BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ikan adalah segala

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari siklus
hidupnya berada di dalam lingkungan perairan (UU No. 45 tahun 2009).
Kandungan lemak tidak jenuhnya dapat meningkatkan kecerdasan dan mencegah
kolesterol. Ikan juga merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi
dan mengandung asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh, di samping itu
nilai biologisnya mencapai 90% dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah
dicerna dan harganya juga jauh lebih murah dibandingkan dengan sumber protein
lain. Disamping itu, ikan juga dijadikan sebagai bahan obat-obatan, pakan ternak,
dan lainnya (Adawyah, 2008).
Masalah pencemaran mulai menjadi topik utama di dunia yaitu berkisar pada
tahun lima puluhan dan mulai terangkat ke permukaan. Hal ini bermula ketika
ditemukannya suatu penyakit mental dan kelainan pada syaraf (penyakit
Minamata) yang diderita oleh penduduk yang hidup di sekitar teluk Minamata di
Jepang. Pada akhir tahun 1930-an, Chisso Corporation di Jepang mendirikan
pabrik di pantai teluk Minamata yang bertujuan untuk memproduksi klorida vinil
dan farmaldehid. Proses pembuatan produk tersebut, menimbulkan hasil samping
yang mengandung merkuri (Hg) yang dibuang ke dalam perairan teluk. Melalui
proses biomagnifikasi, ikan-ikan laut dan kerang mengakumulasi senyawa
majemuk khlorida metil-merkuri yang sangat beracun dalam konsentrasi tinggi.
1
Universitas Sumatera Utara
2
Ikan-ikan dan kerang-kerangan tersebut kemudian dikonsumsi oleh penduduk di
sekitar teluk. Kira-kira 15 tahun sejak pembuangan merkuri di perairan teluk
tersebut dimulai, keanehan mental dan cacat syaraf secara permanen terlihat
muncul di antara penduduk setempat terutama pada anak-anak. Melalui diagnosis
medis, diketahui bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh keracunan logam
merkuri. Kenyataan inilah yang kemudian menjadi pemicu dari masalah-masalah
pencemaran lingkungan ke permukaan dunia Internasional (Palar, 2008).
Sifat logam-logam berat yang tidak dapat terurai dan mudah diabsorpsi oleh
biota laut dan terakumulasi dalam tubuh, menyebabkan pencemaran. Selain
menyebabkan pencemaran ekosistem, unsur logam berat secara tidak langsung
juga merusak perikanan dan kesehatan manusia. Di daerah perairan Pelabuhan
Belawan yang merupakan pertemuan Sungai Deli dan Sungai Belawan, menurut
laporan PT (Persero) Pelindo I tahun 2004, kualitas air lautnya telah mengalami
pencemaran oleh logam timbal, kadmium, kromium, merkuri, selenium, seng,
timah, perak, arsen, nikel, dan tembaga (Lubis, 2008). Seperti kasus yang pertama
kali terjadi di Jepang yaitu penyakit Itai-itai (1974) yang dinyatakan akibat
kadmium, serta di Beijing China dimana terdapat 24 anak-anak berusia 9 bulan
hingga 16 tahun harus dirawat di rumah sakit karena keracunan timbal yang
disebabkan oleh pabrik-pabrik baterai di desa mereka China Timur (Kompas,
2011).
Di dalam tubuh manusia, Pb bisa menghambat aktivitas enzim yang terlibat
dalam pembentukan hemoglobin (Hb) dan sebagian kecil Pb diekskresikan lewat
urin atau feses karena sebagian terikat oleh protein, sedangkan sebagian lagi
Universitas Sumatera Utara
3
terakumulasi dalam ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut. Pb dapat
merusak jaringan saraf, fungsi ginjal, menurunnya kemampuan belajar, dan
membuat anak-anak bersifat hiperaktif. Selain itu, Pb juga memengaruhi organorgan tubuh, antara lain sistem saraf, ginjal, sistem reproduksi dan jantung, serta
gangguan pada otak sehingga anak mengalami gangguan kecerdasan dan mental
(Wahyu dkk, 2008).
Keracunan yang disebabkan oleh Cd dapat bersifat akut dan keracunan kronis.
Keracunan akut yaitu seperti timbul rasa sakit dan panas pada bagian dada yang
dapat menimbulkan penyakit paru-paru yang akut, sedangkan keracunan yang
bersifat kronis pada umumnya berupa kerusakan-kerusakan pada banyak sistem
fisiologis tubuh. Sistem-sistem tubuh yang dapat dirusak oleh keracunan kronis
logam
Cd
ini
adalah
pada
sistem
urinaria
(ginjal),
sistem
respirasi
(pernafasan/paru-paru), sistem sirkulasi (darah), dan jantung. Selain itu juga dapat
merusak kelenjar reproduksi, sistem penciuman dan bahkan dapat mengakibatkan
kerapuhan pada tulang (Palar, 2008).
