BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pemerintah saat ini telah menetapkan sektor pariwisata sebagai sektor yang
perlu dikembangkan dan dibina untuk dijadikan sektor unggulan. Hal ini didasari
oleh keanekaragaman hayati dan budaya yang dimiliki Indonesia mampu menarik
wisatawan untuk berkunjung ke berbagai destinasi wisata Indonesia. Seperti yang
diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo saat rapat kabinet terbatas bidang
pariwisata di Istana Bogor, yang dikutip oleh Adhi (dalam Kompas 19/02/2015),
bahwa :
sektor pariwisata mampu menjadi sektor unggulan yang memacu
pertumbuhan ekonomi. Data Kementrian Pariwisata menunjukkan jumlah
wisatawan mancanegara ke Indonesia sepanjang 2014 tercatat 9.435.411
orang, atau naik 7,19 persen dibandingkan dengan jumlah wisatawan
mancanegara yang datang sepanjang tahun 2013.
Hal tersebut menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah wisatawan
mancanegara yang mengunjungi Indonesia mengalami kenaikan. Naiknya jumlah
kunjungan wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata Indonesia akan memacu
pertumbuhan ekonomi dan membantu meningkatkan devisa negara.
Selain dapat membantu meningkatkan devisa negara, sektor pariwisata
dapat dijadikan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat melalui pembukaan lapangan kerja. Masyarakat dapat menjadi bagian
dari pengelola wisata dan dapat pula menjadi penyedia akomodasi yang
diperlukan oleh wisatawan selama berada di lokasi wisata.
Kegiatan pariwisata dapat menurunkan kualitas lingkungan apabila dalam
pelaksanaan kegiatannya tidak memperhatikan lingkungan, karena kegiatan
pariwisata cenderung berkaitan dengan pemanfaatan lingkungan dan melibatkan
masyarakat. Kunjungan wisatawan yang memiliki tingkah laku dan kebiasaan
yang beragam dapat mempengaruhi pola pikir dan kehidupan masyarakat
setempat. Untuk mengantisipasi beberapa hal tersebut, maka kegiatan pariwisata
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
2
harus lebih memperhatikan aspek alam, lingkungan serta budaya masyarakat.
Sebagaimana yang tercantum dalam Kode Etik Pariwisata Dunia bahwa :
Kebijakan pembangunan kepariwisataan dan kegiatan kepariwisataan itu
harus dilaksanakan dengan memperhatikan keindahan, nilai arkeologi dan
warisan budaya, yang seharusnya dilindungi dan diteruskan kepada
generasi mendatang; perhatian khusus hendaknya diberikan untuk
melestarikan dan meningkatkan nilai bangunan, candi dan museum ataupun
daerah arkeologi serta tempat bersejarah yang seharusnya terbuka luas
kepada masyarakat untuk mengembangkan sumberdaya budaya ataupun
bangunan yang dimiliki secara pribadi dengan memperhatikan hal
kepemilikan yang ada padanya, termasuk bangunan tempat ibadah tanpa
mengorbankan kebiasaan untuk melakukan peribadatan.
Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa pembangunan ataupun
pengembangan kepariwisataan harus berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.
Kegiatan pariwisata harus memperhatikan daya tampung dari lingkungan wisata
agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya. Unsur pembaharuan atau modifikasi
terhadap lingkungan dan budaya harus tetap berada dalam batas wajar. Unsur
tersebut harus tetap memperhatikan keutuhan budaya.
Segala bentuk budaya yang dimiliki masyarakat harus tetap utuh dan
dipegang teguh oleh masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan hasil Deklarasi Bali
pada 14 Juli 2000 (dalam Nugroho 2011, hlm. 4) yang menyatakan bahwa
“budaya, lingkungan dan peninggalan sejarah adalah nyawa atau roh dari kegiatan
pariwisata Indonesia. Tanpa adanya budaya maka pariwisata akan terasa hambar
dan kering, dan tidak akan memiliki daya tarik untuk dikunjungi”.
Dalam mempertahankan budaya, lingkungan dan peninggalan sejarah yang
merupakan daya tarik wisata Indonesia, maka dalam pengembangan sektor
pariwisata yang terdapat di Indonesia harus selalu memperhatikan aspek
kelestarian lingkungan dan budaya yang ada. Oleh sebab itu, saat ini banyak
dikembangkan sebuah wisata berwawasan lingkungan dan memperhatikan budaya
masyarakat (ekowisata).
Ekowisata merupakan sebuah perjalanan wisata yang memperhatikan
kelestarian lingkungan dan budaya masyarakat lokal. Sebagaimana yang
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3
diungkapkan oleh World Conservation Union (dalam Nugroho 2011, hlm. 15),
bahwa :
Ekowisata adalah perjalanan wisata ke wilayah-wilayah yang lingkungan
alamnya masih asli, dengan menghargai warisan budaya dan alamnya,
mendukung upaya-upaya konservasi, tidak menghasilkan dampak negatif
dan memberikan keuntungan sosial ekonomi serta menghargai partisipasi
penduduk lokal.
