BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tanaman Nanas Di

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tanaman Nanas
Di Indonesia, nanas ditanam di kebun-kebun, pekarangan, dan tempattempat lain yang cukup mendapat sinar matahari pada ketinggian 1- 1.300 meter
di atas permukaan laut. Nanas merupakan tanaman buah yang selalu tersedia
sepanjang tahun. Herbal tahunan atau dua tahunan, terdapat tunas merayap pada
bagian pangkalnya. Daun berkumpul pada roset akar dan pada bagian
pangkalnya melebar menjadi pelepah. Helaian daun berbentuk pedang, tebal,
liat, ujung lancip menyerupai duri, tepi berduri tempel yang membengkok ke
atas, sisi bawah bersisik putih, berwarna hijau atau hijau kemerahan. Bunga
majemuk tersusun dalam bulir yang sangat rapat, letaknya terminal dan
bertangkai panjang. Buahnya bulat panjang, berdaging, berwarna hijau, jika
masak warna menjadi kuning. Buah nanas rasanya enak, asam sampai manis.
Buahnya selain dimakan secara langsung, bisa juga diawetkan dengan cara
direbus dan diberi gula, dibuat selai, atau sirup. Kandungan kimia buah nanas
adalah vitamin A dan vitamin C, kalsium, fosfor, magnesium, besi, natrium,
kalium, dekstrosa, sukrosa, dan enzim bromelain (Dalimartha, 2000; Yuniarti,
2008).
2.2 Efek Farmakologi Tumbuhan
Menurut Dalimartha (2000), Buah nanas berkhasiat mengurangi keluarnya
asam lambung yang berlebihan, membantu mencernakan makanan di lambung,
Universitas Sumatera Utara
antiradang, peluruh kencing (diuretik), peluruh haid, membersihkan jaringan
kulit
yang mati,
mengganggu pertumbuhan
penggumpalan trombosit
(agregasi
platelet),
sel
kanker, menghambat
dan mempunyai
aktivitas
fibrinolitik. Masyarakat memanfaatkan buah nanas untuk berbagai macam obat
tradisional. Pada penelitian terdahulu menurut Casearita (2011) ekstrak air buah
nanas dapat digunakan sebagai penghambat bakteri Staphylococcus aureus,
antifungi (Daniswara, 2008). Bromelin merupakan suatu enzim golongan
protease yang dihasilkan dari ekstraksi air buah nanas yang dapat mendegradasi
kolagen daging, sehingga dapat mengempukkan daging (Utami, dkk., 2011),
menghambat penggumpalan trombosit (agregasi platelet), dan mempunyai
aktivitas fibrinolitik (Maurer, 2001; Dalimartha, 2000; Bhattacharyya, 2008;
Yuniarti, 2008; Uma, dkk., 2012).
2.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Depkes
RI., 2000).
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai,
kemudian pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan
sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan (Depkes RI., 1995).
Jenis ekstraksi yang tepat sudah tentu bergantung pada tekstur dan
kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang
diisolasi. Alkohol merupakan pelarut serba guna yang baik untuk ekstraksi
Universitas Sumatera Utara
pendahuluan. Bahan dapat dimaserasi dalam pelarut, kemudian disaring
(Harborne, 1987).
Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan serbuk
simplisia kering (penyerbukan). Dari simplisia dibuat serbuk simplisia dengan
peralatan tertentu sampai derajat kehalusan tertentu (Depkes RI., 2000).
Selanjutnya ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai metode, seperti maserasi,
perkolasi, sokletasi, refluks, infus, digesti, dekok dengan menggunakan pelarut
yang sesuai (Anief, 2000; Depkes RI., 2000; Syamsuni, 2006).
a. maserasi
Maserasi adalah suatu cara penyarian simplisia dengan cara merendam
simplisia tersebut dalam pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau
pengadukan pada temperatur kamar.
b. perkolasi
Perkolasi adalah suatu cara penyarian simplisia menggunakan perkolator
dimana simplisianya terendam dalam pelarut yang selalu baru dan umumnya
dilakukan pada temperatur kamar. Prosesnya terdiri dari tahapan pengembangan
bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan dan
penampungan ekstrak) terus-menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat).
