http://digilib.mercubuana.ac.id/ - Perpustakaan Universitas Mercu

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Penelitian Terdahulu
Dalam hal ini peneliti menyantumkan penelitian sebelumnya sebagai bahan untuk
penelitian terdahulu yang relevan :
a.
Penelitian yang dilakukan oleh Rima Hardiyanti dari Universitas Hasanuddin
dengan judul Komunitas Jilbab Kontemporer “Hijabers” di Kota Makassar (2012). Pada
penelitian tersebut dijelaskan mengenai fakta sosial yang dibentuk Komunitas HMM
yakni identitas sosial yang nampak dalam masyarakat menurut pandangan dan
pengalaman informan. Yaitu identitas sosial yang bersifat eksklusif, dan identitas kedua
yang bersifat konsumtif dan komersial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui identitas apa saja yang dimunculkan berdasarkan pengalaman dan penalaran
para anggota komunitas “Hijabers”. Selain itu tujuan lainnya adalah untuk
mengetahuiapa saja yang dimunculkan oleh Komunitas Hijabers Moeslem Makassar
berdasarkan pengalaman dan penalaran para anggota.
Teori penelitian yang digunakan oleh penelitian sebelumnya salah satunya adalah
Stratifikasi sosial dan gaya hidup adalah merupakan suatu sistem dimana kelompok
manusia terbagi dalam lapisan-lapisan sesuai dengan kekuasaan, kepemilikan dan pretise
relatif suatu kelompok. (James M. Henslin, 2007)
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Penelitian ini sudah cukup baik namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu didalam penelitian ini tidak ada proses dan arah kesadaran pada konversi identitas,
padahal jika dikaji lebih mendalam akan lebih menarik.
b.
Penelitian yang dilakukan oleh Qoidud Duwal dengan judul Konsep Jilbab dalam
Hukum Islam (Study Pemikiran KH. Husein Muhammad (2009)). Penelitian ini berisi
tentang Pemikiran Husein Muhammad mengenai konsep jilbab terlihat berbeda dengan
mayoritas pandangan Ulama-Ulama klasik. Husein berkesimpulan jilbab hanyalah
sebuah tradisi Arab, dimana fungsi jilbab hanyalah sebagai pembeda status sosial
masyarakat bukan sebagai status agama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pemikiran KH. Husein Muhammad tentang konsep Jilbab dalam Hukum
Islam. Adapun jenis penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan Penelitian
Pustaka (Library Research) yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh dari
penelitian dan menelaah buku-buku, majalah, artikel, jurnal, media online, dan lainnya
yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu jilbab, baik
melalui sumber data primer maupun sumber data sekunder. Sifat penelitian ini bersifat
deskriptif analitik, yaitu untuk mengetahui permasalahan secara teliti, gamblang dan
terfokus.
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah pemikiran Husein Muhammad
mengenai konsep jilbab terlihat berbeda dengan mayoritas pandangan ulama-ulama
klasik lainnya. Husein beranggapan jilbab adalah merupakan tradisi Arab dimana fungsi
jilbab hanyalah sebagai pembeda status sosial masyarakat, bukan sebagai status agama.
Yaitu kelas perempuan merdeka dengan kelas perempuan budak.
c.
Penelitian yang dilakukan oleh Aryani Nurofifah, dengan judul Jilbab Sebagai
Fenomena Agama dan Budaya (Interpretasi Terhadap Alasan Mahasiswi Fakultas Adab
http://digilib.mercubuana.ac.id/
dan Ilmu Budaya Univ Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta Dalam Memilih Model
Jilbab (2013)). Penelitian ini berisi tentang Fenomena munculnya beragam model jilbab
yang dipakai oleh mahasiswi tersebut banyak dipengaruhi oleh perkembangan pasar.
Selain itu peran media massa secara tidak langsung mempengaruhi mahasiswi untuk
mengikuti trend jilbab saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ragam
model berjilbab yang dipilih oleh Mahasiswi Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga
Yogyakarta, serta untuk mengetahui alasana mahasiswi tersebut memilih model jilbab.
Teori dalam penelitian ini menggunakan teori Postmoderisme yaitu gerakan
kebudayaan yang pada umunya dicirika oeh penentangan terhadap totalitarianisme dan
universalisme, serta kecenderungannya kearah keanekaragaman, kearah melimpah ruah
dan tumpang tindihnya berbagai citraan dan gaya. Dan metode yang digunakan adalah
kualitatif yaitu penelitian yang bertujuan memahami realitas sosial yaitu melihat dunia
dari apa adanya, bukan dunia yang seharusnya.
d.
Penelitian yang dilakukan oleh Dadi Ahmadi dan Nova Yohana, dengan judul
Konstruksi Jilbab Sebagai Simbol Keislaman (2005). Penelitian ini membahas tentang
Motivasi mahasiswa berjilbab memakai gaya jilbab yang variatif terdiri dari gaya jilbab
“lebar”, jilbab “gaul”, dan jilbab “semi” dapat dilihat dari alasan-alasan yang mendorong
mereka untuk berjilbab dengan gaya berbeda. Berbagai alasan tersebut dibuat dalam tiga
kategori motif, yaitu motif teologis yang menunjukkan berjilbab atas alasan agama,
motif psikologis yang menunjukan berjilbab atas alasan kenyamanan, dan motif modis
yang menunjukkan berjilbab atas alasan trend mode atau sekedar gaya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaiman konstruksi realitas
jilbab sebagai simbol keislaman terkait dengan motivasi mahasiswa Universitas Islam
Bandung memakai jlbab dan perilaku mahasiswi berjilbab sebagai manifestasi identitas
http://digilib.mercubuana.ac.id/
diri seorang muslim. Teori yang digunakan adalah Fenomenologi yaitu studi dalam
bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Sedangkan metode
yang digunakan adalah perspektif subjektif
yaitu menangani hal-hal yang bersifat
khusus, bukan hanya perilaku terbuka, tetapi juga prose yang tak terucapkan dengan
sampel kecil atau purposif, memahami peristiwa yang mempunyai makna historis,
menekankan perbedaan individu, mengembangkan hipotesis (teori) yang terikat dengan
konteks dan waktu, membuat penelitian etis atau estetis atas fenomena (komunikasi)
spesifik.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
http://digilib.mercubuana.ac.id/
http://digilib.mercubuana.ac.id/
http://digilib.mercubuana.ac.id/
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2.1.2 Kajian Teoritis
2.1.2.1. Komunikasi Artifaktual
Seperti halnya komunikasi pada umumnya, seseorang dapat berkomunikasi melalui
tanda-tanda penampilan serta melalui objek-objek lain (artifak) yang mengelilinginya.
