Pengaruh Pemberian Monosodium Glutamat pada Induk Tikus Selama Gestasi terhadap Regenerasi Sel Saraf Korteks Motorik Otak Neonatus Tikus Nadiyya Faza Zhafiraha dan Ahmad Aulia Jusufb a Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan bDepartemen Histologi Universitas Indonesia E-mail: [email protected] Abstrak Monosodium glutamat (MSG) digunakan secara luas dan tanpa takaran yang terkontrol sebagai penyedap makanan. Konsumsi MSG selama kehamilan pada hewan coba menyebabkan berbagai gangguan pada janin salah satunya adalah sel otak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh MSG terhadap gambaran histologis otak bagian korteks serebri pusat motorik tikus yang induknya mengonsumsi MSG selama kehamilan. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan cara mengamati dan menghitung sel saraf normal pada area M1 korteks serebri neonatus tikus yang induknya diberikan MSG per oral selama gestasi. Sampel yang digunakan sebanyak 36 otak tikus yang dibagi menjadi empat kelompok: kontrol, MSG 1200 mg/kg BB, MSG 2400 mg/kg BB, dan MSG 4800 mg/kg BB. Hasil penelitian menunjukkan adanya pertambahan persentase sel-sel saraf normal pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol. Walaupun pertambahan ini tidak signifikan secara statistik pada kelompok MSG 1200 mg/kg BB dan MSG 4800 mg/kg BB (uji one way Anova), namun kelompok MSG 2400 mg/kg BB mengalami pertambahan signifikan (p<0,05) pada kelompok usia 1,7, dan 14 hari berturut-turut sebesar 46,89%, 48,59%, dan 64,85%. Hasil ini mengindikasikan adanya proses regenerasi sel-sel saraf normal pada area M1 korteks serebri otak tikus yang sel sarafnya mengalami kerusakan akibat pemberian MSG. The Effect of Monosodium Glutamate Administration during Pregnancy on Brain Neuroregeneration in Rat Neonates Motoric Cortex Abstract Monosodium glutamate (MSG) is widely used without any regulation or controlled doses in Indonesia. MSG consumption during pregnancy on rat causes many defects on fetus especially brain neurons. The purpose of this study was to determine the effect of MSG on the histology of motoric center on cerebral cortex of the rats. This study design was experimental by observing and counting the normal neurons on M1 area of rat neonates’ cerebral cortex whose mother received MSG per oral during the gestation period. This study used 36 rat brains which were divided into four groups: control, MSG 1200 mg/kg BW, MSG 2400 mg/kg BW, and MSG 4800 mg/kg BW. The result showed an increased percentage of normal neurons on MSG group compared to control group. This increment is not significant statiscally on group MSG 1200 mg/kg BW and 4800 mg/kg BW. Nevertheless, on group who was given MSG 2400 mg/kg BW, there was a significant increased of normal 1 neuron percentage (p<0,05) on mice aged 1, 7, and 14 days, consecutively, 46,89%, 48,59%, dan 64,85%. This result implied that there could be neuroregeneration process on M1 area of rat neonates’ cerebral cortex whose neuron were damaged because of MSG administration. Keywords: brain; monosodium glutamate; neuroregeneration Pendahuluan Penggunaan monosodium glutamat (MSG) secara luas dan tanpa takaran yang terkontrol sebagai penyedap makanan akhir-akhir ini menimbulkan kekhawatiran baik dari kalangan medis maupun kaum ibu akan efek sampingnya pada kemampuan berpikir anak. