MAKALAH ANALISIS ISU MASALAH PERANAN

advertisement
MAKALAH
ANALISIS ISU MASALAH PERANAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
DALAM PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA APARATUR
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan Sektor Publik
Yang dibina oleh : Bapak Drs. Heru Ribawanto, MS
Oleh
Fauzan Rizaldi P.U.
125030107111022 / C
ADMINISTRASI PUBLIK
FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik serta
saran yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi makalah ini.
Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari berbagai pihak oleh karena
itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
1. Bapak Drs. Heru Ribawanto, MS selaku dosen pembimbing mata kuliah
Pengembangan Kapasitas dan Kelembagaan Sektor Publik Fakultas Ilmu
Administrasi Universitas Brawijaya telah memberikan dukungan dalam
penulisan makalah ini.
2. Teman-teman kelas C mata kuliah Pengembangan Kapasitas dan
Kelembagaan Sektor Publikyang telah memberi masukan dalam
menyelesaikan tugas makalah ini.
\
Malang, 25 Juni 2014
Penulis
i
Daftar isi
Kata Pengantar ...................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ..............................................................................................2
1.3 Tujuan ................................................................................................................2
1.4 Kegunaan dan Manfaat ……………………………………………………... 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pelatihan dan Pengembangan …………...………………………. 4
2.2 Metode Pelatihan dan Pengembangan SDM ………………………………... 6
BAB III PEMBAHASAN
3.1 Kondisi SDM Aparatur Saat ini ………………………………….……….… 9
3.2 Kualifikasi SDM yang diperlukan masa depan …………………………….. 13
3.3 Strategi Pengembangan SDM melalui Pendidikan dan Pelatihan ………….. 15
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan..................................................................................................... 22
4.2 Saran……...................................................................................................... 23
Daftar Pustaka ………………………………………………………………. 24
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sumber daya manusia merupakan elemen utama organisasi dibandingkan
dengan elemen lain seperti modal, teknologi, dan uang sebab manusia itu sendiri yang
mengendalikan yang lain. Membicarakan sumberdaya manusia tidak terlepas dari
kegiatan-kegiatan atau proses manajemen lainnya seperti strategi perencanaan,
pengembangan manajemen dan pengembangan organisasi. Keterkaitan antara aspekaspek manajemen itu sangat erat sekali sehingga sulit bagi kita untuk menghindari
dari pembicaraan secara terpisah satu dengan lainnya.
Pengelolaan sumber daya manusia tidak hanya terpusat pada kegiatan seleksi,
penempatan, pengupahan, pelatihan, transfer, promosi serta berbagai tindakan
lainnya, yang fokusnya adalah pada kepentingan organisasi kerja. Tugas utama dari
pengelolaan sumber daya seringkali hanya mengusahakan agar personil dapat bekerja
secara efektif. Dalam artian yang luas pengembangan sumber daya manusia terutama
meliputi pendidikan dan pelatihan, peningkatan kesehatan manusiawi, yang
menyegarkan dalam organisasi, dan pertemuan ilmiah seperti seminar, simposium
perlu untuk ditingkatkan.
Ciri yang konkrit dari program pendidikan dan pelatihan dalam peningkatan
mutu unjuk kerja personil selalu berkembang, karena kebutuhan organisasi kerja dan
masyarakat selalu berubah. Kekuatan potensial yang dapat menimbulkan perubahan
adalah yang saling berkaitan. Pelatihan dan pengembangan SDM menjadi suatu
keniscayaan bagi organisasi, karena penempatan karyawan secara langsung dalam
pekerjaan tidak menjamin mereka akan berhasil. Karyawan baru sering sering merasa
tidak pasti tentang peranan dan tanggung jawab mereka. Permintaan pekerjaan dan
kapasitas karyawan haruslah seimbang melalui program orietasi dan pelatihan.
1
Keduanya sangat dibutuhkan. Sekali para karyawan telah dilatih dan telah menguasai
pekerjaannya, mereka membutuhkan pengembangan lebih jauh untuk menyiapkan
tanggung jawab mereka di masa depan. Ada kecenderungan yang terus terjadi, yaitu
semakin beragamnya karyawan dengan organisasi yang lebih datar, dan persaingan
global yang meningkat, upaya pelatihan dan pengembangan dapat menyebabkan
karyawan mampu mengembangankan tugas kewajiban dan tanggung jawabnya yang
lebih besar.
Di tengah-tengah berbagai sumber kekuatan atau berbagai jenis potensi untuk
program yang mengandung potensi untuk menimbulkan perubahan organisasi, maka
hal penting yang bersumber dari peraturan dan program pendidikan dan pelatihan
yang mampu berperan sebagai pemicu dalam perubahan organisasi atau pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalan diatas, maka perumusan permasalahan adalah
1. Bagaiama kondisi SDM pada saat ini?
2. SDM Seperti apa yang diharapkan pada masa depan?
3. Bagaimana Strategi Pengembangan SDM yang akan dilakukan?
1.3. Tujuan
Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah untuk penyerapan ilmu mata kuliah
manajemen SDM khususnya dalam hal peranan pelatihan dan pendidikan yang juga
berperan pada pengembangan SDM yang merupakan bagian dari Manajemen SDM
itu sendiri. Tujuan khusus dalam pembuatan malkalah ini adalah melengkapi tugas
dalam mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.
1.4. Kegunaan dan Manfaat
a. Kegunaan
Kegunaan yang bersifat teoritis, dimana dalam makalah ini banyak hal yang
sangat bermanfaat tentunya dalam penulisan serta teori teori yang dimasukkan dan
menambah wawasan kami dalam menyusun makalah ini. Kegunaan praktis yang
2
merupakan sebagai hasil dari kemampuan yang ada dalam mempelajari teori teori
yang kami dapatkan serta hasil studi dari riset pustaka.
b. Manfaat
1. Secara akademis sebagai bahan masukan yang didapat dari kajian literatur ilmiah
bagi instansi terkait tentang pentingnya peranan Pendidikan dan Pelatihan terhadap
Pengembangan SDM.
