BAGAIMANA MENCARI SENYAWA ANTIVIRUS

advertisement
BAGAIMANA
MENCARI SENYAWA
ANTIVIRUS
Asep Gana Suganda, SF iTB
PEMILIHAN VIRUS
•
•
•
IDEALNYA SATU SENYAWA BISA
DIGUNAKAN UNTUK SEMUA VIRUS
VIRULISID
VIROSTATIK
•
1.
2.
3.
PENDEKATAN UMUM PEMILIHAN VIRUS:
PATOGENESIS
RNA/DNA VIRUS
FOKUS TERHADAP VIRUS TERTENTU
Asep Gana Suganda, SF iTB
METODE IN VIVO
•
•
•
•
•
•
SENSITIVITAS BERVARIASI
MENCIT (PALING BANYAK DIPAKAI)
ANAK AYAM
KERA (BAIK UNTUK POLIO)
KELINCI, ANJING, MARMOT
UNTUK TAHAP AWAL BIASANYA
TIDAK DIGUNAKAN METODE IN VIVO
Asep Gana Suganda, SF iTB
METODE IN VITRO
• KULTUR SEL
• SISTEM ENZIM (LIHAT PERBANYAKAN
VIRUS)
Asep Gana Suganda, SF iTB
UKURAN AKTIVITAS
• ANGKA KEMATIAN SEL/BINATANG
• TITER VIRUS DALAM DARAH (UJI
SEROLOGI)
• JUMLAH ATAU UKURAN
RADANG/KERUSAKAN JARINGAN
Asep Gana Suganda, SF iTB
CONTOH IN VIVO
• HERPES SIMPLEX TIPE 1 (HERPES
KERATITIS)
• KELINCI SEKITAR 1,5 KG
• INOKULASI 50 ul SUSPENSI VIRUS
HSV 1 DALAM MEDIUM KULTUR
(TITER MISAL MULAI 100 - 1 JUTA
DI 50/ml) PADA MATA KELINCI KIRI
DAN KANAN
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VIVO (LANJUT)
• TIGA HARI SETELAH INOKULASI, LUKA
YANG TERJADI PADA KORNEA
DIOBSERVASI UNTUK SETIAP MATA
DENGAN PEWARNA LARUTAN FLUORESEIN
2 % DALAM AIR (100 ul/mata), DI IKUTI
DENGAN PEMBILASAN MATA TSB DENGAN
NaCl FISIOLOGIS. (0,9 %)
• KERATITIS HERPETIK DIAMATI DENGAN
BANTUAN LOUPE YANG DILENGKAPI
LAMPU/VISIBLE
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VIVO (LANJUT)
DERAJAT INFLAMASI/RADANG
DICATAT/DIBERI NILAI TERTENTU
MISALNYA 0 S/D 4
0 : TANPA LUKA
1 : 1-5 LUKA KECIL (<1/3 KORNEA)
2 : 1-5 LUKA BESAR (1/3 KORNEA)
3 : LUKA 2/3 KORNEA
4 : SELURUH KORNEA RADANG
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VIVO (LANJUT)
• PEMBERIAN OBAT (LOKAL)
KELOMPOK UJI HANYA DIBERIKAN OBAT UNTUK
SATU MATA PADA SETIAP KELINCINYA MISAL 4 X 1
SEHARI. SATU MATA LAGI SEBAGAI KONTROL (UJI
14 HARI)
• PENGAMATAN
AMATI SETIAP HARI DENGAN MENETAPKAN
DERAJAT LUKANYA
• BUAT PERHITUNGAN STATISTIK; BUAT GRAFIK
HUBUNGAN DERAJAT LUKA DAN WAKTU
PEMBERIAN OBAT (UJI DAN KONTROL)
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VIVO (LANJUT)
VARIASI PEMBERIAN OBAT/BAHAN UJI
●
VIRUS OBAT (TERAPI)
●
OBAT  VIRUS (PENCEGAHAN)
Asep Gana Suganda, SF iTB
UJI IN VITRO
PADA KULTUR SEL
• KULTUR CAIR
• KULTUR PADAT
• GUNAKAN DOSIS YANG TIDAK
TOKSIK TERHADAP KULTUR, JADI
PERLU MENETAPKAN DULU MNTD
(DIBUAT BERBAGAI SERI PENGENCE
RAN BAHAN UJI, DAN DIUJIKAN PADA
SEL YANG DIGUNAKAN)
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO (LANJUT)
PENETAPAN MNTD
• BUAT SERI PENGENCERAN LARUTAN
ZAT YANG AKAN DIUJI 1/20 S/D 1/2560
• MASUKAN PADA KULTUR SEL (40.000
SEL)
• INKUBASI, AMATI SAMPAI PENGENCE
RAN BERAPA MASIH TIDAK TOKSIK
 MNTD.