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan produksi MSG secara global dari 200.000 ton/tahun pada 1969 yang menjadi 800.000 ton/tahun pada 2001.1 Laporan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007 pun menunjukkan bahwa prevalensi konsumsi penyedap makanan oleh penduduk berusia lebih dari 10 tahun mencapai 77,8%.2 Sampai saat ini, Indonesia belum memiliki peraturan yang mengatur kadar MSG yang diperbolehkan sehingga kadar MSG yang digunakan dalam makanan tidak terkontrol. Penelitian selama ini mengindikasikan bahwa MSG memiliki kemampuan menembus sawar plasenta dan sawar darah otak.3 Studi pada embrio mencit pada tahun 2006 menemukan bahwa pemberian MSG pada induk sebanyak 0,1 mL/10 g BB selama masa kehamilan menyebabkan gangguan perkembangan embrio.4 Ibu yang selama masa gestasi mengonsumsi MSG bahkan memiliki risiko yang lebih besar melahirkan anak dengan kerusakan hipotalamus, defisiensi hormon pertumbuhan, dan berujung pada obesitas.5,6 Sebuah studi (Yuliana, 2012, unpublished) baru-baru ini menemukan bahwa pada neonatus tikus usia 1 hari yang selama masa gestasi induknya diberikan MSG terdapat kerusakan pada sel-sel saraf korteks serebri pusat sensoris yang diikuti dengan peningkatan kepadatan sel saraf jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini mengindikasikan adanya mekanisme kompensasi atau kemampuan sel saraf untuk beregenerasi. Penelitian lain menyatakan bahwa sel saraf yang rusak akibat MSG dapat mengalami regenerasi setelah diinjeksikan sel punca secara intracerebroventricular.7 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah benar terjadi mekanisme regenerasi pada sel saraf otak yang yang mengalami kerusakan akibat MSG yang dipercaya bersifat irreversible. Penelitian ini menyelidiki lebih lanjut tentang adanya kemungkinan mekanisme 2 kompensasi alami sel saraf yang mengalami jejas akibat MSG setelah administrasi MSG dihentikan. Tinjauan Teoritis Mekanisme pasti dari kematian sel saraf yang diinduksi oleh eksitotoksin seperti MSG belum diketahui. Namun, diduga bahwa toksisitas yang diinduksi glutamat ini terjadi melalui mekanisme nekrosis dan apoptosis. 7 Kemampuan glutamat untuk merusak neuron diduga dimediasi oleh interaksinya dengan reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA) yang berujung pada peningkatan kalsium intraseluler. Pajanan berlebihan terhadap neurotransmitter glutamat memicu terjadinya overstimulasi reseptor membran dan berujung pada kerusakan sel—proses patologis yang disebut eksitotoksisitas.8 Suatu penelitian (Alao OA et al., 2010) menunjukkan kerusakan neuron yang lebih parah pada kelompok tikus yang diberikan MSG oral dengan dosis besar jangka pendek dibandingkan dengan kelompok tikus yang diberikan MSG oral dengan dosis rendah jangka panjang. Bahkan degenerasi terus belanjut pada masa withdrawal dan terjadi kegagalan regenerasi pada masa ini. 9 Pada penelitian ini dipilih area motorik primer (M1) karena dalam masa embrio, korteks serebri dipercaya membutuhkan waktu yang lama untuk tumbuh dan berkembang sempurna. Selain itu, nukleus motorik terbentuk lebih awal daripada nukleus sensorik.10 Hal ini memungkinkan area motorik pada korteks serebri terkena pengaruh paling besar jika diberikan pajanan terhadap zat tertentu pada janin. Selama ini dipercaya bahwa kerusakan neuron di sistem saraf pusat