BAB I

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Akuntansi Transaksi Valuta Asing
1. Mata Uang Pelaporan
Berdasar PSAK No 52 (paragraph 3) dijelaskan bahwa terdapat
beberapa jenis mata uang :
a. Mata uang fungsional
Adalah mata uang utama dalam arti substansi ekonomi yaitu mata uang
utama yang dicerminkan dalam kegiatan operasi perusahaan.
b. Mata uang pelaporan
Adalah mata uang yang digunakan dalam menyajikan laporan
keuangan.
c. Mata uang pencatatan
Adalah
mata
uang
yang
digunakan
oleh
perusahaan
untuk
membukukan transaksi.
Pada umumnya, penyajian laporan keuangan di Indonesia digunakan
mata uang pelaporan Rupiah. Perusahaan yang menggunakan mata uang
asing (selain rupiah) sebagai mata uang pelaporannya maka mata uang
pelaporannya ditentukan berdasarkan mata uang fungsionalnya.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan mengenai penentuan
mata uang fungsional suatu perusahaan antara lain : indikator arus kas,
4
5
harga jual, pasar penjualan, biaya, pendanaan, transaksi dan perjanjian
dengan perusahaan afiliasi.
Jika mata uang fungsional telah ditentukan, maka mata uang ini harus
digunakan sebagai mata uang pelaporan secara konsisten. Keputusan untuk
merubah mata uang fungsional dilakukan jika memang ada perubahan
substansi ekonomik perusahaan. Perubahan harus dilakukan pada awal
tahun dan tidak diperbolehkan dilakukan ditengah – tengah tahun
pembukuan. Setelah adanya perubahan tersebut, mata uang fungsional
yang baru akan menjadi base currency pada pembukuan tahun berjalan
sedangkan mata uang selain mata uang fungsional yang baru akan menjadi
mata uang asing.
Namun jika penyajian dalam laporan keuangan sudah terlanjur
menggunakan mata uang pelaporan lama (sebelum adanya perubahan mata
uang pelaporan) maka yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan
laporan keuangan dapat digunakan metode restatement dan translation.
Dalam metode restatement yang selalu dimulai dari neraca, selisih
yang muncul disebut “rugi/laba pegukuran kembali” dan disajikan dalam
laporan laba rugi. Metode ini digunakan apabila mata uang fungsional
perusahaan tidak berubah, tetapi dalam penyajian laporan keuangan
(sebelum perubahan) perusahaan menggunakan mata uang pelaporan
Rupiah sedangkan pada tahun berjalan perusahaan menggunakan mata
uang fungsional.
6
Sedangkan untuk metode translation, selalu dimulai dari laporan laba
rugi. Dalam metode ini, selisih yang muncul dinamakan “rugi/laba
penjabaran kembali” dan disajikan pada bagian ekuitas pada neraca.
Metode inin digunakan apabila mata uang perusahaan berubah dan
perusahaan memilih untuk menyajikan laporan keuangan sesuai dengan
mata uang fungsional pada periode tersebut.
2. Pengertian Transaksi Valuta Asing
Transaksi valuta asing adalah suatu transaksi yang didenominasi dalam
mata uang selain mata uang pelaporan entitas (mata uang asing).
Transaksi mata uang asing akan timbul jika perusahaan melakukan
transaksi – transaksi sebagai berikut :
a. Membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi
dalam suatu mata uang asing.
b. Meminjam atau meminjamkan dana yang didenominasi dalam suatu
mata uang asing.
c. Menjadi suatu pihak untuk suatu perjanjian daam valuta asing yang
belum terlaksana.
d. Memperoleh atau melepaskan aktiva, menimbulkan atau melunasi
kewajiban, yang didenominasi dalam suatu mata uang asing.
3. Jenis Transaksi Yang Melibatkan Kurs Valuta Asing
Jenis transaksi yang melibatkan kurs valuta asing terbagi dalam
beberapa jenis antara lain :
7
a. Spot Transaction
Dilakukan melalui penyerahan valuta dalam dua hari kerja setelah
tanggal transaksi. Penyerahan valuta spot dalam dua hari kerja
dimaksudkan sebagai penghilang pembatas perbedaan waktu secara
geografis, sehingga valuta asal dan valuta asing dapat diperjuabelikan
dengan tanggal valuta yang sama.
b. Forward Transaction
Dilakukan dengan jangka waktu penyerahan lebih dari tujuh hari kerja,
dengan menggunakan kurs yang telah disepakati pada tanggal
transaksi. Kontrak yang mempunyai tanggal valuta lebih dari tujuh hari
disebut forward contract dimana akan dijumpai kurs transaksi pada
penutupan selalu lebih tinggi dari kurs spot. Perbedaan ini merupakan
antisipasi pergerakan kurs valuta asing yang dapat dilihat dari
perbedaan tingkat suku bunga masing – masing Negara.
c. Swap Transaction
Dilakukan melalui pertukaran dua valuta secara tunai dengan cara
penjualan kembali secara berjangka atau sebaliknya. Transaksi ini
merupakan sebuah kontrak arbitrage, artinya pembelian valuta asing
dilakukan dengan penjualan valuta asing lainnya. Dengan demikian
dalam hal ini akan dilakukan dua kontrak, yaitu pembelian valuta asing
dengan mata uang local yang sama. Secara singkat dapat dikatakan
bahwa transaksi ini merupakan perkiraan dua mata uang melalui
pembelian tunai (spot Buy) dan penjualan kembali secara berjangka
8
(Forward Sell) atau penjualan tunai (Spot Sell) dan pembelian kembali
berjangka (Forward Buy).
