksternal.
Akuntabilitas dapat dijadikan sebagai media bagi perusahaan
membangun imagae dan network terhadap para pemangku
kepentingan.
3) Transparency,
merupakan
prinsip
penting
bagi
pihak
eksternal. Tranparansi bersinggungan pelaporan aktivitas
perusahaan berikut dampak terhadap pihak eksternal.
Tranparansi merupakan suatu hal yang amat penting bagi
21
pihak
eksternal,
informasi,
berperan
untuk
kesalahpahaman
mengurangi
khususnya
asimetri
informasi
dan
pertanggungjawaban berbagai dampak dari lingkungan.
c. Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR)
Menurut Suwarjono (2015) secara konseptual, pengungkapan
(discloure) merupakan bagian menyeluruh dari laporan keuangan
secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam
proses
akuntansi
yaitu
penyajian
informasi
dalam
bentuk
seperangkat statement keuangan.
Seiring dengan ramainya masyarakat global terhadap produk
– produk ramah lingkungan CSR diatur oleh Undang – Undang PT
No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mengenai tanggung
jawab social dan lingkungan yang kegiatan atau usahanya berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakannya. Ketentuan ini
dimaksudkan untuk mendukung terjadinya hubungan perusahaan
yang baik, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma
dan budaya masyarakat setempat.
d. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)
Menurut wibisono (2007) dalam M. Septian (2013), ada
beberapa manfaat terhadap CSR sebagai berikut:
1) Mempertahankan dan mendongkra serta Brand Image
perusahaan
2) Layak mendapatkan Social License to Operate
3) Mereduksi resiko bisnis perusahaan
22
4) Melebarkan akses sumber daya bagi operasional
5) Membuka peluang pasar yang lebih luas
6) Mengurangi biaya
7) Memperbaiki hubungan dengan stakeholders
8) Memperbaiki hubungan dengan regulator
9) Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan
10) Peluang untuk memperoleh penghargaan
e. Ruang lingkup tanggung jawab social perusahaan
Pertanggungjawaban manajemen atas pengelolaan perusahaan
dibagi manjadi tiga yaitu :
1) Tanggung jawab manajemen kepada investor dan keditor
Manajemen bertanggung jawab atas pengelolaan dana
tersebut,
baik
mengenai
keselamtan
maupun
tingkat
pengembalian dana.
2) Tanggung jawab manajemen terhadap pemerintah
Pemerintan adalah pemegang otoritas dalam menetapkan
pajak, peraturan, dan perundang-undang yang berlaku,
melindungi hak-hak masyarakat yang mempunyai hubungan
baik secara langsung maupun tidak langsung dengan
perusahaan, dan mengatur atas akibat – akibat yang
ditimbulkan
oleh
operasional
lingkungan.
23
perusahaan
terhadap
3) Tanggung jawab manajemen terhadap masyarakat
Masyarakat termasuk karyawan, konsumen, warga sekitar
merupakan kelompok besar yang secara langsung atau tidak
langsung mempunyai kepentingan terhadap perusahaan –
perusahaan tertentu menggunakan sumber daya manusia
dalam
pelaksanaan
operasionalnya.
Oleh
karena
itu,
kesehatan dan kesejahteraan mereka adalah faktor yang
tidak bisa dikesampingkan dan perusahaan dituntut untuk
berlaku adil terhadap seluruh karyawan.
f. Indikator
–
Indikator
pengungkapan
Corporate
Social
Responsibility (CSR)
Daftar pengungkapan sosial berdasarkan standar Global Reporting
Initiative (GRI) yang digunakan oleh Dahli dan Siregar (2008),
peneliti menggunakan 6 indikator pengungkapan yaitu :
1) Indikator Kinerja Ekonomi (economic performance indicator)
2) Indikator
Kinerja
Lingkungan
(enviroment
performance
indicator)
3) Indikator Kinerja Tenaga Kerja (labor practices performance
indicator)
4) Indikator Hak Asasi Manusia (human rights performance
indicator)
5) Indikator kinerja Sosial (social performance indicator)
6) Indikator Kinerja Produk (product responsibility indicator)
24
g. Perumusan Pengungkapan Corporate Social Responsibility
(CSR)
Rumus Pengungkapan Corporate Social Responsibility berikut:
𝐢𝑆𝑅𝐷𝐼j =
∑𝑋𝑖𝑗
𝑁𝑗
Dimana:
CSRDIj
:
Corporate
Social
Responsibility
Responsibility
Discloure Index perusahaan j
Xij
: Jumlah item yang diungkapkan oleh perusahaan j
Nj
: Jumlah item pengungkapan CSR
6. Nilai Perusahaan
a. Pengertian Nilai Perusahaan
Menurut Brigham dan Houston (2006:19) bahwa nilai
perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan pemegang
saham identik dengan memaksimalkan harga dan saham biasa
perusahaan.
Mardiyanto (2009:182) mengatakan bahwa nilai perusahaan
adalah nilai sekarang dari serangkaian arus kas masuk yang akan
dihasilkan pada masa mendatang menurut Margaretha (2005:1) nilai
25
perusahaan yang sudah go public tercermin dalam harga pasar
saham perusahaan. Sedangkan nilai perusahaan yang belum go
public nilainya terealisasi apabila perusahaan yang belum go public
nilainya terealisasi apabila perusahaan akan dijual (total aktiva dan
prospek perusahaan, risiko usaha, lingkungan usaha, dan lainlainnya).
