13. BAB II

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.
IEEE 802.11 Standard
Sistem komunikasi yang mengandalkan kabel secara inheren lebih cepat,
lebih dapat diandalkan dan lebih aman dari pada sistem nirkabel. Infrastuktur
kabel cenderung membutuhkan biaya mahal. Selain itu, jika jaringan melintasi
jalan raya, cenderung akan tunduk terhadap regulasi dan membutuhkan lisensi
operator. Komunikasi nirkabel dapat menghindari akan kebutuhan tersebut dan
lebih mobile tanpa dipengaruhi kebutuhan akan kabel, akan tetapi spektrum
frekwensi radio juga sangat diatur. Namun demikian, alokasi spektrum radio
frekwensi tanpa lisensi yang digunakan untuk keperluan Industrial, scientific,
Medical (ISM band) ataupun Unlicensed National Information Infrastructure
(UNII) telah memfasilitasi pertumbuhan wireless local area network (WLAN).
Standar komunikasi data yang biasanya digunakan jaringan nirkabel
adalah IEEE 802.11. Ada banyak protokol di keluarga 802.11, dan tidak semua
berhubungan langsung dengan protokol radio itu sendiri. Beberapa standar
nirkabel yang sekarang di implementasi pada kebanyakan peralatan yang sudah
siap pakai, yaitu:
a.
802.11b
Disahkan oleh IEEE pada tanggal 16 September 1999, 802.11b mungkin
adalah protokol jaringan nirkabel cukup populer. Jutaan alat-alat untuk
mendukung telah dikeluarkan sejak 1993. Dia memakai modulasi yang
dikenal sebagai Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS). Menggunakan
frekwensi ISM band dari 2.400 sampai 2.495 GHz dan mempunyai kecepatan
maksimum 11 Mbps, dengan kecepatan sebenarnya yang bisa dipakai
mencapai 5 Mbps.
6
b. 802.11g
Karena belum disahkan sampai Juni 2003, 802.11g merupakan pendatang
yang telat di pasar nirkabel. Biarpun terlambat, 802.11g sekarang menjadi
standar protokol jaringan nirkabel yang pada kenyataannya dipakai di semua
laptop dan kebanyakan alat-alat lainnya. 802.11g memakai ISM band yang
sama dengan 802.11b, tetapi memakai modulasi yang bernama Orthogonal
Frequency Division Multiplexing (OFDM). Dia punya kecepatan maksimum
data 54 Mbps (dengan throughput yang bisa dipakai sebesar 22 Mbps), dan
bisa turun menjadi 11 Mbps DSSS.
c. 802.11a
Disahkan juga oleh IEEE pada tanggal 16 September 1999, 802.11a juga
memakai modulasi OFDM. 802.11a mempunyai kecepatan maksimum data 54
Mbps, dengan throughput sampai setinggi 27 Mbps. 802.11a beroperasi di
ISM band antara 5.745 dan 5.805 GHz dan di bagian dari UNII band diantara
5.150 dan 5.320 GHz. Ini membuatnya tidak cocok dengan 802.11b atau
802.11g, dan frekuensi yang lebih tinggi berarti memiliki jangkauan lebih
pendek dari pada 802.11b/g dengan daya pancar yang sama. Peralatan 802.11a
sebetulnya relatif murah, tapi tidak sepopuler 802.11b/g.
d. 802.11n
Disahkan pada bulan Oktober 2009. Teknologi yang digunakan adalah
MIMO. Kecepatan maksimum menggunakan teknologi ini adalah 300Mbps.
Frekwensi yang digunakan 2,4GHz dan 5GHz.
Standar 802.11 untuk wireless local area network (WLAN) beroperasi
pada physical (PHY) dan MAC layer. Seperti terlihat pada Gambar 2.1 lapisan
atas pada data link (OSI layer 2) disediakan oleh Logical Link Control (LLC)
layanan yang ditetapkan dalam standar 802.2 yang juga digunakan oleh jaringan
Ethernet (802.3) dan menyediakan link ke lapisan protokol jaringan yang lebih
tinggi.
7
Gambar 2. 1 Arsitektur logika 802.11
Jaringan 802.11 terdiri dari tiga komponen dasar yaitu: Station, Access
Point dan Distribusi System. Dalam standar 802.11, WLAN didasarkan pada
struktur seluler yang dimana setiap sel di bawah kendali jalur akses, dikenal
sebagai Basic Service Set (BSS). Ketika sejumlah stasiun bekerja dalam BSS itu
berarti mereka menggunakan kanal Radio Frekwensi (RF), Basic Service Set
Identifier (BSSID) dan data rate yang sama pada saat mengirimkan dan menerima.
Parameter BSS termasuk dalam beacon frames yang disiarkan secara berkala baik
oleh stasiun individu atau access point.
Standar ini mendefinisikan dua mode operasi untuk BSS yaitu: Mode Ad
hoc dan Infrastruktur. Jaringan ad-hoc terbentuk ketika sekelompok dua atau lebih
stasiun 802.11 berkomunikasi secara langsung satu sama lain tanpa access point
atau koneksi ke jaringan kabel. Mode operasi jaringan ad-hoc juga dikenal sebagai
mode peer-to-peer yang memungkinkan koneksi nirkabel dapat dengan cepat
terbentuk untuk berbagi data antara sekelompok computer dengan mengaktifkan
interface wireless. Seperti terlihat pada Gambar 2.2
Layanan dalam mode
jaringan ad-hoc disebut sebagai Independent Basic Service Set (IBSS), dan dalam
IBSS semua stasiun menyebarkan beacon packet (paket suara) dan menggunakan
BSSID secara acak.
8
Tabel 2. 1 Komponen dasar 802.11
Komponen
Station
Access Point
Ditribution sytem
Deskripsi
Perangkat yang mengimplementasikan lapisan protokol
802.11 MAC dan PHY
Acess station yang memberikan address ke station,
dikenal sebagai satu BSS dan system distribusi.
Komponen network, umumnya Ethernet kabel yang
menghubungkan jalur akes dengan access point.
Gambar 2. 2 Topologi Mode Ad-hoc
Mode infrastruktur terjadi ketika stasiun terhubung dengan access point.
