karakterisasi umbi-umbian mendukung budaya

advertisement
KARAKTERISASI UMBI-UMBIAN MENDUKUNG
BUDAYA MANGGADONG UNTUK MEMPERKUAT
KETAHANAN PANGAN DI SUMATERA UTARA
Nurhayati
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara,
Jl. Karya Bhakti no 34 P. Masyhur, Medan
e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Manggadong (makan umbi-umbian sebelum makan nasi) telah menjadi tradisi leluhur dan
sebagai kearifan lokal masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Hal ini mendukung program
ketahanan pangan. Pengembangan manggadong menjadi suatu budaya perlu diikuti oleh
ketersediaan umbi-umbi lokal yang memiliki kandungan karbohirat yang cukup tinggi sehingga
dapat mengurani konsumsi beras. Sumatera Utara memiliki beberapa jenis umbi yang masih
perlu dikembangkan. Umbi tersebut memiliki karakteristik yang beragam dari segi pertumbuhan
dan rasa serta kandungan gizi. Beberapa jenis umbi lokal yang potensial untuk mendukung
budaya Manggadong adalah suweg, ganyong, ubi kelapa, talas, garut, dan gembili. Produk
olahan umbi-umbian potensial tersebut bervariasi dan terjangkau oleh masyarakat.
Kata kunci : manggadong, umbi, ketahanan pangan.
ABSTRACT
Characteristics of tubers to support Manggadong (as indigenous North of
Sumatra) in strengthening food security. Manggadong (eating tubers before eating rice)
which has become a tradition of the ancestors and the indigenous communities Tapanuli, North
Sumatra. This strongly supports the government program, the establishment of security, and
independence food from another country. Manggadong development into a culture needs to be
followed by the availability of local tubers that have a high carbohydrate content so it can be
reducing the consumption of rice. North Sumatra has a wealth of several types of bulbs that still
need to be developed, these tubers have diverse characteristics in terms of growth and flavor
and nutritional value. Some types of tubers potential to support local culture (Manggadong) is
“suweg”, canna, “ubi kelapa”, taro, coconut sweet potato, and “gembili”. Refined products of
potential tubers were very varied and can be reached by the various levels of society.
Keywords: manggadong, tubers, security food
PENDAHULUAN
Manggadong (makan umbi-umbian sebelum makan nasi) telah menjadi tradisi leluhur
dan sebagai kearifan lokal masyarakat Tapanuli, Sumatera Utara. Hal ini mendukung
program ketahanan pangan masyarakat yang tidak hanya tergantung pada nasi. Manggadong perlu dikembangkan, tidak hanya makan umbi-umbian terutama ubi jalar, tetapi
perlu diperkaya dengan umbi-umbi lain yang potensial yang dapat dikonsumsi sebelum
mengkonsumsi nasi.
Secara turun temurun keanekaragaman pangan itu telah membantu ketahanan
pangan. Ke depan, budaya warisan leluhur itu perlu dipertahankan agar dapat berdaulat
dalam hal pangan. Pasar bebas telah membuka peluang bagi pasar nasional dan lokal
untuk dibanjiri produk pangan impor dari berbagai negara. Implikasinya, ketergantungan
800
Nurhayati: Karakterisasi umbi-umbian mendukung Budaya Manggadong di Sumatera Utara
pada pangan impor telah menjadi realitas yang sedang dihadapi saat ini. Ketergantungan
tidak hanya pada pengadaan makanan pokok beras, tetapi juga bahan makanan lainnya,
seperti terigu, kedelai, jagung, dan daging. Kalau ini terus menerus berlangsung maka
pada suatu saat dapat memunculkan situasi kerentanan ketahanan pangan. Ketergantungan pada bahan pangan impor harus dikurangi. Salah satu upaya yang perlu dilakukan
adalah membangun budaya pangan berbasis kearifan lokal. Sebagaimana diketahui,
ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang nomor 7 tahun
1996 tentang pangan yang fokus pada usaha mewujudkan ketersediaan pangan bagi
seluruh masyarakat agar tercukupi kebutuhan akan mutu dan gizi yang layak, aman
dikonsumsi, merata serta terjangkau oleh setiap individu.
Dalam rangka mendukung keanekaragam pangan untuk melestarikan budaya Manggadong di Sumatera Utara perlu dilakukan karakterisasi umbi-umbian lokal.