Universitas Sumatera Utara
c. refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya
dalam jangka waktu tertentu dimana pelarut akan terkondensasi menuju
pendingin dan kembali kelabu.
d. sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi kontinu menggunakan alat soklet, dimana
pelarut akan terkondensasi dari labu menuju pendingin, kemudian jatuh
membasahi sampel dan mengisi bagian tengah alat soklet. Tabung sifon juga
terisi dengan larutan ekstraksi dan ketika mencapai bagian atas tabung sifon,
larutan tersebut akan kembali ke dalam labu.
e. digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar, umumnya dilakukan pada
suhu 40-60oC.
f. infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90oC selama 15
menit.
g. dekok
Dekok adalah ekstraksi pada suhu 90oC menggunakan pelarut air selama
30 menit.
Universitas Sumatera Utara
2.4 Platelet
Platelet disebut juga trombosit berbentuk cakram kecil dengan diameter 1
sampai 4 mikrometer. Trombosit dibentuk di sumsum tulang dari megakariosit,
yaitu sel yang sangat besar dalam susunan hematopoietik dalam sumsum,
megakariosit pecah menjadi trombosit kecil, baik disumsum tulang atau segera
setelah memasuki darah, khususnya ketika memasuki kapiler. Kosentrasi normal
trombosit dalam darah adalah antara 150.000 dan 300.000 per mikroliter.
Membran sel trombosit juga penting di permukaannya terdapat lapisan
glikoprotein yang mencegah pelekatan dengan endotel normal dan justru
menyebabkan pelekatan dengan daerah dinding pembuluh yang cedera, terutama
pada sel-sel endotel yang cedera, dan bahkan melekat pada jaringan yang
terbuka di bagian dalam pembuluh. Selain itu membran platelet mengandung
banyak fosfolipid yang mengaktifkan berbagai mediator pada proses pembekuan
darah. Trombosit merupakan struktur yang aktif. Waktu paruh hidupnya dalam
darah 8 sampai 12 hari, jadi setelah beberapa minggu setelah tugas
fungsionalnya berahir, trombosit itu kemudian diambil dari sirkulasi, terutama
oleh sistem makrofak jaringan. Lebih dari separuh trombosit diambil oleh
makrofag dalam limpa, yaitu pada waktu darah melewati kisi-kisi trabekula yang
rapat (Guyton dan Hall, 2007).
Menurut Mutschler (1991), di dalam platelet ini terdapat sejumlah granul,
yang di dalamnya terdapat antara lain faktor pembeku darah. Fungsinya adalah:
a. dengan penggumpalan, dibentuk sumbatan mekanik (sumbat platelet).
Universitas Sumatera Utara
b. zat mediator yang dibebaskan dari platelet, terutama tromboksan A2,
menyebabkan vasokonstriksi yang cepat dalam daerah pembuluh yang
terluka.
c. dengan hancurnya platelet akan dibebaskan faktor platelet, yang bersama
dengan faktor plasma akan menyebabkan pembekuan. Merangsang penarikan
(retraksi) gumpalan darah.
Platelet memberikan respon pada trauma vaskular karena proses aktivasi
yang menyangkut 3 tahap yaitu: adesi pada sisi luka, pelepasan granul
intraselular, dan agregasi trombosit, peran platelet membetuk trombus dapat
dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Peran platelet membentuk trombus (Groos dan Weitz, 2009).
Secara normal, trombosit beredar dalam darah dalam bentuk tidak aktif,
tetapi menjadi aktif karena berbagai rangsangan (Mycek, dkk., 2001), disamping
itu platelet juga merapatkan celah-celah pembuluh pada daerah yang tak terluka
di dalam kapiler. Karena platelet juga mempunyai kemampuan fagositosis,
sehingga berperan pada proses pertahanan tubuh organisme (Mutschler, 1991).
