Nabire, 22 November 2005 - E

advertisement
BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA
STASIUN METEOROLOGI NABIRE
BMKG
Jl. Sisingamangaraja
No. 1 Nabire Telp. (0984)
22559,26169 Fax (0984) 22559
BADAN METEOROLOGI
DAN GEOFISIKA
BALAI BESAR METEOROLOGI DAN GEOFISIKA WILAYAH V
STASIUN METEOROLOGI NABIRE
ANALISIS CUACA TERKAIT ANGIN KENCANG DI JAYAPURA
TANGGAL 12 FEBRUARI 2017
OLEH :
EUSEBIO ANDRONIKOS SAMPE, S.Tr
NABIRE
2017
I. PENDAHULUAN
Jayapura (www.harianpapua.com) – Cuaca buruk yang terjadi di Kota Jayapura dan sekitarnya sejak
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
Minggu BALAI
(12/02/2017)
dini
hari membuat sejumlah
pohon besarWILAYAH
tumbang. Beberapa
pohon yang tumbang
BESAR
METEOROLOGI
DAN GEOFISIKA
V
METEOROLOGI
NABIRE
diakibatkan terjangan angin yang STASIUN
begitu kencang
ketika hujan turun.
Salah satunya di lokasi wisata Pantai
Hamadi. Ada kurang lebih dua pohon besar yang tumbang setelah Kota Jayapura diguyur hujan deras disertai
angin pada Minggu dini hari. “Ini tadi malam tumbang, untung tidak memakan korban jiwa,” ujar Vanesa (37
tahun), pengelolah pondok (gazebo) di Pantai Hamadi. Ia menjelaskan kondisi hujan yang terjadi semalam tak
seperti biasanya karena angin sangat kencang. Dampaknya pun terasa hingga siang hari, dimana lokasi Pantai
Hamadi sepi pengunjung karena cuaca mendung. Sementara itu, lokasi lain pohon tumbang terjadi di Perumnas
III Waena. Sebuah pohon yang letaknya tak jauh dari gerbang Universitas Cenderawasih rubuh dan memaksa
masyarakat sekitar bekerjasama untuk membersihkan puing-puing pohon. Tak cuma pohon, angin kencang juga
merusak beberapa plang nama sejumlah tempat usaha yang berada di wilayah Waena dan Padang Bulan, Distrik
Heram. Hujan deras disertai angin kencang di Kota Jayapura terjadi sekitar pukul 00.45 WIT yang berlangsung
beberapa jam hingga dini hari. Meski begitu cuaca pada siang menjelang sore sudah tak lagi turun hujan. Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui situs resminya bmkg.go.id menyebut Kota Jayapura masih akan
didominasi dengan cuaca hujan pada hari Senin 13 Februari 2017.
(www.antarapapua.com) - PT PLN Jayapura menyatakan angin kencang disertai hujan lebat pada Minggu
(12/2) dini hari hingga pagi mengakibatkan jaringan listrik pada sejumlah titik di Kota Jayapura rusak parah.
"Akibat angin puting beliung disertai hujan lebat pada Minggu (12/2) subuh hingga pagi hari mengakibatkan
banyak jaringan listrik yang rusak parah karena tertimpa pohon roboh di sejumlah titik di Kota Jayapura dan
Kabupaten Jayapura," kata Harlin Panggabean, Asmen Jaringan PT PLN Jayapura, di Jayapura, Senin. Menurut
dia, beberapa titik jaringan listrik rusak parah di antaranya sekitar lokasi jalan proyek Perumnas II Waena, dan
sekitar kompleks Youtefa Graha Waena, daerah Abepantai. Selanjutnya, di Kampung Butob Skyline, Jayapura,
di kompleks Buper Perumnas I Waena, di depan Hotel Sentani Indah, dan juga di daerah Ifar Gunung Sentani,
Kabupaten Jayapura. "Kondisi itu membuat pada Minggu kemarin, aliran listrik padam total di sejumlah titik itu,
termasuk di kompleks Universitas Cenderawasih Perumnas III Waena," ujarnya lagi. Ia membahkan kerusakan
jaringan listrik itu sebenarnya di luar kendali PLN karena disebabkan angin kencang disertai hujan lebat.
