usulan penelitian

advertisement
ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN
MARKET VALUE ADDED (MVA) SEBAGAI ALAT PENGUKUR
KINERJA KEUANGAN PT SAMPOERNA AGRO Tbk
Oleh
WILMAR AMONIO GULO
H24087068
PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
RINGKASAN
Wilmar Amonio Gulo. H24087068. Analisis Economic Value Added (EVA) dan
Market Value Added (MVA) Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan
PT Sampoerna Agro Tbk. Dibawah bimbingan Wita Juwita Ermawati
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki
peran penting bagi perekonomian nasional, terutama sebagai penyedia lapangan
kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada tahun 2007, perkebunan kelapa
sawit menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 3,30 juta
kepala keluarga petani, serta memberikan sumbangan devisa sebanyak US$ 6,20
miliar (Herman, Agus dan Las, 2009).
Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan untuk investasi
pembangunan perkebunan kelapa sawit, baik yang berasal dari dalam maupun dari
luar perusahaan. PT Sampoerna Agro Tbk merupakan perusahaan yang bergerak
di bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang telah yang melakukan
penjualan saham kepada masyarakat (investor). Hal ini bertujuan untuk
menambah modal kerja perusahaan, perluasan usaha dan diversifikasi produk.
Untuk menarik investor, perusahaan harus mampu menunjukkan kinerja
keuangannya. Sebelum investor melakukan investasi, maka investor terlebih
dahulu melakukan analisis kinerja keuangannya. agar modal yang diinvestasikan
cukup aman dan mendapatkan tingkat hasil pengembalian (rate of return) yang
menguntungkan dari investasi yang ditanamkannya.
Adapun tujuan dilakukannya penelitian ini antara lain : (1) Menganalisis
kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode Economic Value
Added (EVA), (2) Menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk
dengan metode Market Value Added (MVA). Penelitian ini diharapkan dapat
digunakan sebagai bahan pertimbangan perusahaan dalam meningkatkan kinerja
dan dapat menambah pengetahuan para pembaca.
Nilai EVA pada tahun 2008 lebih tinggi dibandingkan tahun 2009.
Penurunan ini disebabkan oleh perubahan-perubahan nilai komponen-komponen
EVA. Komponen-komponen EVA terdiri dari Net Operating After Tax (NOPAT)
dan Cost of Capital (COC). Nilai EVA pada tahun 2008 sebesar
Rp 1.024.496.611.000 sedangkan pada tahun 2009 mengalami penurunan yang
signifikan menjadi – Rp 40.707.153.000. Nilai EVA pada tahun 2008
menghasilkan angka yang positif (EVA>0) karena nilai NOPAT lebih besar
daripada nilai biaya modal perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan
sudah dapat menambahkan nilai ekonomis ke dalam perusahaan. Pada tahun 2009,
nilai EVA menghasilkan angka yang negatif (EVA<0), dimana terjadi penurunan
sebesar Rp 1.065.203.764.000. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi proses
nilai tambah atau dengan kata lain perusahaan tidak mampu membayarkan
kewajiban kepada para penyandang dana atau kreditur sebagaimana yang
diharapkan.
Pada tahun 2009, MVA PT Sampoerna Agro mengalami peningkatan
sebesar 379,42% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2008, nilai MVA yang
dihasilkan positif. Hal ini menandakan perusahaan telah berhasil memelihara
kepercayaan investor atas modal yang diberikan dengan meningkatkan nilai modal
yang ditanamkan kepada investornya. Memasuki tahun 2009, nilai MVA yang
dicapai perusahaan meningkat signifikan. Harga saham yang terus mengalami
peningkatan membuat nilai MVA terus meningkat. Walaupun pada tahun 2009
nilai ekuitasnya meningkat sebesar Rp 212.616.939.000 dibandingkan tahun
2008, namun peningkatan nilai pasar ekuitasnya masih lebih besar dari ekuitasnya
sehingga nilai MVA positif.
Bagi perusahaan yang menghasilkan nilai EVA negatif pada tahun 2009
sebaiknya menjalankan strategi yang meningkatkan laba perusahaan tanpa
menambah biaya modal dan menghilangkan kegiatan-kegiatan yang menyebabkan
berkurangnya nilai perusahaan.
ANALISIS ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN
MARKET VALUE ADDED (MVA) SEBAGAI ALAT PENGUKUR
KINERJA KEUANGAN PT SAMPOERNA AGRO Tbk
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar
SARJANA EKONOMI
pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Oleh :
WILMAR AMONIO GULO
H24087068
PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Judul Skripsi : Analisis Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA)
Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan PT Sampoerna Agro Tbk
Nama
: Wilmar Amonio Gulo
NIM
: H24087068
Menyetujui
Dosen Pembimbing,
(Wita Juwita Ermawati, STP, MM)
NIP : 19750907 200501 2 001
Mengetahui
Ketua Departemen,
(Dr. Ir. Jono M. Munandar, M.Sc)
NIP : 19610123 198601 1 002
Tanggal Lulus :
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Gunungsitoli pada tanggal 18 Maret 1986 sebagai
anak dari Bapak Aliaro Gulo dan Ibu Lismawati Gea. Penulis adalah anak kedua
dari tiga bersaudara.
Penulis mengikuti pendidikan Taman kanak-kanak di TK. BNKP
Gunungsitoli, Sumatera Utara, dan lulus pada tahun 1993. Pendidikan sekolah
dasar di SD Negeri No 075018, Gunungsitoli dan lulus pada tahun 1998.
Pendidikan tingkat menengah pertama dapat diselesaikan penulis pada tahun 2001
pada SLTP Negeri 1 Gunungsitoli. Pendidikan tingkat atas dapat diselesaikan
oleh penulis pada tahun 2004 pada SMU Negeri 1 Gunungsitoli. Pada tahun 2004,
penulis diterima di Institut Pertanian Bogor, pada Program Diploma III
Agroteknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor. Pada tahun 2008, penulis melanjutkan pendidikan
Sarjana (S1), pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen, Departemen
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Selama menjadi mahasiswa, selain mengikuti perkuliahan di Institut
Pertanian Bogor, penulis juga mengikuti kegiatan keorganisasian yaitu Komunitas
Mahasiswa Kristen Ekstensi (KMKE) IPB dan Himpunan Profesi “Extension of
Management” (EXOM), Institut Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Penelitian ini disusun dengan tujuan utama menganalisis kinerja keuangan
PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode EVA dan MVA. Penelitian ini
menyediakan konsep dan implementasi analisis kinerja keuangan.
Pada dasarnya setiap perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan
kekayaan dari pemegang sahamnya. Pengukuran kinerja keuangan perusahaan
diperlukan untuk menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut.
Untuk mengukur kinerja perusahaan ini tentunya bukan merupakan hal
yang mudah. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dalam penilaian kinerja ini
antara lain yaitu harapan dari pihak-pihak yang menginvestasikan uangnya, dan
karyawannya. Pada saat ini terdapat berbagai alat ukur kinerja yang kadang
berbeda dari satu industri dengan industri yang lain. Tetapi sulit untuk
mengatakan bahwa alat ukur tersebut benar-benar merupakan alat ukur yang dapat
menilai keberhasilan perusahaan yang sebenarnya.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang timbul dalam pengukuran
kinerja keuangan berdasarkan data akuntansi, maka timbullah pemikiran
pengukuran kinerja keuangan berdasarkan nilai (value based). Dengan value
based sebagai alat pengukur kinerja perusahaan, manajemen dituntut untuk
meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian ini hanya akan memaparkan
pengukuran value added dengan menggunakan Economic Value Added dan
Market Value Added.
Dengan segala keterbatasan, saya menyadari bahwa penelitian ini masih
perlu penyempurnaan. Masukan berupa kritik dan saran dari pembaca sangat
ditunggu demi kesempurnaan penelitian ini. Semoga penelitian ini bermanfaat
bagi para pembaca.
Bogor, November 2010
Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH
Segala puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kepada Tuhan Yesus
Kristus yang telah melimpahkan berkat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga
dapat
menyelesaikan
skripsi
ini
dengan
baik.
Skripsi
yang
berjudul
“Analisis Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA)
Sebagai Alat Pengukur Kinerja Keuangan PT Sampoerna Agro Tbk” ini disusun
sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penulis dalam penyusunan skripsi ini dibantu oleh berbagai pihak, baik
secara moril maupun materiil. Oleh karena itu, penulis menyampaikan banyak
terima kasih kepada :
1. Kedua orangtua dan abang-adikku tersayang yang selalu memberikan
semangat, inspirasi hidup, dukungan, dan doa yang tulus kepada penulis.
2. Ibu Wita Juwita Ermawati, STP, MM sebagai dosen pembimbing yang telah
banyak meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, saran, motivasi,
dan pengarahan kepada penulis.
3. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM dan Ibu Yusrina Permanasari, ME atas
kesediaannya menjadi dosen penguji dan memberikan saran dan kritik dalam
penyempurnaan skripsi ini.
4. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Program Sarjana Ekstensi
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Departemen Manajemen,
Institut Pertanian Bogor.
5. Rekan-rekan satu bimbingan (Ani, Fajar, Gita, Pani, Ricky, Shandra, Rahma)
untuk kerjasama dan motivasinya selama bimbingan dan konsultasi skripsi.
6. Teman-teman sekontrakan di Beta House yang selalu memberikan motivasi
dan bantuan dan dukungannya.
7. Teman-teman seperjuangan di Ekstensi Manajemen yang selalu bersama-sama
mengukir kenangan indah selama mengikuti perkuliahan di IPB.
8. Teman-teman di KMKE (Komunitas Mahasiswa Kristen Ekstensi) terus setia
dalam melayani Tuhan di mana saja.
9. Semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini yang
tidak dapat disebutkan satu persatu.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua kebaikan dan
memberikan pahala atas semua bantuan yang telah diberikan kepada penulis.
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN
RIWAYAT HIDUP ......................................................................
iii
KATA PENGANTAR ..................................................................
iv
UCAPAN TERIMA KASIH ..........................................................
v
DAFTAR ISI ................................................................................
vii
DAFTAR TABEL ........................................................................
ix
DAFTAR GAMBAR .....................................................................
x
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................
xi
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...................................................................
1.2. Perumusan Masalah ............................................................
1.3. Tujuan Penelitian................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ..............................................................
1.4. Ruang Lingkup Penelitian ..................................................
1
5
6
6
6
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kinerja Keuangan Perusahaan ............................................
2.2. Analisa Laporan Keuangan .................................................
2.2.1. Neraca ......................................................................
2.2.2. Laporan Laba Rugi ...................................................
2.3. Economy Value Added (EVA) ............................................
2.3.1. Kelebihan dan Kekurangan EVA ...............................
2.3.2. Laba Operasi Setelah Pajak
(Net Operating Profit After Tax/NOPAT)...................
2.3.3. Biaya Modal ..............................................................
2.3.4. Weighted Average Cost of Capital (WACC) ..............
2.3.5. Modal yang Diinvestasikan (Invested Capital/IC) ......
2.4. Market Value Added (MVA) ..............................................
2.4.1. Perhitungan Market Value Added ...............................
2.4.2. Kelebihan dan Kekurangan
Market Value Added (MVA)........................................
2.5. Harga Saham ......................................................................
2.6. Penelitian Terdahulu ...........................................................
7
7
8
8
9
11
14
14
15
16
16
17
18
18
21
III. METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ...........................................
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian ..............................................
3.3. Jenis dan Sumber Data ......................................................
23
26
26
3.3. Metode Pengumpulan Data.................................................
3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data ................................
3.3.1. Metode Economic Value Added (EVA) .....................
3.3.2. Metode Market Value Added (MVA) ........................
26
26
26
29
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan .............................................
4.1.1. Sekilas tentang PT Sampoerna Agro Tbk .................
4.1.2. Visi dan Misi PT Sampoerna Agro Tbk.....................
4.1.3. Struktur Organisasi ....................................................
4.2. Kinerja Keuangan Perusahaan .............................................
4.2.1. Economic Value Added (EVA) ................................
4.2.2. EVA sebagai Pengukur Kinerja Keuangan ...............
4.2.3. Market Value Added (MVA). ...................................
4.2.4. MVA sebagai Pengukur Kinerja Keuangan .............
31
29
35
36
37
37
42
44
45
KESIMPULAN DAN SARAN
1.
2.
Kesimpulan .......................................................................
Saran .................................................................................
48
48
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................
49
LAMPIRAN ....................................................................................
52
DAFTAR TABEL
No.
Halaman
1. Luas areal dan produksi kelapa sawit Indonesia tahun 2000-2009….
1
2. Perkembangan volume dan nilai ekspor kelapa sawit Indonesia
tahun 2003-2007 …………………………………………………….
2
3. Biaya investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, 2008 ……...
3
4. Langkah-langkah perhitungan EVA .................................... .............
29
5. Komposisi pemegang saham PT Sampoerna Agro Tahun 2009…….
35
6. Ringkasan laporan laba rugi konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun
2008-2009 (dalam ribuan rupiah) …...................................................
38
7. Ringkasan neraca konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun
2008-2009 (dalam ribuan rupiah) …………………………………...
39
8. Ringkasan perhitungan nilai Economic Value Added (EVA)
PT Sampoerna Agro Tbk periode 2008-2009 (ribuan rupiah)……….
40
9. Ringkasan perhitungan nilai Market Value Added (MVA)
PT Sampoerna Agro Tbk periode 2008-2009 (ribuan rupiah) ……….
44
DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
1. Kerangka pemikiran penelitian ....................................................
25
2. Struktur kelompok usaha Sampoerna Agro .................................
34
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Halaman
1. Struktur organisasi PT Sampoerna Agro Tbk tahun 2009 .........................
53
2. Tingkat IHSG bulanan tahun 2008-2009 ...................................................
54
3. Daftar harga saham PT Sampoerna Agro ..................................... ............
55
4. Tingkat rata-rata suku bunga SBI bulanan tahun 2009-2009. ........... ........
56
5. Neraca konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009 ......................
57
6. Laporan laba rugi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009 .......................
59
7. Perhitungan Economic Value Added (EVA) ...........................................
60
8. Perhitungan Market Value Added (MVA) ...............................................
61
9. Perhitungan tingkat pengembalian saham kuartalan
PT Sampoerna Agro Tbk ...........................................................................
62
10. Perhitungan tingkat pengembalian pasar bulanan tahun 2008-2009 ... ......
63
11. Perhitungan hutang beban PT Sampoerna Agro Tbk tahun 2008-2009 .. ..
64
12. Perhitungan jumlah hutang PT Sampoerna Agro Tbk tahun 2008-2009....
65
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang
memiliki peran penting bagi perekonomian nasional, terutama sebagai
penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada tahun
2007, perkebunan kelapa sawit menyediakan lapangan kerja dan sumber
pendapatan bagi sekitar 3,30 juta kepala keluarga petani, serta memberikan
sumbangan devisa sebanyak US$ 6,20 miliar (Herman, Fahmuddin Agus dan
Las, 2009).
