laporan pelaksanaan kegiatan - Repository | UNHAS

advertisement
LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN
PENYUSUNAN PERATURAN BUPATI TENTANG
SISTEM DAN PROSEDUR PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH
(SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH)
PADA PEMDA KABUPATEN JENEPONTO
PROVINSI SULAWESI SELATAN
Kerja sama
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Unhas
Dengan
Pemda Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2014
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
i
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan............. .............................................................
i
Surat Penugasan............. .....................................................................
ii
Eksekutif Summary............. .................................................................
iii
Kata Pengantar............. .......................................................................
v
I. Pendahuluan............. ........................................................................
1
A. Analisis Situasi............. ...............................................................
1
B. Kegiatan yang dilaksanakan............. ..........................................
4
C. Maksud dan Tujuan............. ...........................................................
5
II. Pelaksanaan Kegiatan ............. ......................................................
7
A. Metode Pelaksanaan............. .....................................................
7
B. Tahapan Pelaksanaan ............. ..................................................
8
C. Tempat Pelaksanaan ............. ........................................................
11
D. Pelaksana Kegiatan ............. ...................................................
11
III. Hasil Kegiatan ............. ...................................................................
12
A. Hasil (output) ............. .................................................................
12
B. Penerima Manfaat ............. ..........................................................
12
IV. Penutup ............. ............................................................................
13
Lampiran:
Peraturan
Bupati
Jeneponto
Tentang
Sistem
Akuntansi
Pemerintah Daerah
Lampiran 1 Sistem Akuntansi SKPD
Lampiran 2 Sistem Akuntansi SKPKD
Lampiran 3 Laporan Keuangan Konsolidasi
Lampiran 4 Bagun Akun Standar Pemda Kabupaten Jeneponto
Kontrak Kerja Sama
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
ii
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
iii
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
iv
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
v
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
vi
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
vii
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
viii
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
ix
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
x
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
xi
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
xii
EKSEKUTIF SUMMARY
Mulai Tahun Anggaran 2015 seluruh pemerintah daerah diwajibkan
menyusun laporan keuangan berbasis akrual. sesuai dengan amanah Peraturan
Pemerintah Nomor 70 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Untuk melaksanakan kewajiban tersebut dibutuhkan sistem dan prosedur
pengelolaan keuangan daerah yang mendukung peraturan tersebut. Sistem dan
prosedur tersebut, saat ini dikenal dengan istilah Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) sebagaimana yang dinyatakan dalam Lampiran II Permendagri
Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah.
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) merupakan suatu instrumen
penting yang harus disiapkan paling lambat Tanggal 30 Mei 2014 sesuai dengan
batas waktu yang telah ditetapkan pemerintah untuk penyusunan Sistem Akuntansi
Pemerintah Daerah (SAPD). Batas waktu tersebut ditetapkan pemerintah dalam
rangka implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) berbasis akrual mulai
Tahun Anggaran 2015. Namun kenyataannya masih terbatas daerah yang
menyiapkan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) sampai batas tanggal
tersebut. Ironisnya kondisi yang ada adalah payung hukum untuk melaksanakan
kewajiban tersebut belum dipersiapkan. Demikian juga dengan Pemerintah
Kabupaten Jeneponto, sistem akuntansi yang ada belum di sesuaikan dengan
kewajiban penyusunan laporan keuangan berbasis akrual.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peraturan bupati tentang sistem
akuntansi pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto sebagaimana diamanatkan
dalam ketentuan Pasal 6 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan juga dimanatkan dalam ketentuan
Pasal 6 ayat (4) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang
Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual pada Pemerintah
Daerah telah selesai dilaksanakan/disusun.
Penyusunan peraturan bupati ini, dimaksudkan untuk memberikan dasar
bagi aparatur Pemerintah Kabupaten Jeneponto dalam pencatatan, membukukan,
dan menyajikan laporan keuangan yang berbasis akrual baik pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) dan Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah
(SKPKD) sebagai entitas akuntansi maupun pemerintah daerah Kabupaten
Jeneponto sebagai entitas pelaporan. Dengan demikian, aparatur Pemerintah
Kabupaten Jeneponto memiliki kemampuan menyusun dan menyajikan laporan
keuangan yang sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang berbasis
akrual.
Tujuan disusun dan diterbitkannya Peraturan Bupati Kabupaten Jeneponto
tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah adalah untuk mewujudkan
pengelolaan dan pelaporan keuangan di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Jeneponto yang transparan dan tepat waktu.
Dari sisi perguruan tinggi, kegiatan ini dapat meningkatkan partisipasi
perguruan tinggi terkait dengan tri dhama perguruan tinggi yaitu penelitian dan
pengabdian. Kegiatan pengabdian ini merupakan salah satu sumbangsih perguruan
tinggi yang dapat membantu pemerintah daerah dalam penyempurnaan sistem di
bidang keuangan daerah. Tujuan akhirnya menciptakan sistem pemerintahan
daerah yang baik (good governace).
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
xiii
Penyusunan peraturan bupati tentang sistem akuntansi pemerintah daerah
dilakukan dengan menggunakan metode pelaksanaan sebagai berikut.
1. Pembentukan daftar inventarisasi masalah.
2. Pengumpulan data.
3. Focus Group Discussion (FGD).
4. Melakukan kajian atas prosedur akuntansi penerimaan kas, prosedur
akuntansi pengeluaran kas, prosedur akuntansi selain kas baik pada SKPD
maupun pada SKPKD, serta konsolidasian laporan keuangan antara SKPD
dan SKPKD untuk menghasilkan laporan keuangan pemerintah daerah.
5. Penyempurnaan dan finalisasi
Penyusunan peraturan bupati tentang Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) Kabupaten Jeneponto dilakukan melalui tahapan-tahapan
pelaksanaan untuk pencapaian indikator kinerja (keluaran) sebagai berikut.
1. Pembahasan rancangan peraturan bupati.
2. Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama.
3. Melakukan kajian atas pencatatan, pembukuan dan pelaporan, prosedur
akuntansi penerimaan kas, prosedur akuntansi pengeluaran kas, dan prosedur
akuntansi selain kas baik pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan
Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD).
4. Focus Group Discussion (FGD) tahap kedua
Tempat pelaksanaan kegiatan penyusunan Peraturan Bupati tentang
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) Kabupaten Jeneponto dilakukan di
Fakulyas Ekonomi Unhas dan pengumpulan data dilaksanakan di Kabupaten
Jeneponto dengan melibatkan tim surveyor.
Pelaksana kegiatan penyusunan Peraturan Bupati tentang Sistem
Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) Kabupaten Jeneponto dilaksanakan oleh
Program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk) Fakultas Ekonomi Universitas
Hasanuddin melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) Universitas
Hasanuddin.
Penerima manfaat dari penyusunan peraturan bupati tersebut adalah
seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Satuan Kerja Pengelolah
Keuangan Daerah (SKPKD) yang dapat dijadikan pedoman dalam melakukan
pencatatan, membukukan, dan menyajikan laporan keuangan yang berbasis akrual.
Dengan demikian, dengan adanya peraturan bupati tersebut diharapkan aparatur
Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto memiliki kemampuan menyusun dan
menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan standar akuntansi pemerintah
yang berbasis akrual.
Hasil (output) dari pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) telah dilaksanakan dengan menghasilkan output berupa Peraturan
Bupati (Perbup) Kabupaten Jeneponto Tentang Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) Berbasis Akrual. Peraturan bupati tersebut akan berlaku mulai
Tanggal 1 Januari 2015. Dengan demikian Laporan Keuangan Pemerintah
Kabupaten Jeneponto untuk Tahun Anggaran 2015 sudah berbasis akrual.
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
xiv
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah, penyusunan peraturan bupati tentang
sistem dan prosedur pengelolaan keuangan daerah Pemerintah
Kabupaten Jeneponto yang dikenal dengan istilah Sistem Akuntansi
Pemerintah Daerah (SAPD) sebagaimana yang dinyatakan dalam
Lampiran II Permendagri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan
Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP) Berbasis Akrual pada
Pemerintah Daerah telah selesai dilaksanakan/disusun sesuai
dengan rencana.
Tujuan adanya Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD)
Pemerintah Kabupaten Jeneponto dapat dijadikan dasar bagi
aparatur Pemerintah Kabupaten Jeneponto dalam melakukan
pencatatan, pembukuan, dan penyajian laporan keuangan yang
berbasis akrual baik pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
dan Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) sebagai
entitas akuntansi maupun Pemerintah Kabupaten Jeneponto sebagai
entitas pelaporan. Selain itu SAPD tersebut dapat mewujudkan
pengelolaan dan pelaporan keuangan di lingkungan Pemerintah
Kabupaten Jeneponto yang transparan dan tepat waktu.
Terima kasih disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten
Jeneponto yang telah menjalin kerjasama dengan Universitas
Hasanuddin.
Bagi
Universitas
Hasanuddin
kegiatan
tersebut
merupakan kegiatan pengabdian pada masyarakat. Untuk itu, ke
depan kiranya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Universitas Hasanuddin kembali diberikan kepercayaan untuk
menyelenggarakan
kegiatan
yang
dimaksud
yang
tidak
lain
merupakan tanggung jawab sosial Universitas.
Kerja sama antara Pemda Kabupaten Jeneponto dan Universitas Hasanuddin
xv
LAPORAN AKHIR
Nama Program
:
Nama Kegiatan
:
Keluaran (Output)
:
Pembentukan Regulasi
Penyusunan Peraturan Bupati tentang Sistem
dan Prosedur Akuntansi Keuangan Daerah
(Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah) Pada
Pemda Kabupaten Jeneponto
Rancangan Peraturan Bupati tentang Sistem
dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah
(Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah) Pada
Pemda Kabupaten Jeneponto
I. PENDAHULUAN
A. Analisis Situasi
Pemerintah Daerah selaku pihak yang diberikan mandat oleh rakyat untuk
mengelola
dan
menyelenggarakan
mempertanggung-jawabkan
kinerjanya
pemerintahan
kepada
di
rakyat.
daerah
Salah
satu
harus
model
pertanggung-jawaban kinerja pemerintah adalah dengan penyusunan laporan
keuangan.
Laporan keuangan yang dibuat pada akhir tahun anggaran oleh
pemerintah daerah merupakan salah satu mekanisme pertanggungjawaban
pemerintah
kepada
rakyat
untuk
memenuhi
tuntutan
transparansi
dan
akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Mulai Tahun Anggaran 2015 seluruh pemerintah daerah diwajibkan
menyusun laporan keuangan berbasis akrual. sesuai dengan amanah Peraturan
Pemerintah Nomor 70 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.
Untuk melaksanakan kewajiban tersebut dibutuhkan sistem dan prosedur
pengelolaan keuangan daerah yang mendukung peraturan tersebut. Sistem dan
prosedur tersebut, saat ini dikenal dengan istilah Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) sebagaimana yang dinyatakan dalam Lampiran II Permendagri
Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar
Akuntansi Pemerintahan
(SAP) Berbasis Akrual pada Pemerintah Daerah.
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) merupakan serangkaian
prosedur pencatatan dengan menggunakan akuntansi double entry melalui alatalatnya berupa buku jurnal, buku besar, neraca saldo, dan laporan keuangan itu
sendiri.
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) merupakan suatu
instrumen penting yang harus disiapkan paling lambat Tanggal 30 Mei 2014
sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan pemerintah untuk penyusunan
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD). Batas waktu tersebut ditetapkan
pemerintah dalam rangka implementasi Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
berbasis akrual mulai Tahun Anggaran 2015. Namun kenyataannya masih
terbatas daerah yang menyiapkan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD)
sampai batas tanggal tersebut. Ironisnya kondisi yang ada adalah payung hukum
untuk melaksanakan kewajiban tersebut belum dipersiapkan. Demikian juga
dengan Pemerintah Kabupaten Jeneponto, sistem akuntansi yang ada belum di
sesuaikan dengan kewajiban penyusunan laporan keuangan berbasis akrual.
Beberapa langkah persiapan perlu dilakukan oleh pemerintah daerah, salah
satu langkahnya adalah membentuk payung hukum daerah sebagaimana yang
diamanatkan oleh perundang-undangan di atasnya, selain perlu mempersiapkan
juga Sumber Daya Manusia (SDM) yang melaksanakan fungsi akuntansi dalam
pengelolaan keuangan daerah.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka peraturan bupati tentang sistem
akuntansi pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto sebagaimana diamanatkan
dalam ketentuan Pasal 6 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
tentang Standar Akuntansi Pemerintahan dan juga dimanatkan dalam ketentuan
Pasal 6 ayat (4) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang
Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual pada Pemerintah
Daerah telah selesai dilaksanakan/disusun.
B. Kegiatan yang Dilaksanakan
1. Uraian Kegiatan dan Keluaran
Penyusunan peraturan bupati tentang Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengabdian pada
masyarakat yang dilakukan oleh Program Pendidikan Profesi Akuntansi (PPAk)
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Dalam pelaksanaan kegiatan
tersebut keluaran yang
dihasilkan adalah tersusunnya peraturan bupati di
bidang keuangan daerah mengenai Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
(SAPD). Peraturan bupati tersebut akan dipergunakan dalam keseluruhan
kegiatan penyusunan laporan keuangan berbasis akrual, meliputi
Sistem
akuntansi anggaran, penerimaan kas, pengeluaran kas, pendapatan, belanja
dan beban, transfer, pembiayaan SKPKD, piutang, investasi SKPKD,
persediaan, asset, asset lainnya, kewajiban, ekuitas, jurnal koreksi dan
penyesuaian, penyajian kembali (restatement) neraca, siklus akuntansi pada
seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah (SKPKD) sebagai entitas akuntansi, serta konsolidasi
laporan keuangan SKPD dan SKPKD dalam rangka penyusunan dan penyajian
laporan keuangan pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto sebagai entitas
pelaporan.
2. Indikator Kinerja (Keluaran)
Indikator kinerja dari kegiatan penyusunan dan pembentukan peraturan
bupati
tentang
Sistem
Akuntansi
Pemerintah
Daerah
(SAPD)
yang
dilaksanakan oleh Program Pendidikan Profesi Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Hasanuddin adalah tersusun dan terbentuknya rancangan
peraturan bupati tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD)
Kabupaten Jeneponto.
C. Maksud dan Tujuan
1. Maksud Kegiatan
Penyusunan peraturan bupati ini, dimaksudkan untuk memberikan
dasar bagi aparatur Pemerintah Kabupaten Jeneponto dalam pencatatan,
membukukan, dan menyajikan laporan keuangan yang berbasis akrual baik
pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Satuan Kerja Pengelola
Keuangan Daerah (SKPKD) sebagai entitas akuntansi maupun pemerintah
daerah Kabupaten Jeneponto sebagai entitas pelaporan. Dengan demikian,
aparatur Pemerintah Kabupaten Jeneponto memiliki kemampuan menyusun
dan menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintah (SAP) yang berbasis akrual.
2. Tujuan Kegiatan
Tujuan disusun dan diterbitkannya Peraturan Bupati Kabupaten
Jeneponto tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah adalah untuk
mewujudkan pengelolaan dan pelaporan keuangan di lingkungan Pemerintah
Kabupaten Jeneponto yang transparan dan tepat waktu.
II. PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Metode Pelaksanaan
Penyusunan peraturan bupati tentang sistem akuntansi pemerintah daerah
dilakukan dengan menggunakan metode pelaksanaan sebagai berikut.
1. Pembentukan daftar inventarisasi masalah.
2. Pengumpulan data.
3. Focus Group Discussion (FGD).
4. Melakukan kajian atas prosedur akuntansi penerimaan kas, prosedur
akuntansi pengeluaran kas, prosedur akuntansi selain kas baik pada
SKPD maupun pada SKPKD, serta konsolidasian laporan keuangan
antara SKPD dan SKPKD untuk menghasilkan laporan keuangan
pemerintah daerah.
5. Penyempurnaan dan finalisasi
Maksud pelaksanaan metode tersebut agar penyusunan peraturan bupati
mengenai Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAPD) Pemda Kabupaten
Jeneponto terlaksana sesuai dengan maksud dan tujuannya.
B. Tahapan Pelaksanaan
Penyusunan peraturan bupati tentang Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) Kabupaten Jeneponto dilakukan melalui tahapan-tahapan
pelaksanaan untuk pencapaian indikator kinerja (keluaran) sebagai berikut.
5. Pembahasan rancangan peraturan bupati.
Pembahasan rancangan dilakukan pada minggu pertama setelah
penanda tangan kontrak kerjasama dengan melakukan iventarisasi masalah.
Pemerintah Kabupaten Jeneponto telah mempunyai sistem dan prosedur
pengelolaan keuangan. Namun sistem tersebut belum berbasis akrual sesuai
dengan diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor
tentang
tentang
Standar
Akuntansi
Pemerintahan,
71 Tahun 2010
yang
selanjutnya
ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013
tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual pada
Pemerintah Daerah.
6. Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama.
Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama dilaksanakan secara
internal penyusun pada Tanggal 9 Oktober 2014, Jam 19.00- 20.10 Wita,
bertempat di Fakultas Ekonomi Unhas, Jl. Kandea, Makassar, Sulawesi
Selatan. Focus group tersebut dihadiri oleh tim penyusun. Membicarakan
langka-langkah persiapan penyusunan peraturan bupati mengenai kebijakan
akuntansi Pemerintah Kabupaten Jeneponto dan pembagian tugas.
7. Melakukan kajian atas pencatatan, pembukuan dan pelaporan, prosedur
akuntansi penerimaan kas, prosedur akuntansi pengeluaran kas, dan prosedur
akuntansi selain kas baik pada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan
Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD).
Kajian tersebut meliputi identifikasi prosedur, menentukan pihak-pihak
terkait,
menentukan
dokumen
terkait,
menentukan
jurnal
standar,
menuangkannya dalam langkah teknis. Kajian dilakukan dengan berpedoman
pada beberapa hal sebagai berikut.
a. Permendagri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi
Pemerintah Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah pada Lampiran II
mengenai panduan penyusunan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah.
b. Batang tubuh dan lampiran dari Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun
2010 tentang tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya
ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun
2013 tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual
pada Pemerintah Daerah;
c. Buletin teknis dari Standar Akuntansi Pemerintahan yang dikeluarkan oleh
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan.
d. Peraturan Bupati Kabupaten Jeneponto yang terkait dengan penyusunan
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD).
8. Focus Group Discussion (FGD) tahap kedua
Focus Group Discussion (FGD) dimaksudkan untuk mengkompilasi tugastugas yang telah dibagikan pada focus group pertama lalu. Dilaksanakan pada
tanggal 8 November 2014, Jam 19.10- 21.15 Wita, di Fakultas Ekonomi
Unhas, Kampus Kandea,
Makassar, Sulawesi Selatan. Setelah dilakukan
kompilasi tugas-tugas diadakana penyempurnaan dan finalisasi.
C. Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan kegiatan penyusunan Peraturan Bupati tentang
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) Kabupaten Jeneponto dilakukan di
beberapa tempat sebagai berikut.
1. Focus Group
Discussion (FGD)
dilaksanakan ruang pertemuan kantor
Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin di Kandea, Makassar, Sulawesi
Selatan.
2. Pengumpulan data dilaksanakan di Kabupaten Jeneponto dengan melibatkan
tim surveyor.
3. Pengetikan naskah dilaksanakan oleh tim operator
D. Pelaksana Kegiatan
Penyusunan Peraturan Bupati tentang Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) Kabupaten Jeneponto dilaksanakan oleh Program Pendidikan
Profesi Akuntansi (PPAk) Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin melalui
Lembaga Penelitian dan Pengabdian (LP2M) Universitas Hasanuddin.
III. HASIL
A. Hasil (output)
Pelaksanaan penyusunan Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD)
telah dilaksanakan dengan menghasilkan output berupa Peraturan Bupati
(Perbup) Kabupaten Jeneponto Tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah
(SAPD) Berbasis Akrual. Peraturan bupati tersebut akan berlaku mulai Tanggal 1
Januari 2015. Dengan demikian Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten
Jeneponto untuk Tahun Anggaran 2015 sudah berbasis akrual.
B. Penerima Manfaat
Penerima manfaat dari penyusunan peraturan bupati tersebut adalah
seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Satuan Kerja Pengelolah
Keuangan Daerah (SKPKD) yang dapat dijadikan pedoman dalam melakukan
pencatatan, membukukan, dan menyajikan laporan keuangan yang berbasis
akrual. Dengan demikian, dengan adanya peraturan bupati tersebut diharapkan
aparatur Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto memiliki kemampuan
menyusun dan menyajikan laporan keuangan yang sesuai dengan standar
akuntansi pemerintah.
IV. PENUTUP
Penyusunan peraturan bupati tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah
(SAPD) Kabupaten Jeneponto telah selesai disusun. Dalam pelaksanaannya dapat
dikatakan bahwa penyelenggaraan penyusunan Sistem Akuntansi Pemerintah
Daerah (SAPD) Kabupaten Jeneponto berjalan sesuai dengan rencana.
Sistem ini dapat menjadi pedoman dalam penyusunan Laporan Keuangan
Tahun Anggaran 2015.
Sehinggga hasil akhir yang diharapkan dari penyusunan
kebijakan ini adalah membaiknya kualitas Laporan Keuangan Pemda Jeneponto
mulai Tahun Anggaran 2015. Selain itu dengan adanya sistem ini diharapkan akan
dapat menciptakan sistem pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan secara tertib,
taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung
jawab
dengan
memperhatikan
asas
keadilan,
kepatutan,
dan
bermanfaat bagi masyarakat di Pemda Kabupaten Jeneponto.
Dari sisi perguruan tinggi, kegiatan ini dapat meningkatkan partisipasi
perguruan tinggi terkait dengan tri dhama perguruan tinggi yaitu penelitian dan
pengabdian. Kegiatan pengabdian ini merupakan salah satu sumbangsih perguruan
tinggi yang dapat membantu pemerintah daerah dalam penyempurnaan sistem di
bidang keuangan daerah. Tujuan akhirnya menciptakan sistem pemerintahan daerah
yang baik (good governace).
PERATURAN BUPATI JENEPONTO
NOMOR 18 TAHUN 2014
TENTANG
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI JENEPONTO,
Menimbang
:
a.
bahwa dalam rangka penyusunan dan penyajian laporan keuangan
pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto, maka perlu dibentuk sistem
akuntansi pemerintah daerah berbasis akrual sebagaimana diatur
dalam Pasal 4 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010
Standar Akuntansi Pemerintahan.
b. bahwa untuk melaksanakan penyusunan laporan keuangan yang
berbasis akrual, perlu meninjau kembali Peraturan Bupati Jeneponto
Nomor 06 Tahun 2007 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan
Keuangan Daerah Kabupaten Jeneponto;
c.
bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 98 Peraturan
Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah, Pasal 6 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 71 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan, dan Pasal 6 ayat (4) Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penerapan
Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Akrual Pada Pemerintah
Daerah, perlu menetapkan Peraturan Bupati Jeneponto tentang Sistem
Akuntansi Pemerintah Daerah yang mengacu pada pedoman umum
Sistem Akuntansi Pemerintahan.
d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf
a dan huruf b di atas, maka perlu menetapkan Peraturan Bupati
tentang Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto.
Mengingat :
1.
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang
Pembentukan
Daerah Tingkat II di Sulawesi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1959 Nomor 74 Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 1822);
2. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari
Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4286);
4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4355);
5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4400);
6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
7. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 tentang
Pembentukan
Peraturan
Perundang-undangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82); dan
8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 5587).
9. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang
Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4576);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang
Laporan Keuangan Dan Kinerja Instansi Pemerintah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4614);
12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39
Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Uang/Negara Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara 4738);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 127,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4890);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang
Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 5165, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah,
sebagainana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan
Kedua atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13
Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah;
16. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013
tentang Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan
Berbasis Akrual Pada Pemerintah Daerah (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1425);
17. Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten
Jeneponto Tahun 2008 Nomor 14).
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
: PERATURAN BUPATI JENEPONTO TENTANG SISTEM
AKUNTANSI
PEMERINTAH
DAERAH
KABUPATEN
JENEPONTO
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan:
1.
Daerah adalah Daerah Kabupaten Jeneponto.
2.
Bupati adalah Bupati Jeneponto.
3.
Pemerintah Daerah adalah Bupati beserta perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
4.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, selanjutnya disingkat DPRD adalah
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jeneponto.
5.
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat PPKD
adalah Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah yang mempunyai
tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara
umum daerah.
Satuan Kerja Perangkat Daerah, selanjutnya disingkat SKPD adalah
perangkat daerah pada Kabupaten Jeneponto selaku pengguna
anggaran/pengguna barang.
6.
7.
Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah, selanjutnya disingkat SKPKD
adalah adalah perangkat daerah pada Kabupaten Jeneponto selaku
pengguna anggaran/pengguna barang, yang juga melaksanakan
pengelolaan keuangan daerah.
8.
Pengguna Anggaran/Barang adalah pejabat pemegang kewenangan
penggunaan anggaran/barang milik daerah untuk melaksanakan tugas
pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya.
9.
Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD yang selanjutnya disingkat PPKSKPD adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan
pada SKPD.
10. Entitas akuntansi adalah SKPD dan SKPKD pada pemerintah Kabupaten
Jeneponto yang mengelola anggaran, kekayaan, dan kewajiban yang
menyelenggarakan akuntansi dan menyajikan laporan realisasi anggaran
dan laporan keuangan atas dasar akuntansi yang diselenggarakannya.
11. Entitas pelaporan adalah Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto yang
terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan
peraturan
perundang-undangan
wajib
menyajikan
laporan
pertanggungjawaban, berupa laporan pelaksanaan anggaran dan laporan
keuangan yang bertujuan umum
12. Akuntansi
adalah
proses
identifikasi,
pencatatan,
pengukuran,
pengklasifikasian, pengikhtisaran transaksi dan kejadian keuangan,
penyajian laporan serta penginterpretasian atas hasilnya.
13. Standar Akuntansi Pemerintahan yang selanjutnya disingkat SAP adalah
prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan
menyajikan laporan keuangan pemerintah.
14. Kebijakan Akuntansi adalah prinsip-prinsip, dasar-dasar, konvensikonvensi, aturan-aturan dan praktik-praktik spesifik yang dipilih dalam
penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
15. Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat SAPD
adalah rangkaian sistematik dari prosedur, penyelenggara, peralatan dan
elemen lain untuk mewujudkan fungsi akuntansi sejak analisis transaksi
sampai dengan pelaporan keuangan di lingkungan organisasi
pemerintahan daerah.
16. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disingkat
APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang
dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD, dan
ditetapkan dengan peraturan daerah.
17. Basis Akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi
dan peristiwa lainnya pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi, tanpa
memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.
18. Basis Kas adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan
peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar.
19. Pengakuan adalah proses penetapan terpenuhinya kriteria pencatatan
suatu kejadian atau peristiwa dalam catatan akuntansi sehingga akan
menjadi bagian yang melengkapi unsur aset, kewajiban, ekuitas,
pendapatan-LRA, belanja, pembiayaan, pendapatan-LO dan beban,
sebagaimana akan termuat pada laporan keuangan entitas pelaporan yang
bersangkutan.
20. Pengukuran adalah proses penetapan nilai uang untuk mengakui dan
memasukkan setiap pos dalam laporan keuangan.
21. Pengungkapan adalah laporan keuangan yang menyajikan secara lengkap
informasi yang dibutuhkan oleh pengguna.
22. Laporan Realisasi Anggaran yang selanjutnya disingkat LRA adalah
laporan yang menyajikan informasi realisasi pendapatan-LRA, belanja,
transfer, surplus/defisit-LRA, pembiayaan, dan sisa lebih/kurang
pembiayaan anggaran, yang masing-masing diperbandingkan dengan
anggarannya dalam satu periode.
23. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih yang selanjutnya disingkat
LPSAL adalah laporan yang menyajikan informasi kenaikan dan
penurunan SAL tahun pelaporan yang terdiri dari SAL awal, SiLPA/SiKPA,
koreksi dan SAL akhir.
24. Neraca adalah laporan yang menyajikan informasi posisi keuangan suatu
entitas pelaporan mengenai aset, utang dan ekuitas dana pada tanggal
tertentu.
25. Laporan Operasional yang selanjutnya disingkat LO adalah laporan yang
menyajikan informasi mengenai seluruh kegiatan operasional keuangan
entitas pelaporan yang tercermin dalam pendapatan-LO, beban dan
surplus/defisit operasional dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya
disandingkan dengan periode sebelumnya.
26. Laporan Arus Kas yang selanjutnya disingkat LAK adalah laporan yang
menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan, perubahan kas dan
setara kas selama satu periode akuntansi, serta saldo kas dan setara kas
pada tanggal pelaporan.
27. Laporan Perubahan Ekuitas yang selanjutnya disingkat LPE adalah
laporan yang menyajikan informasi mengenai perubahan ekuitas yang
terdiri dari ekuitas awal, surplus/defisit-LO, koreksi dan ekuitas akhir.
28. Catatan atas Laporan Keuangan yang selanjutnya disingkat CaLK adalah
laporan yang menyajikan informasi tentang penjelasan atau daftar terinci
atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam LRA, LPSAL, LO,
LPE, Neraca dan LAK dalam rangka pengungkapan yang memadai.
29. Konsolidasi adalah proses penggabungan antara akun-akun yang
diselenggarakan oleh suatu entitas akuntansi dengan entitas akuntansi
lainnya, dengan mengeliminasi akun-akun timbal balik agar dapat
disajikan sebagai satu entitas pelaporan konsolidasian.
30. Laporan keuangan konsolidasian adalah suatu laporan keuangan yang
merupakan gabungan keseluruhan laporan keuangan entitas akuntansi
sehingga tersaji sebagai satu entitas tunggal.
31. Pendapatan-LRA adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Daerah
yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran
yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah daerah dan tidak perlu
dibayar kembali oleh pemerintah daerah.
32. Pendapatan-LO adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai
penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan dan
tidak perlu dibayar kembali.
33. Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang
mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran
bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh
pemerintah daerah.
34. Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa dalam
periode pelaporan yang menurunkan ekuitas, yang dapat berupa
pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban.
35. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran
berikutnya.
36. Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh
pemerintah daerah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana
manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat
diperoleh, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat serta dapat
diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang
diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumbersumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
37. Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi
pemerintah daerah.
38. Ekuitas adalah kekayaan bersih pemerintah daerah yang merupakan
selisih antara aset dan kewajiban pemerintah daerah.
39. Koreksi adalah tindakan pembetulan secara akuntansi agar akun/pos
yang tersaji dalam laporan keuangan entitas menjadi sesuai dengan yang
seharusnya.
40. Penyesuaian adalah transaksi penyesuaian pada akhir periode untuk
mengakui pos-pos seperti persediaan, piutang, utang dan yang lain yang
berkaitan dengan adanya perbedaan waktu pencatatan dan yang belum
dicatat pada transaksi berjalan atau pada periode yang berjalan.
41. Bagan Akun Standar,yang selanjutnya disingkat BAS, adalah kode
perkiraan buku besar akuntansi yang terdiri dari kumpulan akun nominal
dan akun riil secara lengkap yang digunakan di dalam pembuatan jurnal,
buku besar, neraca lajur, neraca percobaan, dan laporan keuangan.
BAB II
TUJUAN DAN RUANG LINGKUP
Pasal 2
Sistem akuntansi pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto bertujuan memuat
pilihan prosedur dan teknik akuntansi dalam penyusunan dan penyajian
laporan keuangan.
Pasal 3
(1)
Ruang lingkup yang diatur dalam sistem akuntansi pemerintah daerah ini,
meliputi:
a. Sistem akuntansi anggaran
b. Sistem akuntansi penerimaan kas
c. Sistem akuntansi pengeluaran kas
d. Sistem akuntansi pendapatan
e. Sistem akuntansi belanja dan beban
f. Sistem Akuntansi Transfer
g. Sistem Akuntansi Pembiayaan SKPKD
h. Sistem akuntansi piutang
i. Sistem akuntansi Investasi SKPKD
j. Sistem akuntansi persediaan
k. Sistem akuntansi aset
l. Sistem akuntansi asset lainnya
m. Sistem akuntansi kewajiban
n. Sistem akuntansi ekuitas
o. Sistem akuntansi jurnal koreksi dan penyesuaian
p. Sistem akuntansi penyajian kembali (restatement) neraca
q. Siklus akuntansi
(2)
Sistem akuntansi pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern sesuai
dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengendalian
internal dan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi
pemerintahan.
Pasal 4
(1)
SAPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 terdiri atas:
a. sistem akuntansi SKPD;
b. sistem akuntansi SKPKD;
c. laporan Keuangan Konsolidasian; dan
d. bagan akun standar.
(2)
Sistem akuntansi SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a
mencakup teknik pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas
pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, aset, kewajiban,
ekuitas, penyesuaian dan koreksi serta penyusunan laporan keuangan
SKPD.
(3)
Sistem akuntansi SKPKD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
mencakup teknik pencatatan, pengakuan dan pengungkapan atas
pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA, belanja, transfer, pembiayaan,
aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian dan koreksi, penyusunan laporan
keuangan SKPKD serta penyusunan laporan keuangan konsolidasian
pemerintah daerah.
BAB III
PENERAPAN SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
Pasal 5
(1)
Pemerintah Kabupaten Jeneponto
pemerintah daerah berbasis akrual.
menerapkan
sistem
akuntansi
(2)
Sistem akuntansi pemerintah daerah berbasis akrual sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) pada SKPD, tercantum dalam Lampiran I sebagai
bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(3)
Sistem akuntansi pemerintah daerah berbasis akrual sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) pada SKPKD, tercantum dalam Lampiran II
sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(4)
Laporan Keuangan Konsolidasian yang merupakan gabungan keseluruhan
laporan keuangan entitas akuntansi sehingga tersaji sebagai satu entitas
tunggal, tercantum dalam Lampiran III sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(5)
Bagan Akun Standar Pemerintah Daerah (BAS) sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 huruf d sebagai menjadi pedoman bagi pemerintah daerah
dalam melakukan kodefikasi mencakup akun-akun yang menggambarkan
struktur laporan keuangan secara lengkap.
(6) BAS sebagaimana dimaksud pada ayat (5) terdiri atas level 1 sampai
dengan level 5, meliputi:
i. level 1 (satu) menunjukkan kode akun;
ii. level 2 (dua) menunjukkan kode kelompok;
iii. level 3 (tiga) menunjukkan kode jenis;
iv. level 4 (empat) menunjukkan kode obyek; dan
v. level 5 (lima) menunjukkan kode rincian obyek.
(7) Kode akun sebagaimana dimaksud pada ayat (6) huruf a terdiri atas:
a. akun 1 (satu) menunjukkan aset;
b. akun 2 (dua) menunjukkan kewajiban;
c. akun 3 (tiga) menunjukkan ekuitas;
d. akun 4 (empat) menunjukkan pendapatan-LRA;
e. akun 5 (lima) menunjukkan belanja;
f. akun 6 (enam) menunjukkan transfer;
g. akun 7 (tujuh) menunjukkan pembiayaan;
h. akun 8 (delapan) menunjukkan pendapatan-LO; dan
i. akun 9 (sembilan) menunjukkan beban.
