Chapter II

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Investasi
Investasi pada merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan
harapan untuk memperoleh keuntungan dimasa mendatang (Abdul Halim, 2005).
Pengertian investasi ini menekankan pada penempatan uang atau dana. Hal ini
erat kaitannya dengan penanaman investasi di bidang pasar modal. Tandelilin
(2003) berpendapat bahwa investasi dapat diartikan sebagai komitmen untuk
menanamkan sejumlah dana dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dimasa
mendatang.
Dengan
kata
lain,
investasi
merupakan
komitmen
untuk
mengorbankan konsumsi sekarang (sacrifice current consumption) dengan tujuan
untuk memperbesar konsumsi dimasa mendatang. Dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa tujuan investasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
investor secara moneter, yang bisa diukur dengan penjumlahan pendapatan saat
ini ditambah nilai saat ini pendapatan masa datang. Secara lebih khusus, ada
beberapa alasan mengapa seseorang melakukan investasi, antara lain adalah untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa mendatang, mengurangi tekanan
inflasi, dan karena dorongan untuk menghemat pajak (Tandelilin, 2001).
Menurut Abdul Halim (2005), umumnya investasi dibedakan menjadi dua,
yaitu:
1) Investasi pada aset-aset finansial yang dilakukan di pasar uang dan pasar
modal. Investasi pasar uang misalnya sertifikat deposito, surat berharga pasar
20
uang, dan lainnya. dan investasi pada aset-aset riil. Investasi di pasar modal,
misalnya dapat berupa saham, obligasi, opsi, dan lain-lain.
2) Investasi pada aset-aset riil dapat berbentuk pembelian aset produktif,
pendirian pabrik dan lainnya.
Investasi finansial disebut juga dengan pasar keuangan (financial market).
Terdapat beberapa cara untuk menggolongkan pasar keuangan, salah satu caranya
adalah berdasarkan jatuh temponya. Pasar keuangan untuk instrumen utang jangka
pendek disebut pasar uang (money market) dan untuk instrumen aktiva keuangan
dengan jatuh tempo yang lebih panjang disebut pasar modal (capital market).
Aktiva keuangan jangka pendek adalah instrumen yang jatuh temponya kurang
dari atau sama dengan satu tahun, sedangkan aktiva jangka panjang memiliki
masa jatuh tempo lebih dari satu tahun.
Dalam berinvestasi, terdapat lima proses investasi
yang saling
berkesinambungan. Proses investasi menunjukkan bagaimana seorang investor
seharusnya melakukan investasi dalam sekuritas. Menurut Frank J. Fabozzi
(1995), tanpa melakukan perbedaan terhadap investor institusional, proses
investasi meliputi lima langkah, yaitu:
1.
Menetapkan Sasaran Investasi
2.
Membuat Kebijakan Investasi
3.
Pemilihan Strategi Portofolio
4.
Pemilihan Aktiva
5.
Mengukur dan Mengevaluasi Kinerja
21
Proses investasi bersifat siklikal dimana kinerja dapat mengakibatkan
perubahan-perubahan sasaran kebijakan, strategi, dan komposisi portofolio.
2.2 Pasar Modal
Pasar modal merupakan konsep yang lebih sempit dari pasar keuangan
(investasi finansial). Pengertian pasar modal secara umum adalah suatu sistem
keuangan yang terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial
dan semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan surat-surat
berharga yang beredar. Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang
pasar modal mendefinisikan pasar modal sebagai kegiatan yang bersangkutan
dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang
berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang
berkaitan dengan efek. Dalam arti sempit pasar modal adalah suatu tempat yang
terorganisasi dimana surat berharga (efek-efek) diperdagangkan, yang kemudian
disebut bursa efek (stock exchange). Secara formal pasar modal dapat
didefenisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas)
jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk utang ataupun
modal sendiri, baik yang diterbitkan pemerintah, publik authorities, maupun
perusahaan swasta (Husnan, 2003). Dana jangka panjang berupa utang yang
diperdagangkan biasanya obligasi (bond), sedangkan dana jangka panjang yang
merupakan modal sendiri berupa saham biasa (common stock) dan saham preferen
(preferred stock). Dilihat dari pengertian akan pasar modal tersebut, maka jelaslah
bahwa pasar modal juga merupakan salah satu cara bagi perusahaan dalam
mencari dana dengan menjual hak kepemilikkan perusahaan kepada masyarakat.
