BAB 1-5 - Widyatama Repository

advertisement
9
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu mengenai kompensasi dalam kaitannya dengan
produktivitas karyawan yang kemudian menjadi referensi yang relevan
dengan penelitian ini antara lain :
1. I.B. Denny Ary Djodhi
Penelitian ini berjudul Pengaruh Kompensasi Terhadap Produktivitas Kerja
Karyawan (Studi Kasus Pada PT. X). Penelitian ini merupakan penelitian
kuantitatif dengan menggunakan alat ukur berupa kuisioner yang item-item
pertanyaan didasarkan pada beberapa referensi tentang pengukuran kompensasi
dan produktivitas. Analisa dilakukan secara deskriptif untuk melihat gambaran
kompensasi dan produktivitas, sedang untuk melihat pengaruh kompensasi
terhadap produktivitas dilakukan dengan uji korelasi kanonik. Hasil dari analisa
menunjukkan bahwa gambaran kompensasi yang dipandang kurang oleh
karyawan PT. X adalah masalah kompensasi langsung. Untuk pengaruh
kompensasi terhadap kinerja, hanya jenis kompensasi non-finansial yang
berpengaruh positif terhadap kinerja pada level staff biasa. Namun pada level
senior staff kompensasi tidak berpengaruh terhadap produktivitas. Untuk
kompensasi finansial dalam penelitian ini tidak berpengaruh terhadap
produktivitas baik di level staff maupun di level senior staff.
2. Yuniarti Tandi Rapang
Penelitian ini berjudul Pengaruh Kompensasi Terhadap Produktivitas Karyawan
pada PT. Petra Jaya Lestari (Menurut Persepsi Karyawan). Dalam penelitian ini
penulis menggunakan teknik pengumpulan data studi literature dan penelitian
langsung ke lapangan dengan cara melakukan wawancara dan peninjauan
secara langsung terhadap aktivitas perusahaan. Untuk mengetahui apakah ada
hubungan antara kompensasi dengan produktivitas kerja , hal itu dilakukan
10
dengan menggunakan uji korelasi Rank Spearman, dengan pengujian hipotesis.
Dimana penulis mengadakan penelitian terhadap alat yang dapat memotivasi
karyawan dalam bekerja yaitu kompensasi dan pengaruhnya terhadap
produktivitas kerja karyawan. Berdasarkan hasil analisa data, diperoleh bahwa
pelaksanaan kompensasi sudah berjalan dengan efektif, dilihat dari nilai ratarata yaitu sebesar 4.566 yang termasuk dalam kategori yang sangat baik. Untuk
produktivitas kerja karyawan terlihat baik, dengan nilai rata-rata 4.702
termasuk dalam kategori sangat baik. Sedangkan besar pengaruh pelaksanaan
kompensasi terhadap produktivitas kerja karyawan dilihat dari nilai koefisien
korelasi rank spearman (rs) sebesar 0,71, artinya antara pelaksanaan
kompensasi dengan produktivitas kerja karyawan memiliki hubungan yang
cukup kuat. Kemudian diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 50,41%
dan sisanya 49,59% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.
2.2 Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia
2.2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Henry Simamora (2004 : 4) Manajemen Sumber Daya
Manusia adalah “pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas
jasa, dan pengolahan individu anggota organisasi atau kelompok karyawan”.
Hal ini mengindikasikan bahwa sumber daya manusia merupakan hal yang vital
bagi perusahaan yang mana ketika sumber daya manusia ini dikelola dengan
baik sehingga dapat diberdayakan secara maksimal akan mampu menunjang
efisiensi dan efektivitas organisasi dalam mencapai tujuannya.
Sedangkan Gary Dessler (2003 : 5) mengemukakan bahwa “Manajemen
Sumber Daya Manusia merupakan kebijakan dan praktik menentukan aspek
manusia atau sumber daya manusia dalam posisi manajemen, termasuk
merekrut, menyaring, melatih, memberi penghargaan, dan penilaian”. Adapun
Schuler, et al. seperti yang dikutip dalam Edy Sutrisno (2009 : 6)
mengartikan manajemen sumber daya manusia sebagai :
Pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja organisasi sebagai sumber daya
11
manusia yang sangat penting dalam memberi kontribusi bagi tujuan-tujuan
organisasi, dan menggunakan beberapa fungsi serta kegiatan untuk memastikan
bahwa Sumber Daya Manusia tersebut digunakan secara efektif dan adil bagi
kepentingan individu, organisasi, dan masyarakat.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, jelas bahwa Manajemen
Sumber Daya Manusia menitik beratkan pada bagaimana mengelola karyawan
sebagai aset utama perusahaan karena keberhasilan perusahaan tergantung
dari kinerja efektif dari karyawan itu sendiri. Manajemen sumber daya
manusia dapat disimpulkan sebagai pengelolaan organisasional yang meliputi
praktik dan kebijakan baik secara individual maupun kolektif terhadap aset
manusia sehingga memberikan kontribusi optimal dalam mencapai tujuan
organisasi.
2.2.2 Metode Pendekatan MSDM
Malayu S.P. Hasibuan (2006 : 16) mengemukakan bahwa dalam
mempelajari MSDM ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Pendekatan Mekanis
Mekanisasi merupakan proses penggantian peranan tenaga kerja manusia
dengan mesin untuk menjalankan pekerjaan. Pendekatan mekanis ini
menitikberatkan analisisnya kepada spesialisasi, efektivitas, standardisasi, dan
memperlakukan karyawan sama halnya dengan mesin. Keuntungan spesialisasi
ini, pekerja semakin terampil dan efektivitas semakin besar.
Kelemahannya, pekerjaan membosankan karyawan, mematikan kreativitas,
dan kebanggaan karyawan atas pekerjaannya akan semakin berkurang.
Standardisasi diterapkan cukup mendalam sehingga terjadi pemindahan
pekerjaan dari manusia kepada mesin antar komponen yang satu dengan
komponen yang lainnya dapat saling
dipertukarkan serta spesialisasi mesin-
mesin, peralatan, tata letak, dan pabrik padahal karyawan itu mempunyai
pikiran, perasaan, cita-cita, harga diri, dan sebagainya.
12
2. Pendekatan Paternalis
Pada pendekatan paternalis, manajer dalam
mengarahkan
bawahannya
bertindak seperti bapak terhadap anaknya. Para bawahan diperlakukan dengan
baik, fasilitas-fasilitas diberikan, dan bawahan dianggap anak- anaknya.
Pendekatan ini menyebabkan karyawan menjadi manja, malas sehingga
produktivitas menjadi menurun. Kondisi yang memberikan kebebasan terhadap
karyawan akan berdampak negatif bagi perusahaan apabila tidak ada
harmonisasi yang terjalin antara atasan dan bawahan. Dari kondisi tersebut,
pendekatan sistem sosial hadir guna memberikan penjelasan mengenai cara
untuk meningkatkan kinerja karyawan dengan mempertimbangkan berbagai
aspek yang ada dalam perusahaan.
3. Pendekatan Sistem Sosial
Pendekatan sistem sosial ini memandang bahwa perusahaan adalah suatu sistem
yang kompleks yang beroperasi dalam lingkungan yang kompleks.
Manajer menyadari dan mengakui bahwa tujuan organisasi/ perusahaan akan
tercapai jika tercipta lingkungan yang harmonis yang akan melahirkan
kerjasama yang baik antara pihak atasan dan pihak bawahan dalam suatu
organisasi.
Pemikiran
ini
didasari
oleh
adanya saling ketergantungan,
interaksi, dan keterkaitan antara sesama karyawan.
Setiap sistem senantiasa berkaitan, baik dengan sebuah sistem yang
lebih luas dan lebih tinggi tingkatannya, maupun dengan subsistem sendiri
yang mewakili integrasi berbagai sistem dari berbagai tingkatan yang lebih
rendah. Perusahaan akan tumbuh dan berkembang jika sistem sosial
terintegrasi dalam satu sistem yang harmonis serta berinteraksi dengan
baik.
Pendekatan sistem sosial ini hendaknya menekankan kepada kesadaran atau
tugas dan tanggung jawab setiap individu maupun kelompok yang didasari oleh
sebuah pemahaman bersama dari sebuah sistem nilai sehingga kinerja
karyawan lebih optimal.
13
2.2.3 Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Setelah
melihat
uraian
tentang
Manajemen
Sumber
Daya
Manusia, terlihat bahwa MSDM memiliki tiga aspek utama. Husein Umar
(2005 : 45) mengemukakan hal tersebut meliputi :
1.
Fungsi Manajerial dari Manajemen Sumber Daya Manusia
2.
Fungsi Operasional dari Manajemen Sumber Daya Manusia
3.
Peranan dan kedudukan Manajemen Sumber Daya manusia
Berikut pengertian dan cakupan fungsi-fungsi tersebut :
1. Fungsi Manajerial dari Manajemen Sumber daya Manusia
Fungsi
Manajerial
adalah
fungsi
yang
mempunyai
kepemimpinan terhadap sumber daya manusia lain. Dalam
wewenang
hal ini direktur,
kepala bagian, atau supervisor adalah orang-orang yang mempunyai posisi
manajerial yang menjalankan fungsi-fungsi dari manajemen yang merupakan
suatu proses kegiatan yang didalamnya terdiri atas proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan
terhadap
karyawan
pada
suatu perusahaan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan secara efektif
dan efisien. Kelima fungsi ini merupakan suatu sistem yang saling terkait dan
berlangsung secara terus- menerus. Masing-masing dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a. Perencanaan
yaitu
usaha
untuk
memikirkan
dan
menetapkan
sebelumnya tentang apa yang akan ditempatkan guna mengurus suatu hasil
yang diinginkan. Jadi, jelaslah di sini bahwa betapa besarnya peranan
perencanaan dalam manajemen. Lebih jauh lagi, Manajemen Sumber Daya
Manusia akan membantu pencapaian tujuan organisasi karena dengan
adanya perencanaan sumber daya manusia akan melancarkan aktivitas
perusahaan secara efektif dan efisien.
b. Pengorganisasian
yaitu
rangkaian
usaha
pengelompokan
kegiatan-
kegiatan yang diwadahkan dalam unit kerja untuk melaksanakan rencana
dan menetapkan hubungan antar unit kerja secara horisontal dan vertikal.