(8) BAS sebagaimana dimaksud pada dalam ayat (6) digunakan di dalam pencatatan
transaksi
pada
buku
jurnal,
pengklasifikasian
pada
buku
besar
pengikhtisaran pada neraca saldo, dan penyajian pada laporan keuangan.
dan
(9)
BAS sebagaimana dimaksud pada ayat (7) tercantum dalam Lampiran IV
yang merupakan bagian tidah terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(10) Penyusunan laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3
memuat pilihan prosedur dan teknik akuntansi dalam melakukan
identifikasi transaksi, pencatatan pada jurnal, pemindahan pencatatan
pada jurnal (posting) kedalam buku besar, penyusunan neraca saldo dan
laporan keuangan.
(11) Entitas akuntansi menyajikan laporan keuangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), terdiri atas:
a. laporan realisasi anggaran;
b. neraca;
c. laporan operasional;
d. laporan perubahan ekuitas; dan
e. catatan atas laporan keuangan.
(12) Entitas pelaporan menyajikan laporan keuangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), terdiri atas:
a. laporan realisasi anggaran;
b. laporan perubahan saldo anggaran lebih;
c. neraca;
d. laporan operasional;
e. laporan arus kas;
f. laporan perubahan ekuitas; dan
g. catatan atas laporan keuangan.
BAB IV
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 6
(1) Pencatatan transaksi pelaksanaan anggaran disesuaikan dengan dokumen
anggaran.
(2) Dalam hal kodefikasi akun dokumen anggaran belum sesuai dengan BAS
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (7), pemerintah daerah dapat
melakukan konversi dalam penyajian LRA.
LAMPIRAN I
PERATURAN BUPATI JENEPONTO
NOMOR 87 TAHUN 2014
TENTANG
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
SISTEM AKUNTANSI SKPD
A. UMUM
Sistem Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) merupakan suatu instrumen
penting yang harus disiapkan dalam rangka implementasi Sistem Akuntansi
Pemerintahan (SAP) berbasis akrual. SAPD sebagai alat untuk mewujudkan
prinsip-prinsip dasar yang telah ditetapkan oleh SAP dan kebijakan
akuntansi menjadi serangkaian prosedur pencatatan dengan menggunakan
akuntansi double entry melalui alat-alatnya berupa buku jurnal, buku
besar, neraca saldo, dan laporan keuangan itu sendiri.
Sistem akuntansi SKPD mencakup teknik pencatatan, pengakuan dan
pengungkapan atas anggaran, pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA,
belanja, aset, kewajiban, ekuitas, penyesuaian dan koreksi serta
penyusunan laporan keuangan SKPD.
Klasifikasi
Dalam sistem akuntansi SKPD, PPK-SKPD melakukan pencatatan
transaksi-transaksi dan/atau kejadian keuangan yang berkaitan dengan:
a. Sistem akuntansi anggaran
b. Sistem akuntansi penerimaan kas
c. Sistem akuntansi pengeluaran kas
d. Sistem akuntansi pendapatan
e. Sistem akuntansi belanja dan beban
f. Sistem akuntansi piutang
g. Sistem akuntansi persediaan
h. Sistem aset
i. Sistem asset lainnya
j. Sistem akuntansi kewajiban
k. Sistem akuntansi ekuitas
l. Sistem akuntansi jurnal koreksi dan penyesuaian
m. Sistem akuntansi penyajian kembali (restatement) neraca
n. Siklus akuntansi
B. SISTEM AKUNTANSI ANGGARAN PADA SKPD
Akuntansi
anggaran
merupakan
teknik
pertanggungjawaban
dan
pengendalian manajemen yang digunakan untuk membantu pengelolaan
pendapatan dan belanja pada SKPD.
Anggaran pendapatan meliputi estimasi pendapatan yang dijabarkan
menjadi alokasi estimasi pendapatan. Anggaran belanja terdiri dari
apropriasi yang dijabarkan menjadi otorisasi kredit anggaran (allotment).
Pencatatan anggaran pada SKPD merupakan tahap persiapan sistem
akuntansi pemerintah daerah. Pada tahap ini dilakukan pencatatan untuk
merekam data anggaran yang akan membentuk estimasi perubahan SAL.
Estimasi perubahan SAL ini merupakan akun perantara yang berguna
dalam rangka pencatatan transaksi realisasi anggaran.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi anggaran SKPD adalah:
a)
Pengguna Anggaran
b)
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPD)
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
Akuntansi anggaran diselenggarakan pada saat DPA-SKPD disahkan oleh
Sekretaris Daerah selaku Koordinator Tim Anggaran Pemerintah Daerah
(TAPD) dan PPKD.
Pengakuntansian anggaran menjadi opsional bagi PPK-SKPD yakni dapat
dibuat jurnal anggaran atau tidak.
Apabila anggaran diakuntasikan, maka berdasarkan dokumen Pelaksanaan
Anggaran SKPD (DPA-SKPD) yang telah disahkan, PPK-SKPD mencatat
"Estimasi Pendapatan" di debit sebesar total anggaran pendapatan, dan
"Apropriasi Belanja" di kredit sebesar total anggaran belanja. Selisih antara
anggaran pendapatan dan anggaran belanja dicatat "Estimasi Perubahan
SAL" di debit. Atas transaksi di atas, PPK-SKPD membuat Bukti Memorial
(BM) selanjutnya berdasarkan BM tersebut mencatat pada jurnal umum,
sebagai berikut:
Laporan Operasional
(LO) & Neraca
Dokumen
yang
Mendasari
Uraian
Bukti Memorial
dan DPA 1, DPA
2.1 dan DPA 2.2
Tidak
ada
jurnal
Debet
Kredit
LRA
Uraian
Debet
Estimasi Pendapatan LRA.
Estimasi Perubahan SAL
Apropriasi Belanja
XXX
XXX
Kredit
XXX
Menutup Akun Anggaran
Pada akhir tahun anggaran PPK-SKPD membuat BM untuk menutup akun-akun
anggaran. Berdasarkan BM tersebut, PPK-SKPD mencatat pada jurnal umum
untuk menutup untuk akun anggaran, sebagai berikut:
Laporan Operasional
(LO) & Neraca
Dokumen
yang
Mendasari
Uraian
Bukti Memorial
dan DPA 1, DPA
2.1 dan DPA 2.2
Tidak
ada
jurnal
Debet
LRA
Kredit
Uraian
Debet
Apropriasi Belanja
Estimasi
Pendapatan LRA.
Estimasi Perubahan
SAL
XXX
Kredit
XXX
XXX
Menutup akun-akun LRA
Pada akhir tahun anggaran PPK-SKPD membuat BM untuk menutup
akun-akun pendapatan LRA dan belanja, serta untuk menutup akun-akun
pendapatan LO dan beban. Berdasarkan BM tersebut, PPK-SKPD mencatat
pada jurnal umum sebagai berikut:
Ÿ Apabila jumlah Pendapatan LRA lebih kecil dari jumlah Belanja, serta
jumlah Pendapatan LO lebih kecil dari jumlah Beban.
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
Memorial
Ÿ
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet
Pendapatan
LO
Defisit
Beban ….
XXX
XXX
Kredit
XXX
LRA
Uraian
Debet
Pendapatan LRA
Estimasi
Perubahan SAL
Belanja …
Kredit
XXX
XXX
XXX
Apabila jumlah Pendapatan LRA lebih besar dari jumlah Belanja, serta
jumlah Pendapatan LO lebih besar dari jumlah Beban.
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
Memorial
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet
Pendapatan
LO
Beban ….
Surplus
XXX
Kredit
XXX
XXX
LRA
Uraian
Pendapatan LRA
Belanja ….
Estimasi
Perubahan
SAL
Debet
Kredit
XXX
XXX
XXX
C. SISTEM AKUNTANSI PENERIMAAN KAS
Definisi
Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPD meliputi serangkaian
proses mulai dari identifikasi transaksi, pencatatan, pengikhtisaran, sampai
dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam
rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan
secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Prosedur akuntansi penerimaan kas, terdiri atas:
a. Prosedur penerimaan kas oleh bendahara penerimaan SKPD.
b. Prosedur penerimaan kas oleh bendahara pengeluaran SKPD.
Dokumen yang Digunakan
a. SKP Daerah/SKR Daerah/Bukti Terima Kas (BTK)/Dokumen Lain yang
dipersamakan.
b. SP2D-UP/GU, TU; Bukti Potong Pajak, Bukti Pengembalian Panjar dari
PPTK.
Jurnal Standar
a. Pencatatan PPK-SKPD Pada Jurnal Umum atas Penerimaan Kas
oleh Bendahara Penerimaan
Bendahara Penerimaan SKPD dalam melaksanakan tugas dan
wewenangnya di SKPD, dikelompokkan dalam 2 (dua) kondisi, yaitu :
1) Bendahara Penerimaan SKPD bukan merupakan bagian dari BUD.
2) Bendahara Penerimaan SKPD merupakan bagian dari BUD.
Pengelompokan bendahara penerimaan di atas, didasarkan pada
Interpretasi Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP)
Nomor 2, sebagai berikut:
Pendapatan kas yang diterima oleh bendahara penerimaan yang sebagai
pendapatan negara/daerah dan hingga tanggal pelaporan belum
disetorkan ke RKUN/RKUD, dengan ketentuan bendahara penerimaan
tersebut merupakan bagian dari BUN/BUD.
Dalam prosedur menerima pembayaran dari wajib pajak (WP)/wajib
retribusi (WR) atas pajak/retribusi, Bendahara Penerimaan SKPD
tersebut di atas, melakukan pencatatan pada Buku Penerimaan dan
Penyetoran atas:
1) Penerimaan pembayaran secara tunai;
2) Penerimaan pembayaran melalui rekening Bendahara Penerimaan;
3) Penerimaan pembayaran melalui rekening Kas Umum Daerah.
Penerimaan pembayaran yang diterima tunai dan/atau melalui
rekening Bendahara Penerimaan SKPD, dapat bersumber dari:
- Penerimaan Piutang Pendapatan Tahun Sebelumnya (di bahas pada
bagian piutang);
- Penerimaan Pendapatan Tahun Berjalan, dan Penerimaan Kas yang
terkait dengan Periode berikutnya (di bahas pada bagian
pendapatan).
- lain-lain penerimaan kas, akan dibahas pada jenis akun yang
berhubungan.
b. Pencatatan PPK-SKPD Pada Jurnal Umum atas Penerimaan Kas
oleh Bendahara Pengeluaran
1) Penerbitan SP2D UP/GU/TU
Pada saat PPK-SKPD menerima tembusan SP2D UP/GU/TU dari
Kuasa BUD/Bendahara Pengeluaran SKPD, maka bukti tersebut
dicatat oleh PPK SKPD pada Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
2) Penerbitan Bukti Pemotongan/Pemungutan Pajak (PPN dan/
atau PPh)
Berdasarkan tembusan Bukti Pemotongan / Pemungutan Pajak
(PPN dan/atau PPh) yang diterima dari Bendahara Pengeluaran
SKPD, PPK-SKPKD mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai
berikut:
3) Penerbitan Bukti Pengembalian Panjar/Uang Muka Beban
Berdasarkan tembusan bukti pengembalian panjar/uang muka
beban yang diterima dari Bendahara Pengeluaran SKPD, PPKSKPD mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
D. SISTEM AKUNTANSI PENGELUARAN KAS
Definisi
Sistem akuntansi pengeluaran kas pada SKPD meliputi serangkaian proses
mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan
yang berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka pertanggungjawaban
pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara manual atau
menggunakan aplikasi komputer.
Sistem akuntansi pengeluaran kas, terdiri atas:
a. Prosedur pengeluaran kas oleh bendahara penerimaan SKPD.
b. Prosedur pengeluaran kas oleh bendahara pengeluaran SKPD.
Dokumen yang Digunakan
a. STS.
b. Kwitansi.
c. SPP GU/TU, SPM GU/TU, SPJ-GU/TU.
d. Bukti sah lainnya yang disetarakan.
Jurnal Standar
a. Pencatatan oleh PPK-SKPD Pada Jurnal Umum atas Pengeluaran Kas oleh
Bendahara Penerimaan
Pengeluaran kas pada Bendahara Penerimaan SKPD merupakan penyetoran
kepada rekening Kas Umum Daerah yang bersumber dari transaksi:
1) Penerimaan tunai oleh Bendahara Penerimaan;
2) Penerimaan melalui rekening Bendahara Penerimaan;
3) Penerimaan yang disetor langsung ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD).
Penyetoran oleh Bendahara Penerimaan SKPD ke Kas Daerah menggunakan
bukti Surat Tanda Setoran (STS) yang didukung dengan bukti-bukti yang
bersumber dari bank seperti bukti setoran bank, nota kredit bank, dan/atau
bukti transfer bank.
Berdasarkan STS yang diterima dari Bendahara Penerimaan, PPK-SKPD
mencatat pada jurnal umum sebagai berikut:
Ÿ Bendahara Penerimaan SKPD bukan merupakan bagian dari BUD.
•
Bendahara Penerimaan SKPD merupakan bagian dari BUD.
b. Pencatatan oleh PPK-SKPD Pada Jurnal Umum atas Pengeluaran Kas
oleh Bendahara Pengeluaran
1) Pada saat SPJ-GU/TU disahkan oleh BUD/Kuasa BUD
Paragraf 32 PSAP Nomor 2 menyatakan:
Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuannya
terjadi pada saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut
disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan.
Pengeluaran Kas pada Bendahara Pengeluaran SKPD diakui berdasarkan
SPJ-GU/TU yang telah disahkan oleh BUD/Kuasa BUD. Berdasarkan
tembusan SPJ-GU/TU yang telah disahkan oleh BUD/Kuasa BUD
tersebut, PPK-SKPD mencatat pada jurnal umum sebagai berikut:
2) Pengembalian Sisa UP/TU
Sisa UP yang masih ada menjelang tahun anggaran berakhir dan sisa TU
yang tidak habis digunakan, disetor kembali oleh Bendahara Pengeluaran
SKPD kepada Rekening Kas Umum Daerah dengan membuat STS.
Berdasarkan STS tersebut, PPK-SKPD mencatat pada jurnal umum
sebagai berikut:
3) Pemberian Panjar/Uang Muka Beban kepada PPTK
Bendahara Pengeluaran SKPD menerbitkan Nota Panjar/Nota Penyediaan
Dana pada saat pemberian panjar/uang muka beban kepada PPTK.
Berdasarkan tembusan Nota Panjar/Nota Penyediaan Dana tersebut, PPKSKPD mencatat pada jurnal umum sebagai berikut:
4) Penyetoran PPN dan PPh ke Kas Negara
PPN dan/atau PPH yang telah dipotong/dipungut oleh Bendahara
Pengeluaran SKPD dibuatkan bukti SSP untuk disetor ke Kas Negara.
Berdasarkan bukti SSP tersebut, PPK-SKPD mencatat pada jurnal umum
sebagai berikut:
5) Pengeluaran Kas Bendahara Pengeluaran atas Barang/Jasa yang telah
diterima.
Paragraf 32 PSAP Nomor 12 menyatakan bahwa:
Beban diakui pada saat:
a. timbulnya kewajiban;
b. terjadinya konsumsi aset;
c. terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.
Pengeluaran kas Bendahara pengeluaran atau melalui Bank Umum
Daerah (BUD) dapat berupa:
- Pengeluaran untuk pembelian aktiva (dibahas pada bagian aktiva)
- Pengeluaran untuk pembelian persediaan (dibahas pada bagian
persediaan)
- lain-lain pengeluaran kas, akan dibahas pada jenis akun yang
berhubungan.
E. SISTEM AKUNTANSI PENDAPATAN SKPD
Akuntansi Pendapatan pada lingkup SKPD dilakukan hanya untuk
mengakui, mencatat, dan melaporkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang
berada dalam wewenang SKPD. Pendapatan tersebut terdiri dari Pendapatan
Pajak, Pendapatan Retribusi, dan Lain-lain PAD yang Sah. Adapun Lain-lain
PAD yang Sah meliputi pendapatan hasil penjualan kekayaan daerah yang
tidak dipisahkan; jasa giro; pendapatan bunga; penerimaan atas tuntutan
ganti kerugian daerah; penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain
sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa
oleh daerah; penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah
terhadap mata uang asing; pendapatan denda atas keterlambatan
pelaksanaan pekerjaan; pendapatan denda pajak; pendapatan denda
retribusi; pendapatan hasil eksekusi atas jaminan; pendapatan dari
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan; pendapatan hasil pemanfaatan
kekayaan daerah; dan pendapatan dari angsuran/cicilan penjualan.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pendapatan pada SKPD adalah
Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran (PA/KPA), Pejabat
Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK- SKPD), Bendahara Penerimaan
SKPD, BUD, dan Pihak Ketiga.
a. Pengguna Anggaran/ Kuasa Pengguna Anggaran
Menandatangani/mensahkan dokumen surat ketetapan pajak/retribusi
daerah/dokumen lain yang dipersamakan;
b. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD)
1) mencatat transaksi/kejadian pendapatan LO dan Pendapatan LRA
berdasarkan bukti bukti transaksi yang sah dan valid ke Buku Jurnal
LRA dan Buku Jurnal LO dan Neraca;
2) melakukan penyesuaian di akhir tahun terhadap dokumen pendapatan
yang belum diterima pembayarannya
3) melakukan penyesuaian di akhir tahun terhadap dokumen pendapatan
yang penerimaan yang melewati periode diterbitkannya dokumen
pendapatan
c. Bendahara Penerimaan SKPD
1) mencatat dan membukukan semua penerimaan pendapatan kedalam
buku kas penerimaan;
2) melakukan penyetoran uang yang diterima ke kas daerah setiap hari.
d. BUD
Menerima realisasi pendapatan yang dibayarkan baik oleh fihak ketiga
ataupun melalui bendahara penerimaan.
e. Pihak Ketiga
Pihak ketiga disini adalah Wajib Pajak, Wajib Retribusi, atau pihak
lainnya yang terkait dengan penerimaan pendapatan.
Dokumen yang Terkait
Dokumen yang terkait dalam prosedur akuntansi Pendapatan-LO dan
Pendapatan-LRA secara umum dikelompokkan sebagai berikut:
• Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKP-Daerah)
• Surat Ketetapan Retribusi Daerah (SKRD)
• Tanda Bukti Penerimaan (TBP)
• Bukti Terima Uang (BTU)/Kwitansi (Kw)
• Surat Tanda Setoran (STS)
• Bukti transfer/setor
• Nota kredit bank
• Bukti memorial
• Bukti transaksi penerimaan kas lainnya
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
Bagian ini akan menjelaskan urutan prosedur yang harus dilakukan oleh PPK
SKPD
dalam
pendapatan
melakukan
SKPD
pencatatan
merupakan
transaksi
pendapatan
yang
pendapatan.
dipungut
Transaksi
berdasarkan
peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal
instansi pemungut pajak terpisah dari bendahara umum daerah (BUD), maka
pajak daerah dianggarkan dan dicatat pada instansi tersebut. Sebaliknya
apabila pemungutan pajak dilakukan oleh pejabat pengelolaan keuangan
daerah (PPKD atau SKPKD) selaku BUD, pajak daerah dianggarkan dan dicatat
oleh SKPKD. Ilustrasi pencatatan dalam hal instansi pemungut pajak terpisah
dari SKPKD disajikan sebagai berikut :
a) Pemungutan pajak dapat didahului dengan penerbitan Surat Ketetapan
Pajak Daerah maupun penyetoran langsung oleh masyarakat.
Terhadap kedua cara pemungutan tersebut pengakuan pendapatan pajak
dilakukan pada saat penyetoran oleh Wajib Pajak ke Rekening Kas Daerah.
Langkah-langkah teknis
SKPD yang berwenang akan menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah
(SKP Daerah) terkait. Selain disampaikan kepada Wajib Pajak (WP), SKP
Daerah tersebut akan didistribusikan kepada PPK-SKPD. SKP Daerah
tersebut akan menjadi dokumen sumber dalam mengakui pendapatan pajak
daerah setelah dilakukan pembayaran melalui rekening Bendahara
Penerimaan, membuat Bukti Terima Uang (BTU)/Kwitansi (Kw).
Berdasarkan tembusan BTU/Kw, PPK-SKPD mencatat pada Buku Jurnal
Umum, sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
SKP/Tembusan
BTU/Kw atau dokumen
lain yang dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Kas di Bendahara Penerimaan
Pendapatan Pajak Daerah…… LO
Kredit
XXX
XXX
Sebagai transaksi realisasi anggaran, PPK-SKPD mencatat "Estimasi
Perubahan SAL" di debit dan "Pendapatan Pajak Daerah -LRA (sesuai
rincian objek terkait)" di kredit dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
SKP/Tembusan BTU/Kw
atau dokumen lain yang
dipersamakan
LRA
Uraian
Estimasi Perubahan SAL
Pendapatan Pajak Daerah LRA
Debet
Kredit
XXX
XXX
Pencatatan sebagai Pendapatan LRA, didasarkan pada Interpretasi
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP) Nomor 2, sebagai
berikut:
Pendapatan kas yang diterima oleh bendahara penerimaan yang sebagai
pendapatan negara/daerah dan hingga tanggal pelaporan belum disetorkan
ke
RKUN/RKUD,
dengan
ketentuan
bendahara
penerimaan
tersebut
merupakan bagian dari BUN/BUD.
Atas pajak yang diterima tersebut akan dilakukan penyetoran ke Kas Daerah
dengan menggunakan Surat Tanda Setoran (STS). Berdasarkan STS
tersebut, PPK-SKPD mencatat pada buku jurnal umum sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
STS, NK/BS
Bank atau
dokumen lain
yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
RK SKPKD
Kas di
Bendahara
Penerimaan
LRA
Kredit
Uraian
XXX
Tidak
ada
jurnal
XXX
Debet
Kredit
Bila pihak ketiga langsung menyetor ke Kas Daerah,maka dicatat
dengan jurnal sebagai berikut:
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Dokumen
yang
Mendasari
SKP/STS,
NK/BS Bank
atau
dokumen lain
yang
dipersamakan
Uraian
Debet
RK SKPKD
Pendapatan
Pajak
Daerah……
- LO
XXX
LRA
Kredit
XXX
Uraian
Debet
Estimasi
Perubahan SAL
Pendapatan
Pajak
Daerah LRA
XXX
Kredit
XXX
Pada akhir tahun terhadap SKP yang belum dilunasi, PPK SKPD mencatat
"Piutang Pajak Daerah (sesuai rincian objek terkait)" di debit dan
"Pendapatan Pajak Daerah- LO (sesuai rincian objek terkait)" di kredit
dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
SKP atau
dokumen lain
yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Piutang Pajak Daerah
…..
Pendapatan Pajak
Daerah …...LO
Deb
et
XXX
LRA
Kredit
Uraian
XXX
Tidak
ada
jurnal
Debet
Kredit
Pencatatan Pendapatan – LO berbasis akrual didasarkan pada paragraf 19
PSAP Nomor 12, sebagai berikut:
Pendapatan-LO diakui pada saat:
(a) Timbulnya hak atas pendapatan;
(b) Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
b) Kelompok pendapatan retribusi untuk memenuhi kewajiban dalam
periode tahun berjalan, diakui ketika pembayarannya telah diterima.
Sistem dan Prosedur/Langkah-langkah teknis
Wajib retribusi melakukan pembayaran retribusi kemudian akan menerima
Tanda Bukti Pembayaran (TBP). TBP juga menjadi dasar bagi PPK SKPD
untuk mengakui pendapatan dengan mencatat "Kas di Bendahara
Penerimaan" di debit dan "Pendapatan Retribusi Daerah - LO (sesuai rincian
objek terkait)" di kredit dengan jurnal:
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Dokumen yang
Mendasari
TBP atau dokumen lain
yang dipersamakan
Uraian
Debet
Kas di Bendahara Penerimaan
Pendapatan Retribusi Daerah….- LO
XXX
Kredit
XXX
Sebagai transaksi realisasi anggaran terhadap realisasi pendapatan
retribusi, PPK-SKPD mencatat "Estimasi Perubahan SAL" di debit dan
"Pendapatan Retribusi Daerah- LRA (sesuai rincian objek terkait)" di kredit
dengan jurnal:
LRA
Dokumen yang
Mendasari
TBP atau dokumen
lain yang
dipersamakan
Uraian
Debet
Estimasi Perubahan SAL
Pendapatan Retribusi
Daerah -LRA
XXX
Kredit
XXX
Atas retribusi yang diterima tersebut akan dilakukan penyetoran ke Kas
Daerah dengan menggunakan Surat Tanda Setoran (STS). Berdasarkan STS
tersebut, PPK-SKPD mencatat:
Dokumen yang
Mendasari
STS, NK/BS Bank
atau dokumen
lain yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet
RK SKPKD
Kas di
Bendahara
Penerimaan
XXX
LRA
Kredit
Uraian
XXX
Tidak
ada
jurnal
Debet
Kredit
Pada akhir tahun terhadap SKR yang belum dilunasi, PPK SKPD mencatat
"Piutang Retribusi Daerah (sesuai rincian objek terkait)" di debit dan
"Pendapatan Retribusi Daerah - LO (sesuai rincian objek terkait)" di kredit
dengan jurnal:
Dokumen
yang
Mendasari
SKR atau
dokumen lain
yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Piutang Retribusi
Daerah …..
Pendapatan
Retrubusi …..LO
XXX
LRA
Kredit
Uraian
XXX
Tidak
ada
jurnal
Debet
Kredit
F. SISTEM AKUNTANSI BELANJA DAN BEBAN SKPD
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 dan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013 dikenal istilah beban dan
belanja. Perlakuan akuntansi yang berbeda atas beban dan belanja
merupakan implikasi berlakunya basis akrual sebagaimana diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 64 Tahun 2013.
Akuntansi Beban pada lingkup SKPD melingkupi pengakuan,
pencatatan, dan pelaporan beban gaji dan tunjangan, beban honorarium /
lembur / vakasi / tunjangan khusus dan beban pegawai transito, beban
kontribusi sosial, beban barang, beban jasa, beban pemeliharaan, beban
perjalanan dinas, dan beban murni akrual.
Pembahasan akuntansi beban dan belanja meliputi pihak yang terkait,
dokumen yang terkait serta sistem dan prosedur akuntansi, yang akan
dijelaskan di bawah ini.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi beban SKPD adalah:
a. Kepala SKPD selaku Pengguna Anggaran
Dalam kegiatan ini mempunyai tugas memberikan pengesahan atas
pegeluaran anggaran dan kewajiban yang sudah timbul dari setiap
transaksi yang ada di lingkungan SKPD yang dipimpinnya melalui
dokumen SPM dan Pengesahan SPJ.
b. SKPKD selaku BUD
Dalam Kegiatan ini mempunyai tugas menerbitkan SP2D untuk melakukan
pembayaran.
c. Bendahara Pengeluaran
Dalam kegiatan ini mempunyai tugas:
1) Menerima
bukti
tagihan
dari
pihak
ketiga/dokumen
bukti
pembayaran/dokumen sumber lainnya.
2) Membuatkan dokumen pertanggungjawaban beserta tembusan bukti
tagihan/dokumen bukti pembayaran/dokumen sumber lainnya dan
menyerahkannya kepada PPK SKPD untuk dilakukan verifikasi.
3) Melakukan pembayaran terhadap tagihan yang diterima dengan uang
persediaan atau membuat SPP;
4) Melakukan proses penatausahaan sesuai dengan sistem dan prosedur
yang berlaku untuk melakukan pembayaran atas tagihan yang
diterimanya;
5) Menyerahkan tembusan dokumen tagihan dan dokumen pembaaran
sepert SP2D yang diterimanya/dokumen sumber lainnya kepada PPK
SKPD.
d. PPK SKPD
Dalam kegiatan ini mempunyai tugas:
1) Menerima dokumen pertanggungjawaban dari bendahara pengeluaran
dan melakukan verifikasi bukti.
2) Menerima tembusan bukti tagihan dari bendahara pengeluaran dan
membuatkan Memo Jurnal.
3) Melakukan pencatatan ke dalam buku jurnal atas setiap transaksi
sesuai dengan dokumen akuntansi/Memo Jurnal yang telah dibuat;
4) Melakukan posting atas transaksi sesuai dengan akun yang bersangkutan
ke Buku Besar;
5) Membuat jurnal koreksi, penyesuaian, dan penutup dan menyusun
Laporan Keuangan.
e. Pihak Ketiga/Pihak Terkait Lainnya
Dalam kegiatan ini Pihak Ketiga akan menyerahkan barang/jasa berdasarkan
BAST, melakukan penagihan, menerima pembayaran dari Bendahara
Pengeluaran atau BUD menggunakan dokumen bukti pembayaran SP2D.
Dokumen yang Terkait
Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi
keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai sumber atau bukti
untuk menghasilkan data akuntansi. Dokumen sumber yang digunakan
sebagai dasar pencatatan pada Akuntansi Beban dan Belanja SKPD meliputi:
• Berita Acara Serah Terima (BAST) atau Berita Acara Kemajuan Pekerjaan
• Surat Tagihan dari pihak ketiga dan dokumen pendukung tagihan
• Surat Bukti Pengeluaran/Belanja
• Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Bendahara Pegeluaran
• Surat Pengesahan Pertanggungjawaban (SPPJ)
• SP2D LS/GU/Nihil
• Dokumen Kontrak/Perjanjian
• Dokumen lainnya
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
Akuntansi untuk Beban dan Belanja pada SKPD adalah:
a. Selama tahun berjalan, pengakuan beban dan Belanja dibagi sebagai
berikut:
1) Melalui Uang Persediaan
Beban dicatat ketika bendahara pengeluaran membuat pertanggungung
jawaban (SPJ) dan belanja dicatat pada saat pengeluaran tersebut
disahkan oleh fungsi perbendaharaan.
2) Melalui Kas Daerah (LS)
Beban dan belanja dicatat bersamaan pada saat terbitnya SP2D-LS.
b. Pada saat penyusunan laporan keuangan, terdapat dua kondisi pengakuan
beban yaitu:
1) Beban diakui sebelum pengeluaran kas; dan
2) Beban diakui setelah pengeluaran kas.
Terkait dengan pengakuan beban pada saat pengeluaran kas dapat
dilakukan pencatatan sesuai dengan dokumen sumbernya. Tembusan
dokumen sumber yang dijadikan dasar pencatatan dapat berasal dari
Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Umum Daerah (BUD).
1. Pencatatan atas pembayaran melalui PPTK
Pada saat Bendahara Pengeluaran memberikan panjar kegiatan kepada PPTK
maka perlu dilakukan pencatatan sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Nota Panjar / Panjar Kegiatan
XXX
Nota Penyediaan
Kas di Bendahara
Dana
Pengeluaran
LRA
Kredit Uraian
XXX
Debet
Kredit
Tidak ada
jurnal
Pada saat PPTK mempertanggungjawabkan penggunaan panjar kegiatan kepada
Bendahara Pengeluaran, maka dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Nota Panjar / Uang Muka
XXX
Nota Penyediaan Kas
di
Bendahara
Dana
Pengeluaran
Panjar Kegiatan
LRA
Kredit Uraian
XXX
Debet
Kredit
Tidak ada
jurnal
XXX
Pendebetan akun Kas di Bendahara Pengeluaran pada jurnal di atas dilakukan
apabila ada selisih lebih antara panjar yang diberikan oleh Bendahara
Pengeluaran dengan penggunaan panjar tersebut oleh PPTK.
Pada saat SPJ dari PPTK di atas disahkan oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran, akan di jurnal sebagai berikut:
Dokumen yang Mendasari
SPJ atau dokumen lain
yang dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban
Uang Muka
Kredit
XXX
XXX
Paragraf 32 PSAP Nomor 12 menyatakan bahwa:
Beban diakui pada saat:
timbulnya kewajiban;
terjadinya konsumsi aset;
terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa.
Pengakuan belanja atas penggunaan panjar oleh PPTK baru bisa
dilakukan setelah diterbitkan SP2D GU oleh BUD, yang dicatat dengan
jurnal sebagai berikut:
Dokumen yang Mendasari
SP2D GU atau dokumen lain
yang dipersamakan
LRA
Uraian
Debet
Belanja ……….
Perubahan SAL
Kredit
XXX
XXX
Belanja tersebut dicatat jumlah brutonya, yaitu nilai sebelum
potongan-potongan. Berbagai potongan atas Belanja tidak dicatat oleh
PPK-SKPD, karena akan dicatat oleh Fungsi Akuntansi PPKD.
(2) Pencatatan pembayaran dilakukan melalui Bendahara Pengeluaran.
Pada saat kas dikeluarkan dan dibuat SPJ oleh Bendahara Pengeluaran,
maka dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
SPJ atau dokumen lain
yang dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban …………….
Kas di Bendahara Pengeluaran
Kredit
XXX
XXX
Apabila telah diterbitkan SP2D GU dari BUD, maka dicatat dengan jurnal
sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
SP2D GU atau dokumen
lain yang dipersamakan
LRA
Uraian
Belanja …………
Perubahan SAL
Debet
Kredit
XXX
(3) Pencatatan pembayaran dilakukan melalui kas daerah (BUD)
XXX
Apabila pengeluaran dilakukan langsung dari Kas Daerah melalui
mekanisme LS maka dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Dokumen yang Mendasari
SPJ/ Berita Acara Serah Terima Barang
atau dokumen lain yang dipersamakan
Uraian
Debet
Beban ………………..
R/K SKPKD
XXX
Kredit
XXX
Sedangkan belanja diakui dan dicatat dengan jurnal sebagai
berikut:
LRA
Dokumen yang Mendasari
Uraian
SP2D LS/ Berita Acara Serah Terima Barang
atau dokumen lain yang dipersamakan
Debet
Belanja …………
Perubahan SAL
Kredit
XXX
XXX
(4) Pengajuan Ganti Uang
Pengakuan ganti uang persediaan dilakukan berdasarkan SP2D GU.
SP2D GU ini menjadi dasar bagi PPK-SKPD untuk mencatat dengan
jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
SP2D GU atau dokumen
lain yang dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Kas di Bendahara Pengeluaran
R/K SKPKD
XXX
Kredit
XXX
Pada saat penyusunan laporan keuangan, terdapat dua kondisi
pengakuan Beban yaitu:
1) Beban diakui sebelum pengeluaran kas
Pada saat penyusunan laporan keuangan apabila terdapat
dokumen penagihan yang sudah menjadi beban dan belum dilakukan
pembayaran maka dilakukan pencatatan dengan jurnal sebagai
berikut:
Dokumen yang Mendasari
Laporan Operasional & Neraca
Uraian
Dokumen
penagihan
atau Beban …………
dokumen lain yang dipersamakan
Utang Beban
Debet Kredit
XXX
XXX
LRA
Uraian
Debet Kredit
Tidak ada
jurnal
2) Beban diakui setelah pengeluaran kas.
