8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
2.1.1 Teori Agensi
Teori agensi merupakan basis teori yang mendasari praktik
bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Menurut Eisenhardt dalam
Harmono (2014 : 3), menyatakan bahwa, “Teori keagenan dapat
menjelaskan kesenjangan antara manajemen sebagai agent dan para
pemegang saham sebagai principal. Dalam hal ini, principal yang
mendelegasi pekerjaan kepada pihak lain sebagai agent untuk
melaksanakan pekerjaan.”
Teori keagenan mengasumsikan bahwa semua individu
bertindak atas kepentingan mereka sendiri. Pemegang saham sebagai
prinsipal diasumsikan hanya tertarik kepada hasil keuangan yang
bertambah atau investasi mereka di dalam perusahaan. Sedangkan para
agen diasumsikan menerima kepuasan berupa kompensasi keuangan dan
syarat-syarat yang menyertai dalam hubungan tersebut.
Adanya perbedaan kepentingan dan informasi antara prinsipal
dan agen, sehingga memacu agen untuk memikirkan bagaimana angka
akuntansi yang dihasilkan dapat lebih memaksimalkan kepentingannya.
Cara yang dapat dilakukan agen untuk mempengaruhi angka-angka
akuntansi dapat berupa rekayasa laba atau manajemen laba dalam
laporan keuangan.
8
Universitas Sumatera Utara
2.1.2 Manajemen Laba
Informasi laba menjadi bagian dari laporan keuangan yang
dianggap paling penting, karena informasi tersebut secara umum
dipandang sebagai representasi kinerja manajemen pada periode
tertentu. Menurut Ahmed dan Belkaoui (2000) dalam Handayani dan
Rachadi (2009) menyatakan bahwa
Informasi laba penting bagi pihak-pihak yang berkepentingan,
dengan alasan, yaitu:
1. Laba menjadi dasar bagi perusahaan dalam menentukan
kebijakan deviden.
2. Laba merupakan dasar dalam memperhitungkan kewajiban
perpajakan perusahaan.
3. Laba dipandang sebagai petunjuk dalam menentukan arah
investasi dan pembuat keputusan ekonomi.
4. Laba diyakini sebagai sarana prediksi yang membantu
dalam memprediksi laba dan kejadian ekonomi di masa
mendatang.
5. Laba dijadikan pedoman dalam mengukur kinerja
manajemen.
Menurut Harahap (2007) memberikan definisi manajemen laba
(earnings management) sebagai “disclosure management” dalam
pengertian bahwa: “manajemen melakukan intervensi terhadap proses
pelaporan keuangan kepada pihak ekstern dengan maksud untuk
memperoleh kepentingan pribadi”.
Scott (2000) juga menambahkan bahwa pola manajemen laba
dapat dilakukan dengan cara:
a.
Taking a Bath
Pola ini terjadi pada saat reorganisasi termasuk pengangkatan
CEO baru dengan melaporkan kerugian dalam jumlah besar.
9
Universitas Sumatera Utara
Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba di masa
mendatang. Strategi seperti ini dilakukan seolah-olah manajer baru
melakukan kebijakan yang agresif pada perusahaan yang
mengalami kerugian tersebut. Teknik taking a bath dilakukan
dengan mengakui adanya biaya-biaya pada periode yang akan
datang dan kerugian pada periode berjalan. Sehingga manajemen
menghapus beberapa aktiva dan membebankan perkiraan-perkiraan
biaya mendatang. Akibatnya laba pada periode berikutnya akan
lebih tinggi dari seharusnya.
b.
Income Minimization
Dilakukan pada saat perusahaan mengalami tingkat profitabilitas
yang tinggi sehingga
jika
laba
pada
periode
mendatang
diperkirakan turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba
periode sebelumnya.
c.
Income Maximization
Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income
maximization bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi
untuk tujuan bonus yang lebih besar. Pola ini dilakukan oleh
perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian utang.
d.
Income Smoothing
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan
sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar
karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif
10
Universitas Sumatera Utara
stabil.
Dalam fluktuasi ekonomi yang tidak menentu mendorong
manajemen perusahaan untuk bekerja lebih efektif dan efisien agar
perusahaan mampu menjaga kestabilan aktivitas operasinya sekaligus
meningkatkan kinerja manajemen untuk mendapatkan hasil yang
optimal bagi perusahaan. Sehingga diharapkan dapat menumbuhkan
kepercayaan dari luar, yaitu masyarakat dan para investor.
Apabila dikaitkan dengan keberadaan perusahaan di bursa
saham, maka dalam situasi perekonomian yang tidak menentu
manajemen melakukan manajemen laba dengan teknik income
smoothing dengan motivasi utama yaitu selain untuk mendorong
investor membeli saham perusahaan juga untuk meningkatkan nilai
pasar saham. Dengan demikian jelas terlihat bahwa tindakan tersebut
sangat dibutuhkan oleh manajemen dalam rangka menambah firm value
dan going concern perusahaan melalui berbagai teknik yang dilakukan
seperti perubahan metode akuntansi yang digunakan penentuan estimasi
piutang tak tertagih, peninjauan kembali nilai residu penyusutan dan lain
sebagainya.
Menurut Gerald dan Jensen (2001) bahwa earnings management
(manajemen laba) memiliki cakupan yang lebih luas daripada income
smoothing (perataan laba), karena manajemen percaya bahwa reaksi
pasar didasarkan pada pengungkapan informasi akuntansi sehingga
perilaku laba merupakan aspek penentuan resiko pasar entitas usaha.
