BAB II LANDASAN TEORI

advertisement
6
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Badan Usaha Milik Negara
1.
Definisi BUMN
Menurut Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2005 yang dimaksud
BUMN adalah:
a. Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN,
adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya
dimiliki oleh negara melalui penyertaan langsung yang berasal dari
kekayaan negara yang dipisahkan.
b. Perusahaan Perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah
BUMN yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi
dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51% (lima puluh satu
persen) sahamnya dimiliki oleh Negara Republik Indonesia yang
tujuan utamanya mengejar keuntungan.
c. Perusahaan Perseroan Terbuka, yang selanjutnya disebut Persero
Terbuka, adalah Persero yang modal dan jumlah pemegang
sahamnya memenuhi kriteria tertentu atau Persero yang melakukan
penawaran umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal.
d. Perusahaan Umum, yang selanjutnya disebut Perum, adalah
BUMN yang modalnya dimiliki negara dan tidak terbagi atas
saham, yang bertujuan untuk kemanfaatan umum berupa
penyediaan barang dan atau jasa yang bermutu tinggi dan sekaligus
mengejar keuntungan berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan.
2. Tujuan Pendirian BUMN
Tujuan pendirian BUMN sesuai dengan Undang-undang No. 19
Tahun 2003 adalah :
a. Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian
nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya;
b. Mengejar keuntungan;
7
c. Menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang
dan atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan
hajat hidup orang banyak;
d. Menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat
dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi;
e. Turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha
golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.
B. Pengukuran Kinerja
1. Definisi Kinerja
Kinerja dapat dilihat dan diukur dari berbagai sudut jika
dihubungkan dengan pengertian prestasi yang diperlihatkan. Prestasi
perusahaan
diantaranya
dapat
dilihat
melalui
rasio
keuangan,
pengembangan sumber daya manusia, pelayanan kepada masyarakat,
tingkat efisiensi dan lain sebagainya.
Pengertian
kinerja
adalah
“gambaran
mengenai
tingkat
pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program/kebijakan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang
dalam strategic planning suatu organisasi” (Moh.Mahsun, 2006 : 97).
Istilah kinerja sering digunakan untuk menyebut prestasi atau tingkat
keberhasilan individu atau kelompok individu kinerja biasa diketahui
hanya jika individu atau kelompok individu tersebut mempunyai kriteria
keberhasilan yang ditetapkan.
Kinerja dapat diukur melalui beberapa cara baik dengan
menggunakan ukuran keuangan maupun dengan ukuran keuangan. Ukuran
non keuangan misalnya menggunakan Balance Scorecard, Zero Defect,
Continous Improvement. Ukuran keuangan misalnya Economic Value
8
Added, Market Value Added, dan salah satunya adalah dengan
menggunakan Analisis Rasio Keuangan.
2. Tujuan Pengukuran Kinerja
Pengadopsian suatu sistem pengukuran kinerja di instansi
pemerintah dengan tujuan
Untuk menciptakan perubahan dalam organisasi. Perubahan karena
mengadopsi suatu sistem pengukuran kinerja, mencakup perubahan
dalam sumber daya manusia, struktur organisasi, kultur, sistem
organisasi, kapabilitas organisasi dan teknologi, komunikasi serta
desain pekerjaan (Jones,2001).
C. Laporan Keuangan
1. Definisi Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan dokumen yang memberikan
informasi kepada para pemakai laporan keuangan yang disusun sesuai
dengan prinsip-prinsip akuntansi yang belaku umum. Laporan keuangan
berisi informasi tentang kinerja perusahaan dimasa lampau dan dapat di
pakai sebagai dasar penetapan kebijakan perusahaan dimasa yang akan
datang.
Pengertian Laporan Keuangan menurut Ikatan Akuntan Indonesia
(2007 : Par 7) adalah sebagai berikut:
Laporan Keuangan merupakan proses dari pelaporan keuangan.
Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan
laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan
dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas, atau
laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan
yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan disamping
itu juga termasuk skedul dan informasi tambahan yang berkaitan
dengan laporan tersebut, misalnya informasi keuangan segmen
9
industri dan geografis serta pengungkapan pengaruh perubahan
harga.
Menurut Myer dalam (Munawir, 2004 : 5) laporan keuangan
adalah:
Laporan keuangan adalah dua daftar yang disusun oleh akuntan
pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar ini adalah
daftar neraca atau posisi keuangan atau daftar pendapatan atau
daftar laba rugi. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi
kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambahkan daftar
ketiga yaitu daftar surpus atau daftar laba yang tak dibagikan (laba
yang ditahan).
Laporan Keuangan menurut suwardjono (2005) adalah:
Salah satu sumber informasi yang menggambarkan secara
menyeluruh tentang kondisi dan perkembangan perusahaan
sehingga dapat menjadi salah satu sarana untuk menilai tingkat
profesionalisme perusahaan yang bersangkutan dalam melakukan
kegiatan perusahaan.
