Studi regenerasi tanaman jeruk keprok batu 55

advertisement
STUDI REGENERASI TANAMAN JERUK KEPROK BATU 55
(Citrus reticulata L) MELALUI JALUR EMBRIOGENESIS
SOMATIK
JULIS ANTON MERIGO
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Studi Regenerasi
Tanaman Jeruk Keprok Batu 55 (Citrus reticulata L) Melalui Jalur Embriogenesis
Somatik adalah karya saya dengan arahan komisi pembimbing dan belum
diajukan dalam bentuk karya apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, 15 September 2011
Julis Anton Merigo
NRP A253080101
ABSTRACT
JULIS ANTON MERIGO. Study Regeneration of Tengerine Citrus Batu 55
(Citrus reticulata) Through Somatic Embryogenesis Path Way. Supervised by
AGUS PURWITO and ALI HUSNI
The global world market of citrus fruit that is consumed in fresh form to the
current needs to fill a category of fruit that do not have seeds, easy to peel and has
an attractive color (pigmented). Tangerine citrus Batu 55 is one of the mainstay
of fresh fruit horticulture. Tangerine citrus Batu 55 has superior character who
naturally have had so distinguished by citrus Siam but the characters are not as
good as tangerine imports. Somatic embryogenesis is an important tool for
supplying new varieties to be used cultivar genetic improvement programs in
citrus, this technology has been extensively used and has many important
implications. The objective of this research is to produce somatic embryos of
Tangerine citrus Batu 55 from nucellar embryo. The research comprised:
embryogenic callus induction, callus prolifertation, maturation of somatic embryo,
germination of somatic embryo, shoot multiplication, roots induction,
chromosome counting, acclimatization and grafting. The results showed that the
medium of Murashige & Tucker + 3 mg/l BAP + 1 mg/l 2,4-D + 500 mg /l malt
extract increased the percentage of the callus formation up to 40% after 4 weeks
with total number of pre-embryos (PEM ) 31.0. The medium proliferation used
was MS with the addition of vitamin Morell & Wetmore (MW) +3 mg/l BAP+300
mg/l casein hydrolisat. These medium improved callus diameter up to 2.3 mm
after 4 weeks cultured. Maturation of embryos was obtained by transferring
globular structure in the medium MW + 2.5 mg/l ABA + 500 mg/l malt extract.
These medium increased the percentage of mature somatic embryo up to 98%
after 4 weeks cultured. Somatic embryos up to 84% germinated when the
cotyledons grown in the medium MW + 2.5 mg/l GA3. The shoot multiplication
containing MW medium + 7 mg/l biotin +500 mg/l malt extract was able to
produce the highest percentage of shoot multiplication up to 86 %. The root
induction containing MS medium + 3 mg/l IBA was able to produce the highest
percentage of root induction up to 86%. Acclimatization of plantlets with roots
increased survival rate up to 90% after 5 weeks acclimatization.
Key words : Plant growth regulator, callus induction, regeneration, somatic
embryogenesis, acclimatization, grafting.
RINGKASAN
JULIS ANTON MERIGO. Studi Regenerasi Jeruk Keprok Batu 55 (Citrus
reticulata L) Melalui Jalur Embriogenesis Somatik. Dibimbing oleh AGUS
PURWITO dan ALI HUSNI
Kebutuhan pasar dunia secara global terhadap buah jeruk yang dikonsumsi
dalam bentuk segar untuk saat ini perlu memenuhi kategori buah yang tidak
berbiji (seedless), mudah dikupas (easy peeling) dan mempunyai warna yang
menarik (pigmented). Jeruk keprok batu 55 merupakan salah satu andalan buah
segar hortikultura. Jeruk keprok batu 55 mempunyai karakter unggul yang secara
alami telah dimilikinya sehingga membedakan dengan jeruk Siam akan tetapi
karakter tersebut tidak sebaik jeruk keprok impor. Jeruk keprok impor telah
mengalami perbaikan secara genetik sehingga buah tersebut memiliki karakterkarakter unggul. Hal inilah yang menjadikan jeruk keprok lokal kalah bersaing.
untuk itu perlu adanya kesinambungan antara pemuliaan konvensional dan
pemuliaan secara bioteknologi dalam memperbaiki sifat-sifat genetik jeruk keprok
lokal agar dapat bersaing dengan jeruk keprok impor.