11
Universitas Sumatera Utara
Menurut Watt and Zimmerman dalam Suryani (2010)
menyebutkan 3 (tiga) hal yang melatarbelakangi terjadinya praktik
manajemen laba, antara lain:
1. Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan memilih metode akuntansi yang
memaksimalkan utilitasnya, yaitu bonus yang tinggi. Manajer
perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan laba,
lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang
meningkatkan laba yang dilaporkan.
2. Debt Covenant Hypothesis
Manajer perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian
kredit, cenderung memilih metode akuntansi yang memiliki
dampak meningkatkan laba. Hal ini untuk menjaga reputasi
mereka dalam pandangan pihak eksternal.
3. Political Cost Hypothesis
Semakin besar perusahaan, semakin besar pula kemungkinan
perusahaan tersebut memilih metode akuntansi yang
menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang
tinggi, pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya
menaikkan pajak pendapatan perusahaan.
Walaupun menggunakan definisi yang berbeda-beda, namun inti
dari definisi-definisi tersebut menyebutkan bahwa manajemen laba
merupakan upaya manajemen secara sengaja untuk mempengaruhi
laporan keuangan dengan cara menaikkan atau menurunkan laba untuk
tujuan memenuhi kepentingannya sehingga informasi di dalam laporan
keuangan tidak mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang
sebenarnya dan pada akhirnya menyesatkan pemakai informasi tersebut.
2.1.3 Pajak
Menurut
Undang-Undang
No.16
Tahun
2009
tentang
Perubahan Ke-empat atas Undang-Undang No.6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang mulai berlaku pada
12
Universitas Sumatera Utara
tanggal 1 Januari 2008, pengertian pajak telah didefinisikan pada pasal
1 angka (1) sebagai berikut:
“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang
oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung
dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.”
Menurut Soemitro dalam Mardiasmo (2013 : 1), “pajak adalah
iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang
dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi)
yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum.”
Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki
unsur-unsur:
1.
Iuran dari rakyat kepada negara.
Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut
berupa uang (bukan barang).
2.
Berdasarkan undang-undang.
Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang
serta aturan pelaksanaannya
3.
Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara
langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat
ditunjukkan adanya kontraprestasi inividual oleh pemerintah.
13
Universitas Sumatera Utara
4.
Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni
pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
2.1.4 Koreksi Fiskal
Menurut Muljono dan Wicaksono (2009 : 105), “koreksi fiskal
adalah koreksi perhitungan pajak yang diakibatkan oleh adanya
perbedaan pengakuan metode, masa manfaat, dan umur, dalam
menghitung laba secara komersial dengan secara fiskal.”
Menurut IAI (2009), laba akuntansi adalah laba bersih selama
satu periode sebelum dikurangi beban pajak yang dihitung berdasarkan
prisnsip akuntansi yang berlaku umum, sedangkan laba fiskal (taxable
profit) adalah laba selama satu periode yang dihitung berdasarkan
peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak
penghasilan.
Koreksi fiskal harus dilakukan oleh Wajib Pajak ketika
menghitung besarnya PPH terutang pada akhir tahun. Apabila koreksi
fiskal tidak dilakukan oleh Wajib Pajak, perhitungan besarnya PPh
terutang sangat dimungkinkan akan mengalami kesalahan karena banyak
ketentuan pengakuan atau cara perhitungan pada akuntansi komersial
yang diperlakukan secara khusus pada ketentuan perpajakan.
Koreksi fiskal terjadi karena adanya perbedaan pengakuan secara
komersial dan secara fiskal. Perbedaan tersebut dapat berupa:
14
Universitas Sumatera Utara
1.
Beda Tetap (Permanent Difference) menurut Agoes dan Trisnawati
(2010 : 218) menyatakan bahwa:
Beda tetap terjadi karena adanya perbedaan pengakuan
penghasilan dan beban menurut akuntansi dengan pajak,
yaitu adanya penghasilan dan beban yang diakui menurut
akuntansi komersial namun tidak diakui menurut fiskal, atau
sebaliknya. Beda tetap mengakibatkan laba rugi menurut
akuntansi (pre tax income) berbeda secara tetap dengan laba
kena pajak menurut fiskal (taxable income).
Beda
tetap
biasanya
timbul
karena
peraturan
perpajakan
mengharuskan hal-hal berikut dikeluarkan dari perhitungan
Penghasilan Kena Pajak:
a.
Penghasilan yang telah dikenakan PPh bersifat final (Pasal 4
ayat (2) UU PPh).
b.
Penghasilan yang bukan objek pajak (Pasal 4 ayat (3) UU
PPh).
c.
Pengeluaran yang tak berhubungan langsung dengan kegiatan
usaha,
yaitu
mendapatkan,
menagih,
dan
memelihara
penghasilan serta pengeluaran yang sifatnya pemakaian
penghasilan atau yang jumlahnya melebihi kewajaran (Pasal 9
ayat UU PPh).
d.
Biaya yang digunakan untuk mendapatkan penghasilan yang
bukan objek pajak dan penghasilan yang telah dikenakan PPh
bersifat final.
e.
Penggantian sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura.
15
Universitas Sumatera Utara
f.
2.
Sanksi perpajakan.