Sedangkan menurut Dwi Pratowo dan Rifka Jualianti (2005)
laporan keuangan adalah :
Laporan Keuangan tidak lain merupakan suatu proses untuk
membedah laporan keuangan ke dalam unsur-unsurnya dengan
tujuan untuk memperoleh pengertian dan pemahaman yang baik
dan tepat atas laporan keuangan itu sendiri.
Laporan keuangan adalah “suatu penyajian terstruktur dari posisi
keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas” PSAK (2009 : Par. 07).
2. Tujuan Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalah, memberikan
informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan, yang
bermanfat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan,
dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi, serta menunjukkan
10
pertangungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang
dipercayakan pada mereka. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, suatu
laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan yang
meliputi aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban termasuk
keuntungan dan kerugian, serta arus kas.
Dalam bukunya Marwata (2002 : 62) menyatakan:
Tujuan utama laporan keuangan haruslah mengkomunikasikan
informasi keuangan yang terendah mengenai transaksi usaha
perusahaan termasuk:
a. Posisi aktiva, kewajiban dan modal sendiri, serta
b. Indikasi rugi laba dan beban dari pendapatan yang bersangkutan.
Sedangkan pada Standar Akuntansi Keuangan (2009 : Par. 07)
dikatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah :
Memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar
kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.
Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban
manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan
kepada mereka.
Tujuan laporan keuangan adalah “untuk menyediakan informasi
yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi” (Darmawan Sjahrial
2006 : 27).
Berdasarkan tujuan laporan keuangan yang telah diuraikan, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa laporan keuangan yang dibuat oleh
perusahaan harus dapat memenuhi kebutuhan bagi para pemakai. Para
pemakai laporan keuangan membutuhkan keterangan kebijakan akuntansi
11
terpilih sebagai bagian dari informasi yang dibutuhkan untuk membuat
penilaian, dan keputusan keuangan serta keperluan lain yang menyangkut
posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan.
3. Jenis-jenis Laporan Keuangan
Menurut Hanafi dan Halim (2005) ada tiga bentuk laporan keuangan
yang pokok yaitu Neraca, Laporan Rugi Laba dan Laporan Aliran
Kas.
a. Neraca/Balance Sheet
Neraca digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan
perusahaan pada suatu waktu tertentu. Neraca merupakan laporan
yang sistematis tentang aktiva, hutang serta modal suatu
perusahaan pada waktu/tanggal tertentu. Neraca terdiri dari tiga
bagian utama yaitu aktiva (assets), hutang/kewajiban (liabilities)
dan modal (capital). Aktiva (assets) terdiri dari (Ang, 1997):
Menurut Sofyan S. Harahap (2006:107) Laporan Neraca yang
disebut juga dengan laporan posisi keuangan perusahaan, adalah
laporan yang menggambarkan posisi aktiva, kewajiban dan modal
pada saat tertentu.
Masing-masing elemen dalam neraca antara lain :
1) Aktiva
Dalam pengertian aktiva tidak terbatas pada kekayaan perusahaan
yang berwujud saja, tetapi juga termasuk pengeluaran yang belum
dialokasikan atau biaya yang masih harus dialokasikan pada
penghasilan yang akan datang, serta aktiva yang tidak berwujud
lainnya. Aktiva terdiri dari :
a) AktivaLancar
Adalah uang kas dan aktiva lainnya yang dapat diharapkan
untuk dicairkan atau diuraikan menjadi uang tunai, dijual atau
dikonsumsi dalam periode berikutnya ( paling lama 1 tahun
atau dalam perputaran kegiatan perusahaan yang normal)
seperti : kas, surat-surat berharga, piutang dagang, piutang
wesel, penghasilan yang masih harus diterima, persediaan
barang dan sebagainya.
b) Aktiva Tidak Lancar (Tetap)
Adalah aktiva yang mempunyai masa penggunaan yang relatif
panjang, dalam arti tidak akan habis dipakai dalam satu siklus
operasi perusahaan atau satu tahun dan tidak dapat dengan
segera dijadikan kas. Aktiva tak lancar ada yang berbentuk
aktiva berwujud seperti : tanah, gedung, alat-alat perlengkapan
12
2)
3)
b.
c.
atau dapat juga berbentuk aktiva tak berwujud seperti : hak
paten, hak merek, goodwill dan sebagainya.
Hutang
Hutang adalah semua kewajiban perusahaan pada pihak ketuga
yang belum dipenuhi, hutang merupakan sumber dana atau modal
perusahaan yang berasal dari kreditur. Pada umumnya hutang
dibedakan atas dua golongan yaitu :
a) Hutang Lancar
Hutang lancar mencangkup semua hutang dan kewajiban yang
harus diselesaikan dalam waktu satu tahun seperti : hutang
dagang, hutang wesel, biaya yang masih harus dibayar,
penerimaan di muka.
b) Hutang Jangka Panjang
Hutang jangka panjang adalah kewajiban perusahaan yang
jatuh temponya lebih dari satu tahun sejak tanggal penyusunan
neraca seperti : hutang hipotek dan hutang obligasi.
