SURYA 79 Vol. 07, No. 03, Desember 2015

advertisement
KEJADIAN TEMPERTANTRUM DILIHAT DARI POLA ASUH DAN URUTAN ANAK
DALAM KELUARGA
Ihda Mauliyah
Dosen D3 Kebidanan STIKes Muhammadiyah Lamongan
ABSTRAK
Tempertantrum merupakan bagian pertumbuhan yang secara kejiwaan tunduk pada emosinya untuk
mendapatkan sesuatu yang diinginkan atau mencari perhatian orangtua dengan perilaku negatif.
Urutan anak dalam keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan tempertantrum.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan urutan anak dalam keluarga dengan
kejadian tempertantrum pada anak usia prasekolah (3-5 tahun).
Desain penelitian ini adalah Analitik Corelasional dengan pendekatan Cross Sectional. Metode
sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Sampel yang diambil sebanyak 46
responden di RA Bahrul Ulum Desa Blawi Kecamatan Karangbinangun Kabupaten Lamongan.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup. Setelah ditabulasi, data dianalisis
menggunakan uji Koefisien Kontingensi dengan tingkat signifikasi 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak merupakan anak sulung yaitu 24
(52,2%), sebagian besar pola asuh orang tua negatif 25 (54,4%). sebagian besar anak mengalami
tempertantrum yaitu 26 (56,5%). Sedangkan dari hasil pengujian statistik diperoleh hasil ada
hubungan urutan anak dalam keluarga dengan kejadian tempertantrum pada anak usia prasekolah
dengan nilai signifikasi 0,030 (p < 0,05), dan ada hubungan pola asuh orang tua dengan kejadian
tempertantrum pada anak usia prasekolah dengan nilai signifikasi 0,026 (p < 0,05)
Melihat hasil penelitian ini maka perlu adanya pengarahan kepada orangtua bagaimana
memberikan bimbingan kepada anak tanpa membedakan urutan anak dan memberikan pola asuh
yang benar sehingga anak tidak iri dengan saudara lainnya dan berperilaku tempertantrum.
Kata Kunci : Urutan Anak, Pola Asuh, Kejadian Tempertantrum
\
PENDAHULUAN
Emosi merupakan suatu keadaan atau
perasaan yang bergejolak pada diri individu
yang disadari dan diungkapkan melalui
wajah serta tindakan yang berfungsi sebagai
penyesuaian dari dalam diri seseorang
terhadap lingkungan untuk mencapai
kesejahteraan dan keselamatan individu.
Kemampuan untuk bereaksi secara emosional
sudah ada sejak bayi dilahirkan (Ernawulan,
2011).
Menurut Hurlock (1987) dalam
Ernawulan (2011), pada umumnya anak kecil
lebih emosional daripada orang dewasa
karena usia anak relatif muda dan belum
dapat mengendalikan emosinya. Dengan
meningkatnya usia anak, reaksi emosional
anak mulai kurang menyebar dan dapat lebih
dibedakan. Misalnya, anak menunjukkan
reaksi ketidaksenangan hanya dengan
menjerit dan menangis, kemudian reaksi
mereka berkembang menjadi perlawanan,
SURYA
melempar benda, mengejangkan tubuh, lari
menghindar dan bersembunyi.
Pada usia 2 – 5 tahun, karakteristik
emosional anak muncul pada ledakan
marahnya atau tempertantrum. Sikap ini
ditunjukkan untuk menampilkan tidak
senangnya, anak melakukan tindakan yang
berlebihan misalnya menangis, menjerit,
melemparkan benda, berguling, memukul
ibunya atau aktivitas besar lainnya. Pada usia
ini anak tidak memperdulikan akibat dari
perbuatannya, apakah merugikan orang lain
atau tidak. Selain itu, pada usia ini anak lebih
bersifat egosentris (Ernawulan, 2011).