B. Pengertian Pajak
Pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro (Edisi Revisi
2008):
“Pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang – undang
(yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi)
yang langsung dapat ditunjukkan dan dapat digunakan untuk membayar
pengeluaran umum”
C. Asas dan Dasar Pemungutan Pajak
Dalam bukunya berjudul An Inquiri into the Nature and cause of the wealth
of
Nations karangan Adam Smith dinyatakan bahwa pemungutan pajak
hendaknya berdasarkan pada asas :
1. Equalilty
Pemungutan pajak harus bersifat final adil dan merata, yaitu dikenakan
kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan
membayar pajak (ability to pay) dan sesuai dengan manfaat yang diterima.
2. Certainty
Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenang-wenang. Oleh karena itu
wajib pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti pajak yang terutang,
kapan harus dibayar, serta batas waktu pembayaran.
9
3. Convenience
Kapan wajib pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan
saat-saat yang tidak menyulitkan wajib pajak. Sebagai contoh pada saat
Wajib Pajak memperoleh penghasilan. Sistem pemungutan ini disebut Pay
as You Earn.
4. Economy
Secara ekonomi bahwa biaya pemungutan dan biaya pemenuhan
kewajiban pajak bagi wajib pajak diharapkan seminim mungkin, demikian
pula beban yang dipikul wajib pajak.
D. Kedudukan Hukum Pajak
Wewenang dalam hal pemungutan pajak berada ditangan pemerintah
sebagaimana diatur dalam pasal 23 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945
(pengenaan dan pemungutan pajak untuk keperluan Negara berdasarkan Undangundang dimaksudkan bahwa pajak merupakan peralihan kekayaan dari
masyarakat ke pemerintah, untuk membiayai pengeluaran Negara dengan tidak
mendapatkan prestasi langsung).
Hukum pajak termasuk dalam hukum publik karena keseluruhan pengaturan
pajak ini menyangkut kepada hubungan antar Negara dengan orang pribadi atau
badan yang mempunyai kewajiban membayar pajak. Hubungan hukum pajak
dengan hukum pidana dapat dilihat dari adanya sanksi kepada mereka yang alpa
atau sengaja melanggar ketentuan perpajakan. Sedangkan hubungannya dengan
hukum perdata adalah bahwa hukum pajak mencari dasar kemungkinan
pemungutannya atas kejadian-kejadian, keadaan-keadaan, dan perbuatan-
10
perbuatan hukum yang bergerak dalam lingkungan perdata, seperti penghasilan,
kekayaan, perjanjian penyerahan hak, dan sebagainya.
E. Jenis Pajak
1. Pembagian Jenis Pajak
Pajak dapat digolongkan menjadi beberapa jenis (Mardiasmo; 5)
a. Menurut Sifatnya
1) Pajak Langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat
dilimpahkan kepada pihak lain, tetapi harus menjadi beban
langsung wajib pajak yang bersangkutan. Contoh : Pajak
Penghasilan.
2) Pajak Tidak langsung adalah pajak yang pembebanannya dapat
dilimpahkan kepada pihak lain. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai.
b. Menurut Sasaran / Objeknya
Pembagian pajak menurut sasaran / objeknya dimaksudkan pembedaan
dan pembagiannya berdasarkan ciri-ciri prinsip.
1) Pajak Subyektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan
pada subjeknya yang selanjutnya dicari syarat objektifnya, dalam
arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak
Penghasilan.
2) Pajak Obyektif, adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan
pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah.
11
c. Menurut Pemungutnya
1) Pajak Pusat, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara. Contoh : Pajak
Penghasilan, PAjak Pertambahan Nilai dan PAjak Penjualan Atas
BArang Mewah, Pajak Bumi dan BAngunan, dan Bea Materai.
2) Pajak Daerah, adalah pajak yangdipungut oleh pemerintah daerah
dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh :
Pajak Reklame, Pajak Hiburan dan lain-lain.
F. Sistem Pemungutan Pajak
Sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi :
a. Official assessment System
Adalah suatu system pemungutan pajak member wewenang kepada
pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak terutang.
Ciri-ciri Official Assesment System :
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada
fiskus.
2) Wajib pajak bersifat pasif.
3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh
fiskus.
12
b. Self assessment System
Adalah suatu system pemungutan yang member wewenang, kepercayaan,
tanggung jawab kepada wajib paja untuk menghitung, memperhitungkan,
membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.
c. Withholding System
Adalah suatu system pemungutah pajak yang memberi wewenang kepada
pihak ketiga untuk memungut besarnya pajak yang terutang oleh wajib
pajak.