Suad(2009:7)
mengatakan
bahwa
nilai
perusahaan
merupakan hal yang harus diperhatikan oleh investor. Kemakmuran
pemegang saham atau investor. Dengan kata lain nilai perusahaan
merupakan ukuran kinerja manajer keuangan.
b. Konsep Nilai Perusahaan
Ada beberapa konsep nilai perusahaan menurut Christiawan
dan Tarigan (2007) adalah sebagai berikut:
1) Nilai nominal
Nilai nominal merupakan nilai yang bercantum secara
format dalam angaran dasar perseroan.
2) Nilai Likuidasi
Nilai
Likuidasi
merupakan
nilai
jual
seluruh
aset
perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban yang
harus dipenuhi.
3) Nilai buku
Nilai buku merupakan nilai perusahaan yang dihitung
dengan dasar akuntansi
26
4) Nilai pasar
Nilai pasar merupakan harga yang terjadi dan proses
tawar menawar disaham pasar
5) Nilai intrinsik
Nilai perusahaan dalam nilai intrinsik bukan hanya sekedar
harga
dan
perusahaan
sekumpulan
sebagai
kemamouan
nilai
entitas
menghasilkan
aset,
bisnis
melaikan
yang
keuntungan
nilai
memiliki
dimasa
mendatang.
c. Tujuan Nilai Perusahaan
Menurut Sudana (2011:8), tujuan normatif suatu perusahaan
yaitu memaksimalkan nilai perusahaan atau kekayaan bagi
pemegang saham yang dalam jangka pendek bagi perusahaan go
Public tercermin pada harga saham perusahaan yang bersangkutan
di pasar modal. Memaksimalkan nilai perusahaan dinilai lebih tepat
sebagai tujuan yaitu:
1) Memaksimalkan nilai perusahaan berarti memaksimalkan
klliopnilai sekarang dan semua keuntungan yang akan
diterima oleh pemegang saham dimasa yang akan datang.
2) Mempertimbangkan faktior risiko
3) Memaksimalkan nilai perusahaan lebih menekankan pada
arus kas daripada sekedar laba menurut pengertian
akuntansi.
27
4) Memaksimalkan nilai perusahaan tidak mengaaikan
tanggung jawab sosial
d. Pengukuran Nilai Perusahaan
Indikator – Indikator yang mempengaruhi nilai perusahaan
diantaranya adalah (Susanti: 2010):
1) PER (Price Earning Ratio)
PER yaitu rasio yang mengukur seberapa besar
perbandingan antara nama saham perusahaan dengan
keuntungan yang diperoleh, pemegang saham. Faktor – faktor
yang mempengaruhi PER Yaitu:
a) Tingkat Pertumbuhan data
b) Dividensi Payout Ratio
c) Tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemodal
Rumus yang digunakan adalah:
𝑃𝐸𝑅 =
π»π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘Ž π‘ƒπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘Ÿ π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š
πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π‘ƒπ‘’π‘Ÿ πΏπ‘’π‘šπ‘π‘Žπ‘Ÿ π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š
2) PBV (Price Book Value)
Pengukuran nilai perusahaan dalam penelitian ini akan
menggunakan proksi yaitu : Rice to Book Value pada periode
yang telah ditentukan. Menurut Prayitno 2009, Price to Book
Value
(PBV)
menggambarkan
beberapa
besar
menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.
28
pasar
Dapat disimpulkan semakin tinggi PBV semakin tinggi
tingkat kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan,
maka akan menjadi daya tarik bagi investor untuk membeli
saham tersebut, sehingga permintaan akan naik, kemudian
mendorong harga saham naik. Dari rasio PBV menunjukan
tingkat kamampuan perusahaan menciptakan nilai relatif
terhadap jumlah modal yang diinvestasikan.
Rasio ini mengakui nilai yang diberikan pasa keuangan
kepada manajemen dan organisasi perusahaan sebagai
sebuah perusahaan yang terus tumbuh (Brigham 1999) dalam
Susanti,2010)
Beberapa alasan mengapa investor menggunakan rasio
terhadap nilai buku (PBV) dalam analisis investasi yaitu:
a) Nilai buku sifatnya relatif stabil
b) Adanya praktik akuntansi yang relatif standar diantara
perusahaan – perusahaan menyebabkan PBV dan
dapat dibandingkan antar berbagai perusahaan yang
akhirnya
dapat
mmberikan
signal
apakah
nilai
perusahaan under atau overvaluation
c) Pada kasus perusahaan yang memiliki earnings negatif
maka tidak memungkinkan untuk mempergunakan
PER sehingga PBV dapat menutupi kelemahan PER
yang
ada
pada
(Murhadi,2009:148)
29
PER
dalam
kasus
ini
Hal ini dihitung dengan membagi harga penutupan saham
saat ini dengan nilai buku kuartal terkini per saham. Juga dikenal
sebagai “rasio harga ekuitas”. Dihitung sebagai:
π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ π΅π‘œπ‘œπ‘˜ π‘‰π‘Žπ‘™π‘’π‘’ =
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘ƒπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘Ÿ
π»π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘Ž π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š
B. Hubungan Antar Variabel Dan Kerangka Pemikiran
1. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan
Ukuran Perusahaan merupakan salah satu indikasi
mengukur seberapa besar perusahaan berkomitmen dalam
mencerminakan seberapa besar perusahaan berkomitmen
dalam mencerminkan kepada lingkungan dan masyarakat
ataupun dengan perusahaan go public, sehinga pasar akan
memberikan
bayaran
yang
mahal
untuk
mendapatkan
sahamnya untuk percaya akan mendapatkan penghasilan yang
menguntunkan dari perusahaan.