14
Perlu diingat bahwa dalam fungsi ini, orang-orang ditempatkan
dalam
setiap unit tertentu adalah mereka yang mempunyai kemampuan pada
bidang tersebut agar tugas yang diberikan dapat tercapai seperti perencanaan
yang telah ditetapkan sebelumnya.
c. Penyusunan adalah fungsi manajemen berupa penyusunan sumber daya
manusia pada suatu organisasi, dimulai dari perekrutan tenaga kerja,
pengembangan sampai pada usaha agar setiap karyawan dapat memberi
daya
guna maksimal
bagi
organisasi. Jadi,
fungsi penyusunan ini
adalah suatu usaha untuk mengisi, memilih, dan menyusun sumber
daya
manusia
dalam
struktur
yang
telah
dibentuk pada tahap
pengorganisasian.
d. Pengarahan yaitu fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha
memberikan bimbingan, saran, perintah, dan pengarahan kepada sumber
daya manusia dalam melaksanakan tugasnya masing-masing agar tugas yang
diberikan dapat dilaksanakan dengan baik dan terarah pada tujuan yang telah
ditetapkan.
e. Pengawasan yaitu rangkaian usaha pengawasan baik secara langsung
maupun tidak langsung terhadap seluruh pelaksanaan kegiatan organisasi
untuk menjamin agar setiap pekerjaan berlangsung sesuai dengan rencanan,
dalam arti jika terjadi penyimpangan segera diambil langkah-langkah
konkret.
Berdasarkan langkah-langkah tersebut,
pihak manajemen
dapat
diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan melalui penggunaan
sumber
daya
manusia
yang dimiliki
yang saling
bekerja sama dan
berinteraksi antara satu dengan yang lain. Hal ini membuktikan bahwa
manajemen tidak akan terlaksana tanpa adanya sumber daya manusia.
2.
Fungsi Operasional dari Manajemen Sumber Daya Manusia
Fungsi Operasional adalah fungsi yang tidak memiliki wewenang
perintah melainkan hanya menerima tugas dan menjalankan dibawah
15
pengawasan fungsi manajerial. Fungsi-fungsi tersebut masing-masing telah
dijelaskan, selanjutnya akan diuraikan tentang fungsi kedua dari Manajemen
Sumber Daya Manusia tersebut. Fungsi operasional meliputi:
a.
Fungsi Pengadaan (Procurement) yaitu fungsi untuk memperoleh
tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Yang terpenting di sini
adalah kualitas sumber daya manusia yang diterima sesuai dengan
kebutuhan akan tugas yang hendak dilaksanakan.
b. Fungsi Pengembangan (Development Function) adalah suatu fungsi yang
berusaha untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia yang
sudah diterima. Hal ini perlu diperhatikan mengingat tidak semua
sumber daya manusia yang diterima oleh perusahaan, sekaligus terampil
untuk menyelesaikan tugas serta memiliki disiplin kerja sebagaimana yang
diharapkan.
Perubahan teknologi dan lingkungan organisasi merupakan aspek penting
yang menuntut manajer agar mengembangkan kemampuannya secara terusmenerus, khususnya dalam bidang manajemen.
c.
Pemberian Balas Jasa (Compensation Function) adalah usaha untuk
menghargai usaha karyawan terutama secara nyata menunjukkan hasil
keringat yang baik berdasarkan penilaian yang objektif. Pemberian balas
jasa yang tidak adil atau tidak merata akan menyebabkan rendahnya
motivasi bagi karyawan yang pada akhirnya menyebabkan turunnya kinerja
disebabkan mereka kurang diperlakukan secara adil oleh pimpinan
sehingga menjadi malas dan tidak rela menyumbangkan segala potensi
yang dimilikinya secara maksimal terhadap pencapaian tujuan organisasi.
d. Fungsi Integrasi (Integration Function) adalah usaha untuk menyelaraskan
antara tujuan perusahaan dengan tujuan individu maupun kelompok yang
ada dalam organisasi. Pentingnya fungsi ini mengingat motivasi setiap
individu untuk bergabung dalam perusahaan dengan tujuan individu atau
kelompok yang ada dalam suatu perusahaan bervariasi sehingga perlu
untuk diselaraskan. Bila dijalankan dengan baik, fungsi ini dapat
16
meningkatkan semangat kerja dan kinerja karyawan.
e.
Fungsi Pemeliharaan
(Maintenance Function),
yaitu usaha untuk
sedapat mungkin memperbaiki kondisi-kondisi kerja sehubungan dengan
kelima fungsi operasional dalam Manajemen Suber Daya Manusia.
f.
Fungsi Separasi (Separation Function) merupakan fungsi operasional
Manajemen Sumber Daya Manusia yang terakhir. Jika fungsi pertama
adalah pengadaan pekerja, fungsi ini adalah sebaliknya yaitu menyangkut
pada fungsi pemberhentian atau memberi pensiun kepada pekerja yang
sudah ada demi mempertahankan kinerja perusahaan.
Berkaitan dengan uraian di atas, baik fungsi manajerial maupun fungsi
operasional menunjukkan bahwa keduanya merupakan suatu sistem yang
tidak dapat terpisahkan. Kedua sistem ini harus dapat dijalankan dan
dikembangkan secara selaras agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif
dan efisien.
3.
Peranan dan kedudukan Manajemen Sumber Daya Manusia
Hingga saat ini belum ada perusahaan yang mampu melaksanakan
tugas-tugasnya
tanpa
memerlukan
sumber
daya
manusia.
Terdapat
kecenderungan bahwa semakin besar suatu perusahaan, semakin besar pula
kebutuhan sumber daya manusianya. Hal ini dapat kita lihat dalam praktik
dunia bisnis. Walaupun suatu perusahaan sudah menggunakan mesin yang
berteknologi
tinggi,
modern,
serta
otomatis,
perusahaan
tetap
saja
membutuhkan sumber daya manusia yang terampil dalam jumlah yang harus
memadai.
Sumber daya manusia yang terampil hanya akan didapatkan jika
perusahaan mau bertanggung jawab untuk mengembangkan para pekerjanya
dengan melaksanakan aktivitas yang mendukung peningkatan kompetensi
karyawan.
17
2.3 Kompensasi
2.3.1 Pengertian Kompensasi
Kompensasi adalah pemberian imbalan kerja yang dapat berupa gaji,
honorarium, tunjangan tetap, insentif, bonus atas prestasi, pesangon dan atau
pensiun (Effendi,
Syahrial, Khoirulsyah, 2009). Sedangkan
Simamora
(2002:78) mengartikan kompensasi adalah pembayaran-pembayaran dan jasajasa yang melindungi dan melengkapi gaji pokok. Dalam kamus besar
bahasa Indonesia, pengertian tunjangan yang disesuaikan dengan topik
bahasan ini adalah tambahan pendapatan di luar gaji sebagai bantuan atau
sokongan. Pada dasarnya terdapat dua cara untuk membuat pembayaran
keuangan kepada karyawan, yaitu pembayaran langsung dan pembayaran tidak
langsung. Pembayaran langsung adalah pembayaran dalam bentuk upah,
gaji, insentif, komisi dan bonus. Sedangkan pembayaran tidak langsung
adalah pembayaran dalam bentuk tunjangan-tunjangan keuangan seperti
asuransi.
Hariandja
adalah jenis
(2002)
kompensasi
menyatakan
lain
bahwa
dimana
kompensasi
hampir
semua
remunerasi
organisasi
memberikannya yang sangat luas dan penting, termasuk juga peningkatan
kesejahteraan yang pemberiannya tidak didasari pada kinerja pegawai tetapi
didasarkan pada keanggotaannya
sebagai
bagian
dari organisasi
serta
pegawai sebagai seorang manusia yang memiliki banyak kebutuhan agar
dapat menjalankan kehidupannya secara normal dan dapat bekerja lebih baik,
seperti rasa aman dari kemungkinan terjadinya
risiko
diberlakukannya
pemutusan hubungan kerja, mengalami gangguan kesehatan, kebutuhan untuk
beristirahat dari pekerjaan, kebutuhan untuk berinteraksi secara akrab dengan
orang lain, dan lain-lain.
Siagian (2005:92) menyatakan tujuan dari
pemberian kompensasi
adalah ikatan kerjasama, kepuasan kerja, pengadaan efektif, motivasi,
stabilitas karyawan, disiplin, pengaruh serikat
buruh, dan kebutuhan sosial.
Kebijakan remunerasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari reformasi
18
birokrasi. Hal ini dilatarbelakangi kesadaran bahwa dalam mewujudkan clean
and good government tidak mungkin akan dapat dilaksanakan dengan baik
(efektif) tanpa kesejahteraan yang layak dari pegawai.
Dalam hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan hidup para
pegawai, suatu organisasi harus secara efektif memberikan kompensasi
sesuai dengan beban kerja yang diterima pegawai. Kompensasi merupakan
salah satu faktor baik secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi
tinggi rendahnya kinerja pegawai. Karena itu semestinya pemberian
kompensasi kepada pegawai perlu mendapat perhatian khusus dari pihak
manajemen perusahaan agar motivasi para pegawai dapat dipertahankan dan
kinerja pegawai diharapkan akan terus meningkat. Berkaitan dengan hal
tersebut perlu diadakan penelitian mengenai variabel yang berpengaruh
terhadap kompensasi dan kinerja pegawai.
Salah satu fenomena yang muncul dewasa ini
adalah adanya
kebijakan pemberian kompensasi yang cenderung masih belum sepenuhnya
sesuai dengan harapan pegawai sedangkan kompensasi itu sendiri adalah
merupakan salah satu faktor untuk mendorong pegawai agar memiliki kinerja
yang tinggi.
Sedangkan indikator kompensasi menurut Cascio dalam Simamora
(2002:78) adalah honorarium, tunjangan, bonus dan imbalan.
Kompensasi merupakan salah satu faktor baik secara langsung atau
tidak langsung mempengaruhi tinggi rendahnya motivasi dan kinerja pegawai.
Karena itu semestinya pemberian kompensasi kepada pegawai perlu mendapat
perhatian khusus dari pihak manajemen perusahaan agar motivasi para pegawai
dapat dipertahankan dan kinerja karyawan diharapkan akan terus
meningkat.
