12 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Audit 2.1.1 Pengertian Audit Audit

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Audit
2.1.1
Pengertian Audit
Audit merupakan ilmu ekonomi yang berfungsi untuk memeriksa suatu
informasi keuangan. Pada dasarnya audit merupakan sarana untuk dapat
memahami hubungan perusahaan dengan lingkungan operasinya. Audit dapat
membantu manajemen untuk menentukan berdasarkan faktor faktor yang dapat
diidentifikasi dan diketahui dengan baik. Dalam pelaksanaan audit diperlukan
informasi yang dapat diverifikasi dan standar yang dapat digunakan sebagai
pedoman dalam pelaksanaan evaluasi informasi tersebut.
Menurut Arens & Loebbecke dalam bukunya ”Auditing an Integerated
Approach ” (2000 : 1) , mendefinisikan auditing sebagai berikut :
Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about
quantifiable information of an economic entity to determining and
reporting on the degree of correspondence between the information and
estabilished criteria. Auditing should be done by a competent,
independent person.
Mulyadi dan Kanaka Puradiredja (2002:9), memberikan definisi audit
sebagai berikut :
Audit adalah proses sitematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti
secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan
kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menerapkan tingkat kesesuaian
antara pernyataan pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah
ditetapkan serta penyampaian hasil hasilnya kepada pemakai yang
berkepentingan.
12
13
Adapun, Sukrisno Agus (2004:3) memberikan pengertian auditing sebagai
berikut :
Auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan
sitematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang
telah disusun oleh manajemen beserta catatan catatan pembukuan dan
bukti bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk memberikan pendapat
mengenai kewajaran laporan keuangan mereka”
Jadi pada kesimpulannya, pemeriksaan (audit) merupakan suatu proses
pengumpulan dan penilaian bukti yang dilakukan oleh orang yang independen dan
kompeten mengenai informasi kuantitatif dari suatu kegiatan ekonomi dengan
tujuan pelaporan tingkat perbedaan antara informasi kuantitatif dengan kriteriakriteria yang telah ditetapkan sebelumnya untuk dapat menilai ketepatgunaan
(efficiency) dan keberhasilannya (effectiveness)
2.1.2
Jenis Jenis Audit
Audit terbagi menjadi beberapa jenis.
Arens & Loebbecke (2003:4) membagi tiga jenis audit, yaitu:
1.
Audit laporan keuangan
Audit laporan keuangan bertujuan menentukan apakah laporan keuangan
secara keseluruhan – yang merupakan informasi terukur yang akan
diverifikasi – telah disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria tertentu.
2.
Audit operasional
Audit operasional merupakan penelaahan atas bagian manapun dari
prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan
efektivitasnya.
3.
Audit ketaatan
Audit ketaatan bertujuan mempertimbangkan apakah auditee telah
mengikuti prosedur atau aturan tertentu yang telah ditetapkan pihak yang
memiliki otoritas lebih tinggi.
14
Mulyadi dan Kanaka Puradiredja (2002: 28) menggolongkan audit
menjadi tiga golongan yaitu:
1.
Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)
Audit laporan keuangan adalah audit yang diakukan oleh auditor
independent terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya
untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan
tersebut. Dalam audit laporan keuangan ini, auditor independent menilai
kewajaran laporan keuangan atas dasar kesesuaaiannya dengan prinsip
akuntansi berterima umum. Hasil auditing terhadap laporan keuangan
tersebut disajikan dalam bentuk tertulis berupa laporan audit.
2.
Audit Kepatuhan (Compliance Audit)
Audit kepatuhan adalah audit yang tujuannya untuk menentukan apakah
yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Hasil audit
kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang berwenang membuat
criteria. Audit kepatuhan banyak dijumpai dalam pemerintahan
3.
Audit Operasional (Operational Audit)
Audit
operasional
merupakan
review secara sistematik
kegiatan
organisasi, atau bagian daripadanya, dalam hubungannya dengan tujan
tertentu.
15
2.2
Audit Operasional
2.2.1
Pengertian Audit Operasional
Audit SDM merupakan bagian dari audit operasional, maka penulis coba
untuk menjelaskan hal-hal mengenai audit operasional. Ada beberapa pengertian
dan definisi mengenai audit operasional, diantaranya adalah:
Dale L Flesher (dalam Amin Widjaja Tunggal, 2000:2) mengatakan bahwa ’An
operational audit is an organized search for ways of improving efficiency and
effectiveness. It can be considered a form of constructive crictism’. (audit
operasional merupakan pencapaian cara cara untuk memperbaiki efisiensi dan
efektivitas. Audit operasional dapat dipertimbangkan sebagai suatu bentuk
kecaman yang konstruktif)
Arens & Loebbecke (2003: 4), memberikan definisi sebagai berikut :
Audit operasional merupakan penelaahan atas bagian manapun dari
prosedur dan metode operasi suatu organisasi suatu organisasi untuk
menilai efisiensi dan efektivitasnya. Umumnya pada saat selesainya audit
operasional, auditor akan memberikan sejumlah saran kepada manajemen
untuk meperbaiki jalannya operasi perusahaan.
Menurut Alejendro R Gorospel (dalam Amin Widjaja Tunggal, (2000 : 2),
mengemukakan bahwa :
Management audit atau operational audit adalah suatu teknik yang secara
teratur dan sistematis digunakan untuk menilai efektivitas unit atau
pekerjaan dibandingkan dengan standar standar perusahaan dan industri
dengan menggunakan petugas yang bukan ahli dalam lingkup objek yang
dianalisis, untuk meyakinkan manajemen bahwa tujuannya dilaksanakan ,
dan keadaan yang membutuhkan perbaikan dapat ditemukan.
Mulyadi dan Kanaka Puradiredja (2002 : 30), mengemukakan bahwa
”Audit operasional merupakan review secara sistematik kegiatan organisasi, atau
bagian daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu”
16
Audit operasional sering juga disebut sebagai audit manajemen, audit
prestasi (performance audit), audit system atau audit efisiensi. Pada dasarnya audit
operasional adalah suatu audit yang tujuannya menilai efektivitas dan efisiensi
manajemen dari suatu organisasi. Audit operasional digambarkan secara luas dan
meliputi evaluasi pengendalian internal (internal control) dan bahkan pengujian
pengendalian tersebut atas efektivitasnya sebagai bagian dari audit operasional.