Pada saat penyusunan laporan keuangan apabila terdapat dari
pengeluaran kas yang dilakukan oleh pemerintah daerah belum
menjadi beban maka dilakukan jurnal penyesuaian sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
LRA
Debet Kredit Uraian
Bukti
Beban dibayar dimuka
pengeluaran
Bendahara pengeluaran
kas atau yang
atau R/K SKPKD
dipersamakan
XXX
XXX
Debet
Kredit
Tidak
ada
jurnal
3) Transaksi pembayaran biaya (misal sewa) yang masa manfaatnya
lebih dari satu tahun anggaran
Apabila SKPD melakukan pembayaran sewa yang masa manfaatnya lebih
dari satu tahun anggaran yang dicatat dengan pendekatan beban oleh
pemerintah daerah, PPK- SKPD akan mencatat "Beban Sewa" untuk
mencatat beban tahun berkenaan dan "Beban Sewa Dibayar di Muka"
untuk mencatat sisanya di debit dan "RK PPKD" di kredit dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
LRA
Debet Kredit Uraian
Bukti
Beban sewa
pengeluaran
Beban sewa dibayar dimuka
kas atau yang
Bendahara pengeluaran
dipersamakan
atau R/K SKPKD
XXX
XXX
XXX
Debet
Kredit
Tidak
ada
jurnal
4) Pengembalian Beban
Dalam kasus terjadi penerimaan kembali beban pada periode berjalan dan
mempengaruhi posisi kas, PPK-SKPD mencatat dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet Kredit Uraian
Bukti
Kas di Bendahara XXX
penerimaan
pengeluaran
kas atau yang
Beban………
XXX
dipersamakan
LRA
Debet
Estimasi Perubahan
SAL
Belanja…….
XX
Kredit
X
XXX
Kasus pengembalian beban juga dapat terjadi pada belanja- belanja yang
terjadi di periode sebelumnya (pengembalian dilakukan setelah laporan
keuangan diterbitkan). Pada kasus seperti ini harus diidentifikasi terlebih
dahulu apakah pengembalian terjadi pada belanja yang sifatnya berulang
atau tidak berulang.
Dalam hal pengembalian terjadi pada belanja yang sifatnya berulang, PPKSKPD mencatat dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional &
Neraca
Uraian
Debet Kredit
LRA
Uraian
Debet Kredit
Bukti penerimaan R/K SKPKD
Beban……
kas atau yang
dipersamakan
XXX
XXX
Estimasi
Perubahan
SAL
XX
Belanja…….
X
XXX
Dalam hal pengembalian belanja yang sifatnya tidak berulang, PPK-SKPD
tidak melakukan pencatatan. Pencatatan dilakukan oleh Fungsi Akuntansi
PPKD dimana Fungsi Akuntansi PPKD mencatat dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet Kredit Uraian
Bukti
Kas di Kasda
XXX
penerimaan
Pendapatan
kas atau yang
lainnya
–
dipersamakan
LO….
LRA
Debet
Estimasi Perubahan XXX
SAL
XXX
Pendapatan
lainnya – LRA….
Kredit
XXX
G. SISTEM AKUNTANSI PIUTANG SKPD
Piutang daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah
daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang
sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya yang sah. Aset berupa piutang
di Neraca harus terjaga agar nilainya sama dengan nilai bersih yang dapat
direalisasi (net realizable value). Alat untuk menyesuaikan adalah dengan
melakukan penyisihan piutang tak tertagih. Penyisihan piutang tak tertagih
adalah taksiran nilai piutang yang kemungkinan tidak dapat diterima
pembayarannya dimasa akan datang dari seseorang dan/atau korporasi
dan/atau entitas lain. Prosedur akuntansi piutang pada SKPD meliputi
pencatatan dan pelaporan akuntansi atas transaksi-transaksi yang
mengakibatkan penambahan maupun pengurangan nilai piutang.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak yang terkait dalam sistem akuntasi piutang adalah Pejabat
Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD), yang memiliki tugas sebagai
berikut:
a. Mencatat transaksi/kejadian piutang berdasarkan bukti-bukti transaksi
yang yang belum diterima pembayarannya ke Buku Jurnal.
b. Melakukan posting jurnal-jurnal transaksi/kejadian pendapatan LO ke
dalam Buku Besar masing-masing rekening.
Dokumen yang Terkait
Dokumen yang terkait dalam prosedur akuntansi Piutang SKPD:
• Surat Ketetapan Pajak Daerah
• Surat Ketetapan Retribusi Daerah
• Bukti Memorial
• Bukti Terima Kas (BTK)
•
Dokumen lain yang dipersamakan
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah Teknis
Perlakuan akuntansi untuk transaksi piutang pada SKPD adalah:
a. Melakukan rekonsiliasi terhadap dokumen penetapan yang belum
diterima pembayarannya.
Pada saat penyusunan laporan keuangan, PPK-SKPD melakukan
inventarisasi atas dokumen penetapan Pendapatan-LO yang belum
diterima pembayarannya. Terhadap SKP/R-Daerah yang belum dibayar
tersebut, PPK-SKPD mencatatan pengakuan Pendapatan-LO dan Piutang
sebagai jurnal penyesuaian.
Dokumen yang Laporan Operasional (LO) & Neraca
Mendasari
Uraian
Debet Kredit Uraian
SKP/R-Daerah
atau dokumen
lain yang
dipersamakan
Piutang
Pendapatan-LO
XXX
XXX
LRA
Debet
Kredit
Tidak ada
jurnal
b. Pengakuan Bagian Lancar Piutang Jangka Panjang yang jatuh tempo
pada periode akuntansi berikutnya
Pada saat penyusunan laporan keuangan, PPK-SKPD berdasarkan bukti
memorial melakukan reklasifikasi Piutang Jangka Panjang ke Bagian
Lancar Piutang Jangka Panjang, yaitu piutang yang akan jatuh tempo
dalam satu tahun ke depan.
Dokumen
Laporan Operasional (LO) & Neraca
LRA
yang
Uraian
Debet
Kredit Uraian
Debet Kredit
Mendasari
Bukti
Bagian Lancar Tagihan
XXX
Tidak
ada
memorial
Tagihan Pinjaman
XXX
jurnal
c) Penerimaan Piutang Pendapatan Tahun Sebelumnya secara Tunai dan
Melalui Rekening Bendahara Penerimaan
- Bendahara Penerimaan SKPD bukan merupakan bagian dari BUD,
menerima Piutang Pendapatan Tahun sebelumnya secara tunai dan
melalui rekening Bendahara Penerimaan, membuat Bukti Terima Uang
(BTU)/Kwitansi (Kw). Berdasarkan tembusan BTU/Kw, PPK-SKPD
melakukan verifikasi dengan Bukti Memorial (BM) tahun sebelumnya,
kemudian mencatat pada Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
-
Bendahara Penerimaan SKPD merupakan bagian dari BUD, menerima
Piutang Pendapatan Tahun sebelumnya secara tunai dan melalui
rekening Bendahara Penerimaan, membuat Bukti Terima Uang
(BTU)/Kwitansi (Kw). Berdasarkan tembusan BTU/Kw, PPK-SKPD
melakukan verifikasi dengan Bukti Memorial (BM) tahun sebelumnya,
kemudian mencatat pada Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
Pencatatan sebagai Pendapatan LRA, didasarkan pada Interpretasi
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (IPSAP) Nomor 2,
sebagai berikut:
Pendapatan kas yang diterima oleh bendahara penerimaan yang sebagai
pendapatan negara/daerah dan hingga tanggal pelaporan belum
disetorkan ke RKUN/RKUD, dengan ketentuan bendahara penerimaan
tersebut merupakan bagian dari BUN/BUD.
d) Penerimaan Piutang Pendapatan Tahun sebelumnya melalui Rekening
Kas Umum Daerah (RKUD)
Ÿ Bendahara Penerimaan SKPD bukan merupakan bagian dari BUD,
menerima bukti penerimaan Piutang Pendapatan Tahun sebelumnya
dari BUD/Kuasa BUD dan Nota Kredit (NK)/Bukti Setor (BS) Bank.
Berdasarkan bukti penerimaan Piutang Pendapatan Tahun
sebelumnya dan NK/BS Bank, Bendahara Penerimaan membuat
BTU/Kw serta STS kemudian memberikan tembusan bukti
penerimaan Piutang Pendapatan Tahun sebelumnya dan NK/BS
Bank, BTU/Kw dan STS kepada PPK-SKPD untuk dicatat.
Berdasarkan tembusan bukti-bukti yang diterima dari Bendahara
Penerimaan SKPD, PPK-SKPD melakukan verifikasi dengan BM tahun
sebelumnya kemudian mencatat BTU/Kw pada Buku Jurnal Umum
sebagai berikut:
Pencatatan STS, NK/BS Bank pada Buku Jurnal Umum disajikan
pada Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas.
Berikut ini, adalah contoh apabila PPK-SKPD mencatat STS, NK/BS
Bank pada Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
Pencatatan sebagai Pendapatan LRA berdasarkan pada paragraf 21
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) Nomor 2, sebagai
berikut:
Pendapatan-LRA diakui pada saat diterima pada Rekening Kas
Umum Negara/Daerah.
-
Bendahara Penerimaan SKPD merupakan bagian dari BUD, menerima
bukti penerimaan Piutang Pendapatan Tahun sebelumnya dari
BUD/Kuasa BUD dan Nota Kredit (NK)/Bukti Setor (BS) Bank.
Berdasarkan
bukti
penerimaan
Piutang
Pendapatan
Tahun
sebelumnya dan NK/BS Bank, Bendahara Penerimaan membuat
BTU/Kw serta STS kemudian memberikan tembusan bukti penerimaan
Piutang Pendapatan Tahun sebelumnya dan NK/BS Bank, BTU/Kw
dan STS kepada PPK-SKPD untuk dicatat.
Berdasarkan tembusan bukti-bukti yang diterima dari Bendahara
Penerimaan SKPD, PPK-SKPD melakukan verifikasi dengan BM tahun
sebelumnya kemudian mencatat BTU/Kw pada Buku Jurnal Umum
sebagai berikut:
Pencatatan STS, NK/BS Bank pada Buku Jurnal Umum disajikan pada
Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas.
Berikut ini, adalah contoh apabila PPK-SKPD pada Sistem Akuntansi
Pengeluaran Kas mencatat STS, NK/BS Bank pada Buku Jurnal
Umum, sebagai berikut:
e) Menetapkan umur piutang sebagai dasar tingkat kolektabilitas
piutang (aging schedule)
Peraturan Kepala Daerah tentang Penyisihan dan Penghapusan Piutang
menjadi dasar bagi PPK-SKPD membuat Daftar Analisa Umur Piutang
(DAUP) kemudian disampaikan kepada Pengguna Anggaran dan PPKD
untuk disahkan/diotorisasi. Berdasarkan DAUP, PPK-SKPD membuat
Bukti Memorial (BM) atas jumlah piutang yang tak tertagih. Berdasar
bukti memorial tersebut, PPK-SKPD mencatat pengakuan Beban
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih dan pembentukan Penyisihan Piutang
Tidak Tertagih. Penyisihan piutang tak tertagih tidak bersifat akumulatif
tetapi diterapkan pada saat penyusunan laporan keuangan, sesuai
dengan perkembangan kualitas piutang.
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
BM, Daftar Analisa Beban Penyisihan Piutang XXX
Umur Piutang
Penyisihan Piutang
LRA
Kredit
XXX
Uraian
Debet Kredit
Tidak ada
jurnal
f) Mencatat Penghapusbukuan dan Penghapustagihan Piutang
Berdasarkan keputusan Kepala Daerah terkait penghapusbukuan dan
penghapustagihan
piutang,
maka
PPK
SKPD
akan
mencatat
penghapusbukuan piutang dengan mengurangkan Penyisihan Piutang Tidak
Tertagih dan Piutang.
Sedangkan untuk penghapustagihan
pencatatan ke dalam jurnal.
piutang
PPK
tidak
melakukan
Untuk Piutang yang penyisihan piutangnya belum seluruhnya disisihkan
Dokumen
Laporan Operasional (LO) & Neraca
yang
Uraian
Debet
Kredit
Mendasari
Keputusan Penyisihan Piutang
XXX
Kepala
Beban Penyisihan Piutang
XXX
Daerah
Piutang
XXX
LRA
Uraian
Tidak
ada
jurnal
Debet Kredit
Untuk Piutang yang penyisihan piutangnya telah seluruhnya disisihkan
Dokumen
Laporan Operasional (LO) & Neraca
LRA
yang
Uraian
Debet
Kredit Uraian
Debet Kredit
Mendasari
Keputusan Penyisihan Piutang
XXX
Tidak ada
Kepala
Piutang
XXX
jurnal
Daerah
H. SISTEM AKUNTANSI PERSEDIAAN SKPD
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang
dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan
barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat.Akuntansi Persediaan pada SKPD
meliputi pencatatan dan pelaporan atas transaksi-transaksi yang terkait
dengan Persediaan.Terdapat dua metode yang mempengaruhi sistem
akuntansi persediaan, yaitu metode periodik dan perpetual.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi persediaan antara lain
adalah:
a. Penyimpan Barang
Dalam sistem akuntansi persediaan, penyimpan barang bertugas untuk
menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas pengelolaan
persediaan.
b. Bendahara Pengeluaran
Dalam sistem akuntansi persediaan, bendahara pengeluaran bertugas
untuk menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas
transaksi tunai yang berkaitan dengan persediaan.
c. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
Dalam sistem akuntansi persediaan, pejabat pelaksana teknis kegiatan
bertugas untuk menyiapkan dokumen atas beban pengeluaran
pelaksanaan pengadaan persediaan.
d. PPK-SKPD
Dalam sistem akuntansi persediaan, pejabat penatausahaan keuangan
SKPD bertugas untuk melakukan proses akuntansi persediaan yang
dimulai dari jurnal hingga penyajian laporan keuangan SKPD.
Dokumen Terkait
Dokumen yang terkait dalam prosedur akuntansi Persediaan antara lain:
• Bukti Belanja Persediaan
•
•
•
Berita Acara Serah Terima Barang
Berita Acara Stock Opname Akhir Tahun
SP2D LS
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah Teknis
Perlakuan akuntansi untuk transaksi persediaan pada SKPD adalah:
a. Pencatatan Persediaan dengan Metode Periodik
Metode Periodik (Metode Fisik) yakni pencatatan dilakukan hanya
setiap ada fisik persediaan BMD yang dibeli/diterima. Pada saat akan
menyusun laporan pada akhir periode, dilakukan perhitungan fisik
BMD yang masih ada kemudian dikalikan dengan harga beli yang
terakhir atas BMD yang diterima. Hasil tersebut merupakan nilai
persediaan akhir BMD. Untuk menentukan jumlah persediaan BMD
yang digunakan, dilakukan dengan cara menjumlahkan semua harga
beli BMD selama satu periode, kemudian diperkurangkan dengan nilai
persediaan akhir (hasil hitung fisik). Berdasarkan hasil hitung
tersebut, Pengurus BMD membuat Bukti Pemakaian Barang (BPB).
Berdasarkan tembusan BPB, PPK-SKPD membuat BM kemudian
mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
1) Pada awal tahun
Berdasar Bukti Memorial, PPK-SKPD mencatat pengakuan Beban
Persediaan dan pengurangan Persediaan atas persediaan awal pada
neraca.
Dokumen Laporan Operasional (LO) & Neraca
yang
Uraian
Debet Kredit
Mendasari
Bukti
Beban Persediaan
XXX
Memorial
Persediaan
XXX
LRA
Uraian
Debet
Kredit
Tidak ada
jurnal
2) Pada saat pembelian
Berdasarkan tembusan SP2D dari BUD/Invoice, PPK-SKPD akan
mencatat dengan jurnal:
Dokumen
Laporan Operasional (LO) & Neraca
yang
Uraian
Debet Kredit
Mendasari
SP2D atau Beban Persediaan
XXX
dokumen
XXX
Kas di Bendahara
lain
Pengeluaran
LRA
Uraian
Debet Kredit
Tidak ada
jurnal
3) Pemakaian persediaan pada periode berjalan tidak dibukukan
4) Pada saat penyusunan laporan keuangan, berdasarkan tembusan
berita acara hasil opname fisik persediaan dari bagian gudang. PPKSKPD akan melakukan pencatatan Persediaan (akhir) dan
pengurangan Beban Persediaan.
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet Kredit
Berita acara Persediaan
hasil opname
Beban
fisik persediaan
Persediaan
XXX
XXX
LRA
Uraian
Debet
Kredit
Tidak ada
jurnal
b. Pencatatan Persediaan dengan Metode Perpetual
Metode Perpetual (Metode Buku) yakni pencatatan dilakukan setiap
ada fisik persediaan yang diterima dan digunakan/ dikeluarkan. Nilai
fisik persediaan yang diterima dicatat sebesar nilai perolehannya,
sedangkan
fisik
persediaan
yang
digunakan/dikeluarkan
menggunakan nilai fisik barang yang pertama diterima.
1. Di awal tahun tidak dilakukan perjurnalan
2. Pada saat pembelian
Berdasarkan tembusan SP2D dari BUD/Invoice, PPK-SKPD akan
mencatat Persediaan dan Kas di Bendahara Pengeluaran.
Persediaan ...
Kas di Bendahara Pengeluaran .....
xxx
xxx
3) Untuk pencatatan pemakaian barang, Pengurus BMD membuat
Bukti Pemakaian Barang (BPB). Berdasarkan tembusan BPB, PPKSKPD membuat BM kemudian mencatat pada Buku Jurnal Umum
sebagai berikut:
4) Tidak terdapat jurnal pada saat penyusunan laporan keuangan.
Persediaan akhir merupakan saldo Persediaan Awal + Pembelian Pemakaian Persediaan selama tahun berjalan.
I. SISTEM AKUNTANSI ASET SKPD
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12
bulan untuk digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Kriteria yang harus
dipenuhi agar suatu aset dapat diakui sebagai aset tetap, yaitu (1) berwujud,
(2) mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan, (3) biaya perolehan aset
dapat diukur secara andal, (4) tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi
normal entitas, dan (5) diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk
digunakan.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi aset SKPD adalah:
a. Bendahara Barang atau Pengurus/Pengelolah Barang/Pengguna Barang.
Dalam sistem akuntansi aset tetap, bendahara barang/pengurus barang
bertugas untuk menyiapkan dan menyampaikan dokumen-- dokumen atas
pengelolaan aset tetap.
b. Bendahara Pengeluaran/SKPKD
Dalam sistem akuntansi aset tetap, bendahara pengeluaran bertugas untuk
menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas transaksi tunai
yang berkaitan dengan aset tetap.
c. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
Dalam sistem akuntansi aset tetap, pejabat pelaksana teknis kegiatan
bertugas untuk menyiapkan dokumen atas beban pengeluaran pelaksanaan
pengadaan aset tetap.
d. Pejabat Penatausahaan Keuangan
Dalam sistem akuntansi aset tetap, pejabat penatausahaan keuangan
SKPD bertugas untuk melakukan proses akuntansi aset tetap yang
dimulai dari jurnal hingga penyajian laporan keuangan SKPD.
Dokumen Sumber
Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi
keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai sumber atau bukti
untuk menghasilkan data akuntansi. Dokumen sumber yang digunakan
pada Akuntansi Aset Tetap SKPD meliputi:
a. Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan
b. SP2D LS
c. SPJ
d. Surat Permohonan Kepala SKPD tentang Penghapusan Aset Tetap
e. Surat Keputusan Kepala Daerah tentang Penghapusan Aset
f. Dokumen lain yang dipersamakan
Sistem dan Prosedur Pencacatan Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
a)PembelianAsetTetap
Dalam kasus pembelian aset tetap, berdasarkan bukti transaksi berupa
Berita Acara Penerimaan Barang, PPK-SKPD akan membuat bukti
memorial aset tetap yang kemudian diotorisasi oleh Pengguna Anggaran.
Berdasarkan bukti memorial aset tetap ini, PPK-SKPD mencatat dengan
jurnal:
Aset Tetap .......
xxx
Utang Belanja Modal
xxx
Selanjutnya dilaksanakan proses penatausahaan untuk pembayaran
perolehan aset tetap tersebut mulai dari pengajuan SPP, pembuatan SPM
hingga penerbitan SP2D. Berdasarkan SP2D tersebut PPK-SKPD akan
mencatat dengan jurnal:
Utang Belanja Modal
xxx
RK SKPKD
xxx
Sebagai transaksi realisasi anggaran, PPK-SKPD juga mencatat dengan
jurnal:
Belanja Modal ........
xxx
Estimasi Perubahan SAL
xxx
b) Berdasarkannaskahhibahdaripihakketigadanberitaacaraserahterima,PPK-SKPD
akanmencatatdalambukujurnal.
Dokumen yang Mendasari
Naskah hibah dari pihak ketiga
dan berita acara serah terima
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Asset Tetap
Pendapatan hibah-LO
XXX
Kredit
XXX
c)PenghapusanAsetTetap
Penghapusan aset tetap dapat terjadi karena penjualan, tukar-menukar,
hibah, penyertaan modal, pemusnahan atau karena sebab-sebab lainnya.
Untuk penghapusan aset tetap karena penjualan surplus, PPK SKPD akan
mencatat dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasar
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Kredit
Bukti penjualan atau
dokumen lain yang
dipersamakan
R/K SKPKD
Akumulasi Penyusutan
Suplus Penjualan Aset Tetap-LO
Aset Tetap…….
XXX
XXX
XXX
XXX
Pencatatat hasil penjualan aset tetap dibukukan sebagai pendapatan LRA
sebesar nilai uang yang diterima.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti penjualan atau
dokumen lain yang
dipersamakan
LRA
Uraian
Debet
Perubahan SAL
Hasil Penjualan Aset Daerah
Yang tdk dipisahkan-LRA
Kredit
XXX
XXX
Untuk penghapusan aset tetap karena penjualan defisit penjualan aset
tetap (nilai jual lebih kecil dari nilai buku), PPK-SKPD akan mencatat
dalam buku jurnal.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti penjualan atau
dokumen lain yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
R/K SKPKD
Akumulasi Penyusutan
Defisit Penjualan Asset Tetap-LO
Aset Tetap
XXX
XXX
XXX
Kredit
XXX
Pencatatat hasil penjualan aset tetap dibukukan sebagai pendapatan LRA
sebesar nilai uang yang diterima.
LRA
Dokumen yang
Mendasari
Uraian
Debet
Bukti penjualan atau
dokumen lain yang
dipersamakan
Perubahan SAL
Hasil Penjualan Aset Daerah Yang
tdk dipisahkan-LRA
XXX
Kredit
XXX
d. Penghentian Aset Tetap Secara Permanen dari Penggunaan
Penghapusan aset tetap karena pemusnahan PPK-SKPD mencatat
penghapusan aset tetap tersebut. Terhadap kejadian tersebut, maka
aset tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aset tetap
tersebut secara permanen dihentikan penggunaannya dan tidak memiliki
lagi manfaat ekonomi masa yang akan datang. Pencatatan transaksi
penghentian dan pelepasan aset tetap dilakukan ketika telah terbit Surat
Keputusan (SK) Kepala Daerah tentang Penghapusan Barang Milik
Daerah. Berdasarkan SK tersebut, PPK-SKPD membuat BM kemudian
mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
e. Penghentian Aset Tetap dari Penggunaan Aktif
Aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif oleh pemerintah
daerah, dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya
karena sudah tidak memenuhi kriteria aset tetap.
Pencatatan transaksi penghentian aset tetap dari penggunaannya
dilakukan ketika telah terbit SK Kepala Daerah tentang Penghentian
BMD dari penggunaan aktifnya. Berdasarkan SK tersebut, PPK-SKPD
membuat BM kemudian mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai
berikut:
Pemberian hibah atas aset yang belum disusutkan berdasarkan surat
keputusan kepala daerah tentang hibah dan naskah pemberian hibah,
PPK-SKPD membukukan pada buku jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Keputusan kepala
daerah
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban Hibah
Aset Tetap
XXX
Kredit
XXX
f. Pengakuan Konstruksi
Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) adalah aset tetap yang sedang dalam
proses pembangunan yang sampai pada akhir periode pelaporan belum
selesai berdasarkan kontrak konstruksi. Secara umum, konstruksi dalam
pengerjaan adalah pekerjaan konstruksi yang menggunakan waktu lebih
dari satu periode.
Sebagai contoh, pada akhir periode pelaporan, suatu kontrak konstruksi
berdasar Laporan Kemajuan Pekerjaan (LKP) secara fisik belum selesai.
Berdasarkan LKP tersebut, PPK-SKPD membuat BM kemudian mencatat
pada Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
BM, Laporan
Kemajuan Pekerjaan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Kontsruksi Dalam Pengerjaan
Utang
Konstruksi
Dalam
Pengerjaan
Debet
Kredit
XXX
XXX
g. Pengeluaran Setelah Perolehan
Pengeluaran setelah perolehan aset tetap yang memperpanjang masa
manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di
masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau
peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai tercatat aset
yang
bersangkutan.
Berdasarkan
tembusan
bukti
pendukung
pengeluaran setelah peroleh aset tetap yang memenuhi kriteria
dikapitalisasi (kapasitas bertambah, mutu produksi meningkat, standar
kinerja meningkat), PPK-SKPD membuat BM kemudian mencatat pada
Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
J. SISTEM AKUNTANSI ASET LAINNYA SKPD
Aset lainnya merupakan aset pemerintah daerah yang tidak dapat
diklasifikasikan sebagai aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap dan
dana cadangan. Termasuk di dalamnya aset tak berwujud, tagihan penjualan
angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan, yang aset
kerjasama dengan pihak ketiga dan kas yang dibatasi penggunaannya.
Pihak Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi aset lainnya antara lain
adalah:
a. Bendahara Penerimaan
Dalam sistem akuntansi aset lainnya, Bendahara Penerimaan SKPD memiliki
tugas menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas transaksi
yang terkait dengan proses pelaksanaan sistem akuntansi aset lainnya ke
PPK-SKPD.
b. Bendahara Pengeluaran
Dalam sistem akuntansi aset lainnya, Bendahara Pengeluaran SKPD
memiliki tugas menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas
transaksi yangterkait dengan proses pelaksanaan sistem akuntansi aset
lainnya ke PPK-SKPD.
c. PPK-SKPD
Dalam sistem akuntansi aset lainnya, PPK-SKPD melaksanakan fungsi
akuntansi SKPD, memiliki tugas sebagai berikut:
1) Mencatat transaksi/kejadian aset lainnya berdasarkan bukti-bukti
transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum.
2) Memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian aset lainnya ke dalam Buku
Besar masing-masing rekening (rincian objek).
Dokumen yang Terkait
Dokumen yang terkait dalam prosedur akuntansi aset lainnya antara lain:
• Kontrak/Perjanjian Penjualan secara Angsuran/BeritaAcara Penjualan/yang
Dipersamakan
• Keputusan Pembebanan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah dan/atau
Dokumen yang Dipersamakan
• Kontrak/Perjanjian– Sewa/yang Dipersamakan
• Kontrak /Perjanjian Kerjasama – Pemanfaatan / dokumen yang
Dipersamakan
• Kontrak/Perjanjian Kerjasama- BOT/Dokumen yang Dipersamakan
• Kontrak/Perjanjian Kerjasama–BOT& BAST/Dokumen yang Dipersamakan
• Bukti Pembelian atau Dokumen yangDipersamakan
• Surat Lisensi dan Frenchise/Ijin dari pemegang Haki Hak Cipta,
Paten/Dokumen yang dipersamakan
• Surat Usulan Penghapusan/Dokumen yang dipersamakan.
Sistem dan Prosedur Pencatan Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
Perlakuan akuntansi untuk transaksi aset lainnya pada SKPD adalah:
a. Pada saat pengakuan/pembelian
1) Tagihan Penjualan Angsuran
Ketika dilaksanakan penjualan aset ini secara angsuran, maka PPK-SKPD
akan membuat jurnal pengakuan tagihan penjualan angsuran
berdasarkan dokumen transaksi terkait penjualan dengan angsuran.
Selisih nilai penjualan dan nilai buku positif:
Tagihan Angsuran Penjualan............................xxx
Akumulasi Penyusutan Gedung & Bangunan...xxx
Surplus Penjualan Aset Gedung & Bangunan –LO xxx
Aset Tetap-Gedung dan Bangunan…………….. …...xxx
Selisih nilai penjualan dan nilai buku negatif:
Tagihan Angsuran Penjualan.......................... xxx
Akumulasi Penyusutan Gedung & Bangunan..xxx.
Defisit Penjualan Aset Gedung & Bangunan –LO xxx
Aset Tetap-Gedung dan Bangunan………….. ……xxx
2) Tuntutan Ganti Rugi
Tuntutan GantiKerugian (TGR) inidiakui ketika putusan Pembebanan
dan/atau dokumen yang dipersamakan diterbitkan.
Berdasarkan dokumen tersebut, PPK-SKPD
pengakuan tagihan tuntutan kerugian daerah.
akan
membuat
jurnal
Tuntutan Ganti Rugi ..............................xxx
Pendapatan TGR -LO................................xxx
3) Kemitraan denganPihak Ketiga – Sewa
Diakui pada saat terjadi perjanjian kerjasama/kemitraan, yaitu dengan
perubahan
klasifikasi
aset
dari
aset
tetap
menjadi
asset
kerjasama/kemitraan-sewa.
Kemitraan dengan Pihak Ketiga-……………xxx
Aset Tetap-……….................................... xxx
4) Kemitraan denganPihak Ketiga - Kerjasama
Pemanfaatan
Diakui
pada
saat
terjadi
perjanjian
kerjasama/kemitraan,yaitu dengan perubahan klasifikasi aset dari aset
tetap menjadi asset kerjasama/kemitraan pemanfaatan (KSP).
Kemitraan dengan Pihak Ketiga-……………xxx
Aset Tetap/Aset Lain-Lain-…………………xxx
•
Kemitraan dengan Pihak Ketiga - Bangun Guna Serah (BOT)
BGS dicatat sebesarnilai aset yangdiserahkan oleh pemerintah daerah kepada
pihak ketiga/investor untuk membangun aset BGS tersebut. Aset yang berada
dalam BGS ini disajikan terpisah dari Aset Tetap.
Bangun Guna Serah (BOT)-………………….xxx
Tanah-…………………...............................xxx
•
Kemitraan denganPihak Ketiga - Bangun Serah Guna (BTO)
BSG diakui pada saat pengadaan/pembangunan gedung dan/atau sarana
berikut fasilitasnya selesai dan siap digunakan untuk digunakan /
dioperasikan. Penyerahan aset oleh pihak ketiga/investor kepada
pemerintah daerah disertai dengan kewajiban pemerintah daerah untuk
melakukan pembayaran kepada pihak ketiga/investor. Pembayaran oleh
pemerintah daerah ini dapat juga dilakukan secara bagi hasil.
Pada saat kontrak ditandatangani dan dibuat BAST, tanah milik Pemda
dikerjasamakan
Bangun Serah Guna (BTO)-………………..xxx
Tanah-……………………...............................xxx
Pada saat bangunan dengan BTO telah selesai dan diserahkan ke Pemda
dengan BAST
Bangun Serah Guna (BTO)-………………xxx
Utang Jangka Panjang Lainnya..................xxx
5) Aset Tidak Berwujud
Diakui pada saat Aset Tidak Berwujud diperoleh, maka PPK-SKPD
membuat jurnal pengakuan aset tidak berwujud.
Aset Tidak Berwujud-………………………xxx
R/K PPKD..................................................xxx
6) Aset Lain-lain
Aset lain-lain diakui pada saat dihentikan dari penggunaan aktif
pemerintah daerah dan direklasifikasikan kedalam aset lain-lain.
Pada saat suatu aset direklasifikasi menjadi aset lainnya, PPKSKPD akan
membuat jurnal pengakuan aset lain-lain dan penghapusan akumulasi
penyusutan aset tetap yang direklasifikasi.
Aset Lain-lain……………………………………xxx
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap…………xxx
Aset Tetap................................................. xxx
b. Penyesuaian Tagihan Jangka Panjang
Karena tagihan tersebut bersifat jangka panjang maka pada saat
penyusunan laporan keuangan,PPK-SKPD akan melakukan reklasifikasi
untuk mengakui piutang yang akan jatuh tempo dalam satu tahun ke
depan.
Tagihan Penjualan Angsuran dijurnal:
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran …….xxx
Tagihan Penjualan Angsuran..........................xxx
Tuntutan Ganti Rugi di jurnal:
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi ………………..xxx
Tuntutan Ganti Rugi......................................xxx
c. Reklasifikasi dari Aset Tetap ke Aset Rusak Berat
Aset lain-lain diakui pada saat dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah
daerah dan direklasifikasikan kedalam aset lain-lain.
Pada saat suatu aset direklasifikasi menjadi aset lainnya, PPK-SKPD akan
membuat jurnal pengakuan aset lain-lain dan penghapusan akumulasi
penyusutan aset tetapyang direklasifikasi.
d. Penyusutan KSO/BTO
Penyusutan terhadap KSO/BTO dilakukan dengan jurnal penyesuaian:
Beban Penyusutan -…………………………………... xxx
Akumulasi/Aset KSO/BTO.....................................xxx
e. Amortisasi
Amortisasi
terhadapaset
penyesuaian:
tidak
berwujud
dilakukandengan
jurnal
Beban Amortisasi -…………………………………... xxx
Akumulasi Amortisasi………..................................xxx
f. Pada saat selesai dikerjasamakan
Penyerahan aset oleh pihak ketiga/investor kepada pemerintah daerah
disertai dengan kewajiban pemerintah daerah untuk melakukan
pembayaran kepada pihak ketiga/investor.
Kemitraan denganPihak Ketiga - Bangun Guna Serah (BOT)
Tanah -…………………………………………………xxx
Bangunan -……………………………………………xxx
Bangun Guna Serah (BOT)….............................xxx
Pendapatan Lainnya- LO………………..…………..xxx
Kemitraan denganPihak Ketiga - Bangun Serah Guna (BTO)
Tanah -…………………………………………………xxx
Bangunan -……………………………………………xxx
Bangun Serah Guna (BTO)…............................xxx
K. SISTEM AKUNTANSI KEWAJIBAN SKPD
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi kewajiban SKPD adalah:
a. Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPD)
PPK SKPD bertugas melakukan pencatatan atas kewajiban/utang yang
timbul, pembayaran yang telah dilakukan, serta menerbitkan bukti
memorial yang diperlukan sebagai dasar pencatatan.
b. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
PPTK bertugas melakukan pengadaan Aset Tetap sesuai prosedur dan
memberikan dokumen pengadaan kepada PPK SKPD sebagai tembusan
untuk dijadikan dasar pencatatan.
c. Bendahara Pengeluaran
Bendahara Pengeluaran bertugas melakukan pembayaran kewajiban/utang
SKPD yang timbul berdasarkan tanggal jatuh tempo ataupun tagihan yang
diterima yang dibayar melalui Bendahara Pengeluaran.
d. BUD
Bendahara Pengeluaran bertugas melakukan pembayaran kewajiban/utang
SKPD yang timbul berdasarkan tanggal jatuh tempo ataupun tagihan yang
diterima yang dibayar melalui Kas di Kas Daerah yang ada di BUD.