Berkaitan dengan hal tersebut perlu diadakan penelitian mengenai variabel yang
berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
Salah satu fenomena yang muncul dewasa ini adalah adanya
kebijakan pemberian kompensasi yang cenderung masih belum sepenuhnya
sesuai dengan harapan pegawai sedangkan kompensasi itu sendiri adalah
19
merupakan salah satu faktor untuk mendorong pegawai agar memiliki kinerja
yang tinggi.
Kompensasi merupakan salah satu fungsi yang penting dalam
Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), hal ini sesuai dengan pendapat
Luthans (2001: 147), yang mengatakan:
"compensation, at the end of the motivation cycle is the incentives defined
as anything that will alleviate a need and reduce a drive, thus attaining an
incective will tend to restore physiological and psychological balance and
will reduce or cut off the drive. Eating food,
obtainig friends
willtend
to restore
drinking water, and
the balance
and reduce the
corresponding drivers, food, water, and friends are the compensation in
these examples"
Yang berarti: Kompensasi, pada bagian akhir dari lingkaran motivasi adalah
insentif yang didefinisikan sebagai apapun yang dapat meringankan pemenuhan
kebutuhan dan mengurangi gerakan maka dengan merealisasikan insentif akan
cenderung
mengembalikan/atau
memulihkan
aspek
psikologi
dan
keseimbangan psikologi itu sendiri akan mengurangi dan memisahkan.
Mengkonsumsi makanan, meminum minuman/air mineral dan mendapatkan
teman baru juga akan cenderung mengembalikan keseimbangan dan jika
mengurangi hal tersebut, dapat juga disebut insentif.
Kompensasi menurut Jones: bases pay on production (i.e., printers
delwered or revenue targets achieved) heal insurance and social security :
-
Pokok yang harus dibayarkan pada suatu produksi para pegawai atau
untuk target pendapatan.
-
Pemasukan untuk Federal dan negara seperti asuransi kesehatan dan
keamanan sosial.
Tidak semua pegawai berkehendak untuk dipisahkan dalam waktu yang
panjang dari
keluarga,
teman-temannya dan
sistem yang
menunjang
kesenangan di rumah. Begitu pula, dorongan bergerak untuk kewajibankewajiban asing yang teratur dikurangi hal-hal ini meliputi pula pembayaran
20
pelayanan, terhadap perumahan, mobil, supir dan perangsang lainnya.
Davis dan Newston (2000:135-134) mengemukakan bahwa kompensasi
mengingatkan
antara prestasi individu, kelompok atau organisasi yaitu dapat
meliputi: upah potongan, komisi, bonus, bagi laba dan bagi produksi.
Sedangkan Siagian (2005:265) mengemukakan
digolongkan
kedalam:
(1)
Sistem
bahwa
kompensasi
sistem
pada
kompensasi
tingkat
individu
(Piecework, bonus, komisi, kurva kematangan, dan kompensasi bagi para
eksekutif), (2) Sistem kompensasi pada kelompok (kompensasi produksi ,
bagian keuntungan, dan pengurangan biaya). Selanjutnya Robbins (2003:246)
mengemukakan kompensasi yang mengandung pengertian yang sama dengan
upah variabel yaitu suatu bagian dari
didasarkan
pada
suatu ukuran
upah
seseorang
karyawan yang
kinerja individual atau organisasi. Upah
variabel tersebut terdiri dari upah berdasarkan potongan, bonus, berbagai
laba dan berbagai hasil.
Dari berbagai pendapat tersebut
dapat disimpulkan bahwa sistem
kompensasi adalah kompensasi yang diberikan kepada pegawai atas dasar
prestasi kerjanya. Sistem kompensasi tersebut meliputi: (1) Upah potongan
(piecework), (2) Komisi, (3) Bonus, (4) Bagian laba, (5) Bagi produksi.
1.
Upah potongan (piecework), yaitu pemberian kompensasi berdasarkan
jumlah hasil pekerjaan pegawai yang dinyatakan dalam unit produksi.
Dasar penghitungan ialah bahwa makin banyak unit produksi yang
dihasilkan, makin tinggi pula kompensasi yang diterimanya. Sistem ini
tidak dapat diterapkan pada pegawai bagian administrasi, atau pada
pekerjaan yang telah ditentukan.
2.
Komisi yaitu imbalan yang diberikan kepada pegawai disamping
memperoleh
gaji
keberhasilannya
pokok,
juga
diberikan
kompensasi
karena
melaksanakan tugas, atau pegawai yang memperoleh
penghasilannya semata-mata berupa komisi. Bonus, yaitu imbalan yang
diberikan kepada pegawai yang mampu bekerja
Sedemikian rupa sehingga tingkat produktivitas
yang berlaku
21
terlampaui. Bonus dibayar secara eksklusif kepada para eksekutif atau
kepada semua pegawai. Ada tiga cara pemberian bonus yaitu: Pertama,
berdasarkan jumlah unit produksi yang dihasilkan dalam kurun waktu
tertentu, jika jumlah produksinya melebihi jumlah yang telah ditetapkan,
pegawai menerima bonus atas kelebihan jumlah yang dihasilkan. Kedua,
apabila terjadi penghematan waktu, yaitu jika pegawai dapat menyelesaikan
tugas dalam waktu yang lebih singkat dari waktu yang seharusnya, dengan
alasan bahwa dengan menghemat waktu, lebih banyak
pekerjaan
yang
harus diselesaikan dan ketiga, berdasarkan ada atau tidaknya tenaga kerja
yang memiliki pengetahuan
dan keterampilan tertentu yang dibutuhkan
oleh organisasi.
3.
Tuntutan serikat kerja, yaitu sangat memungkinkan
serikat pekerja
berperan dalam mengajukan tuntutan tingkat gaji upah yang lebih tinggi
dari tingkat yang berlaku disebabkan oleh berbagai faktor kebutuhan pekerja
untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan anggotanya. Peranan dan
tuntutan serikat kerja perlu diperhitungkan,
karena apabila tidak, para
pekerja memungkinkan akan melancarkan berbagai kegiatan yang dapat
merugikan organisasi dan pegawai itu sendiri.
4.
Produktivitas,
yaitu
apabila para
pegawai
merasa
tidak memperoleh
kompensasi yang wajar, sangat mungkin pegawai tidak akan bekerja keras,
sehingga produktivitasnya rendah dan dapat menimbulkan kerugian bagi
organisasi.
5. Kebijakan organisasi mengenai upah dan gaji, yaitu yang tercermin
pada jumlah uang yang dibawa pulang oleh pegawai tersebut. Berarti bukan
hanya gaji pokok yang penting, akan tetapi berbagai komponen lain dari
kebijakan organisasi seperti
anak, tunjangan
tunjangan jabatan, tunjangan istri, tunjangan
transportasi, bantuan pengobatan,
bonus, tunjangan
kemahalan dan sebagainya.
6. Peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu daerah atau negara,
misalnya tingkat upah minimum, upah lembur, mempekerjakan wanita,
22
mempekerjakan anak dibawah umur, keselamatan kerja, hak cuti, jumlah jam
kerja dalam seminggu, hak berserikat dan sebagainya.
Semua sistem kompensasi yang baik tidak bisa dilihat dari satu sudut
kepentingan organisasi sebagai pemakai tenaga kerja saja atau kepentingan
pegawai saja, tetapi kepentingan dari berbagai pihak yang turut terlibat
baik langsung maupun tidak langsung. Sedangkan sistem kompensasi
merupakan salah satu alat untuk memotivasi para
mewujudkan tujuan organisasi yang
karyawan untuk
telah ditetapkan itu.
Kompensasi
umumnya diberikan sebagai imbalan atas perilaku kerja individual, tetapi
dapat pula diberikan kepada kelompok. Sistem kompensasi menghubungkan
antara kompensasi dan unjuk kerja bukan senioritas ataupun jumlah jam
kerja.
Menurut
Robbins
(2003:193)
menyatakan
bahwa
program
kompensasi yang efektif harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Sederhana:
aturan-aturan dalam sistem kompensasi harus ringkas, jelas
dan mudah dipahami.
2. Spesifik: jangan
hanya
mengatakan
"hasil
lebih
banyak"
atau
"hentikan kecelakaan". Para pegawai perlu mengetahui secara tepat
tentang apa yang harus mereka kerjakan.
3. Terjangkau: setiap pegawai harus mempunyai peluang yang wajar untuk
memperoleh kompensasi.
4. Terukur:
sasaran-sasaran
membangun rencana-rencana
yang
atau
terukur
program
adalah
dasar
kompensasi.
untuk
Program
kompensasi akan menjadi tidak ada manfaatnya bila hasil/prestasi kerja
spesifik tidak dapat dikaitkan dengan rupiah yang dikeluarkan.
Berdasarkan uraian di atas, maka yang dimaksud dengan kompensasi
remunerasi dalam penelitian ini adalah Kompensasi adalah pemberian
imbalan kerja yang dapat berupa gaji, honorarium, tunjangan tetap,
insentif,
bonus atas prestasi, pesangon
dan atau pensiun. Adapun
indikatornya yang digunakan dalam penelitian ini adalah honorarium,
23
tunjangan, bonus dan imbalan.
2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompensasi
Berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat kompensasi
yang
dikemukakan Davis dan Newston (2000:135-134) antara lain :
1. Penawaran dan Permintaan Tenaga Kerja
Meskipun hukum ekonomi tidaklah bisa ditetapkan secara mutlak dalam
masalah tenaga kerja, tetapi tidak bisa diingkari bahwa hukum penawaran dan
permintaan tetap mempengaruhi untuk pekerjaan
yang membutuhkan
keterampilan (skill) tinggi, dan jumlah tenaga kerjanya langka. Maka upah
cenderung
tinggi
sedangkan
untuk
jabatan-jabatan
yang
mempunyai
“penawaran” yang melimpah upah cenderung menurun
2. Kemampuan Untuk Membayar
Meskipun mungkin serikat buruh menuntut kompensasi yang tinggi, tetapi
realisasi pemberian kompensasi akan tergantung juga ada tidaknya kemampuan
membayar dari perusahaan. Tingginya kompensasi akan mengakibatkan
naiknya biaya produksi, dan akhirnya sampai mengakibatkan kerugian
perusahaan, maka jelas perusahaan akan tidak mampu memenuhi fasilitas
karyawan.