Indonesia memiliki luas areal kelapa sawit sebesar 6.425.061 ha
dengan jumlah produksi 17.102.486 ton pada tahun 2007 (Direktorat Jenderal
Perkebunan, 2007). Selaras dengan perkembangan areal, produksi minyak
sawit Indonesia juga meningkat tajam dari 721 ribu ton pada tahun 1980
menjadi 2,40 juta ton pada tahun 1990. Peningkatan produksi tersebut terus
berlanjut hingga mencapai 7 juta ton pada tahun 2000 dan 17,40 juta ton pada
tahun 2007. Secara nasional, produksi minyak sawit tumbuh rata-rata 12,50%
per tahun selama 27 tahun terakhir. Pertumbuhan produksi paling pesat
terjadi pada perkebunan rakyat dengan laju 37,80% per tahun, diikuti oleh
perkebunan besar swasta dan perkebunan besar negara dengan laju masingmasing 14,80% dan 5,80% per tahun. Luas areal dan produksi kelapa sawit
Indonesia pada tahun 2000-2009 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Luas Areal dan Produksi Kelapa Sawit Indonesia Tahun 2000-2009
Tahun
2000
Luas Areal (Hektar)
Produksi (Ton)
4.158.077
7.000.508
2001
4.713.435
8.396.472
2002
5.067.058
9.622.345
2003
2004
5.283.557
10.440.834
5.284.723
10.830.389
2005
5.453.817
11.861.615
2006
6.594.914
6.766.836
7.363.847
7.508.023
17.350.848
17.664.725
17.539.788
18.640.881
2007
2008
2009
Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan, 2010
Pesatnya perkembangan areal dan produksi perkebunan kelapa sawit
tidak terlepas dari potensi pengembangan, peluang pasar, harga minyak
sawit, dan daya saing minyak sawit di pasar domestik maupun internasional
(Direktorat Jenderal Perkebunan 2008). Pertumbuhan konsumsi minyak
nabati dunia diperkirakan akan semakin pesat dengan adanya kebijakan di
berbagai negara untuk mensubstitusi sebagian konsumsi minyak bumi dengan
minyak nabati, karena tingginya harga minyak bumi dan emisi yang
ditimbulkannya.
Meningkatnya
jumlah
produksi
mempunyai pengaruh yang besar
kelapa
terhadap
sawit
di
Indonesia
perekonomian nasional.
Disamping sebagai bahan baku industri dalam negeri, juga merupakan
komoditas ekspor utama. Perkembangan volume dan nilai ekspor kelapa
sawit Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Tahun
2003-2007
Tahun
2003
2004
2005
2006
2007
Minyak Sawit (CPO)
Volume
Nilai
(ton)
(US$)
2.891.100 1.062.215
3.819.900 1.444.422
4.565.700 1.593.295
5.199.300 1.993.667
5.701.300 3.738.652
Other Palm Oil
Volume
Nilai (US$)
(ton)
3.494.300
1.392.411
4.841.700
1.997.354
5.810.600
2.162.988
6.901.600
2.823.975
6.174.100
4.129.988
Jumlah
Pertumbuhan
Volume
Nilai
(%)
(ton)
(US$)
6.386.400 2.454.626
0,83
8.661.600 3.441.776
35,63
10.376.200 3.756.283
19,79
12.100.900 4.817.642
16,62
11.875.400 7.868.640
-1.86
Sumber : BPS, Juli 2008
Dilihat dari perkembangan nilai ekspor kelapa sawit Indonesia
khususnya CPO setiap tahun jumlahnya mengalami peningkatan. Pada tahun
2006, nilai ekspor kelapa sawit sebesar US$ 4.817.642 sedangkan pada tahun
2007 menjadi US$ 7.868.640 (BPS, 2008). Meningkatnya nilai ekspor kelapa
sawit Indonesia merupakan suatu peluang untuk mengembangkan kelapa
sawit khususnya produk olahannya, terutama untuk negara tujuan ekspor
Untuk memenuhi peningkatan permintaan pasar, dari sisi potensi
sumber daya lahan, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk
mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Diperkirakan tersedia lahan
sekitar 15,30 juta ha yang tersebar di seluruh Indonesia untuk perluasan lahan
perkebunan (Mulyani dan Las, 2008),
Pengembangan satu unit usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan
mineral dan lahan gambut dengan luas efektif kebun 6.000 ha dan satu unit
pabrik pengolahan kelapa sawit membutuhkan biaya investasi masing-masing
Rp 256,86 miliar dan Rp 276,82 miliar untuk pola kemitraan serta Rp 265,72
miliar dan Rp 286,30 miliar untuk pola perkebunan besar (Tabel 3). Biaya
investasi pada lahan gambut sedikit lebih tinggi dibandingkan pada lahan
mineral, dan biaya investasi untuk pola perkebunan besar sedikit lebih tinggi
daripada pola kemitraan. Hal ini terjadi karena pengelolaan lahan gambut
membutuhkan saluran drainase, pemadatan jalan, serta pembuatan jembatan/
gorong-gorong yang lebih intensif daripada lahan mineral. Biaya investasi
pada perkebunan besar lebih tinggi daripada pola kemitraan karena beban
biaya overhead dan biaya untuk perumahan pada pola perkebunan besar lebih
tinggi daripada pola kemitraan. Adapun biaya investasi pembangunan
perkebunan kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.
Tabel 3. Biaya investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, 2008.
Jenis Lahan
Lahan Mineral
Investasi kebun inti
Investasi pabrik, kantor, perumahan dll
Biaya overhead
Investasi kebun plasma
Total Investasi
Lahan Gambut
Investasi kebun inti
Investasi pabrik, kantor, perumahan dll
Biaya overhead
Investasi kebun plasma
Total Investasi
Biaya Investasi
Pola Kemitraan
( Rp Juta)
Biaya Investasi
Pola Perkebunan Besar
(Rp Juta)
40.762
76.015
11.678
128.402
256.857
163.050
78.515
24.156
265.721
44.839
78.415
12.325
141.242
276.821
179.355
80.915
26.027
286.297
Sumber : Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan No 24/Kpts/RC.ll0/02/2008 dan
No 60/Kpts/RC.110/4/08; 2 Pahan (2006); 3Wahyono et al. (2004). Hasil
penyesuaian karena inflasi dan pengolahan data dari berbagai sumber.
Perusahaan memiliki berbagai alternatif sumber pendanaan untuk
investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, baik yang berasal dari
dalam maupun dari luar perusahaan. Alternatif pendanaan dari dalam
perusahaan, umumnya dengan menggunakan laba yang ditahan perusahaan,
sedangkan alternatif pendanaan dari luar perusahaan dapat berasal dari
kreditur berupa utang maupun pendanaan yang bersifat penyertaan dalam
bentuk saham (equity).
PT Sampoerna Agro Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di
bidang perkebunan dan pengolahan kelapa sawit yang telah yang melakukan
penjualan saham kepada masyarakat (investor). Hal ini bertujuan untuk
menambah modal kerja perusahaan, perluasan usaha dan diversifikasi produk.
Untuk menarik investor, perusahaan harus mampu
menunjukkan kinerja
keuangannya. Sebelum investor melakukan investasi, maka investor terlebih
dahulu melakukan analisis kinerja keuangannya agar
modal yang
diinvestasikan cukup aman dan mendapatkan tingkat hasil pengembalian
(rate of return) yang menguntungkan dari investasi yang ditanamkannya.
Bagi pihak manajemen perusahaan, penilaian kinerja ini akan sangat
mempengaruhi dalam penyusunan rencana usaha perusahaan yang akan
diambil untuk masa yang akan datang demi kelangsungan hidup perusahaan.
Untuk mengukur kinerja perusahaan ini tentunya bukan merupakan
hal yang mudah. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dalam penilaian
kinerja ini antara lain yaitu harapan dari pihak-pihak yang menginvestasikan
uangnya, dan karyawannya. Para penyedia dana tentunya akan mengharapkan
tingkat pengembalian yang besar untuk investasi yang ditanamkannya,
sedangkan pihak
karyawan
menginginkan
kinerja
perusahaan
agar
kelangsungan hidup dari perusahaan dapat terjamin yang berarti bahwa
kesejahteraan mereka juga akan ikut terjamin.
Metode konvensional yang telah banyak digunakan untuk menilai
kinerja keuangan adalah dengan menggunakan rasio keuangan. Perhitungan
rasio keuangan ini dapat dengan mudah dilakukan. Namun kelemahan
metode ini tidak dapat mengukur kinerja perusahaan dari sisi nilai
perusahaan. Rasio keuangan hanya mengukur profitabilitas, likuiditas dan
solvabilitas perusahaan (Sugiono, 2009). Untuk melengkapi metode analisis
kinerja keuangan kemudian berkembang metode analisis modifikasi baru,
dimana
metode
ini
dalam
mengukur
kinerja
dapat
secara
tepat
memperhatikan sepenuhnya kepentingan dan harapan penyedia dana (kreditur
dan pemegang saham). Metode yang dimaksud adalah model Economic
Value Added atau EVA (konsep penilaian kinerja). Cara perhitungan
berdasarkan model EVA mulai muncul pada 1993, yang dipopulerkan
pertama kali oleh sebuah perusahaan konsultan di AS yaitu Stern Steward
Management Services (SSMS). Dengan konsep ini akan diketahui berapa
sebenarnya biaya yang harus dikeluarkan sehubungan dengan pemakaian
modal usaha.
Penerapan konsep EVA dalam suatu perusahaan akan membuat
perusahan lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan.
Hal ini merupakan keunggulan EVA dibandingkan dengan metode
perhitungan yang lain. Selain itu keunggulan EVA yang lain adalah EVA
dapat dipergunakan tanpa memerlukan data pembanding. Namun, EVA juga
mempunyai kelemahan yaitu hanya mengukur hasil akhir saja. Penggunaan
EVA tetap berguna untuk dijadikan acuan mengingat EVA memberikan
pertimbangan dalam hal biaya modal sebagai kompensasi atas dana yang
digunakan untuk membiayai investasi tersebut.
Menurut
Sartono
(2001),
tujuan
utama
perusahaan
adalah
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham. Selain memberi manfaat bagi
pemegang saham, tujuan ini juga menjamin sumber daya perusahaan yang
langka dialokasikan secara efisien dan memberi manfaat ekonomi.
Kemakmuran pemegang saham dimaksimalkan dengan memaksimalkan
kenaikan nilai pasar dari modal perusahaan di atas nilai modal yang disetor
pemegang saham. Kenaikan ini disebut Market Value Added (MVA).
MVA merupakan hasil kumulatif dari kinerja perusahaan yang
dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan maupun yang
diantisipasi akan dilakukan. Sehingga peningkatan MVA adalah sebagai
keberhasilan memaksimalkan kekayaan pemegang saham dengan alokasi
sumber-sumber yang tepat. Dengan demikian MVA merupakan ukuran
kinerja eksternal perusahaan.
1.2. Perumusan Masalah
Kebijakan PT Sampoerna Agro Tbk yang ingin menarik investor
untuk menambah modal kerja perusahaan yang digunakan untuk perluasan
usaha dan diversifikasi produk harus mampu menunjukkan kinerja
keuangannya. Sebelum investor melakukan investasi, maka investor terlebih
dahulu melakukan analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja
keuangannya. Investor akan tertarik untuk berinvestasi jika perusahaan
mampu meningkatkan kesejahteraan bagi investor itu sendiri. Dari uraian
sebelumnya, maka permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk menurut metode
Economic Value Added (EVA)?
2. Bagaimana kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk menurut metode
Market Value Added (MVA)?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode
Economic Value Added (EVA).
2. Menganalisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk dengan metode
Market Value Added (MVA).
1.4. Manfaat Penelitian
1. PT Sampoerna Agro Tbk
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
perusahaan dalam meningkatkan kinerja menuju kondisi yang lebih baik
sesuai dengan visi, misi dan tujuan perusahaan.
2. Pihak lain
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca dan
dapat dijadikan perbandingan atau acuan dalam melakukan studi lebih
lanjut.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian
ini
terbatas
pada
analisis
kinerja
keuangan
PT Sampoerna Agro Tbk periode tahun 2008 -2009 dengan menggunakan
metode Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA).
Periode tahun 2008-2009 dipakai dalam penelitian ini karena pada
pertengahan tahun 2007, perseroan mulai tercatat sebagai perusahaan publik
di Bursa Efek Indonesia, sehingga perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja
keuangan setelah dua tahun menjadi perusahaan publik sehingga didapat
gambaran mengenai nilai kekayaan yang telah dicapai.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kinerja Keuangan Perusahaan
Menurut Lesmana dan Surjanto (2003) kinerja keuangan adalah
analisis keuangan yang pada dasarnya dilakukan untuk melakukan evaluasi
kinerja di masa yang lalu, dengan berbagai analisis, sehingga diperoleh posisi
keuangan perusahaan yang mewakili realitas perusahaan dan potensi-potensi
yang kinerjanya akan berlanjut.
Alat analisis yang biasa digunakan adalah analisis rasio yaitu
perbandingan dari data keuangan perusahaan yang berhubungan sehingga
dapat memperoleh gambaran tentang kinerja perusahaan. Analisis kinerja
terbaru yang dikembangkan oleh lembaga konsultan Stern Streward & Co
mulai digunakan yaitu analisis nilai tambah ekonomi (Economic Value
Added/EVA) yang sangat berguna dalam menilai kinerja keuangan suatu
perusahaan.
Pengukuran kinerja keuangan mempunyai arti yang penting bagi
pengambilan keputusan baik bagi pihak internal maupun eksternal
perusahaan. Laporan keuangan merupakan alat yang dijadikan acuan
penilaian untuk meramalkan kondisi keuangan, operasi dan hasil usaha
perusahaan.
2.2. Analisis Laporan Keuangan
Laporan keuangan memberikan informasi mengenai kondisi
keuangan perusahaan, efisiensi penggunaan modal dan kemampuan
manajemen dalam mengelola perusahaan. Menurut Munawir (2002), laporan
keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai
alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu
perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau
aktivitas perusahaan tersebut.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan dalam Ikatan Akuntan
Indonesia (1994), tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut :
a) Menyatakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
b) Laporan keuangan disusun untuk memenuhi kebutuhan bersama oleh
sebagian besar pemakainya, yang secara umum menggambarkan
pengaruh keuangan dari kejadian masa lalu.
c) Laporan keuangan juga menunjukkan apa yang dilakukan manajemen
atau
pertanggungjawaban
manajemen
atas
sumberdaya
yang
dipercayakan padanya.
Kinerja
keuangan
perusahaan
dapat
dievaluasi
dengan
menggunakan laporan keuangan. Ada empat laporan keuangan dasar yang
biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan dan kinerja
perusahaan yaitu: (1) neraca, (2) laporan laba rugi, (3) laporan ekuitas dan (4)
laporan arus kas. Dalam penelitian ini, terdapat dua kelompok laporan
keuangan yang akan digunakan, yaitu neraca dan laporan laba rugi.
2.2.1. Neraca
Menurut Brigham dan Houston (2006), neraca adalah laporan
posisi keuangan pada suatu waktu tertentu. Neraca memberikan
gambaran mengenai aktiva, kewajiban atau hutang dan ekuitas pemilik
untuk periode waktu tertentu. Aktiva menggambarkan seluruh
sumberdaya yang dimiliki perusahaan, sementara kewajiban dan
ekuitas
pemilik
menunjukkan
bagaimana
seluruh
sumberdaya
perusahaan didanai.