Ekowisata dapat dijadikan sebuah solusi dalam pengembangan wisata alam
dan budaya. Melalui ekowisata, masyarakat dan wisatawan akan belajar
mempertahankan kelestarian alam dan budaya setempat
Salah satu daerah yang memiliki keanekaragaman hayati, keanekaragaman
budaya dan peninggalan sejarah adalah Kabupaten Ciamis. Morfologi Kabupaten
Ciamis yang cukup bervariasi berpotensi untuk dijadikan destinasi wisata. Jenis
wisata yang dimiliki Kabupaten Ciamis diantaranya adalah wisata alam, wisata
budaya dan wisata ziarah. Wisata alam yang dimiliki Kabupaten Ciamis antara
lain berupa hutan lindung, air terjun, danau, dan pantai. Wisata budaya berkaitan
erat dengan peninggalan sejarah dan arkeologis Kerajaan Galuh yang berada di
Kabupaten Ciamis. Berikut merupakan daftar pariwisata yang terdapat di
Kabupaten Ciamis, dapat dilihat pada Tabel 1.1
Tabel 1.1
Daftar Pariwisata Kabupaten Ciamis
No
Objek Wisata
1. Situ Lengkong
Panjalu
2. Astana Gede
Lokasi
Kecamatan Panjalu
Jenis Wisata
Wisata Ziarah
Kecamatan Kawali
Wisata Ziarah
3.
Kecamatan Cijeungjing
Wisata Budaya
Kecamatan Rancah
Wisata Budaya
Kecamatan Panjalu
Kecamatan Kalipucang
Kecamatan Pangandaran
Wisata Alam
Wisata Alam
Wisata Alam
Kecamatan Pangandaran
Kecamatan Kalipucang
Kecamatan Parigi
Kecamatan Cijulang
Wisata Alam
Wisata Alam
Wisata Alam
Wisata Alam
4.
5.
6.
7.
Cagar Budaya
Karangkamulyan
Kampung Kuta
Curug Tujuh
Karang Nini
Cagar Alam
Pananjung
8. Pangandaran
9. Pantai Karapyak
10. Batu Hiu
11. Green
Potensi Wisata
Hutan lindung, danau,
makam ziarah
Hutan lindung, temuan
arkeologi, makam ziarah
Peninggalan arkeologi,
hutan lindung
Dusun adat, hutan
lindung
Hutan lindung, air terjun
Hutan jati dan pantai
Hutan wisata, goa buatan
dan goa alami
Pantai
Pantai
Pantai
Aliran sungai melewati
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
4
Canyon(Cukang
Taneuh)
12. Batu Karas
gua stalaktit
Kecamatan Cijulang
Wisata Alam
Pantai
Sumber : Profil Pariwisata dan Budaya Kabupaten Ciamis 2014, diolah
Berdasarkan Tabel 1.1, jenis wisata yang terdapat di Kabupaten Ciamis
didominasi oleh wisata alam khususnya wisata pantai yang terletak di selatan
Kabupaten Ciamis. Wisata pantai yang terdapat di Kabupaten Ciamis mampu
menarik
wisatawan
domestik
maupun
wisatawan
mancanegara
untuk
mengunjungi destinasi wisata tersebut. Sehingga dari kunjungan wisatawan
tersebut dapat membantu peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten
Ciamis dan dijadikan sebagai wisata unggulan kabupaten.
Akan tetapi berdasarkan Undang-undang No.21 tahun 2012, Kabupaten
Pangandaran secara resmi dimekarkan menjadi sebuah kabupaten yang terpisah
dari Kabupaten Ciamis. Setelah sebelumnya pada tanggal 21 Februari 2003
Kabupaten Ciamis memekarkan Kota Banjar yang diatur dalam Undang-undang
No.27 tahun 2002.
Pemekaran wilayah Kabupaten Ciamis berdampak terhadap luasan kawasan
kabupaten yang memiliki beragam potensi, baik potensi alam maupun potensi
budaya. Pemekaran Kecamatan Pangandaran menjadi kabupaten berpengaruh
terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Ciamis. Selain kehilangan
sektor perikanan laut, Kabupaten Ciamis juga kehilangan sektor pariwisata
unggulan. Jika pada awalnya pendapatan asli daerah yang berasal dari sektor
pariwisata sebesar 3,5 Milyar – 4 Milyar, kini menurun menjadi sebesar 1,5
Milyar. Sehingga saat ini Kabupaten Ciamis harus mencari objek wisata lain yang
akan menambah pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Ciamis. (Hasil
wawancara dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ciamis)
Menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ciamis, salah satu
destinasi wisata yang dapat di proyeksikan menjadi objek wisata unggulan
Kabupaten Ciamis adalah Situ Lengkong Panjalu yang terletak di Kecamatan
Panjalu. Beberapa alasan yang melatarbelakangi Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata memproyeksikan Situ Lengkong Panjalu menjadi wisata unggulan
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
5
karena Situ Lengkong Panjalu memiliki wisatawan tetap, dan fasilitas yang
tersedia sudah lebih memadai dibandingkan dengan fasilitas yang terdapat pada
objek wisata lainnya.
Situ Lengkong Panjalu lebih dikenal sebagai wisata religi/wisata ziarah
karena terdapat makam Hariang Kencana atau Sayyid Ali Bin Muhammad Bin
Umar yang merupakan putra dari Hariang Borosngora, Raja di Kerajaan Panjalu.
Oleh sebab itu, terdapat wisatawan yang akan selalu rutin menungunjungi
destinasi wisata ini untuk melakukan ziarah.
