5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Manajemen Sumber

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia kini makin berperan besar bagi kesuksesan suatu
organisasi. Unsur manusia dalam suatu organisasi dapat memberikan
keunggulan bersaing, karena membuat sasaran, strategi, inovasi, dan mencapai
tujuan vital bagi organisasi. Sumber daya manusia merupakan utama organisasi,
dalam menjalankan suatu bisnis atau usaha. Mamajemen sumber daya manusia
(MSDM) berhubungan dengan system perancangan formal dalam suatu
organisasi untuk menentukan efektifitas dan efisiensi untuk mewujudkan sasaran
suatu organisasi, bahwa “sumberdaya manusia harus didefinisikan bukan dengan
apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi apa yang sumber daya manusia
hasilkan”. Berikut beberapa sumber daya manusia menurut beberapa sumber.
Menurut Hasibuan (2007), mnajemen sumber daya manusia (MSDM) adalah
Ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efekif dan
efisien membentu terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Sedangkan menurut Garry Dessler (2007) , manajemen sumber daya manusia
adalah “kebijakan dan praktik menentukan aspek manusia atau sumber daya
manusia dalam posisi manajemen, termasuk merekrut, menyaring, meltih,
memberikan penghargaan dan penilaian”.
Riichard. L. Deft dalam
bukunya manajemen (2006) , mendefinisikan
“manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara yang
5
6
efektif dan efisien melalui perancangan, pengorganisaian, kepemimpinan dan
pengendalian sumberdaya organisasi “.
Dari uraian diatas diambil kesimpulan bahwa manajemen sumber daya adalah
suatu perencanaan, pengorganisasian, pengembangan atau pemeliharaan dan
penggunaan sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan organisasi, individu
dan social.
Berusaha menggunakan sumber daya manusia dalam suatu
perusahaan secara maksimum melalui pelatihan dan pengarahan sehingga dapat
kepuasan kepada karyawan dan menciptakan kerjasama yang baik dan
terciptanya loyalitas karyawan. Dengan demikian diharapkan potensi yang ada
dapat disalurkan dengan baik sehingga tujuan dari perusahaan dapat tercapai.
2.1.1
Fungsi-fungsi Manajemen
Sesuai dengan pengertian manajemen personalia maka secara garis besar
fungsi-fungsi dari manajemen personalia dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Fungsi manajemen
a. Perencanaan / planning
Menentukan dan menetapkan tindakan apa yang harus dilakukan, kapan,
bagaimana, dan oleh siapa sebelum tindakan dilaksanakan.
b. Pengorganisasian / organizing
Perancangan dan pengembangan organisasi baik yang menyangkut
sumber daya manusia maupun sumber daya lain termasuk tugas dan
tanggung jawab.
7
c. Pengarahan / directing
Proses mengajak anggota organisasi untuk melakukan pekerjaan dalam
tercapainya tujuan.
d. Pengendalian / controlling
Penemuan dan penerapan cara suatu peralatan untuk menjamin bahwa
rencana telah dilaksanakan.
2.1.2
Fungsi-fungsi operasional
a. Pengadaan
Fungsi ini terutama menyangkut tentang penentuan kebutuhan tenaga
kerja dan penarikannya seleksi dan penempatannya.
b. Pengembangan
Pengembangan ini dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan lewat
latihan (training), yang diperlukan untuk dapat menjalankan tugas dengan
baik.
c. Kompensasi
Sebagai pemberian penghargaan yang adil dan layak terhadap para
karyawan kesesuaian dengan sumbangan mereka untuk mencapai tujuan
organisasi.
d. Integrasi
Integrasi ini menyangkut penyesuaian keinginan dari para individu
dengan keinginan organisasi dan masyarakat.
e. Pemeliharaan
Fungsi yang mempertahankan dan meningkatkan kondisi yang telah ada.
8
2.2 Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah terjemahan dari kata leadership. Arti dari kepemimpinan
berbeda dengan pemimpin, karena kepemimpinan merupakan sifat yang dimiliki
oleh setiap pimpinan, sedangkan pimpinan adalah seseorang yang tugasnya
memimpin.
Malayu (2007) mendefinisikan kepemimpinan yaitu cara seseorang pemimpin
mempengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara
produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut sofriandi (2007), pemimipin diperlukan untuk menentukan tujuan,
mengalokasikan sumber daya yang langka, memfokuskan peratian pada tujuan –
tujuan perusahaan, mengkoordinasikan perubahan, membina kontak antara pribadi
dengan bawahannya, dan menetapkan arah yang benar atau yang yang paling baik
jika kegagalan terjadi.
Jadi
berdasarkan
kedua
definisi
diatas,
peneliti
menyimpulkan
bahwa
kepemimpinan adalah sebuah proses untuk mempengaruhi, mendorong dan
membantu oramg lain untuk bekerja sama secara antusias dalam pencapaian tujuan
organisasi. Menurut Sopiah (2008) terdapat beberapa elemen yang tersirat dalam
berbagai definisi kepemimpinan, yaitu sebagai berikut
a. Kepemimpinan disini adalah melibatkan orang lain, yaitu bawahan atau
pengikut.
b. Kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama antara
pemimpin dengan bawahannya. Pemimpin memiliki wewenang untuk
mengarahkan bawahanya untuk mencapai tujuan organisasi.
