Jurnal Kompilasi Ilmu Ekonomi - Journals | STIE Kesuma Negara

advertisement
JURNAL KOMPILEK
Jurnal Kompilasi Ilmu Ekonomi
Imam Bukhori
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DAN
LOCUS OF CONTROL TERHADAP LEARNING OUTCOME
Rumanintya Lisaria
Putri
IMPLEMENTASI CAPITAL ASSET PRICING MODEL
(CAPM) DALAM ANALISIS PORTOFOLIO SEBAGAI
DASAR KEPUTUSAN INVESTASI SAHAM DI BURSA
EFEK INDONESIA
Tanto A. Putro
KEPUTUSAN PRODUK DAN KEPUTUSAN HARGA PADA
HARLEY-DAVIDSON
Kristya Damayanti
PENGARUH MOTIVASI, DISIPLIN DAN STRES KERJA
TERHADAP KINERJA PEGAWAI PUSKESMAS DI
KECAMATAN PONGGOK KABUPATEN BLITAR
Aniek Indrawati
FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN
MAHASISWA DALAM MEMILIH LEMBAGA
PENDIDIKAN DAN PELATIHAN BISNIS DI KOTA
MALANG
JURNAL KOMPILEK
Retno Murni Sari/
P.Imam Romadlon
REALISASI BELANJA DAERAH MELALUI PENDAPATAN
ASLI DAERAH (PAD) DAN DANA ALOKASI UMUM
(DAU) TERHADAP REALISASI BELANJA DAERAH
(Studi pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa
Timur)
Arum Arupi Kusnindar
PENGARUH BUDAYA DALAM MENENTUKAN STRATEGI
PENILAIAN KINERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN
MILIK ASING
(Studi Kasus Pada CV. Dwi Surya Citra Oetama
Indonesia)
[Vol 6, No. 1]
Hal. 1 - 96
Juni 2014
ISSN 2088-6268
Diterbitkan oleh:
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LPPM)
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI KESUMA NEGARA BLITAR
Jl. Mastrip 59 Blitar 66111, Telp./Fax : (0342) 802330/813788
Email : [email protected]
1
[STIE KESUMA NEGARA BLITAR]
Vol.6, No. 1, Juni 2014
ISSN 2088-6268
JURNAL KOMPILEK
Jurnal Kompilasi Ilmu Ekonomi
Diterbitkan pleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM)
STIE Kesuma Negara Blitar sebagai terbitan yang menyajikan informasi dan
analisa persoalan ilmu ekonomi, manajemen, maupun akuntansi.
Pelindung
Iwan Setya Putra, SE., Ak., MM.
Pemimpin Redaksi
Aris Sunandes, SE., MM.
Sekretaris Redaksi
Vera Noviana, SE., Ak.
Pelaksana Redaksi
Siti Sunrowiyati, SE., MM.
Sandi Eka Suprajang, SE., MM.
Penyunting
Tanto Askriyandoko Putro, SE., MM.
Reviewers:
Prof. Dr. HM. Pudjihardjo, SE, MS – Universitas Brawijaya
Iwan Setya Putra, SE., Ak., MM – STIE Kesuma Negara
Yudhanta Sambharakreshna SE., MSi., Ak – Universitas Trunojoyo
Alamat Redaksi:
Kampus STIE Kesuma Negara
Jl. Mastrip No. 59, Blitar, Jawa Timur – 66111
Telepon/Fax:
(0342) 802330 / (0342) 813788
on-line:
http//www.stieken.ac.id
E-mail:
[email protected]
ii
Vol.6, No. 1, Juni 2014
JURNAL KOMPILEK
Jurnal Kompilasi Ilmu Ekonomi
Daftar Isi :
Imam Bukhori
HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DAN
LOCUS OF CONTROL TERHADAP LEARNING OUTCOME
(Hal. 1-11)
Rumanintya Lisaria
Putri
IMPLEMENTASI CAPITAL ASSET PRICING MODEL
(CAPM) DALAM ANALISIS PORTOFOLIO SEBAGAI DASAR
KEPUTUSAN INVESTASI SAHAM DI BURSA EFEK
INDONESIA
(Hal. 12-27)
Tanto A. Putro
KEPUTUSAN PRODUK DAN KEPUTUSAN HARGA PADA
HARLEY-DAVIDSON
(Hal. 28-39)
Kristya Damayanti
PENGARUH MOTIVASI, DISIPLIN DAN STRES KERJA
TERHADAP KINERJA PEGAWAI PUSKESMAS DI
KECAMATAN PONGGOK KABUPATEN BLITAR
(Hal. 40-52)
Aniek Indrawati
FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERTIMBANGKAN
MAHASISWA DALAM MEMILIH LEMBAGA PENDIDIKAN
DAN PELATIHAN BISNIS DI KOTA MALANG
(Hal. 53-67)
Retno Murni Sari/
P.Imam Romadlon
REALISASI BELANJA DAERAH MELALUI PENDAPATAN
ASLI DAERAH (PAD) DAN DANA ALOKASI UMUM (DAU)
TERHADAP REALISASI BELANJA DAERAH
(Studi pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Timur)
(Hal. 68-84)
Arum Arupi Kusnindar
PENGARUH BUDAYA DALAM MENENTUKAN STRATEGI
PENILAIAN KINERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN
MILIK ASING
(Studi Kasus Pada CV. Dwi Surya Citra Oetama
Indonesia)
(Hal. 85-96)
iii
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
PENGARUH MOTIVASI, DISIPLIN DAN STRES KERJA TERHADAP KINERJA
PEGAWAI PUSKESMAS DI KECAMATAN PONGGOK KABUPATEN BLITAR
Kristya Damayanti
STIE Kesuma Negara Blitar
Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Motivasi, Disiplin dan
Stres Kerja terhadap Kinerja Pegawai Puskesmas di Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar.
Penelitian ini menggunakan prespektif penelitian kuantitatif dengan metode survey sensus
yaitu menggunakan seluruh populasi sebagai sampel yang berjumlah 50 orang dan
menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpul data yang pokok. Analisis data dalam
penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel motivasi mempunyai nilai positif
dengan pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai, variabel disiplin mempunyai nilai
positif dengan pengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai, variabel stres kerja
mempunyai nilai negatif dan berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai. Hal ini
menunjukkan bahwa secara simultan variabel motivasi kerja, disiplin kerja dan stres kerja
berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai Puskesmas di Kecamatan Ponggok
,Kabupaten Blitar.Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi kerja mempunyai pengaruh
dominan terhadap kinerja.
Kata Kunci : Motivasi, Disiplin, Stres dan Kinerja Pegawai
PENDAHULUAN
Kesehatan
mempunyai
peranan
besar dalam meningkatkan derajat
hidup masyarakat. Karena itu semua
negara berupaya menyelenggarakan
pelayanan
kesehatan
yang
sebaik
baiknya. Pelayanan kesehatan ini berarti
setiap upaya yang diselenggarakan
sendiri atau bersama-sama dalam suatu
organisasi
untuk
memelihara
dan
meningkatkan kesehatan, mencegah
dan
mengobati
penyakit,
serta
memulihkan kesehatan perseorangan,
kelompok ataupun masyarakat.