Sebuah WLAN dengan access point terhubung dengan beberapa station dan
perangkat dengan media kabel melalui hub atau switch. Seperti terlihat pada
gambar 2.3 semua komunikasi antara stasiun di BSS melewati access point,
bahkan jika dua stasiun nirkabel di area yang sama harus berkomunikasi satu
sama lain. Ini akan menyebabkan komunikasi ganda (pertama station mengirim ke
access point, kemudian dari access point ke station tujuan) mungkin ini akan
tampak seperti overhead yang tidak diperlukan pada jaringan sederhana, tetapi
manfaat penggunaan infrastruktur BSS dibanding IBSS adalah: bahwa access
point dapat menampung data ketika stasiun penerima dalam kondisi menunggu.
Dalam mode infrastruktur, access point akan mengambil alih proses broadcast
beacon frame. Access point juga terhubung ke jaringan distribusi menggunakan
media kabel, tetapi juga bisa menjadi jembatan nirkabel untuk station WLAN lain
9
dalam satu area. Dalam hal ini area di dukung oleh masing-masih access point
BSS dan jika terdapat dua atau lebih area di dalam LAN makan akan di
kombinasikan dan di kenal sebagai Extended Service Set (ESS).
Gambar 2. 3 Topologi Mode Infrastruktur
Pada ESS, Access Point (APs) akan menggunakan sistem distribusi untuk
mentransfer data dari satu BSS ke yang lain, dan juga memungkinkan stasiun
untuk berpindah dari satu AP ke yang lain tanpa ada gangguan.
2.1.1. Frekwensi
Pita frekwensi bisa diibaratkan sebuah jalan. kanal berfungsi seakan-akan
sebagai jalur-jalur pemisah pada sebuah jalan tersebut. Perangkat 802.11a bekerja
pada frekuensi 5,150 – 5.875 GHz. Seperti terlihat gambar 2.5 Sedangkan
802.11b/g bekerja pada frekuensi 2,400-2,497 GHz. Spektrum frekuensi 2,4GHz
terbagi ke dalam 14 kanal, kanal 1 dengan frekuensi 2,412 GHz sampai dengan
kanal 14 dengan frekuensi 2,484 GHz dengan masing-masing lebar pita kanal
sebesar 20Mhz lihat gambar 2.4
10
Gambar 2. 4 Kanal IEEE 802.11b/g
Gambar 2. 5 Kanal IEEE 802.11a
2.1.2. Service Set Identifier (SSID)
SSID adalah sebuah nama yang dipakai oleh jaringan wireless dan
merupakan karakter yang unik, case sensitive dan menggunakan alpha numeric
dengan nilai karakter 2-32 karakter. SSID dikirimkan dalam beacon, station harus
di konfigurasikan dengan SSID yang cocok untuk bisa bergabung dengan sebuah
access point jaringan nirkabel. Beacon adalah bingkai terpendek yang dikirimkan
oleh access point ke station untuk mengatur sinkronisasi komunikasi. Paket
beacon ini berisikan informasi SSID, Channel dan sebagainya. Informasi yang
11
terdapat dalam beacon inilah yang dibutuhkan supaya komunikasi jaringan
wireless bisa terjadi.
Station yang ingin terhubung pada jaringan wireless akan melihat kedalam
beacon untuk mengetahui SSID dari jaringan mana yang akan di hubungi.
Kemudian station akan mencari tahu alamat MAC Address dimana beacon itu
berasal mengirimkan permintaan autentikasi dengan tujuan untuk meminta pada
access point untuk bergabung denganya. Apabila sebuah station diset untuk dapat
menerima beberapa SSID sekaligus, maka station akan mencoba bergabung
dengan access point yang pertama kali mengirim signal dan bergabung dengan
access point dengan signal yang paling kuat.
2.1.3. TX Power dan RX Sensitivity
Tiap wireless card memiliki spesifikasi TX Power dan RX Sensitivity
yang bervariasi sesuai dengan kualitas card itu sendiri. Tidak hanya pada kualitas,
seperti terlihat pada Gambar 2.6 TX Power dan RX Sensitivity juga akan berubah
sesuai dengan band yang digunakan dan besarnya throughput yang melewati card
tersebut.
Gambar 2. 6 Perbandingan nilai TX Power dan RX Sensitivity
Wireless card akan secara otomatis menyesuaikan dengan besarnya
throughput yang digunakan, biasanya TX Power dan RX sensitivity akan secara
bertahap diturunkan jika throughput yang melewati card tersebut semakin tinggi.
12
2.1.4. Data Rate
Pada komunikasi nirkabel terdapat parameter “Data Rate”
yang
melambangkan kemampuan atau kapasitas transfer data dari komunikasi nirkabel
tersebut. Setiap satuan data rate menggunakan modulasi yang berbeda-beda.
Semakin besar data rate maka semakin komplek modulasi yang digunakan,
berikut nilai data rate yang digunakan pada standar IEEE 802.11
•
802.11b
•
802.11a/g
•
802.11n
1, 2, 5.5, 11 Mbps
6, 9, 12, 18, 24, 36, 48, 54 Mbps
Up to 100 ∼ 200 Mbps.
Parameter data rate pada nirkabel tidak melambangkan secara harfiah dan
pasti seberapa besar throughput dari link tersebut, karena data rate akan berubah
secara dinamis sesuai dengan kondisi signal dan situasi di sekitar perangkat. Lebih
mudahnya data rate adalah kemampuan maksimal throughput untuk komunikasi
half-duplex atau komunikasi satu arah.
2.1.5. Wireless Performance
Performa link nirkabel sangat bergantung dari kualitas signal yang
didapatkan dari link nirkabel tersebut. Parameter Signal to Noise Ratio (SNR) dan
Client Connection Quality (CCQ) dapat melambangkan kualitas dari link nirkabel
tersebut.
2.5.1.1.Signal to Noise Ratio (SNR)
Sebuah wireless link yang menggunakan frekuensi tertentu akan menerima
apa pun yang ditransmisikan, ditambah lagi kebisingan (gangguan) di sekitar
perangkat. Jika kekuatan transmisi secara signifikan lebih kuat dari kebisingan,
maka perangkat dapat efektif mengabaikan kebisingan. Jika sinyal yang diterima
sebanding dengan kebisingan lingkungan sekitar, maka perangkat wireless tidak
akan mampu membedakan sinyal dari perangkat lawan dengan kebisingan. Hal ini
akan menyebabkan komunikasi nirkabel dan Data tidak berjalan dengan baik.
13
SNR adalah rasio perbandingan antara signal yang diterima dengan gangguan
sekitar.
SNR
= 10log (
)=P
,
−
.
