Kajian Etnobotani Dan Aspek Konservasi Sengkubak

advertisement
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Bioekologi Sengkubak
1. Klasifikasi dan Morfologi
Sengkubak merupakan golongan liana yang termasuk dalam famili
Menispermaceae, berdasarkan identifikasi jenis yang dilakukan,
maka secara
taksonomi dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Backer & Brink 1963) :
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Magnoliophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Ranunculales
Famili
: Menispermaceae
Genus
: Pycnarrhena
Spesies
: Pycnarrhena cauliflora (Miers.) Diels.
Nama lokal
: sengkubak, Dayak Siberuang, Sekujang, Desa, Ransa
Kalimantan Barat, bekkai lan, Dayak Kenyah Kaltim
(Uluk, et al. 2000), apak (P. tumetacta) Malaysia (Hoe &
Siong
1999),
ambal
(P.
manillensis)
Philipina
(Philippine Medical Plant 2007).
Secara umum Pycnarrhena memiliki bunga-bunga aksilar yang tumbuh di
sepanjang tangkai berdaun (foliat) atau tangkai tak berdaun (defoliat), tumbuh
teruntai atau bertangkai, atau muncul berdiri sendiri (secara reduksi). Pycnarrhena
memiliki 6-9 daun kelopak (sepal), bagian luar yang berukuran sangat kecil,
ukurannya kemudian akan meningkat dan daun-daun kelopak bagian dalam
menutupinya.
Bunga Pycnarrhena memiliki 2-6 daun bunga, di Pulau Jawa 3 daun bunga,
ukurannya lebih kecil dari daun kelopak bagian dalam, tumbuh menyebar,
memiliki 2-12 benang sari (stamen). Di Pulau Jawa bunga Pycnarrhena memiliki 9
atau 12 benang sari, berkumpul dengan rapat; tersusun dari tangkai-tangkai sari
(filament), kepala sari (anther) sebagian meresap ke puncak filament. Bunga
betina terdiri dari 2-4 indung telur (ovary), berbulu atau glabrous (tanpa bulu);
5
kepala putik (stigma); terdiri dari 1-4 drupelet, berada di atas bakal buah (sessile)
atau stipitate (bertangkai), dan berbulu atau glabrous. Inti dari kepala putik
terletak di bagian perut, dinding pyrene yang dimiliki sangat tipis; condylus
berukuran kecil atau bahkan tidak ada; tidak memiliki endosperm, cotyledons
berukuran besar, berdaging; dan radicle berukuran sangat kecil. Pembungaan yang
berkembang menjadi buah muncul dari batang disebut cauliflora. Sketsa
morfologi Pycnarrhena cauliflora disajikan pada Gambar 1.
Gambar 1 Sketsa morfologi Pycnarrhena cauliflora
6
P. cauliflora secara morfologi memiliki daun-daun yang tidak berlapis
dengan bentuk lebih panjang, dan daun mudanya berserat pada tangkai. Serat yang
dimaksud adalah cabang dari tulang daun atau tulang daun yang kecil. Petiole
menebal pada kedua ujungnya. Serta secara spesifik P. cauliflora mempunyai
daun-daun pada tangkai yang berbunga dengan panjang 7,5-21 cm hingga 3-9,5
cm, daun yang lebih besar kebanyakan lebih panjang dari 12,5 cm, matang pada
bagian bawah tulang daun, serta memiliki bulu yang pendek atau glabrous,
berbentuk oval-persegi tak beraturan, dengan dasar tumpul atau membulat,
meruncing, lancip memanjang, lancip atau tumpul, pada kedua sisi yang sama dari
tulang daun dengan 5-12 serat lateral, mengkilap pada kedua permukaannya.
Selain itu, pembuluh-pembuluhnya secara terpisah berbeda dengan jelas menonjol
di bagian bawah; memiliki petiole 1,5-6 cm, yang berbulu pendek dan halus.
Pada bunga jantan (hanya diketahui tunas muda), berbunga banyak dalam
untaian; pada tangkai tumbuh satu bunga, benang sari 9 buah, pada bunga betina
berbunga 3-12 untaian, panjang pedicel 4-8 mm; daun kelopak bagian dalam
memiliki lebar 2-2,5 mm; indung telur dan drupelet matang secara bersamaan.
Tangkai muda berbulu pendek halus, secara perlahan, kayu putih (Backer &
Brink 1963).
P. cauliflora memiliki ”body climber”, biasanya hidup diantara pohonpohon besar. Beberapa genus lainnya yang termasuk famili Menispermaceae
sebagian besar merupakan golongan liana. P. cauliflora juga mempunyai ranting
yang zigzag, dan permukaan ranting berbulu halus rapat. Internot (jarak antar
daun) adalah 1–2 cm, bentuk daun ellips, pangkal daun lancip, tepi daun rata,
ujung daun luncip (accuminate), panjang ujung daun (accumane) atau ekor 2 cm,
serta urat daun nyata sebanyak 6–8 pasang. Urat daun melengkung sebelum
mencapai tepi (anastomosting).