Studi mengenai komunikasi nonverbal (artifaktual) relatif masih baru. Studi ini berakar
dari studi komunikasi antar budaya melalui karya Edward T. Hall (1959): The Silent
Language. Menurut Hall, budaya menggambarkan bagaimana cara dan langkah manusia
untuk memahami dan mengorganisir dunianya. Dunia itu terbentuk oleh sekelompok
orang yang melintasi hubungan antarmanusia dan bahkan generasi. Budayalah yang
mempengaruhi sensori manusia ketika memproses kehidupannya. Proses itu bahkan
menyusup sampai ke pusat sistem syaraf. Budaya selalu memiliki dua manifestasi, yakni
manifestasi material dan simbol-simbol yang mewarnai bahasa, adat kebiasaan, sejarah,
organisasi sosial, termasuk pengetahuan, dan manifestasi kedua, budaya diharapkan
sebagai identitas kelompok. (“Pentingnya Komunikasi Artifaktual Dalam Keberhasilan
Modifikasi Komunikasi Antar Manusia”, Bekti Istiyanto, 2008)
Asante dan Gundykust (dalam Liliweri, 1994)) mengemukakan bahwa
pemaknaan pesan nonverbal maupun fungsi nonverbal memiliki perbedaan dalam cara
dan isi kajiannya. Pemaknaan (meanings) merujuk pada cara interpretasi suatu pesan,
sedangkan fungsi (functions) merujuk pada tujuan dan hasil suatu interaksi. Setiap
penjelasan terhadap makna dan fungsi komunikasi nonverbal harus menggunakan
sistem. Hal ini disebabkan karena pandangan terhadap perilaku nonverbal melibatkan
penjelasan dari beberapa kerangka teoretis, seperti teori sistem, interaksi simbolik dan
kognisi.
a. Sistem Komunikasi Artifaktual
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Petunjuk artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance) sejak
potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, tas, pangkat, badge, dan atribut-atribut
lainnya. Randal P. Harrison menyebutkan Artifactual Codes ini seperti manipulation of
dress, kosmetik (make-up), perlengkapan, obyek seni, simbol status, arsitektur, dan
sebagainya. Karen Dion, Ellen Berscheid, dan Elaine Walster di tahun 1972 meneliti
apakah penampilan menarik atau tidak menarik menimbulkan asumsi-asumsi tertentu?
Apakah orang yang cantik cenderung dianggap berperilaku baik atas dasar kemungkinan
sukses dalam hidupnya? Mereka memperlihatkan tiga buah foto kepada para mahasiswa
undergraduate. Foto yang pertama menunjukkan orang yang cantik, kedua yaitu ratarata, dan ketiga yaitu berwajah jelek. Mahasiswa diharuskan memberikan penilaian
tentang kepribadian orang dalam foto itu dengan mengisi angket ukuran kepribadian.
Kemudian mereka harus memperkirakan kemungkinan perkawinannya dan keberhasilan
dalam kariernya. Subjek-subjek eksperimen terbukti menilai orang cantik lebih bahagia
dalam pernikahannya, dan lebih mungkin berhasil memperoleh pekerjaan yang baik,
ketimbang rekan-rekannya yang berwajah jelek (Rakhmat, 2007: 88). Penampilan fisik
seseorang dapat mempengaruhi reaksi dari orang-orang lainnya. Orang yang gemuk
berharap langsing, dan juga orang yang kurus berharap gemuk. Warna kulit, warna
rambut, panjang rambut, penampilan secara umum, riasan wajah, dan perhiasan juga
akan mempengaruhi orang lain. Pakaian, kadang-kadang membuat orang dapat
berkomunikasi, mengenal status ekonomi, pekerjaan serta nilai sama baiknya dengan
citra diri. Sehingga penampilan fisik dapat mewarnai persepsi orang terhadap pesan dari
seseorang (Anderson, 1990 dalam Faturakhman, 2000:32).
b. Pakaian Sebagai Komunikasi
Secara etimologis, fashion berasal dari bahasa Latin factio, yang artinya
membuat atau melakukan dan dari kata inilah diperoleh fraksi, yang memiliki arti politis,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
facere yang artinya membuat atau melakukan. Karena itu, arti asli fashion mengacu pada
kegiatan. Fashion merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang, tak seperti dewasa ini
yang memaknai fashion sebagai sesuatu yang dikenakan seseorang. Setiap hari manusia
memutuskan tentang peran dan status sosial orang yang mereka jumpai berdasarkan apa
yang mereka kenakan, manusia memperlakukan pakaian yang dikenakan sebagai,
meminjam istilah Marx (1954:79), hieroglif social, yang menyembunyikan atau bahkan
mengomunikasikan posisi sosial pemakainya. Hingga saat ini fashion sering disalah
artikan oleh banyak orang. Mereka seringkali menyamakan fashion dengan dandanan,
gaya, maupun busana. Untuk mengantisipasi hal tersebut, ada perbedaan yang dipegang
oleh para ahli untuk menentukan mana yang fashion dan yang mana anti-fashion.
Perbedaan seperti itu bisa membantu memperjelas mengenai apa yang dimaksud dengan
fashion, sebagai kebalikan dari busana atau gaya, dengan menemukan apa yang
dimaksudkan orang dengan yang bukan fashion. Versi Flugel atas distingsi antara tipetipe pakaian yang “tetap” dan “ modis atau fashionable” dan seperti juga Simmel
dikaitkan dengan perbedaan-perbedaan tertentu dalam organisasi sosial (dalam Barnard,
1996). Menurut Flugel, perbedaan di antara kedua tipe pakaian ini lebih jelas bila
dipahami dalam artian relasi oposisinya dengan ruang dan waktu. Ini jauh lebih rumit
dan sulit ketimbang kedengarannya. Jadi bisa dikatakan, meski semua pakaian adalah
dandanan namun tidak semua dandanan itu fashionable. Bisa juga dikatakan bahwa
meski semua pakaian adalah dandanan, namun tidak semua fashion itu pakaian karena
alasan tertentu. Dapat dikatakan pula, meski semua fashion itu dandanan, tak semua
fashion itu pakaian. Beberapa fashion itu memberi tato atau menunjukkan pertentangan.