Serangkaian tes dilakukan untuk menentukan dampak dari nilai SNR pada
performa jaringan nirkabel dan juga berpengaruh pada kestabilan link terhadap
beban link, disarankan menggunakan sekitar 20dB sebagai SNR minimum untuk
link wireless yang stabil.
•
40dB SNR = Excellent signal (5 bars), Cepat terkoneksi, throughput
maksimal dan stabil.
•
25dB to 40dB SNR = Very good signal (3 - 4 bars), Terkoneksi baik,
throughput maksimal.
•
15dB to 25dB SNR = Low signal (2 bars), Terkoneksi baik, throughput
tidak maksimal.
•
10dB - 15dB SNR = very low signal (1 bar), koneksi tidak terlalu stabil,
throughput rendah.
•
5dB to 10dB SNR = no signal, koneksi sangat tidak stabil, throughput
sangat rendah.
2.5.1.2.Client Connection Quality (CCQ)
Client Connection Quality (CCQ) adalah nilai dalam persen yang
menunjukkan efektifitas bandwidth yang digunakan terhadap bandwidth
maksimum yang tersedia secara teoritis. CCQ adalah nilai rata-rata perbandingan
Tmin / Treal, yang bisa dihitung untuk setiap frame data yang dikirimkan, dimana
Tmin adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengirim frame yang diberikan pada
tingkat tertinggi tanpa pengiriman ulang, Sedangkan Treal adalah waktu yang
diperlukan untuk mentransmisikan frame di kondisi nyata. CCQ berbanding lurus
dengan real throughput yang bisa didapatkan pada sebuah jaringan nirkabel.
Semakin bagus CCQ maka semakin tinggi throughput yang dihasilkan. Tetapi
Signal strength yang bagus tidak menjamin mendapatkan throughput yang tinggi.
Hal ini disebabkan di wireless memiliki 2 type signal strength yaitu :
14
•
TX Signal Strength – signal dari perangkat yang diterima di perangkat
lawan.
•
RX Signal Strength – signal perangkat lawan yang diterima di perangkat
tersebut.
Jika kedua type signal strength tidak sama (rata-rata seimbang) maka
komunikasi nirkabel tidak akan berjalan dengan baik.
2.2.
Wireless Mesh Network (WMN)
Access Point saling berhubungan satu sama lain dengan menggunakan
jaringan nirkabel secara peer-to-peer membentuk infrastruktur backhaul disebut
jaringan wireless mesh. Kelompok teknis IEEE bekerja untuk mengembangkan
standar 802.11s untuk jaringan nirkabel mesh. memiliki draf awal pada bulan Juli
dan di ratifikasi pada awal 2008. IEEE mendefinisikan kemampuan 802.11s di
beberapa hal antara lain[Gurevich,2008]:
•
Penemuan topologi
•
Seleksi jalur
•
Alokasi channel
•
Keamanan
•
Manajemen lalulintas
•
Manajemen jaringan
IEEE 802.11s mengusulkan rincian standar bagaimana cara node agar
dapat bergabung dengan jaringan mesh (Lihat Gambar 2.7) antara lain:
1. Simpul mesh mengiklankan profil mereka dan kapabilitas mesh ke dalam
beacon, simpul mesh MPX menemukan simpul lain di dalam jaringan
mesh.
2. MPx terhubung dan terdaftar dengan simpul tetangga (MAP2, MAP4)
3. MPx ikut berpartisipasi dalam memilih jalur yang terbaik dalam proses
penyaluran data.
15
Gambar 2. 7 Cara kerja 802.11s
WMN merupakan perkembangan jaringan nirkabel tradisional seperti
jaringan nirkabel seluler dan jaringan wireless LAN.
WMN menawarkan
berbagai macam keuntungan antara lain toleransi atas kegagalan jaringan (fault
toleran), kemudahan dalam konfigurasi (simplicity of setting up network) dan
kemampuan broadband (broadband capability ). WMN dapat dilihat sebagai
salah satu jenis jaringan Ad Hoc, WMN dan Mobile Ad Hoc Network (MANET)
mempunyai hubungan yang sangat erat satu sama lain, hanya saja MANET harus
dapat menyelesaikan masalahnya sendiri berkaitan dengan pergerakan nodenya.
Tidak seperti pada jaringan seluler dimana jika ada kegagalan pada salah satu
Base Station (BS) maka akan berdampak pada tidak ketersediaan layanan
komunikasi pada wilayah area geografis yang luas, WMS memberikan toleransi
kesalahan yang tinggi ketika ada kegagalan node.
WMN terbentuk dari susunan beberapa perangkat nirkabel (node) yang
saling berhubungan satu sama lain dan hubungan setiap perangkat nirkabel
dengan perangkat nirkabel lain menggambarkan sebuah link. Ada 2 tipe topologi
mesh yaitu: full mesh dan partial mesh. Topologi full mesh ini menghubungkan
tiap node dengan semua node lainnya, Jumlah link yang terbentuk terisolir dengan
jumlah perangkat, Semakin banyak jumlah perangkat maka akan semakin banyak
jumlah link yang terbentuk. Pada topologi mesh penuh 5 buah perangkat akan
membentuk 10 buah link. Coba bayangkan bagaimana menghubungkan mesh
16
penuh pada 100 access point maka akan menghasilkan 4.950 link. Ini tentu tidak
efisien karena itu full mesh biasanya dipakai di jaringan skala kecil. Topologi
mesh berikutnya adalah partial mesh alias mesh sebagian. Ini mirip dengan full
mesh, hanya saja tidak setiap peranti dihubungkan ke peranti lainnya di jaringan,
tapi hanya dipilih dari alternatif yang ada. Partial mesh ini yang paling sering
digunakan dalam lingkungan backbone karena merupakan jaringan vital yang
sangat bergantung pada redundansi untuk menjaga layanan bisa berjalan secara
nonstop, misalnya di ISP.
Gambar 2. 8 Tipe topologi mesh
Karakteristik utama yang dimiliki wireless mesh network adalah proses
komunikasi data yang sederhana dan praktis karena setiap node dapat berfungsi
sebagai penerima dan pengirim, wireless mesh network juga memiliki
kemampuan dalam self-healing yaitu mampu menjaga konektifitas apabila ada
kerusakan di salah satu node.
Ada 4 manfaat utama wireless mesh network yaitu[Murphy,2006]:
•
Dapat dengan mudah menambah access point. Ini dikarenakan pada
jaringan mesh access point dapat menerima dan melewatkan trafik. Mesh
dapat dengan cepat di konfigurasi dan lebih murah karena tidak di
butuhkan infrastruktur kabel.