G. Subjek Pajak Penghasilan Badan
Pengertian badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan
kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun yang tidak elakukan usaha yang
meliputi perseroan terbatas, perseroan koanditer, perseroan lainnya, BUMN,
BUMD dengan nama dan bentuk apapun.
Subjek Pajak Badan dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Subjek Pajak Badan Dalam Negeri
Subjek Pajak Badan Dalam Negeri adalah badan yang didirikan atau
bertempat kedudukan di Indonesia. Kewajiban pajak subjektifnya dimulai
pada saat badan tersebut didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia dan
berakhir pada saat badan tersebut dibubarkan atau tidak lagi bertempat
kedudukan di Indonesia.
2. Subjek Pajak Badan Luar Negeri
Subjek Pajak Badan Luar Negeri adalah badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang memperoleh atau menerima
13
penghasilan di Indonesia melalui BUT maupun tidak melewati BUT.
Kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat menjalankan usaha melalui
BUT ataupun pada saat menerima dan memperoleh penghasilan. Sedangkan
berakhirnya adalah pada saat tidak lagi menjalankan usaha di Indonesia
dengan melalui BUT atau tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan
di Indonesia.
H. Objek Pajak Penghasilan Badan
Secara prinsip, objek PPh Badan adalah penghasilan yaitu setiap tambahan
kemampuan ekonomis yang diterima oleh Wajib Pajak. Obyek PPh bagi Wajib
Pajak Badan dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Penghasilan Badan Dalam Negeri
Objek Pajak Badan Dalam Negeri adalah semua penghasilan yang diterima
atau diperoeh oleh badan tersebut dengan prinsip WWI (World Wide Income),
yang diterima baik dari dalam maupun luar negeri. Hal ini diatur dalam pasal
4 ayat (1) UU No. 17 tahun 2000 tentang pajak penghasilan.
2. Penghasilan Badan Luar Negeri (BUT maupun WP LN bukan BUT)
Penghasilan WP Badan Luar Negeri ada 2 macam yaitu :
a. Penghasilan WP BAdan Luar Negeri BUT
Objek pajak BUT diatur dalam pasal 5 UU PPh yaitu :
i.
Penghasilan dari usaha atau kegiatan BUT dari harta yang
dimiliki atau dikuasai.
ii.
Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan,
penjualan barang atau pemberian jasa di Indonesia yang
14
sejenis dengan yang dilakukan atau dijalankan oleh BUT
di Indonesia
iii.
Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam pasal 26 UU
PPh, yang diterima atau diperoleh kantor pusat, sepanjang
terdapat hubugan efektif antara BUT dengan harta atau
kegiatan yang memberikan penghasilan tersebut.
b. Penghasilan WP Badan Luar Negeri bukan BUT
Penghasilan WP Badan Luar Negeri Bukan BUT adalah
Penghasilan-penghasilan yang diterima atau diperoleh badan luar
negeri yang bukan berasal dari usaha atau kegiatan di Indonesia
tetapi berupa peghasilan modal (passive income).
I. Ketentuan Undang – undang tentang objek pajak
Berdasarkan Rancangan Undang-undang tentang perubahan Undangundang Pajak Penghasilan yang kemudian diundangkan sebagai Undang-undnga
nomor 10 Tahun 1994, Rancangan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1994
tersebut menambahkan sebagai contoh dari jenis penghasilan yang dikenakan
pajak adalah keuntungan karena selisih kurs mata uang asing atau valuta asing.
Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf I Undang-undang Pajak Penghasilan
membagi keuntungan karena selisih kurs tersebut menjadi dua berdasarkan
sebabnya :
i.
Keuntungan karena selisih kurs yang disebabkan oleh flutuasi kurs mata uang
asing.
15
ii.
Keuntungan selisih kurs sebagai akibat dari adanya kebijakan pemerintah di
bidang moneter.
Atas keuntungan selisih kurs mata uang asing, pengenaan pajaknya
dikaitkan dengan system pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak, asalkan
dipenuhi syarat, bahwa sistem pembukuan yang dianut oleh WP tersebut
diterapkan secara taat asas.
Jenis-jenis penghasilan yang diberi perlakuan khusus melalui penerbitan
PP atau keputusan Menteri Keuangan atau Keputusan Direktur Jenderal Pajak :
1) Bunga Deposito dan tabungan-tabungan lainnya
2) Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lain di bursa efek
3) Penghasilan dari pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan
4) Penghasilan tertentu lainnya.
J. Ketentuan Undang – undang tentang Perlakuan Pajak atas Selisih Kurs
Dari Lima unsur penghasilan yang dikenakan pajak, salah satunya adalah
unsure realisasi, yaitu bahwa tambahan kemamouan ekonomis wajib pajak
dikenakan pajak pada waktu tambahan kemampuan ekonomis itu diterima atau
diperoleh. Pengenaan pajak memperhatikan dasar akuntansi yang dipakai wajib
pajak secara taat asas. Bagi wajib pajak yang memakai dasar akuntansi
penerimaan pembayaran tunai, maka pengenaan pajak atas suatu penghasilan akan
dilakukan atas dasar penerimaan pembayaran peghasilan tersebut.