Begitu halnya meski semua butir busana itu akan tampil dalam gaya busana tertentu, tak
setiap gaya akan menjadi fashion, begitu gaya itu berlalu kemudian menjadi ketinggalan
jaman alias tidak fashion lagi. Akhirnya bisa dikatakan, meski semua fashion bergaya,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
namun tak semua fashion itu merupakan butir dari busana. Seperti sudah dikemukakan,
beberapa fashion terkait dengan perubahan warna dan bentuk tubuh. Busana, pakaian,
kostum,
dan
dandanan
adalah
bentuk
komunikasi
artifaktual
(artifactual
communication).
Komunikasi
artifaktual
biasanya
didefinisikan
sebagai
komunikasi
yang
berlangsung melalui pakaian dan penataan berbagai artefak, misalnya pakaian,
dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furniture di rumah dan penataannya,
ataupun dekorasi suatu ruangan. Karena fashion, pakaian atau busana menyampaikan
pesan-pesan nonverbal itu termasuk komunikasi nonverbal. (“Pentingnya Komunikasi
Artifaktual Dalam Keberhasilan Modifikasi Komunikasi Antar Manusia”, Bekti
Istiyanto, 2008)
Pakaian
merupakan
berkomunikasi
melalui
‘ bahasa
pemakaian
diam'
(silent
simbol-simbol
language)
verbal
yang
maupun
nonverbal. Goffman menyebut simbol-simbol semacam itu sebagai
`sign-vehicles'
atau
'cues'
yang
menyeleksi
status
yang
akan
diterapkan kepada seseorang dan menyatakan tentang cara-cara orang
lain memperlakukan mereka. Jalan pintas visual terhadap persepsi
seseorang akan membuat kita mampu mengkategorikan seorang
individu dan menyiapkan suatu perangkat untuk dipergunakan dalam melakukan
interaksi berikutnya.
Oleh karena itu, sangatlah penting untuk memahami makna dari simbolsimbol yang disampaikan oleh pakaian agar seseorang mampu menunjukkan dirinya
sedemikian rupa sehingga impresi (kesan) yang diinginkan dapat diperoleh. Dalam
kehidupan masyarakat urban masa kini yang bergerak dengan cepat sebagian besar
http://digilib.mercubuana.ac.id/
kontak antar manusia bersifat sementara, dan tidak bersifat pribadi (impersonal).
Dalam situasi seperti itu seringkali kesan pertama merupakan satu-satunya hal yang
terbentuk. Untuk keperluan praktis lainnya pakaian menjadi bagian yang intim dan
tak terpisahkan dari ruang pandang (perceptual field) tempat orang tersebut berada.
Pakaian yang dikenakan oleh seseorang bisa menyampaikan isyarat tentang diri,
peran, dan status si pemakai, serta membantu memberikan pernyataan tentang
keadaan seperti apa orang tersebut dipandang.
Banyak teori yang menjelaskan tentang perilaku pakaian secara umum; dan salah
satu teori yang dipergunakan untuk mengkaji simbolisme pada pakaian dan untuk
memahami aspek-aspek komunikatif dari pakaian ialah "Teori Interaksi Simbolik".
Pada dasarnya Teori Interaksi Simbolik menyatakan bahwa manusia hidup atau berada
di dalam suatu lingkungan simbolik maupun fisik dan perilaku manusia tersebut
dirangsang oleh tindakan-tindakan yang juga bersifat simbolik dan fisik (Horn & Gurel,
1981:160). Dengan demikian seluruh simbol tersebut diperoleh melalui komuniaksi
(interaksi) dengan orang lain.
Interaksi yang menjadikan suatu masyarakat menjadi berfungsi tergantung
kepada sejumlah besar jejaring (networks) simbol. Simbol - simbol tersebut memiliki
makna yang umum atau makna yang dipahami bersama oleh suatu budaya. Meskipun
sebagian besar simbol tersebut dikomunikasikan secara verbal tetapi beberapa di
antaranya disalurkan melalui penglihatan, seperti gestur, gerak (motion), dan objek.
Pakaian dan hiasan tubuh lainnya merupakan objek yang dipergunakan secara simbolik oleh
manuisa dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Penampilan seseorang menyampaikan
makna simbolik kepada orang lain yang melihatnya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Pakaian merupakan salah satu bentuk daya tarik fisik yang melekat pada tubuh
seseorang. Jenis pakaian yang dipakai (mode mutakhir atau tidak mutakhir), warna, jenis
bahan, kecocokan pada pemakainya, dan lain-lain. K. Gibbins (dalam Mayers, 1982)
mengungkapkan bahwa ada hubungan antara warna dengan pakaian. Daya tarik
seseorang dapat ditentukan oleh bentuk dan warna pakaian. Kesan pertama terhadap
seseorang antara lain ditentukan oleh pakaiannya. Pakaian mempunyai banyak fungsi
bagi mereka yang memandangnya. Orang bisa menerka ekspresi emosi dan perasaan
melalui pakaian. Warna-warna terang melambangkan bahwa anda seorang yang kuat.
Sementara kelabu dan gelap melambangkan suasana hati yang murung dan
duka,mungkin juga tenang dan pribadi yang tertutup. Pakaian yang pendek (pada
wanita), rok ketat dan berbelah belakang, slack yang sesak, menunjukkan kesan daya
tarik seksual yang tinggi. Ternyata pakaian yang kita gunakan mempunyai dampak besar
terhadap pribadi anda. Contohnya, pakaian seragam bernilai sangat kaya. Para pekerja
bengkel memakai seragam biru kehitam-hitaman lambang pekerja keras. Pakaian pun
berkaitan dengan umur pemakainya. Orang muda tidak suka berpakaian sama dengan
orang tua. Orang muda lebih senang berpakaian norak, ramai, terang, dan riang.
