BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1. Landasan Teori 2.1.1. Kualitas Produk (X1) 2.1.1.1. Pengertian Kualitas Kualitas menurut The American Society for Quality Control adalah keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk/jasa dalam hal kemampuan untuk memenuhi kebutuhankebutuhan yang telah ditentukan / bersifat laten (Lupiyoadi, 2001). Tjiptono (2004) merumuskan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi / melebihi harapan. Konsep itu sendiri sering dianggap sebagai ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri atas kualitas desain dan kualitas kesesuaian. Kualitas desain merupakan fungsi spesifikasi produk, sedangkan kualitas kesesuaian adalah suatu ukuran seberapa jauh produk mampu memberi persyaratan / spesifikasi kualitas yang telah ditetapkan (Tjiptono, 2004). Pada dasarnya terdapat 3 orientasi kualitas yang seharusnya konsisten satu sama lain: (1) persepsi konsumen, (2) produk dan (3) proses. Untuk produk – produk yang berwujud barang, ketiga orientasi ini hampir selalu dapat dibedakan dengan jelas, bahkan produk produknya adalah proses itu sendiri (Lupiyoadi, 2001). 8 9 2.1.1.2. Kualitas Produk. Produk adalah semua yang bisa ditawarkan dipasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen (Sumarni dan J. Supranto, 1997 dalam Tjiptono, 2005:95). Kualitas produk mencerminkan kemampuan produk untuk menjalankan tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan, kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam pengemasan, dan reparasi produk dan ciri-ciri lainnya (Kotler dan Armstrong, 2001:279). Mutu atau kualitas dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menentukan bahwa suatu barang dapat memenuhi tujuannya. Mutu atau kualitas merupakan tingkatan pemuasan suatu barang. Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk, antara lain : 1. Proses pembuatan produk dan perlengkapan serta pengaturan yang digunakan dalam proses produksi. 2. Aspek Penjualan. Apabila kualitas dari barang yang dihasilkan dari barang terlalu rendah akan dapat menyebabkan berkurangnya penjualan. Sebaliknya apabila kualitas dari barang yang dihasilkan dari barang terlalu tinggi membuat harga jual semakin mahal sehingga jumlah yang terjual karena kemampuan beli terbatas. 10 3. Perubahan Permintaan Konsumen. Konsumen atau pemakai sering menginginkan adanya perubahan-perubahan barang yang dipakainya baik berupa kuantitas maupun kualitas. 4. Peranan Inspeksi. Selain dapat mengawasi atau menjadi kualitas standar yang telah ditetapkan juga berusaha untuk memperkecil biaya produksi. Sedangkan menurut Assauri (1993:28), terdapat beberapa faktor mutu atau kualitas dari suatu produk antara lain adalah: 1. Fungsi suatu barang. Fungsi suatu barang yang dihasilkan hendaknya memperhatikan fungsi untuk apa barang tersebut digunakan atau dimaksudkan sehingga barang-barang yang dihasilkan dapat memenuhi fungsi tersebut. 2. Wujud luar. Salah satu faktor penting yang sering digunakan oleh konsumen dalam melihat suatu barang pertama kalinya untuk menentukan kualitas atau mutu adalah wujud luar dari barang tersebut. Faktor wujud luar suatu barang tidak hanya dilihat dari bentuk, tetapi juga warna, pembungkusan, dan lain-lain. 3. Biaya barang tersebut. Pada umumnya, biaya atau harga dari suatu produk akan dapat menentukan kualitas dari barang tersebut. Hal ini terlihat bahwa barang-barang yang mempunyai barang mahal dapat menunjukkan bahwa kualitas barang tersebut lebih baik. 11 2.1.1.3. Dimensi Pengukuran Kualitas Produk Menurut Guiltinan, et al., (2009:7) di dalam kualitas produk, terdapat 8 (delapan) dimensi, yakni : 1. Kinerja (performance) yang merupakan karakteristik dasar produk. Performance merupakan menjalankan fungsinya. tingkat Kinerja dimana produk (performance) mampu merupakan karakteristik operasi pokok dari produk inti (core product) yang dibeli. 2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), yang merupakan karakteristik pelengkap istimewa yang menambahkan penglainan pemakaian. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features), yaitu karakterisitk sekunder atau pelengkap. 