"Anginnya kencang sekali, sehingga menyebabkan jaringan listriknya putus," ujar dia. Angin kencang disertai
hujan itu menyebabkan sejumlah jaringan rusak hingga terjadi pemadaman aliran listrik sehari penuh di beberapa
titik dimaksud. "Ada pemadaman mulai dari pukul dua malam sampai pagi hari, ada pemadaman yang mulai dari
subuh sampai pukul delapan malam, dan yang kerusakannya tidak terlalu parah bisa cepat kami tangani, sehingga
aliran listriknya dapat menyala kembali," katanya lagi. (*)
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
BALAI BESAR METEOROLOGI DAN GEOFISIKA WILAYAH V
STASIUN METEOROLOGI NABIRE
Gambar 1. Lokasi Peta Jayapura
II. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Dinamika Atmosfer
A.1 Suhu Muka Laut
Nilai analisis suhu muka laut di perairan dekat wilayah Jayapura, tanggal 11 Februari 2017 berkisar 29
s/d 30 0C dengan anomaly (0) s/d (+1). Nilai positif ini menunjukkan kondisi laut lebih hangat dan dapat
menambah peluang penguapan yang tinggi sehingga menambah pasokan bagi terbentuknya awan-awan hujan di
sekitar wilayah kejadian wilayah Jayapura.
Gambar 2. SST dan anomaly perairan Indonesia tanggal 11 Februari 2017
(Sumber : weather.unisys.com/)
A.2 ENSO (El Nino – South Osciilation)
Berdasarkan data indeks Nino 3.4 tanggal 11 Januari 2017 yang bernilai – 0.29 dan data SOI tanggal 11
Januari 2017 yang bernilai – 0.8, maka dapat dikatakan bahwa pada tanggal 11 Januari 2017, menunjukkan
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
kondisi normal
pengaruhnya
tidak signifikan
hujanWILAYAH
harian di wilayah
Indonesia serta suplai uap
BALAIyaitu
BESAR
METEOROLOGI
DAN terhadap
GEOFISIKA
V
STASIUN
NABIRE
air dari samudera pasifik timur ke pasifik
barat METEOROLOGI
cukup signifikan yaitu
aktivitas potensi pembentukan awan hujan
di wilayah Indonesia bagian timur tinggi.
Gambar 3. Grafik Indeks Nino 3.4 dan SOI Tanggal 11 Februari 2017
(Sumber : www.bom.gov.au)
A.3 MJO (Madden – Julian Oscillation)
Berdasarkan data diagram fase MJO pada tanggal 12 Februari 2017 yang berada di kuadran VII, sehingga
tidak mempengaruhi kondisi curah hujan di sekitar wilayah Indonesia.
Gambar 4. Track MJO tanggal 12 Februari 2017
(Sumber : www.bom.gov.au)
A.4 Outgoing Longwave Radiation (OLR)
Berdasarkan hasil analisis Outgoing Longwave Radiation (OLR) tanggal 14 Agustus 2016 s/d 12 Februari
2017 nilai anomali OLR disekitar wilayah Jayapura : -10 W/m2 s/d -30 W/m2. Anomali OLR bernilai negatif
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
menandakan
tutupan
awanMETEOROLOGI
cenderung lebih tebal
dari
rata-rata klimatologisnya
BALAI
BESAR
DAN
GEOFISIKA
WILAYAH V
STASIUN METEOROLOGI NABIRE
Gambar 5. Outgoing Longwave Radiation (OLR) tanggal 14 Agustus 2016 s/d 12 Februari 2017
(Sumber : www.bom.gov.au)
A.5 Analisa Isobar
Berdasarkan gambar isobar dari tanggal 11 Februari 2017 terlihat bahwa secara umum wilayah Indonesia
bagian selatan terdapat beberapa pola gangguan cuaca yakni 3 (tiga) daerah tekanan rendah (Low Pressure). Hal
tersebut menandakan bahwa kondisi yang mendukung aktifnya pergerakan massa udara dari wilayah Indonesia
bagian utara menuju wilayah Indonesia bagian selatan.
