perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tanaman Jeruk Siam
Tanaman jeruk (Citrus sp.) merupakan tanaman tahunan yang berasal dari
Asia Tenggara terutama Cina. Sejak ratusan tahun yang lampau, tanaman ini
sudah terdapat di Indonesia, baik sebagai tanaman liar maupun sebagai tanaman
di pekarangan. Tanaman jeruk yang dibudidayakan di Indonesia juga telah
dibudidayakan di negara-negara tropis lainnya. Namun sejarah dari tanaman jeruk
yang berada di Indonesia sendiri tidak begitu jelas adanya. Jeruk merupakan buah
terpenting ketiga di Indonesia setelah pisang dan mangga, sedangkan di dunia,
jeruk merupakan buah yang popular setelah anggur (Anonim , 2011).
Jeruk adalah buah-buahan yang nilai gizinya cukup tinggi dan memberi
penghasilan yang tidak sedikit artinya bila diusahakan secara sungguh-sungguh.
Di samping itu buah jeruk merupakan salah satu bahan makanan tambahan yang
mengandung zat-zat pengatur proses dalam tubuh manusia yang setiap hari
mutlak dibutuhkan dan makin digemari masyarakat (Joesoef, 1993).
Tanaman jeruk tersebar di seluruh Indonesia, dengan sentra produksi
utama terdapat di Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan
Selatan, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Sekitar 70-80% jenis jeruk yang
dikembangkan petani masih merupakan jeruk siam, sedangkan jenis lainnya
merupakan jeruk keprok dan pamelo unggulan daerah seperti keprok Garut dari
Jawa Barat, keprok Sioumpu dari Sulawesi Tenggara, keprok Tejakula dari Bali,
dan keprok Kacang dari Sumatera Barat, pamelo Nambangan dari Jatim dan
Pangkajene merah dan Putih dari Sulawesi Selatan, sedangkan jeruk nipis banyak
diusahakan di Jawa Timur dan Kalimantan Timur (Anonim 2012).
commit5 to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
6
Klasifikasi jeruk siam banjar:
Divisi
: Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Rutales
Keluarga : Rutaceae
Genus
: Citrus
Spesies
: Citrus nobilis
Varietas : Citrus nobilis LOUR Var. Microcarpa Hassk.
1. Morfologi
a. Akar tanaman jeruk mempunyai akar tunggang berfungsi untuk menyerap
mineral dan zat hara yang diperlukan dalam pertumbuhan dan sebagai
penopang tubuh tanaman jeruk.
b. Pohon jeruk siam pada umumnya berbentuk bulat, berbatang rendah,
tinggi 2-8 m, cabangnya banyak dengan lingkar cabang 12-36 cm.
c. Daun jeruk berwarna hijau tua dan tidak meranggas. Posisi daun
berhadapan atau berseling. Tangkai daun bersayap atau tidak bersayap
dan permukaan daun berkelenjar minyak yang transparan.
d. Bunga tanaman jeruk mempunyai bunga majemuk yang terletak diketiak
daun atau di ujung cabang. Tangkai bunga kecil-kecil dan berdaun harum,
pendek, daun pelindung kecil, kelopak daun berbentuk cawan dan bulat
telur.
e. Bakal buah menumpang, bentuknya bulat dan elips, buah jeruk tergolong
buah sejati, tungal dan berdaging. Bau buah jeruk sangat menyengat
karena mengandung minyak atsiri (Soelarso. 1996).
Berbagai macam jenis jeruk siam (Citrus nobilis LOUR) dikenal di
Indonesia, diantaranya yang banyak dipasaran adalah siam madu, siam pontianak,
dan siam banjar. Selain memiliki nama yang berbeda di setiap daerah, jeruk siam
yang ada juga memperlihatkan banyak perbedaan yaitu adanya keragaman dalam
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
7
warna kulit buah (dari hijau tua hingga kuning cerah) dan ketebalan kulit buah.