Beda Sementara (Temporary Difference)
Sesuai namanya, beda waktu merupakan perbedaan
perlakuan akuntansi dan perpajakan yang sifatnya temporer.
Artinya, secara keseluruhan beban atau pendapatan akuntansi
maupun perpajakan sebenarnya sama, tetapi tetap berbeda alokasi
setiap tahunnya.
Menurut Waluyo (2012 : 271), “perbedaan temporer
adalah perbedaan antara dasar pengenaan pajak (tax base) dari
suatu asset atau kewajiban dengan nilai tercatat pada asset dan
kewajiban yang berakibat pada perubahan laba fiskal periode
mendatang.”
Terjadinya perubahan tersebut dapat bertambah (future
taxable amount) atau berkurang (future deductible amount) pada
saat aset dipulihkan atau kewajiban dilunasi/dibayar. Perbedaan
temporer ini berakibat harus diakuinya aset dan/atau kewajiban
pajak tangguhan.
Beda temporer biasanya timbul karena perbedaan metode
yang dipakai antara pajak dengan akuntansi dalam hal:
1.
Penyisihan Akrual dan Realisasi
Pembentukan penyisihan atas piutang tak tertagih (cadangan
piutang) dibebankan sebagai biaya untuk tujuan akuntansi,
sedangkan untuk tujuan fiskal baru diakui pada saat piutang
16
Universitas Sumatera Utara
benar-benar dihapuskan seperti yang diatur dalam Pasal 6 ayat
(1) UU PPh. Hal ini mengakibatkan perbedaan dalam metode
penghapusan piutang, dimana ketentuan perpjakan secara
umum hanya mengakui metode langsung (direct method).
2.
Penyusutan Aset Tetap
Metode penyusutan menurut ketentuan perundang-undangan
perpajakan sebagaimana telah diatur dalam Pasal 11 UU Pajak
Penghasilan:
a.
Metode garis lurus atau metode saldo menurun untuk aset
tetap berwujud bukan bangunan.
b.
Metode garis lurus untuk aset tetap berwujud berupa
bangunan.
3.
Revaluasi Aset Tetap
Menurut Waluyo (2010 : 120), “revaluasi aset tetap adalah
suatu penilaian kembali atas aset tetap yang dimiliki
perusahaan
sehingga sesuai
dengan
harga
pasar saat
diberlakukannya revaluasi tersebut.”
Pengakuan suatu aset mengandung makna bahwa nilai tercatat
aktiva tersebut akan terpulihkan dalam bentuk manfaat
ekonomi yang akan diterima oleh perusahaan pada periode
mendatang. Apabila nilai tercatat aset lebih besar daripada
DPP-nya, jumlah manfaat ekonomi yang kena pajak akan
melebihi jumlah yang dapat dikurangkan untuk tujuan fiskal.
17
Universitas Sumatera Utara
Perbedaan ini merupakan perbedaan temporer kena pajak dan
kewajiban pajak penghasilan pada periode mendatang
merupakan kewajiban pajak tangguhan.
Pada saat perusahaan memulihkan (recover) nilai tercatat aset,
perbedaan temporer kena pajak akan terealisasi menjadi laba
fiskal. Hal ini dapat mengakibatkan timbulnya kewajiban pajak.
Oleh karena itu, Pernyataan ini menghendaki pengakuan semua
kewajiban pajak tangguhan, kecuali pada kondisi tertentu.
Perbedan nilai aset tetap antara akuntansi dan pajak akan
dipertanggungjawabkan secara akuntansi sesuai ketentuan
PSAK 46 sebagai pajak tangguhan.
Dalam rangka tahun pembinaan pada tahun 2015 telah
diterbitkan Peraturan Menteri Keuangan Tentang Penilaian
Kembali Aktiva Tetap Untuk Tujuan Perpajakan Bagi
Permohonan yang Diajukan Pada Tahun 2015 dan Tahun 2016.
Perlakuan khusus yang diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan ini adalah terkait dengan pengenaan tarif yang lebih
kecil dari seharusnya (10%).
Perlakuan khusus tarif tersebut adalah sebagai berikut :
a. 3% (tiga persen), untuk permohonan yang diajukan sejak
berlakunya Peraturan Menteri ini sampai dengan tanggal 31
Desember 2015;
b. 4% (empat persen), untuk permohonan yang diajukan sejak
18
Universitas Sumatera Utara
1 Januari 2016 sampai dengan tanggal 30 Juni 2016; atau
c. 6% (enam persen), untuk permohonan yang diajukan sejak 1
Juli 2016 sampai dengan tanggal 31 Desember 2016
Secara formal, tujuan kebijakan khusus ini adalah:
a.
menjaga stabilitas ekonomi makro
b.
mendorong pertumbuhan ekonomi
Karena khusus, maka Peraturan Menteri Keuangan nomor
191/PMK.010/2015 tidak mencabut atau mengubah Peraturan
Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008. Jadi, setelah 2016
ketentuan tentang PPh atas revaluasi kembali lagi ke Peraturan
Menteri Keuangan nomor 79/PMK.03/2008 dan tarif yang
dikenakan
10%.
menggunakan
Namun
Peraturan
dalam
penelitian,
penulis
Menteri
Keuangan
nomor
79/PMK.03/2008 karena data penelitian berlangsung pada
periode 2011-2014.
4.
Penilaian Persediaan.