Pasal 4 ayat (1) Undangundang Pajak Penghasilan sebagai ketentuan
materiil hanya menyebutkan dua dasar akuntansi yang boleh dipakai oleh wajib
pajak untuk menghitung penghasilan yang menjadi objek pajak, yaitu :
16
1) Dasar akuntansi penerimaan pembayaran tunai (cash basis) dan,
2) Dasar akuntansi perolehan penghasilan (accrual basis)
Apabila dalam penyelenggaraan akuntansinya wajib pajak memakai dasar
akuntansi lain, maka akuntansi semaacam itu tidak boleh dipakai untuk
menghitung penghasilan yang dikenakan pajak.
Dalam akuntansi perpajakan dikenal juga suatu dasar akuntansi yang lain,
yaitu yang disebut dasar akuntansi nilai pasar atau “mark-to-market basis” yang
enghitung besarnya penghasilan yang akan dikenakan pajak atas dasar nilai pasar
ketika laporan keuangan wajib pajak disusun.
Dalam penjelasan Undang-undang Pajak Penghasilan berkenaan dengan
pasal 4 ayat (1) huruf I yang menyebut keuntungan karena selisih kurs valuta
asing, dijelaskan bahwa pengenaan pajak atas keuntungan selisih kurs valuta asing
itu dikaitkan dengan system pembukuan wajib pajak yang diterapkan secara taat
asas. Jadi apabila system pembukuan wajib pajak menerapkan pemakaian kurs
berdasarkan pasar, maka wajib pajak telah harus membayara pajak atas dasar
kenaikan nilai tukar mata uang asing yang belum dijual.
Oleh karena tariff PPh itu dinyatakan dalam mata uang rupiah, maka
tambahan kemampuan ekonomis yang merupakan penghasilan yang dikenakan
pajak itu harus diukur dengan rupiah.
K. Perlakuan Selisih kurs menurut Undang – undang pajak penghasilan
Perlakuan perpajakan atas selisih kursatau perlakuan perpajakan atas
perubahan nilai tukar merupakan perlakuan perpajakan yang menyangkut Objek
pajak,, karena perubahan nilai tukar mata uang asing itu dapat mengakibatkan
17
diterimanya atau diperolehnya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan
ekmamouan ekonomis ditentukan oleh Undang-undang Pajak Penghasilan sebagai
penghasilan yang merupakan Objek Pajak Penghasilan.
Perlakuan perpajakan atas perubahan nilan tukar atau kurs mata uang asing
yang dapat menjadi tambahan kemamouan ekonmis bagi wajib pajak diatur dalam
pasal 4 ayat (1) UU Pajak penghasilan.
Ketentuan pokok yang penting diatur dalam pasal 4 ayat (1) UUP
Penghasilan antara lain :
1. Objek pajak penghasilan adalah penghasilan
2. Penghasilan yang dikenakan pajak mempunyai unsure-unsur sebagai berikut :
a. Penghasilan pada hakekatnya adalah tambahan kemampuan ekonomis.
b. Penghasilan itu dikenakan pajak apabila telah menjadi realiasasi,, yaitu
diterima atau diperoleh wajib pajak.
c. Penghasilan yang dikenakan pajak meliputi semua penghasilan, baik yang
berasal dari sumber-sumber di Indonesia maupun yang berasal dari umbersumber penghasilan diluar di Indonesia.
d. Penghasilan yang dikenakan pajak tanpa menghiraukan penggunaanya,
baik yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, maupun
yang ditabung atau dibelanjakan sebagai investasi.
3. Jenis penghasilan sebagaimana yangrtermasuk penghasilan yang dikenakan
pajak :
1) Penghasilan dari usaha atau kegiatan
a) Laba usaha
18
b) Premi asuransi (yang diterima perusahaan asuransi)
c) Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang
terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas.
d) Hadiah dari pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan (yang diterima
badan).
2) Penghasilan dari modal awal atau investasi
a) Keutungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk :
1) Keuntungan
karena
pengalihan
harta
kepada
perseroan,
persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau
penyertaan modal.
2) Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan
lainnya karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu,
atau anggota.
3) Keuntungan
karena
likuidasi,
penggabungan,
peleburan,
pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha.
4) Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
sumbangan, kecuali yang diberikan pada keluarga sedarah dalam
garis keturunan lurus satu derajat, dan badan kegamaan atau badan
pendidikan atau badan social atau pengusaha kecil termasuk
koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak
ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau
penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
19
b) Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang.
c) Deviden, dengan nama dan bentuk apapun, termasuk deviden dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polios, dan pembagian sisa
hasil usaha koperasi.
d) Royalti
e) Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta.
3) Penghasilan lain-lain
a) Hadiah dari undian
b) Penerimaan kembali pembayaran pajak yangtelah dibebankan sebagai
biaya.
c) Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala.
d) Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah
tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
e) Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing.
f) Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva.