H1:Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan
2. Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan
Profitabilitas yang tingi mencerminkan kemampuan dalam
menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham.
Semakin besar keuntungan yang diperoleh semakin besar pula
kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividennya, dan
hal ini berdampak pada kenaikan nilai perusahaan. Dengan rasio
30
profitabilitas yang tinggi yang dimiliki sebuah perusahaan akan
menarik
minat
investor
untuk
menanamkan
modalnya
diperusahaan.
H2: Profitabilitas berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan
3. Pengaruh Pengungkapan Corporate Social Responsibility
terhadap Nilai Perusahaan
Pertanggung jawaban social perusahaan didalam laporan
keuangan
disebut
keberlanjutan).
Nilai
Sustainbility
Reporting
perusahaanakan
tumbuh
(laporan
secara
berkelanjutan (sustainable) apabila perusahaan memperhatikan
dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Menurut Nurlela
dan Islahuddin (2008) dengan adanya praktik CSR yang baik,
diharapkan nilai perusahaan akan dimulai dengan baik oleh
investor.
H3: Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap nilai
perusahaan
C. Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian mengenai
pengaruh ukuran perusahaan,
profitabilitas, dan corporate social responsibility terhadap nilai perusahaan
telah dilakukan. Adapun ringkasan penelititan terdahulu tersebut antara
lain terdapat dalam tabel sebagai berikut:
31
Tabel 2.2
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No
Nama dan Tahun Judul
Publikasi
1.
Ayu
Dewi
dan
Sumber Hasil Penelitian
Penelitian
Srimahatma Pengaruh
dan
Struktur Ukuran
Perusahaan
Ary Modal, Profitabilitas, tidak bepengaruh pada
Wirajaya (2013)
dan
Ukuran nilai
Perusahaan
perusahaan
dan
pada profitabilitas
Nilai Perusahaan
berpengaruh positif dan
signifikan
pada
nilai
perusahaan
2
Loh
Setiawan
Wenny ANALISIS
Profitabilitas
dan PENGARUH
bepengaruh pada nilai
Meliana Lim (2018) PROFITABILITAS,
perusahaan,
Ukuran
UKURAN
Perusahan berpengaruh
PERUSAHAAN,
pada niai perusahaan
LEVERAGE,
DAN dan
PENGUNGKAPAN
Pengungkapan
Social
(CSR)
SOCIAL, TERHADAP berpengaruh pada nilai
NILAI PERUSAHAAN perusahaan
3
I
Nyoman
Agus Pengaruh Leverage, Ukuran
Suwardika dan I Ukuran
32
Perusahan, secara
Perusahaan
parsial
tidak
Ketut
Mustanda Pertumbuhan
(2017)
memiliki pengaruh yang
Perusahaan,
dan signifikan terhadap nilai
Profitabilitas
pada perusahaan
Nilai Perusahaan
dan
Profitabilitas
parsial
secara
berpengaruh
signifikan
dan
mempunyai arah yang
positif
terhadap
nilai
perusahaan
3
Eka
Indriyani PENGARUH
(2015)
UKURAN
Ukuran
Perusahaan
tidak
berpengaruh
PERUSAHAAN DAN signifikan terhadap nilai
PROFITABILITAS
TERHADAP
perusahaan
dan
NILAI profitabilitas berbanding
PERUSAHAAN
lurus
terhadap
nilai
perusahaan
4
Ajeng
Andriani PENGARUH
Hapsari (2018)
GOOD Corporate
CORPORATE
Social
Responsibility
GOVERNANCE DAN berpengaruh positif tapi
CORPORATE
tidak signifikan terhadap
SOCIAL
nilai perusahan dengann
RESPONSIBILITY
arah koefisien positif
33
TERHADAP
NILAI
PERUSAHAAN
5
Gusti Ayu
Ervina
Made PENGARUH
Rosiana, PENGUNGKAPAN
Gede Juliarsa, dan CSR
Maria
Pengungkapan
M.
berpengaruh positif dan
TERHADAP signifikan terhadap nilai
Ratna NILAI PERUSAHAAN perusahaan
Sari (2017)
CSR
dan
DENGAN
profitabilitas
mampu
PROFITABILITAS
memperkuat
pengaruh
SEBAGAI VARIABEL pengungkapan
PEMODERASI
terhadap
csr
nilai
perusahaan.
6
Arif
Firmansah, PENGARUH
Suwitho (2017)
Ukuran
UKURAN
Perusahaan
Berpengaruh
Negatif
PERUSAHAAN DAN signifikan terhadap nilai
PROFITABILITAS
TERHADAP
PERUSAHAAN
perusahaan
NILAI peoriftabilitas
memiliki
pengaruh
positif
terhadap
nilai
perusahaan.