KARAKTERISASI UMBI-UMBIAN UNTUK PANGAN MANGGADONG
Suweg (Amorphophallus companulatus)
Suweg (Amorphophallus companulatus), terdapat Desa Secanggang dan Desa Pantai
Gading Kecamatan Secangang, Kabupaten Langkat; Desa Sampali, Medan Estate,
Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Tanaman
ini dibudiayakan di lahan pekarangan penduduk dan tumbuh liar di hutan, perkebunan
karet dan kelapa sawit.
Suweg mengandung energi sebesar 69 kilokalori, protein 1 gram, karbohidrat 15,7
gram, lemak 0,1 gram, kalsium 62 miligram, fosfor 41 miligram, dan zat besi 4 miligram.
Selain itu di dalam suweg juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,07
miligram dan vitamin C 5 miligram. Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian
terhadap 100 gram Suweg, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 86%.
Suweg (Amorphophallus campanulatus) adalah masih satu famili dengan bunga
bangkai, namun berperawakan lebih kecil. Batang tumbuhan suweg atau bunganya
muncul begitu saja dari tanah. Ketika bunganya mekar baunya busuk dan sering dikerubungi lalat hijau. Setelah benar-benar mekar, baunya akan hilang dan sangat indah untuk
dinikmati.
Umbi suweg dapat dimakan sebagai pengganti nasi. Suweg biasanya tumbuh di bawah
naungan, di bawah hutan jati, kelapa sawit dan karet, atau di pekarangan rumah. Umbi
suweg dipanen saat musim kemarau, ketika batang dan bunga suweg sudah tidak ada lagi
di atas tanah. Umbi yang didapatkan dari bawah pohon jati, kelapa`sawit dan karet
biasanya lebih besar daripada yang tumbuh di pekarangan, beratnya kira-kira 10 kg,
sedangkan yang di pekarangan hanya sekitar 5 kg.
Setelah umbi diambil dari dalam tanah, umbi suweg dibersihkan, selanjutnya dibelah
(dengan kulit masih menempel) dan kemudian dikukus. Umbi suweg ditaburi garam
sebelum dikukus, rasa lebih enak dan menghilangkan rasa gatal. Umbi suweg dimakan
dengan sayur lodeh.
Manfaat suweg sangat banyak sekali terutama untuk industri dan kesehatan, karena
kandungan zat glucomanan yang ada di dalamnya. Suweg merupakan jenis tanaman
umbi yang mempunyai potensi dan prospek untuk dikembangkan di Indonesia. Selain
mudah didapatkan, tanaman ini juga mampu menghasilkan karbohidrat dan tingkatan
Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi 2013
801
panen tinggi. Umbinya besar mencapai 5 kg, cita rasanya netral sehingga mudah dipadu
padankan dengan beragam bahan sebagai bahan baku kue tradisional dan modern.
Suweg sebagai serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada
manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular,
kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis. Di Filipina
umbi suweg sering ditepungkan menggantikan kedudukan terigu dan biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan roti. Di Jepang, umbi-umbian sekerabat suweg telah
banyak dimanfaatkan untuk bahan pangan, misalnya bahan pembuatan mie instan.
Ganyong (Canna edulis Ker)
Ganyong terdapat di Desa Secanggang dan Desa Surbakti, Kecamatan Simpang
Empat, Kabupaten Karo; Desa Pantai Gading, Kecamatan Secanggang, Kabupaten
Langkat; dan Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Provinsi Sumatera Utara.
Tanaman ini tumbuh liar dipinggir jalan sebagai tanaman hias, tumbuh di pekarangan,
dan sudah diolah untuk bahan makanan dengan cara direbus.
Di antara komoditas ubi-ubian, ganyong belum sepopuler ubi jalar atau ubi kayu.
Pemanfaatannya pun hanya sebatas direbus. Padahal ganyong merupakan salah satu
bahan pangan non beras yang bergizi cukup tinggi terutama kandungan kalsium, fosfor,
dan karbohidrat. Kandungan gizi ganyong tiap 100 gram secara lengkap terdiri dari kalori
= 95,00 kal; protein = 1,00 g; lemak = 0,11 g; karbohidrat = 22,60 g; kalsium = 21,00
g; fosfor = 70,00 g; zat besi = 1,90 mg; vitamin B1 = 0,10 mg; vitamin C = 10,00 mg; air
= 75,00 g; bagian yang dapat dimakan = 65,00%.