Berkenaan dengan tiga ketentuan pokok yang penting berkenaan dengan
kewajiban pajak objektif tersebut diatas, sepanjang berhubungan dengan
perlakuan perpajakan selisih atas keuntungan karena selisih kurs, dapat ditarik
kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :
1. Keuntungan karena selisih kurs merupakan salah satu jenis penghasilan yang
dikenakan pajak penghasilan.
20
2. Keuntungan karena selisih kurs sebagai suatu jenis penghasilan yang
dikenakan pajak juga sebagaimana jenis penghasilan yang dikenakan pajak
lainnya memounyai unsure sebagai berikut :
a. Keuntungan karena selisih kurs merupakan tambahan kemampuan ekonomis.
b. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing baru dikenakan pajak apabila
telah menjadi realisasi, yaitu telah diterima atau diperoleh wajib pajak.
c. Untuk wajib pajak dalam negeri Indonesia, keuntungan karena selisih kurs
mata uang asing itu meliputi seluruh keuntungan selisih kurs, baik yang
berasal dari Indonesia maupun yang berasal dari Negara-negara lain diluar
Indonesia.
d. Semua keuntungan selisih kurs mata uang asing itu dikenakan pajak tanpa
memperhatikan dipergunakan untuk apa, baik untuk memenuhi kebutuhan
ataupun ditabung lalu disalurkan untuk investasi.
e. Untuk mengenakan pajak atas keuntungan selisih kurs, nama yangdiberikan
dan bentuk yuridis yang dipilih adalah kurang penting. Yang menentukan
adalah kenyataan ekonominya, yaitu apa wajib pajak yang bersangkutan
menerima atau memperoleh tambahan kemampuan ekonomis, ataukah wajib
pajak mengalami pengurangan kemampuan ekonomis.
L. Biaya Ditinjau Dari Sudut Perpajakan
1. Pengertian biaya
Biaya adalah pengorbanan ekonomis untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan. Dalam rangka menghitung penghasilankena pajak
(taxable income) suatu badan usaha perseorangan.
21
Ketentuan yangmengatur perlakuan perpajakan atau kerugian karena selisih
kurs mata uang asing adalah Pasal 6 UUP penghasilan, yang lengkapnya berbunyi
sebagai berikut :
1. Besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk
usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi :
a. Biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan,
termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau
jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi dan tunjangan
yang diberikan dalam bentuk bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya
pengolahan limbah, piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, premi
asuransi, biaya administrasi dan pajak kecuali pajak penghasilan.
b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan
amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak atas biaya lain yang
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
c. Iuran kepada dana pension yang pendiriannya tekah disahkan Menteri
Keuangan.
d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan
digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan,
menagih dan memelihara penghasilan.
e. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing.
f. Biaya penelitian dan oengambangan perusahaan yang dilakukan di
Indonesia.
g. Biaya beasiswa, magang dan pelatihan.
22
2. Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) didapat kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan dengan
penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5
(lima) tahun.
3. Kepada orang pribadi sebagai wajib pajka dalam negeri diberikan
pengurangan berupa penghasilan tidak kena pajak sebagaimana dimaksud
dalam pasal 7.
M. Selisih Kurs
Definisi kurs menurut Dominick Salvatore (1997:10) adalah :
“Kurs merupakan salah satu harga yang terpenting dalam perekonomian yang
terbuka mengingat pengaruhnya yang demikian besar bagi neraca transaksi
berjalan maupun variabel – variabel makro ekonomi yang lainnya. Olh karena itu
kurs merupakan sebuah harga aktiva atau harga asset, sehingga prinsip – prinsip
pengaturan harga asset – asset lainnya juga berlaku dalam pengaturan harga kurs”.
Selain definisi kurs diatas juga terdapat definisi kurs menurut Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) No. 10 antara lain : “ Kurs adalah rasio pertukaran
dua mata uang”. Beberapa pengertian tentang kurs di atas menjelaskan bahwa
kurs merupakan perbandingan suatu mata uang dengan mata uang lainnya.
N. Masalah selisih kurs dalam peraturan pajak penghasilan
1. Transaksi Perdagangan luar negeri
Praktek pembukuan transaksi dalam valuta asing dapat dilaksanakan dengan dual
currency atau multiple currency system. Sistem pertama langsung membukukan
transaksi dengan functional currency (dalam hal ini rupiah). Sedangkan pada
23
system kedua, transaksi valuta asing dicatat untuk setiap valuta. Translasi
(konversi) satu mata uang ke mata uang yang lain dapat menimbulkan selisih kurs
valas.
Nilai tukar valuta, dalam pembukuan meliputi :
a. Kurs transaksi yaitu riil, yang terjadi pada saat terjadinya transaksi jual-beli,
pembayaran ataupun penutupan kontra.
b. Kurs neraca yaitu kurs yang terjadi pada saat pembukuan neraca.
PSAK No. 10 dalam buku SAK 1994 menyatakan transaksi dalam mata uang
asing dijabarkan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya transaksi. PSAK
tersebut menyatakan aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing
dijabarkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca.
Dengan adanya isi pernyataan tersebut, system pembukuan multiple currency
tampak kurang diikuti secara meluas dalam praktek akuntansi.