Gambar 6. Analisa Analisa Tekanan Udara Permukaan Jam 00.00
tanggal 11 Februari 2017
(Sumber : www.bom.gov.au)
A.6 Analisa Streamline
Dari peta streamline, pola angin dengan ketinggian 3000 feet menunjukkan diatas terlihat adanya
pergerakan angin yang membawa massa udara dingin dari samudera Pasifik yang melewati wilayah Jayapura.
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
Diperkirakan
angin
dapat METEOROLOGI
mencapai 30 - 35 knots.
itu adanyaWILAYAH
pola shearline
BALAI
BESAR
DANSelain
GEOFISIKA
V tepat diatas wilayah Jayapura,
STASIUN
NABIRE
yang dapat berperan untuk pembentukan
awan METEOROLOGI
– awan konvektif penghasil
hujan lebat & angin kencang.
Gambar 7. Analisa Streamline Jam 00.00 & 12.00 UTC tanggal 11 Februari 2017
(Sumber : bmkg.go.id www.bom.gov.au)
A.7 Kelembaban Relatif
Berdasarkan data kelembaban relatif pada lapisan 850 & 700 mb di atas wilayah Jayapura, kelembaban
relatif bernilai 70 – 90 %. Hal ini menunjukkan bahwa pada lapisan atas udara cukup basah dan pada saat kejadian
angin kencang dan hujan sedang. Kondisi udara basah tersebut sangat berpotensi untuk perbentukan awan-awan
konvektif di sekitar wilayah Jayapura.
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
BALAI BESAR METEOROLOGI DAN GEOFISIKA WILAYAH V
STASIUN METEOROLOGI NABIRE
Gambar 8. Prediksi Kelembaban Udara Lapisan 850 & 700 mb pada jam 12.00 & 18.00 UTC
Tanggal 11 Februari 2017
(Sumber : www.bom.gov.au)
A.8 Indeks Labilitas Udara
Nilai K.Indeks yaitu 40 yang mengindikasikan potensi pembentukan awan konvektif sedang dan kuat.
Gambar 9. K.Indeks jam 12.00 & 18.00 UTC tanggal 11 Februari 2017
Nilai Lifted Indeks berkisar antara -2 yang mengindikasikan kemungkinan potensi badai guntur yang
sedang.
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
BALAI BESAR METEOROLOGI DAN GEOFISIKA WILAYAH V
STASIUN METEOROLOGI NABIRE
Gambar 10. Lifted Indeks jam 12.00 & 18.00 UTC tanggal 11 Februari 2017
Nilai Showalter Indeks yaitu -2 yang mengindikasikan kemungkinan terjadi badai guntur.
Gambar 11. Showalter Indeks jam 12.00 & 18.00 UTC tanggal 11 Februari 2017
B. Satelit Cuaca
Berdasarkan gambar satelit Himawari 8 IR pada tanggal 11 Februari 2017 yang diambil mulai pukul 17.40
s/d 22.50 UTC (02.40 s/d 07.50 WIT) memperlihatkan terdapatnya awan-awan konvektif tunggal (awan hujan)
disekitaran wilayah Pulau Papua bagian utara. Terlihat kumpulan awan-awan konvektif tunggal tersebut bergerak
masuk ke wilayah Papua bagian utara dari arah barat perairan Samudera Pasifik. Dari klasifikasi jenis awan
diketahui awan yang terbentuk adalah awan Cumulonimbus (Cb) yang dapat diketahui berdasarkan suhu puncak
awan pada counter line satelit Himawari 8 IR yaitu (-62) s/d (-69) 0C, yang berpotensi menimbulkan hujan dengan
intensitas sedang hingga lebat serta angin kecang. Kumpulan awan Cumulunimbus tersebut bergerak menuju
wilayah Jayapura pada jam 17.40 UTC.
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA
BALAI BESAR METEOROLOGI DAN GEOFISIKA WILAYAH V
STASIUN METEOROLOGI NABIRE
Download