Keragaman yang ada merupakan suatu kekayaan dalam plasma nutfah perjerukan
nasional. Namun jika keragaman ini bukanlah perwujudan dari keragaman secara
genetik maka akan menimbulkan kerancuan dalam kegiatan perbenihan jeruk,
mengingat sumber bibit yang digunakan petani di sentra-sentra jeruk siam
nasional saling berkaitan satu sama lain. Untuk itu, perlu dilakukan karakterisasi
baik secara morfologis maupun genetik terhadap keragaman jeruk siam yang ada
dalam upaya mendukung kegiatan perbenihannya. (Anonim 2012).
Jeruk siam merupakan anggota jeruk keprok yang mempunyai nama
ilmiah Citrus nobilis var. Microcarpa. Dinamakan jeruk siam karena memang
berasal dari Siam (Muangthai). Dinegeri asalnya jeruk ini dikenal dengan
nama som kin wan. Sampai saat ini sebenarnya belum ada data resmi tentang
kapan dan dimana tepatnya jeruk siam pertama kali didatangkan ke Indonesia.
Budidaya jeruk siam di Kalimantan Barat mulai dirintis pada tahun 1940 di
Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, oleh seorang warga negara asing
(Cina). Kemudian usaha budidaya ini diteruskan oleh H.A. Rani dan Lim Kun Sin
di Desa Bekut, Kecamatan Tebas. Sampai sekarang daerah ini menjadi sentral
produksi jeruk siam di Kalimantan Barat (Anonim 2012).
Berbagai macam jeruk siam ditemukan di Indonesia, diantaranya yang
terkenal adalah Siam Madu, Siam Pontianak, dan Siam Banjar. Disamping itu
terdapat juga macam jeruk siam lainnya yang berasal dari berbagai daerah di
Indonesia. Fenomena yang dapat dilihat dari jeruk siam yang ada di Indonesia
saat ini yaitu adanya keragaman dalam warna kulit buah (dari hijau tua hingga
kuning cerah), ketebalan kulit buah, dan nama yang berbeda di setiap daerah
(Chaireni, 2012). Keanekaragaman beberapa jenis jeruk siam di Indonesia dapat
dilihat pada Tabel 2.1.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
8
Tabel 2.1 Kondisi Keanekaragaman Beberapa Jenis Jeruk Siam di Indonesia
No
Jenis jeruk Siam
Warna Kulit Buah
Warna Daging
Matang
Buah
Rasa Bauh
1
Siam Pontianak
Hijau Kekuningan Orange Kemerahan
Manis
2
Siam Medan/Madu
Kuning
Manis
3
Siam Banjar
Hijau Kekuningan Orange Cerah
Manis Segar
4
Siam Kintamani
Kuning Kehijauan Orange
Manis Segar
5
Siam Ponorogo
Hijau Kekuningan Orange Pucat
Manis Segar
6
Siam Jember
Hijau Kekuningan Orange
Manis Segar
7
Siam Mamuju
Hijau
Manis Segar
Orange Cerah
Orange Kemerahan
Sumber : Hasil Penelitian Chaireni, 2012
Jeruk Siam Banjar tergolong kedalam tanaman keras/tahunan (paranual),
berupa pohon (arbor), tinggi 6-10 m. Ranting berduri. Percabangan cukup banyak,
membentuk mahkota pohon yang bulat. Daun berbentuk bulat telur (ellips), ujung
runcing, berwarna hijau tua mengkilat. Tangkai daun bersayap. Mahkota bunga
berwarna putih, dengan 20-30 buah benangsari. Buah berbentuk bulat, daging
buah oranye berupa gelembung yang bersatu satu dengan yang lain. Biji
berbentuk bulat telur, berwarna putih, bersifat poliembrional. Buah jeruk
mengandung 77-92% air, gula 2-15%, protein 1- 2%, asam sitrat 1-2%. Jeruk
siam Banjar, cukup adaptif di tanaman pada lahan rawa pasang surut maupun
lahan rawa lebak. Di lahan rawa di tanaman dalam bentuk tukungan atau surjan
diantara pertanaman padi. Jeruk siam Banjar yang dibudidayakan di pasang surut
tipe A, rasanya lebih manis, kulit buah lebih tipis dan lebih berair
(Anonim ˡ, 2009)
B. Syarat Tumbuh
1. Ketinggian Tempat
Jeruk dapat tumbuh di dataran rendah (lahan basah) dan dataran tinggi.