Audit operasional adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memeriksa
kembali prosedur dan metode operasional perusahaan untuk menilai tingkat
efisiensi
dan efektivitas operasi, yang akhirnya menyimpulkan saran-saran
kepada manajemen untuk menyempurnakan operasi perusahaan.
Operasional audit muncul dari pengembangan financial audit. Dalam
audit ini yang dinilai bukan saja aspek yang bersifat non keuangan. Tujuannya
adalah memeriksa dan menilai operasi perusahaan serta prosedur pelaksanaannya.
Juga menyangkut pemberian informasi
kepada manajemen tentang masalah-
masalah operasi yang diperlukan untuk melakukan koreksi demi peningkatan
penghematan
dan
produktivitas.
Sasaran
audit
ini
adalah
bagaimana
mengusahakan agar kegiatan itu lebih efisien, hemat dan lebih produktif.
Audit operasional juga mengevaluasi pengendalian intern perusahaan.
Keuntungan yang didapat manajemen dari audit operasional adalah :
a. Peningkatan keuntungan
b. Peningkatan alokasi sumber daya
c. Dapat mengidentifikasi masalah sejak awal
d. Perbaikan komunikasi
Bagian terpenting dari definisi di atas adalah sebagai berikut :
17
a. Proses yang sistematis, dimana suatu audit operasional mencakup suatu
langkah prosedur yang logis dan terstruktur serta terorganisir.
b. Menilai operasi organisasi, dimana didasarkan pada beberapa kriteria yang
ditetapkan dan disetujui.
c. Efektifitas, efisiensi dan ekonomis operasi. Tujuan utama dari audit
operasional adalah untuk membantu para manajemen dan organisasi yang
diperiksa, memperbaiki efektifitas, efisiensi, dan ekonomis dari operasi.
d. Rekomendasi
untuk
kearah
perbaikan,
dimana
mengembangkan
rekomendasi dan memfokuskan ke masa yang akan datang.
Dari beberapa definisi di atas mengenai audit operasional, dapat
disimpulkan bahwa audit operasional adalah suatu pemeriksaan yang terencana
terhadap
bagian
dari
prosedur
operasi
dan
metode
organisasi
untuk
membandingkan kondisi organisasi dengan standar/ kriteria tertentu dalam
menilai ketepatgunaan (efficiency) dan keberhasilannya (effectiveness), yang
hasilnya dapat digunakan sebagai alat bantu manajemen dalam mencapai tujuan
organisasi .
2.2.2
Ruang Lingkup Audit Operasional
Ruang lingkup audit operasional meliputi semua aspek manajemen yang
perlu
mendapatkan
perhatian
untuk
diperbaiki
dan
ditingkatkan
mutu
penanganannya oleh manajemen atas kegiatan atau program yang diperiksa.
Aspek-aspek manajemen yang perlu mendapat perhatian untuk diperbaiki dan
ditingkatkan mutu penangannnya adalah organisasi, kebijakan, perencanaan,
prosedur, pencatatan, personalia dan pelaporan. Secara luas ruang lingkup audit
18
operasional mencakup pula seluruh kegiatan dari kegiatan keuangan, produksi,
pemasaran, teknis personalia dan aspek aspek lain dari kegiatan operasional.
2.2.3
Tujuan Audit Operasional
Tujuan audit operasional dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Assesing Performance
Tujuan ini dimaksudkan untuk membandingkan kegiatan organisasi
dengan tujuan yang dibuat oleh manajemen, seperti kebijaksanaan
organisasi, standar/ kriteria pengukuran lainnya.
2. Improvement
Dimaksudkan untuk meningkatkan ekonomi, efisiensi dan efektivitas
dengan mengidentifikasikan hasil hasil spesifik untuk peningkatan
3. Developing Recommendation for Improvement of Future Action
Tujuan ini dimaksudkan untuk memberikan rekomendasi kepada
manajemen untuk perbaikan operasi.
Menurut Amin Widjaja Tunggal mengenai tujuan audit operasional
(2001:12) adalah :
1. Objek dari audit operasional adalah mengungkapkan kekurangan dan
ketidakberesan dalam setiap unsur yang diuji oleh auditor operasional
dan untuk menunjukkan perbaikan apa yang dimungkinkan untuk
memperoleh hasil yang terbaik dari operasi yang bersangkutan
2. Untuk membantu manajemen mencapai administrasi operasi yang paling
efisien
3. Untuk mengusulkan kepada manajemen cara cara dan alat alat untuk
mencapai tujuan apabila manajemen organisasi sendiri kurang
pengetahuan tentang pengelolaan yang paling efisien
4. Audit operasional bertujuan untuk mencapai efisiensi dari pengelolaan
5. Untuk membantu manajemen, auditor operasional berhubungan dengan
setiap fase dari aktivitas usaha yang dapat merupakan dasar pelayanan
kepada manajemen
19
6. Untuk membantu manajemen pada setiap tingkat dalam pelaksanaan
yang efektif dan efisien dari tujuan dan tanggung jawab mereka
Tujuan audit operasional menurut Mulyadi dan Kanaka Puradiredja
(2002:30), adalah :
1. Mengevaluasi kinerja
2. Mengidentifikasi kesempatan untuk perbaikan
3. membuat rekomendasi atau tindakan lebih lanjut
Pada kesimpulannya, tujuan utama dari audit operasional adalah
membantu manajemen dalam menemukan dan memecahkan berbagai masalah
dengan cara merekomendasikan berbagai tindakan perbaikan yang diperlukan.
Sedangkan tujuan utama dari seorang auditor operasional adalah mengurangi
pemborosan dan ketidakefsienan.
2.2.4
Manfaat Audit Operasional
Manfaat yang dapat diperoleh dari adanya audit operasional antara lain
adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi tujuan, kebijaksanaan, sasaran dan prosedur organisasi yang
sebelumnya tidak jelas.
2. Identifikasi kriteria yang dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat
tercapainya tujuan organisasi dan menilai kegiatan manajemen.
3. Evaluasi yang independent dan objektif atas suatu kegiatan tertentu.
4. Penetapan apakah organisasi sudah mematuhi suatu prosedur, peraturan,
kebijaksanaan, serta tujuan yang telah ditetapkan.
5. Penetapan efektivitas dan efisiensi sitem pengendalian manajemen.
20
6. penetapan tingkat keandalan (reliability) dan kemanfaatan (usefulness)
dari berbagai laporan manajemen.