Untuk tujuan perpajakan ekspor dan impor dapat dilakukan dengan cara :
a. Pembayaran dimuka (advance payment)
b. Pembayaran kemudian (open account)
c. Konsinyasi (Consigment basis)
d. Letter of credit (L/C)
e. Inkaso (collection basis)
f. Barter dan tunai
2. Utang Piutang dengan valuta asing
Buku SAK 1994 menghendaki penilaian piutang moneter valas dengan
nilai tukar pada tanggal neraca. Ketentuan ini berlaku baik untuk hak dan
24
kewajiban lancar maupun jangka panjang. Selisih nilai tukar yang terjadi antartiap tanggl neraca dihitung sebagai rugi-laba beda kurs.
Untuk tujuan pajak, wajib pajak dapat melakukan pembukuan dengan
menggunakan kurs tetap dan kurs tanggal neraca. Persyaratan untuk kedua
teknik pembukuan tersebut adalah konsistensi. Jadi, bila perusahaan untuk
tujuan komersial membukukan utang piutang valasnya dengan nilai tukar pada
tanggal neraca dengan pengakuan laba-rugi selisih nilai tukar setiap akhir tahun
dan tentunya saat pelunasan, hal itu dapat diterima untuk tujuan perpajakan.
Begitu pula jika perusahaan memakai metode nilai tukar tetap (dalam hal ini
berbeda dengan praktek akuntansi komersial), hal ini dapat diterima untuk tujuan
perpajakan. Karena tarif pajak penghasilan progresif dengan konsekuensi
semakin besar penghasilan maka semakin tinggi pula tarif pajaknya. Untuk
tujuan efisiensi dan kesederhanaan pelaksanaan pembukuan dan penghematan
biaya serta tenaga, rasanya perusahaan akan lebih baik mencatat berdasarkan
nilai tukar pada akhir tahun yang dapat dipakai sekaligus untuk tujuan ganda,
yaitu praktek akuntansi komersial dan perpajakan.
3. Perlakuan pajak atas selisih kurs
Pasal 4 ayat (1) huruf I Undang-undang Nomor 17 tahun 2000 tentang Pajak
Penghasilan bahwa keuntungan karena selisih kurs mata uang asing merupakan
objek PPh. Selanjutnya dalam pasal 6 ayat (1) huruf e, kerugian yng diakibatkan
oleh selisih kurs mata uang asing merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto (deductible). Keuntungan tersebut dapat disebabkan adanya
fluktuasi kurs mata uang asing atau kebijakan dibidang moneter. Hal pengenaan
25
pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan perusahaan yang dilakukan dengan
taat asas (konsistensi). Demikian pula dengan fluktuasi kurs sehari-hari yang
menyebabkan kerugian.
Apabila wajib menggunakan sistem pembukuan berdasar kurs tetap,
pembebanan kerugian selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya realisasi atas
perkiraan mata uang asing tersebut. Apabila wajib pajak menggunakan sistem
pembukuan berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya
berlaku pada akhir tahun, maka pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun
berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia yang sebenarnya berlaku pada akhir
tahun.
Contoh kasus adanya perlakuan selisih kurs atas transaksi adalah sebagai
berikut :
PT. ABC bergerak dibidang asuransi dengan sumber utama penghasilan adalah
premi yang diterima dari tertanggung. Dana yang dikumpulkan dari premi
dinvestasikan dalam bentuk deposito dalam mata uang asing maupun rupiah. PT.
ABC menggunakan sistem pembukuan berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia
yang ditetapkan secara taat azas.
Sehubungan dengan deposito dalam mata uang asing, terdapat 2 (dua) jenis
penghasilan yang berbeda, yaitu :
1. Bunga deposito (telah dipotong PPh final oleh bank)
2. Keuntungan / kerugian selisih kurs akibat fluktuasi mata uang asing terhadap
pokok deposito
26
Sehubungan dengan selisih kurs yang timbul karena fluktuasi kurs atas pokok
deposito dalam valas, yang menjadi pertanyaan adalah sebagai berikut:
1. Apakah dalam hal terjadi kerugian selisih kurs akibat fluktuasi kurs, kerugian
selisih kurs tersebut dapat dikurangkan sebagai biaya ? Mengingat bahwa
kerugian selisih kurs tidak ada kaitannya dengan bunga deposito yang telah
dikenakan PPh final
2. Apakah keuntungan selisih kurs tersebut merupakan objek pajak ?
3. Kapan pengakuan / pembebanan selisih kurs tersebut ?
Dari contoh kasus tersebut, dapat berikan penjabaran sebaagai berikut :
1. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) huruf I UU PPh Nomor 17 Tahun 2000 antara
lain diatur bahwa : keuntungan selisih kurs mata uang asing termasuk
penghasilan yang menjadi objek Pajak Penghasilan dan pengenaan pajaknya
dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak secara taat
azas.
2. Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) huruf e UU PPh Nomor 17 Tahun 2000 diatur
bahwa : kerugian dari selisih kurs mata uang asing merupakan unsur
pengurang penghasilan bruto.
3. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 tentang Pajak
Penghasilan atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat
Bank Indonesia : atas penghasilan berupa bunga yang berasal dari deposito
dipotong Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 20% (dua puluh
persen) dari jumlah bruto.
27
4. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-03/PJ.31/1997
tanggal 13 Agustus 1997 tentang Perlakuan Pajak Penghasilan Terhadap
Selisih kurs antara lain ditegaskan hal-hal sebagai berikut:
a. Kerugian selisih kurs, mata uang asing yang disebabkan oleh fluktuasi
kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan sistem pembukuan yang
dianut, dan harus dilakukan secara taat asas. Apabila Wajib Pajak
menggunakan sistem pembukuan berdasarkan:
1. Kurs tetap, pembebanan selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya
realisasi perkiraan mata uang asing tersebut.
2. Kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada
akhir tahun, pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun
berdasarkan kurs tengah bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya
berlaku pada akhir tahun.
b. Kerugian yang terjadi karena selisih kurs, dapat diakui sebagai pengurang
penghasilan sepanjang Wajib Pajak tersebut mempunyai sistem
pembukuan yang diselenggarakan secara taat asas, sesuai dengan bukti
dan keadaan yang sebenarnya, dan dalam rangka kegiatan usahanya atau
berkaitan dengan usahanya.
Sehingga dapat ditarik kesimpulaan sebagai berikut :
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas, dengan ini dapat disimpulkan bahwa:
1. Kerugian selisih kurs yang melekat pada pokok simpanan deposito dapat
dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto sesuai Pasal 6 ayat (1) huruf
e Undang-undang Pajak Penghasilan.
28
2. Keuntungan selisih kurs yang melekat pada pokok simpanan deposito
perlakuannya sesuai dengan ketentuan Pasal 4 ayat (1) huruf I Undangundang Pajak Penghasilan yakni diperhitungkan dalam Penghasilan Kena
Pajak yang dikenakan tarif sesuai Pasal 17 Undang-undang Pajak Penghasilan
dan didasarkan atas metode pembukuan yang dianut Wajib Pajak secara taat
azas.
3. PT. ABC, sesuai dengan pembukuan yang dilakukannya, maka pengakuan /
pembebanan selisih kurs tersebut dilakukan setiap akhir tahun.
O. Ketentuan Pelaksanaan
Berkenaan dengan dua ketentuan tersebut diatas, yaitu Pasal 4 ayat (1) dan
Pasal 6 Undang-undang Pajak Penghasilan, pada tanggal 13 Agustus 1997
Direktur
Jendral
Pajak
menerbitkan
SE-03/PJ.31/1997
yang
berbunyi
selengkapnya sebagai berikut :
Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenai perlakuan Pajak
Penghasilan terhadap selisih kurs, dengan ini diberikan penegasan sebagai
berikut :
1. Berdasarkan Undang-undang nomor 7 Tahun 1983 tentang pajak penghasilan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun
1994 :
a. Pasal 4 ayat (1) huruf I, keuntungan selisih kurs mata uang asing termasuk
penghasilan yang menjadi objek pjak penghasilan, pengenaan pajaknya
dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh wajib pajak dengan
syarat dilakukan secara taat asas. Oleh karena itu keuntungan selisih kurs
29
yang diperoleh wajib pajak badan mauoun orang pribadi harus dilaporkan
dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.
b. Pasal 6 ayat (1) huruf e, kerugian selisih kurs mata uang asing merupakan
unssur pengurangan penghasilan bruto. Kerugian selisih kurs mata uang
asing akibat flukstuasi kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan
pembukuan yang dianut oleh wajib pajak dan dilakukan secara taat azas.
Apabila wajib pajak menggunakan sistem pembukuan berdasarkan :
1) Kurs tetap, pembebanan selsih kurs dilakukan pada saat terjadinya
realisasi perkiraan mata uang asing tersebut.
2) Kus tengah Bank Indonesia atau Kurs yang sebenarnya berlaku akhir
tahun, pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan
kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada
akhir tahun.
2. Kerugian yang terjadi karena selisih kurs, dapat diakui sebagai pengurangan
penghasilan sepanjang wajib pajak tersebut mempunyai sistem pembukuan
yang diselenggarakan secara taat asas, sesuai dengan bukti dan keadaan yang
sebenarnya, dan dalam rangka kegiatan usahanya atau beraitan dengan
usahanya.
3. Bagi wajib pajak orang pribadi yang memilih mempergunakan norma
perhitungan pernghasilan netto sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 ayat
(2) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata
cara perpajakan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 9
30
Tahun 1994, kerugian karena selisih kurs tidak dapat diakui sebagai
pengurangan penghasilan.