2. Sebagai bahan masukan yang dapat dimanfaatkan oleh penulis selanjutnya untuk
dikembangkan dalam penulisan makalah ini.
3. Menambah wawasan penulis dalam mengembangkan sumber daya manusia.
3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Pelatihan dan Pengembangan
Wexley dan Yukl (1976 : 282) mengemukakan : training and development are
terms reffering to planned efforts designed facilitate the acquisiton of relevan skills,
knowledge, and attitudes by organizational members. Dapat diartikan : Pelatihan dan
Pengembangan adalah kondisi yang tepat untuk berencana upaya mendisain
memudahkan acquisiton dari keterampilan relevan, pengetahuan, dan sikap oleh
anggota organisasi.
Selanjutnya Wexley dan Yukl menjelaskan pula : development focusses more
on improving the decision making and human relation skills of middle and upper
level management, while training involves lower level employees and the
presentation of more factual and narrow subject matter. (pengembangan difokuskan
untuk meningkatkan hubungan pembuatan keputusan dan keterampilan manusia dari
tingkat tengah dan bagian atas manajemen, sementara pelatihan melibatkan tingkat
karyawan yang lebih rendah dan perwakilan berdasarkan fakta dan pembahasan objek
yang kecil).
Pendapat Wexley dan Yukl tersebut lebih memperjelas penggunaan istilah
pelatihan
dan
pengembangan.
Mereka
berpendapat
bahwa
pelatihan
dan
pengembangan merupakan istilah-istilah yang berhubungan dengan usaha-usaha
berencana, yang diselenggarakan untuk mencapai penguasaan skill, pengetahuan, dan
sikap-sikap pegawai atau anggota organisasi.
Pengembangan lebih difokuskan pada peningkatan kemampuan dalam
pengambilan keputusan dan memperluas hubungan manusia (human relation) bagi
4
manajemen tingkat atas dan manajemen tingkat menengah sedangkan pelatihan
dimaksudkan untuk pegawai pada tingkat bawah (pelaksana).
Istilah pelatihan ditujukan pada pegawai pelaksana untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan teknis, sedangkan pengembangan ditujukan pada
pegawai tingkat manajerial untuk meningkatkan kemampuan konseptual, kemampuan
dalam pengambilan keputusan, dan memperluas human relation.
Mariot Tua Efendi H (2002) latihan dan pengembangan dapat didefinisikan
sebagai usaha yang terencana dari organisasi untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan pegawai.
Selanjutnya mariot Tua menambahkan pelatihan dan pengembangan
merupakan dua konsep yang sama, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan. Tetapi, dilihat dari tujuannya, umumnya kedua
konsep tersebut dapat dibedakan. Pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan
kemampuan untuk malakukan pekerjaan yang spesifik pada saat ini, dan
pengembangan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan untuk melakukan
pekerjaan pada masa yang akan datang, yang dilakukan melalui pendekatan yang
terintegrasi dengan kegiatan lain untuk mengubah perilaku kerja.
Sjafri Mangkuprawira (2004) pelatihan bagi karyawan merupakan sebuah
proses mengajarkan pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan
semakin terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan semakin
baik, sesuai dengan standar. Sedangkan pengembangan memiliki ruang lingkup lebih
luas. Dapat berupa upaya meningkatkan pengetahuan yang mungkin digunakan
segera atau sering untuk kepentingan di masa depan. Pengembangan sering
dikategorikan secara eksplisit dalam pengembangan manajemen, organisasi, dan
pengembangan
individu
karyawan.
Penekanan
lebih
pokok
adalah
pada
pengembangan manajemen. Dengan kata lain, fokusnya tidak pada pekerjaan kini dan
mendatang, tetapi pada pemenuhan kebutuhan organisasi jangka panjang.
5
Menurut Sondang P Siagian (2008), letak penting pengembangan sumber
daya manusia adalah pada kemampuan pegawai baru yang digabunug dengan
program pengenalan dan pelatihan tertentu belum sepenuhnya menjamin hilangnya
kesenjangan antara kemampuan kerja dan tuntutan tugas.
Pengembangan manajemen merupakan suatu usaha untuk meningkatkan
kinerj amterial dengan menanamkan pengetahuan, merubah sikap atau meningkatkan
keahlian (Dessler, 2000). Tujuan akhir pengembangan manajemen adalah
meningkatkan kinerja organisasi itu sendiri di masa yang akan datang.
2.2. Metode Pelatihan dan Pengembangan SDM
Sebelum penentuan metode maka ada beberapa langkah yang akan ditempuh
dalam pelatihan dan pengembangan SDM (Siagian, 2008), yaitu :
1. Penentuan Kebutuhan
2. Penentuan Sasaran;
3. Penetapan isi program;
4. Identisikasi prinsip prinsip belajar;
5. Pelaksanaan program;
6. Identifikasi manfaat;
7. Dan penilaian pelaksanaan program.
Menurut Sondang P. Siagian (2008), tambahan karena investasi yang dibuat
organisasi di bidang sumber daya manusia tidak kecil dalam bentuk biaya, tenaga dan
waktu, maka perlu diupayakan benar benar agar program pelatihan dan
pengembangan disusun berdasarkan analisis kebutuhan yang tepat, dengan sasaran
yang jelas, isi program yang paling sesuai dengan kebutuhan, penerapan prinsip
prinsip belajar yag paling relevan, pelaksanaan program dengan menggunakan teknik
teknik belajar mengajar yang paling cocok dan penilaian berdasarkan criteria yang
obyektif, tidak hanya melihat dari sudut teknikal, akan tetapi juga pelatihan dan
pengembangan yang telah diselenggarakan.