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO LANJUT
KULTUR CAIR
• PAKAI PLAQUE MIKROTEST (96 LUBANG @
250 ul)
• KELOMPOK UJI (SEL, VIRUS, OBAT)
• KELOMPOK KONTROL A (SEL)
• KELOMPOK KONTROL B (SEL, VIRUS)
• KELOMPOK KONTROL C (SEL, OBAT)
• LAKUKAN MENGGUNAKAN VARIASI TITER
VIRUS YANG BERBEDA
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO LANJUT
TEKNIS KULTUR CAIR
• HARI PERTAMA MASUKAN 100 ul SUSPENSI SEL (40.000 SEL)
•
HARI KEDUA UNTUK KELOMPOK UJI DAN KONTROL OBAT (C),
MASUKAN LARUTAN OBAT (50 ul), UNTUK KELOMPOK KONTROL
SEL (A) DAN KONTROL VIRUS (B) MASUKAN CAIRAN KULTUR 50 ul.
•
HARI KETIGA, UNTUK KELOMPOK UJI, KELOMPOK KONTROL VIRUS
DIINOKULASI DENGAN SUSPENSI VIRUS DENGAN TITER TERTENTU
(50 ul), DAN TAMBAH 50 ul CAIRAN KULTUR.
•
HARI KETIGA UNTUK KELOMPOK KONTROL OBAT DAN KONTROL
SEL TAMBAH 100 ul CAIRAN KULTUR (MEDIUM)
•
INKUBASI 2 – 3 HARI
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO LANJUT
• AMATI, BANDINGKAN JUMLAH SEL YANG
HIDUP ANTARA KELOMPOK UJI DENGAN
KELOMPOK KONTROL VIRUS (B)
• BIASA DIBERI ANGKA YANG HIDUP
DENGAN PERSEN: 25; 50; 75; 100
• OBAT YANG MENUNJUKKAN AKTIVITAS
ANTIVIRUS AKAN MEYEBABKAN JUMLAH
SEL YANG HIDUP LEBIH TINGGI DARI PADA
KELOMPOK KONTROL VIRUS (B).
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO LANJUT
ULTUR PADAT
• BOTOL ROUX (MISAL 25 ml)
• HARI PERTAMA KULTUR 2,5 JUTA SEL DALAM 5 ML
MEDIUM CAIR
• HARI KEDUA, BUANG MEDIUM CAIR, UNTUK
KELOMPOK UJI MASUKAN 5 ml LARUTAN ZAT DENGAN
KADAR TERTENTU (MNTD) DALAM MEDIUM CAIR;
UNTUK KELOMPOK KONTROL VIRUS (A) DAN KONTROL
SEL (B) MASUKAN 5 ml NEDIUM CAIR.
HARI KETIGA, BUANG MEDIUM, KEMUDIAN UNTUK
KELOMPOK UJI DAN KONTROL VIRUS (A) MASUKAN
SUSPENSI VIKRUS (0,2 ml MENGANDUNG 100 FPU/CPU).
DIAMKAN 30-45 MENIT.
