BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Objek Penelitian

advertisement
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Deskripsi Objek Penelitian
Deskripsi objek dalam penelitian ini menjelaskan mengenai hasil
perolehan sampel dan data tentang Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to
Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), dan Return on Assets
(ROA) pada perusahaan perbankan nasional devisa yang go public di Bursa
Efek Indonesia (BEI) pada periode 2011-2015. Pengambilan sampel data
menggunakan metode purposive sampling adalah dengan kriteria-kriteria
tertentu yang sudah ditentukan yang akan dijadikan sampel.
Berdasarkan data perusahaan perbankan yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia (BEI) pada periode 2011-2015 terdapat sebanyak 43 perusahaan
perbankan, sedangkan bank yang memenuhi kriteria untuk dijadikan sampel
sebanyak 19 bank. Jumlah sampel tersebut adalah sampel yang digunakan
dalam penelitian selama satu tahun. Penelitian ini menggunakan periode
selama lima tahun, sehingga jumlah sampel yang digunakan untuk melakukan
analisis data sebanyak 95 bank (dalam 5 tahun). Berikut merupakan kriteriakriteria dalam menentukan sampel pada perusahaan perbankan devisa yang
tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2011-2015 :
56
57
Tabel 4.1
Kriteria Sampel Penelitian
NO
1
2
3
4
KETERANGAN
Perusahaan perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia periode
2011-2015
Perusahaan perbankan yang termasuk bank nasional devisa yang
tercatat di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2015
Perusahaan perbankan yang tidak konsisten mengeluarkan laporan
keuangan selama periode 2011-2015
Perusahaan perbankan yang tidak konsisten mengeluarkan laporan
keuangan dalam satuan rupiah selama periode 2011-2015
Sampel yang memenuhi kriteria
Total sampel penelitian dalam 5 tahun
4.2
Hasil Penelitian
4.2.1
Analisis Deskriptif
JUMLAH
43
23
(4)
(0)
19
95
Analisis deskriptif merupakan metode-metode yang berkaitan dengan
pengumpulan dan penyajian sekelompok data sehingga memberikan
informasi yang berguna bagi pembaca. Statistik deskriptif memberikan
informasi hanya mengenai tentang data yang disajikan dan sama sekali tidak
menarik kesimpulan. Ukuran yang digunakan dalam deskripsi meliputi nilai
minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean) dan standar deviasi.
Tabel 4.2
Statistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
CAR
95
10,44
46,49
17,5307
5,34291
LDR
95
31,17
98,83
81,6045
12,03879
NPL
95
,00
8,90
1,4624
1,40066
ROA
95
,07
3,90
1,8578
,94020
Valid N (listwise)
95
Sumber : Data Olahan
58
Pada tabel 4.2 menunjukkan bahwa variabel Capital Adequacy Ratio
(CAR) mempunyai nilai minimum sebesar 10,44, nilai maksimum sebesar
46,49, nilai rata-rata (mean) sebesar 17,5307 dan standar deviasi sebesar
5,34291. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai standar deviasi lebih
kecil kecil dari pada nilai rata-rata (5,34291 < 17,5307), sehingga dapat
disimpulkan bahwa dalam penelitian ini variabel Capital Adequacy Ratio
(CAR) mempunyai data yang tidak variatif atau homogen.
Loan to Deposit Ratio (LDR) mempunyai nilai minimum sebesar 31,17,
nilai maksimum sebesar 98,83, nilai rata-rata (mean) sebesar 81,6045, dan
standar deviasi sebesar 12,03879. Variabel ini mempunyai standar deviasi
yang lebih kecil daripada nilai rata-rata (12,03879 < 81,6045), sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) pada penelitian ini
mempunyai data yang tidak variatif atau homogen.
Non Performing Loan (NPL) mempunyai nilai minimum sebesar 0,00,
nilai maksimum sebesar 8,90, nilai rata-rata (mean) sebesar 1,4624, dan
standar deviasi sebesar 1,40066. Variabel ini mempunyai standar deviasi yang
lebih kecil daripada nilai rata-rata (1,4624 < 1,40066), sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel Non Performing Loan (NPL) pada penelitian ini
mempunyai data yang tidak variatif atau homogen.