3. Kehandalan (reliability), yang merupakan kemungkinan kegagalan produk dalam rencana waktu yang diberikan. Kehandalan (reliability) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai.. 4. Kesesuaian (conformance) yang merupakan derajat atau tingkat dimana sebuah barang atau jasa memenuhi penetapan suatu standar. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specification) yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi produk memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya.. 5. Daya Tahan (durability), yang merupakan jumlah penggunaan produk yang dapat diterima sebelum produk tersebut diganti. Daya 12 Tahan (durability) berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis penggunaan produk. (Tjiptono, 1999:26) 6. Service Ability, yang merupakan kecepatan dan kemudahan pembetulan, dan kehormatan serta kemampuan dari jasa individu. 7. Estetika, merupakan bagaimana penampilan produk, rasanya, suaranya, baunya. Estetika bisa juga diartikan dengan daya tarik produk terhadap panca indera. 8. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality), yang merupakan kualitas yang diambil dari reputasi penjualnya. Cap dagang dapat diidentifikasikan sebagai pembuat atau penjual produk. Brand atau cap dagang adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain atau kombinasi dari hal-hal tersebut yang mengidentifikasikan barang atau jasa dari suatu penjual atau grup dari penjual dan untuk membedakan mereka dari para kompetitor. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) yaitu citra dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Biasanya karena kurangnya pengetahuan atau informasi akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka seringkali pembeli mempersepsikan kualitas produk dari beberapa aspek, yaitu : harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya. Menurut Griffin (2005:42), ada beberapa tahap untuk mengelola kualitas suatu produk: 13 1. Perencanaan untuk kualitas. Meliputi dua hal yaitu kinerja kualitas, berkaitan dengan keistimewaan kinerja suatu produk dan keandalan kualitas, berkaitan dengan konsistensi kualitas produk dari unit ke unit. 2. Mengorganisasi untuk kualitas. Dalam memproduksi barang dan jasa yang berkualitas memerlukan suatu usaha dari seluruh bagian dalam organisasi. 3. Pengarahan untuk kualitas. Pengarahan kualitas berarti para manajer harus memotivasi karryawan untuk mencapai tujuan kualitas. 4. Pengendalian untuk kualitas. Dengan melakukan monitor atas produk dan jasa, suatu perusahaan dapat mendeteksi kesalahan dan membuat koreksinya. 2.1.2. Desain Produk (X2) Aspek desain dalam kegiatan pemasaran merupakan salah satu pembentuk daya tarik terhadap suatu produk. Desain dapat membentuk atau memberikan atribut pada suatu produk, sehingga dapat menjadi ciri khas pada merek suatu produk. Ciri khas dari suatu produk tersebut pada akhirnya akan dapat membedakannya dengan produk-produk sejenis merek lain dari pesaing (Kotler, 2001:19). Strategi desain produk berkaitan dengan tingkat standarisasi produk menurut Tjiptono (2008:116), perusahaan memiliki 3 (tiga) pilihan strategi, yaitu : Produk Standar. Perusahaan melakukan produksi secara massal guna meningkatkan skala ekonomis. 14 Produk dengan modifikasi (Customized Product) Produk disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan konsumen tertentu. Strategi ini digunakan untuk menyaingi produsen yang memproduksi secara massal melalui fleksibilitas desain produk. Produk Standar dengan modifikasi. Kombinasi dari kedua strategi di atas, produk standar dengan pengalaman dalam pengembangan produk yang baru. Melalui penerapan strategi-strategi ini diharapkan adanya peningkatan pertumbuhan, pangsa pasar, dan laba. Desain yang bagus akan menarik perhatian, memperbaharui performansi, menurunkan biaya, dan mengkomunikasikan nilai produk ke pasar sasaran, berkontribusi kepada manfaat dan akan menjadi daya tarik produk Dengan adanya beberapa pernyataan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa desain produk adalah masalah desain dari suatu produk telah menjadi salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian serius dari manajemen khususnya tim pengembangan produk baru, karena sasaran konsumen yang dituju tidak sedikit yang mulai mempersoalkan masalah desain suatu produk yang mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen 2.1.3. Harga (X3) 2.1.3.1. Pengertian Harga Harga yang merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang seringkali dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi konsumen dalam melakukan pembelian tidak bisa dikesampingkan oleh perusahaan. Swastha (2006) mendefinisikan harga sebagai sejumlah 15 uang (ditambah beberapa produk) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Dari definisi diatas dapat diketahui bahwa harga yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk layanan yang diberikan oleh penjual. Banyak perusahaan mengadakan pendekatan terhadap penentuan harga berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya. Adapun tujuan tersebut dapat berupa meningkatkan penjualan, mempertahankan market share, mempertahankan stabilitas harga, mencapai laba maksimum dan sebagainya. Sedangkan harga menurut Kotler dan Amstrong (2001) adalah sejumlah uang yang ditukarkan untuk sebuah produk atau jasa. Harga merupakan faktor penentu yang mempengaruhi pilihan pembelian, hal ini masih menjadi kenyataan di negara-negara dunia ketiga, di kalangan kelompok-kelompok sosial yang miskin, serta pada bahanbahan pokok sehari-hari. Namun dalam dasawarsa terakhir ini, faktor-faktor lain selain harga telah beralih menjadi relatif lebih penting dalam proses pembelian. Harga dapat menunjukkan kualitas merek dari suatu produk, dimana konsumen mempunyai anggapan bahwa harga yang mahal biasanya mempunyai kualitas yang baik. Pada umumnya harga mempunyai pengaruh yang positif dengan kualitas, semakin tinggi harga maka semakin tinggi kualitas. Konsumen mempunyai anggapan adanya hubungan yang positif antara harga dan kualitas suatu produk, maka mereka akan membandingkan antara produk yang satu dengan produk yang 16 lainnya, dan barulah konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk. Dengan adanya beberapa pendapat di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa harga adalah jumlah dari seluruh nilai yang konsumen tukarkan untuk jumlah manfaat dengan memiliki atau menggunakan suatu barang dan jasa. 2.1.3.2. Tujuan Penetapan Harga Menurut Saladin (2006:142-143) ada lima tujuan yang dapat diraihpeusahaan melalui penetapan harga yaitu sebagai berikut: 1. Bertahan Hidup (Survival) Pada kondisi tertentu (karena adanya kapasitas yang mengganggur, persaingan yang semakin gencar atau perubahan keinginan konsumen, atau mungkin juga kesulitan keuangan), maka perusahaan menetapkan harga jualnya dibawah biaya total produk tersebut atau dibawah harga pasar. Tujuannya adalah bertahan hidup jangka panjang, harus mencari jalan keluarnya yang lain. 2. Maksimalisasi Laba Jangka Pendek (Maximum Current Profit) Perusahaan merasa yakin bahwa dengan volume penjualan yang tinggi akan mengakibatkan biaya per unit lebih rendah dan keuntungan yang lebih tinggi. Perusahaan menetapkan harga serendah-rendahnya dengan asumsi bahwa pasar sangat peka terhadap harga. 17 3. Maksimalisasi Hasil Penjualan (Maximum Current Revenue) Untuk memaksimalisai penjualan, perusahaan perlu memahami fungsi permintaan. Banyak perusahaan berpendapat bahwa maksimalisasi hasil penjualan itu akan mengantarkan perusahaan memperoleh maksimalisasi laba dalam jangka panjang dan pertumbuhan bagian pasar. 4. Menyaring Pasar secara Maksimum (Maximum Market Skimming) Banyak perusahaan menetapkan harga untuk menyaring pasar. Hal ini dilakukan untuk menarik segmen-segmen baru. Mula-mula dimunculkan ke pasar produk baru yan harga tingginya, beberapa lama kemudian dimunculkan pula produk yang sama dengan harga yang lebih rendah (tentu saja disini ada perbedaannya). Menentukan Permintaan (Determinant Demand) Penetapan harga jual membawa akibat pada jumlah permintaan. Pada kurva permintaan in-elastic yang lebih kecil reaksinya jika dibandingkan dengan kurva permintaan elastic yag lebih besar reaksinya. 