TINJAUAN PUSTAKA Sapi Fries Holland

advertisement
 TINJAUAN PUSTAKA Sapi Fries Holland (Holstein Friesian) Sapi Fries Holland (FH) berasal dari Propinsi Belanda Utara dan Propinsi Friesland Barat. Bulu sapi FH murni umumnya berwarna hitam dan putih, namun ada pula sapi FH yang bulunya berwarna merah dan putih dengan batas-batas warna yang jelas. Sapi ini mempunyai bobot badan ideal sebesar 682 kg untuk sapi betina dewasa dan 1000 kg untuk sapi jantan dewasa. Sapi FH merupakan sapi perah yang produksi susunya paling tinggi dibandingkan sapi perah lainya tetapi air susu yang dihasilkan mengandung kadar lemak yang rendah. Selain diambil, atau diperah susunya, sapi FH juga baik sebagai sapi pedaging karena pertumbuhannya cepat dan karkasnya sangat bagus (Sudono et al., 2003). Pemberian Pakan Sapi Perah Sutardi (1980) menyatakan pemberian pakan pada ternak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis ternak, baik untuk kebutuhan pokok maupun untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok merupakan kebutuhan untuk mempertahankan bobot badan, sedangkan kebutuhan produksi untuk memproduksi air susu, pertumbuhan, dan reproduksi. Jika pakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, maka bobot badan sapi tidak akan naik dan tidak akan turun, dan produksi susu tidak ada. Sebaliknya, jika pakan dapat melebihi kebutuhan hidup pokok, maka kelebihan pakan akan diubah menjadi bentuk – bentuk produksi seperti produksi susu, pertumbuhan atau peningkatan bobot hidup dan tenaga. Bahan pakan berserat berupa hijauan merupakan pakan utama sapi perah seperti rumput dan legum. Hijauan merupakan pakan utama sapi perah yang mengandung kadar serat tinggi. Selain hijauan, sapi juga membutuhkan konsentrat. Konsentrat diberikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan energi pada sapi. Konsentrat mengandung pati dan PK yang tinggi, kadar serat rendah, dan mudah dicerna, sehingga nutriennya lebih tinggi dibandingkan dengan hijauan (Handayanta, 2000). Sapi perah harus mendapat pakan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya, agar menghasilkan produksi susu yang tinggi. Cara pemberian pakan yang salah akan mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan bahkan menyebabkan kematian (Sudono, 1999).
Kebutuhan Zat Makanan Sapi Perah Kebutuhan akan zat nutrisi pada sapi perah dipenuhi dengan mengkonsumsi ransum yang telah disediakan oleh peternak, karena konsumsi merupakan faktor penting yang merupakan dasar untuk hidup dan menentukan produksi. Zat-zat gizi yang diperlukan sapi perah untuk kebutuhan hidup pokok maupun untuk produksi adalah energi, protein, mineral, vitamin. Zat gizi tersebut dapat dipenuhi yang didasarkan pada konsumsi bahan kering (BK) pakan (McDonald et al., 1995). Kebutuhan Bahan Kering Konsumsi BK merupakan tolok ukur ketersediaan zat nutrisi dalam tubuh ternak. Kebutuhan BK dihitung berdasarkan bobot sapi, tingkat produksi susu, bulan laktasi, dan lingkungan. Puncak produksi tidak sejalan dengan konsumsi BK. Puncak produksi susu dicapai 4-8 minggu setelah melahirkan, sedangkan puncak konsumsi BK dicapai pada 10-14 minggu setelah melahirkan. Jumlah BK yang dimakan oleh ternak berbeda-beda, rata-rata konsumsi