bersifat irreversible. Namun, di otak mamalia terdapat prekursor sel neuron di zona subventrikel dan zona subgranula pada girus dentatus hipokampus yang mengindikasikan bahwa dapat terjadi neurogenesis walaupun terbatas. Sel prekursor ini dapat bermigrasi ke bulbus olfaktorius, lapisan sel granular, dan dapat pula bermigrasi ke striatum, regio CA1 hipokampus atau korteks serebral.11 3 Metode Sumber data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data primer sediaan histologi otak neonatus tikus dari hasil eksperimen dr. Ida Yuliana, M.Biomed dengan judul penelitian Gambaran Histologis Serebrum Neonatus Tikus Sprague Dawley yang Induknya Terpapar Monosodium L-Glutamat Selama Gestasi dan dr. Lucky Brilliantina, M.Biomed dengan judul penelitian Pengaruh Pemberian Monosodium Glutamat pada Induk Tikus Hamil terhadap Berat Badan dan Perkembangan Otak Anaknya pada Usia 7 dan 14 Hari terhadap tikus putih betina strain Sprague Dawley yang sehat, berusia 2-6 bulan dengan berat 150-200 gram. Sebanyak 5 tikus betina masing-masing dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok perlakuan dosis MSG 1200 mg/kg BB, kelompok perlakuan dosis MSG 2400 mg/kg BB, dan kelompok perlakuan dosis MSG 4800 mg/kg BB. Penelitian dilakukan di Laboratorium Departemen Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. MSG yang digunakan adalah sodium l glutamat monohydrate (C5H8NNaO4) dari Merck Jerman dalam bentuk kristal putih, LD50 15800 mg/kgBB. Tikus betina pada kelompok perlakuan diberikan MSG selama masa kehamilan dengan cara dicekok menggunakan sonde lambung. Sedangkan, tikus betina pada kelompok kontrol diberikan makan dan minum secara ad libitum tanpa MSG. Neonatus tikus dibius dan otak bagian serebrumnya diambil, dipotong pada daerah korteks serebrum area M1, dan diwarnai dengan pulasan hematoksilin dan eosin (HE). Dipilih 3 sediaan histologis untuk tiap kelompok umur dan kelompok perlakuan. Pengamatan dilakukan dibawah mikoskop elektrik yang tersambung dengan alat Optilab. Sel saraf normal dan tidak normal pada area M1 korteks serebrum dihitung menggunakan aplikasi Image Raster. Analisis statistik Data disajikan dalam mean atau median dan standar deviasi. Variabel-variabel kuantitatif ini diuji menggunakan uji ANOVA yang dilanjutkan dengan uji post-hoc LSD jika terdapat perbedaan statistik yang signifikan dalam kelompok yang ditandai dengan nilai p < 0.05. 4 Hasil Data yang didapatkan dari hasil penghitungan jumlah sel saraf normal pada daerah M1 korteks serebri tikus usia 1 hari, 7 hari, dan 14 hari dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dan didapatkan bahwa semua data terdistribusi normal (p > 0,05). Semua data juga diketahui bersifat homogen (p > 0,05) setelah dilakukan uji Levene. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan uji parametrik one way Anova. Kelompok data dengan varians yang tidak homogen (p > 0,05) dianalisis menggunakan uji parametrik Kruskal-Wallis. Selain sel saraf normal, pada penelitian ini ditemukan sel saraf rusak pada sediaan korteks serebri area M1 pada kelompok perlakuan yang diberi berbagai dosis MSG yang ditandai dengan sel saraf yang piknotik (gambar 1). Gambar 1. Gambaran histologis otak tikus area M1 korteks serebri. Panah: sel piknosis; kepala panah: sel saraf normal. Skala 20μm; HE; 40 x Hari 1 Hari 7 Kontrol 5 Hari 14 MSG 1200 