Menurut
Pasal
10
ayat
(6)
Undang-undang
Pajak
Penghasilan, “persediaan dan pemakaian persediaan untuk
penghitungan
harga
pokok
dinilai
berdasarkan
harga
perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara
mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama.”
Dengan demikian, hanya terdapat dua metode penilaian
persediaan yang bisa dilakukan oleh Wajib Pajak, yaitu
19
Universitas Sumatera Utara
metode rata-rata (average method) dan metode Fisrt In First
Out (FIFO). Hal ini berbeda dengan prinsip akuntansi yang
menganut tiga metode penilaian persediaan yaitu metode
LIFO, FIFO, dan average. Wajib Pajak harus memilih salah
satu metode tersebut dan dilakukan secara konsisten.
Perubahan
atas
metode
penilaian
persediaan
harus
mendapatkan persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.
5.
Kompensasi Kerugian Fiskal.
Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali
diubah, terkahir dengan Undang–undang nomor 36 tahun
2008 menyebutkan :
“Apabila
penghasilan
bruto
setelah
pengurangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat kerugian,
kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai
tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima)
tahun.”
Kompensasi kerugian berpengaruh pada Penghasilan Kena
Pajak di masa yang akan datang, dan efek pajaknya akibat
dari kompensasi kerugian adalah menghematan pada di masa
yang akan datang (future tax saving). Realisasi keuntungan
pajak dimasa yang akan datang tergantung pada Penghasilan
Kena pajak di masa yang akan datang tersebut yang sulit
20
Universitas Sumatera Utara
diramalkan dan tidak pasti.
Keuntungan pajak akibat kompensasi rugi diakui sebagai aset
pajak tangguhan dalam hal kompensasi pajak tangguhan
tersebut dapat dikompensasi dengan jumlah Penghasilan
Kena Pajak pada masa mendatang. Keuntungan pajak
dihitung dengan mengalikan jumlah yang dapat dikompensasi
tersebut dengan tarif pajak yang akan berlaku pada periode
kompensasi terjadi. Pada saat aset pajak tangguhan tersebut
dicatat, beban pajaknya pun akan berkurang. Pada tahuntahun berikutnya, pada saat penghasilan terealisasi, aset pajak
tangguhan pun akan berkurang. Keuntungan pajak karena
kompensasi kerugian tidak akan terealisasi apabila tidak
terdapat Penghasilan Kena pajak yang memadai untuk
menutupi kerugian tersebut.
Dalam PSAK No. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan
par. 26 menjelaskan bahwa saldo rugi fiskal yang dapat
dikompensasi diakui sebagai aset pajak tangguhan apabila
besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan
memadai untuk dikompensasi.
2.1.5 Pajak Tangguhan
Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak PPh di
masa yang akan datang yang disebabkan oleh perbedaan temporer
(waktu) antara perlakuan akuntansi dan perpajakan serta kerugian
21
Universitas Sumatera Utara
fiskal yang masih dapat dikompensasikan di masa datang (tax loss
carry forward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam
suatu periode tertentu.
Dampak PPh di masa yang akan datang tersebut perlu diakui,
dihitung, disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan, baik
neraca maupun laba rugi. Suatu perusahaan bisa saja membayar pajak
lebih kecil saat ini, tapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak
yang lebih besar di masa datang. Atau sebaliknya, bisa saja
perusahaan membayar pajak lebih besar saat ini, tetapi sebenarnya
memiliki potensi hutang pajak yang lebih kecil di masa datang. Bila
dampak pajak di masa datang tersebut tidak tersaji dalam neraca dan
laba rugi, maka laporan keuangan bisa saja menyesatkan pembacanya.
PSAK No.46 : Pajak Penghasilan mengatur bagaimana entitas
menyajikan dan mengungkapkan kewajiban pajak penghasilan entitas.
Peraturan pajak dan standar akuntansi memiliki perbedaan pengakuan
dan pengukuran pendapatan dan beban yang dapat memunculkan aset
atau liabilitas pajak tangguhan yang harus diungkapkan dan disajikan
dalam laporan keuangan.
Intisari PSAK No.46 mengenai Akuntansi Pajak Penghasilan
dapat diuraikan sebagai berikut:
a.
Mengatur perlakuan Akuntansi PPh, dimana masalah utama
adalah bagaimana mempertanggungjawabkan konsekwensi pajak
pada periode berjalan dan periode mendatang yang berkaitan
22
Universitas Sumatera Utara
dengan perbedaan temporer.
b.
Dalam akuntansi PPh, agar dilakukan pengakuan terhadap future
tax effect yg timbul sebagai akibat adanya transaksi dan peristiwa
lain yg telah diakui dalam laporan keuangan dan SPT. Disamping
itu, agar dilakukan pengakuan terhadap future tax effect dari
kompensasi kerugian fiskal yang belum digunakan apabila
persyaratan tertentu dipenuhi.
c.
Pengakuan future tax effect
diakui dengan mengakui adanya
aktiva pajak tangguhan (deffered tax assets) dan kewajiban pajak
tangguhan (deferred tax labilities). Pengakuan pajak tangguhan
dalam PSAK No.46 dilakukan dengan menggunakan Balance
Sheet Liability Method.
d.