•
Mesh node dapat di tambahkan dimana saja, sehingga akan menambah
cakupan yang lebih baik. Node dapat di tambahkan tanpa harus
memperhatikan kabel sebagai tulang punggung. Satu-satunya keterbatasan
adalah power. Semakin dekat posisi node maka akan semakin bagus, ini
dikarenakan link akan menggunakan modulasi yang tinggi, semakin tinggi
17
modulasi yang digunakan maka akan semakin tinggi throughput yang
dihasilkan.
•
Jaringan wireless mesh merupakan mode jaringan yang ulet dan toleransi
terhadap kegagalan dari jaringan infrastruktur terpusat. Menyediakan node
dalam jumlah memadai, jaringan mesh dapat mempertahankan kemacetan
sementara, kegagalan pada salah satu node dan gangguan lokal.
•
Perangkat mesh dapat diatur sehingga dapat menghasilkan bandwidth yang
tinggi antar perangkat mesh tanpa membutuhkan access point sentral,
Seperti layaknya pada jaringan peer-to-peer.
2.2.1. Perbedaan Wireless Ad-hoc dan WMN
Pada tabel 2.2 membandingkan jaringan nirkabel ad hoc dan WMN.
Perbedaan utama antara kedua jenis jaringan berdasarkan pada mobilitas node dan
topologi jaringan. Jaringan ad hoc mempunyai mobilitas node yang tinggi dimana
topologi jaringan akan berubah secara dinamik. Di sisi lain, WMN memiliki jenis
jaringan dengan node yang relatif lebih statis. Oleh karena itu, mobilitas jaringan
WMN sangat rendah dibandingkan dengan jaringan nirkabel ad hoc.
Tabel 2. 2 Perbedaan Wireless Ad hoc dan WMN
Isu
Topologi Jaringan
Mobilitas Node
Ad hoc
Topologi dinamis
Mobilitas node dari
menengah ke tinggi
Kendala Energi
Kebutuhan energi tinggi
Karakteristik Aplikasi Sementara
Kebutuhan
infrastruktur
Relay
Performa routing
Infrastruktur
Relay oleh node dynamic
Semuanya distribusikan
oleh on demand routing
Deployment
Karakteristik trafik
Mudah
Berdasarkan trafik user
Skenario aplikasi
popular
Komunikasi taktis
18
WMN
Topologi statik
Mobilitas node rendah
Kebutuhan energy rendah
Semipermanen atau
permanen
Sebagian atau seluruhnya
infrastruktur tetap
Relay oleh node static
Sepenuhnya di
distribusikan atau sebagian
dengan hirarki routing
yang disukai
Dibutuhkan perencanaan
Berdasarkan user dan
sensor trafik
Komunikasi taktis dan
sipil
2.2.2. Arsitektur Wireless Mesh Network
WMN terdiri dari dua jenis node yaitu: mesh router dan mesh client.
Selain kemampuan routing, pada router nirkabel konvensional juga dapat
digunakan untuk gateway atau repeater, wireless mesh router mempunyai fungsi
routing tambahan untuk mendukung jaringan mesh. Untuk lebih meningkatkan
jaringan mesh, router mesh biasanya dilengkapi dengan beberapa antarmuka
nirkabel yang dibangun baik pada teknologi akses nirkabel yang sama atau
berbeda. Jika dibandingkan dengan router nirkabel konvensional, wireless mesh
router dapat mencapai cakupan yang sama dengan daya transmisi yang jauh lebih
rendah melalui komunikasi multi-hop. MAC protokol pada mesh router
ditingkatkan dengan skalabilitas yang lebih baik di sebuah lingkungan mesh multihop. Terlepas dari semua perbedaan ini, wireless mesh router dan wireless router
konvensional biasanya dibangun menggunakan perangkat keras yang sama.
Arsitektur WMN berdasarkan fungsi node dapat di klasifikasi menjadi tiga
kelompok[3] yaitu:
a. Infrastruktur/backbone WMN
Infrastruktur WMN dibangun dengan berbagai jenis teknologi radio
meskipun yang paling banyak digunakan adalah teknologi IEEE 802.11.
mesh router dari WMN dapat mengkonfigurasi (self-configuring) dan
perbaikan link (self-healing) sendiri antar mesh router. Dengan fungsi
gateway, mesh router dapat terhubung ke jaringan internet menggunakan
antarmuka Ethernet untuk menyebarkan. Kemampuan ini biasa disebut
Infrastruktur meshing. Melalui fungsi
gateway atau bridge klien
konvensional dapat terhubung dengan mesh router menggunakan
antarmuka Ethernet, sedangkan untuk klien konvensional dengan
menggunakan teknologi radio yang sama dapat langsung terhubung
dengan mesh router.
b. Mesh Client
Mesh Client menyediakan jaringan peer-to-peer antar perangkat klien
yang lain. Dalam tipe arsitektur ini, node klien merupakan jaringan nyata
yang melakukan routing dan konfigurasi serta menyediakan aplikasi enduser untuk pelanggan. Oleh karena itu, mesh router tidak di perlukan pada
19
tipe jaringan ini. Pada mesh client, paket yang dikirimkan untuk node akan
melewati beberapa node sebelum sampai ke node tujuan.
c. Hybrid WMN
Arsitektur hybrid WMN merupakan gabungan dari infrastruktur dan mesh
klien. Mesh klien dapat mengakses jaringan melewati mesh router maupun
secara langsung meshing dengan mesh klien lain, sementara infrastruktur
menyediakan konektifitas ke jaringan lain seperti internet, Wi-Fi, WiMAX,
seluler, dan jaringan sensor, kemampuan routing klien meningkatkan
konektifitas dan cakupan dalam WMN.