Return on Assets (ROA) mempunyai nilai minimum sebesar 0,07, nilai
maksimum sebesar 3,90, nilai rata-rata (mean) sebesar 1,8578, dan standar
deviasi sebesar 0,94020. Variabel ini mempunyai standar deviasi yang lebih
kecil daripada nilai rata-rata (0,94020 < 1,8578), sehingga dapat disimpulkan
59
bahwa variabel Return on Assets (ROA) pada penelitian ini mempunyai data
yang tidak variatif atau homogen.
4.2.2
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik merupakan pengujian asumsi-asumsi statistik yang
harus dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasis Ordinary
Least Square (OLS). Pengujian asumsi klasik untuk digunakan mengetahui
hasil
estimasi
regresi
yang
dilakukan
bebas
dari
adanya
gejala
multikolonieritas, gejala autokorelasi dan gejala heteroskedastisitas. Jika
asumsi klasik ini tidak terpenuhi maka akan menyebabkan biasnya standar
kesalahan (error) pada penelitian ini.
4.2.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah model regresi
variabel penggangu atau residual telah berdistribusi secara normal. Data
dikatakan berdistribusi normal apabila nilai signifikan pada tabel KolmogrovSmirnov bernilai lebih dari 0,05. Berikut merupakan hasil pengujian
normalitas.
60
Tabel 4.3
Hasil Uji Normalitas dengan Uji Kolmogrov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
Normal Parameters
95
a,b
Most Extreme Differences
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Mean
Std. Deviation
0E-7
,89672662
Absolute
,126
Positive
,126
Negative
-,064
1,226
,099
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber : Data Olahan
Berdasarkan hasil tabel 4.3 dapat dilihat bahwa nilai signifikan uji
Kolmogrov-Smirnov sebesar 0,099 > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa data
yang diolah telah berdistribusi secara normal. Data yang dikatakan
berdistribusi normal layak digunakan untuk model regresi dan dapat diolah ke
tahap selanjutnya.
4.2.2.2 Uji Multikolonieritas
Uji Multikolonieritas digunakan untuk menguji apakah dalam model
regresi terdapat korelasi antar variabel bebas (independen). Model
regresiyang bebas dari multikolonieritas harus memiliki nilai tolerance > 0,10
dan nilai VIF < 10. Berikut merupakam hasil dari uji multikolonieritas :
61
Tabel 4.4
Hasil Uji Multikolonieritas
Coefficients
Model
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
(Constant)
2,529
,823
CAR
-,027
,018
LDR
,001
NPL
-,176
a
t
Sig.
Beta
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
3,072
,003
-,151
-1,449
,151
,921
1,086
,008
,008
,079
,937
,919
1,088
,067
-,263
-2,626
,010
,997
1,003
1
a. Dependent Variable: ROA
Sumber : Data Olahan
Berdasarkan hasil pengujian molotikolonieritas pada tabel 4.4, dapat
diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
a.
Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) (X1) mempunyai nilai
tolerance sebesar 0,921 > 0,1 dan nilai VIF sebesar 1,086 < 10,
sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel capital adequacy ratio
bebas dari gejala molotikolonieritas.
b.
Variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) (X2) mempunyai nilai tolerance
0,919 > 0,1 dan nilai VIF sebesar 1,088 < 10, sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel loan to deposit ratio bebas dari gejala
molotikolonieritas.
c.
Variabel Non Performing Loan (NPL) (X3) mempunyai nilai tolerance
0,997 > 0,1 dan nilai VIF sebesar 1,003 < 10, sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel non performing loan bebas dari gejala
molotikolonieritas.
62
4.2.2.3 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi mempunyai tujuan dalam pengujian apakah dalam
model regresi terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t
dengan kesalahan pengganggu periode berikutnya. Model regresi dikatakan
bebas dari autokorelasi apabila nilai Durbin-Watson (DW) terletak antara
batas (du) dan 4-du. Berikut merupakan hasil dari pengujian autokorelasi :
Tabel 4.5
Hasil Uji Autokorelasi dengan Durbin-Watson
b
Model Summary
Model
1
R
,301
R Square
a
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
,090
,060
,91139
Durbin-Watson
1,891
a. Predictors: (Constant), NPL, CAR, LDR
b. Dependent Variable: ROA
Sumber : Data Olahan
Berdasarkan hasil pengujian autokorelasi pada tabel 4.5, dapat diketahui
nilai DW sebesar 1,891. Nilai batas bawah (dl) untuk data yang diolah
1,6015, nilai batas atas (du) sebesar 1,7316, nilai 4-dl sebesar 2,2684 dan nilai
4-du sebesar 2,3985. Dari informasi tersebut dapat diketahui bahwa nilai DW
terletak di antara du dan 4-du (1,7316 < 1,760 < 2,3985), sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala autokorelasi pada model regresi.
