UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

advertisement
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS EKONOMI
MEDAN
SKRIPSI
PERBANDINGAN TINGKAT PENGUNGKAPAN LAPORAN
TAHUNAN PERUSAHAAN PUBLIK SEBELUM DAN
SETELAH PERUBAHAN PERATURAN BAPEPAM
MENGENAI KEWAJIBAN PENYAMPAIAN LAPORAN
TAHUNAN
OLEH :
NAMA
: TIURMAIDA SINAGA
NIM
: 040503091
DEPARTEMEN
: AKUNTANSI
PROGRAM STUDI : S1
Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
Medan
2008
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul
:”Perbandingan
Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Sebelum dan Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan ”
Adalah benar hasil karya sendiri dan judul yang dimaksud belum pernah dimuat,
dipublikasikan atau diteliti oleh mahasiswa lain dalam konteks penulisan skripsi
level Program Reguler S-1 Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas
Sumatera Utara.
Semua sumber data dan informasi yang diperoleh telah dinyatakan dengan jelas,
benar apa adanya. Dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, saya
bersedia menerima sanksi yang ditetapkan oleh universitas.
Medan, 13 Juni 2008
Yang membuat pernyataan
Tiurmaida Sinaga
Nim : 040503091
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
KATA PENGANTAR
Segala puji, hormat, syukurbagi Tuhan Yesus Kristus atas kasih karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul : “ Perbandingan
Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan Setelah
Perubahan peraturan Bapepam Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan
Tahunan “. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat
dalam menyelesaikan pendidikan pada universitas Sumatera Utara untuk
memperoleh gelar sarjana ekonomi.
Skripsi ini penulis persembahkan untuk keluargaku. Terimakasih yang
terhingga penulis ucapkan kepada keluargaku, khususnya kedua orang tua penulis
yang selalu memberikan dukungan, semangat, bimbingan, dan kasih saying
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini baik secara moril maupun
materi, yaitu :
1. Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, Mec selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Arifin Akhmad, M.Si, Ak selaku Ketua Departemen Akuntansi
dan Bapak Fahmi Natigor Nasution, SE, M.Acc
selaku Sekretaris
Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
3. Bapak DR. Drs. Agusni Pasaribu, MBA,Ak selaku dosen pembimbing yang
telah banyak memberikan bimbingan dan pengarahan kepada penulis untuk
menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Firman Syarif, SE, MSi, Ak selaku dosen pembanding I/penguji yang
telah banyak memberikan arahan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi
ini.
5. Bapak Iskandar Muda, SE, MSi, Ak selaku dosen pembanding II /penguji
yang telah banyak memberikan arahan bagi penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini
6. Bapak DR. Syafruddin Ginting, SE, MAFIS, Ak selaku dosen wali penulis,
seluruh dosen Fakultas Ekonomi khususnya Departemen Akuntansi yang telah
banyak memberikan ilmu, nasehat dan arahan pada penulis selama masa
perkuliahan, serta seluruh Staff dan Pegawai Departemen Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
7. Kedua orang tuaku tercinta H. Sinaga dan R. Simanjuntak, yang telah
mencurahkan kasih sayang, pengorbanan, dukungan, serta doa yang diberikan
kepada penulis.
8. Abangku Ferry Sinaga,S.pd dan Kakakku Jeni Sinaga,SP dan Riris Sinaga
yang selalu memberikan baik dukungan, materi dan dorongan semangat yang
tak pernah habis-habisnya sampai saat ini
9. Sahabat-sahabat terbaikku di Akuntansi 2004 (Uni, Esra, Ade, Septin, Marsya,
Vina “cute” Lubis, Elvirita, Herlina, Delfi ) yang saling berbagi dorongan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
semangat , doa, dan dukungan yang sangat besar bagi penulis, dan juga buat
teman-teman seperjuangan di Akuntansi 2004.
10. Teman-temanku seperguruan bimbingan 2004 ( Bang Ronald ”kakak pertama”
Siahaan, Ageth ”kakak kedua” Surbakti, Maria “adik keempat” Hutagaol, dan
Luga “sibungsu” Kristina ) yang selalu mendukung, menguatkan, dan
menemani selama penulisan skripsi ini, semangat saudaraku!.
11. Teman-temanku Sepelayanan di Sekolah Minggu GTI, Kak Ida, Kak Icha,
Kak Yos, Kak Tika, Kak Intan, dan Kak Betty yang selalu mendukungku
dalam doa dan semangat ,Tuhan Yesus Memberkati.
12. Adik-adikku di Sekolah Minggu GTI (Ruth Sorta, Naomi, Frans, Jere,
Febiola) yang selalu mendoakanku di jam doa syafaat sekolah minggu, dan
semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas setiap bantuan,
dukungan dan doanya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna karena
keterbatasan kemampuan penulis, sehingga penulis mengharapkan saran dan
kritik yang sifatnya membangun dalam penulisan kedepan. Akhir kata, penulis
berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.
Medan,
Penulis
Juni 2008
Tiurmaida Sinaga
Nim : 040503091
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris tentang ada
tidaknya perbedaan tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam mengenai kewajiban
penyampaian laporan tahunan. Selain melihat ada tidaknya perbedaan tingkat
pengungkapan sebelum dan setelah perubahan peraturan penelitian ini juga
melihat apakah likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan
berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
baik sebelum maupun setelah perubahan peraturan.
Data yang digunakan untuk mengukur tingkat pengungkapan laporan tahunan
adalah laporan tahunan perusahaan publik tahun 2006 (sebelum perubahan) dan
2007 (setelah perubahan). Penilaian tingkat pengungkapan dilakukan dengan
metode scoring sederhana. Pengujian data dilakukan dengan menggunakan
analisis statistik uji asumsi klasik, uji f, uji t, dan uji t untuk dua sampel
berpasangan.
Hasil uji t untuk dua sampel berpasangan menghasilkan t-hitung < t-tabel
( 0,981<2,0345) sehingga menunjukkan tidak terdapat perbedaan tingkat
pengungkapan laporan tahunan yang signifikan sebelum dan detelah perubahan
peraturan Bapepam.Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa likuiditas,
solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan sebelum perubahan peraturan
Bapepam tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan baik
secara parsial maupun simultan, tetapi setelah perubahan peraturan likuiditas,
solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan berpengaruh secara sumultan
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan namun secara parsial hanya
likuiditas yang berpengaruh secara signifikan.
Keywords : Pengungkapan , laporan tahunan, likuiditas, solvabilitas,
profitabilitas, ukuran perusahaan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
ABSTRACT
The objective of this research is to get empirical evidence of whether or there
is the difference in the public firm’s annual report disclosure degree between
before and after the rules of Bapepam about the duty to perform the annual report
or not. Besides, this research is also aimed to test if the public firm’s annual report
disclosure both before and after the rules changes
The data used to measure the degree of annual report disclosure is the public
firm’s annual report of 2006 (before the changes) and 2007 (after the change). The
test of disclosure degree is done by using simple scoring method. The data test is
done by using the classical assumption test statistical analysis, f-test, t-test, and ttest for two paired samples.
The result of t-test for two paired samples result t- arithmetic < t-table (0,981
< 2,0345), so its shows that there is no significant difference in the degree of
public firm’s annual report disclosure between before and after the change of
Bapepam rules.This research results also shows that the liquidity, solvability,
profitability, and log size before the change of Bapepam rules don’t have
influence on the degree of annual report disclosure either partially or simultantly,
but the liquidity, solvability, profitability, and log size have influence on the
degree of annual report disclosure simultantly after the change of Bapepam rule.
The partially only the liquidity has a significant influence.
Keywords : disclosure, annual report, liquidity , solvability, profitability, log
size,
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR ISI
PERNYATAAN ................................................................................................
i
KATA PENGANTAR .....................................................................................
ii
ABSTRAK ........................................................................................................
v
ABSTRACT ...................................................................................................... vi
DAFTAR ISI .................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiv
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...............................................................
1
B. Batasan masalah ............................................................................
6
C. Perumusan masalah .......................................................................
7
D. Tujuan Penelitian ...........................................................................
9
E. Manfaat Penelitian ........................................................................ 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teoritis ......................................................................... 12
1. Laporan Tahunan ....................................................................
12
2. Pengertian, Ruang Lingkup , dan Metode Penilaian
Pengungkapan ............................................................................ 13
A. Pengertian Pengungkapan ................................................... 13
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
B. Ruang Lingkup Pengungkapan ............................................. 13
C. Metode Penilaian ................................................................... 17
3. Rasio Likuiditas ........................................................................ 18
4. Rasio Solvabilitas ..................................................................... 21
5. Rasio Profitabilitas ................................................................... 25
6. Ukuran Perusahaan ................................................................... 33
B. Tinjauan Peneliti Terdahulu ........................................................... 34
C. Kerangka Konseptual ..................................................................... 37
D. Hipotesis ......................................................................................... 39
BAB III. METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian ............................................................................ 41
B. Jenis Data .....................................................................................
41
C. Populasi Dan Sampel Penelitian .................................................... 41
D.Teknik Pengumpulan Data ............................................................. 42
E. Variabel Penelitian ......................................................................... 42
F. Defenisi Operasional Penelitian ...................................................... 43
G.Teknik Analisis Data ....................................................................... 45
BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian ............................................................................. 56
1. Gambaran umum objek penelitian ............................................ 56
A. Gambaran Umum Objek Penelitian ..................................... 56
B. Tingkat Pengungkapan ......................................................... 58
C. Likuiditas ............................................................................. 63
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
D. Solvabilitas .........................................................................
67
E. Profitabilitas .....................................................................
71
F. Ukuran Perusahaan ...........................................................
74
2. Deskripsi Data Penelitian Secara Statistik ..............................
78
B. Analisis Hasil Penelitian ..............................................................
82
1. Analisis Hasil ........................................................................... 82
A. Pengujian Asumsi Klasik ..................................................... 82
1.Uji Normalitas ................................................................. 83
A.Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam .............. 83
B.Setelah Perubahan Peraturan Bapepam ................
87
2. Uji Multikolinearitas ....................................................... 90
A.Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam .............. 90
B.Setelah Perubahan Peraturan Bapepam ................
91
3. Uji Autokorelasi .............................................................. 92
A.Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam .............. 93
B.Setelah Perubahan Peraturan Bapepam ................
93
4. Uji Heterokedastisitas ...................................................... 94
A.Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam ............... 95
B.Setelah Perubahan Peraturan Bapepam ................. 96
B. Uji Beda t-test ......................................................................
97
C. Analisis Regresi .................................................................... 98
1. Persamaan Regresi .......................................................... 98
A.Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam .............. 98
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
B.Setelah Perubahan Peraturan Bapepam ................ 101
2. Pengujian Hipotesis ...................................................... 104
2. Pembahasan hasil .................................................................... 116
C. Keterbatasan Penelitian ............................................................... 129
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ................................................................................. 130
B. Saran ........................................................................................... 131
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 133
LAMPIRAN
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR TABEL
Nomor
Judul
Halaman
Tabel 3.1
: Defenisi Operasional Variabel Penelitian …………............. 44
Tabel 4.1
: Daftar Perusahaan Sampel …………………………..……... 56
Tabel 4.2
: Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Sebelum Perubahan
Peraturan Bapepam ………………………...…..………….. 60
Tabel 4.3
: Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam ………………...……………...……….. 62
Tabel 4.4
: Likuiditas Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan
Peraturan Bapepam ................................................................. 64
Tabel 4.5
: Likuiditas Perusahaan Sampel Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam ................................................................. 66
Tabel 4.6
: Solvabilitas Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan
Peraturan Bapepam ……………………....………………….. 68
Tabel 4.7
: Solvabilitas Perusahaan Sampel Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam …………………………………………. 69
Tabel 4.8
: Profitabilitas Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan
Peraturan Bapepam ………………………………………...... 71
Tabel 4.9
: Profitabilitas Perusahaan Sampel Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam ………………………………………….. 73
Tabel 4.10
: Ukuran Perusahaan Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan
Peraturan Bapepam ……....................................…………….. 75
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Tabel 4.11
: Ukuran Perusahaan Perusahaan Sampel Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam ………………………………………….. 76
Tabel 4.12
: Descriptive Statistics Sebelum Perubahan Peraturan
Bapepam (2006) ...................................................................... 78
Tabel 4.13
: Descriptive Statistics Setelah Perubahan Peraturan
Bapepam (2007) ....................................................................... 80
Tabel 4.14
: Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov
Test (2006) ............................................................................... 83
Tabel 4.15
: Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov
Test (2007) ............................................................................... 87
Tabel 4.16
: Hasil Uji Multikolinearitas Coefficients(a) (2006) …..………. 91
Tabel 4.17
: Hasil Uji Multikolinearitas Coefficients(a) (2007) …………. 91
Tabel 4.18
: Hasil Uji Autokorelasi Model Summary(b) (2006) .…………. 93
Tabel 4.19
: Hasil Uji Autokorelasi Model Summary(b) (2007) …………. 93
Tabel 4.20
: Hasil Uji Beda Metode Paired T Test ...................................... 97
Tabel 4.21
: Hasil Analisis Regresi (2006) ................................................... 98
Tabel 4.22
:Hasil Analisis Regresi (2007) ................................................. 101
Tabel 4.23
: Hasil Uji Hipotesis Metode Paired T Test ............................. 104
Tabel 4.24
: Hasil Uji T (2006) .................................................................. 106
Tabel 4.25
: Hasil Uji T (2007) .................................................................. 107
Tabel 4.26
: Hasil Uji F ANOVA (b) ............................................................ 114
Tabel 4.27
: Hasil Uji F ANOVA (b) ............................................................... 116
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Judul
Halaman
Gambar 2.1
: Kerangka koseptual ...........................................................
37
Gambar 4.1
: Histogram (2006) ...............................................................
85
Gambar 4.2
: Grafik Normal Plot (2007) ................................................
86
Gambar 4.3
: Histogram (2007) ................................................................
88
Gambar 4.4
: Grafik Normal Plot (2007) .................................................
93
Gambar 4.5
: Hasil uji heterokedastisistas (2006) ...................................
94
Gambar 4.6
: Hasil uji heterokedastisistas (2007) ...................................
96
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Judul
A.Lampiran I
Descriptive Statistic Sebelum Perubahan Peraturan
B.Lampiran II
Descriptive Statistic Setelah Perubahan Peraturan
C.Lampiran III
Kolmogorov Smirnov Sebelum Perubahan Peraturan
D.Lampiran IV
Kolmogorov Smirnov Setelah Perubahan Peraturan
E.Lampiran V
Histogram Sebelum Perubahan Peraturan
F.Lampiran VI
Histogram Setelah Perubahan Peraturan
G.Lampiran VII
Grafik Plot Sebelum Perubahan Peraturan
H.Lampiran VIII
Grafik plot setelah Perubahan Peraturan
I. Lampiran IX
Multikolinearitas Sebelum Perubahan Peraturan
J. Lampiran X
Multikolinearitas Setelah Perubahan Peraturan
K. Lampiran XI
Autokorelasi Sebelum Perubahan Peraturan
L. Lampiran XII
Autokorelasi Setelah Perubahan Peraturan
M.Lampiran XIII
Uji beda t-test
N.Lampiran XIV
Heterokedastisitas Sebelum Perubahan Peraturan
O.Lampiran XV
Heterokedastisitas Setelah Perubahan Peraturan
P.Lampiran XVI
Regresi Sebelum Perubahan Peraturan
Q.Lampiran XVII
Regresi Sebelum Perubahan Peraturan
R.Lampiran XVIII
Uji t Sebelum Perubahan Peraturan
S.Lampiran XIX
Uji t Sebelum Perubahan Peraturan
T.Lampiran XX
Uji t Sebelum Perubahan Peraturan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
U.Lampiran XXI
Uji t Setelah Perubahan Peraturan
V.Lampiran XXII
Kriteria Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan
W.Lampiran XXIII
Peraturan Bapepam No : Kep-38/PM/1996
X.Lampiran XXIV
Peraturan Bapepam No : Kep-134/BL/2006
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sumber pendanaan bagi perusahaan di dapat dari eksternal dan internal
perusahaan. Pendanaan internal berupa laba yng didapatkan selama periode
tertentu, sedangkan pendanaan eksternal berasal antara lain dari investor dan
kreditor. Dengan kondisi ekonomi seperti di Indonesia saat ini, membuat pihak
investor untuk benar-benar berpikir matang sebelum melakukan investasi. Mereka
benar-benar membutuhkan informasi-informasi dari pihak manajemen perusahaan
yang dapat
membantu mereka untuk memprediksi tingkat resiko dan
pengembalian yang akan mereka terima dari investasi yang mereka lakukan.
Syarat utama yang diinginkan oleh para investor untuk bersedia menyalurkan
dananya untuk berinvestasi melalui pasar modal adalah keamanan investasinya.
Untuk dapat memperoleh perasaan aman tersebut dan menentukan tindakan apa
yang akan dilakukan, perusahaan harus memberikan informasi secara rinci
(detail), jelas (clarity),wajar, dan tepat waktu (timely), sehingga para investor dan
pihak lain yang berkepentingan seperti lenders
merasa aman dan percaya
mengenai minimum resiko kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
dimasa yang akan datang (Partha Sanggupta, 1998:572).
Pengungkapan yang detail akan mencerminkan kinerja dan operasionalisasi
perusahaan yang sesungguhnya, sehingga pengungkapan akan menimbulkan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
kepercayaan stakeholders khususnya pihak landers akan kinerja manajemen
dalam hal ini kapabilitas perusahaan yang baik. Dengan adanya pengungkapan
(disclosure) yang berkualitas akan membantu pihak lenders (pemberi pinjaman)
dan
underwriters (penjamin emisi/penanggung resiko) dalam mengestimasi
resiko kegagalan yang akan dibebankan kepadanya.
Untuk mencapai terwujudnya transparansi dan akuntabilitas informasi
mengenai kinerja ekonomi perusahaan baik dimasa sekarang maupun dimasa yang
akan datang, maka setiap perusahaan publik diwajibkan menyampaikan laporan
tahunan (annual report) kepada investor (pemodal), lenders, underwriters, dan
pihak-pihak lain yang berkepentingan. Oleh karena itu untuk melindungi para
investor, Bapepam (Badan pengawas pasar modal) telah mengeluarkan peraturan
tentang standart pengungkapan informasi dalam laporan tahunan terbaru bagi
perusahaan publik di Indonesia yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Peraturan terbaru tersebut dikeluarkan Bapepam pada tanggal 7 Desember 2006
dengan nomor : kep-134/ BL/ 2006 untuk menggantikan peraturan yang lama
yang dikeluarkan pada 17 Januari 1996 dengan nomor : kep-38/PM/1996.
Peraturan nomor : kep-134/BL/2006 menyoroti bentuk dan isi laporan tahunan
yang terdiri dari : ketentuan umum, iktisar data keuangan penting, laporan dewan
komisaris, laporan direksi, profil perusahaan, analisis dan pembahasan
manajemen, tata kelolah perusahaan (corporate governance), tanggung jawab
direksi atas laporan keuangan, laporan keuangan yang telah diaudit, dan tanda
tangan anggota direksi dan anggota dewan komisaris.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Peraturan nomor : kep-38/PM/1996 hanya menyoroti bentuk dan isi laporan
tahunan yang terdiri dari ketentuan umum, laporan manajemen, iktisar data
keuangan penting, analisis dan pembahasan umum oleh manajemen, dan bagian
mengenai laporan keuangan.
Menurut Yuniati Gunawan (2001), berdasarkan penelitiannya terhadap
laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta tahun 1998,
dengan berpatokan pada peraturan Bapepam nomor : kep-38/PM/1996,
menyatakan tingkat pengungkapan (disclosure level)
yang dilakukan oleh
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta ternyata masih rendah dengan
rata-rata skor yakni 29,51 dengan pemberian skor atas pengungkapan item-item
yang terdapat pada laporan tahunan menggunakan instrument indeks disclosure
yang digunakan oleh Botosan (1997) dengan skor antara 0 sampai 75.
Berdasarkan hasil penelitian Yusniati Gunawan tersebut dapat diambil
kesimpulan bahwa perusahaan–perusahaan publik di Indonesia masih rendah,
dengan kata lain masih banyak informasi yang hanya diketahui oleh pihak
manajemen karena tidak diungkapkan oleh manajemen dalam laporan tahunan.
Kebanyakan
manajemen
perusahaan
berusaha
memperindah
laporan
tahunannya dengan cara memperendah tingkat pengungkapan dari laporan mereka
atau terdapat informasi-informasi yang tidak diungkapkan atau disembunyikan
untuk kepentingan mereka sehingga terjadi ketimpangan informasi dimana pihak
manajemen perusahaan memiliki informasi yang lebih lengkap dibandingkan
pihak lain. Dengan kata lain ada informasi yang diketahui pihak manajemen tapi
tidak diketahui oleh pihak lain.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Pengungkapan informasi yang memadai diberikan oleh perusahaan karena
mempunyai kepentingan yaitu adanya harapan mengenai dampak positif dari
pengungkapan informasi yang disampaikan , dan pengungkapan informasi secara
sukarela dipengaruhi oleh biaya dan manfaat yang diperoleh. Manajemen akan
mengungkapkan informasi secara sukarela bila manfaat yang diperoleh dari
pengungkapan informasi yang diperoleh dari pengungkapan nformasi tersebut
lebih besar dari biayanya (Elliot dan Jacobson,1994).
Tindakan manajemen untuk memperendah tingkat pengungkapan tidak dapat
disalahkan sepenuhnya, karena menurut penelitian yang dilakukan oleh Vita
anggreni (2007) tingkat pengungkapan penuh yang tinggi membutuhkan Cost
yang tinggi pula bagi manajemen. Cost yang dimaksud adalah kerugian yang
dialami akibat pengungkapan yang dilakukan, seperti misalnya dengan adanya
pengungkapan penuh (full disclosure) menyebabkan timbulnya free riding . Bisa
saja dengan adanya pengungkapan tersebut, strategi perusahaan ditiru atau dicuri
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini jelas sangat merugikan
pihak manajemen perusahaan. Hal ini pula yang menjadi dasar perusahaan
menutup-nutupi informasi perusahaan kepada investor sehingg akhirnya
menyebabkan asimetri informasi.
Anny Sidarta dalam penelitiannya menyatakan bahwa pengungkapan yang
tinggi akan dapat meningkatkan Bond rating yang pada gilirannya akan
memperkecil biaya hutang ketika perusahaan melakukan pendanaan secara
eksternal.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Lie Fony dalam penelitiannya menyatakan bahwa luasnya pengungkapan
mempengaruhi biaya modal, karena pengungkapan yang lebih luas menaikkan
likuiditas pasar saham, dengan demikian menurunkan biaya-biaya transaksi atau
melalui meningkatnya permintaan ekuitas.
Mengingat hasil penelitian Vita Anggreni, Anny Sidarta, dan Lie Fony diatas
penulis merasa tertarik meneliti hal-hal apa saja yang kiranya mempengaruhi
luasnya tingkat pengungkapan informasi laporan tahunan baik sebelum perubahan
peraturan Bapepam (kep-38/PM/1996) maupun setelah perubahan peraturan
Bapepam (kep-134/BL/2006). Dalam penelitian ini penulis mencoba meneliti
apakah likuiditas, solvabilitas, profitabilitas serta ukuran perusahaan mempunyai
pengaruh terhadap besarnya tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik.
Likuiditas dipilih karena rasio likuiditas (diukur dengan current ratio) dapat
mencerminkan kesehatan suatu perusahaan dan diharapkan berhubungan dengan
luasnya tingkat pengungkapan.
