PENDAHULUAN Latar Belakang Pola kemitraan ayam

advertisement
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pola kemitraan ayam broiler adalah sebagai suatu kerjasama yang
sering diterapkan di pedesaan terutama di daerah yang memiliki potensi
memelihara ayam broiler. Pola kemitraan adalah kerjasama antara
kelompok mitra dengan perusahaan mitra yang terikat kontrak antara satu
dengan yang lain. Kerjasama kemitraan memiliki keterikatan antara
peternak kecil dan perusahaan besar yang antara keduanya saling
menguntungkan.
Sumardjo (2001) menyatakan bahwa pola kemitraan adalah suatu
sistem yang menggambarkan hubungan antara usaha besar dengan
usaha kecil atau menengah, usaha besar sebagai perusahaan induk
bekerja sama dengan usaha kecil atau menengah selaku kontrak untuk
mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan dengan tanggung jawab
penuh pada perusahaan induk. Beternak ayam broiler merupakan
pekerjaan dari sebagian masyarakat di Kabupaten Sragen, karena daging
ayam broiler menjadi primadona masyarakat Indonesia sebagai alternative
pengganti daging sapi yang harganya relatif lebih mahal sebagai pangan
sumber protein hewani.
Kabupaten Sragen merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi
Jawa Tengah yang memiliki sumber daya alam yang melimpah khususnya
di bidang pertanian dan peternakan, menurut laporan Badan Pusat
1
Statistik (BPS) tahun 2013, sub sektor peternakan berada di urutan kedua
dalam jumlah usaha rumah tangga pertanian, urutan pertama adalah sub
sektor tanaman pangan dan urutan terakhir adalah sub sektor perikanan.
Tabel 1. Jumlah rumah tangga usaha pertanian menurut sub sektor di
Kabupaten Sragen Tahun 2013
Sub sektor
Tanaman pangan
Hortikultura
Perkebunan
Peternakan
Perikanan
Kehutanan
Jasa pertanian
Kabupaten
Sragen
Jumlah rumah tangga
118.655
41.407
8.152
91.853
3.632
37.820
9.547
merupakan
Kabupaten
yang
sebagian
penduduknya mempunyai pekerjaan tetap beternak ayam broiler, dengan
berkembangnya peternakan ayam broiler di Kabupaten Sragen maka
muncul perusahaan kemitraan yang menawarkan berbagai sistem
kerjasama, diantaranya adalah kerjasama pola inti plasma dengan sistem
kontrak dan sistem upah.
Sistem kontrak merupakan sistem kerjasama yang didalamnya
perusahaan inti menyediakan sarana produksi, modal, bimbingan dan
pelayanan dan peternak plasma menyediakan lahan, kandang dan juga
tenaga, sedangkan perhitungan pembagian hasil ditentukan dengan
perjanjian atau kontrak antara perusahaan inti dan peternak plasma.
Sistem upah merupakan kerjasama yang didalamnya peternak plasma
dibayar atau diberi upah sesuai dengan pemeliharaan ayam yang
tentunya sesuai dengan kesepakatan, perusahaan inti menyediakan
2
sarana produksi, bimbingan, dan peternak plasma menyediakan lahan,
kandang dan tenaga.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan peternak
plasma ayam broiler yang menggunakan kerjasama pola inti plasma
dengan sistem kontrak dan sistem upah.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan bagi peternak ayam broiler yang berada di Kabupaten
Sragen untuk memilih model kerjasama dalam beternak.
3
TINJAUAN PUSTAKA
Kondisi Peternakan Ayam Broiler
Perkembangan
ayam
broiler
di
Indonesia
dimulai
pada
pertengahan dasawarsa tahun 1970-an dan mulai terkenal pada awal
tahun 1980-an. Laju perkembangan usaha ayam broiler sejalan dengan
pertumbuhan populasi penduduk, pergeseran gaya hidup, tingkat
pendapatan,
perkembangan
situasi
ekonomi
politik,
serta kondisi
keamanan (Fadilah, 2006). Pada tahun 1981 usaha ayam broiler banyak
dikuasai oleh pengusaha dengan skala besar, sedangkan peternak kecil
sulit untuk melakukan usaha ini. Dalam rangka melindungi peternak kecil
Pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa Keputusan Presiden No 50
Tahun 1981 yang intinya membatasi jumlah ayam petelur konsumsi paling
banyak 5.000 ekor dan ayam broiler sebanyak 750 ekor per minggu.