Secara konvensional, perbaikan sifat dilakukan dengan persilangan antar
varietas, spesies, genera atau kerabat yang lebih jauh yang memiliki sifat yang
diinginkan. Namun teknik pemuliaan konvensional memerlukan waktu yang
cukup lama dan biaya yang besar. Perbaikan genetik jeruk melalui hibridisasi
dihambat dan dibatasi oleh sifat heterozigositas yang tinggi dan inkompatibilitas.
Salah satu alternatif pemecahan masalah yaitu melalui teknik kultur jaringan atau
teknik in vitro. Dalam hal ini teknik regenerasi tanaman secara embriogenesis
somatik sangat penting dalam keberhasilan pemuliaan non konvensional.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode regenerasi jeruk keprok
Batu 55. Penelitian ini terdiri dari: induksi kalus embriogenik, proliferasi kalus,
pendewasaan embrio somatik, perkecambahan embrio somatik, multiplikasi tunas,
induksi akar, penghitungan jumlah kromosom, aklimatisasi planlet serta grafting.
Hasil penelitian menunjukan bahwa induksi kalus embriogenik terbaik
adalah menggunakan eksplan nuselus yang ditumbuhkan pada media Murashige
dan Tucker (MT) dengan penambahan ZPT 3 mg/l BAP + 1 mg/l 2,4-D dan
penambahan 500 mg/l ekstrak malt dengan lama inisiasi kalus tercepat 22.4 hari
dengan persentase pembentukan kalus 40%. Kalus yang didapat bersifat
embriogenik dimana pada kalus ditemukan struktur pre embrio (PEM). Media
terbaik untuk proliferasi kalus adalah media Murashige dan Skoog (MS) dengan
penambahan vitamin Morell dan Wetmore (MW) dengan penambahan 3 mg/l
BAP dan 300 mg/l kasein hidrolisat menghasilkan rata-rata penambahan diameter
kalus selama empat minggu sebesar 2.3 mm. Pendewasaan embrio somatik
dengan menggunakan media MS dengan penambahan vitamin MW + 2.5 mg/l
ABA merupakan media terbaik dalam mendewasakan embrio somatik dengan
efisiensi pendewasaan sebesar 82.6%. Media MS dengan penambahan vitamin
MW + 2.5 mg/l GA3 merupakan konsentrasi terbaik untuk mengecambahkan
embrio somatik dimana efisiensi perkecambahan sebesar 84%. Multiplikasi tunas
terbaik didapat pada media MS dengan penambahan vitamin biotin pada
konsentrasi 7 mg/l dengan efisiensi multiplikasi tunas sebesar 86%. Induksi akar
sekunder embrio somatik terbaik terdapat pada jenis auksin IBA dengan
konsentrasi 3 mg/l dengan persentasi pembentukan akar sebesar 86% dan tingkat
keberhasilan aklimatiasasi terbaik pada planlet yang telah mengalami induksi akar
terlebih dahulu. Hasil grafting dengan menggunakan tunas ES selama 4 minggu
menunjukkan persentase hidup 89 %.
Kata kunci : zat pengatur tumbuh, induksi kalus, regenerasi, embrio somatik,
aklimatisasi, grafting
©Hak Cipta Milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta Dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencamtumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan sebagian besar pengutipan tersebut tidak merugikan
kepentingan.yang.wajar.IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya Tulis
dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB.
STUDI REGENERASI TANAMAN JERUK KEPROK BATU 55
(Citrus reticulata L) MELALUI JALUR EMBRIOGENESIS
SOMATIK
JULIS ANTON MERIGO
Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Mayor
Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011
Judul Tesis: Studi Regenerasi Tanaman Jeruk Keprok Batu 55 (Citrus reticulata L)
Melalui Jalur Embriogenesis Somatik
Nama
: Julis Anton Merigo
NIM
: A253080101
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. Agus Purwito, M.Sc. Agr
Ketua
Dr. Drs. Ali Husni, M.Si
Anggota
Diketahui
Koordinator Mayor
Pemuliaan dan Bioteknologi Tanaman
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr. Ir. Tri koesoemaningtyas, M.Sc
Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr
Tanggal ujian: 9 September 2011
Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat-Nya dalam penyelesaian tesis ini yang merupakan syarat untuk mendapat
gelar Magister di Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan judul “Studi Regenerasi
Tanaman Jeruk Keprok Batu 55 (Citrus reticulata L) Melalui Jalur Embriogenesis
Somatik”.
Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Dr. Ir. Agus Purwito,
Msc. Agr dan Dr. Ali Husni, Msi atas bimbingan, saran, ilmu, waktu serta
perhatiannya dalam pelaksanaan penelitian sampai penulisan tesis ini dapat selesai
dengan baik. Terima kasih juga disampaikan kepada dekan sekolah Pascasarjana
IPB, Dr. Ir. Trikoesomaningtyas selaku ketua Program studi Pemuliaan dan
Bioteknologi Tanaman IPB, seluruh staf pengajar, dan semua teknisi yang telah
memberikan bantuan selama penulis belajar di IPB. Ucapan terima kasih dan
penghargaan yang mendalam penulis sampaikan kepada ayah dan ibu yang setia
mendoakan, membimbing, dan mengarahkan saya menjadi anak lebih baik.
Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) Bogor. Untuk itu,
penulis menyampaikan terima kasih kepada kepala Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian atas izin yang
diberikan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di BB-Biogen.
Terimakasih juga diucapkan kepada Dr. Ir. Ika Mariska, APU sebagai ketua
Kelompok Peneliti dan kepada semua peneliti serta teknisi BB-BIOGEN Bogor.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada bapak Ujang Hapid sebagai staf di
LIPI dan bapak Joko sebagai staf di Laboraturium mikro teknik IPB yang telah
banyak membantu penulis dalam pembuatan preparat dalam analisis jumlah
kromosom.
Bogor, September 2011
Julis Anton Merigo
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Palembang tanggal 02 Agustus 1983 dari ayah Isnaini
Ibrahim dan ibu Murni Kuris. Penulis merupakan anak pertama dari empat
bersaudara. Jenjang pendidikan penulis berturut-turut adalah lulusan sekolah dasar
di SD Negeri 048 Pematang Reba Rengat pada tahun 1995, lulusan SLTP
Negeri 2 Tembilahan 1998, lulusan SMK Muhammadyah 1 Pekanbaru pada tahun
2001. Tahun 2006 penulis mendapat gelar sarjana (S1) di Universitas Islam Riau
(UIR) Pekanbaru. Tahun 2008 penulis melanjutkan studi pada Sekolah
Pascasarjana IPB untuk mengambil program magister dengan mayor Pemuliaan
dan Bioteknologi Tanaman, Fakultas Pertanian.
i
DAFTAR ISI
Halaman
I.
II.
III.
PENDAHULUAN UMUM
1
Latar Belakang ......................................................................
1
Tujuan Penelitian....................................................................
3
Hipotesis Penelitian...............................................................
3
Diagram Alir Penelitian.........................................................
4
TINJAUAN PUSTAKA
5
Botani Tanam Jeruk Keprok Batu 55 .....................................
5
Perkembangan Jeruk Keprok...................................................
6
Perkembangan Jeruk Keprok Batu 55……………………….
7
Kultur Jaringan Tanaman Jeruk ..............................................
9
Embriogenesis Somatik...........................................................
13
Embriogenesis Somatik pada Jeruk.........................................
14
METODELOGI PENELITIAN
17
Tempat dan waktu...................................................................
17
Bahan dan Alat........................................................................
17
Metode Percobaan...................................................................
17
1.
Induksi Kalus Embriogenik.........................................
17
2.
Proliferasi Kalus..........................................................
18
3.
Pendewasaan Embrio Somatik.....................................
19
4.
Perkecambahan Embrio Somatik.................................
19
5.
Multiplikasi Tunas.......................................................
19
6.
Induksi Perakaran.........................................................
20
7.
Penghitungan Kromosom ……………………………
20
8.
Aklimatisasi ………………………………………….
20
9.
Grafting………………………………………………
21
ii
IV.
V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
22
1.
Induksi Kalus Embriogenik...........................................
25
2.
Proliferasi Kalus............................................................
24
3.
Pendewasaan Embrio Somatik......................................
28
4.
Perkecambahan Embrio Somatik..................................