Solvabilitas dipilih karena suatu perusahaan yang tingkat debt ratio-nya tinggi
cenderung untuk memenuhi kebutuhan informasi untuk kreditornya.
Profitabilitas
dipilih
karena
biasanya
perusahaan-perusahaan
dengan
profitabilitas tinggi lebih mengungkapkan tentang keadaan perusahaannya
dibandingkan dengan perusahaan yang profitabilitasnya rendah.
Ukuran perusahaan dipilih karena biasanya perusahaan yang berukuran besar
lebih cenderung memiliki public demand akan informasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan perusahaan yang berukuran kecil.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Seiring dengan diperbahurinya peraturan mengenai penyampaian laporan
tahunan oleh Bapepam, penulis ingin meneliti apakah tingkat pengungkapan
laporan tahunan perusahaan publik di Indonesia masih tetap sama atau telah
terjadi perubahan .Hal inilah yang mendorong penulis ingin menganalisa
perbandingan tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum dan setelah
perubahan peraturan Bapepam dari
kep-38/Pm/1996
menjadi kep-
134/BL/2006, dan apakah likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran
perusahaan mempengaruhi luasnya tingkat pengungkapan laporan tahunan
perusahaan publik baik sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam
tersebut. Dalam penelitian kali ini penulis masih tetap menggunakan metode
scoring tetapi tidak lagi menggunakan indeks disclosure Botosan , karena indeks
disclosure botosan ini hanya cocok untuk perusahaan manufaktur dan dengan
kondisi ekonomi yang cukup stabil seperti Amerika , sedangkan penulis meneliti
perusahaan secara keseluruhan baik manufaktur maupun nonmanufaktur di
Indonesia.
B. Batasan Masalah
Penulis memberi batasan masalah agar penelitian ini tercapai, antara lain :
1. Ojek penelitian adalah laporan tahunan perusahaan publik 2006 dan 2007
yang selama periode pengamatan telah mengeluarkan laporan tahunan.
2. Sampel yang digunakan adalah laporan tahunan perusahaan publik tahun
2006 dan 2007 dengan bergantung pada ketersediaan data.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
3. Periode pengamatan sampai dengan 30 April 2008 sesuai dengan
ketetapan peraturan Bapepam mengenai batas waktu penyampaian laporan
tahunan.
4. Pemilihan faktor-faktor keuangan dan non keuangan dianggap cukup
mewakili pengaruh tuingkat pengungkapan informasi dalam laporan
tahunan.
C.Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian mengenai latar belakang penelitian yang telah
dikemukan diatas, maka penulis merumuskan masalah dalam bentuk
pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah terdapat perbedaan tingkat pengungkapan laporan tahunan
perusahaan publik sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam ?
2. Apakah tingkat likuidasi berpengaruh pada tingkat pengungkapan
informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum perubahan
peraturan Bapepam ?
3. Apakah tingkat likuidasi berpengaruh pada tingkat pengungkapan
informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah perubahan peraturan
Bapepam ?
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
4. Apakah tingkat solvabilitas berpengaruh pada tingkat pengungkapan
informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum perubahan
peraturan Bapepam ?
5. Apakah tingkat solvabilitas berpengaruh pada tingkat pengungkapan
informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah perubahan peraturan
Bapepam ?
6. Apakah tingkat profitabilitas berpengaruh pada tingkat pengungkapan
informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum perubahan
peraturan Bapepam ?
7. Apakah tingkat profitabilitas berpengaruh pada tingkat pengungkapan
informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah perubahan peraturan
Bapepam ?
8. Apakah ukuran perusahaan (firm size) berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum
perubahan peraturan Bapepam ?
9. Apakah ukuran perusahaan (firm size) berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah
perubahan peraturan Bapepam ?
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
10. Apakah likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan
secara bersama-sama/simultan terhadap tingkat pengungkapan laporan
tahunan perusahaan publik sebelum perubahan peraturan Bapepam ?
11. Apakah likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan
secara bersama-sama/simultan terhadap tingkat pengungkapan laporan
tahunan perusahaan publik sebelum perubahan peraturan Bapepam ?
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka penulis melakukan
penelitian dengan judul ”Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan
Tahunan
Perusahaan Publik Sebelum Dan Setelah Perubahan Peraturan
Bapepam Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan”
D.Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui perbedaan tingkat pengungkapan laporan tahunan
perusahaan publik sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam
2. Untuk mengetahui apakah tingkat likuiditas berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum
perubahan peraturan Bapepam
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
3. Untuk mengetahui apakah tingkat likuiditas berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah
perubahan peraturan Bapepam
4. Untuk mengetahui apakah tingkat solvabilitas berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum
perubahan peraturan Bapepam
5. Untuk mengetahui apakah tingkat solvabilitas berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah
perubahan peraturan Bapepam
6. Untuk mengetahui apakah tingkat profitabilitas berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum
perubahan peraturan Bapepam
7. Untuk mengetahui apakah tingkat profitabilitas berpengaruh pada tingkat
pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah
perubahan peraturan Bapepam
8. Untuk mengetahui apakah ukuran perusahaan (firm size) berpengaruh pada
tingkat pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik sebelum
perubahan peraturan Bapepam
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
9. Untuk mengetahui apakah ukuran perusahaan (firm size) berpengaruh pada
tingkat pengungkapan informasi laporan tahunan perusahaan publik setelah
perubahan peraturan Bapepam
10. Untuk mengetahui apakah likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran
perusahaan secara bersama-sana/simultan berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik sebelum perubahan
peraturan Bapepam
11. Untuk mengetahui apakah likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran
perusahaan secara bersama-sana/simultan berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik setelah perubahan peraturan
Bapepam
E.Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang
tingkat pengungkapan informasi dalam laporan tahunuan perusahaan publik.
2. Bagi
investor,
lenders,
underwriters,
serta
pihak-pihak
lain
yang
berkepentingan, penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan seberapa
besar perusahaan-perusahaan publik di Indonesia mau memberikan informasi
sehingga investor, lenders, underwriters, serta pihak-pihak lain yang
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
berkepentingan tahu mengenai minimum resiko kegagalan yang akan mereka
hadapi.
3. Bagi peneliti lainnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan
maupun sebagai referensi dalam melakukan referensi dalam melakukan
penelitian sejenis serta memberikan kontribusi ilmiah dan tambahan bukt i
empiris dalam bidang disclosure level laporan tahunan perusahaan publik di
indonesia.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Landasan Teoritis
1.Laporan Tahunan
Laporan tahunan merupakan laporan yang berisikan pertanggung jawaban
mengenai kinerja manajemen kepada pemegang saham, kreditor, Bapepam, serta
pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Laporan tahunhan bertujuan memberikan informasi yang menyangkut posisi
keuangan , kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang
bermanfaat bagi sebagian besar pemakai didalam pengambilan keputusan
ekonomi, profil perusahaan, kinerja direksi dan manajemen, tata kelolah
perusahaan.
Peraturan Bapepam nomor : kep-134/BL/2006 mewajibkan setiap laporan
tahunan perusahaan publik untuk memuat iktisar data keuangan penting, laporan
dewan komisaris, profil perusahaan, analisis dan pembahasan manajemen, tata
kelolah perusahaan, tanggung jawab direksi atas laporan keuangan, dan laporan
keuangan yang telah diaudit.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Pengungkapan informasi perusahaan ini harus memadai agar dapat digunakan
sebagai dasar pengambilan keputusan yang cermat dan tepat. Perusahaan
diharapkan untuk dapat lebih transparan dalam mengungkapan informasi
mengenai perusahaan, sehingga dapat membantu para pengambil keputusan dalam
mengantisipasi kondisi ekonomi yang terus berubah.
2. Pengertian, Ruang lingkup, dan Metode penilaian Pengungkapan
A.Pengertian Pengungkapan
Pengungkapan (disclosure) adalah informasi yang diberikan oleh perusahaan
kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai keadaan perusahaan. Didalam
pengungkapan semua informasi harus diungkapkan termasuk informasi kuantitatif
(seperti komponen persediaan dalam nilai mata uang), dan komponen kualitatif
(seperti tuntutan hukum) ,bahkan menurut SEC setiap kejadian yang terjadi
dengan tiba-tiba yang dapat mempengaruhi posisi keuangan harus diungkkapkan
secara khusus (GAAP,1998:42) untuk membantu para pengguna laporan tahunan.
Pengertian pengungkapan (disclosure) menurut Siegel dan Shim (1994:147)
adalah pengungkapan atas informasi yang diberikan sebagai lampiran pada
laporan keuangan sebagai catatan kaki atau tambahan. Informasi ini menyediakan
penjelasan yang lebih lengkap mengenai posisi keuangan, hasil operasi, dan
kebijakan perusahaan. Informasi penjelasan mengenai kesehatan keuangan dapat
juga diberikan dalam laporan pemeriksaan. Semua materi harus disingkapkan
termasuk informasi kuantitatif maupun kualitatif yang sangat membantu pengguna
laporan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
B. Ruang Lingkup Pengungkapan
Pengungkapan informasi dalam laporan tahunan dapat dibagi dua, yaitu
pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela
(voluntary disclosure). Menurut Murni (2204:193) pengungkapan wajib
(mandatory disclosure) adalah pengungkapan yang diharuskan dalam laporan
tahunan menurut peraturan Bapepam, sedangkan pengungkapan sukarela
(voluntary disclosure) adalah pengungkapan yang tidak diwajibkan oleh
Bapepam, dengan kata lain pengungkapan yang melebihi dari yang diwajibkan.
Menurut
Alan
Levinsohn (2001),
pengungkapan sukarela
(voluntary
disclosure) dibagi mejadi 5 kategori, yaitu :
a. Data bisnis
Meliputi operasi operasi dan pengukuran kinerja level atas
b. Analisis manajemen mengenai data bisnis
Meliputi
alasan-alasan
perubahan
pada
operasi
perubahan
serta
mencantumkan data yang terkait serta dampak trend bisnis pada perusahaan
c. Forward looking information
Meliputi peluang, resiko dan termasuk rencana-rencana manajemen
d. Informasi mengenai manajemen dan shareholders
Meliputi informasi mengenai direktur, manajemen, dan pemegang saham
e. Latar belakang perusahaan
Meliputi tujuan perusahaan dan ruang lingkup perusahaan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Purnomosidhi (2006) dalam penelitiannya mengungkapkan suatu framework
untuk
kepentingan
pengungkapan
sukarela
berdasarkan
informasi
yang
dibutuhkan investor yang didasari oleh Laporan Jenkin (AICPA 1994), yaitu :
1. Data keuangan dan non keuangan
2. Analisis data keuangan dan non keuangan
3. Informasi yang berorientasi pada masa depan
4. Informasi tentang manajer dan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
perusahaan
5. Latar belakang perusahaan
6. Dimensi modal intelektual
Menurut PSAK nomor 1 Ayat 74, informasi mengenai manajemen dan
shareholders
yang meliputi susunan nama anggota direksi dan komisaris
merupakan mandatory disclosure (pengungakapan wajib) . Begitu pula halnya
dengan latar belakang perusahaan yang meliputi tujuan perusahaan dan bidang
usaha utama perusahaan (ruang lingkup) merupakan mandatory disclosure
(pengungkapan wajib).
Apabila sebuah perusahaan memberikan pengungkapan wajib (mandatory
disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) secara sekaligus,
berarti perusahaan tersebut memberikan pengungkapan secara penuh (full
disclosure). Pengungkapan penuh (full disclosure) harus mengungkapkan :
1. Prinsip pengungkapan penuh, yaitu peningkatan persyaratan pelaporan dan
pengungkapan diferensial.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
2. Catatan atas laporan keuangan, mengenai kebijakan akuntansi dan catatancatatan umum.
3. Masalah pengungkapan, yang terdiri dari pengungkapan transaksi atau
peristiwa khusus, peristiwa selain tanggal neraca, perusahaan yang
terdiversifikasi, dan laporan intern.
4. Laporan auditor dan manajemen.
5. Masalah pelaporan masa berjalan, yaitu pelaporan tentang penjualan dan
proyeksi, pelaporan keuangan melalui internet untuk pilihan akuntansi dan
pelaporan.
”Full
disclosure principle mengharuskan pengungkapan semua keadaan
dan kejadian yang membuat suatu perbedaan pada pengguna laporan
”(Weygandt,Kieso,&Kimmel,
199,p.526).
pada
kenyataannnya
banyak
perusahaan berusaha membatasi tingkat pengungkapan dari laporan tahunan. Hal
ini disebabkan oleh ketakutan manajeman akan adanya free riding , dimana
adanya pihak tertentu yang memanfaatkan informasi yang potensial untuk tujuan
kurang baik bagi perusahaan yang bersangkutan lagi pula bila dilihat dari sisi
biaya , penyediaan informasi tambahan memerlukan biaya yang tidak sedikit , dan
biasanya keuntungan dari adanya informasi itu sendiri lebih rendah dari biaya
yang
dibutuhkan,
sebaliknya
pembatasan
tingkat
pengungkapan
dapat
menyebabakan asimetri informasi, dimana salah satu pihak dalam hal ini
manajemen perusahaan memiliki informasi lebih banyak dari pihak lain. Jadi
dapat
disimpulkan
bahwa
untuk
menentukan
batasan-batasan
tingkat
pengungkapan suatu perusahaan tidaklah mudah.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Special commite on financial reporting (AICPA), mengindikasikan bahwa
para pemakai mempunyai kebutuhan informasi yang berbeda, dan tidak semua
perusahaan harus melaporkan seluruh unsur informasi. Untuk itu untuk memenuhi
kebutuhan pemakai yang berubah-ubah, pelaporan harus :
1. Meyediakan informasi yang lebih mengacu kemasa depan tentang
perencanaan, peluang/kesempatan, resiko dan ketidak pastiaan.
2. Memusatkan perhatian pada faktor-faktor yang menciptakan nilai yang
bersifat jangka panjang, termasuk ukuran nonkeuangan yang menunjukkan
bagaimana proses bisnis kunci berjalan.
3. Menyesuaikan dengan lebih baik antara informasi yang dilaporkan untuk
pihak eksternal dengan informasi yang dilaporkan secara internal.
C.Metode Penilaian pengungkapan
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode scoring. Scoring
adalah pemberian nilai untuk setiap unsur catatan atas laporan tahunan yang harus
diungkapkan oleh setiap perusahaan. Dalam penelitian ini, penelitian kualitas
disclosure menggunakan metode scoring yang sederhana, scoring pada penelitian
ini hanya memberikan nilai 0 atau 1 pada kriteria-kriteria pengungkapan yang
telah ditentukan sebelumnya. Jika suatu item diungkapkan mendapat nilai 1, dan
bila tidak mengungkapkan mendapat nilai 0, dan untuk item yang tidak dapat
diterapkan tidak diberi nilai, kemudian skor yang diperoleh setiap perusahaan
dijumlahkan untuk mendapatkan jumlah skor.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Daftar kriteria kualitas pengungkapan (disclosure) yang digunakan penulis
mengambil sumber dari penelitian Zaki Baridwan, Mas’ud Machfoedz dan
Michael G.Tearney yang dilakukan pada tahun 2001 seperti yang dikutip oleh
Vita Anggreni (2007) dan telah disesuaikan dengan PSAK dan peraturan
Bapepam. Kriteria-kriteria kualitas pengungkapan yang dipilih adalah yang umum
diungkapkan dan dipilih oleh perusahaan publik di Indonesia. Adapun formula
yang digunakan dalam mengukur skor indeks dari kualitas pengungkapan
(disclosure) adalah :
Indeks Pengungkapan = Yes : (Yes + No) x 100%
3.RasioLikuiditas
Rasio likuiditas digunakan untuk menggambarkan seberapa likuidnya suatu
perusahaan serta kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan kewajiban jangka
pendek dengan menggunakan aktiva lancar. Dengan kata lain , rasio ini digunakan
untuk mengukur kemampuan
perusahaan untuk membayar kewajiban yang
segera jatuh tempo.
Pentingnya likuiditas dapat dilihat dengan mempertimbangkan dampak dari
ketidak
mampuan
perusahaan
memenuhi kewajiban
jangka
pendeknya.
Kurangnya likuiditas menghalangi perusahaan untuk memperoleh keuntungan
dari diskon atau kesempatan mendapatkan keuntungan, juga berarti pembatasan
kesempatan dan tindakan manajemen.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Masalah likuiditas yang lebih parah mencerminkan ketidak mampuan
perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancar. Masalah ini dapat mengarah pada
penjualan investasi dan aktiva dengan terpaksa, dan bukan mengarah pada
insolvensi dan kebangkrutan, sehingga jika suatu perusahaan gagal memenuhi
kewajiban lancarnya, maka kelangsungan usahanya dipertanyakan. Dengan kata
lain kesehatan suatu perusahaan yang dicerminkan dengan tingginya rasio
likuiditas (diukur dengan current ratio) diharapkan berhubungan dengan luasnya
tingkat pengungkapan (Wallace : 1994).
Tetapi sebaliknya jika likuiditas dipandang sebagai ukuran kinerja, perusahaan
yang mempunyai rasio likuiditas rendah perlu memberikan informasi yang lebih
rinci untuk menjelaskan rendahnya kinerja dibanding perusahaan yang
mempunyai rasio likuiditas yang tinggi.
Tingkat likuiditas suatu perusahaan dapat diukur dengan cara :
1. Current Ratio
Rasio ini menunjukkan sejauh mana aktiva lancar dapat digunakan untuk
menutupi kewajiban jangka pendek/hutang lancar. Semakin besar perbandingan
aktiva lancar dengan hutang lancar maka semakin tinggi kemampuan perusahaan
Current Asset
Current Liabilities
menutupi kewajiban jangka pendek.
Current Ratio =
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Apabila current ratio 1:1 atau 100% berarti bahwa aktiva lancar dapat
menutupi semua hutang lancar. Rasio ini lebih aman jika berada diatas satu atau
diatas 100% artinya aktiva lancar akan mampu membayar kewajiban lancarnya
tanpa mengganggu operasi perusahaan.
Current ratio 200% kadang-kadang dipertimbangkan sebagai current ratio
yang memuaskan bagi perusahaan industri atau perusahaan komersil, sedang bagi
perusahaan penghasil jasa seperti perusahaan listrik dan hotel angka 100%
dikatakan sudah mencukupi.
Current ratio
yang tinggi mungkin menunjukkan adanya uang kas yang
berlebihan dibanding dengan tingkat kebutuhan atau adanya unsur aktiva lancar
yang rendah likuiditasnya (seperti persediaan) yang berlebih-lebihan. Current
ratio yang tinggi tersebut memang baik dari sudut pandang kreditur, tetapi dari
sudut pandang pemegang saham kurang menguntungkan karena aktiva lancar
tidak didaya gunakan secara efektif. Sebaliknya current ratio yang rendah lebih
riskan, tetapi menunjukkan bahwa manajemen telah mengoperasikan aktiva lancar
secara efektif. Saldo kas dibuat minimum sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
perputaran piutang dan persediaan diusahakan maksimum.
2.Quick Ratio (Acid Test ratio)
Rasio ini merupakan rasio uji cepat yang menunjukkan kemampuan
perusahaan membayar kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar tanpa
memperhitungkan persediaan karena persediaan memerlukan waktu relatif lebih
lama untuk diuangkan disbanding asset lain. Quick asset ini terdiri dari piutang
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Quick Ratio =
Current Asset − Inventory
Current Liabilities
dan surat-surat berharga yang dapat direlisir menjadi uang dalam waktu relatif
pendek. Jadi semakin besar rasio ini semakin baik.
Lebih baik jika rasio ini dapat mencapai 1: 1 atau 100% karena jika terjadi
likuidasi maka perusahaan dapat membayar kewajiban jangka pendeknya
disebabkan sumber yang digunakan adalah aktiva yang cepat dapat diuangkan
3.Cash Ratio
Rasio ini merupakan alat untuk mengukur seberapa besar uang kas yang
tersedia untuk membayar hutang yang dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas
atau setara dengan kas seperti rekening giro. Semakin besar perbandingan kas atau
setara kas dengan hutang lancar semakin baik.
Cash Ratio =
Cash or cash equivalent
Current Liabilities
Atau
Cash Ratio =
Cash + Bank
Current Liabilities
Apabila rasio ini 100% atau 1 : 1 hal ini berarti bahwa Rp 1 uang kas yang ada
dalam perusahaan mencukupi Rp 1 hutang lancar yang ada.
4.Working Capital to Total Asset Ratio
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas dari total aktiva dan posisi modal
kerja . Semakin besar rasio ini semakin baik, begitu juga sebaliknya. Rumus yang
dapat digunakan untuk mencari working capital to total asset ratio adalah :
Working Capital to Total Asset Ratio =
Current Asset − Current liabilities
Total asset
3.Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas menyangkut kemampuan perusahaan membayar seluruh
hutang-hutangnya, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang jika
dilikuidasi.
Rasio solvabilitas melibatkan beberapa elemen kunci seperti struktur modal.
Struktur modal mengacu pada sumber pendanaan perusahaan. Pendanaan dapat
diperoleh dari modal ekuitas yang relatif permanen hingga sumber pendanaan
jangka pendek sementara yang lebih beresiko. Saat suatu perusahaan memperoleh
pendanaan , perusahaan akan menginvestasikannya pada berbagai aktiva. Aktiva
mencerminkan sumber keamanan sekunder bagi peminjam dan diperoleh dari
pinjaman yang dijamin oleh aktiva tertentu hingga aktiva yang tersedia sebagai
pengaman umum bagi kreditor tanpa jaminan.
Suatu perusahaan yang tingkat debt ratio-nya tinggi cenderung untuk
memenuhi kebutuhan informasi untuk kreditornya (Wallace:1994). Perusahaan
yang mempunyai proporsi hutang lebih banyak dalam struktur permodalannya
akan mempunyai biaya keagenan yang besar. Oleh karena itu perusahaan yang
mempunyai komposisi hutang yang tinggi wajib memenuhi kebutuhan informasi
yang cukup memadai bagi kreditur.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Rasio yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan solvabilitas
perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Long Term Debt to Equity Ratio
Rasio ini menunjukkan bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan
jaminan untuk hutang jangka panjang.
Long Term Debt to Equity Ratio =
Long term Liabilities
Owner ' s Equity
2. Debt to Total Asset
Rasio ini menunjukkan berapa besarnya aktiva yang digunakan untuk
menjamin pengembalian hutang, baik hutang jangka pendek maupun hutang
jangka panjang.
Debt to total Asset =
Total Liabilities
Owner ' s Equity
3. Debt to Equity Ratio
Rasio ini menunjukkan seberapa jauh perusahaan dibelanjai dengan hutang
jangka pendek dan hutang jangka panjang dibandingkan dengan modal sendiri.
Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar aktiva perusahaan dibiayai dengan
modal asing (hutang). Bagi kreditur, semakin rendah rasio ini lebih baik karena
lebih terjamin pengembalian piutangnya.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Times Interest Earned Ratio =
Earning Before Interest Tax
Longterm Liabilities int erest
4. Times Interest Earned Ratio
Rasio ini menunjukkan besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga
hutang jangka panjang.
Times Interest Earned Ratio = Earning Before Interest Tax
Longterm Liabilities Interest
5. Long Term Debt to Non Current Asset
Rasio ini menunjukkan perbandingan antara hutang jangka panjang aktiva
selain aktiva lancar. Rasio ini biasa digunakan untuk menilai solvabilitas
perusahaan dengan standart rata-rata dipergunakan sebesar 50% atau 1 : 2 .