7. Identifikasi daerah daerah permasalahan dan penyebabnya.
8. Identifikasi berbagai kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk lebih
meningkatkan laba, mendorong pendapatan dan mengurangi biaya atau
hambatan dalam organisasi.
9. Identifikasi berbagai tindakan alternatif dalam berbagai daerah kegiatan
Amin Widjaja Tunggal dalam bukunya Audit Manajemen Kontemporer,
mengemukakan bahwa manfaat dari pemeriksaan manajemen (2000:14) adalah :
1. Memberi informasi operasi yang relevan dan tepat waktu untuk
pengambilan keputusan
2. Membantu manajemen dalam mengevaluasi catatan laporan-laporan dan
pengendalian
3. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang ditetapkan,
rencana rencana, prosedur serta persyaratan peraturan pemerintah
4. Mengidentifikasi area masalah potensial pada
tahap dini untuk
menentukan tindakan preventif yang akan diambil
5. Menilai ekonomisasi dan efisiensi penggunaan sumber daya termasuk
memperkecil pemborosan
6. Menilai efektivitas dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan yang
telah ditetapkan
7. Menyediakan tempat pelatihan untuk personil dalam seluruh fase operasi
perusahaan
21
Jadi pada hakekatnya, audit operasional memberikan bantuan aktif bagi
perusahaan dengan cara menciptakan pengaruh yang hasilnya dapat langsung
diukur, misalnya membantu perusahaan mengurangi biaya, menambah pendapatan
dan mengubah kebijakan jika sudah memenuhi kebutuhan perusahaan secara
efisien..
2.2.5
Pelaksana Audit Operasional
Audit operasional dapat dilakukan oleh :
1. Internal Auditor
Dimana dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab pada dewan
direksi atau direktur utama yang biasanya mengaudit suatu sistem.
2. Akuntan publik
Akuntan ini melaksanakan audit atas laporan keuangan historis dan
membuat rekomendasi yang dapat bermanfaat bagi klien audit.
3. Akuntan pemerintah
Akuntan ini bertanggung jawab pada pemerintah tentang pemeriksaan
keuangan negara.
2.2.6
Tahap Tahap Audit Operasional
Dalam audit operasional diperlukan suatu kerangka tugas sebagai auditor
dalam melakukan audit, karena tanpa kerangka tugas yang tersusun baik maka
akan sulit untuk auditor melaksakan pekerjannya dengan baik. Menurut Irsan Yani
dalam Petunjuk Pemeriksaan Operasional (1992:5), mengemukakan bahwa audit
operasional mencakup tahap tahap sebagai berikut :
22
1.
2.
3.
4.
Tahap Persiapan Pemeriksaan
Tahap Pemeriksaan Pendahuluan
Tahap Pemeriksaan Lanjutan
Tahap Pelaporan dan Tindak Lanjut
2.2.6.1 Tahap Persiapan pemeriksaan
Pada tahap awal persiapan pemeriksaan, auditor harus memperoleh secepat
mungkin informasi kerja yang bersifat umum mengenai semua aspek seperti
kegiatan atau program, fungsi dan sebagainya. Informasi ini akan dipakai sebagai
alat kerja dalam merencanakan tahap tahap pemeriksaan berikutnya dan
memberikan informasi mengenai latar belakang objek yang diperiksa.
Dalam
tahap
persiapan
pemeriksaan,
auditor
operasional
harus
menentukan ruang lingkup penugasan dan menyampaikan hal itu kepada unit
organisasional. Juga perlu menetapkan staf yang tepat dalam penugasan,
mendapatkan informasi mengenai latar belakang unit organisasional, memahami
struktur pengendalian intern, dan memutuskan bahan bukti yang tepat yang harus
dikumpulkan.
Dalam audit operasional, tahap persiapan audit meliputi :
1. Dapatkan dalam waktu relatif singkat, latar belakang dan informasi umum
mengenai kegiatan atau program dan sistem manajemen yang dipilih untuk
diperiksa termasuk maksud atau tujuan kegiatan atau program.
2. Lakukan analisa atas latar belakang dan informasi umum tersebut untuk
memperbaiki bukti yang relevan (belum perlu bukti yang cukup, material
dan kompeten) atas satu atau lebih unsut kriteria, sebab dan akibat untuk
suatu kemungkinan sasaran tentatif pemeriksaan kegiatan atau program.
23
3. Dalami atau selidiki elemen elemen lain untuk memperoleh sasaran tentatif
pemeriksaan.
4. Ikhtisarkan bukti bukti dari pendalaman pendalaman tersebut.
5. Simpulkan dari bukti yang relevan dan pendalaman pendalaman :
a.
Bahwa sasaran tentative pemeriksaan atas efektivitas kegiatan atau
program dapat digunakan sebagai sasaran pada tahap review, bila
bukti yang relevan, material, dan kompeten dapat diperoleh untuk
ketiga elemen sasaran tentatif tersebut. (kriteria, sebab, akibat) dengan
mengetahui :
b.
Jenis jenis bukti yang relevan, material dan kompeten dalam rangka
menetapkan sasaran pemeriksaan
c.
Jenis dan banyaknya bukti yang diperlukan untuk menjamin
kekompetenan bukti
Dilanjutkan ke tahap review :
1. Bahwa bukti yang relevan dan pendalaman akan menunjuk kepada suatu
sasaran yang lebih penting dalam pemeriksaan kehematan dan daya guna.
Dilanjutkan ke tahap review untuk pemeriksaan kehematan dan daya guna.
2. Bahwa sasaran tentatif tersebut tidak dapat digunakan karena bukti bukti
tidak akan tersedia atau bahwa keadaan atau situasi tidak menjamin
kelangsungan atau kelancaran pemeriksaan.
24
2.2.6.2 Tahap Pemeriksaan Pendahuluan
Pada tahap pemeriksaan pendahuluan ini auditor bertujuan untuk
mengidentifikasi aspek aspek manajemen yang menunjukkkan adanya kelemahan
kelemahan
yang
masih
mungkin
ditingkatkan
baik
efisiensi
maupun
efektivitasnya. Tahap pemeriksaan pendahuluan ini, meliputi:
1.
Dapatkan setiap tambahan informasi tentang latar belakang kegiatan atau
program yang diperlukan.
2.
Dapatkan bukti yang relevan, material dan kompeten atas sasaran tentatif
untuk menetapkan :
a. Bahwa terdapat suatu kriteria yang beralasan dan mantap, didasarkan
atas tujuan objek pemeriksaa atau entitas.
b. Bahwa tindakan atau kelalaian, didalam atau diluar organisasi, yang
bertanggung jawab untuk melaksanakan tujuan tersebut mungkin
manjadi penyebab utama.
c. Suatu akibat baik atau buruk yang bersifat material atau signifikan.