Dewasa ini semakin disadari bahwa
aset dalam menjalankan roda organisasi
adalah manusia. Manusia merupakan
unsur terpenting, hal ini dapat dipahami
karena
manusia
menduduki
posisi
sentral dan tidak dapat digantikan
peranannya
sebagai
pemikir
yang
rasional
dalam
mengelola,
menggerakkan
dan
mengendalikan
segenap sumber daya lainnya. Sekalipun
tidak dapat disanggah bahwa alat
produksi lainnya seperti modal, sarana
kerja, bahan baku metode kerja tetap
diperlukan
serta
mempunyai
arti
penting.
Kinerja adalah hasil prestasi kerja
baik berupa kualitas maupun kuantitas
yang dicapai sumber daya manusia
40
persatuan
periode
waktu
dalam
melaksanakan tugas kerjanya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Anwar Prabu Mangkunegara
( 2000 : 67)
Kinerja yang baik tergantung dari
tingkat pemberian motivasi pegawai dan
disiplin kerja yang dimiliki oleh semua
pegawai, serta pengelolaan stres yang
baik.
Pada
dasarnya
bekerja
dilingkungan kesehatan yang menangani
pasien dengan berbagai kasus penyakit,
maka kita sebagai tenaga kesehatan
harus sigap dalam mengatasi hal
tersebut.
Puskesmas adalah unit organisasi
fungsional
dibidang
pelayanan
kesehatan dasar, yang berfungsi sebagai
pusat
pembangunan
kesehatan,
Pembina peran serta masyarakat dan
pelayanan kesehatan secara menyeluruh
dan terpadu, yang sesuai dengan
konsepnya
bahwa
Puskesmas
bertanggung jawab atas wilayah kerja
yang ditetapkan.
Tujuan pembangunan kesehatan
yang diselenggarakan oleh Puskesmas
adalah mendukung tercapainya tujuan
pembangunan kesehatan nasional yakni
meningkatkan
derajat
kesehatan
masyarakat
melalui
pemberdayaan
masyarakat,
melindungi
kesehatan
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
masyarakat
dengan
menjamin
tersedianya upaya kesehatan yang
paripurna,
merata,
bermutu
dan
berkeadilan bagi setiap orang yang
bertempat
tinggal
diwilayah
kerja
Puskesmas
agar
terwujud derajat kesehatan
setinggitingginya.
Dengan
demikian
maka
Puskesmas adalah benar-benar sebagai
wadah yang memberikan pelayanan
kesehatan
masyarakat
secara
menyeluruh dan terpadu (Depkes RI,
2010).
Faktor yang mempengaruhi kinerja
adalah motivasi kerja. Seseorang yang
mempunyai
motivasi
tinggi
akan
menyelesaikan tugas yang diberikan
kepadanya.
(Riniwati
2011:187).
Seorang pegawai yang mempunyai
motivasi kerja tinggi akan memiliki
kinerja
yang
tinggi
pula,sehingga
motivasi merupakan faktor yang sangat
penting dalam upaya meningkatkan
kinerja pegawai.
Faktor lain yang mempengaruhi
kinerja adalah Stres kerja. Stres kerja
merupakan konsekuensi dari setiap
tindakan dan situasi lingkungan yang
menimbulkan tuntutan psikologis dan
fisik yang berlebihan pada seseorang,
stres bukanlah sesuatu yang aneh dan
dialami oleh pegawai akibat dari
lingkungan yang dihadapinya dan hal itu
akan mempengaruhi kinerja pegawai.
(Panji Anoraga 2001 : 108)
Di samping itu juga ada faktor
kedisiplinan. Disiplin adalah setiap
perseorangan dan juga kelompok yang
menjamin adanya kepatuhan terhadap
perintah
dan
berinisiatif
untuk
melakukan
suatu
tindakan
yang
diperlukan
seandainya
tidak
ada
perintah.( Heidjrachman 2002: 15)
Puskesmas Ponggok merupakan
unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten Blitar yang bertanggung
jawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah kerja.
Puskesmas memiliki fungsi sebagai
pusat
penggerak
pembangunan
berwawasan
kesehatan,
pusat
pemberdayaan masyarakat Puskesmas
Ponggok mempunyai visi terwujudnya
Kecamatan Ponggok sehat 2015 dengan
pelayanan yang efektif dan efisien baik
upaya kesehatan perorangan maupun
kesehatan masyarakat.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
deskripsi
Motivasi,
Disiplin Kerja, Stres Kerja dan Kinerja
Pegawai
Puskesmas
Kecamatan
Ponggok ?
2. Bagaimana
pengaruh
variabel
Motivasi, Displin Kerja dan Stres
Kerja terhadap Kinerja Pegawai
Puskesmas Kecamatan Ponggok ?
3. Di antara variabel Motivasi, Disiplin
Kerja dan Stres Kerja variabel
manakah yang dominan berpengaruh
terhadap
Kinerja
Pegawai
Puskesmas Kecamatan Ponggok ?
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui deskripsi variabel
motivas, disiplin dan stress kerja
terhadap kinerja pegawai Puskesmas
Ponggok.
2. Untuk mengetahui pengaruh variabel
motivasi, disiplin dan stress kerja
terhadap kinerja pegawai Puskesmas
Ponggok.
3. Untuk mengetahui variabel dominan
yang berpengaruh terhadap kinerja
pegawai Puskesmas Ponggok.
TINJAUAN PUSTAKA
Kinerja
Kinerja
merupakan
perilaku
organisasi yang secara
langsung
berhubungan dengan produksi barang
atau penyampaian jasa.
Informasi
tentang kinerja organisasi merupakan
suatu
hal
yang
sangat
penting
digunakan untuk mengevaluasi apakah
proses kinerja yang dilakukan organisasi
selama ini sudah sejalan dengan tujuan
yang diharapkan atau belum. Akan
tetapi dalam kenyataannya banyak
organisasi yang justru kurang atau
bahkan
tidak
jarang
ada
yang
mempunyai informasi tentang kinerja
dalam organisasinya.
Kinerja berasal dari kata ito
performi yang artinya melakukan suatu
kegiatan dan menyempurnakan sesuai
dengan tanggung jawabnya dengan hasil
seperti yang diharapkan. Sementara itu
dalam praktek manajemen sumber daya
manusia
banyak
terminologi
yang
muncul dengan kata kinerja yaitu
41
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
evaluasi
kinerja
(performance
evaluation), dikenal juga dengan istilah
penilaian
kinerja
(performance
appraisal,
performance
rating,
performance
assessment,
employe
evaluation, rating, efficiency rating,
service
rating)
pada
dasarnya
merupakan proses yang digunakan
perusahaan untuk mengevaluasi
job
performance.