Orangtua memakai warna krem atau kelabu. Pakaian menunjukkan derajat sosial dan
ekonomi pemakainya. Pakaian menunjukkan asal dan tingkat budayanya. Barbara dan
Gene mengemukakan bahwa sejarah perkembangan celana (apakah panjang atau
pendek) merupakan pakaian resmi pria. Sedangkan blus dan rok atau bawahan
merupakan pakaian resmi wanita. Perbedaan jenis kelamin ditunjukkan oleh model
pakaian yang dipakai. Rok yang dipakai wanita bersumber dari pakaian tradisional
wanita barat yang mengutamakan kain lebar dan tebal. Fungsinya ganda, yaitu dapat
melindungi keamanan pemakainya dari gangguan alam maupun binatang serangga.
Fungsi ini merupakan simbol sayap ayam yang melindungi anak-anaknya. Para wanita
http://digilib.mercubuana.ac.id/
akhirnya merampas pakaian yang seharusnya menjadi tanda kelaki-lakian yaitu celana
panjang. Alasannya adalah menjaga kesopanan, dapat bergerak secara lebih luwes dan
bebas. John Molly meneliti sejumlah sampel dan melaporkan bahwa sebagian kecil
pekerja wanita sukses berhasil karena cara mereka berpakaian berbeda dengan pekerja
wanita lainnya. Mereka kebetulan berpakaian pria (celana panjang) sehingga lebih
dinamis dan bebas bergerak. Dalam masyarakat Indonesia pakaian-pakaian tertentu
hanya boleh dikenakan oleh masyarakat yang tergolong masyarakat atas, menengah
maupun bawah. Perbedaan tersebut tidak hanya pada model tetapi juga pada warna,
bentuk, jenis bahan pakaian, sampai pada konteks atau waktu pakaian tersebut dipakai.
Dari pakaian pun seseorang bisa mengenal asal etnik orang lain. Dalam organisasi
formal seorang direktur utama selalu mengenakan dasi. Pakaian sebagai media
komunikasi memiliki tiga fungsi, yakni penyampaian emosi, perilaku, dan perbedaan.
Pertama, pakaian adalah sebuah simbol dan mengomunikasikan informasi perasaan,
misalnya pakaian hari minggu, pakaian malam, dan sebagainya. Kedua, pakaian
memiliki dampak pada perilaku pemakainya. Ketika seorang wanita muda memakai
pakaian ketat dan pendek maka ini akan mengubah perilakunya. Ketiga, fungsi pakaian
adalah untuk membedakan setiap individu ketika mereka berada dalam kelompok yang
berbeda. (“Pentingnya Komunikasi Artifaktual Dalam Keberhasilan Modifikasi
Komunikasi Antar Manusia”, Bekti Istiyanto, 2008)
2.1.2.2 Interaksi Simbolik
Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik tidak bisa dilepaskan dari pemikiran
George Herbert Mead (1863-1931). Mead membuat pemikiran orisinal yaitu “The
Theoretical Perspective” yang merupakan cikal bakal “Teori Interaksi Simbolik”.
Dikarenakan Mead tinggal di Chicago selama lebih kurang 37 tahun, maka
perspektifnya seringkali disebut sebagai Mahzab Chicago.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Dalam terminologi yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal dan pesan
verbal yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat
dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat
penting.
Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain,
demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka
kita dapat mengutarakan perasaan, pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara
membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain.
Sesuai dengan pemikiran-pemikiran Mead, definisi singkat dari tiga ide dasar
dari interaksi simbolik adalah :
a. Mind (pikiran) - kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna
sosial yang sama, dimana tiap individu harus mengembangkan pikiran mereka melalui
interaksi dengan individu lain.
b. Self (diri pribadi) - kemampuan untuk merefleksikan diri tiap individu dari penilaian
sudut pandang atau pendapat orang lain, dan teori interaksionisme simbolis adalah salah
satu cabang dalam teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self) dan
dunia luarnya.
c. Society
(masyarakat)
-
hubungan
sosial
yang
diciptakan, dibangun,
dan
dikonstruksikan oleh tiap individu ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut
terlibat dalam perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada akhirnya
mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran di tengah masyarakatnya.
Tiga tema konsep pemikiran George Herbert Mead yang mendasari interaksi
simbolik antara lain:
http://digilib.mercubuana.ac.id/
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia,
Tema ini berfokus pada pentingnya membentuk makna bagi perilaku manusia,
dimana dalam teori interaksi simbolik tidak bisa dilepaskan dari proses komunikasi,
karena awalnya makna itu tidak ada artinya, sampai pada akhirnya di konstruksi
secara interpretif oleh individu melalui proses interaksi, untuk menciptakan makna yang
dapat disepakati secara bersama dimana asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut
: Manusia, bertindak, terhadap, manusia, lainnya berdasarkan makna yang diberikan
orang lain kepada mereka, Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia, Makna
dimodifikasi melalui proses interpretif .
2. Pentingnya konsep mengenai diri (self concept)
Tema ini berfokus pada pengembangan konsep diri melaluiindividu tersebut secara
aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan orang lainnya dengan cara antara lain
: Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui nteraksi dengan orang lain,
Konsep diri membentuk motif yang penting untuk perilaku Mead seringkali menyatakan
hal ini sebagai : ”The particular kind of role thinking – imagining how we look to
another person” or ”ability to see ourselves in the reflection of another glass”.
3. Hubungan antara individu dengan masyarakat.
Tema ini berfokus pada dengan hubungan antara kebebasan individu dan
masyarakat, dimana norma-norma sosial membatasi perilaku tiap individunya, tapi pada
akhirnya
tiap individu-lah
yang
menentukan
pilihan
yang
ada
dalam
sosial kemasyarakatannya. Fokus dari tema ini adalah untuk menjelaskan mengenai
keteraturan dan perubahan dalam proses sosial. Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan
tema ini adalah :Orang dan kelompok masyarakat dipengaruhi oleh proses budaya dan
sosial, Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial
http://digilib.mercubuana.ac.id/
2.1.2.3 Teori Fenomenologi Sosial
Fenomenologi secara etimologi berasal dari kata “phenomenon” yang berarti
realitas yang tampak, dan “logos” yang berarti ilmu. Sehingga secara terminology,
fenomenologi adalah ilmu berorientasi untuk dapat mendapatkan penjelasan tentang
realitas yang tampak (Soerdjono Soekanto, 1993). Fenomena yang tampak adalah
refleksi dari realitas yang tidak berdiri sendiri karena ia memiliki makna yang
memerlukan penafsiran lebih lanjut. Fenomenologi menerobos fenomena untuk dapat
mengetahui makna (hakikat) terdalam dari fenomena-fenomena yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari.