Jeruk dapat tumbuh dengan baik pada elevasi 800-1500 meter dpl. Pada
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
9
ketinggian di atas 900 m dpl rasanya asam. Namun jenis jeruk siam tertentu
seperti jeruk tebas tumbuh dengan baik di Kalimantan pada elevasi 100 m dpl.
Jeruk siam Banjar memerlukan ketinggian tempat yang hampir sama dengan
daerah asalnya. Di Muangthai jeruk ini ditanam di dataran rendah. Hal ini,
berlaku juga di Indonesia, untuk mendapatkan hasil terbaik jeruk sebaiknya
ditanam pada ketinggian kurang dari 700 m dpl (diatas permukaan laut)
(Anonim , 2007).
2. Kondisi Tanah
Kebun jeruk siam Banjar tidak boleh tertutup oleh genangan air.
Karenanya kebun jeruk untuk lahan basah perlu dibuat drainase. Untuk daerah
pasang surut dibuat baluran (bedengan) dengan ukuran tinggi 0,5 meter dan
lebar 3 meter dan panjangnya menurut petakan lahan. Setiap 1 ha lahan
dengan sistem bedengan dapat ditanami jeruk sebanyak 278 pohon. Di areal
sawah bisa ditanami jeruk dengan cara membuat gundukan seluas 1 m²
dengan tinggi 50 - 60 cm.
a. Tanah yang baik adalah lempung sampai lempung berpasir dengan fraksi
liat 7-27%, debu 25-50% dan pasir < 50%, cukup humus, tata air dan
udara baik.
b. Air tanah yang optimal berada pada kedalaman 150–200 cm di bawah
permukaan tanah. Pada musim kemarau 150 cm dan pada musim hujan 50
cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung garam sekitar 10%.
c. Jenis tanah Andosol dan Latosol sangat cocok untuk budidaya jeruk.
d. Derajat keasaman tanah (pH tanah) yang cocok untuk budidaya jeruk
adalah 5,5– 6,5 dengan pH optimum 6.
e. Tanaman jeruk dapat tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki
kemiringan sekitar 30˚ (Anonim , 2007).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
10
3. Iklim
Kecepatan angin yang lebih dari 40 - 48% akan merontokkan bunga
dan buah. Untuk daerah yang intensitas dan kecepatan anginnya tinggi
tanaman penahan angin lebih baik ditanam berderet tegak lurus dengan arah
angin. Tergantung pada spesiesnya, jeruk siam Banjar memerlukan 5-6, 6-7
atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan basah ini diperlukan untuk
perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap lembab. Di Indonesia
tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup terutama di bulan JuliAgustus. Temperatur optimal antara 25-30ºC namun ada yang masih dapat
tumbuh normal pada 38ºC. Jeruk siam Banjar memerlukan temperatur 20ºC.
Semua jenis jeruk tidak menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari.
Kelembaban optimum untuk pertumbuhan tanaman ini sekitar 70-80%
(AAK, 1992).
Tanaman jeruk siam Banjar membutuhkan banyak penyinaran
matahari, yaitu sekitar 50-70%. Keadaan udara yang lembab akan
menimbulkan lebih banyak penyakit cendawan, sebaliknya keadaan udara
yang kering akan menimbulkan lebih banyak serangan hama terutama scale
insect (kutu perisai) dan kutu penghisap lainnya. Di daerah-daerah jeruk di
Indonesia rata kelembabannya berkisar 50-85% dan 70-80% (Joesoef, 1993).