22
Pasar modal terdiri dari pasar primer/perdana (primary market) dan pasar
sekunder (secondary market). Pasar primer adalah untuk surat-surat berharga yang
baru diterbitkan. Pada pasar ini dana berasal dari arus penjualan surat berharga
atau sekuritas baru dari pembeli sekuritas (investor) kepada perusahaan yang
menerbitkan sekuritas (emiten). Sedangkan pasar sekunder adalah pasar
perdagangan surat berharga yang sudah ada (sekuritas lama) di bursa efek. Uang
yang mengalir dari transaksi ini tidak lagi mengalir ke perusahaan penerbit efek
tetapi hanya mengalir dari pemegang sekuritas yang satu kepada pemegang
sekuritas yang lain.
Pasar modal merupakan penghubung para investor dengan perusahaan
ataupun institusipemerintah melalui perdagangan instrumen jangka panjang. Pasar
modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar
modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan
usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari
masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat
digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan
lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi
pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain.
Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai
dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrument. Menurut
Tandelilin (2001), ada dua fungsi pasar modal :
1.
Fungsi Ekonomi
23
Dalam melaksanakan fungsi ekonominya, pasar modal menyediakan
fasilitas untuk memindahkan dana dari lender (pihak yang mempunyai kelebihan
dana) ke borrower (pihak yang memerlukan dana). Pihak lenders mengharapkan
imbalan dari dana yang mereka investasikan, sementara bagi pihak borrowers,
dana dari lenders dapat memudahkan borrowers dalam menjalankan investasi
tanpa harus menunggu tersedianya dana dari hasil operasi perusahaan. Dalam
proses ini diharapkan akan terjadi peningkatan produksi yang akan mendorong
peningkatan kemakmuran.
2.
Fungsi Keuangan
Fungsi keuangan dilakukan dengan menyediakan dana yang diperlukan
oleh para borrowers dan para lenders menyediakan dana tanpa harus terlibat
langsung dalam kepemilikan aktiva riil yang diperlukan untuk investasi tersebut.
Secara
rinci,
menurut
Suad
Husnan
(1994)
faktor-faktor
yang
mempengaruhi keberhasilan pasar modal adalah :
a. Supply sekuritas
Faktor ini berarti harus banyak perusahaan yang bersedia menerbitan sekuritas
di pasar modal.
b. Demand akan sekuritas
Faktor ini berarti bahwa harus terdapat anggota masyarakat yang memiliki
jumlah dana yang cukup besar untuk dipergunakan membeli sekuritas-sekuritas
yang ditawarkan.
c. Kondisi politik dan ekonomi
24
Seperti yang sudah disebutkan pada bab 1, kondisi politik yang stabil akan ikut
membantu pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya mempengaruhi supply
dan demand akan sekuritas.
d. Masalah hukum dan peraturan
Pembeli sekuritas pada dasarnya mengandalkan diri pada informasi yang
disediakan
oleh
perusahaan-perusahaan
yang
menerbitkan
sekuritas.
Kebenaran informasi, karena itu sangat penting, disamping kecepatan dan
kelengkapan informasi. Peraturan yang melindungi pemodal dari informasi
yang tidak benar dan menyesatkan menjadi mutlak diperlukan.
e. Peran lembaga-lembaga pendukung pasar modal
Lembaga-lembaga seperti BAPEPAM, Bursa Efek, Akuntan publik, dan lainlain perlu untuk bekerja dengan profesional dan bisa diandalkan sehingga
kegiata emisi dan transakasi di bursa efek bisa berlangsung dengan cepat,
efisien dan terpercaya.