Tokoh-tokoh fenomenologi:

Edmund Husserl

Alfred Schutz

Peter L. Berger
Ahli teori sosiologi-fenomenologi yang paling menonjol adalah Alfred Schutz,
seorang murid Husserl yang berimigrasi ke Amerika Serikat setelah munculnya fascism
di Eropa, melanjutkan karirnya sebagai bankir dan guru penggal-waktu (part-time). Dia
muncul di bawah pengaruh filsafat pragmatis dan interaksionisme-simbol; barngkali cara
terbaik untuk mendekati karyanya adalah melihatnya sebagai bentuk interaksionisme
yang lebih sistematik dan tajam. Akan tetapi, dalam karya klasiknya yang berjudul The
Phenomenology of the Social World, bagaimanapun, dia tertarik dengan penggabungan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
pandangan fenomenologi dengan sosiologi melalui suatu kritik sosiologi terhadap karya
Weber. (Muhammad Zeitlin, 1998)
Dia mengatakan bahwa reduksi fenomenologis, pengesampingan pengetahuan kita
tentang dunia, meninggalkan kita dengan apa yang ia sebut sebagai suatu “aruspengalaman” (stream of experience). Sebutan fenomenologis berarti studi tentang cara
dimana fenomena hal-hal yang kita sadari muncul kepada kita, dan cara yang paling
mendasar dari pemunculannya adalah sebagai suatu aliran pengalaman-pengalaman
inderawi yang berkesinambungan yang kita terima melalui panca indera kita.(
Muhammad Zeitlin, 1998)
Fenomenologi tertarik dengan pengidentifikasian masalah ini dari dunia
pengalaman inderawi yang bermakna, suatu hal yang semula yang terjadi di dalam
kesadaran individual kita secara terpisah dan kemudian secara kolektif, di dalam
interaksi antara kesadaran-kesadaran. Bagian ini adalah suatu bagian dimana kesadaran
bertindak (acts) atas data inderawi yang masih mentah, untuk menciptakan makna,
didalam cara yang sama sehingga kita bisa melihat sesuatu yang bersifat mendua dari
jarak itu, tanpa masuk lebih dekat, mengidentifikasikannya melalui suatu proses dengan
menghubungkannya dengan latar belakangnya. (Soerdjono Sukanto, 1993: 69).
Hal ini mengantarkan kita kepada salah satu perbedaan yang jelas antara
fenomenologi dan bentuk lain dari teori tindakan: “tindakan” sejauh ini mengacu pada
tindakan manusi dalam berhubungan satu denan yang lain dan lingkungannya. Bagi
fenomenologi juga sama halnya, bahkan tindakan terutama ditujukan kepada proses
internal dari kesadaran (manusia), baik individualataupun kolektif. Sekali tindakan itu
ditransformasikan ke dalam fikiran kita, ia menjadi sulit untuk keluar lagi dan ini
http://digilib.mercubuana.ac.id/
mempunyai konsekuensinya pada usaha untuk memperluas sosiologi-fenomenologis
menjadi sebuah teori tentang masyarakat seperti juga tentang pribadi.
Menurut Schutz, cara kita mengkonstruksikan makna diluar dari arus utama
pengalaman ialah melalui proses tipikasi. Dalam hal ini termsuk membentuk
penggolongan atau klasifikasi dari pengalaman dengan melihat keserupaannya. Jadi
dalam arus pengalaman saya, saya melihat bahwa objek-objek tertentu pada umumnya
memiliki ciri-ciri khusus, bahwa mereka bergerak dari tempat ke tempat, sementara
lingkungan sendiri mungkin tetap diam. (Muhammad Zeitlin, 1998:129-130)
Jadi, kita menentukan apa yang Schutz sebutkan sebagai “hubungan-hubungan
makna” (meanings contexs), serangkaian kriteria yang dengannya kita mengorgnisir
pengalaman inderawi kita ke dalam suatu dunia yang bermakna. Hubungan-hubungan
makna iorganisir secara bersama-sama, juga melalui proses tipikasi, ke dalam apa yag
Schutz namakan “kumpulan pengetahuan” (stock of knowledge).
Kalau kita tetap pada tingkat kumpulan pengetahuan umum (commomsense
knowledge), kita diarahkan kepada studi-studi yang berlingkup kecil, mengenai situasisituasi tertentu, yang merupakan jenis karya empiris. Dimana interaksionisme
simboliklah yang lebih unggul. Secara umum karya Schutz telah digunakan untuk
memberikan konsep-konsep kepekaan yang lebih lanjut, sering secara implicit. Saya kira
tiada satupun studi empiris yang menggunakannya secara sistematik kecuali melalui
pengembangan etnometodologi. Namun demikian, Peter Berger telah mencoba secara
sistematis untuk mengembangkan fenomenologi menjadi suatu teori mengenai
masyarakat. (George Ritzer, 2007: 346)
Sosiologi-fenomenologi memiliki kemampuan tertentu untuk bersifat sangat
menarik dan sekaligus membosankan. Khususmya di dalam fungsionalisme structural, ia
http://digilib.mercubuana.ac.id/
merupakan suatu perubahan yang menyegarkan, yang bergerak dari kategori-kategori
teoritis yang sangat abstrak, yang sedikit sekali keitannya dengan dunia sosial yang kita
alami, dan langsung masuk ke dalam kehidupan sehari-hari.
Implikasi dari teori interaksi simbolik dapat dijelaskan dari beberapa teori atau ilmu
dan metodologi berikut ini, antara lain: Teori sosiologikal modern (Modern Sociological
Theory) menurut Francis Abraham (1982) dalam Soeprapto (2007), dimana teori
ini menjabarkan interaksi simbolik sebagai perspektif yang bersifat sosial- psikologis.
Teori sosiologikal modern menekankan pada struktur sosial,bentuk konkret dari perilaku
individu, bersifat dugaan, pembentukan sifat-sifat batin, dan menekankan pada interaksi
simbolik yang memfokuskan diri pada hakekat interaksi. Teori sosiologikal modern juga
mengamati pola-pola yang dinamis dari suatu tindakan yang dilakukan oleh
hubungan sosial,
dan
menjadikan
interaksi
itu
sebagai
unit
utama
analisis,
serta meletakkan sikap-sikap dari individu yang diamati sebagai latar belakang analisis.