Kinerja pegawai dalam organisasi
mengarah kepada kemampuan pegawai
dalam melaksanakan keseluruhan tugastugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Tugas-tugas
tersebut
biasanya
berdasarkan
indikator-indikator
keberhasilan yang sudah ditetapkan.
Sebagai hasilnya akan diketahui bahwa
seseorang
pegawai
masuk
dalam
tingkatan kinerja
tertentu.
Kinerja
merupakan
kombinasi
antara
kemampuan
dan
usaha
untuk
menghasilkan apa yang dikerjakan.
Samsudin(2005:159) Menyebutkan
bahwa
Kinerja
adalah
tingkat
pelaksanaan tugas yang dapat dicapai
seseorang, unit atau divisi dengan
menggunakan kemampuan yang ada
dan
batasan-batasan
yang
telah
ditetapkan untuk mencapai tujuan
organisasi perusahaan.
Maluyu S.P. Hasibuan (2001:34)
Mengemukakan Kinerja (prestasi kerja)
adalah suatu hasil kerja yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas
tugas yang dibebankan kepadanya yang
didasarkan atas kecakapan, pengalaman
dan kesungguhan serta waktu.
Anwar
Prabu
Mangkunegara
(2000 : 67) Kinerja adalah hasil kerja
secara kualitas dan kuantitas yang
dicapai oleh seseorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung
jawab
yang
diberikan
kepadanya
Dari
uraian
diatas
dapat
disimpulkan bahwa kinerja merupakan
kualitas dan kuantitas dari suatu hasil
kerja
(output)
individu
maupun
kelompok dalam suatu aktivitas tertentu
yang diakibatkan oleh kemampuan yang
diperoleh dari proses belajar serta
keinginan untuk berprestasi. (Siswanto,
2002:235)
42
1. Indikator Pengukur Kinerja
Menurut
Hasibuan
(2002:95)
indikator kinerja pegawai dapat dinilai
dari beberapa unsur yaitu:
a. Kualitas
Merupakan sikap yang ditunjukkan
oleh karyawan berupa hasil kerja
dalam bentuk kerapian, ketelitian dan
keterkaitan hasil tidak mengabaikan
volume
pekerjaan
di
dalam
mengerjakan pekerjaan.
b. Kuantitas
Kuantitasmerupakan volume kerja
yang dihasilkan dibawah kondisi
normal. Hal ini dapat dilihat dari
banyaknya beban kerja dan keadaan
yang didapat atau dialami pekerja
selama bekerja.
c. Kerja sama
Diukur
dari
kesediaan
pegawai/karyawan
dalam
berpartisipasi dan bekerja sama
dengan karyawan lain secara vertikal
dan
horizontal
sehingga
hasil
pekerjaannya akan semakin baik.
d. Tanggung Jawab
Kinerja pegawai juga dapat diukur
dari kesediaan karyawan dalam
mempertanggungjawabkan pekerjaan
dan hasil kerjanya, sarana dan
prasarana yang dipergunakan, serta
perilaku kerjanya.
2. Tujuan Penilaian Kinerja
Tujuan penilaian kinerja secara
umum adalah untuk menghasilkan
informasi yang akurat dengan perilaku
dan kinerja anggota organisasi. Dalam
pendekatan
pengembangan
seorang
pemimpin mencoba untuk meningkatkan
kinerja
seorang
individu
dimasa
mendatang, aspek pengembangan dari
penilaian
kinerja
mendorong
pertumbuhan pegawai.
Menurut Syafarudin Alwi ( 2001 :
187 ) secara teoritis tujuan penilaian
dikategorikan
sebagai
suatu
yang
bersifat evaluation dan development
yang
bersifat
efaluation
harus
menyelesaikan :
a. Hasil penilaian digunakan sebagai
dasar pemberian kompensasi
b. Hasil penilaian digunakan sebagai
staffing decision
c. Hasil penilaian digunakan sebagai
dasar meengevaluasi sistem seleksi.
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
Sedangkan
yang
bersifat
development
penilai
harus
menyelesaikan :
a. Prestasi riil yang dicapai individu
b. Kelemahan- kelemahan individu yang
menghambat kinerja Prestasi- pestasi
yang dikembangkan.
3. Manfaat Penilaian Kinerja
Notoadmodjo,
(2009:
134)
Menyebutkan Manfaat penilaian prestasi
kerja sebagai berikut:
a. Peningkatan prestasi kerja. Dengan
adanya
penilaian
baik
manajer
maupun
karyawan
memperoleh
umpan balik dan mereka dapat
memperbaiki pekerjaan mereka.
b. Kesempatan kerja yang adil. Dengan
adanya penilaian kerja yang akurat
akan menjamin setiap karyawan
memperoleh kesempatan menempati
posisi pekerjaan sesuai dengan
kemampuannya.
c. Kebutuhan-kebutuhan
pelatihan
pengembangan.
Melalui
penilaian
prestasi kerja akan
mendeteksi
karyawan-karyawan
yang
kemampuannya
rendah,
dan
kemudian memungkinkan adanya
program
pelatihan
untuk
meningkatkan kemampuan mereka.
b. Penyesuaian kompensasi. Penilaian
prestasi kerja dapat membantu para
menejer untuk mengambil keputusan
dalam
menentukan
perbaikan
kompensasi,
gaji,
bonus,
dan
sebagainya.
c. Keputusan-keputusan promosi dan
demosi. Hasil penilaian prestasi kerja
terhadap karyawan dapat digunakan
untuk mengambil keputusan untuk
mempromosikan
karyawan
yang
berprestasi baik dan demosi untuk
karyawan yang berprestasi kurang
baik atau jelek.
d. Kesalahan-kesalahan
desain
pekerjaan. Hasil penilaian prestasi
kerja dapat digunakan untuk menilai
desain kerja. Artinya hasil penilaian
prestasi kerja ini dapat membantu
mendiagnosis
kesalahan-kesalahan
desain kerja.
e. Penyimpangan-penyimpangan proses
rekruitmen dan seleksi. Penilaian
prestasi kerja dapat digunakan untuk
menilai proses rekruitmen dan seleksi
karyawan yang telah lalu.prestasi
kerja yang sangat rendah bagi
karyawan baru adalah mencerminkan
adanya
penyimpanganpenyimpangan proses rekruitmen dan
seleksi.
4. Metode Penilaian Kinerja
Sistem
pengukuran
kinerja
biasanya terdiri atas metode yang
sistematis dalam penetapan sasaran dan
tujuan, serta pelapran periodik yang
mengindikasikan
realisasi
atas
pencapaian sasaran dan tujuan.
Metode penilaian yang digunakan
dalam penilaian kinerja tidak ada
kesepatan para ahli, tetapi untuk
pegawai negeri sipil, tetapi untuk
pegawai negeri ataupin pegawai pada
lembaga
pemerintan
mempunyai
metode penilaian kinierja yang sudah
baku dan berlaku secara general di
Indonesia yang dikenal dengan Daftar
Penilaian Pelaksanaan Pekerja (DP3).
