tugas terstruktur

advertisement
PENINGKATAN EFEKTIVITAS DIKLAT SISTEM PENGAPIAN BATERAI
KONVENSIONAL MELALUI PENDEKATAN CTL PADA DIKLAT GURU SMK
OTOMOTIF DI P4TK BIDANG OTOMOTIF DAN ELEKTRONIK MALANG
Sasongko Leksono.A.P.ST.M.Si
Widyaiswara Madya PPPPTK-VEDC Malang
Abstrak
Sasongko Leksono Agus Pamungkas,ST.,M.Si, 2013 Peningkatan Efektivitas
Pembelajaran Sistem Pengapian Baterai Konvensional dengan Pendekatan CTL pada diklat
Guru SMK Otomotif pada Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronik (P4TK) Malang.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan diklat, yang bertujuan bagaimana cara
meningkatkan efektivitas pembelajaran sistem pengapian baterai konvensional dengan
pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) pada diklat guru otomotif pada Pusat
Pengembanngan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan
Elektronik (P4TK) Malang.
Subjek penelitian adalah peserta diklat guru otomotif pada Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronik (P4TK)
Malang.
Penelitian ini dilaksanakan melalui tahapan proses yang meliputi merencanakan
tindakan, melaksanakan tindakan pada siklus I dan siklus II, mengadakan pengamatan selama
berlangsungnya pembelajaran pada siklus I dan siklus II, mengadakan evaluasi pada setiap akhir
siklus, menganalisis data hasil evaluasi dan hasil pengamatan serta mengadakan refleksi
berdasarkan hasil analisis dan tanggapan peserta diklat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas yang diperoleh peserta diklat
pada tes akhir siklus I adalah 2,51 dan nilai rata-rata pada tes akhir siklus II adalah 3.13 , maka
hasil perolehan rata-rat nilai peserta diklat tiap siklus meningkat 0,62 sedangkan standar deviasi
mengalami kenaikan 1,31.
Kesimpulan dari hasil penelitian di atas diperoleh bahwa terjadi peningkatan yang
cukup berarti efektivitas pembelajaran sistem pengapian baterai konvensional pada diklat guru
otomotif pada Pusat Pengembanngan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronik (P4TK) Malang, melalui pembelajaran dengan pendekatan
CTL.
Kata kunci : CTL, Siklus I, Siklus II, Efektifitas
1
menambah motivasi belajar peserta
diklat, mampu menemukan sendiri
pengalaman belajarnya dan dapat
menghubungkan antara materi yang
dipelajari di sekolah dengan pengalaman
di luar, guna pencapaian hasil belajar
yang optimal.
A. Latar Belakang.
Sistem
pengapian
baterai
konvensional pada mata diklat teknik
kelistrikan otomotif adalah merupakan
keterampilan dasar yang harus dimiliki
oleh setiap guru sekolah menengah
kejuruan bidang keahlian teknik
kendaraan ringan. Hal ini sesuai dengan
tujuan pendidikan yang mengacu pada
isi Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional (UUSPN) pasal 3 (tiga)
mengenai Tujuan Pendidikan Nasional
dan penjelasan pasal 15 alinea ke – 2
yang menyebutkan bahwa pendidikan
kejuruan
merupakan
pendidikan
menengah yang mempersiapkan peserta
didik terutama untuk bekerja dalam
bidang tertentu.
Secara khusus tujuan program
keahlian teknik kendaraan ringan adalah
membekali peserta diklatnya dengan
keterampilan, pengetahuan, dan sikap
agar lebih kompeten. Kompetensi dasar
yang
digunakan
sebagai
acuan
pengembangan kurikulum program
keahlian teknik kendaraan ringan adalah
kompetensi inti dan kompetensi dasar
kurikulum 2013.
Skenario pembelajaran yang
selama ini digunakan berupa metode
ceramah, dengan media wall chard dan
model-model sistem pengapian baterai
konvensional, ternyata kurang efektif
malah peserta diklat kurang termotivasi
dalam meningkatkan prestasi belajarnya.
Ini terbukti setelah diberikan tugas
harian dan diadakan ulangan harian
maupun ujian akhir modul data
perolehan hasil belajar khususnya
penyelesaian soal-soal tentang cara kerja
dan analisis gangguan pada sistem
pengapian baterai konvensional pada
tahun-tahun
sebelumnya
kurang
memuaskan.
Berangkat dari kesenjangankesenjangan
pembelajaran
dan
kekurang-efektifan hasil belajar peserta
diklat tersebut di atas, maka penulis
mencoba
menerapkan
dengan
menggunakan
metode
pengajaran
kontekstual (contextual teaching and
learning).
Dengan
menggunakan
metode tersebut diharapkan dapat
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
tersebut,
maka
masalah
dapat
dirumuskan sebagai berikut :“Apakah
melalui
pendekatan
pengajaran
kontekstual pada diklat guru otomotif
pada Pusat Pengembanngan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Bidang Otomotif dan
Elektronik (P4TK) Malang dapat
meningkatkan efektifitas diklat Sistem
Penagapian Baterai Konvensional bagi
guru SMK Otomotif ?”
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui sejauh mana
peningkatan efektivitas pembelajaran
sistem pengapian baterai konvensional
pada pada diklat guru otomotif pada
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronik (P4TK)
Malang
dengan
menggunakan
pendekatan pengajaran kontekstual.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :
 Meningkatkan, memperbaiki proses
pembelajaran dan meningkatkan
kualitas serta mutu pembelajaran
 Peserta diklat dapat terlibat langsung
dalam mengaplikasikan pengalaman
belajarnya baik mental, fisik, dan
sosialnya guna untuk diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Efektivitas Pembelajaran Sistem
Pengapian Baterai Konvensional
Pembelajaran adalah proses
yang diselenggarakan oleh widyaiswara
untuk menjadikan guru pembelajar,
bagaimana belajar memperoleh dan
2
memproses pengetahuan, keterampilan,
dan sikap. Gague dalam Haling (2004)
mengatakan
bahwa
“pembelajaran
adalah
usaha widyaiswara yang
bertujuan membantu peserta diklat
belajar”. Degeng dan Mirason dalam
Haling (2004) mengatakan bahwa
“pembelajaran adalah suatu proses yang
dilaksanakan secara sistematis dimana
setiap komponen saling berpengaruh.
Jadi disimpulkan bahwa pembelajaran
adalah proses, cara, perbuatan yang
diatur sedemikian rupa
sehingga
tercipta hubungan timbal balik antara
widyaiswara dan peserta diklat untuk
mencapai tujuan tertentu.