Puncak kunjungan wisatawan biasanya jatuh pada bulan Maulud. Karena
pada bulan tersebut terdapat sebuah upacara adat kirab pusaka yang diberi nama
upacara adat “Nyangku”. Upacara adat tersebut ditujukan untuk membersihkan
benda-benda pusaka peninggalan Raja-raja Panjalu. Disamping itu, upacara adat
“Nyangku” merupakan syukuran masyarakat Panjalu dalam memperingati
pertama kalinya Prabu Borosngora melakukan syi’ar Islam di tanah Panjalu
(Profil Pariwisata dan Budaya Kabupaten Ciamis, hlm.27).
Selain dikenal sebagai wisata ziarah dan wisata budaya, daya tarik wisata
Situ Lengkong juga terletak pada keragaman ekosistemnya. Terdapat cagar alam
dan danau yang memiliki berbagai tumbuhan dan hewan yang perlu dijaga
kelestariannya. Karena keberadaan tumbuhan dan hewan tersebut merupakan
bagian dari sistem penyangga kawasan Situ Lengkong.
Ridha (2008, hlm. 2) menyebutkan bahwa “ Situ Lengkong juga memiliki
fungsi secara ekologis yakni berperan sebagai kawasan penyangga tata air,
kawasan perlindungan flora dan fauna serta untuk melestarikan keutuhan cagar
alam Panjalu”.
Dilihat dari fungsi dan perannya secara ekologis, maka kawasan Situ
Lengkong harus dikonservasi agar tidak mengalami penurunan kualitas ekosistem
yang dapat menganggu kelangsungan hidup ekosistem yang ada didalamnya.
Sedangkan kondisi Situ Lengkong saat ini sudah mengalami penurunan kualitas
ekosistem seperti berkurangnya populasi kelelawar dan pendangkalan situ.
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
6
Dadi, selaku pengamat lingkungan Kabupaten Ciamis yang dikutip dari
Supendi (dalam Harapan Rakyat 03/09/2014), menyebutkan bahwa :
kondisi ekosistem atau hubungan timbal balik antara makhluk hidup
dengan lingkungan di kawasan tersebut sangat memprihatinkan. Saat ini
jumlah kelelawar hanya sekitar 1.200 ekor. Padahal pada saat dilakukan
penelitian tahun 1996, kelelawar yang berada di Situ Lengkong Panjalu
berjumlah 13.000 ekor. Menurut Dadi, dari sisi lingkungan, salah satu daya
tarik Situ Lengkong Panjalu adalah ekosistemnya, sehingga untuk
pengembangan kedepannya dapat dikembangkan dari segi ekosistemnya
selain dari segi wisata budaya atau wisata religinya. Pengembangan wisata
yang dikembangkan dari segi ekosistemnya dapat dilakukan dengan
membentuk suatu ekowisata.
Salah satu penyebab berkurangnya jumlah kelelawar dikarenakan oleh
adanya perburuan kelelawar secara liar oleh masyarakat setempat. Kelelawar yang
diburu kemudian dijual dan dimanfaatkan untuk pengobatan. (Hasil wawancara
dengan masyarakat sekitar Situ Lengkong, 2015)
Berkurangnya jumlah kelelawar yang berada di Situ Lengkong Panjalu
dapat mempengaruhi kelangsungan hidup ekosistem lain. Karena kelelawar
memiliki peranan yang cukup berpengaruh terhadap makhluk hidup lainnya.
Secara biologis, manfaat dari kotoran kelelawar dapat menjadi pupuk bagi pohonpohon yang berada di Nusa Gede. Selain itu, keberadaan kelelawar juga dapat
membantu pendistribusian biji-bijian dan buah-buahan dari lokasi lain ke cagar
alam Nusa Gede yang terdapat di Situ Lengkong Panjalu. Sedangkan masalah
pendangkalan situ disebabkan oleh semakin bertambahnya jumlah pemukiman
penduduk, pembuangan sampah rumah tangga ke dalam situ dan kurangnya
pemeliharaan lingkungan disekitar situ.
Apabila dilihat dari beberapa masalah yang terdapat di Situ Lengkong
Panjalu, maka diperlukan sebuah studi kelayakan untuk pengembangan kawasan
Situ Lengkong sebagai wisata unggulan yang lebih berwawasan lingkungan.
Geografi sebagai ilmu yang mengkaji fenomena yang terjadi di dalam
ruang bumi turut serta dalam pengkajian kegiatan pariwisata. Karena pada
umumnya pariwisata merupakan suatu kegiatan yang memanfaatkan lingkungan.
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
7
Apabila terdapat suatu permasalahan dalam pariwisata yang berkaitan
dengan lingkungan, maka geografi dapat mengambil langkah analisis melalui
pendekatan ekologi. Dimana pendekatan ekologi merupakan sebuah pendekatan
yang didalamnya terdapat analisis keterkaitan antara pengaruh dan peranan suatu
organisme dalam suatu ekosistem. Pendekatan ekologi tidak hanya mengaitkan
hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan alam, tetapi dikaitkan juga
dengan fenomena alam serta aktivitas yang dilakukan manusia, dan dikaitkan
dengan perilaku manusia serta kesadaran manusia terhadap lingkungan. Tema
analisis yang digunakan adalah tema analisis interaksi antara kenampakan fisik
budayawi dengan lingkungannya. Melalui tema analisis ini, kenampakan fisik
budayawi menjadi fokus kajian. Kegiatan manusia seperti kegiatan pariwisata
yang selalu mengalami perubahan dan memaksa perubahan pada lingkungan
menjadi fokus kajian dalam tema analisis ini.