34
dan
D. Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
Variabel
Independe
nn
Variabel
Dependen
Ukuran Perusahaan
(X1)
H1
Profitabilitas
Nilai Perusahaan
H2
(X2)
H3
Corporate Social
Responsibility
(X3)
H4
35
(Y)
Keterangan
Variabel Bebas (X1) : Ukuran Perusahaan
Variabel Bebas (X2) : Profitabilitas
Variabel Bebas (X3) : Corporate Social Responsibility
Variabel Terikat (Y) : Nilai Perusahaan
E. Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka pemikiranyang
didasarkan oleh teori yang relevan, maka dapat disimpulkan hipotesis
dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
H1
: Terdapat pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Nilai
Perusahaaan
H2
: Terdapat
pengaruh
Profitabilitas
terhadap
Nilai
Perusahaan
H3
: Terdapat pengaruh Coporate Social Responsibility Nilai
Perusahaan
H4
: Terdapat pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,
dan Pengungkapan Corporate Social Responsibility
secara bersama - sama
36
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metodologi penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan
data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2013:2).
Metode penelitian yang dilakukan penulis dalam penelitian in adalah
penelitian kausal komparatif (casual Comparative research), karena
akan diteliti hubungan sebab akibat dua variabel atau lebih.
Penelitian ini melakukan pengamatan terhadap konsekuensi –
konsekuensi yang timbul dan menelusuri kembali fakta secara
masuk akal sebagai factor – factor penyebabnya.
Penelitian Kausal Komperatif merupakan tipe penelitia ex past
facto yaitu tipe penelitian terhadap data yang dikumpulkan setelah
terjadinya suatu fakta atau peristiwa tersebut sebagai variabel yang
dipengaruhi (variabel dependen) dan melakukan penyelidikan
terhadap variabel yang mempengaruhi (variabel independen).
37
B. Oprasional Variabel
Oprasional variabel adalah gambaran tentang struktur
penelitian yang menjabarkan variabel/ sub variabel kepada konsep,
dimensi, indikator dan ukuram yang diarahkan untuk memperoleh
nilai variabel. Dalam penelitian terdapat dua tipe variabel, yaitu
variabel independen dan variabel dependen.
1. Variabel Independen
Variabel ini adalah variabel yang mempengaruhi variabel
lain. Dalam penelitian ini terdapat 3 variabel independen, yaitu
Ukuran Perusahaan (X1), Profitabilitas (X2) dan Pengungkapan
Corporate Social Responsibility (X3).
a) Ukuran Perusahan
Ukuran perusahaan dinyatakan dengan total asset,
jika semakin besar total asset perusahaan maka akan
semakin
besar pula ukuran
perusahan tersebut.
Perusahaan yang memiliki total asset besar menunjukan
bahwa perusahaan tersebut relative lebih stabil dan
mampu
menghasilkan
laba
yang
lebih
bersih
dibandingkan perusahaan yang memiliki total asset
sedikit atau rendah. Ukuran perusahaan dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
π‘ˆπ‘˜π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘Žπ‘› = 𝐿𝑛 (π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑒𝑑)
41
b) Profitabilitas
Profitabilitas adalah mengukur tingkat kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba. Brigham dan
Houston (2011) menyatakan bahwa profitabilitas adalah
efektifitas manajemen yang ditunjukkan oleh laba yang
dihasilkan dari penjualan atau investasi perusahaan.
Dalam penelitian ini profitabilitas perusahaan diukur
dengan menggunakan rasio ROA (Return on Assets).
Secara matematis ROA (Return on Assets) dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut
(Home, 2005):
π‘…π‘’π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘› 𝑂𝑛 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑𝑠 =
πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘–π‘›π‘” π΄π‘“π‘‘π‘’π‘Ÿ π‘‡π‘Žπ‘₯
π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑𝑠
c) Pengungkapan Corporate Social Responsibility
Menurut The World Business Council For Sustainable
Development (WBCSD), Corporate Social Responsibility
atau tanggung jawab perusahan didefinisikan sebagi
komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi
pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui kerja
sama dengan karyawan, keluarga, komunitas mauupun
masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas yang
bermanfaat
bagi
bisnis
maupun
pembangunan.
Pertanggung jawaban social perusahan atau CSR
42
adalah mekanisme suatu organisasi yang sukarela
memberikan perhatian terhadap lingkungan dan social
kedalam
aktivitas
dan
interaksinya
dengan
para
stakeholders yang melebihi tanggung jawab organisasi
dibidang hukum menurut Darwin (2004). Rumus
perhitungan tanggung jawab sosial adalah sebagai
berikut (Haniffa dan Cook, 2005):
𝐢𝑆𝑅𝐷𝐼j =
∑𝑋𝑖𝑗
𝑁𝑗
Keterangan:
CSRDIj
: Corporate
Social
Responsibility
Disclosure Index perusahan j
Nj
: Jumlah item untuk perusahan j
Xij
: dummy variabel : 1 = jika item I
diungkapkan ; 0 = jika item I tidak
diungkapkan
43
2. Variabel Dependen
a) Nilai Perusahaan
Dalam penelitian ini perhitungan yang digunakan
dikonfirmasi dalam Price Book Value (PBV). Menurut
Damadji (2012:157) PBV menggambarkan seberapa
besar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan.