2.3 Saham
Saham adalah sertifikat yang menunjukkan bukti kepemilikan suatu
perusahaan dan pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva
perusahaan.Saham juga dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal
seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan
terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki
klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset perusahaan, dan berhak hadir
dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Saham merupakan salah satu
jenis sekuritas yang cukup populer diperjualbelikan di pasar modal karena saham
25
mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.Pada dasarnya, ada dua
keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham :
1. Dividen
Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan
dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan
setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS.
2. Capital Gain.
Investor dapat menikmati capital gain, jika harga jual melebihi harga beli
saham tersebut. Contoh: Investor A membeli saham PT. X, yang listing di Bursa
Efek, setahun yang lalu dengan harga Rp 3.500. Saat ini harga saham PT. X telah
meningkat menjadi Rp 3.750. Jika investor A menjual sahamnya pada harga
tersebut, maka ia akan menikmati Capital Gain atau keuntungan sebesar Rp 250
per saham (tanpa perhitungan pajak dan komisi).
Membeli suatu saham juga berarti mempunyai risiko lebih tinggi
dibandingkan dengan membeli instrumen investasi derivatif lain (Husnan, 1998).
Sebagai instrumen investasi, saham memiliki risiko antara lain :
1. Capital Loss
Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor
menjual saham lebih rendah dari harga beli.
2. Risiko Likuidasi
Merupakan keadaan perusahaan yang dinyatakan bangkrut oleh pengadilan, atau
perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham
mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi
26
(dari hasil penjualan kekayaan perusahaan).Namun jika tidak terdapat sisa
kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari
likuidasi tersebut.
3. Tidak ada pembagian dividen
Jika emiten tidak dapat membukukan laba pada tahun berjalan atau Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada
pemegang saham karena laba yang diperoleh akan dipergunakan untuk ekspansi
usaha.
2.4 Return dan Risiko Saham
Telah disebutkan diatas bahwa hal mendasar dalam proses keputusan
investasi adalah pemahaman hubungan antara return yang diharapkan dan risiko
suatu investasi. Dua konsep ini, risiko maupun return, bagaikan dua sisi mata
uang yang selalu berdampingan. Artinya dalam berinvestasi, di samping
menghitung return yang diharapkan, investor harus memperhatikan risiko yang
harus ditanggungnya. Hubungan risiko dan return yang diharapkan dari suatu
investasi merupakan hubungan yang searah dan linier (Tandelilin, 2001). Artinya
semakin besar risiko yang harus ditanggung, semakin besar pula tingkat return
yang diharapkan. Hubungan seperti itulah yang menjawab pertanyaan mengapa
tidak semua investor hanya berinvestasi pada aset yang menawarkan tingkat
return yang paling tinggi.
2.4.1 Return Saham
Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa
return realisasi yang sudah terjadi atau return ekspektasi yang belum terjadi tetapi
27
yang diharapkan akan terjadi di masa mendatang. Return realisasi (realized
return) merupakan return yang telah terjadi. Return realisasi dihitung berdasarkan
data historis. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu
pengukur kinerja dari perusahaan. Return histori ini juga berguna sebagai dasar
penentuan return ekspektasi (expected return) di masa datang. Return ekspektasi
(expected return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di
masa datang. Berbeda dengan return realisasi yang sifatnya sudah terjadi, return
ekspektasi sifatnya belum terjadi.
2.4.2 Risiko Saham
Menurut kamus, risiko merupakan kerugian yang dihadapi. Sehubungan
dengan investasi, para investor menggunakan berbagai defenisi untuk menjelaskan
makna risiko. Markowitz mengubah pandangan kaum investor mengenai risiko
dengan jalan memperkenalkan konsep risiko secara kuantitatif. Beliau
mendefenisikan risiko sebagai ukuran statistika yang disebut varians. Secara
khusus, Markowitz mengkuantifisir risiko sebagai varians pengembalian
diharapkan aktiva.