Selanjutnya dapat dijelaskan pula permukaan daun bagian atas licin,
mengkilat, sedang permukaan bawah berbulu pada urat daun (direticulet),
ganggang daun adalah bipulpined atau tegak tidak melengkung (terjadi dua kali
penebalan), dan tangkai daun berbenjol dua sekitar 3 – 4 cm (Backer & Brink
1963).
7
2. Ekologi dan Penyebaran
Penyebaran dan ekologi P. cauliflora sulit untuk di uraikan karena sangat
minimnya literatur yang mendukung. Berdasarkan studi pustaka dengan
menelusuri spesimen yang dikolekasi di Herbarium LIPI Cibinong (2007),
diketahui bahwa P. cauliflora ditemukan di Kalimantan Barat pada ketinggian
100-150 m di habitat dataran rendah dan perbukitan, di Kalimantan Selatan pada
habitat lembah antara dua perbukitan di Muara Uya pada ketingian 100 m dan 90
m. Pulau Panaitan (Prinsene Island) pada habitat hutan dengan dataran rendah
(koleksi tahun 1951). Di Pantai Ngliyep Selatan Malang, Pantai Popoh Selatan di
Tulung Agung (koleksi tahun 1914), di Cisampora Wangun Lengkong pada
ketinggian 700 m dpl (tahun 1976), selain itu ditemukan pula di Sumba,
Langgaliru, Sumba Barat pada ketinggian 600 m dpl pada habitat hutan sekunder.
Pada penelusuran spesimen yang dikoleksi tersebut diketahui P. cauliflora
dapat hidup pada ketinggian 80-700 m dpl. Pada habitat dataran rendah,
perbukitan dan pada habitat hutan sekunder. Penyebaran anggota marga
pycnarrhena lainnya ditemukan di Papua New Guinea (P. ozantha), Himalaya dan
Jawa (P. marocarpa), Philipina Jawa, Sulawesi (P. calocarpa), Philipina (P.
manillensis Vidal), Borneo, (P. borneensis), Himalaya (P. longiflora), dan Timortimor (P. longifolia) (Data LIPI Cibinong 2007).
B. Penggunaan Sengkubak
Pengetahuan mengenai penggunaan sengkubak sebagai bumbu atau
penyedap telah lama dimiliki oleh masyarakat pedalaman Kalimantan baik pada
suku dayak maupun melayu. Pengetahuan penggunaan sengkubak sebagai ”micin”
oleh masyarakat pedalaman ini sebagian telah diketahui oleh peneliti yang pernah
berkunjung ke daerah-daerah hulu Kalimantan. Selain itu pada masyarakat Dayak
di sekiatar Taman Nasional Kayan Mentarang dihimpun data bahwa mereka juga
menggunakan tumbuhan tersebut sebagai bahan bumbu dan diketahui bahwa
bumbu yang berasal dari hutan liar berkisar antara 70 % sampai 73 %. Disebutkan
pula bahwa Tumbuhan paling umum yang digunakan sebagai bumbu dari hutan
liar adalah bekkai lan (P. cauliflora) (Uluk et al. 2001). Adanya kesamaan
penggunaan terhadap spesies P. cauliflora sebagai penyedap masakan ternyata
8
juga dilakukan oleh sebagian besar masyarakat suku Melayu maupun Dayak yang
berdiam diwilayah hulu Kalimantan Barat (Sanggau, Sintang, Sekadau,
Putussibau), walaupun belum ada penelitian lebih lanjut tentang kesamaan
penggunaan P. cauliflora ini.
C. Etnobotani
1. Definisi Etnobotani
Istilah etnobotani untuk pertama kalinya diusulkan oleh Harsberger pada
tahun 1895 dan didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari pemanfaatan
tumbuhan secara tradisional oleh suku bangsa yang masih primitif atau
terbelakang. Etnobotani berasal dari kata ethnos dan botany. Ethnos berasal dari
bahasa Yunani berarti bangsa dan botany artinya tumbuh-tumbuhan. Sebelumnya
Powers (1874) dalam Maheshwari (1990) telah menggunakan istilah ”Aboriginal
botany” dan didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari jenis-jenis tumbuhtumbuhan yang dimanfaatkan penduduk asli untuk bahan obat, pangan, sandang
dan sebagainya. Istilah etnobotani untuk pertama kali di adopsi oleh Fewkes
(1896), istilah tersebut digunakan dalam pustaka dan publikasi antropologi dan
menitikberatkan pada nama lokal tumbuhan dan etimologinya (Soekarman dan
Riswan 1992).
Sejalan dengan perkembangan keilmuan, etnobotani kemudian diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari tumbuh-tumbuhan yang digunakan oleh
perkumpulan suku primitif dan berguna untuk mengembangkan perkumpulan
tersebut. Batasan ini merupakan bantuan untuk menguraikan posisi budaya suatu
etnik berdasarkan kegunaan tumbuh-tumbuhan, menggambarkan penyebarannya
dimasa lampau dan perjalanan-perjalanan perdagangannya serta dengan diketahui
manfaatnya maka akan menimbulkann pikiran negatif untuk memindahkan
tumbuhan tersebut dari tempat liarnya ke lingkungan yang masih kosong (Waluyo
2002).