32
5.
Multiplikasi Tunas.........................................................
35
6.
Induksi Perakaran..........................................................
37
7.
Penghitungan Jumlah Kromosom …………………….
40
8.
Embrio Somatik Sekunder……………………………
41
9.
Aklimatisasi …………………………………………..
44
10. Grafting……………………………………………….
46
KESIMPULAN DAN SARAN
50
Kesimpulan..............................................................................
50
Saran........................................................................................
50
VI.
DAFTAR PUSTAKA
51
VII.
LAMPIRAN
59
58
58
60
62
iii
DAFTAR TABEL
No
Halaman
1.
Respon nuselus pada media induksi......................................
22
2.
Pengaruh penambahan ABA pada embrio somatik...............
28
3.
Pengaruh penambahan GA3 pada embrio somatik...............
31
4.
Pengaruh konsentrasi biotin..................................................
36
5.
Pengaruh jenis auksin pada perakaran...................................
38
6.
Pengaruh penambahan ABA pada embrio somatik sekunder.
42
7.
Pengaruh penambahan GA3 pada embrio somatik sekunder.
43
8.
Pengaruh aklimatisasi............................................................
44
9.
Perkembanan batang atas setelah grafting.............................
46
iv
DAFTAR GAMBAR
No
Halaman
1.
Alur kerangka pikir………………………………...….
4
2.
Jeruk Keprok Batu 55………………………………….
8
3.
Bagian nuselus dan embrio pada jeruk…………………
15
4.
Pengamatan mikroskopis jaringan nuselus.....................
18
5.
Induksi kalus embriogenik…………………………….
23
6.
Grafik laju pertambahan kalus…..………...…..............
25
7.
Proliferasi kalus..............................................................
27
8.
Pertumbuhan dan perkembangan embrio somatik.........
9.
Perkecambahan embrio somatik.....................................
31
34
10.
Variasi perkecambahaan.................................................
35
11.
Multiplikasi tunas............................................................
37
12.
Variasi induksi perakaran...............................................
39
13.
Pengamatan kromosom pada akar....................................
40
14.
Embrio somatik sekunder...............................................
43
15.
Fase pendewasaan..........................................................
44
16.
Aklimatisasi tunas embrio somatik.................................
46
17.
Pertumbuhan tunas grafting umur 1 minggu..................
48
18.
Perkembangan tunas grafting …..............……..............
49
v
DAFTAR LAMPIRAN
No
Halaman
1.
Lampiran deskripsi jeruk keprok batu 55……...….......
59
2.
Lampiran komposisi media kultur.................................
61
3.
Lampiran metode Praperlakuan lengkap……………..
62
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perdagangan bebas secara global (AFTA) yang telah dimulai tahun 2003
lalu telah menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara konsumen produk
impor terbesar di Asia. Salah satu produk impor yang paling banyak dijumpai di
pasaran adalah produk hortikultura khususnya buah-buahan (Deptan 2003). Salah
satu produk buah-buahan impor tersebut adalah buah jeruk keprok Mandarin
(Citrus reticulata.L). Jeruk keprok Mandarin sangat digemari karena penampilan
yang menarik, kulitnya mudah dikupas, rasanya segar dan hampir tidak
mempunyai biji (seedless). Hal inilah yang menjadikan jeruk keprok impor sangat
digemari oleh masyarakat. Tingginya permintaan jeruk keprok impor ditandai
dengan masih tingginya angka impor jeruk keprok dari tahun 2005-2009 sebesar
504.063 ton atau sekitar 100.813 ton/pertahun dengan nilai mencapai
U$ 80.569.300 (Badan Pusat Statistik 2010). Jeruk keprok Mandarin sebagian
besar diimpor dari China dan Pakistan (Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian
2008).
Tingginya kebutuhan buah yang dikonsumsi dalam bentuk segar
menjadikan buah jeruk keprok sebagai salah satu buah yang paling disukai oleh
masyarakat. Kebutuhan jeruk keprok nasional belum dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat sehingga harus dipenuhi dengan jeruk keprok impor. Salah satu faktor
penting yang menyebabkan rendahnya produksi jeruk nasional yaitu belum
tersedianya bibit jeruk yang dapat berproduksi secara optimal, dapat beradaptasi
dengan lingkungan ekstrim, bebas dari penyakit dan mudah dalam mendapatkan
bibit yang berkualitas dalam jumlah yang banyak (Deptan 2003).