Ubi ganyong dapat diproduksi menjadi makanan yang bervariasi dan lebih mudah
dikonsumsi dengan cara mengolah menjadi tepung, tanpa mengurangi kandungan gizi
yang dikandungnya. Hal ini dapat mempermudah masyarakat dalam memenuhi gizinya
terutama bagi balita yang sangat membutuhkan banyak kandungan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam ubi ganyong terdapat kandungan kalsium dan
fosfor yang lebih banyak apabila dibandingkan dengan kandungan kalsium dan fosfor
yang terdapat pada ubi jalar, padi, jagung, kentang, sehingga ubi ganyong sangat baik
untuk pertumbuhan tulang dan gigi pada balita.
Irisan ubi ganyong yang masih basah perlu direndam dalam larutan Na-metabisulfit
untuk mengurangi jumlah kalsium oksalat yang bisa menyebabkan rasa gatal, menurunkan
kadar alkoloid penyebab rasa pahit dan memutihkan hasil yang diperoleh
Ubi Kelapa (Dioscora alata L.)
Ubi kelapa terdapat di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli
Serdang dan Desa Karang Gading Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat, Provinsi
Sumatera Utara. Tanaman dibiarkan tumbuh menjalar di halaman rumah, tanpa pemeliharaan oleh pemiliknya.
Uwi atau ubi kelapa merupakan sejenis umbi-umbian pangan. Banyak kultivarnya
yang memiliki umbi berwarna ungu sehingga dalam bahasa Inggris dikenal sebagai purple
yam. Dalam bahasa Melayu dikenal sebagai ubi saja dan bersifat generik, sehingga nama
bahasa Indonesia diambil dari nama bahasa Jawa untuk membedakannya dari jenis-jenis
ubi yang lain. Uwi adalah tumbuhan merambat yang dapat mencapai panjang 10 m.
Daun berbentuk mata panah. Tumbuhan memiliki bunga tersusun majemuk, tumbuh dari
ketiak daun, berumah satu. Bunga jantan tersusun rapat 1-3 cm; bunga betina tersusun
802
Nurhayati: Karakterisasi umbi-umbian mendukung Budaya Manggadong di Sumatera Utara
jarang, lebih panjang, 15-20 cm; mahkota berwarna ungu dengan panjang 2 mm. Ia dapat
diperbanyak secara vegetatif menggunakan bonggol umbi atau umbi udara. Bonggol
umbinya dapat berukuran sangat besar, dengan panjang lebih dari satu meter. Kandungan
gizi uwi pati 11, 3 %, protein 2%, serat 1,3%, gula 2,8%.
Uwi dianggap sebagai sumber pangan minor, biasanya dipotong-potong lalu direbus
dan dimakan bersama-sama teh atau kopi, dapat pula dihaluskan lalu dijadikan isi bakpia.
Di Filipina uwi dimasak dengan gula dan dijadikan dessert atau selai yang dinamakan ube
halaya. Uwi juga menjadi bahan baku utama dessert yang dinamakan halo-halo. Penggunaan masa kini bahkan dipakai sebagai komponen rasa bagi es krim, susu, kue tar, serta
cake.
Talas (Xanthosoma sagittifolium (L.)
Talas terdapat di Kabupaten Langkat dan Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.
Tanaman ini tidak dibudidayakan secara serius, digunakan sebagai tanaman pinggir. Hasil
tanaman dikonsumsi sendiri dan dijual ke pasar.
Talas atau kadang disebut juga kimpul (Xanthosoma sagittifolium) adalah jenis umbi
talas-talasan. Kimpul ini sering juga disebut sebagai talas Belitung atau Blue Taro dalam
bahasa Inggris. Kimpul termasuk famili Areacea tergolong tumbuhan berbunga (Agiospermae), berkeping satu (Monocotyledoneae) dan merupakan tumbuhan menahun yang
mempunyai umbi batang maupun batang palsu yang sebenarnya adalah tangkai daun.