6
Berbagai metode dapat digunakan dalam program pengembangan. Metode
pengembangan yang paling terkenal dan banyak digunakan, antara lain :
a) Metode Understudy
Teknik pengembangan understudy serupa dengan metode on the job. Belajar
dengan berbuat ditekankan melalui kebiasaan. Pada tehnik understudy tidak
melakukan tugas secara penuh, tetapi diberikan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Dalam understudy, peserta diberikan latar belakang masalah dan
pengalaman-pengalaman tentang suatu kejadian, kemudian mereka harus menelitinya
dan
membuat
rekomendasi
secara
tertulis
tentang
masalah-masalah
yang
berhubungan dengan tugas-tugas unit kerja. Motivasi dan minat kerja pada umumnya
tinggi apabila digunakan tehnik understudy. Konsep understudy memungkinkan
perencanaan pegawai secara sistematis dan terkoordinasi serta dapat digunakan
dengan jarak waktu yang lama.
b) Metode Job Rotasi dan kemajuan berencana
Job rotasi yang melibatkan perpindahan peserta dari suatu pekerjaan pada
pekerjaan lainnya. Kadang-kadang dari suatu penempatan pada penempatan lainnya
yang direncanakan atas dasar tujuan belajar. Keuntungan job rotasi adalah antara lain:
pegawai peserta mendapatkan gambaran yang luas mengenai berbagai macam jenis
pekerjaan, mengembangkan kerjasama antarapegawai, menentukan jenis pekerjaan
yang sanagt diminati oleh pegawai, mempermudah penyesuaiaan diri dengan
lingkungan tempat bekerja, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan
penempatan kerja yang sesuai dengan potensi pegawai.
c) Metode Coaching-Counseling
Coaching adalah suatu prosedur mengajarkan pengetahuan dan ketrampilan.
ketrampilan kepada pegawai bawahan. Counseling merupakan pemberian bantuan
kepada pegawai agar dapat menerima diri, memahami diri dan merealisasikan diri,
7
sehingga potensinya dapat berkembang secara optimal dan tujuan perusahaan dapat
tercapai.
8
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Kondisi SDM Aparatur Saat ini
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa SDM aparatur yang ada sangat jauh dari
apa yang diharapkan. Potret SDM aparatur saat ini yang menunjukkan
profesionalisme rendah, banyaknya praktek KKN yang melibatkan aparatur, tingkat
gaji yang tidak memadai, pelayanan kepada masyarakat yang berbelit-belit, kurang
kreatif dan inovatif, bekerja berdasarkan juklak dan juknis serta mungkin masih
banyak potret negatif lainnya yang intinya menunjukkan bahwa aparatur di Indonesia
masih lemah.
Gambaran tersebut memberikan dorongan bagi kita untuk melakukan
perubahan pada SDM aparatur Indonesia (kita sebut dengan istilah Reformasi
Birokrasi). Reformasi telah melahirkan berbagai perubahan dalam sistem
penyelenggaraan pemerintahan, salah satunya adalah perubahan sistem pemerintahan
daerah sejak diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999 yang kemudian disempurnakan
dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Perubahan mendasar pada undang-undang ini terletak pada paradigma yang
digunakan, yaitu dengan memberikan kekuasaan otonomi melalui kewenangankewenangan untuk menyelenggarakan urusan rumah tangga daerahnya, khususnya
kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, dengan berpedoman kepada peraturan
perundang-undangan yang berlaku dalam kerangka Negara Kesatuan RI.
Melalui undang-undang ini Bangsa Indonesia telah mengambil langkah untuk
meninggalkan paradigma pembangunan sebagai pijakan pemerintah untuk beralih
kepada paradigma pelayanan dan pemberdayaan masyarakat. Perubahan paradigma
ini tidak berarti bahwa Pemerintah sudah tidak lagi memiliki komitmen untuk
9
membangun, tetapi lebih pada meletakkan pembangunan pada landasan nilai
pelayanan dan pemberdayaan
Terjadinya perubahan sistem pemerintahan daerah tersebut berimplikasi pada
perubahan UU Nomor 8 Tahun 1974 menjadi UU No. 43 Tahun 1999 tentang PokokPokok Kepegawaian. Perubahannya yang paling mendasar adalah tentang manajemen
kepegawaian yang lebih berorientasi kepada profesionalisme SDM aparatur (PNS),
yang bertugas memberikan pelayanan kepada masyarakat secara jujur, adil, dan
merata dalam penyelenggaraan tugas negara, pemerintahan dan pembangunan, tidak
partisan dan netral, keluar dari pengaruh semua golongan dan partai politik dan tidak
diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Untuk melaksanakan tugas pelayanan masyarakat dengan persyaratan yang
demikian, SDM aparatur dituntut memiliki profesionalisme, memiliki wawasan
global, dan mampu berperan sebagai unsur perekat Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Lahirnya Undang-Undang No. 43 Tahun 1999 sebagai penganti UU No. 8
Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian tersebut membawa perubahan
mendasar guna mewujudkan SDM aparatur yang profesional yaitu dengan pembinaan
karir Pegawai Negeri Sipil yang dilaksanakan atas dasar perpaduan antara sistem
prestasi kerja dan karir yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja yang pada
hakekatnya dalam rangka peningkatan pelayanan publik.
Manajemen pelayanan pada sektor publik sebagai suatu keseluruhan kegiatan
pengelolaan pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah dituntut memiliki
karakteristik, memiliki dasar hukum yang jelas dalam penyelenggaraannya, memiliki
kelompok kepentingan yang luas termasuk kelompok sasaran yang ingin dilayani
memiliki tujuan social serta akuntabel pada publik. Sejalan dengan perkembangan
manajemen penyelenggaraan negara, dan dalam upaya mewujudkan pelayanan prima
dan berkualitas, paradigma pelayanan publik berkembang dengan fokus pengelolaan
yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer-driven government) yang
dicirikan dengan lebih memfokuskan diri pada fungsi pengaturan, pemberdayaan
masyarakat, serta menerapkan sistem kompetisi dan pencapaian target yang
10
didasarkan pada visi, misi, tujuan, dan sasaran. Pada prinsipnya, di dalam diri setiap
aparatur pemerintah melekat peran, tugas, dan tanggung jawab yang dilandasi oleh
nilai, kode etik, dan moral.