Berdasarkan
penelitian
yang
pernah
dilakukan
di
TPI
Belawan
mengungkapkan bahwa beberapa biota laut seperti ikan dan kerang positif telah
tercemar merkuri, meskipun kadar kandungan merkuri masih di bawah ambang
batas yang telah ditetapkan pemerintah yaitu sebesar 0,5 ppm. Kandungan
merkuri tertinggi ditemukan pada ikan mujair yaitu sebesar 0,0001408 sedangkan
yang terendah pada kerang sebesar 0,0000493 ppm (Simanjuntak, 2004).
Penelitian Uly (2011) pada ikan sembilang dan ikan kepala batu di perairan
Belawan ditemukan bahwa kadar logam timbal pada ikan sembilang dan ikan
Universitas Sumatera Utara
4
kepala batu masing-masing adalah 0,4676 ± 0,0205 mcg/g dan 0,6331 ± 0,0283
mcg/g. Sedangkan kadar logam kadmium pada ikan sembilang dan ikan kepala
batu masing-masing adalah 0,0405 ± 0,0033 mcg/g dan 0,0608 ± 0,0043 mcg/g.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar cemaran logam berat timbal pada ikan
sembilang dan ikan kepala batu, yang merupakan ikan yang hidup di daerah
pesisir dan laut dangkal perairan Belawan, telah melewati ambang batas
maksimum yang diizinkan berdasarkan SNI-7387-2009, yaitu lebih besar dari 0,3
mcg/g. Sedangkan untuk cemaran logam berat kadmium, baik pada ikan
sembilang maupun pada ikan kepala batu, kadarnya masih di bawah ambang batas
maksimum yang diizinkan yaitu tidak lebih dari 0,1 mcg/g.
Ikan memiliki kandungan air yang cukup tinggi, sehingga ikan adalah media
yang cocok untuk kehidupan bakteri pembusuk atau mikroorganisme lain. Hal ini
menyebabkan ikan sangat cepat mengalami proses pembusukan. Keadaan ini
sangat merugikan terutama ketika produksi ikan melimpah, disebabkan karena
akan banyak ikan yang tidak dapat dimanfaatkan dan terpaksa harus dibuang.
Oleh karena itu, untuk mencegah proses pembusukan perlu dilakukan pengawetan
serta untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang mengharapkan ikan segar
(Afrianto dan Evi, 1989).
Pada umumnya cara yang digunakan untuk mencegah kerusakan yaitu
pengawetan dengan menggunakan es balok. Tetapi ada beberapa kendala yang
ditemui apabila menggunakan es balok, seperti jumlah es yang dibutuhkan cukup
banyak sehingga tidak praktis dan harganya relatif mahal. Hal tersebut
menyebabkan nelayan dan penjual yang curang menggunakan zat kimia
Universitas Sumatera Utara
5
berbahaya seperti formalin sebagai pengganti es balok. Larangan penggunaan
formalin sebagai bahan tambahan makanan telah tercantum dalam Permenkes RI
No.033 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, pada Lampiran II tentang
bahan yang dilarang digunakan sebagai BTP (Suryadi dkk, 2010). Formaldehid
dalam dosis rendah, jika tertelan akan menyebabkan iritasi lambung, sakit perut,
disertai muntah-muntah, menimbulkan depresi susunan saraf, serta kegagalan
peredaran darah. Selain itu formalin juga dapat menyebabkan alergi, kanker
(bersifat karsinogenik), mutagen (mutagenik). Dalam dosis tinggi, formalin yang
tertelan dapat menyebabkan kejang-kejang, kencing darah, muntah darah, dan
akhirnya menyebabkan kematian.
Belawan adalah suatu kawasan industri dan sarana pelabuhan bertaraf
Internasional terbesar di kota Medan serta terdapat pemukiman penduduk dan
beberapa fasilitas umum. Perairan Belawan menjadi tempat bermuaranya Sungai
Deli yang telah tercemar oleh logam berat berbahaya. Kondisi ini disebabkan
karena di daerah aliran sungai tersebut terdapat beberapa industri yang dalam
proses produksinya menggunakan bahan-bahan yang mengandung logam berat
seperti industri pembuatan barang dari logam, industri plastik dan industri karet.
Namun, walupun demikian perairan ini masih tetap menjadi daerah penangkapan
ikan yang intensif, baik jenis ikan demersal maupun pelagis. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa nilai rata-rata logam berat pada lokasi pengamatan dekat
dengan kawasan industri seperti logam Cd berkisar antara 0,02 - 0,04 mg/L , Cr
berkisar antara 0,48 - 0,59 mg/L, Cu berkisar antara 1,24 - 1,36 mg/L dan Pb
berkisar antara 1,14 - 0,72 mg/L (Hudaya, 2010). Bahan-bahan cemaran selain
Universitas Sumatera Utara
6
yang berasal dari pabrik dan industri di sekitar Belawan, juga berasal dari
tumpahan minyak dari kapal dan limbah rumah tangga serta limbah pabrik yang
ada di Kota Medan yang dibawa oleh aliran sungai tersebut. Muara sungai Deli
paling dekat dengan muara di Kelurahan Bagan Deli yang dikenal sebagai Tempat
Pelelangan Ikan (TPI) (Hayati, 2009). Selain TPI terdapat juga tempat penjualan
ikan di Belawan, yaitu KUB Belawan. KUB (Kelompok Usaha Bersama) adalah
badan usaha non badan hukum ataupun yang sudah berbadan hukum yang berupa
kelompok yang dibentuk oleh nelayan berdasarkan hasil kesepakatan/musyawarah
seluruh anggota yang dilandasi oleh keinginan bersama untuk berusaha bersama
dan dipertanggungjawabkan secara bersama guna meningkatkan pendapatan
anggota. Perbedaannya dengan TPI adalah di TPI ikan dijual dalam jumlah besar
dan didistribusikan ke pasar-pasar di Kota Medan, sedangkan di KUB ikan dapat
dibeli dalam skala kecil.