Risiko sering dihubungkan dengan penyimpangan atau deviasi dari
outcome yang diterima dengan yang diekspektasi. Van Horne dan Wachowics, Jr.
(1992) mendefenisikan risiko sebagai variabilitas return terhadap return yang
diharapkan. Untuk menghitung risiko, menurut Suad Husnan (1998) metode yang
banyak digunakan adalah deviasi standar (standar deviation) yang mengukur
absolut penyimpangan nilai-nilai yang sudah terjadi dengan nilai ekspektasinya.
Deviasi standar dan varians memiliki konsep yang sama, yaitu semakin besar
28
varians atau deviasi standar, semakin besar risiko investasi. Risiko terbagi dua,
yaitu risiko yang bisa dihilangkan dengan diversifikasi disebut risiko tidak
sistematis dan risiko yang selalu ada dan tidak bisa dihilangkan dengan
diversifikasi disebut risiko sistematis.
Karena ada sebagian risiko yang bisa dihilangkan dengan diversifikasi,
maka dalam suatu portofolio ukuran risiko sekarang bukan lagi deviasi standar
(risiko total) melainkan risiko yang tidak bisa dihilangkan dengan diversifikasi.
Karena para investor umumnya tidak menginvestasikan semua dananya pada satu
saham, mereka melakukan diversifikasi, mereka hanya akan berminat terhadap
pengaruh masing-masing saham pada risiko portofolio mereka. Menurut Suad
Husnan (1994) risiko dari portofolio yang didiversifikasikan secara baik
tergantung pada risiko pasar dari masing-masing saham yang dimasukkan dalam
portofolio tersebut. Artinya, jika investor ingin membentuk portofolio yang
mempunyai risiko rendah, maka saham-saham yang dipilih bukanlah sahamsaham yang mempunyai deviasi standar yang rendah, tetapi saham-saham yang
mempunyai covariance dengan portofolio yang rendah. Kalau portofolio tersebut
mewakili semua kesempatan investasi yang ada, dengan proporsi sesuai dengan
bobot investasi-investasi tersebut, maka portofolio tersebut disebut sebagai
portofolio pasar. Dalam kenyataanya, membentuk portofolio yang terdiri dari
semua kesempatan investasi adalah sulit. Karena itu, digunakan suatu wakil
(proxy) yang terdiri dari sejumlah besar saham atau indeks pasar. Di Bursa Efek
Jakarta digunakan Indeks Harga Saham Gabungan.
29
2.5 Beta
Untuk mengetahui sumbangan suatu saham terhadap risiko suatu
portofolio yang didiversifikasi dengan baik, kita harus mengukur kepekaan saham
tersebut terhadap perubahan pasar. Kepekaan tingkat keuntungan terhadap
perubahan-perubahan pasar disebut sebagai beta investasi. Risiko sistematik
merupakan hal penting yang dipertimbangkan investor sebelum melakukan
keputusan
investasi.
Hal
ini
penting
karena
merupakan
dasar
untuk
memperkirakan besarnya risiko maupun return investasi dimasa depan. Ukuran
relatif risiko sistematik dikenal sebagai koefisien β (beta) yang menunjukkan
ukuran risiko relatif suatu saham terhadap portofolio pasar. Menurut Jogiyanto
(1998) beta merupakan ukuran volatilities return saham terhadap return pasar.
Semakin besar fluktuasi return saham terhadap return pasar maka semakin besar
pula beta saham tersebut. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil fluktuasi
return saham terhadap return pasar, semakin kecil pula beta saham tersebut.
Menurut Husnan (2001) penilaian terhadap Beta (β) sendiri dapat dikategorikan
ke dalam tiga kondisi yaitu:
1. Apabila β = 1, berarti tingkat keuntungan saham i berubah secara proporsional
dengan tingkat keuntungan pasar. Ini menandakan bahwa risiko sistematis
saham i sama dengan risiko sistematis pasar.