Pelayanan publik adalah suatu bentuk kegiatan pelayanan yang dilaksanakan
oleh instansi pemerintah baik di pusat, di daerah, BUMN, dan BUMD dalam bentuk
barang maupun jasa dalam rangka pemenuhan kebutuhan (kepuasan) masyarakat
sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Seiring dengan berlakunya
otonomi daerah, maka tingkat pelayanan di tingkat lokal akan sangat benarbenar bisa
dirasakan oleh masyarakat di dalam peningkatan kualitas pelayanan publik. Ini berarti
bahwa SDM aparatur merupakan sebagian dari keseluruhan elemen system pelayanan
publik yang begitu luas dan kompleks, karena tugas dan fungsi SDM aparatur yang
begitu penting dan strategis. Dewasa ini, fungsi SDM aparatur menjadi lebih
kompleks tidak sekedar fungsi pengaturan, pengelolaan, dan pengendalian saja, akan
tetapi lebih berorientasi pada fungsi pemberdayaan (empowering), kesempatan
(enabling),
keterbukaan
(democratic),
dan
kemitraan
(partnership)
dalam
pengambilan keputusan, pembuatan dan pelaksanaan kebijakan dalam upaya
pelayanan publik.
Tugas pokok dan fungsi dari SDM aparatur pada intinya adalah menjadi
pelayan masyarakat yaitu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat;
menjadi stabilisator yaitu sebagai penyangga persatuan dan kesatuan bangsa; menjadi
motivator yaitu memberdayakan masyarakat agar terlibat secara aktif dalam
pembangunan; menjadi innovator dan creator yaitu menghasilkan inovasi-inovasi
baru dalam pelayanan masyarakat agar menghasilkan pelayanan yang baru, efektif
dan efisien dan menjadi inisiator yaitu selalu bersemangat mengabdi dengan
berorientasi pada fungsi pelayanan, pengayoman, dan pemberdayaan masyarakat
yang dilandasi dengan keikhlasan dan ketulusan. Dalam melaksanakan tugas pokok
dan fungsinya tersebut, tentu saja perlu diperhatikan hak dari aparatur itu sendiri,
yaitu mendapatkan kehidupan yang sejahtera baik dari aspek material maupun
spiritual.
11
Secara garis besar kewajiban yang harus dilaksanakan oleh aparatur di
Indonesia adalah memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat
(excellent service for people). Agar tugas pokok dan fungsi serta kewajiban tersebut
dapat terlaksana dengan baik, maka harus didukung dengan sarana dan prasarana
yang memadai. Adanya peraturan yang jelas serta didukung dengan sumber daya
manusia yang profesional dan handal merupakan factor pendukung yang tidak boleh
ditinggalkan. Sarana dan prasarana yang memadai, lengkap dan canggih akan
mempercepat proses pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, peraturan yang
jelas dalam pemberian pelayanan masyarakat akan memberikan pedoman bagi
aparatur dalam memberikan pelayanan. Selain itu, masyarakat diberi akses untuk
dapat mengontrol dan mengawasi kualitas dan prosedur pelayanan yang diberikan. Di
samping hal-hal tersebut, adanya dukungan SDM aparatur dalam melaksanakan tugas
pokok dan fungsi serta kewajibannya mempunyai kemampuan atau kompetensi yang
baik, pelayanan diberikan secara transparan, fair, tidak membeda-bedakan dan
dilaksanakan secara akuntabel serta penuh keikhlasan dan ketulusan.
Untuk membentuk sosok SDM aparatur seperti tersebut memang memerlukan
waktu dan proses yang lama serta upaya yang tidak boleh berhenti. Perubahan yang
segera dapat dilakukan adalah peningkatan kemampuan atau kompetensi yang
dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) maupun non diklat. Perubahan
melalui diklat dapat dilakukan dengan melakukan berbagai kursus, pendidikan formal
maupun non formal atau pendidikan lainnya yang berkaitan dengan peningkatan
kemampuan atau kompetensi teknis maupun perubahan pola pikir, moral, dan
perilaku SDM aparatur. Meskipun merubah pola pikir, moral dan perilaku SDM
aparatur melalui diklat memang tidak mudah, akan tetapi tetap perlu dilakukan.
Sementara peningkatan kemampuan atau kompetensi melalui non diklat dapat
dilakukan dengan menciptakan situasi dan kondisi kerja yang kondusif untuk
terjadinya peningkatan kemampuan, melakukan mutasi secara berkala, menciptakan
hubungan antar personal yang harmonis dan lain sebagainya.
12
Eksistensi SDM aparatur perlu mendapat perhatian khusus, berkaitan dengan
strategi peningkatan kualitas dan kompetensinya. Peningkatan kompetensi SDM
aparatur dalam mengemban tugas atau jabatan birokrasi melalui diklat adalah
berorientasi pada standar kompetensi jabatan sesuai tantangan reformasi dan
globalisasi yang tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan stakeholder-nya. Kualitas
aparatur tidak mungkin meningkat tanpa adanya usaha-usaha yang konkrit untuk
meningkatkannya. Oleh karena itu diklat perlu terus ditingkatkan agar SDM aparatur
benar-benar memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugasnya secara profesional.
Kompetensi jabatan SDM aparatur (PNS), secara umum berarti kemampuan
dan karakteristik yang dimiliki seorang PNS berupa pengetahuan, keterampilan,
sikap, dan perilaku, yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya
(Mustopadidjaja, 2002).