Perspektif interaksional (Interactionist perspective) merupakan salah satu
implikasi lain dari interaksi simbolik, dimana dalam mempelajari interaksi sosial yang
ada perlu digunakan pendekatan tertentu, yang lebih kita kenal sebagai perspektif
interaksional (Hendariningrum. 2009). Perspektif ini menekankan pada pendekatan
untuk mempelajari lebih jauh dari interaksi sosial masyarakat, dan mengacu dari
penggunaan simbol- simbol yang pada akhirnya akan dimaknai secara kesepakan
bersama oleh masyarakat dalam interaksi sosial mereka.
Konsep definisi situasi (the definition of the situation) merupakanimplikasi dari
konsep interaksi simbolik mengenai interaksi sosial yang dikemukakan oleh William
Isac Thomas (1968) dalam Hendariningrum (2009).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Konsep definisi situasi merupakan perbaikan dari pandangan yang mengatakan
bahwa interaksi manusia merupakan pemberian tanggapan (response) terhadap
rangsangan (stimulus) secara langsung. Konsep definisi situasi mengganggap bahwa
setiap individu dalam memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan dari luar, maka
perilaku dari individu tersebut didahului dari suatu tahap pertimbangan-pertimbangan
tertentu, dimana rangsangan dari luar tidak ”langsung ditelan mentah-mentah”, tetapi
perlu dilakukan proses selektif atau proses penafsiran situasi yang pada akhirnya
individu tersebut akan memberi makna terhadap rangsangan yang diterimanya.
Konstruksi sosial (Social construction) merupakan implikasi berikutnya dari
interaksi simbolik yang merupakan buah karya Alfred Schutz, Peter Berger, dan Thomas
Luckmann, dimana
konstruksi
sosial melihat
individu
yang
melakukan
proses
komunikasi untuk menafsirkan peristiwa dan membagi penafsiran-penafsiran tersebut
dengan orang lain, dan realitas dibangun secara sosial melalui komunikasi (LittleJohn.
2005: 308).
Teori peran (Role Theory) merupakan implikasi selanjutnya dari interaksi simbolik
menurut pandangan Mead (West-Turner 2008: 105). dimana, salah satu aktivitas paling
penting yang dilakukan manusia setelah proses pemikiran (thought) adalah pengambilan
peran (role taking). Teori peran menekankan pada kemampuan individu secara simbolik
dalam menempatkan diri diantara individu lainnya ditengah interaksi sosial masyarakat.
Teori diri (Self theory) dalam sudut pandang konsep diri, merupakanbentuk
kepedulian dari Ron Harrě, dimana diri dikonstruksikan oleh sebuah teori pribadi (diri).
Artinya, individu dalam belajar untuk memahami diri dengan menggunakan sebuah teori
yang
mendefinisikannya,
sehingga pemikiran
seseorang
http://digilib.mercubuana.ac.id/
tentang
diri
sebagai
person merupakan sebuah konsep yang diturunkan dari gagasan-gagasan tentang person
hood yang diungkapkan melalui proses komunikasi (LittleJohn. 2005: 311).
2.1.2.4 Konversi Identitas
Konversi seringkali didefinisikan sebagai sebuah perubahan yang radikal, tapi para
ahli mempunyai berbagai pendapat tentang jenis perubahannya. Pendekatan pertama
terhadap konversi yakni pendekatan psikologi sosial (personalitas) dan pendekatan yang
kedua adalah pendekatan pandangan dunia. Konversi dari sudut pandang psikologi sosial
merupakan perubahan organisasional diantaranya pada aspek afiliasi, kepercayaan, sikap
dan antusiasme. Pendekatan psikologi sosial terhadap konversi sebagaimana
dikemukakan oleh Heirich (1977:653) menyatakan konversi identitas berfokus pada
tekanan psikologis, sosialisasi dan berbagai bentuk pengaruh lingkungan sosial seperti
adanya faktor frustrasi, perubahan organisasi afiliasi, faktor kehilangan, perubahan
kepercayaan, perubahan identitas, dan perubahan sikap. Pendekatan psikologi sosial
menekankan pada aspek perubahan self yang dapat dobservasi. Pelaku konversi telah
mengalami transformasi pada tataran logika dan keyakinan, nilai yang berguna untuk
melakukan interpretasi terhadap semua aspek perjalanan hidupnya dari masa lalu,
sekarang dan masa depan serta dunia sosial pada umumnya.tingkatan perubahan
identitas para pelaku konversi dapat diamati dari pengalaman personal individu dalam
melakukan konversi.tindakan individu melakukan proses konversi memperlihatkan
perubahan sebagai alat manipulasi terhadap realitas yang berguna untuk berbagai alasan.
Perubahan self dalam pendekatan ini harus dilihat dari faktor-faktor eksternal (sosial)
untuk menjelaskan berbagai tahapan transformasi yang dialami oleh individu.
Pendekatan pandangan dunia terhadap konversi menekankan perubahan “taken for
granted” motives (landasan kesadaran dan bertindak yang bersifat taken for granted).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Pendekatan ini disebut juga sebagai pendekatan pandangan dunia. World view menurut
Luckmann (1967:53) adalah “...an encompassing system of meaning in wich socially
relevant categories of time, space, causality and purpose are superordinated to more
specific interpretative schemes in wch reality is segmented and the segments related to
each ather. It’s logic and taxonomy are taken for granted”. Mengacu pada pendapat
Lucmann pandangan dunia menghubungkan berbagai aspek realtas sehari-hari.
Schutz menyatakan bahwa motif merupakan hal penting dalam tindakan manusia.
Pentingnya motif untuk meninjau self dan konversi terdapat dalam pernyataan Schutz
(1964:12-13): “ The because motives are grouped into systems under the caption of
(social) personality-self is in the form of principles, maxims, habits, also tasks, affects
for understanding many acts in sufficient to find typical motives of typicle actors wich
explain the act as typical one arising of typical situation”. Motif adalah basis pandangan
dunia. Motif merupakan elemen-elemen yang terisolasi satu sama lain melainkan
terintegrasi dalam sistem yang besar dan konsisten (Schutz, 1964:16). Implikasinya
untuk memahami transformasi identitas seseorang harus mengalami perubahan motif.