6. Tangible Assets Debt Covarage (TADC)
Rasio ini digunakan untuk mengetahui rasio antara aktiva tetap berwujud
dengan hutang jangka panjang , artinya rasio ini menunjukkan setiap rupiah aktiva
berwujud yang digunakan untuk menjamin hutang jangka panjangnya.
Rasio ini juga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mencari pinjaman
baru dengan jaminan aktiva tetap yang ada. Semakin tinggi rasio ini semakin
besar jaminan yang ada dan kreditor jangka panjang semakin aman atau terjamin
dan semakin besar kemampuan perusahaan untuk mencari pinjaman. Rasio ini
biasanya minimal 100% atau 1 : 1 yang mana bahwa Rp 1 hutang jangka panjang
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Tangible Assets Debt Co var age =
Fixed Asset
Longterm Liabilities
dijamin oleh Rp 1 aktiva tetap yang ada. Rumus untuk mencari tangible assets
debt coverage yaitu :
7. Current Liabilities to Net Worth
Rasio ini menunjukkan bahwa dana pinjaman yang segera akan ditagih ada
terdapat sekian kalinya modal sendiri. Jadi rasio ini merupakan rasio antara
hutang lancar dengan modal sendiri. Tujuan dari rasio ini adalah untuk
mengetahui seberapa besar bagian dari modal sendiri yang dijadikan jaminan
hutang lancar. Semakin kecil rasio ini semakin baik sebab modal sendiri yang ada
diperusahaan semakin besar untuk menjamin hutang lancar yang ada pada
perusahaan. Batas yang paling rendah dari rasio ini adalah 100% atau 1 : 1.
Current Liabilities to Net Worth =
Current Liabilities
Equities
5. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio utama dalam seluruh laporan keuangan,
karena tujuan utama perusahaan adalah hasil operasi/ keuntungan. Keuntungan
adalah hasil akhir dari kebijakan dan keputusan yang diambil manajemen. Rasio
keuntungan akan digunakan untuk mengukur
keefektifan operasi perusahaan
sehingga menghasilkan keuntungan pada perusahaan.
Rasio profitabilitas sangat penting bagi semua pengguna laporan tahunan,
khususnya investor ekuitas dan kreditor. Bagi investor ekuitas, laba merupakan
satu-satunya faktor penentu perubahan nilai efek / sekuritas. Pengukuran dan
peramalan laba merupakan pekerjaan paling penting bagi investor ekuitas. Bagi
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
kreditor, laba dan arus kas operasi umumnya merupakan sumber pembayaran
bunga dan pokok.
Profitabilitas merupakan hasil bersih dari sejumlah kebijakan dan keputusan
perusahaan. Rasio profitabilitas mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan keuntungan. Menurut Gitman (2003:591), “ Profitability is
the relationship between revenues and cost generated by using the firm’s assetboth current and fixed- in productive activities”.
Profitabilitas merupakan faktor yang seharusnya mendapat perhatian penting
karena untuk dapat melangsungkan hidupnya, suatu perusahaan harus berada
dalam keadaan yang menguntungkan (profitable). Tanpa adanya keuntungan
(profit),maka akan sangat sulit bagi peusahaan untuk menarik modal dari luar.
Para kreditur, pemilik perusahaan, dan terutama sekali dari pihak manajemen
perusahaan akan berusaha meningkatkan keuntungan karena disadari benar betapa
pentingnya arti dari profit terhadap kelangsungan dan masa depan perusahaan.
Van Horne dan Wachowicz (2005:222) mengemukakan rasio profitabilitas
terdiri
atas dua jenis, yaitu rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam
kaitannya dengan penjualan dan rasio yang menunjukkan profitabilitas dalam
kaitannya dengan investasi. Profitabilitas dalam hubungnya dengan penjualan
terdiri atas margin laba kotor (gross profit margin) dan margin laba bersih (net
profit margin). Profitabilitas dalam hubungannya dengan investasi terdiri atas
tingkat pengembalian atas aktiva (return on total assets) dan tingkat
pengembalian atas ekuitas (return on equity).
Rasio profitabilitas terdiri dari :
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
1. Gross Profit Margin
Gross profit margin mencerminkan mark-up terhadap harga pokok penjualan
dan kemampuan manajemen untuk meminimalisasi harga pokok penjualan dalam
hubungannya dengan penjualan yang dilakukan perusahaan.Profitabilitas dalam
Net Sales − Cost of Goods Sold
Net sales
ukuran gross profit margin yang dimaksut adalah rasio penjualan setelah
Gross Pr ofit M arg in =
dikurangi harga pokok penjualan (cost of goods sold) dengan nilai penjualan
bersih perusahaan (Abdullah,2005:54). Rasio ini memberitahu kita laba dari
perusahaan yang berhubungan dengan penjualan, setelah kita mengurangi biaya
untuk memproduksi barang yang dijual. Rasio tersebut merupakan pengukur
efisiensi opersi perusahaan, serta merupakan indikasi dari cara produk ditetapkan
harganya. Dengan kata lain rasio ini menunjukkan laba bruto per rupiah dari
penjualan yang dilakukan. gross profit margin sebesar 3 berarti bahwa setiap Rp1
penjualan menghasilkan keuntungan bruto sebesar Rp 3.
2. Net Profit Margin
Net profit margin merupakan rasio perbandingan antara laba bersih setelah
pajak dengan penjualan (Warsosno,2003:37). Besarnya perhitungan margin laba
bersih menunjukkan seberapa besar laba setelah pajak yang diperoleh perusahaan
untuk tingkat penjualan tertentu.
Rasio ini menunjukkan keuntungan bersih per rupiah penjualan. net profit
margin 3 % berarti bahwa setiap Rp 1 penjualan menghasilkan keuntungan bersih
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
sebesar
Rp 0,03. Semakin besar rasio ini semakin baik karena dianggap
kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi.
Net Pr ofit M arg in =
Net Pr ofit After Tax
Net Sales
3. Operating Ratio
Operating ratio menunjukkan berapa biaya yang dikorbankan dalam
penjualan atau berapa persentase baiya yang dikeluarkan dalam penjualan.
Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan sehingga rasio yang
tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik karena berarti bahwa setiap rupiah
penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi, dan yang tersedia untuk laba
kecil. Operating ratio sebesar 90 % berarti bahwa setiap rupiah penjualan
mempunyai biaya operasi Rp 0,9.
Rumus operating ratio adalah sebagai berikut ;
Operating Ratio =
Cost of goods sold
Net Sales
4. ROI ( Return On Invesment )
ROI ( Return On Invesment ) mencerminkan kemampuan manajemen dalam
mengatur aktiva-aktivanya seoptimal mungkin sehingga dicapai laba bersih yang
diinginkan.
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dengan jumlah aktiva yang
digunakan dalam operasi perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Rasio ini
menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan baik modal pinjaman
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
maupun modal sendiri. Semakin kecil/rendah rasio ini semakin tidak baik,
demikian juga sebaliknya.
Rumus dari ROI ( Return On Invesment ) adalah sebagai berikut :
ROI (Re turn on Investment ) =
Net profit after tax
Total Asset
5.ROE ( Return On Equity )
ROE ( Return On Equity ) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dengan menggunakan modal sendiri
dan menghasilkan laba bersih yang tersedia bagi pemilik atau investor. ROE
sangat bergantung pada besar kecilnya perusahaan, misalnya untuk perusahaan
kecil tentu memiliki modal yang relative kecil, sehingga ROE yang dihasilkanpun
kecil , begitu pula sebaliknya untuk perusahaan besar.
ROE ( Return On Equity ) membandingkan laba bersih setelah pajak dengan
ekuitas yang telah diinvestasikan pemegang saham perusahaan (Van Horne dan
Wachowicz, 2005:225). Rasio ini menunjukkan daya untuk menghasilkan laba
atas investasi berdasarkan nilai buku para pemegang saham, dan sering kali
digunakan dalam membandingkan dua atau lebih perusahaan atas peluang
investasi yang baik dan manajemen biaya yang efektif.
Menurut Tandelilin (2002:269),”ROE(Return On OwnersEquity )mereflesikan
seberapa banyak perusahaan telah memperoleh hasil atas dana yang telah
diinvestasikan oleh pemegang saham (baik secara langsung atau dengan laba yang
telah ditahan)”.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
ROE sangat menarik bagi pemegang saham maupun calon pemegang saham ,
dan juga bagi manajemen Karen arsio tersebut merupakan ukuran atau indicator
penting dari shareholders value cration, artinya semakin tinggi rasio ROE ,
semakin tinggi pula nilai perusahaan, hal ini tentunya merupakan daya tarik bagi
investor untuk menanamkan modalnya diperusahaan tersebut.
Brigham, Enrhardt (2005:225), “ROE ( Return On Equity ) mengukur daya
perusahaan untuk menghasilkan laba pada investasi nilai buku pemegang saham”.
Menurut Gibson ( 2001:294),” Return On Equity measures the return to the
common stockholders the residual owner”. Pengembalian laba atas ekuitas yang
terdiri dari saham biasa (Return On Common equity) merupakan alat ukur
terhadap pengembalian laba kepada pemegang saham biasa.
Rasio ini menggambarkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari
modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini semakin baik karena berarti posisi pemilik
perusahaan semakin kuat, demikian juga sebaliknya.
Rumus ROE ( Return On Equity ) adalah sebagai berikut :
ROE (Re turn on Equity ) =
Net income
Average equity
Hasil perhitungan ROE mendekati 1 menunjukkan semakin efektif dan efisien
penggunaan ekuitas perusahaan untuk menghasilkan pendapatan, demikian
sebaliknya jika ROE mendekati 0 berarti perusahaan tidak mampu mengelolah
modal yang tersedia secara efisisen untuk menghasilkan pendapatan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Seperti
rasio
keuangan
tradisional
pada
umumnya
ROE
tidak
mempertimbangkan unsure resiko dan jumlah modal yang diinvestasikan karena
ROE hanya melihat sisi laba dan jumlah saham yang beredar.
6. ROA ( Return On Total Assets )
ROA ( Return On Total Assets ) merupakan rasio antara saldo laba bersih
setelah pajak dengan jumlah asset perusahaan secara keseluruhan.ROA juga
menggambarkan sejauh mana tingkat pengembalian dari seluruh asset yang
dimiliki perusahaan.
Menurut Syahyunan ( 2004:85 ), ROA menunjukkan kemampuan perusahaan
menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan .Besarnya perhitungan
pengembalian atas aktiva menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan
menghasilkan laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa dengan seluruh
aktiva yang dimilikinya.
Menurut Tandelilin (2003:240), “ ROA menggambarkan sejauh mana
kemampuan asset-aset yang dimiliki perusahaan untuk dapat menghasilkan laba,
Rasio ROA diperoleh dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan
jumlah asset perusahaan”
Munawir (2002:269), “ Return On Assets (ROA) merefleksikian seberapa
banyak perusahaan telah memperoleh hasil atas sumber daya keuangan yang
ditanamkan pada perusahaan”.
Gibson (2001:288), “Return On assets measures the firm’s ability to utilize
it’s assets to create profits by comparing profit with the assets that generate the
profits”. Gibson memmaparkan bahwa rasio ROA merupakan rasio yang
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
mengukur kemampuan perusahaan untuk memanfaatkan aktiva yang dimiliki
perusahaan untuk menghasilkan pendapatan dengan membandingkan pendapatan
dengan aktiva yang dipakai perusahaan untuk menghasilkan pendapatan.
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang
diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi
semua investor. Hasil perhitungan rasio ini menunjukkan efektivitas dari
manajemen dalam menghasilkan profit yang berkaitan dengan ketersediaan asset
perusahaan. ROA ( Return On Total Assets ) 20% berarti setiap Rp 1 modal
menghasilkan keuntungan Rp 0,2 untuk semua investor. Nilai ROA yang semakin
mendekati 1 , berarti semakin baik profitabilitas perusahaan karena setiap aktiva
yang ada dapat menghasilkan laba.
Rumus dari ROA ( Return On Total Assets ) adalah :
ROA(Re turn on Assets) =
Net Income
Average total Assets
7.Earning Per Share (EPS)
Dalam lingkaran keuangan alat ukur yang paling sering digunakan adalah
Earning Per Share (EPS).Angka yang ditunjukkan dari EPS inilah yang sering
dipublikasikan mengenai performance perusahaan yang menjual sahamnya
kepada masyarakat luas (go public), karena investor maupun calon investor
berpandangan
bahwa EPS
mengandung
informasi yang
penting untuk
memprediksi mengenai besarnya deviden persaham dikemudian hari dan tingkat
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
pengembalian saham dikemudian hari, serta EPS juga relevan untuk menilai
efektivitas manajemen dan kebijakan pembagian deviden.
Menurut Tandelilin (2001:241), “ Informasi EPS suatu perusahaan
menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua
pemegang saham perusahaan”.
Berdasarkan PSAK No 56 mengharuskan perusahaan untuk menghitung EPS
dilusian, karena saham biasa memiliki efek dilusi artinya perusahaan
mempertimbangkan semua efek berpotensi saham biasa yang beredar dalam suatu
periode, seperti efek utang (debt securites), waran atau opsi saham, kebijakan
kepegawaian, dan saham-saham yang akan diterbitkan saat terpenuhinya kondisikondisi tertentu, seperti kontrak pembelian aktiva atau usaha lainnya.
Dalam PSAK No 56 angka 09, “ Laba per saham dilusian (LPS dilusian)
adalah jumlah laba pada suatu periode yang tersedia untuk setiap saham biasa
yang beredar selama periode pelaporan dan efek lain yang asumsinya diterbitkan
bagi semua efek berpotensi saham biasa yang sifatnya dilutif yang beredar
sepanjang periode pelaporan.
Besarnya EPS dilusi ini dapat diketahui dari informasi laporan keuangan
peruasahaan, meskipun ada beberapa perusahaan yang tidak mencantumkan
besarnya EPS dilusi dapat dihitung dengan rumus :
EPS =
Net income available to common stockholders
Weighted average outs tan ding commonstock
6.Ukuran Perusahaan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Perusahaan yang berukuran lebih besar cenderung memiliki public demand
akan informasi yang lebih tinggi dibanding dengan perusahaan yang berukuran
lebih kecil. Informasi didalam perusahaan besar tidak hanya dituntut oleh
pemegang saham bahkan oleh pemerintah, karena perusahaan besar biasanya
mempunyai laba yang besar dan hal ini dibutuhkan untuk keperluan perpajakan.
Perusahaan besar mempunyai biaya produksi informasi yang lebih rendah yang
berkaitan dengan pengungkapan mereka atau biaya competitive disadvantage
yang lebih rendah pula. Lebih banyak pemegang saham, juga memerlukan lebih
banyak pengungkapan karena tuntutan para pemegang saham dan para analis
pasar modal. Menurut Jin dan Machfoedz (1998:180) besaran perusahaan dapat
diketahui dari rata-rata nilai pasar saham. Ukuran perusahaan yang dinyatakan
dengan market capitalized diharapkan berhubungan positif dengan luasnya tingkat
pengungkapan (Yuniati Gunawan,2001). Market capitalized dapat diukur dengan
rumus berikut :
Log Size = Harga saham per 31 Desember x Jumlah saham yang beredar
(outstanding share)
B. Tinjauan Peneliti Terdahulu
Penelitian mengenai tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan yang
terdaftar di BEJ pernah dilakukan oleh Yuniati Gunawan (2001) dengan objek
penelitian laporan tahunan 1998 dengan instrument indeks disclosure yang dibuat
oleh Botosan (1997) dengan skor antara 0 sampai 75. Penelitian ini menyatakan
bahwa tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan yang terdaftar di BEJ
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
tahun 1998 masih rendah dengan rata-rata skor hanya 29,61. Informasi yang
banyak diungkapkan yaitu informasi data-data keuangan, seperti data penjualabn
atau biaya. Informasi lain, misalnya mengenai gambaran bisnis perusahaan,
produk atau pasar. Sedangkan informasi nonkeuangan yang menyangkut adanya
prediksi kinerja dimasa yang akan datang seperti perkiraan arus kas, pangsa pasar,
dan laba ternyata sangat jarang diungkapkan.
menyatakan bahwa
Penelitian Aryati, dkk (1998)
kesehatan suatu perusahaan yang dicerminkan dengan
tingginya rasio likuiditas (diukur dengan current ratio) berhubungan dengan
luasnya tingkat pengungkapan karena secar financial perusahaan yang kuat akan
lebih mengungkapkan informasi dari pada perusahaan yang lemah. Tetapi
sebaliknya, jika likuiditas dipandang sebagai ukuran kinerja, perusahaan yang
mempunyai rasio likuiditas rendah perlu memberikan informasi yang lebih rinci
untuk menjelaskan lemahnya kinerja dibandingkan perusahaan yang mempunyai
rasio likuiditas yang tinggi.
Wallace (1994) menyatakan suatu perusahaan yang
mempunyai tingkat debt ratio-nya tinggi cenderung untuk memenuhi kebutuhan
informasi untuk krediturnya.
Zarzeki (1996) menyatakan variable size (ukuran perusahaan) berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan.
Suripto (1999) melakukan pengujian terhadap luasnya pengungkapan laporan
tahunan dan membagi perusahaan menjadi perbankan dan non perbankan dengan
dasar
pemikiran
bahwa
terdapat
kemungkinan
perusahaan
perbankan
memberikan pengungkapan sukarela dalam laporan tahunan lebih luas disbanding
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
dengan perusahaan nonperbankan karena tuntutan kebutuhan informasi tidak
hanya dari para investor, tetapi juga dari kalangan masyarakat yang lebih luas,
termasuk didalamnya para nasabah dan calon nasabah dan ternyata tidak terdapat
perbedaan yang signifikan antara luas pengungkapan perusahaan perbankan dan
non perbankan.
Vita anggreni (2007), menyatakan tingkat pengungkapan yang tinggi
membutuhkan cost yang tinggi pula bagi manajemen. Cost yang dimaksut adalah
kerugian yang dialami akibat pengungkapan yang dilakukan, seperti timbulnya
free riding , strategi perusahaan yang ditiru atau dicuri oleh pihak-pihak yang
tidak bertanggung jawab yang tentunya akan merugikan pihak manajemen
perusahaan. Hal ini pula yang mendasari pihak manajemen perusahaan menutupnutupi informasi perusahaan kepada investor.
Penelitian Anny Sidarta (2003) menyatakan pengungkapan yang tinggi akan
dapat meningkatkan bond rating yang pada gilirannya akan memperkecil biaya
hutang ketika perusahaan melakukan pendanaan secara eksternal.
Lie Fony (2007) menyatakan bahwa luasnya pengungkapan mempengaruhi
biaya modal, karena pengungkapan yang lebih luas menaikkan likuiditas pasar
saham, dengan demikian menurunkan biaya-biaya transaksi atau melalui
meningkatnya permintaan ekuitas.
C.Kerangka Konseptual
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Bergantinya peraturan Bapepam mengenai kewajiban penyampaian laporan
tahunan bagi perusahaan publik dari peraturan nomor : kep-38/PM/1996 menjadi
peraturan nomor :kep-134/BL /2006 sedikit banyak membawa perubahan terhadap
tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Oleh karena itulah
penulis ingin membandingkan tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum
dan sesudah perubahan peraturan itu, dan juga mencoba melihat apakah likuiditas,
solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan mempunyai pengaruh terhadap
besarnya tingkat pengungkapan laporan tahunan baik sebelum maupun setelah
perubahan peraturan tersebut.
Perusahaan Publik
Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan
P
E
N
G
U
N
G
K
A
P
A
N
X (independent)
Likuiditas (X1)
H2
H4
H3
Solvabilitas (X2)
H5
P
E
N
G
U
N
G
K
A
P
A
N
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
L Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
L
Setelah Perubahan
USU Repository ©A2009
A
P
O
R
A
N
P
O
R
A
N
H11
H7
H10
H6
Profitabilitas (X3)
H8
H9
Ukuran (Perusahaan X4)
Sebelum
Perubahan
Peraturan
Bapepam
Dibandingkan (H1)
Setelah
Perubahan
Peraturan
Bapepam
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
D.Hipotesis Penelitian
Berdasarkan tinjauan teoritis diatas, maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah :
H1
: Ada perbedaan tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam
H2
: Tingkat likuiditas mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan sebelum perubahan peraturan Bapepam
H3
: Tingkat likuiditas mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam
H4
: Tingkat solvabilitas mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan sebelum perubahan peraturan Bapepam
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
H5
: Tingkat solvabilitas mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam
H6
: Tingkat profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan sebelum perubahan peraturan Bapepam
H7
: Tingkat
profitabilitas
mempunyai
pengaruh
terhadap
tingkat
pengungkapan laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam
H8
: Tingkat ukuran perusahaan mempunyai pengaruh
terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan sebelum perubahan peraturan Bapepam
H9
: Tingkat ukuran perusahaan
mempunyai pengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam
H10
: Likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, ukuran perusahaan secara simultan
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
sebelum perubahan peraturan Bapepam
H11
: Likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, ukuran perusahaan secara simultan
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
setelah perubahan peraturan Bapepam
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
BAB III
METODE PENELITIAN
A.Desain Penelitian
Desain penelitian adalah komparatif kausal, yaitu penelitian yang berusaha
melihat perbandingan dan adanya hubungan sebab akibat antar grup / menyelidiki
akibat yang ditimbulkan oleh variabel bebas kepada variabel terikat (Mudrajad
Kuncoro,2003)
B.Jenis Data
Jenis data yang digunakan adalah kuantitatif, yaitu data yang diukur dalam
suatu skala numerik dan data skunder yaitu data dalam bentuk yang sudah jadi
yang diperoleh baik dari perusahaan, Bapepam maupun Bursa Efek Indonesia.
C.Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang telah menjual
sahamnya kepada masyarakat umum. Teknik pengambilan sample yang
digunakan adalah Stratified Sampling, yaitu teknik penentuan sample dengan
memilih sub sample dari setiap kelompok (Erlina, 2007:80).
Beberapa pertimbangan atau kriteria sebagai sample adalah sebagai berikut :
1. Memperdagangkan sahamnya kepada publik
2. Perusahaan yang sahamnya tetap aktif beroperasi sampai bulan Desember
2007
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
3. Telah mengeluarkan laporan tahunan periode 2006 dan 2007 sampai
tanggal 30 April 2008 (sesuai dengan peraturan Bapepam no : Kep134/BL/2006)
4. Perusahaan tidak pernah mengalami delisting dari Bursa Efek Jakarta
sehingga bisa terus menerus melakukan perdagangan sahamnya di Bursa
Efek Jakarta selama periode pengamatan.
5. Perusahaan tidak menghentikan aktivitasnya dipasar bursa dan tidak
menghentikan operasinya.
6. Pemilihan sample secara random tergantung ketersediaan data yang
diperoleh
D.Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, yaitu dengan
cara mempelajari, mengklasifikasikan, dan menganalisis data skunder berupa
laporan tahunan.
E. Variabel Penelitian
1.Variabel independen (bebas), merupakan variabel yang mempengaruhi variabel
lain (Umar,2003:50). Variabel independen (bebas) yang digunakan dalam
penelitian ini adalah rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, dan
ukuran perusahaan. Variabel independen (bebas) disimbolkan dengan ”X1”
(rasio likuiditas), ”X2” (rasio solvabilitas), ”X3” (rasio profitabilitas), dan ”X4”
(ukuran perusahaan).