Fungsi platelet darah diatur oleh tiga kategori substansi. Kelompok
pertama terdiri atas agen-agen yang dibentuk diluar platelet yang berinteraksi
dengan reseptor-reseptor membran platelet, misalnya catecholamine, collagen,
Universitas Sumatera Utara
thrombin dan prostacyclin. Kategori kedua terdiri atas agen-agen yang dibentuk
di dalam platelet yang berinteraksi dengan reseptor-reseptor membran, misalnya,
ADP, Prostaglandin D2, Prostglandin E2, dan serotonin. Kategori ketiga terdiri
atas agen-agen yang dibentuk di dalam platelet yang bekerja di dalam platelet,
misalnya, prostglandin endoperoxide dan thromboxane A2, nukleotidanukleotida siklis cAMP dan cGMP, dan ion kalsium. Dari daftar agen-agen ini
beberapa
target
obat-obat
penghambat
platelet
telah
diidentifiksikan:
penghambat metabolisme prostaglandin seperti asetosal, penghambat agregasi
platelet yang diinduksi ADP seperti clopidogrel, ticlopidine, dan penyakatan
reseptor-reseptor GP IIb/IIIa pada platelet-platelet seperti abciximab, tirofiban,
dan eptifibatide (Katzung, 2002).
2.4.1 Aktivasi Platelet
Menurut Mycek, dkk., (2001), membran luar platelet mengandung
berbagai reseptor yang berfungsi sebagai sensor peka atas sinyal-sinyal
fisiologik yang ada dalam plasma. Reseptor yang terdapat di membran dapat
dirangsang oleh sinyal-sinyal kimia tertentu. Rangsangan sinyal kimia ini dibagi
menjadi dua golongan, pertama digolongkan sebagai aktivasi platelet, yang
memacu agregasi platelet dan seterusnya melepaskan granul yang berada dalam
platelet. Sementara golongan yang ke dua digolongkan sebagai penghambat
platelet, yang menghambat agregasi pletelet dan pelepasan granul yang berada
dalam platelet. Sinyal kimia inilah yang menentukan apakah platelet tetap dalam
keadaan tenang atau menjadi aktif.
a. Sinyal kimia yang melawan aktivitas platelet antara lain adalah:
Universitas Sumatera Utara
i.
peningkatan kadar protasiklin: Dalam pembuluh yang normal dan tidak
rusak, platelet bergerak bebas, karena keseimbangan sinyal kimia
menunjukkan sistem vaskular tidak mengalami kerusakan. Sebagai
contoh prostasiklin, dibentuk oleh sel endotel yang intak dan dilepaskan
ke dalam plasma, terikat pada reseptor membran spesifik platelet yang
bergabung dengan sintesis siklik adenosin monofosfat (cAMP) sebagai
masenjer
intraseluler.
Peningkatan
kadar
cAMP
intraseluler
menghammbat aktivitas platelet dan pelepasan zat agregasi platelet.
ii.
penurunan kadar trombin dan tromboksan plasma: Membran pletelet
mengandung reseptor yang dapat mengikat trombin, tromboksan dan
kolagen lepas. Jika terisi, tiap jenis reseptor ini akan memacu sejumlah
reaksi yang menyebabkan lepasnya granula intraselular ke dalam
sirkulasi sehingga terjadi agregasi platelet. Namun, pada pembuluh
normal yang intak, kadar trombin dan tromboksan yang beredar rendah
dan endotel yang intak menutup kolagen yang ada dalam lapisan
subendotel, akibatnya reseptor platelet yang bersangkutan akan kosong
dan tetap tidak aktif. Dengan demikian aktivitas platelet dan agregasi
tidak terjadi.
b. Sinyal kimia yang memacu agregasi platelet antara lain adalah:
i.
penurunan kadar prostasiklin: Sel-sel endotel yang rusak akan
menghasilkan prostasiklin lebih sedikit, yang menyebabkan pengurangan
kadar prostasiklin setempat. Pengikatan prostasiklin pada reseptor
Universitas Sumatera Utara
platelet berkurang. Sehingga kadar cAMP intraseluler yang rendah
menyebabkan agregasi platelet.
ii.