Modal
Modal adalah menggambarkan bagian pemilik perusahaan atau
kekayaan perusahaan,yang diukur dengan menghitung selisih
antara aktiva dengan hutang.
Laporan Rugi Laba
Laporan Rugi Laba merupakan laporan sistematis tentang
penghasilan, biaya laba rugi yang diperoleh perusahaan selama
periode waktu (jangka waktu) tertentu (Munawir, 2004).
Laporan Aliran Kas
Laporan ini menyajikan informasi aliran kas masuk atau keluar
pada suatu periode yang merupakan hasil dari kegiatan pokok
perusahaan, yaitu operasi, investasi dan pendanaan. Kegiatan
operasi meliputi transaksi yang melibatkan produksi, penjualan,
penerimaan barang dan jasa. Kegiatan investasi meliputi
pembelian atau penjualan investasi bangunan, pabrikan peralatan.
Aktivitas pendanaan meliputi transaksi untuk memperoleh dana
dari obligasi, emisi saham dan pelunasan hutang (Hanafi dan
Halim, 2005)
Sedangkan menurut Gill dan Chatton (2006 : 2), ada tiga laporan
keuangan yang ditinjau yaitu:
a. Neraca, yang menunjukkan posisi keuangan atau “kesehatan”
perusahaan, yang disebut laporan posisi keuangan. Laporan ini
menunjukkan posisi keuangan usaha pada waktu tertentu. Neraca
standar mengggambarkan asset perusahaan pada sisi kiri halaman
dan kewajiban serta modal pada sisi kanan halaman.
b. Laporan Laba/Rugi atau disingkat Laporan L/R, menunjukan
kinerja sebuah usaha selama jangka waktu terntentu dalam
13
sebulan, triwulan, atau setahun. Dengan rumus dasar penghasilan
dikurangi biaya sama dengan pendapatan.
c. Laporan Arus Kas sebagai alat perencanaan yang akan membantu
kita pada masa yang akan datang. Laporan ini akan membantu
dalam menemukan kapan uang tunai diperlukan untuk membayar
tagihan-tagihan dan membantu manager untuk membuat
keputusan usaha, seperti kapan mengembangkan usaha, atau
membuat lini produk baru. Laporan arus kas berhubungan dengan
aktivitas kas, yakni kas keluar atau kas masuk.
D. Analisa Rasio Keuangan
1. Definisi Analisa Rasio Keuangan
Menurut Sutrisno (2000) laporan keuangan merupakan hasil akhir
dari proses pencatatan keuangan selain itu, laporan keuangan juga
merupakan cerminan dari prestasi manajemen pada periode tertentu.
Dengan melihat laporan keuangan suatu perusahaan kita dapat melihat
bagaimana prestasi manajemen dalam periode tersebut. Namun, bila hanya
melihat laporan keuangan belum bisa mencerminkan prestasi yang
sebenarnya, sehingga perlu dibandingkan elemen laporan keuangan satu
dengan elemen laporan keuangan lainnya. Proses menghubungkan elemenelemen yang ada di laporan keuangan ini sering disebut sebagai analisis
rasio keuangan.
Sedangkan menurut Munawir S. dalam bukunya Analisis Rasio
Keuangan (2002) Analisa Rasio Keuangan adalah “angka yang diperoleh
dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos
lainya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti)”.
2. Kegunaan Rasio Keuangan
Dalam Buku Analisis Informasi Keuangan menurut Munawir S
(2002 : 291) Analisa Rasio Keuangan sangat Berguna untuk:
a. Corporate Management Model
Model Analisis ini membandingkan rasio keuangan dengan ratarata industri untuk perencanaan dan pengevaluasian prestasi dan
kinerja perusahaan. Model analisis ini membantu manajemen
dalam pengambilan keputusan jangka pendek maupun jangka
panjang.
14
b. Portfolio Selection Model
Model analisis ini membantu para investor dalam rangka
pengambilan keputusan investasi pada securitas, evaluasi nilai
saham dan menilai jaminan atas keamanan dana yang akan
ditanamkan pada suatu perusahaan.
c. Analisis Bagi Kreditor
Analisis ini digunakan para kreditor untuk memperkirakan
potensi resiko yang akan dihadapi dengan adanya jaminan
kelangsungan pembayaran bunga dan pengambilan pokok
pinjaman.