4. Curah Hujan
Curah hujan 1000 mm sampai 2000 mm bila merata sepanjang tahun
merupakan curah hujan ideal karena bisa memelihara kelembaban tanah
sepanjang tahun pada kebun jeruk. Pada umumnya curah hujan di Indonesia
lebih dari 2000 mm, ada pula yang melebihi 3000 mm, tetapi seringkali tidak
merata. Ada beberapa bulan kering, maka perlu penyiraman dan pemberian
mulsa, misalnya jerami, daun bambu, dan daun kelapa, atau lainnya untuk
mempertahankan kelembaban tanah jangan sampai banyak air yang menguap
(Pracaya, 2009).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
11
C. Okulasi
Perbanyakan tanaman jeruk siam Banjar dapat dilakukan secara generatif
dan vegetatif. Cara generatif dilakukan dengan menanam bijinya, sedang cara
vegetatif dapat dilakukan melalui cangkokan, setek, penempelan (okulasi) atau
penyambungan (grafting) Perbanyakan dari biji jarang dilakukan karena dapat
mengakibatkan selain buahnya tidak sama dengan induknya juga memiliki sifat
juvenile atau masa tunggu berbuah lebih lama (Anonim , 2013).
Okulasi merupakan suatu tindakan memasukan, menempatkan atau
menyambung bagian dari suatu tanaman ke bagian tanaman lain sedemikian rupa
sehingga akan tercapai persenyawaan dan kombinasi ini terus tumbuh
membentuk tanaman baru yang memiliki penampilan yang akan lebih indah
(Diyan, 2009).
Penyambungan antara dua tanaman yang serasi akan menghasilkan
tanaman yang kuat dan berumur panjang. Nurzaini (1997) menyatakan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi okulasi adalah fisiologi tanaman, kesehatan
batang bawah, kondisi kulit batang bawah, iklim pada saat okulasi berlangsung,
dan juga faktor teknis seperti keterampilan dan keahlian dalam pelaksanaan
okulasi serta peralatan yang dipergunakan.
Keuntungan dari memperbanyak dengan cara okulasi dan sambungan
ialah, bahwa kita dapat membuat bibit dalam jumlah yang banyak dan dalam
waktu yang relatif singkat (Joesoef, 1993).
Kekurangan dan kerugian dari pembiakan vegetatif adalah biasanya
tanaman yang berfungsi sebagai tanaman induk mudah rusak. Jumlah biji yang
diperoleh terbatas, perakaran tanaman hasil biakan vegetatif kurang, dan umur
tanaman lebih pendek (Anonim , 2010).
1. Batang Bawah
Peranan batang bawah jeruk siam Banjar sangat penting, karena batang
bawah bertanggung jawab terhadap sistem perakaran dan mempengaruhi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
12
penempelan dan daya tahan hidup pohon, disamping itu batang bawah juga
berpengaruh terhadap ketahanan hama dan penyakit tertentu serta produksi
kualitas buah (Supriyanto, 1994).
Umur batang bawah untuk dapat diokulasi sangat beragam tergantung
kepada jenis tanamannnya. Ada yang masih berumur 9 bulan sudah bisa
diokulasi, tetapi ada juga lebih dari 4 tahun baru bisa diokulasi. Tetapi yang
umum tanaman dapat diokulasi lebih kurang berumur 1 tahun atau cabangnya
sudah mencapai sebesar ibu jari (Wudianto, 2001).
Batang bawah yang biasa digunakan untuk penyambungan dan
penempelan pada prinsipnya harus mampu menjalin persatuan yang normal
dan mampu mendukung pertumbuhan batang atasnya tanpa menimbulkan
gejala negatif yang tidak diinginkan. Untuk batang bawah yang perlu
diperhatikan adalah sistem perakarannya (Hartman dan Kester, 1983).
2. Mata Tempel
Batang atas dari bibit okulasi sebenarnya hanya berupa mata dari
tanaman yang kita kehendaki. Agar okulasi memuaskan tentu saja mata ini
harus diambil dari pohon induk yang subur dan dari cabang yang tidak
terserang hama-penyakit. Sebab penyakit dapat ditularkan oleh mata yang
ditempelkan. Bentuk mata yang baik adalah bulat dan besar-besar. Mata
demikian dapat diperoleh dari cabang yang telah berumur lebih-kurang 1
tahun. Jika cabang yang diambil matanya masih terlalu muda biasanya mata
sulit untuk dilepas. Tanda cabang yang memenuhi syarat adalah berwarna
hijau kelabu atau kecoklatan (Wudianto, 2001).