Dapat terjadi, bahwa bukti bukti yang diperoleh harus melalui suatu teknik
analitis yang tidak sederhana. Analisa ini dapat dilakukan oleh auditor yang
bersangkutan atau bantuan dari seorang ahli :
1.
Dapatkan bukti bukti atas kekompetenan bukti yang harus diperoleh apabila
tambahan pekerjaan dilaksanakan
2.
Tentukan bahwa bukti tidak diperoleh untuk tiga unsur sasaran tentatif
pemeriksaan
3.
Ikhtisarkan bukti bukti dan simpulkan :
25
a. Apakah sasaran tentatif pemeriksaan efektivitas cukup mantap untuk
dapat menjadi sasaran pemeriksa pada tahap pemeriksaan lanjutan
(firm audit objective), lanjutkan ke pemeriksaan rinci, atau
b. Apakah bukti bukti menunjukkan bahwa kekurangan atau kelemahan
manajemen dapat menjadi sasaran pemeriksaan definitif pada
pemeriksaaan kehematan dan daya guna.
c. Apakah bukti bukti untuk pemeriksaaan efektif cukup kompeten.
d. Bukti tambahan apa yang harus diperoleh untuk mendapatkan bukti
yang cukup material, relevan dan kompeten untuk sampai pada
kesimpulan pemeriksaan efektivitas.
2.2.6.3 Tahap Pemeriksaan Lanjutan
Tahap ini terdiri dari pemeriksaan lebih lanjut atau penilaian atas kegiatan
sejauh diperlukan guna mencapai tujuan pemeriksaan sesuai dengan norma
pemeriksaan. Pekerjaan pemeriksaan
lanjutan meliputi pengamatan dan
pengembangan semua informasi penting dan relevan yang berguna untuk
mempertimbangkan, mendukung dan mengajukan temuan temuan, kesimpulan
kesimpulan dan rekomendasi rekomendasi
Tahap pemeriksaan lanjutan ini meliputi :
1.
Dapatkan setiap tambahan data latar belakang yang diperlukan
2.
Dapatkan bukti bukti yang cukup kompeten, relevan dan material atas
sasaran pemeriksaaan untuk menetapkan :
a. Dapat diterimanya kriteria dan bahwa setiap argumen atasnya dapat
dibantah (dijelaskan dengan baik)
26
b. Adanya tindakan tertentu dalam atau luar organisasi yang bertanggung
jawab sebagai penyebab.
c. Tingkat pentingnya suatu akibat.
d. Tetapkan bukti yang cukup untuk kriteria yang tidak dapat
diperoleh,sedangkan bukti untuk sebab sebab (causes) dan akibat
(effect) dapat diperoleh. Pertimbangkan tahap pemeriksaaan lanjutan
untuk pemeriksaaan efektivitas.
3.
Ikhtisarkan bukti pemeriksaaan efektivitas dalam kriteria sebab dan akibat.
4.
Simpulkan bahwa akibat adalah cukup penting apabila pelaksanaan
dibandingkan dengan kriteria pemeriksaaan efektivitas.
5.
Menarik diri dari penugasan atau pemeriksaaan.
2.2.6.4 Tahap Pelaporan dan Tindak Lanjut
Tahap pelaporan ini meliputi :
1.
Buat gambar melalui latar belakang atau lingkup pemeriksaaan
2.
komunikasikan
kesimpulan
untuk
dikembangkan
selama
tahap
pemeriksaan lanjutan. Ungkapkan dalam kesimpulan tersebut, bukti bukti
yang cukup relevan, material dan kompeten untuk kriteria sebab dan
akibat guna meyakinkan pembaca laporan.
3.
Berikan rekomendasi yang sesuai untuk tindakan masa yang akan datang,
ditujukan kepada satu atau lebih pejabat berwenang pada sistem
manajemen yang bersangkutan.
Ada tiga langkah utama yang penting dalam mengembangkan laporan
audit secara tertulis, yaitu:
27
1. persiapan (preparation)
pada tahap persiapan, auditor mulai mengembangkan temuan-temuan audit,
menggabungkan temuan-temuan tersebut menjadi sebuah laporan yang
koheren dan logis, serta menyiapkan bukti-bukti pendukung dokumentasi
yang diperlukan.
2. penelaahan (review)
penelaahan merupakan tahap analisis kritis terhadap laporan tertulis yang
dilakukan oleh staf audit, review dan komentar atas laporan diberikan oleh
pihak manajemen atau auditee.
3. pengiriman (transmission)
tahap pengiriman meliputi persiapan tertulis sebuah laporan yang permanen
agar dapat dikirim ke lembaga yang memberi tugas untuk mengaudit dan
kepada auditee.
Hal terpenting dalam sebuah laporan adalah bahwa laporan tersebut dapat
diapahami oleh pihak-pihak yang menerima dan membutuhkan laporan. Agar
dapat menyampaikan hasil audit dengan baik, auditor harus memastikan siapa
yang kompeten untuk menulis laporan dan siapa para pengguna laporan audit
tersebut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaporan audit adalah:
a. laporan audit harus ditulis secara objektif dan tepat waktu
b. auditor tidak boleh terlalu overstate
c. informasi yang disajikan harus disertai suatu bukti yang kompeten
d. auditor hendaknya menulis laporan secara konstruktif, memberikan
pengakuan terhadap kinerja yang baik maupun kinerja yang buruk.
28
e. Auditor hendaknya mengakomodasi usaha-usaha yang dilakuakn oleh
manajemen untuk memperbaiki kinerjanya.
Setelah melaksanakan aktivitas-aktivitas utama audit, masih terdapat
aktivitas lain yang perlu dilakukan yaitu tahap penindaklanjutan. Dalam tahap
penindaklanjutan akan melibatkan auditor, auditee, dan pihak lain yang
berkompeten. Tahap penindaklanjutan didesain untuk memastikan/memberikan
pendapat apakah rekomendasi yang diusulkan auditor sudah diimplementasikan.