3. Jenis-jenis Rasio Keuangan
Rasio Keuangan menurut Arief Sugiono (2009 : 68) dapat
dikelompokkan menjadi :
a. Rasio Likuiditas (Liquidity Ratio)
Analisis Rasio Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk
membayar kewajiban-kewajiban yang segera harus dipenuhi
(hutang jangka pendek) oleh karena itu rasio ini bisa digunakan
untuk mengukur tingkat keamanan kreditor jangka pendek serta
mengukur apakah operasi perusahaan tidak akan terganggu bila
kewajiban ini segera ditagih (Sutrisno, 2000)
Menurut Arief Sugiono (2009 : 68) “rasio ini bertujuan untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya rasio ini terdiri atas beberapa rasio sebagai berikut “.
1) Current Ratio
Current Ratio adalah “rasio yang membandingkan antara aktiva
lancar yang dimiliki perusahaan dengan hutang jangka pendek, oleh
karena itu rasio ini bisa digunakan untuk mengukur tingkat keamanan
kreditor jangka pendek, (Brigham & Houston,2001)”
Rasio ini digunakan untuk “mengetahui seberapa jauh aktiva
lancar perusahaan digunakan untuk melunasi hutang (kewajiban)
15
lancar yang akan jatuh tempo atau segera dibayar. Current Ratio bisa
digunakan untuk mengukur solvensi jangka pendek” Arief Sugiono
(2009 : 68).
Total Aktiva Lancar
Current Ratio =
Total Kewajiban Lancar
2) Quick Ratio (Acid Test ratio)
Rasio ini menunjukkan “besarnya alat likuid yang paling cepat
yang bisa digunakan untuk melunasi hutang lancar, sebab untuk
menjadi uang tunai (kas) memerlukan dua langkah yakni menjadi
piutang terlebih dahulu sebelum menjadi kas” (Sutrisno, 2000).
Sedangkan “pos persediaan tidak dihitung dalam rasio ini karena
persediaan merupakan pos yang paling tidak likuid dalam aktiva
lancar. hal ini disebabkan oleh panjangnya tahap yang dilalui untuk
menjadi kas” Arief Sugiono (2009 : 69).
Total Aktiva – Persediaan
Quick Ratio =
Total Kewajiban Lacar
3) Cash Ratio
Menurut Arief Sugiono (2009 : 69) rasio ini
Merupakan perbandingan antara kas yang ada di perusahaan cash
on hand dan di bank (termaksud surat berharga seperti depodito)
dan total utang lancar. rasio ini menunjukkan kemampuan kas
perusahaan untuk melunasi hutang lancarnya tanpa harus
mengubah aktiva lancar bukan kas (piutang dagang dan persediaan)
menjadi kas.
Kas
Cash Ratio =
Total Kewajiban Lancar
16
4) Cash Flow Liquidity Ratio
Pendekatan lain dalam mengukur likuiditas perusahaan adalah
dengan “cash flow liquidity ratio karena penggunaan pembilang
merupakan kas dan setara dengan kas serta diikutsertakan dalam
arus kas dari hasil operasi perusahaan. Arief Sugiono (2009 : 69).
Kas + Surat Berharga + CF From Operation
Cash Flow Liquidity Ratio =
Total Kewajiban Lancar
b. Rasio Leverage (Leverage Ratio)
Analisis Rasio Leverage menurut Sutrisno (2000) adalah :
Rasio untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva
perusahaan dibiayai oleh hutang. Leverage timbul karena
adanya kewajiban-kewajiban keuangan yang sifatnya tetap
dan harus dikeluarkan perusahaan. Apabila dalam suatu
perusahaan leverage factor = o (nol) berarti sepenuhnya
perusahaan dalam beroperasi sepenuhnya menggunakan
modal sendiri atau tanpa menggunakan hutang. Semakin
rendah leverage factor, semakin kecil pula resiko perusahaan
bila dalam kondisi ekonomi merosot atau memburuk.
Rasio ini bertujuan untuk “menganalisis pembelanjaan yang
dilakukan berupa komposisi hutang dan modal serta kemampuan
perusahaan untuk membayar bunga dan beban tetap lainnya. rasio ini
terdiri atas beberapa jenis yaitu sebagai berikut” Arief Sugiono (2009
: 70).
1) Debt Ratio
Menurut Arief Sugiono (2009 : 70) rasio ini
Dikenal juga dengan sebuthan Debt To Asset yang
membandingkan total utang dengan total aktiva. para
kreditur menginginkan total utang dengan total aktiva.
17
para kreditur menginginkan Debt Ratio yang rendah
karena semakin tinggi rasio ini semakin besar resiko
para kreditur.
Total Kewajiban
Debt Ratio =
Total Aktiva
2) Financial Leverage atau Debt to Equity Ratio
Menurut Arief Sugiono (2009 : 71) rasio ini juga dikenal
dengan sebutan
DER (debet to equity ratio) ratio ini menunjukkan perbandingan
hutang dan modal. rasio ini merupakan salah satu rasio yang
penting karena berkaitan dengan masalah trading on equity,
yang dapat memberikan pengaruh positif dan negatif terhadap
rentabilitas modal sendiri dari perusahaan tersebut.