kolagen terekspos: Dalam beberapa detik setelah kerusakan vaskular,
platelet melengket dan menutupi kolagen subendotel. Reseptor pada
permukaan platelet diaktifkan oleh kolagen jaringan ikatan yang
mendasari, yang memacu pelepasan granula platelet berisi ADP dan
serotonin. Proses ini kadang-kadang disebut sebagai reaksi pelepasan
platelet, dan platelet tersebut selanjutnya diaktifkan. Reseptor fibrinogen
terdapat pada permukaan platelet dan kemudian firinogen akan bekerja
sebagai jembatan antara kedua platelet dapat dilihat pada Gambar 2.2.
iii.
peningkatan sintesis tromboksan: Stimulasi platelet oleh trombin,
kolagen dan ADP menyebabkan aktivitas enzim fosfolipase membran
platelet, yang membebaskan asam arakidonat dan fosfolipid membran.
Asam arakidonat pertama diubah menjadi prostaglandin H2 oleh
siklooksigenase, suatu enzim yang dinonaktifkan oleh aspirin secara
ireversibel. Prostaglandin H2 dimetabolisme menjadi tromboksan A2,
yang dilepaskan ke dalam plasma. Tromboksan A2 yang dihasilkan akan
menempel pada reseptor platelet lain sehingga terjadi agregasi platelet,
yang selanjutnya memacu proses penyumbatan dan penting untuk
pembentukan sumbatan hemostatik secara cepat dapat dilihat pada
Gambar 2.2.
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.2 Proses agregat platelet pada pembuluh darah (Fitzakerley, 2012).
2.5 Bentuk Pembekuaan Darah di Dalam Tubuh
Menurut Harahap dan Sumadio (1995) ada dua bentuk pembekuan darah
di dalam tubuh, yaitu trombus dan embolus. Trombus adalah pembekuan darah
yang melekat pada dinding pembuluh darah, hal ini terjadi terutama disebabkan
adanya inflamasi (kerusakan) saluran darah. Sudiono dan Yuwono (2003)
mengatakan, trombus merupakan benda padat yang terdiri dari unsur-unsur
(elemen) darah di dalam pembuluh darah atau jantung sewaktu masih hidup,
unsur-unsur darah ini adalah platelet, fibrin, eritrosit dan leukosit. Proses
pembentukan trombus disebut trombosis. Sedangkan embolus adalah pecahnya
trombus yang dapat menyumbat saluran darah kecil yang mengakibatkan
penghambatan aliran darah atau sering disebut embolisme. Embolisme
pulmonari adalah emboli yang terjadi pada pembuluh darah pulmonari (Harahap
dan Sumadio, 1995). Trombus dan embolus ini berbahaya karena dapat
menyumbat pembuluh dan jaringan akan mengalami kekurangan oksigen dan
makanan (Mycek, dkk., 2001).
Universitas Sumatera Utara
2.5.1 Proses Pembentukan Bekuan Darah
Normalnya, darah yang mengalir tetap cair karena terdapat keseimbangan
tertentu yang sangat komplek. Pada keadaan tertentu, keseimbangan ini dapat
terganggu sehingga terjadi trombosis. Pembentukan trombus dimulai dengan
melekatnya platelet-platelet pada perrmukaan endotel pembuluh darah atau
jantung. Jika terjadi suatu kerusakan pada platelet, akan dilepaskan suatu zat
tromboplastin. Zat inilah yang akan merangsang proses pembentukan beku
darah. Tromboplastin akan mengubah protrombin yang terdapat didalam darah
menjadi trombin, yang kemudian bereaksi dengan fibrinogen menjadi fibrin.
Fibrin seperti jala yang menahan eritrosit dan leukosit, selain itu trombin juga
menyebabkan pecahnya platelet sehingga terbentuk lebih banyak tromboplastin.
Dengan adanya darah yang mengalir melalui tempat itu, faktor-faktor
pembekuan yang dikeluarkan platelet akan terbawa oleh aliran darah sehingga
tidak terjadi proses pembekuan pada tempat itu, tetapi hanya terjadi suatu
trombus (Sudiono dan Yuwono, 2003). Menurut Dewoto (2008), terjadinya
proses pembentukan bekuan darah ini dikarenakan beberapa faktor, diantanya
adalah faktor pembuluh darah, faktor platelet dan faktor pembekuan darah.