Munculnya kebijakan itu membuat sektor peternakan di Indonesia
perkembanganya terhambat selama Sembilan tahun, kemudian pada
tanggal 28 Mei 1990 Keputusan Presiden No 50 tahun 1981 dicabut dan
diganti dengan Keputusan Presiden No 22 tahun 1990 yang isinya
merangsang berdirinya peternakan-peternakan besar untuk tujuan ekspor
dan menjadi industri peternakan yang handal dan menjadi sektor
penggerak perekonomian (Suharno, 2002). Perubahan drastis terjadi pada
sektor peternakan saat krisis moneter tahun 1997, harga bahan baku
impor untuk industri peternakan menjadi sangat tinggi sedangkan harga
4
telur dan
daging
ayam
menjadi
terus
menurun seiring
dengan
menurunnya daya beli masyarakat, akibatnya permintaan pakan dan DOC
menurun dan berdampak penurunan populasi ayam di Indonesia, Pada
saat itu populasi ayam di Indonesia berkurang sekitar 80 % dari tahun
sebelumnya. Faktor penyebabnya adalah ketergantungan peternakan
Indonesia pada impor bahan baku utama yaitu pakan dan bibit (Saragih,
2001).
Pada akhir tahun 1998 industri peternakan di Indonesia mulai
mengalami perkembangan, harga daging mulai dapat dikendalikan dan
dapat memberi keuntungan kepada peternak, dan pada saat itu muncullah
kemitraan antara perusahaan dan peternak untuk melakukan kerjasama di
bidang peternakan ayam sehingga peternak mendapatkan keuntungan
walaupun tidak usaha secara mandiri, karena modal yang sedikit maka
bergabunglah
dengan
perusahaan
yang
memberikan
modal
dan
membentuk sistem kemitraan (Suharno, 2002).
Kemitraan Ayam Broiler
Kemitraan berasal dan kata mitra yang berarti teman, kawan atau
sahabat, kemitraan muncul karena minimal ada dua pihak yang bermitra.
Keinginan untuk bermitra muncul dan masing-masing pihak, walaupun
dapat pula terjadi kemitraan muncul akibat peranan pihak ketiga,
selanjutnya dikemukakan oleh Salam et al. (2006) bidang pertanian pada
umumnya bidang peternakan ayam broiler khususnya, satu pihak yang
bermitra adalah peternak yang melaksanakan budidaya, sedangkan pihak
5
lainnya adalah perusahaan yang bergerak dalam usaha pengadaan input
dan atau usaha pengolahan dan pemasaran hasil.
Menurut Kartasasmitha (2006) kemitraan usaha ialah hubungan
kerjasama antara berbagai pihak, antara usaha kecil dengan usaha
menengah atau usaha besar dan pada skala usaha yang sama, dengan
memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling
menguntungkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam
rangka meningkatkan daya saing. Pedoman tentang kemitraan, diatur oleh
pemerintah mealui undang-undang No 9 tahun 1995 yang isinya
kemitraan adalah kerjasama usaha antara usaha kecil dengan usaha
menengah
atau
dengan
usaha
besar
disertai
pembinaan
dan
pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan
memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling
menguntungkan.
Peraturan pemerintah No 44 tahun 1997 yang isinya ketentuan
umum dalam kemitraan, macam-macam pola kemitraan, iklim usaha dan
pembinaan kemitraan, lembaga pendukung kemitraan dan ditindakianjuti
melalui SK Mentan No. 940/Kpts/OT.210/10/1997 tentang pedoman
kemitraan usaha pertanian yang isinya mengatur macam-macam pola
kemitran,
syarat
kemitraan
usaha
pertanian,
pembinaan
dan
pengembangan, pengawasan dan pengendalian. Tujuan kemitraan yang
tertuang dalam peraturan tersebut antara lain untuk meningkatkan
pendapatan, keseimbangan usaha, meningkatkan kualitas sumberdaya
6
kelompok
mitra,
peningkatan
skala
usaha,
serta
dalam
rangka
menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kelompok mitra
yang mandiri.