Total Kewajiban
Financial Leverage =
Total Modal
3) TIER (Time Interest Earning Ratio)
“Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan yang berasal
dari EBIT (earning before interst and tax) atau laba sebelum
bunga dan pajak untuk membayar bunga pinjaman”. Arief
Sugiono (2009 : 71).
EBIT
TIER=
Biaya Bunga
4) Fixed Charge Converge Ratio
Menurut Arief Sugiono (2009 : 72)
Rasio ini lebih luas dari pada TIER karena selain bunga
pinjaman, kita juga ingin melihat sampai seberapa jauh
laba usaha perusahaan sebelum dikurangi bunga
pinjaman dan pajak (EBIT) dan pembayaran sewa
guna usaha (leasing) dapat diandalkan untuk membayar
kewajiban finansial berupa biaya bunga dan
pembayaran leasing.
18
Laba
Operasi
Pembayaran Leasing
+
Fixed Change Coverage Ratio =
Biaya Bunga + Pembayaran
Leasing
5) Cach Flow Coverage
Menurut Arief Sugiono (2009 : 71)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk
memenuhi
kewajibannya
berupa
bunga
dan
pembayaran cicilan hutang baik berupa hutang bank
maupun leasing. cash in flow dihitung atas dasar
EBIT+lease obligation+penyusutan atau biaya non kas,
sedangkan deviden saham preferen dan pembayaran
angsuran pinjaman harus disesuaikan terlebih dahulu
dengan membagi 1-Tax karena keduanya bukan
merupakan biaya yang dapat dikurangi dalam
perhitungan pajak atas laba perusahaan.
“Biasanya rasio ini tidak memiliki rata-rata industrinya tetapi
secara umum dapat diambil suatu patokan bahwa cash flow
coverage ratio yang baik adalah jika dilakukan sekurang
kurangnya dua kali”. Arief Sugiono (2009 : 71).
Cash Flow
Coverage =
Cash in Flow
Beban Tetap + Deviden Preferen + Angsuran Pinjaman
(1-Tax)
(1-Tax)
c. Rasio Aktivitas atau rasio kegiatan (Activity Ratio)
“Rasio ini menggambarkan tingkat pendayagunaan harta atau
sarana modal yang dimiliki perusahaan. atau, dengan kata lain rasio
ini
bertujuan
untuk
mengukur
efektivitas
mengoperasikan dana”. Arief Sugiono (2009 : 71).
perusahaan
dalam
19
1) Rasio Perputaran Persediaan
a) Inventory Turn Over
Rasio ini menunjukkan “berapa kali persediaan dapat
berputar dalam setahun. semakin tinggi tingkat perputaran
persediaan, semakin cepat dana yang tertanam dalam persediaan
berputar kembali menjadi uang kas”. Arief Sugiono (2009 : 73).
Harga Pokok Persediaan
Inventory Turn Over =
Persediaan
b) Inventory Day in Hand
Rasio ini menunjukkan “berapa lamanya persediaan
disimpan sebelum dijual”. Arief Sugiono (2009 : 74).
360
Inventory Days =
Inventory Turn Over
2) Rata-rata Pencairan Piutang
a) Account Receibable Turn Over
Menurut Arief Sugiono (2009 : 74)
Rasio ini menunjukan berapa kali piutang usaha
dapat berputar dalam setahun. rasio ini seharusnya
membandingkan penjualan kredit (tidak termaskuk
penjualan tunai) dengan piutang usaha. namun
dalam kondisi yang ada kita sering sulit
mendapatkan informasi hanya mengenai penjualan
kredit sehingga yang digunakan adalah total
penjualan.
Penjualan Bersih
Account Receivable Turn Over =
Putang Usaha
20
b) Collection Period
Menurut Agus Sartono dalam bukunya manajemen
keuangan teori dan aplikasi (2001 : 119) Collection Period atau
Periode Pengumpulan Piutang adalah
Rata-rata hari yang diperlukan untuk mengubah piutang
menjadi kas. Biasanya ditentukan dengan membagi
piutang dengan rata-rata penjualan harian. Ada yang
menggunakan piutang rata-rata yang dibagi dengan
penjualan kredit. Hal ini dilakukan apabila piutang awal
tahun sangat berbeda dengan piutang akhir tahun.
3) Perputaran Hutang Dagang
a) Account Payble Turn Over
Menurut Arief Sugiono (2009 : 75) Rasio ini menunjukkan
Berapa kali hutang usaha dapat berputar dalam setahun. rasio
ini seharusnya membandingkan pembelian kredit (tidak
termasuk pembelian tunai) dengan hutang usaha. namun,
dalam kondisi yang ada kita sering sulit mendapatkan
informasi hanya mengenai pembelian kredit sehingga yang
digunakan adalah HPP. Perhitungan ini menjadi bias karena
nilai penjualan sudah termaksud profit yang diperoleh
perusahaan sedangkan nilai persediaan yang dicatat dalam
neraca ditetapkan atas dasar biaya.