3. Organisasi Buruh
Ada tidaknya organisasi buruh, serta lemah kuatnya organisasi buruh akan ikut
mempengaruhi tingkat kompensasi. Adanya serikat buruh yang kuat, yang
berarti posisi “bargaining” karyawan juga kuat, sehingga menaikkan
tingkat kompensasi, demikian pula sebaliknya.
4. Produktivitas
Kompensasi sebenarnya merupakan imbalan atas prestasi karyawan. Semakin
tinggi prestasi karyawan seharusnya semakin besar pula kompensasi yang
akan karyawan terima. Prestasi ini biasa dinyatakan sebagai produktivitas.
Hanya yang menjadi masalah nampaknya belum ada kesepakatan dalam
menghitung produktivitas.
24
5. Pemerintah
Pemerintah
dengan
peraturan-peraturannya
juga
mempengaruhi
tinggi
rendahnya kompensasi. Peraturan tentang kompensasi minimum merupakan
batas bawah tingkat kompensasi yang akan dibayar.
6. Biaya Hidup
Faktor lain yang perlu diperhitungkan juga adalah biaya hidup. Di kota- kota
besar, dimana biaya hidup tinggi, kompensasi juga cenderung tinggi.
Bagaimanapun nampaknya biaya hidup merupakan “batas kompensasi” dari
para karyawan.
7. Posisi Jabatan Karyawan
Karyawan yang menduduki jabatan yang lebih tinggi akan menerima gaji/
kompensasi yang lebih besar begitupun sebaliknya. Hal ini wajar karena
seseorang yang mendapat kewenangan dan tanggung jawab yang besar harus
mendapatkan apresiasi yang lebih besar pula.
8. Pendidikan dan Pengalaman Kerja
Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka gaji/balas
jasanya akan semakin besar, karena kecakapan serta keterampilannya lebih
baik.
9. Kondisi Perekonomian Nasional
Apabila kondisi perekonomian nasional sedang maju maka tingkat kompensasi
akan semakin besar karena akan mendekati kondisi full employment. Sebaliknya
jika kondisi perekonomian kurang maju (depresi) maka tingkat upah rendah,
karena banyak terdapat pengangguran (disqueshed unemployment).
10. Jenis dan Sifat Pekerjaan
Kalau jenis dan sifat pekerjaan yang sulit dan mempunyai resiko (finansial dan
keselamatan) yang besar maka tingkat upah/balas jasanya semakin besar karena
membutuhkan kecakapan serta ketelitian untuk mengerjakannya dan begitupun
sebaliknya.
25
2.4
Manajemen Kinerja
2.4.1
Pengertian Manajemen Kinerja
Manajemen adalah suatu proses merencanakan, mengorganisasikan,
memimpin, mengendalikan kegiatan anggota serta sumber daya yang lain untuk
mencapai sasaran yang telah ditentukan. Proses tersebut terdapat dalam fungsi
kegiatan operasional, keuangan, sumber daya manusia maupun sarana
prasarana. Menurut Veithzal istilah manajemen mempunyai arti sebagai
kumpulan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya mengelola sumber daya
manusia.
Manajemen adalah proses pendayagunaan peningkatan kinerja terhadap
sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Proses ini
melibatkan organisasi, arahan, koordinasi dan evaluasi orang-orang guna
mencapai tujuan-tujuan tersebut. Esensi manajemen adalah aktivitas bekerja
dengan orang lain agar mencapai berbagai hasil. Melalui manajemen dilakukan
proses pengintegrasian berbagai sumber daya dan tugas untuk mencapai tujuan
organisasi yang telah ditentukan (Simamora 2002).
Manajemen kinerja adalah suatu proses yang dirancang untuk
meningkatkan kinerja para organisasi, kelompok dan individu yang digerakkan
oleh para manajer. Pada dasarnya manajemen kinerja adalah suatu proses yang
dilaksanakan secara sinergi antara manajer, individu dan kelompok terhadap
suatu pekerjaan didalam organisasi. Proses ini lebih didasarkan pada prinsip
manajemen berdasarkan sasaran
(management by objective) daripada
manajemen berdasarkan perintah, meskipun hal tersebut juga mencakup
kebutuhan untuk menekankan pada harapan kinerja yang tinggi melalui kontrak
semacam itu (Surya Dharma, 2010 : 1).
Manajemen kinerja adalah proses komunikasi yang berlangsung terus
menerus, yang dilaksanakan berdasarkan kemitraan, antara seorang karyawan
dengan penyelia langsungnya (Robert Bacal, 2002). Manajemen ini meliputi
upaya membangun harapan yang jelas serta pemahaman tentang:
-
Fungsi kerja esensial yang diharapkan dari para karyawan
26
-
Seberapa besar kontribusi pekerjaan karyawan bagi pencapaian tujuan
organisasi
-
Apa arti konkretnya “melakukan pekerjaan dengan baik”
-
Bagaimana
karyawan
mempertahankan,
dan
penyelianya
memperbaiki,
maupun
bekerja
sama
mengembangkan
untuk
kinerja
karyawan yang sudah ada sekarang.
-
Bagaimana prestasi kerja akan diukur.
-
Mengenali berbagai hambatan kinerja dan menyingkirkannya
Manajemen kinerja didasarkan kepada kesepakatan tentang sasaran,
persyaratan
pengetahuan,
keahlian,
kompetensi,
rencana
kerja
dan
pengembangan. Dengan demikian manajemen kinerja mencakup pengkajian
ulang terhadap kinerja secara berkesinambungan dan dilakukan secara bersama
berdasarkan kesepakatan mengenai sasaran, persyaratan pengetahuan, keahlian,
kompetensi, rencana kerja dan pengembangan, serta mengimplementasian
rencana peningkatan dan pengembangan lebih lanjut.
Secara khusus manajemen kinerja ditujukan untuk meningkatkan aspekaspek kinerja yang meliputi : (1) Sasaran yang dicapai; (2) Kompetensi yang
meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap, dan (3) Efektifitas kerja.
Konsep manajemen kinerja merupakan salah satu perkembangan yang
penting dalam lingkup manajemen. Manajemen kinerja mulai terlihat
terbentuknya pada tahun 1980-an, berkembang dari kesadaran diperlukannya
suatu pendekatan yang lebih berkesinambungan dan terpadu untuk mengelola
dan memberikan imbalan bagi kinerja. Seringkali, suatu sistem penilaian
kinerja dikembangkan secara tidak tersistem dan diimplementasikan secara
sporadis sehingga kurang memberikan suatu hasil yang diharapkan (Surya
Dharma, 2010 : 2).
Kinerja pada dasarnya merupakan hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini, pegawai bisa belajar
seberapa besar kinerja mereka melalui sarana informasi seperti komentar baik
27
dari mitra kerja. Namun demikian penilaian kinerja yang mengacu kepada suatu
sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai dan mempengaruhi sifatsifat yang berkaitan dengan pekerjaan perilaku dan hasil termasuk tingkat
ketidakhadiran.
Fokus penilaian kinerja adalah untuk mengetahui seberapa produktif
seorang pegawai dan apakah ia bisa berkinerja atau lebih efektif di masa yang
akan datang.
Begitu pentingnya masalah kinerja pegawai ini, sehingga tidak salah
bila inti pengelolaan sumber daya manusia adalah bagaimana mengelola kinerja
SDM. Mengelola manusia dalam konteks organisasi berarti mengelola manusia
agar dapat menghasilkan kinerja yang optimal bagi organisasi. Oleh karenanya
kinerja pegawai ini perlu dikelola secara baik untuk mencapai tujuan organisasi,
sehingga menjadi suatu konsep manajemen kinerja (performance management).
Menurut definisinya, manajemen kinerja adalah suatu proses strategis
dan terpadu yang menunjang keberhasilan organisasi melalui pengembangan
performansi SDM. Dalam manajemen kinerja kemampuan SDM sebagai
kontributor individu dan bagian dari kelompok dikembangkan melalui proses
bersama antara manajer dan individu yang lebih berdasarkan kesepakatan
daripada intruksi. Kesepakatan ini meliputi tujuan (objectives), persyaratan
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan, serta pengembangan kinerja dan
perencanaan pengembangan pribadi. Manajemen kinerja bertujuan untuk dapat
memperkuat budaya yang berorientasi pada kinerja melalui pengembangan
keterampilan, kemampuan dan potensi-potensi yang dimiliki oleh SDM dan
membentuk suatu kerangka kerja dalam pengembangan kinerja. Manajemen
kinerja juga dapat menggalang partisipasi aktif setiap anggota organisasi untuk
mencapai sasaran organisasi melalui penjabaran sasaran individu maupun
kelompok sekaligus mengembangkan potensinya agar dapat mencapai
sasarannya. Berdasarkan tugasnya, manajemen kinerja dapat dijadikan landasan
bagi promosi, mutasi dan evaluasi, sekaligus penentuan kompensasi dan
penyusunan program pelatihan. Manajemen kinerja juga dapat dijadikan umpan
28
balik untuk pengembangan karir dan pengembangan pribadi SDM.
Tujuan dari sistem manajemen kinerja yang efisien dan efektif adalah
untuk :
1.
Menerjemahkan visi dan misi organisasi kedalam tujuan dan hasil yang jelas
dan dapat diukur yang menentukan keberhasilan dan dipahami bersama oleh
tiap orang dalam organisasi dan pelanggan dan stakeholder.
2.
Menyediakan alat untuk menilai, mengelola dan meningkatkan kesehatan dan
keberhasilan keseluruhan organisasi.
3.
Melanjutkan pergeseran dari orientasi pengendalian dan ketaatan menjadi
pendekatan stratejik yang berkelanjutan kepada manajemen.
4.
Menyediakan sebuah sistem manajemen kinerja yang mendalam dan dapat
diduga hasilnya dengan memasukkan ukuran-ukuran kualitas, biaya, ketepatan
waktu, layanan pelanggan serta kepuasan, motivasi dan keahlian pegawai.
5.