Dokumen Terkait
Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi
keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai sumber atau bukti
untuk menghasilkan data akuntansi. Dokumen sumber yang digunakan pada
Akuntansi Kewajiban SKPD meliputi:
a. Berita Acara Penerimaan Barang
b. SP2D LS
c. Surat Bukti Pengeluaran Belanja
Sistem dan Prosedur Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
Prosedur akuntansi kewajiban akan dilakukan oleh SKPD apabila terjadi
transaksi pembelian atau pengadaan barang, jasa dan aset tetap dengan
menangguhkan pembayaranya walaupun barang atau aset tetap sudah
diterima dan jasa sudah diperoleh. Kewajiban dicatat diakui pada saat barang
diterima atau diterimanya tagihan dari pihak ke tiga sehingga kewajiban
bertambah. Sebaliknya kewajiban akan berkuran apabila dilakukan
pembayaran atas tagihan tersebut. Pembayaran dapat dilakukan oleh
bendahara pengeluaran dengan manggunakan uang persedaan atau dilakukan
oleh BUD melalui SP2D LS.
Berdasarkan bukti atas transaksi yang mempengaruhi kewajiban atau utang
maka PPK SKPD akan melakukan pencatatan jurnal pada buku jurnal
kemudian dilakukan posting untuk ke masing masing buku besar dan buku
besar pembantu sesuai akun.
Ketika SKPD melakukan suatu transaksi pembelian dengan
menangguhkan pembayarannya, maka PPK-SKPD akan mengakui adanya
hutang/kewajiban akibat transaksi tersebut dengan mencatat:
Beban ….. xxx
Utang Beban
xxx
Dalam transaksi pembelian yang dilakukan adalah pembelian aset tetap, maka
jurnal pengakuan kewajiban yang dicatat oleh PPK-SKPD adalah:
Aset Tetap... xxx
Utang...
xxx
Pada saat SKPD melakukan pembayaran, maka PPK-SKPD akan menghapus
utang tersebut dengan menjurnal “Utang” di debit dan “Kas di Bendahara
Pengeluaran” (untuk kasus belanja menggunakan UP) atau “R/K PPKD” (untuk
kasus belanja dengan mekanisme LS) di kredit.
Jurnal pembayaran utang melalui Bendahara Pengeluaran:
Utang...
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran
xxx
Jurnal pembayaran utang melalui BUD:
Utang………….. xxx
R/K PPKD
xxx
L. SISTEM AKUNTANSI EKUITAS SKPD
Pihak-Pihak Terkait
Prosedur akuntansi ekuitas ini merupakan prosedur akuntansi ikutan dari
prosedur akuntansi lainnya yang seperti prosedur transaksi kewajiban,
prosedur transaksi Belanja, prosedur transaksi Aset dan sebagainya.
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi ekuitas SKPD adalah:
a. Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPD)
Tugas PPK SKPD adalah melakukan pencatatan atas setiap transaksi ekuitas
yang terjadi berdasarkan dokumen sumber serta bukti memorial.
b. Bendahara Pengeluaran
Bendahara Pengeluaran bertugas melakukan pembayaran atas setiap beban
dan utang yang terjadi yang akan mempengaruhi transaksi ekuitas.
c. Bendahara Penerimaan
Bendahara Penerimaan bertugas menerima pendapatan dan piutang yang
dibayar oleh pihak ketiga yang akan mempengaruhi transaksi ekuitas.
d. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
PPTK bertugas melakukan pengadaan Aset Tetap sesuai dengan prosedur
yang akan mempengaruhi transaksi ekuitas dan memberikan dokumen
tembusannya kepada PPK SKPD untuk dilakukan pencatatan.
Dokumen Sumber
Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi
keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai sumber atau bukti
untuk menghasilkan data akuntansi. Dokumen sumber yang digunakan pada
Akuntansi Ekuitas SKPD meliputi:
a. Berita Acara Inventarisasi Persediaan
b. Berita Acara Revaluasi Aset Tetap
Sistem dan Prosedur Akuntansi
Pencatatan akuntansi atas ekuitas yang dapat terjadi pada transaksi di SKPD
dilakukan seperti berikut ini:
a. Pada saat penyusunan laporan keuangan dan melakukan penutupan akun
nominal yaitu akun pendapatan LO dan akun beban.
b. Koreksi kesalahan yang tidak berulang yang terjadi pada periode-periode
sebelumnya dan mempengaruhi aset dan kewajiban, apabila laporan
keuangan periode tersebut sudah diterbitkan, dibukukan sebagai penambah
atau pengurang ekuitas pada periode ditemukannya koreksi tersebut.
Koreksi tersebut antara lain:
1) Koreksi nilai persediaan
2) Selisih Revaluasi Aset Tetap
c. Penutupan Akun Nominal
Dalam tahapan penyusunan Laporan Keuangan SKPD, setelah menyusun
Laporan Operasional perlu dilakukan penutupan akun-akun nominal
dengan tujuan:
1) Menghitung jumlah surplus/defisit dari akun pendapatan LO dan beban.
2) Memindahkan (menolkan) saldo akun sementara ke akun ekuitas untuk
pencatatan periode berikutnya.
3) Menghitung ekuitas akhir periode.
Berikut contoh jurnal penutup LO.
Pendapatan-LO
xxx
Surplus/Defisit-LO
xxx
Beban
xxx
Akuntansi SKPD membuat jurnal penutup akhir untuk menutup akun
Surplus (Defisit) – LO ke akun Ekuitas. Berikut contoh jurnal penutup
akhir
Surplus/Defisit-LO
xxx
Ekuitas
xxx
M. SISTEM AKUNTANSI JURNAL KOREKSI DAN PENYESUAIAN SKPD
Koreksi adalah tindakan pembetulan secara akuntansi karena adanya
kesalahan agar akun-akun yang tersaji dalam laporan keuangan entitas
menjadi sesuai dengan yang seharusnya. Kesalahan dalam penyusunan
laporan keuangan dapat terjadi pada satu atau beberapa periode
sebelumnya yang baru ditemukan pada periode berjalan.
Kesalahan dapat terjadi karena adanya:
1. Keterlambatan penyampaian bukti transaksi oleh pengguna anggaran,
2. Kesalahan perhitungan matematis,
3. Kesalahan dalam penerapan standar dan kebijakan akuntansi,
4. Kesalahan interpretasi fakta,
5. Kecurangan, atau
6. Kelalaian.
Ditinjau dari sifat kejadiannya, kesalahan dikelompokkan ke dalam dua
jenis, yaitu kesalahan yang berulang dan sistemik serta kesalahan yang
tidak berulang.
1. Koreksi Kesalahan yang Berulang dan Sistemik
Kesalahan ini disebabkan sifat alamiah (normal) dari jenis-jenis
transaksi tertentu yang diperkirakan akan terjadi secara berulang.
Koreksi ini biasanya terjadi pada penerimaan pajak dari Wajib Pajak (WP)
berupa kelebihan atau kekurangan bayar pajak. Berdasarkan SAP, jurnal
koreksi tidak perlu dibuat untuk kesalahan seperti ini, tetapi dicatat pada
saat terjadi pengeluaran/penerimaan kas untuk mengembalikan
kelebihan /kekurangan pendapatan dengan mengurangi/menambah
Pendapatan-LRA maupun Pendapatan-LO yang bersangkutan.
Sebagai
contoh,
berdasarkan
peraturan
perundang-undangan
pembayaran pajak daerah yang dibayar secara cicilan setiap bulan pada
tahun 20x1 berdasarkan jumlah pajak yang dibayar pada tahun 20x0
sebelumnya. Dalam tahun 20x1 jumlah pajak yang sudah dibayar selama
tahun 20X1 sebesar Rp1.200,00. Ternyata setelah diperhitungkan pada
akhir tahun 20X1, pajak yang menjadi beban perusahaan tersebut pada
tahun 20x1 hanya sebesar Rp1.000,00. Pengembalian kelebihan pajak
sebesar Rp200,00 baik pada periode penerimaan pendapatan LRA dan
periode penerimaan pendapatan LO dilakukan oleh BUD/Kuasa BUD dan
dibayarkan pada bulan Maret 20x2. Dengan demikian pencatatan transaksi
tersebut hanya dilakukan pada SKPKD dengan mengurangi Pendapatan LRA
dan Pendapatan LO.
Jurnal standar untuk koreksi ini sebagai berikut:
1. Transaksi Wajib Pajak Lebih Bayar:
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
pengeluaran
kas atau yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet
Pendapatan
Pajak-LO
Kas di Kas
Daerah
XXX
Kredit
XXX
LRA
Uraian
Debet
Pendapatan
Pajak – LRA
Perubahan
SAL
XXX
Kredit
XXX
2. Transaksi Wajib Pajak Kurang Bayar:
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
penerimaan
kas atau yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet
Kas di Kas
Daerah
Pendapatan
Pajak-LO
XXX
Kredit
XXX
LRA
Uraian
Perubahan SAL
Pendapatan
Pajak – LRA
Debet
Kredit
XXX
XXX
2. Koreksi Kesalahan yang Tidak Berulang
Koreksi ini merupakan koreksi atas kesalahan yang diharapkan tidak akan
terjadi kembali pada masa-masa yang akan datang. Koreksi ini dapat terjadi
pada periode berjalan maupun pada periode-periode sebelumnya.
a. Koreksi Kesalahan yang Tidak Berulang pada Periode Berjalan
Baik mempengaruhi posisi Kas maupun tidak, koreksi atas kesalahan ini
dilakukan dengan pembetulan pada akun yang bersangkutan dalam
periode berjalan, baik pada akun Pendapatan-LRA atau akun Belanja,
maupun akun Pendapatan-LO atau akun Beban. Apabila tidak
mempengaruhi posisi Kas, pembetulan hanya dilakukan pada akun-akun
neraca terkait pada periode kesalahan ditemukan.
Sebagai contoh, pada periode Januari sampai dengan November 20X0
terdapat penerimaan pendapatan retribusi izin mendirikan bangunan
sebesar Rp100,00. Pada bulan Desember 20X0 diketemukan adanya
kesalahan dan kelebihan penerimaan sebesar Rp5,00. Kelebihan ini
dikembalikan kepada yang berhak pada bulan Desember 20X0 oleh
BUD/Kuasa BUD dengan membuat bukti pengeluaran kas untuk
pengembalian penerimaan pendapatan.
Koreksi atas Pengeluaran Belanja/Beban (Penerimaan Kembali Belanja /
Beban) yang terjadi pada periode pengeluaran belanja /beban.
Walaupun pembayaran belanja/beban telah dilakukan secara hati-hati,
namun kadang-kadang terjadi kesalahan/kelebihan sehingga ada koreksi
atau penerimaan kembali belanja/beban di kemudian hari. Koreksi atas
pengeluaran belanja (penerimaan kembali belanja/beban) yang terjadi
pada periode pengeluaran belanja /beban dibukukan sebagai pengurang
belanja/beban pada periode yang sama.
Sebagai contoh, Pada bulan Juni 20X0, BUD/Kuasa BUD menyampaikan
Bukti Penerimaan Kembali Belanja/Beban Pegawai bulan Maret 20X0
sebesar Rp2 juta kepada Bendahara Pengeluaran SKPD. Berdasarkan
tembusan Bukti Penerimaan Kembali Belanja/Beban Pegawai tersebut,
PPK-SKPD membuat BM kemudian mencatat pada Buku Jurnal Umum
sebagai berikut:
b Koreksi Kesalahan
Sebelumnya
yang
Tidak
Berulang
pada
Periode-Periode
1) Apabila laporan keuangan belum diterbitkan:
a) Jika mempengaruhi posisi Kas, koreksi dilakukan dengan
pembetulan pada akun yang bersangkutan, baik pada akun
Pendapatan-LRA atau akun Belanja, maupun akun Pendapatan-LO
atau akun Beban.
b) Jika tidak mempengaruhi posisi kas, pembetulan dilakukan pada
akun-akun neraca terkait, pada periode kesalahan ditemukan.
2) Apabila laporan keuangan telah diterbitkan
a) Koreksi kesalahan yang tidak mempengaruhi posisi Kas, pembetulan
dilakukan pada akun-akun neraca terkait, pada periode kesalahan
ditemukan.
b) Kesalahan atas kelebihan pengeluaran belanja/beban sehingga
mengakibatkan penerimaan kembali belanja/beban dan menambah
posisi Kas, maka pembetulan dilakukan pada akun Kas, Pendapatan
Lain-lain-LRA, dan Pendapatan Lain-lain-LO.
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Bukti
Kas di Kas
Daerah/Bendahara
penerimaan
kas atau yang Pengeluaran
dipersamakan
Pendapatan
lain-lain-LO
Debet
LRA
Kredit
Uraian
Debet
XXX
XXX
Perubahan SAL
Pendapatan
Lainnya –
LRA
XXX
Kredit
XXX
Sebagai contoh, pada bulan Juni 20X1 BUD/Kuasa BUD membuat
Bukti Penerimaan Kembali Belanja/Beban (BPKBj/Bb) Perjalanan
Dinas sebesar Rp1 juta atas perjalanan dinas yang telah dibayarkan
oleh Bendahara Pengeluaran SKPD pada tahun 20X0.
c) Kesalahan atas kekurangan pengeluaran belanja/beban sehingga
mengakibatkan penambahan belanja/beban dan mengurangi posisi
Kas, maka pembetulan dilakukan pada akun Kas, Ekuitas, dan
SiLPA/SiKPA
Kesalahan atas kekurangan pengeluaran beban akan dijurnal:
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Bukti
Ekuitas
pengeluaran
Kas di Kas
kas atau yang
Daerah/
dipersamakan
Bendahara
Pengeluaran
d)
Debet
LRA
Kredit
Uraian
Debet
SiLPA/SiKPA
Perubahan
SAL
XXX
XXX
XXX
Kredit
XXX
Koreksi kesalahan atas kekurangan Pendapatan sehingga
mengakibatkan penambahan Pendapatan-LO/Pendapatan-LRA dan
menambah posisi Kas, dilakukan dengan pembetulan pada akun Kas,
Ekuitas, dan SiLPA/SiKPA.
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
penerimaan
kas atau yang
dipersamakan
Laporan Operasional & Neraca
Uraian
LRA
Debet Kredit
Kas di Kas
daerah/Bendahara
Pengeluaran
Ekuitas
XXX
Uraian
Debet Kredit
Perubahan SAL
SiLPA/SiKPA
XXX
XXX
XXX
e) Koreksi kesalahan atas kelebihan Pendapatan sehingga mengakibatkan
pengembalian Pendapatan-LO / Pendapatan – LRA dan mengurangi posisi
Kas, dilakukan dengan pembetulan pada akun Kas, Ekuitas, dan
SiLPA/SiKPA.
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Bukti
Ekuitas
pengeluaran
Kas di Kas
kas atau yang
Daerah/
dipersamakan
Bendahara
Pengeluaran
Debet
Kredit
XXX
XXX
LRA
Uraian
SiLPA/SiKPA
Perubahan
SAL
Debet
Kredit
XXX
XXX
Sebagai contoh, pada tahun 20X0 terdapat penjualan tanah Pemda
seluas 1.050 m2 dengan harga Rp1.000,00 per m2. Pada tahun 20X0
telah diterima seluruhnya. Pada tahun 20X1 oleh pembeli dilakukan
pengukuran ulang, ternyata luasnya hanya 1.000 m2, sehingga Pemda
harus mengembalikan 50 x Rp1.000,00 = Rp50.000,00. Pada tahun
20X1 tidak terjadi lagi penjualan tanah oleh Pemda.
f)
Koreksi kesalahan atas penerimaan atau pengeluaran pembiayaan sehingga
mengakibatkan penambahan maupun pengurangan posisi Kas, pembetulan
dilakukan pada akun Kas, SiLPA/SiKPA, dan akun neraca yang terkait.
(1) Penerimaan Pembiayaan - mengakibatkan penambahan posisi Kas.
Kesalahan atas kekurangan Penerimaan Pembiayaan
sehingga mengakibatkan penambahan posisi Kas
Contoh: Pemda menerima setoran atas kekurangan pembayaran
angsuran pokok pinjaman tahun lalu dari BUMD, akan
dijurnal sebagai berikut:
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Bukti
Kas di Kas
penerimaan
Daerah/Bendahara
kas atau yang Pengeluaran
dipersamakan
Pinjaman
Jangka Panjang
Kepada BUMD
Debet
Kredit
XXX
LRA
Uraian
Debet Kredit
Perubahan SAL
SiLPA/SiKPA
XXX
XXX
XXX
(2) Penerimaan Pembiayaan - mengakibatkan pengurangan posisi
Kas.
Kesalahan atas kelebihan Penerimaan Pembiayaan sehingga
mengakibatkan pengurangan posisi Kas
Contoh: Pemda mengembalikan kelebihan setoran angsuran pokok
pinjaman tahun lalu kepada BUMD, akan dijurnal
sebagai berikut:
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
pengeluaran
kas atau yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet
Pinjaman
Jangka Panjang
Kepada BUMD
Kas di Kas
Daerah/Ben
dahara
Pengeluaran
XXX
Kredit
LRA
Uraian
Debet
SiLPA/SiKPA
Perubahan
SAL
XXX
Kredit
XXX
XXX
(3) Pengeluaran Pembiayaan - mengakibatkan penambahan posisi Kas.
Kesalahan atas kelebihan Pengeluaran Pembiayaan sehingga
mengakibatkan penambahan posisi Kas
Contoh: Pemda menerima kelebihan pembayaran angsuran utang
jangka panjang tahun lalu kepada pemerintah pusat,
akan dijurnal sebagai berikut:
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
penerimaan
kas atau
yang
dipersamak
an
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
LRA
Kredit
Kas di Kas
XXX
Daerah/Bendahara
Pengeluaran
Utang Pemerintah
Pusat
Uraian
Debet
Perubahan
SAL
SiLPA/SiK
PA
XXX
Kredit
XXX
XXX
(4) Pengeluaran Pembiayaan - mengakibatkan pengurangan posisi Kas.
Kesalahan atas kekurangan Pengeluaran Pembiayaan sehingga
mengakibatkan pengurangan posisi Kas.
Contoh: Terdapat pembayaran angsuran utang jangka panjang
tahun lalu kepada pemerintah pusat yang belum dicatat, akan
dikoreksi sebagai berikut:
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Bukti
pengeluaran
kas atau yang
dipersamakan
Uraian
Debet
Utang Pemerintah
Pusat
Kas di Kas
Daerah/Bendah
ara Pengeluaran
XXX
LRA
Kredit
Uraian
Debet
SiLPA/SiKPA
Perubahan
SAL
XXX
Kredit
XXX
XXX
g) Koreksi kesalahan atas perolehan aset selain Kas dan menambah atau
mengurangi posisi Kas, dilakukan dengan pembetulan pada akun Kas,
SiLPA/SiKPA, dan akun Aset bersangkutan.
(1) Jika menambah Kas dan mengurangi nilai Aset Tetap.
Misalnya, pemda kelebihan membayar harga tanah yang dibeli,
akan dikoreksi sebagai berikut:
Dokumen
yang
Mendasari
Bukti
penerimaan
kas atau
yang
dipersamak
an
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet
Kas di Kas
Daerah/Benda
hara
Pengeluaran
Tanah
Kantor
XXX
Kredit
LRA
Uraian
Debet
Perubahan SAL
SiLPA/SiKPA
XXX
Kredit
XXX
XXX
(2) Jika mengurangi Kas dan menambah nilai Aset Tetap.
Misalnya, pemda kurang membayar harga peralatan kantor yang
dibeli.
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Bukti
Peralatan Kantor
pengeluaran
Kas di Kas
kas atau yang
Daerah/Bend
dipersamakan
ahara
Pengeluaran
Debet
LRA
Kredit
Uraian
Debet
XXX
XXX
SiLPA/SiKPA
Perubahan
SAL
XXX
Kredit
XXX
N. SISTEM AKUNTANSI PENYAJIAN KEMBALI (RESTATEMENT) NERACA
Definisi
Penyajian Kembali (restatement) adalah perlakuan akuntansi yang dilakukan
atas pos-pos dalam Neraca yang perlu dilakukan penyajian kembali pada
awal periode ketika Pemerintah Daerah untuk pertama kali akan
mengimplementasikan kebijakan akuntansi yang baru dari semula basis
Kas Menuju Akrual menjadi basis Akrual penuh.
Penyajian kembali diperlukan untuk pos-pos Neraca yang kebijakannya
belum mengikuti basis akrual penuh.Karena untuk penyusunan neraca
ketika pertama kali disusun dengan basis akrual, neraca akhir tahun
periode sebelumnya masih menggunakan basis Kas Menuju Akrual (cash
toward accrual). Berdasarkan identifikasi ini maka perlu disajikan kembali
antara lain untuk akun sebagai berikut:
1. Piutang yang menampilkan nilai wajar setelah dikurangi penyisihan
piutang;
2. Beban Dibayar Dimuka, sebelumnya diakui seluruhnya sebagai belanja,
apabila masih belum dimanfaatkan seluruhnya, maka disajikan sebagai
akun beban dibayar di muka. Hal tersebut tidak dilakukan penyesuaian
di tahun sebelumnya, oleh karena itu akun ini perlu disajikan kembali;
3. Aset Tetap, yang menampilkan nilai buku setelah dikurangi akumulasi
penyusutan;
4. Aset Tidak Berwujud, perlu disajikan kembali dengan nilai buku setelah
dikurangi akumulasi amortisasi;
5. Utang Bunga, perlu disajikan kembali terkait dengan akrual utang bunga
akibat adanya utang jangka pendek yang sudah jatuh tempo;
6. Pendapatan Diterima Dimuka, perlu disajikan kembali karena pada
periode sebelumnya belum disajikan;
7. Ekuitas, perlu disajikan kembali karena kebijakan yang digunakan dalam
pengklasifikasian ekuitas berbeda.
Tahapan Penyajian Kembali
Tahapan yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk melakukan
penyajian kembali Neraca adalah :
1. Menyiapkan data yang relevan untuk dasar pengakuan akun-akun
terkait seperti misalnya untuk dasar menghitung dan mencatat beban
penyisihan piutang dan cadangan penyisihan piutang; beban penyusutan
dan akumulasi penyusutan; beban amortisasi dan akumulasi amortisasi;
2. Menyajikan kembali akun-akun neraca yang belum sama perlakuan
kebijakannya, dengan cara menerapkan kebijakan yang berlaku yaitu
basis akrual, sesuai dengan Peraturan Kepala Daerah tentang kebijakan
akuntansi berbasis akrual.
Jurnal Standar
Jurnal standar untuk melakukan penyajian kembali Neraca adalah sebagai
berikut :
URAIAN
Penyajian
kembali
nilai wajar
piutang
AKUN
EKUITAS
PENYISIHAN PIUTANG …..
(untuk mencatat koreksi penyajian kembali
menambah akun akumulasi penyisihan piutang
tak tertagih sebesar jumlah cadangan piutang
yang seharusnya dicadangkan s/d tahun
terakhir sebelum nelaksanaan basis akrual)
DEBIT
XXX
Penyajian
kembali
nilai beban
dibayar
dimuka
Penyajian
kembali
nilai buku
aset tetap
Penyajian
kembali
nilai buku
aktiva tidak
berwujud
Penyajian
kembali
nilai utang
bunga
Beban Dibayar dimuka
EKUITAS
(untuk mencatat koreksi penyajian kembali
menambah nilai beban dibayar dimuka)
XXX
EKUITAS
Akumulasi penyusutan
(untuk mencatat koreksi penyajian kembali
menambah nilai Akumulasi penyusutan)
EKUITAS
Akumulasi Amortisasi
(untuk mencatat koreksi penyajian
kembali menambah nilai akumulasi
XXX
EKUITAS
Utang Bunga……
(untuk mencatat koreksi penyajian kembali
menambah nilai utang bunga)
XXX
Penyajian
kembali
nilai
pendapatan
diterima
dimuka
Penyajian
kembali
nilai
Ekuitas
EKUITAS
Pendapatan diterima dimuka
(untuk mencatat koreksi penyajian kembali
menambah
nilai
pendapatan
diterima
dimuka)
XXX
EKUITAS DANA
EKUITAS
(untuk mencatat koreksi penyajian
kembali reklasifikasi ekuitas)
XXX
KREDIT
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
penyusutan)
XXX
XXX
XXX
O. SIKLUS AKUNTANSI
Siklus akuntansi di SKPD adalah sebagai berikut:
Semua transaksi dan/atau kejadian keuangan pada SKPD yang berkaitan
dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah, berdasarkan pada buktibukti transaksi yang sah dicatat pada jurnal LO dan Jurnal LRA.
Secara periodik (misalnya; minggu atau bulan), PPK-SKPD melakukan
pemindahan catatan dari buku jurnal kepada masing- masing buku besar
yang sesuai (posting).
Secara periodik (misalnya: triwulan, semester, dan/atau tahun), PPK-SKPD
menyusun Neraca Saldo sebagai dasar penyusunan Laporan Keuangan. Dari
7 Laporan Keuangan wajib yang terdapat dalam PP 71/2010, terdapat 5
Laporan Keuangan yang dibuat oleh SKPD, yaitu: Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca dan
Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan keuangan tersebut dapat
dilakukan secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pada SKPD antara lain
Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD), Bendahara
Penerimaan dan/atau Bendahara Pengeluaran SKPD dan Pengurus Barang
Milik Daerah (BMD).
a. Bendahara di SKPD
Dalam kegiatan ini, bendahara penerimaan dan/atau bendahara
pengeluaran di SKPD memiliki tugas:
- Melakukan
verifikasi
mengenai
kecukupan/kelengkapan,
kompetensi/keabsahan dan relevansi bukti yang diterimanya sebelum
membuat bukti penerimaaan dan/atau pengeluaran kas.
- Membuat bukti penerimaan dan/atau pengeluaran kas sehubungan
dengan transaksi penerimaan kas dan/atau pengeluaran kas.
- Mendistribusikan tembusan bukti penerimaan dan/atau pengeluaran
kas yang telah memenuhi syarat lengkap, sah dan relevan kepada
PPK-SKPD.
b. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD)
Dalam kegiatan ini, PPK-SKPD memiliki tugas sebagai berikut:
- Bukti transaksi/kejadian yang sah, lengkap dan relevan dicatat ke
Buku Jurnal Umum.
- Nama akun rincian obyek yang sesuai di catat buku jurnal umum
berdasarkan Bagan Akun Standar pada Lampiran IV.
-
-
Secara periodik (mingguan atau bulanan) melakukan pemindahan
catatan dari buku jurnal umum ke Buku Besar masing-masing akun
rincian objek.
Secara periodik (bulan, triwulan, semester, dan tahun) menyusun
Laporan Keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran
(LRA), Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca
dan Catatan atas Laporan keuangan.
c. Pengguna Anggaran
Pengguna Anggaran akan melakukan otorisasi dan melaporkan
Laporan Keuangan atas SKPD-nya sebagai entitas akuntansi untuk
dapat dikonsolidasikan di entitas pelaporan.
Prosedur penyusunan Laporan Keuangan
1. Bukti transaksi/kejadian yang sah, lengkap dan relevan dicatat ke Buku
Jurnal Umum
2. Secara periodik (mingguan atau bulanan) melakukan pemindahan
catatan dari buku jurnal umum ke Buku Besar masing-masing akun
rincian objek.
3. PPK-SKPD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi
neraca saldo atau daftar saldo buku besar.
4. Menyiapkan Kertas Kerja
Beberapa langkah-langkah pengisian dalam kertas kerja yaitu:
- Mengisi neraca saldo sebelum penyesuaian
- Membuat Jurnal Koreksi dan Penyesuaian
- Membuat Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
5. Menyusun Laporan Keuangan
Beberapa langkah-langkah penyusunan laporan keuangan yaitu :
- Membuat LRA dan jurnal penutup LRA dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LRA
- Membuat LO dan jurnal penutup LO dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LO
- Membuat Laporan Perubahan Ekuitas dan jurnal penutup akhir
- Menyusun Neraca, membuat jurnal penutup akhir, dan Neraca Saldo akhir
- Membuat Catatan atas Laporan Keuangan
- Membuat Pernyataan Tanggung Jawab
Langkah Pertama : Mencatat Ke Dalam Memo Jurnal dan Buku Jurnal Umum
Sebagai entitas akuntansi, SKPD melakukan proses akuntansi yang dimulai
dari
pencatatan
transaksi
Transaksi-transaksi
tersebut
hingga
dicatat
penyusunan
oleh
Laporan
PPK-SKPD
Keuangan.
sesuai
dengan
dokumen transaksinya menggunakan Memo Jurnal ke dalam buku jurnal.
Format Memo Jurnal dan buku jurnal yang digunakan adalah sebagai
berikut:
Memo Jurnal:
KABUPATEN JENEPONTOH
MEMO JURNAL
TAHUN ANGGARAN
Nomor : ………..
Tanggal: ………
SKPD : ……
KODE
PERKIRAAN
Keterangan:
Bukti:
1.
2.
Dicatat oleh:
BUKU JURNAL:
SKPD: ……………..
Tanggal
Nomor
Bukti
1
2
DEKSRIPSI
PERKIRAAN
JUMLAH
DI DEBET
JUMLAH
DI KREDIT
Nomor
Disetujui oleh:
Tanggal
Auditor Internal:
KABUPATEN JENEPONTO
BUKU JURNAL
PERIODE………..
Kode
Rekening
3
Uraian
Debit
4
5
Halaman
Kredit
Jumlah ini dipindahkan ke halaman berikutnya….
xxxx, ……………………
PPK SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
6
Cara pengisian:
a. Kolom 1 diisi tanggal transaksi atau tanggal yang terdapat dalam bukti
transaksi.
b. Kolom 2 diisi nomor bukti yang sesuai, misalnya SP2D, kuitansi, STS,
Tanda Bukti Pembayaran, dan sebagainya.
c. Kolom 3 diisi kode rekening yang sesuai, dimulai dari kode urusan,
organisasi, program, kegiatan, hingga rincian obyeknya. Misalnya kode
rekening untuk belanja telepon pada Dinas Pendapatan adalah :
d. Kolom 4 diisi uraian kode rekening, misalnya “Belanja Telepon”.
e. Kolom 5 diisi jumlah rupiah yang dijurnal di debit.
f. Kolom 6 diisi jumlah rupiah yang dijurnal di kredit.
Langkah ke dua: memindahkan masuk kedalam Buku Besar
Tahapan selanjutnya setelah pencatatan transaksi melalui jurnal adalah
posting ke buku besar. Dalam tahap ini, PPK-SKPD mem-posting atau
memindahkan setiap akun beserta jumlahnya dari buku jurnal ke buku
besar masing-masing akun. Format buku besar yang digunakan adalah
sebagai berikut:
KABUPATEN JENEPONTO
BUKU BESAR
SKPD
KODE REKENING
NAMA REKENING
PAGU APBD
PAGU PERUBAHAN APBD
:
:
:
:
:
……………………………
……………………………
……………………………
……………………………
……………………………
Halaman…………
TANGGAL
URAIAN
REF
DEBIT
KREDIT
SALDO
1
2
3
4
5
6
Jumlah ini dipindahkan ke halaman
berikutnya….
xxxx, ……………………
PPK SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Cara pengisian:
a. SKPD diisi dengan nama Dinas/Badan/Kantor yang bersangkutan.
b. Kode Rekening diisi dengan kode rekening yang sesuai, dimulai dari
kode urusan, organisasi, program, kegiatan, hingga rincian obyeknya.
Misalnya kode rekening untuk belanja telepon pada Dinas Pendapatan
adalah:
1.07.1.07.01.01.02.5.2.2.03.01
1.07
Kode urusan
1.07.01
Kode organisasi
01.02
Kode Program & Kegiatan
5.2.2.03.01
Rincian obyek belanja
c. Nama Rekening diisi dengan nama/uraian kode rekening sesuai kode
rekeningnya.
d. Pagu APBD diisi dengan pagu pendapatan/belanja sesuai dengan
jumlah yang terdapat dalam DPA Dinas/Badan/Kantor. Untuk aset,
kewajiban, dan ekuitas dana, nilai Pagu APBD ini dapat dikosongkan.
e. Pagu Perubahan APBD diisi dengan pagu pendapatan/belanja sesuai
dengan jumlah yang terdapat dalam DPA Perubahan Dinas / Badan /
Kantor. Untuk aset, kewajiban, dan ekuitas dana, nilai Pagu
Perubahan APBD ini dapat dikosongkan.
f. Kolom 1 diisi tanggal transaksi atau tanggal yang terdapat dalam jurnal
yang bersangkutan.
Kolom 2 diisi penjelasan seperlunya terkait dengan jurnal yang
diposting.
h. Kolom 3 diisi referensi, atau dari buku jurnal halaman berapa jurnal
yang diposting tersebut.
i. Kolom 4 diisi jumlah rupiah sesuai dengan yang ada di jurnal kolom
debit.
j. Kolom 5 diisi jumlah rupiah sesuai dengan yang ada di jurnal kolom
kredit.
k. Kolom 6 diisi saldo akumulasi.
Langkah ketiga: membuat Neraca Saldo
Pada setiap akhir periode akuntansi atau sesaat sebelum penyusunan
laporan keuangan, PPK SKPD menyusun Neraca Saldo atau Daftar Saldo
Buku Besar.Neraca Saldo adalah suatu daftar yang berisi seluruh kode
rekening beserta saldonya pada tanggal tertentu. Format Neraca Saldo tau
Daftar Saldo Buku Besar yang digunakan adalah sebagai berikut:
KABUPATEN JENEPONTO
NERACA SALDO
PER………..
SKPD:………………
Kode
Rekening
Nama Rekening
Debit
Halaman
Kredit
1
2
3
4
xxxx, ……………………
PPK SKPD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Cara pengisian:
a. Tanggal diisi dengan tanggal Neraca Saldo disusun
b. SKPD diisi dengan nama Dinas / Badan / Kantor yang bersangkutan.
c. Kolom 1 diisi kode rekening setiap buku besar.
d. Kolom 2 diisi nama/uraian kode rekening sesuai kode rekeningnya.
e. Kolom 3 diisi jumlah saldo buku besar yang memiliki saldo akhir debit.
f. Kolom 4 diisi jumlah saldo buku besar yang memiliki saldo akhir
kredit.
Langkah ke empat: menyiapkan Kertas Kerja
PPK-SKPD menyiapkan kertas kerja (worksheet) sebagai alat untuk
menyusun Laporan Keuangan. Kertas kerja adalah alat bantu yang
digunakan dalam proses pembuatan Laporan Keuangan. Kertas kerja
berguna untuk mempermudah proses pembuatan laporan keuangan yang
dihasilkan secara manual.
Penggunaan format dalam hal ini disesuaikan dengan kebutuhan yang
berkembang. Informasi minimal yang harus ada pada format kertas kerja
adalah sebagai berikut:
(1) Mengisi Neraca Saldo sebelum penyesuaian
PPK-SKPD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi neraca
saldo. Angka-angka neraca saldo tersebut diletakkan di kolom “Neraca Saldo”
yang terdapat pada Kertas Kerja.
(2) Membuat Jurnal Penyesuaian
PPK-SKPD membuat jurnal penyesuaian. Jurnal ini dibuat dengan tujuan
melakukan penyesuaian atas saldo pada akun-akun tertentu dan
pengakuan atas transaksi-transaksi yang bersifat akrual. Jurnal
penyesuaian tersebut diletakkan dalam kolom “Penyesuaian” yang terdapat
pada Kertas Kerja.