Harga Pokok Penjulan
Account Payable Turn Over =
Hutang Usaha
b) Account Payable in Days
Ratio ini menujukkan “berapa lama hutang usaha dilunasi oleh
perusahaan”. Arief Sugiono (2009 : 76).
360
Account Payable Days =
Account Payable Turn Over
21
c) Working Capital Turn Over
Rasio ini menujukkan “kemampuan modal kerja yang berputar
dalam suatu siklus kas (cash Cycle) dari perusahaan”. Arief Sugiono
(2009 : 77).
Penjualan Bersih
Working Capital Turn Over =
Aktiva Lancar – Hutang Lancar
d) Total Asset Turn Over
Ratio
ini
menunjukkan
“kemampuan
perusahan
dalam
mengelola seluruh aset atau investasi untuk menghasilkan penjualan”.
Arief Sugiono (2009 : 77).
Penjualan Bersih
Asset Turn Over =
Total Aktiva
e) Net Fixed Asset Turn Over
Ratio ini menunjukkan “kemampuan perusahaan dalam
mengelola seluruh aktiva perusahaan dalam mengelola seluruh aktiva
tetap bersih untuk menghasilkan penjualan”. Arief Sugiono (2009 :
78).
Penjualan Bersih
Net Fixed Asset Turn Over =
Total Aktiva Tetap (net)
d. Rasio Profitabilitas atau rasio Rentabilitas (Profitability Ratio)
Rasio ini bertujuan untuk “mengukur efektivitas manajeman yang
tercermin pada imbalan atas hasil investasi melalui kegiatan perusahaan
atau dengan kata lain mengukur kinerja perusahaan secara keseluruhan
22
dan efisiensi dalam pengelolaan kewajiban dan modal”. Arief Sugiono
(2009 : 78)
1) Gross Profit Margin
Rasio ini menunjukkan “berapa besar keuntungan kotor yang
diperoleh dari penjualan produk”. Arief Sugiono (2009 : 79).
Laba Kotor
Gross Profit Margin =
Penjualan
2) Net Profit Margin atau Return on Sales (ROS)
Rasio ini menunjukkan “berapa besar keuntungan bersih
yang diperoleh perusahaan.” Arief Sugiono (2009 : 79).
Laba Bersih
Net Profit Margin =
Penjualan Bersih
3) Cash Flow Margin
Cash Flow Margin adalah “persentase aliran kas dari hasil
operasi terhadap penjualannya. cash flow margin mengukur
kemampuan perusahaan untuk mengubah penjualan menjadi
aliran kas”. Arief Sugiono (2009 : 80).
Arus Kas Hasil Oprasi
Cash Flow Margin =
Penjualan Bersih
4) Return on Asset (ROA) atau Return On Investment (ROI)
Rasio ini mengukur “tingkat pengembalian dari bisnis atas
seluruh aset yang ada. atau rasio ini menggambarkan efisiensi
pada dana yang digunakan dalam perusahaan. oleh karena itu,
23
sering pula rasio ini disebut Return on Investment”.
Arief
Sugiono (2009 : 80).
Laba Bersih
ROA =
Total Aktiva
5) Return On Equity (ROE)
Rasio ini mengukur “tingkat pengembalian dari bisnis atas
seluruh modal yang ada. ROE merupakan salah satu indikator
yang
digunakan
oleh
pemegang
saham
untuk
mengukur
keberhasilan bisnis yang dijalani. rasio ini dapat disebut juga
dengan istilah Rentabilitas Modal Sendiri” Arief Sugiono (2009 :
81).
Laba Bersih
ROE =
Total Ekuitas
4. Rasio Keuangan yang Digunakan dalam Penelitian
Menurut Keputusan Menteri BUMN No. Kep-100/MBU/2002
tentang penilaian tingkat kesehatan BUMN, bahwa penilaian terhadap
kinerja perusahaan dalam kaitannya dengan tingkat kesehatan BUMN
melitputi :
a. Imbalan kepada pemegang saham/Return On Equity (ROE)
Rumus:
ROE : Laba setelah Pajak x 100 %
Modal Sendiri
Definisi :
1) Laba setelah Pajak adalah Laba setelah Pajak dikurangi dengan
laba hasil penjualan dari :
24
a)
b)
c)
d)
Aktiva tetap
Aktiva Non Produktif
Aktiva Lain-lain
Saham Penyertaan Langsung
2) Modal Sendiri adalah seluruh komponen Modal Sendiri dalam
neraca perusahaan pada posisi akhir tahun buku dikurangi
dengan komponen Modal sendiri yang digunakan untuk
membiayai Aktiva Tetap dalam Pelaksanaan dan laba tahun
berjalan. Dalam Modal sendiri tersebut di atas termasuk
komponen kewajiban yang belum ditetapkan statusnya.