Mengganti sistem penilaian kinerja yang ada dengan sebuah pendekatan yang
sesuai dengan manajemen kinerja.
Keunggulan manajemen kinerja adalah penentuan sasaran yang jelas dan
terarah. Didalamnya terdapat dukungan, bimbingan, dan umpan balik agar
tercipta peluang terbaik untuk meraih sasaran yang menyertai peningkatan
komunikasi antara atasan dan bawahan. Hal ini karena pada dasarnya
manajemen kinerja merupakan proses komunikasi berkelanjutan antara atasan
dan bawahan dengan bertujuan untuk memperjelas dan menyepakati hal-hal :
1. Fungsi pokok pekerjaan bawahan
2. Bagaimana pekerjaan bawahan berkontribusi pada pencapaian tujuan
organisasi
3. Pengertian “efektif” dan “berhasil” dalam pelaksanaan pekerjaan bawahan.
4.
Bagaimana bawahan dapat bekerja sama dengan atasan dalam rangka
efektifitas pelaksanaan pekerjaan bawahan.
5.
Bagaimana mengukur efektifitas (baca : kinerja) pelaksanaan pekerjaan
bawahan.
6.
Berbagai hambatan efektifitas dan alternatif cara untuk menyingkirkan
29
hambatan-hambatan tersebut.
Manajemen kinerja sangat bermanfaat bagi pihak atasan, bawahan dan
organisasi. Bagi atasan, manajemen kinerja mempermudah penyelesaian
pekerjaan bawahan sehingga atasan tidak perlu lagi repot mengarahkan dalam
kegiatan sehari-hari karena bawahan sudah tahu apa yang harus dilakukan dan
apa yang harus dicapai serta mengantisipasi kemungkinan hambatan yang
muncul. Bagi bawahan, manajemen kinerja membuka kesempatan diskusi dan
dialog dengan atasan berkaitan dengan kemajuan pekerjaannya. Adanya diskusi
dan dialog memberikan umpan balik untuk memperbaiki kinerja sekaligus
meningkatkan keahliannya dalam menyelesaikan pekerjaan. Selain itu
manajemen kinerja juga memberdayakan bawahan karena ia tidak perlu sedikitsedikit “mohon petunjuk” kepada atasan karena telah diberikan arahan yang
jelas sejak awal. Bagi organisasi, manajemen kinerja memungkinkan
keterkaitan antara tujuan organisasi dan tujuan pekerjaan masing-masing
bawahan. Selain itu, manajemen kinerja mampu untuk memberikan
argumentasi yang relatif kuat untuk setiap keputusan yang menyangkut SDM.
Untuk dapat menerapkan manajemen kinerja dalam suatu organisasi,
diperlukan adanya prasyarat dasar yang harus dipenuhi dalam suatu organisasi,
yaitu :
1.
adanya suatu indikator kinerja (key performance indicator) yang terukur
secara kuantitatif dan jelas batas waktunya.
2.
Semua ukuran kinerja tersebut biasanya dituangkan dalam suatu bentuk
kesepakatan antara atasan dan bawahan yang sering disebut sebagai suatu
kontrak kinerja (performance contract).
3.
Terdapat suatu proses siklus manajemen kinerja yang baku dan dipatuhi
untuk dikerjakan bersama, yaitu :
a.
Perencanaan kinerja, berupa penetapan indikator kinerja lengkap
dengan berbagai strategi dan program kerja yang diinginkan.
b.
Pelaksanaan, dimana organisasi bergerak sesuai dengan rencana
yang telah dibuat, jika ada perubahan akibat adanya perkembangan
30
baru maka lakukan perubahan tersebut.
c.
Evaluasi kinerja, yaitu menganalisis apakah realisasi kinerja sesuai
dengan rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya.
4.
Adanya suatu sistem reward and punishment yang bersifat konstruktif
dan konsisten dijalankan. Konsep reward ini tidak selalu bersifat
finansial, tetapi bisa juga berupa bentuk lain seperti promosi, kesempatan
pendidikan dan lain-lain. Reward and punishment diberikan setelah
melihat hasil realisasi kinerja, apakah sesuai dengan indikator kinerja
yang telah direncanakan atau belum. Tentu saja harus ada suatu
performance appraisal atau penilaian kinerja lebih dahulu sebelum
reward and punishment ini harus hati-hati, karena dalam banyak hal
pembinaan jauh lebih bermanfaat.
5.
Terdapat suatu mekanisme performance appraisal atau penilaian kinerja
yang relatif obyektif yaitu dengan melibatkan berbagai pihak. Konsep
yang sangat terkenal adalah penilaian 360 derajat, dimana penilaian
kinerja dilakukan oleh atasan, bawahan, rekan sekerja, dan pengguna jasa,
karena pada prinsipnya manusia itu berpikir secara subyektif, namun
dengan berpikir bersama mampu untuk mengubah sikap subyektif itu
menjadi mendekati obyektif, atau berpikir bersama jauh lebih obyektif
dari pada berpikir sendiri-sendiri. Ini adalah semangat dalam konsep
penilaian 360 derajat.
6.
Terdapat suatu gaya kepemimpinan (leadership style) yang mengarah
kepada pembentukan organisasi berkinerja tinggi. Inti dari kepemimpinan
seperti ini adalah adanya suatu proses coaching, counselling, and
empowerment kepada para bawahan atau sumber daya manusia didalam
manusia.
7.
Menerapkan konsep SDM berbasis kompetensi. Umumnya organisasi
yang berkinerja tinggi memiliki kamus kompetensi dan menerapkan
kompetensi itu tersebut kepada hal-hal yang penting.
31
Tahap-tahap dalam manajemen kinerja meliputi tahap penentuan
obyektif, penentuan sasaran yang berorientasi pada perilaku, menyiapkan
dukungan yang diperlukan, evaluasi dan pengembangan serta memberi
penghargaan. Proses manajemen kinerja melibatkan perencanaan,
coaching
dilakukan
evaluasi,
dukungan
dan
pengarahan
secara
berkesinambungan melalui diskusi dua arah dalam proses review
dilakukan evaluasi terhadap pencapaian dan terhadap pencapaian dan
terhadap sasaran yang ditentukan dan hasilnya dijadikan sebagai umpan
balik, mengidentifikasi butir-butir kekuatan untuk mengembangkan
kinerja di masa mendatang, serta mengidentifikasi butir-butir kelemahan
sebagai koreksi dan pengembangan. Langkah ini sebagai jawaban
terhadap dua persoalan utama yaitu apakah kita sudah mengerjakan hal
yang benar dan apakah sudah mengerjakan dengan baik.
Persoalan utama dalam pengukuran kinerja adalah kita telah mengukur
hal yang strategis dan memberi nilai tambah terhadap strategi organisasi
secara keseluruhan. Masalah lain yang perlu diwaspadai adalah terlalu
berorientasi pada hasil dan mengabaikan proses, sistem remunerasi yang
tidak mendukung kinerja, dan pengukuran yang tidak berdasarkan pada
team business structure. Dalam pelaksanaan manajemen kinerja terdapat
lima komponen pokok, yaitu :
1.
Perencanaan kinerja, dimana atasan dan bawahan berupaya merumuskan
memahami dan menyepakati target kinerja bawahan dalam rangka
mengoptimalkan
konstribusinya
terhadap
pencapaian
tujuan-tujuan
organisasi.
2.
Komunikasi berkelanjutan antara atasan dan bawahan guna memastikan
bahwa apa yang telah, sedang dan akan dilakukan bawahan mengarah pada
target kinerjanya sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak, hal ini juga
berguna untuk mengantisipasi segala persoalan yang timbul.
3.
Pengumpulan data dan informasi oleh masing-masing pihak sebagai bukti
pendukung realiasasi kinerja bawahan. Pengumpulan dapat dilakukan
32
melalui formulir penilaian kinerja, observasi langsung maupun tanya jawab
dengan pihak-pihak terkait.
4.
Pertemuan tatap muka antara atasan dan bawahan selama periode berjalan.
Pada saat inilah bukti-bukti otentik kinerja bawahan diklarifikasi,
didiskusikan, dan disimpulkan bersama sebagai kinerja bawahan pada
periode tersebut.
5.
Diagnosis sebagai hambatan efektifitas kinerja bawahan dan tidak lanjut
bimbingan yang dapat dilakukan atasan guna menyingkirkan hambatanhambatan tersebut guna meningkatkan kinerja bawahan. Dengan adanya
diagnosis dan bimbingan ini, bawahan tidak merasa “dipermasalahkan”
atas kegagalan mencapai target kinerja yang telah disepakati dan sekaligus
menunjukkan niatan bahwa persoalan kinerja bawahan adalah persoalan
atasan juga.
Setiap organisasi mempunyai satu atau beberapa tujuan yang
memberikan arah dan menyatukan unsur-unsur yang terdapat didalam
organisasi tersebut. Dimana tujuan yang akan dicapai dimasa yang akan datang
tersebut adalah suatu keadaan yang lebih baik daripada keadaan sebelumnya.
Dalam rangka pencapaian tujuan-tujuan inilah diperlukan serangkaian kegiatan,
yang dikenal dengan proses manajemen (Vetazhal, 2004), yaitu :
1.
Perencanaan (Planning).
Berupa tindakan pengambilan keputusan yang mengandung data/informasi,
asumsi maupun fakta kegiatan yang akan dipilih dan akan dilakukan pada
masa mendatang.
2.
Pengorganisasian (Organizing).
Bentuk tindakan-tindakan yang dapat mempersatukan kumpulan kegiatankegiatan manusia, yang mempunyai pekerjaan masing-masing, saling
berhubungan satu dengan yang lainnya dengan tata cara tertentu dan
berinteraksi dengan lingkungannya dalam rangka mendukung tercapainya
tujuan penggunaan sumber daya secara optimal.
3.
Penggerakan (Actuating) atau Manajemen Staf.
33
4.
Kepemimpinan (Leadership)
Pimpinan organisasi dapat menggunakan memimpin dalam bentuk
organisasi dan integrasi.
5.
Pengendalian (Controlling)
Berupa tindakan pengukuran kualitas penampilan dan penganalisaan serta
pengevaluasian penampilan yang diikuti dengan tindakan perbaikan yang
harus diambil terhadap penyimpangan yang terjadi, tindakan tersebut
antara lain :
- Menetapkan standar pencapaian hasil kerja.