mg MSG 2400 mg MSG 4800 mg Gambar 2. Gambaran histologis area M1 korteks serebri neonatus tikus pada berbagai kelompok perlakuan. Skala 20μm; HE; 40 x. Gambaran histologis korteks serebri pada hari 1 pada berbagai kelompok perlakuan tampak lebih padat daripada hari 7 dan hari 14 namun didominasi sel saraf yang tidak normal. Kerusakan sel saraf dapat dinilai pada saat lahir (hari 1) yaitu tikus yang menerima MSG dengan dosis terbesar memiliki persentase sel saraf normal terkecil (Tabel 1). Tabel 1. Hasil analisis uji one way anova persentase sel saraf normal pada tikus usia 1 hari Tikus usia 1 hari Kelompok n Rerata ± s.b. kontrol 3 68.98 ± 4.56 1200 mg/kg BB 3 50.59 ± 2.59 2400 mg/kg BB 3 46.89 ±2.23 4800 mg/kg BB 3 39.93 ±6.70 6 p 0.000 Adanya pertambahan persentase sel saraf normal pada area M1 korteks serebri neonatus tikus pada berbagai kelompok dapat dilihat pada gambar 3. 90 80 70 60 50 Hari 1 40 Hari 7 30 Hari 14 20 10 0 Kontrol MSG 1200 mg/kg BB MSG 2400 mg/kg BB MSG 4800 mg/kg BB Gambar 3. Rata-rata persentase sel saraf normal pada area M1 korteks serebri neonatus tikus pada kelompok kontrol dan perlakuan Dari penghitungan sel saraf normal area M1 korteks serebri kelompok kontrol pada usia neonatus yang berbeda (usia 1, 7, dan 14 hari) didapatkan persentase seperti pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Hasil analisis uji Kruskal-Wallis persentase sel saraf normal kelompok kontrol Usia n Median (min-maks) Rerata ± s.b. p 1 3 70.37 (68.89-72.20) 70.48 ± 1.65 0.113 7 3 76.47 (75-78) 76.49 ± 1.50 14 3 81.16 (70.73-82.69) 78.19 ± 6.50 (hari) Kelompok Kontrol Pada tabel 2, dapat dilihat bahwa rerata sel saraf normal pada kelompok kontrol usia 1, 7, dan 14 hari menunjukkan adanya peningkatan jumlah persentase sel saraf normal pada korteks serebri yang tidak bermakna (p = 0.113) secara statistik. Hasil penghitungan sel saraf normal area M1 korteks serebri pada kelompok perlakuan yang induknya diberikan MSG selama masa gestasi menunjukkan hasil seperti pada tabel 3. 7 Tabel 3. Hasil analisis uji one way anova persentase sel saraf normal pada neonatus tikus yang induknya diberikan MSG selama gestasi Usia n rerata ± s.b. p (hari) Perlakuan 1200 mg/kg BB Perlakuan 2400 mg/kg BB Perlakuan 4800 mg/kg BB 1 3 58.66 ± 1.14 7 3 38.91 ± 6.44 14 3 63.64 ± 1.22 1 3 46.89 ± 2.23 7 3 48.59 ±7.93 14 3 64.85 ± 5.05 1 3 39.93 ± 6.70 7 3 49.01 ± 1.06 14 3 54.59 ±4.19 0.057 0.014 0.139 Uji post-hoc LSD kelompok perlakuan MSG 2400 mg/kg BB: hari 1 vs hari 14 p = 0.008; hari 7 vs hari 14 p = 0.012; hari 0 vs hari 7 p = 0.772 Pada kelompok perlakuan MSG 1200 mg/kg BB, terdapat penurunan presentase sel saraf normal pada kelompok neonatus tikus usia 7 hari yang diikuti peningkatan presentase sel saraf normal pada neonatus tikus usia 14 hari namun hasil ini tidak bermakna secara statistik (p = 0,057). Pada kelompok perlakuan MSG 2400 mg/kg BB, terjadi peningkatan rerata persentase sel saraf normal yang bermakna (p = 0,014) pada neonatus tikus usia 1, 7, dan 14 hari. Sedangkan, kelompok perlakuan MSG 4800 mg/kg BB menunjukkan peningkatan rerata persentase sel saraf normal pada neonatus tikus usia 1,7, dan 14 hari namun tidak bermakna (p = 0,139) secara statistik. Diskusi MSG diketahui memiliki efek eksitotoksik sehingga pada berbagai penelitian terbukti meningkatkan jumlah sel saraf yang