Banyak ahli perkembangan anak menilai
bahwa tantrum adalah suatu perilaku yang
masih tergolong normal yang merupakan
bagian dari proses perkembangan, suatu
periode dalam perkembangan fisik, kognitif
dan emosi anak. Beberapa hal positif yang
bisa dilihat dari perilaku tantrum adalah
bahwa dengan tantrum anak ingin
mengekspresikan
individualitasnya,
mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan
79
Vol. 07, No. 03, Desember 2015
Kejadian Tempertantrum Dilihat dari Pola Asuh dan Urutan Anak Dalam Keluarga
rasa marah dan frustasi serta membuat orang
dewasa mengerti jika mereka bingung, lelah
atau sakit (Tasmin, 2010).
Pada penelitian Martin T.Stein yang
dikutip oleh Rudolph (2006: 144),
tempertantrum yang dilaporkan oleh orang
tua terjadi sebanyak 80% pada anak usia 2 –
4 tahun. Tantrum terjadi paling sedikit sekali
sehari sekitar 20% pada anak yang berusia 4
tahun. Tantrum yang sedang sampai berat
dilaporkan 5% terjadi pada anak yang berusia
3 tahun. Di bagian lain dunia, berdasarkan
survey epidemiologi telah dilaporkan
prevalensinya terhadap semua pasien anak
telah menunjukkan 1 (25%) diantara 4 anak
mengalami gangguan emosi dan perilaku
seperti tempertantrum (David Hull, 2008).
Fenomena seperti ini umum terjadi di banyak
negara seperti Kanada, Queensland, dan
Selandia Baru menunjukkan sekitar 5 – 7 %
anak mengalami tempertantrum (Fajar,
2007).
Di Indonesia sendiri, walau belum
ada angka yang pasti, namun dari jumlah
anak yang terlibat kejahatan hukum dan
kenakalan dapat diprediksikan sebanyak
4.000 tersangka berusia di bawah 16 tahun
diajukan ke pengadilan dan yang kasusnya
tidak sampai diajukan ke pengadilan lebih
banyak lagi. Pada tahun 2000, BAPAS (Balai
Permasyarakatan) mencatat bahwa di
Lampung setiap bulan terjadi 35 kasus anak
yang memiliki konflik dengan hukum, yang
berarti tiap tahun berjumlah 420 kasus.
Kejahatan yang mereka lakukan mulai dari
pencurian, pemerasan dan pengeroyokan
sampai penggunaan narkotika, pemerkosaan,
dan pembunuhan. Dan kebanyakan perilaku
antisosial ini merupakan lanjutan dari
kejadian tempertantrum pada masa balita.
(Lembaga Advokasi Anak – Damar
Lampung, 2002).
Berdasarkan survey awal pada bulan
Juli 2015, dari wawancara 10 ibu pada anak
usia pra sekolah (3 – 5 tahun) yang dilakukan
di RA Bahrul Ulum Desa Blawi Kecamatan
Karangbinangun
kabupaten
Lamongan,
didapatkan bahwa 6 ibu (60 %) mengaku
anaknya suka memaksakan kehendak.
Apabila anak menginginkan sesuatu dan
tidak dituruti, dia akan marah sambil
menangis, kadang sambil merusak barang
yang ada di sekitarnya. Beberapa diantaranya
mengatakan anaknya juga sangat ringan
tangan, dia akan memukul atau mendorong
SURYA
teman atau saudaranya jika mainannya
dipinjam. Sedangkan 4 ibu (40%) mengaku
anaknya tidak suka memaksakan kehendak,
tidak pernah marah, menagis dan merusak
barang apabila keinginannya tidak dituruti,
tidak pernah mendorong dan memukul teman
mainnya. Jadi, masalah dalam penelitian ini
adalah masih banyaknya anak yang
berperilaku tempertantrum di RA Bahrul
Ulum
desa
Blawi
kecamatan
Karangbinangun kabupaten Lamongan.