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO LANJUT
• MASUKAN 5 ml MEDIUM PADAT (40 DERAJAT) (2,5
ml LARUTAN AGAR 2 %; 2,5 ML MEDIUM NUTRISI
DOUBLE KONSENTRASI)
• INKUBASI 2 HARI PADA 37 DERAJAT
• LAKUKAN PEWARNAAN DENGAN NETRAL MERAH;
SEL MATI AKAN MEMBENTUK COLONI TIDAK
BERWARNA MERAH; BANDINGKAN ANTARA UJI
DENGAN KONTROL VIRUS (A)
• OBAT MEMILIKI AKTIVITAS ANTIVIRUS JIKA SEL
YANG MATI LEBIH SEDIKIT DIBANDING KONTROL
VIRUS (TANPA OBAT).
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO LANJUT
VARIASI/MODIFIKASI:
• WAKTU PEMBERIAN VIRUS DAN
BAHAN UJI DIUBAH
• OBAT CAMPUR DULU DENGAN VIRUS
BARU INOKULASIKAN (VIRULISID)
Asep Gana Suganda, SF iTB
IN VITRO LANJUT
INHIBISI ENZIM:
TRANSKRIPTASE BALIK, PROTEASE,
GLUKOSIDASE, TRANSKRIPTASE,
DNA POLIMERASE ATAU ENZIM LAIN)
ITU TEKNIK DASAR PENGUJIAN
MENCARI OBAT ANTIVIRUS.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi virus
Berdasarkan inang:
• Virus manusia
• Virus binatang termasuk insect virus
• Virus tumbuhan
• Virus ragi, jamur
• Virus bakteri (bacteriophages; simply
phages)
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
•
•
•
•
Berdasarkan genom (RNA dan DNA virus)
Berdasarkan ada Envelop
Bentuk simetri Helic; Cubic
Penamaan kadang-kadang memberikan ciri
tertentu dari virus misal:
1. PICORNAVIRUS (Pico = small; RNA, ini
genomnya)
2. MYXOVIRUS (Myxa=mucus)
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
• Adenoviridae
70 – 90 nm; DNA; simetri kubik; nonenvelop; genus: adenovirus; >37 type.
• Papovaviridae
45 nm; DNA; kubik; genus polyoma
virus; jenis virus BK
55 nm; DNA; kubik; genus papilloma
virus
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
• Herpesviridae
150-200 nm; DNA; kubik; envelop;
genus herpesvirus; jenis: HSV,
Varicella-Zoster virus,
Cytomegalovirus, Epstein-Barr virus
• Poxviridae
200-300 nm; DNA; kompleks; envelop;
genus poxvirus; jenis: variola, vaccine.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
• Picornaviridae
20-30 nm; DNA; kubik; genus
enterovirus; jenis: poliovirus;
coxsackie virus A dan B, echovirus
Genus Rhinovirus; “Genus” Hepatitis
• Reoviridae
60-80 nm; RNA ds; kubik; genus:
reovirus dan rotavirus
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
• Togaviridae
40 nm; RNA; kubik; envelop; genus
flavivirus; jenis demam kuning
Genus alphavirus; jenis DHF
Genus rubivirus; jenis rubeol
• Orthomyxoviridae
80-120 nm; RNA; helikal; envelop;
genus influenzavirus
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
• Paramyxoviridae
150-300 nm; RNA; Helik; envelop;
Genus paramyxovirus; jenis
parainfluenza virus;
Genus morbillivirus; jenis morbili virus
(rougeole)
Genus pneumovirus; jenis respiratory
syncytial virus
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
• Rhabdoviridae
60-180 nm; RNA; helik; envelop; genus
Lyssavirus; jenis Rabies virus
• Coronaviridae
80-120 nm; RNA; helik; genus coronavirus
• Arenaviridae
50-300 nm; RNA; envelop; genus arenavirus;
jenis: lassa virus, chorio meningitis
lymphocytic
Asep Gana Suganda, SF iTB
Klasifikasi lanjut
• Retroviridae
100 nm; RNA, envelop; genus:
Avian Leukosis-sarcoma virus (ALSV)
Mammalian C-type Virus
B-type virus
(Onconaviruses)
D-type virus
Human T-cell leukemia (or lymphotropic) virus
(HTLV 1 dan 2)
Lentivirus (HIV-1 dan 2; SIV)