2.2.2. Laporan Laba Rugi
Menurut Brigham dan Houston (2006), laporan laba rugi adalah
laporan yang mengikhtisarkan pendapatan dan beban perusahaan
selama periode akuntansi tertentu yang umumnya setiap kuartal atau
satu tahun. Laporan laba rugi menggambarkan pendapatan bersih dari
kegiatan operasi perusahaan selama periode tertentu. Laporan atas laba
dan dividen per saham disajikan pada bagian bawah laporan.
2.3. Economic Value Added (EVA)
EVA merupakan suatu sistem keuangan untuk mengukur laba
ekonomi dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan
hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua operating cost
(biaya operasi) dan capital cost (biaya modal). Menurut Young dan O‟ byrne
(2001), esensi dari EVA adalah pengemasan ulang dari manajemen keuangan
yang dapat dipercaya dan prinsip keuangan yang sudah lama ada.
EVA adalah nilai tambah yang diberikan oleh manajemen kepada
pemegang saham selama satu tahun tertentu (Brigham dan Houston, 2006).
EVA membantu manajer memastikan bahwa perusahaannya dapat menambah
nilai pemegang saham, sementara investor dapat menggunakan EVA untuk
mengetahui saham mana yang akan meningkatkan nilainya.
EVA tidak memerlukan adanya suatu perbandingan dengan
perusahaan sejenis dalam industri dan tidak pula membuat suatu analisa
kecenderungan
dengan
tahun-tahun
sebelumnya.
Konsep
ini
lebih
menekankan pada penentuan besarnya cost of capital. Diperhitungkannya
biaya modal atas ekuitas merupakan keunggulan pendekatan EVA dibanding
pendekatan akuntansi tradisional dalam mengukur kinerja perusahaan.
EVA sangat bermanfaat apabila digunakan sebagai penilai kinerja
perusahaan dimana fokus penilaian kinerjanya adalah pada penciptaan nilai.
Secara sederhana, angka EVA diperoleh dari laba usaha dikurangi biayabiaya atas modal yang diinvestasikan. Pendekatan EVA memasukkan semua
unsur dalam laporan laba rugi dan neraca perusahaan (Utama, 1997).
Pada dasarnya pemodal akan tertarik untuk melakukan investasi
pada saham di perusahaan yang menawarkan jumlah, stabilitas dan tingkat
pertumbuhan dari pendapatan yang akan mereka terima. Para investor akan
dengan cepat mengestimasi harga saham perusahaan di masa yang akan
datang dan besarnya dividen yang akan diterima apabila para investor
mengetahui dengan pasti laba yang akan mereka peroleh dari perusahaan.
EVA sebagai indikator keberhasilan manajemen dalam memilih dan
mengelola sumber-sumber dana di perusahaan tentunya juga akan
berpengaruh positif terhadap return pemegang saham.
EVA memberikan tolak ukur yang baik tentang apakah perusahaan
telah memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Oleh karena itu,
jika manajer menfokuskan pada EVA, maka hal ini akan membantu
memastikan bahwa mereka beroperasi dengan cara yang konsisten untuk
memaksimalkan nilai perusahaan
Menurut Young dan O‟ byrne (2001), EVA sama dengan
Net Operating Profit After Tax (NOPAT) dikurangi biaya modal. NOPAT
merupakan laba operasi perusahaan setelah pajak dan mengukur laba yang
diperoleh dari operasi berjalan. Biaya modal sama dengan modal yang
diinvestasikan oleh perusahaan dikalikan rata-rata tertimbang dari biaya
modal (Weighted Average Cost of Capital/WACC). WACC sama dengan
jumlah biaya dari setiap komponen modal-hutang jangka pendek, hutang
jangka panjang dan ekuitas pemegang saham-ditimbang berdasarkan proporsi
relatifnya dalam struktur modal perusahaan pada nilai pasar. Modal yang
diinvestasikan adalah jumlah seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari
kewajiban jangka pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga (non interest
bearing liabilities) seperti hutang upah yang jatuh tempo dan pajak yang akan
jatuh tempo. Modal yang diinvestasikan sama dengan jumlah ekuitas
pemegang saham, seluruh hutang jangka pendek dan jangka panjang yang
menanggung bunga, hutang dan kewajiban jangka panjang lainnya.
Jadi komponen EVA terdiri dari NOPAT (laba bersih setelah
pajak) dan COC (biaya modal). COC merupakan perkalian antara WACC
(biaya modal rata-rata tertimbang) dengan IC (modal yang diinvestasikan).
Dengan demikian EVA dapat dirumuskan sebagai berikut :
EVA = NOPAT – COC
= NOPAT – (WACC x IC) .................................(1)
dimana NOPAT = Net Operating After Tax (laba bersih setelah pajak)
WACC
= Weighted Average Cost of Capital (biaya modal ratarata tertimbang)
IC
= Jumlah modal yang tersedia bagi perusahaan untuk
membiayai usahanya yang terdiri dari dan hutang dan
modal sendiri
Dalam perhitungan tersebut terdapat laba yang dikurangi semua
biaya operasional termasuk pajak tetapi tidak termasuk biaya bunga. Total
modal disetor adalah jumlah nilai buku hutang dan modal yang terdapat
pada neraca dan biaya modal adalah biaya modal rata-rata tertimbang
perusahaan (Gapenski dalam Trimurti, 2003).
Hasil perhitungan EVA akan bernilai lebih besar dari nol (positif),
lebih kecil dari nol (negatif) dan sama dengan nol (Poeradisastra, 2001) yang
berarti :
1. Kondisi EVA yang positif (EVA>0) mencerminkan tingkat kompensasi
yang lebih tinggi daripada tingkat biaya modal. Ini berarti manajemen
telah mampu menciptakan peningkatan nilai kekayaan perusahaan.
Semakin positif EVA berarti semakin bagus kinerja perusahaan tersebut,
artinya manajemen telah melakukan tugasnya dengan baik.
2. Kondisi EVA yang negatif (EVA<0) menunjukkan adanya penurunan nilai
kekayaan karena laba yang tersedia tidak mampu memberikan kompensasi
yang setimpal dengan investasi yang ditanam.
3. Kondisi EVA sama dengan nol (EVA=0) berarti laba yang tersedia impas
untuk memenuhi harapan pemodal dan kinerja keuangan perusahaan
tergolong sehat.
Jadi, bila nilai EVA tinggi, pemegang saham dapat menilai secara
pasti bahwa perusahaan tersebut mampu memberdayakan modalnya dengan
baik. Apabila nilai EVA suatu perusahaan meningkat, maka kinerja
perusahaan semakin baik sehingga kesejahteraan para pemegang saham dapat
ditingkatkan.
2.3.1. Kelebihan dan Kekurangan EVA
Banyak manfaat yang didapat dengan menggunakan EVA.
Menurut Young dan O‟ byrne (2001), sebagai alat pengukur kinerja,
EVA memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan metode
yang lain, yaitu :
1. EVA memiliki peran penting sebagai suatu sistem yang berbasis
pada value compensation dan membantu perusahaan dalam
mencapai tujuan utamanya, yaitu
menciptakan nilai untuk
pemegang saham
2. EVA menjembatani konflik yang terjadi antara manajer dengan
perusahaan berkaitan dengan pemberian bonus. EVA menyediakan
insentif
bagi
manajer
yang
berperan
mencari
dan
mengimplementasikan investasi yang menciptakan nilai.
3. EVA merupakan alat komunikasi yang efektif dalam penciptaan
nilai dengan melibatkan semua elemen di dalam organisasi untuk
ikut berperan serta.
4. EVA merupakan kerangka kerja manajemen yang mencakup
berbagai fungsi, seperti perencanaan strategis (strategic planning),
pengukuran kinerja (performance measurement) serta komunikasi
internal maupun eksternal.
Jadi, keuntungan perusahaan yang mengadopsi EVA adalah
penggunaan EVA akan menghasilkan persepsi yang sama dalam
membuat keputusan, khususnya keputusan jangka panjang dalam
mengevaluasi kinerja unit-unit organisasi dan kinerja para manajer
dalam mengukur potensi nilai yang dapat diciptakan pada tiap pilihan
strategi.
Meskipun metode EVA umumnya memiliki kelebihan dalam
mengukur kinerja keuangan, metode ini juga memiliki beberapa
kekurangan. Menurut Keys et al. dalam Widyakusuma (2007), secara
umum ada beberapa keterbatasan dari metode EVA yaitu :
1. Perhitungan EVA terlalu kompleks.
2. EVA mudah untuk dimanipulasi, karena perhitungan EVA
berdasarkan pada metode accrual accounting. Hal ini berarti EVA
menjadi bias, karena metode accrual accounting menggunakan
model estimasi, seperti tarif depresiasi, cadangan kerugian piutang
dan tarif amortisasi.
3. EVA merupakan pengukuran kinerja jangka pendek. Komponenkomponen untuk menghitung EVA seperti income dan capital
merupakan pengukuran kinerja jangka pendek. Pengukuran kinerja
jangka pendek lebih mudah untuk dimanipulasi sehingga akan
mempengaruhi kinerja jangka panjang
4. EVA mendorong perusahaan untuk melakukan investasi dengan
biaya modal yang rendah. Investasi yang demikian umumnya
memiliki risiko yang kecil, sehingga secara tidak langsung EVA
mendorong perusahaan untuk menghindari risiko, padahal sebagian
inovasi-inovasi dalam bisnis memiliki risiko yang sangat tinggi.
5. Pada kenyataannya EVA tidak mengukur economic value maupun
economic profit sebagaimana yang dikatakan Stern Stewart.
Meskipun economic value secara konsep hampir sama dengan
economic profit, tetapi pada prakteknya keduanya berbeda.
6. Tidak adanya konsistensi dalam mendefenisikan EVA, NOPAT
atau capital.
Menurut Utama (2002), untuk mendeteksi adanya kemungkinan
bahwa EVA direkayasa dapat dilakukan dengan cara :
1. Membandingkan
kebijakan
amortisasi
biaya
riset
dan
pengembangan, iklan serta pelatihan pegawai antar waktu dan antar
perusahaan.
2. Menilai anak perusahaan untuk mengetahui goodwill yang masih
diakui ada nilainya atau tidak.
3. Menilai aktiva tidak berwujud masih ada nilainya atau tidak. Bila
tidak, sebaiknya dikeluarkan karena dapat merusak keakuratan dari
perhitungan EVA yang dihasilkan.
4. Melihat trend perubahan kewajiban pajak tangguhan serta
membandingkan dengan perusahaan pada satu industri untuk
mengevaluasi apakah angkanya wajar atau tidak.
5. Menganalisis trend dari biaya penghapusan piutang tak tertagih dan
membandingkan dengan perusahaan yang berada di bawah satu
industri.
6. Menggunakan rata-rata modal yang diinvestasikan selama satu
tahun dan bukan hanya pada akhir tahun atau awal tahun.
2.3.2. Laba Operasi Setelah
Pajak (Net
Operating Profit After
Tax/NOPAT)
Menurut pendekatan operasional, Net Operating Profit After Tax
(NOPAT) merupakan laba yang diperoleh dari operasi perusahaan
dikurangi
pajak
penghasilan.
Sedangkan
menurut
pendekatan
keuangan, NOPAT didapat dari laba bersih setelah pajak ditambah
beban bunga. Perhitungan NOPAT tidak mengikutsertakan kegiatan
operasional rutin perusahaan yang tidak ada keterangan jelas dalam
catatan laporan keuangan (Tunggal, 2008).
2.3.3. Biaya Modal
Secara teoritis, investasi suatu perusahaan diasumsikan dibiayai
oleh modal. Menurut Brigham, Gapenski dan Daves dalam Trimurti
(2003), modal atau operational capital (modal operasional) sebuah
perusahaan diartikan sebagai jumlah hutang dan ekuitas yang dipakai
untuk membiayai operasional perusahaan atau aset operasional bersih
perusahaan. Semua sumber dana yang digunakan perusahaan untuk
investasi dikenakan suatu biaya disebut biaya modal dan biaya tersebut
harus mencerminkan rata-rata tertimbang berbagai sumber dana yang
digunakan.
Dalam teori keuangan dijelaskan bahwa setiap sumber dana, baik
hutang maupun modal sendiri (ekuitas) memiliki biaya modal
(cost of capital). Hanya untuk modal sendiri biaya tersebut bersifat
implisit atau opporturnistic, sedangkan untuk hutang bersifat eksplisit
karena memang benar-benar dikeluarkan oleh perusahaan dalam
bentuk pembayaran bunga (Husnan, 2003).
Total biaya modal menunjukkan besarnya kompensasi atau
pengembalian yang dituntut investor atas modal yang diinvestasikan di
perusahaan. Besarnya kompensasi tergantung pada tingkat risiko
perusahan yang bersangkutan. Semakin tinggi tingkat risiko, semakin
tinggi tingkat pengembalian yang dituntut investor (Ruky, 1999).
2.3.4. Weighted Average Cost of Capital (WACC)
Menurut Tunggal (2001), Weighted Average Cost of Capital
(WACC) adalah jumlah biaya dari masing-masing komponen modal,
misalnya pinjaman jangka pendek dan pinjaman jangka panjang serta
cost of equity (modal saham) yang diberikan bobot sesuai dengan
proporsinya dalam struktur modal perusahaan. Pembobotan dilakukan
karena setiap bentuk pembiayaan yang berbeda mengandung risiko
yang berbeda bagi investor.
WACC merupakan tingkat pengembalian minimum dibobot
berdasarkan proporsi masing-masing instrumen pembiayaan dalam
struktur
modal
perusahaan
yang
dihasilkan
untuk
memenuhi
ekspekstasi kreditur dan pemodal. Menurut Rousana (1997), WACC
terdiri dari komponen biaya hutang dan biaya ekuitas.
Biaya hutang (Kd) merupakan rate yang harus dibayar
perusahaan di dalam pasar sekarang untuk mendapatkan hutang jangka
panjang yang baru. Biaya hutang terjadi akibat adanya penggunaan
dana pinjaman. Hutang disini mencakup semua hutang baik jangka
pendek maupun jangka panjang yang didapat dari kelompok luar
perusahaan. Perusahaan yang memiliki beberapa paket surat hutang
dengan beban bunga yang beragam, cara yang tepat menghitung biaya
hutangnya adalah secara tertimbang (weighted). Adanya pembayaran
bunga oleh perusahaan akan mengurangi besarnya pendapatan kena
pajak, maka Kd harus dikoreksi dengan faktor (1-T), dengan T adalah
tingkat pajak yang dikenakan. Hal tersebut serupa dengan pernyataan
Brigham dan Houston (2006) yang menyatakan bahwa adanya biaya
bunga yang wajib dibayarkan dikurangi dengan penghematan pajak
yang timbul. Bunga dalam perhitungan pajak ini bersifat tax deductible
sehingga dikalikan dengan (1-T), dimana T adalah tarif pajak marjinal
dari perusahaan.
Sedangkan biaya ekuitas (Ke) adalah biaya yang timbul akibat
investor menyerahkan dananya berupa ekuitas kepada perusahaan.
Mereka berhak untuk mendapatkan dividen di masa mendatang
sekaligus berkedudukan sebagai pemilik parsial perusahaan tersebut.