63
Daerah
Autokorelasi
Positif
Daerah
Keraguan
Daerah Bebas
Autokorelasi
Daerah
Keraguan
Daerah
Autokorelasi
Negatif
0
4
dl
1,6015
du
1,7316
4-du
2,3985
4-dl
2,2684
1,760
Gambar 4.1
Daerah Autokorelasi
4.2.2.4 Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke
pengamatan lain. Model regresi dikatakan terbebas dari heterokedastisitas
apabila nilai signifikan masing-masing variabel independen lebih dari 0,05.
Berikut merupakan hasil dari pengujian heterokedastisitas dengan uji glejser
(AbsUt) :
64
Tabel 4.6
Hasil Uji Heterokedastisitas dengan Uji Glejser (AbsUt)
Coefficients
Model
Unstandardized Coefficients
a
Standardized
T
Sig.
Coefficients
B
Std. Error
(Constant)
,721
,455
CAR
1
LDR
-,002
,010
,002
NPL
-,064
Beta
1,584
,117
-,025
-,229
,819
,005
,044
,408
,684
,037
-,177
-1,712
,090
a. Dependent Variable: AbsUt
Sumber : Data Olahan
Berdasarkan hasil pengujian glejer (AbsUt) pada tabel 4.6 dapat diketahui
bahwa :
a.
Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) (X1) memiliki nilai signifikan sebesar
0,819 > 0,05, yang berarti variabel capital adequacy ratio terbebas dari gejala
heterokedastisitas.
b.
Variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) (X2) memiliki nilai signifikan sebesar
0,684 > 0,05, yang berarti variabel loan to deposit ratio terbebas dari gejala
heterokedastisitas.
c.
Variabel Non Performing Loan (NPL) (X3) memiliki nilai signifikan sebesar
0,090 > 0,05, yang berarti variabel non performing loan terbebas dari gejala
heterokedastisitas.
4.2.3
Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda memiliki tujuan untuk mengukur
kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih dan juga menunjukkan arah
65
hubungan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Berikut merupakan
hasil dari tabel coefficients yang akan dijadikan dasar dalam pembuatan
persamaan regresi linier berganda :
Tabel 4.7
Uji Analisis Regresi Linier Berganda
Coefficients
Model
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
(Constant)
2,529
,823
CAR
-,027
,018
LDR
,001
NPL
-,176
a
t
Sig.
Beta
3,072
,003
-,151
-1,449
,151
,008
,008
,079
,937
,067
-,263
-2,626
,010
1
a. Dependent Variable: ROA
Sumber : Data Olahan
Hipotesis – hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut :
Y (Return on Assets) = 2,529 - 0,027 Capital Adequacy Ratio + 0,001 Loan
to Deposit Ratio - 0,176 Non Performing Loan + e
Berdasarkan hasil persamaan regresi linier berganda diatas dapat diketahui
informasi sebagai berikut :
a.
Nilai konstanta sebesar 2,529 menyatakan bahwa jika seluruh variabel
independen yaitu Capital Adequency Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio
(LDR), dan Non Performing Loan (NPL) bernilai konstan atau tetap, maka
nilai Return on Assets (ROA) akan bertambah 2,529.
66
b.
Capital Adequency Ratio (CAR) memiliki nilai koefisien sebesar -0,027 yang
berarti jika prosentase Capital Adequency Ratio (CAR) meningkat satu satuan
maka Return on Assets (ROA) juga akan mengalami penurunan sebesar -0,027,
begitu juga sebaliknya jika capital adequency ratio mengalami penurunan satu
satuan, maka return on assets akan mengalami kenaikan sebesar 0,027.
c.
Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki nilai koefisien sebesar 0,001 yang
berarti bahwa jika nilai prosentase loan to deposit ratio meningkat satu satuan,
maka Return on Assets (ROA) akan mengalami peningkatkan sebesar 0,001,
begitu juga sebaliknya jika loan to deposit ratio mengalami penurunan satu
satuan maka return on assets akan mengalami penurunan sebesar 0,001.
d.