Spumavirus
Batas UTS (23 Oktober 2009)
HIV DAN AIDS
• Acquired Immune Deficiency Syndrome
• Bukan suatu penyakit, tapi kumpulan gejala-gejala
penyakit yang disebabkan oleh infeksi berbagai
macam kuman sebagai akibat menurunnya
kekebalan tubuh penderita, yang disebabkan oleh
infeksi HIV yang menyerang dan merusak sel-sel
tertentu yang berperan penting dalam sistem
kekebalan tubuh, sehingga penderita menjadi rentan
terhadap berbagai infeksi termasuk oleh kuman yang
sebenarnya tidak berbahaya bila sistem kekebalan
tubuh dalam keadaan normal.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Penemu HIV
• Dr. L. Montagnier dari Institut Pasteur Paris
(1983)
• Dr. R. Gallo; National oh Health USA, (1984)
• Kemudian WHO menamai virus tersebut HIV
• Sd pertengahan 2009 Dikenal ada 4 strain
HIV-1, yg keempat disebut HIV-1 group P,
berasal dari gorila, yg tidak ada kemiripan dg
grup M, N, O yg dari simpanse.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Cara penularan HIV
• Hubungan seksual baik vaginal ataupun anal
(heteroseksual/homoseksual)
• Pemakaian jarum suntik yang terinfeksi;
penderita yang menerima transfusi darah,
transplantasi yg tercemar HIV
• Infeksi dari ibu kepada anaknya (penularan
tranplansental/melalui jalan lahir)
Asep Gana Suganda, SF iTB
Kelompok risiko tinggi
• Pria/wanita yang sering berganti “mitra”, termasuk
PTS, WTS, Waria.
• Meskipun sudah terdeteksi adanya HIV dalam air
susu ibu, air mata dan air liur namun secara
epidemiologik yang penting sebagai media perantara
adalah hanyalah semen (cairan sperma), darah,
cairan vagina atau mulut rahim.
• HIV tdk ditularkan melalui kontak sosial seperti
bersalaman, berpelukan, pemakaian alat makan
bersama
• HIV tdk dapat ditularkan melalui gigitan insek.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Bagaimana keluhan dan gejala
AIDS??
•
•
•
•
•
•
Ada tahapan perjalanan penyakit setelah
terinfeksi HIV
Infeksi akut
Infeksi asimtomatik (tanpa gejala)
Pembesaran kelenjar menyeluruh yang
menetap (Persistent Generalised
Lymphadenopathy; PGL)
AIDS Related Complex (ARC)
Penyakit lain: infeksi, neurologis, keganasan
penyakit lain
AIDS.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Infeksi akut
•
•
1.
2.
3.
•
Umumnya infeksi akut tidak menimbulkan gejala, namun kadangkadang muncul gejala dalam 6 minggu pertama setelah infeksi.
Umumnya gejala ini tidak khas dan dapat mirip dengan gejala
berbagai penyakit.
Mononukleosis infektiosa, mirip dengan gejala infeksi virus lain:
demam, lesu, nyeri otot, pembesaran kelenjar, nyeri tenggorokan.
Meningitis (radang selaput otak) dengan gejala demam, sakit
kepala, muntah, kaku
Ensefalitis (radang otak) dengan gejala: bingung, kemampuan
konsentrasi berkurang, letih, keseimbangan badan berkurang,
tungkai lemah, marah-marah, menjadi pikun dan tidak bisa menahan
buang air kecil/besar
Setelah terjadi infeksi akut, terjadi serokonversi, artinya pada serum
penderita dapat terdeteksi adanya antibodi terhadap HIV (umumnya
serokonversi ditemukan setelah infeksi minggu ke 8)
Asep Gana Suganda, SF iTB
Infeksi asimtomatik
• Pada tahap ini gejala tidak ditemui pada
penderita, sehingga infeksi hanya dapat
dideteksi dengan pemeriksaan lab. Saja
• Kelompok ini diperkirakan sangat besar,
terutama pada kelompok risiko tinggi.