Efektivitas
individu
dapat
dipandang dari suatu pencapaian sasaran
yang ditargetkan, secara khusus dalam
konteks pengajaran di sekolah kejuruan,
sasaran yang dimaksud
dapat
ditunjukkan melalui sejumlah indikator.
Efektifitas tergambar dari hasil belajar
peserta yang tentunya tidak terlepas dari
aktifitas peserta diklat dan metode yang
digunakan pada proses belajar mengajar
yang dilakukan pada saat proses
pembelajaran berlangsung, metode
tersebut antara lain adalah : metode
ceramah,metode
demonstrasi,metode
kerja proyek dan lain-lain.
4. Dapat menjadi penguatan kepada
peserta didik dengan adanya humor
Sedangkan kekurangan metode ceramah
antara lain :
1. Tidak memberikan kesempatan untuk
berdiskusi memecahkan masalah
sehingga
proses
menyerap
pengetahuan kurang tajam.
2. Tidak memberikan kesempatan
kepada
peserta
diklat
untuk
mengembangkan
keberanian
mengemukakan pendapatnya.
3. Pertanyaan lisan dalam ceramah
kurang dapat ditanggapi oleh
pendengar,
terlebih
lagi
jika
menggunakan kata-kata asing.
C. Pendekatan Contextual Teaching
and Learning (CTL)
1. Pengertian Pendekatan CTL
Pendekatan CTL adalah konsep
belajar yang mendorong widyaiswara
untuk menghubungkan antara materi
yang diajarkan dan situasi dunia nyata,
dan juga mendorong peserta diklat
membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dan diterapkannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pengetahuan dan keterampilan peserta
diklat diperoleh dari usaha peserta diklat
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan baru ketika ia belajar
(Nurhadi, 2004 : 103)
B. Metode Ceramah
Pada umumnya metode yang
digunakan penulis selama ini adalah
metode ceramah yang merupakan
penjelasan materi oleh widyaiswara
secara lisan dan mendemonstrasikan
model, kemudian diselingi dengan tanya
jawab untuk memperjelas uraian yang
disampaikan kepada peserta diklat
(Suryo Subroto, 2002: 165)
Sagala
et.al
(2005)
mengemukakan bahwa metode ceramah
mempunyai keuntungan sebagai berikut;
1. Murah karena memungkinkan efisien
dalam pemanfaatan waktu.
2. Mudah disesuaikan dengan kondisi
peserta didik.
3. Dapat mengembangkan kemampuan
mendengar para peserta didik secara
tepat, kritis dan penuh penghayatan.
2.Latar
Belakang
Lahirnya
Pendekatan CTL
Latar
belakang
lahirnya
pendekatan konstekstual adalah peserta
diklat belajar lebih bermakna jika
lingkungan diciptakan alamiah. Belajar
tentang teori keterampilan dasar akan
lebih bermakna jika peserta diklat
mengalami apa yang dipelajarinya,
bukan hanya mengetahuinya. Dalam
pembelajaran
kontekstual
tugas
widyaiswara
adalah
memberi
kemudahan-kemudahan kepada peserta
diklat, dengan menyediakan berbagai
sarana dan sumber belajar yang
memadai. Widyaiswara bukan hanya
menyampaikan materi pembelajaran
berupa
hafalan
tetapi
mengatur
lingkungan dan strategi pembelajaran
3
yang memungkinkan peserta diklat
belajar (Nurhadi, 2004 :104)
Pembelajaran yang berorientasi
target penguasaan materi terbukti
berhasil dalam kompetensi mengingat
jangka pendek, tetapi gagal dalam
membekali peserta diklat memecahkan
persoalan dalam kehidupan jangka
panjang (Nurhadi, 2004 : 104)
Melalui pendekatan CTL proses
pembelajaran sistem pengapian baterai
konvensional diharapkan berlangsung
alamiah dalam bentuk kegiatan peserta
diklat untuk bekerja dan mengalami,
bukan transfer pengetahuan dari
widyaiswara ke peserta diklat. Strategi
pembelajaran lebih dipentingkan dari
pada hasil. Dalam konteks itu, perlu
mengerti apa makna
belajar, apa
manfaatnya, mereka dalam status apa,
dan bagaimana mencapainya. Peserta
diklat akan menyadari bahwa yang
mereka
pelajari
berguna
bagi
kehidupannya. Dengan demikian peserta
diklat memposisikan dirinya yang
memerlukan
suatu
bekal
untuk
kehidupannya nanti. Peserta diklat
mempelajari yang bermanfaat bagi
dirinya dan berupaya menggapainya.
Dalam upaya itu, peserta diklat
memerlukan
widyaiswara
sebagai
pengarah dan pembimbing.
Sehubungan dengan itu, Zahorik
dan Mulyasa (2005) mengungkapkan
lima elemen yang harus diperhatikan
dalam pembelajaran kontekstual sebagai
berikut :
1. Pembelajaran harus memperhatikan
pengetahuan yang sudah dimiliki
oleh peserta diklat
2. Pembelajaran
dimulai
dari
keseluruhan (global) menuju bagian
secara khusus (dari umum ke
khusus)
3. Pembelajaran harus ditekankan pada
pemahaman dengan cara :
a) Menyusun konsep sementara
b) Melakukan kerja sama untuk
memperoleh masukan
dan
tanggapan dari orang lain.
3. Landasan Filosofi Pengembangan
CTL
Landasan filosofi CTL adalah
konstruktivisme, yaitu filosofi belajar
yang menekankan bahwa belajar tidak
hanya menghafal. Peserta diklat harus
mengkonstruksikan
pengetahuan
dibenak mereka sendiri. Pengetahuan
tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi
fakta-fakta atau proposisi yang terpisah
tetapi mencerminkan
keterampilan
yang dapat diterapkan. Konstruktivisme
berakar pada filsafat paragmatisme yang
digagas oleh John Dewey pada abad ke
20 (Nurhadi, 2004 : 105)
Filosofi
yang
mendasari
pendekatan
kontekstual
telah
dikembangkan oleh John Dewey (sejak
tahun 1916, yaitu sebuah filosofi belajar
yang menekankan pada pengembangan
minat dan pengalaman peserta diklat
(Nurhadi, 2004 : 105)
4. Hakikat CTL
Nurhadi (2002 : 5) Memandang
bahwa CTL adalah konsep belajar yang
membantu
widyaiswara
untuk
menghubungkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata
peserta diklat dan mendorong peserta
diklat untuk membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapan dalam kehidupan mereka
sehari-hari
Konsep pendekatan CTL ada 3 hal yang
harus difahami :
1. CTL menekankan kepada proses
keterlibatan peserta diklat untuk
menemukan materi, artinya proses
belajar diorientasikan pada proses
pengalaman secara sadar. Proses
dalam
konteks
CTL
tidak
mengharapkan peserta diklat hanya
menerima pelajaran, akan tetapi
proses mencari dan menemukan
sendiri materi pelajaran.