Oleh karena masih banyak pertanyaan yang diajukan kepada Dirjen Pajak
tentang perlakuan perpajakan atas penghasilan berupa keuntungan dari seliih kurs,
khususnya berkenaan dengan penghasilan tidak teratur, pada tanggal 5 Agustus
1998 Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SE-24/PJ.42/1998 yang selengkapnya
berbunyi sebagai berikut :
Sehubungan dengan masih banyaknya pertanyaan dari Wajib Pajak khusunya
mengenai pernghasilan tidak teratur atas keuntungan dari selisih kurs dengan ini
diberikan penegasan sebagai berikut :
1. Berdasarkan butir 1 huruf a Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor :
SE-03/PJ.31/1997 tanggal 13 Agustus 1997 ditetapkan bahwa keuntungan
selisih kurs mata uang asing termasuk penghasilan yang menjadi Objek Pajak
Penghasilan. Pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan yang
dianut oleh Wajib Pajak dengan syarat dilakukan secara taat azas. Oleh
karena itu keuntungan selisih kurs yang diperoleh Wajib Pajak badan maupun
orang pribadi harus dilaporkan dala SPT Tahunan Pajak Penghasilan.
2. Berdasarkan penjelasan diatas dan mengingat dalam jangka panjang kurs
selalu mengalami kenaikan /penurunan, maka keunungan selisih kurs tersebut
harus diperlakukan sebagai penghasilan teratur dan harus dimasukkan sebagai
penghasilan dalam menghitung Pajak Penghasilan terutang yang akan
digunakan sebagai dasar penghitungan besarnya angsuran Pajak Penghasilan
Pasal 25.
31
3. Apabila sesudah 4 (empat) bulan atau lebih berjaalnnya suatu tahun pajak,
wajib pajak dapat menunjukkan bahwa Penghasilan yang akan terutang untuk
tahun pajak yang bersangkutan kuraang dari 75% (tujuh puluh lima persen)
dari pajak penghasilan yang terutang yang menjadi dasar perhitungan
besarnya pajak penghasilan pasal 25, Wajib Pajak dapat mengajukan
pemohonan pengurangan besarnya pajak penghasilan pasal 25 kepada KPP
tempat wajib pajak terdaftar sesuai dengan keputusan Direktur Jenderal Pajak
Nomor : KEP-03/PJ./1995 tanggal 9 Januari 1995.
Direktur Jenderal Pajak kembali memberi penegasan lebih lanjut mengenai
perlakuam PPh terhadap selisih kurs valuta asing dalam SE-46/PJ.43/1998
tanggal 31 Desember 1998 yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut :
Sehubungan dengan masih banyaknya pertanyaan yang diajukan berkaitan
dengan perlakuan PPh terhadap selisih kurs valuta asing, maka dengan ini
diberikan penjelasan lebih lanjut sebagai berikut :
1. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 597/KMK.04/1997 tanggal 21
November 1997 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE
16/PJ.43/1997 tanggal 27 November 1997 (keduanya tentang perlakuan pajak
penghasilan terhadap selisih kurs valuta asing dalam tahun 1997) hanya
berlaku untuk tahun pajak 1997.
2. Untuk tahun pajak 1998 dan seterusnya demikian juga tahun pajak 2006 dan
tahun-tahun pajak sebelumnya, ketentuan perpajakan yang menyangkut
perlakuan PPh atas selisih kurs yang sampai saat ini masih berlaku adalah :
32
a. Surat edaran Direktu Jenderal Pajak Nomor SE-03/PJ.31/1997 tanggal 1
Agustus 1997 yang mengatur perlakuan Pajak Penghasilan dalam hal
wajib pajak memperoleh keuntungan atau kerugian karena selisih kurs.
b. Surat edaran Direktu Jenderal Pajak Nomor SE-24/PJ.42/1998 tanggal 5
Agustus 1998 yang mengatur tentang perlakuan pajak penghasilan dalam
hal wajib pajak memperoleh keuntungan karena selisih kurs dan dalam
kaitannya dengan penghitungan besarnya angsuran pajak penghasilan
pasal 25.
SE-03/PJ.31/1997 dijelaskan lebih lanjut dalam SE-04/PJ.42/1999 yang
berbunyi selengkapnya sebagai berikut :
Sehubungan dengan masih adanya pihak-pihak yang menanyakan tentang
penggunan nilai kurs tetap buku tahub pajak 1997 berkenaan dengan
dikeluarkannya nilai kurs tengah oleh Bank Indonesia pada tanggal 31 Desember
1997 dan adanya kurs yang sebenarnya berlaku, dengan ini diberikan penjelasan
sebagai berikut :
1. Berdasarkan penjelasan pasal 4 ayat (1) huruf I dan pasal 1 huruf e Undangundang Nomor 7 tahun 1983 tentang pajak penghasilan sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1994, antara lain
diatur bahwa pengakuan keuntungan maupun kerugian selisih kurs mata uang
asing yang disebabkan oleh fluktuasi kurs dilakukan berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut dan harus dilakukan secara taat azas.
33
2. Wajib Pajak dapat menggunakan sistem pembukuan berdasarkan kurs tetap
maupun menggunakan sistem pembukuan berdasarkan kurs tengah Bank
Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun.
3. Dalam hal wajib pajak telah menggunakan sistem pembukuan berdasarkan
kurs tengah Bank Indonesia, maka wajib pajak harus menggunakan kurs
tengah Bank Indonesia per tanggal 31 Desember, karena pada tanggal
tersebut Bank Indonesia telah mentapkan kurs konversi.
Download