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
2.Variabel dependen (terikat), merupakan variabel yang dijelaskan atau yang
dipengaruhi oleh variabel independen (Umar,2003:50). Variabel dependen
(terikat) dalam penelitian ini adalah laporan tahunan perusahaan publik.
F.Defenisi Operasional Penelitian
1.Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menyediakan kas
dan pos lancar lainnya yang sifatnya hampir mendekati kas yang berguna untuk
memenuhi semua kewajiban yang segera akan jatuh tempo. Rasio likuiditas
akan diukur dengan current ratio.
Current Ratio =
Current Asset
Current Liabilities
2.Rasio solvabilitas menunjukkan kualitas kewajiban perusahaan serta berapa
besar perbandingan antara kewajiban tersebut dengan aktiva perusahaan. Rasio
solvabilitas akan diukur dengan debt to total asset.
Debt to total Asset =
Total Liabilities
Owner ' s Equity
3.Rasio profitabilitas mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan dari sejumlah kebijakan dan keputusan manajemen.
Rasio profitabilitas mencerminkan kemampuan menajemen dalam mengatur
4.Ukuran perusahaan menggambarkan besarnya perusahaan. Ukuran perusahaan
diukur dengan kapitalisasi pasar (market capitalized).
Log Size = Stock Price on 31 December x Out Standing Share
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Tabel 3.1
Defenisi Operasional Variabel Penelitian
N Nama Variabel
o
1 Pengungkapan
Subvariabel
Indikator
Skala
Jumlah
Ordinal
setiap
pengungkap
an
yang
dilakukan
dibagi
jumlah
seluruh
pengungkap
an
yang
telah
ditetapkan
2
Likuiditas
Current
Jumlah
Rasio
Current assets
Rasio
aktiva
Currentliabilities
lancar
dibagi
kewajiban
lancar
perusahaan
3
Solvabilitas
Debt to total Total liabilities
Jumlah
Rasio
assets
kewajiban
Owner ' s equity
secara
keseluruhan
dibagi
Lanjutan dari halaman 44
jumlah
modal
4
Profitabilitas
ROA
Laba bersih
Rasio
Net income
Average total assets dibagi total
aktiva ratarata
dari
aktiva tahun
t
dengan
tahun t-1
5
Ukuran
Market
Stockprice on 31 Harga
Rasio
Perusahaan
capitalized Dec x outstanding penutupan
Bersambung ke hal 45
share
saham
pertahun
buku dikali
jumlah
saham
Yes
Yes + No
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
beredar
Sumber : Oleh Penulis, 2008
G.Teknik Analisis Data
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat komparatif kausal maka
teknik analisis data dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan
pengujian hipotesis dan uji beda rata-rata dua sampel.
1. Pengujian Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan anlisis data diperlukan uji asumsi klasik terlebih dahulu
yang bertujuan mendapatkan model penelitian yang valid dan dapat digunakan
estimasi.pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini terdiri dari :
a. Uji normalitas
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi
variabel dependen , variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi data
normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau
mendekati normal. Dengan menggunakan program SPSS versi 13, deteksi adanya
problem normalitas adalah dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu
diagonal dari grafik. (Santoso, 2001).
Dasar pengambilan keputusan :
-
Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
-
Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah
garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Selain dengan melihat dari grafik deteksi adanya problem normalitas dilakukan
dengan uji Kolmogorov-Smirnov satu sampel.
Hipotesis :
Ho = Populasi normal
H1 = Populasi tidak normal
Pengambilan keputusan (berdasarkan Probabilitas) :
-
Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima
-
Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak
Nilai probabilitas (asymp.Sig/asymptotic Significance ) dapat diketahui langsung
dengan menggunakan program spss versi 13.
Untuk menguji normalitas data pada penelitian ini akan digunakan uji
Kolmogorov _ Smirnov dengan tingkat α = 5 % apabila nilai sig > α maka
distribusi adalah normal (Triton, 2006:56). Jika dari uji normalitas data
menghasilkan data yang tidak berdistribusi normal maka data tersebut dapat
diubah menjadi data berdistribusi normal dengan melakukan transformasi
(Ghozali, 2003:32). Transformasi data dapat dilakukan dengan melogaritmakan
data. Jika setelah transformasi data masih menghasilkan distribusi data yang tidak
normal maka akan digunakan uji wilcoxon. Setelah data berdistribusi normal
maka dapat dilakukan model regresi berganda.
b. Uji Moltikolinearitas
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan
adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
terdapat problem multikolinearitas (multikol). Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. (Santosos,2001).
Dengan mengunakan program SPSS versi 13, deteksi adanya problem
multikolinearitas adalah berdasarkan :
1) Besaran VIF ( Variance Inflation Factor) dan Tolerance.
-
Mempunyai nilai VIF disekitar angka 1
-
Mempunyai angka Tolerance mendekati 1
2) Besaran korelasi antar variabel bebas
Koefisien korelasi antar variable bebas haruslah lemah (dibawah 0,5). Jika
korelasi kuat, maka terjadi problem multikolinearitas.
c. Uji Heterokedastisitas
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi terjadi
ketidak samaan varians dan residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Jika varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan yang lain
tetap, maka disebut homoskedastisitas. Dan jika varians berbeda, disebut
heteroskedastisitas.
Model
regresi
yang
baik
adalah
tidak
terjadi
heteroskedastisitas. (Santosos,2001).
Dengan menggunakan program SPSS versi 13, deteksi adanya problem
heteroskedastisitas adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik,
dimana sumbu X adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu Y adalah residual ( Y
prediksi – Y sesungguhnya ) yang telah di studentized .
Dasar pengambilan keputusan :
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
-
Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola
tertentu yang teratur ( bergelombang, melebar kemudian menyempit),
maka telah terjadi heteroskedastisitas
-
Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik menyebar diatas dan dibawah
angka 0 pada sumbu Y , maka tidak terjadi heteroskedastisitas .
d. Uji Autokorelasi
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi linear
ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada peroide t dengan kesalahan pada
periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem
autokorelasi. Tentu saja model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari
autokorelasi. Autokorelasi pada sebagian besar kasus ditemukan pada regresi yang
datanya adalah time series atau berdasarkan waktu berkala, seperti bulanan,
tahunan, dan sebagainya.
Dengan menggunakan program SPSS versi 13, deteksi adanya problem
autokorelasi adalah dengan melihat besaran DURBIN-WATSON, yaitu panduan
mengenai angka D-W (Durbin-Watson) pada tabel D-X. Namun demikian secara
umum dapat disimpulkan sebagai dasar bahwa :
-
Angka D – W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif
-
Angka D – W diantara -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi
-
Angka D – W diatas +2 berarti ada autokorelasi negatif
Autokorelasi bias diatasi dengan berbagai cara, misalnya dengan melakukan
transformasi data dan memambah data observasi. (Santosos, 2001).
2. Pengujian Hipotesis
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
a. Regresi Linear Berganda
Analisis regresi digunakan terutama untuk tujuan peramalan, dimana dalam
model tersebut ada sebuah variabel dependen (tergantung) dan variabel
independen (bebas) ”(Santoso, 2001,p.305). ”Dalam praktek , regresi sering
dibedakan antara regresi sederhana, jika hanya satu variabel independen dan satu
variabel dependen , sedangkan regresi berganda jika ada lebih dari satu variabel
independen dan satu variabel dependen.”(Santoso, 2001,p.306).
Dalam penelitian ini model analisis yang digunakan yaitu dua analisis regresi
linear berganda karena penelitian ini memiliki lebih dari satu variabel dan
merupakan penelian komparatif (perbandingan), yaitu :
Y1 = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + μ
Keterangan :
Y1 = Variabel dependen, dalam hal ini tingkat pengungkapan laporan tahunan
sebelum perubahan peraturan Bapepam
Α = Koefisien penentu yang menyatakan perubahan rata-rata variable dependen
Y untuk setiap perubahan variable independen X sebesar satu atau disebut
konstanta
X1 = Variabel independen pertama yaitu likuiditas
X2 = Variable independen kedua yaitu solvabilitas
X3 = Variabel independen ketiga yaitu profitabilitas
X4 = Variabel independen keempat yaitu ukuran perusahaan
β 1 = Koefisien regresi likuiditas
β 2 = Koefisien regresi solvabilitas
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
β 3 = Koefisien regresi profitabilitas
β 4 = Koefisien regresi ukuran perusahaan
μ
= Tingkat kesalahan pengganggu (variable Pengganggu)
Y2 = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + μ
Keterangan :
Y2 = Variabel dependen, dalam hal ini tingkat pengungkapan laporan tahunan
setelah perubahan peraturan Bapepam
Α = Koefisien penentu yang menyatakan perubahan rata-rata variable dependen
Y untuk setiap perubahan variable independen X sebesar satu atau disebut
konstanta
X1 = Variabel independen pertama yaitu likuiditas
X2 = Variable independen kedua yaitu solvabilitas
X3 = Variabel independen ketiga yaitu profitabilitas
X4 = Variabel independen keempat yaitu ukuran perusahaan
β 1 = Koefisien regresi likuiditas
β 2 = Koefisien regresi solvabilitas
β 3 = Koefisien regresi profitabilitas
β 4 = Koefisien regresi ukuran perusahaan
μ
= Tingkat kesalahan pengganggu (variable Pengganggu)
Untuk mempermudah dan mempercepat pengolahan data akan digunakan
program spss versi 13 untuk mencari nilai a ( intercept) dan βn (koefisien) setiap
variabel bebas. Dengan menggunakan program SPSS versi 13 maka nilai a
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
(intercept) dan βn (koefisien) akan langsung ditampilkan tanpa harus menghitung
secara manual.
Dalam regresi berganda , dapat diketahui proporsi variasi variabel terikat yang
diterangkan oleh semua variabel bebas secara bersama-sama dengan mencari
koefisien determinasi berganda (R2).
Nilai (R2) terletak antara 0 dan 1. Jika (R2) =1 berarti 100 % total variasi
variabel terikat diterangkan oleh persamaan garis regresi. Jika (R2) = 0 berarti
tidak ada variasi variabel terikat yang diterangkan oleh variabel bebas yang ada.
Dengan menggunakan program SPSS versi 13 maka nilai (R2) akan langsung
ditampilkan tanpa harus menghitung secara manual.
Dalam analisis regresi berganda , pengukuran R akan mengetahui tingkat
keeratan hubungan linear antara variabel terikat dengan semua variabel bebas
secar bersama-sama. R selalu memiliki nilai positif . Angka R menunjukkan
bahwa korelasi atau hubungan antara variabel terikat dengan seluruh variabel
bebas adalah kuat atau lemah. Dengan menggunakan program SPSS versi 13
maka nilai R akan langsung ditampilkan tanpa menghitung secara manual.
Defenisis korelasi kuat apabila nilaia R diatas 0,5 sedangkan defenisi korelasi
lemah bila nilai R dibawahy 0,5.
Karena data dapat berubah dari satu sampel ke sampel lain, penduga yang
dihasilkan juga akna berubah, karena itu diperlukan suatu perkiraan ketepatan
pendugaan, yang dalam statistik dikenal sebagai standart error pendugaan.
Dengan menggunakan program SPSS versi 13 maka nilai μ akan membuat
model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel terikat.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
b. Uji Hipotesis
Hipotesis diuji dengan menggunakan t-test dan F- test .
• Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen yaitu rasio
likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap variabel
dependen yaitu tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik baik
sebelum maupun setelah perubahan peraturan Bapepam secara parsial
(individu).
H0 : βi = 0
Artinya suatu variabel independen yang sedang diuji bukan merupakan penjelas
signifikan terhadap variabel dependen
H1 : βi ≠ 0
Artinya variabel independen tersebut merupakan penjelas signifikan terhadap
variabel dependen
Pengambilan keputusan :
-
Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima
-
Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak
Nilai probabilitas ( Sig./Significance) dapat diketahui langsung dengan
menggunakan program SPSS versi 13
• Uji F – test digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen yaitu
likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan terhadap variabel
dependen, yaitu tingkat pengungkapan laporan tahunan secara simultan (secara
bersama-sama).
H0 : β1 = β2
=
β3 = β4 = 0
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Artinya tidak semua variabel independen berpengaruh secara simultan.
H1 : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ β4 ≠ 0
Artinya semua variabel independen berpengaruh secara simultan .
Pengambilan keputusan :
-
Jika probabilitas > 0,05 maka Ho diterima
-
Jika probabilitas < 0,05 maka Ho ditolak
Nilai probabilitas ( Sig./Significance) dapat diketahui langsung dengan
menggunakan program SPSS versi 13
3. Uji beda dua sampel berpasangan
Untuk menguji hipotesis-hipotesis yang telah diungkapkan sebelumnya maka
dilakukan pengujian statistik parametrik, yaitu uji t untuk dua sampel yang
berpasangan. Uji t ini digunakan untuk dua sampel berpasangan yaitu sampel
sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam apakah mempengaruhi tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik secara nyata atau signifikan
berbeda atau tidak.
Hipotesis :
Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan
H1 : Terdapat perbedaan yang signifikan
Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak
Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A . Hasil Penelitian
1 . Gambaran Umum Objek Penelitian
A.Gambaran dan Pengelompokkan sampel
Objek penelitian adalah seluruh perusahaan publik yang terdaftar di Bursa
Efek Jakarta maupun di Bursa Efek Surabaya yang selama tahun 2006 dan 2007
telah mengeluarkan laporan tahunan sampai dengan tanggal 30 April 2008 (sesuai
dengan peraturan Bapepam nomor : kep-134/BL/2006). Pada tanggal
30
November 2007 Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) resmi
berganti nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Setelah dilakukan pemilihan sample secara stratified sampling maka diperoleh
sampel penelitian secara keseluruhan berjumlah 33 perusahaan, yaitu sebagai
berikut :
Tabel 4.1
Daftar Perusahaan Sampel
No
1
2
Sektor
Sektor Pertanian
Stock
UNSP
SMCB
SUGI
UNVR
Nama Emiten
1.
Bakrie
Sumatera
Plantation Tbk
2.
Aneka
tambang
(persero) Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
5. Sugi Sama Persada Tbk
6. Unilever Indonesia Tbk
Sektor pertambangan
ANTM
GMTD
7. Gowa makasar tourism
INCO
3
4
5
6
Sektor indutri dasar
Sektor aneka industri
Sektor
industri
barang
konsumsi
Sektor property dan real estate
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Bersambung ke halaman 57
Lanjutan dari halaman 56
LPCK
TOTL
7
Sektor infrastruktur, utilitas,
dan transportasi
LPPF
9. Total Bangun Perkasa
Tbk
10.
Excel
Comindo
Pratama Tbk
11. Mobile 8
12. Zebra Nusantara Tbk
13. PetroseaTbk
14. Berlian Laju Tanker
Tbk
15.Lippo Karawaci Tbk
16. Bank Lippo
17. Bank Niaga
18. Bank Danamon Tbk
19. Wahana Otomitra
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
20. BFI Finance
21. Adira Dinamika Multi
Finance
22. Reliance Sekuritas Tbk
23. Lipo Sekuritas Tbk
24. Panca Global Sekuritas
Tbk
25.
Lippo
General
insurance Tbk
26. Asia Kapitalindo Tbk
27.
Capital
Link
Investment
28. Pasifik utama Tbk
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
SONA
31. Sona Topas Tourism
Tbk
32. Toko Gunung Agung
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
34. Multipolar Tbk
EXCL
FREN
ZBRA
PTRO
BLTA
8
Sektor Keuangan
LPKR
LPBN
BNGA
BDMN
WOMF
BFIN
ADMF
RELI
LPPS
PEGE
LPGI
AKSI
MTFN
9
Sektor perdagangan jasa dan
investasi
Tbk
8. Lipo Cikarang Tbk
TKGA
TMPO
MLPL
Sumber : Penulis, 2008
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
B. Tingkat Pengungkapan
Pada penelitian ini daftar item-item pengungkapan dibuat dengan referensi
dari Bapepam ( dengan kep no : 38/PM/1996 untuk pengungkapan tahun 2006 dan
kep no : 134/BL/2006 untuk pengungkapan tahun 2007 ) dan ketentuan PSAK
untuk pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan survey pada laporan
tahunan perusahaan-perusahaan sampel serta item-item pengungkapan sukarela
menurut Alan Levinsohn (2001) dan Purnomisidhi (2006) untuk pengungkapan
sukarela (Voluntary disclosure).
Survey dilakukan dengan cara menggunakan metode Control Analysis yaitu
dengan cara membaca laporan tahunan setiap perusahaan sampel dan menvari
informasi yang terkandung didalamnya menurut frame work item-item
pengungkapan sukarela. Adapun item-item pengungkapan sukarela tersebut
berjumlah 15 item, antara lain :
a) Data keuangan dan non-keuangan
1) Informasi mengenai perusahaan melakukan PHK (Pemutusan Hubungan
Kerja) dalam tahun berjalan
2) Rincian mengenai pemasok utama (pembelian bahan baku) dalam pos
beban pokok penjualan
3) Rincian mengenai biaya pabrikasi pada pos beban pokok penjualan
ataupun dibuat dalam pos tersendiri
4) Informasi mengenai lokasi pemasaran hasil produksi
b) Analisis data keuangan dan non-keuangan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
5) Informasi mengenai penjelasan transaksi dan saldo antara perusahaan yang
dieliminasi dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi yang dimuat
dalam pos iktisar kebijakan akuntansi bagian prinsip konsolidasi
6) Penjelasan mengenai dampak kondisi perekonomian pada kondisi
keuangan perusahaan
7) Penjelasan mengenai gejolak politik dan keamanan
8) Penjelasan mengenai peraturan perundang-undangan yang berpengaruh
pada perusahaan
9) Penjelasan mengenai pengadaan bahan baku
10) Penjelasan pangsa pasar
11) Penjelasan mengenai manajemen resiko pada pos kondisi perekonomian (
dalam bentuk uraian mengenai tindakan-tindakan manajemen me-manage
risiko pertukaran mata uang asing, resiko tingkat bunga, dan risisko kredit)
c) Informasi yang berorientasi pada masa depan
12) Rencana manajemen dimasa depan
13) Prospek usaha dimasa depan
d) Dimensi modal intelektual
14) Informasi mengenai adanya usaha untuk meningkatkan kualitas SDM
15) Informasi mengenai adanya usaha untuk meningkatkan teknologi
informasi
Dalam penelitian ini, analisis tingkat pengungkapan dilakukan pada laporan
tahunan periode 2006 dan 2007.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Metode yang digunakan untuk menentukan skor atas tingkat pengungkapan
masing-masing perusahaan sampel dilakukan dnegna menggunakan metode
scoring. Scoring pada penelitian ini hanya memberikan nilai 0 atau 1 pada itemitem pengungkapan yang terdapat pada laporan tahunan setiap perusahaan . Setiap
terdapat item pengungkapan dalam laporan keuangan perusahaan sampel maka
diberikan nilai 1 untuk masing-masing item pengungkapan tersebut dan bila tidak
terdapat item pengungkapan dalam laporan tahunan perusahaan sampel maka
diberikan nilai 0. setelah itu dilakukan perhitungan total poin item-item yang
dihasilkan oleh setiap perusahaan.
Setelah dilakukan perhitungan total point item-item yang dihasilkan oleh
setiap perusahaan maka dihitung besarnya pengungkapan masing-masing
perusahaan dengan rumus :
Indeks Pengungkapan = Yes : (Yes + No) x 100%
Berikut tabel besarnya tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum dan
setelah perubahan peraturan Bapepam.
Tabel 4.2
Besarnya Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Sebelum Perubahan
Peraturan Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
Nama Emiten
Yes
No
UNSP
1.
Bakrie
Sumatera
Plantation Tbk
2. Aneka tambang (persero)
Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
5. Sugi Sama Persada Tbk
131
21
Pengun
gkapan
86,18
130
22
85,52
122
26
82,43
118
103
34
46
77,63
69,12
Pertambangan ANTM
INCO
Indutri dasar
Aneka
industri
SMCB
SUGI
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Bersambung ke halaman 61
Lanjutan dari halaman 60
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL 9. Total Bangun Perkasa
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10. Excel Comindo Pratama
utilitas, dan
Tbk
transportasi
FREN 11. Mobile 8
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
PTRO 13. PetroseaTbk
BLTA 14. Berlian Laju Tanker
Tbk
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
BNGA 17. Bank Niaga
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
WOMF 19.
Wahana
Otomitra
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
ADMF 21. Adira Dinamika Multi
Finance
RELI 22. Reliance Sekuritas Tbk
LPPS 23. Lipo Sekuritas Tbk
PEGE 24. Panca Global Sekuritas
Tbk
LPGI 25.
Lippo
General
insurance Tbk
AKSI 26. Asia Kapitalindo Tbk
MTFN 27. Capital Link Investment
LPPF 28. Pasifik utama Tbk
Perdagangan
jasa
dan
investasi
116
36
76,31
104
48
68,42
110
110
42
40
72,36
73,33
105
48
68,62
125
119
116
130
26
33
36
22
82,78
78,28
76,31
85,52
120
124
121
66
103
32
25
29
92
50
78,94
83,22
80,66
41,77
67,32
107
116
48
35
69,03
76,82
108
108
96
41
42
51
72,48
72,00
65,30
101
49
66,01
96
101
107
59
46
45
61,93
78,70
70,39
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
112
130
39
22
74,17
85,52
SONA
31. Sona Topas Tourism
Tbk
32. Toko Gunung Agung
Tbk
110
42
72,36
111
39
74,00
TKGA
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Lanjutan dari halaman 61
TMPO
MLPL
33. Tempo Inti Media Tbk
34. Multipolar Tbk
103
50
67,32
124
28
81,57
3803 1344
73,88
Bersambung ke halaman 62
Total
Sumber : Penulis ,2008
Tabel 4.3
Besarnya Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam
Sektor
Stock
Nama Emiten
Ya
Tidak
UNSP
1.
Bakrie
Sumatera
Plantation Tbk
2.
Aneka
tambang
(persero) Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
5. Sugi Sama Persada Tbk
163
25
Pengun
gkapan
86,70
167
19
89,78
168
19
89,83
139
132
43
46
76,37
74,15
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL 9. Total Bangun Perkasa
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10.
Excel
Comindo
utilitas, dan
Pratama Tbk
transportasi
FREN 11. Mobile 8
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
PTRO 13. PetroseaTbk
BLTA 14. Berlian Laju Tanker
Tbk
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
BNGA 17. Bank Niaga
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
WOMF 19. Wahana Otomitra
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
156
29
84,32
137
44
75,69
137
145
42
40
76,53
78,37
145
41
77,95
159
122
131
160
28
62
47
24
85,02
66,30
73,59
86,96
164
163
167
142
114
23
22
21
50
73
87,70
88,10
88,82
73,95
60,96
Pertanian
Pertambangan ANTM
INCO
Indutri dasar
Aneka
industri
SMCB
SUGI
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Lanjutan dari halaman 62
BFIN
ADMF
LPPF
20. BFI Finance
141
32
81,50
21. Adira Dinamika Multi 159
29
84,57
Finance
Dilanjutkan ke halaman 63
22. Reliance Sekuritas Tbk 136
37
78,61
23. Lipo Sekuritas Tbk
135
40
77,14
24. Panca Global Sekuritas 130
44
74,71
Tbk
25.
Lippo
General 141
41
77,47
insurance Tbk
26. Asia Kapitalindo Tbk
134
61
68,71
27.