Semakin tinggi rasio ini berarti pasar percaya akan
prospek perusahaan tersebut. PBV dihitung dengan
Rumus:
π‘ƒπ‘Ÿπ‘–π‘π‘’ π΅π‘œπ‘œπ‘˜ π‘‰π‘Žπ‘™π‘’π‘’ =
π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘ƒπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘Ÿ
π»π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘Ž π‘†π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi Dan Sampel
Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian kita
dalam suatu ruang lingkup dan waktu kita tentukan (Margono,
2010:118) sedangkan menurut Sugiyono (2013:117) “populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik
kesimpulannya”.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa populasi bukan
hanya sekedar jumlah yang ada pada obyek atau subyek yang
44
dipelajari, melainkan meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang
dimiliki oleh subyek atau obyek tersebut. Dalam penelitian ini,
populasi yang digunakan adalah perusahaan Manufaktur Sektor
Industri Barang Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode 2014 – 2017. Jumlah populasi pada penelitian ini
sebanyak 31 perusahan.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Sugiyono (2013:118) menjelaskan bahwa “sampel adalah
bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut”. Teknik pengambilan sampe yang digunakan pada
penelitian ini adalah metode non probability dengan teknik
pengmabilan sampel penelitian ini dilakukan dengan purposive
sampling. Kriteria perusahaan yang dijadikan sampel adalah
sebagai berikut:
a) Perusahaan
Manufaktur
Sektor
Industri
Barang
Konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
dalam periode penelitian 2014 – 2017 dan tidak
mengalami delisting.
b) Perusahaan yang tida melakukan IPO (Intial Public
Offering) pada periode 2014 – 2017
c) Perusahaa yang memiliki data – data yang sesuai
dengan kriteria yang berhubungan dengan variabel –
variabel yang akan digunakan dalam penelitian.
45
d) Perusahaan yang tidak mengalami kerugian selama
periode penelitian.
D. Jenis, Sumber dan Metode Pengumpulan Data
1. Jenis Data dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis
data documenter (documentary data). Sumber data yang
digunakan dalam penelitian in adalah sumber data sekunder
yang berasa dari data eksternal. Sumber data sekunder eksternal
adalah sumber data yang diperoleh dari sumber di luar
perusahaan dan diperoleh secara tidak langsung, melalui media
perantara. Data yang digunakan dalam penelitian ini di peroleh
dari Bursa Efek Indonesia pada perusahaan Manufaktur Sektor
Industri Barang Konsumsi periode pengamatan 2014-2017.
2. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan
data dan
informasi yang mendukung
penelitian ini adalah dengan cara observasi tidak langsung yaitu
penulis hanya meneliti objek penelitian, yang dalam penelitian ini
adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Pengamantan yang dilakukan adalah non partisipan,
dimana penulis bertindak sebagai pengamat independen yang
mengumpulkan data pada annual report berupa opini yang
dikeluarkan oleh akuntan public terhadap laporan keuangan
perusahaan. Peneliti memperoleh data dengan melakukan
observasi pada Bursa Efek Indonesia dan melakukan penelitian
46
kepustakaan (library research) untuk memperoleh teori, definisi,
dan analisis melalui literature yang berhubungan dengan
penilitian ini.
E. Rancangan Analisis
Rancangan
analisis
merupakan
langkah-langkah
yang
dilakukan untuk menganalisis data. Data-data yang telah diolah serta
dianalisis lebih lanjut, dalam penelitian ini model analisis data yang
digunakan adalah metode analisis statistic yang pengolahan data
menggunakan program software berupa Eviews 9. Metode analisis
data sebagai berikut:
1. Statistik Deskriptif
Menurut Sugiyono (2006:142) statistik deskriptif adalah
statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan
cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat
kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi.
