pengaruh kinerja keuangan dan ukuran perusahaan terhadap

advertisement
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
PENGARUH KINERJA KEUANGAN DAN UKURAN PERUSAHAAN
TERHADAP RETURN SAHAM
Erik Setiyono
[email protected]
Lailatul Amanah
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya
ABSTRACT
The purpose of this research is to find out the influence of financial performance and firm size to the stock return.
The dependent variable is the stock return. Meanwhile the independent variables are Firm Size and Financial
Performance which have been measured by using Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return on
Asset (ROA), and Earning per Share (EPS).The population is property and real estate companies which are
listed in Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2012-2014 periods. The sample collection technique has been done
by using purposive sampling method, so that 32 property and real estate companies which are listed in Indonesia
Stock Exchange (IDX) have been selected as samples. The data analysis technique has been done by using
multiple linear regressions analysis with SPSS 20. The classic assumptiontest has been carried out before the
multiple linear regressions analysis.Based on the result of hypothesis test, it shows that Debt to Equity Ratio
(DER) and Earning Per Share (EPS) have positive influence to the Stock Return, meanwhile Current Ratio
(CR), Return On Asset (ROA), and Firm Size does not have any positive significant influence to the stock price.
Keywords : Financial Ratio, Firm Size, Stock Return.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja keuangan dan ukuran perusahaan
terhadap return saham. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah return
saham. Sedangkan variabel independennya Ukuran Perusahaan dan Kinerja Keuangan yang diukur
dengan Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA), dan Earning Per Share
(EPS). Populasi dalam penelitian ini perusahaan proprty and realastate yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) pada tahun 2012-2014. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive
sampling, sehinggah didapatkan total sampel 32 perusahaan proprty and realastate yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi
linier berganda dengan SPSS20. Sebelum dilakukan analisis regresi berganda dilakukan uji asumsi
klasik. Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) dan Earning Per
Share (EPS) secara signifikan berpengaruh positif terhadap Return Saham, sedangkan Current Ratio
(CR), Return On Asset (ROA), dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh secara signifikan positif
terhadap Return Saham.
Kata Kunci : Rasio Keuangan, UkuranPerusahaan, Return Saham.
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
2
PENDAHULUAN
Pada era globalosasi saat ini pasar modal memiliki peran besar untuk mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan, khususnya bagi mereka yang membutuhkan dana jangka
panjang untuk membiayai aktivitas operasional perusahaannya. Pemenuhan dana tersebut
dapat ditempuh melalui pasar modal, karena pasar modal adalah tempat yang
mempertemukan perusahan yang ingin mendapatkan dana dan investor yang ingin
menyalurkan dana yang dimiliki dengan investasi.
Pasar modal memberikan kesempatan perusahaan untuk bersaing secara sehat dalam
rangka menarik minat investor agar menanamkan modal di perusahaannya. Melihat
peluang yang terbuka ini perusahaan berlomba-lomba untuk memperdagangkan saham
mereka di pasar modal. Hal ini di buktikan dengan meningkatnya jumlah perusahaan
yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) guna menjual saham kepada para investor.
Dengan memperdagangkan sahamnya di pasar modal, maka perusahaan dapat memperoleh
dana bagi kelangsungan oprasional perusahaan dan berkesempatan untuk mengembangkan
perusahaan. Dan bagi investor, pasar modal merupakan salah satu sarana efektif bagi
mereka untuk menanamkan modalnya agar dapat memperoleh keuntungan dari yang
diinvestasikan yang disebut dengan return saham.
Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi yang dilakukan investor.
Return merupakan motivasi dan prinsip penting dalam investasi serta, kunci yang
memungkinkan investor memutuskan pilihan alternatif investasinya. Return dapat diperoleh
dari dua bentuk, yaitu dividen dan capital gain (kenaikan harga jual saham atas harga
belinya), sehingga investor akan memilih saham perusahaan mana yang akan memberikan
return yang tinggi. Setiap investor berhak atas bagian laba yang dibagikan atau deviden
sesuai dengan proporsi kepemilikan. Jika terjadi kenaikan return saham pada suatu
perusahaan, maka investor menilai bahwa perusahaan menjalankan usahannya dengan baik.
Banyak faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya return saham suatu perusahaan seperti
kinerja keuangan, resiko, deviden, tinggkat suku bunga, ukuran perusahaan, penawaran,
permintaan, laju inflasi, dan kondisi perekonomian.
Dalam kondosi perekonomian yang tidak menentu, menjadikan informasi keuangan
menjadi hal penting bagi para investor dalam pengambil keputusan. Penggunaan informasi
keuangan yang akurat oleh pihak luar (investor, kreditor dan calon kreditor) memiliki peran
yang besar yaitu sebagai dasar pertimbangan apakah investasi yang akan dilakukan
nantinya akan mendapatkan suatu keuntungan dan melihat kinerja keuangan perusahaan.
Perusahaan juga harus senantiasa menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan
perusahaannya agar tetap diminati oleh investor ataupun calon investor. Laporan keuangan
suatu perusahaan akan mencerminkan kemampuan perusahaan dalam beroprasi dan kinerja
keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan menyediakan informasi yang bermanfaat
bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi termasuk keputusan
investasi,karena laporan keuangan menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan
posisi keuangan suatu perusahaan. Selain itu, laporan keuangan dapat digunakan untuk
mengetahui perubahan dari tahun ke tahun, serta dapat digunakan juga untuk mengetahui
perkembangan perusahaan.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi terlebih dahulu investor menilai kinerja
perusahaan tersebut. Pengukuran kinerja dapat dilakukan menggunakan rasio keuangan.