Umbinya digunakan sebagai bahan makanan yang dikonsumsi dengan cara direbus atau
digoreng
Terdapat 4 jenis kimpul yang diusahakan yaitu:
1. Kimpul hitam, tangkai daunnya ungu, sedangkan daunnya sendiri hijau tua bagian
atasnya. Umbinya coklat dengan ujung merah. Rasanya agak getar kalau kurang
matang merebusnya.
2. Kimpul hijau, batang dan daunnya berwarna hijau tua. Rasanya juga getar seperti
kimpul hitam.
3. Kimpul Belitung, daunnya hijau muda sering disebut kimpul belang, karena tangkai
daunnya yang hijau muda mempunyai garis ungu. Umbinya berwarna coklat dan
lebih besar dari pada kimpul yang hitam dan hijau, rasanya enak sekali.
4. Kimpul haji atau kimpul putih, daunnya berwarna hijau muda sampai hampir kuning
keputih-putihan, bentuk umbinya besar, kira-kira 15 cm warna dari umbi hitam
kecoklatan dan sedikit berambut, teksturnya padat.
Garut/Irut (Maranta arundinacea)
Garut dijumpai di Desa Karang Gading, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat,
Provinsi Sumatera Utara. Tanaman ini ditemukan tumbuh liar di pekarangan rumah.
Semula tanaman ini dibudidayakan, namun karena hasilnya tidak dapat dipasarkan
akhirnya dibiarkan tumbuh dan berkembang secara liar, tetapi terlihat tumbuh subur
dibawah naungan pepohonan.
Tanaman garut atau irut bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Garut berasal dari
daerah Amerika tropik yang kemudian menyebar ke daerah tropik termasuk Indonesia.
Daerah penyebarannya merata, meliputi India, Indonesia, Sri Lanka, Hawai, Filipina,
Australia, dan St. Vincent. Di Indonesia, tanaman garut dapat dijumpai di berbagai daerah
seperti Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Garut dikenal dengan nama daerah yang berbedaProsiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi 2013
803
beda, misalnya sagu Banban (Batak Karo), sagu rare (Minangkabau), sagu andrawa (Nias),
sagu (Palembang), larut/pata sagu (Sunda), arut/jelarut/irut/larut/garut (Jawa Timur), labia
walanta (Gorontalo), dan huda sula (Ternate).
Gembili (Dioscorea aculeate L.)
Tanaman gembili juga ditemukan di Desa Karang Gading, Kecamatan Secanggang,
Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Tanaman ini dibudidayakan di lahan pekarangan,
menggunakan ajir, pengaturan jarak tanam, pembumbunan dan penyiangan, pemupukan
dengan pupuk kandang. Umbi yang dihasilkan hanya untuk dikonsumsi sebagai makanan
tambahan umumnya oleh generasi lanjut. Penanaman gembili terkait dengan warisan
leluhur.
Dalam bahasa Latin, tanaman gembili ini memiliki beberapa sinonim antara lain :
Oncus esculentus Lour. Dioscorea fasciculate Roxb. Dioscorea sativa Auct. Sedangkan di
berbagai daerah namanya juga berbeda-beda, antara lain Lesser yam, Chinese yam,
Asiatic yam (Inggris), ubi aung (Jawa Barat), ubi gembili (Jawa Tengah), kombili (Ambon).
Tanaman ini tergolong terna memanjat dan dapat mencapai tinggi antara 3-5 m, seringkali
berduri. Setiap 1 tanaman terdapat 4-20 umbi; umbi tua berbentuk silinder, kadangkala
berlobi, kulit lapisan luar coklat atau abu-abu coklat, tipis, seringkali kasar; daging buah.
Batang tegak, memanjat melingkar ke kiri, berduri di bagian dasar dan di bagian atas tidak
berduri. Daun tunggal, berseling, menjantung, seringkali terdapat 2 duri di pangkal.
Perbungaan jantan di ketiak, perbungaan betina melengkung ke bawah, bulir menyerupai
tandan, soliter. Buah (sangat jarang ditemukan) kapsul, pipih. Biji bersayap membundar.
Susunan senyawa umbi gembili bervariasi menurut spesies dan varietas menyatakan
bahwa komponen terbesar dari umbi gembili adalah karbohidrat 27-33%.