Pengakuan aktiva atau kewajiban pada laporan keuangan, secara
tersirat, berarti bahwa perusahaan pelapor akan dapat memulihkan
nilai tercatat aktiva tersebut atau akan melunasi nilai tercatat
kewajiban tersebut dalam periode mendatang. Pemulihan nilai
tercatat aktiva pajak tangguhan akan mengakibatkan perusahaan
pelapor membayar pajak lebih kecil di periode mendatang dan
pemulihan nilai tercatat kewajiban pajak tangguhan akan
mengakibatkan perusahaan pelapor membayar pajak lebih besar
di periode mendatang.
e.
Mengatur tentang penyajian Pajak Penghasilan pada Laporan
Keuangan serta pengungkapan Informasi yang relevan.
23
Universitas Sumatera Utara
Menurut Waluyo (2012 : 273), pajak tangguhan sebagai
“jumlah pajak penghasilan yang terpulihkan pada periode mendatang
sebagai akibat perbedaan temporer yang boleh dikurangkan dari sisa
kerugian yang dapat di kompensasikan.”
2.1.5.1 Metode Penangguhan Pajak Penghasilan
Pengakuan pajak tangguhan dalam PSAK No.46
dilakukan dengan menggunakan Balance Sheet Liability
Method (Metode Aktiva-Kewajiban). Metode ini menggunakan
pendekatan neraca (balance sheet approach) yang menekankan
pada kegunaan laporan keuangan dalam mengevaluasi posisi
keuangan dan memprediksikan aliran kas pada masa yang akan
datang. Pendekatan neraca memandang perbedaan perlakuan
akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang neraca, yaitu
perbedaan antara saldo buku menurut komersial dan dasar
pengenaan pajaknya.
Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan temporer
dan perbedaan non temporer. Pada metode ini terjadi
pengakuan pajak tangguhan (deferred tax) atas konsekuensi
pajak di masa mendatang berupa aset (kewajiban) pajak
tangguhan yang harus dilaporkan di neraca. Beban pajak
tangguhan dilaporkan di laba rugi bagian taksiran PPh sebagai
komponen pajak tangguhan, sedangkan penghasilan pajak
tangguhan harus dilaporkan di laba rugi sebagai komponen
24
Universitas Sumatera Utara
negatif dari beban pajak tangguhan.
Menurut Zain (2007 : 194) Kewajiban
pajak
tangguhan maupun aset pajak tangguhan dapat terjadi dalam
hal-hal sebagai berikut :
1.
Apabila
penghasilan
sebelum
pajak-PSP
(Pretax
Accounting Income) lebih besar dari penghasilan kena
pajak-PKP (taxable income), maka beban pajak–BP (Tax
Expense) pun akan lebih besar dari pajak terutang-PT
(Tax Payable), sehingga akan menghasilkan Kewajiban
Pajak Tangguhan (Deferred Taxes Liability). Kewajiban
pajak
tangguhan
dapat
dihitung dengan mengalikan
perbedaan temporer dengan tarif pajak yang berlaku.
2.
Sebaliknya apabila penghasilan sebelum pajak (PSP)
lebih kecil dari penghasilan kena pajak (PKP), maka
beban pajak (BP) juga lebih kecil dari
pajak terutang
(PT),
menghasilkan
Aktiva
Pajak
Tax
Aktiva
pajak
sehingga
Tangguhan
tangguhan
dengan
akan
(Deferred
adalah
tarif
sama
pajak
Assets).
dengan perbedaan temporer
pada
saat
perbedaan
tersebut
(PKP-Taxable
Income)
terpulihkan.
Penghasilan
dihitung
Kena
berdasarkan
Pajak
Ketentuan
Peraturan
Perundang-
undangan Perpajakan, sedangkan Penghasilan Sebelum Pajak
25
Universitas Sumatera Utara
(PSP-Accounting Income atau Pretax Book Income) dihitung
berdasarkan standar yang disusun oleh profesi yang dikenal
sebagai Standar Akuntansi keuangan (SAK).
Oleh karena basis pengenaan penghasilan untuk
keperluan perhitungan Pajak Penghasilan berbeda dengan basis
penghitungan penghasilan untuk keperluan komersial, atau
dengan perkataan lain, akibat dari perbedaan penghasilan dan
biaya, maka akan terdapat perbedaan yang cukup signifikan
antara keddua basis tersebut. Pajak Penghasilan yang dihitung
berbasis pada Penghasilan Kena Pajak yang sesungguhnya
dibayar kepada pemerintah disebut sebagai PPh terutangIncome Tax Payable atau Income Tax Liability, sedangkan
Pajak Penghasilan
yang dihitung berbasis Penghasilan
Sebelum Pajak, disebut sebagai Beban Pajak PenghasilanIncome Tax Expense.
2.1.5.2 Kegiatan yang Dilakukan dalam Menentukan Pajak
Tangguhan
Sama
halnya
dengan
proses
akuntansi
lainnya,
Akuntansi Pajak Tangguhan tidak terlepas dari empat kegiatan
berikut ini :
1.
Pengakuan (recognition) yaitu standar yang mengatur
bahwa dampak PPh atas perbedaan temporer dan tax loss
carry forward (TLCF) atau kompensasi rugi harus diakui
26
Universitas Sumatera Utara
dalam laporan keuangan. Pengakuan ini menyiratkan
bahwa perusahaan pelapor akan memulihkan nilai tercatat
aset pajak tangguhan atau deferred tax asset (DTA) dan
akan melunasi nilai tercatat dalam kewajiban pajak
tangguhan atau deferred tax liability (DTL) tersebut.
