1 PENDAHULUAN Latar Belakang Geminivirus merupakan salah satu virus patogen tanaman yang sangat merugikan yang banyak dijumpai pada pertanaman tomat (Sudiono et al. 2004). Di Indonesia, telah dilaporkan bahwa serangan geminivirus pada tanaman tomat di daerah Bogor dan sekitarnya dapat mencapai 50 – 70% (Aidawati & Hidayat 2002). Serangan virus patogen ini pada tanaman tomat menimbulkan penyakit daun keriting kuning (Direktorat Perlindungan Hortikultura 2008). Gejala yang timbul karena infeksi geminivirus pada tanaman tomat sangat bervariasi, bergantung pada strain virus, kultivar tomat, umur tanaman pada waktu terinfeksi dan lingkungan yang mendukung terjadinya penyakit. Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat infeksi geminivirus yaitu adanya kombinasi mosaik kuning pada daun, belang-belang klorotik, klorotik pada ujung daun, daun berkerut, daun mengecil, bunga cepat rontok, dan secara keseluruhan tanaman menjadi kerdil (Polston & Anderson 1997). Di Indonesia, infeksi geminivirus pada tanaman tomat menimbulkan gejala yaitu berupa penebalan tulang daun, lamina daun berkerut-kerut, daun menguning, tepi daun melengkung ke atas, daun menjadi keriting, dan tanaman menjadi kerdil (Aidawati & Hidayat 2002). Penyakit daun keriting kuning tidak dapat ditularkan melalui biji, tetapi dapat menular melalui penyambungan dan melalui serangga vektor kutukebul (Direktorat Perlindungan Hortikultura 2008). Menurut Torres Pacheco et al. (1996), salah satu spesies virus dari kelompok geminivirus yang menyebabkan penyakit daun keriting kuning pada tanaman tomat adalah Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV). TYLCV sudah banyak dilaporkan mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup besar pada berbagai komoditas sayuran di banyak negara tropis dan subtropis di seluruh dunia (Green et al. 2001; Varma & Malathi 2003). Di Indonesia, serangan penyakit daun keriting kuning yang terjadi terutama pada tanaman cabai (Sumardiyono et al. 2003; Sudiono et al. 2005; Hidayat et al. 2006; Sulandari et al. 2007) dan tomat (Sukamto 2005; Tsai et al. 2006; De Barro et al. 2008) sudah dirasakan sejak tahun 2005. 2 Tingkat kejadian penyakit ini bervariasi bergantung kepada beberapa faktor seperti misalnya ketersediaan sumber inokulum virus, tingkat populasi serangga vektor dan tingkat kerentanan tanaman tomat. Di Sleman (Yogyakarta) dan Magelang (Jawa Tengah), contohnya, tingkat infeksi TYLCV diestimasi berkisar antara 20 – 100% (Rahayu 2004). Demikian juga kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit ini bervariasi dan tercatat dapat mencapai lebih dari 85% (Sumardiyono et al. 2003). TYLCV adalah virus yang memiliki partikel berbentuk ikosahedral kembar berukuran 20 x 30 nanometer dan bergenom DNA utas tunggal sekitar 2,6-2,8 kb. Virus ini merupakan salah satu anggota dari genus Begomovirus dari famili Geminiviridae (Tsai et al. 2006) yang ditularkan oleh kutukebul, Bemisia tabaci Genn. (Bedford et al. 1994; Harrison & Robinson 1999). Mobilitasnya yang sangat tinggi dan inangnya yang banyak serta dapat menularkan virus (TYLCV) secara persisten menyebabkan kutukebul memegang peranan penting dalam epidemiologi penyakit daun keriting kuning (Nakhla & Maxwell 1998), mungkin hal ini pula yang menyebabkan usaha pengendalian penyakit ini yang dilakukan dengan cara menekan populasi serangga vektor menggunakan insektisida (Denholm et al. 1998; Palumbo et al. 2001) kurang berhasil. Di samping itu, efek samping penggunaan insektisida terhadap kesehatan lingkungan seperti residu pada buah tomat dan matinya musuh alami hama dan patogen (Trabolsi 1994; Elbert & Nauen 2000) sudah menjadi perhatian semua pihak. Cara lain yang pernah diterapkan untuk mengendalikan penyakit daun keriting kuning yaitu dengan menggabungkan pengendalian kutukebul dengan musuh alami (parasitoid, predator, cendawan) dan varietas tomat tahan terhadap Begomovirus (Gerling et al. 2001; Hiljie et al. 2001) juga belum dapat memberikan hasil yang diharapkan. Salah satu alternatif pengendalian yang cukup memberi harapan keberhasilan dan memenuhi persyaratan untuk kesehatan lingkungan adalah dengan melakukan proteksi silang (cross protection). Proteksi silang yang dimaksud dalam penelitian ini, adalah penggunaan isolat lemah suatu virus (TYLCV) untuk melindungi tanaman (tomat) dari kerusakan ekonomis yang ditimbulkan oleh infeksi isolat ganas virus yang sama (TYLCV). 3 Keberhasilan pengendalian melalui proteksi silang sudah banyak dilaporkan terhadap berbagai jenis virus pada berbagai komoditas tanaman (Costa & Muller 1980; Yeh et al. 1988; Lecoq et al. 1991; Van Vuuren et al. 1993; Yeh & Gonsalves 1994; Mahmood & Rush 1999; Gal-On 2000; Sayama et al. 2001; Sambade et al. 2002). Namun demikian, penelitian mengenai proteksi silang pada interaksi TYLCV dengan tanaman tomat belum pernah dilakukan di Indonesia maupun di negara lain. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi TYLCV isolat lemah dari populasi alami dan menguji potensinya sebagai agens pengendali penyakit daun keriting kuning pada tanaman tomat.