3) Aktiva Tetap dalam pelaksanaan adalah posisi pada akhir tahun
buku Aktiva Tetap yang sedang dalam tahap pembangunan.
b. Imbalan Investasi/Return On Investment (ROI)
Rumus :
ROI : EBIT + Penyusutan x 100 %
Capital Employed
Definisi :
1) EBIT adalah laba sebelum bunga dan pajak dikurangi laba dari
hasil penjualan dari :
a) Aktiva Tetap
b) Aktiva lain-lain
c) Aktiva Non Produktif
d) Saham penyertaan langsung
2) Penyusutan adalah Depresiasi, Amortisasi dan Deplesi
3) Capital Employed adalah posisi pada akhir tahun buku Total
Aktiva dikurangi Aktiva Tetap dalam pelaksanaan.
c. Rasio Kas/Cash Ratio
Rumus:
Cash Ratio = Kas + Bank + Surat Berharga Jangka pendek x 100 %
Current Liabilities
Definisi :
1) Kas, Bank dan surat Berharga Jangka Pendek adalah posisi
masing-masing pada akhir tahun buku.
2) Current Liabilities adalah posisi seluruh kewajiban Lancar pada
akhir tahun buku.
d. Rasio Lancar/Current Ratio
Rumus :
Current ratio : Current Asset
x 100 %
Current Liabillities
25
Definisi :
1) Current Asset adalah posisi Total Aktiva Lancar pada akhir
tahun buku
2) Current Liabilities adalah posisi Total Kewajiban Lancar pada
akhir tahun buku .
e. Collection Periods (CP)
Rumus :
CP = Total Piutang Usaha
x 365 hari
Total Pendapatan Usaha
Definisi :
1) Total Piutang Usaha adalah posisi Piutang Usaha setelah
dikurangi Cadangan Penyisihan Piutang pada akhir tahun buku.
2) Total Pendapatan Usaha adalah jumlah Pendapatan Usaha
selama tahun buku.
f. Perputaran Persediaan (PP)
Rumus :
PP = Total Persediaan
x 365
Total Pendapatan Usaha
Definisi :
1) Total Persediaan adalah seluruh persediaan yang digunakan
untuk proses produksi pada akhir tahun buku yang terdiri dari
persediaan bahan baku, persediaan barang setengah jadi dan
persediaan barang jadi ditambah persediaan peralatan dan suku
cadang.
2) Total Pendapatan Usaha adalah Total Pendapatan Usaha dalam
tahun buku yang bersangkutan.
g. Perputaran Total Asset/Total Asset Turn Over (TATO)
Rumus :
TATO = Total Pendapatan x 100 %
Capital Employed
Definisi :
1) Total Pendapatan adalah Total Pendapatan Usaha dan Non
Usaha tidak termasuk pendapatan hasil penjualan Aktiva Tetap
2) Capital Employed adalah posisi pada akhir tahun buku total
Aktiva dikurangi Aktiva Tetap Dalam Pelaksanaan.
h. Rasio Total Modal Sendiri Terhadap Total Asset (TMS terhadap
TA)
Rumus:
TMS terhadap TA : Total Modal Sendiri x 100%
Total Asset
26
Definisi :
1) Total Modal Sendiri adalah seluruh komponen Modal Sendiri
pada akhir tahun buku diluar dana-dana yang belum ditetapkan
statusnya.
2) Total Asset adalah Total Asset dikurangi dengan dana-dana yang
belum ditetapkan statusnya pada poisisi akhir tahun buku yang
bersangkutan.
E. Privatisasi
1.
Definisi Privatisasi
Menurut Kepres RI No. 122 tahun 2001, Privatisasi adalah :
Pengalihan atau penyerahan sebagian kontrol atas sebuah
BUMN kepada swasta antar lain melalui cara penawaran
umum, penjualan saham secara langsung kepada mitra
strategis, penjualan saham perusahaan kepada karyawan,
dan atau cara-cara lain yang di pandang tepat.
Menurut UU No. 19 tahun 2003, Privatisasi adalah :
Penjualan saham Persero, baik sebagian maupun
seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka
meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar
manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas
pemilikan saham oleh masyarakat.
Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah No.33 tahun 2005
privatisasi adalah :
Penjualan saham Persero, baik sebagian maupun
seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan
kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi
negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan
saham oleh masyarakat.
Secara teoritis akademis, definisi privatisasi bermacam-macam
sesuai lingkungan dan “trend” program privatisasi itu sendiri. Peacock
(1930)
mendefinisikan
bahwa
privatisasi
adalah
pemindahan
27
kepemilikan industri ke pihak swasta. Menurut company Act (1980),
privatisasi adalah penjualan yang berkelanjutan sekurang-kurangnya
sebesar 50% dari saham milik pemerintah ke swasta. Sedangkan Kay
and Thomson (1970) mendefinisikan privatisasi adalah perubahan
hubungan antara pemerintah dan swasta. Secara umum dapat di
simpulkan
bahwa
privatisasi
adalah
suatu
metode
perubahan
kepemilikan perusahaan atau aset negara menjadi milik swasta.