BEBERAPA PRODUK OLAHAN UMBI-UMBIAN
UNTUK MENDUKUNG MANGGADONG
Untuk melestarikan budaya Manggadong terdapat beberapa produk pangan berbasis
umbi umbian yang disukai oleh masyarakat setempat. Suweg potensial sebagai bahan
pangan sumber karbohidrat, dapat digunakan sebagai agar-agar, mie, tahu, kosmetik, dan
roti. Tepung suweg juga dapat dipakai sebagai pangan fungsional yang bermanfaat untuk
menekan peningkatan kadar glukosa darah sekaligus mengurangi kadar kolesterol serum
darah yaitu makanan yang memiliki indeks glikemik rendah dan memiliki sifat fungsional
hipoglikemik dan hipokolesterolemik. Dari beberapa varietas yang dikembangkan saat ini,
satu di antaranya telah diolah menjadi tepung dan dijadikan biskuit. Hasil olahan ketika
dimakan sudah tidak menimbulkan rasa gatal.
Umbi ganyong sebagai bahan makanan alternatif pada saat paceklik. Biasanya hanya
dijadikan bubur karena rasanya manis. Selain itu ganyong diolah menjadi roti, kerupuk,
mie melalui pembuatan tepung ganyong. Caranya yaitu dengan mengupas kulit luar umbi
ganyong, membersihkan, memarutnya untuk diambil ekstraksinya. Diaduk dengan tambahan air secukupnya. Proses berikutnya adalah menyaring untuk diambil bubur patinya.
Setelah diendapkan didapat tepung ganyong sebagai hasil akhir sedangkan sisa proses
digunakan untuk pakan ternak. Sesudah menjadi tepung ganyong, pengolahan menjadi
lebih mudah dan beragam.
Pengembangan ubi kelapa dilakukan dengan mengolah ubi segar menjadi berbagai
bahan pangan siap konsumsi (produk jadi). Pengembangan pangan menjadi produk
804
Nurhayati: Karakterisasi umbi-umbian mendukung Budaya Manggadong di Sumatera Utara
setengah jadi antara lain sawut kering dan tepung. Pengolahan setangah jadi tersebut
berpotensi dalam pengembangan agroindustri. Selain menjadi keripik goreng (produk
jadi), dapat juga diolah menjadi keripik setengah jadi, yaitu keripik kering yang dapat
disimpan dan digoreng saat akan dikonsumsi. Sawut merupakan produk setengah jadi
berbentuk serpihan kering dengan adar air sekitar 20%, tahan disimpan dan mudah dalam
penyajian. Sawut dapat dikonsumsi sebagai makanan pokok maupun dikonsumsi sebagai
makanan sampingan. Cara penyajian adalah sawut disiram air panas dan diaduk, kemudian dikukus sekitar 15 menit hingga lunak. Sebagai makanan pokok (pengganti nasi), ubi
kukus tersebut dapat dikonsumi bersama sayur dan lauk lainnya. Dalam penyiapan untuk
makanan kecil, saut kukus tersebut dapat dicampur dengan larutan gula merah atau
dengan menghancurkan sawut kukus dan dicampur dengan bahan lain (telur, terigu, gula)
kemudian digoreng atau dikukus kembali sesuai selera.
Tepung ubi Alabio dapat dimanfaatkan seperti halnya tepung lain, yaitu bahan baku
produk kue/roti. Penggunaannya dapat dicampur dengan tepung terigu atau dicampur
dengan kacang-kacangann untuk meningkatkan nilai gizinya (berupa tepung komposit).
Komposisi tepung campuran disesuaikan dengan jenis kue/roti yang akan dibuat dan
selera. Tepung dibuat dengan menggiling bahan kering dan kemudian diayak. Kadar air
tepung sekitar 10% dan tahan disimpan beberapa bulan dalam kemasan plastik rapat.
Selain sebagai bahan pangan langsung dan bahan baku industri pangan, ubi Alabio
berpotensi sebagai bahan baku industri lain, yaitu industri pati, alkohol, dan bahan obatobatan. Jenis yang warna ubinya ungu digunakan untuk membuat bahan es krim.
Hasil olahan umbi umbian jenis talas sangat bervariasi sebut saja beberapa contoh
keripik talas, stik talas, kue lapis, brownies, dan cake talas. Talas juga bisa langsung
dikonsumsi secara mudahnya dengan cara direbus, dikukus ataupun digoreng. Tepung
talas dapat digunakan untu subsitusi tepung untuk pembuatan cake. Alternatif lain pengolahan talas berupa getuk talas dan kroket talas sebagai bentuk diservikasi produk olahan
talas. Produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi tetapi dapat dijangkau semua lapisan
masyarakat.
