BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN
A.
Kajian Pustaka
Beberapa studi literatur dan teori mengenai akuntansi aktiva tetap dan
akuntansi leasing yang berkaitan dengan penelitian diuraikan sebagai
berikut:
1.
Aktiva Tetap
Achmad Tjahjono dan Sulastiningsih (2009:112) mengemukakan
bahwa
“setiap perusahaan dalam kegiatan operasinya pasti menggunakan
aktiva yang dapat dipakai dalam jangka waktu panjang yang biasanya
mengacu pada jangka waktu lamanya aktiva dipakai perusahaan lebih
dari satu tahun dan juga aktiva dilihat melalui fisik yang mempunyai
bentuk yang sering disebut dengan Aktiva Tetap Berwujud (Tangible
Asset) atau aktiva yang tidak mempunyai wujud secara fisik sering
disebut Aktiva Tak Berwujud (Intangible Asset).”
Aktiva tetap berwujud diatur dalam PSAK 16 Aktiva Tetap dan Aktiva
Lain-lain.
a.
Pengertian Aktiva tetap
Para ahli akuntansi banyak memberikan pengertian aktiva tetap
yang berbeda-beda, tetapi inti dan tujuannya adalah sama. Ada
bermacam-macam
pengertian
tentang
Aktiva
Tetap
yang
dikemukakan oleh beberapa para ahli akuntansi diantaranya sebagai
7
8
berikut:
1)
Menurut Zaki Baridwan (2004:271)
“Aktiva tetap berwujud adalah aktiva-aktiva yang berwujud
yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan
perusahaan yang normal. Istilah relatif permanen menunjukkan
sifat di mana aktiva yang bersangkutan dapat digunakan dalam
jangka waktu yang relatif cukup lama.”
2)
Menurut Achmad Tjahjono dan Sulastiningsih (2009:112)
“Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam
keadaan siap dipakai atau dibangun terlebih dahulu, yang
digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dijual dalam rangka
kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih
dari satu tahun.”
3)
Menurut Soemarsono S.R (2005:20)
“Aktiva tetap adalah aktiva berwujud (tangible fixed assets)
yang: (1) masa manfaatnya lebih dari satu tahun; (2) digunakan
dalam kegiatan perusahaan; (3) dimiliki tidak untuk dijual
kembali dalam kegiatan normal perusahaan serta; pemakaian
minimal untuk membedakan aktiva tetap dengan aktiva lainya.”
Selain pengertian aktiva tetap yang telah dikemukakan oleh para
ahli, terdapat pengertian yang dikemukanan menurut Ikatan Akuntan
Indonesia yang dituangkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) 16 Revisi 2011 bahwa aktiva tetap atau disebutkan
dengan nama lain
“Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang:
1) dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan
barang atau jasa untuk direntalkan kepada pihak lain, atau
untuk tujuan administratif; dan
2) diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode”
Sehingga sintesa untuk seluruh kutipan yang telah ditulisakan di
atas lebih mengacu kepada PSAK 16 Revisi 2011 dimana PSAK juga
9
menjadi dasar yang dilegalkan di Indonesia sebagai acuan dalam
akuntansi.
b.
Karakteristik Aktiva Tetap
Seperti
yang
dikemukakan
oleh
Efraim
Ferdinan
Giri
(2012:217) bahwa akuntansi aktiva tetap diatur dalam PSAK No. 16
(Revisi 2008) memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)
Memiliki wujud fisik
2)
Diperoleh untuk digunakan dalam kegiatan usaha perusahaan,
dan tidak dimaksudkan untuk dijual.
3)
Memberikan manfaat ekonomi untuk perioda jangka panjang,
dan merupakan subjek depresiasi.
Karakteristik di atas memberikan batasan tentang sesuatu yang
akan diklasifikasikan sebagai aktiva. Suatu item diakui sebagai aktiva
tetap hanya jika item tersebut sangat mungkin menciptakan aliran
manfaat ekonomi pada masa depan dan kos/biayanya dapat diukur
secara andal.
c.
Prinsip Penilaian Aktiva Tetap
Di dalam buku yang dituliskan oleh Zaki Baridwan (2004:273)
juga menjelaskan dalam hubungannya dengan penilaian aktiva tetap
berwujud, PSAK No. 16 menyatakan: “Suatu benda berwujud yang
memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai suatu aktiva dan
10
dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur
berdasarkan biaya perolehan.”
Zaki Baridwan (2004:273) juga menyatakan yang dimaksud
dengan
“biaya (harga) perolehan aktiva tetap adalah jumlah kas atau
setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang
diberikan untuk memperoleh suatu aktiva pada saat perolehan
atau konstruksi sampai dengan aktiva tersebut dalam kondisi
dan tempat yang siap untuk digunakan.”
Sesudah aktiva tetap itu diperoleh dan dalam masa penggunaan maka
aktiva yang umurnya tidak terbatas seperti tanah, dilaporkan dalam
neraca sebesar harga perolehannya. Sedang untuk aktiva yang
umurnya
terbatas
dicantumkan
dalam
neraca
sebesar
harga
perolehannya dikurangi dengan akumulasi depresiasi/deplesi. Harga
perolehan dikurangi akumulasi depresiasi/deplesi disebut nilai buku.
Penyimpangan dari prinsip di atas dapat dilakukan dalam hal
suatu aktiva tetap diperoleh dari hadiah/donasi. Quasi reorganisasi
(penurunan nilai aktiva tetap) dan penilaian kembali aktiva tetap
(revaluasi) juga merupakan kegiatan-kegiatan yang menyimpang dari
“cost principles”. Penyimpangan-penyimpangan seperti tersebut di
atas dapat diterima jika dapat memenuhi syarat-syarat yang telah
ditetapkan seperti yang dijelaskan oleh Zaki Baridwan (2004:273).
11
d.
Harga Perolehan Aktiva Tetap
Menurut Hery (2013:243) berpendapat bahwa harga perolehan
aktiva tetap meliputi seluruh jumlah yang dikeluarkan untuk
mendapatkan aktiva tersebut. Aktiva tetap akan dilaporkan dalam
neraca tidak hanya sebesar harga belinya saja, tetapi juga termasuk
seluruh biaya yang dikeluarkan sampai aktiva tetap tersebut siap untuk
dipakai. Sebagai contoh adalah mesin produksi, dimana harga
perolehannya tidak hanya berasal dari harga beli saja, tetapi juga
termasuk pajak, ongkos angkut, biaya asuransi selama dalam
perjalanan, ongkos pemasangan dan biaya uji coba, sampai mesin
tersebut benar-benar dapat dioperasikan dan dimanfaatkan.
Meneruskan pendapat Hery (2013:243) di dalam bukunya
bahwa biaya-biaya yang terjadi setelah aktiva dipakai (postacquisition cost) biasanya akan langsung dibebankan, bukan
ditambahkan ke harga perolehan. Pengecualian terjadi untuk
pengeluaran-pengeluaran yang akan menambah kegunaan aktiva, baik
melalui penambahan umur ekonomis maupun peningkatan arus kas
masuk di masa yang akan datang.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat ahli di atas, Achmad
Tjahjono dan Sulastiningsih (2009:113) juga pernah mengemukakan
sebelumnya bahwa harga perolehan aktiva tetap meliputi semua
pengeluaran yang layak untuk mendapatkan aktiva tetap sampai siap
digunakan. Bebarapa contoh biaya yang dapat dimasukkan sebagai
12
elemen harga perolehan aktiva tetap meliputi: harga beli, biaya
pengangkutan, biaya asuransi perjalanan, biaya pemasangan, biaya uji
coba dan biaya-biaya lain yang dapat diatribusikan secara langsung
kepada aktiva tetap yang dibeli.
Achmad
Tjahjono
dan
Sulastiningsih
(2009:113)
juga
menjabarkan bahwa harga perolehan untuk aktiva yang dibangun
sendiri meliputi biaya material, biaya tenaga kerja, biaya overhead,
dan biaya-biaya yang berkaitan dengan biaya hukum. Sementara harga
perolehan untuk aktiva berupa tanah terdiri dari harga beli tanah, biaya
pematangan tanah, biaya komisi perantara, dan biaya pengurusan hak
milik berupa sertifikat tanah.