• Walaupun penderita tidak menunjukkan
adanya keluhan, tapi penderita bersifat
infektius.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Pembesaran kelenjar
menyeluruh yang menetap
•
•
1.
2.
3.
4.
5.
•
PGL merupakan salah satu manifestasi kronik dari infeksi HIV. (Ini
salah satu indikator sampai berapa jauh infeksi HIV) telah melaju
pada penderita.
Diagnosa PGL didasarkan atas ditemu kan:
Adanya pembesaran kelenjar dengan diameter minimal 1 cm yang
tidak terasa nyeri, teraba keras dan mudah digerakan dari dasarnya.
Pembesaran kelenjar bersifat simetris
Pembesaran kelenjar dijumpai minimal pada dua lokasi diluar
selangkangan (biasanya leher bagian depan dan belakang; ketiak
dan dibawah dagu; tempat yang jarang adalah belakang telinga,
siku, rongga perut)
Pembesaran kelenjar menetap minimal tiga bulan
Tidak ditemukan sebab-sebab lain yang dapat menimbulkan
pembesaran kelenjar tersebut
Penderita PGL menunjukkan variasi gejala seperti lesu tanpa bisa
diterangkan penyebabnya, demam, keringat malam, penurunan bb
atau diare.
Asep Gana Suganda, SF iTB
AIDS Related Complex
• Penderita ARC adalah penderita yang
menunjukkan gejala-gejala umum dan
gejala AIDS, tapi belum menunjukkan
adanya infeksi oportunistik dan tumor.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Keluhan penderita ARC
• Kelemahan tubuh yang hebat
• Menurunnya BB lebih dari 10 %
• Diare yang sebabnya tidak dapat
diterangkan
• Demam dengan suhu lebih dari 38
derajat bersifat terus menerus atau
selang seling dan keringat malam yang
tidak dapat diterangkan penyebabnya.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Gejala ARC
•
•
•
•
•
•
Kandidiosis oral (penyakit jamur di mulut)
Leukoplakia oral (bercak putih dimulut)
PGL
Splenomegali (pembesaran limpa)
Kelainan kulit seperti eksim dan bisul-bisul
Berbagai kelaianan laboratorium dapat dijumpai terutama yang
berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh
•
Untuk mendiagnosis ARC seorang penderita harus
menunjukkan minimal adanya satu keluhan, satu gejala dan
dua atau lebih kelainan darah, disamping itu penderita harus
bebas dari infeksi oportunistik dan tumor.
Asep Gana Suganda, SF iTB
AIDS
• AIDS adalah tahap terakhir dari infeksi HIV,
ditandai adanya infeksi oportunistik dan
tumor.
• Infeksi oportunistik adalah infeksi yang
disebabkan oleh kuman yang pada orang
normal umumnya tidak menimbulkan
penyakit, tapi pada penderita AIDS, infeksi
terjadi dengan manifestasi yang berat
sehingga bisa menimbulkan kematian. (bisa
protozoa, virus, bakteri, jamur. Hampir
seluruh organ tubuh dapat mengalami infeksi
oportunistik)
Asep Gana Suganda, SF iTB
AIDS lanjut
Infeksi oportunistik yang umum:
• Radang paru-paru oleh Pneumocystic
carinii (protozoa)
• Radang otak oleh Cytomegalo virus
• Radang pencernaan oleh Candida
albicans
• Dll.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Tumor pada penderita AIDS
Sarkoma Kaposi
• Kelainan kulit berupa benjolan
berwarna merah muda sampai ungu
dengan ukuran 1-5 cm. Bisa terjadi
pada seluruh bagian kulit atau organ.
Limpoma ganas non Hodgkin
• Dapat ditemui pada SSP, Sumsum
tulang, GIT.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Keluhan yang harus diwaspadai
•
•
•
•
•
•
•
Kelelahan yang hebat yang menetap untuk beberapa minggu
tanpa ada sebab yang jelas
Pembenkakan kelenjar yang bersifat bilateral didaerah leher,
ketiak, lipat paha
Demam dan keringat malam yang menetap untuk beberapa
minggu
Napas sesak disertai batuk tanpa riak yang menetap untuk
beberapa minggu
Dijumpai kelainan kulit (sarkoma kaposi); kelainan kulit lain
seperti jamur, bisul, eksim, herpes zoster yang berat.