2. CTL mendorong peserta diklat dapat
menemukan hubungan antara materi
yang dipelajari dengan situasi
kehidupan nyata, artinya peserta
diklat
dituntut
untuk
dapat
menangkap
hubungan
antara
pengalaman belajar di pusdiklat
4
dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab dengan
menghubungkan
materi
yang
ditemukan dalam kehidupan nyata
menjadikan peserta diklat belajar
bermakna secara fungsional dan
materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memoripeserta
diklat, sehingga tidak akan mudah
dilupakan.
3. CTL mendorong peserta diklat untuk
dapat
menerapkannya
dalam
kehidupan, artinya CTL bukan
hanya mengharapkan peserta diklat
dapat memahami materi yang
dipelajarinya akan tetapi bagaimana
materi itu mewarnai perilaku dalam
kehidupan sehari-hari.
Secara umum pendekatan CTL
mendorong peserta diklat memahami
hakekat, makna, dan manfaat belajar,
sehingga mereka akan rajin belajar dan
termotivasi untuk senantiasa belajar.
1. Kembangkan pemikiran bahwa
peserta diklat akan belajar lebih
bermakna dengan cara bekerja
sendiri, menemukan sendiri, dan
mengkostruksikan
sendiri
pengetahuan
dan
keterampilan
barunya.
2. Laksanakan sejauh
mungkin
kegiatan inkuiri untuk semua topik
3. Kembangkan sifat ingin tahu peserta
diklat dengan bertanya
4. Ciptakan “ masyarakat belajar”
(belajar dalam kelompok-kelompok)
5. Hadirkan “ Model” sebagai contoh
pembelajaran
6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan
7. Lakukan penilain yang sebenarnya
dengan berbagai cara
2.Ciri-ciri Kelas yang Menggunakan
Pendekatan CTL
Ada beberapa ciri yang nampak
dalam kelas dengan menggunakan
pendekatan CTL adalah sebagai berikut :
pengalaman nyata, kerja sama, saling
menunjang, gembira, belajar bergairah,
pembelajaran terintegrasi, menggunakan
berbagai sumber, peserta diklat aktif dan
kritis,
menyenangkan,
tidak
membosankan, kerja sama dengan
teman,
dan
widyaiswara
kreatif
(Nurhadi, 2004 : 107).
D. Komponen-komponen CTL
Komponen
belajar
yang
melibatkan pembelajaran CTL adalah
melibatkan
7
komponen
utama
pembelajaran
produktif,
yakni
:
Konstruktivisme, bertanya, menemukan,
masyarakat belajar, pemodelan, refleksi,
dan penilaian sebenarnya (Nurhadi,
2004 : 105)
1.Pokok pendekatan CTL
Hal-hal pokok yang menjadi
pokok dalam pendekataan CTL adalah
:(1) mengutamakan pengalaman nyata,
(2) berpikir tingkat tinggi, (3) berpusat
pada peserta diklat, (4) peserta diklat
aktif, kritis, dan kreatif, (5) pendidikan
bermakna dalam kehidupan, (6)
pendidikan bukan pengajaran, (7)
memecahkan masalah, (8) peserta diklat
berbuat widyaiswara mengarahkan,
bukan widyaiswara berbuat peserta
diklat menonton, (9) hasil belajar diukur
dengan berbagai cara bukan hanya
dengan tes ( Nurhadi, 2004 : 105)
Menurut (Nurhadi, 2004 : 106)
penerapan pendekatan CTL dalam
pembelajaran, memiliki langkah-langkah
sebagai berikut :
E. Kerangka Pikir
Efektivitas pembelajaran yang
dimaksudkan dalam penelitian tindakan
ini adalah keberhasilan peserta diklat
mencapai tujuan tertentu akibat adanya
proses yang direncanakan sedemikian
rupa sehingga tercipta hubungan timbal
balik antara widyaiswara dan peserta
diklat.
Berkaitan dengan mata diklat
sistem pengapian baterai konvensional,
efektivitas pembelajaran yang dimaksud
adalah keberhasilan peserta diklat dalam
menguasai tentang sistem pengapian
baterai konvensional dan aplikasinya.
Efektivitas pembelajaran akan tergambar
dari hasil belajar peserta diklat yang
tentunya tidak terlepas dari aktifitas
peserta diklat yang dilakukan pada saat
pembelajaran berlangsung.
5
KONDISI
AWAL
TINDAKAN
KONDISI
AKHIR
Peneliti :
Belum
menggunakan (X)
Memanfaatkan
(X)
Diduga melalui
(X) dapat
meningkatkan
(Y) bagi …
Yang
diteliti:
(Y) rendah
SIKLUS I
Memanfaatkan
(X) secara
kelompok besar.
SIKLUS II
Memanfaatkan
(X) secara
kelompok kecil
Gambar 1 kerangka berpikir
yang dikelompokkan menjadi dua tahap
yaitu:tahap pertama dengan membagi
dengan kelompok besar terdiri dari dua
kelompok masing-masing 6 orang dan 6
orang yang disebut dengan siklus I,
kemudian tahap kedua dikelompokkan
dalam kelompok keci, terdiri dari 4
kelompok masing-masing 3 – 4 orang
yang disebut siklus II.
Untuk mencapai keberhasilan
tersebut
maka
perlu
diterapkan
pendekatan pembelajaran yang tepat.
Contextual Teaching and Learning (CTL
) merupakan pendekatan pembelajaran
yang dapat mengubah paradigma
mengajar menjadi pembelajar sehingga
pembelajaran
terkesan
bermakna.
Pendekatan CTL menekankan pada
proses keterlibatan peserta dikalat secara
penuh
(Sanjaya,
2005).
Dengan
demikian, penerapan pendekatan CTL
dapat meningkatkan efektivitas diklat
karena peserta diklat terlibat secara aktif
dalam proses belajar mengajar.
F. Hipotesis Tindakan
Melalui pendekatan kontekstual
dapat meningkatkan efektivitas diklat
sistem pengapian baterai konvensional
pada diklat guru otomotif pada Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronik (P4TK)
Malang.