Istilah etnobotani juga digunakan untuk menjelaskan interaksi masyarakat
setempat (etno atau etnis) dengan lingkungan hidupnya, khususnya dengan
tumbuh-tumbuhan. Studi etnobotani ini dapat membantu masyarakat dalam
mencatat atau merekam kearifan lokal yang mereka miliki selama ini, untuk masa
9
mendatang. Sehingga studi etnobotani dapat memberi kontribusi yang besar dalam
proses pengenalan sumber alam hidup yang ada di suatu wilayah melalui kegiatan
pengumpulan kearifan lokal dari dan bersama masyarakat setempat (Ndero &
Thijssen 2004 ).
Etnobotani yang dimaksud dalam penelitian ini menggunakan definisi yang
dinyatakan oleh Purwanto (1999) yaitu etnobotani didefinisikan sebagai suatu
bidang ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik secara menyeluruh antara
masyarakat lokal dengan alam lingkungannya meliputi sistem pengetahuan
tentang sumber daya alam tumbuhan.
2. Ruang Lingkup Etnobotani
Pengkajian etnobotani dibatasi oleh ruang lingkup bahwa etnobotani adalah
cabang ilmu pengetahuan yang mendalami tentang persepsi dan konsepsi
masyarakat tentang sumber daya nabati di lingkungannya. Dalam hal ini kajian di
arahkan dalam upaya untuk mempelajari kelompok masyarakat dalam mengatur
sistem pengatuan anggotanya menghadapi tetumbuhan dalam lingkungannya,
yang digunakan tidak saja untuk keperluan ekonomi tetapi juga untuk kepentingan
spiritual dan nilai budaya lainnya. Pemanfaatan yang dimaksud di sini adalah
pemanfaatan baik sebagai bahan obat, sumber pangan, dan sumber kebutuhan
hidup manusia lainnya. Disiplin ilmu lain yang terkait dalam penelitian etnobotani
adalah antara lain anthropologi, sejarah, pertanian, ekologi, kehutanan, geografi
tumbuhan (Sudarsono & Waluyo 1992).
3. Kajian Etnobotani di Indonesia
Kedudukan etnobotani saat ini di Indonesia telah mendapatkan perhatian
dan porsi yang layak seperti halnya ilmu-ilmu lainnya di mata para pakar,
terutama botani. Hal ini merupakan suatu perkembangan yang baik, para ahli
menyadari bahwa banyak sumber daya nabati telah punah sebelum
mereka
sempat meneliti. Demikian halnya dengan pengetahuan tradisional pemanfaatan
tumbuhan oleh masyarakat yang masih terbelakang atau dianggap primitif sudah
hilang, sebelum informasi pengetahuan tersebut dicatat atau diketahui oleh
peneliti. Karena pengetahuan ini sifatnya lisan dari mulut ke mulut, dari satu
generasi ke generasi lainnya.
10
Kemajuan teknologi telah menimbulkan akses terhadap lingkungan dan
dampak negatif terhadap kesehatan, misalnya obat-obatan atau pewarna makanan
sintetis. Akhir-akhir ini, di Indonesia timbul gerakan untuk kembali alam atau
back to nature, diantaranya berupaya memanfaatkan kembali sumber daya nabati
alami, seperti penggunaan obat tradisional, kosmetik, pewarna yang dibuat dari
bahan alami. Hal yang terpenting adalah bagaimana pengetahuan tradisional dapat
diselamatkan, untuk dikaji kembali.
Pusat dari pengetahuan tradisional mengenai pemanfaatan tumbuhan ini
umumnya dijumpai pada negara-negara berkembang dan umumnya terletak pada
kawasan tropika, baik di Amerika, Afrika maupun Asia. Di negara-negara ini pula
dikatakan merupakan sumber dari pengetahuan tradisional serta sumber daya
hayati yang meliputi tumbuhan, hewan dan jasad renik terdapat.
Penelitian etnobotani di Indonesia, telah banyak dilakukan oleh para pakar
dari berbagai disiplin ilmu, tetapi dikatakan bahwa penelitan tersebut hanya
sebagai sampingan saja. Hal tersebut menyebabkan data dan informasi mengenai
etnobotani tersebut diberbagai publikasi dari berbagai disiplin ilmu, misalnya ahli
botani lebih menitikberatkan pada pemanfaatan tumbuhannya sedangkan ahli
antropologi lebih menitikberatkan pada manusianya (Soekarman & Riswan 1992).
Beberapa kajian etnobotani terhadap beberapa etnis di Indonesia yaitu etnobotani
Pandanaceae dalam kehidupan etnis Arfak, Irian Jaya (Sadsoeitoeboen 1999),
etnobotani pinang yaki (Areca vestiaria) oleh etnis Bolaang Mongondow,
Sulawesi (Simbala 2006), dan etnobotani benzoin (Stryrax spp.) pada etnis batak
di Tapanuli Utara, Sumatera Utara (Purwanto et al. 2003).