Menurut penelitian, selain perairan Laut Belawan beberapa perairan lain yang
juga dikatakan tercemar yaitu Teluk Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian Tim
Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB, diketahui bahwa
kandungan logam berat timbal (Pb), kadmium (Cd), kuprum (Cu), dan merkuri
(Hg) di perairan Teluk Jakarta, yaitu di Perairan Ancol dan Perairan Dadap telah
melampaui nilai ambang batas. Pencemaran ini terjadi di Teluk Jakarta yang
diakibatkan oleh pembuangan limbah industri kertas, minyak goreng, limbah
rumah tangga, industri pengolahan logam di kawasan Pantai Marunda, dan
industri dari 13 sungai yang ada di DKI Jakarta, serta pembuangan minyak secara
rutin dari kapal dan perahu kecil di kawasan Teluk Jakarta.
Universitas Sumatera Utara
7
Di pesisir Timur Surabaya (Pamurbaya), ditemukan kandungan logam berat
di badan air dan di muara-muara sungai dalam konsentrasi tinggi. Hal itu
dikarenakan Pamurbaya adalah tempat bermuara lebih dari 18 anak sungai.
Lumpur Pamurbaya tercemar oleh logam berat Cu, Hg, Cd, Fe dan Pb sehingga
hewan yang hidup dalam bentos, seperti kupang dan kerang, rawan untuk
dikonsumsi karena kandungan logam berat dalam dagingnya sangat tinggi.
Badan air kali Surabaya telah terkontaminasi logam berat Hg, Cd, Pb, Zn,
dan Fe. Kandungan Hg dalam air telah mencapai 100 kali lipat dari baku mutu
yang ditetapkan oleh pemerintah dalam PP 82/2001, yaitu sebesar 0,001 mg/L.
Hal itu disebabkan oleh limbah dari industri PT Timur Mega Steel
(electroplating), PT Wings Surya (detergent), PT Wimcycle (sepeda), dan PT
Madulingga Perka (industri penghasil earthbleaching), industri keramik dan
industri kertas PT Adiprima Suraprint PT Surabaya Agung Pulp & Paper Tbk,
serta Suparma dan PT Mekabox (Wahyu dkk, 2008).
1.2.Rumusan Masalah
Perairan Belawan menjadi tempat bermuaranya Sungai Deli yang telah
tercemar oleh logam berat berbahaya. Di daerah aliran sungai dan disekitar
kawasan Belawan ini terdapat beberapa industri yang menggunakan bahan-bahan
yang mengandung logam berat dalam proses produksinya seperti industri
pembuatan barang dari logam, industri plastik, industri karet, dll. Menurut laporan
PT (Persero) Pelindo I tahun 2004, kualitas air Laut Belawan telah mengalami
pencemaran oleh logam timbal, kadmium, kromium, merkuri, selenium, seng,
Universitas Sumatera Utara
8
timah, perak, arsen, nikel, dan tembaga, maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui kandungan kadmium (Cd), timbal (Pb) dan formaldehid pada
beberapa ikan segar di KUB Belawan, Kecamatan Medan Belawan.
1.3.Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui kandungan kadmium, timbal dan formaldehid pada
beberapa ikan segar di KUB Belawan tahun 2015.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui kandungan kadmium (Cd) pada beberapa ikan
segar di KUB Belawan.
2. Untuk mengetahui kandungan timbal (Pb) pada beberapa ikan segar di
KUB Belawan.
3. Untuk mengetahui kandungan formaldehid pada beberapa ikan segar
di KUB Belawan.
4. Untuk mengetahui kadar kandungan kadmium (Cd) dan timbal (Pb)
apakah memenuhi syarat atau tidak memenuhi syarat sesuai dengan
Keputusan Ditjend POM No.03725/B/SK/VII/1989 tentang batas
maksimum cemaran logam berat dalam pangan.
Universitas Sumatera Utara
9
1.4.Manfaat Penelitian
1. Sebagai informasi bagi konsumen untuk mengetahui keamanan dari ikan
segar yang akan dikonsumsi.
2. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang dampak pencemaran laut
Belawan dengan menggunakan ikan segar.
3. Dapat
digunakan sebagai
masukan
dalam
rangka
meningkatkan
pencegahan dan penanggulangan pencemaran logam berat pada makanan
hasil laut.
Universitas Sumatera Utara
Download