- Standar mutu pelayanan.
- Melakukan review atas hasil kerja.
- Melakukan tindakan perbaikan.
6.
Pengawasan (supervision)
Melakukan audit terhadap kemungkinan adanya ketidakcocokan dalam
pelaksanaan ataupun sistem prosedur yang berlaku, sehingga tidak
menimbulkan risiko yang tidak baik bagi organisasi.
2.4.2
Perkembangan Manajemen Kinerja
Perkembangan beberapa pendekatan manajemen kinerja :
1.
Merit-Rating sebagai teknik informasi
2.
Manajemen berorientasi sasaran (Management Based Oriented – MBO)
ATASAN
Tindakan individu :
Bersama
menetapkan
sasaran kinerja
BAWAHAN
- Bawahan
melaksanakan
tugas
- Supervisor
memberikan
dukungan
Bersama
menilai
pencapaian
sasaran MBO
Gambar 2.4.1
Proses Manajemen Berorientasi Sasaran (MBO)
34
Gambar tersebut menunjukkan kerjasama antara atasan dan bawahan
dalam menetapkan sasaran yang akan dicapai melalui kebersamaan ini pada
gilirannya dapat digunakan untuk penetapan sasaran evaluasi kinerja melalui
pendekatan yang partisipatif (Surya Dharma, 2010 : 8).
3. Tujuan Evaluasi Kinerja.
a. Pengembangan
b. Pemberian Penghargaan
c. Motivasi
d. Perencanaan SDM
e. Kompensasi
f. Komunikasi (Ivancevich, 1992)
4.
Manajemen Kinerja
Bertujuan membangun harapan jelas dan pemahaman:
a. Fungsi kerja esensial diharapkan karyawan.
b. Seberapa besar kontribusi pekerjaan karyawan bagi pencapaian tujuan
organisasi.
c. Apa arti konkritnya "melakukan pekerjaan dengan lebih baik".
d. Bagaimana karyawan dan penyelianya bekerja sama mempertahankan,
memperbaiki, mengembangkan kinerja karyawan sekarang.
e. Bagaimana prestasi kerja diukur.
f.
Hambatan kinerja dan mengatasinya
5. Falsafah Manajemen Kinerja
a. Teori motivasi;
b. Konsep efektivitas organisasi dan kontribusi manajemen kinerja
terhadap efektivitas organisasi
c. Keyakinan bagaimana mengelola kinerja.
6. Proses, Rencana dan Sasaran Kinerja
6.1 Proses Manajemen Kinerja
Prinsip dasar manajemen kinerja efektif:
35
a.
Manajemen kinerja dimiliki dan dimotori manajemen lini dan bukan
dari bagian sumber daya manusia
b.
Penekanan nilai dan target organisasi
c.
Manajemen kinerja pemecahan sekumpulan masalah, tetapi harus
dikembangkan khusus organisasi
d.
Manajemen kinerja berlaku semua staff, bukan hanya sekelompok
manajerial saja
6.2 Rencana dan Kesepakatan Kinerja
Menentukan
arah
dan
bentuk
pengukuran,
pengembangan
proses
manajemen kinerja, umpan-balik, penilaian.
6.3 Kompetensi dan Pelaksanaan Evaluasi Kinerja Indikator dikategorikan
positif bagi kepemimpinan:
a. Mencapai kinerja tinggi kelompok
b. Menentukan sasaran, rencana dan harapan jelas
c. Memantau kinerja terus dan memberi umpan balik baik
d. Menjaga hubungan efektif dengan individu dan tim keseluruhan
e. Mengembangkan rasa memiliki tujuan bersama dalam tim
f.
Membangun moril dan efektif memberi motivasi individu
g. Tidak dapat mencapai kinerja tinggi dari tim
h. Gagal mengklarifikasikan sasaran/standar kinerja
i.
Tidak memberi perhatian cukup kepada kebutuhan individu dan
kelompok
j.
Tidak memantau/memberi umpan balik efektif terhadap kinerja
k. Tidak konstesten memberi imbalan kinerja baik dan mengambil
tindakan bagi mereka berkinerja kurang.
7. Unit Analisis Evaluasi Kinerja :
1.
Evaluasi Kinerja Tingkat Organisasi
Manajemen kinerja tingkat organisasi, berkaitan dengan usaha
mewujudkan visi organisasi
36
2.
Evaluasi Kinerja Tingkat Individu
Pada
organisasi
manajemen
kinerja
individu
mengalir
dan
diintegrasikan oleh proses keseluruhan.
3.
Evaluasi Kinerja Tingkat Kelompok
Penekanan lebih besar diberikan kepada kerja sama tim baik,
Manajemen Kinerja, Pemantauan dan Evaluasi
Beberapa
Metode
Evaluasi
Manajemen
Kinerja,
Program
Penelitian,
Kompensasi dan Kinerja :
1.
Fungsi Pelatihan Kinerja
Manajemen kinerja berkepentingan isi (content) prosedur melengkapi
kesepakatan
kinerja dan formulir evaluasi, prosedur melengkapi dan
menentukan sasaran menggunakan garis panduan kompetensi, menetapkan
tingkat atribut dan panduan kompetensi, menggunakan ukuran, indikator
kinerja dan keahlian memberikan umpan balik, conseling dan coaching.
2.
Analisis Kebutuhan Pelatihan dan Kinerja
Pelatihan berhubungan dengan kinerja dan peningkatan keahlian dan
kompetensi dapat memberikan dampak langsung kepada kinerja individu /
tim.
3.
Fungsi Kompensasi Kinerja
Gaji/upah berdasarkan kinerja (Performance Related Pay) dianggap banyak
organisasi sebagai fundamental manajemen kinerja.
2.4.3
Perencanaan Kinerja
1. Perencanaan Strategis, Proses Perencanaan Strategis :
a. Mendefinisikan Tujuan
b. Mendefinisikan Lingkup Produk/ Jasa
c. Menilai Sumber Daya Internal
d. Menilai Lingkungan Eksternal
e. Menganalisis Pengaturan Internal
37
f. Menilai Keuntungan Kompetitif
g. Mengembangkan Strategi Kompetitif
h. Mengkomunikasikan Strategi dengan Stakeholder
i. Mengimplentasikan Strategi
j. Mengevaluasi Manfaat
2. Tujuan Dan Sasaran Kinerja
a. Tujuan Kinerja: sebagai apa yang diharapkan untuk dicapai suatu
organisasi, fungsi, departemen dan individu dalam periode waktu
tertentu.
b. Tingkat Tujuan
1) Corporate Level
2) Senior Management Level
3) Business-Unit, Funcional (Departemen Level)
4) Team Level
5) Individual Level
3. Karakteristik Tujuan yang Efektif
a. Consistence (konsisten)
b. Precise (tepat)
c. Challenging (menantang)
d. Measurable (dapat diukur)
e. Achievable (dapat dicapai)
f.
Agreed
(disetujui)
g. Time-related (dihubungkan dengan waktu)
h. Teamwork-oriented (berorientasi pada kerja sama tim)
4. Tujuan Memfasilitasi Kinerja
a. The goal content (muatan tujuan)
b. Goal commitment (komitmen pada tujuan)
c. Work behavior (perilaku kerja)
38
d. Feedback aspects (aspek umpan balik), (Kathryn M. Bartol ft David
C. Martin, 1991:164)
2.4.4
Pelaksanaan Kinerja
1. Lingkungan Kinerja
2. Memahami Kinerja
a. Pernyataan tentang maksud dan nilai-nilai
b. Manajemen strategis
c. Manajemen sumber daya manusia
d. Pengembangan organisasi
e. Konteks organisasi
f. Desain kerja
g. Fungsionalisasi
h. Budaya
i. Kerjasama
3. Perilaku Mendorong Kinerja
Perilaku adalah cara seseorang bertindak/melakukan. Karena dapat
menentukan apa yang akan dilakukan dalam setiap situasi, anda dapat
menentukan kinerja anda. Kinerja tingkat tinggi adalah hasil dari melakukan
sesuatu yang benar pada waktu tepat.
Prinsip yang perlu dijalankan untuk perubahan perilaku:
a. Perilaku mendorong kinerja
b. Penghubung perilaku dan kinerja adalah pekerjaan spesifik
c. Memulai perubahan dengan mengetahui perilaku sekarang
d. Ekspert yang sebenarnya adalah orang yang melakukan pekerjaan
e. Kepemilikan atas perubahan penting untuk sukses
f. Proses perubahan terbaik melalui pendekatan AT (Ask Them) dan
bukan TT (Tell Them)
g. Keberhasilan perubahan perilaku berdasar data yang dapat diamati dan
terukur (Robin Stuart-Kottze, 2006:19)
39
4. Model Kinerja
Menurut satelit model, kinerja organisasi diperoleh dari terjadinya integrasi
dari faktor pengetahuan, sumber daya bukan manusia, posisi strategis,
proses sumber daya manusia dan struktur. Kinerja dilihat sebagai
pencapaian tujuan dan tanggung jawab bisnis dan sosial dari perspektif
pihak yang mempertimbangkan. Faktor yang mempengaruhi kinerja antara
lain:
a. Personal Factors: ditunjukkan tingkat keterampilan, kompetensi yang
dimiliki, motivasi, dan komitmen individu.
b. Leadership Factor: ditentukan kualitas dorongan bimbingan, dan
dukungan yang dilakukan manajer dan team leader.
c. Team Factors: ditunjukkan kualitas dukungan yang diberikan
oleh
rekan sekerja.
d. Sistem Factors: ditunjukkkan adanya sistem kerja dan fasilitas yang
diberikan organisasi.
e. Contextual
tekanan
Situasional
lingkungan
Factors:
internal
ditunjukkan tingginya
dan
external
tingkat
(Armstrong
&.
Baron1998:16).
5. Indikator Kinerja
Indikator kinerja dipakai untuk aktivitas yang hanya ditetapkan secara
lebih kualitatif atas dasar prilaku yang dapat diamati. Indikator kinerja
menganjurkan sudut pandang prospektif (melihat ke belakang). Hal ini
menunjukkan aspek kinerja yang perlu diobservasi.