Jurnal penyesuaian yang diperlukan antara lain digunakan untuk:
(a) Koreksi kesalahan/Pemindahbukuan
(b) Pencatatan jurnal yang belum dilakukan
(c) Pencatatan piutang, persediaan dan atau aset lainnya pada akhir tahun
Penjelasan atas jurnal penyesuaian dan koreksi tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
a) Koreksi kesalahan pencatatan
Untuk melakukan koreksi atas terjadinya kesalahan pencatatan, PPKSKPD akan membuat bukti memorial yang akan diotorisasi oleh
Pengguna Anggaran. Berdasarkan bukti memorial yang telah diotorisasi,
PPK-SKPD langsung membuat pembetulan atas jurnal yang salah catat
tersebut. Misalnya, transaksi beban/belanja telepon dicatat pada
beban/belanja listrik. Untuk melakukan koreksi atas kesalahan tersebut,
PPK-SKPD menjurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial yang
telah diotorisasi
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban telpon
Beban Listrik
Kredit
XXX
XXX
Karena merupakan transaksi realisasi anggaran, PPK-SKPD juga
mencatat koreksi belanja dan melakukan penyesuaian Perubahan SAL
dengan menjurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial yang
telah diotorisasi
LRA
Uraian
Debet
Belanja telpon
Belanja listrik
Kredit
XXX
XXX
b) Pengakuan Persediaan
Apabila SKPD melakukan transaksi persediaan dengan pendekatan
beban dan metode periodik, maka pada akhir periode sebelum menyusun
laporan keuangan, secara rutin akan dilakukan stockopnamesetiap akhir
periode untuk mengetahui sisa persediaan yang dimiliki. Berdasarkan
berita acara stock opname, PPK-SKPD mengakui persediaan dengan
menjurnal “Persediaan sesuai jenisnya” di debit dan “Beban Persediaan”
di kredit sebesar persediaan yang ada di akhir periode.
Dokumen yang
Mendasari
beritaacarastock
opname
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Persediaan
Beban Persediaan
Kredit
XXX
XXX
c) Jurnal Penyusutan
Berdasarkan daftar barang dan kebijakan akuntansi yang dimiliki oleh
Pemerintah Daerah, PPK-SKPD pada akhir tahun akan membuat bukti
memorial yang kemudian akan diotorisasi oleh Pengguna Anggaran
untuk mengakui penyusutan atas aset tetap yang dimiliki. PPK-SKPD
akan mencatat penyusutan aset tetap dengan menjurnal di jurnal umum:
Dokumen yang Mendasari
BM, Bukti Hasil Perhitungan
Penyusutan Aset Tetap
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Debet
Kredit
XXX
XXX
d) Penyesuaian Sewa Dibayar Dimuka
Pemerintah Daerah perlu membuat jurnal penyesuaian pada akhir
periode untuk transaksi pembayaran biaya sewa yang masa manfaatnya
lebih dari satu tahun anggaran yang dicatat dengan pendekatan beban
oleh pemerintah daerah. Pada akhir tahun, berdasarkan Surat Perjanjian
Sewa, PPK-SKPD akan membuat bukti memorial yang kemudian akan
diotorisasi oleh Pengguna Anggaran untuk penyesuaian beban sewa.
PPK-SKPD akan mencatat penyesuaian beban sewa dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Surat Perjanjian Sewa
dan bukti memorial
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban Jasa Dibayar Di muka
Beban Jasa
XXX
Kredit
XXX
3. Membuat Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
PPK-SKPD melakukan penyesuaian atas neraca saldo berdasarkan jurnal
penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya. Nilai yang telah disesuaikan
diletakkan pada kolom “Neraca Saldo Setelah Penyesuaian” yang terdapat
pada Kertas Kerja.
Langkah kelima: menyusun Laporan Keuangan
1. Menyusun LRA, membuat jurnal penutup LRA, dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LRA.
Berdasarkan Neraca Saldo atau daftar saldo buku besar setelah
penyesuaian.Akuntansi
SKPD
mengidentifikasi
akun-akun
yang
termasuk dalam komponen Laporan Realisasi Anggaran (kode akun yang
berawalan 4, 5, dan 6) dan kemudian membuat “Laporan Realisasi
Anggaran”.
Bersamaan dengan pembuatan LRA, Akuntansi SKPD juga melakukan
jurnal penutup untuk menutup akun-akun LRA.Prinsip penutupan ini
adalah membuat nilai akun-akun LRA menjadi 0 (nol).
Berikut contoh jurnal penutup LRA:
Jurnal Penutup untuk menutup jurnal penganggaran yang dibuat di awal
tahun anggaran
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
LRA
Uraian
Debet
Apropriasi Belanja
Estimasi Perubahan SAL
Estimasi Pendapatan
Kredit
XXX
XXX
XXX
Jurnal Penutup untuk realisasi anggaran, ditutup pada akun
surplus/defisit–LRA
Dokumen yang
LRA
Mendasari
Bukti memorial
Uraian
Debet
Pendapatan LRA
Belanja
Surplus-Defisit- LRA
Kredit
XXX
XXX
XXX
Jurnal Penutup untuk menutup akun surplus/defisit–LRA pada akun
SiLPA/SiKPA
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
LRA
Uraian
Debet
Surplus-Defisit- LRA
Kredit
XXX
XXX
SiLPA/SiKPA
Jurnal Penutup untuk menutup akun SiLPA/SiKPA pada akun Estimasi
Perubahan SAL yang terbentuk selama transaksi.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
LRA
Uraian
Debet
SiLPA/SiKPA
Estimasi Perubahan
SAL
XXX
Kemudian, setelah membuat jurnal penutupan,
menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan LRA.
Kredit
XXX
Akuntansi
Berikut adalah format LRA SKPD:
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPD ………..
LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN
31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
SKPD
KEPALA SKPD…………..
KABUPATEN JENEPONTO
(NAMA LENGKAP)
NIP.XXXXXXX XXXXXXX X XXX
2. Menyusun LO, jurnal penutup LO dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LO
Berdasarkan Neraca Saldo setelah Penutupan LRA, Akuntansi SKPD
mengidentifikasi akun-akun yang termasuk dalam komponen Laporan
Operasional (kode akun yang berawalan 8 dan 9) untuk kemudian
disajikan dalam Laporan Operasional.
Bersamaan dengan pembuatan LO, Akuntansi SKPD juga membuat
jurnal penutup. Prinsip penutupan ini adalah membuat nilai akunakun LO menjadi 0.
Kemudian, setelah membuat jurnal penutupan, Akuntansi SKPD
menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan LO. Berikut ini contoh
jurnal penutup LO.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Pendapatan-LO
Beban
Surplus/Defisit LO
Kredit
XXX
XXX
XXX
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPD ………..
LAPORAN OPERASIONAL UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI
DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
KEPALA SKPD…………..
KABUPATEN JENEPONTO
(NAMA LENGKAP)
NIP.XXXXXXX XXXXXXX X XXX
3. Membuat Laporan Perubahan Ekuitas dan jurnal penutup akhir
Selanjutnya, Akuntansi SKPD membuat Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
menggunakan data Ekuitas Awal dan data perubahan ekuitas periode
berjalan yang salah satunya diperoleh dari Laporan Operasional (LO) yang
telah dibuat sebelumnya. Laporan Perubahan Ekuitas ini akan
menggambarkan pergerakan ekuitas SKPD.
Berikut merupakan contoh format Laporan Perubahan Ekuitas SKPD.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS UNTUK PERIODE YANG
BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
KEPALA SKPD…………..
KABUPATEN JENEPONTO
(NAMA LENGKAP)
NIP.XXXXXXX XXXXXXX X XXX
Akuntansi PPKD membuat jurnal penutup akhir untuk menutup akun
Surplus (Defisit) – LO ke akun Ekuitas. Berikut contoh jurnal penutup akhir
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Surplus/Defisit LO
Ekuitas
XXX
Kredit
XXX
4. Menyusun Neraca, membuat jurnal penutup akhir, dan Neraca Saldo akhir
Berdasarkan Neraca Saldo setelah Penutupan LO, Akuntansi SKPD
membuat Neraca. Bersamaan dengan pembuatan Neraca, Akuntansi SKPD
membuat jurnal penutup akhir untuk menutup akun Surplus (Defisit) – LO
ke akun Ekuitas. Berikut ini contoh jurnal penutup akhir.
Kemudian, setelah membuat jurnal penutup akhir, Akuntansi SKPD
menyusun Neraca Saldo Akhir. Neraca Saldo Akhir ini akan menjadi Neraca
Awal untuk periode akuntansi yang selanjutnya.
Berikut ini merupakan contoh format Neraca SKPD Pemerintah Kabupaten
Jeneponto sebagai berikut.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPD……..
NERACA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
KEPALA SKPD…………..
KABUPATEN JENEPONTO
(NAMA LENGKAP)
NIP.XXXXXXX XXXXXXX X XXX
5. Menyusun Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian
dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan
Perubahan SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca,
dan Laporan Arus Kas. Hal-hal yang diungkapkan di dalam Catatan atas
Laporan Keuangan antara lain:
(a) Informasi umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi;
(b) Informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro;
(c) Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut
kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
(d) Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakankebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksitransaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya. Rincian dan penjelasan
masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka laporan keuangan;
(e) Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan; dan
(f) Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
Berikut ini merupakan contoh format Catatan atas Laporan Keuangan SKPD
Pemerintah Kabupaten Jeneponto di halaman berikut. .
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPD…….
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
KEPALA SKPD…………..
KABUPATEN JENEPONTO
(NAMA LENGKAP)
NIP.XXXXXXX XXXXXXX X XXX
6. Membuat Pernyataan Tanggung Jawab
Sebagai entitas akuntansi, SKPD wajib menyelenggarakan sistem akuntansi
untuk menyusun laporan keuangan SKPDsebagai alat akuntabilitas
penggunaan anggaran dan penggunaan barang milik daerah.Laporan
Keuangan SKPD merupakan tanggung jawab pengguna anggaran sehingga
pada saat menyampaikan laporan keuangan SKPD kepada PPKD untuk
dikonsolidasi harus dilengkapi dengan Surat Pernyataan Tanggung Jawab.
Surat Pernyataan Tanggung Jawab berisi pernyataan bahwa Laporan
Keuangan telah disusun berdasarkan sistem pengendalian internal yang
memadai, dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan
posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan. Format Surat Pernyataan Tanggung Jawab adalah sebagai
berikut:
SURAT PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
KEPALA SKPD……
DINAS/BADAN/KANTOR……….
Pernyataan Tanggung Jawab
Laporan Keuangan Dinas/Badan/Kantor………… Tahun Anggaran…………..
sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami.
Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem
pengendalian internal yang memadai, dan isinya telah menyajikan
informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Jeneponto , ……….……………
Kepala Dinas/Badan/Kantor
(…………………..……………………….)
NIP.
BUPATI JENEPONTO,
ttd
……………………….
LAMPIRAN II
PERATURAN BUPATI JENEPONTO
NOMOR 87 TAHUN 2014
TENTANG SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
SISTEM AKUNTANSI SKPKD
B. UMUM
Definisi
Dalam struktur Pemerintahan Daerah, Satuan Kerja Pengelola Keuangan
Daerah (SKPKD) merupakan entitas akuntansi yang mempunyai kewajiban
melakukan pencatatan atas transaksi–transaksi yang terjadi di lingkungan
satuan kerja pengelola keuangan daerah.
Sistem akuntansi SKPKD mencakup teknik pencatatan, pengakuan dan
pengungkapan atas anggaran, pendapatan-LO, beban, pendapatan-LRA,
belanja,
aset,
kewajiban,
ekuitas,
penyesuaian
dan
koreksi
serta
penyusunan laporan keuangan SKPKD.
Klasifikasi
Dalam sistem akuntansi SKPKD, PPK-SKPKD melakukan pencatatan
transaksi-transaksi dan/atau kejadian keuangan yang berkaitan dengan:
a. Sistem akuntansi anggaran
b. Sistem akuntansi penerimaan kas
c. Sistem akuntansi pengeluaran kas
d. Sistem akuntansi pendapatan
e. Sistem akuntansi belanja dan beban
f. Sistem Akuntansi Transfer
g. Sistem Akuntansi Pembiayaan
h. Sistem akuntansi piutang
i. Sistem akuntansi Investasi
j.Sistem akuntansi persediaan
k. Sistem akuntansi aset
l. Sistem akuntansi asset lainnya
m. Sistem akuntansi kewajiban
n. Sistem akuntansi ekuitas
o. Sistem akuntansi jurnal koreksi dan penyesuaian
p. Sistem akuntansi penyajian kembali (restatement) neraca
q. Siklus akuntansi
B. AKUNTANSI ANGGARAN PADA SKPKD
Akuntansi
anggaran
merupakan
teknik
pertanggungjawaban
dan
pengendalian manajemen yang digunakan untuk membantu pengelolaan
pendapatan dan belanja pada SKPKD.
Anggaran pendapatan meliputi estimasi pendapatan yang dijabarkan
menjadi alokasi estimasi pendapatan. Anggaran belanja terdiri dari
apropriasi yang dijabarkan menjadi otorisasi kredit anggaran (allotment).
Anggaran pembiayaan terdiri dari penerimaan pembiayaan dan
pengeluaran pembiayaan.
Pencatatan anggaran pada SKPKD merupakan tahap persiapan sistem
akuntansi pemerintah daerah. Pada tahap ini dilakukan pencatatan
untuk merekam data anggaran yang akan membentuk estimasi
perubahan SAL. Estimasi perubahan SAL ini merupakan akun perantara
yang berguna dalam rangka pencatatan transaksi realisasi anggaran. Di
dalam neraca, estimasi perubahan SAL merupakan bagian ekuitas SAL.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi anggaran SKPKD adalah:
c)
Pengguna Anggaran
d)
Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPKD)
Langkah-Langkah Teknis/Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi
Akuntansi anggaran diselenggarakan pada saat DPA-SKPKD disahkan
oleh Sekretaris Daerah selaku Koordinator Tim Anggaran Pemerintah
Daerah (TAPD) dan SKPKD.
Pengakuntansian anggaran menjadi opsional bagi unit akuntansi / PPKSKPKD yakni dapat membuat jurnal anggaran atau tidak.
Apabila anggaran diakuntasikan, maka berdasarkan DPA-SKPKD yang
telah disahkan, unit akuntansi/PPK-SKPKD membuat Bukti Memorial
(BM) selanjutnya berdasarkan BM tersebut mencatat pada jurnal umum,
sebagai berikut:
Apabila anggaran diakuntasikan, maka Dokumen Pelaksanaan Anggaran
SKPKD (DPA-SKPKD) yang sudah dibuat oleh SKPKD dan disetujui oleh
sekretaris daerah diserahkan kepada fungsi akuntansi SKPKD. Berdasarkan
dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPKD (DPA-SKPKD) yang telah
disahkan, PPK-SKPKD mencatat “Estimasi Pendapatan” di debit sebesar
total anggaran pendapatan, “Estimasi Penerimaan Pembiayaan” di debit
sebesar total anggaran penerimaan pembiayaan, “Apropriasi Belanja” di
kredit sebesar total anggaran belanja dan “Apropriasi Pengeluaran
Pembiayaan” di kredit sebesar total anggaran pengeluaran pembiayaan.
Selisih antara anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan dicatat
sebagai “Estimasi Perubahan SAL” di kredit. Atas transaksi di atas, PPK-
SKPKD membuat Bukti Memorial (BM) selanjutnya berdasarkan BM
tersebut mencatat pada jurnal umum, sebagai berikut:
Laporan Operasional
(LO) & Neraca
Dokumen
yang
Mendasari
Uraian
Bukti
Memorial,
DPA 1, DPA
2.1, DPA
3.1 dan
DPA 3.2
Debet
LRA
Kredit
Uraian
Tidak
ada
jurnal
Debet
Estimasi Pendapatan LRA
XXX
Estimasi Penerimaan - Pembiayaan
XXX
Estimasi Perubahan SAL
Apropriasi Belanja
Apropriasi Pengeluaran pembiayaan
Kredit
XXX
XXX
XXX
Menutup Akun Anggaran
Pada akhir tahun anggaran unit akuntansi/PPK-SKPKD membuat BM
untuk menutup akun-akun anggaran. Berdasarkan BM tersebut, unit
akuntansi/PPK-SKPKD mencatat pada jurnal umum untuk menutup untuk
akun anggaran, sebagai berikut:
Laporan Operasional
(LO) & Neraca
Dokumen
yang
Mendasari
Uraian
Bukti Memorial,
DPA 1, DPA 2.1,
DPA 3.1 dan
DPA 3.2
Debet
LRA
Kredit
Tidak
ada
jurnal
Uraian
Debet
Apropriasi Belanja
Apropriasi Pengeluaran
Pembiayaan
Estimasi Perubahan SAL
Estimasi Pendapatan LRA
Estimasi Penerimaan
Pembiayaan
Kredit
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
Menutup akun-akun LRA Dan LO
Pada akhir tahun anggaran unit akuntansi/PPK-SKPKD membuat BM
untuk menutup akun-akun pendapatan LRA, penerimaan pembiayaan,
belanja, dan pengeluaran pembiayaan serta untuk menutup akun-akun
pendapatan LO dan beban. Berdasarkan BM tersebut, PPK-SKPKD mencatat
pada jurnal umum sebagai berikut:
Ÿ Apabila jumlah Pendapatan LRA dan Penerimaan Pembiayaan lebih besar
dari jumlah Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan, serta jumlah
Pendapatan LO lebih besar dari jumlah Beban.
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional & Neraca
Uraian
Debet
Kredit
LRA
Uraian
Debet
Kredit
Bukti
Memorial
Pendapatan LO
Beban ….
Surplus
Operasional
XXX
XXX
XXX
Pendapatan LRA
Penerimaan
Pembiayaan
Belanja ….
Pengeluaran Pembiayaan
Perubahan SAL …
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
C. SISTEM AKUNTANSI PENERIMAAN KAS
Definisi
Prosedur akuntansi penerimaan kas pada SKPKD meliputi serangkaian
proses mulai dari identifikasi transaksi, pencatatan, pengikhtisaran, sampai
dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan penerimaan kas dalam
rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan
secara manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Prosedur akuntansi penerimaan kas oleh BUD/Kuasa BUD, terdiri dari:
a. Penerimaan Kas atas Piutang Pendapatan dan Piutang Lainnya (dibahas
pada bagian Piutang).
b. Penerimaan Kas atas Pendapatan Tahun Anggaran Berjalan (dibahas
pada bagian Pendapatan).
c. Penerimaan Kas atas Utang (dibahas pada bagian Utang).
d. Penerimaan Kas atas Penyetoran Kas dari Bendahara Penerimaan SKPD.
e. Penerimaan Kas atas Pengembalian UP/TU dari Bendahara Pengeluaran
SKPD.
f. Penerimaan Kas atas Koreksi Pengeluaran Belanja/Beban (penerimaan
kembali belanja/beban) yang diterima pada periode berikutnya (dibahas
pada bagian Koreksi).
g. Penerimaan Kas atas Koreksi Pengeluaran Belanja/Beban yang terjadi
pada periode Pengeluaran Belanja/Beban (dibahas pada bagian Koreksi).
Dokumen yang Digunakan
a. Surat Ketetapan .
b. Bukti/Kwitansi Penerimaan Kas (B/KTK).
c. STS.
d. Bukti Potongan/Memungut Pajak.
e. Dokumen/Bukti lain yang dipersamakan
Jurnal Standar
a. Penerimaan Kas atas Penyetoran dari Bendahara Penerimaan SKPD.
BUD/Kuasa BUD menerima tembusan STS dan/atau dokumen lain yang
dipersamakan untuk transaksi Penerimaan Kas atas Penyetoran dari
Bendahara Penerimaan SKPD. Pada saat yang bersamaan Unit
Akuntansi/PPK-SKPKD juga menerima tembusan tembusan STS dan/atau
dokumen lain yang dipersamakan tersebut, kemudian dicatat pada Buku
Jurnal Umum, sebagai berikut:
b. Penerimaan Kas atas Penyetoran dari Bendahara Pengeluaran SKPD.
BUD/Kuasa BUD menerima tembusan STS dan/atau dokumen lain yang
dipersamakan untuk transaksi Penerimaan Kas atas pengembalian UP/TU
dari Bendahara Pengeluaran SKPD. Pada saat yang bersamaan Unit
Akuntansi/PPK-SKPKD juga menerima tembusan tembusan STS dan/atau
dokumen lain yang dipersamakan tersebut, kemudian dicatat pada Buku
Jurnal Umum, sebagai berikut:
D. SISTEM AKUNTANSI PENGELUARAN KAS
Definisi
Sistem akuntansi pengeluaran kas pada SKPKD meliputi serangkaian
proses mulai dari pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan
keuangan yang berkaitan dengan pengeluaran kas dalam rangka
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang dapat dilakukan secara
manual atau menggunakan aplikasi komputer.
Prosedur akuntansi pengeluaran kas pada BUD/Kuasa BUD, terdiri atas:
a. Pengeluaran Kas untuk pemindahan uang kepada Bendahara
Pengeluaran SKPD.
b. Pengeluaran Kas untuk Belanja, Beban, dan Transfer (dibahas pada
bagian sistem akuntansi belanja, beban dan transfer).
c. Pengeluaran Kas untuk Pembentukan Dana Cadangan (dibahas pada
bagian sistem akuntansi Pembentukan Dana Cadangan).
d. Pengeluaran Kas untuk Penyertaan Modal/Investasi (dibahas pada
bagian sistem akuntansi Penyertaan Modal/Investasi).
e. Pengeluaran Kas untuk Pemberian Pinjaman Daerah (dibahas pada
bagian sistem akuntansi Pinjaman Daerah).
f. Pengeluaran Kas untuk Pembayaran Utang/Kewajiban (dibahas pada
bagian sistem akuntansi Utang/Kewajiban).
g. Pengeluaran Kas untuk Koreksi dan Pengembalian Penerimaan
Pendapatan yang sifatnya tidak berulang (nonrecurring) yang terjadi pada
periode penerimaan pendapatan (dibahas pada bagian Koreksi).
h. Pengeluaran Kas untuk Koreksi dan Pengembalian yang sifatnya tidak
berulang (nonrecurring) atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada
periode sebelumnya (dibahas pada bagian Koreksi).
i. Pengeluaran Kas untuk Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang
(recurring) atas pendapatan pada periode penerimaan pendapatan
maupun pada periode sebelumnya (dibahas pada bagian Koreksi).
Dokumen yang Digunakan
a. Bukti/Kwitansi Pengeluaran Kas (B/KKK).
b. SP2D-UP/GU/TU dan SP2D-LS
c. Dokumen/Bukti lain yang dipersamakan
Jurnal Standar
a.
Pengeluaran Kas untuk pemindahan uang kepada Bendahara
Pengeluaran SKPD.
BUD/Kuasa BUD menerbitkan SP2D-UP/GU/TU sebagai dasar
pemindahan dana BUD kepada Bendahara Pengeluaran SKPD.
Tembusan SP2D-UP/GU/TU tersebut disampaikan kepada Unit
Akuntansi / PPK-SKPKD. Selanjutnya, unit Akuntansi / PPK-SKPKD
mencatat bukti/dokumen tersebut pada Buku Jurnal Umum, sebagai
berikut:
E. AKUNTANSI PENDAPATAN SKPKD
Pendapatan yang dikelola SKPKD provinsi/kabupaten/kota adalah
pendapatan yang berasal dari dana transfer, baik dari pemerintah pusat
maupun pemerintahprovinsi, yang ditetapkan berdasarkan peraturan
perundang - undangan tentang alokasi dana tersebut serta Lain-Lain
Pihak-Pihak Terkait
Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pendapatan pada SKPKD antara
lain Bendahara Penerimaan SKPKD, Fungsi Akuntansi SKPKD, dan SKPKD
selaku BUD.
a. Fungsi Akuntansi SKPKD
Dalam sistem akuntansi Pendapatan, fungsi akuntansi SKPKD, memiliki
tugas mencatat transaksi/kejadian Pendapatan-LO dan Pendapatan LRA
berdasarkan bukti-bukti transaksi yang sah dan valid ke Buku Jurnal
LRA dan Buku Jurnal LO dan Neraca;
b. Bendahara Penerimaan SKPKD
1) mencatat dan membukukan semua penerimaan pendapatan ke dalam
buku penerimaan SKPKD.
2) membuat SPJ Penerimaan.
c. SKPKD Selaku BUD
1) menerima dan mengadministrasikan dokumen penetapan transfer dari
pemerintah pusat, pemerintah daerah lain atau pihak lainnya .
2) menandatangani laporan keuangan yang telah disusun oleh Fungsi
Akuntansi SKPKD.
d. Pihak ketiga lainnya
Selain pihak-pihak tersebut di atas, pihak lain yang berhubungan dengan
sistem akuntansi pendapatan pada SKPKD adalah Kementerian
Keuangan, misalnya untuk dana transfer atau pemerintah daerah
Dokumen yang Terkait
a. DAU: Peraturan Presiden RI Tentang Dana Alokasi Umum Daerah Provinsi
dan Kabupaten/kota (yang diterbitkan tiap tahun).
b. DAK: Peraturan Menteri Keuangan tentang Pedoman Umum dan Alokasi
Dana Alokasi Khusus (yang diterbitkan tiap tahun).
c. Dana Bagi Hasil:
- Peraturan Menteri Keuangan tentang Bagi Hasil Pajak Penghasilan (yang
diterbitkan tiap tahun).
- Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi Dana Bagi Hasil
Sumber Daya Alam (Pertambangan Umum, Migas, Kehutanan, dan
Cukai yang diterbitkan tiap tahun).
- Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi Kurang Bayar Dana Bagi
Hasil (yang diterbitkan tiap tahun).
d. Dana Otonomi Khusus
Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi Dana Otonomi Khusus ke
Provinsi (yang diterbitkan tiap tahun). (Khusus Daerah Otsus).
e. Dana Penyesuaian:
- Peraturan Menteri Keuangan tentang Tunjangan Profesi Guru Pegawai
Negeri Sipil Daerah (yang diterbitkan tiap tahun); Peraturan Menteri
Keuangan tentang Dana Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri
Sipil Daerah.
- Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi Dana Bantuan Operasional
Sekolah (BOS) (untuk provinsi) yang diterbitkan tiap tahun, Peraturan
Kepala Daerah tentang Satuan Pendidikan Dasar Penerima Dana BOS
(untuk kabupaten/kota), Rekening Koran Bank Satuan Pendidikan
Dasar Penerima Hibah BOS dari provinsi.
- Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi Dana Insentif Daerah
(yang diterbitkan tiap tahun).
Dokumen-dokumen yang terkait dengan Lain-lain Pendapatan yang Sah,
antara lain:
a. Dana Hibah:
- Naskah Perjanjian Hibah Daerah (antara pemerintah daerah dengan
pemerintah pusat/pemerintah daerah lainnya/pihak selain pemerintah).
- Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (antara pemerintah pusat dengan
pemerintah daerah atas hibah yang sumber dananya dari hibah luar
negeri).
- Dokumen-dokumen lain yang dipersyaratkan untuk permintaan
- pencairan dana hibah dari pemerintah, antara lain Surat Permintaan
Penyaluran Hibah, Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak, Rencana
Penggunaan Hibah, salinan DPA-SKPD, salinan SPM yang disampaikan
oleh SKPD kepada BUD, salinan rekening koran, Laporan Kemajuan
Pelaksanaan Kegiatan, salinan SP2D yang disahkan oleh BUD untuk
pembayaran hibah tahap sebelumnya, Laporan Penggunaan Hibah,
Laporan Penggunaan Dana Pendamping untuk tahap sebelumnya.
- Berita Acara Serah Terima Barang yang dihibahkan.
b. Dana Darurat : Keputusan Menteri Keuangan tentang Alokasi Dana
Darurat
Dokumen lainnya yang terkait dengan Pendapatan Transfer dan Lainlain
Pendapatan yang Sah, antara lain Nota Kredit dari Bank Kas Daerah atas
Rekening Koran dari Bank Kas Daerah.
Dokumen-dokumen yang terkait dengan Transfer dari pemerintah provinsi
ke pemerintah kabupaten/kota ini antara lain:
a. Dana Bagi Hasil Provinsi : Peraturan Gubernur tentang penetapan alokasi
Bagi Hasil Pajak provinsi ke kabupaten/kota (yang diterbitkan tiap
tahun);
b. Dana Otonomi Khusus ke kabupaten/kota: Peraturan Gubernur tentang
alokasi Dana Otonomi Khusus kepada kabupaten/kota (yang diterbitkan
tiap tahun);
c. Nota kredit dari Bank Kas Daerah pemerintah kabupaten.
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
Pencatatan Pendapatan – LO berbasis akrual didasarkan pada paragraf 19
PSAP Nomor 12, sebagai berikut:
Pendapatan-LO diakui pada saat:
(a) Timbulnya hak atas pendapatan;
(b) Pendapatan direalisasi, yaitu adanya aliran masuk sumber daya ekonomi.
Pendapatan-LO yang diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih
pendapatan, seperti telah diterbitkannya suatu surat keputusan yang
berdasarkan peraturan perundang-undangan telah menjadi hak pemerintah
daerah.
Pendapatan-LO juga dapat diakui sebagai imbalan atas suatu pelayanan
yang telah selesai diberikan berdasarkan peraturan perundang-undangan,
diakui pada saat timbulnya hak untuk menagih imbalan.
a) Pendapatan Asli Daerah (PAD)
(1) Pendapatan Pajak
Pendapatan Pajak-LO diakui pada saat kas diterima di kas daerah dan
dicatat berdasarkan dokumen sumber setoran pajak. BUD/Kuasa BUD
membuat B/KTK, STS dan/atau dokumen/bukti lain yang dipersamakan
untuk transaksi Penerimaan Kas atas Pendapatan Tahun Anggaran Berjalan.
Selanjutnya,
tembusan
bukti
tersebut
disampaikan
kepada
unit
Akuntansi/PPK-SKPKD untuk dicatat pada Buku Jurnal Umum, sebagai
berikut:
Dalam hal pada akhir tahun terdapat surat ketetapan pajak yang belum
dibayar oleh masyarakat. Berdasarkan Surat Keputusan yang diterbitkan
karena telah timbul hak untuk menagih, unit akuntansi/PPK-SKPKD
membuat BM dan mencatat pada jurnal umum sebagai berikut:
(2) Hasil Eksekusi Jaminan
Pihak ketiga melakukan pembayaran uang jaminan bersamaan dengan
pembayaran perizinan, misal perizinan pemasangan iklan, kemudian akan
menerima Tanda Bukti Pembayaran (TBP). TBP juga menjadi dasar bagi
Fungsi Akuntansi SKPKD untuk mengakui utang jaminan mencatat:
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Tanda
Bukti
Pembaya
ran (TBP)
Kas di Kas Daerah
Utang Jaminan
XXX
Kredit
XXX
LRA
Uraian
Debet
Estimasi Perubahan SAL XXX
Pendapatan Hasil
Eksekusi Atas
Jaminan –LRA
Kredit
XXX
Kemudian saat pihak ketiga tidak menunaikan kewajibannya, SKPKD akan
mengeksekusi uang jaminan yang sebelumnya telah disetorkan. Fungsi
Akuntansi SKPKD akan membuat bukti memorial terkait eksekusi jaminan
tersebut untuk diotorisasi oleh SKPKD. Berdasarkan bukti memorial tersebut,
Fungsi Akuntansi SKPKD melakukan pencatatan dengan jurnal:
b) Pendapatan Transfer
Pendapatan transfer yang akan diterima oleh Pemerintah Daerah berdasarkan
dokumen resmi yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan/atau pemerintah
provinsi. Namun demikian penetapan tersebut belum dapat dijadikan dasar
pengakuan pendapatan LO, mengingat kepastian pendapatan tergantung pada
persyaratan-persyaratan yang diatur untuk penyaluran alokasi tersebut. Untuk
itu pengakuan pendapatan transfer dilakukan bersamaan dengan diterimanya
kas pada Rekening Kas Umum Daerah. Dalam kasus ini, Fungsi Akuntansi
SKPKD akan mencatat:
Walaupun demikian, pendapatan transfer dapat diakui pada saat terbitnya
dokumen resmi mengenai penetapan alokasi, jika itu terkait dengan kurang
salur sebagai dasar pencatatan pengakuan pendapatan. Fungsi Akuntansi
SKPKD akan mencatat dengan jurnal:
Apabila pemerintah daerah telah menerima dana transfer dari pemerintah
pusat atas kurang salur tersebut, maka Rekening Kas Umum Daerah akan
mengeluarkan Nota Kredit untuk SKPKD. Berdasarkan Nota Kredit ini Fungsi
Akuntansi SKPKD akan mencatat dengan jurnal:
Sebagai transaksi realisasi anggaran terhadap realisasi pendapatan transfer,
Fungsi Akuntansi SKPKD mencatat dengan jurnal:
c) Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah
(1) Pendapatan Hibah
Naskah Perjanjian Hibah yang ditandatangani belum dapat dijadikan dasar
pengakuan pendapatan LO, mengingat adanya proses dan persyaratan untuk
realisasi pendapatan hibah tersebut. Untuk itu Fungsi Akuntansi SKPKD
mengakui Pendapatan Hibah bersamaan dengan diterimanya kas pada RKUD
dengan mencatat dengan jurnal:
Selain itu, karena hibah yang diterima berupa uang merupakan realisasi
anggaran, Fungsi Akuntansi SKPKD mencatat dengan jurnal:
Khusus untuk hibah barang berupa aset tetap, fungsi akuntansi SKPKD
mencatat dengan jurnal:
(2) Pendapatan Non Operasional – Surplus Penjualan Aset Nonlancar - LO
Surplus Penjualan Aset Nonlancar pada SKPKD berasal dari aktivitas pelepasan
investasi. Surplus terjadi ketika harga jual dalam pelepasan investasi lebih
tinggi daripada nilai buku investasi tersebut.
Untuk transaksi pelepasan investasi, berdasarkan dokumen transaksi yang
dimiliki SKPKD, Fungsi Akuntansi SKPKD mencatat dengan jurnal:
Sebagai transaksi realisasi anggaran terhadap penerimaan pembiayaan, Fungsi
Akuntansi SKPKD mencatat dengan jurnal:
(3) Pendapatan Non Operasional – Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka
Panjang
Surplus Penyelesaian Kewajiban Jangka Panjang timbul karena harga
perolehan kembali (nilai yang harus dibayar) lebih rendah dibandingkan
dengan nilai tercatat (carrying value) dari kewajiban tersebut.
Berdasarkan salinan SP2D LS SKPKD, Fungsi Akuntansi SKPKD akan
menghapus kewajiban yang telah dibayar dan mengakui adanya surplus dari
penyelesaian kewajiban tersebut dengan mencatat dengan jurnal:
Sebagai transaksi realisasi anggaran karena pelunasan kewajiban tersebut
merupakan pengeluaran pembiayaan, Fungsi Akuntansi SKPKD mencatat
dengan jurnal:
F. AKUNTANSI BELANJA DAN BEBAN SKPKD
Akuntansi Beban pada lingkup SKPKD dilakukan untuk mengakui,
mencatat, dan melaporkan Beban Bunga, Beban Subsidi, Beban Hibah,
Beban Bantuan Sosial, Beban Transfer (termasuk Transfer Bantuan
Keuangan), dan Beban Luar Biasa.