Oleh karena itu judul penelitian ini adalah “Analisis Geografis Kelayakan
Situ Lengkong Panjalu sebagai Objek Wisata Berbasis Ekowisata”.
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka identifikasi masalah merupakan
pengenalan masalah penelitian dengan menentukan batasan permasalahannya
sehingga terjadinya pemfokusan terhadap teori dan variabel serta kaitan antar
variabel yang akan diteliti. Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Kabupaten Ciamis memiliki jenis pariwisata yang cukup beragam dengan
wisata unggulan yang berada di selatan Kabupaten Ciamis. Pemekaran
wilayah selatan Kabupaten Ciamis berdampak terhadap aset wisata unggulan
Kabupaten Ciamis sehingga Kabupaten Ciamis harus mencari destinasi wisata
unggulan yang baru.
2. Adanya kerusakan dalam sebuah ekosistem Situ Lengkong Panjalu yang dapat
mempengaruhi
kelangsungan
ekosistem
lainnya
membuat
sistem
pengembangan wisata Situ Lengkong harus lebih memperhatikan lingkungan.
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
8
Selain itu pemahaman masyarakat dan wisatawan mengenai kelestarian
lingkungan perlu ditingkatkan.
3. Ekowisata merupakan salah satu wisata yang memperhatikan kelestarian
lingkungan dan juga kebudayaan masyarakat lokal. Selain itu, ekowisata
memiliki tiga konsep antara lain konservasi, pemberdayaan masyarakat dan
kepuasan wisatawan.
4. Analisis Geografis kelayakan ekowisata dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui kelayakan wisata Situ Lengkong untuk dijadikan sebuah objek
wisata berbasis ekowisata yang mengutamakan pelestarian lingkungan
(konservasi), pelestarian budaya masyarakat lokal, pemberdayaan masyarakat
tanpa mengurangi kepuasan wisatawan terhadap pariwisata tersebut.
C. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka yang menjadi
rumusan masalah dari pemenuhan standar kelayakan objek wisata Situ Lengkong
Panjalu dijabarkan dalam beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat kelayakan ekowisata pada objek wisata Situ Lengkong
Panjalu dilihat dari aspek fisik alam ?
2. Bagaimana tingkat kelayakan ekowisata Situ Lengkong Panjalu dilihat dari
masyarakat yang berada di sekitar objek wisata Situ Lengkong Panjalu ?
3. Bagaimana tingkat kelayakan ekowisata Situ Lengkong Panjalu dilihat dari
wisatawan yang berkunjung?
4. Bagaimana upaya pengelola dalam mengkonservasi wisata Situ Lengkong
Panjalu ?
D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisis tingkat kelayakan ekowisata Situ Lengkong Panjalu dilihat dari
aspek fisik alam.
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
9
2.
Menganalisis tingkat kelayakan ekowisata Situ Lengkong Panjalu dilihat dari
masyarakat yang berada di sekitar objek wisata.
3. Menganalisis tingkat kelayakan ekowisata Situ Lengkong Panjalau dilihat dari
wisatawan yang berkunjung.
4. Menganalisis upaya pengelola dalam mengkonservasi wisata Situ Lengkong
Panjalu.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang berguna bagi semua
pihak terkait, beberapa manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dalam hal pemanfaatan Situ Lengkong melalui pendekatan ekologi
dan diharapkan bermanfaat bagi pengembangan wisata Situ Lengkong yang lebih
berwawasan lingkungan yang mengutamakan kelestarian lingkungan, konservasi
dan edukasi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti dapat menambah wawasan dan pemahaman mengenai
konsep ekowisata dan fungsi ekosistem yang berada dalam suatu objek
ekowisata, sehingga dapat diperoleh gambaran mengenai teori yang
dipelajari dengan fakta yang terdapat dilapangan dan sebagai salah satu
syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Geografi.
b. Bagi Pemerintah Desa Panjalu dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Ciamis, dapat menjadi bahan masukan dalam hal pengelolaan
dan
pengembangan
Situ
Lengkong
yang
lebih
memperhatikan
kelangsungan ekosistem Situ Lengkong Panjalu.
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
10
c. Bagi Ilmu Geografi, dapat dijadikan salah satu sumber belajar geografi
terutama yang berkaitan dengan ekosistem dan pelestarian lingkungan
hidup. Sehingga siswa dapat memahami fungsi ekosistem dan cara
melestarikan lingkungan hidup.
d. Bagi Peneliti berikutnya, dapat dijadikan bahan masukan atau referensi
dalam melakukan penelitian terkait studi kelayakan ekowisata danau.
F. Struktur Organisasi Skripsi
Untuk memudahkan dalam memahami isi penulisan dari penelitian ini,
maka pembahasan akan diuraikan dalam lima bab, dengan struktur organisasi
sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan
Pendahuluan berisi latar belakang penelitian, identifikasi masalah
penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitiann, manfaat penelitian,
struktur organisasi skripsi dan keaslian penelitian.
BAB II Kajian Pustaka
Tinjauan pustaka mempunyai peran yang sangat penting. Dalam tinjauan
pustaka terdapat uraian tentang studi kelayakan ekowisata, prinsip dan
karakteristik ekowisata,pendekatan pengembangan ekowisata, potensi ekowisata,
partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam ekowisata, pengertian ekosistem
danau dan pemanfaatan ekosistem dalam ekowisata, studi kelayakan ekowisata,
analisis geografi dalam ekowisata, masyarakat dan wisatawan dalam ekowisata,
upaya konservasi dan ekosistem danau sebagai objek ekowisata.