Analisa rasio keuangan merupakan instrumen analisa perusahaan yang ditujukan untuk
menunjukkan perubahan dalam kondisi keuangan perusahaan yang bersangkutan. Dengan
analisa rasio keuangan ini dapat diketahui kekuatan dan kelemahan perusahaan di
bidang keuangan. Investor tentu akan memperhitungkan dan menilai kinerja keuangan
yang terdiri dari rasio-rasio keuangan dalam menjatuhkan pilahannya terhadap suatu
saham.
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
3
Ukuran perusahaan (size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang
ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata
total aktiva. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan total
aktiva. Tingkat pengembalian (return) saham perusahaan besar lebih besar dibandingkan
return saham pada perusahaan berskala kecil, karena tingkat pertubuhan perusahaan besar
relatif lebih besar dibanding perusahaan kecil. Oleh karena itu, investor akan lebih
berspekulasi untuk memilih perusahaan besar dengan harapan memperoleh keuntungan
(return) yang besar pula. Perusahaan yang memiliki total aktiva dalam jumlah yang besar
maka perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan karena pada tahap tersebut
arus kas telah positif dan dianggap memiliki prospek yang lebih baik dalam jangka relatif
lama. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai
pengaruh kinerja keuangan dan ukuran perusahaan terhadap return saham.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah current ratio, debt to equity ratio,
return on assets, earning per share, dan ukuran perusahaan memiliki pengaruh terhadap return
saham. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah current ratio, debt to equity ratio,
return on assets, earning per share, dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap return
saham.
TINJAUAN TEORETIS
Teori Sinyal (Signaling Theory)
Teori ini menjelaskan bahwa laporan keuangan yang baik merupakan sinyal atau tanda
bahwa perusahaan juga telah beroperasi dengan baik. Sinyal yang baik akan direspon
dengan baik oleh pihak lain. Menurut Zainudin dan Hartono (1999) informasi yang
dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam
pengambilan keputusan investasi. Jika pengumuman tersebut mengandung nilai positif,
maka diharapkan pasar akan bereaksi pada waktu pengumuman tersebut diterima oleh
pasar.Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan volume perdagangan saham.
Pada waktu informasi diumumkan dan semua pelaku pasar sudah menerima informasi
tersebut, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis informasi
tersebut sebagai signal baik bagi investor, maka terjadi perubahan dalam volume
perdagangan saham.
Menurut Sharpe et al. (1997) pengumuman informasi akuntansi memberikan signal
bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa mendatang (good news) sehingga
investor tertarik untuk melakukan perdagangan saham, dengan demikian pasar akan
bereaksi yang tercermin melalui perubahan dalam volume perdagangan saham. Dengan
demikian hubungan antara publikasi informasi baik laporan keuangan, kondisi keuangan
ataupun sosial politik terhadap fluktuasi volume perdagangan saham dapat dilihat dalam
efisiensi pasar.
Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan untuk
bahan komunikasi antara data akuntansi atau aktivitas perusahaan dengan pihak yang
berkepentingan dengan data tersebut. Laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan
suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Investor dapat menilai perusahaan dengan menggunakan laporan
keuangan. Informasi dalam laporan keuangan tersebut dapat menjadi landasan
pertimbangan investor dalam pengambilan keputusan investasi. Selain itu informasi laporan
keuangan sudah cukup menggambarkan kepada kita sejauh mana perkembangan kondisi
perusahaan selama ini dan apa saja yang telah dicapainya.
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
4
Menurut (IAI, 2013) penyajian laporan keuangan lengkap terdiri dari komponenkompenen: Laporan Posisi Keuangan, Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif,
Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Modal, Catatan Atas Laporan Keuangan, dan
Informasi komparatif periode sebelumnya.
Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh calon
investor untuk menentukan investasi saham. Kinerja keuangan perusahaan dapat menjadi
petunjuk arah naik turunnya harga saham suatu perusahaan. Baik dan buruknya suatu
perusahaan dapat digambarkan melalui kinerja keuangan suatu perusahaan. Hal ini dapat
diketahui dengan menganalisis menggunakan alat-alat analisis keuangan untuk mengetahui
baik buruknya kondisi keuangan dan prestasi keuangan sebuah perusahaan dalam waktu
tertentu (Wibowo, 2014). Suatu keharusan bagi sebuah perusahaan menjaga dan
meningkatkan kinerja keuangan, agar saham tersebut tetap diminati oleh investor.
Kinerja keuangan perusahaan dapat dicerminkan melalui laporan keuangan yang
diterbitkan perusahaan tersebut. Selain itu analisis terhadap informasi laporan keuangan
dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan oleh investor untuk mengetahui
perbandingan antara nilai intrinsic saham perusahaan dengan harga pasar saham
perusahaan yang bersangkutan, dan atas pertimbangan tersebut investor dapat mengambil
keputusan apakah membeli ataukah menjual saham perusahaan yang bersangkutan. Fungsi
informasi keuangan adalah sebagai sarana informasi, alat pertanggungjawaban manajemen
kepada pemilik perusahaan, bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, dan
penggambaran terhadap indikator keberhasilan perusahaan. Informasi keuangan tersebut
akan digunakan sebagai tolak ukur dan pedoman bagi investor dalam melakukan transaksi
jual-beli saham suatu perusahaan.
Analisa rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat pengukur kinerja kuangan.