William James (dalam Ramayulis 2002:70), menyimpulkan dari hasil penelitiannya
bahwa terjadinya konversi identitas karena:
a) Adanya suatu tenaga jiwa yang menguasai pusat kebiasaan seseorang sehingga pada
dirinya muncul persepsi baru, dalam bentuk suatu ide yang bersemi secara mantap.
b) Konversi identitas dapat terjadi oleh karena suatu krisis ataupun secara mendadak
(tanpa suatu proses).
Berdasarkan kesimpulan ini William James, Starbuck (dalam Ramayulis 2007:7071), membagi konversi identitas menjadi 2 tipe :
http://digilib.mercubuana.ac.id/
1. Tipe Volational (Perubahan bertahap)
Perubahan identitas tipe ini terjadi secara berproses sedikit demi sedikit sehingga
kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang
demikian itu sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang ingin
menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran.
2. Tipe Self-Surrender (Perubahan Drastis)
Konversi tipe ini adalah konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa
mengalami suatu proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama
yang dianutnya. Perubahan inipun dapat terjadi dari kondisi yang tidak taat menjadi
lebih taat, dari tidak percaya kepada suatu kepercayaan kemudian menjadi percaya dan
sebagainya. Pada konversi tipe kedua ini menurut William James adanya pengaruh
petunjuk dari Yang Maha Kuasa terhadap seseorang, karena gejala konversi ini terjadi
dengan sendirinya pada diri seseorang sehingga ia menerima kondisi yang baru dengan
penyerahan jiwa sepenuh-penuhnya.
Faktor – faktor tersebut apabila mempengaruhi seseorang atau kelompok hingga
menimbulkan semacam gejala tekanan batin, maka akan terdorong untuk mencari jalan
keluar yaitu ketenangan batin. Dalam kondisi jiwa yang demikian, secara psikologi
kehidupan batin seseorang itu menjadi kosong dan tak berdaya sehingga mencari
perlindungan kekuatan lain yang mampu memberinya kehidupan jiwa yang tenang dan
tentram. (Jalaluddin, 2008: 314-317)
Menurut Abdalla, konversi internal terjadi dalam satu agama, dalam artian pola
pikir dan pandang seseorang berubah, ada yang dihilangkan dan tidak menutup
kemungkinan banyak yang ditambahkan (ibadah, tetapi konsep ketuhanan tetap sama).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Sedangkan dalam konversi eksternal pindah keyakinan kekonsep yang benar-benar
berbeda dengan konsep keyakinan sebelumnya.
Para ahli ilmu pendidikan berpendapat bahwa konvesi agama dipengaruhi oleh
kondisi pendidikan. Berdirinya sekolah –sekolah yang bernaung di bawah yayasan
agama tentunya mempunyai tujuan keagamaan pula.
Menurut Zakiyah Daradjat, Faktor-Faktor yang mempengaruhi konversi identitas
adalah (Zakiyah Daradjat 1991:159 - 164):
a) Pertentangan batin ( konflik jiwa ) dan ketegangan perasaan orang – orang yang
gelisah, yang di dalam dirinya bertarung berbagai persoalan, yang kadang – kadang dia
merasa tidak berdaya menghadapi persoalan atau problem itu mudah mengalami
konversi identitas, di antaranya ketegangan batin itu ialah tidak mampunya mematuhi
nilai–nilai moral dan agama dalam hidupnya.
b) Pengaruh hubungan dengan tradisi agama. Aktifitas lembaga keagamaan mempunyai
pengaruh besar terutama aktifitas – aktifitas sosialnya. Kebiasaan – kebiasaan yang
dialami waktu kecil, melalui bimbingan lembaga – lembaga kagamaan itu, termasuk
salah satu faktor penting yang memudahkan terjadinya konversi agama jika pada umur
dewasanya ia kemudian menjadi acuh tak acuh pada agama dan mengalami konflik jiwa
ketegangan batin yang tidak teratasi.
c) Ajakan atau seruan dan sugesti. Peristiwa konversi identitas terjadi karena sugesti dan
bujukan dari luar jika orang yang mengalami konversi itu dapat merasakan kelegaan dan
ketentraman batin dalam keyakinan atau penampilan baru, maka lama – kelamaan akan
masuklah keyakinan itu ke dalam pribadinya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
d) Faktor – faktor emosi. Dalam penelitian George.A. Coe bahwa konversi identitas
lebih banyak terjadi pada orang yang dikuasai oleh emosinya. Orang – orang yang
emosional (lebih sensitif atau banyak dikuasai oleh emosinya) mudah kena sugesti
apabila ia mengalami kegelisahan. Menurut G. Stanlay Hall, usia remaja terkenal dengan
umur kegoncangan emosi. Menurut Starburk, bahwa umur yang menonjol bagi konversi
identitas pada laki – laki adalah 16 tahun 4 bulan dan bagi wanita 14 tahun 8 bulan.
Apabila kita kembali kepada kenyataan dalam hidup, tidak sedikit peristiwa konversi
yang terjadi pada usia di atas 40 atau 50 tahun atau lebih.
e) Kemauan.
Kemauan juga merupakan peranan penting dalam konversi identitas. Terbukti
bahwa peristiwa konversi itu terjadi sebagai hasil dari perjuangan batin yang ingin
mengalami konversi. Hal ini dapat di ikuti dari riwayat hidup Imam Al Ghazali yang
mengalami sendiri bahwa pekerjaan dan buku – buku yang dulu di karangnya bukanlah
dari keyakinan, tapi datang dari keinginan untuk mencari nama dan pangkat. (zakiah
daradjat: 1970: 159-164).
Menurut M.T.L Penido berpendapat, bahwa konversi identitas mengandung unsur:
a) Unsur dari dalam diri (endogenos origin), yaitu proses perubahan yang terjadi dalam
diri seseorang atau kelompok. Konversi yang terjadi dalam batin ini membentuk suatu
kesadaran untuk mengadakan suatu transformasi disebabkan oleh krisis yang terjadi dari
pribadi. Proses ini terjadi menurut gejala psikologis yang bereaksi dalam bentuk
hancurnya struktur psikologis yang lama dan seioring dengan proses tersebut muncul
pula struktur psikologis baru yang dipilih.
b) Unsur dari luar (exogenous origin), yaitu proses perubahan yang berasal dari luar diri
atau kelompok, sehingga mampu menguasai kesadaran orang atau kelompok yang
http://digilib.mercubuana.ac.id/
bersangkutan. Kekuatan yang datang dari luar ini kemudian menekan pengaruhnya
terhadap kesadaran, mungkin berupa tekanan batin, sehingga memerlukan penyelesaian
oleh yang bersangkutan.