DP3 adalah suatu daftar yang memuat
sebagai
usaha
untuk
menjamin
objektivitas dalam pembinaan pegawai
atau personel berdasarkan sistem karir
dan prestasi kerja.
Ada berbagai metode untuk menilai
prestasi kerja pegawai. Hampir semua
teknik – teknik tersebut merupakan
suatu
upaya
langsung
untuk
meminimalkan
berbagai
masalah
tertentu
yang
dijumpai
dalam
pendekatan – pendekatan lain. Tidak
ada satupun teknik yang sempurna,
masing – masing mempunyai kebaikan
dan kelemahan.
Mengenai metode penilaian yang
digunakan dalam penilaian kinerja tidak
ada kesepakatan antara ahli yang satu
dengan yang lain, namun demikian pada
dasarnya penilaian ini dapat dibedakan
atas beberapa metode, yaitu (Sumamur,
2001) :
a. Penilaian teknis essai
b. Penilaian komparasi
c. Penilaian daftar periksa
d. Penilaian langsung kelapangan
e. Penilaian didasarkan perilakum
f. Penilaian didasarkan insiden kritikal
g. Penilaian berdasarkan efektivitas
h. Penilaian berdasarkan peringkat
5. Unsur – Unsur Penilaian Kinerja
Unsur – unsur penilaian kinerja
menurut pasal 4 PP No. 10 Tahun 1979
tentang Daftar Penilaian Pelaksananaan
43
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
Pekerjaan (DP3), unsur – unsur dalam
DP3 yang dinilai ada 8 macam yaitu
(Sumamur, 2001) :
a. Kesetian
b. Prestasi kerja
c. Tanggung jawab
d. Ketaatan
e. Kejujuran
f. Kerja sama
g. Prakarsa
h. Kepemimpinan
6. Kinerja Tenaga Kesehatan
Salah
satu
upaya
penjagaan
komitmen tenaga kesehatan terhadap
kinerja adalah melakukan evaluasi dan
penilaian terhadap kinerja . Walaupun
bagi pegawai yang sudah PNS ada
penilaian dengan DP3 yang dikenal
dengan PDLT, tapi penilaian itu dirasa
terlalu general. Maka agar penilaian
kinerja pegawai dapat lebih optimal,
kami mengembangkan penilaian dengan
buku raport layaknya sekolah (Jason,
2010).
Berdasarkan pada teori yang ada
bahwa teori Anwar Prabu Mangkunegara
yang digunakan untuk mengukur tingkat
kinerja
pegawai
yang
selanjutnya
digunakan dalam merumuskan indikator
untuk
mengukur
tingkat
kinerja
pegawai.
Motivasi
Motivasi adalah daya penggerak
atau kekuatan yang menyebabkan suatu
tindakan atau perbuatan. Seseorang
melakukan
suatu
tindakan
pada
umumnya mempunyai suatu motif
dengan
melakukan
sesuatu
tentu
mempunyai maksut atau tujuan yang
mendorongnya untuk melakukan suatu
tindakan.
Anwar Prabu Mangkunegara ( 2010
: 61). Motivasi merupakan kondisi atau
energi
yang
menggerakkan
diri
karyawan yang terarah dan bertujuan
untuk
mencapai
tujuan
organisasi
perusahaan.
Hasibuan (1999 : 110) Motivasi
merupakan persoalan bagaimana cara
mendorong gairah kerja bawahan agar
mereka mau bekerja keras dengan
memberikan semua kemampuan dan
ketrampilan untuk mewujudkan tujuan
perusahaan.
44
Siagian (2002 :134) mendefinisikan
motivasi yaitu sebagai daya pendorong
yang mengakibatkan seorang anggota
organisasi
mau
dan
rela
untuk
menyelenggarakan berbagai kegiatan
yang menjadi tanggung jawab dan
menunaikan kewajiban-kewajibannya.
Dari uraian diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa motivasi adalah
proses yang merupakan upaya pimpinan
memberikan
dorongan
yang
menggerakan pegawai untuk berperan
aktif dalam mencapai tujuan dengan
cara
memberikan
motif
yang
mengarhkan pada sikap dan tujuan yang
hendak dicapai oleh organisasi atau
perusahaan.
1. Prinsip-prinsip Motivasi
Terdapat beberapa prinsip dalam
Memotivasi Kerja Pegawai.
Menurut
Anwar Prabu Mangkunegara (2001 :
100) terdapat beberapa prinsip yaitu :
a. Prinsip Partisipasi
Dalam
upaya
memotivasi
kerja
pegawai perlu diberikan kesempatan
ikut berpartisipasi dalam menentukan
tujuan yang akan dicapai oleh
pemimpin.
b. Prinsip Komunikasi
Pemimpin
mengkomunikasikan
segala sesuatu yang berhubungan
dengan
usaha
mencapai
tugas
dengan informasi yang jelas pegawai
akan
lebih
mudah
dimotivasi
kerjanya.
c. Prinsip mengakui andil bawahan
Pemimpin mengakui bahwa bawahan
mempunyai andil didalam usaha
pencapian tujuan. Dengan pengakuan
tersebut pegawai akan lebih mudah
diberi motivasi.
d. Prinsip Pendelegasian wewenang
Pemimpin yang memberikan otoritas
atau wewenang kepada pegawai
bahwa
sewaktu-waktu
dapat
mengambil
keputusan
terhadap
pekerjaan yang dilakukanya dan akan
membuat
pegawai
yang
bersangkutan menjadi termotivasi
untuk
mencapai
tujuan
yang
diharapkan oleh pimimpin.
e. Prinsip Memberi Perhatian
Pemimpin
menberikan
perhatian
terhadap
apa
yang
diinginkan
pegawai bawahan akan memotivasi
pegawai pegawai bekerja sesuai
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
dengan apa yang diharapkan oleh
pemimpin.
2. Teori Motivasi
a. Teori Kebutuhan Maslow
Kebutuhan
dapat
didefinisikan
sebagai suatu kesenjangan atau
pertentangan yang dialami anatar
suatu kenyataan dengan dorongan
yang ada dalam diri. Apabila pegawai
kebutuhanya tidak terpenuhi maka
pegawai tersebut akan menunjukkan
perilaku kecewa sebaliknya jika
kebutuhanya
terpenuhi
maka
pegawai
tersebut
akan
memperlihatkan
perilaku
yang
gembira sebagai manifestasi dari
rasa puas. Kebutuhan merupakan
fundamental yang mendasari perilaku
pegawai,
kita
tidak
mungkin
memahami perilaku pegawai tanpa
mengerti kebutuhanya.