Analisis rasio keuangan merupakan dasar untuk menilai dan menganalisis prestasi operasi
perusahaan. Rasio keuangan, berisi data tentang posisi perusahaan pada suatu titik operasi
perusahaan masa lalu. Rasio-rasio keuangan digunakan untuk menghindari permasalahan
dalam membandingkan perusahaan-perusahaan yang berbeda dari sisi ukuran (Ross, 2003).
Dalam penelitian ini kinerja keuangan perusahaan diukur dengan menggunakan rasio
current ratio, debt to equity ratio, return on assets, dan earning per share.
Ukuran Perusahaan
Variabel ukuran perusahaan dapat diukur melalui ukuran aktiva, penjualan bersih, dan
kapitalisasi pasar. Dalam memenuhi kebutuhan informasi bagi para krediturnya,
perusahaan yang tumbuh besar memiliki kewajiban lebih besar dari pada yang lain. Hal ini
dapar dilihat melalui laporan tahunan yang lebih terinci (Subiyantoro, 1997). `Ukuran
perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan. Ukuran perusahaan yang
menunjukkan besar kecilnya perusahaan dapat dilihat dari besar kecilnya modal yang
digunakan, total aktiva yang dimiliki, atau total penjualan yang diperoleh.
Ukuran perusahaan dinyatakan dengan total aset, jika semakin besar total aset
perusahaan maka akan semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut. Perusahaan yang
memiliki total aset besar menunjukkan bahwa perusahaan tersebut relatif lebih stabil dan
mampu menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang memiliki total
aset sedikit atau rendah. Perusahaan yang relatif besar kinerjanya akan dilihat oleh publik
sehingga perusahaan tersebut akan melaporkan kondisi keuangannya dengan lebih berhatihati, lebih menunjukkan keinformatifan informasi yang terkandung di dalamnya dan lebih
transparan. Oleh karena itu, semakin besar ukuran suatu perusahaan memiliki kualitas laba
yang lebih tinggi.
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
5
Return Saham
Return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi yang dilakukan investor.
Return yang maksimal adalah hal yang diinginkan setiap investor dalam investasinya.
Return saham dibedakan menjadi dua yaitu realized return (return realisasi) dan expected
return (return ekspektasi). Realized return (return realisasi) merupakan return yang sudah
terjadi atau sudah terealisasi. Sedangkan expected return (return ekspektasi) adalah return
yang diharapkan investor untuk didapatkan dimasa mendatang dan masih bersifat tidak
pasti. Return ekspektasi sifatnya belum terjadi.
Return total merupakan return keseluruhan dari suatu investasi dalam periode yang
tertentu. Return total sering disebut dengan return saja. Return total terdiri dari capital gain
(loss) dan yield. Dalam penelitian ini return saham dihitung menggunakan capital gain (loss).
Capital gain (loss) merupakan selisih untung (rugi) dari harga investasi sekarang relatif
dengan harga periode yang lalu.
Model Penelitian
Current
Ratio (CR)
Debt To
Equity Ratio
(DER)
Return On
Assets (ROA)
Return Saham
Earning Per
Share (EPS)
Ukuran
Perusahaan
Gambar 1
Model Penelitian
Perumusan Hipotesis
Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap Return Saham
Semakin tinggi current ratio (likuiditas) suatu perusahaan berarti semakin kecil resiko
kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kinerja perusahaan
yang semakin besar dan nilai rasio perusahaan yang semakin lancar dapat memberikan
aktivitas yang membaik terhadap operasional perusahaan. Sehingga harga saham
perusahaan pun juga akan meningkat. Berdasarkan penjelasan diatas maka hipotesis
pertama dalam penelitian ini dirumuskan :
H1 = Current Ratio (CR) berpengaruh positif terhadap return saham.
Pengaruh Debt To Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham
Debt to equity ratio menunjukkan bagaimana kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban dalam membayar utangnya dengan jaminan modal sendiri Kasmir (2008:158).
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
6
Menurut Kole dan Lehn (1991), apabila investasi yang diharapkan akan menghasilkan return
yang lebih besar dari pada cost of dept, maka akan dapat menghasilkan keuntungan.
Penggunaan modal di dalam suatu perusahaan juga akan menujukan sistem pengendalian
manajemen perusahaan Mulyadi dan Calvin (2001:6). Berdasarkan penjelasan diatas maka
hipotesis ke dua dalam penelitian ini dirumuskan :
H2 = Debt To Equity Ratio (DER) berpengaruh positif terhadap return saham.
Pengaruh Return On Assets (ROA) terhadap Return Saham
Return on Asset (ROA) digunakan untuk mengetahui besarnya laba bersih yang dapat
diperoleh dari operasional perusahaan dengan menggunakan seluruh kekayaannya.
Semakin tinggi ROA semakin efisien operasional perusahaan dan sebaliknya. ROA yang
positif menunjukkan bahwa dari total aset yang digunakan untuk operasional perusahaan
mampu memberikan laba bagi perusahaan. Berdasarkan penjelasan diatas maka hipotesis
ke tiga dalam penelitian ini dirumuskan :
H3 = Return On Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap return saham.
Pengaruh Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham
Earning Per Share (EPS) adalah suatu kemampuan perusahaan untuk mendistribusikan
pendapatan yang diperoleh kepada pemegang sahamnya. Besar keberhasilan usaha yang
dilakukan dapat dilihat dari semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk
mendistribusikan pendapatan kepada pemegang saham. Hal tersebut sesuai dengan teori
signalling yang pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon
pemegang saham sangat tertarik akan EPS, karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah
yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa. Salah satu indikator keberhasilan suatu
perusahaan dapat dilihat dengan besarnya EPS, hal ini juga akan membuat investor tertarik
dengan saham perusahaan tersebut. Tingginya nilai EPS maka semakin besar laba yang
disediakan untuk para pemegang. Hal ini akan berakibat dengan meningkatnya laba maka
harga saham cenderung naik, sedangkan ketika laba menurun, maka harga saham ikut juga
menurun. Berdasarkan penjelasan diatas maka hipotesis ke empat dalam penelitian ini
dirumuskan :
H4 = Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif terhadap return saham.
Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Return Saham
Ukuran perusahaan (size) menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang
ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata tingkat penjualan dan rata-rata
total aktiva. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan total
aktiva. Tingkat pengembalian (return) saham perusahaan besar lebih besar dibandingkan
return saham pada perusahaan berskala kecil, karena tingkat pertumbuhan perusahaan besar
relatif lebih besar dibanding perusahaan kecil. Oleh karena itu, investor akan lebih
berspekulasi untuk memilih perusahaan besar dengan harapan memperoleh keuntungan
(return) yang besar pula. Perusahaan yang memiliki total aktiva dalam jumlah yang besar
maka perusahaan tersebut telah mencapai tahap kedewasaan karena pada tahap tersebut
arus kas telah positif dan dianggap memiliki prospek yang lebih baik dalam jangka relatif
lama. Berdasarkan penjelasan diatas maka hipotesis ke lima dalam penelitian ini
dirumuskan :
H5 = Ukuran Perusahaan berpengaruh positif terhadap return saham
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini dikelompokkan pada penelitian kauntitatif. Penelitian kautitatif adalah
penelitian yang menunjukkan arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat,
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
7
disamping mengukur kekuatan hubungan. Penelitian ini menguji pengaruh hubungan
kinerja perusahaan dan ukuran perusahaan terhadap return saham pada perusahaan property
and real estate di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2014.
Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel penelitian ini dilakukan menggunakan teknik purposive
sampling yaitu melalui pengambilan sampel secara khusus berdasarkan kriteria-kriteria
tertentu. Kriteria sampel penelitian ini adalah : 1) Perusahaan property and real estate yang
terdaftar berturut-turut di BEI dari tahun 2012-2014; 2) Perusahaan property and real estate
yang menyertakan annual report berturut-turut dari tahun 2012-2014; 3)Perusahaan property
and real estate yang memiliki data hubungan variabel keuangan yang diperlukan tersedia; 4)
Perusahaan property and real estate yang tidak mengalami kerugian dari tahun 2012-2014.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data disesuaikan dengan sumber datanya
yaitu data sekunder. Maka teknik pengumpulan data yang dipilih dari sumber data
sekunder yaitu dengan cara mengambil data-data sekunder dimana data-data tersebut
telah disediakan oleh BEI (Bursa Efek Indonesia).
Variabel dan Difinisi Operasional Variabel
Variabel dependen dalam penelitian yaitu return saham. Return saham merupakan hasil
yang diperoleh dari investasi yang dilakukan investor. Return yang maksimal adalah hal
yang diinginkan setiap investor dalam investasinya.
(Pt – Pt-1)
Rıt =
Pt-1
Variabel Independen dalam penelitian ini adalah Kinerja keuangan perusahaan dan
ukuran perusahaan. Dalam penelitian ini kinerja keuangan diukur menggunakan rasio
keuangan untuk mengukur kinerja keuangan yaitu :
Current ratio mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka
pendeknya dengan seluruh aktiva lancar yang dimiliki perusahaan Hanafi dan Halim
(2009:75).
Aset Lancar
Current Ratio =
Liabilitas Lancar
Dept To Equity Ratio (DER) ini digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini
berguna untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang
Kasmir (2008:158).
Total Liabilitas
DER =
Total Ekuitas Pemegang Saham
Return On Asset untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih
berdasarkan tingkat aset tertentu Hanafi dan Halim (2009:81). Semakin tinggi rasio ini,
semakin baik keadaan suatu perusahaan.
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
8
Laba Tahun Berjalan
ROA =
Total Aset
Earning Per Share (EPS ) digunakan untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam
mencapai keuntungan bagi pemegang saham Kasmir (2008:207). Rasio ini juga merupakan
presentase laba terhadap jumlah saham.
Laba Tahun Berjalan
Earning per Share =
Jumlah saham yang beredar
Sedangkan untuk ukuran perusahaan yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan
dapat dilihat dari besar kecilnya modal yang digunakan, total aktiva yang dimiliki, atau
total penjualan yang diperoleh.
Upit = Log TAit
Teknik Analisis Data
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau residual di dalam suatu persamaan memiliki distribusi normal. Menurut
(Ghozali, 2012: 163) cara untuk mendeteksi apakah residual normal atau tidak yaitu dengan :
1) Calculated from data, normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik)
pada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya. 2) Uji
statistik, yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non
parametik Kolmpgrov-Simirnov (K-S) dengan uji 1-sample. Jika didapatkan angka signifikan
jauh diatas 0,05 yang berarti nilai resedual terdistribusi secara normal atau memenuhi
asumsi klasik, yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima.
Uji Multikolinearitas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya
korelasi antar variabel bebas atau independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi diantara variabel independen (Ghozali, 2012: 105). Adanya multikolinearitas
dapat dilihat dari tolerance value atau Variance Inflation Factor (VIF). Nilai cut off yang umum
dipakai untuk menunjukkan adanya multikoleniaritas adalah nilai tolerance < 0,10 atau
VIF > 10 (Ghozali, 2012: 106).
Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linear ada korelasi
antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode
t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi (Ghozali,
2012: 110). Autokorelasi biasanya terjadi pada deret waktu (time series data) data yang hanya
mempunyai satu observasi untuk setiap variabel pada setiap satuan waktu). Artinya
autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu
sama lain. Uji autokorelasi juga dapat didefinisikan adanya korelasi antara anggota
serangkaian observasi yang telah diurutkan menurut waktu (seperti dalam runtun
waktu/time series) atau ruang (seperti data cross section). Untuk mendeteksi ada dan
tidaknya gejala autokorelasi dapat dilihat dari tabel Durbin-Watson dengan batas atas 2 dan
batas bawah -2.
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
9
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika
variance dari residual satu pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas
dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah
homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2012: 139). Deteksi ada
tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu
pada grafik scatterplot antara variabel dependen dan residualnya dimana sumbu Y adalah
Y yang diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi – Y sesungguhnya) yang telah
di studentized.
Analisis Regresi Linier Berganda
Metode analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis regresi
berganda (multiple regression) yaitu untuk mengetahui pengaruh perubahan variabel
independen terhadap dependen baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama.
Model Regresi Linear Berganda yang digunakan adalah:
Y = α0+ β1CR + β2DER + β3ROA + β4EPS + β5UP + e
Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)
Pengujian ini dilakukan untuk menilai ketepatan model penelitian pengaruh kinerja
keuangan dan ukuran perusahaan terhadap return saham. Hasil pengujian kesesuaian model
pada aplikasi SPSS dapat dilihat pada tabel ANOVA yang menunjukan apakah variabel
independen yang digunakan dalam model mampu menjelaskan perubahan nilai variabel
dependen atau tidak. Dengan nilai p-value atau level of significant yaitu 5% atau 0,05.
Uji Hipotesis
Pengujian ini dilakukan untuk menguji adanya pengaruh kinerja keuangan dan ukuran
perusahaan terhadap return saham, maka dilakukan pengujianhipotesis melalui Uji
Hipotesis (Uji t). Uji t digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen. Dengan menggunakan tingkat sig α=5%, jika hasil yang
didapatkan signifikansi t < α = 5% maka variabel independen tersebut berpengaruh
signifikan terhadap variabel dependen.
Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (adjusted R square) pada intinya mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai adjusted R square
berkisar antara 0 sampai dengan 1, bila adjusted R square kecil berarti kemampuan variabel
bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat amat terbatas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov Test,
yaitu dengan membandingkan nilai asymptotic significance dengan
= 0,05 atau 5%. Data
berdistribusi normal jika nilai asymp. sig2-tailed > 0,05. Berdasarkan hasil uji statistik non
parametik Kolmogorov-Smirnov yang telah dilakukan menunjukkan bahwa nilai Asymp.Sig.
(2-tailed) sebesar 0,912 yang berarti lebih besar dari taraf signifikansinya ( = 0,05 atau 5%),
sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini terdistribusi secara normal.
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
10
Tabel 1
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
32
0E-7
Mean
Normal Parametersa,b
Std.
Deviation
Absolute
Most Extreme Differences
,41103804
,099
,099
Positive
Negative
-,077
,560
,912
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber : Output SPSS
Uji Multikolinearitas
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas dengan tolerance dan VIF dapat diketahui bahwa
hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan bahwa tidak ada variabel independen yang
memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10. Sedangkan hasil perhitungan Variance Infantion
Factor (VIF) menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari
10. Jadi dapat disimpulksn bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen
dalam model regresi ini.
Tabel 2
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
B
1
Std. Error
(Constant)
-,015
CR
,035
,078
DER
,467
ROA
Standardized
Coefficients
Collinearity Statistics
t
Sig.
Beta
,906
Tolerance
VIF
-,017
,987
,060
,449
,657
,808
1,238
,184
,328
2,539
,017
,860
1,163
-4,453
2,595
-,243
-1,716
,098
,712
1,405
EPS
,002
,000
,763
5,019
,000
,621
1,611
UP
-,001
,060
-,003
-,021
,984
,840
1,190
a. Dependent Variable: RS
Sumber : Output SPSS
Uji Autokorelasi
Berdasarkan hasil uji autokorelasi dengan uji Durbin Watson (DW) dapat diketahui
bahwa nlai D-W sebesar 2,304 yang berarti angka D-W diatas batas atas yaitu 2 (2,304 > 2),
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
11
maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak mengandung gejala
autokorelasi.
Tabel 3
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model
1
R
R Square
,792a
,627
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate
,556
,44882
Durbin Watson
2,034
a. Predictors: (Constant), UP, ROA, DER, CR, EPS
b. Dependent Variable: RS
Sumber : Output SPSS
Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan hasil uji hteroskedatisitas dengan grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik
menyebar secara acak serta menyebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y
dan tidak membentuk pola tertentu maka dapat dikatakan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk
memprediksi Return Saham berdasarkan masukkan dari variabel independennya.
Gambar 2
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber : Output SPSS
Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)
Uji di buat untuk menguji signifikansi model yaitu Current Ratio (CR), Debt to Equity
Ratio (DER), Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Ukuran Perusahaan
terhadap Return Saham. Hasil penelitian menunjukan bahwa F = 0,00 dengan hasil
signifikansi 0,05. Sehinggah variabel CR, DER, ROA, EPS, UP berpengaruh terhadap Return
Saham.
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
12
Tabel 4
Hasil Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)
ANOVAa
Model
1
Sum of Squares
Df
Mean Square
Regression
8,822
5
1,764
Residual
5,238
26
,201
14,060
31
Total
F
Sig.