Beberapa
faktor
penyebab
tempertantrum yaitu faktor keluarga, faktor
kondisional, faktor biologis individu dan
faktor lingkungan. Faktor kondisional yang
dapat menyebabkan tempertantrum meliputi
terhalangnya keinginan anak mendapatkan
sesuatu,
ketidakmampuan
anak
mengungkapkan diri, tidak terpenuhinya
kebutuhan, anak lelah dan lapar. Ketika anak
menginginkan sesuatu tapi tidak berhasil dan
tetap menginginkannya, anak mungkin
memakai cara tantrum untuk menekan
orangtua agar mendapatkan yang dia
inginkan. Faktor kondisional lain yang dapat
menyebabkan tantrum adalah anak tidak
dapat mengungkapkan apa yang mereka
inginkan sehingga dapat memicu anak
menjadi frustasi dan dapat terungkap dalam
bentuk tantrum. Anak yang terlalu lelah
dalam beraktivitas juga akan lebih mudah
mengalami tempertantrum karena secara fisik
anak belum bisa beraktivitas berlebihan, dan
dalam keadaan lelah dan emosi anak sangat
labil sehingga lebih mudah mengalami
tempertantrum (Tasmin, 2010).
Faktor
keluarga
yang
dapat
menyebabkan tempertantrum meliputi pola
asuh orang tua dan urutan anak dalam
keluarga. Cara orang tua mengasuh anak juga
berperan menyebabkan tantrum. Anak yang
terlalu dimanjakan dan selalu mendapatkan
apa yang diinginkan bisa tantrum ketika
suatu kali permintaannya ditolak. Bagi anak
yang terlalu dilindungi dan didominasi oleh
orangtuanya, kadang anak bisa jadi bereaksi
menentang dominasi orangtua dengan
perilaku tantrum (Tasmin, 2010). Hadirnya
seorang anggota keluarga baru juga akan
berpengaruh terhadap anak yang lebih tua,
perbedaan usia antara 2 sampai 4 tahun bisa
dikatakan merupakan suatu ancaman bagi
anak yang lebih tua. Pada saat usia anak
paling tua masih kecil, konsep diri masih
belum matang sehingga muncul perasaan
80
Vol. 07, No. 03, Desember 2015
Kejadian Tempertantrum Dilihat dari Pola Asuh dan Urutan Anak Dalam Keluarga
terancam
sehingga
mereka
mengungkapkannya dengan tempertantrum
(Donna L. Wong, 2008).
Menurut Rudolph (2006), faktor
biologis individu yang dapat menyebabkan
tempertantrum pada anak adalah pola
temperamen tiap anak. Temperamen
menunjukkan sifat biologik – psikologik
stabil yang berpusat pada gaya reaktif
individu dan dibawah beberapa derajat
kontrol genetik. Bahkan, pada keadaan tidak
adanya stressor sosial, ekonomi, atau stressor
lingkungan lain, temperamen anak dapat
merupakan kontributor yang signifikan
sehingga dapat menimbulkan perilaku
tempertantrum pada anak.
Faktor lingkungan di luar keluarga
yang terutama dapat menyebabkan anak
berperilaku tempertantrum adalah teman
sebaya, lingkungan sekolah dan lingkungan
masyarakat. Anak yang ditolak dan memiliki
kualitas hubungan yang rendah dengan teman
sebaya cenderung menjadikan agresivitas dan
tempertantrum sebagai strategi berinteraksi
(Fajar, 2007).
Anak yang tempertantrum biasanya
akan dijauhi teman sekitarnya, dinilai sebagai
anak yang cengeng, pemarah, atau julukan
lainnya. Penilaian yang diperoleh anak dari
lingkungannya tersebut dapat membentuk
konsep diri negatif, pada akhirnya anak tidak
dapat
menyesuaikan
diri
dengan
lingkungannya (Ernawulan, 2011). Mereka
cenderung
menganggap
tempertantrum
merupakan cara yang paling tepat untuk
mengatasi
permasalahan
sosial
dan
mendapatkan apa yang mereka inginkan
(Fajar, 2007).
