Pelemahan Rupiah Tidak Banyak Untungkan Eksportir

advertisement
Universitas Muhammadiyah Malang
www.umm.ac.id
Pelemahan Rupiah Tidak Banyak Untungkan Eksportir
Koran Jakarta : Kamis, 2014-12-18 | 00:06 WIB
JAKARTA – Eksportir Indonesia, khususnya komoditas nonmigas, dinilai tidak banyak mendapatkan manfaat dari
pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS belakangan ini.
Pasalnya, industri manufaktur nasional memiliki kelemahan berupa asupan bahan baku impor terlalu tinggi. Hal itu
antara lain merupakan buah dari pertumbuhan ekonomi tidak berkualitas yang dihasilkan pemerintahan lalu yang justru
memperkecil peran sektor manufaktur, pertanian, dan perikanan.
Oleh karena itu, selama fundamental ekonomi Indonesia masih rapuh, terutama akibat kondisi fiskal yang tidak sehat
karena kebergantungan pada utang dan pembayaran bunga obligasi rekapitalisasi perbankan eks Bantuan Likuiditas
Bank Indonesia (BLBI), maka selama itu pula mata uang RI rawan gejolak dari faktor eksternal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya, Malang, Chandra Fajri Ananda, mengatakan industri nasional akan
gagal memanfaatkan penguatan dollar AS untuk menggenjot ekspor karena lemahnya fundamental ekonomi Indonesia.
“Penguatan dollar AS kali ini terjadi pada hampir semua negara emerging market, tidak hanya rupiah. Seharusnya
momen ini dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor karena barang kita akan tampak murah, namun itu akan sulit
terjadi karena lemahnya sektor riil kita,” jelas dia ketika dihubungi, Rabu (17/12).
Menurut Chandra, struktur industri nasional yang kurang kokoh merupakan buntut dari kebijakan salah pemerintah
sebelumnya. “Pemerintah selalu memudahkan impor untuk memenuhi konsumsi nasional. Akibatnya, impor pangan
meningkat, impor migas meningkat, hingga impor komponen produk untuk ekspor juga meningkat,” papar dia.
Kondisi itu memicu defisit neraca perdagangan sejak 2012 akibat empat faktor utama, yakni permintaan ekspor
tertekan akibat krisis ekonomi global, harga komoditas primer andalan ekspor Indonesia anjlok, impor membengkak
karena sebagian bahan baku sektor industri tidak berbasis sumber daya domestik, dan kenaikan impor BBM karena
permintaan domestik yang terus meningkat, sementara produksi dalam negeri turun.
Mudah Goyah
Akibat pemerintah mengabaikan penguatan sektor riil, maka daya saing global produk nasional melemah, infrastruktur
untuk industri bernilai tambah minim, dan kebijakan industri serta perdagangan menjadi tidak unggulan.
“Selama ini pemerintah cuma pandai mengutak- atik anggaran agar tidak defisit tapi tidak cakap mencari tambahan
pendapatan selain pajak. Selalu utang yang menjadi andalan sehingga, ketika perekonomian negara-negara maju
membaik, maka perekonomian Indonesia menjadi mudah goyah,” ungkap Chandra.
Menurut dia, pada kondisi sekarang ini, hanya satu cara yang bisa dilakukan pemerintah, yakni mencegah terjadinya
kepanikan. “Pemerintah mesti menjaga agar jatuhnya rupiah tidak terlalu drastis karena pada level psikologis tertentu
akan menimbulkan dampak yang besar dan memengaruhi kepercayaan pasar,” papar dia.
Pada Rabu, Bloomberg melaporkan nilai tukar rupiah berhasil menguat di penutupan perdagangan, dan ditutup 57 poin
lebih tinggi ke level 12.667 rupiah per dollar AS. Sedangkan BI mencatat kurs tengah rupiah mencapai 12.720 per
dollar AS.
Sebelumnya, ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ahmad Maruf, menyatakan guna mengurangi tekanan
depresiasi dan memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, pemerintah diminta menyehatkan kondisi fiskal
negara.
Dalam jangka menengah, kebijakan yang mesti ditempuh adalah melaksanakan hak tagih kepada obligor BLBI yang
belum melunasi utangnya. Bersamaan dengan langkah itu, pemerintah bisa menerapkan kebijakan tegas, yakni
moratorium pembayaran bunga obligasi rekapitalisasi perbankan eks BLBI.
Sementara itu, saat membuka rapat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pelemahan rupiah terhadap dollar
masih lebih baik dibandingkan mata uang lain.
page 1 / 2
Universitas Muhammadiyah Malang
www.umm.ac.id
“Kita bisa lihat bahwa negara kita dibandingkan dengan Jepang, Malaysia, hingga Rusia, kita berada di dalam posisi
yang baik,” jelasnya.
Kesempatan itu, kata Presiden, harus mendorong industri yang berorientasi ekspor bisa bergerak lebih cepat.
“Sehingga bisa mengambil keuntungan dari posisi pelemahan rupiah ini,” jelasnya. Selanjutnya, Presiden meminta
kementerian terkait menyinkronkan kebijakan dengan BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
page 2 / 2
Download