13
Secara lengkap elemen biaya yang dapat dimasukkan sebagai
elemen harga perolehan disajikan di bawah ini:
Tabel 2.1 Elemen-Elemen Harga Perolehan Aktiva Tetap
ELEMEN-ELEMEN HARGA PEROLEHAN
AKTIVA TETAP
TANAH
PENGEMBANGAN
TANAH
 Harga beli
 Biaya penanaman
 Komisi perantara
pepohonan dan
 Bea balik nama
perumputan
 Biaya penelitian tanah
 Pagar
 Iuran selama tanag belum digunakan
 Penerangan jalan
 Biaya merobohkan bangunan lama
 Pengaspalan area parkir
 Biaya perataan dan pembersih tanah
BANGUNAN
MESIN DAN
Jika dibeli dari pihak lain:
PERALATAN
 Harga beli
 Harga beli
 Biaya perbaikan sebelum digunakan
 Biaya pengangkutan
 Biaya notaris
 Biaya asuransi perjalanan
 Bea balik nama
 Biaya
pemasangan/perakitan
 Bea perolehan hak atas tanah dan
 Biaya uji coba
bangunan
Jika dibangun sendiri:
 PPN yang tidak dapat
 Biaya perencanaan pembangunan
dikreditkan
gedung
 Biaya reparasi (untuk
 Ijin mendirikan bangunan (IMB)
peralatan bekas)
 Bunga selama masa pembangunan
 Asuransi selama masa pembangunan
Sumber: Buku Intermediate Accounting (2004)
Biaya-biaya yang tidak mempunyai manfaat secara langsung
dalam rangka perolehan dan penyiapan aktiva tetap agar siap
digunakan bukan termasuk elemen harga perolehan. Contoh
pengeluaran ini meliputi biaya akibat kesalahan pemasangan, biaya
akibat kecerobohan saat uji coba, denda akibat tidak lengkapnya ijin
dari
dinas
pemerintah,
pencurian
yang
tidak
diasuransikan.
14
Pengeluaran semacam itu harus dibebankan sebagai beban pada saat
perolehan.
e.
Metode Penyusutan
Menurut Firdaus A. Dunia (2008: 182) berpendapat bahwa ada 4
metode yang utama untuk menghitung penyusutan, yakni:
1)
Metode Garis Lurus (Straight Line)
Beban penyusutan dalam metode garis lurus dialokasikan
berdasarkan berlalunya waktu. Oleh karena itu, metode ini
menghasilkan jumlah beban penyusutan periodik yang sama
selama masa manfaat dari aktiva tetap tersebut. Beban
penyusutan dapat dihitung dengan rumus berikut ini:
𝐁𝐞𝐛𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐮𝐬𝐮𝐭𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 =
2)
𝐇𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐨𝐥𝐞𝐡𝐚𝐧 − 𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐚
𝐌𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭 𝐓𝐚𝐤𝐬𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧
Metode Jumlah Unit Produksi (Units-of-Production)
Dalam metode jumlah unit produksi, manfaat taksiran dari
aktiva tetap (estimated useful life) dinyatakan dalam jumlah unit
dari kapasitas produksi seperti jumlah jam atau km. Metode ini
akan menghasilkan beban penyusutan yang berfluktuasi sesuai
dengan pemakaian aktiva yang sesungguhnya. Penyusutan
dihitung dalam dua tahap.
15
Tahap pertama menentukan tarif penyusutan untuk setiap
unit produksi, dan tahap berikutnya menentukan beban
penyusutan untuk suatu periode akuntansi dengan mengalikan
tarif penyusutan per unit dengan jumlah unit produksi yang
sesungguhnya digunakan selama periode tersebut. Beban
penyusutan dapat dihitung dengan rumus berikut ini:
𝐓𝐚𝐫𝐢𝐟 𝐩𝐞𝐧𝐲𝐮𝐬𝐮𝐭𝐚𝐧 =
𝐇𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐨𝐥𝐞𝐡𝐚𝐧 − 𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐒𝐢𝐬𝐚
𝐌𝐚𝐧𝐟𝐚𝐚𝐭 𝐓𝐚𝐤𝐬𝐢𝐫𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐉𝐚𝐦
Beban penyusutan = Tarif Penyusutan x Jumlah Unit Produksi
yang sesungguhnya
3)
Metode Saldo Menurun (Declining-Balance)
Dalam
metode
saldo
menurun,
penyusutan
yang
dibebankan pada tahun pertama dan tahun-tahun berikutnya
akan semakin menurun. Untuk menerapkan metode ini, biasanya
tarif penyusutan yang digunakan adalah dua kali dari tarif
metode garis lurusa. Apabila masa manfaat taksiran adalah 5
tahun, maka tarif untuk metode saldo menurun adalah 40%,
yaitu dua kali tarif metode garislurus sebesar 20% (100%:5).
Beban penyusutan dihitung dengan rumus berikut ini:
Beban Penyusutan = Tarif penyusutan x Nilai buku awal tahun
16
Nilai buku pada awal tahun kedua sama dengan harga
perolehan dikurangi dengan saldo akumulasi penyusutan pada
awal tahun kedua atau akhir tahun pertama.
4)
Metode Jumlah Angka-Angka Tahun (Sum-of-Years Digits)
Metode jumlah angka tahun sama dengan metode saldo
menurun, dimana beban penyusutan semakin menurun setiap
tahun selama masa pemakaiannya. Beban penyusutan dihitung
dengan mengalikan harga perolehan dikurangi nilai sisa taksiran
dengan suatu pecahan. Angka penyebut (denominator) dari
pecahan tersebut adalah jumlah angka-angka tahun. Sebagai
contoh suatu aktiva tetap dengan masa manfaat 5 tahun, angka
penyebut dari pecahan adalah 15 (5+4+3+2+1).
Rumus untuk menghitung secara lebih mudah jumlah
angka tahun ini adalah:
𝐉𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚 𝐭𝐚𝐡𝐮𝐧 =
𝐍(𝐍 + 𝟏)
𝟐
dimana N adalah masa manfaat taksiran dari aktiva yang
dinyatakan dalam tahun.
f.
Cara Perolehan Aktiva Tetap
Di dalam buku yang dituliskan oleh Zaki Baridwan (2004:278)
bahwa aktiva tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara, dimana
masing-masing cara perolehan akan mempengaruhi penentuan harga
17
perolehan. Adapun cara perolehan aktiva tetap yang dijelaskan adalah
sebagai berikut:
1)
Pembelian tunai
2)
Pembelian secara lumpsum/gabungan
3)
Pertukaran dengan surat-surat berharga atau dengan aktiva lain,
4)
Diperoleh dari hadiah/donasi
5)
Aktiva tetap yang dibuat sendiri
6)
Pembelian angsuran
Tidak hanya cara perolehan di atas, Donald E. Kieso, Jerry J.
Weygandt, Terry D. Warfield (2001:231) juga mengemukakan bahwa
dalam perolehan aktiva tetap dapat dilakukan dengan me-leasing
dikarenakan salah satu alasannya adalah bahwa lease merupakan
perlakuan
akuntansi
yang
menguntungkan
bagi
perusahaan
dibandingkan dengan membeli.
Berdasarkan penelitian yang akan dilakukan yaitu menganalisa
pelakuan akuntansi leasing terhadap aktiva tetap, oleh karena itu
penulis akan lebih menjelaskan tentang cara perolehan aktiva tetap
melalui leasing.
2.
Leasing
Kepopuleran leasing tumbuh begitu pesatnya dan pada saat ini
merupakan bentuk investasi modal yang tumbuh paling cepat. Perusahaan
tidak lagi meminjamkan uang untuk membeli pesawat terbang, komputer
18
dan inti nuklir, atau satelit, tetapi me-lease-nya seperti yang dikemukakan
oleh Donald E. Kieso, Jerry Weygandt, Terry D. Warfield yang
diterjemahkan oleh Emil Salim (2007:157).
a.