Menurut Martin T. Stein dalam
Rudolph (2006), apabila tantrum terlalu
sering terjadi bukan hanya akan berdampak
negatif terhadap perkembangan emosi dan
perilaku anak yang mengalaminya, tetapi
juga bagi masyarakat. Meskipun anak dengan
tempertantrum tidak selalu menjadi dewasa
yang antisosial, namun sebagian besar
diantara mereka setelah dewasa cenderung
terlibat
tindakan
kriminal
dan
mengembangkan perilaku antisosial yang
serius
seperti
pencurian,
penipuan,
pembakaran, pembolosan, perusakan hak
milik,
kekejaman
pada
binatang,
pemerkosaan, penggunaan senjata ketika
berkelahi, perampokan bersenjata, kekejaman
SURYA
fisik pada orang lain, dan percobaan berulang
untuk kabur dari rumah.
Upaya yang bisa dilakukan untuk
menanggulangi anak tempertantrum yaitu
petugas
kesehatan
lebih
berupaya
memberikan penyuluhan kepada orangtua
agar mengenali secara dini perilaku
tempertantrum pada anak sehingga pada saat
anak tantrum, orang tua tidak bertindak
keliru dan menjadi kehilangan satu
kesempatan baik untuk mengajarkan anak
tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap
emosi yang normal seperti marah, frustrasi,
takut, jengkel secara wajar dan bagaimana
bertindak dengan cara yang tepat sehingga
tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain
ketika sedang merasakan emosi tersebut.
orang tua hendaknya memberikan bimbingan
kepada anak tanpa membedakan urutan anak
sehingga anak tidak iri dengan saudara
lainnya dan berperilaku tempertantrum.
Orangtua
juga
perlu
mendapatkan
pengarahan tentang bagaimana menerapkan
pola asuh yang positif sehingga kejadian
tempertantrum bisa diminimalisir dengan
baik.
METODE PENELITIAN
Penelitian yang digunakan adalah
Analitik Korelasional dengan menggunakan
pendekatan Cross Sectional. Pada penelitian
ini populasinya adalah sebanyak 52
responden dan sampelnya sebanyak 46
responden. Metode sampling yang digunakan
adalah
Simple
Random
Sampling.
Pengumpulan data menggunakan kuesioner
tertutup. Setelah ditabulasi, data dianalisis
menggunakan uji Koefisien Kontingensi
dengan tingkat signifikasi 0,05.
HASIL PENELITIAN
1. Data Umum
1) Karakteristik Ibu
Karakteristik Ibu dalam penelitian ini
meliputi: usia, pendidikan, pekerjaan dan
jumlah anak.
(1) Distribusi Usia Ibu
Tabel 1 Distribusi Usia Ibu di RA Bahrul
Ulum Desa Blawi Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten
Lamongan Tahun 2015.
81
Vol. 07, No. 03, Desember 2015
Kejadian Tempertantrum Dilihat dari Pola Asuh dan Urutan Anak Dalam Keluarga
No.
Usia
F
%
1
<20 Tahun
2
4,3
2
21-35 Tahun
32
69,6
3
>35 Tahun
12
26,1
Jumlah
46
100
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui
bahwa sebagian besar (69,6%) berusia 21 –
35 tahun dan sebagian kecil (4,3%) berusia
<20 tahun.
(2) Distribusi Pendidikan Ibu
Tabel 2 Distribusi Pendidikan Ibu di RA
Bahrul
Ulum
Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten Lamongan Tahun 2015
No.
Pendidikan
F
%
1
SD
4
8,7
2
SMP/ Sederajat
7
15,2
3
SMA/ Sederajat
29
63,1
4
Akademik/ Sarjana
6
13,0
Jumlah
46
100
Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui
bahwa
sebagian
besar
(63,1%)
berpendidikan SMA dan sebagian kecil
(8,7%) berpendidikan SD.
(3) Distribusi Pekerjaan Ibu
Tabel 3 Distribusi Pekerjaan Ibu di RA
Bahrul
Ulum
Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten Lamongan Tahun 2015.
No.
Pekerjaan
F
%
1 Petani
9
19,5
2 Wiraswasta
19
41,3
3 PNS
1
2,2
4 Tidak bekerja/ IRT
17
37,0
Jumlah
46
100
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui
bahwa hampir sebagian (41,3%) adalah
wiraswasta dan sebagian kecil (2,2%) adalah
PNS.