Supaya okulasi berhasil dengan baik dicari tanaman yang kulitnya
mudah dikupas dari kayunya, yaitu tanaman yang masih aktif dalam
pertumbuhannya sel-sel kambium aktif dalam pembelahan diri dan akan
segera membentuk jaringan baru bila kulit diambil dari kayunya
(Pracaya, 2009).
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
13
Ranting mata tempel yang berbentuk bulat mempunyai mutu yang
lebih baik yang dibandingkan dengan yang bentuknya segitiga dan relatif
masih pipih. Untuk mencegah berkembangnya cendawan, perlu dilakukan
beberapa perlakuan, yakni: setelah ranting mata tempel diambil dari pohon
induk, untuk menghindari penguapan yang berlebihan, daun pada ranting
mata tempel perlu dibuang. Selanjutnya, ranting mata tempel perlu dibuang.
Selanjutnya ranting mata tempel dicuci dengan air, kemudian direndam
dengan klorox 10% selama 1 menit. Selanjutnya dikering anginkan dan
direndam dalam benomil 1% atau benlate selama 1 menit, kemudian dikering
anginkan lagi (jangan lebih 15 menit) (Soelarso, 1996).
Tanaman yang dijadikan batang atas haruslah mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut:
a. Berasal dari pohon yang sehat, terutama bebas dari penyakit yang
disebabkan oleh bakteri dan virus.
b. Berasal dari pohon yang sifat-sifatnya sesuai dengan sifat yang
diinginkan.
c. Tidak mengurangi kualitas batang bawah, pada tanaman yang terbentuk
sebagai hasil sambungan (Barus dan Syukri, 2008).
Menurut Joesoef (1993), syarat batang atas adalah:
a. Produksi tinggi dan kualitas buah baik.
b. Pohon sehat, terutama bebas dari penyakit virus Tristeza dan CVPD.
c. Umur tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.
d. Ranting untuk mata tempel dan sambungan tidak berduri dan tidak ada
menunjukkan gejala-gejala kuning atau mutasi.
e. Pohon induk berada ditempat yang sekitarnya (radius 5 km) tidak ada
tanaman yang sakit, terutama CVPD.
Keberhasilan proses okulasi sangat dipengaruhi oleh kompatibilitas
anatara 2 jenis tanaman yang diokulasikan. Pada umumnya semakin dekat
keakraban antara 2 tanaman yang diokulasikan maka keberhasilannya
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
14
semakin besar. Keberhasilan okulasi dapat dilihat dari kecepatan pertumbuhan
batang atas dan persentasi keberhasilan dari okulasi. Keberhasilan okulasi
ditentukan pula oleh kecepatan terjadinya pertautan antara batang bawah dan
batang atas. Pertautan ini akan ditentukan oleh proses pembelahan sel pada
bagian yang akan bertautan (Hanolo, 2000).
3. Pelaksanana Okulasi
Persyaratan Okulasi Jeruk yang Baik:
a. Diameter batang bawah harus sudah cukup (± 1 cm)
b. Kondisi batang bawah harus benar benar sehat/bebas penyakit ataupun
jamur
c. Kandungan air tanah yang tidak terlalu lembab (1 meter dibawah
permukaan tanah)
d. Memilih mata tunas yang benar benar sehat, yaitu berasal dari induk yang
sehat dan bebas virus
e. Dilakukan
oleh
tangan
tangan
yang
benar
professional
dan
berpengalaman.
f. Sebaiknya dilakukan pada musim kemarau (Anonim , 2012).