Capital
Link 124
48
72,09
Investment
28. Pasifik utama Tbk
133
45
74,72
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
120
141
32
38
78,94
78,77
SONA
31. Sona Topas Tourism
Tbk
32. Toko Gunung Agung
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
34. Multipolar Tbk
135
41
76,70
135
42
76,27
131
153
4859
48
28
1304
73,18
84,53
78,84
RELI
LPPS
PEGE
LPGI
AKSI
MTFN
Perdagangan
jasa
dan
investasi
TKGA
TMPO
MLPL
Total
Sumber : Penulis, 2008
C.Likuiditas
Dalam penelitian ini , likuiditas didapat dari rumus Current ratio.Data-data
dalam penelitian ini didapat dari Iktisar data keuangan penting yang terdapat
didalam laporan tahunan masing-masing perusahaan sampel baik sebelum
maupun setelah perubahan peraturan Bapepam. Pada beberapa perusahaan sampel
didalam iktisar data keuangan penting sudah tercantum besarnya rasio lancar
(current ratio) perusahaan sehingga tidak diperlukan lagi menghitungnya, tetapi
pada sebagian besar perusahaan sampel tidak dicantumkan secara langsung
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
besarnya rasio lancar (current ratio) sehingga perlu dicari berapa besarnya.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk menghitung besarnya current
ratio setiap perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Menentukan besarnya current assets setiap perusahaan baik tahun
2006(sebelum) maupun tahun 2007(setelah).
2. Menentukan besarnya current liabilities setiap perusahaan baik tahun
2006(sebelum) maupun tahun 2007(setelah).
3. Setelah diketahui besarnya masing-masing data per tahun maka
dimasukkan kedalam rumus berikut ini :
Current Ratio =
Current Asset
Current Liabilities
Hasil perhitungan Current Ratio yang selanjutnya akan dipandang sebagai
likuiditas baik sebelum maupun setelah perubahan peratyuran Bapepam
ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 4.4
Likuiditas Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
Nama Emiten
UNSP
1.
Bakrie
Plantation Tbk
2.
Aneka
tambang
(persero) Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
5. Sugi Sama Persada Tbk
Pertambangan ANTM
INCO
Indutri dasar
Aneka
industri
SMCB
SUGI
Pengung Likuidit
kapan
as
Sumatera
86,18
2,08
85,52
2,8
82,43
4,60
77,63
69,12
1,23
3,025
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Industri
UNVR 646. Unilever Indonesia Tbk
76,31
1,26
Lanjutan dari halaman
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
68,42
1,43
real estate
Tbk
Dilanjutkan ke halaman 65
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
72,36
1,62
TOTL 9. Total Bangun Perkasa
73,33
1,58
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10.
Excel
Comindo
68,62
0,51
utilitas, dan
Pratama Tbk
transportasi
FREN 11. Mobile 8
82,78
2,14
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
78,28
0,39
PTRO 13. PetroseaTbk
76,31
2,27
BLTA 14. Berlian Laju Tanker
85,52
1,5
Tbk
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
78,94
1,62
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
83,22
3,24
BNGA 17. Bank Niaga
80,66
1,31
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
41,77
1,70
WOMF 19. Wahana Otomitra
67,32
1,14
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
69,03
1,35
ADMF 21. Adira Dinamika Multi
76,82
1,58
Finance
RELI 22. Reliance Sekuritas
72,48
1,97
Tbk
LPPS 23. Lipo Sekuritas Tbk
72,00
0,29
PEGE 24.
Panca
Global
65,30
1,86
Sekuritas Tbk
LPGI 25.
Lippo
General
66,01
4,48
insurance Tbk
AKSI 26. Asia Kapitalindo Tbk
61,93
4,60
MTFN 27.
Capital
Link
78,70
1,35
Investment
LPPF 28. Pasifik utama Tbk
70,39
0,591
Perdagangan
jasa
dan
investasi
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
74,17
85,52
1,90
1,35
SONA
31. Sona Topas Tourism
Tbk
32. Toko Gunung Agung
72,36
1,25
74,00
0,47
TKGA
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
TMPO
MLPL
Sumber : Penulis, 2008
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
34. Multipolar Tbk
67,32
81,57
0,45
1,36
Dilanjutkan ke halaman 66
Tabel 4.5
Likuiditas Perusahaan Sampel Setelah Perubahan Peraturan Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
Nama Emiten
UNSP
1.
Bakrie
Plantation Tbk
2.
Aneka
tambang
(persero) Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
5. Sugi Sama Persada Tbk
Pertambangan ANTM
INCO
Indutri dasar
Aneka
industri
SMCB
SUGI
Pengung Likuidit
kapan
as
Sumatera
86,70
3,54
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL 9. Total Bangun Perkasa
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10.
Excel
Comindo
utilitas, dan
Pratama Tbk
transportasi
FREN 11. Mobile 8
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
PTRO 13. PetroseaTbk
BLTA 14. Berlian Laju Tanker
Tbk
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
BNGA 17. Bank Niaga
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
WOMF 19. Wahana Otomitra
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
ADMF 21. Adira Dinamika Multi
89,78
4,47
89,83
2,53
76,37
74,15
1,33
2,93
84,32
1,11
75,69
1,45
76,53
78,37
1,55
1,38
77,95
0,23
85,02
66,30
73,59
86,96
4,26
0,36
1,71
0,70
87,70
88,10
88,82
73,95
60,96
1,75
3,3
1,26
1,47
1,07
81,50
84,57
2,09
1,45
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Lanjutan dari halaman 66Finance
RELI 22. Reliance Sekuritas
78,61
1,50
Tbk
LPPS 23. Lipo Sekuritas Tbk
77,14
0,53
PEGE 24.
Panca
Global
74,71
1,26
Sekuritas Tbk
Dilanjutkan ke halaman 66
LPGI 25.
Lippo
General
77,47
5,48
insurance Tbk
AKSI 26. Asia Kapitalindo Tbk
68,71
1,14
MTFN 27.
Capital
Link
72,09
1,15
Investment
LPPF 28. Pasifik utama Tbk
74,72
0,459
Perdagangan
jasa
dan
investasi
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
78,94
78,77
1,68
1,30
SONA
31. Sona Topas Tourism
Tbk
32. Toko Gunung Agung
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
34. Multipolar Tbk
76,70
1,16
76,27
0,591
73,18
84,53
0,47
2,16
TKGA
TMPO
MLPL
Sumber : Penulis , 2008
D.Solvabilitas
Solvabilitas didapat dari rumus debt to total asset dari masing-masing tahun
pengamatan.Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menghitung solvabilitas
adalah sebagai berikut :
1. Menentukan besarnya total liabilities masing-masing perusahaan sampel
pertahun pengamatan
2. Menetukan besarnya total asset masing-masing perusahaan sampel
pertahun pengamatan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
3. Setelah data-data diatas didapat maka dimasukkan kedalam rumus berikut
ini :
Debt to total Asset =
Total Liabilities
Owner ' s Equity
Pada beberapa perusahaan yang menjadi sampel langkah-langkah ini tidak
diperlukan karena didalam iktisar data keuangan penting yang terdapat dalam
laporan tahunan sudah terdapat debt to total assets .
Hasil perhitungan debt to total assets
yang selanjutnya akan dipandang
sebagai solvabilitas baik sebelum maupun setelah perubahan peraturan Bapepam
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.6
Solvabilitas Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan Peraturan
Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
Nama Emiten
UNSP
1.
Bakrie
Plantation Tbk
2. Aneka tambang (persero)
Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
5. Sugi Sama Persada Tbk
Pertambangan ANTM
INCO
Indutri dasar
Aneka
industri
SMCB
SUGI
Pengungk
apan
Sumatera
86,18
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL 9.
Total Bangun Perkasa
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10. Excel Comindo Pratama
Solvabilit
as
0,61
85,52
0,61
82,43
0,21
77,63
69,12
0,57
0,24
76,31
0,48
68,42
0,1
72,36
73,33
0,28
0,56
68,62
0,004
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
utilitas, dan
Tbk
transportasi
Lanjutan dari halaman 68
FREN 11. Mobile 8
82,78
0,47
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
78,28
0,50
PTRO 13. PetroseaTbk
76,31
0,37
BLTA 14. Berlian Laju Tanker Tbk
85,52
0,52
Dilanjutkan ke
halaman 69 0,3
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
78,94
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
83,22
1,00
BNGA 17. Bank Niaga
80,66
0,89
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
41,77
0,029
WOMF 19.
Wahana
Otomitra
67,32
0,90
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
69,03
0,26
ADMF 21. Adira Dinamika Multi
76,82
0,47
Finance
RELI 22. Reliance Sekuritas Tbk
72,48
0,50
LPPS 23. Lipo Sekuritas Tbk
72,00
0,6
PEGE 24. Panca Global Sekuritas
65,30
0,53
Tbk
LPGI 25. Lippo General insurance
66,01
0,22
Tbk
AKSI 26. Asia Kapitalindo Tbk
61,93
0,191
MTFN 27. Capital Link Investment
78,70
0,47
LPPF 28. Pasifik utama Tbk
70,39
0,581
Perdagangan
jasa
dan
investasi
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
74,17
85,52
0,5251
0,74
SONA
TKGA
31. Sona Topas Tourism Tbk
32. Toko Gunung Agung
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
34. Multipolar Tbk
72,36
74,00
0,69
0,98
67,32
81,57
0,98
0,66
TMPO
MLPL
Sumber : Penulis, 2008
Tabel 4.7
Solvabilitas Perusahaan Sampel Setelah Perubahan Peraturan
Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
UNSP
Nama Emiten
1.
Bakrie
Pengungk
apan
Sumatera
86,70
Solvabilit
as
0,64
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Lanjutan halaman 69
Pertambangan ANTM
INCO
Indutri dasar
Aneka
industri
SMCB
SUGI
Plantation Tbk
2. Aneka tambang (persero)
89,78
0,27
Tbk
3. Internasional Nickel Ind
89,83
0,27
Tbk
4. Holcim
76,37
0,54
ke
halaman 700,25
5. Sugi Sama PersadaDilanjutkan
Tbk
74,15
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL 9.
Total Bangun Perkasa
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10. Excel Comindo Pratama
utilitas, dan
Tbk
transportasi
FREN 11. Mobile 8
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
PTRO 13. PetroseaTbk
BLTA 14. Berlian Laju Tanker Tbk
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
BNGA 17. Bank Niaga
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
WOMF 19.
Wahana
Otomitra
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
ADMF 21. Adira Dinamika Multi
Finance
RELI 22. Reliance Sekuritas Tbk
LPPS 23. Lipo Sekuritas Tbk
PEGE 24. Panca Global Sekuritas
Tbk
LPGI 25. Lippo General insurance
Tbk
AKSI 26. Asia Kapitalindo Tbk
MTFN 27. Capital Link Investment
LPPF 28. Pasifik utama Tbk
ASBI
29. Asuransi Bintang Tbk
84,32
0,49
75,69
0,1
76,53
78,37
0,04
0,65
77,95
0,05
85,02
66,30
73,59
86,96
87,70
88,10
88,82
73,95
60,96
0,59
0,44
0,48
0,76
0,3
0,89
0,90
0,023
0,90
81,50
84,57
0,52
0,41
78,61
77,14
74,71
0,66
0,41
0,78
77,47
0,18
68,71
72,09
74,72
0,819
0,41
0,339
78,94
0,5951
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Perdagangan
TGKA 30. Tiga Raksa Satria Tbk
78,77
0,77
jasa
dan
Lanjutan dari halaman 70
investasi
SONA 31. Sona Topas Tourism Tbk
76,70
0,69
TKGA 32. Toko Gunung Agung
76,27
0,91
Tbk
Dilanjutkan73,18
ke halaman 71
TMPO 33. Tempo Inti Media Tbk
1,09
MLPL 34. Multipolar Tbk
84,53
0,65
Sumber : Penulis,2008
E.Profitabilitas
Profitabilitas dalam penelitian ini diwakilkan oleh ROA (Return On
Assets).Dalam penelitian ini setiap perusahaan sampel telah menetapkan besarnya
ROA masing-masing perusahaan didalam iktisar data keuangan penting yang
terdapat dalam laporan tahunan emiten baik tahun 2006 maupun 2007, sehingga
dalam mendapatkan rasio profitabilitas tidak diperlukan lagi perhitungan, hanya
pada beberapa perusahaan membuat dalam bentuk persentase dan beberapa
lainnya tidak sehingga untuk memudahkan pengujian selanjutnya penulis
membuat seluruh rasio profitabilitas tidak dalam bentuk persentase melainkan
rasio. Berikut tabel rasio profitabilitas perusahaan sampel baik sebelum maupun
setelah perubahan peraturan Bapepam.
Tabel 4.8
Profitabilitas Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan Peraturan
Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
Nama Emiten
UNSP
1.
Bakrie
Sumatera
Plantation Tbk
2.
Aneka
tambang
(persero) Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Pertambangan ANTM
INCO
Pengun
gkapan
86,18
Profitabilitas
85,52
0,17
82,43
0,3869
0,18
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Tbk
Indutri dasar
SMCB 4. Holcim
Lanjutan dari halaman 71
Aneka
SUGI 5. Sugi Sama Persada Tbk
industri
77,63
69,12
0,06
0,01
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
76,31
0,52
barang
Dilanjutkan kehalaman 72
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism 68,42
0,04
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
72,36
0,06
TOTL 9. Total Bangun Perkasa
73,33
0,11
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10.
Excel
Comindo
68,62
0,06
utilitas, dan
Pratama Tbk
transportasi
FREN 11. Mobile 8
82,78
0,13
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
78,28
0,05
PTRO 13. PetroseaTbk
76,31
0,0537
BLTA 14. Berlian Laju Tanker
85,52
0,01
Tbk
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
78,94
0,04
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
83,22
0,02
BNGA 17. Bank Niaga
80,66
0,02
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
41,77
0,018
WOMF 19. Wahana Otomitra
67,32
0,019
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
69,03
0,10
ADMF 21. Adira Dinamika Multi 76,82
0,16
Finance
RELI 22. Reliance Sekuritas Tbk
72,48
0,10
LPPS 23. Lipo Sekuritas Tbk
72,00
0,07
PEGE 24. Panca Global Sekuritas
65,30
0,053
Tbk
LPGI 25.
Lippo
General 66,01
0,00
insurance Tbk
AKSI 26. Asia Kapitalindo Tbk
61,93
(0,02)
MTFN 27.
Capital
Link
78,70
0,27
Investment
LPPF 28. Pasifik utama Tbk
70,39
(0,046)
Perdagangan
jasa
dan
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
74,17
85,52
0,0071
0,025
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
investasi
SONA
31. Sona Topas Tourism
Tbk
Lanjutan dari halaman
TKGA 7232. Toko Gunung Agung
Tbk
TMPO 33. Tempo Inti Media Tbk
MLPL 34. Multipolar Tbk
72,36
0,019
74,00
(0,079)
67,32
(0,05)
81,57
0,006
Dilanjutkan kehalaman 73
Sumber : Penulis ,2008
Tabel 4.9
Solvabilitas Perusahaan Sampel Setelah Perubahan Peraturan
Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
Nama Emiten
UNSP
1.
Bakrie
Plantation Tbk
2.
Aneka
tambang
(persero) Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
5. Sugi Sama Persada Tbk
Pertambangan ANTM
INCO
Indutri dasar
Aneka
industri
SMCB
SUGI
Pengungka
pan
Sumatera
86,70
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL 9. Total Bangun Perkasa
Tbk
Infrastruktur,
EXCL 10.
Excel
Comindo
utilitas, dan
Pratama Tbk
transportasi
FREN 11. Mobile 8
ZBRA 12. Zebra Nusantara Tbk
PTRO 13. PetroseaTbk
BLTA 14. Berlian Laju Tanker
Tbk
LPKR 15.Lippo Karawaci Tbk
Keuangan
LPBN 16. Bank Lippo
Profitabilit
as
0,16
89,78
0,64
89,83
0,93
76,37
74,15
0,12
0,12
84,32
0,52
75,69
0,04
76,53
78,37
0,86
0,03
77,95
0,02
85,02
66,30
73,59
86,96
0,018
0,12
0,0477
0,032
87,70
88,10
0,03
0,029
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
BNGA 17. Bank Niaga
88,82
0,020
BDMN
18.
Bank
Danamon
Tbk
73,95
0,024
Lanjutan dari halaman 73
WOMF 19. Wahana Otomitra
60,96
0,05
Multiartha
(WOM
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
81,50
0,09
ADMF 21. Adira Dinamika Multi
84,57
0,17
Dilanjutkan ke halaman 74
Finance
RELI 22. Reliance Sekuritas Tbk
78,61
0,076
LPPS 23. Lipo Sekuritas Tbk
77,14
0,31
PEGE 24. Panca Global Sekuritas
74,71
0,041
Tbk
LPGI 25.
Lippo
General
77,47
0,02
insurance Tbk
AKSI 26. Asia Kapitalindo Tbk
68,71
0,029
MTFN 27.
Capital
Link
72,09
(0,05)
Investment
LPPF 28. Pasifik utama Tbk
74,72
0,30
Perdagangan
jasa
dan
investasi
ASBI
TGKA
29. Asuransi Bintang Tbk
30. Tiga Raksa Satria Tbk
78,94
78,77
(0,067)
0,035
SONA
31. Sona Topas Tourism
Tbk
32. Toko Gunung Agung
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
34. Multipolar Tbk
76,70
0,033
76,27
0,27
73,18
84,53
0,02
0,006
TKGA
TMPO
MLPL
Sumber : Penulis,2008
F. Ukuran Perusahaan
Dalam penelitian ini, nilai pasar ekuitas ditentukan dengan cara mengalikan
jumlah saham yang beredar dengan harga pasar saham closing price pada tanggal
31 Desember pada tahun laporan keuangan dibuat. Hasil perhitungan nilai pasar
ekuitas tiap tahunnya baik sebelum maupun setelah perubahan peraturan Bapepam
dapat dilihat pada tabel berikut.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Tabel 4.10
Ukuran Perusahaan Perusahaan Sampel Sebelum Perubahan
Peraturan Bapepam
Sektor
Pertanian
Stock
Nama Emiten
UNSP
Indutri dasar
SMCB
1.
Bakrie
Sumatera
Plantation Tbk
2. Aneka tambang (persero)
Tbk
3. Internasional Nickel Ind
Tbk
4. Holcim
Aneka
industri
SUGI
5. Sugi Sama Persada Tbk
Pertambangan ANTM
INCO
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL
Infrastruktur,
utilitas, dan
transportasi
Keuangan
Pengungka
pan
86,18
85,52
82,43
77,63
69,12
76,31
5035800000
0000
68,42
5076900000
0
1983600000
00
1787500000
000
4108275000
0
72,36
9.
Total Bangun Perkasa
Tbk
10. Excel Comindo Pratama
Tbk
73,33
FREN
11. Mobile 8
82,78
ZBRA
12. Zebra Nusantara Tbk
78,28
PTRO
BLTA
13. PetroseaTbk
14. Berlian Laju Tanker Tbk
76,31
85,52
LPKR
15.Lippo Karawaci Tbk
78,94
LPBN
16. Bank Lippo
83,22
EXCL
Ukuran
Perusahaan
2241670000
000
4000000000
0
5886187000
000
5287401000
000
5076900000
0
68,62
6267200000
000
3933997200
0
421050000
2483731250
00
1061839000
00
1700000000
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
BNGA 17. Bank Niaga
Lanjutan dari halaman 75
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
WOMF 19.
Wahana
Multiartha
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
ADMF
41,77
67,32
000
1109893400
0000
3338550000
0000
1160000000
000
Dilanjutkan
kehalaman
76
69,03
9880000000
00
76,82
2692350000
RELI
21. Adira Dinamika Multi
Finance
22. Reliance Sekuritas Tbk
LPPS
23. Lipo Sekuritas Tbk
72,00
PEGE
65,30
AKSI
24. Panca Global Sekuritas
Tbk
25. Lippo General insurance
Tbk
26. Asia Kapitalindo Tbk
MTFN
27. Capital Link Investment
78,70
LPPF
28. Pasifik utama Tbk
70,39
ASBI
29. Asuransi Bintang Tbk
74,17
TGKA
30. Tiga Raksa Satria Tbk
85,52
SONA
31. Sona Topas Tourism Tbk
72,36
TKGA
74,00
TMPO
32. Toko Gunung Agung
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
MLPL
34. Multipolar Tbk
81,57
LPGI
Perdagangan
jasa
dan
investasi
Otomitra
(WOM
80,66
72,48
66,01
61,93
67,32
2250000000
00
6100875000
0
8525000000
0
5100000000
0
7560000000
0
4882580000
00
9722320000
8709500000
0
3525855750
00
8280000000
0
1300000000
0
7250000000
0
4802050724
00
Sumber : Penulis ,2008
Tabel 4.11
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Ukuran Perusahaan Perusahaan Sampel Setelah Perubahan
Peraturan Bapepam
Sektor
Stock
Nama Emiten
Pengun
Ukuran
gkapan Perusahaan
Lanjutan dari halaman 76
Pertanian
UNSP 1.
Bakrie
Sumatera
86,70
9590650000
Plantation Tbk
00
Pertambangan ANTM 2. Aneka tambang (persero)
89,78
2247345000
Tbk
000
Dilanjutkan ke halaman 77
INCO 3. Internasional Nickel Ind
89,83
2111874100
Tbk
0000
Indutri dasar
SMCB 4. Holcim
76,37
1176255100
0000
Aneka
SUGI 5. Sugi Sama Persada Tbk
74,15
6068062510
industri
00000
Industri
UNVR 6. Unilever Indonesia Tbk
barang
konsumsi
Property dan GMTD 7. Gowa makasar tourism
real estate
Tbk
LPCK 8. Lipo Cikarang Tbk
TOTL
Infrastruktur,
utilitas, dan
transportasi
Keuangan
84,32
5150250000
0000
75,69
5076900000
0
4454400000
00
1518775000
0
2253735000
0
76,53
9.
Total Bangun Perkasa
Tbk
10. Excel Comindo Pratama
Tbk
78,37
FREN
11. Mobile 8
85,02
ZBRA
12. Zebra Nusantara Tbk
66,30
PTRO
BLTA
LPKR
13. PetroseaTbk
14. Berlian Laju Tanker Tbk
15.Lippo Karawaci Tbk
73,59
86,96
87,70
LPBN
BNGA
16. Bank Lippo
17. Bank Niaga
88,10
88,82
BDMN 18. Bank Danamon Tbk
73,95
WOMF 19.
Wahana
Multiartha
Finance) Tbk
BFIN 20. BFI Finance
60,96
EXCL
Otomitra
(WOM
77,95
81,50
5274360000
000
4261830300
0
376070000
238180187
2263783850
00
1700000000
1109034300
0000
4026400000
0
7400000000
00
9804000000
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
ADMF
21. Adira Dinamika Multi
Finance
22. Reliance Sekuritas Tbk
84,57
76,70
TMPO
31. Sona Topas Tourism
Tbk
32. Toko Gunung Agung
Tbk
33. Tempo Inti Media Tbk
MLPL
34. Multipolar Tbk
84,53
RELI
Lanjutan halaman
77
LPPS
PEGE
LPGI
AKSI
MTFN
LPPF
ASBI
Perdagangan
jasa
dan
investasi
TGKA
SONA
TKGA
00
2780800000
78,61
3330000000
00
23. Lipo Sekuritas Tbk
77,14
2795310000
00
24. Panca Global Sekuritas
74,71
1129260960
Tbk
00
Dilanjutkan kehalaman
78
25. Lippo General insurance
77,47
8100000000
Tbk
0
26. Asia Kapitalindo Tbk
68,71
7500000000
0
27. Capital Link Investment
72,09
5465590000
00
28. Pasifik utama Tbk
74,72
2126757500
0
29. Asuransi Bintang Tbk
78,94
5486985000
0
30. Tiga Raksa Satria Tbk
78,77
3214725500
00
76,27
73,18
8280000000
0
1300000000
0
7250000000
0
7327971720
00
Sumber: Penulis,2008
2.Deskripsi Data Secara statistik.