Disinilah kompetensi menjadi satu karakteristik yang mendasari individu atau
seseorang mencapai kinerja tinggi dalam pekerjaannya. Karakteristik itu muncul
dalam bentuk pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan perilaku (attitude)
untuk menciptakan aparatur yang memiliki semangat pengabdian yang tinggi dalam
melayani masyarakat yang selalu bertindak hemat, efisien, rasional, transparan, dan
akuntabel. Jadi, pelayanan publik merupakan pemberdayaan masyarakat yang pada
gilirannya dapat menggerakkan roda perekonomian menuju Kesejahteraan. Untuk itu,
diperlukan strategi peningkatan kompetensi SDM aparatur, melalui pelatihan dan
pendidikan yang bertujuan untuk pengembangan SDM yang memadai merupakan
sesuatu yang sangat mutlak yang perlu dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh
jajaran aparatur pemerintah baik di pusat maupun di daerah.
3.2.
Kualifikasi SDM yang diperlukan masa depan
Tuntutan kebutuhan masyarakat yang akan datang ditandai dengan dominasi
teknologi komunikasi, sebagian besar pekerjaan terletak pada sektor jasa dan
informasi. Informasi merupakan kekuatan dan kekuasaan pada zaman pasca modern.
Dunia sedang bergulat dalam masa transisi menuju ekonomi jasa. Teknologi
komunikasi menghilangkan batas ruang dan waktu. Pertukaran informasi di antara
13
penduduk dunia berlangsung dengan cepat dalam jumlah yang banyak. Manusia harus
bereaksi dengan cepat, padahal alternatif yang tersedia sangat beragam. Karena
luasnya perubahan yang terjadi seluruh aspek kehidupan kita terpengaruh keluarga,
pekerjaan, pendidikan, rekreasi, bahkan kehidupan beragam.
Manusia dikatakan sehat secara psikologis bila dapat memberikan reaksi yang
tepat pada lingkungannya, bila ia bias menyesuaikan diri dengan baik, memiliki
kemampuan beradaptasi memberikan kesan bahwa ia mampu memahami dan
mengendalikan lingkungan. Ia memiliki ketrampilan dan memperlihatkan unjuk kerja
yang optimal. Mutu unjuk kerja yang diharapkan adalah tercapainya tingkat
kematangan dalam menyelesaikan tugas yang dibebankan kepada personil. Hersey
dan Blanchard (1980:162) mengemukakan variasi kematangan seseorang ditinjau dari
tanggung jawab sebagai berikut:
(1) individuals who are neither willing nor able to take responsibility.
(2) individuals who are willing but not able to take responsebility
(3) individuals who are able but not willing to take responsibility, and
(4) individuals who are able to take responsibility.
Jadi tingkat kematangan seseorang yang memperlihatkan mutu unjuk kerja
yang tinggi adalah mereka yang memiliki keinginan bertanggung jawab dan dapat
bertanggung jawab.
Kemudian ditegaskannya dua faktor kematangan yaitu, (1) job maturityability and technical knowledge to do the task, and (2) psychological maturityfeling
of self confidence and self respect about one self as and individual (Hersey dan
Blanchard, 1980:163).
Jadi orang yang matang atau memperhatikan mutu unjuk kerja yang tinggi
tidak hanya memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengerjakan tugas, tapi
juga memiliki rasa kepercayaan pada diri sendiri dan merasa baik dari apa yang
dilakukannya. Mampu mengadakan segala perubahan karena salah satu ciri
14
kehidupan adalah perubahan. Mereka yang tidak mengikuti perubahan zaman akan
tinggal menjadi manusia yang konservatif dan menghalangi kemajuan. Personil yang
memiliki mutu unjuk kerja tinggi akan lebih peka (sensitif) terhadap nilai-nilai yang
sifatnya rohani atau spiritual, pertumbuhan kepribadian tidak menyimpang dengan
norma.
3.3. Strategi Pengembangan SDM melalui Pendidikan dan Pelatihan
Dari sudut pandang langsung organisasi, pengembangan seseorang di tempat
kerja dapat membantunya untuk secara lebih kompeten melakukan pekerjaannya. Ini
akan makin meningkatkan produktivitasnya sendiri dan produktivitas organisasi
tersebut. Pengembangan staf yang ada pun jauh lebih murah daripada merekrut dan
mendidik karyawan-karyawan baru. Berinvestasi dalam orang dan pengembangannya
akan mengurangi biaya operasi organisasi dan menghasilkan kepuasan pelanggan
yang lebih besar.Jawaban yang paling sederhana dari pertanyaan mengapa pelatihan
dan pengembangan tenaga kerja harus dikembangkan adalah jika perusahaan tidak
mengembangkannya, maka perusahaan akan kehilangan karyawannya.
Organisasi yang tidak memberi harapan bagi orang-orang yang mempunyai
keterampilan kemungkinan hanya akan memiliki staf yang tidak terampilan dan tidak
dapat diandalkan. Dalam kata kata yang lebih positif, manusia yang berkembang
adalah sumber yang lebih berharga.
Pengembangan sering diartikan pelatihan dan terlalu sering pelatihan itu
berarti kursus. Namun, sebenarnya pengembangan adalah suatu proses yang jauh
lebih luas dan lebih kaya daripada hanya mengikuti kursus pelatihan. Belajar seumur
hidup yang sesungguhnya dapat terjadi dalam bentuk berbagai cara, lingkungan
social, hubungan dan pembicaraan.
Untuk pembinaan serta pengembangan sumber daya manusia diperlukan suatu
strategi tertentu, sehingga hasil yang diharapkan bisa tercapai. Henry Mintzberg yang
menjelaskan bahwa, A strategy is the pattern or plan that integrates an organizations
gloals, policies, and action sequences into a cohesive whole. (Henry Mintzberg,
15
1982:5). Farky Gaffar menegaskan bahwa strategi adalah mekanisme organisasi yang
menjabarkan visi secara operasional dan menterjemahkan kebijaksanaan dalam
bentuk tindakan nyata. Strategi adalah cara yang tepat untuk melaksanakan kebijakan
(1994:7).