9
c. Walaupun secara sah, seorang pemimpin dapat memberikan perintah
atau arahan, pemimpin juga dituntut untuk dapat mempengaruhi perilaku
dan bawahanya dengan berbagai cara agar tujuan organusasi tercapai
2.2.1
Fungsi kepemimpinan
Kepemimpinan pada dasarnya adalah kemampuan memimpin atau
mempengaruhi dan mengendalikan orang untuk mencapai tujuan bersama. Hal
ini meliputi 3 tugas pokok kepemimpinan atau disebut juga tiga fungsi
kepemimpinan. Adapun yang dimaksud dengan tiga fungsi kepemimpinan
adalah sebagai berikut :
a)
Menangani situasi tertentu dalam organisasi intern maupun ekstern.
b)
Memenuhi situasi tersebut.
c)
Menentukan sikap dan tindakan dalam menghadapi dan mengatasi
situasi tersebut.
Menurut james F Stoner dalam bukunya yang berjudul manajemen
(2004) menyatakan bahwa terdapat dua fungsi kepemimpinan yaitu :
a. Fungsi pemecahan atau fungsi yang bertalian dengan tugas dapat
mencakup fungsi pemeberi saran,pemecahan dan pemberi informasi dan
pendapat.
b. Fungsi pembinaan kelompok atau fungsi social meliputi segala sesuatu
yang membantu kelompok beroprasi secara lebih lancer, termasuk
mengenai ketidaksepakatan dan memberikan pujian pada anggota lain
dalam kelompok
10
Dalam menjalankan fungsi – fungsinya tersebut maka diperlukan
keterampilan dan kecakapan yang dimiliki oleh seorang pemimpin agar
dijalankan berdasarkan pada azas – azas yang berlaku pada tujuan
organisasi. pelaksanaan fungsi – fungsi tersebut haruslah dilakukan secara
menyeluruh, apabila salah satu fungsi diabaikan maka fungsi yang lain
juga tidak aka berjalan dengan baik karena semua fungsi itu saling
berhubungan erat satu sama lain.
2.2.2
Teori Kepemimpinan
Pemimpinan merupakan kunci sukses suatu organisasi, walaupun bukan satusatunya ukuran keberhasilan organisasi. Oleh karena itu,banyak studi dan
penelitian
yang dilakukan untuk mengidentifikasi sifat
dan
cirri-ciri
kepemimpinan yang efektif. Pada dasarnya teori-teori kepemimpinan mencoba
menerangkan dua hal, yaitu factor-faktor yang terlibat dalam pemunculan
kepemimpinan dan sifat dasar kepemimpinan. Pendekatan teori kepemimpinan
yang telah dilakukan seperti yang ditulis robbins (2008) dan sopiah (2008)
diantaranya sebagai berikut.
a. Trait approach (pendekatan sifat)
Pendekatan ini mempertanyakan sifat-sifat apakah yang membuat
seseorang menjadi pemimpin. Dengan demikian lingkungan tidak ikut
diperhitungkan
dalam
menentukan
efektivitas
kepemimpinan.
Karakteristik personalitas antara lain meliputi umur, kedewasaan, bentuk
fisik, pendidikan,charisma,dan sebagainya. Teori ini mengatakan bahwa
efektifitas pemimpin tergantung pada karakter pemimpinnya. Sifat yang
11
dimiliki pemimpin, menurut teori ini, berbeda dengan sifat orang
kebanyakan.
b.
Behaviour approach (pendekatan perilaku)
pendekatan ini didasarkan pada idntisfikasi pola perilaku kepemimpina
dengan kinerja kelompok. Pendekatan gaya ini mempunyai asumsi dasar
pegawai akan bekerja lebih giat jika pemimpin menerapkan gaya
kepemimpinan tertentu. Oleh karena unsur yang paling kritis menurut
pendekakatan ini adalah perilaku pimpinan terhadap bawahan. Pendekatan
teori perilaku dimulai dengan penelitian yang dilakukan oleh universitas
Ohio pada akhir tahun 1940.
c.Conigency approach ( pendekatan kontigensi)
Pendekatan ini mempertimbangkan variable ataupun factor lain yang
berpegaruh dalam situasi kepemimpinan, sehingga dalam menerapkan
suatu gaya kepemimpinan seseorang harus memperhitungkan segala
sesuatunya
terlebih
dahulu.
Beberapa
pendekatan
yang
telah
dikembangkan, dianaranya :
1) Model fiedler
Model fiedler mengungkapkan bahwa kinerja kelompok yang
efektif tergantung pada penyesuaian yang tepet antara gaya
kepemimpinan dalam berinteraksi dengan bawahan (2008). Oleh
karenanya, Fiedler meyakini bahwa keberhasilan kepemimpinan
terletak pada gaya kepemimpinan dasar individu.
12
2) Teori Situasi Hersey dan Blanchard
Teori yang dikembangkan Paul Hersey dan ken Blanchard ini
telah memberikan pengaruh luas dikalangan spesialis manejemen.
Kepemimpinan situasional tersebut memusatkan perhatian kepada
para
bawahan.
Hersey dan
Blanchard
juga
mengatakan
kepemimpinan yang berhasil dicapai dengan memilih gaya
kepemimpinan
yang tepat tergantung pada kesiapan dan
kedewasaan para pengikut.
3) Teori pertukaran pemimpin–anggota
Pada teori ini, dikemukakan bahwa karena adanya tekanan waktu,
para pemimpin membangun hubungan yang istimewa dengan
kelompok kecil bawahan mereka. Individu-individu yang terpilih
yang terpilih dalam kelompok kecil ini adalah yang dipercaya dan
mendapat perhatian lebih dan hak istimewa.Ssedangkan individu
yang tidak bergabung dalam kelompok kecil ini dikatakan berada
dalam kelompok luar.