Kondisi awal adalah tahapan
proses
belajar
mengajar
dengan
menggunakan metode ceramah pada
kondisi ini hasil belajar yang diperoleh
digunakan sebagai data awal untuk
mengkomperasikan dengan hasil belajar
dengan menggunakan tindakan.
Tindakan dalam proses belajar
mengajar adalah dengan memanfaatkan
trainer sistem pengapian konvensial
MET0DE PENELITIAN
A.Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian
tindakan diklat (Classroom Action
Research) yang dilaksanakan selama
dua siklus. Tindakan yang dilakukan
adalah pendekatan CTL melalui tahapan-
6
tahapan
tindakan,
refleksi.
perencanaan,
pelaksanaan
observasi, evaluasi dan
(1) cara penyalaan bahan bakar pada
motor bakar, bagian-bagian sistem
pengapian baterai, dan cara kerja,
(2) kontak pemutus dan sudut dwell,
(3) kondensator, (4) koil dan
tahanan ballast, (5) busi.
b. Siklus kedua berlangsung empat (4)
kali tatap muka dengan kajian sub
kompetensi :
(1) Saat pengapian, (2) advans
sentrifugal, (3) advans vacuum.
B.Subyek, Lokasi, dan Waktu
Penelitian
Subyek penelitian adalah diklat
guru SMK otomotif pada Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Bidang Otomotif dan Elektronik (P4TK)
Malang, waktu penelitian disesuaikan
dengan jadwal diklat mulai tanggal 26
Agustus s.d 6 September 2013
H. Analisis dan Evaluasi
1.Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data pada
penelitian tindakan kelas ini adalah
sebagai berikut :
1) Data mengenai perubahan sikap,
kehadiran, dan keaktifan pesrta
diklat di dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar yang diambil
dengan cara pengamatan dan
observasi
2) Data tentang hasil belajar sistem
pengapian baterai konvensional
yang diambil dari hasil tes akhir
siklus satu (1) dan hasil tes akhir
siklus dua (2)
C.Perencanaan Tindakan
Hal-hal yang perlu dilakukan
sebelum pelaksanaan tindakan adalah :
1. Membuat perangkat pembelajaran,
meliputi : Satpel/Lembar Kerja,
daftar hadir peserta diklat, dan daftar
penilaian peserta diklat.
2. Media pembelajaran seperti alat
peraga, wall chard, trainer sistem
pengapian baterai konvensional.
3. Bahan dan alat seperti engine stand
dan kunci-kunci (kunci kombinasi
pas ring satu set, kunci sok satu set,
obeng plus satu set, obeng min satu
set).
4. Instrumen observas i: lembar kerja
peserta diklat, format indikator
keberhasilan dan lain-lain.
5. Evaluasi: soal-soal penilaian.
6. Refleksi pada setiap siklus
2.Teknik analisa data
Data yang terkumpul kemudian
dianalisis dengan menggunakan teknik
analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk
analisis secara
kualitatif digunakan
pengelompokan
berdasarkan
data
kualitatif, sedangkan data kuantitatif
digunakan statistik deskriptif, untuk
mendeskriptifkan karateristik dan subjek
penelitian. Adapun kriteria yang
digunakan untuk menentukan kategori
hasil belajar peserta diklat tentang
sistem pengapian baterai konvensional
adalah : Skala sebagaimana yang
dikemukakan oleh Nurkancara (1980 :
80) yaitu sebagai berikut yang
dikomperasikan dengan skala 0.00
sampai dengan 4,00 :
0,00 – 0.99 dikategorikan sangat rendah
1.00 – 1,99 dikategorikan rendah
2.00 – 2,99 dikategorikan sedang
3.00 – 3.50 dikategorikan tinggi
3.51 – 4.00 dikategorikan sangat tinggi
F. Indikator Kinerja Peserta
Indikator Kinerja Peserta
Diklat
Kemauan dan kemampuan
peserta diklat serta aktifitas
dalam bertanya, berdiskusi,
dan mengajukan ide
sehubungan dengan
pengalaman yang didapat di
luar
G.Pelaksanaan Tindakan
1.Implementasi dan Observasi
a. Siklus pertama berlangsung lima (5)
kali tatap muka dengan kajian sub
kompetensi :
7
3.Evaluasi
Hasil
analisis
evaluasi
dimaksudkan
untuk
memperoleh
informasi atau balikan dari proses
kegiatan penelitian yaitu menilai tahap
perencanaan, observasi, dan pelaksanaan
tindakan. Hal-hal yang perlu dievaluasi
adalah sebagai berikut : Apakah proses
penelitian sudah berjalan secara efektif,
sesuai dengan indikator keberhasilan
atau belum. Apakah keterlaksanaan
tindakan sudah memenuhi kriteria dan
aspek-aspek yang harus dilakukan oleh
peneliti maupun peserta diklat pada
setiap siklus. Apakah hasil belajar
peserta diklat yang dicapai pada setiap
siklus sudah sesuai dengan harapan yang
diinginkan atau belum.
4. Refleksi
Kegiatan dilaksanakan untuk
mengoreksi atau mengkaji ulang apa-apa
yang sudah dicapai dan yang belum
dicapai, apa kendalanya dan bagaimana
cara memperbaikinya, apakah ada yang
perlu direvisi atau tidak serta tindakan
apa yang perlu dilaksanakan pada siklus
berikutnya.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Dalam bab ini dibahas hasilhasil penelitian yang memperlihatkan
perubahan efektivitas dan hasil belajar
peserta diklat melalui pendekatan CTL.
Adapun
yang
dianalisis
adalah
perubahan sikap, kehadiran, dan
keaktifan peserta diklat dalam proses
pembelajaran, serta hasil tes akhir siklus
I dan hasil tes akhir siklus II.
A. Perubahan sikap, Kehadiran,
Keaktifan
dalam
Proses
Pembelajaran.
Dalam upaya meningkatkan
efektivitas hasil belajar peserta diklat
tidak terlepas dari faktor perhatian dan
motivasi peserta diklat. Namun yang
menjadi masalah adalah apakah melalui
metode
pembelajaran
dengan
pendekatan
CTL
dapat
menarik
perhatian
serta
memotivasi
dan
kesungguhan peserta diklat untuk lebih
berusaha dalam meningkatkan hasil
belajarnya. Sehingga dalam membahas
perubahan sikap peserta diklat dalam
mengikuti pelajaran dengan pendekatan
CTL tidak terlepas dari perhatian serta
motivasi dan kesungguhan peserta
diklat.