Dr. Zakiah Daradjat. Memberikan pendapatnya yang berdasarkan proses kejiwaan
yang terjadi melalui 5 tahap, yaitu:
1) Masa tenang
Disaat ini kondisi jiwa seseorang berada dalam keadaan tenang, karena masalah
agama belum mempengaruhi sikapnya. Dimana segala sikap, tingkah laku, dan sifatsifatnya acuh tak acuh menentang agama.
2) Masa ketidaktenangan
Tahap ini berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya.
Dikarenakan suatu krisis, musibah ataupun perasaan berdosa yang dialaminya. Hal ini
menimbulkan keguncangan dalam kehidupan batinnya, sehingga mengakibatkan
kegoncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, panik, putus asa dan
bimbang. konflik jiwa yang berat itu menyebabkan orang lebih sensitif (mudah perasa,
cepat tersinggung dan mudah kena sugesti). Pada tahap ini terjadi proses pemilihan
terhadap kepercayaan baru untuk mengatasi konflik batinnya.
3) Masa konversi
Masa ini terjadi setelah konflik batin mengalami keredaan, karena kemantapan
batin dalam menentukan keputusan untuk memilih yang dianggap serasi ataupun
timbulnya rasa pasrah sehingga terciptalah ketenangan dalam bentuk kesediaan
menerima kondisi yang dialami sebagai petunjuk illahi.
4) Masa tenang dan tentram
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Masa tenang dan tentram ditimbulkan oleh kepuasaan terhadap keputusan yang
diambil. Ia timbul karena telah mampu membawa suasana batin menjadi mantap sebagai
pernyataan menerima konsep baru.
5) Masa ekspresi konversi
Pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk, kelakuan, sikap dan perkataan,
dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama.
Itulah yang akan membawa tetap dan mantapnya perubahan keyakinan tersebut.
Menurut Wasyim (dalam Sudarno, 2000) secara garis besar membagi proses
konversi agama menjadi tiga, yaitu:
1. Masa Gelisah (unsert), kegelisahan atau ketidaktenangan karena adanya gap antara
seseorang yang beragama dengan Tuhan yang di sembah. Ditandai dengan adanya
konflik dan perjuangan mental aktif.
2. Adanya rasa pasrah
3. Pertumbuhan secara perkembangan yang logis, yakni tampak adanya realisasi dan
ekspresi konversi yang dialami dalam hidupnya.
Proses terjadinya konversi agama, dalam masyarakat mengambil beberapa macam
bentuk:
a) Perubahan yang drastis. Adalah proses konversi agama dari tidak taat menjadi taat,
yang jangka waktunya cepat, karena ada masalah-masalah yang tidak bisa dipecahkan
oleh individu, yang disebabkan oleh tidak adanya pengalaman individu sebelumnya.
b) Pengaruh Lingkungan. Pengaruh lingkungan mempengaruhi sikap dan cara pandang
terhadap keyakinan suatu agama.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
c) Pengaruh idealisme yang dicari. Proses ini, biasanya memakan waktu lama. Individu
selalu merasa dalam keyakinn yang meragukan. Tetapi jika, ada bukti yang bisa
meyakinkannya, maka, dia akan yakin sepenuhnya.
2.2 Kerangka Pemikiran
Penelitian ini berusaha untuk menjabarkan tentang konversi identitas yang
dilakukan oleh perempuan berjilbab di Jakarta terkait dengan proses dan arah konversi
sebagai perspektif fenomenologis, yakni proses individu sebelum memakai jilbab hingga
berjilbab serta proses setelah memakai jilbab hingga jilbab tersebut ditanggalkan.
Pada dasarnya seperti yang dijelaskan Schutz (dalam Cresswell,1998:53) bahwa
fenomenologi mengkaji bagaimana anggota masyarakat menggambarkan dunia sehariharinya, terutama bagaimana individu dengan kesadarannya membangun makna dari
hasil interaksi dengan individdu yang lainnya.
Dengan demikian, kehidupan sehari-hari sebagai wadah kehidupan sosial yang sarat
dengan kesadaran intersubyektif (makna timbal balik yang dihasilkan dalam interaksi
sosial). Kesadaran ini mengacu pada teori Max Weber mengenai tindakan sosial. Apa
yang dimaksud Weber tentang tindakan sosial adalah apabila tindakan atau perilaku
seseorang dilakukan dengan pertimbangan perilaku orang lain, atau setidaknya punya
makna subyektif bagi pelakunya. Tindakan yang diorientasikan pada benda fisik belum
dapat dikatakan tindakan sosial, tetapi tindakan ketika diorientasikan pada orang dan
mendapatkan makna subjektif pada saat itulah terbentuk tindakan sosial.
Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk
melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan (Suryabrata, 1993:70).
Jadi motif bukanlah suatu hal yang dapat diamati, tapi dapat disimpulkan adanya suatu
kekuatan dari dalam diri orang itu. Kekuatan pendorong inilah yang disebut dengan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
motif. (Konstruksi Jilbab Sebagai Simbol KeIslaman, Dady Ahmadi dan Nova Yohana,
2005)
Pendasaran Schutz terhadap motif-motif itu dalam memahami tindakan orang lain
berangkat dari asumsi, pertama, bahwa tidaklah mungkin bagi kita untuk secara mutlak
memahami motif yang lain dalam kehidupan keseharian, motif-motif itu setidaknya
dapat memberikan peluang akan pemahaman yang lain. Kedua, dengan adanya
pemahaman ini akan memungkinkan kita untuk meningkatkan pemahaman terhadap
makna tindakan orang lain. (http://tsanincenter.blogspot.com )
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Bagan Kerangka Pemikiran
Tindakan Sosial (Max Weber) Teori Fenomenologi (Alfred Schutz) : KONVERSI
Interaksi Simbolik (Mead & Blumer) : ‐Kesadaran IDENTITAS
‐ Interaksi ‐Intersubjektivitas ‐Motif PENGGUNA JILBAB
‐Simbol DI JAKARTA
‐Makna ‐Konsep Diri Perempuan
Berjilbab
Perempuan
tidak berjilbab
Proses
Konversi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download