2. Apabila β > 1, berarti tingkat keuntungan saham i meningkat lebih besar
dibandingkan dengan tingkat keuntungan keseluruhan saham di pasar. Ini
menandakan bahwa risiko sistematis saham i lebih besar dibandingkan dengan
30
risiko sistematis pasar, saham jenis ini sering juga disebut sebagai saham
agresif.
3. Apabila β < 1, berarti tingkat keuntungan saham i meningkat lebih kecil
dibandingkan dengan tingkat keuntungan keseluruhan saham di pasar. Ini
menandakan bahwa risiko sistematis saham i lebih kecil dibandingkan dengan
risiko sistematis pasar, saham jenis ini sering juga disebut sebagai saham
defensif.
Dengan memperkirakan perilaku koefisien beta dari waktu ke waktu, maka
investor dapat memperkirakan besarnya risiko sistematik dimasa depan. Suad
Husnan (1994) menjelaskan bahwa beta tidak lain adalah merupakan koefisien
dua variabel, yaitu kelebihan tingkat keuntungan portofolio pasar (excess return of
market portofolio) dan kelebihan keuntungan suatu saham (excess return of
market portofolio). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, risiko yang
sistematik tidak dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio dalam suatu
investasi. Oleh karena itu, bagi seorang investor risiko tersebut menjadi lebih
relevan untuk dipertimbangkan dalam memilih kombinasi saham dalam portofolio
yang dibentuknya. Sehingga untuk menentukan tingkat keuntungan yang
disyaratkan atau diharapkan (Expected Return) terhadap suatu saham, maka harus
dikaitkan dengan risiko sistematik (yang tidak terhindarkan) dari saham yang
bersangkutan.
2.6 Model Indeks Tunggal
William Sharpe (dalam Jogiyanto, 2000) mengembangkan model yang
disebut model indeks tunggal. Model ini dapat digunakan untuk menyederhanakan
31
perhitungan di model Markowitz dengan menyediakan parameter-parameter input
yang dibutuhkan di dalam perhitungan model Markowitz. Adapun parameterparameter input untuk menganalisis portofolio menggunakan model Markowitz
adalah return ekspektasi (E(Ri)), varian dari sekuritas (σi2) dan kovarian antar
sekuritas (σij).
Model indeks tunggal (single index model) mengasumsikan bahwa return
antara dua efek atau lebih akan berkorelasi yaitu bergerak bersama dan
mempunyai reaksi yang sama terhadap satu faktor atau indeks tunggal yang
dimasukkan dalam model (Abdul Halim, 2005). Secara khusus dapat diamati
bahwa kebanyakan saham cenderung mengalami kenaikan harga jika indeks harga
saham naik. Kebalikannya juga benar, yaitu jika indeks harga saham turun,
kebanyakan saham akan mengalami penurunan harga. Faktor atau indeks tersebut
adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan dasar ini, return dari
suatu sekuritas dan return dari indeks pasar yang umum dapat dituliskan sebagai
hubungan:
Ri = ai + βi . RM
(2.1)
dimana:
Ri
= return sekuritas ke-i,
ai
= suatu variabel acak yang menunjukkan komponen dari return sekuritas
ke-i yang independen terhadap kinerja pasar,
βi
= beta yang merupakan koefisien yang mengukur perubahan Ri akibat dari
perubahan RM
RM
= tingkat return dari indeks pasar, juga merupakan suatu variabel acak.