Perubahan tersebut merupakan
data kualitatif yang diperoleh dari
lembar observasi pada setiap pertemuan
yang dicatat oleh widyaiswara pada
setiap siklus. Perubahan-perubahan
tersebut dapat dilihat dari hal-hal berikut
:
1. Meningkatnya presentase kehadiran
peserta diklat dari siklus I sebanyak
92,3 % selama 5 kali pertemuan
menjadi 100% dengan 4 kali
pertemuan pada siklus II, dengan
jumlah peserta diklat 12 orang. Hal
ini
berarti
bahwa
semakin
meningkatnya motivasi
peserta
diklat untuk mengikuti pelajaran.
2. Perhatian peserta diklat pada saat
proses belajar mengajar dengan
metode pendekatan CTL juga
mengalami peningkatan, dari siklus I
ke siklus II. Ini ditunjukan dengan
semakin bertambahnya peserta
I. Perencanaan tindak lanjut
Perencanaan tindak lanjut untuk
satu siklus bila hasil belajar peserta
diklat secara klasikal belum mencapai
75 % penguasaan materi pembelajaran
atau kompetensi yang diajarkan.
Data tersebut diatas adalah
kondisi awal,dimana dari 12 arang guruguru SMK jurusan otomotif hanya 9
orang yang nilai nya diatas 2.0 dengan
prosentase 69,23 % penguasaan meteri
pembelajaran dalam hal ini mata diklat
sistem pengapian baterai konvensional.
Sedangkan secara individual
yang belum mencapai 70 % penguasaan
materi pembelajaran atau dengan kata
lain belum mencapai nilai 2,0 maka
perlu dilakukan pengayaan atau
perbaikan.
Pengayaan
atau
pebaikan
bertujuan supaya peserta diklat yang
belum menguasai materi pembelajaran
supaya memperdalam materi tersebut
sehingga penguasaan dapat mencapai
minimal nilai 2.0.
8
diklat yang mengajukan pertanyaan
mengenai materi pelajaran atau soalsoal yang tidak dapat diselesaikan.
Dari siklus I sebanyak 7,69% kurang
mempuyai
keberanian
untuk
mengajukan pertanyaan dan tetap
diklat pada siklus II, pada siklus I
punya kemapuan baik untuk
mengajukan pertanyaan sebesar
38,46% berkurang menjadi 15,38%
pada siklus ke II, sedangkan yang
yang
mempunyai
keberanian
mengajukan pertanyaan baik sekali
dari 53,84% meningkat menjadi
69,23 % pada siklus II. Ini berarti
bahwa peserta diklat menyadari
pentingnya mengikuti pelajaran,
dalam hal ini apalagi dibuat
kelompok untuk belajar bersama
agar dapat bertukar pengalaman
yang didapatnya di luar supaya lebih
mengerti pelajaran
yang telah
dibahas dan tidak ketinggalan dari
teman-teman yang lain, serta tidak
ada lagi ketergantungan pada teman
atau kelompok yang lebih pandai.
3. Keberanian dan semangat peserta
diklat menjawab pertanyaan atau
masalah yang di ajukan oleh
widyaiswara
juga
mengalami
peningkatan. Hal ini dari sejumlah
peserta diklat yang turut terlibat
dalam menjawab pertanyaan atau
memecahkan masalah selama proses
pembelajaran di kelas. Rasa percaya
diri untuk menjawab pertanyaan
widyaiswara pada peserta diklat
pada siklus pertama katagori kurang
sebesar 53,84% berkurang menjadi
7,69 % pada siklus II. Sedangkan
katagori baik sebesar 38,46% pada
siklus I berkurang menjadi 23,07%
pada siklus II.Sedangkan katagori
sangat baik pada percaya dirinya
untuk
menjawab
pertanyaan
widyaiswara pada siklus I sebesar
7,69% meningkat tajam menjadi
84,61% pada siklus II.
4. Disamping itu peningkatan perhatian
peserta diklat juga dapat dilihat dari
kedisiplinan peserta diklat dalam
mengikuti proses belajar mengajar
secara kelompok di kelas,yang
katagori baik dari 46,15% menurun
drastis menjadi 15,38% pada siklus
II, sedangkan katagori baik sekali
dari 61,53% pada siklus I meningkat
tajam menjadi 84,61% pada siklus II
dengan berkurangnya peserta diklat
yang keluar masuk ruangan pada
saat
pelaksanaan
metode
pembelajaran CTL berlangsung.
B. Hasil belajar sistem pengapian
baterai konvensional
1. Siklus I
Skor hasil belajar sistem
pengapian baterai konvensional peserta
diklat pada siklus I akan disajikan pada
tabel di bawah ini:
Peserta diklat guru-guru SMK Otomotif
Mata Diklat
: Sistem Pengapian
Baterai Konvensional
Pelaksanaan tgl : 26 Agustus s/d 6
September 2013
Tabel 1 Daftar nilai hasil ulangan siklus
I
No Nama Peserta
Perolehan
Diklat
Nilai
1 (01).
2.5
2 (02)
2.3
3 (03)
2.2
4 (04)
3.0
5 (05).
2.1
6 (06)
2.0
7 (07)
1.8
8 (08)
2.8
9 (09).
2.6
10 (10)
2.7
11 (11)
3.3
12 (12)
3.1
Perhitungan standar deviasi dan rata-rata
nilai tes akhir siklus I
Standar Deviasi (SD):
SD 
SD 
 ( Xi  X
n 1
2,4572
12  1
2,4572
11
SD  0,2047
SD 
9
SD  0,4525
Rata-rata ( X ) :
X 
untuk kategori dan rendah 7,692%
sedangkan katagori
sedang 69,230
%,dan untuk peserta diklat yang berada
pada kategori tinggi adalah 23,076 %,
Sedangkan peserta diklat yang berada
pada kategori tinggi sekali adalah 0.0 %.
Jika skor rata-rata perolehan peserta
diklat pada siklus I ini, yaitu 2,51 di
konversikan dalam kategori lima, maka
hasil belajar sistem pengapian baterai
konvensional pada siklus I ini berada
pada kategori sedang.
Peserta diklat dibagi dalam dua
kelompok terdiri dari dua kelompok
satu 6 orang dan kelompok dua 7 orang
pada siklus I.
 Xi
n
32,70
X
12
X  2,72
Tabel 2. Deskripsi skor hasil belajar
sistem pengapian baterai
konvensional pada tes akhir
siklus I
Statistik
Nilai Statistik
Subyek
12
Skor maksimum
3,30
Skor minimum
1,80
Rentang skor
1,50
Skor rata-rata
2,51
Median
2.30
Standar deviasi
0,45
Tabel 2 menunjukkan bahwa
skor tertinggi yang dicapai peserta dikalt
adalah 3,2 dan skor terendah adalah 1,80
dengan median 2,30 serta standar
deviasinya adalah 0,45 sedangkan rataratanya adalah 2,51 dari skor ideal yakni
4,00 dengan jumlah peserta diklat 13
orang.