Pengertian Lease
1)
Menurut Donald E. Kieso, Jerry Weygandt, Terry D. Warfield
yang diterjemahkan oleh Emil Salim (2007:159)
“Lease adalah perjanjian kontraktual antara lessor dan lessee
yang memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan
properti tertentu, yang dimiliki oleh lessor, selama periode
waktu tertentu dengan membayar sejumlah uang (sewa) yang
sudah ditentukan, yang umumnya dilakukan secara periodik.”
2)
Menurut Earl K Stice, PhD, James D. Stice, PhD, dan K. Fred
Skousen, PhD. CPA yang telah diterjemahkan oleh Ali Akbar
(2009:288) yaitu “Sewa guna usaha (lease) adalah sebuah
kontrak yang merinci persyaratan-persyaratan dimana pemilik
properti, yaitu lessor (yang menyewakan) mentransfer hak
penggunaan properti kepada lessee (penyewa).”
Sehingga dapat disimpulkan dari dua pengertian di atas sesuai
yang dikemukakan para ahli dapat disimpulkan dalam PSAK 30
(Revisi 2007) bahwa Sewa (lease) adalah suatu perjanjian dimana
lessor memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan suatu
aktiva selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya,
lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada
lessor. Sewa pembiayaan (capital lease) adalah sewa yang
mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang
19
terkait dengan kepemilikan suatu aktiva. Hak milik pada akhirnya
dapat dialihkan, dapat juga tidak dialihkan. Sewa operasi (operating
lease) adalah sewa selain sewa pembiayaan.
b.
Keunggulan Lease
Menurut Donald E. Kieso, Jerry Weygandt, Terry D. Warfield
yang diterjemahkan oleh Emil Salim (2001:233) menjelaskan bahwa
pertumbuhan penggunaanya menunjukkan bahwa lease sering kali
memiliki keunggulan tambahan terhadap kepemilikan properti.
Beberapa keunggulan yang umumnya dinikmati lessee adalah:
1)
Pembiayaan 100% dengan suku bunga tetap.
Lease sering ditandatangani tanpa membutuhkan uang muka
dari lessee, yang membantu menghemat dana kas yang terbatas
khususnya sangat diinginkan oleh perusahaan baru dan sedang
berkembang. Selain itu, pembayaran lease juga sering bersifat
tetap, sehingga melindungi lessee dari inflasi dan meningkatnya
biaya uang. Komentar berikut ini umum diberikan berkaitan
dengan pinjaman konvensional: "Bank lokal kami akhirnya
menetapkan 80% dari harga beli tetapi tidak akan lebih tinggi
dari itu, dan mereka menginginkan suku bunga mengambang.
Kami tidak dapat memenuhi pembayaran uang muka dan kami
perlu menetapkan tingkat pembayaran akhir yang dapat kami
penuhi."
20
2)
Proteksi terhadap keuangan.
Peralatan yang di-lease dapat mengurangi risiko keuangan bagi
lessee, dan dalam banyak kasus memindahkan risiko nilai residu
kepada lessor. Misalnya, Syntex Corp. (produsen obat-obatan)
me-lease
komputer.
Dalam
perjanjian
lease,
Syntex
diperbolehkan untuk menukarkan komputer lama dengan
komputer baru setiap saat, membatalkan lease yang lama dan
menciptakan lease yang baru. Biaya lease baru akan
ditambahkan ke saldo lease lama dikurangi dengan nilai tukar
tambah komputer lama. Sebagaimana dikatakan oleh bendahara
Syntex, "Keinginan kami adalah membeli." Namun, jika
komputer baru dimiliki dalam jangka waktu yang pendek, maka
lease merupakan alternatif yang jauh lebih menguntungkan dari
pada membeli.
3)
Fleksibilitas.
Perjanjian lease memiliki lebih sedikit batasan-batasan bila
dibandingkan dengan perjanjian hutang lainnya. Lessor yang
inovatif mampu membuat perjanjian lease disesuaikan dengan
kebutuhan khusus lessee. Misalnya, pembayaran sewa dapat
diatur untuk memenuhi waktu pendapatan kas yang dihasilkan
21
oleh peralatan yang di-lease sehingga pembayaran dapat
dilakukan pada saat peralatan tersebut mulai produktif.
4)
Pembiayaan yang lebih murah
Beberapa perusahaan menyadari bahwa pembiayaan dengan
lease ternyata lebih murah daripada jenis pembiayaan lainnya.
Sebagai contoh, perusahaan baru yang bergerak dalarn industri
yang sedang mengalami depresi, atau perusahaan yang terkena
tarif pajak rendah, mungkin me-lease sebagai cara untuk
memperoleh keuntungan pajak yang bila tidak dilakukan akan
hilang. Pengurangan pajak melalui beban penyusutan tidak
memberikan manfaat berarti bagi perusahaan yangmempunyai
laba kena pajak yang kecil. Melalui leasing, perusahaan leasing
atau lembaga keuangan dapat memperoleh manfaat ini dan
kemudian memberikannya kepada lessee atau pemakai aktiva
yang di-lease berupa pembayaran sewa yang lebih rendah.
5)
Masalah Pajak Minimum Alternatif (Alternatif Minimum
Tax Probleam)
Berdasarkan aturan Alternatif Minimum Tax (AMT), sebagian
dari
pengurangan
pajak
menurut
penyusutan
dipercepat
dianggap sebagai item preferensi pajak yang ditambahkan ke
laba kena pajak perusahaan untuk menghitung laba kena pajak
22
minimum alternatif (alternative minimum taxable income =
AMTI). Perusahaan harus membayar jumlah yang lebih tinggi
pajak reguler atau AMT. Karena kepemilikan peralatan dapat
menyebabkan naiknya AMTI dan, pada akhirnya, kewajiban
pajak minimum alternatif yang melebihi kewajiban pajak
reguler, maka perusahaan sering menggunakan leasing untuk
menghindari peraturan pajak yang memberatkan.
6)
Pembiayaan di luar neraca (Off-Balance-Sheet Financing)
Beberapa lease tidak mengakibatkan bertambahnya hutang pada
neraca atau mempengaruhi rasio keuangan, tetapi dapat
menambah kemampuan perusahaan untuk melakukan pinjaman.
Pembiayaan di luar neraca semacam itu penting bagi perusahaan
tertentu. Sebagai contoh, sebagaimana ditunjukkan dalam cerita
pembukaan, perusahaan penerbangan menggunakan secara
ekstensif perjanjian lease, yang mengakibatkan besarnya jumlah
pembiayaan di luar neraca.
c.
Sifat Konseptual dari Lease
Donald E. Kieso, Jerry Weygandt, Terry D. Warfield yang
diterjemahkan oleh Herman Wibowo dan Ancella A. Hermawan
(2001:235) menjelaskan beberapa pandangan tentang kapitalisasi
lease adalah sebagai berikut:
23
1)
Jangan mengkapitalisasi setiap aktiva yang di-lease. Karena
lessee tidak memiliki hak milik atas properti yang di-lease,
maka kapitalisasi tidak diperlukan.Lebih lanjut, lease adalah
kontrak "executory" yang membutuhkan pelaksanaan yang
berkelanjutan oleh kedua belah pihak. Karena kontrak-kontrak
"executory" lainnya (seperti komitrnen pembelian dan kontrak
kerja) tidak dikapitalisasi, maka lease juga tidak perlu
dikapitalisasi.
2)
Mengkapitalisasi lease serupa dengan pembelian cicilan.
Akuntan harus melaporkan transaksi sesuai dengan substansi
ekonominya; karena itu, jika pembelian cicilan dikapitalisasi,
maka demikian juga dengan lease yang memiliki karakteristik
serupa. Sebagai contoh, United Airlines berjanji untuk
membayar jumlah yang sama selama periode 10 tahun baik atas
lease maupun penjualan cicilan; sementara lessee membayar
sewa, dan pemilik membayar hutang hipotik.