32
Persamaan tersebut hanyalah memecah tingkat keuntungan suatu saham
menjadi dua bagian, yaitu yang independen dari perubahan pasar dan yang
dipengaruhi oleh pasar. βi menunjukkan kepekaan tingkat keuntungan suatu
saham terhadap keuntungan indeks pasar. βi sebesar 2 berarti bahwa kalau terjadi
kenaikan (penurunan) tingkat keuntungan indeks pasar sebesar 10 % maka akan
terjadi kenaikan (penurunan) Ri sebesar 20 %. Variabel ai merupakan komponen
return yang tidak tergantung pada perubahan indeks pasar. Variabel ai dapat
dipecah menjadi nilai yang diekspektasi (expected value) αi dan kesalahan residu
(residual error) ei sebagai berikut:
ai = αi + ei
(2.2)
subtitusikan persamaan di atas ke dalam rumus di (2.1), maka akan didapatkan
persamaan model indeks tunggal sebagai berikut:
Ri = αi + βi . RM + ei (2.3)
Dimana:
αi
= nilai ekspektasi dari return sekuritas yang independen terhadap return
pasar,
ei
= kesalahan residu yang merupakan variabel acak dengan nilai
ekspektasinya sama dengan nol atau E(ei) = 0.
2.7 Kondisi Bullish dan Kondisi Bearish
Bullish adalah suatu kondisi dimana pasar saham sedang mengalami tren
naik atau menguat. Kenaikan pasar saham ini dapat dipengaruhi oleh kondisi
ekonomi seperti sektor usaha dan bisnis berkembang, tingkat pendapatan
perkapita naik dan pertumbuhan laba perusahan yang meningkat. Bullish juga
33
dapat diartikan sebagai kondisi ketika investor percaya bahwa harga saham akan
meningkat dari waktu ke waktu. Bearish adalah suatu kondisi dimana pasar saham
sedang mengalami tren turun atau melemah. Penurunan pasar saham ini
dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang melambat bahkan turun dari tahun
sebelumnya, tingkat pengangguran bertambah, defisit neraca perdagangan, laba
perusahaan yang tumbuh negatif dan faktor lainnya. Clinebell (1993) memberikan
beberapa alternatif defenisi pasar bullish dan bearish dari beberapa literatur ,
yaitu:
1. Bull and Bear (BB), yaitu bulan dimana harga saham-saham meningkat
dikelompokkan sebagai bullish, sedangkan sebaliknya bulan dimana hargaharga saham turun diartikan sebagai bearish. klasifikasi ini sensitif terhadap
kecenderungan pasar.
2. Up and Down Markets (UD). Bulan-bulan dimana tingkat return pasar
menunjukkan nilai negatif dikelompokkan sebagai down markets. Up markets
adalah bulan dimana tingkat return pasar tidak menunjukkan nilai negative
(nonnegative). pendekatan ini mengabaikan kecenderungan pasar dan
memperlakukan setiap bulan secara independen.
3. Substantial Up and Down Months (SUD). Pendekatan ini menggunakan ukuran
standar deviasi return pasar sebagai pembatas antara substansial up movement
dan substansial down movement.
Dalam istilah Indonesia Bullish/UpTrend disebut dengan trend naik, sementara
Bearish/Downtrend disebut sebagai tren turun.
34
2.8 Penelitian Terdahulu
Berikut ini adalah beberapa penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan
dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dan merupakan acuan atau
pembanding dengan penelitian yang akan dilakukan :
Tabel 2.8
Ringkasan Hasil Penelitian Terdahulu
NO Nama Peneliti
Judul Penelitian
Metode
1
Reza
Ghazarma,
Adlyn
Kamaruddin
dan Leonita
Putri (2013)
Analisis beta
pada pasar
bullish dan
pasar bearish
Uji F
2
Uung Kusneri
(2002)
Uji beda
3
Daniel
Ngantu
Rahina (2003)
Beta saham
LO45: suatu
perbandingan
pada periode
bullish dan
periode bearish
untuk sahamsaham yang
tercatat di BEJ
Analisis
pengaruh
ukuran
perusahaan dan
beta terhadap
return saham
LQ45 pada
pasar bullish
dan bearish di
BEJ periode
1997-1999
4
Parvez
Ahmed dan
Larry J.