(4) Distribusi Jumlah Anak
Tabel 4 Distribusi Jumlah Anak Ibu di RA
Bahrul
Ulum
Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten Lamongan Tahun 2015.
No.
Jumlah Anak
F
%
1
1
15
32,6
2
2
20
43,5
3
3
8
17,4
4
>4
3
6,5
Jumlah
46
100
SURYA
Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui
bahwa hampir sebagian (43,5%) mempunyai
jumlah anak 2 dan sebagian kecil (6,5%)
mempunyai jumlah anak >4.
2) Karakteristik Anak
Karakteristik anak dalam penelitian
ini meliputi: jenis kelamin dan usia anak.
(1) Distribusi Jenis Kelamin Anak
Tabel 5 Distribusi Jenis Kelamin Anak Usia
3-5 Tahun di RA Bahrul Ulum
Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten
Lamongan Tahun 2015.
No. Jenis Kelamin
F
%
1
Laki – laki
29
63,0
2
Perempuan
17
37,0
Jumlah
46
100
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui
bahwa sebagian besar (63,0%) berjenis
kelamin laki-laki.
(2) Distribusi Umur Anak
Tabel 6 Distribusi Umur Anak Usia 3-5
Tahun di RA Bahrul Ulum Desa
Blawi Kecamatan Karangbinangun
Kabupaten Lamongan Tahun 2015.
No.
Umur Anak
F
%
1
3 tahun
23
50,0
2
4 tahun
17
37,0
3
5 tahun
6
13,0
Jumlah
46
100
Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui
bahwa sebagian (50%) berumur 3 tahun dan
sebagian kecil (13,0%) berumur 5 tahun.
2. Data Khusus
1) Distribusi Urutan Anak dalam Keluarga
Tabel 7 Distribusi Urutan Anak Usia 3-5
Tahun di RA Bahrul Ulum Desa
Blawi Kecamatan Karangbinangun
Kabupaten Lamongan
No.
Urutan anak
F
%
1
Sulung
24
52,2
2
Tengah
6
13,0
3
Bungsu
16
34,8
Jumlah
46
100
Berdasarkan tabel 7 dapat diketahui
bahwa sebagian besar (52,2%) adalah anak
sulung dan sebagian kecil (13,0%) adalah
anak tengah.
82
Vol. 07, No. 03, Desember 2015
Kejadian Tempertantrum Dilihat dari Pola Asuh dan Urutan Anak Dalam Keluarga
2) Distribusi Pola Asuh Orang Tua
Tabel 8 Distribusi Pola Asuh Orang Tua
pada anak Usia 3-5 Tahun di RA
Bahrul
Ulum
Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten Lamongan Tahun 2015
No.
Pola Asuh
F
%
1. Positif
21
45,6
2. Negatif
25
54,4
Jumlah
46
100
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui
bahwa sebagian besar (54,4%) menerapkan
pola asuh negatif.
3) Distribusi Kejadian Tempertantrum
Tabel 9 Distribusi Kejadian Tempertantrum
pada Anak Usia 3-5 tahun di RA
Bahrul
Ulum
Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten Lamongan Tahun 2015
No. Kejadian Tempertantrum F
%
1
Tempertantrum
26
56,5
2
Tidak Tempertantrum
20
43,5
Jumlah
46
100
Berdasarkan Tabel 9 dapat diketahui
bahwa sebagian besar (56,5%) anak
mengalami tempertantrum.
4) Kejadian Tempertantrum ditinjau dari
Urutan Anak dalam Keluarga
Tabel 10 Tabel
silang
Kejadian
Tempertantrum ditinjau dari Urutan
Anak dalam Keluarga
Kejadian Tempertantrum
Tidak
Urutan Tempertantrum
No
Tempertantrum
anak
F
%
F
%
1 Sulung
2 Tengah
3 Bungsu
18
2
6
75,0
33,3
37,5
6
4
10
25,0
66,7
62,5
26
56,5
20
43,5
Berdasarkan tabel 10 diperoleh data
bahwa sebagian besar anak sulung
mengalami tempertantrum yaitu sebesar
75,0% atau 18 anak. Sedangkan berdasarkan
hasil uji analisis menggunakan uji Koefisien
Kontingensi didapatkan nilai C = 0,363 dan
nilai p = 0,030, dimana nilai p < 0,05
sehingga H1 diterima artinya ada hubungan
antara urutan anak dalam keluarga dengan
kejadian tempertantrum pada anak usia pra
sekolah (3-5 tahun) di RA Bahrul Ulum Desa
Jumlah
SURYA
Blawi
Kecamatan
Kabupaten Lamongan.
