Dana Asing di SBI Sangat Rentan

advertisement
Dana Asing di SBI Sangat Rentan
Perlu Kontrol Modal Terbatas
Rabu, 16 Juni 2010 | 03:54 WIB
Jakarta, Kompas - Dana asing pada Sertifikat Bank Indonesia tergolong paling rentan keluar secara
besar-besaran dalam waktu singkat dibandingkan dengan dana asing pada instrumen lain. Dana
asing yang ditaruh di SBI seharusnya ”digiring” ke tenor yang lebih panjang.
”Untuk menggiring asing menempatkan dananya pada tenor yang lebih panjang, BI bisa
mengenakan beban biaya terhadap modal yang hanya menginap sebentar di Indonesia,” kata
pengamat ekonomi Dradjad Wibowo, Selasa (15/6) di Jakarta.
Sejak pertengahan 2009, dana asing terus masuk bertahap ke berbagai instrumen rupiah seiring
membaiknya prospek perekonomian Indonesia.
Selama Juni 2009- April 2010, dana asing yang ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN)
meningkat rata-rata Rp 6 triliun per bulan. Dalam kurun yang sama, dana asing pada Sertifikat Bank
Indonesia (SBI) meningkat rata-rata Rp 6,23 triliun. Kondisi serupa juga terjadi pada pasar saham.
Ketika krisis Eropa pecah pada Mei 2010, dana asing pun keluar dari pasar Indonesia. Ini bentuk
kehatian-hatian investor asing mengambil risiko di saat krisis.
Dibandingkan dengan instrumen lain, shock yang terjadi pada SBI merupakan yang paling parah.
Sepanjang Mei 2010, dana asing yang keluar dari SBI mencapai Rp 47 triliun, sementara di SBN
hanya Rp 4 triliun.
Fenomena tersebut membuktikan bahwa dana yang ditaruh di SBI benar-benar uang panas. Dana
ini hanya digunakan untuk mengambil keuntungan sesaat dari bunga SBI yang relatif tinggi. Dana
asing di SBI cenderung keluar secara besar-besaran dalam waktu singkat jika terjadi ancaman krisis
di pasar keuangan global. Dampaknya, nilai tukar pun jatuh, yang akhirnya memaksa BI
mengintervensi pasar, yang notabene akan menggerus cadangan devisa.
Plt Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, BI sedang merancang kebijakan yang bisa membuat
dana asing mengalir lebih pelan, baik ketika masuk maupun keluar dari pasar Indonesia. Namun,
kebijakan tersebut bukan capital control (kontrol modal), seperti yang kini ramai diterapkan negaranegara Eropa.
Menurut Dradjad, BI harus mengontrol lalu lintas modal dengan cara yang cerdas. ”Agar
pengendalian tersebut efektif, BI harus berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, baik di bursa
efek maupun di pasar SBN,” ujar Dradjad.
Ekonom Krisna Wijaya berpendapat, guna mencegah kerentanan SBI akan penarikan besarbesaran secara tiba-tiba, BI bisa mendorong asing menempatkan dananya pada SBI dengan tenor
lebih panjang. ”Misalnya asing hanya boleh menaruh dananya di SBI yang bertenor minimal tiga
bulan,” ujar Krisna.
Pengamat ekonomi dari UGM, Tony Prasetiantono, mengingatkan BI untuk tidak melakukan capital
control. ”Thailand pernah melakukan blunder dengan menerapkan capital control yang kemudian
malah menyebabkan kepanikan investor global. Kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan,” tutur Tony.
(FAJ)
Download