Abraham Maslow mengemukakan
bahwa herarki kebutuhan manusia
adalah sebagai berikut :
1) Kebutuhan
Fisiologis
yaitu
kebutuhan untuk makan, minum,
perlindungan
fisik,
bernafas,
seksual. Kebutuhan ini merupakan
kebutuahn tingkat rendah atau
sering disebit sebagai kebutuahn
yang paling dasar.
2) Kebutuhan
rasa
aman
yaitu
kebutuhan akan perlindungan dari
ancaman, bahaya, pertentangan
dan lingkungan hidup.
3) Kebutuhan rasa memiliki, yaitu
kebutuhan untuk diterima oleh
kelompok, berafiliasi, berinteraksi
dan kebutuhan untuk mencintai
serta dicintai.
4) Kebutuhan akan harga diri yaitu
kebutuhan untuk dihormati dan
dihargai oleh orang lain.
5) Kebutuhan aktualisasi diri yaitu
kebutuahn untuk menggunakan
kemampuan, skill dan potensi.
kebutuhan
untuk
berpendapat
dengan mengemukakan ide-ide
memberi penilaian dan kritik
terhadap sesuatu.
b. Teori Dua Faktor Hezberg
Frederick Heerzberg (Imam, 2002)
mengembangkan
teori
kepuasan
yang disebut teori faktor tentang
motivasi. Dua faktor itu dinamakan
faktor yang membuat orang merasa
puas dan faktor yang membuat orang
tidak merasa puas (dissatifiers –
satisfiers) atau faktor ekstrinsikintrinsik. Menurut Herzberg faktorfaktor
yang
berperan
sebagai
motivator terhadap pegawai, yakni
yang
mampu
memuaskan
dan
mendorong orang untuk bekerja baik,
yang terdiri dari:
a. Keberhasilan
pelaksanaan
(Achievement)
b. Pengakuan (Recognition)
c. Pekerjaaan itu sendiri (The Work
It Self )
d. Tanggung Jawab (Responbility)
e. Pengembangan(Advancement )
c. David Mc Clelland dengan Teori
Motivasi Prestasi
Menurut teori ini ada 3 komponen
dasar yang dapat digunakan untuk
memotivasi orang bekerja, yaitu :
Need for achievement
Merupakan
kebutuhan
untuk
mencapai
sukses
yang
diukur
berdasarkan standar kesempurnaan
dalam diri seseorang. Kebutuhan ini
berhubungan erat dengan pekerjaan
dan mengarahkan tingkah laku pada
suatu usaha untuk mencapai prestasi
tertentu.
Need for affiliatioan
Merupakan
kebutuhan
akan
kehangatan dan sokongan dalam
hubunganya dengan orang lain,
kebutuhan ini mengarahkan tingkah
laku untuk mengadakan hubungan
secara akrab dengan orang lain.
Need for power
Kebutuhan ini untuk menguasai dan
mempengaruhi terhadap orang lain,
kebutuhan ini menyebabkan orang
yang bersangkutan tidak atau kurang
memperdulikan persaan orang lain.
Berdasarkan ketiga teori diatas
dapat
disimpulkan
bahwa
teori
kebutuhan Maslow yang sesuai dengan
pemenuhan motivasi Kinerja Pegawai.
Pada teori ini menjelaskan tentang
pemenuhan kebutuhan secara lengkap
demi untuk memotivasi seorang pegawai
agar bisa bekerja dengan baik tanpa
mengurangi kebutuhan yang dibutuhkan
oleh pegawai tersebut.
45
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
3. Indikator
Untuk
Mengukur
Motivasi
a. Gaji
Gaji
adalah
sesuatu
yang
berkaitan dengan uang yang
diberikan kepada pegawaisebagai
bentuk
balas
jasa
ataupun
penghargaan
yang
diberikan
secara teratur kepada seorang
pegawai atas jasa dan hasil
kerjanya. Dessler (1998: 85).
Gaji sering juga disebut sebagai
upah,
dimana
keduanya
merupakan
suatu
bentuk
kompensasi, yakni imbalan jasa
yang diberikan secara teratur atas
prestasi kerja yang diberikan
kepada seorang pegawai.
b. Semangat Kerja
Semangat kerja atau moral kerja
merupakan
sikap
kesediaan
perasaan yang memungkinkan
seorang
karyawan
untuk
menghasilkan kerja yang lebih
banyak dan tanpa menambah
keletihan, dengan antusias ikut
serta dalam kegiatan sekerjanya,
dan membuat
karyawan tidak
mudah terkena pengaruh dari luar
perusahaan.
Menurut
Siswanto
(2000:35)
Semangat kerja dianggap sebagai
keadaan psikologis yang baik bila
semangat
kerja
tersebut
menimbulkan kesenangan yang
mendorong
seseorang
untuk
bekerja
dengan
giat
dan
konsekuen dalam mencapai tujuan
yang ditetapkan oleh perusahaan.
Dari pendapat tersebut dapat
disimpulkan
bahwa
yang
dimaksud dengan semangat kerja
adalah kemampuan atau kemauan
setiap individu atau sekelompok
orang untuk saling bekerjasama
dengan giat dan disiplin serta
penuh
rasa
tanggung
jawab
disertai
kesukarelaan
dan
kesediaanya
untuk
mencapai
tujuan organisasi.
c. Pengembangan Karier
Prabu Mangkunegara (2000:77)
Mendefinisikan
pengembangan
merupakan aktivitas kepegawaian
yang
membantu
pegawai
pegawai
merencanakan
karier
46
masa
depan
mereka
di
perusahaan agar perusahaan dan
pegawai yang bersangkutan dapat
mengembangkan
diri
secara
maksimum.
Sedangkan
Veitzhal
Rivai
(2004:290)
Menjelaskan
Pengembangan
Karier adalah
proses peningkatan kemampuan
kerja individu yang dicapai dalam
rangka
mencapai
karir
yang
diinginkan.
Jadi
dengan
demikian,
Pengembangan karir merupakan
tindakan
seseorang
karyawan
untuk mencapai rencana karirnya,
yang
disponsori
baik
oleh
departemen
sumber
daya
manusia, manajer atau pun pihak
lain.
Adapun tujuan pengembangan
karir menurut
Anwar Prabu
Mangkunegara (2000:77) sebagai
berikut :
1) Membantu dalam pencapaian
tujuan individu dan perusahaan
Seorang pegawai yang sukses
dengan prestasi kerja yang
sangat
baik,
kemudian
menduduki posisi jabatan yang
lebih tinggi, hal ini berarti
tujuan perusahaan dan tujuan
individu tercapai.
2) Menunjukkan
hubungan
kesejahteraan
pegawai
Perusahaan
Merencanakan karir pegawai
dengan
meningkatkan
kesejahteraannya
agar
pagawai
lebih
tinggi
loyalitasnya
3) Membantu pegawai menyadari
kemampuan potensi mereka
Pengembangan
karir
membantu
menyadarkan
pagawai akan kemampuannya
untuk
menduduki
suatu
jabatan tertentu sesuai dengan
potensi dan keahliannya.