2.1.4. Loyalitas Pelanggan (Y) 2.1.4.1. Pengertian Loyalitas Pelanggan. Keberhasilan suatu merek untuk jangka panjang tidak didasarkan pada banyaknya konsumen yang melakukan pembelian sekali saja terhadap merek itu. Sebaliknya, merek dapat dikatakan berhasil bila memiliki konsumen yang setia, yang membeli atau menggunakan merek tersebut secara berulang. Loyalitas atau kesetiaan menunjukkan probabilitas seorang konsumen untuk 18 membeli atau memakai produk atau merek secara berulang dalam periode waktu tertentu (Istijanto, 2005:172). Griffin mendefinisikan bahwa loyalitas merupakan perilaku membeli (Griffin, 2005:31). Banyak perusahaan mengandalkan kepuasan pelanggan sebagai jaminan keberhasilan di kemudian hari, akan tetapi kemudin perusahaan kecewa ketika mendapati bahwa para pelanggannya yang merasa puas dapat berbelanja produk pesaing tanpa ragu – ragu. Sebaliknya Grifin menyatakan bahwa loyalitas pelanggan tampaknya merupakan ukuran yang lebih dapat diandalkan untuk memprediksi pertumbuhan penjualan dan keuangan.. Griffin (2005:31) menambahkan bahwa pelanggan yang loyal adalah orang yang: 1. Melakukan pembelian berulang secara teratur 2. Membeli antarlini produk dan jasa 3. Mereferensikan kepada orang lain 4. Menunjukkan kekebalan terhadap tarikan dari pesaing Oliver dalam Chauduri dan Holbrook (2001:52) mendefinisikan loyalitas pelanggan sebagai sebuah komitmen yang kuat untuk membeli ulang terhadap suatu produk atau jasa secara konsisten di waktu yang akan datang, dengan demikian menyebabkan perulangan pada merek yang sama atau membeli merek yang sama, walaupun kondisi situasional dan usaha-usaha pemasaran mempunyai pengaruh yang potensial dalam perilaku pemilihan (switching behaviour). 19 Pada dasarnya, pelanggan atau konsumen akan melakukan pembelian percobaan terhadap sebuah merek atau produk tertentu. Apabila puas mereka akan cenderung untuk melakukan pembelian berulang terhadap merek atau produk tersebut karena yakin bahwa merek tersebut aman dan terkenal. Sehingga dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa loyalitas pelanggan merupakan suatu ukuran keterikatan pelanggan terhadap sebuah produk tertentu dan cenderung setia dalam penggunaan produk tersebut. 2.1.4.2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Pelanggan Ada dua faktor yang mempengaruhi kesetiaan konsumen yaitu (Herman, 2008:16): a. Kepuasan konsumen atau delight (kesukaan). Beberapa orang percaya bahwa kepuasan konsumen yang tinggi akan mengarahkan konsumen menjadi loyal. b. Diferensiasi yang efektif. Konsumen mengetahui terdapat sesuatu yang bisa diperoleh dari konsumen melalui diferensiasi dan bahwa sesuatu itu sangat penting bagi mereka (efektif). Shoemaker dan Lewis (dalam Olsen dan Zhao, 2010:141) menjelaskan bahwa: “The customer feels strongly that you can best meet his or her relevant needs that your competition is virtually excluded from the consideration set and the customer buys almost exclusively from you-referring to you as their restaurant or their hotel. The customer focuses on your brand, offers, and messages to the exclusion of others. The price of the product or service is not 20 dominant consideration in the purchase decision, but only one component in the larger value proposition.” Pernyataan di atas bisa dijelaskan bahwa konsumen akan menjadi loyal dan memiliki keterikatan terhadap produk / merek / perusahaan jika produk / merek / perusahaan bisa memenuhi keinginan konsumen sehingga konsumen akan cenderung menggunakan layanan yang disediakan. Konsumen juga akan lebih terfokus pada merek, penawaran, dan pesan yang disampaikan. Dalam hal ini konsumen tidak lagi menjadikan harga sebagai faktor dominan yang mempengaruhi pengambilan keputusan pembelian, tetapi hanya menjadi bagian dari proposisi nilai yang lebih besar. Artinya adalah konsumen yang loyal akan berani membayar dengan harga yang lebih tinggi atas produk/merek karena konsumen telah memiliki perasaan yang sangat kuat terhadap produk/merek/perusahaan tersebut. Selain itu, beberapa penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kesetiaan konsumen