Statistik
deskriptif
digunakan
untuk
menjelaskan
dan
menggambarkan variabel – variabel berdasarkan data yang
dikumpulkan pada periode tertentu. Karakteristik data yang
digambarkan dapat dilihat sebagai berikut:
a. Nilai maksimum dari sejumlah populasi yang dikumpulkan
b. Nilai minimum dari sejumlah populasi yang dikumpulkan
47
c. Nilai rata – rata (mean) dari sejumlah populasi yang dapat
mewakili nilai-nilai yang terkumpul, maka akan digunakan
rumus sebagai berikut:
1) Mean (rata-rata hitung)
Mean (rata-rata hitung) adalah suatu nilai yang diperoleh
dengan cara membagi seluruh nilai pengamatan dengan
banyaknya pengamatan. Mean dapat dirumuskan sebagai
berikut:
𝑀𝑒 =
∑ 𝑋𝑖
𝑛
Keterangan :
Me
= Mean
∑ 𝑋𝑖
= Jumlah Nilai X ke I sampai ke n
𝑁
= Jumlah Sampel atau data
2) Standar Deviasi
Standar deviasi digunakan untuk menilai disperse ratarata atau sampel. Setelah rata-rata diketahui maka perlu
ditentukansebarn datanya. Semakin kecil sebarannya berarti
nilai data semakin sama, jika sebarannya bernilai nol, maka
nilai semua datanya adalah sama. Semakin besar nilai
sebarannya maka nilai yang ada semakin bervariasi. Standar
deviasi dapat dirumuskan sebagai berikut:
48
𝑆=√
∑𝑛𝑖−1(π‘₯𝑖 − π‘₯Μ… )2
𝑛−1
Keterangan :
S
= Standar deviasi (simpangan baku)
Xi
= Nilai X ke I sampai ke n
π‘₯Μ…
= Rata – rata nilai
𝑛
= Jumlah sample
3) Median
Median adalah salah satu teknik penjelasan kelompok yang
didasarkan atas nilai tengah dari kelompok data yang telah
disusun urutannya dari yang terkecil sampai dengan yang
terbesar. Rumus median adalah sebagai berikut:
𝑀𝑒𝑑 =
π‘₯1 + π‘₯2 + π‘₯3
𝑛
Keterangan:
Med
= Median
n
= Banyaknya nilai tengah
X1
= Nilai tengah pertama dimana median
terletak
49
X2
= Nilai tengah kedua dimana median
terletak
X3
= Nilai tengah ketiga dimana median
terletak
2. Penentuan Model Yang Digunakan
Permodelan dengan menggunakan teknik regresi data panel
dapat dilakkan dengan menggunakan tiga pendekatan
alternatif metode pengolahannya. Pendekatan-pendekatan
tersebut yaitu, metode Common Effect Model (CEM), Metode
Fixec Effect Model (FEM), dan metode Random Effect Model
(REM) sebagai berikut:
a) Pooled Least Square (PLS)/Common Effect Model (CEM)
Metode in menggabungkan data time-series dan crosssection kemudian diregresikan dalam metode OLS. Namun
metode
ini
dikatakan
tidak
realistis
karena
dalam
penggunaannya sering diperoleh nilai intercept yang sama,
sehinga tidak efisien digunakan dalam setiap model estimasi,
oleh sebab itu dibuat panel data untuk memudahkan
melakukan interpretasi.
b) Fixes Effect Model (FEM)
Metode Fixed Effect adalah metode dengan intercept
berbeda-beda untuk setiap subjek (cross section), tetapi slop
50
setiap subjek tidak berubah seiring waktu. Program Eviews 9
dengan sendirinya menganjurkan pemakaian model FEM,
namun untuk lebih pastinya penulis menguji lagi dengan
menggunakan
uji
Likelihood
Ratio
menunjukkan
nilai
probability Chi Square 0,0000 signifikan yang artinya
pengujian dengan model FEM paling baik. Metode ini
mengasumsikan bahwa terdapat perbedaan antara individu
variabel (cross section) dan perbedaan tersebut dapat dilihat
melalui perbedaan intercept-nya. Keunggulan yang dimiliki
metode ini adalah dapat membedakan efek individu dan efek
waktu dan metode yang tidak perlu menggunakan asumsi
bawha komponen error tidak berkorelasi dengan variabel
bebas.
c) Random Effect Model (REM)
Dengan metode ini efek spesifik individu variabel merupakan
bagian dari error-term. Model ini berasumsi bahwa error-term
akan selalu ada dan mungkin berkorelasi sepanjang time
series dan cross-section. Metode ini lebih baik digunakan
pada data panel apabila jumlah individu lebih besar daripada
jumlah kurun waktu yang ada.
Dengan
menggunakan
program
Eviews
terdapat
Uji
Hausman dan uji Likehood Ratio, yang akan membantu untuk
menentukan metode apa yang paling efisien digunakan dari
51
ketiga model persamaan tersebut. Dalam penelitian ini yang
aka diuji hanya Uji Hausman.
3. Pemilihan Model Regresi Data Panel
Terdapat beberapa tahan pengujian yang harus dilakukan
dalam memilih model rergesi data panel yang tepat yaitu uji
chow, uji Hausman, dan Uji Langrange Multiplier. Uji Chow
digunakan untuk mrmilih antara Common Effect Model atau
Fixed Effect Model sebagai model regresi yang paling tepat.
Jika uji chow menunjukkan model Common Effect yang dipilih,
maka tidak perlu dilakukan pengujian selanjutnya. Akan
tetapi, jika hasil Uji Choq menunjukkan model Fixed Effect
yang dipilih makan digunakan pengujian selanjutnya dengan
menggunakan Uji Hausman.
Uji Hausman digunakan untuk memilih antara Fixed Effect
Model atau Random Effect Model sebaga model regresi yang
tepat. Jika hasil Uji Hausman menunjukkan model Random
Effect yang dipilih, maka dilakukan pengujian selanjutnya
dengan
menggunakan
Uji
Langrange
Multiplier
yang
digunakan untuk memilih antara Random Effect Model Atau
Common Effect Model sebagai model regresi yang paling
tepat
52
a) Uji Chow
Uji Chow dilakukan untuk menentukan Common Effect Model
atau Fixed Effect Model yang paling tepat digunakan dalam
mengestimasi data panel. Uji Chow menggunakan hipotesis
sebagai berikut:
π»π‘œ = Common Effect Model
π»π‘Ž = Fixed Effect Model
Dasar
pengembalian
keputusannya
adalah
dengan
membandingkan nilai Prob. Cross-Section F dengan α
(alpha).