Apabila
nilai
tersebut
dikategorikan ke dalam kategori lima,
berdasarkan kriteria penilaian, maka
diperoleh data seperti pada tabel
frekwensi berikut ini.
Tabel 3. Distribusi frekwensi skor hasil
belajar siswa pada tes akhir siklus I
Frek Prosenta
Skor
Kategori
wensi se (%)
0 – 0,9
Rendah
0
0
1,0 – 1,9
sekali
1
7,692
2,0 – 2,9 Rendah
8
69,230
3,0 – 3,5 Sedang
3
23,076
3,6 – 4,0
Tinggi
0
0
Tinggi
sekali
Jumlah
12
2. Siklus II
Selanjutnya skor hasil belajar
sistem pengapian baterai konvensional
pada tes akhir siklus II dapat dilihat pada
table berikut ini :
Peserta diklat guru-guru SMK Otomotif
Mata Diklat
: Sistem Pengapian
Baterai Konvensional
Pelaksanaan tgl : 26 Agustus s/d 6
September 2013
Tabel 4 Daftar nilai hasil ulangan siklus
II
Nama Peserta
Perolehan
No
Diklat
Nilai
1 (01).
3.1
2 (02)
3.2
3 (03)
3.2
4 (04)
3.5
5 (05).
3.0
6 (06)
2.5
7 (07)
2.4
8 (08)
3.3
9 (09).
3.2
10 (10)
3.1
11 (11)
3.7
12 (12)
3.6
Perhitungan standar deviasi dan rata-rata
nilai tes akhir siklus II
Standar Deviasi (SD):
100,00
Tabel 3 distribusi frekwensi
tersebut di atas, dapat dilihat bahwa
tidak seorang pun peserta diklat yang
berada pada kategori rendah sekali,
SD 
10
 ( Xi  X
n 1
SD 
3,6 – 4,0
Tinggi
2
15,384
Tinggi
sekali
Jumlah
12
100,00
Tabel
tersebut
di
atas
menunjukkan bahwa 15,384 % peserta
diklat pada tes akhir siklus II berada
pada kategori tinggi sekali, 61,538 %
peserta diklat pada kategori tinggi, dan
23,076 % peserta diklat pada kategori
sedang, sedangkan peserta diklat pada
kategori rendah dan rendah sekali adalah
0 %. Hal ini menandakan bahwa tidak
seorang pun peserta diklat yang masuk
pada kategori ini.
Jika nilai rata-rata peserta diklat
pada siklus II 3,13 di konversikan ke
dalam kategori lima, maka hasil belajar
sistem pengapian baterai konvensional
pada tes akhir siklus II ini berada pada
kategori tinggi. Dengan demikian skor
hasil belajar sistem pengapian baterai
konvensional peserta diklat dengan
metode pembelajran CTL, mengalami
peningkatan dari siklus I ke siklus II
(2.51 menjadi 3.13)
Dengan demikian dapat di
simpulkan bahwa peningkatan hasil
belajar sistem pengapian baterai
konvensional peserta diklat setelah
diadakan tindakan selama dua siklus
mengalami peningkatan yiaitu 3.13 –
2.51 = 0,62 ini berarti mengalami
peningkatan yang cukup berarti atau dari
kategori sedang ke kategori tinggi. Hal
berarti bahwa metode pembelajaran CTL
dalam proses belajar mengajar di kelas
dapat meningkatkan efektivitas hasil
belajar sistem pengapian baterai
konvensional.
Peserta diklat dibagi dalam
kelompok kecil siklus II peserta diklat
dibagi dalam 4 kelompok terdiri dari
kelompok satu sampai dengan kelompok
3 masing-masing 3 orang dan kelompok
4 terdiri dari 4 orang pada siklus II.
1,7277
12  1
1,7277
11
SD  0,1439
SD  0,379
SD 
Rata-rata ( X ) :
X 
 Xi
n
40.70
X
12
X  3,39
Tabel 5. Deskripsi Skor Hasil belajar
Sistem Pengapian Baterai
Konvensional pada tes akhir
siklus II.
Statistik
Subyek
Skor maksimum
Skor minimum
Rentang skor
Skor rata-rata
Median
Standar deviasi
Nilai Statistik
13
3,70
2,40
1,30
3,13
3,20
1,76
Tabel.5 menunjukkan bahwa
skor tertinggi yang dicapai dari 13
peserta diklat adalah 3,70 skor terendah
2,40 dengan median 3,20 sedangkan
standar deviasinya 1,76 dan skor ratarata 3,13 dari skor ideal 4,00.
Apabila
nilai
rata-rata
dikonversikan ke dalam kategori lima,
maka diperoleh distribusi frekuensi
seperti yang di tunjukan pada tabel di
bawah ini.
Tabel 6. Distribusi frekuensi skor hasil
belajar peserta diklat pada tes
akhir siklus II.
Fre
Prose
Skor
Kategori kue
ntase
nsi
0 – 0,9
Rendah
0
0
1,0 – 1,9
sekali
0
0
2,0 – 2,9 Rendah
3
23,076
3,0 – 3,5 Sedang
7
61,538
C. Refleksi terhadap pelaksanaan
tindakan
dalam
proses
pembelajaran sistem pengapian
baterai konvensional
11
peserta
diklat
berani
menjawab
serempak. Namun bila pertanyaan itu
diulang dan widyaiswara meminta satu
orang peserta diklat untuk menjawab,
maka hanya peserta diklat tertentu saja
yang mengacungkan tangan yakni
peserta diklat yang kategori pintar.
Mereka hanya saling berharap antara
satu dengan yang lainya. Peserta diklat
baru mau menjawab apbila ditunjuk
langsung oleh widyaiswara yang disertai
dengan dukungan dari teman-temannya,
ini berarti umumnya peserta diklat masih
memiliki
ke
ragu-raguan
untuk
menjawab pertanyaan apalagi untuk
menyelesaikan tugas dalam bentuk kuis.