Adanya gangguan pencernaan yang bisa berupa kandidiosis
oral (di mulut) dan diare yang berat
Adanya gejala pada SSP seperti depresi, dementia (pikun)
Asep Gana Suganda, SF iTB
Test HIV dan Terapi
• Epidemi HIV telah lebih dari 25 tahun,
banyak kemajuan bermakna untuk sisi
virologi, perjalanan penyakit, dan terapi
AIDS, tapi tetap AIDS blm dapat
ditalukan, HIV baru dapat dijinakan.
• Antiretroviral (ARV) banyak membantu
menjinakan HIV
• Untuk deteksi: test antibodi, test
antigen dan test asamnukleat virus
Asep Gana Suganda, SF iTB
Test HIV dan terapi (2)
• Test antibodi paling murah (100 rb), keakuratan
tinggi, kelemahannya tidak dapat mendeteksi adanya
infeksi HIV pada window period (masa jendela) yaitu
masa masuknya virus sd terbentuknya antibodi
(sekitar 3 buan), untuk ini perlu test antigen/asam
nukleat virus (dikenal sebagai test viral load) (ini
mahal 1 juta)
• Ada yg disebut test combo, kombinasi test antibodi
dan antigen, telah dipakai di australia, dengan harga
sekitar 125 rb, dapat untuk netapkan infeksi HIV
sekitar 3 minggu pascainfeksi
Asep Gana Suganda, SF iTB
Test HIV dan terapi (3)
• Test viral load juga makin sensitif, semula
dapat mendeteksi jumlah kopi asam nukleat
diatas 400 kopi, sekarang dapat mendeteksi
diatas 50 kopi. Metode ini relatif mahal tapi
diperlukan untuk memantau hasil pemberian
obat ARV
• Biasanya setelah pemberian ARV selama 12
bulan, viral load tdk terdeteksi (dibawah 50
kopi).
• Lebih dini pemberian ARV lebih baik, tapi kini
sudah terdeteksi adanya HIV resisten
Asep Gana Suganda, SF iTB
masalah terapi
• Masalah resistensi  kombinasi obat 
perlu penelitian  waktu, biaya
• Menggalakan test HIV untuk kelompok resiko
tinggi, termasuk ibu rumah tangga yg
kemungkinan tertulardari suaminya
• Baru sekitar 10 % dari perkiraan “270.000”
kasus HIV/AIDS di Indonesia yg dpt
diidentifikasi (2008)
• Untuk ibu hamil yg positif HIV harus
memperoleh HIV sedini mungkin gar janin
tdk tertular.
Asep Gana Suganda, SF iTB
Masalah terapi (2)
• Diperkirakan sudah ratusan bahkan ribuan
bayi dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV
• RS Sanglah Bali ada 20 anak dilahirkan dari
ibu positif HIV
• RSCM jumlahnya bbrp kali lipat
• Bayi yang terinfeksi? Ada balita (3,5 tahun)
yg HIV positif dihadirkan dalam suatu
kesempatan di Kuta.