3)
Mengkapitalisasi
semua
lease
jangka
panjang.
Menurut
pendekatan ini, kapitalisasi hanya dilakukan atas hak jangka
panjang untuk menggunakan properti. Pendekatan ini akan
mengkapitalisasi semua lease jangka panjang.
4)
Mengkapitalisasi
lease
perusahaan
dimana
penalti
atas
pelanggaran perjanjian berjumlah substansial. Pendekatan yang
terakhir ini adalah hanya mengkapitalisasi hak dan kewajiban
24
kontraktual perusahaan (yang tidak dapat dibatalkan). Jadi, tidak
mungkin pelaksanaan kontrak menurut lease dapat dihindari
tanpa penalti (denda) yang besar.
3.
Perlakuan Akuntansi Leasing Bedasarkan PSAK 30 (Revisi 2007)
Tujuan diterbitkannya PSAK 30 (Revisi 2007) ini adalah untuk
mengatur kebijakan akuntansi dan pengungkapan yang sesuai, baik
bagi lessee maupun lessor dalam hubungannya dengan sewa (lease).
Penelitian ini akan lebih membahas mengenai perlakuan akuntansi
leasing yang diterapkan oleh lessee dikarenakan objek penelitian ini
akan berlangsung pada pihak lessee.
Seperti yang dijelaskan di atas, PSAK 30 (Revisi 2007)
merupakan pedoman yang harus digunakan oleh perusahaan dalam
menentukan kebijakan apa yang harus diterapkan dengan benar.
Adapun pedoman tersebut dimulai dari mengklasifikasikan sewa
sampai dengan perlakuan untuk sewa pada laporan keuangan. Berikut
penjelasan dari setiap alur yang tercatat dalam PSAK 30 (Revisi
2007):
a.
Klasifikasi Sewa (Lease)
Seperti yang dikutip pada PSAK 30 (Revisi 2007) bahwa
Klasifikasi sewa yang digunakan dalam Pernyataan ini didasarkan atas
sejauh mana risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan
aktiva sewaan berada pada lessor atau lessee.
25
Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan (capital
lease) jika sewa tersebut mengalihkan secara substansial seluruh risiko
dan manfaat yang terkait dengan kepemiikan aktiva. Suatu sewa
diklasfikasikan sebagai sewa operasi (operating lease) jika sewa tidak
mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan aktiva.
Pada PSAK 30 (Revisi 2007) juga dijelaskan bahwa klasifikasi
sewa sebagai sewa pembiayaan (capital lease) atau sewa operasi
(operating lease) didasarkan pada substansi transaksi dan bukan pada
bentuk kontraknya. Contoh dari situasi yang secara individual atau
gabungan dalam kondisi normal mengarah pada sewa yang
diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan adalah:
1)
sewa mengalihkan kepemilikan aktiva kepada lessee pada akhir
masa sewa;
2)
lessee mempunyai opsi untuk membeli aktiva pada harga yang
cukup rendah dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai
dapat dilaksanakan, sehingga pada awal sewa dapat dipastikan
bahwa opsi memang akan dilaksanakan;
3)
masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomis aktiva
meskipun hak milik tidak dialihkan;
4)
pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa
minimum secara substansial mendekati nilai wajar aktiva
sewaan;
26
5)
aktiva sewaan bersifat khusus dimana hanya lessee yang dapat
menggunakannya tanpa perlu modifikasi secara material
Indikator juga dijelaskan di dalam PSAK 30 (Revisi 2007)
dimana indikator dari situasi yang secara individual ataupun gabungan
dapat juga menunjukkan bahwa sewa diklasifikasikan sebagai sewa
pembiayaan (capital lease) adalah:
1)
jika lessee dapat membatalkan sewa, maka rugi lessor yang
terkait dengan pembatalan ditanggungn oleh lessee;
2)
laba atau rugi dari fluktuasi nilai wajar residu dibebankan
kepada lessee (sebagai contoh, dalam bentuk potongan harga
rental dan yang setara dengan sebagian besar hasil penjualan
residu padaakhir sewa); dan
3)
lessee memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa untuk
periode kedua dengan nilai rental yang secara substansial lebih
rendah dari nilai rental pasar.
Contoh dan indikator tidak selalu harus konklusif. Jika jelas dari
fitur lainnya bahwa sewa tidak mengalihkan secara substansial seluruh
risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan, sewa tersebut
diklasifikasikan sebagai sewa operasi (operating lease). Sebagai
contoh, hal ini dapat terjadi jika besarnya pembayaran atas
kepemilikan aktiva yang dialihkan pada akhir sewa adalah variabel
dan setara dengan nilai wajarnya, atau jika terdapat rental kontinjen,
27
yang berarti lessee tidak menanggung secara substansial seluruh risiko
dan manfaat.
Pada penelitian ini akan lebih membahas perlakuan akuntansi
untuk lessee dikarenakan perusahaan yang diteliti pada penelitian ini
adalah yang bertindak atau menempati posisi sebagai pihak lessee.
Gambar 2.1 Kriteria Lessee untuk Klasifikasi Leasing
b.
Sewa dalam Laporan Keuangan Lessee
Seperti dijelaskan pada PSAK 30 (Revisi 2007) bahwa sewa
diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
1.
Sewa pembiayaan (capital lease)
a)
Pengakuan Awal
Pada awal masa sewa, lessee mengakui sewa pembiayaan
sebagai aktiva dan kewajiban dalam neraca sebesar nilai wajar
aktiva sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa
minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Penilaian
ditentukan pada awal kontrak. Biaya langsung awal yang
28
dikeluarkan lessee ditambahkan ke dalam jumlah yang diakui
sebagai aktiva.
Jika transaksi sewa tersebut tidak tercermin dalam neraca
lessee, sumber daya ekonomi dan tingkat kewajiban dari entitas
menjadi terlalu rendah (understated), sehingga mendistorsi
rasio-rasio keuangan. Oleh karena itu, sewa pembiayaan diakui
dalam neraca lessee sebagai aktiva dan kewajiban untuk
pembayaran sewa di masa depan. Pada awal masa sewa, aktiva
dan kewajiban untuk pembayaran sewa di masa depan diakui di
neraca pada jumlah yang sama, kecuali untuk biaya langsung
awal dari lessee yang ditambahkan ke jumlah yang diakui
sebagai aktiva.
Kewajiban sewa tidak dapat disajikan sebagai pengurang
aktiva sewaan dalam laporan keuangan. Jika penyajian
kewajiban dalam neraca dibedakan antara kewajiban jangka
pendek dan kewajiban jangka panjang, hal yang sama berlaku
untuk kewajiban sewa.
Biaya langsung awal umumnya terjadi sehubungan dengan
aktivitas sewa tertentu, seperti aktivitas negosiasi dan pemastian
pelaksanaan sewa. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara
langsung kepada aktivitas lessee untuk suatu sewa pembiayaan
ditambahkan ke jumlah yang diakui sebagai aktiva.
29
Sama seperti PSAK 30 (Revisi 2007), Donald E. Kieso,
Jerry Weygandt, Terry D. Warfield yang diterjemahkan oleh
Herman Wibowo dan Ancella A. Hermawan
(2001:236)
mengemukakan bahwa jika lessee mengkapitalisasi lease, maka
lessee akan mencatat aktiva dan kewajiban yang umumnya sama
dengan nilai sekarang pembayaran sewa. Lessor yang sudah
memindahkan secara substansial seluruh manfaat dan risiko
kepemilikan, mengakui penjualan dengan mengeluarkan aktiva
dari neraca dan menggantikannya dengan piutang. Ayat jurnal
khusus bagi lessor dan lessee, dengan asumsi peralatan di-lease
dan dikapitalisasi, adalah sebagai berikut:
2.2 Tabel Jurnal untuk Lease yang dikapitalisasi
Jurnal untuk Sewa Pembiayaan
Lessee
Lessor
Peralatan yang di-lease xxx
Piutang Lease (bersih) xxx
Kewajiban Lease
xxx
Peralatan
xxx
Sumber: Akuntasi Intermedite Edisi Kesepuluh (2001)
b)
Pengukuran setelah Pengakuan Awal
Pembayaran sewa minimum harus dipisahkan antara
bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang
merupakan pelunasan kewajiban. Beban keuangan harus
dialokasikan ke setiap periode selama masa sewa sedemikian
rupa sehingga menghasilkan suatu tingkat suku bunga periodik
30
yang konstan atas saldo kewajiban. Rental kontinjen dibebankan
pada periode terjadinya.