Besarnya dividen tidak ditentukan pada saat investor menyerahkan
dananya, tetapi bersifat tidak tentu tergantung pada kinerja perusahaan
tersebut di masa yang akan datang. Hal ini sangat berbeda dengan
modal hutang yang sudah memperhitungkan kepastian tingkat suku
bunga yang disetujui. Untuk menghitung Ke, perlu pendekatan
berdasarkan return yang diharapkan oleh pemegang saham. Untuk itu
harus berdasarkan nilai pasar yang berlaku dan bukanlah nilai buku.
2.3.5. Modal yang Diinvestasikan (Invested Capital/IC)
Menurut Tunggal (2001), Invested Capital (IC) adalah jumlah
seluruh pinjaman perusahaan di luar pinjaman jangka pendek tanpa
bunga atau non interest bearing liabilities. Yang termasuk dalam non
interest bearing liabilities yaitu hutang dagang, biaya yang masih harus
dibayar, hutang pajak dan uang muka pelanggan.
Ada dua cara untuk menentukan IC, yaitu dengan pendekatan
operasional
dan
keuangan.
Menurut
pendekatan
operasional,
IC diperoleh dari penjumlahan aktiva dikurangi hutang dagang dan
hutang beban lainnya. Sedangkan menurut pendekatan keuangan, IC
diperoleh dari penjumlahan interest bearing liabilities (pinjaman jangka
pendek dan panjang) dengan ekuitas pemegang saham.
2.4. Market Value Added (MVA)
Market Value Added (MVA) merupakan perbedaan antara nilai
pasar saham perusahaan dengan jumlah ekuitas modal investor yang telah
diberikan (Brigham dan Houston, 2006). Menurut Taufik (2001), MVA
merupakan perbedaan antara modal yang ditanamkan di perusahaan sepanjang
waktu dari investasi modal, pinjaman dan laba ditahan dan uang yang bisa
diambil sekarang. Dengan kata lain, MVA adalah hasil kumulatif kinerja
perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai investasi yang telah dilakukan
maupun yang akan dilakukan. MVA mencerminkan seberapa sukses investasi
baru di masa datang (Ruky, 1999).
MVA juga menggambarkan berapa besar kemakmuran (wealth)
yang dapat diciptakan atau dihilangkan untuk saat ini. Menurut Turangan
(2003), MVA lebih menunjukkan suatu penilaian kinerja yang menyeluruh
bagi perusahaan seumur hidup perusahaan tersebut dan digunakan lebih
kepada
tujuan
utama
manajemen
keuangan
yaitu
memaksimalkan
kesejahteraan investor.
Menurut Husnan dan Pujiastuti (2004), kemakmuran pemegang
saham dapat dimaksimumkan dengan memaksimumkan perbedaan antara
nilai pasar ekuitas dengan ekuitas (modal sendiri) yang diserahkan
ke perusahaan oleh para pemegang saham (pemilik perusahaan). Dalam
Fardiansyah (2003), Market Value Added (MVA) dikenal sebagai present
value dari nilai EVA secara periodik di masa depan. Sartono (2001)
menyebutkan bahwa MVA merupakan kenaikan nilai pasar perusahaan dari
modal perusahaan diatas modal yang disetor pemegang saham. Dalam hal ini
MVA mengukur dampak tindakan manajerial sejak perusahaan berdiri.
2.4.1. Perhitungan Market Value Added (MVA)
Menurut Husnan dan Pudjiastuti (2004), formula yang dapat
digunakan untuk menghitung besarnya MVA adalah :
MVA = Market Value of Stock – Equity Capital Supplied by
Shareholders.................................................................. (2)
= (Jumlah saham beredar)(Harga saham) – Total modal sendiri
Dalam hal ini, MVA sendiri mencerminkan nilai perusahaan
(Yusbardini, 2004). MVA yang negatif menunjukkan bahwa
perusahaan
tersebut
berkapasitas
sebagai
penghancur
dari
kesejahteraan (wealth destroyer), bukan pencipta kesejahteraan (wealth
creator), begitu juga sebaliknya. Semakin besar MVA maka semakin
berhasil pekerjaan manajemen dalam mengelola perusahaan.
Nilai Pasar (Market Value)
Young dan O‟Byrne (2001) menyatakan bahwa nilai pasar adalah
nilai perusahaan yakni jumlah nilai pasar dari semua tuntutan modal
terhadap perusahaan oleh pasar modal pada tangga tertentu. Lebih
sederhana, itu adalah jumlah nilai pasar dari hutang dan ekuitas. Yang
dimaksud dengan nilai perusahaan adalah nilai pasar atas surat
berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang beredar (Keown, et, al,
2004).
Modal yang ditanam (Equity Capital Supplied by Shareholders)
Secara konseptual, modal yang diinvestasikan perusahaan adalah
penjumlahan semua dana yang telah diinvestasikan didalamnya
(Keown, et, al, 2004). Komponen ini sama dengan nilai buku dari total
ekuitas yang terdapat dalam laporan keuangan.
2.4.2. Kelebihan dan Kekurangan Market Value Added (MVA)
Young dan O‟Byrne dalam Turagan (2003), keuntungan dari
penggunaan MVA adalah bahwa para manajer dapat dengan penuh
keyakinan atau percaya diri memaksimalkan MVA saat ini sehingga
kelebihan pengembalian (excess return) juga akan maksimal.
Sementara itu terdapat beberapa kelemahan, yaitu :
1. MVA mengabaikan kesempatan biaya opportunitas dari modal
yang diinvestasikan pada perusahaan.
2. MVA adalah sebuah indikator ”sekali bidik” yang mengukur
perbedaan nilai pasar dan modal yang diinvestasikan pada periode
tertentu.
2.5. Harga Saham
Bila suatu perusahaan akan menjual sahamnya kepada masyarakat
umum, berarti perusahaan tersebut menjual sebagian dari kepemilikannya.
Sebagai pemilik sebagian dari perusahaan, maka pemegang saham atau
pemodal baru ini akan menanggung sebagian risiko sebagai pemilik dan juga
nilai kepemilikannya
dapat berubah setiap waktu sesuai dengan naik
turunnya harga saham yang beredar di pasar modal. Saham merupakan
penyertaan modal dalam pemilikan suatu perseroan terbatas atau disebut
emiten. Pemilik saham merupakan pemilik sebagian dari perusahaan tersebut.
Berkaitan dengan harga saham, Sunariyah (2003) menyatakan bahwa harga
saham terdiri dari macam-macam nilai yang terdiri dari :
1. Nilai nominal yaitu harga saham perdana yang tercantum pada sertifikat
badan usaha. Harga saham tersebut merupakan harga saham yang telah
diotorisasi oleh rapat umum pemegang saham. Harga ini tidak berubahubah dari yang telah ditetapkan oleh rapat umum pemegang saham.
2. Nilai buku adalah harga saham yang berubah-ubah karena adanya
kenaikan atau penurunan harga saham dan adanya laba ditahan. Nilai buku
untuk setiap lembar saham dihitung dari pembagian jumlah nilai buku
dengan jumlah lembar saham.
3. Nilai dasar berkaitan dengan harga saham setelah dilakukan penyesuaian
karena aksi emiten. Nilai dasar ini merupakan harga perdana saham
tersebut. Nilai dasar ini digunakan dalam perhitungan indeks harga saham
sehingga akan terus berubah jika terjadi stock split dan sebagainya.
4. Nilai pasar adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang berlangsung
di bursa efek. Apabila bursa efek telah tutup maka harga pasar adalah
harga penutupannya (closing price).
Keinginan utama investor adalah meminimalkan risiko dan
meningkatkan perolehan (minimize risk and maximize return). Asumsi umum
bahwa investor individu yang rasional adalah seorang yang tidak menyukai
risiko (risk averse), sehingga investasi yang beresiko harus dapat
menawarkan tingkat perolehan yang tinggi. Oleh karena itu, investor sangat
membutuhkan informasi mengenai risiko dan pengembalian yang diinginkan.
Terdapat dua metode untuk mengestimasi tingkat pengembalian
yang disyaratkan oleh pemegang saham (Keown, et, al, 2004) yaitu :
1. Model pertumbuhan dividen
Pendekatan ini dipakai apabila pertumbuhan dividen dan
pendapatan perusahaan akan tumbuh pada tingkat yang konstan.
Rumusnya adalah :
………………………………………………. (3)
Dimana
Ks
=
Harga saham biasa
Di
=
Dividen tahun ke-i
Po
=
Nilai harga saham biasa
g
=
Tingkat pertumbuhan yang diharapkan
2. Penetapan harga aktiva modal (Capital Asset Pricing Model/CAPM)
CAPM
merupakan
pernyataan
mengenai
hubungan
antara
pengembalian yang diharapkan dan risiko, dimana risiko aset yang
berisiko. Risiko sistematis merupakan risiko yang terjadi karena faktor
perubahan pasar secara keseluruhan.
Menurut Keown, et, al, (2004), CAPM memberikan dasar untuk
menentukan harapan investor atau tingkat pengembalian hasil dari
investasi saham biasa. Model ini tergantung pada tiga hal :
a) Tingkat bebas risiko.
b) Risiko sistematis dari pengembalian atas saham biasa dibandingkan
dengan pengembalian atas pasar secara keseluruhan atau koefisien beta
saham.
c) Premi risiko pasar yang setara dengan perbedaan tingkat pengembalian
yang diharapkan atas surat berharga rata-rata dikurangi tingkat bebas
risiko.
Capital Asset Pricing Model diajukan oleh William Sharpe,
Treynor, Mossin dan John Lintner merupakan kelanjutan dari teori
portofolio modern dari Harry Markowitz. Model ini membantu kita dalam
menghitung risiko yang tidak di diversifikasi, suatu portofolio yang dapat
di diversifikasi dengan baik (Sjahrial, 2009).
Persamaannya adalah sebagai berikut :
E(Rj) = Rf + [E(Rm) – Rf] βj atau .............................................. (4)
Ki
= Krf + (Km – Krf) βi ........................................................ (5)
Keterangan :
E(Rj) = Ki
Rf
= tingkat keuntungan yang disyaratkan pada saham i
= Krf = tingkat bunga beban risiko,
E(Rm) = Km
= tingkat keuntungan indeks pasar yang diharapkan,
βj
= Beta saham i (faktor risiko yang berlaku spesifik
= βi
untuk perusahaan)
Para peneliti telah memperlihatkan bahwa ukuran terbaik dari
risiko sebuah sekuritas untuk portfolio yang besar adalah beta sekuritas.
Menurut Rodoni dan Ali (2010), beta didefinisikan sebagai alat
ukur covariance suatu saham dengan portfolio pasar yang terdiversifikasi
dengan baik. Beta mengukur responsiveness dari sebuah sekuritas terhadap
pergerakan portfolio pasar.
Menurut Sugiono (2009), hasil perhitungan beta akan bernilai
bernilai lebih besar dari nol (positif), lebih kecil dari nol (negatif) dan
sama dengan nol yang berarti :
1. Saham dengan koefisien beta > 1 umumnya lebih agresif dari pasar.
Pada suatu kesempatan harganya dapat naik sedemikian cepat melebihi
kenaikan pasar atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun
pada saat pasar sedang turun, harganya akan turun lebih cepat dari pada
pasar. Artinya, jika pasar sedang naik, saham tersebut akan mengalami
kenaikan yang lebih tinggi daripada harga pasar.
2. Saham dengan koefisien beta < 1 umumnya bergerak lebih lambat
daripada pasar. Artinya, jika pasar naik, saham tersebut juga akan naik,
Namun kenaikan saham selalu lebih rendah daripada kenaikan pasar.
Demikian juga sebaliknya.
3. Saham dengan koefisien beta = 1 umumnya mengikuti arus pasar.
Artinya, jika pasar naik, saham tersebut akan mengalami kenaikan yang
sama dengan yang dialami oleh pasar/indeks. Demikian juga
sebaliknya.
2.6. Penelitian Terdahulu
Setyarini pada tahun 2003, melakukan penelitian berjudul “Analisa
Penerapan Antara EVA dengan Rasio Keuangan dalam Menilai Kinerja
Perusahaan ( Studi Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar
di BEJ )”. Hasil analisis data penelitian tersebut yaitu jika dilihat dari rasio
keuangan, rata-rata kinerja perusahaan makanan dan minuman pada tahun
1998-2000 memiliki angka rasio yang baik, sehingga mempunyai
pertumbuhan yang cukup tinggi atau mempunyai prospek yang bagus pula
baik pada saat ini dan di masa mendatang. Jika dilihat dari EVA, rata-rata
kinerja perusahaan makanan dan minuman pada tahun 1998-2000 hampir
semua menunjukkan angka positif, yang berarti perusahaan telah berhasil
menciptakan nilai ekonomis dan dapat memenuhi harapan investor.
Ningrum (2008), melakukan penelitian dengan judul ” Analisis
Kinerja Keuangan Perusahaan Telekomunikasi Go Public dengan Metode
Economic Value Added (EVA)” Perusahaan yang diteliti antara lain
PT Telkom, PT Indosat, PT Exelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom dan
PT Mobile-8. Berdasarkan penelitian pada periode 2002-2007, menunjukkan
dari lima perusahaan yang dianalisis, terdapat satu perusahaan yang konsisten
dengan nilai EVA yang positif yaitu PT Telkom, sedangkan PT Indosat
menjadi urutan kedua setelah PT Telkom karena dalam historis perusahaan,
pada tahun 2003 dan 2004 memiliki kinerja yang baik. Tiga perusahaan yang
lain PT Exelcomindo Pratama, PT Bakrie Telecom dan PT Mobile-8 kurang
baik untuk berinvestasi karena memiliki nilai EVA yang negatif sehingga
disimpulkan bahwa ketiga perusahaan tersebut belum dapat memberikan nilai
tambah bagi pemegang saham. Hal ini dikarenakan biaya modal yang lebih
tinggi dari laba usaha yang dihasilkan.
III. METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI),
secara periodik wajib menyampaikan laporan keuangannya. Laporan
keuangan tersebut dapat dijadikan acuan secara fundamental bagaimana
kinerja perusahaan dan bagaimana perusahaan dapat menciptakan nilai bagi
pemegang sahamnya. Perusahaan yang diteliti adalah perusahaan perkebunan
kelapa
sawit
yang
telah
terdaftar
sebagai
emiten
BEI
yaitu
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO).
PT Sampoerna Agro sebagai perusahaan yang sedang berkembang
membutuhkan dana yang berasal dari modal sendiri (ekuitas) maupun hutang
(kewajiban) dalam melaksanakan aktifitas operasionalnya dan membangun
bisnisnya. Dana tersebut bisa berupa pendanaan dari dalam perusahaan
(internal financing) dan dari luar perusahaan (external financing). Struktur
pendanaan perusahaan tersebut dapat mempengaruhi resiko dari hasil yang
akan diperoleh perusahaan serta nilai perusahaan tersebut. Oleh karena itu
perlu kiranya suatu perusahaan mengetahui struktur pendanaan yang optimal
yang dapat membawa perusahaan untuk bisa terus berlangsung hidup dan
mencapai tujuannya, yaitu memaksimalkan nilai perusahaan bagi para
pemiliknya.