D. Kearifan Tradisional Masyarakat
Bangsa Indonesia yang mendiami diseluruh pulau-pulau yang tersebar dari
Sabang hingga Merauke terdiri dari suku-suku yang masing-masing mempunyai
kebudayaan dan adat istiadat yang berkembang dan diwariskan secara turuntemurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kehidupan suku-suku tersebut
terutama yang mempunyai interaksi dekat dengan sumberdaya dan lingkungannya
secara turun-temurun pula mewarisi pola hidup tradisional yang dijalani oleh
leluruhnya. Masyarakat setempat yang hidup secara tradisional tersebut dikenal
dengan istilah-istilah tribal people (masyarakat suku), indigenous people (orang
11
asli), native people (penduduk asli) atau tradisional people (masyarakat
tradisional (Dasman 1991 dalam Primack et al. 1998).
Indonesia diperkirakan dihuni oleh
100 – 150 famili tumbuhan yang
meliputi 25.000-30.000 spesies tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di dalam kawasan
hutan alam. Diperkirakan separuh dari jumlah tersebut merupakan tumbuhan
berkayu dan buah-buahan (Meijer 1974) dan masih banyak sekali yang belum
diketahui manfaatnya (Khazahara 1986).
Telah lama masyarakat tradisional hidup secara berdampingan dengan
keanekaraman hayati atau sumber daya alam yang ada di sekelilingnya. Di
sebagian besar tempat, ternyata mereka tidak melakukan perusakan besar-besaran
terhadap sumber daya alam yang ada di sekelilingnya tersebut (Primack et al.
1998). Masyarakat tradisional telah berhasil memanfaatkan metoda-metoda irigasi
yang bersifat inovatif, misalnya dengan melakukan panen yang bervariasi. Metode
tersebut telah memungkinkan kehidupan manusia dengan populasi yang tinggi
tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan maupun komunitas biologis
di
sekelilingnya. Namun, saat ini masyarakat tradisional sedang dihadapkan pada
perubahan lingkungan secara besar-besaran akibat meningkatnya interaksi
masyarakat dengan dunia luar, yang seringkali timbul perbedaan tajam antara
generasi tua dan muda.
Banyak masyarakat tradisional yang mempunyai etika konservasi yang kuat,
walaupun etika tersebut lebih halus dan tersamar dibandingkan keyakinan
konservasi dunia Barat. Etika konservasi telah memberikan pengaruh pada
perilaku sehari-hari (Gomez-Pompa & Kaus 1992; Posey 1992 dalam Primack et
al. 1998). Salah satu contoh yang baik dari penerapan pandangan konservasi
adalah pada suku Indian Huastec, di timur laut Meksiko. Mereka memelihara
lahan pertanian secara permanen, juga memelihara hutan yang terletak dibukitbukit, dan daerah aliran sungai, berdasarkan konservasi dikenal dengan istilah
lokal te’lom. Di kawasan hutan tersebut terdapat 300 species yang merupakan
sumber makanan, kayu dan berbagai produk bermanfaat lainnya. Mereka
melakukan modifikasi pada komposisi species di hutan untuk mendukung
berbagai species bermanfaat dengan cara menanam dan memangkas gulma secara
berkala (Alcorn 1984 dalam Primack et al. 1998).
12
E. Hubungan Budaya Dayak dengan Hutan
Kebudayaan mempunyai hubungan timbal balik yang sangat erat dengan
agama atau sistem kepercayaan/believe system. Sistem kepercayaan/agama bagi
kelompok etnik Dayak hampir tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai budaya
dan kehidupan sosial ekonomi sehari-hari. Kepribadian, tingkah laku, sikap,
perbuatan, kegiatan sosial ekonomi orang Dayak sehari-hari dibimbing, didukung
dan dihubungkan tidak saja dengan sistem kepercayaan atau ajaran agama dan
adat istiadat, tetapi juga dengan nilai-nilai budaya (Algadrie 1994 dalam Florus et
al. 1994). Hubungan etnis Dayak dengan hutan dengan segala isinya merupakan
hubungan timbal balik, di satu pihak alam memberikan kemungkinankemungkinan bagi perkembangan budaya etnis Dayak, di lain pihak etnis Dayak
senantiasa mengubah wajah hutan sesuai dengan pola budaya yang dianutnya.
Pola kehidupan etnis Dayak tradisional masih sangat tergantung pada sumber
alam, mata pencahariannya terbatas pada kemungkinan-kemungkinan yang
disediakan oleh alam (Arman 1994 dalam Florus et al. 1994).
Mata pencaharian orang Dayak selalu ada hubungannya dengan hutan.
Hutan digunakan sebagai tempat berburu, untuk berladang pohon-pohon di hutan
di buka, untuk mengusahakan tanaman perkebunan, etnis Dayak cenderung
memilih tanaman hutan seperti karet, rotan, tengkawang dan sejenisnya.