4) Teori jalur sasaran
Teori ini dapat dikembangkan oleh Robert House, merupakan
model kontijenis kepemimpinan yang ringkas unsur-unsur utama
dari penelitian kepemimpinan ohio. Hakikat teori jalur sasaran
adalah bahwa merupakan tugas seorang pemimpin untuk
membantu pengikutnya mencapai sasaran mereka dan untuk
13
memberikan pengarahan dan dukungan guna memastikan sasaran
mereka telah sesuai dengan sasaran organisasi.
Dari perkembangan teori kepemimpinan seperti yang dijelaskan
diatas, sebagian besar teori beranggapan bahwa pemilihan gaya
kepemimpinan yang tepat pada kondisi dan waktu tertentu akan
menentukan keberhasialn organisasi. Gaya kepemimpinan yang
dijelaskan pada teori-teori diatas umumnya lebih dari satu. Berikut
penjelasan mengenai gaya kepemimpinan.
2.2.3
Gaya Kepemimpinan
Menurut Anggraeni (2006) dalam Tesis Astuti (2008), gaya kepemimpinan
adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk mempengaruhi
bawahan agar kepuasan kerja orang-orang yang dipimpinnya. Selain itu
pemimpin juga dapat mempengaruhi keamanan dan kualitas hidup para
karyawannya, bila dua hal tersebut bisa dipenuhi dengan baik oleh pemimpin
besar kemungkinan kinerja karyawan akan meningkat sehingga tujuan
perusahaan dapat dicapai dengan baik.
Dalam gaya kepemimpinan ada anggapan bahwa tidak satupun gaya
kepemimpinan yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Gaya kepemimpinan yang paling efektif sulit ditentukan. Hal ini
disebabkan karena perusahaan memiliki kondisi dan situasi yang berbeda-beda
untuk dihadapi. Seorang pemimpin di dalam memilih gaya kepemimpinannya
hendak memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
14
a. Kekuatan-kekuatan yang ada pada diri pemimpin
b. Kekuatan-kekuatan yang ada pada bawahan
c. Kekuatan-kekuatan yang ada pada lingkungan
Seorang pemimpin dipengaruhi oleh latar belangkan, pengetahuan,
penilaian, pengalaman yang merupakan kekuatan-kekuatan yang ada
pada diri pemimpinan. Pada akhirnya gaya kepemimpinan seorang
pemimpin harus memperhatikan pula faktor situasi organisasi serta jenis
pekerjaannya.
Menurut Hasibuan (2007), gaya kepemimpinan terbagi menjadi 4 macam,yaitu
otoriter, partisipasi, delegatif dan situasional. Sedangkan menurut siagian ( ),
gaya kepemimpinan terbagi menjadi tiga, yaitu otoriter, demokrasi, dan Laissez
faire.
NO
1
2.
Tabel 2.1
Macam-macam gaya kepemimpinan
Sumber
Gaya kepemimpinan
Malayu Hasibun a. Gaya kepemimpinan otoriter
b. Gaya kepemimpinan partisipasi
c. Gaya kepemimpinan delegatif
d. Gaya kepemipinan situasional
Siagian
a. Gaya kepemimpinan oteriter
b. Gaya kepemimpinan demokratif
c. Gaya kepemimpinan Laissez Farie
Sumber : Malayu Hasibun (2007)
Macam-macam gaya kepemimpinan pada Tabel 2.1 diatas adalah sebagai berikut:
a. Gaya Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan Otoriter adalah jika kekuasan atau wewenang, sebagian besar
mutlaktetap berada pada pimpinan atau kalau pimpinan menganut sistem
15
sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya
ditetapkn sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk
memberikan saran, ide, pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Orientasi kepemimpinanya difokuskan hanya untuk meningkatkan produktifitas
kerja
karyawan dengan kurang memperhatikan perasaan dan kurang
kesejahteraan bawahan. Pimpinanmenganut system manajemen tertutup (close
management) kurang menginformasikan keadan perusahaan pada bawahannya.
Pengkaderankurang dapat perhatiannya.
Gaya
kepemimpinan ini didasarkan atas perintah-perintah, memaksaan dan
tindakan arbiter dalam hubungan antara pemimpinan dengan pihak bawahan.
Pemimpin disni cenderung mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan,
ia melaksanakan pengawasan seketat mungkin dengan maksud agar pekerjaan
dilaksanakan sesuai rencana.
Gaya kepemimpinan ini menggunakan perintah yang biasanya diperkuat oleh
sanksi-sanksi dimana disiplin adalah faktor penting. Gaya kepemimpinan ini
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Semua determinasi “Policy” dilakukan oleh pemimpin.
2) Teknik-teknik dan langkah-langkah aktivitaf ditentukan oleh pejabat satu
persatu sehingga langkah-langkah mendatang senantiasa tidak pasti
16
3) “Dominator” cenderung sikap pribadi dalam pujian dan kritik pekerjaan
setiap anggota, ia tidak turut serta dalam partisipasi kelompok secara aktif
kecuali pada ia memberikan demostrasi.
b. Gaya Kepemimpinan Demokrati
Pemimpin yang beranggapan bahwa para pengikutnya ingin berusaha sebaikbaiknya dan ia dapat memimpin dengan sebaik-baiknya melalui tindakan
membantu usaha mereka dan ia memberikan pemikiran-pemikiran atau saransaran mengenai bagaimana melaksanakan pekerjaan menjadi lebih baik, serta
perbaikan-perbaikan yang dapat dicapai pada kondisi-kondisi kerja dan ide-ide
baru apa yang harus dicoba dan perlu dikembangakan.