Prosedur review follow-up dimulai dengan tahap perencanaan melalui pertemuan
dengan pihak manajemen untuk mengetahui permasalahna yang dihadapi
organisasi dalam mengimplementasikan rekomendasi auditor. Kemudian auditor
mengumpulkan data-data yang ada dan melakukan analisis terhadap data-data
tersebut untuk kemudian disusun dalam sebuah laporan. Dari sisi auditor, hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam tahap penindaklanjutan antara lain:
a. Dasar pelaksanaan follow-up
b. Pelaksanaan review follow-up
c. Batasan follow-up
d. Implementasi rekomendasi
2.3 Fungsi Sumber Daya Manusia
2.3.1 Pengertian Personalia dan Manajemen Sumber Daya Manusia
Personalia atau personnel sering juga disebut dengan istilah kepegawaian
adalah merupakan keseluruhan orang orang yang bekerja pada suatu organisasi
tertentu. dengan demikian manajemen personalia adalah manajemen yang
menitikberatkan perhatiannya kepada soal soal pegawai di dalam suatu organisasi.
29
Menurut Gary Dessler dalam bukunya Manajemen SDM (MSDM, 2004 :
2) mengemukakan bahwa MSDM adalah proses memperoleh, melatih, menilai
dan memberikan kompensasi kepada karyawan, memperhatikan hubungankerja
mereka, kesehatan, keamanan dan masalah keadilan.
Menurut Flippo (dalam T. Hani Handoko, 2001 : 3) mengemukakan
bahwa:
Manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan
dan pengawasan kegiatan kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian
kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pelepasan sumber daya
manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi dan
masyarakat.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian
manajemen personalia dan manajemen sumber daya manusia memiliki kesamaan
yaitu pada intinya adalah :
•
Perencanaan, merekrut dan menyeleksi
•
Pengembangan
•
Kompensasi atau balas jasa
•
Pemeliharaan
Maka dari itu untuk selanjutnya penulis beranggapan bahwa dalam hal
yang berkaitan dengan teori sumber daya manusia dan personalia memiliki
kesamaan dalam suatu ruang lingkup fungsi dan hanya berbeda dalam
pengungkapan istilah saja.
2.3.2 Unsur-unsur Fungsi Sumber Daya Manusia
Bagaimanapun juga, fungsi sumber daya manusia sama seperti fungsi
produksi, pemasaran, keuangan dan akuntansi yang juga merupakan bidang
30
fungsional tersendiri dalam organisasi. Bidang sumber daya manusia ini
mempunyai dua fungsi pokok dimana fungsi pertama berkaitan dengan fungsi
kedua:
1. Untuk menjalin kerjasama dalam pengembangan dan administrasi
berbagai kebijaksanaan yang mempengaruhi orang orang yang
membentuk organisasi, dan
2. Untuk membantu para manajer mengelola sumber daya manusia (T.
Hani Handoko, 2001:5)
Menurut Gary D. (2004 : 2) pada garis besarnya aktivitas-aktivitas yang
tercakup dalam fungsi personalia, meliputi hal hal sebagai berikut:
1. Melakukan analisis pekerjaan (menentukan pekerjaan setiap
karyawan)
2. Merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan merekrut calon
karyawan
3. Memilih calon karyawan
4. Mengarahkan dan melatih karyawan-karyawan baru
5. Mengatur upah dan gaji (memberikan kompensasi kepada
karyawan
6. Memberikan insentif dan keuntungan
7. Menilai prestasi
8. Berkomunikasi
9. Melatih dan mengembangkan para manajer
10. Membangun komitmen karyawan.
Adapun unsur unsur dari fungsi personalia adalah sebagai berikut :
1. Perencanaan dan analisis jabatan
Perencanaan tenaga kerja merupakan serangkaian kegiatan yang
dilakukan untuk mengantisipasi permintaan-permintaan bisnis dan
lingkungan pada organisasi di waktu yang akan datang dan untuk
memenuhi kebutuhan kebutuhan tenaga kerja yang ditimbulkan oleh
kondisi-kondisi tersebut. Berbagai manfaat dapat tercapai apabila
perencanaan dilakukan dengan matang dan tepat. Diantaranya adalah,
31
peningkatan penggunaan sumber daya manusia, menghemat biaya
dalam pengadaan
tenaga kerja baru, diperolehnya informasi yang
tepat dalam menyelenggarakan berbagai fungsi manajemen sumber
daya manusia, mengetahui dengan tepat tentang kondisi pasaran
tenaga kerja yang dapat digarap, dan yang terakhir adalah peningkatan
koordinasi pelaksanaan berbagai kebijaksanaan perusahaan dalam
bidang sumber daya manusia. Perencanaan dan analisis jabatan
meliputi deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan dan perkiran kebutuhan
SDM.
2. Rekrutment dan Seleksi
Penarikan (recruitment) adalah proses pencarian dan ’pemikatan’ para
calon karyawan (pelamar) yang mampu untuk melamar sebagai
karyawan. Proses penarikan penting karena kualitas SDM organisasi
tergantung pada kualitas penarikannya. Proses seleksi adalah
serangkaian langkah kegiatan yang digunakan untuk memutuskan
apakah pelamar diterima atau tidak. Langkah-langkah ini mencakup
pemaduan kebutuhan kebutuhan kerja pelamar dan organisasi. Proses
seleksi adalah pusat manajemen personalia. Analisa jabatan,
perencanaan SDM dan penarikan dilakukan untuk membentu seleksi
personalia. Bila seleksi dilaksanakan tidak tepat maka upaya upaya
sebelumnya tersebut akan sia-sia.
3. Pelatihan dan Pengembangan
Sesudah karyawan diperoleh. Sudah selayaknya apabila mereka
dikembangkan. Pengembangan ini dilakukan untuk meningkatkan
32
keterampilan lewat latihan (training) yang diperlukan untuk dapat
menjalankan tugas dengan baik. Kegiatan ini makin menjadi penting
karena berkembangnya teknologi dan makin kompleksnya tugas-tugas
manajer.
4.
Penilaian Kinerja
Yang menjadi objek audit dalam penilaian kinerja adalah sasaran
kinerja objektif, metode penilaian yang ditetapkan, dokumentasi dan
review hasil penelitian untuk validasi tes dan prosedur seleksi.
5. Penilaian Prestasi dan Kompensasi
Fungsi ini dapat didefinisikan sebagai pemberian penghargaan yang
adil dan layak terhadap para karyawan sesuai dengan sumbangan
mereka untuk mencapai tujuan organisasi.
6. Pemberhentian.
Pemutusan hubungan kerja mungkin saja terjadi, sekalipun perjanjian
kerja masih mengikat karyawan dengan perusahaan tempat ia bekerja.