4) Memperkuat hubungan antara
pegawai dan perusahaan
Pengembangan
karir
akan
memperkuat hubungan dan
sikap
pegawai
terhadap
perusahaannya
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
5) Membuktikan tanggung jawab
sosial
Pengembangan
karir
suatu
cara menciptakan iklim kerja
yang positif dan pegawai pegawai
menjadi
lebih
bermental sehat.
Disiplin Kerja
Hal ini menekankan pada bantuan
kepada pegawai untuk mengembangkan
sikap yang layak terhadap pekerjaanya.
Disiplin merupakan suatu kekuatan yang
berkembang didalam tubuh pekerja
sendiri yang menyebabkan dia dapat
menyesuaikan diri dengan sukarela
kepada peraturan dan nilai-nilai tinggi
dari pekerjaan dan tingkah laku.
(Asmiarsih, 2006 : 23)
Siagian (2002 : 86) Displin berati
tindakan
yang
diambil
dengan
penyediaan untuk mengoreksi perilaku
dan sikap yang salah pada sementara
karyawa.
Veitzzal Rivai ( 2004: 44 ) Disiplin
adalah suatu alat yang digunakan oleh
manajer untuk berkominukasi dengan
karyawan agar mereka bersedia untuk
mengubah suatu perilaku serta sebagai
suatu
upaya
untuk
meningkatkan
kesadaran dan kesediaan seseorang
menaati peraturan dan norma sosial
yang berlaku.
Fathoni (2006 : 172) Mengatakan
bahwa Kedisiplinan adalah kesadaran
dan kesediaan seseorang mentaati
semua
peraturan
perusahaan
dan
norma-norma sosial yang berlaku.
Dari uraian diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa disiplin kerja adalah
suatu sikap, tingkah laku dan peraturan
yang sesuai dengan peraturan baik
secara tertulis maupun tidak dan apabila
melanggar akan mendapatan hukuman.
1. Indikator Disiplin Kerja
Menurut Hasibuan (2005:194-198)
Pada dasarnya banyak indikator yang
mempengaruhi
tingkat
kedisiplinan
pegawai, di antaranya :
a. Tujuan dan kemampuan
Tujuan
dan
kemampuan
ini
mempengaruhi tingkat kedisiplinan
karyawan. Tujuan yang akan dicapai
harus jelas dan ditetapkan secara
ideal serta cukup menantang bagi
kemampuan karyawan.
Hal ini
berarti
bahwa
pekerjaan
yang
dibebankan kepada karyawan harus
sesuai dengan kemampuan karyawan
bersangkutan
agar
karyawan
tersebut bekerja dengan sungguhsungguh
dan
disiplin
dalam
mengerjakan tugas tersebut.
b. Teladan pimpinan
Teladan pimpinan sangat berperan
dalam
menentukan
kedisiplinan
karyawan
karena
pimpinanan
dijadikan teladan dan panutan oleh
para bawahannya. Pimpinan harus
memberi
contoh
yang
baik,
berdisiplin baik, jujur, adil, serta
sesuai dengan perbuatan. Dengan
teladan
pimpinan
yang
baik,
kedisiplinan bawahan akan ikut baik.
Jika teladan pimpinan kurang baik
(kurang berdisiplin), para bawahan
pun akan kurang disiplin.
c. Sanksi hukuman
Sanksi hukuman berperan penting
dalam
memelihara
kedisiplinan
karyawan. Dengan sanksi hukuman
yang semakin berat, karyawan akan
semakin takut melanggar peraturanperaturan
perusahaan. Berat atau
ringan sanksi hukuman yang akan
diterapkan ikut mempengaruhi baik
buruknya kedisiplinan karyawan.
d. Ketegasan
Ketegasan
pimpinan
dalam
melakukan
tindakan
akan
mempengaruhi kedisiplinan karyawan
perusahaan, pimpinan harus berani
dan
tegas
bertindak
untuk
memberikan sanksi sesuai dengan
yang telah ditetapkan
perusahaan
sebelumnya.
Dengan
demikian
pimpinan akan dapat memelihara
kedisiplinan karyawan perusahaan.
2. Pelaksanaan Disiplin Kerja
Disiplin yang baik adalah disiplin
diri. Kecendurnagn orang normal adalah
melakukan apa yang menjadi kewajiban
dan menepati aturan main. Suatu waktu
orang
akan
mengerti
apa
yang
dibutuhkan dari mereka, dimana mereka
diharapkan untuk selalu melakukan
tugasnya secara efektif dan efisien
dengan senang hati. Kini banyak orang
yang mengetahui bahwa kemungkian
yang terdapat dibalik disiplin adalah
meningkatkan diri dari kemalasan. (
Tohardi, 2002).
47
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
Berdasarkan dari teori yang ada
bahwa teori Fathoni yang digunakan
untuk mengukur tingkat kedisiplinan
kerja
pegawai
dan
selanjutnya
digunakan dalam merumuskan indikator
untuk mengukur tingkat kedisiplinan
pegawai.
Stres Kerja
Stres merupakan sesuatu yang
menyangkut interaksi antara stimulasi
individu dan lingkungan. Stres bukanlah
sesuatu yang aneh yang terjadi pada
orang yang normal dan tidak semua
stres bersifat negatif. Stres yang dialami
karyawan
akibat
lingkungan
yang
dihadapi akan mempengaruhi kinerja
sehingga
manajemen
perlu
meningkatkan
mutu
lingkungan
organisasi bagi. Dengan menurunnya
stres
yang
dialami
tentu
akan
meningkatkan kesehatan dalam tubuh
perusahaan.
Stres
merupakan
konsekuensi
setiap tindakan dan situasi lingkungan
yang menimbulkan tuntutan psikologis
dan fisik yang berlebihan pada diri
seseorang. (John Suprihanto, 2003: 62)
Stres merupakan suatu kondisi
ketegangan yang diakibatkan oleh
adanya
tuntutan
dari
tugas
dan
perannya
dalam
organisasi
dalam
menghadapi
lingkungannya
dan
pekerjaan yang akan dilakukannya.
(Prakoso Hadi, 2003:63)
Stepen. P. Robbins ( 2003 : 793)
Stres adalah kondisi dinamik yang
didalamnya
individu
menghadapi
peluang, tututan, kendala terkait dengan
apa yang diinginkan dan yang hasilnya
dipersepsikan sebagai tidak pasti tapi
penting.
Dari uraian dapat disimpulkan
bahwa stres kerja adalah kondisi
dinamis dimana seseorang dihadapkan
pada konfrontasi antara kesempatan,
hambatan atau permintaan akan apa
yang
diinginkan
dan
hasilnya
dipersepsikan tidak penting.