BAB III Metode Penelitian
Bab III berisi penjabaran yang rinci mengenai metode penelitian, termasuk
beberapa komponen lainnya seperti lokasi dan subjek populasi/sampel penelitian,
desain penelitian, variabel penelitian, metode penelitian, pendekatan penelitian,
definisi operasional, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, alat
pengumpulan data, teknik pengolahan data dan analisis data.
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
11
Bab hasil penelitian dan pembahasan terdiri atas gambaran umum daerah
penelitian, hasil dan pembahasan penelitian dan implikasi penelitian terhadap
pendidikan geografi.
BAB V Kesimpulan dan Saran
Bab kesimpulan dan saran menyajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti
terhadap hasil analisis temuan penelitian.
G. Keaslian Penelitian
Keaslian penelitian dibuat untuk mengetahui persamaan dan perbedaan
penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian sebelumnya yang pernah
dilakukan.
Penelitian ini berjudul Analisis Geografis Kelayakan Situ Lengkong
Panjalu sebagai objek wisata Berbasis Ekowisata. Situ Lengkong sebagai suatu
objek wisata yang memiliki keankearagaman hayati dan budaya memiliki daya
tarik untuk dapat dikaji dari berbagai bidang. Beberapa penelitian yang pernah
dilakukan di Situ Lengkong Panjalu diantaranya mengenai nilai ekonomi wisata
Situ Lengkong, dan inventarisasi peluang dan pengembangan ekowisata Situ
Lengkong.
Penelitian terkait Inventarisasi Peluang dan Pengembangan Ekowisata Situ
Lengkong diteliti oleh Hani Agustin pada tahun 2006 dan penelitian tentang Nilai
Ekonomi Wisata Situ Lengkong yang diteliti oleh R.Muhamad Juwarno Ridha
pada tahun 2007 memiliki persamaan lokasi penelitian dengan penelitian ini.
Sedangkan perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Hani dan R.Muhamad
dengan penelitian ini terletak pada rumusan masalah, tujuan, dan variabel
penelitian.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Hani Agustin yaitu terkait
inventarisasi potensi peluang dan pengembangan ekowisata Situ Lengkong
Panjalu. Hasil dari penelitian tersebut diantaranya adalah kawasan wisata Situ
Lengkong Panjalu memiliki kekuatan seperti keanekaragaman hayati perairan dan
ekosistem, kondisi perairan tidak tercemar, memiliki jenis tumbuhan air yang
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
12
memiliki nilai estetika dan mampu menetralisir pencemaran lingkungan, memiliki
daya tarik/potensi sebagai ekowisata, potensi budaya lokal dan dukungan dari
masyarakat. Selain itu, kawasan Situ Lengkong Panjalu memiliki kondisi
geografis yang strategis, mendapat dukungan dari pemerintah pusat, aksesibilitas
yang mudah dan memadai.
Akan tetapi, berdasarkan hasil penelitian Hani
disebutkan bahwa pengetahuan stakeholder terkait ekowisata masih kurang.
Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 2006, dan dari hasil penelitian
disebutkan bahwa kondisi perairan tidak tercemar karena Situ Lengkong Panjalu
memilki tumbuhan air yang mampu menetralisir pencemaran lingkungan. Dari
hasil penelitian tersebut tidak disebutkan bahwa Situ Lengkong telah mengalami
pendangkalan akibat rusaknya lingkungan sekitar situ. Sedangkan berdasarkan
wawancara dengan beberapa masyarakat yang tinggal di sekitar situ menyatakan
bahwa pendangkalan situ telah terjadi sejak sepuluh tahun yang lalu yang
disebabkan oleh pembuangan limbah rumahtangga ke dalam situ dan kurangnya
kesadaran wisatawan yang membuang sampah kedalam situ.
Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji ulang kelayakan potensi wisata
Situ Lengkong untuk dijadikan objek ekowisata. Selain itu, perlu diadakannya
pengukuran tingkat persepsi masyarakat dan wisatawan terkait fungsi ekosistem
Situ Lengkong tehadap kelangsungan hidup ekosistem yang ada di dalamnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Mohamad Said dilakukan di Indramayu
dengan rumusan masalah terkait tingkat kelayakan kawasan Pantai Eretan Kulon
Indramayu untuk dikembangkan menjadi kawasan kegiatan ekowisata, mengenai
perkembangan usaha yang dilakukan masyarakat yang sesuai dengan kegiatan
ekowisata, mengenai sikap masyarakat terhadap pengembangan ekowisata dan
mengenai upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mendukung kelayakan
dan pengembangan Pantai Eretan Kulon Indramayu sebagai kawasan ekowisata.
Penelitian selanjutnya adalah penelitian yang dilakukan oleh Ash
Shiddieqy. Penelitian tersebut dilakukan di Kepulauan Riau dengan rumusan
masalah terkait kondisi biofisik ekosistem mangrove dan cara menentukan
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
13
kelayakan Sungai Carang sebagai ekowisata mangrove yang didasarkan pada
pembobotan dan skor.