rusak.12,13,14 Pada penelitian sebelumnya (Yuliana, 2012, unpublished), didapatkan bahwa pemberian MSG pada induk tikus selama masa gestasi memiliki efek peningkatan jumlah sel saraf yang rusak dan peningkatan kepadatan sel saraf secara umum. 8 Analisis persentase sel saraf normal tikus usia 1 hari menunjukkan bahwa semakin besar dosis MSG maka semakin rendah persentase sel saraf yang normal. Hal ini sesuai dengan penelitian (Xiong JS et al., 2009) yang menunjukkan bahwa kemampuan MSG merusak sel neuron yang dikultur berbanding lurus dengan dosis dan lamanya pajanan. Selain itu, pada penelitian tersebut juga diketahui bahwa MSG ternyata tidak merusak sel glia dan hanya spesifik merusak sel saraf.15 Secara umum, adanya pertambahan persentase sel saraf normal secara bermakna pada kelompok dosis MSG 2400 mg/kgBB menunjukkan adanya mekanisme regenerasi sel saraf korteks serebri. Namun, pemberian MSG sebesar 1200 mg/kgBB dan 4800 mg/kgBB pada induk tikus selama gestasi ternyata memberikan hasil berupa peningkatan persentase sel saraf normal walaupun tidak bermakna secara statistik. Pada kelompok perlakuan MSG 1200 mg terjadi suatu fenomena dimana pada hari 7 terjadi penurunan presentase sel saraf yang normal. Peneliti menduga bahwa pada hari 7 ini lebih banyak jumlah sel saraf yang mengalami kerusakan akibat pengaruh MSG namun tidak diiringi pematangan sel punca yang adekuat. Pada hari 14, pengaruh MSG sudah hilang dan sel punca sudah matur alhasil terjadi peningkatan presentase sel saraf yang normal. Dari hasil ini, peneliti menarik kesimpulan bahwa dosis 1200 mg terlalu rendah untuk menghasilkan efek regenerasi sel saraf sedangkan pada dosis 4800 mg tidak diperoleh efek regenerasi yang berarti karena terlalu banyak sel saraf yang rusak akibat efek eksitotoksik sehingga kerusakan yang parah ini tidak berhasil dikompensasi oleh sel-sel punca di otak. Hal ini juga mungkin dipengaruhi adanya neurodegenerasi yang berlanjut walaupun administrasi MSG sudah dihentikan.16 Keberadaan sel punca neural di sistem saraf pusat dan kemampuan untuk mengatur jumlah dan nasib sel-sel ini dapat menjadi salah satu hal yang mempengaruhi terjadinya regenerasi sel saraf.17 Beberapa studi menunjukkan bahwa cell genesis dan plastisitas sinaps sel-sel punca ini dapat dipengaruhi oleh stres.18 19,20,21 Walaupun belum ada penelitian yang mengemukakan efek langsung MSG pada regenerasi sel saraf, namun diduga hal ini ada kaitannya dengan sifat eksitotoksisitas glutamat pada sel saraf yang diasosiasikan dengan anoksia dan iskemia.19-21 Jejas iskemik dan hipoksia dapat menstimulasi proliferasi progenitor endogen bahkan pada daerah dimana biasanya tidak terjadi neurogenesis.22 Terjadi proses regenerasi sel-sel saraf pada area M1 korteks serebri otak tikus yang sel sarafnya mengalami kerusakan akibat pemberian MSG selama masa gestasi pada induk tikus. 9 Saran Perlu dilakukan penelitian pada tingkat molekular untuk mengetahui apakah MSG secara langsung dapat merangsang diferensiasi sel punca. Kepustakaan 1. Von Diemen V, Trindade MRM. Effect of the oral administration of monosodium glutamate during pregnancy and breast-feeding in the offspring of pregnant Wistar rats. Acta Cir Bras 2010;25(1): 37-42. 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Laporan riset kesehatan dasar 2007. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2008. 