Statistik deskriptif ini memberikan gambaran mengenai nilai minimum, nilai
maximum, serta standart deviasi yang merupakan proses transformasi data
penelitian dalam bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami.
Tabel 4.12
Descriptive Statistics Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam (2006)
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
N Minimum Maximum
lnpc
33
4.13
4.46
lnlk
33
-1.24
1.53
Lanjutan
dari
halaman
78
lnsv
33
-5.52
.00
lnpr
28
-5.12
3.33
lnup
33
18.48
31.55
Unstandardized
28
-.16481
.11483
Residual
Valid N
28
(listwise)
Mean
4.3158
.3666
-.8986
-2.8520
25.8390
Std. Deviation
.08970
.69179
.98586
1.66499
2.98145
.0000000
.07336889
Dilanjutkan ke halaman 78
Sumber : data diolah penulis ,2008
Keterangan :
Pc
: Luas Pengungkapan
Lk
: Likuiditas
Sv
: Solvabilitas
Pr
: Profotabilitas
Up
: Ukuran Perusahaan
Berikut perincian data yang telah diolah :
•
Dari 34 sampel yang telah ditentukan hanya 33 sampel yang lolos untuk
variabel pengungkapan. Variabel pengungkapan memiliki nilai minimun 4,13
dan nilai maksimum 4,46 dengan rata-rata pengungkapan 4,3158 dan standart
deviasi sebesar 0,08970.
•
Variabel likuiditas memiliki nilai minimum sebesar -1,24 dan nilai maksimum
1,53 dengan nilai rata-rata likuiditas sebesar 0,3666 dengan standart deviasi
0,69179 dengan jumlah sampel sebanyak 33
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
•
Variabel solvabilitas memiliki nilai minimum -5,52 dan nilai maksimum 0,00
dengan standart deviasi 0,98586 dan nilai rata-rata -0,8986 dengan jumlah
sampel yang lolos ada sebanyak 33
•
Variabel profitabilitas memiliki nilai minimum -5,12 dan nilai maksimum
3,33 dengan standart deviasi 1,66499 dan nilai rata-rata -2,8520 dengan
jumlah sampel yang lolos ada sebanyak 28
•
Variabel ukuran perusahaan (Log size) memiliki nilai minimum sebesar 18,48
dan nilai maksimum sebesar 31,55 dengan standart deviasi sebesar 2,98145
dan nilai rata-rata 25,8390 dengan jumlah sampel yang lolos ada sebanyak 33
Dengan demikian dapat disimpulkan selama periode pengamatan beberapa
perusahaan sampel memiliki likuiditas, solvabilitas, bahkan profitabilitas yang
kurang baik , hal ini tampak dari nilai minimum bahkan nilai rata-rata masingmasing variabel yang bernilai negatif . Bahkan untuk variabel likuiditas sekalipun
walaupun nilai rata-ratanya tidak bernilai negatif belum dapat dikatakan baik, hal
ini dikarenakan transformasi data kedalam bentuk logaritma natural sehingga
untuk setiap nilai negatif secara tidak langsung dihilangkan karena tidak dapat
dilogaritmakan.
Tabel 4.13
Descriptive Statistics Setelah Perubahan Peraturan Bapepam (2007)
PC
LK
SV
PR
UP
Unstan
Minimu
m
Maximum
Mean
61.0
89.8
78.775
.23
5.48
1.7300
.01
1.09
.4931
-.05
.93
.1716
7500000 60680625 2223357123
34
0
1000000
7882.36
34
12.12703
.0000000
N
34
34
34
34
Std. Deviation
6.5785
1.23443
.29051
.25148
103926287222719.700
5.59306205
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
dardize
15.4544
d
3
Lanjutan
dari halaman 80
Residu
al
Valid
N
34
(listwis
e)
Dilanjutkan ke halaman 81
Sumber : data diolah penulis ,2008
Keterangan :
Pc
: Luas Pengungkapan
Lk
: Likuiditas
Sv
: Solvabilitas
Pr
: Profotabilitas
Up
: Ukuran Perusahaan
Berikut perinciaan data yang telah diolah :
•
Variabel pengungkapan memiliki nilai minimum 61,0 dan nilai maksimum
89.8 dengan standart deviasi 6,5785 dan nilai rata-rata 78,775 dengan jumlah
sampel yang lolos ada sebanyak 34
•
Variabel likuiditas memiliki nilai minimum 0,23 dan nilai maksimum 5,48
dengan standart deviasi 1,23443 dan nilai rata-rata 1,7300 dengan jumlah
sampel yang lolos ada sebanyak 34
•
Variabel solvabilitas memiliki nilai minimum 0,01 dan nilai maksimum 1,09
dengan standart deviasi 0,29051 dan nilai rata-rata 0,4931 dengan jumlah
sampel yang lolos ada sebanyak 34
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
•
Variabel provitabilitas memiliki nilai minimum -0,5 dan nilai maksimum 0,93
dengan standart deviasi 0,25148 dan nilai rata-rata 0,1719 dengan jumlah
sampel yang lolos ada sebanyak 34
•
Variabel ukuran perusahaan memiliki nilai minimum 75000000 dan nilai
maksimum 606806251000000 dengan standart deviasi 103926287222719.700
dan nilai rata-rata 22233571237882.36 dengan jumlah sampel yang lolos ada
sebanyak 34
B.Analisis Hasil Penelitian
1.Analisis Hasil
A.Pengujian Asumsi Klasik
Salah satu syarat yang mendasari penggunaan model regresi berganda dengan
menggunakan metode estimasi Ordinary Least Squares(OLS) adalah dipenuhinya
semua asumsi klasik agar hasil pengujian bersifat tidak bias dan efisien. Pengujian
asumsi klasik dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan program statistic.
Menurut Ghozali (2005:123) asumsi klasik yang harus dipenuhi adalah :
1.Berdistribusi normal
2.Non-Multikolinearitas, artinya antara variable independent dalam
model regresi tidak memiliki korelasi atau hubungan secara sempurna
ataupun mendekati sempurna
3.Non-Autokorelasi , artinya kesalahan pengganggu dalam model regresi
tidak saling berkorelasi
4.Homoskedastisitas, artinya variance variable independent dari satu
pengamatan kepengamatan lain adalah konstan atau sama.
Pengujian asumsi klasik yang dilakukan pada data 2006 (sebelum perubahan
peraturan Bapepam ) dan data tahun 2007 (setal perubahan peraturan Bapepam).
Pengujian dalam penelitian ini memasukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas,
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
dan ukuran perusahaan sebagai variabel bebasnya serta pengungkapan sebagai
variabel terikatnya.
1.Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui varians pengganggu atau residual
berdistribusi secara normal serta untuk menghindari adanya bias dalam model
regresi. Pengujian normalitas data dalam penelitian ini menggunakan uji statistik
non-parametrik Kolmogorov_Smirnov (K_S), dengan membuat hipotesis :
Ho = Data residual berdistribusi normal
Ha = Data residual tidak berdistribusi normal
Apabila nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima sedangkan
jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak.
A.SebelumPerubahan Peraturan Bapepam (2006)
Tabel 4.14
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
N
Normal
Parameters
(a,b)
Most
Extreme
Differences
Mean
Std.
Deviation
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
lnpc
33
lnlk
33
4.31
58
.366
6
.089
70
.086
lnpr
28
Unstandard
ized
lnup
Residual
33
28
2.8520
25.839
0
.0000000
.691
79
lnsv
33
.898
6
.985
86
1.6649
9
2.9814
5
.07336889
.197
.255
.140
.163
.106
.086 .085 .181
-.073 -.197 -.255
1.13 1.46
.497
0
4
.966 .156 .128
.140
-.087
.101
-.163
.059
-.106
.742
.934
.563
.641
.347
.909
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.
Sumber : Hasil Out put SPSS
Dari tabel diatas dapat disimpulkan :
•
Nilai signifikan pengungkapan sebesar 0,966 > 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan likuiditas sebesar 0,156 > 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan solvabilitas sebesar 0,128> 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan profitabilita sebesar 0,641 > 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikanukuran perusahaan sebesar 0,347 > 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan data residual sebesar 0,909 > 0,05 maka Ho diterima
Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa seluruh
observasi data telah berdistribusi secara normal dan dapat dilanjutkan dengan uji
asumsi klasik lainnya. Untuk lebih jelas berikut ini turut dilampirkan grafik
histogram dan plot data yang terdistribusi normal.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Regression Standardized Residual
-3
-2
-1
0
1
2
N = 28
Std. Dev. = 0.923
Mean = 7.16E-15
0
1
2
ycneuqerF
3
4
5
6
7
Dependent Variable: lnpc
Histogram
Sumber : Hasil Olahan SPSS Oleh Penulis,2008
Gambar 4.1
Histogram
Dengan cara membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang
mendekati distribusi normal, dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa distribusi
data normal karena grafik histogram menunjukkan distribusi data mengikuti garis
diagonal yang tidak menceng (skewness) kiri maupun menceng kanan atau
normal.
Demikian pula dengan hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik plot
berikut ini :
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Observed Cum Prob
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
0.0
borP muC detcepxE
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Dependent Variable: lnpc
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Sumber : Diolah Penulis, 2008
Gambar 4.2
Grafik Normal Plot
Pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar diseluruh garis diagonal
serta penyebarannya agak mendekati dengan garis diagonal sehingga dapat
disimpulkan bahwa data dalam model regresi berdistribusi secara normal.
A.Setelah Perubahan Peraturan Bapepam (2007)
Tabel 4.15
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
N
Normal
Mean
pengu
ukuran Unstand
ngkap likuidi solvab profita perusah ardized
an
tas
ilitas bilitas
aan
Residual
34
34
34
34
34
34
78.775 1.7300 .4931
.1716 2223357 .000000
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Parameters(a,b
)
Std.
Deviation
Most Extreme
Differences
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.
6.5785
1.2344
.29051
3
1237882
.35
1039262
.25148 8722271
9.700
0
5.59306
205
.166
.229
.061
.287
.422
.117
.166
-.095
.971
.303
.229
-.112
1.334
.057
.059
-.061
.356
1.000
.287
-.226
1.675
.007
.422
-.415
2.463
.000
.094
-.117
.683
.740
Sumber : Diolah Penulis ,2008
Dari tabel diatas dapat disimpulkan :
•
Nilai signifikan pengungkapan sebesar 0,303 > 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan likuiditas sebesar 0,057 > 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan solvabilitas sebesar 1,00> 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan profitabilita sebesar 0,007 > 0,05 maka Ho ditolak
•
Nilai signifikanukuran perusahaan sebesar 0,00 > 0,05 maka Ho diterima
•
Nilai signifikan data residual sebesar 0,740 > 0,05 maka Ho diterima
Dengan demikian secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa seluruh
observasi data telah berdistribusi secara normal dan dapat dilanjutkan dengan uji
asumsi klasik lainnya. Untuk lebih jelas berikut ini turut dilampirkan grafik
histogram dan plot data yang terdistribusi normal.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Regression Standardized Residual
-3
-2
-1
0
1
2
3
N = 34
Std. Dev. = 0.937
Mean = 2.26E-15
0
2
ycneuqerF
4
6
8
10
Dependent Variable: PC
Histogram
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Oleh Penulis,2008
Gambar 4.3
Histogram
Dengan cara membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang
mendekati distribusi normal, dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa distribusi
data normal karena grafik histogram menunjukkan distribusi data mengikuti garis
diagonal yang tidak menceng (skewness) kiri maupun menceng kanan atau
normal.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Demikian pula dengan hasil uji normalitas dengan menggunakan grafik plot
berikut ini :
Observed Cum Prob
0.0
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
0.0
borP muC detcepxE
0.2
0.4
0.6
0.8
1.0
Dependent Variable: PC
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Sumber : Hasil Olahan SPSS Oleh penulis,2008
Gambar 4.4
Grafik Normal Plot
Pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar diseluruh garis diagonal serta
penyebarannya agak mendekati dengan garis diagonal sehingga dapat disimpulkan
bahwa data dalam model regresi berdistribusi secara normal.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
2. Uji Multikolinearitas
Ghozali (2005:92) menyatakan” uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji
apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas
(independen)”. Multikolinearitas menunjukkan ada tidaknya variabel independen
yang memiliki kemiripan atau hubungan dengan variabel independen lainnya
dalam model regresi, agar pengambilan keputusan berpengaruh pada uji parsial
masing-masing variabel independen tidak bias. Untuk mengetahui ada tidaknya
multikolinearitas dan apabila VIF(Variance Inflatio Factor), apabila VIF
mempunyai nilai disekitar angka 1 dan Tolerance mempunyai nilai mendekati
angka 1maka tidak terjadi multikolinearitas.
A.Sebelum perubahan peraturan Bapepam (2006)
Tabel 4.16
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficients(a)
Stand
ardize
d
Coeffi
cients
Unstandard
ized
Model
Coefficients
Std.
Erro
B
r
Beta
1 (Constan 4.28
.149
t)
4
lnlk
.028 .027
.201
lnsv
.025 .016
.310
lnpr
.004 .009
.076
lnup
.003 .005
.101
a Dependent Variable: lnpc
t
Sig.
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
28.770
.000
1.044
1.567
.406
.516
.307
.131
.689
.611
.941
.892
.980
.918
1.062
1.121
1.021
1.090
Sumber : Diolah Penulis, 2008
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Dari tabel diatas disimpulkan dalam model regresi tidak terjadi multikolinearitas
hal ini diketahui dari besaran VIF mempunyai nilai disekitar angka 1 dan
Tolerance mempunyai nilai mendekati angka 1, maka dapat dilakukan analisis
lebih lanjut dengan menggunakan model regresi berganda.
B.Setelah perubahan peraturan Bapepam (2007)
Tabel 4.17
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficients(a)
Model
Unstandardized
Coefficients
Std.
B
Error
1 (Constan
73.883
3.110
t)
LK
2.512
.867
SV
-.451
3.955
PR
5.067
4.461
UP
.000
.000
a Dependent Variable: PC
Stand
ardiz
ed
Coeffi
cients
t
Collinearity
Statistics
Tolera
nce
VIF
Sig.
Beta
.471
-.020
.194
-.071
23.75
6
2.899
-.114
1.136
-.440
.000
.007
.910
.265
.663
.943
.817
.857
.947
1.061
1.224
1.167
1.056
Sumber : Diolah penulis, 2008
Dari
tabel
diatas
disimpulkan
dalam
model
regresi
tidak
terjadi
multikolinearitas hal ini diketahui dari besaran VIF mempunyai nilai disekitar
angka 1 dan Tolerance mempunyai nilai mendekati angka 1, maka dapat
dilakukan analisis lebih lanjut dengan menggunakan model regresi berganda.
3. Uji Autokorelasi
Pengujian autokorelasi menurut Ghozali (2005:95) bertujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi linear ada korelasi pengganggu antara kesalahan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1.
Autokorelasi menunjukkan adanya korelasi diantara data pengamatan yang
tersusun baik seperti data cross sectional dan/atau time series. Autokorelasi
menunjukan adanya kesalahan pengganggu (residual) tidak bebas dari satu
pengamatan kepengamatan lain. Jika terjadi autokorelasi dalam model regresi
berarti koefisien korelasi yang diperoleh menjadi tidak akurat, sehingga model
regresi yang baik adalah model yang bebas dari autokorelasi. Untuk mengetahui
adanya autokorelasi digunakan uji Durbin-Watson, dengan kriteria menurut
Santoso (2002:218) dengan cara melihat besaran Durbin-Watson sebagai berikut:
•
Angka D-W dibawah -2 , berarti ada autokorelasi positif
•
Angka D-W diantara -2 sampai +2 , berarti tidak ada autokorelasi
•
Angka D-W diatas +2, berarti ada auto korelasi negatif
Berikut ini uji Durbin-Watson dengan menggunakan program SPSS
A.Sebelum perubahan peraturan Bapepam (2006)
Tabel 4.18
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summary(b)
Adjusted R Std. Error of
Model
R
R Square
Square
the Estimate
1
.446(a)
.199
.060
.07949
a Predictors: (Constant), lnup, lnpr, lnlk, lnsv
b Dependent Variable: lnpc
DurbinWatson
1.434
Sumber : Diolah Penulis ,2008
Hasil uji autokorelasi diatas menunjukan nilai statistic Durbin-Watson (D-W)
sebesar
1,434
nilai ini akan kita bandingkan dengan nilai tabel dengan
menggunakan nilai signifikansi 5% , jumlah sample 34 (n) dan jumlah variable
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
independent 4 (k=4) , maka ditabel Durbin-Watson didapat nilai batas atas (du)
1,728 dan nilai batas bawah (dl) 1,208 .Oleh karena itu , nilai DW lebih besar dari
-2 dan lebih kecil dari 2 (-2< 1,434 < 2) maka disimpulkan bahwa tidak terjadi
autokorelasi baik positif maupun negative.
B.Setelah perubahan peraturan Bapepam (2007)
Tabel 4.19
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summary(b)
R
Adjusted Std. Error of
Model
R
Square R Square the Estimate
1
.526(a)
.277
.177
5.9663
a Predictors: (Constant), UP, PR, LK, SV
b Dependent Variable: PC
DurbinWatson
1.424
Sumber : Diolah penulis ,2008
Hasil uji autokorelasi diatas menunjukan nilai statistic Durbin-Watson (D-W)
sebesar
1,424
nilai ini akan kita bandingkan dengan nilai tabel dengan
menggunakan nilai signifikansi 5% , jumlah sample 34 (n) dan jumlah variable
independent 4 (k=4) , maka ditabel Durbin-Watson didapat nilai batas atas (du)
1,728 dan nilai batas bawah (dl) 1,208 .Oleh karena itu , nilai DW lebih besar dari
-2 dan lebih kecil dari 2 (-2< 1,424 < 2) maka disimpulkan bahwa tidak terjadi
autokorelasi baik positif maupun negative.
4. Uji Heterokedastisitas
Menurut Ghozali (2005:205) menyatakan “ uji heterokedastisitas bertujuan
untuk mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance
dari residual satu pengamatan kepengamatan lainnya “. Jika variance dari residual
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
datu pengamatan kepengamatan kepengamatan lainnya tetap, maka disebut
homoskedastisitas , dan jika berbeda disebut heterokedastisitas . Model regresi
yang baik adalah homoskedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas.
Dalam penelitian ini , untuk mendeteksi ada tidaknya gejala heterokedastisitas
adalah dengan melihat plot grafikyang dihasilkan dari pengolahan data
menggunakan program SPSS. Dasar pengambilan keputusannya adalah :
•
Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang teratur, maka telah terjadi
heterokedastisitas
•
Jika tidak ada pola tertentu , serta titik-titik yang menyebar tidak tertentu,
maka tidak terjadi heterokedastisitas atau terjadi homokedastisitas dengan
mengamati penyebaran titik-titik pada gambar.
A.Sebelum perubahan peraturan Bapepam (2006)
Regression Standardized Predicted Value
laudiseR dezitnedutS noissergeR
-6
-4
-2
0
2
-2
-1
0
1
2
Dependent Variable: lnpc
Scatterplot
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Sumber data : Diolah penulis ,2008
Gambar 4.5
Hasil Uji Heterokedastisitas
Dari grafik scartterplots terlihat bahwa titik menyebar secara acak serta
tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi sehingga
model regresi ini layak dipakai untuk mengungkapkan hubungan likuiditas,
solvabilitas, profitabitas, serta ukuran perusahaan terhadap luas pengungkapan
sebelum perubahan peraturan Bapepam (2006)
B.Setelah perubahan peraturan Bapepam (2007)
Regression Standardized Predicted Value
-1
0
1
2
3
laudiseR dezitnedutS noissergeR
-3
-2
-1
0
1
2
3
Dependent Variable: PC
Scatterplot
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Oleh Penulis,2008
Gambar 4.6
Hasil Uji Heterokedastisitas
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Dari grafik scartterplots terlihat bahwa titik menyebar secara acak serta
tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi sehingga
model regresi ini layak dipakai untuk mengungkapkan hubungan likuiditas,
solvabilitas, profitabitas, serta ukuran perusahaan terhadap luas pengungkapan
setelah perubahan peraturan Bapepam (2007).
B.Uji Beda t-test
Uji beda t-test digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang
berhubungan memiliki nilai rata-rata yang berbeda/ menguji apakah ada
perbedaan rata-rata dua sampel yang berhubungan .
Berikut hasil uji beda untuk dua sampel yang berpasangan yang diperoleh dari
hasil pengolahan data dengan SPSS :
Tabel 4.20
Hasil Uji Beda Metode Paired T Test
Jenis Rasio
Tingkat
pengungkapan
laporan
tahunan
perusahaan
publik
Kode
rasio
PC1-PC2
T tabel
T hitung
Sig
Keterangan
2,0345
0,981
0,334
T hitung <
T tabel
maka Ho
diterima
Sumber : Data diolah penulis ,2008
Dari tabel diatas dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat
pengungkapan laporan tahunan yang signifikan sebelum dan setelah perubahan
peraturan Bapepam.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
C.Analisis Regresi
Dari hasil pengujian asumsi klasik disimpulkan bahwa model regresi yang
dipakai dalam penelitian ini telah memenuhi model estimasi yang Best Linear
Unbiased Estimator (BLUE) dan layak untuk dilakukan analisis statistik
selanjutnya.
1.Persamaan Regresi
Dalam pengolahan data dengan menggunakan regresi linear, dilakukan
beberapa tahapan untuk mencari hubungan antara variabel independen dan
variabel dependen .
A.Sebelum Perubahan Peraturan Bapepam (2006)
Melalui
pengaruh
LN_Likuiditas
(X1),
LN_Solvabilitas
(X2),
LN_Profitabilitas (X3), dan LN_Ukuran perusahaan (X4) terhadap luas
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik (Y). Hasil regresi dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Tabel 4.21
Hasil Analisis Regresi
Variabel
Unstandarized
Coefisients
(Constant)
4,284
X1
0,028
X2
0,025
X3
0,004
X4
0,003
R
= 0,446
R Squere
= 0,199
F hitung
= 1,431
Sig F
= 0,256
α
= 0,05
n
= 34
t tabel , α = 5 %
= 2,042
T hitung
Sig
Keterangan
1,044
1,567
0,406
0,516
0,307
0,131
0,689
0,611
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
F tabel , α = 5 %
= 3,03
Variabel dependen pada regresi ini adalah LN_Pengungkapan (Y) sedangkan
Sumber : Hasil Analisis SPSS Oleh Penulis,2008
variabel independen adalah variabel LN_Likuiditas (X1), LN_Solvabilitas (X2),
LN_Profitabilitas (X3), dan LN_Ukuran perusahaan(X4) . Berdasarkan penjelasan
dari pengujian asumsi klasik sebelumnya, model regresi dalam penelitian ini telah
diubah menjadi logaritma natural, sehingga beta dan koefisien dari penelitian ini
dapat
disimpulkan
dalam
bentuk
logaritma
natural
dan
tidak
dapat
diinterpretasikan.