Karangbinangun
5) Kejadian Tempertantrum dilihat dari Pola
Asuh Orang Tua
Tabel 11 Tabel
silang
Kejadian
Tempertantrum dilihat dari Pola
Asuh Orang Tua
Kejadian Tempertantrum
Tidak
Pola
Tempertantrum
No.
Tempertantrum
Asuh
F
%
F
%
1. Positif
18
72,0
7
28,0
2. Negatif 8
38,0
13
61,9
26
56,5
20
43,5
Jumlah
Jumlah
F %
25 100
21 100
46 100
PEMBAHASAN
1. Kejadian Tempertantrum ditinjau dari
Urutan Anak dalam keluarga Pada
Anak Usia Pra Sekolah (3-5 Tahun) di
RA Bahrul Ulum Desa Blawi
Kecamatan Karangbinangun
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar anak sulung mengalami
tempertantrum. Anak sulung merupakan
anak tunggal yang beralih posisi karena
munculnya anak kedua. Sebelum kelahiran
adiknya, dia menjadi anak tunggal yang
mendapat perhatian penuh dari orangtua,
segala kebutuhan dipenuhi dan terkadang
disertai pemanjaan yang berlebihan karena
belum ada saudara yang lain. Akan tetapi
setelah kelahiran anak kedua, orang tua akan
Jumlahsibuk dengan anak keduanya sehingga
cenderung mengabaikan anak pertama,
F %kebutuhan anak yang baru akan lebih
diutamakan
daripada
anak
pertama.
24 100
Perlakuan tersebut dapat memicu reaksi
6 100
cemburu terhadap kehadiran saudara barunya
16 100
sehingga menggunakan perilaku negatif atau
46 100tempertantrum sebagai salah satu cara untuk
mencari perhatian dari orangtuannya. Hal ini
sesuai menurut Roslina Verauli (2009) yang
mengatakan bahwa anak sulung cenderung
tertekan dan senang menjadi pusat perhatian.
Perkembangan kepribadiannya lebih optimal
ketika dia memperoleh perhatian dan segala
keinginannya terpenuhi.
Hal ini juga didukung oleh Wong
(2008)
yang
mengatakan
bahwa
kecemburuan dan ketidaksukaan anak
terhadap saudara barunya cenderung paling
menonjol pada anak sulung karena
83
Vol. 07, No. 03, Desember 2015
Kejadian Tempertantrum Dilihat dari Pola Asuh dan Urutan Anak Dalam Keluarga
mengalami kehilangan perhatian tunggal dari
orangtua (dethronement). Kedatangan bayi
baru merupakan krisis bagi anak usia pra
sekolah (3-5 tahun), bahkan bagi beberapa
anak yang telah dipersiapkan sangat baik.
Sebenarnya bukan bayi yang dibenci atau
tidak disukai oleh anak tetapi perubahan yang
ditimbulkan oleh tambahan sibling ini,
terutama perpisahan dengan ibu selama
kelahiran. Orangtua sekarang membagi cinta
dan perhatiannya dengan orang lain, rutinitas
yang biasa menjadi terganggu dan anak dapat
kehilangan tempat tidur atau kamarnya untuk
adik barunya. Semua terjadi saat anak
mengira bahwa mereka telah mengontrol
duniannya. Beberapa anak akan secara
terang-terangan
memperlihatkan
kecemburuan yang sangat kompleks seperti
memukul bayi, mendorong bayi dari
pangkuan ibunya, kembali bersifat yang lebih
kekanakan,
berperilaku
tempertantrum,
bersifat agresif terhadap dirinya sendiri
ataupun orang lain untuk mendapat perhatian.