3. Smith QR. Transport of glutamate and other amino acids at the blood-brain barrier. J. Nutr. 2000;130: 1016S-1023S. 4. Sabri E, Supriharti, Utama GE. Efek pemberian monosodium glutamat terhadap perkembangan embrio mencit (Mus muculus L.) strain DDW selama periode praimplantasi hingga organogenesis. Jurnal Biologi Sumatera 2006;1: 8-14. 5. Feldman, S., Weidenfeld, J. Hypothalamic mechanisms mediating glutamate effects on the hypothalamo-pituitary-adrenocortical axis. J Neural Transm 2005;104(6-7): 633-642. 6. Hee Jeong Seo,Hyang-Do Ham, Hyung Yong Jin, Woo Hyung Lee, Hyun Sub Hwang, Soon-Ah Park,et al.Chronic Administration of Monosodium Glutamate under Chronic Variable Stress Impaired HypothalamicPituitary-Adrenal Axis Function in Rats. Korean J Physiol Pharmacol 2010;14(4): 213–221. 7. Martin LJ, Sieber FE, Traystam RJ. Apoptosis and necrosis occur in separate neuronal populations in hippocampus and cerebellum after ischemia are associated with 10 differential alterations in metabotropic glutamate receptor signaling pathways. J Cereb Blood Flow Metab 2000;20: 153-167. 8. Yu L, Ma J, Ma R, Zhang Y, Zhang X, Yu T. Repair of excitotoxic neuronal damage mediated by neural stem cell lysates in adult mice. Cell Sci Ther 2011;2(3): 1-5. 9. Alao OA, Ashaolu JO, Ghazal OK, Ukwenya VO. Histological and biochemical effects of mosodium glutamates on the frontal lobe of adult Wistar rats. Int. J. Biomed. & Health Sciences 2010;6(4): 197-203. 10. Rodier PM. Developing brain as a target of toxicity. Environ Health Perspect 1995;1(6): 73-6. 11. Lee E, Son H. Adult hippocampal neurogenesis and related neurotrophic factors. BMB Rep 2009;42: 239-244. 12. Abass MA, El-Haleem MRA. Evaluation of Monosodium Glutamate Induced Neurotoxicity and Nephrotoxicity in Adult Male Albino Rats. J Am Sci 2011;7:8: 264-276. 13. Shepard TH, Lemire RJ. Catalog of teratogenic agents. 11th edition. Baltimore: The John Hopkins Uiversity Press; 2004. 14. Eweka AO, Om’Iniabohs FAE. Histological studies of the effect of Monosodium Glutamate on the cerebellum of adult wistar rats. Internet J Neurol 2007;8: 2. 15. Xiong JS, Branigan D, Li M. Deciphering the MSG controversy. Int J Clin Exp Med. 2009;2(4): 329-336. 16. Alao OA, Ashaolu JO, Ghazal OK, Ukwenya VO. Histological and biochemical effects of mosodium glutamates on the frontal lobe of adult Wistar rats. Int. J. Biomed. & Health Sciences 2010;6(4): 197-203. 11 17. Rajaram V. Brain and spinal cord. In: Ernst LM, Ruchelli WD, Huff DS, ed. Color atlas of fetal and neonatal histology. New York: Springer; 2011. 18. Gould E, Tanapat P. Stress and hippocampal neurogenesis. Biol. Psychiatry 1999;46: 1472-1479. 19. Choi DW, Rothman SM. Neurotoxicity in hypoxic-ischemic neuronal death. Annu. Rev. Neurosci. 1990;13: 171-182. 20. Rothman SM. Glutamate and anoxic neuronal death in vitro. Adv Exp Med Biol 1986;203: 687-695. 21. Siesjö BK, Zhao Q, Pahlmark K, Siesjö P, Katsura KI, Folbergrová J. Glutamate, calcium, and free radicals as mediators of ischemic brain damage. Ann Throc Surg 1995;59(5): 1316-1320. 22. Magavi, SS, Leavitt BR, Macklis JD. Induction of neurogenesis in the neocortex of adult mice. Nature 2000;405: 951-955. 12 1 Von Diemen V, Trindade MRM. Effect of the oral administration of monosodium glutamate during pregnancy and breast-feeding in the offspring of pregnant Wistar rats. Acta Cirurgica Brasileira 2010; 25(1):37-42. 