Kecenderungan seperti itu merupakan suatu refleksi dari hubungan yang akrab
yang telah berlangsung berabad-abad dengan hutan dan segala isinya. Hutan
merupakan basis utama dari kehidupan, sosial, ekonomi, budaya dan politik
kelompok etnik Dayak (Florus et al. 1994).
Pengolahan lahan tradisional masyarakat Dayak didasarkan pada sistem
perladangan daur ulang untuk masa putaran tertentu. Masa putaran 3 sampai 4
tahun untuk tana’ ujung dan paya’; 5 sampai 6 tahun untuk tana’ rambur dan
kereng; dan 10-15 tahun untuk tana’ toan (hutan sekunder).
Kultur material etnis Dayak juga dipengaruhi dan berorientasi pada hutan,
rumah panjang yang masih asli di buat seluruhnya dari kayu. Tiang, lantai,
dinding, atap, bahkan pengikat semuanya diambil dari hutan. Peralatan
transportasi sungai berupa sampan-sampan kecil biasanya dibuat dengan teknologi
sederhana yaitu dengan mengeruk batang pohon. Peralatan kerja dan senjata
13
seperti kapak, beliung, parang, bakul, tikar, mandau, talabang (perisai),
tengkalang dan sumpit sebagian bahannya terbuat dari bahan-bahan yang diambil
dari hutan (Arman 1994 dalam Florus et al. 1994). Demikian pula dengan
kebudayaan non material orang Dayak banyak sekali berhubungan dengan hutan.
Sebagai contoh pohon-pohon besar atau spesies kayu tertentu dipandang sebagai
perlambang kekuatan atau mistik. Hal tersebut menggambarkan bahwa kehidupan
tradisional dan budaya Dayak sulit dipisahkan dari sumber daya hutan.
F. Hubungan Budaya Melayu dengan Hutan
Etnis Melayu yang mendiami wilayah pedalaman Sintang merupakan
pengelola hutan yang gigih, hutan belantara yang begitu tebal bertukar menjadi
kampung dan ladang. Tradisi mengelola hutan untuk kepentingan manusia tidak
dapat dipisahkan karena hutan mempunyai kaitan yang erat dengan kepentingan
manusia selama berada di dalam hutan.
Pada masa dahulu masyarakat Melayu menganggap bahwa hutan
mempunyai semangat yang keras (nuansa magis sangat tinggi). Hutan selain di
huni oleh binatang buas, hutan juga di huni berbagai jenis jembalang (makhluk
halus), yang dapat menyebabkan bencana pada manusia. Lantaran kepercayaan
tersebut, masyarakat Melayu beranggapan perlu mengadakan upacara khas bila
hendak mengambil rotan, damar, kayu, buluh, akar kayu dan sebagainya atau
untuk membuka lahan baru. Adat tersebut dilaksanakan demi menjamin
keselamatan seseorang (www.members.tripod.com/niah_abdullah/tamadun/new
2007).
Sebelum datangnya Islam di kehidupan etnis Melayu Sintang, masyarakat
memiliki kepercayaan animisme. Namun sejak Islam memasuki kehidupan
masyarakat
Melayu, Melayu selalu diidentikkan dengan Islam. Masyarakat
Melayu juga mempercayai kelebihan sesuatu hari dalam melakukan upacara atau
acara-acara yang penting dalam hidup. Bulan atau hari yang dipilih didasarkan
pada kalender Hijriah. Hari yang kurang baik untuk masuk hutan adalah hari
Selasa akhir bulan Melayu. Hari yang baik untuk melakukan upacara adalah hari
Rabu, Kamis, dan Jumat. Hari-hari tersebut dipercayai mendatangkan manfaat
yang lebih. Selain itu, dalam budaya Melayu terdapat sistem kekerabatan yang
bersifat bilateral, masyarakat juga percaya akan petuah-petuah yang di sampaikan
14
oleh orang tua. Petuah yang sangat dipercaya oleh masyarakat Melayu bila
memasuki hutan, yaitu pantang bagi orang Melayu untuk bersiul semasa dalam
perjalanan, berbicara dengan keras, dan berpisah dari rombongan saat memasuki
hutan.
Etnis Melayu di Kabupaten Sintang saat ini terkonsentrasi pada pemukimanpemukiman yang berada di sepanjang tepian Sungai Kapuas. Pusat Kerajaan
Melayu Sintang yaitu Kerajaan Al Mukaromah berada di tepian Sungai Kapuas
Kampung Raja di Kecamatan Sintang.
G. Konservasi Tumbuhan
1. Penyebab Kelangkaan dan Kepunahan Tumbuhan
Tumbuh-tumbuhan,
hewan,
mikroorganisme
di
bumi
yang
saling
berintegrasi dengan lingkungan fisik di ekosistem merupakan landasan bagi
pembangunan yang berkelanjutan. Sumber biota yang kaya ini mampu
mendukung kehidupan dan aspirasi manusia, dan memungkinkan manusia
beradaptasi dengan perubahan akan kebutuhan dan lingkungan. Hilangnya
keanekaragaman hayati secara terus-menerus merupakan ukuran adanya
ketimpangan antara kebutuhan dan keinginan manusia dan daya dukung alam.