6. Kinerja Organisasi
Kinerja organisasi merupakan produk banyak faktor, termasuk stuktur
organisasi, pengetahuan, sumber daya bukan manusia, posisi strategis dan
proses sumber daya manusia. Kinerja memerlukan strategi, tujuan dan
integrasi.
7. Kinerja Individual dalam Kelompok
Kinerja dapat lebih baik dan meningkat.
40
a. Fasilitasi Sosial
Merupakan kecendrungan bahwa kehadiran orang lain kadang kadang
meningkatkan kinerja individu dan pada waktu lainnya menghalanginya
(Greenberg 8: Baron, 2003:284).
b. Social Loafing
Kecenderungan bagi anggota kelompok
untuk
menggunakan lebih
sedikit usaha individu pada tugas tambahan apabila ukuran kelompok
meningkat (Greenberg 8: Baron, 2003:248) sebagai berikut:
1. Make each performer identifiable: membuat masing-masing orang
yang melakukan kinerja dapat diidentifikasi.
2. Make work tasks more important and interesting: membuat tugas
pekerjaan menjadi lebih penting dan menarik.
3. Reward individual for contributting to their group's performance:
memberikan
penghargaan
kepada
individu
yang
memberikan
kontribusi pada kinerja kelompok.
4. Use punishment threats: menggunakan ancaman hukuman
2.4.5 Review Kinerja
1. Memahami Review
Review merupakan kelanjutan dari penilaian sehingga merupakan satu kesatuan,
sedangkan evaluasi juga mengandung makna menilai, tetapi dalam pembahasan
selanjutnya, evaluasi diarahkan pada penilaian akhir periode/akhir kinerja.
a. Pengertian review
Meninjau kembali/segala sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya, yang
menyangkut kebijakan, strategi, perencanaan dan pelaksanaan.
b. Tipe review
1) Self-assesment review
Pekerja
diberi
kesempatan
mengukur sendiri kinerjanya.
melakukan
review/kinerjanya
sendiri,
41
2) Top-down review
Review secara tradisional, dilakukan atasan untuk melihat seberapa jauh
bawahannya sudah melakukan pekerjaan.
3) Peer review
Penilain yang diminta dari rekan sekerja setingkat sehingga saling
bertindak sebagai mentor dan membantu memperbaiki kinerja.
4) Subordinate review
Bawahan memberi penilaian atas kinerja atasannya langsung.
5) Stakeholder review
Review yang dilakukan oleh mereka yang mernpunyai hubungan
kerja dengan organisasi, seperti: pelanggan dan pemasok.
6) 360-degree review
Review yang dilakukan semua orang/pihak yang mempunyai hubungan
kerja
dengan pekerja, oleh
atasan,
rekan
sekerja, stakeholder dan
bawahan.
c. Menetapkan sasaran
Dalam lingkungan di mana review dilakukan, dengan, alasan diuji untuk
memastikan ukuran kinerja, bersifat spesifik (specific), dapat diukur
(measurable), disepakati bersama (agreed upon), relevan (relevant), dan
mempunyai batas waktu (timebound), (SMART).
d. Frekuensi review
1) Tingkat komplikasi program
2) Tingkat antusiasme manajer terhadap program
3) Jumlah staf tersedia untuk mengkoordinasi program
4) Jumlah orang yang dinilai manajer
5) Keterampilan penilai (Kirkpatrick, 2006.22)
e. Segmen pekerjaan signifikan
42
f. Mengembangkan orang
Berdasarkan review terhadap kinerja bawahan dapat diketahui pengembangan
kemampuan pekerja seperti apa yang diperlukan dan membantu mencapai
sasarannya.
g. Menghargai keberhasilan
Review kinerja yang efektif memungkinkan, manajer menghargai prestasi
bawahan dan mendorong perbaikan kinerja terus menerus.
h. Mempersiapkan Review
a. Persiapan
b. Penilaian kinerja
c. Identifikasi tujuan
d. Merencanakan ke depan
e. Menciptakan lingkungan positif
f. Bersikap objektif
g. Merencanakan struktur
h. Mempersiapkan wawancara
Tujuan yang diinginkan untuk diselesaikan dalam wawancara: (1) mencatat
kesepakatan kinerja pekerja (2) mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan. (3)
mengidentifikasi bidang kinerja yang perlu diperbaiki (4) menyepakati rencana
perbaikan kinerja untuk satu bidang/lebih yang perlu perbaikan. (5) menyepakati
apa yang diharapkan untuk periode.
Perangkap dalam penilaian :
1) The hallo effect
Kecenderungan manajer menilai lebih tinggi orang yang menjadi favorit.
• Effect of record
• Compatibility
• Effect of recency
• The won-assets person
• The blind-sport effect
43
• The high-potencial effect
• The no-complain bias
2) The horn effect
Kecenderungan menilai orang lebih rendah dari keadaan sebenarnya,
karena:
• The manager is perfectionist
• The employee is contrary
• The oddball effect
• Membership in a weak tim
• The guilt-by-association effect
• The dramatic-incident effect
• The personality-trait effect
• The self-comparasion effect
2. Mengelola Review
a. Introdusi sesi
b. Menyepakati agenda
c. Mendorong diskusi
d. Bersikap praktis
e. Membaca tanda
f. Mengukur komitmen
g. Menangani situasi sulit
h. Menghadapi masalah kerja :
1) Kemampuan
2) Pelatihan
3) Motivasi
4) Gangguan
5) Pengasingan
i. Mendiskusikan pengembangan
j. Mendiskusikan aspirasi dan potensi
44
k. Merencanakan tindakan
l. Menyimpulkan review
3. Tindak Lanjut Review
a. Monitoring progress
Hasil review jangka
panjang bermanfaat,
progress harus
dimonitor dengan ketat.
1) Quick update
Review spontan, singkat, dan informal tanpa agenda.
2) Ad-hock review
Review singkat antara 10-15 menit untuk mendiskusikan
topik tertentu
3) Check point review
Rapat direncanakan
untuk
memonitor
tonggak
ukuran
seperti telah disepakati pekerja.
4) Evaluation review
Pertemuan formal dilakukan setiap akhir proyek untuk
mengukur efektivitasnya.
b. Implementasi rencana pengembangan
c. Mendorong Teamwork
d. Evaluasi diri
2.5
Produktivitas
2.5.1 Pengertian Produktivitas
Produktivitas kerja merupakan perbandingan antara pengukuran output
dengan pengukuran dari berbagai sumber daya yang digunakan (input) untuk
menghasilkan output tersebut.
Pengukuran
kontroversial,
dari
dimana
produktivitas
hasil
yang
sudah
lama menjadi
dikeluarkan
selalu
hal
yang
bernilai
kecil
(dirasakan tidak sesuai), hal ini dikarenakan mereka melihat banyak hal yang
45
kurang sempurna. Produktivitas merupakan konsep yang tersulit dalam dunia
bisnis dan ekonomi, hal ini dikarenakan kurangnya teori definisi kerja
(khususnya di level perusahaan).
Pihak manajemen sekarang sangat memperhatikan produktivitas
dikarenakan ia merupakan elemen penting dari efisiensi ketika mulai
dibandingkan dengan pesaing lain (Craig 1972). Ada beberapa alasan utama
mengapa produktivitas seharusnya diukur :
• Untuk tujuan strategis guna membandingkannya dengan pesaing lain
dalam bisnis yang sama.
• Untuk tujuan taktis, untuk memberikan masukan kepada manajemen guna
mengontrol produktivitas perusahaan dari fungsi ataupun produknya.
• Untuk tujuan perencanaan, untuk membandingkan keuntungan yang dicapai
dari penggunaan berbagai masukan ataupun perbedaan proporsi dari input
yang sama.
• Untuk tujuan internal manajemen, seperti pedoman untuk melakukan
tawar- menawar dengan karyawan.
Selain itu, produktivitas kerja mempunyai hubungan yang sangat erat dengan
motivasi. Semakin besar motivasi dan komitmen seseorang di dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan, akan semakin tinggi tingkat produktivitas yang
dapat dicapainya.
Hal lain yang juga sangat berpengaruh kepada tingkat produktivitas
seseorang adalah tingkat kemampuan seseorang (personal skill) di dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan. Semakin tinggi kemampuan seseorang,
serta ditunjang oleh motivasi dan komitmen yang tinggi, akan semakin tinggi
pula tingkat produktivitas yang dapat dihasilkannya.
2.5.2 Kinerja Karyawan
Menurut Stephen P. Robbins dalam bukunya “Organizational Behavior”
(2001, p6) menyebutkan bahwa secara sederhana kinerja karyawan adalah
46
fungsi dari interaksi antara kemampuan (ability) dan motivasi (motivation),
tetapi masih ada bagian yang masih hilang dari fungsi tersebut selain
kecerdasan dan keahlian dari seorang individu yang keduanya merupakan
bagian
dari
kemampuan
dan
motivasi dari setiap karyawan, yaitu
kesempatan.
ability
Performance
Motivation
Opportunity
Gambar 2.2 Model dari Kinerja
Motivasi kerja dan kemampuan merupakan faktor dalam diri
yang berpengaruh terhadap pembentukan kinerja. Vroom (1964) dan
Sustermeister (1976) mengusulkan persamaan dari kinerja (performance)
sebagai berikut:
Performance = Ability x Motivation
Untuk meningkatkan performa kerja/kinerja maka komponen dari
kemampuan atau motivasi harus ditingkatkan. Kinerja individu sangat penting
dalam mewujudkan suatu sinergi yang diperlukan dalam tim kerja - dari buku
47
"Personnel or Human Resource Management yang oleh ditulis Robert L.
Mathis dan John H Jackson, yang menyatakan bahwa individual performance
tergantung
• Kemauan karyawan untuk berusaha
• Pelatihan karyawan
• Kemampuan karyawan untuk melakukan hal yang diperlukan
Ada tiga perspektif dalam melihat kinerja individu yaitu productivity,
innovation, dan loyalty. Performa individu karyawan dapat disamakan
dengan efisiensi (Mathis, 1991).