Aset pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan
yang
disebabkan
oleh
perbedaan
temporer
akan
terpulihkan di masa datang karena jumlah yang akan
diakui sebagai biaya atau pendapatan akan sama antara
akuntansi dan pajak, hanya berbeda alokasi waktunya saja.
Sedangkan aset pajak tangguhan yang timbul dari
kompensasi rugi akan terpulihkan bila perusahaan
menggunakan kompensasi rugi tersebut pada tahun di
mana
perusahaan
memperoleh
laba
fiskal.
Bila
kompensasi rugi tersebut tidak terpakai dan menjadi
hangus, maka aset pajak tangguhan yang timbul harus
disesuaikan.
2.
Pengukuran (measurement) yaitu cara menghitung jumlah
yang harus dibukukan dalam buku besar perusahaan.
Pajak tangguhan dapat dihitung dengan cara mengalikan
beda waktu yang terjadi dengan tarif pajak yang berlaku
pada saat aktiva dipulihkan atau kewajiban dilunasi. Tarif
yang digunakan adalah tarif tunggal yaitu 25%, walaupun
27
Universitas Sumatera Utara
tarif sebenarnya dilihat dari jenis Badan Hukum dan
Omsetnya.
3.
Penyajian (presentation) yaitu standar yang menentukan
cara penyajian di dalam laporan keuangan, baik dalam
neraca ataupun laba rugi. Aset pajak tangguhan (DTA)
atau kewajiban pajak tangguhan (DTL) harus disajikan
secara terpisah dari aktiva atau kewajiban pajak kini dan
disajikan dalam unsur non current dalam neraca.
Sedangkan beban atau penghasilan pajak tangguhan harus
disajikan terpisah dengan beban pajak kini dalam laporan
keuangan.
4.
Pengungkapan (disclosure) yaitu berkaitan dengan standar
informasi yang perlu diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan. Misalnya unsur-unsur utama perbedaan
temporer yang menimbulkan pajak tangguhan, unsurunsur yang dibebankan langsung ke laba ditahan,
perubahan tarif pajak dan sebagainya.
Aset Pajak Tangguhan dapat disamakan seperti lebih
bayar pajak yang akan digantikan di masa yang akan datang
pada saat pemulihan perbedaan temporer. Sementara itu
Kewajiban Pajak Tangguhan dapat disamakan seperti kurang
bayar pajak yang akan dibayar di masa yang akan datang pada
saat pemulihan perbedaan temporer. Kenaikan neto aktiva
28
Universitas Sumatera Utara
pajak tangguhan menyebabkan pengurangan beban pajak
perusahaan sedangkan sebaliknya kenaikan neto kewajiban
pajak
tangguhan
menyebabkan
kenaikan
beban
pajak
perusahaan.
Beban pajak menurut pembukuan dapat dihitung
sebagai berikut:
Pajak Penghasilan Terutang
Rp XXX
Kenaikan neto kewajiban pajak tangguhan
Rp XXX (+)
Kenaikan neto aset pajak tangguhan
Rp XXX (-)
Beban pajak menurut pembukuan
Rp XXX
Aset pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan
terjadi akibat perbedaan temporer antara pembukuan dan pajak
sedangkan perbedaan permanen antara pembukuan dan pajak
tidak mempunyai efek, baik terhadap perhitungan beban pajak
menurut pembukuan maupun terhadap perhitungan pajak
terutang. Oleh karena perbedaan permanen tidak menghasilkan
pajak tangguhan.
2.1.6 Aset Pajak Tangguhan
PSAK yang khusus mengatur tentang akuntansi pajak
tangguhan adalah PSAK No. 46 yang menjelaskan bahwa:
“Aktiva pajak tangguhan adalah jumlah pajak penghasilan terpulihkan
(recoverable) pada periode mendatang sebagai akibat adanya
perbedaan temporer (temporary differences) yang boleh dikurangkan
29
Universitas Sumatera Utara
dan sisa kompensasi kerugian (berasal dari koreksi positif)”.
“Aset pajak tangguhan adalah aktiva yang terjadi apabila
perbedaan waktu menyebabkan koreksi positif yang berakhibat
beban pajak menurut akuntansi komersial lebih kecil dibanding
beban pajak menurut Undang-Undang Pajak” dalam Waluyo (2012
: 273).
Aset pajak tangguhan disebabkan jumlah pajak penghasilan
terpulihkan
pada periode mendatang sebagai akibat perbedaan
temporer yang boleh dikurangkan dan sisa kompensasi kerugian.
Besarnya aset pajak
tangguhan
dicatat
apabila
dimungkinkan
adanya realisasi manfaat pajak di masa yang akan datang.
2.1.7 Beban Pajak Tangguhan
Beban pajak tangguhan timbul akibat perbedaan temporer
antara laba akuntansi (laba dalam laporan keuangan menurut SAK
untuk kepentingan pihak eksternal) dengan laba fiskal (laba menurut
aturan
perpajakan
Indonesia
yang
digunakan
sebagai
dasar
penghitungan pajak). Suandy (2008 : 91) mengungkapkan bahwa
“apabila pada masa mendatang akan terjadi pembayaran yang lebih
besar, maka berdasarkan SAK harus diakui sebagai suatu kewajiban.”