Laju berkurangnya keanekaragaman hayati pada masa kini, diperkirakan
sama cepatnya dengan pada masa kepunahan dinosaurus, yaitu sekitar 65 juta
tahun yang lalu. Tingkat kepunahan yang paling parah diperkirakan terdapat di
hutan tropis, sekitar 10 juta spesies yang hidup dibumi berdasarkan perkiraan
terbaik antara 50% hingga 90% dari jumlah tersebut diperkirakan berada di hutan
tropis. Dengan kecepatan pembuakaan hutan yang ada, maka antara 5% sampai
10% jenis hutan tropis mungkin akan punah dalam waktu 30 tahun mendatang.
Hal ini juga berarti kita akan mengalami kehilangan spesies tumbuhan tropis yang
beragam jenisnya dan mempunyai aneka keunikan dan kegunaan bagi manusia
(UNEP 1995).
Jika diadopsi mekanisme hilangnya keanekaragaman hayati bagi keberadaan
spesies tumbuhan yang dimiliki hutan tropis, maka punahnya keanekaragaman
hayati termasuk spesies tumbuhan diantaranya diakibatkan baik oleh faktor
penyebab langsung maupun tidak langsung. Mekanisme langsung dari kepunahan
15
tersebut meliputi hilangnya dan terkotak-kotaknya habitat akibat fragmentasi
habitat, invasi jenis baru yang diintroduksi, pemanfaatan sumber daya hayati yang
berlebihan apalagi tanpa diikuti tindakan budidaya, polusi, perubahan iklim
global, serta industri pertanian dan kehutanan. Pemiskinan biota tersebut hampir
merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindari sebagai akibat cara manusia
menggunakan dan menyalahgunakan lingkungan dalam usahanya untuk menjadi
spesies yang dominan.
Penyebab utama hilangnya dan punahnya spesies-spesies tumbuhan yang
ada berasal dari populasi manusia yang berkembang dengan cepat, dari cara
manusia yang dengan cepat memperluas wilayah ekologisnya dan memanfaatkan
sumber daya hayati dari bumi yang lebih banyak lagi. Konsumsi sumber daya
alam yang berlebihan tanpa berusaha memperbaharuinya, pengurangan yang
terus-menerus terhadap jenis pertanian dan perikanan komersil, sistem ekonomi
yang gagal dalam meletakkan nilai yang tidak tepat bagi lingkungan, lemahnya
sistem hukum maupun institusional.
Menurut UNEP (1995), penyebab utama kepunahan keanakaragaman hayati
yang juga penyebab kepunahan di tingkat spesies tumbuhan antara lain adalah :
(1). Adanya peningkatan laju populasi manusia dan konsumsi sumber daya alam
yang tidak berkelanjutan. Bersamaan dengan meningkatnya populasi
manusia yang memiliki laju dan besarnya pertumbuhan yang cukup tinggi,
dan berkembangnya teknologi baru, maka penggunaan sumber daya alam
oleh umat manusia akan turut meningkat. Penggunaan sumber daya alam
secara berlebihan termasuk terhadap spesies tumbuhan, tanpa didukung oleh
upaya pengembangan spesies tumbuhan tersebut maka akan menyebabkan
kepunahan bagi spesies tumbuhan tersebut.
(2). Penyempitan spektrum produk yang diperdagangkan dalam bidang pertanian,
kehutanan, dan perikanan. Pertukarangan ekonomi global yang berdasarkan
prinsip persaingan dan spesialisasi telah meningkatkan keseragaman dan
saling ketergantungan. Salah satu contohnya yaitu produsen pertanian
banyak yang mengkhususkan diri untuk memperdagangkan spesies tanaman
yang relatif sedikit dan laku untuk diperdagangkan dipasaran. Bersamaan
berkurangnya jenis tanaman, bakteri pengikat nitrogen, penyerbuk, penyebar
16
benih dan jenis lain yang berevolusi selama berabad-abad dalam sistem
pertanian tradisional ikut musnah, kehadiran mereka diganti oleh pupuk,
pestisida, dan varietas lain yang dapat menghasilkan panen yang baik demi
peningkatan produksi, keuntungan jangka pendek akan didapatkan.
Penyempitan spektrum pada produk pertanian tersebut salah satunya
merupakan penyebab berkurangnya keanekaragaman spesies tumbuhan
yang lama kelamaan dapat menyebabkan terjadinya kepunahan ditingkat
spesies tumbuhan.
(3). Sistem kebijakan ekonomi yang gagal dalam memberi penghargaan kepada
lingkungan dan sumber dayanya. Perubahan yang dilakukan terhadap sistem
alam, seperti perubahan hutan dan rawa menjadi lahan pertanian dan
peternakan secara biologis dan ekonomis seringkali tidak efisien, karena
sering tidak mempertimbangkan apakah tindakan tersebut akan merusak
atau tidak, dan sebagian lainnya karena habiatat alami umumnya tidak
dihargai secara ekonomis.