2.2.3. Karakteristik WMN
Karakteristik WMN adalah
a. Jaringan wireless Multi-hop
Salah
satu
tujuan
untuk
pengembangan
WMN
adalah
untuk
memperpanjang jangkauan area jaringan wireless tanpa mengorbankan
kapasitas saluran, menyediakan konektivitas NLOS antara pengguna tanpa
LOS Link. Untuk tujuan itu maka mesh dengan gaya Multi-hop sangat di
perlukan. Multi-hop dapat memfasilitasi throughput yang lebih tinggi
tanpa mengorbankan jangkauan radio, mengurangi gangguan antar node
dan penggunaan kembali frekuensi yang lebih efisien.
b. Mendukung jaringan Ad-hoc, kemampuan self-configuring, self-healing
Jaringan ad-hoc meningkatkan kinerja jaringan seperti arsitektur jaringan
yang fleksibel, mudah untuk di kembangkan dan di konfigurasi, toleransi
terhadap kesalahan dan konektifitas mesh yaitu komunikasi multipoint-tomultipoint. Dengan kemampuan ini WMN memungkinkan investasi biaya
yang rendah dan jaringan dapat tumbuh secara bertahap sesuai dengan
kebutuhan.
c. Mobilitas: tergantung jenis node
Pada MAP biasanya memiliki tingkat mobilitas yang rendah, sedangkan
pada MC memiliki tingkat mobilitas tinggi. Dengan demikian, mobilitas
pada WMN bervariasi pada tiap node dan ini berbeda dengan jaringan Adhoc.
d. Multiple akses jaringan
20
WMN mendukung komunikasi antara backhaul ke internet dan jaringan
peer-to-peer, selain itu WMN dapat terintegrasi dengan jaringan nirkabel
lain dan memberikan layanan akses ke pengguna akhir. Kemampuan ini
tidak dimiliki oleh jaringan Ad-hoc.
e. Ketergantungan Konsumsi daya
MAP pada MWN biasanya tidak mempunyai kendala yang berarti pada
konsumsi daya. Namun MC mungkin memerlukan protokol daya yang
efisien. Missal, sebuah sensor untuk protocol komunikasi pada mesh
membutuhkan power yang efisien. Dengan demikian protokol MAC atau
routing yang di optimalkan untuk MAP mungkin tidak sesuai untuk MC.
Karena efisiensi daya menjadi perhatian utama untuk sensor nirkabel.
f. Kompatibilitas dan interoperabilitas dengan jaringan nirkabel yang ada
Misal WMN dibangun berdasarkan teknologi IEEE 802.11 dan harus
kompatibel dengan IEEE 802.11 standard dalam artian mampu
mendukung kedua mesh dan konvensional Wi-Fi klien.
2.3.
Mikrotik Router OS
Mikrotik RouterOS adalah sistem operasi atau perangkat lunak yang dapat
digunakan untuk menjadikan komputer menjadi sebuah router, Access Point
jaringan yang handal, mencakup berbagai fitur yang dibuat untuk IP network dan
jaringan nirkabel, cocok digunakan oleh Warnet, bahkan ISP dan provider
hotspot.
Perangkat keras khusus yang didesain untuk menjalankan RouterOS adalah
Router Board (RB), Tetapi Mikrotik RouterOS juga dapat dengan cepat dan
mudah di install di PC sehingga pc tersebut akan berubah fungsi menjadi sebuah
router dengan semua fitur yang diperlukan seperti routing, firewall, bandwidth
manajemen, Access Point, Backbone Link, Hotspot gateway, VPN Server dan
masih banyak lagi. Mikrotik RouterOS adalah sebuah system operasi yang berdiri
sendiri didasarkan pada linux kernel v2.6. Beberapa keunggulan Mikrotik
RouterOS secara umum seperti:
a. Membuat router handal dengan PC yang murah
21
b. Pembaharuan versi secara berkala
c. Memiliki banyak fitur
d. Memiliki user interface yang mudah dan konsisten
e. Ada banyak cara untuk mengakses dan mengontrol
f. Memungkinkan upgrade hardware
g. Banyak alternative interface yang dapat di gunakan.
2.3.1. Lisensi Mikrotik RouterOS
Mikrotik RouterOS hadir dalam berbagai level dan masing-masing level
mempunyai spesifikasi masing-masing seperti terlihat pada table 2.3
Tabel 2. 3 Lisensi Mikrotik Router Os
Level number
Wireless AP
Wireless Client
and Bridge
RIP, OSPF, BGP
protocols
EoIP tunnels
PPPoE tunnels
PPTP tunnels
L2TP tunnels
OVPN tunnels
VLAN interfaces
P2P firewall rules
NAT rules
HotSpot active
users
RADIUS client
Queues
Web proxy
Synchronous
interfaces
User manager
active sessions
4 (WISP)
yes
5 (WISP)
yes
6 (Controller)
yes
yes
yes
yes
yes
yes
yes
unlimited
200
200
200
200
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
500
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
unlimited
200
500
unlimited
yes
unlimited
yes
yes
unlimited
yes
yes
unlimited
yes
yes
yes
yes
20
50
Unlimited
RouterOS dapat mendukung berbagai teknologi yang digunakan pada
jaringan nirkabel, seperti untuk access point dan client pada jaringan hotspot di
22
dalam kantor dan rumah, atau skala besar seperti jaringan mesh untuk area
perkotaan. Berikut beberapa fitur yang di dukung RouterOS untuk keperluan
Jaringan wireless yaitu:
•
IEEE802.11a/b/g/n wireless client and access point
•
Nstream and Nstream2 proprietary protocols
•
Client polling
•
RTS/CTS
•
Wireless Distribution System (WDS)
•
Virtual AP
•
WEP, WPA, WPA2 encryption
•
Access control list
•
HWMP+ Wireless MESH protocol
•
MME wireless routing protocol
•
Nstream
2.3.2. Akses Mikrotik RouterOS
Mikrotik router OS dapat diakses melalui berbagai cara antara lain:
1. WinBox
WinBox merupakan program yang didesain mikrotik dan saat ini
merupakan program yang paling sering digunakan untuk melakukan
remote ke mikrotik routerOS. Untuk melakukan remote menggunakan
winbox dapat menginputkan mac address atau ip address dari perangkat.
Lihat Gambar 2.9
23
Gambar 2. 9 Aplikasi WinBox
2. WebFig
Webfig adalah fitur yang baru setelah versi 5, pada Webfig kita dapat
mengkonfigurasi Mikrotik dengan mudah melalui browser. Tampilan yang
akan muncul sangat mirip dengan Winbox. Untuk mengakses webfig
dengan cara membuka Browser dan ketikkan alamat IP router, kemudian
muncul form Login lihat Gambar 2.10
Gambar 2. 10 WebFig Login
3. Telnet dan SSH
Tidak ada aplikasi khusus untuk mengakses mikrotik melalui telnet dan
ssh, dapat menggunakan aplikasi Putty dan aplikasi lainnya.
24
2.4.