1) Jika Prob. Cross-section F > 0,05, maka Ho diterima
2) Jika Prob. Cross-section F < 0,05, maka Ho di tolak
b) Uji Hausman
Uji Hausman adalah pengujian statistic yang dilakukan untuk
menentukan model yang paling tepat antara Fixed Effect
Model dan Random Effect Model. Uji Hausman menggunakan
hipotesis sebagai berikut:
π»π‘œ = Random Effect Model
π»π‘Ž = Fixed Effect Model
Dasar
pengembalian
keputusan
adalah
dengan
membandingkan nilai Prob. Cross-section random dengan α
(alpha)
1) Jika Prob. Cross-section > 0,05, maka Ho diterima
2) Jika Prob. Cross-section random < 0,05, maka Ho ditolak
53
c) Uji Lagrange Multiplier
Uji Lagrange Multiplier digunakan untuk memilih antara
Common Effect Model atau Random Effect Model. Hipotesis
yang digunakan dalam uji LM adalah sebagai berikut:
π»π‘œ = Coomon Effect Model
π»π‘Ž = Random Effect Model
Dasar
pengembalian
keputusan
adalah
dengan
membandingkan nilai Prob. Breusch-Pagan dengan α (alpha).
1) Jika Prob Breusch-Pagan > 0,05, maka Ho diterima
2) Jika Prob Breusch-Pagan < 0,05, maka Ho ditolak
4. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik bertuju untuk memperoleh hasil regresi
yang bisa dipertanggungkan dan mempunyai hasil yang tida
bias. Uji asumsi klasik tersebut yaitu sebagai berikut:
a) Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi panel variabel-variabelnya berdistribusi normal atau
tidak. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut:
π»π‘œ =
Data terdistribusi normal
π»π‘Ž =
Data tidak terdistribusi normal
Dasar untuk pengembalian keputusan adalah sebagai berikut:
54
1) Jika nilai probability > 0,05, maka π»π‘œ diterima dan berarti
bahwa terdistribusi normal
2) Jika nilai probability < 0,05, maka π»π‘œ ditolak dan berarti
bahwa data tidak terdistribusi normal
b) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi ini ditemukan adanya korelasi yang tinggi antar
variabel independen. Dalam model regresi yang baik
seharusnya
tidak
terjadi
korelasi
diantara
variabel
independen. Dasar pengambilan keputusannya adalah jika
korelasi antar dua variabel independen > 0,80 maka terjadi
multikolinearitas.
c) Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah
variabel mempunyai pengaruh signifikan dengan nilai
reidunya. Uji statistik in akan dilakukan dengan uji Geljser. Uji
Glejser adalah uji dengan meregresikan nilai absuolute
residual (AbsUi) sebagai variabel dependen terhadap variabel
independen lainnya (Ghozali, 2001:105-106). Hipotesis yang
dibentuk Uji Glejser adalah sebagai berikut:
π»π‘œ =
tidak ada masalah heteroskedastisitas
π»π‘Ž =
ada masalag heteroskedastisitas
55
Dasar untuk pengembalian keputusannya adalah dengan
membandingkan nilai probability setiap variabel dengan α
(alpaha).
1) Jika nilai probability > 0,05, maka π»π‘œ diterima dan berarti tidak
ada masalah heteroskedastisitas.
2) Jika nilai probability < 0,05, maka π»π‘œ ditolak dan berarti ada
masalah heteroskedastisitas.
d) Uji Autokorelasi
Autokorelasi berarti adanya korelasi antara anggota observasi
satu dengan observasi lainnya berlain waktu. Autokorelasi
muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu
berkaitan satu sama lain. Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi,
diantaranya adalah Uji Durbin-Watson (DW Test).
Tabel 3.1
Pedoman Interpretasi Autokorelasi
Tidak
Tolak
H0,
Tolak
Tidak
menola
dapat
k H0, berarti dapat
H0,
Tidak
berarti ada
berarti ada
autokorelasi
autokorelasi
diputuskan tidak
ada diputuskan
positif
Negatif
autokorelasi
0
dL
2 4 - dU
dU
56
4 - dL
4
5. Analisis Korelasi
Analisis korelasi parsial digunakan mengukur kekuatas
korelasi (hubungan) linear antar variabel. Korelasi berganda
digunakan untuk mengetahui seberapa erat hubungan antara
keseluruhan variabel bebas dengan variabel terika. Secara
umum nilai korelasi terletak antara -1 dan 1 atau -1≤ r ≤ 1.
Koefisien korelasi mempunyai nilai terendah -1 dan nilai
tertinggi 1 dengan kriteria sebagai berikut:
a) Jika r = 1 atau mendekati 1 maka hubungan antara
variabel (X) variabel (Y) adlah searah, dalam arti bahwa
kenaikan atau penurunan variabel (X) terjadi secara
bersama-sama dengan kenaikan atau penurunan variabel
(Y).
b) Jika r = 0 atau mendekati 0, maka hubungan antara
variabel (X) dan variabel (Y) adlah tidak ada atau dapat
dikatakan
sangat
lemah.