Sebagai contoh apabila beban penyusutan aset tetap yang
diakui secara fiskal lebih besar daripada beban penyusutan aset tetap
yang diakui secara komersial sebagai akibat adanya perbedaan metode
penyusutan aktiva tetap, maka selisih tersebut akan mengakibatkan
30
Universitas Sumatera Utara
pengakuan beban pajak yang lebih besar secara komersial pada masa
yang
akan
datang.
menghasilkan
Dengan
kewajiban
pajak
demikian
selisih
tangguhan.
tersebut
akan
“Kewajiban
pajak
tangguhan timbul apabila beda waktu menyebabkan terjadinya koreksi
negatif sehingga beban pajak menurut akuntansi lebih besar daripada
beban pajak menurut peraturan perpajakan” dalam Agoes dan
Trisnawati (2010 : 245).
Beban pajak tangguhan timbul akibat perbedaan temporer
antara laba akuntansi (yaitu laba dalam laporan keuangan untuk
kepentingan pihak eksternal) dengan laba fiskal (laba yang digunakan
sebagai dasar perhitungan pajak). Perbedaan antara laporan keuangan
akuntansi dan fiskal disebabkan dalam penyusunan laporan keuangan,
standar akuntansi lebih memberikan keleluasaan bagi manajemen
dalam menentukan prinsip dan asumsi akuntansi dibandingkan yang
diperbolehkan menurut peraturan pajak.
2.2
Hubungan Antara Variabel Dependen dengan Variabel Independen
Hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
menjelaskan tentang adanya keterkaitan antara variabel dependen dengan
variabel independen.
2.2.1 Hubungan Aset Pajak Tangguhan dengan Manajemen Laba
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2009), nilai tercatat aset
pajak tangguhan harus ditinjau kembali pada
tanggal neraca.
31
Universitas Sumatera Utara
Perusahaan harus menurunkan nilai tercatat apabila laba fiskal tidak
mungkin memadai untuk mengkompensasi sebagian atau semua
aset pajak tangguhan. Penurunan tersebut harus disesuaikan kembali
apabila besar kemungkinan laba fiskal memadai. Dengan adanya
kewajiban
untuk
melakukan
peninjauan kembali pada
tanggal
neraca, maka setiap tahun manajemen harus membuat suatu
penilaian
untuk menetukan saldo aset pajak
tangguhan
dan
pencadangan aset pajak tangguhan, sedangkan penilaian manajemen
untuk menentukan saldo cadangan aset pajak tangguhan tersebut
bersifat subjektif.
Dengan diberlakukannya PSAK No.46 yang mensyaratkan
para manajer untuk mengakui dan menilai kembali aset pajak
tangguhan yang dapat disebut pencadangan nilai aset pajak
tangguhan. Penilaian manajemen untuk menentukan saldo cadangan
aset pajak tangguhan tersebut bersifat subjektif. Hal ini memicu
terjadinya manajemen laba karena setiap tahun manajer harus
membuat penilaian untuk menentukan apakah akan mencatat atau
akan menyesuaikan aset pajak tangguhan dan besarnya penyisihan
aset pajak tangguhan.
Aset pajak tangguhan yang jumlahnya diperbesar oleh
manajemen dimotivasi adanya pemberian bonus, beban politis atas
besarnya perusahaan dan minimalisasi pembayaran pajak agar tidak
merugikan perusahaan. Mengacu pada
pernyataan tersebut, maka
32
Universitas Sumatera Utara
diekspektasikan adanya peranan antara aset pajak tangguhan yang
dapat dimungkinkan dapat digunakan sebagai indikator adanya
manajemen laba. Jika jumlah aset pajak tangguhan semakin besar
maka semakin tinggi kesempatan manajemen melakukan manajemen
laba (earnings management).
2.2.2 Hubungan Beban Pajak Tangguhan dengan Manajemen Laba
Perbedaan antara laba akuntansi dengan laba fiskal memliki
hubungan positif dengan insentif pelaporan keuangan seperti
pemberian bonus sehingga dengan adanya hla tersebut maka
dimungkinkan manajer dapat melakukan rekayasa laba (earnings
management) dengan memperbesar atau memperkecil jumlah beban
pajak tangguhan yang diakui dengan laporan laba rugi. Beban yang
besar akan menurunkan tingkat laba yang diperoleh suatu perusahaan,
begitu pula sebaliknya beban yang sedikit akan menaikkan tingkat
laba yang diperoleh perusahaan.
Berdasarkan Philips et al (2003) membuktikan adanya praktik
manajemen laba dengan menggunakan beban pajak tangguhan.
Penelitian yang dilakukan Yulianti (2005) juga menemukan bukti
empiris bahwa beban pajak tangguhan memiliki hubungan positif
signifikan
dengan
probabilitas
perusahaan
untuk
melakukan
manajemen laba guna menghindari kerugian perusahaan.
Manajemen laba merupakan peluang manajemen untuk
merekayasa besarnya beban pajak tangguhan guna menaikkan dan
33
Universitas Sumatera Utara
menurunkan tingkat labanya. Beban pajak tangguhan mengakibatkan
tingkat laba yang diperoleh menurun dengan demikian memiliki
peluang yang lebih besar untuk mendapatkan laba yang lebih besar di
masa yang akan datang dan mengurangi besarnya pajak yang
dibayarkan. Dari penjelasan diatas dapat terjadi rekayasa laba
(earnings management) dengan menaikkan atau menurunkan jumlah
beban pajak tangguhan yang diakui dalam laporan laba rugi.