Lengkapnya privatisasi adalah kebijakan strategis pemerintah dalam
mengalihkan kepemilikan perusahaan atau aset negara ke Pihak swasta
melalui berbagai cara yang paling menguntungkan, efektif, efisien,
sesuai kondisi dan karakteristik perusahaan tersebut bagi negara. (Tito
Sulistio : 2006).
2.
Tujuan Privatisasi
Privatisasi ditujukan untuk meningkatkan efisiensi suatu
BUMN
dengan
memasukkan
dalam
market
condition
yang
selanjutnya memberi keuntungan bagi pemilik, pelanggan dan
karyawannya (Moore, 1983) dan Shaoul (1997) menambahkan bahwa
privatisasi dapat dilaksanakan karena berbagai tujuan seperti memacu
pendapatan perusahaan, mengurangi hutang, memperoleh dana dari
pasar modal, mengurangi peran pemerintah dalam suatu industri dan
meningkatkan sebaran pemegang saham.
Menurut UU No. 19 Tahun 2003 tujuan dilakukannya
privatisasi adalah “dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai
28
perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat,
serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat”.
Maka secara garis besar maksud dan tujuan dilakukannya
privatisasi adalah untuk menigkatkan profitabilitas perusahaan,
meningkatkan efisiensi opriasional, dan meningkatkan outputnya.
3. Metode-metode Privatisasi
Menurut Tito Sulistio dalam bukunya Mencari Ekonomi
Propasar (2006: 41)
Berdasarkan aset yang dijual ada beberapa mekanisme atau
metode privatisasi yang umum dilakukan.
a. Penjualan saham. Dalam hal ini pemilikan publik hanya
akan dibawah mayoritas (<50%):
1) Melalui bursa efek, dengan suatu penawaran umum
(IPO). Metode ini paling tidak menimbulkan kontroversi,
tetapi mewajibkan BUMN mempunyai kesiapan legal
dan adminisrtatip.
2) Penjualan langsung kepada pihak strategis. Pemeritah
sebagai pemegang saham dapat saja menunjuk langsung
atau melalui suatu lelang atau ‘trade sales’ atau
competitive bidding. Pengertian strategis dapat berarti
dana, teknologi atau pun pasar. Semua tergantung dari
karakteristik industri dari perseroan yang akan dijual.
Pemerintah dapat saja selalu menginginkan asing,
walaupun demikian situasi prioritas lokal justru yang
paling logis untuk dipertimbangkan.
3) Penjualan kepada pengelola dan pegawai. Dikenal
dengan Management or employee buy out, biasanya
merupakan bagian dari program strategis privatisasi
untuk mengurangi penolakan dari dalam.
4) Kupon atau voucher kepada masyarakat. Secara teknis
ini memang paling ‘complicated’. Tapi metode ini benarbenar memperlihatkan keberpihakan, melakukan
pemerataan pendapatan melalui pemilikan.
b. Penjualan perusahaan. Dalam hal ini kontrol dari BUMN
secara langsung dilepaskan kepada pembeli, karena yang
dijual adalah perusahaan, dalam arti lebih dari 50% atau
bahkan semuanya. Jika pemerintah ingin menjual langsung
100% mungkin pasar modal sulit secara teknis
29
menerimanya. Karenanya harus dilepas kepada investor
strategis, bisa penunjukkan langsung, trade sales atau
competitive bidding, atau jual kepada manajemen
(management buy out), kembali semua tergantung
karakteristik perseroan.
c. Aset atau harta, kemungkinan suatu BUMN demikian tidak
sehatnya sehingga secara akunting tidak mungkin dijual.
Atau ‘hidden asset’ yang dimiliki jauh lebih berharga dari
nilai perusahaan.
4. Manfaat Privatisasi Terhadap Kinerja Keuangan
Menurut Purwoko (2002) privatisasi dapat mendatangkan
manfaat bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia “apabila setelah
privatisasi BUMN mampu bertahan hidup dan berkembang di masa
depan, mampu menghasilkan keuntungan, dapat memberdayakan usaha
kecil, menengah dan koperasi serta masyarakat yang ada disekitarnya”.
Dengan demikian, privatisasi BUMN diharapkan
a. Mampu meningkatkan kinerja BUMN,
b. Mampu menerapkan prinsip-prinsip good governance dalam
pengelolaan BUMN,
c. Mampu meningkatkan akses ke pasar internasional,
d. Terjadinya transfer ilmu pengetahuan dan teknologi,
e. Terjadinya perubahan budaya kerja, serta
f. mampu menutup defisit APBN.
Download