1. Kategori Stres Kerja
Menurut Phillip L (dikutip Jacinta,
2002), seseorang dapat dikategorikan
mengalami stres kerja bila:
a. Urusan
stres
yang
dialami
melibatkan juga pihak organisasi
atau perusahaan tempat individu
48
bekerja. Namun penyebabnya tidak
hanya di dalam perusahaan, karena
masalah
rumah
tangga
yang
terbawa ke pekerjaan dan masalah
pekerjaan yang terbawa ke rumah
dapat juga menjadi penyebab stress
kerja.
b. Mengakibatkan dampak negatif bagi
perusahaan dan juga individu Oleh
karenanya diperlukan kerjasama
antara kedua belah pihak untuk
penyelesaikan
persoalan
stres
tersebut Secara umum, seseorang
yang
mengalami
stres
pada
pekerjaan
akan
menampilkan
gejala-gejala yang meliputi 3 aspek,
yaitu : (Robbins, 2003,pp.800-802)
1) Physiological
memiliki
indikator
yaitu:
terdapat
perubahan
pada
metabolisme
tubuh,
meningkatnya kecepatan detak
jantung
dan
napas,
meningkatnya tekanan darah,
timbulnya sakit kepala dan
menyebabkan
seranganjantung.
2) Psychological
memiliki
indikator
yaitu:
terdapat
ketidakpuasan
hubungan
kerja,
tegang,
gelisah, cemas, mudah marah,
kebosanan
dan
sering
menunda pekerjaan.
3) Behavior
memiliki
indikator
yaitu:
terdapat
perubahan
pada
produktivitas, ketidak hadiran
dalam jadwal kerja, perubahan
pada
selera
makan,
meningkatnya konsumsi rokok
dan alkohol, berbicara dengan
intonasi cepat dan mudah.
2. Indikator Untuk Mengukur Stres
Kerja
Menurut
(Robbins, 2003:318).
Iindikator Stres kerja sebagai berikut :
a. Konflik Kerja
Ketidak setujuan antara dua atau
lebih anggota atau kelompok dalam
organisasi yang timbul karena
mereka
harus
menggunakan
sumber daya secara bersama-sama,
mempunyai status, tujuan, nilainilai, dan persepsi yang berbeda.
Konflik
kerja
juga
merupakan
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
kondisi yang dipersepsikan ada
diantara
pihak-pihak
yang
merasakan adanya ketidaksesuaian
tujuan
dan
peluang
untuk
mencampuri urusan pencapaian
tujuan pihak lain.
b. Beban Kerja.
Keadaan
karyawan
yang
dihadapkan
pada
sejumlah
pekerjaan yang harus dikerjakan
dan tidak mempunyai cukup waktu
untuk menyelesaikan pekerjaannya.
c. Waktu Kerja .
Pekerja dituntut untuk segera
menyelesaikan tugas sesuai dengan
waktu yang ditentukan.
d. PengaruhKepemimpinan
Pemimpin
melalui pengaruhnya
dapat memberikan dampak yang
sangat berarti terhadap aktivitas
kerja. Dalam pekerjaan yang bersif
stressful
lebih
baik
jika
pemimpinnya mengambil tanggung
jawab
lebih
besar
dalam
memberikan pengarahan.
Dari teori yang ada bahwa teori
Stephen Robbins yang digunakan untuk
mengukur tingkat stres pegawai yang
dijabarkan dalam sebuah indikator untuk
mengukur tingkat stres yang ada.
3. Faktor-Faktor
Yang
Mempengaruhi Kinerja
Menurut
Anwar
Prabu
Mangkunegara ( 2000 : 6) sebagai
berikut :
a. Faktor Kemampuan
Secara
psikologis
kemampuan
pegawai terdiri dari kemampuan
potensi
(IQ)
dan
kemampuan
reality ( knowledge + skill). Artinya
pegawai yang memiliki IQ rata-rata
(IQ 110-120) dengan pendidikan
yang memadai untuk jabatanya dan
terampil
dalam
mengerjakan
pekerjaan, maka akan mudah
mencapai kinerja yang baik
b. Faktor Motivasi
Motivasi
terbentuk
dari
sikap
seorang
pegawai
dalam
menghadapi situasi kerja. Sikap
mental merupakan kondisi mental
yang mendorong pegawai untuk
berusaha mencapai prestasi kerja
maksimal. Artinya seorang pegawai
harus mampu secara fisik maupun
mental dalam memahami tujuan
dan target kerja yang akan dicapai,
serta dapat menciptakan situasi
kerja yang kondusif.
Motivasi
(X1)
Disiplin
(X2)
Kinerja (Y)
Stres ( X3)
Gambar 1. Kerangka Konsep Penelitian
HIPOTESIS PENELITIAN
1. Diduga terdapat pengaruh signifikan
antara Disiplin, Motivasi, dan Stres
kerja terhadap Kinerja Pegawai
Puskesmas di Kecamatan Ponggok.
2. Diduga bahwa Motivasi memberi
pengaruh dominan pada Kinerja
Pegawai Puskesmas di Kecamatan
Ponggok dari pada pengaruh variabel
Disiplin Kerja dan Stres Kerja.
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis Penelitian
49
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
Penelitian
ini
menggunakan
prespektif penelitian kuantitatif dengan
metode
survey
sensus
yaitu
menggunakan seluruh populasi sebagai
sampel dan menggunakan kuisioner
sebagai alat pengumpul data yang
pokok (Singarimbun, 1998).
Hal ini dilakukan karena untuk
mengetahui
fenomena
tentang
hubungan motivasi, disiplin kerja dan
stres kerja terhadap kinerja pegawai
pada Puskesmas Ponggok Kabupaten
Blitar
Populasi dan Sampel.
Populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas obyek atau subyek
yang
mempunyai
kualitas
dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian
ditarik
kesimpulannya
(Sugiyono. 2005 : 90).
Populasi pada penelitian ini adalah
seluruh
pegawai
yang
ada
pada
Puskesmas Ponggok yang berjumlah 50
orang.
Pengambilan
sampel
menurut
Ridwan ( 2009 : 70 ) apabila subyek
kurang dari 100, maka lebih baik diambil
semua sehingga penelitianya merupakan
penelitian populasi.
Berdasarkan keterangan tersebut
maka peneliti menggunakan teknik
sensus dengan jumlah pegawai 50 orang
di jadikan responden semua.
Tabel 1. Jumlah Pegawai Puskesmas Ponggok
Jabatan
Pendidikan
Jumlah
Dokter Umum
S1
2
Dokter Gigi
S1
1
Bidan
D3
19
Perawat
D3
12
Juru Imunisasi D3
1
Kepala
Tata S1
1
Usaha
Bendahara
S1
1
Pembantu
SMU
2
Paramedis
Analis
D1
1
Apoteker
S1
2
SP2TP
SMU
1
Kesehatan
D1
1
Lingkungan
Assisten Poli S1
1
Gigi
Assisten Bidan D3
1
Laboratorium
S1
1
Gizi
D3
1
Sopir
SMU
1
JUMLAH
50
50
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
Tabel 2. Hasil Uji Regresi Standardize Pengaruh Motivasi, Disiplin dan Stres kerja
terhadap kinerja Pegawai
Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1
Std.