Pada penelitian ini, sebagian besar
anak tengah tidak mengalami tempertantrum.
Anak tengah berada diantara anak tertua dan
anak termuda. Orang tua biasanya sudah
lebih percaya diri dalam merawat anak
sehingga anak punya kesempatan untuk
belajar berkomunikasi dan lebih mampu
beradaptasi diantara anak terbesar dan anak
terkecil. Hal tersebut sering kali membuat
anak lebih mandiri, perilakunya lebih
terkontrol dan tidak timbul rasa cemburu
kepada saudara yang lainnya sehingga tidak
berperilaku negatif atau tempertantrum.
Seperti pendapat Wong (2008), karakteristik
anak tengah yaitu lebih dituntut untuk
membantu pekerjaan rumah, belajar untuk
berkompromi dan beradaptasi, lebih sulit
memiliki ciri tersendiri karena keberagaman
kedudukan dalam keluarga tetapi lebih
mandiri, ramah dan lebih mudah bergaul
serta memiliki rasa setia kawan yang tinggi.
Mereka cenderung memiliki kemampuan
dalam bersosialisasi dan tidak menggunakan
perilaku yang negatif untuk menyelesaikan
masalahnya.
Sedangkan berdasarkan penelitian ini
juga diperoleh data bahwa sebagian besar
anak bungsu yaitu 10 (62,5%) tidak
mengalami tempertantrum. Anak bungsu
merupakan anak terakhir yang tidak
mempunyai adik lagi dan biasanya mendapat
perhatian penuh dari semua anggota keluarga
SURYA
baik itu orangtua atau kakaknya sehingga
membuat anak mempunyai kepribadian yang
hangat, ramah, penuh perhatian dan
cenderung tidak menggunakan perilaku
negatif untuk mendapatkan perhatian dari
orang tua. Akan tetapi perhatian dari saudara
dan orang tuanya yang terus menerus dan
berlebihan juga dapat mengakibatkan sifat
anak bungsu seperti terlihat kekanakan, cepat
putus asa dan mudah emosi jika
keinginannya tidak dipenuhi. Hal ini sesuai
dengan teori Tasmin (2010) bahwa beberapa
kepribadian yang dimiliki anak dapat
menjadikan anak sebagai sosok tertentu
dalam tahap perkembanganya di dalam
keluarga. Hal ini juga diperkuat dengan teori
Yusuf (2007) yang menyatakan bahwa urutan
kelahiran anak mempengaruhi kesuksesan
seseorang, terutama pada anak yang berasal
dari keluarga besar atau dari keluarga dengan
ekonomi rendah tetapi kurang berpengaruh
pada keluarga mampu.
2. Kejadian Tempertantrum ditinjau dari
Pola Asuh Orang Tua Pada Anak Usia
Pra Sekolah (3-5 Tahun) di RA Bahrul
Ulum
Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Orang
tua
dapat
membantu
perkembangan anak melalui berbagai cara,
yang paling penting adalah kehidupan
keluarga yang bahagia dan stabil tanpa
ketegangan serta cara merawat anak yang
penuh kesabaran dala menghadapi segala
macam konflik (Suherman, 2002)
Pada dasarnya sikap orang tua akan
tampak pada saat berinteraksi dalam
keluarga, karena dalam interaksi tersebut,
sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua
sehari-hari akan dilihat, dinilai, dan ditiru
oleh anaknya yang kemudian menjadi
kebiasaan bagi anaknya. Hal tersebut
dikarenakan anak mengidentifikasikan diri
pada orang tuanya, sebelum mengadakan
identifikasi dengan orang lain (lingkungan),
walaupun tidak dapat disangkal bahwa faktor
lingkungan juga besar pengaruhnya terhadap
perkembangan tingkah laku individu (anak),
khususnya pada masa kanak-kanak sampai
remaja, sebab pada masa ini anak mulai
berfikir kritis.