Gaya kepemimpinan ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
1) Semua “policy” merupakan bahan pembahasan kelompok dan keputusan
kelompok yang dirangsang dan dibantu oleh pemimpin.
2) Perspektif aktivitas dicapai selama diskusi berlangsung. Dilukiskan langkahlangkah umum ke arah tujuan kelompok dan apabila diperlukan penasehat
teknis, maka pemimpin menyarankan dua atau lebih banyak produserproduser alternatif yang dapat dipilih.
3) Pemimpin bersifat objektif dalam pujian dan kritiknya dan ia berusaha untuk
menjadi anggota kelompok secara mental tanpa terlalu banyak melakukan
pekerjaan tersebut.
17
c. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire
Pemimpin memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada para pengikutnya
dalam hal melakukan aktivitas mereka.
Ciri-ciri Gaya Kepemimpinan Laissez Farie adalah :
1) Kebebasan untuk penuh keputusan kelompok atau individual dengan
meminimum partisipasi pemimpin.
2) Macam-macam bahan disediakan oleh pemimpin yang dengan jelas
mengatakan bahwa ia akan menyediakan keteranagan apabila ada
permintaan. Ia tidak turut mengambik bagian dalam diskusi kelompok.
3) Pemimpin tidak berpartisipasi sama sekali.
4) Komentar spontan yang tidak terstur atas aktivitas-aktivitas anggota dan ia
akan sama sekali ambil bagian untuk menilai atau mengatur kejadiankejadian.
d. Kepemimpinan partisipatif
Kepemimpinan partisipatif adalah apabila dalam kepemimpinannya dilakukan
dengan cara persuasif, menciptakan kerja sama yang serasi, menumbuhkan
loyalitas dan partisipatif para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar
merasa ikut memiliki perusahaan. Pemimpin dengan gaya partisipatif akan
mendorong kemampuan bawahan mengambik keputusan. Dengan demikian,
pimpinan akan selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawad yang
lebih besar. Falsafah pemimpin ialah “pimpinan (dia) adalah untuk bawahan”.
18
Bawahan harus berpartisipasi memberikan saran, ide, dan pertimbangan –
pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan tetap dilakukan
pimpinan dengan mempertimbangkan
bawahannya.
Pemimpin
menganut
saran atau
sistem
ide
manajemen
yang
diberikan
terbuka
(open
management) dan desentralisasi wewenang.
e. Kepemimpinan delegatif
Kepemimpinan delegatif apabila seseorang pemimpin mendelegasikan wewenag
kepada bawahan dengan agak lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat
dengan mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa
dalam melaksanakan pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan
mengambil keputusan dan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan kepada
bawahan. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki kematangan dalam pekerjaan
(kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan).
f. Kepemimpinan situasional
Model kepemimpinan situasional ini sebenarnya dikembangkan oleh Paul
Hersey dan Kenneth H. Blanchard dipusat studi kepemimpinan pada akhir
tahun 1960. Model ini pada awalnya memang mengacu kepada pendekatan teori
situasional yang menekankanperilaku pemimpin dan merupakan model praktis
yang adapt digunakan manejer, tenaga pemasaran, guru atau orang tua untuk
membuat keputusan dari waktu ke waktu secara efektif dalam rangka
mempengaruhi orang lain.
19
Penekanan pendekatan situasional adalah pada perilaku pemimpin dan anggota
atau
pengikut dalam
kelompok dan situsasi
yang variatif. Menurut
kepemimpinan situasional, tidak ada satupun cara yang terbaik untuk
mempengaruhi orang lain. Gaya kemimpinan mana yang harus digunakan
terhadap individu atau kelompok tergantung pada tingkat kebutuhan kondisi saat
ini. Pada penelitian ini, gaya kepemimpinan yang akan dugunakan adalah gaya
kepemimpinan situasional. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai gaya
kepemimpinan situasional.
2.2.4 Gaya kepemimpinan Situasional
Sesuai dengan pengertiannya, padagaya kepemimpinan situasional , seorang
pemimpin dituntut untuk menetukan gaya kepemimpinan sesuai dengan kondisi dan
kesiapan bawahan. Yang dimaksud faktor kesiapan adalah, (1) kemampuan
bawahan dan (2) keinginan. Tingkat kesiapan bawahan merupakan kombinasi dari
sebagai kemampuan dan keinginan, yaitu :
1. Tidak mampu dan tidak ingin, dimana bawahan tidak memiliki cukup
keterampilan dan juga tidak memiliki komitmen dan motivasi.
2. Tidak mampu tetapi berkeinginan, yaitu bawahan yang memilki sedikit
keterampilan tetapi termotivasi dan mau berusaha.
3. Mampu tetapi tidak ingin, yaitubawahan yang tidak memliki keterampilan
terhadap suatu tugas tetapi tidak ingin menggunakan kemampuan tersebut.
20
4. Mampu dan ingin, yaitu bawahan yang memiliki keterampilan yang cukup
dan memadai, dan juga menyukai tugas tersebut.