Peternakan ayam broiler hanyalah merupakan salah satu sub
sistem saja dan sistem agribisnis peternakan ayam broiler secara
menyeluruh, selain itu ada sub sistem agribisnis lain yaitu sub sistem
pengadaan input atau sub sistem pra produksi, di sub sistem budidaya
atau proses produksi dan di sub sistem pengolahan dan pemasaran atau
sub
sistem
pasca
produksi,
selanjutnya
Sirajuddin
dkk.
(2007)
menyatakan bahwa untuk menghadapi perubahan harga pakan dan bibit
ayam ras pedaging yang tidak dapat dikendalikan oleh peternak maka
peternak harus meningkatkan efisiensi dalam pemeliharaan usaha
peternakannya dengan sedapat mungkin memanfaatkan potensi lokal
agar produk peternakan mempunyai daya saing yang cukup kuat di pasar,
dan agar usaha peternakan ayam broiler dapat berproduksi secara terus
menerus dan menjamin kelangsungan usaha peternakan rakyat maka
diperlukan keterlibatan pengusaha dalam hal penyediaan bibit, pakan dan
pemasaran hasil produksi. Artinya ada hubungan kemitraan antara
peternak dan pengusaha.
Pada usaha peternakan ayam broiler terdapat risiko kegagalan di
dalamnya,
risiko
merupakan
kemungkinan
kejadian
yang
akan
menimbulkan dampak kerugian. Robi’ah (2006) menyatakan bahwa
tingginya tingkat risiko yang dihadapi usaha ternak ayam dikarenakan
7
fluktuasi harga input (pakan dan DOC) dengan struktur pasar oligopoly,
fluktuasi harga output dengan struktur pasar oligopoly serta fluktuasi hasil
produksi yang bergantung pada kondisi alam yang menyebabkan risiko
yang dihadapi tinggi. Herawati (2011) melaporkan bahwa biaya paling
besar yang dikeluarkan adalah biaya pakan sebesar 62,55 % dan DOC
sebesar 29,23 %. Biaya obat dan vaksin, biaya tenaga kerja, biaya sewa
kandang dan biaya lain-lain relatif kecil yaitu sebesar 4,06 %, 1,34 %, 1,23
% dan 0,33 %. Risiko produksi pada peternakan ayam broiler tergolong
besar, perubahan cuaca dan penyakit menjadi hal yang paling
berpengaruh terhadap kerugian produksi.
Aziz (2009) melaporkan bahwa studi kasus usaha peternakan X di
Desa Tapos, risiko yang dihadapi usaha peternakan X adalah risiko harga
(baik harga input maupun harga jual output), risiko produksi (cuaca dan
iklim bisa menyebabkan tingkat mortalitas sebesar 30-50% dan penyakit
bisa menyebabkan tingkat mortalitas sebesar 50%), dan risiko sosial.
Berdasarkan hasil analisis risiko, risiko yang dihadapi usaha peternakan X
yaitu risiko harga, risiko produksi dan risiko sosial sangat berpengaruh
terhadap
pendapatan
usaha
peternakan
X.
Risiko-risiko
tersebut
menyebabkan pendapatan usaha peternakan X berfluktuasi tajam.
Pendapatan Usaha Ternak
Pendapatan usaha ternak ayam broiler adalah selisih antara total
penerimaan dengan total biaya produksi selama pemeliharaan (Ibrahim,
2009). Biaya adalah nilai dan semua korbanan ekonomis yang diperlukan
8
untuk menghasilkan suatu produk, yang sifatnya tidak dapat dihindari,
dapat diperkirakan dan diukur. Biaya produksi merupakan kompensasi
yang diterima oleh pemilik faktor-faktor produksi. Biaya yang dilakukan
pada periode tertentu, dikenal dengan biaya tetap dan biaya variabel.