di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Lee (2010) yang menunjukkan bahwa kepuasan konsumen, kualitas layanan, dan nilai-nilai yang dipersepsi konsumen merupakan faktor yang mempengaruhi kesetiaan konsumen. Selain itu, Hasil penelitian yang dilakukan oleh Erdil, Kitapci, dan Timurlenk (2010) dan Liang, Tseng, dan Lee (2010) menunjukkan bahwa kinerja layanan karyawan merupakan faktor yang secara positif memiliki pengaruh terhadap kesetiaan konsumen. Dengan demikian, faktor yang mempengaruhi kesetiaan konsumen adalah kepuasan konsumen 21 yang tinggi, manfaat produk yang unik, kualitas layanan, dan nilainilai yang dipersepsi konsumen, dan kinerja layanan karyawan. 2.1.4.3. Pengukuran Loyalitas Pelanggan. Berdasarkan definisi di atas maka dalam konsep kesetiaan terdapat aspek perilaku (behavioral) dan sikap (attitudes). Sebagaimana disebutkan juga oleh Buttle (2009:44) bahwa kesetiaan konsumen diukur dengan menggunakan dua pendekatan yaitu berdasarkan perilaku dan sikap. 1. Behavioural loyalty Aspek perilaku ditunjukkan dari adanya komitmen untuk melakukan pembelian (Eagly dan Chaiken, dalam Baron, Conway, dan Warnaby, 2010:46). Kesetiaan perilaku diukur dengan menggunakan referensi perilaku pembelian konsumen. Kesetiaan dalam hal ini diwujudkan dalam bentuk pembelian dan berlangganan. Terdapat dua aspek perilaku dalam kesetiaan yaitu (Buttle, 2009,:44): 1) Keaktifan konsumen 2) Perusahaan melakukan pemeliharaan melalui berbagi dengan konsumen. Dalam portofolio lingkungan pembelian di mana konsumen membeli produk dan jasa dari sejumlah (lebih besar atau lebih kecil) supplier, berbagi dengan konsumen merupakan hal penting. Beberapa perusahaan yang melakukan pemasaran secara langsung menggunakan RFM untuk 22 mengukur kesetiaan perilaku. Konsumen yang paling loyal adalah konsumen yang memiliki skor tinggi pada tiga variabel perilaku, yaitu (Buttle, 2009:45).: 1) Recency of purchase (R), yaitu waktu terakhir pembelian. 2) Frequency of purchase (F), yaitu frekuensi pembelian (jumlah pembelian pada periode tertentu). 3) Monetary value of purchase (M), yaitu nilai uang yang digunakan untuk melakukan pembelian pada periode tertentu. 2. Attitudinal loyalty Sikap merupakan tendensi psikologis yang diekspresikan melalui evaluasi keseluruhan dengan beberapa tingkatan derajat rasa suka dan tidak suka (Eagly dan Chaiken, dalam Baron, Conway, dan Warnaby, 2010:46). Sikap sendiri terdiri atas elemen atau domain, yaitu kognitif dan afektif. Elemen kognitif artinya bahwa individu akan mengetahui sesuatu terlebih dahulu sebelum individu tersebut bersikap. Elemen afektif yaitu ketika individu telah bisa merasakan favour atau disfavour yang artinya suka atau tidak suka (liking and disliking). Kesetiaan dalam bentuk sikap diukur dengan menggunakan referensi komponen sikap seperti kepercayaan, perasaan, dan niat pembelian. Konsumen yang memiliki preferensi yang lebih kuat terhadap produk layanan perusahaan 23 memiliki tingkat keterlibatan, atau komitmen terhadap supplier bisa dikategorikan sebagai konsumen yang memiliki kesetiaan dalam bentuk sikap (Buttle, 2009:45). 2.1.4.4. Tahapan Loyalitas Pelanggan. Kepuasan konsumen jangka panjang akan menciptakan kesetiaan konsumen. Kesetiaan berkembang mengikuti tahapantahapan yaitu, kognitif, afektif, dan konatif (Oliver, dalam Widjaja, 2009:60). Biasanya konsumen menjadi setia lebih dahulu pada aspek kognitifnya, kemudian pada aspek afektifnya, dan akhirnya pada aspek konatif. Ketiga aspek tersebut biasanya sejalan, meskipun tidak semua kasus mengalami hal yang sama. Definisi dari ketiga aspek tersebut adalah sebagai berikut: a. Kesetiaan Kognitif Kesetiaan pada level ini berdasarkan cognition semata, konsumen berdasarkan informasi yang diterima memperbandingkan produk/jasa yang satu dengan lainnya dengan pemilihan keputusan pada informasi yang paling menarik bagi konsumen. Tingkat kesetiaan pada tahap ini sangat labil dan konsumen sangat mudah berpindah. Kesetiaan kognitif lebih didasarkan pada karakteristik fungsional, terutama biaya, manfaat dan kualitas. Jika ketiga faktor tersebut tidak baik, konsumen akan mudah