Oleh karena itu, seorang pemimpin hendaknya memiliki kemampuan
mendiagnosakesiapan bawahannya dan mengadaptasi gaya kepemimpinannya yang
sesuai. Konsep dasar yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard didasarkan
pada kedewasaan atau kematangan bawahan seperti yang diperintahkan gambar 2.1
Gambar 2.1
Kosep Dasar Kepemimpinan Situasional
Tinggi
Perilaku
Pendukung
Rendah
Tinggi dukungan dan Rendah Tinggi Pengarahan dan tinggi
pengarahan
dukungan
3
2
Rendah
dukungan
pengarahan
4
dan Tinggi pengarahan dan rendah
dukungan
1
Perilaku mengarahkan
Rendah
Tinggi
Pemimpin didalam kotak nomor satu adalah pemimpin dengan gaya instruksi,
menekankan pentingnya perintah, intruksi dan pengarahan. Pemimpin ini
berorientasi tinggi pada tugas tetapi dukungan sangat rendah, artinya hubungan
dengan bawahan tidak terjalin dengan baik. Kepemimpinan tersebut cenderung
otoriter karena dicirikan dengan komunikasi satu arah.
Pemimpin yang termasuk dalam kotak nomor 2 yaitu pemimpin konsultasi
dimana pemimpin tersebut masih memberikan petunjuk atau pengarah yang besar,
21
dan juga memperhatikan hubungan dengan bawahannya. Gaya ini biasanya
diterapkan ketika bawahan telah termotivasi dan berpengalaman dalam menghadapi
suatu tugas.
Gaya ketiga adalah gaya partisipatif, yaitu gaya yang lebih meningkatkan
komunukasi dua arah dalam pemecahan masalah dan mengambil keputusan. Gaya
ini berwarna partisipatif karena posisi pengambilan keputusan dipegang secara
bergantian.
Yang terakhir adalah gaya delegasi, dimana lebih ditekankan memberikan
tanggung jawab kepada bawahannya. Pemimpin dengan gaya ini menganggap
bawahan telah mampu dan menguasai tugas jika diberikan kepercayaan dan
tanggung jawab.
2.3
Motivasi
2.3.1 Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin, Mavere yang berarti dorongan atau
penggerak. Motivasi mempersoalkan bagaimana cara mendorong gairah kerja
bawahan, agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan
dan keterampilannya untuk mewujudkan tujuan perusahaan. Pada dasarnya
perusahaan bukan saja mengharapkan karyawan yang mampu, cakap, dan
terampil, tetapi yang terpenting mereka mau bekerja giat dan berkeinginan untuk
mencapai hasil kerja yang optimal.
Setiap organisasi tenti ingin mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan
tersebut, peranan manusia yang terlibat di dalamnya sangat penting. Untuk
menggerakan manusia agar sesuai dengan yang dikehendaki organisasi, maka
22
haruslah dipahami motivasi manusia yang bekerja di dalam organisasi tersebut,
karena motivasi inilah yang menentukan perilaku orang-orang untuk bekerja, atau
dengan kata lain, perilaku merupakan cerminan yang paling sederhana dari
motivasi.
Menurut Mangkunegara (2009), bahwa motif merupakan suatu dorongan
kebutuhan dalam diri pegawai yang perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Menurut Sadili Samsudin (2009), motivasi adalah proses memengaruhi atau
mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau
melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Rivai (2005), menyatakan, motivasi adalah serangkaian
sikap dan nilai-nilai yang memengaruhi individu untuk mencapai hal yang
spesifik sesuai dengan tujuan individu. Sikap dan nilai tersebut merupakan suatu
yang invisible yang memberikan kekuatan untuk mendorong individu untuk
bertingkah laku dalam mencapai tujuan.
2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi
Motivasi sebagai proses psikologis dalam diri seseorang akan dipengaruhi
oleh beberapa faktor. Menurut Sutrisno (2009), Faktor-faktor tersebut dapat
dibedakan atas faktor intern dan factor ekstern yang berasal dan karyawan.
23
1.
Faktor Dalam (Intern)
a. Keinginan untuk dapat hidup
Manusia mau mengerjakan apa saja asal hasilnya dapat memenuhi
kebutuhan untuk makan. Keinginan untuk dapat hidup meliputi kebutuhan
untuk :
a) Memperoleh kompensasi yang memadai
b) Pekerjaan yang tetap walaupun penghasilan tidak begitu memadai
c) Kondisi kerja yang aman dan nyaman
b. Keinginan untuk dapat memiliki
Keinginan untuk dapat memiliki benda dapat mendorong seseorang untuk
mau melakukan pekerjaan. Hal ini banyak kita alami dalam kehidupan kita
sehari-hari, bahwa keinginan yang keras untuk dapat memiliki itu daoat
mendorong orang untuk mau bekerja.
c. Keinginan untuk memperoleh penghargaan
Seseorang mau bekerja disebabkan adanya keinginan untuk diakui,
dihormati oleh orang lain.
d. Keinginan untuk memperoleh pengakuan
Bila kita perinci, maka keinginan untuk memperoleh pengakuan itu dapat
meliputi hal-hal:
a) Adanya penghargaan terhadap prestasi
b) Adanya hubungan kerja yang harmonis dan kompak
c) Pimpinan yang adil dan bijaksana
d) Perusahaan tempat bekerja dihargai oleh masyarakat
24
e. Keinginan untuk berkuasa
Keinginan untuk berkuasa akan mendorong seseorang untuk bekerja.
Kadang-kadang keinginan untuk berkuasa ini dipenuhi dengan cara-cara
tidak terpuji, namun cara-cara yang dilakukannya itu masih termasuk
bekerja juga.
2.