Untuk mendapatkan berbagai alternatif pendanaan tersebut,
berbagai penilaian maupun analisis yang digunakan untuk mengetahui kinerja
keuangan
perusahaan sangat dibutuhkan. Dalam menarik investor,
perusahaan harus mampu
menunjukkan kinerja keuangannya. Sebelum
investor melakukan investasi, maka investor terlebih dahulu melakukan
analisis kinerja keuangan perusahaan sehingga akan memperoleh gambaran
mengenai keadaan perusahaan.
Analisis laporan keuangan yang umum dan sering dipakai sebagai
tolak ukur adalah kinerja keuangan tradisional, yaitu parameter akuntansi
dasar berupa rasio-rasio keuangan yang dinilai dari sudut pandang
perusahaan yang bersangkutan. Namun dalam hal ini, perlu diukur juga
kinerjanya yang tidak hanya berdasarkan perusahaan, namun juga para
investor dalam hal ini shareholders.
Sehubungan dengan hal itu, diperlukan suatu konsep yang dapat
mengukur seberapa besar kesejahteraan maupun kekayaan yang berhasil
diciptakan perusahaan yang bersangkutan kepada investor atas modal yang
telah diberikan, apakah nilai yang diciptakan sudah memberikan tingkat
pengembalian
yang
sesuai
dengan
harapan
investornya.
Economic Value Added menggambarkan kemampuan perusahaan untuk
menciptakan nilai tambah ekonomis. Dengan mengetahui nilai EVA maka
dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengambil
keputusan dan membantu perusahaan meningkatkan kinerja sekarang dan
masa yang akan datang.
Setelah mengetahui penciptaan kekayaan yang telah dilakukan
perusahaan, perlu diketahui juga bagaimana nilai perusahaan berdasarkan
seberapa besar perusahaan yang bersangkutan dapat meningkatkan atau
mungkin menurunkan kekayaan pemegang saham (shareholder). MVA
merupakan hasil kumulatif kinerja perusahaan yang dihasilkan oleh berbagai
investasi yang telah dilakukan maupun yang akan dilakukan untuk
kemakmuran pemegang saham, dengan memaksimalkan kenaikan nilai pasar
dari modal perusahaan di atas nilai modal yang disetor pemegang saham.
Secara ringkas, kerangka pemikiran yang mendasari penelitian ini dapat
dilihat pada Gambar 1 berikut ini.
PT Sampoerna Agro Tbk
Kebutuhan pendanaan
Ekuitas
Kewajiban
Aktivitas perusahaan
Analisis laporan keuangan
Evaluasi kinerja keuangan
Nilai tambah perusahaan
Nilai pasar perusahaan
Economic Value Added (EVA)
Market Value Added (MVA)
Nilai kekayaan yang telah
dicapai perusahaan
Investor
Batasan Penelitian
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian
3.2. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Juni hingga Agustus 2010
dengan menggunakan data-data yang diperoleh dari website instansi publik
yaitu : Bursa Efek Indonesia, Pusat Referensi Pasar Modal Bursa Efek
Indonesia (PRPM BEI) dan Bank Indonesia. Penelitian ini tidak dilakukan
di lokasi tertentu.
3.3. Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersifat kualitatif
maupun kuantitatif. Data sekunder yang digunakan antara lain: laporan
keuangan PT Sampoerna Agro Tbk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia
periode 2008-2009 beserta gambaran umum perusahaan, dividen dan harga
saham perusahaan beserta tingkat suku bunga bulanan Sertifikat Bank
Indonesia periode 2008-2009. Laporan keuangan yang digunakan adalah
laporan laba rugi dan neraca tahunan perusahaan.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dari studi pustaka dan kajian literatur
yang menunjang untuk digunakan dalam penelitian ini. Data-data tersebut
diperoleh dari buku, koran, jurnal, laporan penelitian dan media elektronik.
3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data dan informasi yang telah dikumpulkan, kemudian diolah baik
secara manual maupun menggunakan bantuan komputer untuk dianalisis
secara kuantitatif. Hasil analisis kuantitatif ini kemudian diinterpretasikan
secara deskriptif. Adapun analisis kinerja keuangan PT Sampoerna Agro Tbk
tersebut menggunakan metode Economic Value Added (EVA) dan
Market Value Added (MVA).
3.3.1. Metode Economic Value Added (EVA)
Ada beberapa tahapan dalam menghitung EVA. EVA dihitung
setelah semua komponen pembentuknya diketahui. Selanjutnya
dimasukkan ke dalam rumus perhitungan EVA.
Dalam menghitung Net Operating Profit After Tax (NOPAT)
digunakan pendekatan keuangan dimana laba bersih atau Net Income
dijumlahkan dengan Net Interest (biaya bunga). Dalam laporan
keuangan, laba bersih merupakan laba yang sudah dikurangi dengan
pajak penghasilan sedangkan biaya bunga adalah beban bunga
perusahaan yang tercatat dalam laporan laba rugi tahunan, karena
penelitan ini memakai data keuangan tahunan perusahaan.
Biaya hutang (Kd) dihitung dengan membagi antara biaya bunga
yang terjadi pada tahun tersebut dengan total hutang. Hutang tersebut
mencakup semua hutang baik jangka pendek maupun jangka panjang
yang didapat dari kelompok luar perusahaan. Pajak atas biaya modal
pada penelitian ini dinotasikan dengan Kd* adalah berdasarkan
peraturan kebijaksanaan yang diterapkan masing-masing perusahaan.
Besar pajak yang dikenakan tercantum secara implisit dalam
perhitungan laba bersih setelah pajak yang terdapat dalam laporan
keuangan atau prospektus tahunan perusahaan dimana tarif yang
dikenakan berbeda untuk tiap perusahaan.
Untuk
menghitung
biaya
ekuitas
dalam
penelitian
ini
menggunakan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Alasan
penggunaan model ini karena pemakaian rumus CAPM memberikan
prediksi yang tepat antara hubungan risiko sebuah aset dan tingkat
harapan pengembalian (expected return). Adapun langkah-langkah
dalam menghitung Biaya Ekuitas (Ke) menggunakan model CAPM
sebagai berikut :
………………………………………… (6)
Dimana Rit = tingkat pengembalian saham perusahaan tahun ke-t
Pit = harga saham per lembar tahun t
Pit-I = harga saham per lembar sebelumnya
Dt = Dividen pada bulan ke-t
……………………………………….. (7)
……………………………………….. (8)
Dimana
Rmt = tingkat pengembalian pasar pada tahun ke-t
N
= jumlah data
E(Rm) = tingkat pengembalian pasar yang diharapkan
…………………………………………………… (9)
Dimana βi
im
= Beta saham I
= kovarian tingkat pengembalian saham I dengan
tingkat pengembalian saham I dengan tingkat
pengembalian pasar
= varian tingkat pengembalian pasar
4. Rf
= Tingkat pengembalian bebas risiko
Tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia
5. COC
= Rf + βi E(Rm – Rf) ………………………….. (10)
Rumus yang digunakan adalah penjumlahan antara tingkat risiko
yang didapat dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan koefisien
beta dari saham yang didapat dari pengembalian saham biasa relatif
terhadap pasar secara keseluruhan dan beta tersebut dikalikan dengan
premi risiko pasar (Keown, 2004).
Struktur modal perusahaan merupakan persentase yang seimbang
dari masing-masing komponen hutang dan modal yang dimiliki
perusahaan. Persentase komponen hutang dilambangkan dengan Wd,
sedangkan persentase komponen modal yaitu We.
Perhitungan WACC dengan menggunakan penjumlahan hasil
kali antara bobot tertimbang atas komponen hutang dan komponen
modal ekuitas perusahaan dari keseluruhan struktur modal perusahaan
dengan persentase masing-masing biaya hutang dan biaya ekuitas.
Invested Capital merupakan modal perusahaan (hutang dan ekuitas)
dalam mengelola usahanya dikurangi dengan non interest bearing
liabilities. Ringkasan perhitungan EVA dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Langkah-langkah perhitungan EVA
Tahapan
1. NOPAT
Perhitungan
NOPAT = Laba Bersih + Biaya Bunga
Laba
Rugi
Laba
Rugi
2. (Kd*)
3. (Ke)
Sumber
Kd* = Kd (1-T)
Neraca
Ke = Rf + β (Rm – Rf)
Diketahui
4. Struktur
Modal
Neraca
5. WACC
WACC = [(Kd* Wd) + (Ke x We) ]
Diketahui
6. IC
IC = Asset – Non Interest Liabilities
Neraca
7. COC
COC = WACC × IC
Diketahui
8. EVA
EVA = NOPAT – COC
Diketahui
Sumber : Utama, 1997
3.3.2. Metode Market Value Added (MVA)
Kekayaan pemegang saham akan menjadi maksimal dengan
memaksimalkan perbedaan antara nilai pasar ekuitas perusahaan
dengan jumlah modal ekuitas yang diinvestasikan investor. Perbedaan
ini disebut nilai tambah pasar (Market Value Added) (Brigham dan
Houston, 2001).
Manfaat
dari MVA disamping untuk mengukur kinerja
perusahaan adalah juga untuk mengukur nilai perusahan yang berhasil
diciptakan. Nilai perusahaan dalam kaitannya dengan pasar modal akan
tampak pada harga saham perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Young dan O‟Byrne (2001), nilai Market Value Added
dapat dihitung dengan rumus :
MVA = Nilai pasar ekuitas – Modal ekuitas yang diinvestasikan
investor ………………………………………………. (11)
Nilai pasar ekuitas merupakan perkalian antara harga pasar
saham perusahaan dengan jumlah saham yang beredar (shares
outstanding). Harga pasar yang digunakan adalah adalah harga pasar
tahunan yang didapat dari harga pasar saham yang tercantum pada akhir
periode tahun tersebut. Sedangkan jumlah saham yang beredar
merupakan jumlah saham yang ditawarkan perusahaan selama periode
tahunan. Setelah semua komponen diketahui, maka MVA dapat
diketahui nilainya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perusahaan
4.1.1. Sekilas tentang PT Sampoerna Agro Tbk
PT Sampoerna Agro („Sampoerna Agro‟ atau „Perseroan‟) dan
Anak Perusahaan („Kelompok Usaha Sampoerna Agro) adalah salah
satu kelompok usaha minyak kelapa sawit dan inti sawit. Perseroan
juga merupakan salah satu dari tujuh perusahaan produsen bibit kelapa
sawit di Indonesia. Saat ini, PT Sampoerna Agro Tbk bersama-sama
dengan
anak-anak
perusahaannya
(“Sampoerna
Agro”
atau
“Perseroan”) adalah salah satu produsen terbesar kelapa sawit dan inti
sawit di Indonesia. Perseroan juga merupakan satu dari sedikit
produsen kecambah kelapa sawit yang menerima izin dari Menteri
Pertanian Republik Indonesia untuk memproduksi dan menjual
kecambah kelapa sawit kepada pihak ketiga.
Perseroan didirikan dengan nama PT Selapan Jaya dan
berkedudukan di Palembang. Perseroan adalah suatu perseroan terbatas
yang didirikan berdasarkan dan diatur menurut undang-undang
Republik Indonesia berdasarkan Akta Pendirian Perseroan No. 8,
tanggal 7 Juni 1993, dibuat di hadapan Tina Chandra Gerung SH,
Notaris di Jakarta. Akta tersebut telah disetujui oleh Menteri
Kehakiman berdasarkan Keputusan No. C2-1840.HT.01.01.TH‟94
tanggal 4 Februari 1994 dan didaftarkan di kantor Pengadilan Negeri
Palembang di bawah No. 42/1994/PT tanggal 23 April 1994. Akta
Pendirian tersebut telah diumumkan dalam Berita Negara No. 60
tanggal 29 Juli 1994, Tambahan No. 4842. Perseroan berstatus
Penanaman Modal Asing (PMA) dengan diperolehnya Surat
Persetujuan Penanaman Modal Dalam Negeri berdasarkan Surat
Kepala BKPM No. 4/V/PMA/2007 tanggal 4 Januari 2007.
Adapun perjalanan sejarah perusahaan (milestone company)
perusahaan sebagai berikut :
1976 : Pendirian PT Aek Tarum, perusahaan pertama dalam
Kelompok Usaha Sampoerna Agro.
1989 : Penanaman pertama di wilayah Sumatera oleh PT Aek Tarum.
1992 : PT Sungai Rangit didirikan untuk mengelola lahan kelapa
sawit di propinsi Kalimantan Tengah.
1993 : PT Selapan Jaya (sekarang bernama PT Sampoerna Agro Tbk)
didirikan untuk mengelola lahan kelapa sawit di propinsi
Sumatera Selatan.
1994 : PT Binasawit Makmur mendapat Ijin Pemasukan Bibit
Tanaman Sawit (DxD, TxP dan DxP) dari Costa Rica.
1996 : Operasi perdana PKS pertama di Belida yang memiliki
kapasitas 60 ton TBS per jam.
1998 : Penanaman
pertama
di
wilayah
Kalimantan
oleh
PT Sungai Rangit.
2004 : Peluncuran
lima
varietas
unggul
kelapa
sawit
dari
PT Binasawit Makmur yaitu DxP Sriwijaya 1 sampai 5 oleh
Presiden Indonesia Ibu Megawati Soekarnoputri dan secara
bersamaan meresmikan Pabrik Kelapa Sawit Telaga Hikmah.
2005 : PT Binasawit Makmur mendapat sertifikasi ISO 9001 untuk
Sistem Produksi Kecambah Kelapa Sawit DxP Sriwijaya.
PT Aek Tarum, anak perusahaan Perseroan, menerima
sertifikasi ISO 9001 dan ISO 14001.
2006 : Kelompok
Usaha
Sampoerna
Strategic
mengakuisisi
PT Sungai Rangit.
2007 : Perseroan
terdaftar
sebagai
anggota
Roundtable
on
Sustainable Palm Oil (RSPO).
Kelompok
PT
Usaha
Selapan
Jaya
Sampoerna
dan
Strategic
merubah
mengakuisisi
namanya
menjadi
PT Sampoerna Agro Tbk. Perseroan meluncurkan varietas
unggul kelapa sawit baru, DxP Sriwijaya 6.
Perseroan tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa Efek
Indonesia dengan kode SGRO.
2008 : PT Sungai Rangit melakukan penambahan kapasitas PKSnya
di Kalimantan dari 45 ton TBS per jam menjadi 75 ton TBS
per jam.
Penerimaan enam sertifikat “Hak Perlindungan Varietas
Tanaman” dari Departemen Pertanian Republik Indonesia
kepada
BSM
untuk
enam
varietas
kecambah
yang
dikembangkan dengan nama DxP Sriwijaya.
Peresmian Gedung Seed Processing Unit (SPU) dengan
teknologi pengecambahan berstandar internasional.
Pada tanggal 31 Desember 2009, kebun inti dan plasma
Perseroan yang berada di wilayah Sumatera sebesar 57.547 ha tanaman
menghasilkan dan 17.196 ha tanaman belum menghasilkan. Sedangkan
perkebunan Perseroan di wilayah Kalimantan termasuk kebun dengan
pola kemitraan, terdiri dari sekitar 12.604 ha tanaman menghasilkan
dan 7.320 ha tanaman belum menghasilkan. Dengan kata lain,
Perseroan mengelola kebun inti sekitar 50.768 ha sementara kebun
plasma dan kemitraan kira-kira 43.898 ha. Perseroan memiliki sekitar
112.481 ha Hak Guna Usaha dan 109.363 ha izin lokasi untuk
dikembangkan.