Suatu sewa pembiayaan menimbulkan beban penyusutan
untuk aktiva yang dapat disusutkan dan beban keuangan dalam
setiap periode akuntansi. Kebijakan penyusutan untuk aktiva
sewaan harus konsisten dengan aktiva yang dimiliki sendiri, dan
penghitungan penyusutan yang diakui harus berdasarkan PSAK
16 (Revisi 2007): Aktiva Tetap dan PSAK 19: Aktiva Tidak
Berwujud. Jika tidak ada kepastian yang memadai (reasonable
certainty) bahwa lessee akan mendapatkan hak kepemilikan
pada akhir masa sewa, aktiva sewaan harus disusutkan secara
penuh dalam jangka waktu yang lebih pendek antara periode
masa sewa dan umur manfaatnya.
PSAK 30 (Revisi 2007) menjelaskan bahwa jumlah yang
dapat disusutkan dari aktiva sewaan dialokasikan ke setiap
periode akuntansi selama perkiraan masa penggunaan dengan
dasar
yang sistematis
dan konsisten dengan kebijakan
penyusutan aktiva yang dimiliki. Jika terdapat kepastian yang
memadai bahwa lessee akan mendapatkan hak kepemilikan pada
akhir masa sewa, perkiraan masa penggunaan aktiva adalah
umur manfaat aktiva tersebut. Jika tidak terdapat kepastian yang
memadai bahwa lessee akan mendapatkan hak kepemilikan pada
akhir masa sewa, maka aktiva sewaan disusutkan selama periode
31
yang lebih pendekatan masa sewa dan umur manfaat aktiva
sewaan.
Jumlah beban penyusutan aktiva dan beban keuangan
untuk suatu periode sangat jarang akan sama nilainya dengan
jumlah pembayaran utang sewa untuk periode tersebut, sehingga
tidak tepat jika pembayaran utang sewa langsung diakui sebagai
beban. Oleh karena itu, kecil kemungkinan bahwa nilai aktiva
akan sama dengan nilai kewajiban sewa setelah dimulainya
masa sewa seperti yang tertulis pada PSAK 30 (Revisi 2007).
2.
Sewa operasi (operating lease)
a)
Pengakuan Awal
Di dalam PSAK 30 (Revisi 2007) juga memberikan
pedoman akuntansi bagi lessee yang memilih sewa operasi
(operating lease). Pembayaran sewa dalam sewa operasi diakui
sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis)
selama masa sewa kecuali terdapat dasar sistematis lain yang
dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aktiva yang
dinikmati pengguna.
Dalam sewa operasi, pembayaran sewa (tidak termasuk
biaya jasa seperti biaya asuransi dan pemeliharaan) diakui
sebagai beban dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar
sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari
32
manfaat yang dinikmati pengguna, walaupun pembayaran
dilakukan tidak atas dasar tersebut.
b)
Pengungkapan
Selain mengungkapkan hal yang dipersyaratkan dalam
PSAK 50, lessee juga harus mengungkapkan hal berikut untuk
sewa operasi:
(a)
Total pembayaran sewa minimum di masa depan dalam
sewa operasi yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap
periode berikut:
(i)
sampai dengan satu tahun
(ii)
lebih dari satu tahun sampai lima tahun
(iii) lebih dari lima tahun
(b)
Total pembayaran sewa-lanjut minimum masa depan,
yang dihitung pada tanggal neraca, yang diperkirakan akan
diterima dalam kontrak sewa-lanjut yang tidak dapat
dibatalkan.
(c)
Pembayaran sewa dan sewa-lanjut yang diakui sebagai
beban periode berjalan, dengan pengungkapan terpisah
untuk masing-masing jumlah pembayaran minimum sewa,
sewa kontijen, dan pembayaran sewa lanjut.
(d)
Deskripsi umum perjanjian sewa lessee yang signifikan,
yang meliputi, namun tidak terbatas pada:
33
(i)
Dasar penentuan utang rental kontinjen;
(ii)
Eksistensi dan persyaratan untuk memperbaharui
kembali perjanjian sewa atau adanya opsi pembelian dan
klausal dan klausal eskalasi; dan
(iii)
Pembatasan yang ada dalam perjanjian sewa, seperti
pembatasan deviden, uang tambahan, dan sewa lanjutan.
4.
Perhitungan Leasing Melalui Metode Capital Lease dan
Operating Lease
Berikut contoh perhitungan Leasing melalui Capital Lease
dan Operating Lease yang dikutip dari Donald E. Kieso, Jerry
Weygandt, Terry D. Warfield yang diterjemahkan oleh Herman
Wibowo dan Ancella A. Hermawan (2001:236)
a.
Metode Capital Lease
Berikut merupakan contoh dengan menggunakan metode
lease modal:
Lessor
Company dan
Lessee Company menandatangani
perjanjian lease tertanggal 1 Januari 2002 di mana Lessor
Company me-lease-kan peralatan kepada Lessee Company
mulai tanggal 1 Januari 2002. Jangka waktu dan provisi dari
perjanjian lease tersebut dan data terkait lainnya adalah sebagai
berikut:
34
i.
Jangka waktu lease adalah 5 tahun, dan perjanjian lease
tidak dapat dibatalkan, yang mengharuskan pembayaran
sewa yang sama sebesar$25.981,62 pada awal setiap tahun
(dasar anuitas jatuh tempo).
ii.
Peralatan tersebut memiliki nilai wajar pada awal lease
sebesar $100.000 dengan estimasi umur ekonornis 5 tahun
tanpa nilai residu.
iii.
Lessee Company membayar seluruh biaya executory
secara langsung kepada pihak ketiga kecuali untuk pajak
properti sebesar $2.000 per tahun, yang dimasukkan dalam
pembayaran tahunan kepada lessor.
iv.
Lease ini tidak mencakup opsi pembaharuan, dan
peralatan kembali menjadi milik Lessor Company pada
akhir masa lease.
v.
Suku bunga pinjaman inkremental Lessee Company adalah
11% per tahun.
vi.
Lessee Company menyusutkan peralatan serupa miliknya
atas dasar garis lurus.
vii.
Lessor Company menetapkan sewa tahunan untuk
memperoleh tingkat pengembalian atas investasi sebesar
10% per tahun; hal ini diberitahu kepada Lessee Company.
"Lease ini memenuhi kriteria untuk diklasifikasikan
sebagai lease modal dengan alasan sebagai berikut:
35
(1) Jangka waktu lease selama 5 tahun yang sama dengan
estimasi umur ekonornis peralatan selarna 5 tahun,
memenuhi pengujian 75%. (2) Nilai sekarang dari
pembayaran lease minimum ($100.000 sebagaimana
dihitung di bawah) melebihi 90% dari nilai wajar properti
($100.000)
Pembayaran lease minimum adalah $119.908,10
($23.981,62 x 5), dan jumlah yang dikapitalisasi sebagai
aktiva yang di-lease dihitung sebagai nilai sekarang dari
pembayaran lease minimum (tidak termasuk biaya
executory- pajak properti sebesar $2.000) sebagai berikut:
Jumlah yang dikapitalisasi = ($25.981,62 - $2.000) x
Nilai sekarang anuitas jatuh
tempo sebesar 1 selama 5
periode pada 10%
= $23.981,62 x 4,16989
= $100.000
Suku bunga implisit lessor sebesar 10% yang
digunakan, bukan suku bunga pinjaman inkremental lessee
sebesar 11% karena (1) nilainya lebih rendah dan
(2) lessee mengetahui suku bunga ini.