Penelitian terakhir yang mengkaji ekowisata adalah penelitian Marina Bela
Norika yang berlokasi di Kabupaten Bandung dengan rumusan masalah
diantaranya adalah terkait potensi yang mendukung jawasan Konservasi Taman
Buru Gunung Masigit Kareumbi sebagai ekowisata, zonasi ekowisata yang ada di
Kawasan Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, dan upaya yang
dilakukan pengelola agar tidak terjadi kepunahan bagi flora dan fauna yang ada di
Kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh
Mohamad Said, Ash Shiddieqy dan Marina Bela Norika terletak pada rumusan
masalah, tujuan dan variabel penelitian.
Untuk mengetahui perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan
penelitian sebelumnya secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 1.2
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
13
Tabel 1.2
Keaslian Penelitian
No
Nama
Tahun
Penelitian
Judul
Masalah
Tujuan
1.
Hani
Agustin
2006
Inventarisasi
Potensi dan
Peluang
Pengembang
-an
Ekowisata
Situ
Lengkong
Panjalu,
Kecamatan
Panjalu,
Kabupaten
Ciamis Jawa
Barat
1. Faktor-faktor apa yang
menjadi kekuatan,
kelemahan, peluang dan
ancaman dalam mengelola
kawasan Situ Lengkong ?
2. Faktor-faktor apa yang
menentukan pengelolaan
dan peluang pengembangan
di kawasan wisata Situ
Lengkong Panjalu ?
3. Bagaimana alternatif
strategi pengembangan
kawasan wisata Situ
Lengkong Panjalu ?
1. Menginventarisasi dan
mengkaji potensi wisata
alam dan wisata budaya di
kawasan wisata Situ
Lengkong Panjalu
2. Mengetahui persepsi
masyarakat terhadap
pengelolaan yang ada
sekarang atau yang akan
dikembangkan di kawasan
wisata Situ Lengkong
Panjalu
3. Mengetahui faktor-faktor
kekuatan dan kelemahan
serta peluang dan ancaman
yang terdapat di dalam
pengelolaan objek wisata
alam dan wisata budaya di
kawasan ekowisata Situ
Lengkong Panjalu
4. Merumuskan alternatif
strategi pengembangan
wisata alam dan wisata
budaya yang berkelanjutan
di kawasan wisata Situ
Lengkong Panjalu.
2.
R M.
Juwarno
Ridha
2007
Nilai
Ekonomi
Wisata
Kawasan
Situ
Lengkong
Panjalu
Kabupaten
Ciamis
dengan
1. Bagaimana nilai ekonomi
1. Tujuan dari penelitian ini
kawasan Situ Lengkong
adalah untuk mengetahui
Panjalu berdasarkan analisis
nilai ekonomi wisata
metode kontingensi melalui
kawasan Situ Lengkong
pendekatan kesediaan
Panjalu sebagai kawasan
membayar dan di bayar
wisata yang mempunyai
masyarakat di lokasi
fungsi ekologi bagi
tersebut ?
kelestarian kawasan Situ
Lengkong dan Cagar Alam
Panjalu dengan
Metode
Metode
Deskriptif
Metode
Survei
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Variabel
Hasil yang diharapkan
Variabel dari
penelitian ini
diantaranya
adalah :
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi
pengembangan
wisata di Situ
Lengkong
meliputi :
1. Faktor Internal
(potensi daerah,
pengetahuan
operator wisata,
partisipasi
masyarakat
lokal)
2. Faktor Eksternal
(kesadaran
wisatawan,
kegiatan
pendidikan dan
penelitian)
3. Faktor Struktural
(kelembagaan,
kebijakan,
perundangan dan
peraturan)
Yang dijadikan
variabel dalam
penelitian ini
adalah kesediaan
membayar dan
dibayar
masyarakat yang
berada di lokasi
penelitian, yang
berpengaruh
1. Kawasan Wisata Situ Lengkong Panjalu memiliki
kekuatan seperti keankearagaman hayati perairan
dan ekosistem ,kondisi perairan tidak tercemar,
memiliki jenis tumbuhan air yang memiliki nilai
estetika dan mampu menetralisir pencemaran
lingkungan, memiliki daya tarik/potensi sebagai
ekowisata, potensi budaya lokal dan dukungan dari
masyarakat.
2. Peluang yang terdapat di kawasan Situ Lengkong
Panjalu adalah memiliki kondisi geografis yang
strategis, mendapat dukungan dari pemerintah
pusat , aksesibilitas yang mudah dan memadai.
3. Berdasarkan analisis SWOT di kawasan Situ
Lengkong Panjalu, pengelola perlu mengambil
strategi S-O, yaitu dengan memanfaatkan peluang
yang terdapat di kawasan Situ Lengkong Panjalu
1. Nilai total kesediaan nmembayar responden
penelitian (Rp/tahun) = Rp 701.147.640, 51 dengan
rata-rata nilai kesediaan membayar (per/orang) =
Rp 3.193,92.
2. Sedangkan nilai total kesediaan dibayar responden
penelitian (Rp/tahun) = Rp 877.092.044,13 dengan
rata-rata nilai kesediaan dibayar (per/orang) = Rp
3.995,37.
3. Nilai kesediaan membayar yang lebih besar dari
pendapatan melalui retribusi sebesar Rp
14
Metode
Kontingen si
3.
Mohamad
Said
2010
Studi
Kelayakan
Pantai
Eretan
Kulon
Kecamatan
Kandanghau
r sebagai
Kawasan
Ekowisata
Kabupaten
Indramayu
4.
Ash
Shiddieqy
2014
Kelayakan
Ekowisata
menggunakan metode
kontingensi melalui
pendekatan nilai kesediaan
membayar dan dibayar
masyarakat.