Lockwood
Changes in
factor betas and
risk premiums
over varying
Regresi
dan uji
beda
Regresi
crosssectional
Hasil Penelitian
Beta yang dihitung dengan
time varying riskmarket
model dengan membedakan
kondisi pasar bullish dan
pasar bearish lebih bisa
menjelaskan return saham
dibandingkan dengan
constant riskmarket model
Terdapat perbedaan yang
signifikan antara beta saham
pada kondisi bullish dan beta
saham pada kondisi bearish
Terdapat pengaruh signifikan
negatif dari ukuran
perusahaan dan signifikan
positif dari risiko sistematik
(beta) terhadap return saham
dalam kondisi pasar bullish.
Tetapi dalam kondisi pasar
bearish, ukuran perusahaan
berpengaruh signifikan
positip dan risiko sistematik
(beta) berpengaruh signifikan
negatif terhadap return
saham
Faktor beta baik untuk inflasi
tak terduga dan premi risiko
gagal bayar berbeda secara
signifikan antara periode
35
5
(1998)
market
conditions
Eduardus
Tandelilin
(2001)
Beta Pada Pasar
Bullish dan
Bearish: Studi
Empiris di
Bursa Efek
Jakarta
Constant
risk
market
dan time
varying
risk
market
ekspansi dan kontraksi.
Selama pasar bullish, untuk
produksi industri dan
perubahan inflasi yang
diharapkan adalah signifikan,
sedangkan selama pasar
bearish, tak satu pun dari
faktor premi risiko yang
signifikan. Sebaliknya, untuk
periode bisnis ekspansi dan
kontraksi, hanya faktor premi
risiko yang dikaitkan dengan
perubahan inflasi yang
diharapkan yang signifikan.
Hasil penelitian
memperlihatkan bahwa beta
portofolio saham periode
bullish dan bearish lebih
mampu menjelaskan return
portofolio secara lebih
signifikan dibanding dengan
beta yang dihitung dengan
constant risk market
Sumber : Berbagai penelitian yang diolah.
2.9 Kerangka Konseptual
Risiko pasar berhubungan erat dengan perubahan harga saham jenis
tertentu atau kelompok tertentu yang disebabkan oleh antisipasi investor terhadap
perubahan return yang diharapkan. Untuk mengukur risiko ini dapat digunakan
beta (β) atau risiko sistematik yang menjelaskan return saham yang diharapkan.
Risiko sistematik merupakan hal penting yang dipertimbangkan investor sebelum
melakukan keputusan karena merupakan dasar untuk memperkirakan besarnya
risiko maupun return investasi dimasa depan. Beberapa hasil penelitian
mengungkapkan bahwa koefisien beta secara relatif cenderung statisioner
sepanjang waktu, khususnya untuk portofolio saham (Blume, 1971). Penelitian
lainnya mengemukakan bahwa risiko sistematis (beta) saham sebagai komponen
36
penting untuk mengestimasi tingkat pengembalian suatu saham tidak bersifat
stasioner dari waktu ke waktu, sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi pasar
yang terjadi. (Fabozzi dan Francis, 1977).
Penelitian ini berusaha mengkritik asumsi bahwa dalam mengestimasi
return suatu saham, beta saham yang digunakan sebagai proxy risiko sistematis
bersifat stasioner dengan cara mengestimasi beta secara terpisah pada kedua
kondisi pasar. Berdasarkan masalah tersebut, maka konsep dari kerangka
pemikiran penelitian ini adalah sebagai berikut:
Return Pasar Kondisi
Bullish di BEI
Return Pasar Kondisi
Bearish di BEI
Return Saham LQ45
Pada Kondisi Bullish
Return Saham LQ45
Pada Kondisi Bearish
Beta Kondisi
Bullish
Beta Kondisi
Bearish
Sumber: Dikembangkan untuk Penelitian ini.
2.10
Hipotesis
Hipotesis menyatakan jawaban sementara yang menjelaskan hubungan
antara dua variabel atau lebih. Berdasarkan latar belakang masalah, tinjauan
teoritis dan penelitian terdahulu maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1) Beta (β)
H0 : Tidak terdapat perbedaan antara beta pada masa bullish dan bearish.
H1 : Terdapat perbedaan antara beta pada masa bullish dan bearish.
37
Download