BK pada ternak berkisar antara 2,5-3% dari bobot hidup ternak tersebut (NRC, 2001). Kebutuhan Mineral Mineral dibutuhkan oleh tubuh untuk tiga tujuan yaitu sebagai material pembangun untuk tulang dan rangka tubuh, sebagai buffer pada saliva sehingga keasaman dan tekanan osmotik terkontrol dan sebagai katalis dalam proses biokimia (Orskov, 1998). Kebutuhan mineral pada sapi laktasi didefinisikan sebagai konsentrasi mineral pada susu 4% fat corrected milk (FCM) (NRC, 2001). Mineral mikro sering dipakai sebagai suplemen karena ikut serta dalam proses metabolisme walaupun jumlah yang dibutuhkan sedikit (Suryahadi dan Sutardi, 1984). Mineral di dalam rumen dibutuhkan oleh mikroba untuk pembentukan vitamin B dan protein. Mineral diperlukan oleh hewan dalam jumlah yang cukup. Hewan – hewan yang hidup bebas di alam tidak memerlukan tambahan mineral karena kebutuhan mineralnya sudah tersedia dalam hijauan yang dikonsumsinya. Namun, ternak yang dikurung perlu mendapatkan tambahan mineral, terutama ternak pada fase starter, induk bunting dan induk yang sedang berproduksi. Mineral berfungsi sebagai pengganti zat – zat mineral yang hilang, untuk pembentukan jaringan – jaringan pada tulang, urat dan sebagainya serta untuk berproduksi. Kalsium (Ca) dan fosfor (P) 4
merupakan mineral yang banyak dibutuhkan tubuh sehingga perlu ditambahkan dalam ransum. Hal ini dikarenakan 75 % dari mineral yang berada dalam tubuh adalah Ca dan P, dan 90 % kerangka tubuh terdiri dari Ca dan P (AAK, 1986). Unsur mineral makro seperti Ca, P, Mg, Na, dan K berperan penting dalam aktivitas fisiologis dan metabolisme tubuh; sedangkan unsur mineral mikro seperti, besi (Fe), tembaga (Cu), seng (Z), mangan (Mn), dan kobalt (Co) diperlukan dalam sistem enzim (McDowell, 1985). Kebutuhan mineral per hari pada ternak dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kebutuhan mineral per hari pada kondisi normal dan defisiensi Mineral dalam pakan Ca (g/kg) Mg (g/kg) P (g/kg) Cu (mg/kg) Zn (mg/kg) Kandungan dalam darah normal (mg/100 ml) 8,00-12,00 1,80-3,10 0,40-0,60 0,06 0,08 Pemberian Kandungan pakan dalam kondisi normal darah defisiensi (mg/100 ml) 15,00 <8,00 0,40 <1,80 10,00 <0,40 5,00 <0,05 25,00 <0,04 Pemberian pakan kondisi defisiensi 30,00 0,80 20,00 10,00 50,00 Sumber : McDowell (1985) Penyakit Defisiensi Mineral Menurut McDowell (1985), kandungan mineral, seperti Ca, Mg, P, Cu dan Zn, di dalam darah menurun pada kondisi defisiensi sehingga ternak harus diberi pakan dengan kandungan mineral dalam taraf dua kali lebih besar dari taraf kondisi normal (Tabel 1). Gejala awal penyakit defisiensi mineral berupa penurunan reproduksi sekitar 20%-75%, retensi plasenta, anak yang lahir menjadi lemah dan angka kematian anak tinggi. Penyakit lain yang timbul adalah pneumonia, diare, stomatitis, anoreksia dan penurunan produksi pada sapi perah. Gejala defisiensi mineral yang lebih parah adalah patah tulang, kulit kering dan bersisik, serta kekurusan yang hebat (Gartenberg et al., 1990). Kualitas Air Susu Susu merupakan sekresi normal kelenjar mamae dari mamalia. Susu diproduksi setelah mamalia betina melahirkan anaknya. Susu merupakan makanan pertama dan utama bagi anak mamalia yang baru