Zulkifli (2003) menyatakan bahwa biaya variabel adalah biaya yang
jumlahnya berubah-ubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan,
namun biaya per unitnya tetap. Artinya, jika volume kegiatan diperbesar
dua kali tipat, maka total biaya juga menjadi dua kali lipat dan jumlah
semula, sedangkan biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya sampai
tingkat kegiatan tertentu relatif tetap dan tidak terpengaruh oleh
perubahan volume kegiatan.
Biaya tetap terdiri atas biaya penyusutan dan pembuatan kandang
dan pengadaan peralatan serta pajak yang besarnya tidak tergantung
pada besar kecilnya skala usaha. Biaya pembuatan kandang dikeluarkan
sekali dengan masa pemakaian selama sepuluh tahun, biaya pengadaan
peralatan dikeluarkan sekali dengan masa pemakaian selama lima tahun,
sedang Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dikeluarkan sekali setahun (6
periode). Selanjutnya, semua biaya dihitung pada satuan waktu yang
sama, yaitu satu periode pemeliharaan ayam mulai dan DOC sampai
dengan ayam yang siap dijual (Yunus, 2009).
Soekartawi (2006) menyatakan bahwa biaya total usaha tani
diartikan sebagai nilai semua masukan yang habis terpakai atau
9
dikeluarkan dalam produksi. Berdasarkan jumlah output yang dihasilkan
biaya terdiri atas :
1. Biaya tetap, adalah biaya yang besar kecilnya tidak dipengaruhi
oleh besar kecilnya produksi, misalnya : pajak, sewa tanah,
penyusutan, dan bunga pinjaman.
2. Biaya variabel, adalah biaya yang berhubungan Iangsung dengan
jumlah produksi, misalnya pengeluaran untuk bibit, pupuk, obat dan
biaya tenaga kerja Iangsung.
Selanjutnya dikatakan bahwa, selain itu biaya dalam usaha tani dapat
dibedakan atas biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai adalah
semua biaya yang dibayarkan dengan uang seperti biaya pembelian
sarana produksi dan biaya untuk tenaga kerja luar keluarga. Biaya yang
diperhitungkan
digunakan
untuk
menghitung
berapa
sebenarnya
pendapatan kerja petani jika penyusutan alat, nilai tenaga kerja dalam
keluarga diperhitungkan, sewa lahan yang diperhitungkan atas lahan milik
sendiri, dan penggunaan benih dan hasil produksi (Soekartawi, 2006).
10
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
Landasan Teori
Kemitraan adalah strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak
atau lebih yang dalam jangka waktu tertentu akan meraih keuntungan
bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan.
Sistem kerjasama pola inti plasma yaitu adalah hubungan kemitraan
antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra yang di dalamnya
perusahaan bertindak sebagai inti dan kelompok mitra sebagai plasma.
Menurut peraturan pemerintah kelebihan pola ini adalah kepastian sarana
produksi, pelayanan/bimbingan, dan menampung hasil. Kerjasama pola
inti plasma di dalamnya terdapat macam-macam sistem kerjasama, di
antaranya sistem kontrak dan sistem upah.
Kerjasama pola inti plasma yang menggunakan sistem kontrak
adalah kerjasama yang di dalamnya perusahaan inti menyediakan modal,
sarana produksi, pelayanan dan bimbingan, serta menampung hasil
sesuai dengan perjanjian atau kontrak didepan, sedangkan peternak
plasma menyediakan tempat serta tenaga untuk membudidayakan ayam
broiler. Kerjasama pola inti plasma yang menggunakan sistem upah
adalah kerjasama yang di dalamnya perusahaan Inti menyediakan sarana
produksi, pelayanan dan bimbingan, dan peternak plasma menyediakan
tempat, sistem pembagian hasilnya adalah peternak plasma dibayar
berdasarkan upah atau bayaran selama pemeliharaan ayam broiler.