• Waspada
Asep Gana Suganda, SF iTB
DBD/DHF
DEMAM
BERDARAH
DENGUE
Asep Gana Suganda, SF iTB
DBD/DHF
•
•
•
•
Infeksi virus Dengue dapat
menimbulkan beberapa keadaan:
Tanpa gejala
Demam Dengue dengan demam ringan
yang tidak spesifik
Demam Dengue Klasik (DDK)
Demam Berdarah Dengue (DBD) dan
Dengue Shock Syndrome (DSS)
Asep Gana Suganda, SF iTB
DDK
•
•
•
•
•
•
•
•
Kadang-kadang didahului sakit daerah punggung disusul panas tinggi
yang bersifat mendadak (39,5 – 41,4)
Biasanya disertai sakit kepala bagian depan dan nyeri belakang bola
mata
Pada hari pertama dan kedua bisa muncul ruam kulit yang hilang
dalam beberapa hari
Mual, muntah, sakit daerah perut tidak mau makan merupakan gejala
yang biasa ditemukan
Gejala lain yang menonjol adalah sakit otot, tulang-tulang
Biasanya setelah hari ke 4 panas turun dan gejala-gejala tadi
menghilang, tapi kadang-kadang setelah 1-3 hari panas muncul lagi
disertai ruam kulit, disertai rasa gatal terutama daerah kaki dan
tangan. (Timbulnya kembali gejala ini disebut sebagai gambaran
bifasik)
Pendarahan hidung dan kulit walaupun jarang namun dapat terjadi
Penurunan jumlah trombosit dapat ditemui pada DDK ini
Asep Gana Suganda, SF iTB
DEMAM BERDARAH DENGUE
DBD
•
•
•
•
•
•
•
Gejala hampir sama dengan DDK (DEMAM DENGUE KLASIK)
Panas bersifat terus menerus selama 7 hari, jarang bersifat
bifasik
Ruam kulit lebih jarang terjadi, namun pendarahan dan
pembesaran hati lebih sering ditemukan
Pendarahan bisa bersifat ringan seperti uji Tourniquette yang
positif, pendarahan hidung ringan, pendarahan kulit ringan
Pendarahan berat: muntah darah, pendarahan usus,
menyeluruh.
Penurunan trombosit lebih sering ditemukan, biasanya muncul
setelah hari ketiga sampai hari kedelapan
Pendarahan DBD bukan karena hanya karena trombosit turun,
tapi juga karena pembuluh darah yang mudah pecah.
Asep Gana Suganda, SF iTB
DBD-DDK
• DBD dibedakan dari DDK dari pemeriksaan
hematokrit (Ht) (parameter untuk menilai
kekentalan darah).
• Pada DBD terjadi kebocoran pembuluh
sehingga plasma merembes keluar dari
pembuluh. Makin banyak kebocoran nilai Ht
makin tinggi, artinya darah semakin kental,
sehingga penderita mudah jatuh kedalam
shock (DSS) yang bisa berakibat fatal.
Asep Gana Suganda, SF iTB
DSS
•
•
•
•
SHOCK BIASANYA TERJADI SETELAH
HARI KETIGA DENGAN TANDATANDA:
BADAN LEMAH
KULIT DINGIN DAN LEMBAB
TEKANAN DARAH SANGAT TURUN
SHOCK TERJADI SEBELUM HARI
KETIGA SANGAT JARANG.
Asep Gana Suganda, SF iTB
KOMPLIKASI LAIN DBD
•
•
•
•
GANGGUAN OTAK (ENSEFALOPATI)
KEGAGALAN HATI YANG MENDADAK
GANGGUAN OTOT JANTUNG
GANGGUANG ORGAN LAIN
(PANKREAS DLL)
Asep Gana Suganda, SF iTB
DIAGNOSIS DBD
UNTUK MENCEGAH OVER DIAGNOSIS, WHO MEMBERIKAN
REKOMENDASI KRITERIA DIAGNOSIS DBD SBB:
•
1.
2.
3.
4.
KLINIS
ADANYA PANAS BADAN 2-7 HARI YANG
MENDADAK, TINGGI, TERUS MENERUS
ADANYA MANIFESTASI PENDARAHAN, PALING
SEDIKIT BERUPA UJI TOURNIQUETTE YANG
POSITIF
PEMBESARAN HATI
ADANYA SHOCK YG DITANDAI GANGGUAN
SIRKULASI DARAH (TEKANAN DARAH TURUN,
DENYUT NADI CEPAT DAN KECIL, ANAK
GELISAH-LEMAH, KULIT DININ DAN LEMBAB)
Asep Gana Suganda, SF iTB
DIAGNOSIS DBD
•
1.
2.
LABORATORIUM
PENURUNAN JUMLAH TROMBOSIT
PENGENTALAN DARAH, YAITU PENINGKATAN
NILAT Ht (HEMATOKRIT) YANG LEBIH TINGGI 20
%
JIKA DITEMUKAN DUA GEJALA KLINIS DAN
PENURUNAN TROMBOSIT SERTA NAIKNYA Ht
MAKA DIAGNOSIS DBD DAPAT DITEGAKAN.