dilahirkan (Nurtama dan Sugiyono, 5 1992). Kualitas, kuantitas dan susunan susu sapi perah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu bangsa atau rumpun sapi, lama bunting, masa laktasi, besar sapi, masa birahi, umur sapi, selang beranak, masa kering, frekuensi pemerahan dan tata laksana pemberian pakan (Sudono et al., 2003). Susu mempunyai komposisi yang baik sehingga mudah ditumbuhi oleh mikroorganisme (Fardiaz, 1987). Agar dapat menopang individu baru untuk hidup, tumbuh dan berkembang, susu mengandung berbagai komponen kimia yang diperlukannya. Komposisi kimia susu sapi perah secara umum disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rataan Komposisi Susu Sapi Komponen Komposisi (%) Air 87,4 Protein 3,5 Lemak 3,5 Laktosa 4,8 Abu 0,7 Kalsium 0,1 Fosfor 0,09 Sumber : Marth (1983) Bahan kering susu adalah bahan yang terdiri dari lemak, protein, laktosa dan abu serta komponen lainnya (Muchtadi dan Sugiyono, 1992). Total padatan susu dapat dicari dengan cara mengeringkan susu dalam oven atau dihitung dari berat jenis dan kandungan lemak susunya (Walstra dan Jennes, 1984). Bahan kering tanpa lemak adalah jumlah persentase semua komponen penyusun susu dikurangi kadar air dan kadar lemaknya (Bath et al., 1985). Lemak susu adalah komponen susu yang penting, baik dari segi ekonomis maupun peranannya terhadap kualitas produk olahan susu. Menurut Nurtama dan Sugiyono (1992), lemak merupakan komponen susu termahal, pemberi energi paling tinggi, disamping pemberi citarasa. Kadar lemak susu sapi berada pada kisaran 2,5%- 6,0% (rata-rata 3,8%). Lemak dalam susu berada dalam emulsi, membentuk globula yang cenderung bergabung satu sama lain. Menurut Walstra dan Jennes (1984) 6 lemak susu terdiri dari beberapa lipid yang berbeda jumlah atom karbonnya. Lebih dari 98% lemak susu berasal dari trigliserida, sedangkan sisanya adalah kolesterol, digliserida, asam lemak bebas, fosfolid dan cerebrosida. Protein pada susu sapi memiliki kisaran 2,80%– 4,00 %. Protein susu terdiri dari 80% kasein dan 18% laktalbumin. Protein lain yang terdapat di dalam susu dikenal sebagai laktoglobulin sebanyak 0,05%– 0,07%. Kadar laktosa susu sekitar 4,8%. Laktosa merupakan disakarida yang tersusun dari glukosa dan galaktosa dan hanya terdapat dalam susu (Nurtama dan Sugiyono, 1992). Sifat fisik susu dipengaruhi oleh komposisinya. Komposisi susu mempunyai peran yang besar dalam pengolahan dan pengujian mutu. Dijelaskan bahwa salah satu sifat fisik susu adalah berat jenis. Berat jenis susu dipengaruhi oleh komponen padatan susu yang mempunyai berat jenis berbeda-beda. Berat jenis susu menunjukkan imbangan komponen zat-zat pembentuk didalamnya, dan sangat dipengaruhi oleh kadar lemak dan BK tanpa lemak, yang tidak lepas dari pengaruh makanan dan kadar air dalam air susu (Walstra dan Jennes, 1984). Berat jenis susu dipengaruhi oleh kandungan lemak susunya, oleh karena itu berat jenis susu sangat bervariasi. Berat jenis susu biasanya diukur dengan lactometer (Henderson, 1971). Mineral Air Susu Air susu mengandung beberapa macam mineral. Mineral yang terdapat dalam air susu berasal dari makanan yang dikonsumsi, namun komposisinya tidak seperti dalam makanan. Mineral yang terdapat