Dengan
demikian
dapat
dikatakan pula antara variabel (X) dengan variabel (Y)
tidak ada hubungan.
c) Jika r = -1 atau mendekati -1, maka variabel (X) dan
variabel (Y) mempunyai hubungan yang kuat tetapi
negatif, artinya variabel (X) naik maka variabel (Y) turun
dan sebaliknya jika variabel (X) turun maka variabel (Y)
akan naik.
57
Tabel 3.2
Pedoman Interpretasi Koefisien Korelasi
Tingkat Koefisen
Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199
Sangatrendah
0,20 – 0,399
Rendah
0,40 – 0,599
Sedang
0,60 – 0,799
Kuat
0,80 – 0,999
Sangat kuat
1.000
Sempurna
6. Uji Hipotesis
Uji hipotesis adalah
produser yang memungkinkan
keputusan yang dibuat yaitu keputusan untuk menolak atau
tidak menolak yang sedang di uji. Metode analisi yang
digunakan dalam penelitian ini antara lain:
a) Uji Persamaan Regresi Linear Berganda
Uji regresi linear berganda adalah pengujian yang
dilakukan untuk melihat pengaruh dari variabel independen
terhadap variabel dependen namun masih menunjukkan
hubungan
yang
linear.
Variabel
independen
dalam
penelitian ini adalah Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan
Corporate Social Responsibility. Variabel dependen dalam
penilitian ini adalah nilai perusahaan. Persamaan yang
58
digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
π‘Œ = 𝛼 + 𝛽1𝑋1 + 𝛽2𝑋2 + 𝛽3𝑋3 + πœ€
Keterangan :
Y
= Nilai Perusahan
α
= Koefisien konstanta
X1
= Ukuran Perusahaan
X2
= Profitabilitas
X3
= Corporate Social Responsibility
β1-β3
= Koefisien regresi
ε
= Error Term atau tingkat kesalahan
b) Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji t)
Uji t digunakan untuk melihat signifikansi dan pengaruh
varabel independen secara individu terhadap variabel
dependen dengan menganggap variabel lain bersifat
konstan. Hipotesis yang dibentuk Uji t adalah sebagai
berikut:
π»π‘œ = tidak mempengaruhi variabel dependen
π»π‘Ž = mempengaruhi variabel dependen
59
Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1) Berdasarkan nilai probabilitas
a. Jika nilai probabilitas (p-value) < alpha (0,05) maka Ho
ditolak, Ha diterima (ada pengaruh yang signifikan)
b. Jika nilai probabilitas (p-value) > alpha (0,05) maka Ho
diterima, Ha ditolak(tidak ada pengaruh yang signifikan)
2) Berdasarkan perbandingan t hitung dengan tabel
a. Jika t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima
b. Jika t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak
c) Uji Koefisien Regresi Simultan (Uji F)
Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel
independen yang dimasukkan dalam model mempunyai
pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel
dependen. Hipotesis yang dibentuk Uji t adalah sebagai
berikut :
π»π‘œ
: Tidak mempengaruhi variabel dependen
π»π‘Ž
: Mempengaruhi variabel dependen
Dasar untuk mengambil keputusannya adalah sebagai berikut:
1) Berdasarkan nilai probabilitas
a. Jika nilai probabilitas < 0.05, maka Ho ditolak, Ha
diterima. Hal ini berarti semua variabel bebas secara
simultan
dan
signifikan
terikatnya
60
mempengaruhi
variabel
b. Jika nilai probabilitas > 0.05, maka Ho diterima, Ha
ditolak. Hal ini berarti semua variabel bebas secara
simultan dan tidak signifikan mempengaruhi variabel
terikatnya.
2) Berdasarkan perbandingan Fhitung dengan Ftabel
a. Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak, Ha diterima. Hal
ini berarti bahwa seluruh variabel bebas secara simultan
dan signifikan mempengaruhi variabel terikatnya.
b. Jika Fhitung < Ftabel maka Ho diterima, Ha ditolak. Hal
ini berarti bahwa semua variabel bebas secara simultan
dan tidak signifikan mempengaruhi variabel terikatnya.
d) Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (𝑅 2 ) pada intinya mengukur seberapa
jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel
dependen. Nilai Koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1.
Nilai 𝑅 2 yang kecil berarti kemampuan variabel independen
dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.
Nilai yang hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi independen. Secara umum koefisien
determinasi untuk data silang atau (crossection) relatif rendah
karena adanya variasi yang besar antara masing-masing
pengamatan, sedangkan untuk data runtun waktu (time series)
biasanya mempunyai nilai koefisien determinasi yang tinggi.
Nilai koefisien determinasi yang digunakan dalam menjelaskan
61
penelitian ini adalah nilai Adjusted 𝑅 2 karena variabel
independen yang digunakan dalam penelitian dari dua variabel.
Selain itu, Nilai Adjusted 𝑅 2 dianggap lebih baik dari nilai 𝑅 2
karena nilai Adjusted 𝑅 2 dapat naik atau turun apabila satu
variabel independen ditambahkan ke dalam model regresi
(Ghozali, 2011:197).
𝐾𝐷 = 𝐴𝑑𝑗𝑒𝑠𝑑𝑒𝑑 𝑅 2 𝑋 100%
Keterangan:
KD
= Koefisien determinasi
Adj R2
= Koefisien korelasi.
62
63
Download