Keinginan untuk mengadakan pemutusan hubungan kerja mungkin
datang dari karyawan atau mungkin pula datang dari kebijakan
perusahaan sendiri. Penyebab pemutusan hubungan kerja dapat
dibedakan dalam tiga kategori yaitu : keinginan perusahaan, keinginan
karyawan dan sebab sebab lain.
Uraian diatas telah menunjukkan bahwa manajemen personalia adalah
suatu subsistem utama semua organisasi. Efektivitas subsistem ini dapat
33
dievaluasi dalam pengertian kontribusinya terhadap efektivitas dimana organisasi
mencapai tujuan tujuan tertentu.
2.3.3 Tujuan Fungsi Sumber Daya Manusia
Dengan memahami fungsi sumber daya manusia, maka akan memudahkan
pula dalam mengidentifikasikan tujuan dari fungsi sumber daya manusia. Tujuan
yang hendak diklasifikasikan adalah manfaat apa yang akan kita peroleh dengan
penerapan manajemen sumber daya manusia dalam suatu perusahaan.
Menurut Veithzal Rivai tujuan sumber daya manusia dalam bukunya
Manajemen Sumber Daya Manusia untuk perusahaan (2004:8) adalah:
”Meningkatkan kontribusi produktif orang-orang yang ada dalam perusahaan
melalui sejumlah cara yang bertanggung jawab secara strategis, etis dan sosial”.
Sedangkan menurut T. Hani Handoko (2001:4) tujuan fungsi sumber daya
manusia adalah: ”Untuk memberikan kepada organisasi satuan kerja yang efektif”
Berdasarkan definisi definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa tujuan
akhir dari fungsi sumber daya manusia adalah:
Peningkatan efisiensi
Peningkatan efektivitas
Peningkatan produktivitas
Rendahnya tingkat perpindahan pegawai
Rendahnya tingkat absensi
Tingginya kepuasan kerja karyawan
34
2.4 Audit Operasional Atas Fungsi Sumber Daya Manusia
2.4.1
Pengertian Audit Fungsi Sumber Daya Manusia
Audit sumber daya manusia pada dasarnya merupakan suatu analisa dari
semua faktor yang menyangkut administrasi personalia, dengan ringkasan dari
penemuan analisa tersebut, diikuti dengan berbagai rekomendasi untuk
memperbaiki setiap penyimpangan dari standar yang diinginkan.
Pengertian Audit Sumber Daya Manusia menurut William B. Wether, JR
dan Keith Davis(dalam Amin Widjaya Tunggal, 2000 : 80) dalam bukunya
“Human Resources and Personal management” mendefinisikan audit sumber daya
manusia sebagai penilaian aktivitas personil yang digunakan dalam organisasi
(evaluating the personel aktivities used in an organization)
Audit fungsi sumber daya manusia menurut T. Hani Handoko (2001:226):
1. Mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab atas setiap kegiatan
2. Menentukan sasaran sasaran yang akan dicapai oleh setiap kegiatan
3. Mereview berbagai kebijaksanaan prosedur yang digunakan untuk
mencapai sasaran sasaran tersebut
4. Menentukan besarnya sampel catatan catatan dalam sistem informasi
personalia untuk mempelajari apakah kebijaksanaan dan prosedur
diikuti secara benar
5. Menyiapkan laporan audit
6. Mengembangkan rencana tindakan koreksi terhadap kesalahan
kesalahan dalam sasaran, kebujaksanaan dan prosedur
7. Melaksanakan tindak lanjut untuk memastikan apakah masalah
masalah temuan audit telah dipecahkan
Jadi, Audit sumber daya manusia pada umumnya merupakan suatu proses
sistematik dan formal yang didesain untuk mengukur biaya dan manfaat
keseluruhan program dan untuk membandingkan efisiensi dan efektivitas
keseluruhan program manajemen sumber daya manusia tersebut dengan kinerja
35
organisasi di masa lalu, kinerja organisasi lain yang dapat dibandingkan
efektivitasnya, dan tujuan organisasi.
2.4.2
Tujuan Audit Sumber Daya Manusia
Menurut T. Hani Handoko dalam buku manajemen personalia dan sumber
daya manusia, mengemukakan bahwa tujuan audit operasional terhadap fungsi
sumber daya manusia adalah mengevaluasi kegiatan kegiatan personalia dengan
maksud untuk:
1.
2.
3.
4.
”Menilai efektivitas
mengenali aspek aspek yang masih dapat diperbaiki
Mempelajari aspek aspek tersebut secara mendalam
Menunjukkan kemungkinan perbaikan dan membuat rekomendasi untuk
pelaksanaan perbaikan perbaikan tersebut” (2001:226).
Secara sederhananya audit sumber daya manusia bertujuan untuk :
Untuk membantu manajer sumber daya manusia memberikan kontribusi
yang signifikan terhadap tujuan-tujuan organisasi
Untuk menciptakan nilai (value) sehingga organisasi bertanggung jawab
secara sosial, etikal, dan kompetitif
Untuk mendapatkan umpan balik (feedback) dari para karyawan dan
manajer operasi dalam hal yang berkaitan dengan efektivitas manajemen
sumber daya manusia
Untuk memperbaiki fungsi manajemen sumber daya manusia dengan
menyediakan sarana untuk membuat keputusan ketika akan mengurangi
dan menambah kegiatan-kegiatan sumber daya manusia.
36
2.4.3
Manfaat Audit Personalia
Menurut T. Hani Handoko dalam buku manajemen personalia dan sumber
daya manusia (2001: 225-226) mengemukakan berbagai kegunaan audit sumber
daya manusia yang dapat dirinci sebagai berikut:
1. ”Mengidentifikasikan sumbangan sumbangan departemen personalia
kepada organisasi
2. Meningkatkan kesan profesional terhadap departemen personalia
3. Mendorong tanggung jawab dan profesionalisme lebih besar diantara para
karyawan personalia
4. Menstimulasi keseragaman kebijaksanaan kebijaksanaan dan praktek
praktek personalia
5. Memperjelas tugas tugas dan tanggung jawab departemen fungsi
personalia
6. Menemukan masalah masalah personalia yang kritis
7. Mengurangi biaya biaya sumber daya manusia melalui prosedur prosedur
personalia yang lebih efektif
8. Menyelesaikan keluhan keluhan lama dengan aturan aturan legal
9. Meningkatkan kesediaan untuk menerima perubahan perubahan yang
diperlukan dalam departemen personalia
Memberikan tinjauan terhadap sistem informasi departemen
2.5. Produktivitas
2.5.1
Definisi Produktivitas
Produktivitas menurut Dewan Produktivitas Nasional mempunyai
pengertian sebagai sikap mental yang selalu berpandangan bahwa “mutu
kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini”.