Akuntansi Belanja pada lingkup SKPKD dilakukan untuk mengakui,
mencatat, dan melaporkan Belanja Bunga, Belanja Subsidi, Belanja Hibah,
Belanja Bantuan Sosial, dan Belanja Tak Terduga.
Akuntansi Transfer pada lingkup SKPKD dilakukan untuk mengakui,
mencatat, dan melaporkan Transfer. Pembahasan akuntansi beban dan
belanja SKPKD meliputi pihak yang terkait, dokumen yang terkait serta
sistem dan prosedur akuntansi, yang akan dijelaskan di bawah ini.
Pihak-Pihak Terkait
a. Fungsi Akuntansi SKPKD
Fungsi Akuntansi SKPKD bertugas untuk melakukan administrasi
termasuk menerbitkan bukti memorial dan pencatatan akuntansi atas
setiap transaksi yang terjadi.
b. PPKD
PPKD mempunyai tugas memberikan otorisasi atas transaki beban yang
terjadi serta menyetujui penerbitan dokumen pencairan dana untuk
membayar beban yang terjadi.
c. BUD/Kuasa BUD
BUD/Kuasa BUD akan mempunyai tugas melakukan pembayaran atas
beban dari Kas di Kas Daerah yang dikelolanya yang meliputi:
1) mencatat dan membukukan semua pengeluaran beban dan belanja
kedalam buku kas umum SKPKD.
2) membuat SPJ atas beban dan belanja.
Dokumen yang Terkait
Bukti transaksi yang digunakan dalam prosedur dan akuntansi Beban,
Belanja, dan Transfer pada SKPKD antara lain:
a. Surat Perjanjian Pinjaman Jangka Panjang
b. Naskah Perjanjian Hibah Daerah dengan penerima hibah
c. Naskah Perjanjian Bantuan Sosial dengan penerima bantuan
d. Peraturan Kepala Daerah tentang Bantuan Keuangan kepada Partai
Politik
e. Peraturan Kepala Daerah tentang Alokasi Bantuan Keuangan
f. Peraturan Daerah Provinsi tentang Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil
Pendapatan Lainnya ke kabupaten/kota
g. Peraturan Daerah Kabupaten/kota tentang Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil
Retribusi/ Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke desa
h. Surat Tagihan dari pihak ketiga
i. Bukti/Kwitansi Pengeluaran Kas (B/KKK).
j. SP2D-UP/GU/TU dan SP2D-LS
k. Dokumen/Bukti lain yang dipersamakan
Langkah-Langkah Teknis/Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi
Akuntansi untuk Beban dan Belanja pada SKPKD adalah :
1. Selama tahun berjalan, pengakuan beban dan Belanja dibagi sebagai
berikut:
- Melalui Bendahara Pengeluaran
Beban dicatat ketika bendahara pengeluaran membuat pertanggungung
jawaban (SPJ) dan belanja dicatat pada saat pengeluaran tersebut
disahkan oleh fungsi perbendaharaan.
Sebagai contoh pemberian bantuan hibah dan bansos yang nilainya
dibawah 5 juta.
- Melalui Kas daerah (LS)
Beban dan belanja yang melalui kas daerah dicatat bersamaan pada
saat terbitnya SP2D-LS.
Selama tahun berjalan, pengakuan beban dan Belanja dibagi sebagai
berikut:
a.Pengeluaran kas melalui Bendahara Pengeluaran
Pada saat kas dikeluarkan dan dibuat SPJ oleh
Pengeluaran, maka dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Bendahara
Apabila telah diterbitkan SP2D Nihil dari BUD, maka dicatat dengan
jurnal sebagai berikut:
b. Pengeluaran melalui kas daerah (LS)
BUD/Kuasa BUD menerbitkan SP2D-LS sebagai dasar pengeluaran Kas
Daerah untuk pembayaran kepada Pihak Ketiga. Tembusan SP2D-LS
tersebut disampaikan kepada Unit Akuntansi /PPK-SKPKD. Selanjutnya,
unit Akuntansi / PPK-SKPKD mencatat bukti/dokumen tersebut pada
Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
1) SP2D-LS untuk Pembayaran Gaji & Tunjangan Aparatur Sipil
Daerah/PNSD di SKPD
2) SP2D-LS untuk Pembayaran Kepada Pihak Ketiga (Belanja Barang
& Jasa serta Belanja Modal oleh SKPD)
3) SP2D-LS untuk Pembayaran Belanja Operasi Pemerintah Daerah
c. Pada saat penyusunan laporan keuangan, terdapat kondisi pengakuan
Beban diakui sebelum pengeluaran kas.
Pada saat penyusunan laporan keuangan, apabila terdapat dokumen
penetapan yang sudah menjadi beban dan belum dilakukan pembayaran,
maka dilakukan pencatatan dengan jurnal sebagai berikut:
Pada saat penyusunan laporan keuangan, akan dilakukan penyesuaian
atas utang beban yang dibayar pada tahun berjalan.
G. AKUNTANSI TRANSFER SKPKD
Pihak Terkait
a. SKPKD selaku Pengguna Anggaran
Dalam Kegiatan ini Pengguna Anggaran bertugas memberikan persetujuan
atas pengeluaran transfer yang harus dilakukan setelah mendapatkan
verifikasi dari PPK SKPKD.
b. BUD/Kuasa BUD
Dalam kegiatan ini, BUD memiliki tugas:
a. menyiapkan dokumen-dokumen atas transaksi yang terkait dengan
proses pelaksanaan transfer;
b. memberikan dokumen tembusan kepada PPK SKPKD sebagai dasar
pencatatan transaksi keuangan;
c. membukukan dalam pembukuan bendahara terkait dengan tata usaha
keuangan.
c. PPK SKPKD
Dalam kegiatan ini, PPK-SKPKD memiliki tugas sebagai berikut :
a. Menerima tembusan dokumen transaksi dari BUD/Kuasa BUD;
b. Membuat dokumen akuntansi atas transaksi transfer berdasarkan
tembusan dokumen sumber yang diberikan oleh BUD/Kuasa BUD;
c. Mencatat transaksi-transaksi transfer berdasarkan dokumen
akuntansi;
d. Memposting jurnal-jurnal ke dalam buku besarnya masing-masing;
e.Menyusun Laporan Keuangan dan Catatan Atas Laporan Keuangan.
Dokumen yang Terkait
a. Surat Tagihan dari Pihak yang akan mendapatkan transfer
b. Bukti Memorial
c. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D)
d. Nota Perjanjian Transfer
e. Nota Debit Bank
f. Dokumen Transfer Lainnya
Sistem dan prosedur akuntansi
Prosedur Akuntansi untuk transaksi transfer dapat diuraikan sebagai
berikut:
a. BUD mendapatkan bukti persetujuan atas pengeluaran transfer;
b. BUD menyiapkan dokumen terkait untuk melakukan pembayaran atas
transfer dan menyerahkan tembusan bukti persetujuan transfer kepada
PPK SKPKD;
c. BUD melakukan pembayaran transfer dan menyerahkan dokumen
tembusan atas bukti pembayaran transfer kepada PPK SKPKD;
d. PPK SKPKD membuat dokumen akuntansi berdasarkan dokumen sumber
yang disampaikan oleh BUD yang berupa tembusan;
e. PPK SKPKD melakukan pencataatan dalam jurnal sesuai dengan
dokumen akuntansi;
f. PPK SKPKD melakukan posting ke Buku Besar;
g. PPK SKPKD menyusun Laporan Keuangan dan Catatan atas Laporan
Keuangan.
Berdasarkan surat ketetapan tentang transfer yang terkait, PPK SKPKD
membuat bukti memorial terkait pengakuan beban transfer untuk
diotorisasi oleh SKPKD. Berdasarkan bukti memorial tersebut PPK SKPKD
melakukan pencatatan pengakuan beban dengan jurnal:
Selanjutnya dilaksanakan proses penatausahaan untuk pembayaran beban
transfer tersebut mulai dari pengajuan SPP, pembuatan SPM hingga
penerbitan SP2D. Berdasarkan SP2D tersebut PPK SKPKD akan mencatat
pengeluaran kas yang juga merupakan penghapusan utang beban transfer,
dengan
jurnal:
Sebagai transaksi realisasi anggaran, PPK SKPKD juga mencatat belanja dan
melakukan penyesuaian Perubahan SAL melalui jurnal:
H. AKUNTANSI PEMBIAYAAN SKPKD
Pihak Terkait
a. PPK SKPKD
b. PPKD
c. BUD/Kuasa BUD
Dokumen yang Terkait
a. Dokumen Penerimaan pembayaran utang
b. Dokumen penjualan investasi
c. Bukti penerimaan pinjaman dari Bank
d. Dokumen penerimaan kembali dana bergulir
e. Bukti Memorial
Sistem dan prosedur akuntansi
a. Penerimaan Pembiayaan
Akuntansi penerimaan pembiayaan SKPKD pada dasarnya merupakan
akuntasi yang tidak berdiri sendiri. Akuntansi penerimaan pembiayaan ini
melekat pada pencatatan transaksi lainnya khususnya penerimaan kas dari
transaksi aset nonlancar dan kewajiban jangka panjang. Akuntansi ini
akan menjadi sebuah jurnal komplementer yang melengkapi jurnal
transaksi pelepasan investasi, transaksi penerimaan utang dan transaksi
lainnya yang sejenis.
Fungsi akuntansi SKPKD mencatat dengan jurnal:
Berdasarkan transaksi di atas, PPK SKPKD akan mencatat jurnal:
b. Pengeluaran Pembiayaan
Sama halnya dengan akuntansi penerimaan pembiayaan SKPKD, akuntansi
pengeluaran pembiayaan SKPKD pada dasarnya juga merupakan akuntansi
yang tidak berdiri sendiri. Akuntansi pengeluaran pembiayaan ini melekat
pada pencatatan transaksi lainnya khususnya pengeluaran kas atas
transaksi aset nonlancar dan kewajiban jangka panjang. Akuntansi ini
akan menjadi sebuah jurnal komplementer yang melengkapi jurnal
transaksi perolehan investasi, transaksi pembayaran utang dan transaksi
lainnya yang sejenis.
PPK SKPKD mencatat pembayaran pokok pinjaman dari bank atau lembaga
keuangan dengan jurnal:
PPK SKPKD akan mencatat berdasarkan Bukti Memorial yang telah
diotorisasi SKPKD dengan jurnal :
I. AKUNTANSI PIUTANG SKPKD
Piutang daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah
daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang
sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya yang sah. Aset berupa piutang
di Neraca harus terjaga agar nilainya sama dengan nilai bersih yang dapat
direalisasi (net realizable value). Alat untuk menyesuaikan adalah dengan
melakukan penyisihan piutang tak tertagih. Penyisihan piutang tak tertagih
adalah taksiran nilai piutang yang kemungkinan tidak dapat diterima
pembayarannya dimasa akan datang dari seseorang dan/atau korporasi
dan/atau entitas lain. Prosedur akuntansi piutang pada SKPKD meliputi
pencatatan dan pelaporan akuntansi atas transaksi-transaksi yang
mengakibatkan penambahan maupun pengurangan nilai piutang
Pihak-Pihak Terkait
Pihak yang terkait dalam sistem akuntasi piutang adalah Pejabat
Penatausahaan Keuangan SKPKD (PPK-SKPKD), yang memiliki tugas
sebagai berikut:
a. Mencatat transaksi/kejadian piutang berdasarkan bukti bukti
transaksi yang sah dan valid dan Buku Jurnal LO dan Neraca.
b. Melakukan posting jurnal jurnal transaksi/kejadian pendapatan LO
kedalam Buku Besar masing masing rekening.
Dokumen yang Terkait
Dokumen yang terkait dalam prosedur akuntansi Piutang SKPKD:
a. Hasil RUPS / Dokumen yang dipersamakan
b. PMK untuk Bagi Hasil Pajak, Bukan Bagi Hasil Pajak, DAK, Bukan Hasil
Pajak, Dana Otsus, Dana Penyesuaian, dan Piutang Dana Bos Kurang
Salur
c. Perpres untuk DAU
d. Keputusan Kepala Daerah Bagi Hasil Pajak, Bantuan Keuangan dan
Bagian Lancar Tagihan Jangka Panjang
e.Keputusan Kepala Daerah/PMK/Dokumen yang dipersamakan
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah Teknis
Perlakuan akuntansi untuk transaksi piutang pada SKPKD adalah:
a. Melakukan rekonsiliasi terhadap dokumen penetapan yang belum
diterima pembayarannya
Pada akhir tahun, PPK-SKPKD melakukan inventarisasi atas dokumen
penetapan Pendapatan-LO yang belum diterima pembayarannya.
Terhadap dokumen penetapan tersebut, PPK-SKPKD mencatatan
pengakuan Pendapatan-LO dan Piutang sebagai jurnal penyesuaian.
Di awal tahun berikutnya, PPK-SKPKD melakukan jurnal balik atas
jurnal penyesuaian pendapatan yang dilakukan diakhir tahun untuk
menghindari duplikasi pencatatan Pendapatan-LO.
Melakukan rekonsiliasi terhadap dokumen penetapan yang belum
diterima pembayarannya
Dokumen Laporan Operasional (LO) & Neraca
yang
Uraian
Debet
Kredit Uraian
Mendasari
SKP/R
Piutang
XXX
Tidak ada
Pendapatan-LO
XXX
jurnal
LRA
Debet Kredit
b. Pengakuan Bagian Lancar Piutang Jangka Panjang yang jatuh tempo
pada periode akuntansi berikutnya
Setiap akhir periode akuntansi PPK-SKPKD berdasarkan bukti memorial
melakukan reklasifikasi Piutang Jangka Panjang ke Bagian Lancar
Piutang Jangka Panjang, yaitu piutang yang akan jatuh tempo dalam
satu tahun ke depan.
Dokumen Laporan Operasional (LO) & Neraca
yang
Uraian
Debet
Kredit Uraian
Mendasari
Bukti
Bagian Lancar Tagihan
XXX
Tidak ada
memorial
Tagihan Pinjaman
XXX
jurnal
LRA
Debet
Kredit
c. Penerimaan Kas atas Piutang Pendapatan dan Piutang Lainnya.
BUD/Kuasa BUD membuat B/KTK, STS dan/atau dokumen/bukti lain
yang dipersamakan untuk transaksi Penerimaan Kas atas Piutang
Pendapatan Tahun Sebelumnya. Selanjutnya, tembusan bukti tersebut
disampaikan kepada unit Akuntansi/PPK-SKPKD untuk dicatat pada
Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
Hal yang sama juga berlaku untuk penerimaan kas atas Piutang
Lainnya.
d. Penerimaan Kas atas Pendapatan Tahun Anggaran Berjalan.
BUD/Kuasa BUD membuat B/KTK, STS dan/atau dokumen/bukti lain
yang dipersamakan untuk transaksi Penerimaan Kas atas Pendapatan
Tahun Anggaran Berjalan. Selanjutnya, tembusan bukti tersebut
disampaikan kepada unit Akuntansi/PPK-SKPKD untuk dicatat pada
Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
e) Menetapkan umur piutang sebagai dasar tingkat kolektabilitas
piutang (aging schedule)
Peraturan Kepala Daerah tentang Penyisihan dan Penghapusan Piutang
menjadi dasar bagi PPK-SKPD membuat Daftar Analisa Umur Piutang
(DAUP) kemudian disampaikan kepada Pengguna Anggaran dan SKPKD
untuk disahkan/diotorisasi. Berdasarkan DAUP, PPK-SKPD membuat
Bukti Memorial (BM) atas jumlah piutang yang tak tertagih. Berdasar
bukti memorial tersebut, PPK-SKPD mencatat pengakuan Beban
Penyisihan Piutang Tidak Tertagih dan pembentukan Penyisihan Piutang
Tidak Tertagih. Penyisihan piutang tak tertagih tidak bersifat akumulatif
tetapi diterapkan pada saat penyusunan laporan keuangan, sesuai
dengan perkembangan kualitas piutang.
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
BM, Daftar Analisa Beban Penyisihan Piutang XXX
Umur Piutang
Penyisihan Piutang
LRA
Kredit
XXX
Uraian
Debet
Kredit
Tidak ada
jurnal
f) Mencatat Penghapusbukuan dan Penghapustagihan Piutang
Berdasarkan keputusan Kepala Daerah terkait penghapusbukuan dan
penghapustagihan piutang, maka PPK SKPKD akan mencatat
penghapusbukuan piutang dengan mengurangkan Penyisihan Piutang
Tidak Tertagih dan Piutang.
Sedangkan untuk penghapustagihan piutang PPK tidak melakukan
pencatatan ke dalam jurnal.
Untuk Piutang yang penyisihan piutangnya belum seluruhnya disisihkan
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
LRA
Kredit
Uraian
Debet
Kredit
Keputusan
Kepala
Daerah
Penyisihan Piutang
Beban Penyisihan Piutang
Piutang
XXX
XXX
XXX
Tidak
ada
jurnal
Untuk Piutang yang penyisihan piutangnya telah seluruhnya disisihkan
Dokumen
yang
Mendasari
Keputusan
Kepala
Daerah
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Penyisihan Piutang
Piutang
Debet
LRA
Kredit Uraian
XXX
XXX
Debet
Kredit
Tidak ada
jurnal
J. AKUNTANSI INVESTASI SKPKD
Investasi merupakan aset yang dimaksudkan untuk memperoleh manfaat
ekonomik seperti bunga, dividen dan royalti, atau manfaat sosial, sehingga
dapat meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam rangka
pelayanan kepada masyarakat. Investasi merupakan instrumen yang dapat
digunakan oleh pemerintah daerah untuk memanfaatkan surplus anggaran
untuk memperoleh pendapatan dalam jangka panjang dan memanfaatkan
dana yang belum digunakan untuk investasi jangka pendek dalam rangka
manajemen kas.
Pihak Yang Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi investasi antara lain:
a. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPKD (PPK-SKPKD)
Dalam sistem akuntansi investasi, PPK-SKPKD melaksanakan fungsi
akuntansi SKPKD yang memiliki tugas sebagai berikut:
1) Mencatat transaksi/ kejadian investasi berdasarkan bukti-bukti
transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum.
2) Memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku
Besar masing-masing rekening (rincian objek).
3) Membuat laporan keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi
Anggaran (LRA), Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan SAL
(LPSAL), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Laporan Arus Kas (LAK),
Neraca dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
b. PPKD
Dalam sistem akuntansi investasi, PPKD memiliki tugas:
1) menandatangani laporan keuangan SKPKD sebelum diserahkan dalam
proses penggabungan/konsolidasi yang dilakukan oleh fungsi
akuntansi SKPKD
2) Menandatangani surat pernyataan tanggung jawab SKPKD.
Dokumen yang Terkait
a) SP2D LS
b) Nota Kredit
c) Surat Perjanjian Penjualan/Pembelian Investasi
Sistem dan Prosedur Akuntansi
a. Perolehan Investasi
1) Berdasarkan SP2D LS/tanpa SP2D (manajemen kas)
Fungsi akuntansi-SKPKD membukukan dalam buku jurnal.
2)
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet Kredit
LRA
Uraian
Debet
Tembusan
SP2D-LS
untuk
Investasi
Pemda
Investasi Jk
Pendek / Jk
Panjang
Kas di Kasda
Pengeluaran
Pembiayaan
Perubahan SAL
XXX
XXX
XXX
Kredit
XXX
Berdasarkan SP2D LS untuk penyertaan modal dalam peraturan
daerah dieksekusi.
Fungsi akuntansi-SKPKD membukukan dalam buku jurnal.
Dokumen
yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) &
Neraca
Uraian
Debet Kredit
LRA
Uraian
Debet
Tembusan
SP2D-LS
untuk
Penyertaan
Modal
Penyertaan
Modal
Pemerintah
Daerah
Kas di Kasda
Pengeluaran
Pembiayaan PMPD
Perubahan SAL
XXX
XXX
XXX
Kredit
XXX
b) Hasil Investasi
(1) Hasil Investasi Jangka Pendek
Hasil investasi jangka pendek berupa pendapatan bunga. Pembukuan
hasil pada saat nota kredit diterima BUD, Fungsi akuntansi-PPKD
membukukan dalam buku jurnal.
(2) Hasil Investasi Jangka Panjang
(a) Metode Biaya
Dalam metode biaya, keuntungan perusahaan tidak
mempengaruhi investasi yang dimiliki pemerintah daerah.
Pemerintah daerah hanya menerima dividen yang
dibagikan oleh perusahaan. Berdasarkan pengumuman
pembagian dividen yang dilakukan oleh perusahaan
investee, PPKD dapat mengetahui jumlah dividen yang
akan diterima pada periode berjalan. Selanjutnya Fungsi
Akuntansi SKPKD mencatat dengan jurnal:
Pada saat perusahaan investee membagikan dividen tunai
kepada pemerintah daerah, Fungsi Akuntansi SKPKD
mencatat dengan jurnal:
Sebagai transaksi realisasi anggaran, Fungsi Akuntansi
SKPKD juga mencatat dengan jurnal:
(b) Metode Ekuitas
Berdasarkan Laporan Keuangan Perusahaan dan hasil setelah
RUPS (untuk penetapan bagian laba), SKPKD dapat mengetahui
jumlah keuntungan perusahaan pada periode berjalan. Dalam
metode ekuitas, keuntungan yang diperoleh perusahaan akan
mempengaruhi jumlah investasi yang dimiliki pemerintah
daerah. Fungsi Akuntansi PPKD mencatat dengan jurnal:
Pada saat perusahaan membagikan dividen, Fungsi Akuntansi
SKPKD akan mencatat penerimaan dividen tersebut pada “Kas
di Kas Daerah” di debit dan “Investasi.....” di kredit dengan
jurnal:
Sebagai transaksi realisasi anggaran, Fungsi Akuntansi SKPKD
juga mencatat dengan jurnal:
(c) Metode Nilai Bersih yang Dapat Direalisasikan
Ketika pendapatan bunga dari investasi jangka panjang (misal
pendapatan bunga dari dana bergulir) telah diterima,
Pembukuaan hasil pada saat nota kredit diterima BUD, Fungsi
akuntansi-SKPKD membukukan hasil dari dana bergulir
dalam buku jurnal.
Sebagai transaksi realisasi anggaran, Fungsi Akuntansi SKPKD
mencatat dengan jurnal:
Pemakaian metode ini pada akhir tahun untuk hasil yang
belum direalisasikan (masih berupa piutang) akan dilakukan
penyesuaian (sistem prosedur akuntansi piutang)
3. Pelepasan Investasi Investasi Jangka Pendek
1)
Berdasarkan nota kredit dari
membukukan dalam buku jurnal.
bank,
Fungsi
akuntansi-SKPKD
Kas di Kas Daerah......................................XXX
Pendapatan bunga....LO..................................XXX
Investasi Jk Pendek.........................................XXX
Jika dianggarkan dalam pembiayaan, Fungsi akuntansi-SKPKD
membukukan pada buku jurnal sebesar nilai yang diterima.
Perubahan SAL............................................XXX
Penerimaan Pembiayaan...................................XXX
(4) Pelepasan Investasi Jangka Panjang
Pelepasan investasi jangka panjang diatas nilai perolehan investasi
jangka panjang
Kas di Kas Daerah...................................................XXX
Surplus Pelepasan Investasi Jk Panjang LO............... XXX
Utang Dalam Negeri Obligasi.......................................XXX
Perubahan SAL............................................XXX
Penerimaan Pembiayaan...................................XXX
Pelepasan investasi jangka panjang dibawah nilai perolehan investasi
jangka panjang.
Kas di Kas Daerah..............................................XXX
Defisit Pelepasan Investasi Jk Panjang LO........ XXX
Utang Dalam Negeri Obligasi...................................XXX
Perubahan SAL............................................XXX
Penerimaan Pembiayaan...................................XXX
K. AKUNTANSI PERSEDIAAN SKPKD
Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang
dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan
barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam
rangka pelayanan kepada masyarakat. Akuntansi Persediaan pada SKPKD
meliputi pencatatan dan pelaporan atas transaksi-transaksi yang terkait
dengan Persediaan.Terdapat dua metode yang mempengaruhi sistem
akuntansi persediaan, yaitu metode periodik dan perpetual.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi persediaan antara lain
adalah:
b. Penyimpan Barang
Dalam sistem akuntansi persediaan, penyimpan barang bertugas untuk
menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas pengelolaan
persediaan.
c. Bendahara Pengeluaran
Dalam sistem akuntansi persediaan, bendahara pengeluaran bertugas
untuk menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas
transaksi tunai yang berkaitan dengan persediaan.
d. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
Dalam sistem akuntansi persediaan, pejabat pelaksana teknis kegiatan
bertugas untuk menyiapkan dokumen atas beban pengeluaran
pelaksanaan pengadaan persediaan.
e. PPK-SKPKD
Dalam sistem akuntansi persediaan, pejabat penatausahaan keuangan
SKPKD bertugas untuk melakukan proses akuntansi persediaan yang
dimulai dari jurnal hingga penyajian laporan keuangan SKPD.
Dokumen Terkait
Dokumen yang terkait dalam prosedur akuntansi Persediaan antara lain:
• Bukti Belanja Persediaan
• Berita Acara Serah Terima Barang
• Berita Acara Stock Opname Akhir Tahun
• SP2D LS
Sistem dan Prosedur Pencatatan Akuntansi/Langkah Teknis
Perlakuan akuntansi untuk transaksi persediaan pada SKPKD adalah:
a. Pencatatan Persediaan dengan Metode Periodik
Metode Periodik (Metode Fisik) yakni pencatatan dilakukan hanya
setiap ada fisik persediaan BMD yang dibeli/diterima. Pada saat akan
menyusun laporan pada akhir periode, dilakukan perhitungan fisik
BMD yang masih ada kemudian dikalikan dengan harga beli yang
terakhir atas BMD yang diterima. Hasil tersebut merupakan nilai
persediaan akhir BMD. Untuk menentukan jumlah persediaan BMD
yang digunakan, dilakukan dengan cara menjumlahkan semua harga
beli BMD selama satu periode, kemudian diperkurangkan dengan nilai
persediaan akhir (hasil hitung fisik). Berdasarkan hasil hitung
tersebut, Pengurus BMD membuat Bukti Pemakaian Barang (BPB).
Berdasarkan tembusan BPB, PPK-SKPD membuat BM kemudian
mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
1) Pada awal tahun
Berdasar Bukti Memorial, PPK-SKPKD mencatat pengakuan Beban
Persediaan dan pengurangan Persediaan atas persediaan awal pada
neraca
Beban Persediaan ...................... ......... xxx
Persediaan............................
xxx
2) Pada saat pembelian
Berdasarkan tembusan SP2D dari BUD/Invoice, PPK-SKPKD akan
mencatat Beban Persediaan dan Kas di Bendahara Pengeluaran
Beban Persediaan ...........................
xxx
Kas di Bendahara Pengeluaran ....
xxx
5) Pemakaian persediaan pada periode berjalan tidak dibukukan
6) Pada saat penyusunan laporan keuangan, berdasarkan tembusan
berita acara hasil opname fisik persediaan dari bagian gudang. PPKSKPKD akan melakukan pencatatan Persediaan (akhir) dan
pengurangan Beban Persediaan.
Persediaan ........
Beban Persediaan .......
Xxx
xxx
a. Pencatatan Persediaan dengan Metode Perpetual
Metode Perpetual (Metode Buku) yakni pencatatan dilakukan setiap
ada fisik persediaan yang diterima dan digunakan / dikeluarkan. Nilai
fisik persediaan yang diterima dicatat sebesar nilai perolehannya,
sedangkan
fisik
persediaan
yang
digunakan/dikeluarkan
menggunakan nilai fisik barang yang pertama diterima.
3. Di awal tahun tidak dilakukan perjurnalan
4. Pada saat pembelian
Berdasarkan tembusan SP2D dari BUD/Invoice, PPK-SKPKD akan
mencatat Persediaan dan Kas di Bendahara Pengeluaran.
Persediaan ...
Kas di Bendahara Pengeluaran .....
Xxx
xxx
3) Untuk pencatatan pemakaian barang, Pengurus BMD membuat
Bukti Pemakaian Barang (BPB). Berdasarkan tembusan BPB, PPKSKPKD membuat BM kemudian mencatat pada Buku Jurnal
Umum sebagai berikut:
4) Tidak terdapat jurnal pada saat penyusunan laporan keuangan.
Persediaan akhir merupakan saldo Persediaan Awal + Pembelian Pemakaian Persediaan selama tahun berjalan.
L. AKUNTANSI ASET SKPKD
Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12
bulan untuk digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Kriteria yang harus
dipenuhi agar suatu aset dapat diakui sebagai aset tetap, yaitu (1) berwujud,
(2) mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan, (3) biaya perolehan aset
dapat diukur secara andal, (4) tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi
normal entitas, dan (5) diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk
digunakan.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi aset SKPKD adalah:
b. Bendahara Barang atau Pengurus/Pengelolah Barang/Pengguna Barang.
Dalam sistem akuntansi aset tetap, bendahara barang/pengurus barang
bertugas untuk menyiapkan dan menyampaikan dokumen-- dokumen atas
pengelolaan aset tetap.
c. Bendahara Pengeluaran/SKPKD
Dalam sistem akuntansi aset tetap, bendahara pengeluaran bertugas untuk
menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas transaksi tunai
yang berkaitan dengan aset tetap.
d. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
Dalam sistem akuntansi aset tetap, pejabat pelaksana teknis kegiatan
bertugas untuk menyiapkan dokumen atas beban pengeluaran pelaksanaan
pengadaan aset tetap.
e. Pejabat Penatausahaan Keuangan
Dalam sistem akuntansi aset tetap, pejabat penatausahaan keuangan
SKPKD bertugas untuk melakukan proses akuntansi aset tetap yang
dimulai dari jurnal hingga penyajian laporan keuangan SKPKD.
Dokumen Sumber
Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi
keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai sumber atau bukti
untuk menghasilkan data akuntansi. Dokumen sumber yang digunakan
pada Akuntansi Aset Tetap SKPKD meliputi:
a. Berita Acara Serah Terima Barang/Pekerjaan
b. SP2D LS
b. SPJ
c. Surat Permohonan Kepala SKPD tentang Penghapusan Aset Tetap
d. Surat Keputusan Kepala Daerah tentang Penghapusan Aset
e. Dokumen lain yang dipersamakan
Sistem dan Prosedur Pencacatan Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
a)PembelianAsetTetap
Dalam kasus pembelian aset tetap, berdasarkan bukti transaksi berupa
Berita Acara Penerimaan Barang, PPK-SKPD akan membuat bukti
memorial aset tetap yang kemudian diotorisasi oleh Pengguna Anggaran.
Berdasarkan bukti memorial aset tetap ini, PPK-SKPKD mencatat "Aset
Tetap" di debit dan "Utang Belanja Modal" di kredit dengan jurnal:
Aset Tetap .......
Utang Belanja Modal
xxx
xxx
Selanjutnya dilaksanakan proses penatausahaan untuk pembayaran
perolehan aset tetap tersebut mulai dari pengajuan SPP, pembuatan SPM
hingga penerbitan SP2D. Berdasarkan SP2D tersebut PPK-SKPKD akan
mencatat dengan jurnal:
Utang Belanja Modal
XXX
Kas di Kasda
XXX
Sebagai transaksi realisasi anggaran, PPK-SKPKD juga mencatat dengan
jurnal:
Belanja Modal ........
Estimasi Perubahan SAL
Xxx
xxx
b. Berdasarkan naskah hibah dari pihak ketiga dan berita acara serah terima,
PPK-SKPKD akan mencatat dalam buku jurnal.
Dokumen yang Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Naskah hibah dari pihak ketiga
dan berita acara serah terima
Debet
Asset Tetap
Pendapatan hibah-LO
Kredit
XXX
XXX
c.Penghapusan Aset Tetap
Penghapusan aset tetap dapat terjadi karena penjualan, tukar-menukar,
hibah, penyertaan modal, pemusnahan atau karena sebab-sebab lainnya.
Untuk penghapusan aset tetap karena penjualan surplus, PPK SKPKD
akan mencatat dengan jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Bukti penerimaan
kas atau yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Kas di Kasda
Akumulasi Penyusutan
Suplus Penjualan Aset Tetap-LO
Aset Tetap
Kredit
XXX
XXX
XXX
XXX
Pencatatat hasil penjualan aset tetap dibukukan sebagai pendapatan LRA
sebesar nilai uang yang diterima.
LRA
Dokumen yang
Mendasari
Uraian
Debet
Bukti penerimaan
kas atau yang
dipersamakan
Perubahan SAL
Hasil Penjualan Aset Daerah Yang
tdk dipisahkan-LRA
XXX
Kredit
XXX
Untuk penghapusan aset tetap karena penjualan defisit penjualan aset
tetap (nilai jual lebih kecil dari nilai buku), PPK-SKPKD akan mencatat
dalam buku jurnal.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti penerimaan
kas atau yang
dipersamakan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Kas di Kasda
Akumulasi Penyusutan
Defisit Penjualan Asset Tetap-LO
Aset Tetap
XXX
XXX
XXX
Kredit
XXX
Pencatatat hasil penjualan aset tetap dibukukan sebagai pendapatan LRA
sebesar nilai uang yang diterima
Dokumen yang
Mendasari
LRA
Uraian
Debet
Kredit
Bukti penerimaan
kas atau yang
dipersamakan
Perubahan SAL
Hasil Penjualan Aset Daerah
Yang tdk dipisahkan-LRA
XXX
XXX
Penghentian Aset Tetap Secara Permanen dari Penggunaan
Penghapusan aset tetap karena pemusnahan PPK-SKPKD mencatat
penghapusan aset tetap tersebut. Terhadap kejadian tersebut, maka
aset tetap dieliminasi dari neraca ketika dilepaskan atau bila aset tetap
tersebut secara permanen dihentikan penggunaannya dan tidak memiliki
lagi manfaat ekonomi masa yang akan datang. Pencatatan transaksi
penghentian dan pelepasan aset tetap dilakukan ketika telah terbit Surat
Keputusan (SK) Kepala Daerah tentang Penghapusan Barang Milik
Daerah. Berdasarkan SK tersebut, PPK-SKPKD membuat BM kemudian
mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
Penghentian Aset Tetap dari Penggunaan Aktif
Aset tetap yang dihentikan dari penggunaan aktif oleh pemerintah
daerah, dipindahkan ke pos aset lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya
karena sudah tidak memenuhi kriteria aset tetap.
Pencatatan transaksi penghentian aset tetap dari penggunaannya
dilakukan ketika telah terbit SK Kepala Daerah tentang Penghentian
BMD dari penggunaan aktifnya. Berdasarkan SK tersebut, PPK-SKPKD
membuat BM kemudian mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai
berikut:
Pemberian hibah atas aset yang belum disusutkan berdasarkan surat
keputusan kepala daerah tentang hibah dan naskah pemberian hibah,
PPK-SKPKD membukukan pada buku jurnal:
Dokumen yang
Mendasari
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Keputusan kepala
daerah
Uraian
Debet
Beban Hibah
Aset Tetap
XXX
Kredit
XXX
d. Pengakuan Konstruksi
Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP) adalah aset tetap yang sedang dalam
proses pembangunan yang sampai pada akhir periode pelaporan belum
selesai berdasarkan kontrak konstruksi. Secara umum, konstruksi dalam
pengerjaan adalah pekerjaan konstruksi yang menggunakan waktu lebih
dari satu periode.