Perseroan memiliki lima Pabrik Kelapa Sawit (PKS), empat
diantaranya berlokasi di Sumatera dan satu berada di Kalimantan. PKS
di Sumatera memiliki kapasitas produksi 320 ton tandan buah segar
(TBS) per jam, sedangkan PKS di Kalimantan memiliki kapasitas
produksi 75 ton TBS per jam. Satu PKS tambahan berkapasitas 60 ton
TBS per jam yang berlokasi di Sumatera akan memulai operasi pada
paruh pertama tahun 2010.
Saat ini kepemilikan saham PT Sampoerna Agro mayoritas
dimiliki oleh Sampoerna Agri Resources Pte Ltd (67,05%) dan yang
lainnya (32,95%). PT Sampoerna Agro merupakan perusahaan
perkebunan yang
memiliki 15 anak perusahaan. Perseroan dan
anak-anak perusahaannya, PT Telaga Hikmah, PT Aek Tarum,
PT Mutiara Bunda Jaya, dan PT Gunung Tua Abadi yang beroperasi di
wilayah Sumatera merupakan salah satu pengelola kebun inti dan
Pembina petani plasma yang paling berhasil di Indonesia. Pada tahun
2009, sekitar 90% dari petani plasma yang dibina oleh Perseroan telah
berhasil melunasi kredit plasma yang diberikan oleh bank-bank
pemerintah. Struktur kelompok usaha Sampoerna Agro dan persentase
kepemilikannya dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini.
Sampoerna Agri Resources 67,05 %
Other 32,95 %
Sampoerna Agro
Sawit Selatan 99,69 %
Palma Agro * 100 %
Tania Binatama 99,67 %
Sungai Rangit 95 %
Selatan Jaya Permai 99,91 %
Samperna Bio Fuels 99,99 %
Sungai Menang 99,91 %
Pertiwi Lenggara Agromas 99,99 %
Telaga Hikmah 99,45 %
Usaha Agro Indonesia 99,99 %
Aek Tarum 99,00%
Lanang Agro Bersatu 99,90 %
Mutiara Bunda Jaya 99, 38 %
Gunung Tua Abadi 99, 86 %
Binasawit Makmur 99, 00 %
Gambar 2. Struktur Kelompok Usaha Sampoerna Agro
Pada tahun 2007, PT Sampoerna Agro telah mencapai babak
baru
dalam
perjalanannya.
Pada
tahun
tersebut
perseroan
melaksanakan penawaran umum perdana saham perusahaan. Dengan
terjualnya saham perseroan di Bursa Efek, maka komposisi pemegang
saham
PT Sampoerna Agro dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini.
Tabel 5. Komposisi pemegang saham PT Sampoerna Agro tahun 2009
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Nama
Sampoerna Agri Resources Pte Ltd
PT AIA FINL – UL Equity
PT Nitiagro Lestari
PT Taspen
PT Prudential Life Assuarance
Citibank Singapore S/A
FORTIS EQUITAS
Reksa Dana Schoder Dana Plus
TRIM KAPITAL
AVRIST – LINK AGGRESSIVE EQ IDR FUND
Publik lainnya
Status
Foreign Institution
Local Institution
Local Institution
Local Institution
Local Institution
Foreign Institution
Local Institution
Local Institution
Local Institution
Local Institution
Local Institution
Total
Jumlah lembar saham
1.267.217.500
43.318.000
33.458.000
28.282.500
27.557.500
24.401.000
21.143.500
13.500.000
11.102.500
10.868.000
409.151.500
1.890.000.000
% Kepemilikan
67,05%
2,29%
1,77%
1,50%
1,46%
1,29%
1,12%
0,71%
0,59%
0,58%
21,64%
100 %
Sumber : Laporan tahunan PT Sampoerna Agro tahun 2009
4.1.2. Visi dan Misi PT Sampoerna Agro Tbk
Sebagai bagian dari Kelompok Usaha Sampoerna Strategic,
Perseroan memiliki visi untuk menjadi salah satu perusahaan agribisnis
terdepan yang bertanggung jawab di Indonesia dengan strategi
pertumbuhan yang pesat. Adapun Visi dan Misi Perseroan yaitu :
Visi
: Menjadi salah satu perusahaan terdepan dalam yang
bertanggungjawab di sektor agribisnis Indonesia.
Misi
:
1. Mengembangkan tim manajemen profesional yang berintegritas
tinggi dan didukung oleh sumber daya manusia yang terampil dan
termotivasi.
2. Mencari dan
mengembangkan peluang
pertumbuhan
yang
menguntungkan di bisnis inti kami dengan tetap menjaga
pengeluaran biaya secara tetap.
3. Terus berusaha mencapai kesempurnaan melalui inovasi, penelitian
dan pengembangan.
4. Ikut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat
sekitar perkebunan.
5. Menjaga dan mempromosikan standar lingkungan hidup yang
berlaku dalam segala aspek pengembangan, produksi dan
pengembangan.
PT
Sampoerna
Agro
melaksanakan
Good
Agricultural
Practices (GAPs) yang memastikan pengelolaan usaha perkebunan
secara benar dan bertanggungjawab, mulai dari pembukaan lahan
hingga pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan
pengolahan. Semua ini membuat bisnis perkebunan Sampoerna Agro
menjadi baik dan bermanfaat : Mengupayakan produktifitas pada
sumber daya lahan, menciptakan lapangan kerja serta menggalang
komunitas dalam peningkatan kesejahteraan.
Diantara
beberapa
kegiatan
yang
bersahabat
dengan
lingkungan, Sampoerna Agro melakukan pengendalian hama tanaman
secara hayati dan mengubah sampah organik menjadi pupuk. Selain
itu, upaya Perseroan untuk mematuhi standar RSPO (Roundtable on
Sustainable Palm Oil) maupun pelestarian lingkungan lainnya
menjadikan Sampoerna Agro sebagai perusahaan hijau dalam arti yang
seluas-luasnya.
Sebagai perusahaan perkebunan kelapa sawit yang relatif masih
muda dengan sebagian besar produktifitas kedepannya, serta didukung
oleh sumber daya penelitian dan pengembangan (R&D) yang kuat,
Sampoerna Agro merupakan perusahaan yang berkembang di salah
satu sektor agroindustri yang paling menarik di dunia saat ini.
4.1.2. Struktur Organisasi
PT Sampoerna Agro Tbk berkantor pusat di Sampoerna
Strategic Square, North Tower, Lantai 28, Jalan Jenderal Sudirman
Kav 45, Jakarta. PT Sampoerna Agro Tbk juga memiliki kantor
di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Seychelles.
Perusahaan memilliki Dewan Komisaris yang terdiri dari
Komisaris Utama (Michael Sampoerna),
Komisaris (Sugiarta
Gandasaputra, Mak Ping On) dan Komisaris Independen (Phang
Cheow Hock, Arief Tarunakarya Surowidjojo). Dewan Direksi terdiri
dari Presiden Direktur (Ekadharmajanto Kasih) dan Direktur
(Jeffesjah Chandra, Sie Eddy Kurniawan, Chang Poh Sang, Yasin
Chandra).
Perkebunan kelapa sawit merupakan industri padat karya, yang
menjadikan sumber daya manusia sebagai modal utama perseroan.
Pada tahun 2009, perseroan mempekerjakan hampir 10.200 orang
termasuk pekerja kontrak. Selain itu, perseroan juga menjalin
kerjasama dengan lebih dari 20.000 petani plasma.
4.2. Kinerja Keuangan Perusahaan
4.2.1. Economic Value Added (EVA)
Perusahaan sebagai suatu organisasi memiliki tujuan tertentu
yang harus dicapai. Salah satu cara untuk mengetahui apakah suatu
perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya telah sesuai dengan
rencana yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuannya adalah melalui
kinerja
operasinya.
mengidentifikasikan
Penilaian
adanya
kinerja
pemborosan
ini
atau
penting
untuk
ketidakberesan
sehingga dapat segera diatasi.
Laporan keuangan menjadi penting karena memberikan input
informasi yang dapat dipakai untuk pengambilan keputusan. Banyak
pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu
perusahaan, mulai dari investor atau calon investor sampai dengan
manajemen perusahaan itu
sendiri.
Laporan keuangan akan
memberikan informasi mengenai likuiditas, profitabilitas, timing
aliran kas, yang kesemuanya akan mempengaruhi banyak pihak-pihak
yang berkepentingan. Harapan investor akan kinerja keuangan
tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi nilai perusahaan.
Besarnya perbedaan antara harga rata-rata CPO di tahun 2009
dibanding tahun 2008 membuat hampir tidak mungkin bagi
PT Sampoerna Agro Tbk untuk menjadikan pencapaian di tahun 2008
sebagai acuan kinerja operasional untuk tahun 2009. Total pendapatan
konsolidasi dari penjualan kecambah (benih sawit), CPO dan produk
lain di tahun 2009 mencapai Rp 1.815,6 miliar, turun 21% dari
Rp 2.288,1 miliar di tahun 2008. Penurunan tersebut terutama
disebabkan oleh terjadinya penurunan secara signifikan harga jual
rata-rata CPO karena melambatnya ekonomi global, dan juga karena
menurunnya volume penjualan CPO. Tahun 2008 harga rata-rata CPO
yang
diperdagangkan
di
MDEX
(Malaysian
Derivatives
Exchange/Bursa Derivatif Malaysia), menyentuh rekor tertinggi
mencapai MYR 2.864 per ton (Ringgit Malaysia). Pada tahun 2009
harga rata-rata CPO mencapai MYR2.261 per ton (dalam Ringgit
Malaysia). Produksi minyak sawit pada tahun 2009 sedikit menurun
sebesar 0,5% menjadi 264.162 ton dibandingkan 265.468 ton pada
tahun 2008. Penjualan produk Perseroan mengalami penurunan
sebesar 21% dari Rp 2.288,1 miliar di tahun 2008 menjadi Rp 1.815,6
miliar di tahun 2009. Ringkasan laporan laba rugi perseroan pada
tahun 2008-2009 dapat dilihat pada Tabel 6 dibawah ini.
Tabel 6. Ringkasan laporan laba rugi konsolidasi PT Sampoerna Agro
tahun 2008-2009 (dalam ribuan rupiah)
Komponen
2008
2009
Penjualan
2.888.143.121
1.815.557.167
Beban pokok penjualan
1.512.477.229
1.216.130.626
Laba kotor
775.665.892
599.426.541
Beban usaha
164.209.981
139.389.407
Laba usaha
611.455.911
460.037.134
Penghasilan (Beban) lain-lain
20.305.894
(50.678.760
Laba sebelum beban pajak
631.761.805
409.358.374
penghasilan badan
Jumlah beban pajak penghasilan
(185.793.379)
(123.134..555)
badan
Laba sebelum hak minoritas atas
445.968.426
286.223.819
laba bersih anak perusahaan
Laba bersih
439.516.256
281.766.208
Laba bersih per saham dasar
236
151
Sumber : Laporan keuangan PT Sampoerna Agro
Laba perseroan di tahun 2009 juga lebih rendah daripada tahun
2008,
terutama
disebabkan
karena
menurunnya
pendapatan
konsolidasi yang menyebabkan penurunan marjin. PT Sampoerna
Agro Tbk mendapatkan laba bersih sebesar Rp 281,8 miliar di tahun
2009, sedangkan di tahun 2008 sebesar Rp 439,5 miliar. Hal ini
mencerminkan laba per saham sebesar Rp 151 di tahun 2009
sedangkan di tahun 2008 sebesar
Rp 236. Laba bersih terhadap
jumlah aset mencapai 12,5% di tahun 2009, sedangkan di tahun 2008
sebesar 20,4%. Pada tahun 2009, laba bersih terhadap jumlah ekuitas
mencapai 16,0%. Adapun di tahun 2008 sebesar 28,3%. Ringkasan
neraca konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009 dapat dilihat
pada Tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7. Ringkasan neraca konsolidasi PT Sampoerna Agro
tahun 2008-2009 (dalam ribuan rupiah)
Komponen
2008
2009
Aset lancar
803.628.697
615.541.739
Aset tidak lancar
1.352.535.319
1.646.256.500
Jumlah Aset
2.156.164.013
2.261.798.239
Kewajiban lancar
354.044.207
235.648.479
Kewajiban tidak lancar
223.944.244
239.318.606
Jumlah kewajiban
577.988.451
474.967.085
Jumlah ekuitas bersih
1.552.963.652
1.765.580.591
Jumlah kewajiban dan ekuitas
2.156.164.013
2.261.798.239
Sumber : Laporan keuangan PT Sampoerna Agro
Economic Value Added (EVA) merupakan suatu metode
pengukuran kinerja perusahaan yang menghitung laba ekonomis
sebenarnya yang telah berhasil diciptakan oleh suatu perusahaan.
Dengan menghitung nilai EVA, perusahaan dapat melihat suatu
gambaran mengenai peningkatan atau penurunan nilai laba ekonomis
yang sebenarnya tercipta dari kinerjanya, sehingga diketahui posisi
perusahaan menurut sudut pandang investor, apakah perusahaan telah
menjadi wealth creator atau wealth destroyer.
Nilai EVA pada tahun 2008 lebih tinggi dibandingkan tahun
2009. Penurunan ini disebabkan oleh perubahan-perubahan nilai
komponen-komponen EVA. Komponen-komponen EVA terdiri dari
Net Operating After Tax (NOPAT) dan Cost of Capital (COC). Yang
dimaksud dengan NOPAT yaitu laba operasi bersih sesudah pajak,
sedangkan COC adalah semua biaya yang secara riil dikeluarkan oleh
perusahaan dalam rangka mendapatkan sumber dana baik yang
berasal dari hutang, saham preferen, saham biasa, maupun laba
ditahan untuk membiayai investasi perusahaan. Nilai EVA pada tahun
2008 sebesar Rp 1.024.496.611.000 sedangkan pada tahun 2009
mengalami penurunan yang signifikan menjadi – Rp 40.707.153.000.
Ringkasan perhitungan nilai EVA yang telah dicapai perusahaan
dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Ringkasan
perhitungan
nilai
Economic
Value
Added
(EVA)
PT Sampoerna Agro Tbk periode 2008-2009 (dalam ribuan rupiah)
Laba bersih Biaya bunga
NOPAT
Periode
COC (Rp)
EVA (Rp)
(Rp)
(Rp)
(Rp)
2008
439.516.256
24.465.833 463.983.089
-560.154.522 1.024.496.611
2009
281.766.208
27.899.266 309.665.434 350.372.587,02
-40.707.153
157.750.048
3.433.433 154.316.655 910.887.109.41 1.065.203.764
Selisih
35,89%
14%
33%
104%
163%
Sumber : Laporan Keuangan dan Harga Saham PT Sampoerna Agro (diolah)
Hasil perhitungan NOPAT pada tahun 2009 mengalami
penurunan dibandingkan pada tahun 2008. Meskipun biaya bunga
mengalami peningkatan tetapi tidak diimbangi dengan kenaikan laba
bersih perusahaan. Biaya bunga tahun 2009 meningkat dari tahun
sebelumnya sebesar Rp 3.433.433.000 sedangkan laba bersih
mengalami penurunan sebesar Rp 157.750.048.000. Karena biaya
bunga yang dibayarkan oleh perusahaan meningkat, maka berakibat
pada penurunan nilai NOPAT. Hasil perhitungan nilai NOPAT dapat
dilihat pada Lampiran 7.