Non Performing Loan (NPL) memiliki nilai koefisien sebesar -0,176 yang
berarti bahwa jika nilai prosentase non performing loan mengalami kenaikan
satu satuan, maka Return on Assets (ROA) juga akan mengalami penurunan
sebesar -0,176, dan juga sebaliknya non performing loan mengalami
penurunan satu satuan, maka return on assets akan mengalami kenaikan
sebesar 0,176.
4.2.4
Uji Hipotesis
4.2.4.1 Uji F (uji signifikan secara simultan)
Uji F atau uji signifikansi secara simultan pada dasarnya akan
menunjukkan apakah secara bersama-sama variabel independen berpengaruh
terhadap varabel dependen (Ghozali, 2011). Pengujian ini juga bertujuan
untuk mengetahui apakah model regresi dapat digunakan untuk penelitian
atau tidak. Berikut merupakan hasil pengujian signifikansi secara simultan :
67
Tabel 4.8
Hasil Uji F
a
ANOVA
Model
Sum of Squares
Regression
1
Df
Mean Square
7,506
3
2,502
Residual
75,587
91
,831
Total
83,093
94
F
3,012
Sig.
,034
b
a. Dependent Variable: ROA
b. Predictors: (Constant), NPL, CAR, LDR
Sumber : Data Olahan
Berdasarkan hasil pada uji F atau uji signifikansi secara simultan,
dapat diketahui bahwa nilai signifikansi sebesar 0,034 < 0,05. Nilai
signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa secara bersamasama variabel Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR),
Non Performing Loan (NPL) berpengaruh terhadap Return on Assets (ROA).
4.2.4.2 Uji t (uji secara parsial)
Uji t atau uji signifikansi secara parsial menunjukkan berapa jauh masingmasing variabel independen menerangkan variabel dependen. Suatu variabel
independen dapat dikatakan berpengaruh terhadap variabel dependen apabila
mempunyai tingkat signifikan kurang dari 0,05. Berikut merupakan hasil pengujian
signifikansi secara parsial :
68
Tabel 4.9
Hasil Uji t
Coefficients
Model
Unstandardized
Standardized
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
(Constant)
2,529
,823
CAR
-,027
,018
LDR
,001
NPL
-,176
a
t
Sig.
Beta
3,072
,003
-,151
-1,449
,151
,008
,008
,079
,937
,067
-,263
-2,626
,010
1
a. Dependent Variable: ROA
Sumber : Data Olahan
Berdasarkan hasil output pada tabel 4.9, dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Capital Adequacy Ratio mempunyai tingkat signifikan sebesar 0,151 > 0,05,
maka hipotesis nol (H1) diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa capital
adequacy ratio tidak berpengaruh terhadap return on assets.
b. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Loan to Deposit Ratio mempunyai tingkat signifikan sebesar 0,937 > 0,05,
maka hipotesis nol (H2) diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa loan to
deposit ratio tidak berpengaruh terhadap return on assets.
c. Non Performing Loan (NPL)
Non Performing Loan mempunyai tingkat signifikan sebesar 0,010 < 0,05,
maka hipotesis nol (H3) ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa non
performing loan berpengaruh terhadap return on assets.
69
4.2.5
Koefisien determinasi (R²)
Pada intinya koefisien determinasi digunakan untuk mengukur
seberapa jauh kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel
dependen. Nilai koefisien determinasi dapat dilihat pada nilai adjusted R
square pada tabel model summary. Berikut hasil dari nilai koefisien
determinasi :
Tabel 4.10
Koefisien Determinasi
b
Model Summary
Model
1
R
,301
R Square
a
Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
,090
,060
,91139
Durbin-Watson
1,891
a. Predictors: (Constant), NPL, CAR, LDR
b. Dependent Variable: ROA
Sumber : Data Olahan
Berdasarkan hasil dari tabel model summary diatas, dapat diketahui
bahwa besarnya nilai adjusted R square sebesar 0,060 atau 6%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel–variabel independen dalam penelitian ini
mampu menjelaskan variabel dependen yaitu return on asset sebesar 6% dan
sisanya sebesar 94% dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar variabel
penelitian.