Ketika menjelang akhir-akhir
pertemuan siklus I, sudah menampakan
adanya ke majuan. Hal ini dapat di lihat
dengan bertambahnya peserta diklat
jumlah peserta diklat yang aktif untuk
bertanya pada saat penyelesaian tugastugas kelompok dan juga menjawab
pertanyaan yang di ajukan kepada
mereka,dan makin bertambahnya jumlah
peserta diklat yang menyelesaikan tugas
dalam bentuk kuis. Namun pada
umumnya peserta diklat tersebut hanya
yang akrab dengan widyaiswara atau
peserta diklat yang aktif dalam
kelompoknya.
2. Refleksi siklus II
Memasuki siklus II, efektivitas,
perhatian dan motivasi peserta diklat
semakin memperlihatkan kemajuan. Hal
ini karena widyaiswara bertindak tegas
dalam proses pembelajaran, yaitu
menegur/mengingatkan bagi peserta
diklat yang bermain-main. Selain itu
widyaiswara memberikan dorongan
serta motivasi untuk bekerja sama dalam
kelompok, saling berbagi tugas untuk
mendapatkan
solusi
dalam
menyelesaikan tugas dikelompoknya.
Sebab jika ada peserta diklat yang mainmain maka temannya tidak segan-segan
melaporkan
kepada
widyaiswara.
Bahkan rasa percaya diri peserta
diklatpun semakin meningkat, terbukti
dengan antusiasnya peserta diklat untuk
bertanya ketika mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan tugas yang
diberikan. Dalam hal ini bukan saja
1. Refleksi Siklus I.
Pada umumnya peserta diklat
dalam proses belajar mengajar jarang
sekali di libatkan secara menyeluruh,
malah tidak pernah dibentuk kelompok
untuk
lebih
mengefektifkan
pembelajaran. Ketika di terapkan
metode
pembelajaran
dengan
pendekatan CTL, yang tidak terlepas
dari pembentukan kelompok belajar
peserta diklat, maka pada umumnya
peserta diklat cenderung memilih teman
akrabnya atau temanya yang di anggap
pintar. Namun untuk menghindari
pendeskriminasian terhadap peserta
diklat yang lebih pintar, serta melihat
kondisi tempat duduk dan ruangan yang
tidak begitu luas, maka widyaiswara
mengelompokan
peserta
diklat
bedasarkan agama, prestasi belajar,dan
kalau memungkinkan terdiri beberapa
suku. Hal ini diperoleh dari biodata yang
dikumpul oleh peserta diklat. Dengan
ketentuan jumlah kelompok terdiri dari
3-4 orang sehingga dapat terbentuk 4
kelompok dari 13 orang peserta diklat.
Pada awalnya ada peserta diklat
yang menolak tetapi ada juga yang
menerima ketentuan tersebut. Umumnya
peserta diklat yang menolak acuh tak
acuh dan saling berharap diantara rekan
kelompoknya dalam menyelesaikan
tugas-tugas yang diberikan. Bahkan ada
peserta diklat yang kelihatan hanya
bermain-main atau berceritera dengan
rekan dekatnya tanpa memperdulikan
temanya yang lain yang berusaha
menyelesaikan tugas kelompoknya.
Sehingga
tugas
yang
diberikan
terkadang tidak di selesaikan secara
keseluruhan.
Dalam pembelajaran CTL ini
umumnya peserta diklat masih ragu-ragu
untuk menanyakan tugas-tugas yang
tidak di mengerti sehingga hasil
pekerjaan
tiap
kelompok
tidak
terselesaikan dengan baik. Bahkan ada
kelompok yang menyelesaikan tugas
tidak sesuai dengan maksud pertanyaan
yang diberikan.
Ketika
widyaiswara
melontarkan pertanyaan sehubungan
dengan tugas yang diberikan, umumnya
12
dilakukan oleh peserta diklat yang
kategori pintar namun peserta diklat
yang semula hanya diam-diam saja
sudah mulai aktif bertanya bahkan tidak
segan-segan mengundang widyaiswara
untuk meminta penjelasan bila mereka
belum mengerti.
Selain itu, mereka juga sudah dapat
menunjukan keberanian mereka untuk
tampil
di
depan
kelas
untuk
menyelesaikan tugas di hadapan teman –
temannya. Hal ini dapat terjadi karena
dorongan serta dukungan dari teman –
temannya dalam kelompok. Di samping
itu mereka akan merasa dihargai dengan
memberikan pujian atas hasil kerja
mereka. Namun bila ada yang salah,
widyaiswara memberikan komentar
yang tidak menjatuhkan semangat
peserta diklat dari satu kelompok
tertentu
ketika
meluruskan
atau
memperbaiki jawabannya.
Dalam siklus II ini, tugas yang
diselesaikan secara individu setelah
diperiksa dan dikembalikan kepada
peserta diklat, maka mereka cenderung
saling membandingkan antara hasil yang
mereka peroleh, bahkan ada peserta
diklat yang meminta penjelasan dari
widyaiswara bila mereka kebingungan
mengenai siapa diantara mereka yang
pekerjaannya benar. Demikian juga
dengan hasil pekerjaan kelompoknya,
setelah
diperiksa
kemudian
dikembalikan kepada kelompoknya
mereka
cenderung
saling
membandingkan antara satu kelompok
dengan kelompok yang lain. Sehingga
hal ini dapat menimbulkan persaingan
positif
antara
individu
ataupun
kelompok, dan dapat memacu semangat
setiap individu atau kelompok untuk
bersaing secara positif sehingga dapat
meningkatkan efektivitas hasil belajar
siswa secara optimal.
Secara umum, hasil yang telah
dicapai
peserta
diklat
setelah
pelaksanaan
pembelajaran
dengan
pendekatan CTL ini dapat mengalami
peningkatan. Baik dari perubahan sikap
peserta diklat, keaktifan, perhatian serta
motivasi
dalam
menyelesaikan
tugas/soal-soal sistem pengapian baterai
konvensional secara individu sebagai
dampak dari pembentukan kelompok.
Sehingga tentunya telah memberikan
dampak positif terhadap peningkatan
efektivitas
hasil
belajar
sistem
pengapaian baterai peserta diklat secara
klasikal.
D. Analisis Refleksi Peserta Diklat
Dari hasil analisis terhadap
refleksi atau tanggapan peserta diklat,
dapat disimpulkan dalam kategori
sebagai berikut.
1. Pendapat peserta diklat terhadap
pelajaran
sistem
pengapian
baterai konvensional.
Sebagian besar peserta diklat
merasa senang dengan pelajaran sistem
pengapian baterai konvensional, dengan
alasan bahwa sistem pengapian baterai
konvensional merupakan kompentensi
dasar yang harus di kuasai pada mata
pelajaran kelistrikan teknik kendaraan
ringan,
sebelum
mempelajari
kompetensi yang lainya. Di samping itu
alasan lain yang muncul ialah bahwa,
peserta diklat merasa senang dengan
cara mengajar widyaiswara yang selalu
menghubungkan antara materi yang di
ajarkan dengan pengalaman nyata
peserta diklat.