Biaya hutang (Kd*) perusahaan mengalami peningkatan dari
0,079 menjadi 0,082 (Lampiran 7). Peningkatan ini disebabkan oleh
kenaikan proporsi hutang dari Rp 217.000.000.000 menjadi
Rp 244.000.000.000. Biaya ekuitas (Ke) perusahaan juga meningkat
dari -44,089% menjadi 20,632% (Lampiran 7). Pada tanggal 31
Desember 2009, jumlah ekuitas sebesar Rp1.766 miliar, mengalami
kenaikan sebesar 14% dibandingkan dengan ekuitas pada tanggal 31
Desember 2008 sebesar Rp1.553 miliar.
Berdasarkan data bulanan harga saham tahun 2008 dan 2009,
PT Sampoerna Agro memiliki koefisien beta yang positif yaitu 7,980
dan 3,260. Hal ini menunjukkan bahwa saham PT Sampoerna Agro
lebih agresif dari pasar. Pada suatu kesempatan harganya dapat naik
sedemikian cepat melebihi kenaikan pasar atau Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG). Namun pada saat pasar sedang turun, harganya
akan turun lebih cepat dari pada pasar. Artinya, jika pasar sedang
naik, saham tersebut akan mengalami kenaikan yang lebih tinggi
daripada harga pasar.
Kondisi kenaikan biaya hutang dan biaya ekuitas perusahaan
mengakibatkan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC) mengalami
peningkatan sebesar 47,954% karena WACC diperoleh dari
penjumlahan proporsi biaya hutang dengan proporsi biaya ekuitas.
Perhitungan WACC ini dapat dilihat pada Lampiran 11. Nilai WACC
pada tahun 2008 sebesar -30,961% menjadi 16,994% pada tahun
2009. Selain itu, kondisi ini juga dikarenakan proporsi ekuitas dalam
struktur permodalan mengalami kenaikan dari 72,024% tahun 2008
menjadi 78,061% tahun 2009.
Nilai Invested Capital (IC) perusahaan mengalami peningkatan
dari tahun yang sebelumnya sebesar Rp 251.369.864.000. Pada tahun
2008, nilai IC perusahaan sebesar Rp 1.810.415.739.000 dan pada
tahun 2009 meningkat menjadi Rp 2.061.785.603.000. Peningkatan
ini disebabkan oleh penurunan jumlah hutang beban dan peningkatan
jumlah aset perusahaan (Lampiran 7). Hutang beban yang merupakan
bagian dari non interest bearing liabilities sebagai pengurang total
aset perusahaan untuk mendapatkan nilai IC. Nilai hutang beban pada
tahun 2008 lebih besar daripada tahun 2009. Perhitungan hutang
beban dapat dilihat pada Lampiran 11.
Nilai rata-rata COC pada tahun 2009 lebih besar daripada tahun
sebelumnya.
Rp
Nilai
350.372.587.000,
COC
pada
sedangkan
pada
tahun
tahun
2009
2008
sebesar
sebesar
– Rp 560.154.522.000. Perhitungan COC ini dapat dilihat pada
Lampiran 7. Naiknya biaya modal perusahaan ini mengakibatkan nilai
EVA pada tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan tahun
sebelumnya. Nilai EVA tahun 2008 sebesar Rp 1.024.496.611.000,
sedangkan pada tahun 2009 sebesar – Rp 40.707.153.000.
4.2.2. EVA sebagai Pengukur Kinerja Keuangan
Nilai EVA pada tahun 2008 menghasilkan angka yang positif
(EVA>0) karena nilai NOPAT lebih besar daripada nilai biaya modal
perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan sudah dapat
menambahkan nilai ekonomis ke dalam perusahaan atau dengan kata
lain perusahaan mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi melalui
kegiatan-kegiatan operasionalnya sehingga mampu membayar seluruh
kewajibannya kepada penyedia dana (investor) dan pemerintah
(pajak) tetapi juga mampu menghasilkan laba yang lebih tinggi bagi
perusahaan.
Pada tahun 2009, nilai EVA menghasilkan angka yang negatif
(EVA<0), dimana terjadi penurunan sebesar Rp 1.065.203.764.000.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi proses nilai tambah atau
dengan kata lain perusahaan tidak mampu membayarkan kewajiban
kepada para penyandang dana atau kreditur sebagaimana yang
diharapkan. Penurunan nilai EVA ini antara lain disebabkan oleh:
1. Penjualan
Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan pada
volume penjualan produk kelapa sawit dan kecambah kelapa sawit,
serta harga penjualan rata-rata produk kelapa sawit yang lebih
rendah. Penjualan di pasar domestik berkisar 91% dan 89% dari
jumlah penjualan masing-masing di tahun 2008 dan 2009.
Penjualan produk kelapa sawit menurun 19% menjadi Rp
1.762 miliar di tahun 2009 dibandingkan Rp 2.186 miliar pada
tahun 2008 yang disebabkan oleh penurunan volume penjualan
minyak sawit sebesar 8,3% menjadi 263.458 ton di tahun 2009
dibandingkan 287.152 ton pada tahun 2008. Harga jual rata-rata
minyak sawit juga menurun 9,2% dibandingkan dengan tahun
2008.
Penjualan kecambah kelapa sawit menurun 59% dari
Rp 95,5 miliar di tahun 2008 menjadi Rp 39,5 miliar di tahun
2009, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan
kecambah dari 18,4 juta di tahun 2008 menjadi 5,9 juta di tahun
2008, namun sebagian dikompensasi dengan peningkatan harga
jual kecambah sebesar 29%. Volume penjualan ini menurun seiring
dengan menurunnya permintaan pasar atas kecambah.
Beban pokok penjualan Perseroan pada tahun 2009 terdiri
dari beban pemeliharaan kebun, panen, pembelian buah plasma,
alokasi beban tidak langsung, pengolahan, penyusutan dan
amortisasi, dan pergerakan persediaan. Beban pokok penjualan
menurun sebesar 20% dari Rp1.512 miliar di tahun 2008 menjadi
Rp1,216 miliar di tahun 2009, sejalan dengan penurunan
penjualan.
Penjualan merupakan unsur dari NOPAT. Penurunan
penjualan ini akan menurunkan NOPAT yang pada akhirnya
mengurangi nilai EVA.
2. Ekuitas
Ekuitas
atau
modal
sendiri
perusahaan
merupakan
komponen dari Invested Capital (IC) dalam menghitung biaya
modal
perusahaan.
Ekuitas
pada
tahun
2009
mengalami
peningkatan sebesar 13,69%. Pada tahun 2008, ekuitas perusahaan
sebesar Rp 1.552.963.652.000, sedangkan pada tahun 2009 naik
menjadi Rp 1.765.580.591.000. Kenaikan ini disebabkan oleh
penjualan modal saham yang dibeli kembali dari laba bersih di
tahun 2009 dimana sebagian terkompensasi dengan adanya
pembagian
dividen dari
saldo
laba
tahun
2008
sebesar
Rp 170,1 miliar. Kenaikan ekuitas ini berakibat pada kenaikan
proporsi struktur modal ekuitas perusahaan, sehingga biaya ekuitas
perusahaan lebih besar daripada biaya hutang perusahaan. Hal
tersebut mengakibatkan nilai WACC pun meningkat sehingga nilai
EVA mengalami penurunan.
4.2.3. Market Value Added (MVA)
Market Value Added (MVA) menunjukkan kinerja pasar dari
suatu perusahaan. Metode pengukuran ini dapat menggambarkan
seberapa besar kemampuan perusahaan atas modal yang dimiliki
investor karena melibatkan harga saham sebagai komponen
utamanya. Harga saham mencerminkan kekuatan interaksi antara
pembeli dan penjual. Selain itu, munculnya informasi baru mengenai
perusahaan akan membuat permintaan dan penawaran berubah
sehingga menghasilkan nilai pasar yang berubah juga. Informasi
tersebut salah satunya adalah mengenai kinerja yang berkaitan dengan
perusahaan. Pengaruh kinerja ini terkait dengan kegiatan atau
aktivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan atau laba.
Semakin tinggi laba, harga saham pun akan bereaksi positif. Semakin
positif nilai MVA, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja
yang baik, karena telah berhasil melakukan penambahan nilai atas
modal yang dipercayakan investor kepada perusahaan (wealth
creator). Ringkasan perhitungan nilai MVA yang telah dicapai
perusahaan dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Ringkasan
perhitungan
nilai
Market
Value
Added
(MVA)
PT Sampoerna Agro Tbk periode 2008-2009 (dalam ribuan rupiah)
Harga saham Jumlah saham
Nilai pasar
Periode per lembar
beredar
ekuitas
Ekuitas (Rp)
MVA (Rp)
(Rp/lembar)
(lembar)
(Rp)
2008
1.190
1.890.000 2.249.100.000 1.552.963.652
696.136.348
2009
2.700
1.890.000 5.103.000.000 1.765.580.591 3.337.419.409
1.510
- 2.853.900.000
212.616.939 2.641.283.061
Selisih
127%
127%
13,69%
379,42%
Sumber : Laporan Keuangan dan Harga Saham PT Sampoerna Agro (diolah)
Pada tahun 2009, MVA PT Sampoerna Agro mengalami
peningkatan sebesar 379,42% dari tahun sebelumnya. Pada tahun
2008, nilai MVA yang dihasilkan positif. Hal ini menandakan
perusahaan telah berhasil memelihara kepercayaan investor atas
modal yang diberikan dengan meningkatkan nilai modal yang
ditanamkan kepada investornya.
Memasuki tahun 2009, nilai MVA yang dicapai perusahaan
meningkat
signifikan.
Harga
saham
yang
terus
mengalami
peningkatan membuat nilai MVA terus meningkat. Walaupun pada
tahun 2009 nilai ekuitasnya meningkat sebesar Rp 212.616.939.000
dibandingkan tahun 2008, namun peningkatan nilai pasar ekuitas
masih lebih besar dari ekuitasnya sehingga nilai MVA positif.
Jumlah saham PT Sampoerna Agro yang beredar pada tahun
2008 hingga tahun 2009 tidak mengalami peningkatan. Hal ini
menandakan tidak terjadi penambahan modal sendiri untuk membantu
pelaksanaan kegiatan operasional perusahaan dan perluasan kegiatan
usaha yang akan dijalankan. Sementara itu, peningkatan harga saham
dari tahun 2008 hingga tahun 2009 sebesar Rp 1.510 mengindikasikan
bahwa terjadi peningkatan aktivitas interaksi antara permintaan dan
penawaran saham PT Sampoerna Agro sehingga membentuk harga
ekuilibrium baru yang lebih tinggi.
4.2.4. MVA sebagai Pengukur Kinerja Keuangan
Menurut Steward dalam Ruky (1999), dengan meningkatnya
Economic Value Added (EVA) dari tahun ke tahun, berarti suatu
perusahaan telah meningkatkan Market Value Added (MVA) dan
sebaliknya. Jika sebuah perusahaan memiliki nilai-nilai EVA yang
negatif, maka nilai MVA kemungkinan juga akan negatif. Jika
terdapat nilai-nilai EVA yang positif, maka nilai MVA positif. Oleh
karena itu Stem Stewart berkeyakinan bahwa Economic Value Added
(EVA) adalah kunci untuk menciptakan nilai perusahaan dan
memaksimalkan Market Value Added (MVA).
Namun ketika harga saham yang merupakan unsur utama dari
perhitungan MVA, dimana lebih bergantung kepada ekspektasi
kinerja di masa yang akan datang daripada kinerja historis, maka
sebuah perusahaan dengan nilai EVA yang negatif dapat saja
memiliki nilai MVA yang positif asalkan para investornya
mengharapkan dan berkeyakinan terjadinya perubahan kinerja
keuangan yang lebih baik di masa yang akan datang. Hal ini dapat
dipengaruhi oleh informasi yang diperoleh investor dan pencitraan
perusahaan.
PT Sampoerna Agro telah mampu mengintegrasikan dengan
lebih baik diantara berbagai lini operasi dari R&D hingga pembibitan,
penanaman, pemeliharaan, pemanenan, pemrosesan dan penjualan.
Efisiensi biaya yang diperoleh dari integrasi tersebut telah membantu
menutup beberapa kerugian pendapatan atas menurunnya penjualan.
Perseroan juga telah berada pada jalur yang benar dalam
upayanya untuk menjadi perusahaan agribisnis terkemuka yang
menjaga kepercayaan para pemangku kepentingannya dengan cara
yang bertanggung jawab dan akuntabel. Mengingat kondisi di tahun
2009 tidak kondusif bagi pertumbuhan maupun ekspansi bisnis kelapa
sawit, perseroan telah berhati-hati dan lebih berfokus untuk
memperkuat aset yang ada termasuk bisnis kecambah di Sumatera dan
lebih dari 90.000 hektar perkebunan kelapa sawit yang berlokasi di
Sumatera dan Kalimantan dari total area sekitar 200.000 hektar. Oleh
karena itu, perseroan telah memperkecil belanja modal untuk
pengembangan penanaman kelapa sawit.
Sampoerna Agro juga telah memperoleh sertifikasi ISO dalam
manajemen lingkungan untuk hampir semua perkebunannya dan telah
memulai upaya untuk memperoleh sertifikasi RSPO (Roundtable on
Sustainable Palm Oil) sebagai bagian dari rencana besar untuk
melaksanakan praktik-praktik terbaik dalam operasi perkebunan
kelapa sawit berkelanjutan dan bersahabat dengan lingkungan.
Perseroan maupun investor percaya bahwa integrasi terus
menerus dalam operasi tersebut, ditambah dengan kemajuan R&D
dalam pengembangan bibit unggul dan dalam praktik-praktik
lingkungan
yang
bersahabat
(Good
Agricultural
Practices),
memberikan landasan yang ideal bagi Sampoerna Agro untuk tumbuh
dan berevolusi menjadi perusahaan berbasis sumber daya agro
terintegrasi dengan CPO sebagai produk utama dan juga kemampuan
di masa depan untuk menghasilkan produk-produk hilir bernilai
tambah.
Perusahaan yang mengimplementasikan Tata Kelola Perusahaan
(Good Corporate Governance) dengan baik, dapat membangun
kepercayaan dan itikad baik diantara pemangku kepentingan utama,
dan dapat memastikan kesinambungan usaha jangka panjang bagi.
Ada perusahaan yang saham banyak dicari investor sehingga
harga saham naik meskipun perusahaan tersebut memiliki EVA yang
tidak baik. Sugiarsono (2002) menyatakan bahwa harga saham
bersifat forward looking yang artinya harga saham mencerminkan
harapan investor terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan arus
kas sekarang dan dimasa datang. Adapun EVA lebih bersifat
backward looking, yakni melihat hasil yang telah dilakukan
manajemen dalam satu periode sehingga tidak mengherankan bila
saham dari beberapa perusahaan yang memiliki EVA jelek tetap
memiliki harga saham tinggi karena dicari banyak investor.