pindah ke produk lain. Konsumen yang hanya mengaktifkan tahap kognitifnya dapat dihipotesiskan sebagai konsumen yang 24 paling rentan terhadap perpindahan karena adanya rangsangan pemasaran. b. Kesetiaan Afektif Kesetiaan yang berdasarkan pada affect dan sangat bergantung pada tingkat kepuasan atau ketidakpuasan berdasarkan pada pengalaman konsumen menggunakan jasa/produk. Perlu menjadi catatan, tidak semua kepuasan konsumen menghasilkan kesetiaan. Kesetiaan pada tahap ini lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan cognitive, karena pengalaman yang terekam dalam benak konsumen. Sikap merupakan fungsi dari kognisi pada periode awal pembelian (masa sebelum konsumsi) dan merupakan fungsi dari sikap sebelumnya ditambah dengan kepuasan di periode berikutnya (masa setelah konsumsi). Pada kesetiaan afektif, kerentanan konsumen lebih banyak terfokus pada tiga faktor yaitu ketidakpuasan dengan merek yang ada, persuasi dari pemasar maupun konsumen merek lain, dan upaya mencoba produk lain. c. Kesetiaan Konatif Konasi menunjukkan suatu niat atau komitmen untuk melakukan sesuatu. Konsumen menjadi berkomitmen karena percaya dan benar-benar berkeinginan untuk membeli (intention) dan membeli kembali (repurchase) atau menjadi loyal. Niat merupakan fungsi dari niat sebelumnya (pada masa 25 sebelum konsumsi) dan sikap pada masa setelah konsumsi. Maka kesetiaan konatif merupakan suatu kesetiaan yang mencakup komitmen mendalam untuk melakukan pembelian. 2.2. Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Suwarni (2011) yang berjudul Pengaruh Pengaruh Kualitas Produk dan Harga terhadap Loyalitas melalui Kepuasan Konsumen. Penelitian ini diadakan di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang berjumlah 100 responden Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kualitas produk dan harga kartu prabayar yang ditawarkan oleh provider IM3 terhadap loyalitas penggunanya di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang melalui kepuasan pengguna sebagai intervening. Hasil penelitian menunjukkan (1) Terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk kartu prabayar IM3 terhadap kepuasan; 2) Terdapat pengaruh yang signifikan antara harga kartu prabayar IM3 terhadap kepuasan; (3) terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk terhadap loyalitas konsumen; (4) tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara harga kartu prabayar IM3 terhadap loyalitas konsumen; dan (5) terdapat pengaruh yang signifikan antara kepuasan terhadap loyalitas, yang dikarenakan harapan konsumen sesuai dengan layanan yang diberikan produk IM3, sehingga konsumen menjadi loyal. Persamaan antara penelitian Suwarni (2011) dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti ialah sama – sama dalam penggunaan variabel 26 bebas yaitu kualitas produk dan harga serta penggunaan variabel terikat yaitu loyalitas pelanggan. Tetapi pada penelitian ini, peneliti tidak menggunakan variabel kepuasan konsumen atau pelanggan sebagai variabel intervening. Selain itu penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah penelitian yang dilakukan oleh Sutrisni (2010). Penelitian ini berjudul Analisis Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Pelayanan, Desain Produk, Harga, dan Kepercayaan Terhadap Loyalitas Pelanggan Indosat IM3 Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh masing – masing variabel, kualitas produk (X1), kualitas pelayanan (X2), desain produk (X3), dan harga (X4 ) dan kepercayaan (X5) terhadap loyalitas pelanggan (Y). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100 orang, sedangkan pengumpulan data penelitian menggunakan teknik kuisioner Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah regresi linier sederhana (simple linear regression). Berdasarkan analisis data penelitian bahwa kelima faktor kualitas produk, kualitas pelayanan, desain produk, harga dan kepercayaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap loyalitas pelanggan. Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan bahwa lima variabel independen yang diteliti terbukti secara signifikan mempengaruhi variabel dependen loyalitas pelanggan. Kemudian melalui uji F dapat diketahui bahwa variabel kualitas produk, kualitas pelayanan, desain produk, harga, dan kepercayaan berpengaruh signifikan secara bersamasama dalam loyalitas pelanggan. Angka Adjusted R square sebesar 0,532 menunjukkan bahwa 53,2 persen variasi 27 loyalitas pelanggan bisa dijelaskan oleh kelima variabel independen yang digunakan dalam persamaan regresi. Sedangkan sisanya sebesar 46,8 persen dijelaskan oleh variabel lain diluar kelima variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian Sutrisni (2010) adalah sama-sama meneliti tentang pengaruh kualitas produk, desain produk, dan harga terhadap loyalitas pelanggan. Tetapi dalam penelitian ini nantinya peneliti tidak menggunakan variabel kualitas pelayanan, dan kepercayaan sebagai variabel bebasnya 2.3. Hubungan Antar Variabel Kotler (1993) mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, performansi dan cirri-ciri terbaik. Menurut Swastha (1999) salah satu faktor penting yang dapat membuat konsumen puas adalah kualitas produk. Pendapat ini sejalan dengan Hardiwan dan Mahdi (2005) yang menyatakan bahwa salah satu faktor penentu dalam menciptakan kesetiaan pelanggan adalah kepuasan dalam produk yang diberikan (dalam Nuraini, 2009). Konsumen yang memperoleh kepuasan dalam produk yang dibelinya cenderung melakukan pembelian ulang produk yang sama (Swastha, 1999). Lebih ekstrim lagi, para konsumen tersebut yang dalam penggunaan produk merasa terpuaskan pasti akan menjadi loyal. Kualitas produk yang baik akan menciptakan, mempertahankan kepuasan serta menjadikan konsumen yang loyal (Hardiwan dan Mahdi, 2005 dalam Nuraini, 2009). Selanjutnya jika kita hubungkan antara desain produk dengan loyalitas, maka desain yang baik dapat menarik perhatian, meningkatkan kinerja produk, 28 mengurangi biaya produksi dan memberi keunggulan bersaing yang kuat di pasar sasaran. Sementara itu, desain produk merupakan faktor yang akan sering memberikan kepada perusahaan sisi bersaingnya (Kotler, 2000). Keputusan membeli ulang dipengaruhi oleh desain produk. Dan salah satu karakteristik konsumen loyal adalah selalu melakukan pembelian ulang secara terus menerus (Kotler, 2006). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumen akan menjadi loyal pada merek-merek berkualitas tinggi jika produk-produk ditawarkan dengan harga yang wajar (Swastha, 1999). Selain itu kepekaan pembeli terhadap harga berkurang jika produk dianggap lebih bermutu, lebih bergengsi dan lebih bergengsi (Kotler, 2006). Dari sudut pandang konsumen, harga sering kali digunakan sebagai indikator nilai bilamana harga tersebut dihubungkan dengan manfaat yang dirasakan atas suatu barang/jasa, dengan demikian pada tinggi harga tertentu, nilai suatu barang/jasa akan meningkat seiring meningkatnya manfaat yang dirasakan. Sering kali pula dalam penentuan nilai suatu barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhannyadengan kemampuan barang/jasa substitusi (Tjiptono, 2002). 2.4. Kerangka Konseptual. Kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat diskemakan seperti pada gambar 2.1 di bawah ini: 29 Kualitas Produk (X1) Desain Produk (X2) Loyalitas Pelanggan (Y) Harga (X3) Gambar 2.1. Kerangka Konseptual Dalam kerangka konseptual di atas dapat dijelaskan bahwa anak panah satu persatu menuju ke arah variabel loyalitas pelanggan menunjukkan bahwa variabel kualitas produk, desain produk, dan harga berpengaruh secara parsial. Sedangkan anak panah yang diarahkan secara bersamaan menunjukkan bahwa kualitas produk, desain produk, dan harga berpengaruh secara simultan. 2.5. Hipotesis Penelitian. Berdasarkan dari paparan teoritis rumusan masalah yang telah dijelaskan, maka dengan ini peneliti dapat merumuskan hipotesis penelitiannya sebagai berikut : 1. Ada pengaruh positif signifikan dari kualitas produk, desain produk, dan harga terhadap loyalitas pelanggan PT. Goldfindo Intikayu Pratama secara simultan. . 2. Ada pengaruh positif signifikan dari kualitas produk, desain produk, dan harga terhadap loyalitas pelanggan PT. Goldfindo Intikayu Pratama secara parsial.