11
Kerjasama pola inti plasma yang menggunakan sistem kontrak
memiliki penerimaan dan total penjualan ayam yang tidak terpengaruh
dengan harga pasar, karena harga sudah kontrak dengan perusahaan inti,
dan jika harga di pasar tinggi maka peternak plasma juga akan mendapat
bonus yaitu bonus pasar, dan bila Feed Conversion Ratio (FCR)
mencapai standar dari inti maka juga akan mendapat bonus dari
perusahaan inti, tetapi tidak ada tanggung jawab dari perusahaan inti jika
terjadi kegagalan dalam beternak, yaitu kematian yang banyak yang
mengakibatkan peternak mitra mengalami kerugian.
Kerjasama pola inti plasma yang menggunakan sistem upah
memiliki penerimaan sebatas upah atau bayaran dari pemeiiharaan ayam
selama 1 periode berdasarkan Indeks Performance (IP) yang diperoleh,
dan meskipun terjadi kematian ayam dalam beternak, peternak plasma
tetap mendapatkan penerimaan dan upah hasil pemeliharaan ayam yang
masih hidup, tetapi tidak ada bonus pasar dan hanya mendapatkan upah
berdasarkan capaian IP.
Hipotesis
Peternak yang menggunakan sistem kontrak memiliki pendapatan
yang lebih besar dibandingkan dengan peternak yang menggunakan
sistem upah.
12
MATERI DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sragen Jawa Tengah.
Pelaksanaan penelitian selama 3 bulan yang dimulai pada tanggal 1 April
sampai dengan 31 Juni 2016.
Materi
Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah peternak plasma ayam broiler
pola inti plasma dengan sistem kontrak yang berjumlah 15 peternak dan
peternak plasma ayam broiler pola inti plasma dengan sistem upah
berjumlah 15 peternak di Kabupaten Sragen.
Metode penarikan dan penentuan sampel dilakukan secara
Convenience Sampling karena tidak ada data sekunder yang menyatakan
jumlah populasi dan jumlah peternak pada kedua sistem tersebut di
Kabupaten Sragen.
Metode
Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini
adalah :
a. Observasi yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui
pengamatan secara langsung terhadap kondisi lokasi penelitian,
13
serta berbagai aktivitas peternak dalam menjalankan usaha
peternakan ayam broiler.
b. Wawancara yaitu pengumpulan data yang dilakukan melalui
wawancara langsung dengan pihak peternak yang melakukan
usaha peternakan ayam broiler dengan pedoman kuisioner yang
telah dipersiapkan terebih dahulu.
Analisis data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif
dan kuantitatif. Data kualitatif mengenai gambaran umum tempat
penelitian, profil para pelaku kemitraan akan dianalisis secara deskriptif,
sedangkan data kuantitatif menggunakan analisis pendapatan dan
dilanjutkan dengan uji t.
Analisis pendapatan yang dilakukan adalah menghitung biaya
produksi yang dikeluarkan, jumlah penerimaan dan keuntungan yang
didapat selama pemeliharaan ayam broiler pada periode tertentu.
Sistem kontrak
Sistem kontrak adalah kerjasama dengan perjanjiaan sebagai
berikut :
a. Perusahaan inti menyediakan sarana produksi seperti
-
DOC (dijual ke peternak plasma dengan harga kontrak yang
berkisar antara Rp 4.150 sampai Rp 6.750 per ekor).
-
Pakan (dijual ke peternak dengan harga Rp 6.670 sampai Rp
7.800 per Kg).
14
-
Obat dan vaksin
-
Kemudian memberikan bimbingan kepada plasma.
b. Peternak plasma menyediakan sarana produksi seperti :
-
Lahan dan kandang
-
Tenaga kerja
-
Sarana produksi yang tidak disediakan oleh perusahaan inti.
a. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak adalah :
-
Biaya variabel yaitu tenaga kerja, pembelian gas, pembelian
sekam, biaya listrik, biaya air, sanitasi dan dana sosial.
-
Biaya tetap yaitu penyusutan kandang, penyusutan alat, dan
pajak PBB.
c. Penerimaan yang diperoleh peternak plasma antara lain :
-
Hasil penjualan ayam waktu panen dengan harga kontrak
antara Rp 15.700 sampai Rp 17.000 per Kg ayam hidup
-
Bonus dari perusahaan inti
1. Bonus pasar ( jika selisih harga pasar dengan harga kontrak
> Rp 500/Kg maka dapat bonus 25 % dari kelebihan harga
kontrak).