2.3
Penelitian Terdahulu
Adapun penelitian yang sejenis yang sebelumnya telah dilakukan
untuk mengetahui pengaruh pajak tangguhan terhadap manajemen laba
diantaranya :
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
NAMA
PENELITI
Frank dkk
(2006)
Phillips dkk
(2003)
Suranggane
(2007)
JUDUL
PENELITI
Do Managers Use
the
Valuation
Allowance
Account
to
Manage Earnings
Around
Certain
Earnings Targets?
Earnings
Management:
New Evidence
Based on
Deferred Tax
Expense
Analisis
aktiva
pajak tangguhan
akrual
sebagai
prediktor
manajemen laba
VARIABEL
PENELITIAN
Variabel independen :
Aset Pajak Tangguhan
(X2)
Variabel dependen :
Manajemen Laba (Y)
Variabel independen :
Beban Pajak
Tangguhan (X1) ,
Akrual (X2)
Variabel dependen :
Manajemen Laba(Y)
Variabel independen :
Akrual (X1), Aktiva
Pajak Tangguhan (X2)
Variabel dependen :
Manajemen Laba (Y)
HASIL
PENELITIAN
Aset pajak tangguhan
mempunyai pengaruh
yang
signifikan
terhadap
manajemen
laba
Beban pajak tangguhan
dan akrual berpengaruh
secara signifikan dapat
mendeteksi manajemen
laba.
Akrual
memiliki
hubungan
positif
terhadap
manajemen
laba, Aktiva pajak
tangguhan
memiliki
hubungan
negatif
34
Universitas Sumatera Utara
Ulfah (2012)
Wiryandari
(2008)
Yulianti
(2005)
Pengaruh beban
pajak tangguhan
dan perencanaan
pajak
terhadap
praktik
manajemen laba
Variabel independen :
Beban Pajak
Tangguhan (X1) ,
Perencanaan Pajak (X2)
Hubungan Laba
Akuntansi
dan
Laba Pajak dalam
Perilaku
Manajemen Laba
Variabel independen :
Beban Pajak
Tangguhan (X1),
Akrual (X2)
Kemampuan
Beban
Pajak
Tangguhan Dalam
Mendeteksi
Manajemen Laba
Variabel dependen :
Manajemen Laba(Y)
Variabel dependen :
Manajemen Laba(Y)
Variabel Independen:
Beban Pajak
Tangguhan (X1)
Akrual (X2)
Variabel Dependen:
Manajemen Laba (Y)
terhadap
manajemen laba.
Beban pajak tangguhan
berpengaruh
positif
terhadap
manajemen
laba,
perencanaan
pajak
berpengaruh
positif
terhadap
manajemen laba.
Beban pajak tangguhan
dan
akrual
secara
signifikan
tidak
berpengaruh terhadap
manajemen laba.
Beban pajak tangguhan
memiliki
pengaruh
yang
signifikan
terhadap
manajemen
laba
beban
pajak
tangguhan
tidak
konsisten
dengan
metode akrual sebagai
proksi manajemen laba.
2.4 Kerangka Konseptual
Aset Pajak
Tangguhan
(X1 )
H1
Beban Pajak
Tangguhan
(X 2 )
H2
Manajemen
Laba
(Y)
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
35
Universitas Sumatera Utara
Aset pajak tangguhan yang jumlahnya diperbesar oleh manajemen
dimotivasi adanya pemberian bonus, beban politis atas besarnya perusahaan
dan minimalisasi pembayaran pajak agar tidak merugikan perusahaan.
Mengacu pada pernyataan tersebut, maka diekspektasikan adanya peranan
antara aktiva pajak tangguhan yang dapat dimungkinkan dapat digunakan
sebagai indikator adanya manajemen laba. Jika jumlah aset pajak tangguhan
semakin besar maka semakin tinggi kesempatan manajemen melakukan
manajemen laba (earnings management).
“Semakin besar persentase beban pajak tangguhan terhadap total
beban pajak perusahaan menunjukkan standar akuntansi yang semakin
liberal,” menurut Yulianti (2005 : 118). Dan perbedaan antara laba
akuntansi dengan laba fiskal memiliki hubungan positif dengan insentif
pelaporan keuangan seperti pemberian bonus, dengan adanya hal tersebut
maka dimungkinkan manajer dapat melakukan manajemen laba dengan
memperbesar atau memperkecil jumlah beban pajak tangguhan yang diakui.
Beban yang besar akan menurunkan tingkat laba yang diperoleh suatu
perusahaan, begitu pula sebaliknya beban yang sedikit akan menaikkan
tingkat laba yang diperoleh perusahaan. Manajemen laba merupakan
peluang bagi manajemen untuk merekayasa besarnya beban pajak
tangguhan guna menaikan dan menurunkan tingkat labanya. Beban pajak
tangguhan mengakibatkan tingkat laba yang diperoleh menurun dengan
demikian memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan laba yang
lebih besar di masa yang akan datang dan mengurangi besarnya pajak yang
36
Universitas Sumatera Utara
dibayarkan.
2.4
Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara atau kesimpulan yang diambil
untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam suatu penelitian yang
sebenarnya masih harus diuji secara empiris. Hipotesis yang dimaksud
merupakan dugaan yang mungkin benar atau mengkin salah. Hipotesis yang
akan diuji dalam penelitian ini adalah:
Aset Pajak Tangguhan dan Beban Pajak Tangguhan diduga
berpengaruh terhadap Manajemen Laba.
37
Universitas Sumatera Utara
Download