Faktor Luar (Ekstern)
a. Kondisi lingkungan kerja
Lingkungan pekerjaan adalah keseluruhan sarana dan prasarana kerja yang
ada di sekitar karyawan yang sedang melakukan pekerjaan yang dapat
memengaruhi pelaksaan pekerjaan.
b. Kompensasi yang memadai
Kompensasi merupakan sumber penghasilan utama bagi para karyawan
untuk menghidupi diri beserta keluarga. Kompensasi yang memadai
merupakan alat motivasi yang paling ampuh bagi perusahaan untuk
mendorong para karyawan bekerja dengan baik.
c. Supervise yang baik
Fungsi supervise dalam suatu pekerjaan adalah memberikan pengarahan,
membimbing kerja para karyawan, agar dapat melaksanaan kerja dengan
baik tanpa membuat kesalahan.
d. Adanya jaminan pekerjaan
Setiap orang akan mau bekerja mati-matian mengorbankan apa yang ada
pada dirinya untuk perusahaan, kalau yang bersangkutan merasa ada
jaminan karier yang jelas dalam melakukan pekerjaan.
25
e. Status dan tanggung jawab
Status atau kedudukan dalam jabatan tertentu merupakan dambaan setiap
karyawan dalam bekerja. Mereka bukan hanya mengharapkan kompensasi
semata, tetapi pada satu masa mereka juga berharap akan dapat
kesempatan menduduki jabatan dalam suatu perusahaan. Dengan
menduduki jabatan, orang merasa dirinya akan dipercaya, diberi tanggung
jawab, dan wewenang yang besar untuk melakukan kegiatan-kegiatan.
f. Peraturan yang fleksibel
Bagi perusahaan besar, biasanya sudah ditetapkan sistem dan prosedur
kerja yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan. Semua ini merupakan
aturan main yang mengatur hubungan kerja antara karyawan dengan
perusahaan, termasuk hak dan kewajiban para karyawan, pemberian
kompensasi, promosi, mutasi, dan sebagainya.
2.3.3 Model Motivasi
Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2009), terdapa tiga model motivasi, yaitu
sebagai berikut:
1.
Model Tradisional
Secara tradisional para manajer mendorong atau memotivasi tenaga kerja
dengan cara memberikan imbalan berupa gaji/upah yang makin meningkat.
2.
Model Hubungan Manusiawi (human relation model)
26
Pada model ini para manajer dapat memotivasi karyawan dengan cara
memenuhi kebutuhan social mereka dan membuat mereka merasa penting dan
berguna.
3.
Model Sumber Daya Manusia (human resources model)
Motivasi
yang
penting
bagi
karyawan
menurut
model
ini
adalah
penggembangan tanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan organisasi
dengan cara setiap anggota atau karyawan menyumbangkan sesuatu kepada
organisasi sesuai dengan kepentingan dan kemampuan masing-masing.
2.3.4Teori Motivasi
Setiap teori motivasi berusaha untuk menguraikan apa sebenarnya manusia
dan manusia dapat menjadi seperti apa. Dengan alasan ini, bisa dikatakan bahwa
sebuah teori motivasi mempunyai isi dalam bentuk pandangan tertentu mengenai
manusia. Karena alasan itu, para manajer dan pakar manajemen selalu
merumuskan teori-teori tentang motivasi.
2.4
Kinerja
Kinerja menurut mangkunegara (2007) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya,
Menurut Rivai dan Basri (2004), kinerja adalah hasil seseorang secara
keseluruhan selama periode tertentu di dalam meleksanakan tuas, seperti standar
hasil kerja, target kerja atau sasaran atau kriteriayang telah ditentukan terlebih
dahulu dan telah disepakati bersama. Sedangkan kinerja menurut Hasibuan (2007)
27
adalah hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan
kesungguhan serta waktu.
Mathis (2006) menyatakan bahwa kinerja pegawai adalah yang antara lain,
(1) kuantitas kerja, (2) kualitas kerja, (3) pemanfaatan waktu, dan (4) kerjasama.
Jadi dengan demikinan kinerja adalah hasil kerja yang dicapai karyawan
baik secara kuantitas dan kualitas, Irawan ( ) dlam Mulyana (2006), membagi
kinerja ke dalam dua macam, yaitu :
1. Kinerja Organisasi
Kinerja organisasi merupakan hasil interaksi yang kompleks dan kumpulan
kinerja sejumlah individu dalam organisasi. Kinerja organisasi dinilai
denagan memperhatikan beberap aspek dalam organisasi yaitu, aspek
keuangan, aspek proses internal, aspek kepuasan konsumen dn aspek pada
learning dan growthdan yang disebut sebagai penilaian BSC (balance score
card). BSC dikemukakan pertama kali oleh Robert Kaplan (1996).
2. Kinerja Individu atau Pegawai
Kinerja individu atau pegawai diukur dengan lihat kuantitas dan kualitas
output yang dihasilkannya, sedangkan untuk pegawai pemerintah adalah
dengan melihat pelaksanaan tugasnya yaitu antara dapat bekerja sesuai tugas
dan wewenang yang diberikan atasan dan tidak melanggar aturan serta dapat
melayani masyarakat.
28
2.4.1 Penilaian Kinerja
Penilaian kinerja begitu penting bagi perusahaan, karena dengan itu
suatu organisasi dapat melihat sejauh mana faktor manusia dapat menunjang
tujuan suatu organisasi. Penilaian terhadap kinerja dapat bermotivasi karyawan
supaya terdorong untuk berkerja lebih baik. Oleh karena itu diperlukan penilaian
kinerja yang tepat dan konsisten.
Sistem penilaian kinerja akan berjalan dengan baik ketika tujuan formal
organisasi menggunakan penilaian kinerja konsisten terhadap tujuan penilaian,
termasuk penilai dan dinilai.