Sikap orang tua dalam berinteraksi
dengan anak, berpengaruh pada sikap dan
perilaku anak. Dalam hal ini, orang tua yang
menerapkan salah satu sikap tertentu dalam
84
Vol. 07, No. 03, Desember 2015
Kejadian Tempertantrum Dilihat dari Pola Asuh dan Urutan Anak Dalam Keluarga
keluarga
yang
bertujuan
untuk
mendisiplinkan anak, akan berpengaruh pada
tingkat perkembangan individu yaitu
perkembangan kemandiriannya. Oleh karena
itu, untuk mendisiplinkan anak agar
mencapai kemandirian yang diharapkan,
terkadang sikap orang tua cenderung
mengarah pada dua tipe pendekatan, yaitu
pendekatan posotif dan pendekatan negatif.
Hal inilah yang melatar belakangi munculnya
sikap tempertantrum pada anak.
dan wawasan mengenai kejadian
tempertantrum
pada
anak
usia
prasekolah.
(3) Bagi Peneliti Yang Akan Datang
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai bahan masukan dan acuan untuk
penelitian berikutnya dengan faktor lain
yang
berkaitan
tentang
materi
tempertantrum pada anak usia pra
sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
PENUTUP
1. Kesimpulan
Setelah menganalisis data dan
melihat hasil pembahasan maka peneliti
mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1) Sebagian besar anak usia pra sekolah (3-5
tahun) di RA Bahrul Ulum Desa Blawi
Kecamatan Karangbinanagun Kabupaten
Lamongan Tahun 2012 adalah anak
sulung.
2) Sebagian besar anak usia pra sekolah (3-5
tahun) di RA Bahrul Ulum Desa Blawi
Kecamatan Karangbinanagun Kabupaten
Lamongan Tahun 2012 mengalami
tempertantrum.
3) Terdapat hubungan antara urutan anak
dalam
keluarga
dengan
kejadian
tempertantrum pada anak usia pra sekolah
(3-5 tahun) di RA Bahrul Ulum Desa
Blawi
Kecamatan
Karangbinangun
Kabupaten Lamongan Tahun 2012.
2. Saran
1) Bagi Akademis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
sebagai bahan evaluasi mahasiswa serta
dapat dijadikan sebagai bahan pengelolaan
untuk memperkaya informasi tentang
tempertantrum pada anak usia prasekolah
khususnya untuk Mata Kuliah Keperawatan
Anak.
2) Bagi Praktisi
(1) Bagi Pemerintah
Hasil penelitian ini digunakan sebagai
masukan untuk pemerintah dalam
mengurangi kejadian kriminalitas oleh
anak-anak
yang
sebagian
besar
disebabkan
karena
perilaku
tempertantrum pada masa balita.
(2) Bagi Institusi Tempat Penelitian
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai
masukan untuk menambah pengetahuan
SURYA
Ernawulan. 2011. Perkembangan Anak
Taman
Kanak
–
Kanak.
http://paudanakceria.wordpress.com/
2011/05/09/perkembangan-anaktaman-kanak.
Diakses tanggal 05 Januari 2012
Fajar. 2007. Keterampilan Sosial Pada Anak
Menengah Akhir www.multilpy.
com.
Diakses Tanggal 05 Januari 05 2012
pukul 09.11 WIB
Rudolph. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph
Volume 1 Edisi 20. Jakarta: EGC
Suherman, U. 2002. Psikologi Pendididkan
(Membangun Interaksi Pembelajaran
Optimal). Bandung: PT Relaja Rosda
Karya
Tasmin, Martina Rini. S. 2010. Mengatasi
tempertantrum
pada
anak.
http://articleammafamily.blogspot.co
m/2010/02/mengatasi-tantrum-padaanak.html. Diakses tanggal 16
Oktober 2011 pukul 13.00 WIB
Yusuf, Syamsu. 2007. Mengajari Anak/
Murid Agar Mudah Dan Sportif
Menerima
Kekalahan.
http://gilangmind.blogspot.com/2010
/08/ mengajari -anak-murid-agarmudah-dan.html
Diakses
pada
tanggal 27 Oktober 2011 pukul
10.16 WIB
Wong,
85
Donna L. 2008. Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik. Jakarta :
EGC
Vol. 07, No. 03, Desember 2015
Download