70
4.3
Pembahasan
4.3.1
Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return on Assets
(ROA)
Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio diperoleh dengan
membandingkan nilai modal yang dimiliki dengan total asset yang
mengandung risiko. Besarnya modal suatu bank akan berpengaruh pada
mampu atau tidaknya suatu bank mempengaruhi tingkat kepercayaan dari
masyarakat, khususnya dalam perihal untuk masyarakat peminjam terhadap
kinerja bank (Prastiyaningtyas, 2010). Penggunaan modal bank juga
dimaksudkan untuk melengkapi segala kebutuhan bank untuk menunjang
kegiatan operasional bank, dan sebagai alat untuk ekspansi usaha. Kepercayaan
yang diciptakan dari masyarakat akan terlihat dari besarnya dana giro,
deposito, dan tabungan yang melebihi jumlah setoran modal dari pemegang
sahamnya.
Semakin tinggi nilai capital adequacy ratio menunjukkan bahwa bank
tersebut
memiliki
modal
yang
cukup
untuk
melakukan
kegiatan
operasionalnya, sehingga dapat menambah keuntungan bagi bank tersebut dan
dapat meningkatkan nilai return on asset. Menurut peraturan Bank Indonesia
Nomor 101/15/PBI/2008, prosentase dalam perhitungan rasio Capital
Adequacy Ratio (CAR) permodalan minimum yang harus dimiliki bank adalah
sebesar 8%. Menunjukkan usaha bank yang semakin stabil, karena adanya rasa
kepercayaan masyarakat yang besar. Hal ini disebabkan karena bank akan
mampu menanggung risiko dari aset yang berisiko (Amelia, 2011).
71
Berdasarkan data yang ada dapat dilihat bahwa nilai CAR tidak
berpengaruh terhadap ROA. Hal itu disebabkan karena modal yang diperoleh
perusahaan tidak hanya dialokasikan untuk kegiatan yang dapat menghasilkan
laba, tetapi juga untuk kegiatan investasi dan penambahan aset tetap pada
perusahaan. Kegiatan investasi dan penambahan aset tetap mempunyai jangka
waktu yang panjang, sehingga tidak akan mempengaruhi laba dari perusahaan
kecuali pada saat dilakukan penjualan.
Dapat dilihat pada tabel statistik deskriptif pada nilai rata-rata (mean)
yang dihasilkan capital adequacy ratio sebesar 17,5307 dimana melebihi dari
ketentuan Bank Indonesia yaitu sebesar 8% dikarenakan kecukupan modal
yang diperoleh bank untuk melukakan kegiatan operasionalnya. Tingkat
kecukupakan modal bila melebihi dari ketentuan Bank Indonesia dapat
dikatakan baik. Tinggi rendahnya nilai CAR yang dihasilkan oleh bank tidak
berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas yang diperoleh bank.
Hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa kecukupan modal yang
dialami bank tersebut lebih dari ketentuan yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia atau tergolong tinggi dan tidak mengalami kekurangan untuk
melakukan kegiatan operasionalnya. Dinyatakan demikian bahwa kecukupan
modal yang diperoleh oleh nasabah tidak berdampak dengan peningkatan
ataupun penurunan profitabilitas bank.
4.3.2 Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return on Assets (ROA)
Dalam mendanai kembali penarikan yang dilakukan oleh nasabah
dengan menilai kemampuan bank yang digambarkan oleh rasio Loan to
Deposit Ratio (LDR). Rasio ini diperoleh dengan membandingkan nilai total
72
kredit dengan total kewajiban yang dimiliki oleh bank. Semakin besar nilai
LDR yang diperoleh suatu bank, maka laba yang dihasilakn akan meningkat.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, loan to deposit ratio tidak
berpengaruh terhadap return on assets. Hal ini berarti bahwa nilai yang
dihasilkan dari loan to deposit ratio tidak akan mempengaruhi nilai return on
asset. Semakin tinggi nilai loan to deposit ratio maka semakin baik, karena
dana yang menganggur pada bank sebagian terpakai untuk dipinjamkan
kepada nasabah. Tingkat nilai LDR yang dianggap sehat oleh Bank Indonesia
adalah berkisaran antara 78% - 100%.
Dapat dilihat pada tabel statistik deskriptif pada nilai rata-rata (mean)
yang dihasilkan loan to deposit ratio sebesar 81,6045 dimana nilainya
diantara dari ketentuan Bank Indonesia yaitu sebesar 78% - 100%
dikarenakan salah satu kegiatan operasionalnya yaitu dalam pemberian kredit
terhadap nasabah tergolong baik. Tinggi rendahnya nilai LDR yang
dihasilkan oleh bank tidak berpengaruh terhadap tingkat profitabilitas yang
diperoleh bank.