8,759
,000b
a. Dependent Variable: RS
b. Predictors: (Constant), UP, ROA, DER, CR, EPS
Sumber : Output SPSS
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa α > Fsign dengan nilai 0,05 > 0,00. Hal ini
berarti hipotesis dalam uji ini variabel bebas (X) : Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio
(DER), Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Ukuran Perusahaan berpengaruh
terhadap variabel terikat yaitu Return Saham (Y).
Analisis Regresi Linier Berganda dan Uji Hipotesis (Uji t)
Analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel
dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel penjelas atau
bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi rata-rata populasi atau
nilai rata-rata variabel dependen berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui.
Uji signifikansi parameter individual (uji t) digunakan untuk menunjukkan seberapa
jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan
variasi variabel dependen. Hasil analisis regresi linier berganda dan uji t (uji signifikansi
parameter individual) adalah sebagai berikut :
Tabel 5
Hasil Uji Hipotesis (Uji t)
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Coefficients
B
1
Std. Error
(Constant)
-,015
CR
,035
,078
DER
,467
ROA
Standardized
Coefficients
Collinearity Statistics
t
Sig.
Beta
,906
Tolerance
VIF
-,017
,987
,060
,449
,657
,808
1,238
,184
,328
2,539
,017
,860
1,163
-4,453
2,595
-,243
-1,716
,098
,712
1,405
EPS
,002
,000
,763
5,019
,000
,621
1,611
UP
-,001
,060
-,003
-,021
,984
,840
1,190
a. Dependent Variable: RS
Sumber : Output SPSS
Dari data hasil analisis regresi linier berganda pada tabel di atas, dirumuskan suatu
persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :
RS = -0,015 + 0,035CR + 0,467DER – 4,453ROA + 0,002EPS – 0,001UP
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
13
Berdasarkan tabel di atas hasil uji signifikansi parameter individual (uji t) menunjukkan
bahwa variabel Current Ratio tidak berpengaruh singnifikan terhadap return saham (0,657 >
0,05), variabel Debt to Equity Ratio berpengaruh singnifikan terhadap return saham (0,017 <
0,05), variabel Return On Asse tidak berpengaruh singnifikan terhadap return saham (0,098 >
0,05), variabel Earning Per Share berpengaruh singnifikan terhadap return saham (0,000 <
0,05), dan variabel Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh singnifikan terhadap return saham
(0,984 > 0,05).
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi ini berfungsi untuk mengetahui presentase besarnya pengaruh
variabel independen dan variabel dependen. Untuk melihat seberapa besar tingkat
pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial digunakan
koefisian determinasi. Hasil uji koefisien determinasi (R2) adalah sebagai berikut :
Tabel 6
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)
Model Summaryb
Model
1
R
R Square
,792a
,627
Adjusted R
Square
,556
Std. Error of the
Estimate
,44882
Durbin Watson
2,034
a. Predictors: (Constant), UP, ROA, DER, CR, EPS
b. Dependent Variable: RS
Sumber : Output SPSS
Berdasarkan tabel diatas diketahui nahwa nilai R Square sebesar 62,7%. Penelitian
Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA), Earning Per Share
(EPS), dan Ukuran Perusahaan berpengaruh sebesar 62,7% dan sisanya sebesar 37,3% di
jelaskan oleh variabel yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
Pembahasan
Pengaruh Current Ratio terhadap Return Saham
Variabel Current Ratio (CR) tidak mempunyai pengaruh secara positif yang signifikan
terhadap Return saham pada tingkat signifikan (α = 0,05). Hasil penelitian ini dinyatakan
tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham karena nilai signifikan
Current Ratio (CR) sebesar 0,657 yang menunjukan nilai α lebih kecil dari nilai tsign (0,05 <
0,657), tidak adanya pengaruh signifikan ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya
Current Ratio (CR) tidak berpengaruh terhadap Retun Saham.
CR biasanya digunakan sebagai alat ukur keadaan likuiditas suatu perusahaan. Current
ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuiditas dan
menunjukan awal ketidak mampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka
pendeknya. Selain itu CR yang rendah akan menyebabkan terjadinya penurunan harga
pasar dari harga saham. Kinerja yang bagus pada suatu perusahaan tidak dapat dilihat
dengan memiliki current ratio terlalu tinggi. Walaupun Current Ratio (CR) suatu perusahaan
relatif besar, artinya perusahaan cukup aman untuk melangsungkan usahanya, namun
demikian dengan Current Ratio (CR) yang besar bila tidak digunakan seoptimal mungkin,
perusahaan tidak akan mampu memperoleh hasil yang maksimal, khususnya laba
perusahaan. Namun CR yang tinggi belum tentu menjamin akan dapat dibayarnya hutang
perusahaan yang sudah jatuh tempo karena proporsi dari aktiva lancar yang tidak
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
14
menguntungkan apabila terdapat saldo kas yang kelebihan, jumlah piutang dan persediaan
terlalu besar. Hal ini menunjukkan bahwa investor akan memperoleh return yang lebih
rendah jika kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin
rendah. Hal ini juga menunjukan bahwa investor tidak malihat CR yang dimiliki suatu
perusahaan dalam pengambilan keputusan saat investasi. Kemampuan suatu perusahan
dalam memenuhi kewajiban jangka pendek tidak menjadi prioritas bagi investor. Investor
juga tidak memperhatikan manajemen kas, piutang, dan persediaan perusahaan sebelum
mengambil keputusan berinvestasi di pasar modal. Hal ini tidak konsisten dengan penelitian
Ulupui (2009) dan Mariati (2009) yang menyatakan bahwa CR berpengaruh signifikan
terhadap return saham.
Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Return Saham
Variabel Debt to Equity Ratio (DER) mempunyai pengaruh secara positif yang signifikan
terhadap Return saham pada tingkat signifikan (α = 0,05). Hasil penelitian ini dinyatakan
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham karena nilai signifikan Debt to
Equity Ratio (DER) sebesar 0,017 yang menunjukan nilai α lebih besar dari nilai tsign (0,05 >
0,017), adanya pengaruh signifikan ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya Debt to
Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Retun Saham.
Koefisien regresi memberikan nilai positif yang artinya semakin tinggi debt to equity
ratio semakin tinggi pula return saham. Debt to equity ratio menunjukkan proporsi atas
penggunaan utang untuk membiayai investasinya. Apabila penggunaan Financial laverage
semakin tinggi maka utang perusahaan juga tinggi. Utang yang tinggi menunjukan
resiko yang tinggi. Namun demikian resiko yang tinggi berbanding lurus dengan return
yang tinggi. Sehingga peningkatan terhadap nilai debt to equity ratio direaksi secara
positif oleh pasar yang berdampak pada meningkatnya harga saham dan return saham.
Hasil dari penelitian ini juga menunjukan bahwa perubahan DER suatau perusahaan masih
diperhitungkan oleh investor untuk mengambil keputusan dalam berinvestasi. Hal ini
konsisten dengan penelitian Ulupui (2009), Sumilir (2002), dan Rachmawati (2004) yang
menyatakan bahwa DER berpengaruh signifikan terhadap return saham.
Pengaruh Return On Asset terhadap Return Saham
Variabel Return On Asset (ROA) tidak mempunyai pengaruh secara positif yang
signifikan terhadap Return saham pada tingkat signifikan (α = 0,05). Hasil penelitian ini
dinyatakan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham karena nilai
signifikan Return On Asset (ROA) sebesar 0,098 yang menunjukan nilai α lebih kecil dari nilai
tsign (0,05 < 0,098), tidak adanya pengaruh signifikan ini mengindikasikan bahwa tinggi
rendahnya Return On Asset (ROA) tidak berpengaruh terhadap Retun Saham.
ROA menunjukkan efektifitas perusahaan memanfaatkan asetnya untuk menghasilkan
laba bersih setelah pajak. Namun dalam penelitian ini didapatkan hasil bahwa ROA tidak
berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hal ini menunjukan bahwa keefektifitasan
penggunaan aset yang dimiliki perusahan dalam menghasilkan laba bersih setelah pajak
tidak menjadi suatu acuan bagi investor dalam membuat keputusan suatu investasi.
Investor tidak semata-mata menggunakan ROA sebagai ukuran dalam menilai kinerja
perusahaan untuk memprediksi return suatu perusahaan. Peningkatan aset suatu
perusahaan seharusnya mengakibatkan peningkatan laba bagi perusahaan, nanun dalam
penelitian ini pengingkatan suatu aset perusahan tidak memberikan respon positif terhadap
laba pada beberapa perusahaan. Tidak adanya respon positif terhadap laba tersebut
membuat harga saham bagi perusahaan tersebut menurun sehinggah investor sendiri tidak
akan bisa didapatkan return saham. Selain itu laba yang menurun membuat deviden bagi
pemegang saham juga menurun. Tidak terdapatnya return saham karena perbedaan harga
saham dan penurunan deviden bagi pemegang saham membuat investor tidak tertarik
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
15
untuk menanamkan modal atau membeli saham perusahaan tersebut. Hal ini tidak
konsisten dengan penelitian Ulupui (2009) yang menyatakan bahwa ROA berpengaruh
signifikan terhadap return saham.
Pengaruh Earning Per Share terhadap Return Saham
Variabel Earning Per Share (EPS) mempunyai pengaruh secara positif yang signifikan
terhadap Return saham pada tingkat signifikan (α = 0,05). Hasil penelitian ini dinyatakan
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham karena nilai signifikan Earning
Per Share (EPS) sebesar 0,000 yang menunjukan nilai α lebih besar dari nilai tsign (0,05 >
0,000), adanya pengaruh signifikan ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya Earning Per
Share (EPS) berpengaruh terhadap Retun Saham.
Hal ini menunjukan bahwa semakin besar rasio ini maka pendapatan perusahaan
semakin besar dan menunjukkan tingkat keuntungan yang besar pula. Semakin besar
tingkat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan per lembar saham bagi
pemiliknya maka semakin profitable dan menarik investasi pada perusahaan tersebut. Hal ini
akan memberikan efek positif pada harga saham. Peningkatan harga saham membuat return
saham yang diperoleh investor juga meningkat. Oleh karena itu perusahaan yang stabil
biasanya memperlihatkan stabilitas pertumbuhan Earning Per Share (EPS) setiap
triwulannya dan berfluktuatif jika sebaliknya. Investor sangat menyukai EPS karena
mencerminkan jumlah rupiah yang akan diperoleh untuk lembar saham. Selain itu, EPS
juga disajikan pada laporan keuangan sehingga investor sangat mudah untuk mendapatkan
informasinya. Dengan demikian EPS perlu digunakan oleh investor sebagai pertimbangan
pemilihan investasi. Hal ini konsisten dengan penelitian Ulupui (2009), Sumilir (2002), dan
Rachmawati (2004) yang menyatakan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap return
saham.
Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Return Saham
Variabel Ukuran Perusahaan tidak mempunyai pengaruh secara positif yang signifikan
terhadap Return saham pada tingkat signifikan (α = 0,05). Hasil penelitian ini dinyatakan
tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return saham karena nilai signifikan
Ukuran Perusahaan sebesar 0,984 yang menunjukan nilai α lebih kecil dari nilai tsign (0,05 <
0,984), tidak adanya pengaruh signifikan ini mengindikasikan bahwa tinggi rendahnya
Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh terhadap Retun Saham. Oleh karena itu, investor
kurang memperhitungkan ukuran perusahaan dalam memutuskan pembelian saham.
Karena pertumbuhan suatu perusahan bukan hanya dilihat dari besar kecilnya ukuran
perusahaan. Besarnya suatu aset yang dimiliki oleh perusahaan bila tidak dikelolah dengan
baik oleh suatu perusahaan untuk kegiatan oprasi suatu perusahaan, maka tidak akan dapat
menghasilkan laba yang besar. Laba yang tidak maksimal akan membuat harga saham
menurun. Oleh karena itu besar dan kecilnya suatu aset yang dimiliki oleh perusahaan tidak
akan dapat memprediksi besarnya laba yang akan didapat oleh suatu perusahaan dan
return yang akan didapat oleh investor. Hal ini menyebabkan ketidak tertarikan investor
dalam melihat besar kecilnya aset yang dimiliki perusahaan akan membuat suatu keputusan
untuk investasi. Hal ini tidak konsisten dengan penelitian Mariati (2009) yang menyatakan
bahwa Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap return saham.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Penelitian ini mencoba untuk menguji pengaruh kinerja keuangan dan ukuran
perusahaan terhadap return saham pada perusahaan proprty and realastate yang terdaftar di
BEI dari tahun 2012-2014. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat diambil
kesimpulan yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan Earning Per Share (EPS) berpengaruh
Pengaruh Kinerja Keuangan dan...-Setiyono, Erik
16
berpengaruh terhadap Return Saham, sedangkan Current Ratio (CR), Return On Asset (ROA),
dan Ukuran Perusahaan berpengaruh tidak berpengaruh terhadap Return Saham.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran yaitu: 1) Untuk penelitian
selanjutnya, disarankan dapat menambahkan periode pengamatan menjadi 4 tahun sampai 5
tahun atau lebih, sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik dan menggunakan sampel
bulanan. 2) Dari nilai koefisien determinasi yang dihasilkan sebesar 62,7%. Hal ini berarti
62,7% variabel return saham dapat dijelaskan oleh variabel Current Ratio (CR), Debt to Equity
Ratio (DER), Return On Asset (ROA), Earning Per Share (EPS), dan Ukuran Perusahaan dan
sisanya sebesar 37,3% di jelaskan oleh variabel yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini.
Maka penulis menyarankan untuk memperluas variabel lain yang dapat mempengaruhi
tinggi randahnya return saham. 3) Bagi investor, disarankan lebih memperlihatkan faktor
lain selain Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Return On Asset (ROA), Earning Per
Share (EPS), dan Ukuran Perusahaan. Karena masih banyak faktor lain seperti kondisi
ekonomi, kondisi pasar, kondisi politik suatu negara, dan peraturan suatu pemerintahan.
DAFTAR PUSTAKA
Ghozali, I. 2012. Aplikasi Analisis Mulitivariate dengan Program SPSS. Edisi Kelima. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Hanafi, M. M. dan A. Halim. 2009. Akuntansi Laporan Keuangan. Edisi Keempat. Cetakan
Pertama. Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN. Yogyakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2013. Standar Akuntansi Keuangan. Selamba Empat. Jakarta.
Kasmir. 2008. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Pertama. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Kole, S. R. dan K. M. Lehn. 1991. Deregulation and the Adaption of Governance Structure:
The Case of the US Airline Industry. Journal of Financial Economics. Vol. 52.
Mariati, M. H. 2009. Pengaruh Faktor Fundamental Terhadap Return Saham Pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI. Skripsi . Universitas Sumatera Utara.
Medan.
Mulyadi dan J. Calvin. 2001. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen. Selemba Empat.
Jakarta.
Rachmawati, U. 2004. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Perubahan Harga Saham
(Study Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang Listed di BEJ). Tesis. Universitas
Sebelas Maret. Surakarta.
Ross, S., A. Randolph, W. Westerfeld, dan N. D. Jordan. 2003. Fundamentals of corporate
Finance. Sixth Edition. McGraw-Hill. New York.
Sharpe, W. F., G. J. Alexander, dan J. V. Bailey. 1997. Investments. Prentice Hall. New Jersey.
Terjemahan Henry, N. A. 1999. Investasi. Prenhallindo. Jakarta.
Subiyantoro, E. 1997. Hubungan Antara Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan
dengan Karakteristik Perusahaan Publik di Indonesia. Tesis. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta.
Sumilir. 2002. Analisis Pengaruh Kinerja Financial terhadap Return Saham pada Perusahaan
Publik di BEJ 1998-2001. Tesis. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Ulupui, I. 2009. Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Aktivitas dan Profitabilitas
terhadap Return Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman. Jurnal Akuntansi dan
Bisnis. Vol. 2.
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi : Volume 5, Nomor 5, Mei 2016
ISSN : 2460-0585
17
Wibowo, I. 2014. Dampak Pengungkapan Sustainability Report Terhadap Kinerja Keuangan
dan Kinerja Pasar Perusahaan. Simposium Nasional Akuntansi XVII. Mataram, Lombok.
Zainudin dan J. Hartono. 1999. Manfaat Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Pertumbuhan
Laba. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 2 (1) : 66-90.
Download