1. Bagaimanankah tingkat
kelayakan kawasan Pantai
Eretan Kulon Indramayu
untuk dikembangkan
menjadi kawasan kegiatan
ekowisata ?
2. Bagaimanakah
perkembangan usaha yang
dilakukan masyarakat di
Kawasan Pantai Eretan
Kulon Indramayu yang
sesuai dengan kegiatan
ekowisata ?
3. Bagaimanakah sikap
masyarakat Pantai Eretan
Kulon Indramayu terhadap
pengembangan ekowisata
Pantai Eretan Kulon
Indramayu ?
4. Upaya yang dilakukan oleh
masyarakat dan pemerintah
setempat dalam mendukung
kelayakan dan
pengembangan Pantai
Eretan Kulon Indramayu
sebagai kawasan ekowisata
?
1. Bagaimana kondisi biofisik
ekosistem mangrove
1. Menganalisis sejauh mana
kelayakan Pantai Eretan
Kulon Kecamatan
Kandanghaur sebagai
Kawasan Ekowisata
Kabupaten Indramayu.
2. Mengidentifikasi
perkembangan usaha
masyarakat Pantai Eretan
Kulon Kecamatan
Kandanghaur Kabupaten
Indramayu yang sesuai
dengan ekowisata.
3. Mengidentifikasi sikap
masyarakat Pantai Eretan
Kulon Indramayu terhadap
pengembangan Pantai
Eretan Kulon sebagai
Kawasan Ekowisata di
Kabupaten Indramayu.
4. Mengetahui upaya yang
dilakukan masyarakat dan
pemerintah setempat dalam
mendukung kelayakan dan
pengembangan Pantai
Eretan Kulon Indramayu
sebagai kawasan ekowisata.
1. Mengetahui kondisi biofisik
ekosistem mangrove
terhadap nilai
ekonomi wisata
kawasan Situ
Lengkong.
Metode
Deskriptif
Kuantitatif
Metode
Survei
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
113.357.640,51 menjadi surplus konsumen.
4. Faktor
yang
mempengaruhi
kesediaan
membayar/dibayar responden yaitu dipengaruhi
oleh tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, jumlah
tanggungan keluarga dan kondisi Situ Lengkong itu
sendiri.
5. Hasil penelitian ini berguna dalam penyempurnaan
pengelolaan kawasan Situ Lengkong Panjalu
dengan mendapat gambaran nilai ekonomi wisata
kawasan Situ Lengkong Panjalu ini untuk
pengelolaan ke depannya supaya sumberdaya yang
ada tetap lestari dan tidak terjadi penurunan
kualitas.
Variabel dari
1. Secara umum dukungan kelayakan dari segi fisik
penelitian ini
dan sosial mendukung pada dukungan kelas II,
diantaranya
yang berarti bahwa dari segi faktor fisik dan sosial
adalah :
budaya mempunyai dukungan yang besar terhadap
Kelayakan Pantai
dukungan kelayakan kawasan Pantai Eretan Kulon
Eretan Kulon
Kecamatan
Kandanghaur
sebagai
kawasan
meliputi :
ekowisata.
1. Faktor
2. Masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dapat
pendukung
diikutserrtakan dalam kegiatan ekowisata yakni
kelayakan
sebagai pemasok ikan segar untuk para
2. Wisatawan
pengunjung, dapat menyewakan perahu, untuk
3. Upaya
kegiatan berperahu maupun memancing dengan
pengembangan
menggunakan perahu nelayan. Berperahu dapat
ekowisata
dilakukan untuk mengamati vegetasi mangrove
beserta keragaman flora dan faunanya.
3. Sebagian besar masyarakat dan wisatawan sangat
setuju terhadap pengembangan Pantai Eretan Kulon
sebagai Kawasan Ekowisata karena dapat
memberikan peluang kerja bagi masyarakat.
4. Upaya yang dilakukan pemerintah dan bekerjasama
dengan masyarakat dan LSM diantaranya adalah
dengan melakukan program rehabilitasi hutan
mangrove yang ada di pesisir Indramayu,
membangun break water disepanjang pantai agar
tingkat abrasi dapat di redam, membuat PERDA
atau papan informasi mengenai kawasan konservasi
di sekitar Pantai Eretan Kulon Indramayu.
Yang dikaji
1. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa
didalam
perairan Sungai Carang memiliki enam family dan
15
Mangrove
Arungan
Sungai di
Sungai
Carang
Berdasarkan
pada
Biofisik
Mangrove
5.
6.
Marina
Bela
Norika
Triana
Kusuma
wati
2014
2015
arungan sungai di Sungai
Carang ?
2. Bagaimana cara
menentukan kelayakan
Sungai Carang sebagai
ekowisata mangrove
arungan sungai berdasarkan
bobot dan skor ?
2. Menetukan kelayakan
Sungai Carang sebagai
ekowisata mangrove
arungan sungai berdasarkan
bobot dan skor.
penelitian ini
yaitu kondisi
biofisik
ekosistem
mangrove Sungai
Carang
Potensi
1. Potensi apa saja yang
1. Menganalisis potensi yang
Ekowisata di
mendukung Kawasan
mendukung Kawasan
Kawasan
Konservasi Taman Buru
Konservasi Taman Buru
Taman Buru
Gunung Maigit Kareumbi
Gunung Masigit Kareumbi
Gunung
sebagai ekowisata ?
sebagai ekowisata
Masigit
2. Bagaimana zonasi
2. Memetakan zonasi
Kareumbi
ekowisata yang ada di
ekowisata di Kawasan
Kawasan Konservasi
Konservasi Taman Buru
Taman Buru Gunung
Gunung Masigit Kareumbi
Masigit Kareumbi ?