Filosofi dan spirit tentang produktivitas sudah ada sejak awal peradaban manusia
karena makna produktivitas adalah keinginan (the will) dan upaya (effort) manusia
untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan di segala bidang.
Produktivitas mengandung pengertian filosofis, seperti dikemukakan
Muchdarsyah Sinungan (2005:1) “Pada dasarnya produktivitas mencakup sikap
mental patriotik yang memandang hari depan secara optimis dengan berakar pada
37
keyakinan diri bahwa kehidupan hari ini adalah lebih baik dari hari kemarin dan
hari esok adalah lebih baik dari hari ini”. Begitu juga menurut National
Productivity Board (NPB) Singapore (dalam Sedarmayanti, 2001:56) dikatakan
bahwa “produktivitas adalah sikap mental (attitude of mind) yang mempunyai
semangat untuk melakukan peningkatan perbaikan”.
Bertitik tolak pada pandangan di atas maka permasalahan produktivitas
mencakup pada berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, manajemen,
teknologi, psikologi dan lain sebagainya. Produktivitas yang berhubungan dengan
permasalahan bidang ekonomi seperti yang dikemukakan Paul Mali (dalam
Sedarmayanti, 2001:57):
Produktivitas adalah bagaimana menghasilkan atau meningkatkan hasil
barang dan jasa setinggi mungkin dengan memanfaatkan sumber daya
secara efisien. Oleh karena itu produktivitas sering diartikan sebagai rasio
antara keluaran dan masukan dalam satuan waktu tertentu.
Menurut Mulyadi (2001:466) “Produktivitas berhubungan dengan
produksi keluaran secara efisien dan terutama ditujukan kepada hubungan antara
keluaran dengan masukan yang digunakan untuk menghasilkan keluaran
tersebut”.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat penulis simpulkan bahwa
produktivitas adalah perbandingan antara hasil yang ingin dicapai dengan
masukan dalam satuan waktu tertentu.
2.5.2
Pengukuran Produktivitas
Pengukuran produktivitas berhubungan dengan pengukuran perubahan
produktivitas sehingga usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas dapat
38
dievaluasi. Pengukuran produktivitas berdasarkan pendekatan rasio output / input
merupakan model pengukuran yang paling sederhana. Pengukuran produktivitas
berdasarkan pendekatan ini, menurut Vincent Gaspersz (2000:32) akan mampu
menghasilkan tiga jenis ukuran :
1. Produktivitas partial (single-factor productivity) merupakan ratio dari
output terhadap input, misalnya produktivitas tenaga kerja.
Produktivitas Tenaga Kerja =
Output total
Biaya Tenaga Kerja
2. Produktivitas faktor total merupakan ratio dari output bersih terhadap
banyaknya input bahan baku, modal, tenaga kerja, dan biaya lain.
Output bersih (net output) output total dikurangi dengan barang dan
jasa antara (input antara) yang digunakan dalam proses produksi.
Produktivitas faktor total =
Output bersih
BBB + BTK + BM + BL
Keterangan :
BBB : Biaya Bahan Baku
BTK : Biaya Tenaga Kerja
BM : Biaya Modal
BL : Biaya Lainnya
3. Produktivitas total merupakan ratio dari output total terhadap input
total.
Produktivitas total = Output total
Input total
Pengukuran produktivitas menurut para pakar lainnya adalah sebagai
berikut :
Mulyadi (2001:467) :
Rasio produktivitas = Keluaran
Masukan
Ukuran output dapat dinyatakan dalam bentuk antara lain :
Jumlah satuan fisik produk/jasa
39
Nilai rupiah produk/jasa
Nilai tambah
Jumlah pekerja/kerja
Jumlah laba kotor
Ukuran input dapat dinyatakan dalam bentuk antara lain :
Jumlah waktu
Jumlah tenaga kerja
Jumlah jam orang (man-hour)
Jumlah biaya tenaga kerja
Jumlah jam mesin
Jumlah biaya penyusutan dan perawatan mesin
Jumlah material
Jumlah biaya material
Jumlah seluruh biaya pengusahaan
Jumlah luas tanah.
2.5.3
Manfaat Pengukuran Produktivitas
Menurut Gaspersz (2000:24), terdapat beberapa manfaat pengukuran
produktivitas dalam suatu organisasi perusahaan, antara lain :
1)
2)
Perusahaan dapat menilai efisiensi konversi sumber dayanya, agar dapat
meningkatkan produktivitas melalui efisiensi penggunaan sumber-sumber
daya itu.
Perencanaan sumber-sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien
melalui pengukuran produktivitas, baik dalam perncanaan jangka pendek
maupun jangka panjang.
40
3)
Tujuan ekonomis dan nonekonomis dari perusahaan dapat diorganisasikan
kembali dengan cara memberikan prioritas tertentu yang dipandang dari
sudut produktivitas.
4) Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat
dimodifikasi kembali berdasarkan informasi pengukuran tingkat
produktivitas sekarang.
5) Strategi untuk meningkatkan produktivitas perusahaan dapat ditetapkan
berdasarkan tingkat kesenjangan produktivitas (productivity gap) yang
berada diantara tingkat produktivitas yang direncanakan (produktivitas
ekspektasi) dan tingkat produktivitas yang diukur (produktivitas aktual).
6) Pengukuran produktivitas perusahaan akan menjadi informasi yang
bermanfaat dalam membandingkan tingkat produktivitas diantara organisasi
perusahaan dalam industri sejenis serta bermanfaat pula untuk informasi
produktivitas industri pada skala nasional maupun global.
7) Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat
menjadi informasi yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan
dari perusahaan itu.
8) Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan-tindakan kompetitif
berupa upaya-upaya peningkatan produktivitas terus menerus.
9) Pengukuran produktivitas terus-menerus akan memberikan informasi yang
bermanfaat untuk menentukan dan mengevaluasi kecenderungan
perkembangan produktivitas perusahaan dari waktu ke waktu.
10) Pengukuran produktivitas akan memberikan informasi yang bermanfaat
dalam mengevaluasi perkembangan dan efektivitas dari perbaikan terusmenerus yang dilakukan dalam perusahaan itu.