Ayat jurnal untuk mencatat capital lease pada
pembukuan Lessee Company per 1 Januari 2002 adalah:
Peralatan yang di-lease menurut Capital Lease
Kewajiban menurut Capital Lease
100.000
100.000
36
Perhatikan bahwa ayat jumal di atas mencatat
kewajiban pada jumlah bersih sebesar $100.000 (nilai
sekarang dari pembayaran sewa masa depan) dan bukan
jumlah kotor sebesar $119.908,10 ($23.981,62 x 5). Ayat
jurnal untuk mencatat pembayaran lease pertama per 1
Januari 2002 adalah:
Beban Pajak Properti
Kewajiban menurut Capital Lease
Kas
2.000,00
23.981,62
25.981,62
Setiap pembayaran lease sebesar $25.981,62 terdiri
dari tiga unsur: (1) pengurangan kewajiban lease, (2)
biaya pendanaan (beban bunga), dan (3) biaya executory
(pajak properti). Total biaya pendanaan (beban bunga)
selama jangka waktu lease adalah $19.908,10, yaitu
perbedaan antara nilai sekarang pembayaran lease
($100.000) dan kas aktual yang dikeluarkan, dikurangi
biaya executory ($119.908,10). Oleh karena itu, beban
bunga tahunan, dengan menggunakan metode bunga
efektif, adalah fungsi dari kewajiban yang beredar.
37
2.2 Skedul Amortisasi Lease
Pada
akhir
tahun
fiskal
Lessee
Company,
31 Desember 2002, bunga akrual (accrued interest) dicatat
sebagai berikut:
Beban Bunga
Hutang Bunga
100.000
100.000
Penyusutan atas peralatan yang di-lease selama 5
tahun jangka waktu lease, dengan menggunakan kebijakan
penyusutan normal Lessee Company (metode garis lurus),
menghasilkan ayat jurnal berikut per 31 Desember 2002:
Beban Penyusutan – Capital Lease
Akumulasi Penyusutan – Capital Lease
($100.000 + 5 Tahun)
20.000
20.000
Pada tanggal 31 Desember 2002, aktiva yang dicatat
menurut lease modal telah diidentifikasi secara terpisah
pada neraca lessee. Demikian juga, kewajiban terkait
diidentifikasi secara terpisah. Bagian yang akan jatuh
38
tempo dalam satu tahun atau siklus operasi, mana yang
lebih lama, diklasifikasikan sebagai kewajiban lancar dan
sisanya sebagai kewajiban tidak lancar. Sebagai contoh,
bagian lancar dari total kewajiban per 31/12/02 sebesar
$76.018,38 pada skedul amortisasi lessee adalah jumlah
pengurangan kewajiban pada tahun 2003, atau$16.379,78.
Bagian kewajiban yang berhubungan dengan transaksi
lease pada tanggal 31 Desember 2002 akan disajikan
sebagai berikut:
Kewajiban Lease
pada tanggal 31 Desember 2002
Kewajiban lancar
Hutang bunga
$ 7.601,84
Kewajiban menurut Capital Lease
16.379,78
Kewajiban tidak lancar
$ 59.638,60
Kewajiban menurut Capital Lease
Ayat jurnal untuk mencatat pembayaran lease per
1 Januari 2003 adalah sebagai berikut:
Beban Pajak Properti
Beban Bunga (atau Hutang Bunga)
Kewajiban menurut Capital Lease
Kas
2.000,00
7.601,84
16.379,78
25.981,62
39
Ayat jurnal hingga tahun 2006 akan mengikuti pola
di
atas.
Biaya
executory
lainnya
(asuransi
dan
pemeliharaan) yang dikeluarkan oleh Lessee Company
akan dicatat dengan pola yang sama seperti digunakan
untuk mencatat setiap biaya operasi lainnya yang terjadi
atas aktiva yang dimiliki oleh Lessee Company.
Pada saat berakhirnya masa lease, jumlah yang
dikapitalisasi sebagai peralatan yang di-lease telah
seluruhnya
diamortisasi
dan
kewajiban
lease
telahseluruhnya dilunasi. Jika tidak dibeli, peralatan
tersebut akan dikembalikan kelessor, serta peralatan yang
di-lease dan akun akumulasi penyusutan terkait akan
dihapus dari pembukuan. Jika peralatan dibeli pada akhir
masa lease dengan harga $5.000 dan estimasi umur
peralatan diubah dari 5 menjadi 7 tahun, maka ayat jurnal
berikut harus dibuat:
Peralatan ($100.000 + $ 5.000)
105.000
Akumulasi Penyusutan – Capital Lease
100.000
Peralatan yang Dilease menurut Capital Lease
Akumulasi Penyusutan – Peralatan
Kas
b.
100.000
100.000
5.000
Metode Operating Lease
Dalam metode operating lease, beban sewa (dan
kewajiban yang berhubungan) harus diakrualkan dari hari ke
40
hari ke lessee ketika properti digunakan. Lessee membebankan
sewa ke periode-periode yang memperoleh manfaat dari
penggunaan aktiva dan mengabaikan, dalam akuntansi, setiap
komitmen untuk melakukan pembayaran di masa depan. Akrual
dan penangguhan (deferal) yang tepat akan dilakukan jika akhir
periode akuntansi terjadi antara tanggal-tanggal pembayaran.
Sebagai
contoh,
misalkan
bahwa
lease
modal
yang
diilustrasikan sebelumnya tidak memenuhi kriteria sebagai
capital lease dan karenanya, diperlakukan sebagai operating
lease. Beban tahun pertama ke operasi adalah $25.981,62, yaitu
jumlah
pembayaran
sewa.
Ayat
jurnal
untuk
mencatatpembayaran ini pada tanggal 1 Januari 2002 adalah
sebagai berikut:
Beban Sewa
Kas
25.981,62
25.981,62
Aktiva yang disewa maupun setiap kewajiban jangka
panjang untuk pembayaran sewa di masa depan, tidak
dilaporkan di neraca. Beban sewa akan dilaporkan pada laporan
laba rugi. Sebagai tambahan, catatan pengungkapan juga
diwajibkan untuk semua operating lease yang memiliki jangka
waktu lease yang tidak dapat dibatalkan melebihi satu tahun.
41
Sebuah ilustrasi mengenai jenis catatan pengungkapan yang
diperlukan untuk operating lease.
c.
Perlakuan perpajakan atas transaksi leasing untuk
lessee, baik capital lease maupun operating lease.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Teguh
Hadi Wardoyo, Amin Subiyakto dan Sapto Windu Agro (2011:
218) mengenai perlakuan perpajakan atas transaksi leasing,
berikut dijelaskan bahwa:
1)
Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi (Operating Lease)
Suatu Sewa Guna Usaha digolongkan sebagai Sewa
Guna Usaha tanpa hak opsi (Operating Lease) apabila
memenuhi semua kriteria berikut:
a)
Jumlah pembayaran Sewa Guna Usaha selama masa
sewa Guna Usaha pertama tidak dapat menutupi
harga perolehan barang modal yang di-Sewa Guna
Usaha-kan
ditambah
keuntungan
yang
diperhitungkan oleh lessor;
b)
Perjanjian
Sewa
Guna
Usaha
tidak
memuat
ketentuan mengenai opsi bagi lessee
Kedua syarat
di
atas
mengisyaratkan bahwa
ketentuan Pajak menggolongkan suatu SGU sebagai
Operating Lease jika benar-benar tidak berniat menjual
42
barang dan hanya ingin menyewakan saja. Hal ini
ditujukan dengan jumlah seluruh angsuran yang diterima
lebih kecil dari harga pokok barang plus laba serta tidak
termuatnya opsi pemilikan barang pada akhir periode
leasing. Jadi Operating Lease adalah transaksi sewa
menyewa biasa. Karena hanya transaksi sewa menyewa
biasa, maka kepemilikan barang masih berada di tangan
pihak yang menyewakan (lessor) sehingga yang berhak
menyusutkan barang adalah Lessor.