Wireless Distribution System (WDS)
WDS adalah suatu system yang digunakan untuk memperluas jaringan
wireless, dengan menggunakan beberapa perangkat AP menjadi sebuah satu
kesatuan sehingga memungkinkan untuk membangun infrastruktur wireless tanpa
harus membangun backbone kabel untuk melakukan interkoneksi antar AP lihat
gambar 2.11. Dengan menggunakan WDS, memungkinkan komunikasi data pada
jaringan nirkabel dapat melewati beberapa AP seperti halnya switch pada sebuah
jaringan Ethernet.
Gambar 2. 11 Wireless Distribution System
Keuntungan yang bisa kelihatan dari Wireless Distribution System
dibanding solusi lainnya adalah bahwa dengan WDS, alamat header MAC dari
paket trafik tidak berubah antar link access poin
point.
t. tidak seperti pada proses
enkapsulasi misalnya pada komunikasi antar router yang selalu menggunakan
alamat MAC pada hop berikutnya. Semua base station dalam WDS harus
dikonfigurasi menggunakan kanal radio yang sama, SSID (service set identifiers)
yang sama sebagai identitas, metode enkripsi (tanpa
(tanpa enkripsi, WEP, atau WAP)
dan juga kunci enkripsi yang sama. WDS juga mengharuskan setiap base station
untuk bisa melewatkan kepada lainnya didalam sistem. Kerugian dalam
penggunaan sistem WDS ini adalah throughput efektif maksimum terbagi dua
setelah transmisi pertama (hop) dibuat. Misalkan, dalam kasus dua router
dihubungkan sistem WDS, dan komunikasi terjadi antara satu komputer yang
terhubung ke router A dengan sebuah laptop yang terhubung secara wireless
dengan salah satu access point di router B, maka throughputnya adalah
separuhnya, karena router B harus mengirimkan ulang informasi selama
25
komunikasi antara dua belah sisi. Akan tetapi jika sebuah komputer dikoneksikan
ke router A dan notebook di koneksi kan ke router B (tanpa melalui koneksi
nirkabel), maka throughput tidak terbelah dua karena tidak ada pengiriman ulang
informasi.
2.4.1. Model Komunikasi WDS
WDS bisa didefinisikan ke dalam dua jenis model yaitu
1. Bridging
Dimana komunikasi access point Wireless Distribution System hanya
satu dengan lainnya (antar AP) dan tidak membolehkan wireless clients
lainnya atau Station (STA) untuk mengaksesnya. Wireless distribution sistem
disebut sebagai wireless bridging jika terjadi
terjadi koneksi dua jaringan LAN pada
layer data link.
WDS dapat dibangun dalam beberapa konfigurasi Wireless bridging
antara lain:
a. WDS Point To Point
Mode ini biasanya digunakan untuk menghubungkan 2 buah AP. Pada
perangkat Router Board biasanya mode ini di konfigurasi menggunakan mode
bridge seperti pada Gambar 2.12
Gambar 2. 12 WDS Point to Point
b. WDS Point To Multi Point
Sebuah mode dimana 1 buah AP dapat melayani beberapa station Pada
RouterBoard
perangkat
yang
akan
26
difungisikan
sebaga
sebagaii
AP
harus
mengaktifkan mode AP bridge sedangkan pada perangkat client dibutuhkan
untuk mengaktifkan mode station-wds, seperti pada Gambar 2.13
Gambar 2. 13 WDS Point to Point
2. Repeater
Gambar 2. 14 Repeater
Seperti terlihat pada Gambar 2.14 Dimana access point berkomunikasi
satu sama lain dan juga dengan nirkabel STA. wireless repeater digunakan
untuk memperluas jaringan atau jangkauan infrastruktur nirkabel dengan jalan
melewatkan trafik antara station nirkabel dan AP yang terhubung secara kabel
dengan jaringan local. Pada perangkat routerboard biasanya AP dikonfigurasi
menggunakan mode ap-bridge atau wds-slave.
Seperti terlihat pada gambar 2.15 parameter yang terdapat pada WDS di
Mikrotik RouterOS yaitu:
27
a. wds-default-bridge
Dapat di gunakan, jadi ketika link antar node mengalami perubahan
(terputus dan terkoneksi kembali), maka interface WDS akan secara
otomatis dimasukkan dalam port interface di interface bridge atau mesh
tersebut
b. wds default cost
cost (beban logika untuk perhitungan prioritas antar port) di dalam
jaringan WDS
c. WDS Cost Range
nilai margin cost yang akan diperhitungkan berdasarkan besar throughput
link WDS.
d. WDS Ignore SSID
pilihan dimana jaringan WDS akan mengabaikan parameter SSID atau
tidak.
Gambar 2. 15 Parameter WDS
2.4.2. Mode Operasional WDS pada RouterOS
Mode Operasional WDS pada RouterOS yaitu:
2.4.2.1 WDS Dynamic
Mode ini memungkinkan interface WDS secara otomatis akan dibuat
seketika jika sudah menemukan perangkat AP lain yang kompatibel dengan AP
tersebut. Berdasarkan dengan interface untuk implementasi Dynamic WDS di
kategorikan menjadi dynamic dan dynamic mesh
28
a. Dynamic
interface WDS akan secara otomatis segera dibuat ketika sudah
menemukan perangkat AP lain yang kompatibel dengan perangkat AP
tersebut dan interface WDS tersebut akan secara otomatis dimasukkan
dalam port interface di interface bridge . lihat Gambar 2.16
Gambar 2.16 WDS Dynamic
b. Dynamic mesh
Gambar 2.17 WDS Dynamic Mesh
Mode dynamic mesh hampir sama denga mode dynamic tapi mode ini
menggunakan
protocol
baru
yaitu
HWMP+
yang
merupakan
penyempurnaan dari WDS standard lihat gambar 2.17. Pada mode
antarmuka WDS yang dibuat akan secara otomatis dimasukkan dalam port
antarmuka di interface mesh.
29
2.4.2.2 WDS Static
Dengan mengaktifkan mode ini maka interface WDS harus di buat secara
manual
pada
masing-masing
AP.
Untuk
mengimplementasikan
WDS
menggunakan mode statik maka harus menentukan interface WLAN yang akan di
jadikan master interface pada parameter master-interface dan menambahkan
alamat MAC node lawan pada parameter WDS Address secara manual lihat
Gambar 2.18. Interface WDS yang dibuat secara statik tidak akan hilang jika link
terputus. Jika menggunakan metode ini maka parameter wds default-bridge
sebaiknya diubah menjadi none sehingga dibutuhkan penambahan secara manual
antarmuka WDS ke dalam port interface.