11) Pengukuran produktivitas akan memberikan motivasi kepada orang-orang
untuk secara terus-menerus melakukan perbaikan dan juga meningkatkan
kepuasan kerja.
12) Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat
menjadi informasi yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan
dari perusahaan itu.
2.6 Tenaga Kerja
Untuk menghasilkan suatu produk, tenaga kerja merupakan kekayaan
dalam suatu perusahan, menurut Sedarmayanti (2001:27), “Sumber daya manusia
adalah tenaga kerja atau pegawai di dalam suatu organisasi, yang mempunyai
peran penting dalam mencapai keberhasilan”. Sedangkan Mulyadi (2005 : 319)
mengungkapkan bahwa “Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang
dikeluarkan karyawan untuk pengolahan produk”.
41
Dari pengertian-pengertian tenaga kerja di atas dapat penulis simpulkan
bahwa tenaga kerja berarti usaha manusia untuk mengolah suatu produk.
2.7 Produktivitas Tenaga Kerja
2.7.1
Definisi Produktivitas Tenaga Kerja
Definisi produktivitas tenaga kerja menurut Usry Milton F. dan Hammer
Lawrence H. (2004:356) : “Produktivitas tenaga kerja bisa didefinisikan sebagai
ukuran prestasi produksi dengan menggunakan usaha manusia sebagai tolak ukur.
Produktivitas adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan seorang pekerja”.
Sedangkan menurut J. Ravianto (dalam Bambang Supratman, 2005:18)
mengemukakan pengertian produktivitas tenaga kerja sebagai berikut :
“Produktkivitas tenaga kerja mengandung pengertian perbandingan antara hasil
yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu”.
Dari beberapa pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa
produktivitas tenaga kerja adalah rasio antara keluaran hasil yang ingin dicapai
dengan masukan tenaga kerja dalam satuan waktu.
2.7.2
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Tenaga Kerja
Menurut Balai Pengembangan Produktivitas Daerah (dalam Sedarmayanti,
2001:71) enam faktor utama yang menentukan produktivitas tenaga kerja, adalah :
1. Sikap kerja, seperti : kesediaan untuk bekerja secara bergiliran (shift
work), dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam satu tim.
2. Tingkat keterampilan, yang ditentukan oleh pendidikan, latihan dalam
manajemen dan supervise serta keterampilan dalam teknik industri.
3. Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin
dalam usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja
42
untuk meningkatkan produktivitas melalui lingkaran pengawasan mutu
(quality control cicles) dan panitia mengenai kerja unggul.
4. Manajemen produktivitas, yaitu : manajemen yang efisien mengenai
sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan produktivitas.
5. Efisiensi tenaga kerja, seperti perencanaan tenaga kerja dan tambahan
tugas.
6. Kewiraswastaan, yang tercermin dalam pengambilan resiko, kreativitas
dalam berusaha, dan berada pada jalur yang benar dalam berusaha.
Disamping itu, faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja menurut
Sedarmayanti (2001:72) adalah :
1. Sikap mental, berupa : motivasi kerja, disiplin kerja dan etika kerja
2. Pendidikan
Pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi, baik
formal maupun informal akan mempunyai wawasan yang lebih luas
terutama penghayatan akan arti pentingnya pendidikan.
3. Keterampilan
Pada aspek tertentu apabila pegawai semakin terampil, maka akan
lebih mampu bekerja serta menggunakan fasilitas kerja dengan baik.
4. Manajemen
Apabila manajemen tepat maka akan menimbulkan semangat yang
lebih tinggi sehingga dapat mendorong pegawai untuk melakukan
tindakan yang produktif.
5. Hubungan Industrial Pancasila
Dengan penerapan hubungan industrial pancasila maka akan :
a. Menciptakan ketenangan kerja dan memberikan motivasi kerja
secara produktif sehingga produktivitas dapat meningkat
b. Menciptakan hubungan kerja yang serasi dan dinamis sehingga
menumbuhkan partisipasi aktif dalam usaha meningkatkan
produktivitas
c. Menciptakan harkat dan martabat pegawai sehingga mendorong
diwujudkannya jiwa yang berdedikasi dalam upaya peningkatan
produktivitas.
6. Tingkat Penghasilan
Apabila tingkat penghasilan memadai maka dapat menimbulkan
konsentrasi kerja dan kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan produktivitas.
7. Gizi dan Kesehatan
Apabila pegawai dipenuhi kebutuhan gizinya dan berbadan sehat,
maka akn lebih kuat bekerja, apalagi bila mempunyai semangat yang
tinggi maka akan dapat meningkatkan produktivitas kerjanya.
8. Jaminan Sosial
Jaminan sosial yang diberikan oleh suatu organisasi kepada
pegawainya dimaksudkan untuk meningkatkan pengabdian dan
43
semangat kerja. Apabila jaminan sosial pegawai mencukupi maka akan
dapat menimbulkan kesenangan bekerja, sehingga mendorong
pemanfaatan kemampuan yang dimiliki untuk meningkatkan
produktivitas kerja.
9. Lingkungan dan Iklim Kerja
Lingkungan dan iklim kerja yang baikakan mendorong pegawai agar
senang bekerja dan meningkatkan rasa tanggung jawab untuk
melakukan pekerjaan dengan lebih baik menuju ke arh peningkatan
produktivitas.
10. Sarana Produksi
Mutu sarana produksi berpengaruh terhadap peningkatan
produktivitas. Apabila sarana produksi yang digunakan tidak baik
kadang-kadang dapat menimbulkan pemborosan bahan yang dipakai.
11. Teknologi
Apabila teknologi yang dipakai tepat dan lebih maju tingkatannya
maka akan memungkinkan :
a. Tepat waktu dalam penyelesaiaan proses produksi
b. Jumlah produksi yang dihasilkan lebih banyak dan bermutu
c. Memperkecil terjadinya pemborosan bahan sisa.
12. Kesempatan Berprestasi
Pegawai yang bekerja tentu mengharapkan peningkatan karier atau
pengembangan potensi pribadi yang nantinya akan bermanfaat baik
bagi dirinya maupun bagi organisasi.
Muchdarsyah Sinungan (2005:56) membatasi hanya pada 8 faktor-faktor
produktivitas yang umum, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
.
Manusia
Modal
Metode/Proses
Lingkungan Organisasi (Internal)
Produksi
Lingkungan Negara (Eksternal)
Lingkungan Internasional atau Regional
Umpan Balik
Download