Sebagai contoh, pada akhir periode pelaporan, suatu kontrak konstruksi
berdasar Laporan Kemajuan Pekerjaan (LKP) secara fisik belum selesai.
Berdasarkan LKP tersebut, PPK-SKPKD membuat BM kemudian
mencatat pada Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
Dokumen yang
Mendasari
BM, Laporan
Kemajuan Pekerjaan
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Kontsruksi Dalam Pengerjaan
Utang
Konstruksi
Dalam
Pengerjaan
Debet
Kredit
XXX
XXX
e. Pengeluaran Setelah Perolehan
Pengeluaran setelah perolehan aset tetap yang memperpanjang masa
manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di
masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau
peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai tercatat aset
yang
bersangkutan.
Berdasarkan
tembusan
bukti
pendukung
pengeluaran setelah peroleh aset tetap yang memenuhi kriteria
dikapitalisasi (kapasitas bertambah, mutu produksi meningkat, standar
kinerja meningkat), PPK-SKPKD membuat BM kemudian mencatat pada
Buku Jurnal Umum sebagai berikut:
M. AKUNTANSI ASET LAINNYA SKPKD
Aset lainnya merupakan aset pemerintah daerah yang tidak dapat
diklasifikasikan sebagai aset lancar, investasi jangka panjang, aset tetap dan
dana cadangan. Termasuk di dalamnya aset tak berwujud, tagihan penjualan
angsuran yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan, yang aset
kerjasama dengan pihak ketiga dan kas yang dibatasi penggunaannya.
Pihak Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi aset lainnya antara lain
adalah:
a. Bendahara Penerimaan
Dalam sistem akuntansi aset lainnya, Bendahara Penerimaan SKPKD
memiliki tugas menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas
transaksi yang terkait dengan proses pelaksanaan sistem akuntansi aset
lainnya ke PPK-SKPD.
b. Bendahara Pengeluaran
Dalam sistem akuntansi aset lainnya, Bendahara Pengeluaran SKPKD
memiliki tugas menyiapkan dan menyampaikan dokumen-dokumen atas
transaksi yangterkait dengan proses pelaksanaan sistem akuntansi aset
lainnya ke PPK-SKPKD.
c. PPK-SKPKD
Dalam sistem akuntansi aset lainnya, PPK-SKPKD melaksanakan fungsi
akuntansi SKPKD, memiliki tugas sebagai berikut:
1) Mencatat transaksi/kejadian aset lainnya berdasarkan bukti-bukti
transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum.
2) Memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian aset lainnya ke dalam Buku
Besar masing-masing rekening (rincian objek).
Dokumen yang Terkait
Dokumen yang terkait dalam prosedur akuntansi aset lainnya antara lain:
• Kontrak/Perjanjian Penjualan secara Angsuran/BeritaAcara Penjualan/yang
Dipersamakan
• Keputusan Pembebanan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah dan/atau
Dokumen yang Dipersamakan
• Kontrak/Perjanjian– Sewa/yang Dipersamakan
• Kontrak /Perjanjian Kerjasama – Pemanfaatan / dokumen yang
Dipersamakan
• Kontrak/Perjanjian Kerjasama- BOT/Dokumen yang Dipersamakan
• Kontrak/Perjanjian Kerjasama–BOT & BAST/Dokumen yang Dipersamakan
• Bukti Pembelian atau Dokumen yangDipersamakan
• Surat Lisensi dan Frenchise/Ijin dari pemegang Haki Hak Cipta,
Paten/Dokumen yang dipersamakan
• Surat Usulan Penghapusan/Dokumen yang dipersamakan.
Langkah-Langkah Teknis/Sistem dan Prosedur Pencatan Akuntansi
Perlakuan akuntansi untuk transaksi aset lainnya pada SKPKD adalah:
a. Pada saat pengakuan/pembelian
1) Tagihan Penjualan Angsuran
Ketika dilaksanakan penjualan aset ini secara angsuran, maka PPKSKPKD akan membuat jurnal pengakuan tagihan penjualan angsuran
berdasarkan dokumen transaksi terkait penjualan dengan angsuran.
Selisih nilai penjualan dan nilai buku positif:
Tagihan Angsuran Penjualan............................xxx
Akumulasi Penyusutan Gedung & Bangunan...xxx
Surplus Penjualan Aset Gedung & Bangunan –LO xxx
Aset Tetap-Gedung dan Bangunan…………….. xxx
Selisih nilai penjualan dan nilai buku negatif:
Tagihan Angsuran Penjualan.......................... xxx
Akumulasi Penyusutan Gedung & Bangunan..xxx.
Defisit Penjualan Aset Gedung & Bangunan –LO xxx
Aset Tetap-Gedung dan Bangunan………….. ……xxx
2) Tuntutan Ganti Rugi
Tuntutan GantiKerugian (TGR) inidiakui ketika putusan Pembebanan
dan/atau dokumen yang dipersamakan diterbitkan.
Berdasarkan dokumen tersebut, PPK-SKPKD akan membuat jurnal
pengakuan tagihan tuntutan kerugian daerah.
Tuntutan Ganti Rugi ..............................xxx
Pendapatan TGR -LO................................xxx
3) Kemitraan denganPihak Ketiga – Sewa
Diakui pada saat terjadi perjanjian kerjasama/kemitraan, yaitu dengan
perubahan klasifikasi aset dari aset tetap menjadi asset kerjasama /
kemitraan-sewa.
Kemitraan dengan Pihak Ketiga-……………xxx
Aset Tetap-……….................................... xxx
4) Kemitraan denganPihak Ketiga - Kerjasama Pemanfaatan Diakui pada saat
terjadi perjanjian kerjasama/kemitraan,yaitu dengan perubahan klasifikasi
aset dari aset tetap menjadi asset kerjasama/kemitraan pemanfaatan
(KSP).
Kemitraan dengan Pihak Ketiga-……………xxx
Aset Tetap/Aset Lain-Lain-…………………xxx
7) Kemitraan dengan Pihak Ketiga - Bangun Guna Serah (BOT) BGS dicatat
sebesarnilai aset yangdiserahkan oleh pemerintah daerah kepada pihak
ketiga/investor untuk membangun aset BGS tersebut. Aset yang berada dalam
BGS ini disajikan terpisah dari Aset Tetap.
Bangun Guna Serah (BOT)-………………….xxx
Tanah-…………………...............................xxx
6) Kemitraan denganPihak Ketiga - Bangun Serah Guna (BTO) BSG diakui
pada saat pengadaan/pembangunan gedung dan/atau sarana berikut
fasilitasnya selesai dan siap digunakan untuk digunakan / dioperasikan.
Penyerahan aset oleh pihak ketiga/investor kepada pemerintah daerah
disertai dengan kewajiban pemerintah daerah untuk melakukan
pembayaran kepada pihak ketiga/investor. Pembayaran oleh pemerintah
daerah ini dapat juga dilakukan secara bagi hasil.
Pada saat kontrak ditandatangani dan dibuat BAST, tanah milik Pemda
dikerjasamakan
Bangun Serah Guna (BTO)-………………..xxx
Tanah-……………………...............................xxx
Pada saat bangunan dengan BTO telah selesai dan diserahkan ke Pemda
dengan BAST
Bangun Serah Guna (BTO)-………………xxx
Utang Jangka Panjang Lainnya..................xxx
7) Aset Tidak Berwujud
Diakui pada saat Aset Tidak Berwujud diperoleh, maka PPK-SKPKD
membuat jurnal pengakuan aset tidak berwujud.
Aset Tidak Berwujud-………………………xxx
Kas di Kasda..................................................xxx
8) Aset Lain-lain
Aset lain-lain diakui pada saat dihentikan dari penggunaan aktif
pemerintah daerah dan direklasifikasikan kedalam aset lain-lain.
Pada saat suatu aset direklasifikasi menjadi aset lainnya, PPK SKPKD akan
membuat jurnal pengakuan aset lain-lain dan penghapusan akumulasi
penyusutan aset tetap yang direklasifikasi.
Aset Lain-lain……………………………………xxx
Akumulasi Penyusutan Aset Tetap…………xxx
Aset Tetap................................................. xxx
b. Penyesuaian Tagihan Jangka Panjang
Karena tagihan tersebut bersifat jangka panjang maka pada saat
penyusunan laporan keuangan,PPK-SKPKD akan melakukan reklasifikasi
untuk mengakui piutang yang akan jatuh tempo dalam satu tahun ke
depan.
Tagihan Penjualan Angsuran dijurnal:
Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran …….xxx
Tagihan Penjualan Angsuran..........................xxx
Tuntutan Ganti Rugi di jurnal:
Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi ………………..xxx
Tuntutan Ganti Rugi......................................xxx
c. Reklasifikasi dari Aset Tetap ke Aset Rusak Berat
Aset lain-lain diakui pada saat dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah
daerah dan direklasifikasikan kedalam aset lain-lain.
Pada saat suatu aset direklasifikasi menjadi aset lainnya, PPK-SKPKD akan
membuat jurnal pengakuan aset lain-lain dan penghapusan akumulasi
penyusutan aset tetapyang direklasifikasi.
d. Penyusutan KSO/BTO
Penyusutan terhadap KSO/BTO dilakukan dengan jurnal penyesuaian:
Beban Penyusutan -…………………………………... xxx
Akumulasi/Aset KSO/BTO.....................................xxx
e. Amortisasi
Amortisasi
terhadapaset
tidak
berwujud
dilakukandengan
jurnal
penyesuaian:
Beban Amortisasi -…………………………………... xxx
Akumulasi Amortisasi………..................................xxx
f. Pada saat selesai dikerjasamakan
Penyerahan aset oleh pihak ketiga/investor kepada pemerintah daerah
disertai dengan kewajiban pemerintah daerah untuk melakukan
pembayaran kepada pihak ketiga/investor.
Kemitraan denganPihak Ketiga - Bangun Guna Serah (BOT)
Tanah -…………………………………………………xxx
Bangunan -……………………………………………xxx
Bangun Guna Serah (BOT)….............................xxx
Pendapatan Lainnya- LO………………..…………..xxx
Kemitraan denganPihak Ketiga - Bangun Serah Guna (BTO)
Tanah -…………………………………………………xxx
Bangunan -……………………………………………xxx
Bangun Serah Guna (BTO)…............................xxx
N. AKUNTANSI KEWAJIBAN SKPKD
Kewajiban merupakan utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang
penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi
pemerintah daerah. Kewajiban pemerintah daerah dapat muncul akibat
melakukan pinjaman kepada pihak ketiga, perikatan dengan pegawai yang
bekerja
pada
pemerintahan,
kewajiban
kepada
masyarakat,
alokasi/realokasi pendapatan ke entitas lainnya, atau kewajiban kepada
pemberi jasa. Kewajiban bersifat mengikat dan dapat dipaksakan secara
hukum
sebagai
konsekuensi
atas
kontrak
atau
peraturan
perundangundangan.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang terkait dalam sistem akuntansi kewajiban terdiri atas:
a. BUD
1) menyiapkan dokumen transaksi penerimaan, pembayaran dan
reklasifikasi utang;
2) menyiapkan bukti memorial untuk pencatatan akuntansi oleh Fungsi
Akuntansi SKPKD yang sebelumnya disahkan oleh Kepala SKPKD.
b. Fungsi Akuntansi SKPKD
1) mencatat transaksi/kejadian investasi lainnya berdasarkan bukti-bukti
transaksi yang sah ke Buku Jurnal Umum;
2) memposting jurnal-jurnal transaksi/kejadian investasi ke dalam Buku
Besar masing-masing rekening (rincian objek);
c. Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD)
Dalam
sistem
akuntansi
kewajiban,
PPKD
memiliki
tugas
menandatangani laporan keuangan Pemerintah Daerah sebelum
diserahkan kepada BPK.
Dokumen Terkait
Dokumen-dokumen yang digunakan dalam sistem akuntansi aset tetap
antara lain adalah:
a. Surat Perjanjian Utang
b. Nota kredit
c. SP2D LS
Sistem dan Prosedur Akuntansi/Langkah-Langkah Teknis
Sistem dan prosedur penambahan kewajiban (penerimaan pembiayaan)
serta sistem dan prosedur akuntansi pengurangan kewajiban (pengeluaran
pembiayaan).
a. Penambahan kewajiban
Berdasarkan nota kredit bank beserta surat perjanjian utang,
BUD/Kuasa BUD membuat B/KTK, STS dan/atau dokumen lain yang
dipersamakan untuk transaksi Penerimaan Kas atas Utang/Kewajiban,
seperti penerimaan kas atas penerbitan obligasi daerah. Selanjutnya,
tembusan bukti tersebut disampaikan kepada unit Akuntansi/PPK-SKPKD
untuk dicatat pada Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
BUD/Kuasa BUD membuat B/KTK, STS dan/atau dokumen lain yang
dipersamakan untuk transaksi Penerimaan Kas atas Utang/Kewajiban,
seperti memungut/memotong pajak Negara (PPN dan PPh). Selanjutnya,
tembusan bukti tersebut disampaikan kepada unit Akuntansi/PPK-SKPKD
untuk dicatat pada Buku Jurnal Umum, sebagai berikut:
b. Pembayaran Kewajiban
Realisasi
pembayaran
kewajiban
dilakukan
melalui
proses
penatausahaan yang dimulai dari pengajuan SPP, pembuatan SPM
hingga penerbitan SP2D. Berdasarkan SP2D tersebut, Fungsi Akuntansi
SKPKD mencatat dengan jurnal:
Sebagai transaksi realisasi anggaran terhadap realisasi pengeluaran
pembiayaan, Fungsi Akuntansi SKPKD juga mencatat dengan jurnal:
c. Pada saat penyusunan laporan keuangan
Berdasarkan surat perjanjian hutang fungsi akuntansi-SKPKD
menghitung hutang jangka panjang yang jatuh tempo 1 tahun kedepan
dengan membukukan dalam buku jurnal.
O. AKUNTANSI EKUITAS SKPKD
Pihak-Pihak Terkait
Prosedur akuntansi ekuitas ini merupakan prosedur akuntansi ikutan dari
prosedur akuntansi lainnya yang seperti prosedur transaksi kewajiban,
prosedur transaksi Belanja, prosedur transaksi Aset dan sebagainya.
Pihak-pihak yang terkait dalam prosedur akuntansi ekuitas SKPKD adalah:
a. Pejabat Penatausahaan Keuangan (PPK-SKPKD)
Tugas PPK SKPKD adalah melakukan pencatatan atas setiap transaksi
ekuitas yang terjadi berdasarkan dokumen sumber serta bukti memorial.
b. Bendahara Pengeluaran
Bendahara Pengeluaran bertugas melakukan pembayaran atas setiap beban
dan utang yang terjadi yang akan mempengaruhi transaksi ekuitas.
c. Bendahara Penerimaan
Bendahara Penerimaan bertugas menerima pendapatan dan piutang yang
dibayar oleh pihak ketiga yang akan mempengaruhi transaksi ekuitas.
d. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK)
PPTK bertugas melakukan pengadaan Aset Tetap sesuai dengan prosedur
yang akan mempengaruhi transaksi ekuitas dan memberikan dokumen
tembusannya kepada PPK SKPKD untuk dilakukan pencatatan.
Dokumen Sumber
Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi
keuangan pemerintah daerah yang digunakan sebagai sumber atau bukti
untuk menghasilkan data akuntansi. Dokumen sumber yang digunakan pada
Akuntansi Ekuitas SKPKD meliputi:
a. Berita Acara Inventarisasi Persediaan
b. Berita Acara Revaluasi Aset Tetap
Sistem dan Prosedur Akuntansi
Pencatatan akuntansi atas ekuitas yang dapat terjadi pada transaksi di SKPKD
dilakukan seperti berikut ini:
a. Pada saat penyusunan laporan keuangan dan melakukan penutupan akun
nominal yaitu akun pendapatan LO dan akun beban.
b. Koreksi kesalahan yang tidak berulang yang terjadi pada periode-periode
sebelumnya dan mempengaruhi aset dan kewajiban, apabila laporan
keuangan periode tersebut sudah diterbitkan, dibukukan sebagai penambah
atau pengurang ekuitas pada periode ditemukannya koreksi tersebut.
Koreksi tersebut antara lain:
1) Koreksi nilai persediaan
2) Selisih revaluasi aset tetap
c. Penutupan Akun Nominal
Dalam tahapan penyusunan Laporan Keuangan SKPKD, setelah menyusun
Laporan Operasional perlu dilakukan penutupan akun-akun nominal
dengan tujuan:
1) Menghitung jumlah surplus/defisit dari akun pendapatan LO dan beban.
2) Memindahkan (menolkan) saldo akun sementara ke akun ekuitas untuk
pencatatan periode berikutnya.
3) Menghitung ekuitas akhir periode.
Berikut contoh jurnal penutup LO.
Pendapatan-LO
xxx
Surplus/Defisit-LO
xxx
Beban
xxx
Akuntansi SKPKD membuat jurnal penutup akhir untuk menutup akun
Surplus (Defisit) – LO ke akun Ekuitas. Berikut contoh jurnal penutup
akhir
Surplus/Defisit-LO
xxx
Ekuitas
xxx
P. JURNAL KOREKSI DAN PENYESUAIAN SKPKD
Koreksi adalah tindakan pembetulan secara akuntansi karena adanya
kesalahan agar akun-akun yang tersaji dalam laporan keuangan entitas
menjadi sesuai dengan yang seharusnya. Kesalahan dalam penyusunan
laporan keuangan dapat terjadi pada satu atau beberapa periode sebelumnya
yang baru ditemukan pada periode berjalan..
Kesalahan dapat terjadi karena adanya:
1. Keterlambatan penyampaian bukti transaksi oleh pengguna anggaran,
2. Kesalahan perhitungan matematis,
3. Kesalahan dalam penerapan standar dan kebijakan akuntansi,
4. Kesalahan interpretasi fakta,
5. Kecurangan, atau
6. Kelalaian.
Ditinjau dari sifat kejadiannya, kesalahan dikelompokkan ke dalam dua
jenis, yaitu kesalahan yang berulang dan sistemik serta kesalahan yang
tidak berulang.
a. Koreksi dan Pengembalian Penerimaan Pendapatan yang sifatnya
tidak berulang (nonrecurring) yang terjadi pada periode penerimaan
pendapatan
Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non recurring)
atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan
pendapatan LRA dan pendapatan LO dibukukan sebagai pengurang
pendapatan LRA dan pendapatan LO pada periode yang sama.
Sebagai contoh, pada periode Januari sampai dengan November 20X0
terdapat penerimaan pendapatan retribusi izin mendirikan bangunan
sebesar Rp100,00. Pada bulan Desember 20X0 diketemukan adanya
kesalahan dan kelebihan penerimaan sebesar Rp5,00. Kelebihan ini
dikembalikan oleh BUD/Kuasa BUD kepada yang berhak pada bulan
Desember 20X0.
Berdasarkan tembusan bukti koreksi dan pengembalian penerimaan
pendapatan yang diterima, unit akuntansi/PPK-SKPKD membuat BM
kemudian mencatat pada jurnal umum sebagai berikut:
b. Koreksi
dan
Pengembalian
yang
sifatnya
tidak
berulang
(nonrecurring) atas penerimaan pendapatan yang terjadi pada
periode sebelumnya
Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non recurring)
atas penerimaan pendapatan-LRA yang terjadi pada periode sebelumnya
dibukukan sebagai pengurang Saldo Anggaran Lebih pada periode
ditemukannya koreksi dan pengembalian tersebut.
Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non recurring)
atas pendapatan-LO yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan
sebagai pengurang ekuitas pada periode ditemukannya koreksi dan
pengembalian tersebut.
Sebagai contoh, pada tahun 20X0 terdapat penjualan tanah Pemda
seluas 1.050 m2 dengan harga Rp1.000,00 per m2. Pada tahun 20X0
harga jual tanah telah diterima seluruhnya. Tahun 20X1 oleh pembeli
dilakukan pengukuran ulang, ternyata luasnya hanya 1.000 m2,
sehingga Pemda harus mengembalikan 50 x Rp1.000,00 = Rp50.000,00.
dan tahun 20X1 tidak terjadi lagi penjualan tanah oleh Pemda.
Pengembalian pendapatan yang diterima tahun lalu, pada umumnya
dibayar oleh BUD/Kuasa BUD, maka transaksi ini tidak diakuntansikan
oleh SKPKD. Berdasarkan tembusan bukti pengembalian pendapatan
tersebut, unit akuntansi/PPK-SKPKD mencatat pada jurnal umum
dengan mengurangi Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Ekuitas.
c. Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas
pendapatan pada periode penerimaan pendapatan maupun pada
periode sebelumnya
Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang (recurring) atas
pendapatan-LRA dan pendapatan-LO pada periode penerimaan
pendapatan-LRA dan pendapatan-LO maupun pada periode sebelumnya
dibukukan sebagai pengurang pendapatan-LRA dan pendapatan-LO.
Sebagai
contoh,
berdasarkan
peraturan
perundang-undangan
pembayaran pajak daerah yang dibayar secara cicilan setiap bulan pada
tahun 20x0 berdasarkan jumlah pajak yang dibayar pada tahun
sebelumnya. Dalam tahun 20x0 jumlah pajak yang sudah dibayar setiap
bulan melalui SKPKD sebesar Rp1.200,00. Ternyata setelah
diperhitungkan pada akhir tahun, pajak yang menjadi beban
perusahaan tersebut pada tahun 20x0 hanya Rp1.000,00. Pengembalian
kelebihan pajak Rp200,00 ini dibayarkan pada bulan Maret 20x1 oleh
BUD/Kuasa BUD. Berdasarkan tembusan bukti pengembalian pajak
yang diterima dari BUD/Kuasa BUD, unit akuntansi/PPK-SKPKD
membuat BM kemudian mencatat dalam jurnal umum sebagai berikut:
d. Koreksi kesalahan atas penerimaan atau pengeluaran pembiayaan
Mengakibatkan
penambahan
maupun
pengurangan
posisi
Kas,
pembetulan dilakukan pada akun Kas, SiLPA/SiKPA, dan akun neraca
yang terkait.
(1) Penerimaan Pembiayaan - mengakibatkan penambahan posisi Kas.
Kesalahan atas kekurangan Penerimaan
mengakibatkan penambahan posisi Kas
Pembiayaan
sehingga
Contoh: Pemda menerima setoran atas kekurangan pembayaran
angsuran pokok pinjaman tahun lalu dari BUMD, akan dijurnal sebagai
berikut:
(2) Penerimaan Pembiayaan - mengakibatkan pengurangan posisi Kas.
Kesalahan
atas
kelebihan
Penerimaan
mengakibatkan pengurangan posisi Kas
Pembiayaan
sehingga
Contoh: Pemda mengembalikan kelebihan setoran angsuran pokok
pinjaman tahun lalu kepada BUMD, akan dijurnal sebagai berikut:
(3) Pengeluaran Pembiayaan - mengakibatkan penambahan posisi Kas.
Kesalahan atas kelebihan Pengeluaran
mengakibatkan penambahan posisi Kas
Pembiayaan
sehingga
Contoh : Pemda menerima kelebihan pembayaran angsuran utang
jangka panjang tahun lalu kepada pemerintah pusat, akan dijurnal
sebagai berikut:
(4) Pengeluaran Pembiayaan - mengakibatkan pengurangan posisi Kas.
Kesalahan atas kekurangan Pengeluaran
mengakibatkan pengurangan posisi Kas.
Pembiayaan
sehingga
Contoh : Terdapat pembayaran angsuran utang jangka panjang tahun
lalu kepada pemerintah pusat yang belum dicatat, akan dikoreksi
sebagai berikut:
b) Koreksi kesalahan atas pencatatan kewajiban yang menambah
maupun mengurangi posisi Kas, dilakukan dengan pembetulan pada
akun Kas, SiLPA/SiKPA, dan akun Kewajiban bersangkutan.
(1) Jika menambah Kas. Misalnya, pemda kelebihan membayar
angsuran utang jangka panjang.
(2) Jika mengurangi Kas. Misalnya, Pemda kurang membayar angsuran
utang jangka panjang.
Q. AKUNTANSI PENYAJIAN KEMBALI (RESTATEMENT) NERACA
Definisi
Penyajian Kembali (restatement) adalah perlakuan akuntansi yang dilakukan
atas pos-pos dalam Neraca yang perlu dilakukan penyajian kembali pada
awal periode ketika Pemerintah Daerah untuk pertama kali akan
mengimplementasikan kebijakan akuntansi yang baru dari semula basis
Kas Menuju Akrual menjadi basis Akrual penuh.
Penyajian kembali diperlukan untuk pos-pos Neraca yang kebijakannya
belum mengikuti basis akrual penuh. Karena untuk penyusunan neraca
ketika pertama kali disusun dengan basis akrual, neraca akhir tahun
periode sebelumnya masih menggunakan basis Kas Menuju Akrual (cash
toward accrual). Berdasarkan identifikasi ini maka perlu disajikan kembali
antara lain untuk akun sebagai berikut:
1.Piutang yang menampilkan nilai wajar setelah dikurangi penyisihan
piutang;
2. Beban Dibayar Dimuka, sebelumnya diakui seluruhnya sebagai belanja,
apabila masih belum dimanfaatkan seluruhnya, maka disajikan sebagai
akun beban dibayar di muka. Hal tersebut tidak dilakukan penyesuaian
di tahun sebelumnya, oleh karena itu akun ini perlu disajikan kembali;
3. Aset Tetap, yang menampilkan nilai buku setelah dikurangi akumulasi
penyusutan;
4. Aset Tidak Berwujud, perlu disajikan kembali dengan nilai buku setelah
dikurangi akumulasi amortisasi;
5. Utang Bunga, perlu disajikan kembali terkait dengan akrual utang bunga
akibat adanya utang jangka pendek yang sudah jatuh tempo;
6. Pendapatan Diterima Dimuka, perlu disajikan kembali karena pada
periode sebelumnya belum disajikan;
7. Ekuitas, perlu disajikan kembali karena kebijakan yang digunakan dalam
pengklasifikasian ekuitas berbeda.
Tahapan Penyajian Kembali
Tahapan yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk melakukan
penyajian kembali Neraca adalah :
1. Menyiapkan data yang relevan untuk dasar pengakuan akun-akun
terkait seperti misalnya untuk dasar menghitung dan mencatat beban
penyisihan piutang dan cadangan penyisihan piutang; beban penyusutan
dan akumulasi penyusutan; beban amortisasi dan akumulasi amortisasi;
2. Menyajikan kembali akun-akun neraca yang belum sama perlakuan
kebijakannya, dengan cara menerapkan kebijakan yang berlaku yaitu
basis akrual, sesuai dengan Peraturan Kepala Daerah tentang kebijakan
akuntansi berbasis akrual.
Jurnal Standar
Jurnal standar untuk melakukan penyajian kembali Neraca adalah sebagai
berikut :
URAIAN
Penyajian
kembali
nilai wajar
piutang
Penyajian
kembali
nilai beban
dibayar
dimuka
Penyajian
kembali
nilai buku
aset tetap
Penyajian
kembali
nilai buku
aktiva tidak
berwujud
Penyajian
kembali
nilai utang
bunga
Penyajian
kembali
nilai
pendapatan
diterima
dimuka
Penyajian
kembali
nilai
Ekuitas
AKUN
EKUITAS
PENYISIHAN PIUTANG …..
(untuk mencatat koreksi penyajian kembali
menambah akun akumulasi penyisihan piutang
tak tertagih sebesar jumlah cadangan piutang
yang seharusnya dicadangkan s/d tahun
terakhir sebelum nelaksanaan basis akrual)
Beban Dibayar dimuka
EKUITAS
(untuk mencatat koreksi penyajian
kembali
menambah nilai beban dibayar dimuka)
EKUITAS
Akumulasi penyusutan
(untuk mencatat koreksi penyajian
menambah nilai Akumulasi penyusutan)
EKUITAS
Akumulasi Amortisasi
(untuk mencatat koreksi penyajian
kembali menambah nilai akumulasi
penyusutan)
EKUITAS
Utang Bunga……
(untuk mencatat koreksi penyajian
menambah nilai utang bunga)
DEBIT
XXX
KREDIT
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
kembali
XXX
XXX
XXX
XXX
kembali
EKUITAS
Pendapatan diterima dimuka
(untuk mencatat koreksi penyajian kembali
menambah nilai pendapatan diterima dimuka)
XXX
EKUITAS DANA
EKUITAS
(untuk mencatat koreksi penyajian
kembali reklasifikasi ekuitas)
XXX
XXX
XXX
R. SIKLUS AKUNTANSI
Siklus akuntansi di SKPKD adalah sebagai berikut:
a. Semua transaksi dan/atau kejadian keuangan pada SKPKD yang
berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah, berdasarkan
pada bukti-bukti transaksi yang sah dicatat pada Buku Jurnal Umum.
b. Secara periodik (misalnya; minggu atau bulan), PPK-SKPKD melakukan
pemindahan catatan dari buku jurnal kepada masing-masing buku besar
yang sesuai (posting).
c. Secara periodik (misalnya: triwulan, semester, dan/atau tahun), unit
Akuntansi/PPK-SKPKD menyusun Neraca Saldo sebagai dasar
penyusunan Laporan Keuangan, yang terdiri atas: Laporan Realisasi
Anggaran, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca dan
Catatan atas Laporan Keuangan termasuk Laporan Perubahan SAldo
Anggaran Lebih (LP-SAL) dan Laporan Arus Kas.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-Pihak yang terkait dalam sistem akuntansi pada SKPKD antara lain
Bendahara Umum Daerah (BUD)/Kuasa BUD, dan Pengelola Barang Milik
Daerah (BMD)/Pembantu Pengelola BMD, dan Pejabat Penatausahaan
Keuangan SKPKD (PPK-SKPKD).
a. Unit Akuntansi/Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPKD (PPK-SKPKD)
Dalam kegiatan ini, unit akuntansi/PPK-SKPKD memiliki tugas sebagai
berikut:
1) bukti transaksi/kejadian yang sah, lengkap dan relevan dicatat ke
Buku Jurnal Umum.
2) nama akun rincian obyek yang sesuai di catat buku jurnal umum
berdasarkan Bagan Akun Standar pada Lampiran IV.
3) secara periodik (mingguan atau bulanan) melakukan pemindahan catatan
dari buku jurnal umum ke Buku Besar masing-masing akun rincian objek.
4) mengoordinasikan transaksi-transaksi keuangan yang non kas.
5) melakukan konsolidasian laporan keuangan SKPD dan SKPKD.
6) secara periodik (bulan, triwulan, semester, dan tahun) menyusun
Laporan Keuangan, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran (LRA),
Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca dan
Catatan atas Laporan keuangan serta Laporan Perubahan SAL dan
Laporan Arus Kas.
b. Bendahara Umum Daerah (BUD)/Kuasa BUD
Dalam kegiatan ini, BUD/Kuasa BUD memiliki tugas:
1) Menerbitkan Bukti Penerimaan Kas berdasar uang yang diterima dari
Pihak Ketiga.
2)
Meneliti
hasil
verifikasi
mengenai
kecukupan/kelengkapan,
kompetensi/keabsahan dan relevansi bukti dari Unit Akuntansi/PPK-SKPKD
sebelum membuat bukti penerimaaan dan/atau pengeluaran kas.
3) Memberi pengesahan atas SPJ GU/TU Fungsional dan SPJ LS Fungsional.
4) Menerbitkan SP2D UP/GU/TU dan LS.
5) Mendistribusikan tembusan bukti penerimaan kas, bukti pengeluaran kas
(SP2D UP/GU/TU dan SP2D LS) yang telah memenuhi syarat lengkap, sah
dan relevan kepada PPK-SKPD.
c. Pengelola Barang Milik Daerah (BMD) /Pembantu Pengelola BMD
1) Menerbitkan bukti/dokumen yang terkait dengan penerimaan dan
pengeluaran BMD.
2) Mengoordinasikan penerimaan dan penggunaan BMD pada SKPD dan
SKPKD.
d. PPK-SKPKD
Menyusun laporan keuangan SKPKD, kemudian dikonsolidasikan dengan
laporan keuangan SKPD.
Prosedur penyusunan Laporan Keuangan
5. Bukti transaksi/kejadian yang sah, lengkap dan relevan dicatat ke Buku
Jurnal Umum
6. Secara periodik (mingguan atau bulanan) melakukan pemindahan
catatan dari buku jurnal umum ke Buku Besar masing-masing akun
rincian objek.
7. PPK-SKPKD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi
neraca saldo atau daftar saldo buku besar.
8. Menyiapkan Kertas Kerja
Beberapa langkah-langkah pengisian dalam kertas kerja yaitu:
- Mengisi neraca saldo sebelum penyesuaian
- Membuat Jurnal Koreksi dan Penyesuaian
- Membuat Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
5. Menyusun Laporan Keuangan
Beberapa langkah-langkah penyusunan laporan keuangan yaitu :
- Membuat LRA dan jurnal penutup LRA dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LRA
- Membuat LO dan jurnal penutup LO dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LO
- Membuat Laporan Perubahan Ekuitas dan jurnal penutup akhir
- Menyusun Neraca, membuat jurnal penutup akhir, dan Neraca Saldo akhir
- Membuat Catatan atas Laporan Keuangan
- Membuat Pernyataan Tanggung Jawab
Langkah Pertama : Mencatat Ke Dalam Memo Jurnal dan Buku Jurnal Umum
Sebagai entitas akuntansi, SKPKD melakukan proses akuntansi yang
dimulai dari pencatatan transaksi hingga penyusunan Laporan Keuangan.
Transaksi-transaksi tersebut dicatat oleh PPK-SKPKD sesuai dengan
dokumen transaksinya menggunakan Memo Jurnal ke dalam buku jurnal.
Format Memo Jurnal dan buku jurnal yang digunakan adalah sebagai
berikut:
Memo Jurnal:
Nomor : ………..
Tanggal: ………
KODE
PERKIRAAN
KABUPATEN JENEPONTO
MEMO JURNAL
SKPKD
TAHUN ANGGARAN…
DEKSRIPSI
PERKIRAAN
JUMLAH
DI DEBET
JUMLAH
DI KREDIT
Keterangan:
Bukti:
1.
2.
3.
Dicatat oleh:
Nomor
Disetujui oleh:
Tanggal
Auditor Internal:
BUKU JURNAL:
KABUPATEN JENEPONTO
BUKU JURNAL
SKPKD
PERIODE………..
Tanggal
1
Nomor
Bukti
2
Kode
Rekening
3
Uraian
Debit
Halaman
Kredit
4
5
6
Jumlah ini dipindahkan ke halaman berikutnya….
xxxx, ……………………
PPK SKPKD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Cara pengisian:
a. Kolom 1 diisi tanggal transaksi atau tanggal yang terdapat dalam bukti
transaksi.
b. Kolom 2 diisi nomor bukti yang sesuai, misalnya SP2D, kuitansi, STS,
Tanda Bukti Pembayaran, dan sebagainya.
c. Kolom 3 diisi kode rekening yang sesuai, dimulai dari kode urusan,
organisasi, program, kegiatan, hingga rincian obyeknya. Misalnya kode
rekening untuk belanja telepon pada Dinas Pendapatan adalah :
d. Kolom 4 diisi uraian kode rekening, misalnya “Belanja Telepon”.
e. Kolom 5 diisi jumlah rupiah yang dijurnal di debit.
f. Kolom 6 diisi jumlah rupiah yang dijurnal di kredit.