Garut dengan umbinya berwarna putih ditutupi dengan kulit yang bersisik berwarna
coklat muda, berbentuk silinder. Umbinya banyak mengandung tepung pati yang sangat
halus dan mudah dicerna untuk makanan bayi dan orang sakit. Umbi tanaman garut
dapat dioleh menjadi pati bahan baku berbagai produk, seperti makanan, minuman,
farmasi, kosmetik, tekstil, hingga kertas, lem, dan pembuat minuman beralkohol. Perasan
umbinya dapat untuk penawar racun anak panah, sengatan lebah, dan luka-luka lainnya.
Dengan bentuk serat yang pendek lebih mudah dicerna dan cocok sebagai bahan baku
makanan bayi, penyandang autis, dan down syndrome. Umbi garut dinilainya dapat
bertahan lama dalam proses penyimpanannya jika diolah menjadi produk kering yaitu
tepung pati garut. Tepung pati garut dapat diolah menjadi berbagai jenis produk olahan
seperti cokelat garut.
Gembili banyak ditanam di daerah pedesaan yang biasanya digunakan sebagai bahan
pangan pengganti beras, makanan selingan, bahkan hanya dibiarkan saja tumbuh. Selama
ini, pengolahan gembili sebagai bahan pangan hanya sampai pada proses perebusan atau
pengukusan, sehingga perlu adanya pemanfaatan gembili menjadi produk olahan baru
yang memiliki nilai jual tinggi seperti melalui pembuatan keripik sebagai usaha penganekaragaman pangan. Pemanfaatan gembili dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan tepung
dan pati gembili sebagai bahan substitusi dalam pembuatan produk olahan seperti kue, mi
instan, kerupuk dan lain-lain. Umbi gembili setelah dimasak atau dipanggang rasanya
Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi 2013
805
manis dan lezat, dimakan sebagai makanan tambahan. Umbinya dapat juga diekstrak
menjadi tepung; seratnya halus dan mudah dicerna sehingga digunakan dalam menu
penderita penyakit pencernaan. Parutan kasar umbinya digunakan sebagai tapel untuk
obat pembengkakan , khususnya di kerongkongan.
KESIMPULAN
Manggadong sebagai kearifan lokal dapat mendukung ketahanan pangan melalui
pemanfaatan umbi potensial yang terdapat di setiap daerah, terutama di Sumatera Utara.
Beberapa jenis umbi-umbian yang dapat dikembangkan dalam budaya Manggadong adalah suweg, ganyong, ubi kelapa, talas, garut, dan gembili. Pemanfaatan umbi-umbi tersebut untuk Manggadong dapat melalui diversivikasi pengolahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 2013. Suweg. (http://id.wikipedia.org/wiki/Suweg)
Anonimus. 2013. Ganyong. (http://id.wikipedia.org/wiki/Ganyong)
Anonimus. 2013. Uwi. (http://id.wikipedia.org/wiki/Uwi)
Badan Penelitian dan Pengembangan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. 2012. Kajian
Pengembangan Tanaman Umbi-umbian. Hasil Penelitian Litbang 2012.
Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1996. Komposisi Bahan Makanan. Bhatara, Jakarta.
Dyta, 2011. Gembili (Dioscorea esculenta). http//:dityawan.blogspot.com.
Kasno, A., Trustinah, M. Anwari, dan B. Swasono. 2009. Prospek Suweg sebagai bahan
pangan saat paceklik. Balai Penelitian Tanaman Kacang dan Umbi, Malang.
Nur Hidayat. 2008. Pati Ganyong Potensi Lokal yang Belum Termanfaatkan. Staf Pengajar
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang. www.kulinologi.biz. (di akses
Tanggal 2 April 2013)
Nursanyoto, H. 1992. Ilmu Gizi, Zat Gizi Utama. Golden Terayon Press, Jakarta
Rukmana R. 2000. Ganyong Budi Daya dan Pasca Panen. Kanisius, Yogyakarta.
Susanto Tri. 2000. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Bina Ilmu, Jakarta.
806
Nurhayati: Karakterisasi umbi-umbian mendukung Budaya Manggadong di Sumatera Utara
Download