Gambar 2.18 WDS Static
Pada Miktorik router OS ada beberapa point yang harus di perhatikan jika
ingin mengimplementasikan WDS dynamic dengan baik antara lain
a. WDS Multi AP membutuhkan adanya fungi bridge agar dapat berjalan
sempurna
30
b. Untuk mengimplementasikan WDS Multi AP seluruh antarmuka WDS
harus masuk di dalam bridge interface, dan juga antarmuka lain
(antarmuka fisik / master) yang terkoneksi langsung dengan client.
c. Untuk mencegah terjadinya looping di dalam bridge dan juga untuk
mengimplementasikan redundant link, maka ada baiknya mengaktifkan
juga Spanning Tree Protocol (STP/RSTP) atau mengaktifkan HWMP+
untuk antarmuka mesh.
2.5.
Hybrid Wireless Mesh Protocol plus (HWMP+)
Hybrid Wireless Mesh Protocol (HWMP) di definisikan dalam IEEE
802.11s adalah protokol routing dasar untuk jaringan wireless mesh. Hybrid
Wireless Mesh Protocol (HWMP) merupakan kombinasi dari ad hoc dan protokol
spanning tree-base routing yang menggabungkan kedua komponen reactive dan
proactive.
Protokol HWMP adalah hybrid, karena mendukung dua jenis protocol
pemilihan path. Meskipun protokol ini sangat mirip dengan protocol routing,
tetapi harus diingat bahwa dalam kasus IEEE 802.11s menggunakan alamat MAC
untuk “routing”, bukan menggunakan IP address. Oleh karena itu, dalam hal ini
akan digunakan istilah “path” bukan “route” dengan demikian akan digunakan
istilah “path selection” bukan “routing”.
HWMP memadukan jaringan ad hoc dan infrastruktur bersama-sama
dengan menemukan perpaduan fleksibilitas on-demand rute dengan ekstensi yang
memungkinkan proaktif routing yang efisien untuk mesh portal (MPPs).
Kombinasi ini memungkinkan setiap anggota (node) untuk melakukan penemuan
dan pemeliharaan rute optimal sendiri atau bergantung pada pembentukan struktur
pohon yang didasarkan pada simpul akar “node root”. HWMP akan menggunakan
satu set protokol standar yang berasal dari ad hoc on-demand distance vector
(AODV) yang digunakan simpul untuk menyeleksi jalur tetangga berdasarkan
metrik standar jika jaringan mesh tidak memiliki node root. Pada jaringan mesh
sebuah jaringan dengan struktur pohon akan di aktifkan dengan mengaktifkan
sebuah mesh point (MPs) sebagai node root. Dalam hal ini node lain akan secara
31
proaktif mempertahankan rute ke node root dan proaktif menciptakan dan
memelihara jalur dengan struktur pohon yang terbentuk.
Beberapa manfaat utama dari HWMP adalah:
•
fleksibel untuk beradaptasi dengan berbagai kebutuhan skenario, mulai
dari jaringan tetap (fixed) atau bergerak (mobile).
•
MPs menemukan dan menggunakan jalur terbaik “best metric path” ke
tujuan di dalam mesh dengan kompleksitas rendah.
Selain kedua poin di atas, jika node root di aktifkan dalam jaringan mesh
maka:
•
Jika tujuan berada di luar mesh maka banjir rute untuk menemukan tujuan
paket dalam mesh akan berkurang.
•
Dapat mengurangi buffer pada pengiriman pesan ketika sedang mencari
rute.
•
Trafik broadcast dan multicast akan berkurang pada topologi pohon.
HWMP memiliki fitur yang unik dalam menyeleksi jalur. Jika proaktif
ada, dapat digunakan sewaktu-waktu secara bawaan untuk menemukan rute keluar
jaringan mesh. tiap simpul dapat memilih untuk hanya menggunakan topologi
pohon sebagai jalur utama untuk terhubung ke jaringan di luar mesh.
Hybrid Wireless Mesh Protocol plus (HWMP+) adalah sebuah protokol
spesifik pada mikrotik routerOS yang digunakan untuk menerapkan sebuah
protokol routing layer-2 pada jaringan wireless mesh. Protokol HWMP+ sendiri
merupakan pengembangan dari Hybrid Wireless Mesh Protocol yang merupakan
draf standar IEEE 802.11s. Walaupun begitu protokol HWMP+ sendiri tidak
kompatibel dengan IEEE 802.11s. Protokol HWMP+ juga hanya dapat berfungsi
pada dua mode WDS yaitu static-mesh dan dynamic-mesh
HWMP+ bekerja dengan cara mengoptimalkan logika routing berdasarkan
kalkulasi kapasitas dan juga beban dari link (metric). Khusus pada link Ethernet
metrik dikonfigurasi secara statik sedangkan untuk link WDS metrik akan selalu
di update dan di tentukan secara dinamis. Perhitungan metrik dari link WDS
diambil dari kalkulasi antara kekuatan signal wireless dan juga data rate yang
32
digunakan. Fungsi utama pada HWMP+ adalah dapat memastikan jaringan aman
dari looping dan juga dapat mengoptimalkan pemilihan rute berdasarkan
perhitungan metrik.
2.5.1. Mode HWMP+
2.5.1.1.Reactive
Mode ini digunakan jika semua trafik hanya menuju dan berasal dari
dalam jaringan mesh tanpa terhubung ke jaringan luar. Konsep kerja dari reactive
mode ini adalah melakukan pemetaan semua jalur antar node di dalam jaringan
mesh. Pemetaan tersebut dilakukan dengan cara mengirimkan pesan Path Request
(PREQ) ke seluruh node tujuan di dalam jaringan lihat Gambar 2.19
Gambar 2. 19 Path Request Message (PREQ)
Node tujuan biasanya berupa AP atau mesh point yang terhubung satu
sama lain memberikan balasan berupa Path Response (PREP). Lihat Gambar 2.20
Gambar 2. 20 Path Response Message
33
2.5.1.2.Proactive
Berbeda dengan mode Reaktif mode, pada mode proaktif digunakan jika
pada sebuah simpul pada WMN terhubung langsung dengan sebuah router yang
berfungsi menghubungkan ke jaringan di luar dari jaringan mesh atau juga ke
internet maka simpul tersebut disebut sebagai router portal. Jalur routing ke
router portal akan dianggap seperti rute default. Jika sebuah internal node dalam
suatu kondisi tertentu tidak mengetahui jalur ke simpul yang lain di dalam
jaringan mesh yang sama, maka data akan dilemparkan ke router portal terdekat.