Langkah ke dua: memindahkan masuk kedalam Buku Besar
Tahapan selanjutnya setelah pencatatan transaksi melalui jurnal adalah
posting ke buku besar. Dalam tahap ini, PPK-SKPKD mem-posting atau
memindahkan setiap akun beserta jumlahnya dari buku jurnal ke buku
besar masing-masing akun. Format buku besar yang digunakan adalah
sebagai berikut:
KABUPATEN JENEPONTO
BUKU BESAR
SKPKD
KODE REKENING
NAMA REKENING
PAGU APBD
PAGU PERUBAHAN APBD
:
:
:
:
……………………………
……………………………
……………………………
……………………………
Halaman…………
TANGGAL
URAIAN
REF
DEBIT
KREDIT
SALDO
1
2
3
4
5
6
Jumlah ini dipindahkan ke halaman
berikutnya….
xxxx, ……………………
PPK SKPKD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Cara pengisian:
a. Kode Rekening diisi dengan kode rekening yang sesuai, dimulai dari
kode urusan, organisasi, program, kegiatan, hingga rincian obyeknya.
Misalnya kode rekening untuk belanja telepon pada Dinas Pendapatan
adalah:
1.07.1.07.01.01.02.5.2.2.03.01
1.07
Kode urusan
1.07.01
Kode organisasi
01.02
Kode Program & Kegiatan
5.2.2.03.01
Rincian obyek belanja
b. Nama Rekening diisi dengan nama/uraian kode rekening sesuai kode
rekeningnya.
c. Pagu APBD diisi dengan pagu pendapatan/belanja sesuai dengan
jumlah yang terdapat dalam DPA Dinas/Badan/Kantor. Untuk aset,
kewajiban, dan ekuitas dana, nilai Pagu APBD ini dapat dikosongkan.
d. Pagu Perubahan APBD diisi dengan pagu pendapatan/belanja sesuai
dengan jumlah yang terdapat dalam DPA Perubahan SKPKD. Untuk
aset, kewajiban, dan ekuitas dana, nilai Pagu Perubahan APBD ini
dapat dikosongkan.
e. Kolom 1 diisi tanggal transaksi atau tanggal yang terdapat dalam
jurnal yang bersangkutan.
Kolom 2 diisi penjelasan seperlunya terkait dengan jurnal yang
diposting.
f. Kolom 3 diisi referensi, atau dari buku jurnal halaman berapa jurnal
yang diposting tersebut.
g. Kolom 4 diisi jumlah rupiah sesuai dengan yang ada di jurnal kolom
debit.
h. Kolom 5 diisi jumlah rupiah sesuai dengan yang ada di jurnal kolom
kredit.
i. Kolom 6 diisi saldo akumulasi.
Langkah ketiga: membuat Neraca Saldo
Pada setiap akhir periode akuntansi atau sesaat sebelum penyusunan
laporan keuangan, PPK SKPKD menyusun Neraca Saldo atau Daftar Saldo
Buku Besar. Neraca Saldo adalah suatu daftar yang berisi seluruh kode
rekening beserta saldonya pada tanggal tertentu. Format Neraca Saldo tau
Daftar Saldo Buku Besar yang digunakan adalah sebagai berikut:
KABUPATEN JENEPONTO
NERACA SALDO
SKPKD
PER………..
Halaman
Kode
Rekening
1
Nama Rekening
Debit
Kredit
2
3
4
xxxx, ……………………
PPK SKPKD
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP.
Cara pengisian:
a. Tanggal diisi dengan tanggal Neraca Saldo disusun
b Kolom 1 diisi kode rekening setiap buku besar.
c. Kolom 2 diisi nama/uraian kode rekening sesuai kode rekeningnya.
d. Kolom 3 diisi jumlah saldo buku besar yang memiliki saldo akhir
debit.
e. Kolom 4 diisi jumlah saldo buku besar yang memiliki saldo akhir
kredit.
Langkah ke empat: menyiapkan Kertas Kerja
PPK-SKPKD menyiapkan kertas kerja (worksheet) sebagai alat untuk
menyusun Laporan Keuangan. Kertas kerja adalah alat bantu yang
digunakan dalam proses pembuatan Laporan Keuangan. Kertas kerja
berguna untuk mempermudah proses pembuatan laporan keuangan yang
dihasilkan secara manual.
Penggunaan format dalam hal ini disesuaikan dengan kebutuhan yang
berkembang. Informasi minimal yang harus ada pada format kertas kerja
adalah sebagai berikut:
(1) Mengisi Neraca Saldo sebelum penyesuaian
PPK-SKPKD melakukan rekapitulasi saldo-saldo buku besar menjadi neraca
saldo. Angka-angka neraca saldo tersebut diletakkan di kolom “Neraca Saldo”
yang terdapat pada Kertas Kerja.
(2) Membuat Jurnal Penyesuaian
PPK-SKPKD membuat jurnal penyesuaian. Jurnal ini dibuat dengan tujuan
melakukan penyesuaian atas saldo pada akun-akun tertentu dan
pengakuan atas transaksi-transaksi yang bersifat akrual. Jurnal
penyesuaian tersebut diletakkan dalam kolom “Penyesuaian” yang terdapat
pada Kertas Kerja.
Jurnal penyesuaian yang diperlukan antara lain digunakan untuk:
(a) Koreksi kesalahan/Pemindahbukuan
(b) Pencatatan jurnal yang belum dilakukan
(c) Pencatatan piutang, persediaan dan atau aset lainnya pada akhir tahun
Penjelasan atas jurnal penyesuaian dan koreksi tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
1) Koreksi kesalahan pencatatan
Untuk melakukan koreksi atas terjadinya kesalahan pencatatan, PPKSKPKD akan membuat bukti memorial yang akan diotorisasi oleh
Pengguna Anggaran. Berdasarkan bukti memorial yang telah diotorisasi,
PPK-SKPKD langsung membuat pembetulan atas jurnal yang salah catat
tersebut. Misalnya, transaksi beban/belanja telepon dicatat pada
beban/belanja listrik. Untuk melakukan koreksi atas kesalahan tersebut,
PPK-SKPKD menjurnal “Beban telepon” di debit dan “Beban listrik” di
kredit.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban telpon
Beban Listrik
Kredit
XXX
XXX
Karena merupakan transaksi realisasi anggaran, PPK-SKPKD juga
mencatat koreksi belanja dan melakukan penyesuaian Perubahan SAL
dengan menjurnal “Belanja telepon” di debit dan “Belanja listrik” di
kredit.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
LRA
Uraian
Belanja telpon
Belanja listrik
Debet
Kredit
XXX
XXX
2) Pengakuan Persediaan
Apabila SKPKD melakukan transaksi persediaan dengan pendekatan
beban dan metode periodik, maka pada akhir periode sebelum menyusun
laporan keuangan, secara rutin akan dilakukan stockopnamesetiap akhir
periode untuk mengetahui sisa persediaan yang dimiliki. Berdasarkan
berita acara stock opname, PPK-SKPKD mengakui persediaan dengan
menjurnal “Persediaan sesuai jenisnya” di debit dan “Beban Persediaan”
di kredit sebesar persediaan yang ada di akhir periode.
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Dokumen yang
Mendasari
Uraian
Bukti memorial
Debet
Persediaan
Beban Persediaan
Kredit
XXX
XXX
3) Jurnal Penyusutan
Berdasarkan daftar barang dan kebijakan akuntansi yang dimiliki oleh
Pemerintah Daerah, PPK-SKPKD pada akhir tahun akan membuat bukti
memorial yang kemudian akan diotorisasi oleh Pengguna Anggaran
untuk mengakui penyusutan atas aset tetap yang dimiliki. PPK-SKPKD
akan mencatat penyusutan aset tetap dengan menjurnal “Beban
Penyusutan” di debit dan “Akumulasi penyusutan” di kredit di jurnal
umum.
Dokumen yang Mendasari
BM, Bukti Hasil Perhitungan
Penyusutan Aset Tetap
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan
Kredit
XXX
XXX
4) Penyesuaian Sewa Dibayar Dimuka
Pemerintah Daerah perlu membuat jurnal penyesuaian pada akhir
periode untuk transaksi pembayaran biaya sewa yang masa manfaatnya
lebih dari satu tahun anggaran yang dicatat dengan pendekatan beban
oleh pemerintah daerah. Pada akhir tahun, berdasarkan Surat Perjanjian
Sewa, PPK-SKPKD akan membuat bukti memorial yang kemudian akan
diotorisasi oleh Pengguna Anggaran untuk penyesuaian beban sewa.
PPK-SKPKD akan mencatat penyesuaian beban sewa dengan jurnal
“Sewa dibayar di muka/Beban Jasa Dibayar Dimuka” di debit dan
“Beban sewa” di kredit pada buku jurnal.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Debet
Beban Jasa Dibayar Di muka
Beban Jasa
XXX
Kredit
XXX
e. Membuat Neraca Saldo Setelah Penyesuaian
PPK-SKPKD melakukan penyesuaian atas neraca saldo berdasarkan jurnal
penyesuaian yang telah dibuat sebelumnya. Nilai yang telah disesuaikan
diletakkan pada kolom “Neraca Saldo Setelah Penyesuaian” yang terdapat
pada Kertas Kerja.
Langkah kelima: menyusun Laporan Keuangan
(1) Menyusun LRA, membuat jurnal penutup LRA, dan Neraca Saldo setelah
Penutupan LRA.
Berdasarkan Neraca Saldo atau daftar saldo buku besar setelah
penyesuaian. Akuntansi SKPKD mengidentifikasi akun-akun yang
termasuk dalam komponen Laporan Realisasi Anggaran (kode akun yang
berawalan 4, 5, dan 6) dan kemudian membuat “Laporan Realisasi
Anggaran”.
Bersamaan dengan pembuatan LRA, Akuntansi SKPKD juga melakukan
jurnal penutup untuk menutup akun-akun LRA. Prinsip penutupan ini
adalah membuat nilai akun-akun LRA menjadi 0 (nol).
Berikut contoh jurnal penutup LRA:
a. Jurnal Penutup untuk menutup jurnal penganggaran yang dibuat di awal
tahun anggaran
Dokumen yang
Mendasari
LRA
Uraian
Debet
Bukti memorial
Apropriasi Belanja
Apropriasi Pengeluaran Pembiayaan
Estimasi Perubahan SAL
Estimasi Pendapatan
Estimasi Penerimaan Pembiayaan
b.
Kredit
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
Jurnal Penutup untuk realisasi anggaran, ditutup pada akun
surplus/defisit–LRA
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
LRA
Uraian
Debet
Pendapatan LRA
Penerimaan Pembiayaan
Belanja
Pengeluaran Pembiayaan
Surplus-Defisit- LRA
Kredit
XXX
XXX
XXX
XXX
XXX
c. Jurnal Penutup untuk menutup akun surplus/defisit–LRA pada akun
SiLPA/SiKPA
Dokumen yang
Mendasari
LRA
Uraian
Debet
Kredit
Bukti memorial
Surplus-Defisit- LRA
XXX
XXX
SiLPA/SiKPA
d. Jurnal Penutup untuk menutup akun SiLPA/SiKPA pada akun Estimasi
Perubahan SAL yang terbentuk selama transaksi.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
LRA
Uraian
Debet
SiLPA/SiKPA
Estimasi Perubahan
SAL
XXX
Kredit
XXX
Kemudian, setelah membuat jurnal penutupan, Akuntansi SKPKD
menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan LRA. Berikut adalah format
LRA SKPKD Kabupaten Jeneponto:
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPKD
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN
31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
(
KEPALA SKPKD…………..
KABUPATEN JENEPONTO
(NAMA LENGKAP)
NIP.XXXXXXX XXXXXXX X X
2. Menyusun LO, jurnal penutup LO dan Neraca Saldo setelah Penutupan
LO
Berdasarkan Neraca Saldo setelah Penutupan LRA, Akuntansi SKPKD
mengidentifikasi akun-akun yang termasuk dalam komponen Laporan
Operasional (kode akun yang berawalan 8 dan 9) untuk kemudian
disajikan dalam Laporan Operasional.
Bersamaan dengan pembuatan LO, Akuntansi SKPKD juga membuat
jurnal penutup. Prinsip penutupan ini adalah membuat nilai akunakun LO menjadi 0.
Kemudian, setelah membuat jurnal penutupan, Akuntansi SKPKD
menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan LO. Berikut ini contoh
jurnal penutup LO.
Dokumen yang
Mendasari
Bukti memorial
Laporan Operasional (LO) & Neraca
Uraian
Pendapatan-LO
Beban
Surplus/Defisit LO
Debet
Kredit
XXX
XXX
XXX
Kemudian, setelah membuat jurnal penutupan, Akuntansi SKPKD
menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan LO.
Berikut ini merupakan contoh format Laporan Operasional Kabupaten Jeneponto.
(3) Menyusun Neraca, membuat jurnal penutup akhir, dan Neraca Saldo
Akhir
Berdasarkan Neraca Saldo setelah Penutupan LO, Fungsi Akuntansi
SKPKD membuat Neraca. Bersamaan dengan pembuatan Neraca, SKPKD
membuat jurnal penutup akhir untuk menutup akun Surplus/Defisit–LO ke
akun Ekuitas. Berikut ini contoh jurnal penutup akhir.
Setelah membuat jurnal penutup akhir, Fungsi Akuntansi SKPKD
menyusun Neraca Saldo Akhir. Neraca Saldo Akhir ini akan menjadi
Neraca Awal untuk periode akuntansi yang selanjutnya.
Berikut ini merupakan contoh format Neraca Pemerintah Kabupaten
Jeneponto.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPKD
NERACA
PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
(4) Menyusun Laporan Perubahan SAL
Dari Laporan Realisasi Anggaran yang telah dibuat sebelumnya, Fungsi
Akuntansi SKPKD dapat menyusun Laporan Perubahan SAL. Laporan
Perubahan SAL ini merupakan akumulasi SiLPA periode berjalan dan
tahun-tahun sebelumnya. Berikut ini merupakan contoh format Laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih Pemerintah Daerah.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPKD
LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH
PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
URAIAN
20X1 20X2
Saldo Anggaran lebih Awal
Penggunaan SAL sebagai penerimaan Pembiyaan
Tahun Berjalan
Sub Total
Saldo Lebih/Kurang Pembiayaan (SILPA/SIKPA)
Sub Total
Koreksi
Kesalahan
Pembukuan
Tahun
Sebelumnya
Lain-lain
Saldo Anggaran Lebih Akhir Tahun
(5) Menyusun Laporan Perubahan Ekuitas
Selanjutnya, Fungsi Akuntansi SKPKD membuat Laporan Perubahan
Ekuitas menggunakan data Ekuitas Awal dan data perubahan ekuitas
periode berjalan yang salah satunya diperoleh dari Laporan Operasional
yang telah dibuat sebelumnya. Laporan Perubahan Ekuitas ini akan
menggambarkan pergerakan ekuitas SKPKD.
Berikut ini merupakan
Pemerintah Daerah.
contoh
format
Laporan
Perubahan
Ekuitas
NO
1
2
3
4
5
6
7
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPKD
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
URAIAN
20X1
20X0
Ekuitas awal
Suplus/Defisit-LO
Dampak kumulatif perubahan
kebijakan/kesalahan mendasar
Koreksi nilai persediaan
Selisih revaluasi asset tetap
Lain-lain
Ekiutas Akhir
(6) Membuat Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas disusun oleh Bendahara Umum Daerah. Inti unsur dari
Laporan Arus Kas ialah penerimaan kas dan pengeluaran kas. Informasi
tersebut dapat diperoleh dari Buku Besar Kas dan juga jurnal yang telah dibuat
sebelumnya. Semua transaksi terkait Arus Kas tersebut kemudian
diklasifikasikan ke dalam aktivitas operasi, aktivitas investasi, aktivitas
pendanaan, aktivitas transitoris. Di halaman berikut merupakan contoh format
Laporan Arus Kas Pemerintah Daerah
7. Menyusun Neraca, membuat jurnal penutup akhir, dan Neraca Saldo akhir
Berdasarkan Neraca Saldo setelah Penutupan LO, Akuntansi SKPKD
membuat Neraca. Bersamaan dengan pembuatan Neraca, Akuntansi SKPKD
membuat jurnal penutup akhir untuk menutup akun Surplus (Defisit) – LO
ke akun Ekuitas. Berikut ini contoh jurnal penutup akhir.
Kemudian, setelah membuat jurnal penutup akhir, Akuntansi SKPKD
menyusun Neraca Saldo Akhir. Neraca Saldo Akhir ini akan menjadi Neraca
Awal untuk periode akuntansi yang selanjutnya.
Berikut ini merupakan contoh format Neraca
Provinsi/Kabupaten/Kota di halaman berikut.
SKPKD
Pemerintah
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPKD
LAPORAN ARUS KAS
BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 Metode
Langsung
(8) Membuat Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau rincian dari angka
yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan SAL,
Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, dan Laporan
Arus Kas. Hal-hal yang diungkapkan di dalam Catatan atas Laporan
Keuangan antara lain:
· Informasi umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi;
· Informasi tentang kebijakan keuangan dan ekonomi makro;
· Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut
kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
· Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakankebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksitransaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya;
· Rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar
muka laporan keuangan;
· Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan yang belum disajikan dalam lembar muka laporan
keuangan; dan
· Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
Berikut ini merupakan contoh format Catatan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kabupaten Jeneponto.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
SKPKD
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
BAB I
Bab II
Bab III
Bab IV
Pendahuluan
1.1 Maksud dan tujuan penyusunan laporan
keuangan SKPKD
1.2 Landasan hukum penyusunan laporan keuangan
SKPKD
1.3 Sistematika penulisan catatan atas laporan
keuangan SKPKD
Ekonomi
makro,
kebijakan
keuangan
dan
pencapaian target kinerja APBD SKPKD
2.1 Ekonomi Makro/Ekonomi Regional
2.2 Kebijakan keuangan
2.3 Indikator pencapaian target kinerja APBD
Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan SKPKD
3.1 Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja
keuangan SKPKD
3.2 Hambatan dan kendala yang ada dalam
pencapaian target yang telah ditetapkan
Kebijakan akuntansi
Bab V
Bab VI
Bab VII
4.1 Entitas akuntansi/entitas akuntansi/pelaporan
keuangan daerah SKPKD
4.2 Basis akuntansi yang mendasari penyusunan
laporan keuangan SKPKD
4.3 Basis pengukuran yang mendasari penyusunan
laporan keuangan SKPKD
4.4Penerapan kebijakan akuntansi berkaitan dengan
ketentuan yang ada dalam SAP pada SKPKD
4.5 Kebijakan akuntansi tertentu
Penjelasan pos-pos laporan keuangan SKPKD
5.1 LRA
5.1.1 Pendapatan_LRA
5.1.2 Belanja
5.2 LO
5.2.1 Pendapatan –LO
5.2.1 Beban
5.2.3 Kegiatan Non Operasional
5.2.4 Pos Luar Biasa
5.3 Laporan Perubahan Ekuitas
5.1.8 Perubahan Ekuitas
5.4 Neraca
5.1.9 Aset
5.1.10 Kewajiban
5.1.11 Ekuitas
5.5 Laporan Arus Kas
5.5.1 Arus Kas dari Operasi
5.5.2 Arus Kas dari Investasi Aset Non Keuangan
5.5.3 Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan
5.5.4 Arus Kas dari AKtivitas Transitoris
Penjelasan atas informasi-informasi non keuangan
SKPKD
Penutup
9. Membuat Pernyataan Tanggung Jawab
Sebagai entitas pelaporan, pemerintah daerah wajib menyelenggarakan
sistem akuntansi untuk menyusun laporan keuangan pemerintah daerah
sebagai alat akuntabilitas penggunaan anggaran dan penggunaan barang
milik daerah. Laporan Keuangan pemerintah daerah pemerintah daerah
merupakan tanggung jawab pengguna anggaran sehingga pada saat
menyajikan laporan pemerintah daerah harus dilengkapi dengan Surat
Pernyataan Tanggung Jawab. Surat Pernyataan Tanggung Jawab berisi
pernyataan bahwa Laporan Keuangan telah disusun berdasarkan sistem
pengendalian internal yang memadai, dan isinya telah menyajikan
informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Format Surat Pernyataan
Tanggung Jawab adalah sebagai berikut:
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
KEPALA SKPKD
PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB
Laporan Keuangan Kabupaten Jeneponto Tahun Anggaran…………..
sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami.
Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem
pengendalian internal yang memadai, dan isinya telah menyajikan
informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
Jeneponto , ……….……………
Kepala SKPKD
Kabupaten Jeneponto
(…………………..……………………….)
NIP.
BUPATI JENEPONTO,
……………………….
LAMPIRAN III
PERATURAN BUPATI JENEPONTO
NOMOR .... TAHUN 2014 TENTANG
SISTEM AKUNTANSI PEMERINTAH DAERAH
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN
A. UMUM
Laporan keuangan konsolidasi adalah laporan keuangan gabungan dari
seluruh laporan keuangan SKPD dan laporan keuangan SKPKD menjadi
satu laporan keuangan entitas tunggal, dalam hal ini adalah laporan
keuangan pemda sebagai entitas pelaporan. Laporan keuangan konsolidasi
ini disusun oleh SKPKD yang dalam hal ini bertindak mewakili pemda
sebagai konsolidator. Laporan konsolidasi ini dibuat karena Sistem
Akuntansi Pemerintah Daerah (SAPD) dibangun dengan arsitektur
hubungan antara pusat dan cabang (Home Office - Branch Office). SKPKD
bertindak sebagai satuan kerja pusat, sedangkan SKPD bertindak sebagai
satuan kerja cabang.
Terdapat 7 Laporan Keuangan yang dibuat oleh SKPKD, yaitu:
a) Laporan Realisasi Anggaran (LRA);
b) Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL);
c) Neraca;
d) Laporan Operasional (LO);
e) Laporan Arus Kas (LAK);
f) Laporan Perubahan Ekuitas (LPE); dan
g) Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasian adalah menggabungkan
/ mengkonsolidasikan laporan keuangan dari seluruh SKPD dengan SKPKD.
Proses penyusunan laporan keuangan konsolidasi ini terdiri atas 2 tahap
utama, yakni tahap penyusunan kertas kerja (worksheet) konsolidasi dan
tahap penyusunan laporan keuangan gabungan pemerintah daerah sebagai
entitas pelaporan.
Pihak-Pihak Terkait
Pihak-pihak yang melaksanakan penyusunan laporan keuangan pemerintah
daerah adalah sebagai berikut :
a) Fungsi Akuntansi PPKD
b) PPKD
Bagan berikut ini menunjukkan proses penyusunan Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah:
B. Langkah-Langkah Teknis/Sistem dan Prosedur
a)MenyiapkanKertasKerjaKonsolidasi
Fungsi Akuntansi PPKD menyiapkan kertas kerja (worksheet) dengan lajur
sesuai banyaknya SKPD dan PPKD sebagai alat untuk menyusun Neraca
Saldo Gabungan SKPD dan PPKD. Kertas kerja ini adalah alat bantu yang
digunakan untuk menyiapkan kolom neraca saldo pemerintah daerah
dalam kertas kerja penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Kertas kerja berguna untuk mempermudah proses pembuatan laporan
keuangan yang dihasilkan secara manual. Kertas kerja konsolidasi adalah
alat bantu untuk menyusun neraca saldo gabungan SKPD dan SKPKD.
Kertas kerja berguna untuk mempermudah proses pembuatan laporan
keuangan gabungan.
Neraca Saldo SKPD dan Neraca Saldo PPKD yang dimasukkan kedalam
kertas kerja konsolidasi adalah Neraca Saldo yang sudah disesuaikan.
Penggunaan format dalam hal ini disesuaikan dengan kebutuhan yang
berkembang. Informasi minimal yang harus ada pada format kertas kerja
sebagai berikut.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
KERTAS KERJA
PER 31 DESEMBER 20X1
Lap. Keu Lap. Keu
SKPD B
Kode Nama SKPD A
Akun Akun
D
K
D
K
Lap. Keu
SKPD dst.
D
K
Lap. Keu
SKPKD
D
K
Jurnal
Eliminasi
D
K
Lap. Keu Pemda
D
K
Aktivitas penyusunan Kertas kerja dapat juga dengan menggabung
seluruh SKPD lalu dimasukkan dalam kertas kerja. Aktivitas tersebut
dibagi kedalam 3 bagian yaitu:
a. menyusun worksheet LRA yaitu dengan cara menggabungkan akun akun pada kode 4, 5 6 dan 7 dari seluruh SKPD dan SKPKD untuk
mendapatkan LRA Gabungan.
b. menyusun worksheet LO yaitu dengan cara menggabungkan akun akun pada kode 8 dan 9 dari seluruh SKPD dan SKPKD untuk
mendapatkan LO Gabungan.
c. menyusun worksheet Neraca yaitu dengan cara menggabungkan
akun -akun pada kode 1.2 dan 3 dari seluruh SKPD dan SKPKD
untuk mendapatkan NERACA Gabungan. Namun khusus untuk
penggabungan Neraca lebih dulu harus dibuat jurnal eliminasi,
barulah kemudian dibuat NERACA Gabungan.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
KERTAS KERJA
PER 31 DESEMBER 20X1
SKPD 1, 2,
Lap. Keu
Jurnal
Lap. Keu
Nama
Kode Akun
3...n
SKPKD
Eliminasi
Pemda
Akun
D
K
D
K
D
K
D
b.MelakukanEliminasi
Setelah memasukkan semua neraca saldo kedalam kertas kerja
konsolidasi, Fungsi Akuntansi PPKD membuat jurnal eliminasi untuk
menghapus akun transitoris yaitu RK SKPKD dan RK SKPD. Jurnal
eliminasi dibuat untuk meng-nol-kan RK-SKPKD dan RK- SKPD yang
merupakan akun reciprocal yang bersifat sementara di tingkat Pemda
(entitas pelaporan). Akun ini akan di eliminasi dengan jurnal eliminasi
pada akhir periode, untuk tujuan penyusunan neraca konsolidasi. Namun
jurnal eliminasi ini tidak dilakukan pemostingan ke buku besar masingmasing akun reciprocal tersebut, baik di SKPD maupun di SKPKD.
Sehingga akun RK-SKPKD di neraca SKPD dan akun RK-SKPD di neraca
SKPKD tetap hidup.
Untuk mengeliminasi akun reciprocal ini dengan menjurnal RK-SKPKD di
Debet dan RK-SKPD di Kredit.
K
Uraian
RK-SKPKD
RK-SKPD
Debit
Kredit
xxx
xxx
c)MenyusunLaporanKeuanganKonsolidasi
Terdapat Laporan Keuangan Pemda yang wajib dibuat oleh pemerintah
daerah, yaitu:
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA);
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL);
3. Laporan Operasional (LO);
4. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE);
5. Neraca;
6. Laporan Arus Kas (LAK); dan
7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
(1) Menyusun LRA, membuat jurnal penutup LRA, dan Neraca Saldo
setelah Penutupan LRA
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan laporan yang menyajikan
informasi realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer, Surplus/defisit-LRA,
dan
pembiayaan,
yang
masing-masing
diperbandingkan
dengan
anggarannya dalam satu periode. LRA dapat langsung dihasilkan dari LRA
konsolidasi yaitu dengan mengambil data akun-akun kode rekening 4
(Pendapatan – LRA), 5 (Belanja), 6 (Transfer) dan 7 (Pembiayaan) pada
worksheet yang telah di gabungkan.
Berdasarkan Neraca Saldo Pemerintah Daerah, Fungsi Akuntansi PPKD
mengidentifikasi akun-akun yang termasuk dalam komponen Laporan
Realisasi Anggaran dan kemudian disajikan dalam “Laporan Realisasi
Anggaran”.
Nilai kolom debit dan kredit pada kolom “Laporan Realisasi Anggaran”
dijumlahkan. Selisih antara kedua nilai ini merupakan nilai “SILPA tahun
berjalan”. Nilai ini ditempatkan di bawah kolom yang nilainya lebih kecil,
sehingga akan diperoleh nilai yang seimbang antara kolom debit dan
kredit.
Bersamaan dengan pembuatan LRA, PPKD juga membuat jurnal
penutup. Prinsip penutupan ini adalah membuat nilai akun-akun LRA
menjadi 0. Berikut contoh jurnal penutup LRA
Kemudian, setelah membuat jurnal penutupan,
menyusun Neraca Saldo setelah Penutupan LRA.
Akuntansi
PPKD
Berikut ini merupakan contoh format Laporan Realisasi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah kabupaten Jeneponto.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
2. Menyusun Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
Laporan Perubahan SAL ini merupakan akumulasi SiLPA periode
berjalan dan tahun-tahun sebelumnya. Laporan perubahan SAL
baru dapat disusun setelah LRA selesai. Hal ini karena dalam
menyusun laporan perubahan SAL, kita memerlukan informasi
SiLPA /SIKPA tahun berjalan yang ada di LRA.
Berikut ini merupakan contoh format Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih Pemerintah Daerah Kabupaten Jeneponto.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
LAPORAN PERUBAHAN SALDO ANGGARAN LEBIH
PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
URAIAN
Saldo Anggaran Lebih Awal
Penggunaan SAL sebagai Penerimaan Pembiayaan Tahun
Berjalan
Subtotal (1 + 2)
Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SiLPA/ SiKPA)
Subtotal (3 + 4)
Koreksi Kesalahan Pembukuan Tahun Sebelumnya
Lain-lain
Saldo Anggaran Lebih Akhir (5 + 6 + 7)
20X1
20X0
xxx
(xxx)
xxx
(xxx)
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
xxx
3. Penyusunan Laporan Operasional
Sama halnya dengan LRA, Laporan Operasional (LO) juga dapat
langsung dihasilkan dari LO konsolidasi yaitu dengan mengambil
data akun-akun kode rekening 8 (Pendapatan - LO) dan 9 (Beban)
dapat dilihat pada halaman berikut.
4. Menyusun Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
Laporan Perubahan Ekuitas menggambarkan pergerakan ekuitas
pemerintah daerah. Laporan Perubahan Ekuitas disusun dengan
menggunakan data Ekuitas Awal dan data perubahan ekuitas
periode berjalan yang salah satunya diperoleh dari Surplus/defisit
Laporan Operasional.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
LAPORAN OPERASIONAL
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN
31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
NO
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR
SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0
URAIAN
20X1
1
2
EKUITAS AWAL
SURPLUS/DEFISIT-LO
3
DAMPAK KUMULATIF PERUBAHAN KEBIJAKAN/KESALAHAN
MENDASAR
20X0
xxx
xxx
Xxx
Xxx
4
KOREKSI NILAI PERSEDIAAN
xxx
Xxx
5
SELISIH REVALUASI ASET TETAP
xxx
Xxx
6
LAIN-LAIN
xxx
Xxx
7
EKUITAS AKHIR
xxx
Xxx
5. Penyusunan Neraca
Laporan keuangan lainnya yang langsung dapat dihasilkan dari
Worksheet konsolidasi adalah Neraca. Neraca dapat disusun
dengan mengambil data akun-akun kode rekening 1 (Aset), 2
(Kewajiban) dan 3 (Ekuitas). Ada proses jurnal eliminasi untuk
reciprocal RK-SKPD DAN RK-SKPKD.
Sebagai catatan: Dari proses penutupan LO sebelumnya di SKPD
dan SKPKD terbentuk Ekuitas yang sudah meliputi Transaksi Kas
dan Akrual. Dari proses penutupan LRA terbentuk Ekuitas SAL
dan proses offset Ekuitas dari Transaksi Kas. Dengan demikian
didalam akun Ekuitas akan terlihatsaldo Ekuitas SAL dan Ekuitas
Akrual murni.
6. Membuat Laporan Arus Kas
Laporan arus kas menggambarkan aliran kas masuk dan kas
keluar yang terjadi pada pemerintah daerah. Semua transaksi arus
kas masuk dan kas keluar tersebut kemudian diklasifikasikan ke
dalam aktivitas operasi, aktivitas investasi, aktivitas pendanaan,
dan aktivitas transitoris. Informasi tersebut dapat diperoleh dari
Buku Besar Kas. Laporan Arus Kas disusun oleh Bendahara
Umum Daerah.
7. Membuat Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan atau rincian
dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran, Laporan
Perubahan SAL, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas,
Neraca, dan Laporan Arus Kas. Hal-hal yang diungkapkan di dalam
Catatan atas Laporan Keuangan antara lain:
i. Informasi umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas
Akuntansi;
ii. Informasi tentang kebijakan keuangan dan ekonomi
makro;
iii. Ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun
pelaporan
berikut
kendala
dan
hambatan
yang
dihadapi dalam pencapaian target;
iv. Informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan
dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk
diterapkan
atas
transaksi-transaksi
dan
kejadian-
kejadian penting lainnya;
v. Rincian
dan
penjelasan
masing-masing
pos
yang
disajikan pada lembar muka laporan keuangan;
vi. Informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan dalam
lembar muka laporan keuangan; dan
vii.
Informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian
yang wajar, yang tidak disajikan dalam lembar muka
laporan keuangan.
Contoh format Catatan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten
Jeneponto.
PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO CATATAN ATAS
LAPORAN KEUANGAN
Bab I
Bab II
Pendahuluan
1.1
Maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah
1.2
Landasan hukum penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah
1.3
Sistematika penulisan catatan atas laporan keuangan pemerintah daerah
Ekonomi makro, kebijakan keuangan dan pencapaian target kinerja APBD
2.1
Ekonomi makro
2.2
Kebijakan keuangan
2.3
Bab III
Indikator pencapaian target kinerja APBD
Ikhtisar pencapaian kinerja keuangan pemerintah daerah
3.1
Ikhtisar realisasi pencapaian target kinerja keuangan pemerintah daerah
3.2
Bab IV
Hambatan dan kendala yang ada dalam pencapaian target yang telah
ditetapkan
Kebijakan akuntansi
4.1
Entitas akuntansi / entitas pelaporan keuangan daerah
4.2
Bab V
Basis akuntansi yang mendasari penyusunan laporan keuangan pemerintah
daerah
4.3
Basis pengukuran yang mendasari penyusunan laporan keuangan pemerintah
daerah
Penerapan kebijakan akuntansi berkaitan dengan ketentuan yang ada dalam
4.4
SAP pada pemerintah daerah
Penjelasan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah
5.1
Rincian dari penjelasan masing-masing pos-pos pelaporan keuangan
pemerintah daerah
5.1.1 Pendapatan - LRA
5.1.2
Belanja
5.1.3
Transfer
5.1.4
Pembiayaan
5.1.5
Pendapatan - LO
5.1.6
Beban
5.1.7
Aset
5.1.8
Kewajiban
5.1.9
Ekuitas Dana
Bab VI
Pengungkapan atas pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan
dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan
rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas, untuk entitas akuntansi/entitas
pelaporan yang menggunakan basis akrual pada pemerintah daerah.
Penjelasan atas informasi-informasi nonkeuangan pemerintah daerah
Bab VII
Penutup
5.2
BUPATI JENEPONTO,
……………………….
Download