(4). Kurangnya pengetahuan dan penerapannya. Ketidaktahuan ini terjadi akibat
erosi kebudayaan tradisional yang mempunyai pemahaman tersendiri
mengenai alam, bahkan walaupun pengetahuan itu ada seringkali tidak
mengalir
secara
efisien
kepada
pengambil
keputusan,
sehingga
menyebabkan gagalnya pengembangan kebijakan yang mencerminkan nilai
ilmiah, ekonomis dan sosial.
(5). Sistem hukum dan kelembagaan yang mendorong eksploitasi
Kriteria keterancaman (kelangkaan) spesies dilihat berdasarkan kategori
keterancaman biota (IUCN 1994) disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Kategori keterancaman populasi biota
Kriteria
Penurunan tajam
Daerah sebaran
yang sempit
Kritis
> 80% selama 10
tahun/3 generasi
Luas daerah
sebaran < 100km2
atau luas daerah
yang ditempati <
10 km2
Genting
> 50% selama 10
tahun/ 3 generasi
Luas daerah
sebaran < 500 km2
atau luas daerah
yang ditempati <
500 km2
Rawan
> 20% selama 10
tahun/ 3 generasi
Luas daerah
sebaran < 20.000
km2 atau luas
daerah yang
ditempati < 2000
km2
17
Tabel 1 Lanjutan
Kriteria
Populasi kecil
Kritis
< 250 individu
dewasa
< 50 individu
dewasa
Populasi sangat
kecil
Genting
< 2500 individu
dewasa
< 250 individu
dewasa
Kemungkinan
punah
Peluang punah >
50% selama 5
tahun
Sumber : IUCN (1994)
Peluang punah >
20% selama 20
tahun
Rawan
< 10.000 individu
dewasa
< 10.000 individu
dewasa <100 km2/
<5 lokasi
Peluang punah >
10% selama 100
tahun
2. Strategi Konservasi Tumbuhan
Melakukan konservasi tumbuhan tentunya merupakan bagian yang tidak
dapat dipisahkan dari kegiatan konservasi sumber daya alam hayati secara
keseluruhan. Konservasi sumber daya alam hayati adalah sebagai upaya
pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya senantiasa
memperhitungkan kelangsungan persediannya dengan tetap memelihara serta
meningkatkan
kualitas keanekaragaman dan nilainya. Tujuan dilakukannya
konservasi tersebut adalah untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber
daya alam dan keseimbangan ekosistemnya, sehingga dapat lebih mendukung
upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat serta mutu kehidupan manusia
(Dephut 1990).
Menurut UU RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya, maka strategi yang digunakan untuk mewujudkan
tujuan konservasi adalah perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwaliar beserta ekosistemnya dan
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
a. Perlindungan system penyangga kehidupan.
Dalam melakukan cara pemanfaatan wilayah perlindungan dan system
penyangga hendaknya senantiasa memperhatikan kelangsungan dan fungsi
perlindungan di wilayah tersebut.
b. Pengawetan
ekosistemnya.
keanekaragaman
jenis
tumbuhan
dan
satwaliar
beserta
18
Kegiatan pengawetan dapat dilakukan melalui dua macam kegiatan yaitu
melalui konservasi secara insitu dan konservasi eksitu. Secara Insitu berdasarkan
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan
dan Satwa Liar, maka pengelolaan di dalam habitatnya dapat dilakukan dalam
bentuk
identifikasi,
inventarisasi,
pemantauan
habitat
dan
populasinya,
penyelamatan jenis, pengkajian, penelitian dan pengembangan (Dephutbun
1999a). Konservasi eksitu merupakan upaya pengawetan jenis di luar kawasan
yang dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakan jenis tumbuhan dan
satwa liar. Tempat yang cocok untuk melakukan kegiatan tersebut misalnya di
kebun binatang, kebun raya, arboretum, dan taman safari. Dan
kegiatan
konservasi eksitu dilakukan untuk menghindari adanya kepunahan suatu jenis.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis
Tumbuhan dan Satwa Liar, maka pengelolaan jenis di luar habitatnya dapat
dilakukan
dalam
bentuk
pemeliharaan,
pengembangbiakan,
pengkajian,
penelitian,pengembangan rehabilitasi satwa, penyelamatan jenis tumbuhan dan
satwa liar.
c. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
Dalam pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam
hendaknya senantiasa tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan, dan pemanfaatan
jenis tumbuhan dan satwaliar harus selalu memperhatikan kelangsungan potensi,
daya dukung, keanekaragaman jenis tumbuhan, dan satwa liar tersebut.
Pemanfaatannya dapat dilakukan dalam bentuk pengkajian, penelitian dan
pengembangan, penangkaran, perburuan, perdagangan, peragaan, pertukaran,
budidaya tanaman dan obat-obatan, dan pemeliharaan untuk kesenangan
(Dephutbun 1999b).