Perlakuan perpajakan bagi yang menyewakan (Lessor):
a)
Seluruh pembayaran sewa yang diterima/diperoleh
oleh lessor, merupakan objek PPh Pasal 23
b)
Lessor berhak menyusutkan barang modal yang diSGU-kan karena kepemilikan barang ditangan lessor
c)
Lessor memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
jasa sewa yang diberikan.
Sedangkan perlakuan perpajakan bagi penyewa
(Lessee):
a)
Jumlah biaya sewa yang dibayar/terutang pada tahun
tersebut boleh menjadi pengurang penghasilan
(Deductible Expense).
b)
Lessee tidak boleh menyusutkan barang modal
karena barang masih milik Lessor.
43
c)
Lessee memotong PPh Pasal 23 setiap kali
membayar sewa kepada Lessor dengan tarif 6% jika
barang modal yang disewakan selain tanah dan
bangunan,
3%
jika
yang
disewakan
adalah
kendaraan serta 10% jika barang modalnya berupa
tanah dan bangunan.
Melanjutkan penjelasan di atas, Teguh Hadi
Wardoyo, Amin Subiyakto dan Sapto Windu Agro (2011:
219) juga mengilustrasikan melalui contoh kasus di bawah
ini:
Lessor PT XYZ meng-SGU-kan mesin golongan II
dengan harga pokok Rp 200.000.000 kepada PT ABC
(lessee). Jangka waktu leasing 24 bulan dan nilai sisa
barang setelah periode leasing dengan nihil. Dalam
kontrak SGU tidak tercantum klausula pilihan bagi lessee
untuk membeli mesin tersebut dengan harga murah pada
akhir periode SGU. Pembayaran per bulan Rp 8.000.000.
Perlakuan pajaknya sebagai berikut:
Jumlah seluruh pembayaran yang akan diterima lessor
PT XYZ sebesar Rp 8.000.000 x
24 bulan =
Rp 192.000.000. Jumlah tersebut lebih kecil dan harga
pokok mesin sebesar Rp 200.000.000. Selain itu tidak ada
klausula pilihan bagi penyewa untuk memiliki mesin
44
tersebut pada akhir periode leasing. Oleh karena itu SGU
ini tergolong SGU tanpa hak opsi (Operating Lease) atau
sewa menyewa biasa.
2.3 Perbandingan Perlakuan Pajak antara Lessor dengan Lessee
Lessor : PT XYZ
Menerima sewa setiap bulan
= Rp
Memungut PPN 10%
= Rp
Dipotong PPh 23 6%
= (Rp
Diterima lessee
Rp
Menyusutkan mesin sebesar
per th Rp 50.000.000
8.000.000
800.000
480.000)
8.320.000
Lessee: PT ABC
Membayar sewa
= Rp
Membayar PPN
= Rp
Memotong PPh 23 6%
= (Rp
Dibaya ke Lessor
Rp
8.000.000
800.000
480.000)
8.320.000
Sumber: Buku Pajak Terapan Brevet A&B (2007)
2)
Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi (Capital Lease)
Menurut ketentuan pajak kegiatan SGU akan
digolongkan sebagai SGU dengan hak opsi (Capital
Lease) (KMK-1169/ KMK.01.1991) apabila memenuhi
kriteria sebagai berikut:
a)
Jumlah pembayaran SGU selama masa SGU
pertama ditambah dengan nilai sisa barang modal,
harus menutup harga perolehan barang modal dan
keuntungan lessor;
b)
Masa Sewa Guna Usaha ditetapkan sekurangkurangnya 2 tahun untuk barang modal Golongan I,
3 tahun untuk barang modal Golongan II dan III, dan
7 tahun untuk Golongan Bangunan;
Dalam hal Lessor dan Lessee membuat perjanjian
Sewa Guna Usaha dengan opsi (Capital Lease)
45
namun masanya tidak memenuhi ketentuan tersebut
di atas, maka perlakuan Pajak Pertambahan Nilai
yang diberikan terhadap perjanjian tersebut sama
dengan perlakuan Pajak Pertambahan Nilai terhadap
perjanjian Sewa Guna Usaha tanpa hak opsi
(Operating Lease)
c)
Perjanjian Sewa Guna Usaha memuat ketentuan
mengenai
opsi
bagi
lessee
(KMK
No.
1169/KMK.01/1991 Tanggal 7 November 1991
serta SE-10/PJ.42/1994 tanggal 22 Maret 1994)
Ketiga syarat di atas harus dipenuhi seluruhnya agar
suatu SGU dapat digologkan sebagai SGU dengan
hak opsi (Capital Lease). Ketiga syarat di atas
menunjukkan
bahwa
ketentuan
Pajak
menggolongkan suatu SGU sebagai Capital Lease
jika lessor sebenarnya berniat menjual barang. Hal
itu ditunjukkan dengan jumlah seluruh angsuran
yang diterima pada periode leasing pertama lebih
besar dari harga pokok barang plus laba dan harus
adanya opsi pada akhir periode leasing.
Selain itu terdapat batas minimal jangka waktu
leasing yang lamanya tergantung golongan barang.
Persyaratan
jangka
panjang
minimal
ini
semakin
46
menguatkan karakter Capital Lease bahwa Capital Lease
lebih bertujuan kepada pengalihan kepemilikan barang.
Pada dasarnya kegiatan SGU dengan hak opsi (Capital
Lease)
adalah
kegiatan
jasa
pembiayaan
(berupa
penyediaan kredit bagi pengguna leasing (lessee) oleh
lessor) maka penghasilan bagi perusahaan leasing (lessor)
adalah bunga yang diterima pada saat angsuran pelunasan
hutang leasing. Karena pada dasarnya Capital Lease
adalah transaksi pembiayaan maka pajak mengganggap
bahwa sebelum selesainya periode leasing, barang bukan
milik lessee maupun lessor sehingga baik lesse maupun
lessor sama-sama tidak boleh menyusutkan barang.
47
5.
Ringkasan Perbandingan Perlakuan Akuntansi Leasing
Capital Lease dengan Operating Lease untuk pihak lessee
Tabel 2.4 Ringkasan Perbandingan antara Capital Lease dan
Operating Lease
PERBANDINGAN
DESKRIPSI
Capital Lease
Operating Lease
Yang memiliki
aktiva secara legal
dalam jangka waktu
leasing
Yang menanggung
biaya pemeliharaan
aktiva tetap selama
jangka waktu leasing
Kepemilikan setelah
jangka waktu leasing
Perlakuan pencatatan
dan penyajian
laporan keuangan
Perlakuan
Perpajakan untuk
aktiva tetap leasing
Jurnal
Perusahaan Leasing
Perusahaan Leasing
Pihak lessee
Perusahaan leasing,
tetapi kembali
kepada kontrak awal
apakah ditanggung
pihak lesor atau
lessee
Pihak lessee
Perusahaan leasing
Disajikan di Neraca
Disajikan di
Laporan Laba Rugi
Lessor tidak boleh
menyusutkan aktiva
sampai jangka
waktu leasing habis
dikarenakan hak
opsi kepemilikan
Lessee boleh
menyusutkan barang
selama masa lease
Pada saat
pengakuan awal:
Pada saat pengakuan
awal:
Peralatan
xxx
Kewajiban
xxx
Tidak ada
Pada saat
pembayaran:
Pada saat
pembayaran:
Beban Sewa xxx
Beban Pajak xxx
Kas
xxx
Kewajiban xxx
Kas
xxx
Sumber: Hasil Olahan Peneliti dari Kajian Pustaka BAB II
48
B.