Secara ringkas menurut Rivai (2005), penilaian kinerja banyak
digunakan untuk :
1. Menetukan kebutuhan-kebutuhan pelatiahan organisasi;
2. Menekankan kembali struktur kekuasaan;
3. Perencanaan sumber daya manusia;
Sedangkan menurut Mangkunegara (2007), tujuan penilaian kinerja
adalah sebagai berikut :
a. Sebagai dasar dalam pengambilan kepuasan
b. Mengukur sejauh mana seorang pegawai dapat menyelesaikan
pekerjaanya
c. Sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas seluruhkegiatan dalam
organisasi
29
d. Sebagai indikator untuk menentukan kebutuhan akan latihan bagi
pegawai.
e. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja pegawai
f. Sebagai kriteria untuk menentukan seleksi dan penepatan pegawai
g. Sebagai alat untuk memperbaiki atau mengembangkan kecakapan
pegawai
Pihak-pihak yang berkepentingan dalam penilaian kinerja adalah (1)
orangyang dinilai, (2) penilai / atasan / pemimpin, dan (3) perusahaan.
Proses penilaian kinerja ditujukan untuk memahami kinerja seseorang,
dimana kegiatan ini terdiri dari identifikasi, observasi, pengukuran dan
pengembangan hasil kerja karyawan dalam sebuah organisasi (panggabean,2007).
a. Identifikasi
Identifikasi merupakan tahap pertama dimana pada saat ini akan
ditentukan unsur – unsure yang akan diamati. Proses ini dimulai dengan
melakukan analisis pekerjaan agar dapat mengenali unsure – unsure yang
akan dinilai dan dapat menentukan skala pengukuran.
b. Observasi
Observasi dilakukan dengan pengamatan secara seksama dan periodik
guna mendapat hasil yang tepat. Jika observasi jarang dilakukan akan
menghasilkan penilaian sesaat dan tidak akurat.
c. Pengukuran
30
Pada proses ini, penilai akan memberikan penilaian terhadap tingkat
kinerja karyawan yang didasarkan pada hasil pengamatan.
d. Pengembangan
Pihak penilai selain memberikan penilaian terhadap kierja pegawai
juga melakukan pengembangan apabila ternyata terdapat berbedaan
antara yang diharapkan dengan hasil kerja karyawan.
Elemen – elemen pokok system penilaian kinerja mencakup kriteria –
kriteria
yang ada hubungannya dengan pelaksanaan kerja. Handoko (2002 :
138) dalam Mulyana (2006), ukuran kinerja dan pemberian umpan balik
kepada karyawan dapat ditunjukan dalam Gambar 2.2 berikut ini.
31
Gambar 2.2
Elemen-elemen pokok sistem penilaian kinerja
Kinerja pegawai
Penilaian kinerja
Upah balik bagi
pegawai
Ukuran-ukuran
kinerja
Kiteria yang ada
hubungannya dengan
pelaksanaan kerja
Keputusan-
Catatan-catatan tentang
keputusan
karyawan
Personalia
Sumber : Mulyana (2006)
Pada umumnya unsur-unsur yang perlu diadakan dalam proses penilaian kerja
adalah sebagai berikut.
1. Kesetiaan, yaitu tekad dan kesanggupan menaati, melaksanakan dan
mengamalkan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
2. Prestasi kerja, yaitu kinerja yang dicapai oleh seorang karyawan dalam
melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
3. Tanggung
jawab,
yaitu
kesanggupan
seorang
karyawan
dalam
menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu serta berani
32
mengambil resiko atas keputusan yang diambilnya atau tindakan yang
dilakukannya.
4. Ketaatan yaitu kesanggupan seorang karyawan untuk menaati segala
ketetapan, peraturan, perintahyang diberikan,serta kesanggupan untuk
tidak melanggar larangan yang telah ditetapkan.
5. Kerjasama yaitu kesanngupan seorng karyawan untuk bekerja bersaing
bersama dengan orang lain guna menyelesaikan tugas yang telah
ditetapkan, sehingga mencapai gaya guna dan hasil yang optimal.
6. Prakarsa yaitu kemampuan seorang karyawan untuk mengambil keputusan,
langkah-langkah atau melaksanakan suatu tindakan yang perlu dilakukan
dalam melaksanakan tugas.
7. Kepemimpinan yaitu kemampuan yang dimiliki seorang karyawan untuk
meyakinkan orang lain sehingga mendapatkan hasil yang optimal.
2.4.2 Kinerja karyawan
Suatu penelitian telah memperlihatkan bahwa suatu lingkungan kerja yang
menyenangkan sangat penting untuk mendorong tingkat kinerja karyawan yang
paling produktif. Dalam interaksi sehari-hari, antara atasan dan bawahan, berbagai
asumsi dan harapan lain muncul. Ketika atasan dan bawahan membentuk
serangkaian asumsi dan harapan mereka sendiri yang sering agak berbeda,
perbedaan-perbedaan ini yang akhirnya berpengaruh pada tingkat kinerja. Kinerja
adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam
melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria
yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. (Rivai &
Basri, 2005: 14 ).
Apabila dikaitkan dengan performance sebagai kata benda (noun), maka
pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh
seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang
33
dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan
secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan
etika. (Rivai & Basri, 2005:16.