Menurut Willson (1992), ada tiga unsur pokok yang dapat dilakukan sebagai
strategi pelestarian keanekaragaman hayati termasuk di dalamnya strategi untuk
melakukan
konservasi
terhadap
tumbuhan
adalah
menyelamatkan
keanekaragaman hayati yang ada, mempelajarinya dan menggunakannya secara
berkelanjutan dan seimbang. Dalam hal mempelajari, berarti mendokumentasikan
pengetahuan yang diperoleh dari apa yang dipelajari tentang suatu spesies
19
tumbuhan misalnya, dan memanfatkan pengetahuan tersebut untuk mendukung
pembangunan yang berkelanjutan.
Strategi konservasi sumber daya alam di era pelaksanaan otonomi daerah
saat ini, dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar
kawasan dengan membina perilaku produktif yang berwawasan lingkungan, serta
meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sumber daya alam tersebut,
hal tersebut dapat dilakukan dengan penyuluhan, pendidikan dan pelatihan
(Sudarmadji 2002).
3. Permasalahan Konservasi Tumbuhan
Hingga saat ini, spesies tumbuhan hutan tropika banyak memberikan
kontribusi terhadap kebutuhan manusia salah satunya terhadap kesehatan.
Sebagian besar bahan baku tumbuhan untuk keperluan tersebut merupakan hasil
panenan dari alam, di lain pihak kebutuhan akan bahan baku tersebut terusmenerus meningkat. Apabila upaya pelestarian tidak dilakukan, dikhawatirkan
akan terjadi kekurangan suplai bahan baku dan bahkan yang lebih parah adalah
akan terjadi pemanenan berlebihan yang berakibat pada kepunahan spesies
tumbuhan tertentu.
Penelitian dan informasi mengenai potensi, penyebaran, bioekologi dan
teknik penangkaran tumbuhan secara umum dan tumbuhan obat khususnya masih
sangat terbatas. Di lain pihak publikasi dan informasi mengenai hal tersebut
sangat diperlukan guna mendasari upaya pelestarian pemanfaatan dan
pengembangan usaha pemanfaatan tumbuhan obat khususnya melalui budidaya
jenis. Keadaan ini menunjukkan bahwa peran lembaga ilmiah sangat diperlukan
dan perlu ditingkatkan. Pemanfaatan plasma nutfah tumbuhan untuk berbagai
keperluan manusia perlu diimbangi dengan upaya konservasnya, baik secara insitu
maupun eksitu, agar tidak terjadi penurunan populasi dan keanekaragamannya
(Zuhud & Haryanto 1991).
Ancaman kelangkaan dan kepunahan spesies tumbuhan, terutama tumbuhan
obat, lebih dikarenakan sebagian besar dari tumbuhan obat merupakan tumbuhan
liar yang hidup di alam. Heyne (1950) dalam Zuhud dan Haryanto (1991),
mengidentifikasi sebanyak 1040 spesies tumbuhan obat/jamu di Indonesia
sebagian besar berasal dari tumbuhan berbiji, yang sebagian besar merupakan
20
tumbuhan liar yang hidup di alam. Permasalah berikutnya, bahwa bududaya untuk
jenis-jenis tersebut sebagian besar juga belum diketahui tekniknya dan belum
dilakukan budidaya, serta masih dipungut dari alam. Apabila laju pemungutan
langsung dari alam lebih cepat dari laju kemampuan alam untuk memulihkan
populasinya, maka akan kelangkaan dan kepunahan spesies tumbuhan tersbeut
tidak dapat dielakkan.
Permasalahan dalam konservasi tumbuhan secara umum, dan tumbuhan
obat khususnya adalah masalah budidaya tumbuhannya. Hingga saat ini belum
menggairahkan petani, disebabkan kurangnya informasi dan publikasi hasil
penelitian mengenai teknik budidaya serta belum adanya sistem pemasaran hasil
yang mantap. Selain itu penelitian sebagai upaya memperoleh data dasar yang
diperlukan bagi pelestarian pemanfaatan tumbuhan potensial mulai dari penelitian
bioekologi hingga teknik budidayanya dan eksplorasi bahan aktif yang berguna
belum dilakukan
secara intensif. Salah satu perusahaan farmasi menyatakan
bahwa penapisan (screening) tumbuhan potensial untuk memperoleh senyawa
yang berguna sangat mahal dan laju keberhasilannya rendah. Untuk mengatasi hal
tersebut maka kegiatan harus dipusatkan dan pada umumnya screening tumbuhan
potensial banyak dilakukan di luar negeri walaupun bahan tumbuhannya berasal
dari Indonesia (Zuhud & Haryanto 1991).
Keadaan yang dikemukakan di atas lebih memberikan gambaran mengenai
belum terjalinnya kerjasama yang saling menguntungkan antara masyarakat petani
dengan perusahaan asing yang memegang monopoli harga bahan baku dan
produknya. Selain itu budidaya tumbuhan obat dalam skala ekonomi belum
menjadi bagian kebudayaan
Indonesia.
dan kelembagaan para petani, khususnya di
Download