2 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2008. 3 Smith QR. Transport of glutamate and other amino acids at the blood-brain barrier. J. Nutr. 2000;130: 1016S1023S. 4 Sabri E, Supriharti, Utama GE. Efek pemberian monosodium glutamat terhadap perkembangan embrio mencit (Mus muculus L.) strain DDW selama periode praimplantasi hingga organogenesis. Jurnal Biologi Sumatera 2006;1: 8-14. 5 Feldman, S., Weidenfeld, J. Hypothalamic mechanisms mediating glutamate effects on the hypothalamopituitary-adrenocortical axis. Journal of Neural Transmission 2005;104(6-7):633-642. 6 Hee Jeong Seo,Hyang-Do Ham, Hyung Yong Jin, Woo Hyung Lee, Hyun Sub Hwang, Soon-Ah Park,et al.Chronic Administration of Monosodium Glutamate under Chronic Variable Stress Impaired HypothalamicPituitary-Adrenal Axis Function in Rats. Korean J Physiol Pharmacol 2010; 14(4): 213–221. 7 Martin LJ, Sieber FE, Traystam RJ. Apoptosis and necrosis occur in separate neuronal populations in hippocampus and cerebellum after ischemia adn are associated with differential alterations in metabotropic glutamate receptor signaling pathways. J Cereb Blood Flow Metab: 2000;20:153-167. 8 Yu L, Ma J, Ma R, Zhang Y, Zhang X, Yu T. Repair of exitotoxic neuronal damage mediated by neural stem cell lysates in adult mice. J cell Sci Ther 2011;2 (3):1-5. 9 Alao OA, Ashaolu JO, Ghazal OK, Ukwenya VO. Histological and biochemical effects of mosodium glutamates on the frontal lobe of adult Wistar rats. International Journal of Biomedical and Health Sciences, 2010;6;4:197203. 10 Rodier PM. Developing brain as a target of toxicity. Environ Health Perspect 1995;1(6):73-6. Lee E, Son H. Adult hippocampal neurogenesis and related neurotrophic factors. BMB Rep 2009; 42: 239244. 11 12 Abass MA, El-Haleem MRA. Evaluation of Monosodium Glutamate Induced Neurotoxicity and Nephrotoxicity in Adult Male Albino Rats. J Am Sci 2011;7:8: 264-276. 13 Shepard TH, Lemire RJ. Catalog of teratogenic agents. 11th edition. Baltimore: The John Hopkins Uiversity Press; 2004. 14 Eweka AO, Om’Iniabohs FAE. Histological studies of the effect of Monosodium Glutamate on the cerebellum of adult wistar rats. Internet J Neurol 2007;8: 2. 15 Xiong JS, Branigan D, Li M. Deciphering the MSG controversy. Int J Clin Exp Med. 2009;2(4): 329-336. 16 Alao OA, Ashaolu JO, Ghazal OK, Ukwenya VO. Histological and biochemical effects of mosodium glutamates on the frontal lobe of adult Wistar rats. Int. J. Biomed. & Health Sciences 2010;6(4): 197-203. 17 Rajaram V. Brain and spinal cord. In: Ernst LM, Ruchelli WD, Huff DS, ed. Color atlas of fetal and neonatal histology. New York: Springer; 2011. 18 Gould E, Tanapat P. Stress and hippocampal neurogenesis. Biol. Psychiatry 1999;46: 1472- 1479. 13 19 Choi DW, Rothman SM. Neurotoxicity in hypoxic-ischemic neuronal death. Annu. Rev. Neurosci. 1990;13: 171-182. 20 Rothman SM. Glutamate and anoxic neuronal death in vitro. Adv Exp Med Biol 1986;203: 687-695. 21 Siesjö BK, Zhao Q, Pahlmark K, Siesjö P, Katsura KI, Folbergrová J. Glutamate, calcium, and free radicals as mediators of ischemic brain damage. Ann Throc Surg 1995;59(5): 13161320. 22 Magavi, SS, Leavitt BR, Macklis JD. Induction of neurogenesis in the neocortex of adult mice. Nature 2000;405: 951-955. 14