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori sinyal yang menyatakan
bahwa manajemen perusahaan berusaha untuk menyajikan sinyal yang positif
bagi para investor. Hal ini memberikan motivasi kepada manajemen
perusahaan perbankan untuk mengurangi ketidaksamaan terhadap informasi
yang diberikan, sehingga menimbulkan celah bagi manajemen bank dalam
melakukan manajemen laba. Kegiatan manajemen laba tersebut dapat
menyembunyikan nilai ekonomi yang sesungguhnya dari para pengguna
laporan keuangan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa loan to
73
deposit ratio tidak berpengaruh terhadap return on assets. Hal ini
menunjukkan bahwa besar kecilnya nilai LDR tidak berdampak bagi laba
perusahaan, karena terdapat kemungkinan pihak manajemen laba bank
melakukan manajemen laba dengan memanipulasi jumlah laba yang
diperoleh.
4.3.3 Pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap Return on Assets (ROA)
Dalam mengukur kemampuan bank dalam menanggung risiko usaha
bank, yang diakibatkan dari ketidakpastian dalam pengembaliannya atau yang
diakibatkan tidak dilunasi kembali kredit yang diberikan oleh pihak bank
kepada debitur yang digambarkan oleh rasio Non Performing Loan (NPL).
Rasio ini diperoleh dengan membandingkan besarnya kredit bermasalah
dengan nilai total kredit yang disalurkan oleh bank. Semakin kecil nilai NPL
yang diperoleh suatu bank, maka pengembalian kredit yang diberikan bank
kepada nasabah dapat dikatakan baik.
Dapat dilihat pada nilai rata-rata (mean) yang dihasilkan non
performing loan sebesar 1,4624 dimana masih dibawah 5% dari ketentuan
Bank Indonesia karena bank masih dapat mempunyai dana yang cukup
sehingga bank yang bersangkutan dapat melakukan pengembalian kredit
dengan baik. Semakin rendah nilai NPL yang dihasilkan maka keuntungan
yang diperoleh bank tinggi. Dengan nilai rata-rata (mean) yang dihasilkan
sebesar 1,4624 dapat dikatakan jika nilai non performing loan naik maka nilai
return on assets turun. Begitu juga sebaliknya bila nilai non performing loan
turun maka nilai return on assets naik.
74
Dimana dapat dilihat pada tabel statistik deskriptif, rata-rata (mean) non
performing loan sebesar 1,4624 dan rata-rata (mean) return on assets sebesar
1,8578. Dapat dikatakan jika nilai non performing loan naik maka nilai return
on assets turun dapat dilihat pada PT. OCBC NISP, Tbk menunjukkan nilai
NPL sebesar 2,06 dan nilai ROA sebesar 1,33 periode tahun 2013, PT. Bank
PAN Indonesia, Tbk menunjukkan nilai NPL sebesar 3,98 dan nilai ROA
sebesar 0,99 periode tahun 2014, dan PT. Bank Capital Indonesia, Tbk
menunjukkan nilai NPL sebesar 2,42 dan nilai ROA sebesar 1,01 periode
tahun 2015.
Dapat dikatakan sebaliknya, jika non performing loan turun maka nilai
return on assets naik dapat dilihat pada PT. Bank Danamon, Tbk
menunjukkan nilai NPL sebesar 0,15 dan nilai ROA sebesar 2,60 periode
tahun 2011, PT. Bank Agroniaga, Tbk menunjukkan nilai NPL sebesar 0,22
dan nilai ROA sebesar 3,60 periode tahun 2012 dan PT. Bank Internasional
Indonesia, Tbk menunjukkan nilai NPL sebesar 0,64 dan nilai ROA sebesar
2,53 periode tahun 2013.
Hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa kredit bermasalah yang
dialami bank tersebut adalah kecil dan tidak mengalami kesulitan dalam
pelunasan. Dinyatakan demikian bahwa dalam pengembalian kredit atau
pinjaman oleh nasabah sesaui dengan jatuh tempo yang telah disepakati oleh
kedua belah pihak, dana yang dikembalikan juga menghasilkan keuntungan
bagi bank tersebut. Bank tersebut dinyatakan baik dalam perihal
pengembalian dana tanpa adanya faktor eksternal di luar kemampuan kendali
debitur.
Download