Rerangka Pemikiran
Perlakuan Akuntansi Leasing Aktiva
Tetap
Terjadinya kesepakatan sewa (lease) antara perusahaan biasa (lessee)
dengan perusahaan leasing (lessor)
Dilakukan Pengkualifikasian sewa (lease)
Capital Lease
Adanya hak opsi pada akhir
masa leasing untuk pindah
kepemilikan aktiva tetap
Operating Lease
Tanpa adanya hak opsi pada
akhir masa leasing untuk pindah
kepemilikan aktiva tetap
Dasar perlakuan akuntansi leasing adalah PSAK 30 (Revisi 2007)
Penelitian
Perlakuan Akuntansi Leasing Aktiva Tetap yang
diterapkan PT RAS Actuarial Consulting Tahun 2010
Pengumpulan Data
1. Data Aktiva Tetap yang diperoleh
melalui leasing
2. Perjanjian sewa antara PT RAS
Actuarial Consulting dengan
Perusahaan Leasing
3. Rincian Pembayaran Leasing
4. Laporan Keuangan Tahun 2010
5. Laporan Auditor KAP Ekternal
Pengolahan Data
1. Pengecekan perjanjian sewa
(leasing) dan rincian pembayaran
sewa (leasing)
2. Penganalisaan jurnal transaksi
pembelian awal dan pembayaran
leasing
3. Menganalisa apakah perlakuan
akuntansi yang telah dilakukan
telah sesuai dengan PSAK 30
(Revisi 2007)
Hasil Penelitian
Selesai melakukan penelitian atas perlakuan akuntansi
leasing yang telah diterapkan perusahaan, kemudian
dilakukannya kesimpulan atas penelitian tersebut dan
memberikan kepada perusahaan.
Gambar 2.3 Rerangka Pemikiran
49
C.
Kajian Riset Terdahulu
Di setiap penelitian akan mengacu pada beberapa peneliti terdahulu
untuk dapat mengetahui bagaimana alur dari sebuah penelitian. Dalam
penelitian saat ini peneliti mengacu pada salah satu penelitian yang ada
dalam tabel di bawah ini dikarenakan mengangkat tema yang sama yaitu
perlakuan akuntansi leasing. Penelitian tersebut berjudul “Penerapan PSAK
No. 30 Tentang Perlakuan Akuntansi Sewa Aktiva Tetap pada PD Bangun
Bitung” oleh Ria Cristine Kombaitan. Penelitian ini bersifat studi deskriptif
yang memberikan gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai
fenomena yang diselidiki. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui perlakuan akuntansi sewa aktiva tetap oleh PD. Bangun Bitung
selama periode sewa dibandingkan dengan PSAK No.30. Hasil penelitian
yang dilakukan oleh Ria Christine Kombaitan adalah kriteria-kriteria sewa
pembiayaan (capital lease) perlakuan akuntansi sewa oleh PD. Bangun
Bitung tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut sehingga perlakuan
akuntansi sewa yang dilakuakan oleh PD. Bangun Bitung diklasifikasikan
sebagai sewa operasi (Operating Lease). PD. Bangun Bitung hampir secara
keseluruhan sesuai dengan PSAK No 30 hanya saja PD. Bangun Bitung
belum melakukan perhitungan penyusutan dari aktiva yang disewakan yaitu
bangunan rusunawa.
Hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti lain
dipaparkan pada Tabel 2.5 berikut ini:
50
Tabel 2.5 Penelitian Terdahulu
Judul Karya
Ilmiah
Analisis Perlakuan
Akuntansi Aktiva
Tetap Pada PT
Hasjrat
Multifinance
Manado 2012
Ria Cristine
Kombaitan
Penerapan PSAK
No. 30 Tentang
Perlakuan
Akuntansi Sewa
Aktiva Tetap pada
PD Bangun Bitung
Metode
Penelitian
Pokok
Permasalahan
Deskriptif
Deskriptif
Menganalisis
perlakuan akuntasi
aktiva tetap yang
dilakukan pada
PT.Hasjrat
Multifinance
Manado 2012
apakah telah sesuai
dengan Standar
Akuntansi yang
berlaku umum?
Apakah perlakuan
akuntansi
sewa
aktiva tetap oleh
PD. Bangun Bitung
selama
periode
sewa dibandingkan
dengan
PSAK
No.30?
Hasil
Penelitian
Hasil penelitian
adalah:
1. PT. Hasjrat
Multifinance
Manado hanya
mencatat perolehan
aktiva tetap, dicatat
sebesar harga beli
sedangkan biayabiaya yang
dikeluarkan
Hasil
penelitian
menyimpulkan
kriteria-kriteria
sewa pembiayaan
(capital
lease)
perlakuan
akuntansi
sewa
oleh PD. Bangun
Bitung
tidak
memenuhi kriteriakriteria
tersebut
Keterangan
Erwin Budiman
Enti Megawati
Perlakuan
Akuntansi Atas
Aktiva Tetap
Berwujud Dan
Penyajian Pada
Laporan
Keuangan
(Studi pada PT.
Perkebunan
Nusantara X
(Persero) Pabrik
Gula Meritjan
Kediri Periode
2012)
Deskriptif
Apakah
perlakuan
akuntansi aktiva
tetap berwujud
serta
penyajiannya
pada laporan
keuangan dan
merumuskan
pelaporan aktiva
tetap berwujud
yang tepat
sesuai dengan
International
Accounting
Standard?
Berdasarkan
hasil analisis dan
pembahasan
maka dapat
disimpulkan
sebagai berikut :
1) Perlakuan
akuntansi aktiva
tetap yang
diterapkan oleh
pabrik gula
51
sehubungan dengan
perolehan aktiva
tetap tersebut
dianggap sebagai
biaya operasional,
sekalipun tidak
semua transaksitransaksi yang
berhubungan
dengan aktiva tetap
dicatat hanya
sebesar harga beli,
ada juga aktiva
tetap yang dicatat
sesuai dengan
harga perolehannya
(sudah termasuk
harga beli, biaya
pengiriman,
asuransi dan pajak).
Hal tersebut perlu
adanya
penyeragaman yang
dilakukan oleh
pihak manajemen
perusahaan, agar
pencatatan harga
perolehan aktiva
tetap sesuai dengan
SAK, sehingga
tidak akan terdapat
perbedaan yang
cukup mendasar
antara laporan
keuangan
perusahaan dengan
standar.
2. Perlakuan
akuntansi aktiva
tetap sangat
berpengaruh dalam
laporan keuangan,
yang berhubungan
dengan harga
perolehan aktiva
tetap yang tidak
sehingga perlakuan
akuntansi
sewa
yang
dilakuakan
oleh PD. Bangun
Bitung
diklasifikasikan
sebagai
sewa
operasi (Operating
Lease).
PD.
Bangun
Bitung
hampir
secara
keseluruhan sesuai
dengan PSAK No
30 hanya saja PD.
Bangun
Bitung
belum melakukan
perhitungan
penyusutan
dari
aktiva
yang
disewakan
yaitu
bangunan
rusunawa
Meritjan belum
sesuai dengan
konvergensi
International
Accounting
Standard.
a. Pabrik Gula
Meritjan dalam
pengakuan awal
penentuan harga
perolehan aktiva
tetap
menggunakan
dasar akrual,
yaitu mengakui
transaksi terkait
perolehan aktiva
tetap tersebut
pada saat
terjadinya
transaksi
sekaligus
ditambahkan
biaya-biaya yang
terkait dengan
perolehan aktiva
tetap tersebut
sampai siap
digunakan.
b. Terdapat
beberapa
kesalahan yang
terdapat pada
pencatatan
perolehan aktiva
tetap baru di
Pabrik Gula
Meritjan.
Kesalahan yang
mendasar ada
pada
dimasukkannya
beberapa aktiva
yang masih
dalam tahap
penyelesaian
atau belum
terealisasikan
52
sesuai dengan SAK
(Standar Akuntansi
Keuangan)
menyebabkan nilai
aktiva tetap yang
dilaporkan pada
laporan keuangan
tidak sesuai. Hal ini
mempengaruhi
biaya operasional
dan jumlah laba
yang terdapat pada
laporan keuangan
perusahaan.
Sumber: Hasil Olahan Peneliti dari Penelitian Terdahulu
dan belum siap
digunakan untuk
keperluan
kegiatan
operasional
perusahaan.
Download