Strategi yang dapat ditempuh dalam pembinaan pengembangan SDM dalam
manajemen dimulai dari pengkajian kebutuhan (need assesment) untuk suatu
program, persiapan dan pelaksanaan pendidikan, evaluasi dan pembinaan untuk
meningkatkan effisiensi dan efektivitas implementasi pendidikan dan pelatihan.
Mengembangkan kerja sama dengan pihak pemakai untuk mendukung pelaksanaan
pendidikan dan pelatihan merupakan strategi yang cukup penting. Kegiatan tersebut
akan dibahas satu persatu berikut ini.
1. Pengkajian Kebutuhan (Need Assesment)
Salah satu kegiatan dalam pengkajian ini adalah mengkaji mutu unjuk kerja
personil. Agar perencanaan pendidikan dan pelatihan mencapai sasaran, maka
organisasi pemakai perlu mengkaji mutu unjuk kerja personil di lingkungannya
secara komprehensif. Daniel L. Stufflebeam dkk (1985:6-7) mengemukakan beberapa
definisi kebutuhan dalam mengkaji kebutuhan adalah sebagai berikut:
Discrepancy view: A need is discrepancy between desired performance and
observed or predicted performance. Democratic view: A need is a charge desired by a
mayority of some referance group. Analytic View: A need is direction in wich
improvement can be predicted to accur, given information about current status.
Diagnostic view: A need is something who absence or defiency proves harmfull.
Kebutuhan akan pendidikan dan pelatihan bukan hanya dilakukan secara
kuantitatif tapi perlu dilakukan secara komprehensif yakni dengan mengkaji dan
menginventarisasi mutu unjuk kerja personil yang ada sekarang dengan yang
seharusnya untuk mampu menyelesaikan pekerjaan.
2. Persiapan dan Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan
16
Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan memerlukan persiapan. Di antara
persiapan itu adalah membuat kebijakan pertemuan dengan penatar, membuat jadwal,
mempersiapkan fasilitas proses belajar mengajar.
Untuk membuat persiapan pendidikan dan pelatihan Diklat perlu mengadakan
pertemuan dengan seluruh penatar. Kita tidak boleh berasumsi bahwa silabi sudah
cukup memadai untuk pegangan menyampaikan materi. Pertemuan dengan seluruh
penatar pada dasarnya untuk mencegah terlalu jauh menyimpang dari tujuan yang
telah ditetapkan. Koordinasi di antara adanya pertemuan bersama semua gerak
langkah terkoordinasi dengan baik. Dalam hal seperti ini perlu sikap hati-hati dalam
membuat suatu asumsi seperti yang disarankan oleh Michael W. Apple (1995:153),
We should cautions of technical solutions to political problems. We should cautions
about fine-sounding words that may not take account of daily lives of the people who
work in this institutions.
Tantangan dalam pengembangan program dan pelaksanaan kurikulum adalah
faktor penatar, panitia, dan sistem organisasi. Dalam kondisi seperti ini dituntut
tanggungjawab pimpinan sebagai perancang program. In dedigning profesional
development programs for those responsible for instructions, instructional leaders
should address the technical skills needed to develop and implement an outcomebased instructional system… (Kathleen A. Fitzpatrick, 1995:127).
Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa kurikulum perlu diupayakan untuk
dihubungkan dengan tugas personil di lapangan yang menyangkut berbagai
ketrampilan. Keterhubungan itu memang perlu diperhatikan dalam merancang
kurikulum. Substansi Kurikulum perlu menyentuh seluruh kebutuhan organisasi dan
pertumbuhan kepribadian peserta. Jika dilihat dari materi kurikulum, agar peserta
mengalami perubahan yang mendasar sebagai aparat pemerintah, maka kurikulum
seyogyanya secara substansi memuat tentang: tecnical skill, conceptual skill, human
skill, political skill, dan personal growth.
17
Ketrampilan teknis (technical skill) yaitu kemampuan untuk menggunakan
alat-alat, prosedur dan teknik dari suatu bidang kegiatan tertentu. Ketrampilan
manusiawi (human skill) yaitu kemampuan untuk bekerja dengan orang lain,
memahami dan merancang serta mendorong orang lain. Orang lain itu termasuk
bawahan.
Ketrampilan
konseptual
(conceptual
skill)
adalah
kemampuan
mengkoordinasi dan mengintegrasikan seluruh kepentingan dan kegiatan organisasi
sehingga organisasi dapat dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh. Ketrampilan politis
(Political skill) dimaksudkan adalah ketrampilan yang mampu memperoleh kekuatan
untuk mencapai tujuan organisasi. Ketrampilan politis termasuk menentukan
hubungan yang benar dan mempengaruhi orang yang benar.
Ketrampilan politis termasuk memenangkan pengaruh dari orang lain,
merebut
kekuatan
ataupun
mempertahankan
kekuatan.
Ketrampilan
ini
memungkinkan seorang untuk terus mengembangkan kariernya. Recently, Pfeffer
(1989) suggested that a political focus may be an important, yet overlook. persfective
in understanding career success. (Timothy A. Judge, 1994:44).
Pertumbuhan kepribadian (personal growth) diharapkan tumbuh sikap yang
positif terhadap keseluruhan tugas pengabdiannya, dan kedewasaan bertindak.
Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh
seorang pemimpin. Penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan
teladan bagi stafnya. Peserta sebagai input diasumsikan sudah memiliki (K)
Knowledge: Pengetahuan, (S) Skill: Ketrampilan, dan (A) Atitude: Sikap. Setelah
selesai mengikuti pendidikan diharapkan lebih menekankan pada perubahan Atitude
(Sikap), setelah itu Skill (Ketrampilan), dan terakhir memiliki knowledge
(pengetahuan). Upaya untuk menguasai KSA menjadi ASK tidak hanya dalam
semboyan tapi diwujudkan dalam setiap penyampaian aspek kurikulum, dengan
terintegratif dalam setiap proses belajar mengajar. Aspek tersebut memang tidak
terlihat secara eksplisit dalam kurikulum, aspek tersebut seakan-akan tersembunyi di
dalam setiap piranti, dan nyata hingga tidak perlu penyampaian secara monolitik.
Performance instruktur mencakup aspek-aspek:
18
a) Kemampuan profesional, b) Kemampuan sosial, c) Kemampuan personal. Ketiga
standar umum ini sering dijabarkan sebagai berikut: (Johnson, 1980). Kemampuan
profesional seorang pelatih atau instruktur meliputi: (1) Penguasaan materi pelajaran
yang terdiri dari bahan yang akan diajarkan, dan konsep dasar keilmuan dari bahan
yang diajarkan itu: (2) Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan
kependidikan dan keguruan; (3) Penguasaan proses kependidikan, keguruan dan
pembelajaran siswa. Kemampuan sosial menyangkut kemampuan menyesuaikan diri
kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya
sebagai instruktur. Kemampuan personal (pribadi) mencakup:
(1) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai seorang
pelatih beserta unsurunsurnya
(2) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai yang seyogyanya dianut oleh
seorang instruktur
(3) Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya panutan dan teladan bagi peserta
latihan.
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa profesi instruktur perlu
mendapat pengakuan dan perlindungan hukum. Sehingga tidak semua orang
mempunyai peluang untuk tampil menyelenggarakan proses belajar mengajar.
Metode yang dipergunakan dalam melaksanakan proses belajar mengajar
dalam persepsi peserta seyogyanya dapat membangkitkan keakraban emosional dan
memberikan kepercayaan intelektual.
Evaluasi atau penilaian dilakukan pada dasarnya untuk mengetahui
keberhasilan proses belajar mengajar yang telah dilakukan, dalam upaya menyerap
kurikulum yang telah ditetapkan.
Dengan evaluasi dapat diektahui bagian kurikulum yang dapat dikembangkan
terutama yang masih lemah. Evaluasi juga dapat mengetahui faktor penyebab
kelemahan kurikulum dan proses belajar mengajar. Dengan demikian dapat
diupayakan cara pemecahannya.
3. Penempatan dan peningkatan Kinerja Pegawai.
19
Penempatan kembali personil setelah mengikuti pendidikan merupakan
sebagai salah satu tindakan manajemen. Penempatan ini menunjukkan berbagai
variasi. Ada di antara mereka yang dipromosikan atau ditempatkan pada posisi yang
lebih tinggi dari sebelum mengikuti pelatihan. Ada yang menempati posisi semula
yang sama, dan ada pula yang dialihtugaskan pada posisi lain dengan eselon yang
sama. Salah satu tugas Bagian Personalia adalah mengatur penempatan pegawai dan
terus mengatur personil selama berada dalam organisasi. Prinsip yang dikembangan
the right man on the right place , harus menjadi acuan bagaiaman menempatkan
kembali pegawai yan telah mengikuti diktlat tersebut .Tentu harapan pegawai dapat
ditempatkan sesuai dengan skill, ketrampilan dan kemampuan kerjanya.
Dalam pembinaan personil pimpinan perlu mengembangkan strategi self
management bagi personil yang telah selesai mengikuti pendidikan dan pelatihan,
supaya mereka mampu menyelesaikan pekerjaan sendiri, melalui tanggung jawabnya
bertindak melalui manipulasi peristiwa internal dan eksternal. Mereka dapat
mengubah dan mengembangkan perilakunya sesuai dengan potensi yang telah
dimilikinya. Bahkan diharapkan mereka dapat komitmen dengan perilaku positif yang
dicapainya. Nahoney & Arnkoff, menegaskan bahwa The self management literature
treats individuals as if they were isolated system, who sole task are those of observing
their own behaviors, setting up cues and reimforcing and punishing themselves (tsui,
Ashford, 1974:96).
Perubahan lingkungan terjadi karena adanya penyederhanaan dari hal-hal
yang dipandang sangat kritis dalam organisasi. Organisasi perlu menyesuaikan diri,
termasuk perubahan di lingkungan dan staf (Gutherie et-al, 1993:889). Pimpinan
perlu
memotivasi
pegawai
setelah
Pendidikan
dan
Pelatihan,
termasuk
memperhatikan faktor yang sangat penting dalam peningkatan kualitas manusia
adalah kesehatan personil dalam organisasi.
Menjaga kesehatan personil dalam artian yang luas termasuk kesehatan
lingkungan, dan mental merupakan upaya pembinaan sumber daya manusia. Personil
yang matang tanpa dukungan dan organisasi yang mapan juga tidak akan
20
mendatangkan produtkivitas yang tinggi. Agar produktivitas organisasi semakin
meningkat, maka penggunaan (deployment) pegawai setelah pelatihan perlu
dilakukan secara tepat.
Proses pengembangan terdiri atas tindakan memutuskan kompetensi,
ketrampilan
atau
pengetahuan
yang
perlu
dikembangkan,
dan
bagaimana
mencapainya. Sebagaimana dengan kebanyakan keputusan manajerial, seorang
manajer harus mengambil keputusan ini berdasarkan sumber daya dan kesempatan
yang tersedia. Tidak ada gunanya merencanakan program pengembangan besarbesaran jika sumber dayanya habis ditengah jalan. Tidak ada gunanya mengirim
seorang anggota tim untuk mengikuti kursus pelatihan berbiaya mahal jika ia tidak
diberi kesempatan untuk mempraktekkan ketrampilan yang ia peroleh tersebut setelah
kembali bekerja.