KARENA TURUNNYA TROMBOSIT BARU TERJADI
SETELAH 3 HARI DAN KETAKUTAN SHOCK,
JANGAN ANEH HARUS DIPERIKSA DARAH
SECARA BERULANG KALI.
Asep Gana Suganda, SF iTB
HARAPAN
•
KARENA KRITERIA TSB LEBIH BANYAK
DIPERUNTUKAN UNTUK TENAGA
KESEHATAN, AKAN SANGAT MEMBANTU
JIKA KELUARGA PASIEN DAPAT:
1. MENTERJEMAHKAN APA YANG DISEBUT
DEMAM MENDADAK, TINGGI, TERUS
MENERUS
2. WASPADA TERHADAP TERJADINYA
SHOCK
Asep Gana Suganda, SF iTB
HARAPAN (LANJUT)
3. MENGENALI LINGKUNGAN APAKAH
BANYAK NYAMUK YANG MENGGIGIT
DISIANG HARI, ATAU TETANGGA ADA
YANG DIRAWAT KARENAN DEMAM
BERDARAH
4. MELIHAT APAKAH ADA PENDARAHAN
HIDUNG ATAU KULIT
5. MENJALIN HUBUNGAN DENGAN DOKTER
UNTUK MENYAMPAIKAN LAPORAN
PERKEMBANGAN, BILA PENDERITA
BEROBAT JALAN.
Asep Gana Suganda, SF iTB
DIAGNOSIS PASTI
• ISOLASI VIRUS LANGSUNG (PCR)
• MENDETEKSI ADANYA BAGIAN VIRUS
(ANTIGEN VIRUS)
• UJI SEROLOGI (PALING SERING): IgG
dan IgM Dengue Blot dan Rapid DHF.
(catatan IgM biasa baru muncul setelah
hari ketiga)
Asep Gana Suganda, SF iTB
PENGOBATAN
•
UMUMNYA UNTUK MENGATASI GEJALA
a. DBD tanpa shock
1. Cairan: Penderita kehilangan cairan karena
suhu tinggi, sulit makan minum, kebocoran
pembuluh darah, muntah. Untuk ini minum
yang banyak air yang mengandung elektrolit,
jus buah (hati-hati asam). Jika muntah, atau
makin Ht tinggi sekalipun sudah banyak
minum, maka cairan harus diinfuskan.
Asep Gana Suganda, SF iTB
PENGOBATAN (LANJUT)
2. Obat Panas badan (Parasetamol jangan Asetosal
atau Aspirin)
3. Anti kejang diberikan pada anak yang mengalami
kejang demam
4. Trombosit; Pemberiannya harus betul-betul
dipertimbangkan; Pemberian trombosit masih
diperdebatkan karena:
a. Perdarahan pada DBD bukan hanya disebabkan
oleh rendahnya trombosit, tapi disebabkan pula
gangguan pembuluh dan faktor pembekuan.
b. Pemberian trombosit tdk selamanya aman
5. Tranfusi darah (Jika terjadi pendarahan berat)
Asep Gana Suganda, SF iTB
PENGOBATAN (LANJUT)
b. DBD dg Shock
• Pemberian segera cairan melalui infus
• Pemberiaan oksigen
• Tekakan darah, Kesadaran, Frekwensi napas,
Suhu Tubuh diukur setiap 15 – 30 menit.
• Jumlah cairan masuk dan keluar dicatat
• Penyulit lain seperti pendarahan berat dan
gangguan asam basa segera diatasi.
Asep Gana Suganda, SF iTB
PENCEGAHAN
•
•
Vaksin ?
Memutus rantai penularan melalui
gigitan nyamuk.
1. Surveilans penyakit berdasarkan
laporan dokter (puskesmas), Rumah
Sakit.
2. Pemberantasan Vektor
3. Penyebaran informasi kesehatan
Asep Gana Suganda, SF iTB
Download