2.6 Antiplatelet (Antitrombotik) dan Trombolitik (Fibrinolitik)
Platelet menjadi sumbat hemostasis awal di tempat perlukaan pembuluh
darah, selain itu platelet berperan pada pembentukan trombus. Obat yang
digunakan untuk mencegah dan pengobatan tromboemboli adalah golongan
antikoagulan, antitrombosit dan trombolitik. Antikoagulan digunakan untuk
mencegah pembekuan darah. Antitrombotik adalah obat yang dapat menghambat
Universitas Sumatera Utara
agregasi trombosit sehingga dapat menyebabkan terhambatnya pembentukan
trombus yang terutama sering ditemukan pada sistem arteri. Trombolitik berbeda
dengan antikoagulan yang mencegah terbentuk dan meluasnya tromboemboli,
trombolitik melarutkan trombus yang sudah terbentuk (Dewoto, 2008).
2.6.1 Antiplatelet (antitrombotik)
Penghambat agregasi platelet untuk mengurangi pembentukan agregat
dilakukan dengan cara menghambat aktivasi platelet dengan berbagai cara, yaitu
menghambat pembentukan TXA2 dan pemberian antagonis resepor-reseptor
yang ada di membran platelet, yang dapat dilihat pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Cara penghambatan agregasi platelet (Groos dan Weitz, 2009).
Zat-zat
ini
terbukti
dalam
mencegah
dan
mengobati
penyakit
kardiovaskular oklusif, mempertahankan cangkok vaskular dan keutuhan arteri,
antikoagulan kurang berguna dalam pencegahan trombosis arteri. Karena dalam
pembuluh darah yang memiliki aliran lebih cepat. Trombus terutama terdiri dari
platelet dengan sedikit fibrin. Obat platelet mengurangi agregasi platelet dan
trombosis arteri. Pada arteri dengan ateroma, plak yang sangat mungkin
mengalami ruptur mempunyai inti sangat kaya lemak dan tertutup oleh selubung
Universitas Sumatera Utara
fibrosa tipis. Rupturnya selubung tersebut membuat kolagen subendotel terpapar
sehingga mengaktivasi platelet dan menyebabkan agregasi. Keadaan tersebut
melepaskan tromboksan A2 (TXA2), Adenosin difosfat (ADP), dan 5hidroksitriptamin
(5HT)
menyebabkan
agregasi
platelet
selanjutnya,
vasokontriksi, dan aktivasi kaskade pembekuan. Obat antiplatelet, khususnya
asetosal, telah terbukti dapat mengurangi risiko infark miokard pada pasien
dengan angina tidak stabil, meningkatkan ketahanan hidup pasien yang pernah
mengalami infark miokard, dan menurunkan risiko stroke pada pasien dengan
serangan iskemik sementara ( Mycek, dkk., 2001; Neal, 2006).
Peristiwa yang menjadi kunci pada aktivasi dan agregasi platelet adalah
peningkatan kalsium sitoplasma. Hal ini menyebabkan perubahan konformasi
reseptor GPIIb/IIIa inaktif pada membran plasma menjadi reseptor yang
memiliki afinitas yang tinggi terhadap fibrinogen, yang membentuk ikatan silang
di antara platelet, dan menyebabkan agregasi. TXA2, trombin, dan 5HT
mengaktivasi fosfolipase C, dan inositol-1,4,5-trisfosfat (InsP3) yang dihasilkan
menstimulasi pelepasan kalsium dari retikulum endoplasma. ADP menghambat
adenilat
siklase
dan
penurunan
adenosin
monofosfat
siklik
(cAMP)
meningkatkan kalsium sitoplasma kembali. Semua obat antiplatelet bekerja satu
arah untuk menghambat jalur aktivasi platelet yang tergantung kalsium (Neal,
2006).
Tromboemboli merupakan salah satu penyebab sakit dan kematian yang
banyak terjadi, banyak faktor yang menyebabkan timbulnya tromboemboli,
Universitas Sumatera Utara
misalnya trauma, kebiasaan merokok, pembedahan, kehamilan atau akibat obatobat yang mengandung estrogen (Dewoto, 2008).