dalam air susu adalah Ca, P, Zn, Mg, Mn, I, Fe, S dan mineral essensial lainnya (Folley et al., 1972). Kosentrasi mineral air susu sapi disajikan dalam Tabel 3. Komposisi mineral air susu cukup beragam, hal ini dipengaruhi oleh bangsa sapi, periode laktasi, produktivitas, musim, kecukupan mineral dalam ransum dan penyakit (Underwood, 1981; Georgievskii, 1982). Pengaruh ransum terhadap komposisi air susu berbeda-beda untuk setiap mineral. Ransum yang defisien Ca, P, Na dan Fe, dapat menyebabkan penurunan produksi, namun komposisi mineral dalam air susu tersebut tetap. Jika ransum defisien Ca dan I dapat menyebabkan kosentrasi mineral tersebut dalam air susu menurun (Underwood, 1981). 7
Tabel 3. Kosentrasi Mineral Air Susu Sapi Kosentrasi Jenis Mineral Underwood (1981) Georgievskii et al., (1982) Mineral Makro -----------------g/kg----------------- Ca 1,2 1,28 K 1,5 1,25 Cl 1,1 1,15 P 1 0,95 Na 0,5 0,63 Mg 0,1 0,3 S - 0,35 Mineral mikro --------------mg/ kg-------------- Zn 4 3000-5000 Fe 0,5 200-400 Cu 0,2 50-200 Mo - 40-50 I 0,05 25-30 Mn 0,03 20-50 Co - 3-5 Se - 4-10 Sumber : Underwood (1981) dan Georgievskii et al., (1982) Biomineral Biomineral merupakan salah satu bentuk suplement mineral yang berbahan dasar cairan rumen limbah RPH dan mempunyai nilai biologis yang cukup baik bila ditinjau dari segi nutrien mikroba rumen. Untuk menghasilkan biomineral dari cairan rumen limbah RPH dapat dilakukan dengan proses pemanenan produk inkorporasi zat makanan oleh mikroba rumen kedalam protein mikrobialnya melalui penggunaan pelarut asam, pengendapan, penambahan bahan carrier dan pengeringan dibawah sinar matahari (Tjakradidjaja et al., 2007). Nilai biologis biomineral yang cukup baik akan dimanfaatkan untuk ternak apabila dibarengi dengan tingkat biovailabilitas dari biomineral dalam organ pascarumen. Oleh karena itu, upaya proteksi terhadap biomineral dapat dilakukan dengan formalin dan tanin (Tjakradidjaja et al., 2007). 8 Cairan rumen mengandung mikroorganisme yaitu bakteri yang konsentrasinya mencapai 21 X 109 per ml cairan rumen sapi Zebu (Arora, 1989) dan protozoa yang membantu proses pencernaan dengan cara fermentasi. Dalam keadaan normal, protein mikroba minimal dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok dari ruminansia bersangkutan. Protozoa rumen mengandung 55 % PK, sedangkan bakteri (hasil pupukan) kadar PKnya adalah 59 %, kurangnya kadar protein protozoa dibandingkan dengan bakteri disebabkan protozoa banyak mengandung polisakarida (McNaught et al., 1954 dalam Parakkasi, 1999). Pemberian biomineral 1 % dalam ransum pada sapi perah dapat meningkatkan performa ternak dan menghasilkan laju pertumbuhan yang lebih baik. Pengaruhnya terjadi melalui peningkatan konsumsi dan pencernaan nutrien. Namun penggunaan biomineral belum mampu meningkatkan produksi susu (Suryahadi dan Tjaradidjaja, 2009). Suganda (2009) menyatakan bahwa pemberian biomineral 0,05 kg/ekor/hari (atau sekitar 1% dari kosentrat) pada sapi jantan FH lepas sapih dapat meningkatkan konsumsi ransum seperti konsumsi BK, PK, SK, dan TDN. Selain itu, pemberian biomineral dapat menigkatkan daya produksi ternak dengan menghasilkan pertambahan bobot badan yang cukup tinggi. 9
Download