2. Bonus FCR (jika FCR < 1,5 maka bonus Rp 250 per Kg)
3. Bonus Kematian (jika kematian < 0,5 % maka dapat bonus
Rp 150 per ekor ayam.
-
Penerimaan dari penjualan kardus, karung pakan dan kotoran
ayam
15
Sistem upah
Sistem upah adalah kerjasama dengan perjanjiaan sebagai berikut:
b. Perusahaan inti menyediakan sarana produksi seperti :
-
DOC (diberikan kepada peternak tanpa ada perhitungan jumlah
biaya yang harus dibayar).
-
Pakan (diberikan kepada peternak tanpa ada perhitungan
jumlah biaya yang harus dibayar ).
-
Obat dan vaksin (diberikan kepada peternak tanpa ada
perhitungan jumlah biaya yang harus dibayar)
-
Kemudian memberikan bimbingan kepada plasma.
c. Peternak plasma menyediakan sarana produksi seperti :
-
Lahan dan kandang
-
Tenaga kerja
-
Sarana produksi yang tidak disediakan oleh perusahaan inti.
d. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh peternak adalah :
-
Biaya variabel yaitu tenaga kerja, pembelian gas, pembelian
sekam, biaya listrik, biaya air, sanitasi dan dana sosial.
-
Biaya tetap yaitu penyusutan kandang, penyusutan alat, dan
pajak PBB.
e. Penerimaan yang diperoleh peternak plasma antara lain :
-
Hasil upah pemeliharaan ayam broiler yang hidup per
ekor/periode berdasarkan Indeks Performans (IP) yaitu dengan
rumus :
16
IP =
(100−𝐷) π‘₯ 𝐡𝐡
x 100
𝐹𝐢𝑅 π‘₯ 𝐴/π‘ˆ
Keterangan :
IP
: Indeks Performans
D
: Deplesi (% kematian dan ayam hilang)
BB
: Bobot badan rata-rata
FCR
: Jumlah pakan yang digunakan dibagi bobot ayam
broiler
A/U
: Umur rata-rata panen
Ketentuan upah per ekor/hari :
IP < 265 upah Rp 40
IP 256 sampai 280 upah Rp 45
IP 281 sampai 300 upah Rp 50
IP 301 sampai 312 upah Rp 55
IP 313 sampai 325 upah Rp 60
IP 326 sampai 338 upah Rp 65
IP > 338 upah Rp 70
-
Penerimaan dari penjualan kardus, karung pakan dan kotoran
ayam
Kemudian kedua sistem di analisis dengan analisis pendapatan dengan
rumus sebagai berikut :
a. Biaya produksi
TC = FC + VC
Keterangan
17
TC = Total biaya produksi budidaya ayam broiler
FC = Biaya tetap budidaya ayam broiler
VC = Biaya tidak tetap budidaya ayam broiler
a. Total penerimaan usaha budidaya ayam broiler merupakan semua
penerimaan
yang
pemeliharaan
didapatkan
ayam
broiler,
dan
hasil
penjualan
atau
sampingnya,
upah
subsidi
pemeliharaan serta bonus yang didapat.
b. Pendapatan adalah selisih antara total penerimaan dengan total
biaya produksi yang telah dikeluarkan oleh peternak ayam broiler.
Ibrahim (2009) menyatakan bahwa nilai pendapatan dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut:
𝝅 = TR –TC
Keterangan :
πœ‹ = Pendapatan usaha budidaya ayam broiler
TR = Total penerimaan usaha budidaya ayam broiler
TC = Total biaya produksi usaha budidaya ayam broiler
Uji t
Langkah-langkah uji t adalah sebagai berikut :
Merumuskan hipotesa
H0 = Tidak terdapat perbedaan antara rata-rata pendapatan peternak
ayam yang menggunakan sistem kontrak dan sistem upah
Ha = Terdapat perbedaan antara pendapatan peternak ayam yang
menggunakan sistem kontrak dan sistem upah
18
Download