Setelah mengidentifikasi kebutuhan kebutuhan pengembangan tersebut,
seorang manajer dapat menyusun suatu rencana pengembangan. Pastikan bahwa
rencana tersebut mencakup tindakan-tindakan SMART : spesifik (specific), dapat di
ukur (measurable), dapat dicapai (achievable), realistis (realistic), dan terutama tepat
waktu (timely). Barangkali sulit merencanakan pengembangan atau pelatihan untuk
waktu yang paling sesuai, tetapi kegiatan-kegiatan yang terlalu cepat atau terlalu
lambat akan kehilangan banyak nilai.
Lain halnya dengan fungsi pelatihan, arti pentingnya pengembangan manajer
baru disadari dan diterima secara luas dewasa ini. Alasan mengapa pengembangan
sangat penting adalah sama dengan alas an mengapa pelatihan penting. Jika kita
berpendapat bahwa training dan re-training adalah suatu proses terus menerus yang
tiada akhirnya, maka kita juga harus menerima pendapat pengembangan manajer
yang terus menerus; dimana setiap manajer berkembang melalui serangkaian posisi
atau jabatan operasional.
21
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
a) Kondisi saat ini menunjukkan bahwa SDM aparatur yang ada sangat jauh dari
apa yang diharapkan. Potret SDM aparatur saat ini yang menunjukkan
profesionalisme rendah, banyaknya praktek KKN yang melibatkan aparatur,
tingkat gaji yang tidak memadai, pelayanan kepada masyarakat yang berbelitbelit, kurang kreatif dan inovatif, bekerja berdasarkan juklak dan juknis.Hal
ini dikarenakan dengan sering terjadi perubahan terhadap pelaksanaan
pemerintahan, sehingga terjadi perubahan terhadap aturan aturan yang
mendasari pelayanan public
b) Dengan keadaan sekarang dikhawatirkan akan tidak adanya terjadi perubahan,
maka di masa yang akan datang maka SDM aparatur harus ditingkatkan,
bermacam cara untuk meningkatkan aparatur SDM baik di tingkat pusat
maupun daerah salah satu cara yang tepat adalah melalui pendidikan dan
pellatihan pada saat memulai kerja, atau sedang dalam masa kerja tersebut
baik terhadap pegawai yang baru bahkan sampai level pegawai yang paling
tinggi guna untuk meningkat kompetensi dan mendukung pengembangan
SDM aparatur itu sendiri
c) Pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia, mempunyai posisi yang
sangat dibutuhkan dalam upaya menjembatani perkembangan dunia yang
semakin transparan dan global. Untuk itu perlu ada strategi untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, yang mengarah pada
pembangunan sumber daya manusia yang seutuhnya baik pembangunan
dalam bidang jasmani maupun rohani. Hal itu dilakukan melalui proses
22
pendidikan,pelatihan dan pembinaan serta menciptakan kondisi yang
dibangun oleh setiap manajer dalam suatu organisasi baik bisnis maupun
organisasi publik secara terstruktur dan profesional.
4.2. Saran
Oleh karena profesionalisme aparatur SDM yang diharapkan sangat tinggi,
maka hendaknya pemerintah pusat maupun daerah hendaknya lebih bijak menghadapi
permasalahan ini karena masyarakat membutuhkan pelayanan yang terbaik, bukan
hanya sekedar pembangunan yang baik. Dengan cara meningkatkan pembinaan dan
evaluasi baik terhadap pegawai ditingkat paling rendah maupun pejabat yang
memegang peranan penting.
Para aparatur harus siap dengan kemajuan, baik dengan cara personal maupun
organisasi harus mendukung kemanjuan tersebut serta menjembatani agar para
pegawai tidak kaku, canggung terhadap kemajuan teknologi guna pembangunan yang
lebih baik serta pelayanan masyarakkat yang terbaik. Agar para pegawai menjadi
pegawai yang tepat diharapkan yang mampu menyesuaiakan diri dalam keadaan
apapun.
Cara yang paling tepat dengan mengadakan kegiatan pembelajaran personal
atau dengan pendidikan pelatihan yang mendukung kemajuan teknologi global.
Pendidikan dan pelatihan dimaksud agar dapat disusun sesuai dengan konsep dan
teori yang ada juga disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang sekarang berjalan.
Sesuai dengan strategi pengembangan yang tentunya melalui pendidikan dan
pelatihan terhadap aparatur SDM pemerintah pusat maupun daerah.
23
DAFTAR PUSTAKA

Buku :
———–, Human resource management /gary dessler : alih bahasa, benyamin
Molan ; penyunting, Triyana Iskandarsyah. Ed7, Jakarta: PT. Prenhallindo, 1997
Siagian, Sondang P., Manajemen Sumber Daya Manusia Ed. 1, cet. 15.
Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008
———-, Organisasi, kepemimpinan dan Perilaku Administrasi. Jakarta: C.V.
Haji Masagung, 1986
Susilo, Heru, Mencari Starategi Pengembangan Sumberdaya manusia dalam
Organisasi,Malang ,FIA Unibraw dan IKIP Malang, 1995
Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(2000), Manajemen Pemerintahan Baru, Badan Pengawas Keuangan dan
Pembangunan, Jakarta, 2000
———-,Manajemen Sumber Daya A paratur Pemerintah Daerah (Pusat
Kajian Pemerintahan STPDN), Fokus Media kerjasama dengan Pusat kajian
Pemerintahan STPDN, Cetakan Pertama, Bandung, 2002
Usmara, A, Paradigma Baru Manajemen Sumber Daya Manusia, Yogyakarta,
Amara books, 2002
Iswanto, Yun, Materi Pokok Manajemen Sumber Daya Manusia;19;EKMA4214/3sks, cet.6, Universitas Terbuka, Jakarta, 2009

Internet :
Rinaldi. 2012. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Diakses melalui
http://blogaldirinaldi.wordpress.com/ ( 20/06/2014 )
24
Download