Aspirin menghambat sintesis tromboksan A2 (TXA2) di dalam platelet dan
protasiklin (PGI2) di pembuluh darah dengan menghambat secara ireversibel
enzim siklooksigenase terjadi karena aspirin mengasetilasi enzim tersebut,
aspirin dosis kecil hanya dapat menekan pembentukan TXA2, sebagai
antitrombotik dosis efektif aspirin 80-320 mg perhari (Dewoto, 2008). TXA2
merupakan penginduksi kuat agregasi platelet, sel endotel dinding pembuluh
darah menghasilkan prostglandin, PGI2 (Prostasiklin), yang kemungkinan
merupakan antagonis fisiologis dari TXA2. PGI2 menstimulasi reseptor yang
berbeda pada platelet dan mengaktivasi adenilat siklase. Peningkatan cAMP
yang terjadi kemudian berhubungan dengan penurunan kalsium intraseluler dan
inhibisi agregasi platelet (Neal, 2006).
2.6.2 Trombolitik (Fibrinolitik)
Menurut Majerus dan Tollefsen (2008), terapi obat trombolitik
(fibrinolitik) cenderung melarutkan trombus, sistem fibrinolitik melarutkan
bekuan darah intravaskular sebagai hasil kerja plasmin, yakni suatu enzim yang
mencerna fibrin. Plasminogen, suatu prekursor yang tidak aktif, diubah menjadi
plasmin dengan pemutusan ikatan peptida tunggal. Plasmin merupakan suatu
protease yang relatif nonspesifik, senyawa ini mencerna bekuan fibrin dan
protein plasma lainnya, termasuk beberapa faktor koagulan. Dipasaran terdapat
plasmin aktivator seperti jaringan plasmin aktivtor(t-PA), Streptokinase,
Urokinase (Harahap dan Sumadio, 1995).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Mycek, dkk., (2001), sifat-sifat umum obat trombolitik dapat
dilihat seperti dibawah ini:
a.
kerja: Obat-obat trombolitik mempunyai sifat-sifat yang sama. Semua
bekerja langsung atau tidak mengubah plasminogen menjadi plasmin yang
selanjutnya mencairkan fibrin sehingga melarutkan trombus. Dalam setiap
kasus, pelarutan dan reperfusi bekuan sering terjadi jika terapi dimulai lebih
awal setelah pembentukan bekuan, karena bekuan akan menjadi lebih
resisten untuk lisis jika semakin lama. Trombin lokal yang meningkat dapat
terjadi jika melarutnya bekuan, sehingga menyebabkan agregasi platelet
meningkat dan terjadi trombosis. Cara yang dilakukan untuk mencegah hal
ini adalah dengan pemberian obat antiplatelet seperti aspirin.
b.
pemberian obat: Untuk infark miokard, pemberian obat intrakoroner paling
dipercaya untuk mencapai rekanalisasi. Namun, kateterisasi jantung
mungkin tidak dapat dilakukan dalam 2-6 jam, dan jika melewati waktu
tersebut pertolongan miokard yang penting tidak mungkin lagi. Sebab itu,
obat trombolitik biasanya diberikan inravena, karena cara ini cepat, tidak
mahal dan tidak mempunyai risiko kateterisasi.
c.
penggunaan dalam terapi: semua digunakan untuk pengobatan trombosis
vena profunda dan embolisme paru berat, obat trombolitik sekarang
digunakan lebih sering untuk mengobati infark miokard akut dan trombosis
arteri perifer dan emboli untuk menghindari pembekuan dalam kateter dan
pintas.
Universitas Sumatera Utara
efek samping: obat-obat trombolitik tidak membedakan fibrin trombus yang
tidak diinginkan dan fibrin sumbatan hemostatik yang menguntungkan. Karena
itu, perdarahan merupakan efek samping utama. Misalnya, suatu lesi yang
semula tidak berbahaya, seperti ulkus peptikum, dapat mengalami perdarahan
setelah suntikan obat trombolitik. Obat-obat ini merupakan kontraindikasi untuk
pasien dengan luka yang sembuh, kehamilan, riwayat cedera serebrovaskular.
Universitas Sumatera Utara
Download