E. Tanggapan
peserta
diklat
Terhadap Pembelajaran dengan
Pendekatan CTL
Secara umum tanggapan yang
diberikan peserta diklat dengan metode
pembelajaran denga pendekatan CTL
sangat bagus. Dengan alasan mereka
dapat menghubungkan antara materi
yang di pelajari di tempat diklat dengan
pengetahuan mereka di luar, dan dapat
bekerja
sama,bertukar
pengalaman
dalam kelompok. Apabila ada tugas
atau soal yang sulit diselesaikan atau
kurang di mengerti secara individu dapat
berdiskusi dengan kelompoknya untuk
menyelesaikannya. Bahkan peserta
diklat menginginkan semua mata
pelajaran di berlakukan seperti halnya
pembelajaran dengan pendekatan CTL.
13
Adapun hasil penelitian yang
dilaksanakan selama dua siklus dapat
diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Terjadi
peningkatan
frekuensi
kehadiran, perhatian , dan keaktifan
peserta diklat dalam proses belajar
mengajar sesuai dengan hasil
observasi
selama
tindakan
berlangsung maupun dari hasil
refleksi peserta diklat.
2. Efektivitas pembelajaran sistem
pengapian baterai konvensional
peserta diklat juga mengalami
peningkatan melalui pembelajaran
CTL. Hal ini dapat di lihat dari hasil
belajar siklus I yang berada pada
kategori sedang, dengan skor ratarata 2,51 dari skor ideal 4,00 dan
standar deviasi 0,45 mengalami
peningkatan pada siklus II yang
berada pada kategori tinggi dengan
skor rata-rata 3,13 dari skor ideal
4,00 dengan standar deviasi 1,76,
atau meningkat 1,31 ini berarti
mengalami peningkatan yang sangat
fantastis.
3. Pembelajaran CTL, diawali dengan
widyaiswara menjelaskan materi
pelajaran dan memberi gambaran
singkat tentang materi yang akan di
pelajari lebih kurang 15 menit
kemudian peserta diklat di bentuk
kelompok-kelompok belajar yang
terdiri dari 6- 6 orang setiap
kelompok. Kemudian widyaiswara
memberi tugas untuk didiskusikan
pada masing-masing kelompok,
setelah itu di presentasekan di depan
kelas, sementara itu widyaiswara
tetap mengawasi dan mengarahkan
dalam
pelaksanaan
tindakan
tersebut.
B. Saran - Saran
Sesuai dengan hasil yang di
peroleh dari hasil penelitian ini, maka di
ajukan saran-saran sebagai berikut.
1. Dalam melaksanakan pembelajaran,
sebaiknya widyaiswara tidak hanya
terfokus pada satu metode saja tetapi
menggunakan beberapa metode.
2. Melihat hasil yang di peroleh
melalui pelaksanaan pembelajaran
dengan pendekatan CTL sangat
F. Cara-cara
Perbaikan
Pembelajaran denga Pendekatan
CTL.
Saran-saran yang diajukan oleh
peserta diklat terhadap pembelajaran
dengan pendekatan CTL adalah sebagai
berikut;
a. Pada umumnya peserta diklat
menyarankan agar widyaiswara
lebih menguasai perkembangan
dunia otomotif, dengan harapan
tambahan pengetahuan tersebut
dapat di transfer kepada peserta
diklat dalam proses pembelajaran,
sehingga peserta diklat lebih mudah
memahami
dan
dapat
menghubungkan antara materi yang
dipelajari di lembaga diklat dengan
pengalaman di luar.
b. Pada saat pembagian kelompok
hendaknya
anggota
kelompok
bersifat heterogen, artinya peserta
diklat yang lebih pandai di gabung
dengan peserta diklat yang kurang
pandai. Hal ini dimaksudkan agar
mereka dapat saling memberi
informasi
atau
saling
memberitahukan mengenai materi
yang kurang dipahami teman
sekelompoknya.
c. Pembentukan kelompok- kelompok
belajar yang terdiri dari 6 orang
telah memberi dampak yang positif,
ditandai dengan proses diskusi dan
presentase tugas berlangsung secara
aktif, sehingga widyaiswara hanya
mengawasi dan mengarahkan dalam
pelaksanaan tindakan tersebut.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan
dan analisis data, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa hasil efektivitas
pembelajaran sistem pengapian baterai
konvensional pada peserta diklat guru
otomotif teknik kendaraan ringan Pusat
Pengembangan dan Pemberdayaan
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
(P4TK) bidang Otomotif & Elektronik
Malang dapat mengalami peningkatan
melalui
pelaksanaan
metode
pembelajaran dengan pendekatan CTL.
14
efektif, maka diharapkan kepada
widyaiswara
khususnya
widyaiswara Pusat Pengembangan
dan Pemberdayaan Pendidik dan
Tenaga
Kependidikan
(P4TK)
bidang Otomotif & Elektronik
Malang dan pada umumnya
widyaiswara kelompok produktif
dapat menerapkan metode ini dalam
upaya peningkatan efektivitas dan
keberhasilan peserta diklat.
3. Setiap tugas yang diberikan kepada
peserta
diklat
hendaknya
widyaiswara memberikan umpan
balik supaya peserta diklat dapat
mengetahui sampai di mana
kemampuannya. Dengan demikian,
peserta diklat lebih termotivasi
untuk mengerjakan tugas – tugas
berikutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlan M, Aloka. 2002. Kamus Modern
Bahasa
Indonesia
:
Yogyakarta
Mulyasa. 2005. Implementasi Kurikulum
2004. Bandung : PT. Remaja
Rosda Karya
Nurkancara, Wayan. 1986. Evaluasi
pendidikan.
Surabaya
Bandung : Sinar Baru
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta
: PT. Gramedia Widia Sarana
Indonesia
Sardina. 1996. Interaksi dan Motivasi
Belajar Mengajar. Jakarta :
Praja Grafindo Persada
Sagala, Syaiful. 2005. Konsep dan
Makna
Pembelajaran.
Bandung : Alfabeta
Sanyaya, Wina. 2005. Pembelajaran
dalam Kurikulum Berbasis
Kompetensi.
Jakarta ;
Kencana
Suryosubroto. 2002. Belajar Mengajar
di Kelas. Bandung : Rineka
Cipta
15
Download