Router portal tersebut akan berusaha untuk menemukan jalur ke simpul tujuan,
jika dibutuhkan router portal akan menjadi pengganti dari simpul tersebut dan
traffic data akan disalurkan melewati router portal terlebih dahulu sebelum
dikirimkan ke simpul tujuan. Konsep kerja dari proaktif mode adalah sebuah
simpul portal dari sebuah jaringan mesh memberitahukan keberadaanya ke semua
simpul di dalam jaringan mesh dengan cara mengirimkan Root Announcement
(RANN) message, lihat gambar 2.21
Gambar 2. 21 Roote Annoucment
Gambar 2. 22 Path Registration
34
Setelah menerima RANN, simpul yang berada di dalam jaringan mesh
akan memberikan pesan balasan berupa Path Registration (PREG) message, lihat
gambar 2.22. Sehingga dengan adanya pengiriman signal RANN dan PREG ini
maka bisa dibuatkan skema pohon routing dengan titik awal ada di router portal.
2.5.2. Parameter HWMP+
Untuk mengkonfigurasi HWMP+ maka gunakan menu “Mesh”. Metode
konfigurasinya hampir sama dengan konfigurasi bridge. Beberapa parameter yang
ada di HWMP+ dan perlu untuk di konfigurasi antara lain interface mesh,
interface mesh port dan interface mesh FDB.
2.5.2.1.Interface Mesh
Seperti terlihat pada gambar 2.23 Pada interface mesh ini mempunyai
beberapa parameter antara lain :
•
Mesh Portal
Parameter mesh portal diaktifkan pada satu AP yang terhubung ke luar
jaringan WMN contoh internet.
•
Default Hop limit
Nilai maksimum pada suatu hop untuk menghentikan paket routing
protocol setelah HWMP+ meneruskan paket.
•
PREQ Waiting Time
Nilai dari berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menunggu respon
dari pesan PREQ yang pertama dikirim.
•
PREQ Retries
Waktu yang dibutuhkan untuk menemukan alamat MAC yang dituju
sebelum alamat dianggap tidak ditemukan.
•
Hwmp-preq-destination-only
jika menggunakan “no” maka pesan PREQ tidak hanya bisa dijawab oleh
node tujuan tetapi bisa juga dibalas oleh router lain yang memiliki jalur ke
node tujuan.
•
Hwmp-preq-reply-and-forward
35
Konfigurasi pada parameter ini hanya akan efektif jika parameter hwmp-
preq-destination only =no. Router yang ada di tengah akan tetap
meneruskan pesan PREQ ke simpul tujuan (dengan flag atau tanda bahwa
simpul tujuan saja yang bisa menjawab)
•
PREP Lifetime
Batas waktu pada router untuk menerima pesan PREP atau PREQ
•
RANN Interval
Nilai yang digunakan untuk menentukan berapa sering HWMP+
mengirimkan pesan RANN
•
RANN Propagation Delay
Nilai untuk menentukan berapa lama waktu tunggu untuk mengirimkan
pesan RANN
•
RANN Lifetime
Waktu yang dibutuhkan oleh router setelah menerima pesan RANN
•
Reoptimize paths
Parameter ini berfungsi mengirimkan pesan PREQ secara berkala untuk
meminta data alamat MAC ke seluruh jaringan mesh.
o Jika tidak mendapatkan balasan “no-reply” untuk maksimalkan ulang
PREQ, maka struktur path yang sudah ada akan tetap dipertahankan.
o Fungsi ini akan efektif jika digunakan di mode proactive
Gambar 2. 23 Parameter HWMP+
36
2.5.2.2.Interface Mesh Port
Seperti terlihat pada gambar 2.24 berikut parameter yang ada interface
mesh port yaitu:
•
•
•
•
•
hello-interval (waktu, default:10s):Interval maksimum antara mengirimkan
pesan Hello. Digunakan hanya pada jenis Ethernet port
Interface: nama antarmuka, yang akan dimasukkan dalam mesh
Mesh: antarmuka mesh yang dimiliki
path-cost (integer: 0 .. 65535; default: 10): jalur biaya ke antarmuka, yang
digunakan oleh protokol routing untuk menentukan 'jalur terbaik' (best
path)
port-tipe (WDS | auto | ethernet | wireless) - jenis port untuk menggunakan
o auto: jenis port ditentukan secara otomatis berdasarkan jenis interface
utama.
o WDS : sistem distribusi antarmuka nirkabel, jenis link nirkabel pointto-point. Remote MAC address diketahui dari data koneksi nirkabel.
o Ethernet: Remote MAC address dipelajari baik dari pesan Hello atau
dari sumber MAC address dalam menerima atau diteruskan.
o Nirkabel : MAC address Remote diketahui dari data koneksi nirkabel
jenis port aktif (read-only, nirkabel | WDS | ethernet-mesh | ethernetbridge| ethernet-campuran) - jenis port benar-benar digunakan
Gambar 2. 24 Interface Mesh Port
37
2.5.2.3.Interface Forwarding Database (FDB)
Interface FDB bersifat dynamic dan tidak dapat di rubah, Seperti terlihat
pada gambar 2.25 parameter-parameter yang ada dalam FDB antara lain:
•
•
•
•
•
•
•
•
Mac-address : alamat mac address sesuai dengan data yang masuk ke
FDB
Seq-number: nomor urut yang digunakan dalam protokol routing untuk
menghindari loop
Type dari jenis entri FDB
o Local: alamat mac milik local router itu sendiri
o Outsider: alamat mac address milik perangkat di luar jaringan mesh
o Direct: alamat mac milik perangkat wireless client yang terhubung
langsung ke jaringan mesh MAP itu sendiri.
o Mesh: alamat mac yang diperoleh dari jaringan mesh, baik dari
internal atau luar pada jaringan mesh
o Neighbor: alamat mac milik router tetangga yang masuk ke dalam
router
o Larval: alamat mac address milik perangkat yang tidak di kenal yang
dicapai melalui jaringan mesh
o Unknown: alamat mac milik perangkat yang tidak di kenal
Mesh: nama interface mesh yang masuk FDB
On-interface: port mesh yang digunakan untuk meneruskan link
Lifetime: waktu yang tersisa untuk hidup, jika link ini tidak di gunakan
untuk meneruskan data.
Age: lama waktu masuk FDB
Metrik: nilai metrik yang digunakan oleh protokol routing untuk
menentukan jalan terbaik.
Gambar 2. 25 Interface Forwarding Database
38
Download