Ability:
- Personality Factors
- Interest
Effort Incentives :
- Willingness to work
- Presence at work
- Self discipline to do the
job
Training:
- Knows what is expected
- Have skills necessary
- Know how to handle
problems
Performance
Gambar 2.3 Komponen Kerja Individu
Produktivitas dari individu memiliki komponen yang terdiri dari kemampuan
dimana terdapat unsur talenta, faktor internal perorangan, dan keinginan dari
setiap individu, komponen kedua yaitu usaha yang terdiri dari insentif,
kemampuan untuk bekerja dan kedisiplinan sedangkan komponen ketiga yaitu
latihan bahwa karyawan dapat mengetahui apa yang diharapkan dari
pekerjaannya serta mempunyai keahlian untuk mengatasi masalah dalam
pekerjaannya.
2.5.3 Pengukuran Produktivitas
Produktivitas
dapat
diukur
dengan
dua
standar
utama,
yaitu
produktivitas fisik dan produktivitas nilai. Secara fisik produktivitas diukur
48
secara kuantitatif seperti banyaknya keluaran (panjang, berat, lamanya waktu,
dan jumlah). Sedangkan berdasarkan nilai, produktivitas diukur atas dasar nilainilai kemampuan, sikap, perilaku, disiplin, motivasi dan komitmen terhadap
pekerjaan / tugas.
Pengukuran produktivitas merupakan suatu proses yang sangat penting
karena akan menjadi landasan dalam membuat kebijakan perbaikan
produktivitas secara keseluruhan dalam proses manajemen. Menurut Gasperesz
dalam Tjutju Yuniarsih (2009:163) ada beberapa kondisi prasyarat dalam
pengukuran produktivitas antara lain :
1.
Pengukuran harus dimulai pada permulaan program perbaikan
produktivitas. Berbagai masalah yang berkaitan dengan produktivitas
serta peluang untuk memperbaikinya
2.
Pengukuran produktivitas dilakukan pada sistem industry secara
keseluruhan
3.
Pengukuran produktivitas seharusnya melibatkan semua individu
yang terlibat dalam proses industri. Dengan demikian pengukuran
produktivitas bersifat partisipatif
4.
Pengukuran produktivitas seharusnya dapat memunculkan data. Data
itu nantinya dapat ditunjukkan atau ditampilkan dalam bentuk peta-peta,
diagram-diagram, tabel-tabel perhitungan statistik
Setiap organisasi apapun bentuknya, perlu mengetahui tingkat
produktivitas pegawai/karyawannya. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengukur
tingkat perbaikan produktivitas kerja pegawainya dari waktu ke waktu dengan
cara membandingkannya dengan produktivitas standar yang telah ditetapkan
oleh pimpinan. Gasperesz dalam Tjutju Yuniarsi (2009:164) mengemukakan
ada beberapa manfaat dalam pengukuran produktivitas dalam suatu organisasi
yang antara lain :
a. Organisasi dapat menilai efisiensi konversi penggunaan sumber daya,
agar dapat meningkatkan produktivitas
49
b. Perencanaan sumber daya akan menjadi lebih efektif dan efisien melalui
pengukuran produktivitas, baik dalam perencanaan jangka panjang maupun
jangka pendek
c. Tujuan ekonomis dan non ekonomis organisasi dapat diorganisasikan
kembali dengan cara memberikan prioritas yang tepat, dipandang dari sudut
produktivitas
d. Perencanaan target tingkat produktivitas di masa mendatang dapat
dimodifikasi
kembali
berdasarkan
informasi
pengukuran
tingkat
produktivitas sekarang
e. Strategi untuk meningkatkan produktivitas organisasi dapat ditetapkan
berdasarkan tingkat kesenjangan produktivitas (productivity gap) yang
ada di antara tingkat produktivitas yang diukur (actual productivity). Dalam
hal
ini
tingkat
produktivitas
akan
memberikan
informasi
dalam
mengidentifikasi masalah atau perubahan yang terjadi sebelum tindakan
korektif diambil
f. Pengukuran produktivitas menjadi informasi yang bermanfaat dalam
membandingkan tingkat produktivitas antar organisasi yang sejenis, serta
bermanfaat pula untuk informasi produktivitas organisasi pada skala
nasional atau global
g. Nilai-nilai produktivitas yang dihasilkan dari suatu pengukuran dapat
menjadi informasi yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan
organisasi
h. Pengukuran produktivitas akan menciptakan tindakan-tindakan kompetitif
berupa upaya peningkatan produktivitas secara terus menerus
2.6 Hubungan Antara Kompensasi dan Produktivitas
Peningkatan produktivitas yang dilaksanakan oleh perusahaan kepada
karyawannya dengan cara menyempurnakan sumber daya manusia. Adapun
cara menyempurnakan
sumber daya manusia tersebut
ialah
melalui
pembentukan motivasi sebagai salah satu faktor yang secara langsung dapat
50
berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas karyawan. Dan salah satu
cara memotivasi karyawan untuk meningkatkan produktivitas mereka adalah
dengan pemberian kompensasi yang sesuai dari perusahaan.
Motivasi akan timbul dari diri karyawan untuk bekerja sebaik mungkin
bila upah yang diberikan mereka rasakan tepat adanya. Dengan demikian
kompensasi dapat mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja karyawan.
Sebaliknya, pemberian kompensasi yang tidak tepat tidak akan meningkatkan
produktivitas kerja bahkan dapat menurunkan semangat dan kegairahan kerja
mereka.
Dengan kompensasi yang diterima oleh karyawan, mereka berharap
dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka secara minimal, misalnya kebutuhan
makan, minum, pakaian dan perumahan. Oleh karena itu, dalam proses
pemberian kompensasi kepada para karyawan setiap perusahaan harus
memperhatikannya sedemikian rupa sehingga kompensasi terendah yang
diberikan dapat memenuhi kebutuhan pokok para karyawan mereka. Hal
tersebut erat pengaruhnya karena jika kebutuhan pokok dari karyawan tidak
dapat dipenuhi, maka hal tersebut akan menurunkan produktivitas mereka.
Untuk itu diperlukan pemberian kompensasi yang adil dan layak sehingga
karyawan akan merasa diperhatikan oleh perusahaan. Bila karyawan merasa
diperhatikan umumnya karyawan akan berusaha untuk berbuat yang terbaik
bagi perusahaan, sehingga peningkatan kerja mereka yang terakumulasi akan
meningkatkan produktivitas perusahaan dan tujuan perusahaan pun akan
dapat dicapai.
Dari hasil uraian tersebut dapat kita lihat bahwa pemberian kompensasi
kepada karyawan erat hubungannya terhadap harapan akan peningkatan
produktivitas perusahaan atau sebuah organisasi.
2.7 Hubungan Antara Manajemen Kinerja dan Produktivitas
Peningkatan kinerja terhadap sumber daya manusia untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan. Proses ini melibatkan organisasi, arahan, koordinasi
51
dan evaluasi orang-orang guna mencapai tujuan-tujuan tersebut. Esensi
manajemen adalah aktivitas bekerja dengan orang lain agar mencapai berbagai
hasil. Melalui manajemen dilakukan proses pengintegrasian berbagai sumber
daya dan tugas untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan
(Simamora 2002).
Kinerja pada dasarnya merupakan hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Dalam hal ini, pegawai bisa belajar
seberapa besar kinerja mereka melalui sarana informasi seperti komentar baik
dari mitra kerja. Namun demikian penilaian kinerja yang mengacu kepada suatu
sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai dan mempengaruhi sifatsifat yang berkaitan dengan pekerjaan perilaku dan hasil termasuk tingkat
ketidakhadiran. Fokus penilaian kinerja adalah untuk mengetahui seberapa
produktif seorang pegawai dan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif
di masa yang akan datang.
Begitu pentingnya masalah kinerja pegawai ini, sehingga tidak salah
bila inti pengelolaan sumber daya manusia adalah bagaimana mengelola kinerja
SDM. Mengelola manusia dalam konteks organisasi berarti berarti mengelola
manusia agar dapat menghasilkan kinerja yang optimal bagi organisasi. Oleh
karenanya kinerja pegawai ini perlu dikelola secara baik untuk mencapai tujuan
organisasi, dan menjadi suatu konsep manajemen kinerja (performance
management) sehingga peningkatan kerja karyawan akan meningkatkan
produktivitas perusahaan dan tujuan perusahaan pun akan dapat dicapai.
Dari hasil uraian tersebut dapat kita lihat bahwa manajemen kinerja
kepada karyawan erat hubungannya terhadap harapan akan peningkatan
produktivitas perusahaan atau sebuah organisasi.
2.8 Kerangka Pikir
Proses pemberian kompensasi yang dilakukan secara adil dan layak oleh
perusahaan kepada para karyawan mereka diharapkan mampu memberi
52
motivasi kepada karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja mereka.
Dan pada akhirnya nanti akumulasi dari peningkatan produktivitas kerja para
karyawan ini akan mengindikasikan peningkatan produktivitas perusahaan. Dari
uraian singkat tersebut, maka penulis menjabarkan kerangka pikir yang akan
dijadikan pegangan dalam penelitian ini dalam gambar 2.4 di bawah ini:
Gambar 2.4
PT. Surya Madistrindo
Manajemen Kinerja
Kompensasi
Finansial
Langsung
Non Finansial
Tidak
Langsung
Pekerjaan
Produktivitas
2.9 Hipotesis
Dengan mengacu pada uraian latar belakang dan permasalahan, maka
diajukan hipotesis sebagai berikut:
2.9 Hipotesis
Dengan mengacu pada uraian latar belakang dan permasalahan, maka
diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 :
Kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produktivitas
Karyawan pada PT. Surya Madistrindo Area office Bogor
H2 :
Manajemen Kinerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Produktivitas Karyawan pada PT. Surya Madistrindo Area office Bogor
H3 :
Kompensasi dan Manajemen Kinerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap Produktivitas Karyawan pada PT. Surya Madistrindo Area
office Bogor
Lingkungan
53
H4 :
Kompensasi berpengaruh positif dan signifikan langsung dan tidak
langsung terhadap Produktivitas Karyawan pada PT. Surya Madistrindo
Regional Office Bogor
H5 :
Manajemen kinerja berpengaruh positif dan signifikan langsung dan
tidak langsung terhadap Produktivitas Karyawan pada PT.
Surya Madistrindo Regional Office Bogor
Download