Error
B
(Constant)
Standardized
Coefficients
2.550
.556
X1 (Motivasi)
.283
.078
X2 (Disiplin)
.320
.098
-.374
.120
X3 (Stres)
ANALISIS HASIL PENILAIAN
Berdasarkan nilai-nilai pada tabel 2
maka dapat ditentukan model regresi
linier berganda yang dinyatakan dalam
bentuk persamaan sebagai berikut :
Y = 2,550 + 0,384 X1 + 0,352
X2 - 0,328X3 +e
Beta
t
Sig.
4.588
.000
.384
3.627
.001
.352
3.269
.002
-.328
-3.120
.003
koefisien regresi sebesar 0,384dengan
nilai thitung 3,627 dengan signifikansi
0,001. Variabel Disipin Kerja (X2)
memiliki koefisien regresi sebesar 0,352
dengan nilai thitung 3,269 dengan
signifikansi
0,002.
Variabel
Stres
memiliki koefisien regresi sebesar 0,328 dengan thitung -3,120 dengan
signifikansi 0,003.
Hasil perhitungan regresi pada tabel
1 untuk variabel Motivasi (X1) memiliki
Tabel 3. Hasil Uji Koefisien Korelasi dan Determinasi
Coefficientsa
Model
R
.717a
Durbin
R
Adjusted R Std. Error of the Watso
Square
Square
Estimate
n
.514
Berdasarkan tabel diatas diketahui
besarnya koefisien korelasi berganda R
Sebesar
0,717
hal
ini
berarti
menunjukkan adanya hubungan yang
kuat, positif dan searah antara variabel
Motivasi (X1) dan Disiplin Kerja (X2)
terhadap
Kinerja
Pegawai
(Y),
sedangkan untuk variabel stres kerja
terjadi nilai negatif tapi berpengaruh
signifikan terhadap kinerja pegawai.
Sedangkan R Square atau koefisien
Determinasi
digunakan
untuk
mengetahui seberapa besar prosentase
sumbangan
pengaruh
variabel
.482
.24290
1.979
independet
secara
bersama-sama
terhadap
variabel
dependent.
Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui nilai
koefisien Determinasi R Square adalah
0,514. Jadi sumbangan pengaruh dari
variabel
independent
yaitu
51,4%
sedangkan sisanya 48,6% dipengaruhi
faktor lain.
KESIMPULAN
1. Deskripsi
variabel
motivasi
menunjukkan
bahwa
sebagian
besar
responden
memberikan
respon yang baik dengan nilai yang
51
Jurnal KompilekVol. 6 No. 1 Juni 2014
tinggi. Hal ini berati bahwa dengan
motivasi kerja yang tinggi akan
meningkatkan
kinerja
pegawai.
Variabel disiplin kerja menunjukkan
bahwa
responden
memberikan
kontribusi positif dengan nilai yang
baik. Hal ini berati bahwa dengan
disiplin kerja yang tinggi akan
meningkatkan
kinerja
pegawai.
variabel Stres kerja menunjukkan
bahwa sebagian besar responden
memberikan penilaian kurang baik
dengan nilai negatif. Hal ini berati
bahwa dengan rendahnya stres
kerja
maka
akan
dapat
meningkatkan kinerja pegawai.
2. Masing-masing
variabel
memberikan pengaruh signifikan
terhadap kinerja pegawai. Variabel
motivasi mempunyai nilai positif
dengan
pengaruh
signifikan
terhadap kinerja pegawai. Variabel
disiplin mempunyai nilai positif
dengan
pengaruh
signifikan
terhadap kinerja pegawai. Variabel
stres kerja mempunyai nilai negatif
dan
berpengaruh
signifikan
terhadap kinerja pegawai.
3. Diantara variabel motivasi kerja,
disiplin kerja dan stres kerja
variabel
motivasi
kerja
yang
mempunyai nilai dominan dengan
nilai signifikan paling tinggi yang
berpengaruh pada kinerja pegawai.
Dapat disimpulkan bahwa dengan
pemberian motivasi tinggi dapat
meningkatkan
kinerja
pegawai,
dalam hal ini peningkatan motivasi
diberikan berupa pemberian gaji
tepat waktu.
DAFTAR PUSTAKA
Obisurtu, Apnamulsah. 2008. Analisis
Hubungan Motivasi dan Disiplin
kerja terhadap Kinerja tenaga
pegawai setda alor.
Bernadin, H. John & Joice E. A
Russel, 1993. Human Resource
Management, MC.Graw-Hill, Inc
Cooper, Cary & Straw Alison, 1995.
Stres Management Yang Sukses.
Jakarta. Kesain Blanc
52
Departemen Kesehatan Indonesia.
2004. Surat Keputusan Menteri
Kesehatan No. 128 tahun 2004
tentang Kebijakan Dasar Pusat
Kesehatan Masyarakat. Depkes,
Jakarta.
Indra W, 2005, Perilaku Organisasi,
Sinar Baru, Jakarta
Malayu, S, P. Hasibuan, 2006.
Management
Sumber
Daya
Manusia. Edisi Revisi, Cetakan
Kedelapan, Jakarta : Bumi Aksara
Mangkunegara, 2005. Evaluasi Kinerja
SDM.
PT
Refika
Aditama.
Bandung
Prawirosentono.S, 2003. Manajemen
Sumber Daya Manusia, Kebijakan
Kinerja
Karyawan.
BPFE,
Yogyakarta
Robbin, P Stephen, 2002. Prinsipprinsip
Perilaku
Organisasi,
Jakarta, Penerbit Erlangga
Suharsimi,
Arikunto.
2005.
Manajemen Penelitian. Jakarta :
PT RINEKA CIPTA
Sujianto, Agus Eko. 2009. Aplikasi
Statistik dengan SPSS 16. Jakart :
PT Prestasi Pustakaraya
Sanusi,
Anwar,
2011.
Metodologi
Penelitian Bisnis, Jakarta, Salemba
Empat
Singarimbun,
Masri
dan
Sofian
Effendi, 1989. Metode Penelitian
Survey. Jakarta, LP3ES
Sudiman. 2001, Penilaian Kinerja dan
Pengembangan
Karyawan,
Universitas
Gajah
Mada,
Yogyakarta.
Suprihanto et al, 2003. Perilaku
Organisasional,
STIE
YKPN.
Yogyakarta
Sutrisno
edi,
2009.
Manajemen
Sumber Daya Manusia . kencana
prenada media gruop. Jakarta
PP No. 10 Tahun 1979 Pasal 4
tentang
Daftar
Penilaian
Pelaksananaan Pekerjaan (DP3)
Widi, Restu Kartiko, 2010. Azas
Metodologi Penelitian ( Sebuah
Pengenalan
dan
Penuntun
Langkah
Demi
Pelaksanaan
Penelitian). Yogyakarta, Graha
Ilmu.
Download