Model regresi berdasarkan hasil analisis diatas:
Y = 4,284 + 0,028 X1 + 0,025X2 + 0,004X3 + 0,003X4 + e
Adapun interpretasi dari persamaan diatas :
1. βo = 4,284
Nilai konstanta ini menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel
LN_Likuiditas,
LN_Solvabilitas,
LN_Profitabilitas,
dan
LN_Ukuran
perusahaan (X1= X2 = X3 = X4 = 0), maka pengungkapan yang terbentuk
adalah 4,284
2. β1 = 0,028
Koefisien regresi β1 ini menunjukkan bahwa setiap variabel LN_Likuiditas
meningkat 1 satuan , maka luas pengungkapan akan bertambah sebesar 0,028
atau 2,8 % dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (Solvabilitas,
Profitabilitas, dan Ukuran perusahaan =0) atau cateris paribus.
3. β2 = 0,025
Nilai parameter atau koefisien regresi perusahaan ini menunjukkan bahwa
setiap variabel LN_Solvabilitas meningkat 1 satuan, maka akan meningkatkan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
pengungkapan laporan tahunan sebesar 0,025 atau 2,5 % denganh asumsi
variabel lainnya tetap atau sama dengan nol
4. β3 = 0,004
Koefisien regresi β3 ini menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikkan 1 satuan
dari variabel LN_Profitabilitas akan meningkatkan tingkat pengungkapan
laporan tahunan sebesar 0,004 atau 0,4 % dengan asumsi variabel lainnya
tetap atau sama dengan nol
5. β4 = 0,003
Nilai parameter atau koefisien regresi perusahaan ini menunjukkan bahwa
setiap variabel LN_Ukuran perusahaan meningkat 1 satuan, maka akan
meningkatkan pengungkapan laporan tahunan sebesar 0,003 atau 0,3 %
denganh asumsi variabel lainnya tetap atau sama dengan nol.
•
Angka koefisien korelasi (R) sebesar 0,0446 menunjukkan bahwa korelasi /
hubungan
antara
independennya
variabel
tingkat
(LN_Likuiditas,
pengungkapan
LN_Solvabilitas,
dengan
variabel
LN_Profitabilitas,
LN_Ukuran perusahaan) tidak kuat, defenisi korelasi tidak kuat ini didasarkan
pada nilai R berada dibawah 0,5
•
Angka koefisien determinasi (Adjusted R Squere) adalah 0,199 hal ini berarti
19,9 % variasi dari pengungkapan bisa dijelaskan oleh variasi dari keempat
variabel independen, sedangkan sisanya 80,1 % dijelaskan oleh variasi atau
faktor lain
•
Dari hasil uji ANOVA atau F test , didapat F hitung 1,431 dengan tingkat
signifikansinya 0,256 karena probabilitas (0,256) jauh lebih besar dari 0,05
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
maka model regresi dalam penelitian ini tidak bisa dipakai untuk memprediksi
tingkat pengungkapan laporan tahunan . Atau bisa dikatakan Likuiditas,
Solvabilitas, Profitabilitas, dan Ukuran perusahaan tidak berpengaruh pada
luasnya tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik sebelum
perubahan peraturan Bapepam (2006)
B.Setelah Perubahan Peraturan Bapepam (2007)
Melalui pengaruh Likuiditas (X1), Solvabilitas (X2), Profitabilitas (X3), dan
Ukuran perusahaan (X4) terhadap luas pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik (Y). Hasil regresi dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.22
Hasil Analisis Regresi
Variabel
(Constant)
X1
X2
X3
X4
Unstandarized
Coefisients
73,883
2,512
-0,451
5,067
0,000
R
= 0,526
R Squere
= 0,277
F hitung
= 2,780
Sig F
= 0,045
α
= 0,05
n
= 34
t tabel , α = 5 %
= 2,042
F tabel , α = 5 %
= 3,03
T hitung
Sig
Keterangan
2,899
-0,114
1,136
0,007
0,910
0,265
-0,440
0,663
Signifikan
Signifikan
Tidak
Signifikan
Signifikan
Sumber : Hasil Pengolahan SPSS Oleh Penulis
Variabel dependen pada regresi ini adalah Pengungkapan (Y) sedangkan
variabel independen adalah variabel
Likuiditas (X1), Solvabilitas (X2),
Profitabilitas (X3), dan Ukuran perusahaan (X4) .
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Model regresi berdasarkan hasil analisis diatas:
Y = 73,883 + 2,512 X1 - 0,451 X2 + 5,067 X3 + 0,000X4 + e
Pada persamaam tersebut menunjukkan angka yang signifikan pada variabel
likuiditas (X1), Solvabilitas (X2), dan Ukuran perusahaan (X4) sedangkan untuk
variabel Profitabilitas (X3) tidak menunjukkan angka yang signifikan.
Adapun interpretasi dari persamaan diatas :
1. βo = 73,883
2. Nilai konstanta ini menunjukkan bahwa apabila tidak ada variabel Likuiditas,
Solvabilitas, Profitabilitas, dan Ukuran perusahaan (X1= X2 = X3 = X4 = 0),
maka pengungkapan yang terbentuk adalah 73,883
3. β1 = 2,512
Koefisien regresi β1 ini menunjukkan bahwa setiap variabel Likuiditas
meningkat 1 satuan , maka luas pengungkapan akan bertambah sebesar 2,512
atau 251,2% dengan asumsi variabel lain dianggap tetap (Solvabilitas,
Profitabilitas, dan Ukuran perusahaan =0) atau cateris paribus.
4. β2 = -0,451
Nilai parameter atau koefisien regresi perusahaan ini menunjukkan bahwa
setiap variabel Solvabilitas meningkat 1 satuan, maka akan menurunkan
pengungkapan laporan tahunan sebesar 0,451 atau 45,1 % dengan asumsi
variabel lainnya tetap atau sama dengan nol
5. β3 = 5,067
Koefisien regresi β3 ini menunjukkan bahwa setiap terjadi kenaikkan 1 satuan
dari variabel Profitabilitas akan meningkatkan tingkat pengungkapan laporan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
tahunan sebesar 5,067 atau 506,7 % dengan asumsi variabel lainnya tetap atau
sama dengan nol
6. β4 = 0,000
Nilai parameter atau koefisien regresi perusahaan ini menunjukkan bahwa
setiap variabel Ukuran perusahaan meningkat 1 satuan, maka akan
meningkatkan pengungkapan laporan tahunan sebesar 0,000 atau 0,0 %
dengan asumsi variabel lainnya tetap atau sama dengan nol, dengan kata lain
peningkatan ukuran perusahaan tidak berpengaruh kepada luasnya tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik setelah perubahan peraturan
Bapepam (2007)
•
Angka koefisien korelasi (R) sebesar 0,526 menunjukkan bahwa korelasi /
hubungan
antara
variabel
tingkat
pengungkapan
dengan
variabel
independennya (Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, Ukuran perusahaan)
kuat, defenisi korelasi kuat ini didasarkan pada nilai R berada diatas 0,5
•
Angka koefisien determinasi (Adjusted R Squere) adalah 0,277 hal ini berarti
27,7 % variasi dari pengungkapan bisa dijelaskan oleh variasi dari keempat
variabel independen, sedangkan sisanya 72,3 % dijelaskan oleh variasi atau
faktor lain
•
Dari hasil uji ANOVA atau F test , didapat F hitung 2,780 dengan tingkat
signifikansinya 0,045 karena probabilitas (0,045) lebih kecil dari 0,05 maka
model regresi dalam penelitian ini bisa dipakai untuk memprediksi tingkat
pengungkapan laporan tahunan . Atau bisa dikatakan Likuiditas, Solvabilitas,
Profitabilitas, dan Ukuran perusahaan berpengaruh pada luasnya tingkat
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik setelah perubahan peraturan
Bapepam (2007)
2.Pengujian Hipotesis
• Hipotesis 1
Hipotesis 1 menyatakan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara tingkat
pengungkapan laporan tahunan sebelum dan setelah perubahan peraturan
Bapepam. Untuk menguji kebenaran hipotesis ini maka setelah dilakukan uji
normalitas dilanjutkan dengan uji beda Paired T Test. Dalam uji beda Paired T
Test digunakan hipotesis berikut:
Ho : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan
H1 : Terdapat perbedaan yang signifikan
Jika t hitung > t tabel maka Ho ditolak
Jika t hitung < t tabel maka Ho diterima
Berikut ini hasil uji beda paired t test:
Tabel 4.23
Hasil Uji Hipotesis Metode Paired T Test
Jenis Rasio
Tingkat
pengungkapan
laporan tahunan
perusahaan
publik
Kode
rasio
PC1-PC2
T tabel
2,0345
T
hitung
0,981
Sig
Keterangan
0,334
T hitung < T
tabel maka
Ho diterima
Sumber : Data Hasil Pengolahan SPSS Oleh Penulis ,2008
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Dari tabel diatas dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat
pengungkapan laporan tahunan yang signifikan sebelum dan setelah perubahan
peraturan Bapepam. Dengan kata lain hipotesis 1 ditolak.
• Hipotesis 2
Hipotesis 2 menyatakan bahwa likuiditas secara parsial berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik sebelum
perubahan peraturan. Untuk menguji kebenaran hipotesis 2 maka setelah
dilakukan uji asumsi klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Menurut Gozali (2005:64), “ Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan
seberapa jauh pengaruh suatu variabel penjelas independen secara individual
menerangkan variasi variabel dependen”.
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Setelah dilakukan uji t maka hasil uji hipotesis ini dapat ditunjukkan dalam
tabel berikut ini :
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
A. Sebelum perubahan peraturan Bapepam (2006)
Tabel 4.24
Hasil uji t
Variabel
Konstanta
LN_Likuiditas
LN_Solvabilitas
LN_Profitabilitas
LN_Ukuran Perusahaan
Regresi
T hitung
28,770
1,044
1,562
0,406
0,516
Signifikansi
0,000
0,307
0,131
0,689
0,611
Sumber : Hasil Olahan SPSS Oleh Penulis,2008
Dari hasil uji t yang telah dilakukan , diperoleh nilai t tabel 2,0484
kesimpulan yang dapat diambil dari analisis tersebut adalah sebagai berikut :
Likuiditas (LN_Likuiditas) mempunyai nilai signifikansi 0,307 yang berarti
nilai ini lebih besar dari 0,05 sedangkan untuk t hitung diperoleh 1,044 nilai ini
lebih kecil dari nilai t tabel 2,0484 . Berdasarkan nilai tersebut disimpulkan
bahwa Ho diterima atau dijelaskan bahwa variabel LN_Likuiditas secara parsial
(individual) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan perusahaan publik. Dengan kata lain Hipotesis 2 ditolak.
• Hipotesis 3
Hipotesis 3 menyatakan bahwa likuiditas secara parsial berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan setelah perubahan peraturan.
Untuk menguji kebenaran dari hipotesis 3 ini maka setelah dilakukan uji asumsi
klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Setelah dilakukan uji t maka hasil uji hipotesis ini dapat ditunjukkan dalam tabel
berikut ini :
B.Setelah perubahan peraturan Bapepam (2007)
Tabel 4.25
Hasil uji t
Variabel
Konstanta
LN_Likuiditas
LN_Solvabilitas
LN_Profitabilitas
LN_Ukuran Perusahaan
Regresi
T hitung
23,756
2,899
-0,114
1,136
-0,440
Signifikansi
0,000
0,007
0,910
0,265
0,663
Sumber : Hasil Olahan SPSS Oleh Penulis,2008
Dari hasil uji t yang telah dilakukan , diperoleh nilai t tabel 2,0322 kesimpulan
yang dapat diambil dari analisis tersebut adalah sebagai berikut :
Likuiditas (Likuiditas) mempunyai nilai signifikansi 0,007 yang berarti nilai
ini lebih besar dari 0,05 sedangkan untuk t hitung diperoleh 2,899 nilai ini lebih
besar dari nilai t tabel 2,0322 . Berdasarkan nilai tersebut disimpulkan bahwa
Ha diterima atau dijelaskan bahwa variabel Likuiditas secara parsial (individual)
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan
perusahaan publik, dengan kata lain hipotesis 3 diterima.
• Hipotesis 4
Hipotesis 4 yang menyatakan bahwa solvabilitas mempunyai pengaruh
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum perubahan peraturan
Bapepam secara parsial. Untuk menguji kebenaran hipotesis 4 maka setelah
dilakukan uji asumsi klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Setelah dilakukan uji t (Lihat tabel 4.24) maka hasil uji hipotesis ini
menunjukkan
bahwa
solvabilitas
(LN_Solvabilitas)
mempunyai
nilai
signifikansi 0,131 dan nilai ini lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima. Nilai t
hitung (1,562) < t tabel (2,0484) maka Ho diterima . Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa variabel LN_Solvabilitas secara parsial tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik, dengan kata lain hipotesis 4 ditolak.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
• Hipotesis 5
Hipotesis 5 menyatakan bahwa solvabilitas mempunyai pengaruh terhadap
tingkat pengungkapan laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam
secara parsial. Untuk menguji kebenaran hipotesis 5 maka setelah dilakukan uji
asumsi klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Setelah dilakukan uji t (Lihat tabel 4.25) maka hasil uji hipotesis ini
menunjukkan bahwa Solvabilitas (Solvabilitas) mempunyai nilai signifikansi
0,910 dan nilai ini lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima. Nilai t hitung (0,114) < t tabel (2,0322) maka Ho diterima . Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa variabel Solvabilitas secara parsial tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik ,
dengan kata lain hipotesis 5 ditolak.
• Hipotesis 6
Hipotesis 6 menyatakan bahwa profitabilitas secara parsial mempunyai
pengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum perubahan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
peraturan. Untuk menguji kebenaran hipotesis 6 maka setelah dilakukan uji
asumsi klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Setelah dilakukan uji t (Lihat tabel 4.24) maka hasil uji hipotesis ini
menunjukkan
bahwa profitabilitas (LN_Profitabilitas)
mempunyai nilai
signifikansi jauh lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima sedangkan untuk t
hitung (0,406) < t tabel (2,0484)
berarti Ho diterima, sehingga dapat
disimpulkan bahwa variabel profitabilitas secara parsial tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik , dengan kata lain hipotesis 6 ditolak.
• Hipotesis 7
Hipotesis 7 yang menyatakan bahwa profitabilitas secara parsial mempunyai
pengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan setelah perubahan
peraturan. Untuk menguji kebenaran hipotesis 7 maka setelah dilakukan uji
asumsi klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Setelah dilakukan uji t (Lihat tabel 4.25) maka hasil uji hipotesis ini
menunjukkan bahwa Profitabilitas (Profitabilitas) mempunyai nilai signifikansi
0,265 jauh lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima sedangkan untuk t hitung
(1,136) < t tabel (2,0322) berarti Ho diterima, sehingga dapat disimpulkan
bahwa variabel profitabilitas secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik, dengan
kata lain hipotesis 7 ditolak.
• Hipotesis 8
Hipotesis 8 menyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum
perubahan peraturan Bapepam. Untuk menguji kebenaran hipotesis 8 maka
setelah dilakukan uji asumsi klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Setelah dilakukan uji t (Lihat tabel 4.24) maka hasil uji hipotesis ini
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan (LN_Ukuran Perusahaan) mempunyai
nilai signifikansi 0,611 yang berarti nilai ini lebih besar dari 0,05 sedangkan
untuk t hitung diperoleh 0,516 nilai ini lebih kecil dari nilai t tabel 2,0484 .
Berdasarkan nilai tersebut disimpulkan
bahwa Ho diterima atau dijelaskan
bahwa variabel LN_Ukuran Perusahaan secara parsial (individual) tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan
perusahaan publik, dengan kata lain hipotesis 8 ditolak
• Hipotesis 9
Hipotesis 9 menyatakan bahwa ukuran perusahaan mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan setelah
perubahan peraturan Bapepam. Untuk menguji kebenaran hipotesis 9 maka
setelah dilakukan uji asumsi klasik dilanjutkan dengan uji t (t-test).
Adapun kriteria yang digunakan dalam uji t adalah :
 Jika statistik T hitung < T tabel maka Ho diterima dan H1 ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial tidak berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel dependen.
 Jika statistik T hitung > T tabel maka H1 diterima dan Ho ditolak. Artinya
variabel independen secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap
variabel dependen.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Setelah dilakukan uji t (Lihat tabel 4.25) maka hasil uji hipotesis ini
menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan (Ukuran Perusahaan) mempunyai nilai
signifikansi 0,663 yang berarti nilai ini lebih besar dari 0,05 sedangkan untuk t
hitung diperoleh -0,440 nilai ini lebih kecil dari nilai t tabel 2,0322 .
Berdasarkan nilai tersebut disimpulkan
bahwa Ho diterima atau dijelaskan
bahwa variabel Ukuran Perusahaan secara parsial (individual) tidak berpengaruh
secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik, dengan kata lain hipotesis 9 ditolak.
• Hipotesis 10
Hipotesis 10 menyatakan bahwa likuiditas, solvabilitas, profitabilitas,
ukuran perusahaan secara simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan sebelum perubahan peraturan
Bapepam.
Seperti hipotesis yang lain pada hipotesis ini juga terlebih dahulu dilakukan
uji normalitas. Selanjutnya untuk mengetahui apakah semua variabel
independen dalam model regresi ini mempunyai pengaruh signifikan secara
simultan atau tidak terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik dilakukan uji F (F test).
Menurut Ghozali (2005:84), ”Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah
semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam modelregresi
mepunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen / terikat ”.
Adapun kriteria uji F yang digunakan adalah :
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
- Jika statistik F hitung < statistik F tabel maka Ho diterima, H1 ditolak . Hal ini
berarti semua variabel independen secara simultan tidak berpengaruh secara
secara signifikan terhadap variabel dependen
- Jika Statistik F hitung > statistik F tabel maka H1 diterima, Ho ditolak. Hal ini
berarti semua variabel independen secara simultan berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel dependen
Berikut ini tabel yang menunjukkan hasil uji F :
Tabel 4.26
Hasil Uji F
ANOVA(b)
Sum of
Mean
Model
Squares
df
Square
1
Regression
.036
4
.009
Residual
.145
23
.006
Total
.182
27
a Predictors: (Constant), lnup, lnpr, lnlk, lnsv
b Dependent Variable: lnpc
F
Sig.
1.431 .256(a)
Sumber : Diolah Penulis ,2008
Berdasarkan tabel 4.26 diatas diperoleh F hitung sebesar 1,431 dan nilai ini
lebih kecil dari F tabel 2,92 (1,431 < 2,92), hal ini menunjukkan bahwa Ho
diterima sedangkan nilai signifikansi F hitung sebesar 0,256 yang jauh lebih
besar dari 0,05 mengindikasikan bahwa Ho diterima sehingga dapat
disimpulkan
bahwa
semua
variabel
independen
yaitu
LN_Likuiditas,
LN_Solvabilitas, LN_Profitabilitas, LN_Ukuran perusahaan secara simultan
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan
tahunan perusahaan publik , dengan kata lain hipotesis 10 ditolak.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
• Hipotesis 11
Hipotesis 11 menyatakan bahwa likuiditas, solvabilitas, profitabilitas,
ukuran perusahaan secara simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan setelah perubahan peraturan
Bapepam.
Seperti hipotesis yang lain pada hipotesis ini juga terlebih dahulu dilakukan
uji normalitas. Selanjutnya untuk mengetahui apakah semua variabel
independen dalam model regresi ini mempunyai pengaruh signifikan secara
simultan atau tidak terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik dilakukan uji F (F test).
Menurut Ghozali (2005:84), ”Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan
apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam
modelregresi mepunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel
dependen / terikat ”.
Adapun kriteria uji F yang digunakan adalah :
- Jika statistik F hitung < statistik F tabel maka Ho diterima, H1 ditolak . Hal ini
berarti semua variabel independen secara simultan tidak berpengaruh secara
secara signifikan terhadap variabel dependen
- Jika Statistik F hitung > statistik F tabel maka H1 diterima, Ho ditolak. Hal ini
berarti semua variabel independen secara simultan berpengaruh secara
signifikan terhadap variabel dependen
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Berikut ini tabel yang menunjukkan hasil uji F :
Tabel 4.27
Hasil Uji F
ANOVA(b)
Sum of
Squares
df
Regression
395.813
4
Residual
1032.317
29
Total
1428.131
33
a Predictors: (Constant), UP, PR, LK, SV
b Dependent Variable: PC
Model
1
Mean
Square
98.953
35.597
F
Sig.
2.780 .045(a)
Sumber : Diolah Penulis ,2008
Berdasarkan tabel 4.27 diatas diperoleh F hitung sebesar 2,780 dan nilai ini
lebih besar dari F tabel 2,65 (2,780 > 2,65 ), hal ini menunjukkan bahwa Ha
diterima sedangkan nilai signifikansi F hitung sebesar 0,045 lebih kecil dari 0,05
mengindikasikan bahwa Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa semua
variabel independen yaitu Likuiditas, Solvabilitas, Profitabilitas, Ukuran
perusahaan secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik ,dengan kata lain hipotesis 11
diterima.
2.Pembahasan Hasil
Berdasarkan hasil analisis statistik diatas, maka dapat diketahui :
a) Tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
Berdasarkan hasil uji t untuk dua sampel berpasangan tidak terdapat
perbedaan tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik yang
signifikan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Dari hasil pemberian skor pada tiap item pengungkapan , ternyata
diperoleh rata-rata untuk semua industri adalah 73,88 untuk sebelum
perubahan peraturan Bapepam dan 78,84 untuk setelah perubahana peraturan
Bapepam dengan jumlah skors maksimum 100 % .
Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Yuniati Gunawan (2001)
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik yang
terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan berpatokan kepada peraturan
Bapepam no :Kep-38/PM/1996 . Perbedaan mungkin disebabkan oleh
berkembangan pasar modal di Indonesia. Pada tahun 1998 transparansi dan
akuntabilitas belum begitu diterapkan dan dituntut oleh para pelaku pasar
modal sendiri, sedangkan tidak terdapatnya perbedaan yang signifikan antara
tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik sebelum dan setelah
perubahan peraturan Bapepam mungkin dikarenakan waktu yang masih teralu
dekat diantara keduanya sehingga perusahaan-perusahaan sampel belum mau
melakukan peraturan yang baru tersebut.
Sebab kedua terjadinya perbedaan antara penelitian yang telah dilakukan
oleh Yuniati Gunawan (2001) dengan hasil yang didapatkan penulis adalah
karena perbedaan kriteria pengungkapan yang digunakan. Yuniati Gunawan
menggunakan Indeks disclosure milik Botosan (1997) dengan skor antara 0 –
75 sedangkan kriteria yang dipakai penulis adalah kriteria yang telah
dikembangkan sendiri dari berbagai literatur yang ada, seperti kriteria yang
dipakai Vita Anggreni (2007) ,Zaki Baridwan, Mas’ud Machfoedz dan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Michael G Tearney (2001) dan telah disesuaikan dengan PSAK oleh IAI dan
Bapepam sebagai dasar dari penelitian.
Skor dalam kriteria pengungkapan yang dipakai penulis antara 0 – 100,
jadi ada perbedaan 25 poin dengan skor yang dipakai oleh Yuniati Gunawan.
Dalam penelitiannya Yuniati Gunawan menyatakan bahwa keterbatasan
penelitiannya terletak pada kriteria pengungkapan yang digunakan yakni
Indeks disclosure Botosan (1997) yang mengacu untuk penelitian di Amerika
dan kurang relevan dengan keadaan perekonomian dan industri perusahaan di
Indonesia, sedangkan kriteria yang dipakai penulis lebih relevan dengan
keadaan di Indonesia.
Tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik sebesar 73, 88
dan 78,84 untuk sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam dapat
dikatakan cukup baik namun belum bisa dikatakan baik, hal ini dikarenakan
kebanyakan pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan emiten yang
menjadi sampel masih lebih berkonsentrasi pada informasi keuangan.
Dari sisi latar belakang perusahaan rata-rata perusahaan sampel
mengungkapkannya dengan berbagai macam variasi, mereka cenderung
memberikan informasi mengenai keadaan bisnis dan produknya, hanya
beberapa perusahaan saja yang secara jelas memberikan informasi menyeluruh
seperti bagaimana iklim persaingan yang dihadapi serta keadaan pasar /
pangsa pasar perusahaan.
Dari sisi pengungkapan mengenai iktisar data keuangan penting, peraturan
Bapepam baik kep-38/PM/1996 maupun kep-134 /BL/2006 mewajibkan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
setiap perusahaan memberikan / menyajikannya selama 5 tahun terakhir atau
sejak memulai usahanya. Pemberian informasi tersebut dari hasil penjualan
atau pendapatan sampai rasio keuangan yang diperlukan menurut jenis
industri masing-masing. Dalam perusahaan sampel tampak bahwa rata-rata
sebagian besar perusahaan sudah memberikan informasi mengenai iktisar
data keuangan penting selama 5 tahun terakhir, namun masih ada perusahaan
yang hanya memberikan informasi pendapatannya saja tanpa adanya rasio
keuangan yang sebenarnya cukup signifikan untuk diuangkapkan.
Dari sisi informasi non-keuangan , pemberian informasi non-keuangan
oleh perusahaan sampel masih sangat kurang. Hanya beberapa perusahaan
yang memberikan informasi menyangkut harga jual produk, jumlah penjualan
unit produk atau mengenai market share . Pengungkapan
yang seperti ini
pada umumnya dijumpai pada perusahaan jasa.
Informasi mengenai masa depan perusahaan terasa sangat kurang
diungkapkan oleh perusahaan-perusahaan sampel , padahal informasi
mengenai masa depan perusahaan memegang peranan yang sangat penting
bagi going concern perusahaan. Informasi ini menggambarkan bagaimana
kepercayaan diri perusahaan dalam membawa misi dan visinya kedepan.
Investor maupun calon investor akan membandingkan antara apa yang bisa
dicapai dan apa yang sudah ditargetkan untuk dicapai . Pencapaian target
merupakan gambaran performance perusahaan secara keseluruhan yang bisa
ditunjukkan melalui informasi ramalan market share , arus kas, pengeluaran
modal, keuntungan, dan penjualan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Banyak perusahaan sampel yang sama sekali tidak memberikan informasi
mengenai target ataupun ramalan perusahaan yang hendak dicapai dimasa
depan, beberapa perusahaan memberikan informasi sebatas prediksi penjualan
atau market share saja. Padahal kebutuhan informasi mengenai masa depan
perusahaan tidak bisa dipenuhi dengan hanya melihat data keuangan saja.
Disisi analisis dan pembahasan umum oleh manajemen tidak semua
perusahaan sampel memberikan informasi yang telah ditetapkan oleh
Bapepam yaitu uraian singkat yang membahas dan menganalisa laporan
keuangan dan informasi lain yang dianggap cukup material pada bagian
analisis dan pembahasan umum oleh manajeman. Beberapa item juga
disebutkan sebagai contoh, seperti misalnya bahasan dan analisis tentang
informasi keuangan yang telah dilporkan, bahasan tentang perubahan harga
terhadap penjualan dan lain sebagainya.
Beberapa dari perusahaan sampel memberikan informasi pada bagian
penjelasan awal mengenai perusahaan dan manajemen. Beberapa perusahaan
yang lain bahkan sama sekali tidak memberikan informasi tersebut dan tidak
mempunyai bagian bahasan mengenai analisis dan pembahasan umum oleh
manajemen.
Banyak perusahaan yang belum familiar
dengan bagian analisis dan
pembahasan umum oleh manajemen. Mereka cenderung mengungkapakan
beberapa account keuangan yang cukup signifikan pada bagian sambutan oleh
dewan direksi taua komisaris, atau memberikan data perubahan angka masingmasing account tersebut pada bagian catatan atas laporan keuangan , tanpa
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
adanya pembahasan yang cukup pada bagian analisis dan pembahasan umum
oleh manajemen. Informasi yang banyak diungkapkan pada bagian ini adalah
perubahan penjualan , perubahan laba bersih, perubahan laba operasi,
perubahan laba kotor , dan perubahan biaya operasi.
Perubahan-perubahan yang jarang sekali diungkapkan antara lain
perubahan pengeluaran modal, biaya riset dan pengembangan , dan perubahan
marketshare. Sedangkan beberapa perubahan yang sering diungkapkan adalah
perubahan aktiva, likuiditas, dan equitas.
Informasi mengenai non keuangan dan informasi perusahaan pada masa
yang akan datang seperti informasi mengenai hal-hal yang ingin dicapai
perusahaan dimasa depan, perkembangan perusahaan dan lain sebagainya
belum banyak diungkapkan. Hal ini mungkin disebabkanoleh cost yang tinggi
yang akan ditanggung manajemen seperti yang dikatakan oleh Vita Anggreni
(2007) dalam penelitiannya. Cost
yang dimaksut adalah kerugian yang
dialami akibat pengungkapan yang dilakukan , seperti misalnya, dengan
adanya pengungkapan penuh menyebabkan timbulnya free riding . Bisa saja
dengan adanya pengungkapan tersebut strategi perusahaan akan ditiru atau
dicuri oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang akan sangat
merugikan pihak manajemen perusahaan.
b. Likuiditas
Untuk laporan tahunan sebelum perubahan peraturan Bapepam likuiditas
secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan bahwa perubahan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
yang ditunjukkan oleh likuiditas tidak diikuti oleh perubahan tingkat
pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil regresi
yang menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk likuiditas sebesar 1,044 dengan
nilai signifikansi 0,307 (tidak signifikan) yang berarti secara parsial variabel
likuiditas tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan.
Hasil penelitian ini sama seperti hasil penelitian Yuniati Gunawan (2001)
yang menyatakan likuiditas tidak mempengaruhi tingkat pengungkapan
laporan tahunan .
Secara
simultan
likuiditas
bersama-sama
dengan
solvabilitas,
profitabilitas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan secara bersama-sama (simultan) tidak diikut i oleh
perubahan tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat
dari hasil regresi yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk likuiditas
sebesar 1,431 dengan nilai signifikansi 0,256 (tidak signifikan) yang berarti
secara simultan variabel likuiditas bersama-sama dngan solvabilitas,
profitabilitas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan.
Untuk laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam likuiditas
secara parsial mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan
tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan bahwa perubahan yang
ditunjukkan oleh likuiditas diikuti oleh perubahan tingkat pengungkapan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil regresi yang
menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk likuiditas sebesar 2,899 dengan nilai
signifikansi 0,007 (signifikan) yang berarti secara parsial variabel likuiditas
berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan setelah
perubahan peraturan Bapepam.
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Wallace
(1994) yang dikuti oleh Yusniati Gunawan (2001) yang menyatakan kesehatan
perusahaan yang dicerminkan dengan tingginya rasio likuiditas (diukur
dengan current rasio) berhubungan dengan luasnya tingkat pebngungkapan
laporan tahunan.
Secara
simultan
profitabilitas,
dan
likuiditas
ukuran
bersama-sama
perusahaan
dengan
berpengaruh
solvabilitas,
terhadap
tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan secara bersama-sama (simultan) diikuti oleh perubahan
tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil
regresi yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk likuiditas sebesar 2,780
dengan nilai signifikansi 0,045 (signifikan) yang berarti secara simultan
variabel likuiditas bersama-sama dngan solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran
perusahaan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan.
c. Solvabilitas
Untuk laporan tahunan sebelum perubahan peraturan Bapepam solvabilitas
secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
laporan tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan bahwa perubahan
yang ditunjukkan oleh solvabilitas tidak diikuti oleh perubahan tingkat
pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil regresi
yang menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk solvabilitas sebesar 1,567
dengan nilai signifikansi 0,131 (tidak signifikan) yang berarti secara parsial
variabel solvabilitas tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan. Hal ini bertentangan dengan pendapat Wallace (1994) dan
Yuniati Gunawan (2001) yang menyatakan semakin tinggi tingkat rasio
hutang terhadap total aktiva semakin luas pengungkapan
informasi yang
dilakukan perusahaan pada laporan tahunannya.
Secara
simultan
solvabilitas
bersama-sama
dengan
likuiditas,
profitabilitas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan secara bersama-sama (simultan) tidak diikut i oleh
perubahan tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat
dari hasil regresi yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk solvabilitas
sebesar 1,431 dengan nilai signifikansi 0,256 (tidak signifikan) yang berarti
secara simultan variabel solvabilitas bersama-sama dengan likuiditas,
profitabilitas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan.
Untuk laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam solvabilitas
secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
laporan tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan bahwa perubahan
yang ditunjukkan oleh likuiditas tidak diikuti oleh perubahan tingkat
pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil regresi
yang menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk solvabilitas sebesar -0,114
dengan nilai signifikansi 0,910 (tidak signifikan) yang berarti secara parsial
variabel solvabilitas tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam.
Secara
simultan
profitabilitas,
dan
solvabilitas
ukuran
bersama-sama
perusahaan
dengan
berpengaruh
likuiditas,
terhadap
tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan secara bersama-sama (simultan) diikuti oleh perubahan
tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil
regresi yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk solvabilitas sebesar
2,780 dengan nilai signifikansi 0,045 (signifikan) yang berarti secara simultan
variabel solvabilitas bersama-sama dengan likuiditas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan
tahunan.
d.Profitabilitas
Untuk
laporan
tahunan
sebelum
perubahan
peraturan
Bapepam
profitabilitas secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan oleh Profitabilitas tidak diikuti oleh
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
perubahan tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat
dari hasil regresi yang menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk Profitabilitas
sebesar 0,406 dengan nilai signifikansi 0,689 (tidak signifikan) yang berarti
secara parsial variabel Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan.
Secara
simultan
profitabilitas
bersama-sama
dengan
likuiditas,
solvabilitas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan secara bersama-sama (simultan) tidak diikut i oleh
perubahan tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat
dari hasil regresi yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk profitabilitas
sebesar 1,431 dengan nilai signifikansi 0,256 (tidak signifikan) yang berarti
secara
simultan
variabel
profitabilitas
bersama-sama
dengan
likuiditas,solvabilitas, dan ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap
tingkat pengungkapan laporan tahunan.
Untuk laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam profitabilitas
secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan bahwa perubahan
yang ditunjukkan oleh profitabilitas tidak diikuti oleh perubahan tingkat
pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil regresi
yang menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk profitabilitas sebesar -1,136
dengan nilai signifikansi 0,265 (tidak signifikan) yang berarti secara parsial
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
variabel profitabilitas tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam.
Secara
solvabilitas,
simultan
dan
profitabilitas
ukuran
bersama-sama
perusahaan
berpengaruh
dengan
likuiditas,
terhadap
tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan secara bersama-sama (simultan) diikuti oleh perubahan
tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil
regresi yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk likuiditas sebesar 2,780
dengan nilai signifikansi 0,045 (signifikan) yang berarti secara simultan
variabel profitabilitas bersama-sama dengan likuiditas, solvabilitas, dan
ukuran perusahaan berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan
tahunan.
e. Ukuran Perusahaan
Untuk laporan tahunan sebelum perubahan peraturan Bapepam ukuran
perusahaan secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan oleh ukuran perusahaan tidak diikuti oleh
perubahan tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat
dari hasil regresi yang menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk ukuran
perusahaan sebesar 0,516 dengan nilai signifikansi 0,611 (tidak signifikan)
yang berarti secara parsial variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Secara simultan ukuran perusahaan bersama-sama dengan likuiditas,
solvabilitas,
dan
profitabilitas
tidak
berpengaruh
terhadap
tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan
ukuran perusahaan secara bersama-sama (simultan) tidak diikut i oleh
perubahan tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat
dari hasil regresi yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk profitabilitas
sebesar 1,431 dengan nilai signifikansi 0,256 (tidak signifikan) yang berarti
secara
simultan
variabel
ukuran
perusahaan
bersama-sama
dengan
likuiditas,solvabilitas, dan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan.
Untuk laporan tahunan setelah perubahan peraturan Bapepam ukuran
perusahaan secara parsial tidak mempunyai pengaruh terhadap tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik, hal ini mengindikasikan
bahwa perubahan yang ditunjukkan oleh ukuran perusahaan tidak diikuti oleh
perubahan tingkat pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat
dari hasil regresi yang menunjukkan bahwa nilai t hitung untuk ukuran
perusahaan sebesar -0,440 dengan nilai signifikansi 0,663 (tidak signifikan)
yang berarti secara parsial variabel ukuran perusahaan tidak berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan setelah perubahan peraturan
Bapepam.
Secara simultan ukuran perusahaan bersama-sama dengan likuiditas,
solvabilitas, dan profitabilitas berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
laporan tahunan perusahaan publik. Hal ini mengindikasikan bahwa
perubahan yang ditunjukkan likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran
perusahaan secara bersama-sama (simultan) diikuti oleh perubahan tingkat
pengungkapan laporan tahunan . Keadaan ini dapat dilihat dari hasil regresi
yang menunjukkan bahwa nilai f hitung untuk likuiditas sebesar 2,780 dengan
nilai signifikansi 0,045 (signifikan) yang berarti secara simultan variabel
ukuran perusahaan bersama-sama dengan likuiditas, solvabilitas, dan
profitabilitas berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan.
C. Keterbatasan Penelitian
Adapun keterbatasan yang ada dalam penelitian ini , antara lain : sampel
perusahaan yang masih relatif sedikit, hal ini dilakukan penulis karena adanya
kriteria yang menetapkan batas pengumpulan data sampai tanggal 30 April 2008
sesuai dengan ketetapan yang telah ditetapkan oleh Bapepam yaitu batas akhir
pengumuman laporan tahunan perusahaan kepada publik melalui Bursa Efek
Indonesia sementara banyak perusahaan yang belum mempublikasikan laporan
tahunannya kepada publik melalui Bursa Efek Indonesia
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyajikan bukti empiris mengenai
ada tidaknya perbedaan tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
sebelum dan setelah perubahan peraturan Bapepam mengenai kewajiban
penyampaian laporan tahunan dari kep-38/PM/1996 menjadi kep-134/BL/2006
serta apakah variabel likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan
baik
secara
parsial
maupun
simultan
mempengaruhi
besarnya
tingkat
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik sebelum dan setelah perubahan
peraturan Bapepam.
Dari analisis yang dilakukan oleh peneliti, ada beberapa kesimpulan yang
dapat dikemukakan, yaitu :
1. Hasil analisis menunjukkan bahwa perubahan peraturan Bapepam dari kep38/PM/1996 menjadi kep-134/BL/2006 tidak memberikan perbedaan yang
signifikan terhadap tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan public,
perubahan hanya terjadi sekitar 4,96 %
2. Likuiditas sebelum perubahan peraturan Bapepam secara parsial tidak
mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
3. Likuiditas setelah perubahan peraturan Bapepam secara parsial mempengaruhi
tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
4. Solvabilitas sebelum perubahan peraturan Bapepam secara parsial tidak
mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
5. Solvabilitas setelah perubahan peraturan Bapepam secara parsial tidak
mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
6. Profitabilitas sebelum perubahan peraturan Bapepam secara parsial tidak
mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
7. Profitabilitas setelah perubahan peraturan Bapepam secara parsial tidak
mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
8. Ukuran perusahaan sebelum perubahan peraturan Bapepam secara parsial
tidak mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik
9. Ukuran perusahaan setelah perubahan peraturan Bapepam secara parsial tidak
mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
10. Likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan secara simultan
tidak mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan
publik sebelum perubahan peraturan Bapepam
11. Likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan ukuran perusahaan secara simultan
mempengaruhi tingkat pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik
setelah perubahan peraturan Bapepam.
B.Saran
1. Perusahaan-perusahaan
publik
lebih
mau
mengungkapkan
keadaan
perusahaannya terutama mengenai informasi non keuangan dan hal-hal yang
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
ingin dicapai dimasa yang akan datang serta lebih mau menaati peraturan
Bapepam no : kep-134/Bl/2006 terutama mengenai tanggal batas akhir pengpublikasian laporan tahunan kepada masyarakat melalui Bursa Efek Indonesia,
karena laporan tahunan sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak sebagai sumber
informasi mengenai keadaan perusahaan.
2. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan mencari variabel independen lainnya
yang sesuai dan mempengaruhi secara signifikan dengan luasnya tingkat
pengungkapan laporan tahunan pada perusahaan publik di Indonesia , karena
masih terdapat variabel-variabel lain yang mempengaruhi luasnya tingkap
pengungkapan laporan tahunan perusahaan publik di Indonesia yang belum
dicakup dalam penelitian ini, hal ini tampak dari nilai R square yang masih
rendah baik sebelum perubahan peraturan Bapepam maupun setelah yang
masing-masing 1,199 dan 0,277 yang menunjukkan masih terdapat variabel
lain yang mempengaruhi luasnya pengungkapan yang belum dicakup dalam
penelitian ini.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,M.Faisal, 2005. Dasar-dasar Manajemen Keuangan, edisi kedua ,
Universitas Muhamadiyah , Malang.
Algifari, 1997. Analisis Statistik Untuk Bisnis Dengan Regresi , Korelasi, Dan
Nonparametrik, BPFE, Yogyakarta.
Amrullah, Suharli Michell, 2007. “Pengungkapan Wajib dan Sukarela Informasi
Laporan Tahunan Perusahaan Publik : Tinjauan Atas Karakteristik
Komite Audit (Studi Empiris pada BUMN), Manajemen Usahawan No.
6 Tahun xxx, VI Juni 2007”, Jakarta
Anggraini, Vita, 2007. “ Pengaruh Tingkat Disclosure dan Nilai Pasar Ekuitas
Terhadap Biaya Ekuitas”, Skripsi, Universitas Kristen Petra,
Surabaya.
Bapepam, 1996. Keputusan Kertua Badan Pengawas Pasar Modal No:Kep38/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996
Bapepam, 2006. Keputusan Kertua Badan Pengawas Pasar Modal No:Kep134/BL/2006 tanggal 7 Desember 2006
Belkaouli, Ahmad Riahi, 2002. Teori Akuntansi, Edisi 4 Jilid I, Salemba Empat,
Jakarta
Botosan. C,1997. Disclosure Level and The Cost of Equity Capital, The
Accounting Review, Vol : 72 no 3
Bungin, Burhan, 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif, Pranada Media, Jakarta
Erlina dan Mulyani Sri, 2007. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan
Manajemen, USU Press, Medan
Fony, Lie, 2005. ” Analisis Efek Luas Pengungkapan Sukarela Dalam Laporan
Tahunan Terhadap Cost Of Capital Perusahaan” , kripsi, Universitas
Kristen Petra, Surabaya
Ghozali, Imam, 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS,
Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Gitman,Lawrance.J, 2003. Principle of Managerial Finance, Ten edition, Pearson
education, inc.,United states.
Gunawan, Yuniati, 2001. “Analisis Pengungkapan Informasi Laporan Tahunan
pada Perusahaan yang Terdaftar di BEJ”, Simposium Nasional
Akuntansi VI
Hadi, Syamsul, 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif ,Ekonisia, Yogyakarta.
Halsef, Subramanyam, Wild, 2005. Analisis Laporan Keuangan, Buku I Salemba
Empat, Jakarta
________________________2005. Analisis Laporan Keuangan, Buku II
Salemba Empat, Jakarta
Harahap, Sofyan Syafri, 2006. Analisis Kritis atas Laporan Keuangan, Divisi
Buku Perguruan Tinggi , PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Jogianto, H.M,2004. Metodologi Penelitian Bisnis, BPFE Yogyakarta,
Yogyakarta.
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Kieso, Donald. E., Weygant, J.2005, Akuntansi Intermediate, Edisi Sebelas , Jilid
III, Erlangga, Jakarta
Komalasari, P.T., & Zaki Baridwan, 2001. Asimetri Informasi dan Cost of Equity
Capital, Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol I No 4
Kuncoro, Mudrajad.Phd, 2003. Metode Riset Untuk Bisnis Dan Ekonomi,
Erlangga, Jakarta
Murni, Siti Aisah, 2004. Pengaruh Luas Pengungkapan Sukarela Dan Asimetri
Informasi terhadap cost of capital pada perusahaan publik di
indonesia. Jurnal Riset Akuntansi di indonesia , Vol 7 no 2
Parnomosidi, Bambang , 2006. Praktik Pengungkapan Modal Intelektual Pada
Perusahaan Publik Di BEJ. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol 9
no 1
Sidarta, Anny, 2003. ” Pengaruh Kualitas Disclosure Terhadap Biaya Hutang”,
Skripsi, Universitas Kristen Petra, Surabaya
Senggupta, P, 1998. Corporate Disclosure Quality And The Cost Of Debt. The
Accounting Review, Vol 73 No 4.
Stice,Stice,Skousen,2004. Akuntansi Intermediate ,edisi lima belas,Jilid I ,
Salemba Empat,Jakarta
Sugiyono, 2004. Metode Penelitian Bisnis, Penerbit CV Alfabeta, Bandung.
Syahyunana, 2004. Manajemen Keuangan I (Perencanaan, Analisis dan
Pengendalian Keuangan), USU Press, Medan
Triton, P.B, 2006, SPSS 13.0. Terapan, Andi Yogyakarta, Yogyakarta,
Umar, Husein, 2003. Metode Riset Akuntansi Terapan, Penerbit Ghalia Indonesia,
Jakarta.
Van Horne, James C. Dan M.Jhon Wachowicz, 2005. Prinsip-Prinsip Manajemen
keuangan, Diterjemahkan oleh Aria Farahmita, Amanugrani, dan
Taufik Hendrawan, edisis kedua belas, PT.Salemba Empat, Buku Satu,
Jakarta.
Wahyudi, Sugeng, 2004. Pengaruh Umur Perusahaan Dan Ukuran Poerusahaan
Sebagai Assurance Tergadap Return Awal Saham. Jurnal Bisnis Dan
Akuntansi, Vol 6 No 2
Warsono, 2003. Manajemen Keuangan Perusahaan, Edisi ketiga, Jilid satu, Bayu
Media Publishing, Malang.
Widayat dan Amirullah, 2002. Riset Bisnis, Edisi Pertama, Penerbit Graha Ilmu,
Yogyakarta.
Yunita, Frency dan Juniarti, 2003. Pengaruh Tingkat Disclosure Terhadap Biaya
Ekuitas Pada Saham Bluechip, Jurnal Akuntansi dan Keuangan
November 2003/ Volume 5/ no 2
Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, 2004. Buku Petunjuk Teknis
Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi Jurusan
Akuntansi, Fakultas Ekonomi USU, Medan.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2004. Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit Salemba
Empat, Jakarta
www.idx.co.id, download tanggal 2 februari 2008 sampai tanggal 5 mei 2008
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Tiurmaida Sinaga : Perbandingan Tingkat Pengungkapan Laporan Tahunan Perusahaan Publik Sebelum dan
Setelah Perubahan Peraturan BAPEPAM Mengenai Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan, 2008.
USU Repository © 2009
Download