Berhasil atau tidaknya perusahaan meningkatkan nilai MVA
tergantung pada tingkat pengembaliannya. Semakin besar MVA,
menunjukkan indikasi MVA semakin baik. Dari paparan tersebut
dapat dikatakan bahwa nilai MVA positif maka perusahaan telah
berhasil meningkatkan nilai modal yang telah diinvestasikan.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis kinerja keuangan dengan menggunakan metode
Economic Value Added (EVA), PT Sampoerna Agro pada tahun 2008
memiliki nilai EVA yang positif sebesar Rp 1.024.496.61.000 yang berarti
perusahaan telah mampu menciptakan nilai tambah ekonomi kepada
investornya. Namun pada tahun 2009, perseroan memiliki nilai EVA sebesar
Rp -40.707.153.000 dan mengalami penurunan yang signifikan sebesar
Rp 1.065.203.764.000 dari tahun 2008. Hal ini menunjukkan bahwa tidak
terjadi proses nilai tambah ekonomi kepada investor.
Nilai Market Value Added (MVA) yang telah dicapai PT Sampoerna
Agro pada tahun 2008 sebesar Rp 696.136.348.000 sedangkan pada tahun
2009 sebesar Rp 3.337.419.409.000. Keduanya bernilai positif yang
membuktikan bahwa perusahaan telah berhasil menciptakan kekayaan kepada
pemegang sahamnya.
2. Saran
a). Bagi perusahaan yang menghasilkan nilai EVA negatif pada tahun 2009
sebaiknya menjalankan strategi yang meningkatkan laba perusahaan
melalui peningkatan penjualan sebagai unsur utamanya tanpa menambah
biaya modal.
b). Penelitian ini hanya menggunakan data tahun 2008 dan 2009. Diharapkan
kepada peneliti selanjutnya untuk menggunakan data times series yang
melibatkan proyeksi untuk tahun ke depan.
DAFTAR PUSTAKA
BPS. 2007. Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor Kelapa Sawit Indonesia
Tahun 2003-2007. http://BPS.go.id. diakses tanggal 10 Juli 2010.
Brigham, E. F dan J. F. Houstoun. 2006. Manajemen Keuangan (Terjemahan).
Erlangga, Jakarta.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2008. Kebijakan Pengembangan Kelapa Sawit
Berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Seminar Implementasi RSPO
di Indonesia, Bogor, 10 Juni 2008.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2010. Perkembangan Industri Kelapa Sawit di
Indonesia Sangat Signifikan dan Fantastis. http://ditjenbun.deptan.go.id.
diakses tanggal 10 Juli 2010.
Fardiansyah, T. 2003. Betulkah EVA Mengukur Penciptaan Nilai?. Dalam
Swasembada.http://swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=1490
Herman, F Agus dan I Las, 2009. Analisis Finansial dan Keuntungan yang Hilang
dari Pengurangan Emisi Karbon Dioksida pada Perkebunan Kelapa Sawit.
Jurnal Litbang Pertanian, Bogor.
Husnan, S, 2003. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Edisi Ke2, Cetakan Pertama. Penerbit AMPYKPN, Yogyakarta.
Husnan, S dan Enny Pudjiastuti. 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Unit
Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN,
Yogyakarta.
Keown, John D. Martin, dkk. 2004. Manajemen Keuangan : Prinsip dan Aplikasi
Jilid I. PT Indeks Kelompok Gramedia, Jakarta.
Lesmana dan Surjanto. 2003. Financial Performance Analysis. PT. Elek
Komputindo, Jakarta.
Mulyani, A. dan I. Las. 2008. Potensi Sumber Daya Lahan dan Optimalisasi
Pengembangan Komoditas Penghasil Bioenergi Di Indonesia. Jurnal
Penelitian dan Pengembangan Pertanian 27(1): 31−41.
Munawir, S. 2002. Analisis Laporan Keuangan. Liberty, Yogyakarta.
Ningrum, A P. 2008. Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Telekomunikasi
Go Public dengan Metode Economic Value Added (EVA). Skripsi pada
Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Poeradisastra, T. 2001. Menelanjangi Kinerja Manajemen. SWA 20/XVII/4-7,
Jakarta.
Rodoni, A dan H Ali. 2010. Manajemen Keuangan. Mitra Wacana Media, Jakarta
Rousana, M. 1997. Memanfaatkan EVA untuk Menilai Perusahaan di Pasar
Modal Indonesia. Majalah Usahawan No. 04 Tahun XXVI April 1997,
Jakarta.
Ruky, S M. 1999. Menilai Penyertaan dalam Perusahaan. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Sartono, A. 2001. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. BPPE, Yogyakarta.
Setyarini, F. 2003. “Analisa Penerapan Antara EVA dengan Rasio Keuangan
dalam Menilai Kinerja Perusahaan ( Studi Pada Perusahaan Makanan dan
Minuman Yang Terdaftar di BEJ )”. Skripsi pada Fakultas Ekonomi
Universitas Muhammadiyah Malang. Malang
Sjahrial, D. 2009. Manajemen Keuangan. Edisi 3. Mitra Wacana Media, Jakarta.
Sugiono, A. 2009. Manajemen Keuangan untuk Praktisi Keuangan. Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Sunariyah. 2003. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal Edisi Kedua. Unit
Penerbit dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN,
Yogyakarta.
Standar Akuntansi Keuangan. 1994. Ikatan Akuntan Indonesia. Salemba Empat,
Jakarta.
Taufik.
2001.
Penerapan
EVA
Mancanegara.
Markplusnco
http://www.markplusnco.com/download/penerapan_EVA_mancanegara.pdf
Trimurti, O. R. 2003. Kinerja Keuangan Perusahaan Agribisnis Go Public, 19992000. Analisis Perbandingan Antara Metode Tradisional dan Modern.
Skripsi pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Tunggal, A. W. 2008. Memahami Economic Value Added (EVA) teori, soal dan
kasus. Harvarindo, Jakarta.
Turangan, J.A. 2003. Economic Value Added dan Market Value Added : Model
Peramalan Kesejahteraan Pemegang Saham. Jurnal Akuntansi Vol VIII
Utama, S. 1997. Economic Value Added : Pengukuran Penciptaan Nilai
Perusahaan. Majalah Usahawan No. 04 TH XXVI April 1997. Hal 10-13.
Widjayakusuma, R. 2007. Pengaruh Economic Value Added, Residusial Income,
Operating Cashflow dan Operating Income terhadap Return Saham (Studi
empiris pada perusahaan manufaktur dan perbankan Bursa Efek Jakarta
2004-2006. Skripsi pada Program Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis,
Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
www.bei.go.id. [ Agustus 2010]
www.bi.go.id/web/id/Moneter/BI+Rate/. [Agustus 2010]
www.bni.co.id. [16 Januari 2009]
www.sampoernaagro.com [Agustus 2010]
Young, S. D and S. E. O‟byrne. 2001. EVA dan Manajemen Berdasarkan Nilai:
Panduan Praktis untuk Implementasi. Salemba Empat, Jakarta.
Yusbardini, 2004. Perbandingan Penggunaan Metode ROE dan EVA dalam
Menilai Kinerja Keuangan. Di dalam Jurnal Akuntansi Vol VIII no. 2.
140-154
LAMPIRAN
Lampiran 1. Struktur organisasi PT Sampoerna Agro Tbk tahun 2009
President Director
Chief
Operating
Officer
Corporate
Affair
Officer
Head of
Business
Development
Finance &
Accounting
Director
Assistant to
Corporate
Affair Director
Head of
Information
Technology
Head of
Government
Relations
Head of
Treasury
Managing
Director
(Sago)
Head of Public
& Community
Relations
Head of
Tax
Managing
Director
(Cash Corp)
Head of
Investor
Relations
Head of
Accounting
Budget & Tax
Commercial
Director
Corporate
Secretary
Head of Legal/
Compliance
Managing
Director
(Sumatera)
Managing
Director
(Kalimantan)
)
R&D
Director
Head of
Engineering
Head of
Human
Resources
Head of
Internal
Audit
Head of
Management &
Organization
Development
Head of
Compensation &
Benefit
Lampiran 2. Tingkat IHSG bulanan tahun 2008-2009
2008
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
2009
IHSG
2,627.25
2,721.94
2,447.30
2,304.52
2,444.35
2,349.11
2,304.51
2,165.94
1,832.51
1,256.70
1,241.54
1,355.41
Sumber : http://www.bei.go.id
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
IHSG
1,332.67
1,285.48
1,434.07
1,722.77
1,916.83
2,026.78
2,323.24
2,341.54
2,467.59
2,367.70
2,415.84
2,534.36
Lampiran 3. Daftar harga saham PT Sampoerna Agro 2008-2009
Periode
2009
Kuartal I
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV
2008
Kuartal I
Kuartal II
Kuartal III
Kuartal IV
Tertinggi
Terendah
Penutupan
Volume Perdagangan
1380
1830
2200
2775
1120
1350
1560
1950
1120
1640
2050
2700
249.562.000
42.463.000
447.132.000
369.519.500
4850
4175
3825
1420
3300
3050
1620
910
3750
3825
1690
1190
1.077.242.000
347.070.500
343.976.500
404.855.000
Sumber : http://www.sampoernaagro.com
Lampiran 4. Tingkat rata-rata suku bunga SBI bulanan tahun 2008-2009
2008
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Rata-rata
2009
SBI
8.00%
8.00%
8.00%
8.00%
8.25%
8.50%
8.75%
9.00%
9.25%
9.50%
9.50%
9.25%
8.67%
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Rata-rata
Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/BI+Rate/
SBI
8.75%
8.25%
7.75%
7.50%
7.25%
7.00%
6.75%
6.50%
6.50%
6.50%
6.50%
6.50%
7.15%
Lampiran 5. Neraca konsolidasi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009
Lanjutan Lampiran 5
Lampiran 6. Laporan laba rugi PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009
Lampiran 7. Langkah-langkah perhitungan Economic Value Added (EVA)
Perhitungan Net Operating After Tax (NOPAT)
Periode
2009
Laba bersih setelah pajak
281.766.208
439.516.256
27.899.226
24.465.833
309.665.434
463.982.089
Biaya Bunga
NOPAT
Perhitungan Kd*
Tahun
2008
Bunga (a)
Hutang (b)
Kd (c= a : b)
Kd* (c(1-T))
2008
24.465.833
217.000.000
0,113
0,079
2009
27.899.226
244.000.000
0,114
0,082
kov
E(Rm)
varian
Rf
2008
0,006
-0,054
0,001
8,67%
2009
0,007
0,064
0,002
7,15%
Perhitungan Struktur Modal
Tahun
Hutang (a)
Ekuitas (b)
Aset ©
Wd (a/c)
.
Perhitungan Ke
Tahun
2008
217.000.000
1.552.963.652
2.156.164.013
10,064%
2009
244.000.000
1.765.580.591
2.261.798.239
10,788%
Perhitungan Weighted Average Capital Cost (WACC)
Tahun
Struktur
Modal
Wd (a)
We (b)
Ke
44,089%
20,632%
Kd*
Ke
axc
WACC
©
(d)
(e)
(e+f)
2008
10,064%
72,024%
0,079
-44,089%
0,008
-30,961%
2009
10,788%
78,061%
0,082
20,632%
0,009
16,994%
Perhitungan Invested Capital (IC)
Tahun
Aset (a)
Hutang Beban (b)
IC (a-b)
2008
2.156.164.013
345.748.274
1.810.415.739
2009
2.261.798.239
200.012.636
2.061.785.603
Perhitungan Cost of Capital (COC)
Tahun
WACC (a)
IC (b)
COC (a x b)
2008
-30,961%
1.810.415.739
-560.514.522
2009
16,994%
2.061.785.603
350.372.587,022
Perhitungan Economic Value Added (EVA)
Tahun
NOPAT (a)
2008
463.982.089
COC (b)
-560.514.522
EVA (a - b)
1.024.496.611
2009
309.665.434
350.372.587,022
-40.707.153
Lampiran 8. Langkah-langkah perhitungan Market Value Added (MVA)
Tahapan
Harga saham per lembar
2008
2009
1.190
2.700
1.890.000
1.890.000
Nilai Pasar Ekuitas
2.249.100.000
5.103.000.000
Total Kapital (Ekuitas)
1.552.963.652
1.765.580.591
696.136.348
3.337.419.409
Jumlah Saham Beredar
MVA
Lampiran 9. Perhitungan tingkat pengembalian saham kuartalan PT Sampoerna Agro
tahun 2008-2009
Periode
2008
Pit
Pit-t
2009
Dt
Rit
Pit
Pit-t
Dt
Rit
Kuartal I
3750
3450
126
0,12
1120
1190
0
-0,06
Kuartal II
3825
3750
21
0,03
1640
1120
90
0,54
Kuartal III
1690
3825
0
-0,56
2050
1640
0
0,25
Kuartal IV
1190
1690
0
-0,30
2700
2050
0
0,32
Rata -Rata (Rt)
-0,176
0,263
Lampiran 10. Perhitungan tingkat pengembalian pasar saham bulanan tahun 2008-2009
2008
Periode
(Bulan)
IHSGt
Januari
2.627,25
2.745,83
Februari
2.721,94
2.627,25
Maret
2.447,30
2.721,94
-0,10
IHSGt-1
Rata-rata
2009
Periode
(Bulan)
IHSGt
-0,04
Januari
1.332,67
1.355,41
-0,02
0,04
Februari
1.285,48
1.332,67
-0,04
Maret
1.434,07
1.285,48
0,12
Rmt
IHSGt-1
-0,036
Rmt
0,021
April
2.304,52
2.447,30
-0,06
April
1.722,77
1.434,07
0,20
Mei
2.444,35
2.304,52
0,06
Mei
1.916,83
1.722,77
0,11
Juni
2.349,11
2.444,35
-0,04
Juni
2.026,78
1.916,83
0,06
Rata-rata
-0,012
0,124
Juli
2.304,51
2.349,11
-0,02
Juli
2.323,24
2.026,78
0,15
Agustus
2.165,94
2.304,51
-0,06
Agustus
2.341,54
2.323,24
0,01
September
1.832,51
2.165,94
-0,15
September
2.467,59
2.341,54
0,05
Rata-rata
-0,078
0,069
Oktober
1.256,70
1.832,51
-0,31
Oktober
2.367,70
2.467,59
-0,04
November
1.241,54
1.256,70
-0,01
November
2.415,84
2.367,70
0,02
Desember
1.355,41
1.241,54
0,09
Desember
2.534,36
2.415,84
0,05
Rata-rata
-0,078
Rata-rata E(Rm)
-0,054
0,010
Rata-rata E(Rm)
0,064
Lampiran 11. Perhitungan hutang beban PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009
Hutang Beban
Hutang usaha - pihak ketiga
Uang muka penjualan
Hutang pajak
Biaya yang masih harus dibayar
Hutang Dividen
Total
2008
2009
202.137.810
109.923.475
19.822.511
32.819.370
107.260.520
38.820.273
16.527.433
18.449.518
-
-
345.748.274
200.012.636
Lampiran 12. Perhitungan jumlah hutang PT Sampoerna Agro tahun 2008-2009
Periode
Hutang bank jatuh tempo dalam satu tahun
2008
2009
2.108.333
25.000.000
Hutang bank - setelah dikurangi bagian jatuh
tempo dalam satu tahun
214.891.667
219.000.000
Total
217.000.000
244.000.000
Download