4. Pasca Kegiatan Okulasi
Persatuan antara batang bawah dan batang atas (entris) dapat terjadi
bila pada letak penempelan terjadi aktivitas pembelahan kambium dan cukup
kandungan hara. Kebutuhan akan hara berupa bahan organik sangat
menentukan keberhasilan okulasi dimana tindakan pemupukan bertujuan
untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman, yang akhirnya akan
meningkatkan produktivitas tanah yang dipupuk terutama pada lahan marjinal
dengan kandungan unsur hara yang sedikit tersedia. Pemupukan di pembibitan
jeruk merupakan salah satu hal yang penting karena mendukung pertumbuhan
bibit yang baik (Adrizal dan Jalil, 1995)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
15
Setelah kurang lebih dua minggu dari waktu pengikatan, kini tiba
saatnya melakukan pemeriksaan berhasil tidaknya pengokulasian. Ikatan kita
buka, lalu mata tempelannya dilihat. Apabila warna mata tempelan itu telah
menjadi hijau kemerahan atau hitam, ini berarti pengokulasian kita tidak
berhasil atau mata tempelannya tidak berhasil. Tetapi jika mata tempelan
masih kelihatan hijau segar dan sudah melekat dengan batang pokok, ini
pertanda bahwa okulasi kita berhasil (Wudianto, 2001).
Menurut Joesoef (1993) perlakuan dan pemeliharaan selanjutnya
setelah ditempel adalah sebagai berikut
a)
Setelah tempelan itu jadi, batang bawah pada ketinggian 10 cm diatas
tempat penempelan disayat ± 2/3 bagian, kemudian dipatahkan sehingga
terkulai (menggantung).
b) Dengan cara demikian tunas akan cepat tumbuh dari mata tempel dan
enam bulan setelah ditempel sudah dapat dipindahkan ke dalam keranjang
atau 9 bulan sesudah ditempel sudah dapat menjadi bibit berupa stump.
c)
Tunas-tunas yang tumbuh dibawah tempelan pada batang bawah dibuang,
sehingga tunas dari mata tempel dapat dengan leluasa tumbuh.
d) Tunas dari mata tempel dibiarkan tumbuh lurus ke atas dan tidak
bercabang sampai setinggi ± 60 cm.
D. Hama dan Penyakit
1. Hama
a. Kutu loncat (Diaphorina citri)
Bagian yang diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
Gejala: tunas keriting, tanaman mati. Pengendalian: menggunakan
insektisida bahan aktif dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC),
endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC) dan
Monocrotophos (Azodrin 60 WSC). Penyemprotan dilakukan menjelang
dan saat bertunas, Selain itu buang bagian yang terserang.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
16
b. Kutu daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian
yang
diserang
adalah
tunas
muda
dan
bunga.
Gejala: daun menggulung dan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian: menggunakan insektisida dengan bahan aktif Malathion
(Gisonthion 50 EC), Methidathion (Supracide 40 EC), Diazinon (Basudin
60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Dimethoate (Perfecthion,
Rogor 40 EC, Cygon).
c. Ulat peliang daun (Phyllocnistis citrella.)
Bagian yang diserang adalah daun muda. Gejala: alur melingkar
transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung,
rontok. Pengendalian: semprotkan insektisida dengan bahan aktif
Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC), Malathion (Gisonthion
50 EC, 50 WP), Diazinon (Basazinon 45/30 EC). Kemudian daun dipetik
dan dibenamkan dalam tanah.
2. Penyakit
a. CVPD
Penyebab: Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat
Diaphorina citri. Bagian yang diserang: silinder pusat (phloem) batang.
Gejala: daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak dan
pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan tanaman sehat dan bebas
CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun
jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan
perhatikan sanitasi kebun yang baik.
b. Tristeza
Penyebab: virus Citrus tristeza dengan vektor Toxoptera. Bagian yang
diserang jeruk manis, nipis, besar dan batang bawah jeruk Japanese
citroen. Gejala: lekuk batang , daun kaku pemucatan, vena daun,
pertumbuhan terhambat. Pengendalian: perhatikan sanitasi kebun,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
17
memusnahkan tanaman yang terserang, kemudian kendalikan vektor
dengan insektisida Supracide atau Cascade (Anonim ͩ , 2007)
commit to user
Download