Marihot Tua (2002) berpendapat bahwa kinerja merupakan hasil kerja yang
dihasilkan oleh pegawai atau perilaku nyata yang ditampilkan sesuai peranannya
dalam organisasi. Kinerja juga berarti hasil yang dicapai seseorang baik kualitas
maupun kuantitas sesuai dengan tanggung jawab yang diberian kepadanya. Selain
itu kinerja seseorang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, inisiatif, pengalaman
kerja, dan motivasi karyawan. Hasil kerja seseorang akan memberikan umpan
balik bagi orang itu sendiri untuk selalu aktif melakukan pekerjaannya secara baik
dan diharapkan akan menghasilkan mutu pekerjaan yang baik pula. Pendidikan
mempengaruhi kinerja seseorang karena dapat memberikan wawasan yang lebih
luas untuk berinisiatif dan berinovasi dan selanjutnya berpengaruh terhadap
kinerjanya.
Sopiah (2008) menyatakan lingkungan juga bisa mempengaruhi kinerja
seseorang. Situasi lingkungan yang kondusif, misalnya dukungan dari atasan,
teman kerja, sarana dan prasarana yang memadai akan menciptaka kenyamanan
tersendiri dan akan memacu kinerja yang baik. Sebaliknya, suasana kerja yang
tidak nyaman karena sarana dan prasarana yang tidak memadai, tidak adanya
dukungan dari atasan, dan banyak terjadi konflik akan memberi dampak negatif
yang mengakibatkan kemerosotan pada kinerja seseorang.
34
Sedangkan kinerja karyawan menurut Simamora (2004) adalah tingkat hasil
kerja karyawan dalam pencapaian persyaratan
pekerjaan yang diberikan.
Deskripsi dari kinerja menyangkut tiga komponen penting yaitu:
1. Tujuan
Tujuan ini akan memberikan arah dan mempengaruhi bagaimana seharusnya
perilaku kerja yang diharapkan organisasi terhadap setiap personel.
2. Ukuran
Ukuran dibutuhkan untuk mengetahui apakah seorang personel telah mencapai
kinerja yang diharapkan, untuk itu kuantitatif dan kualitatif standar kinerja
untuk setiap tugas dan jabatan personal memegang peranan penting.
3. Penilaian
Penilaian kinerja reguler yang dikaitkan dengan proses pencapaian tujuan
kinerja setiap personel. Tindakan ini akan membuat personel untuk senantiasa
berorientasi terhadap tujuan dan berperilaku kerja sesuai dan searah dengan
tujuan yang hendak dicapai.
Menurut Rita Swietenia (2009) manfaat kinerja pegawai antara lain adalah
untuk menganalisa dan mendorong efisiensi produksi, untuk menentukan target
atau sasaran yang nyata, lalu untuk pertukaran informasi antara tenaga kerja dan
manajemen yang berhubungan terhadap masalah-masalah yang berkaitan.
Adapun indikator kinerja karyawan menurut Bambang Guritno dan Waridin
(2005) adalah sebagai berikut :
35
1. Mampu meningkatkan target pekerjaan
2. Mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
3. Mampu menciptakan inovasi dalam menyelesaikan pekerjaan
4. Mampu menciptakan kreativitas dalam menyelesaikan pekerjaan
2.4.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kinerja Karyawan
Menurut Davis dalam Mangkunegara (2007), bawha faktor yang
mempengaruhi penapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan
faktor motivasi (motivation).
a. Faktor kemampuan
Secara psikologis, kemampuan pegawai terdiri dari kemampuan potensi
(IQ).
Motivasi terbentuk dari sikap seorang pegawai dalam mengahadapi
situsai kerja. Motivasi merupakan kondisai yang menggerakkan diri
karyawan yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut
prawirosentono
(1999)
yang
dikutip
http://cokrominoto.wordpress.com/2007/06/12/faktor-faktor-yangmempengaruhi-kinerja-individu-respon-untuk-zaenul/ , kinerja seseorang
pegawai akan baik, jika pegawai tersebut memiliki keahlian yang tinggi,
kesediaan untuk bekerja, adanya imbalan yang layak dan mempunyai
harapan masa depan. Secara teoritas ada tiga kelompok yang
mempengaruhi kinerja seseorang, yaitu :
1. Variable individu
Variable ini terdiri dari kemampuan dan keterampilan, latar belakang
dan demografis.
2. Variable organisasi
Yang
termasuk
variable
organisasi
adalah
sumber
daya,
kepemimpinan, imbalan, struktur dan desain pekerjaan. Variable
kepemimpinan, tidak seperti variable imbalan yang terlihat jelas
36
pengaruhnya, ternyata juga dari beberapa pendapat diatas, jelas
bahwa factor kepemimpinan andil dalam menentukan kinerja
karyawan. Banyak juga penelitian yang telah dilakukan untuk
melihat pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja karyawan, dimana
kepemimpinan difokuskan pada gaya kepemimpinan. Dimana
sebagian hasil penelitian menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan
dalam sesuatu organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan.
Penelitian dengan gaya kepemimpinan pada instansi pemerintah
telah banyak dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh inneke (2005)
dan mulyana (2006). Penelitian yang dilakukan inneke mengguji
pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan pada
asisten adminitrasi kesekretariat Daerah provinsi Sumatera utara.
Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa gaya kepemimpinan
demokratis lebih sering digunakan.
Penelitian Mulyana (2006) menguji pengaruh gaya dan
kemampuan kepemimpinan terhadap kinerja di lapas tasikmalaya.
Dan hasil penelitian tersebut menujukkan bahwa kedua factor
tesebut berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan
Lapas Tasikmalaya. Dan hasil penelitiannya juga menunjukan bahwa
gaya kepemimpinan yang sering digunakan adalah gaya sistuasional.
Download