3. Mengidentifikasi upaya
3. Bagaimana upaya dari
dari pengelola agar tidak
pengelola agar tidak terjadi
terjadi kepunahan bagi
kepunahan bagi flora dan
flora dan fauna yang ada di
fauna yang ada di Kawasan
Kawasan Konservasi
Taman Buru Gunung
Taman Buru Gunung
Masigit Kareumbi ?
Masigit Kareumbi
Metode
Deskriptif
Analisis
Geografis
Studi
Kelayakan
Situ
Lengkong
Panjalu
sebagai
Metode
Survei
Deskriptif
1. Apakah aspek fisik, atraksi 1. Menganalisis kelayakan
alam, atraksi sosial budaya
Situ Lengkong Panjalu
masyarakat, aksesibilitas
untuk dijadikan sebagai
dan fasilitas wisata Situ
objek wisata berbasis
Lengkong Panjalu layak
ekowisata dilihat dari aspek
dijadikan sebagai objek
fisik, atraksi alam, atraksi
wisata berbasis ekowisata
sosial budaya masyarakat,
?
aksesibilitas dan fasilitas
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Variabel dari
penelitian ini
adalah ekowisata
dengan sub
variabel :
1. Lingkungan
(iklim,
morfologi,
hidrologi, flora,
fauna)
2. Masyarakat
(ekologi, sosial,
ekonomi)
3. Pendidikan
(pengalaman
berpariwisata,
pemahaman
akan
lingkungan)
4. Manajemen
(pengelolaan,
sarana dan
prasarana,
promosi)
Variabel
Kelayakan Situ
Lengkong
Panjalu meliputi :
1. Atraksi Alam
2. Atraksi Sosial
Budaya
Masyarakat
2.
1.
2.
3.
delapan spesies mangrove, dengan kerapatan ratarata 8ind/100 m2. Sedangkan biota yang berasosiasi
di ekosistem mangrove ini terdapat jenis burung,
reptil, ikan, udang, kepiting, moluska.
Setelah dilakukan penilaian kelayakan skor dan
bobot, Sungai Carang memiliki kategori sedang
dengan nilai skor 1,72. Sungai Carang perlu
pengelolaan yang bersifat keberlanjutan jika ingin
dijadikan tempat ekowisata yang memiliki nilai jual
tinggi.
Adanya potensi ekowisata dalam aspek fisik,
aksesibilitas dan sarana dan prasarana, dimana
setiap aspek memiliki keunggulan masing-masing.
Dibuatkannya peta zonasi ekowisata pada kawasan
Konservasi Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi
yang disesuaikan dengan kondisi dilapangan dan
teori yang ada.
Upaya
yang dilakukan pengelola dalam
pengembangan kawasan berjalan cukup baik meski
tanpa bantuan pihak pemerintah namun pengelola
dapat mengembangkan kawasan walaupun dengan
hasil yang belum maksimal. Pengelola membuat
program wali pohon dan penangkaran rusa sebagai
upaya untuk pelestarian flora dan fauna yang ada di
kawasan konservasi agar tidak terjadi kepunahan
ekosistem bila nanti daya tarik wisata berburu telah
dibuka.
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini yaitu :
1. Mengeksplorasi potensi wisata yang terdapat di
Situ Lengkong Panjalu, baik dari segi fisik
maupun sosial.
2. Diperolehnya skala kelayakan ekowisata yang
dimiliki oleh Situ Lengkong Panjalu, dilihat dari
aspek fisik, atraksi alam, atraksi sosial budaya
masyarakat, aksesibilitas menuju lokasi wisata,
16
Objek
Ekowisata
Kabupaten
Ciamis
2. Bagaimana tingkat
kelayakan ekowisata Situ
Lengkong Panjalu dilihat
dari masyarakat dan
wisatawan yang
berkunjung?
3. Bagaimana upaya
pengelola dalam
mengkonservasi wisata
Situ Lengkong Panjalu ?
wisata.
2. Menganalisis tingkat
kelayakan ekowisata Situ
Lengkong Panjalu dilihat
dari masyarakat dan
wisatawan yang
berkunjung.
3. Menganalisis upaya
pengelola dalam
mengekonservasi wisata
Situ Lengkong Panjalu.
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
3. Aksesibilitas
4. Sarana dan
Prasarana
5. Wisatawan
6. Masyarakat
Lokal
7. Pengelola
Wisata
sarana dan prasarana (fasilitas wisata), dilihat dari
perilaku masyarakat dan wisatawan yang
berkunjung.
3. Melalui analisis upaya yang telah dilakukan oleh
pengelola wisata dalam mengatasi penurunan
kualitas ekosistem diharapkan dapat diketahui
lebih lanjut upaya pengelolaan situ yang lebih
berwawasan lingkungan tanpa mengurangi nilai
potensi wisata itu sendiri.
11
Triana Kusumawati, 2015
ANALISIS GEOGRAFIS KELAYAKAN SITU LENGKONG PANJALU SEBAGAI OBJEK WISATA BERBASIS
EKOWISATA
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Download