Pengembangan bibit unggul dan bermutu memegang peranan penting
dalam upaya pengembangan tanaman jeruk keprok lokal. Salah satu cara yang
memungkinkan yaitu dengan menerapkan teknik bioteknologi pada pemuliaan
jeruk. Salah satu teknik dalam bioteknologi tersebut adalah teknik regenerasi
tanaman melalui jalur embriogenesis somatik (ES). Embriogenesis somatik adalah
pembentukan embrio dari sel-sel non seksual. Embrio somatik merupakan salah
satu produk yang dapat dihasilkan dalam sistem regenerasi pada tanaman melalui
2
teknik kultur jaringan. Regenerasi tanaman melalui embriogenesis somatik dengan
keberhasilan yang tinggi dapat membantu mendapatkan varietas atau genotipe
unggul melalui pemuliaan non konvensional. Keuntungan lain menggunakan
teknik regenerasi ini adalah untuk memproduksi bibit dalam jumlah yang banyak,
tidak dipengaruhi oleh musim, bebas penyakit, dan tidak merusak pohon induk.
Regenerasi tanaman melalui jalur ES sudah banyak dilakukan, akan tetapi
belum pernah dilakukan pada jeruk keprok batu 55. Pembentukan embrio somatik
dari berbagai jenis eksplan juga telah dilaporkan, namun tingkat keberhasilannya
relatif rendah dan masih mengalami kesulitan dalam meregenerasikan menjadi
planlet. Pembentukan ES bisa secara langsung maupun tidak langsung. Embrio
somatik langsung adalah pembentukan ES secara langsung dari eksplan tanpa
melalui pembentukan fase kalus, sedangkan ES tidak langsung proses
pembentukannya melalui fase kalus. Pembentukan struktur bipolar pada ES
merupakan pertumbuhan meristem tunas dan akar. Struktur bipolar tersebut juga
dialami pada perkembangan embrio zigotik (Husni 2010), akan tetapi pada
sebagian besar tanaman pembentukan embrio somatik masih tergolong sulit.
Faktor eksplan yang digunakan untuk ES sangat mempengaruhi tingkat
keberhasilan terbentuknya embrio somatik. Bagian nuselus merupakan eksplan
yang paling baik digunakan untuk terbentuknya embrio somatik pada tanaman
jeruk (Kepiro & Roose 2007). Maheshwari dan Rangaswamy (1958) pertama kali
melaporkan keberhasilan pembentukan ES melalui eksplan nuselus. Regenerasi
embrio somatik jeruk yang diinduksi dari jaringan nuselus telah dilaporkan oleh
Rangan et al. (1968). Husni et al. (2011) juga telah melaporkan keberhasilan
meregenerasikan kalus embriogenik tanaman jeruk siam Pontianak dan siam
Simadu melalui jalur ES dengan tingkat keberhasilan tinggi. Keberhasilan embrio
somatik ditentukan oleh pemilihan jaringan yang tepat sebagai sumber eksplan,
selain juga ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya genotipe (Berthuoly &
Michaux 1995) dan komposisi zat pengatur tumbuh (ZPT) dalam media.
Teknik
embriogenesis
somatik
telah
banyak
dilakukan
dengan
menggunakan induksi ZPT yang kuat dan mengkondisikannya pada lingkungan
yang tepat. Senyawa zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan adalah
golongan auksin, sitokinin, ABA, dan giberelin. Kultur in vitro tidak terlepas dari
3
penggunaan ZPT karena ZPT mempunyai kemampuan untuk merangsang
pertumbuhan eksplan dan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan. Zat
pengatur tumbuh berperan penting dalam menentukan arah pertumbuhan suatu
kultur (Watimena 1998). Kelompok auksin adalah yang paling umum digunakan
untuk menginduksi ES, selain itu ZPT sitokinin juga berpengaruh terhadap
diferensiasi sel dalam proses embriogenesis somatik (Pierk 1987).
Pemberian jenis dan konsentrasi ZPT yang tepat diharapkan menghasilkan
embrio yang pertumbuhannya normal dan memungkinkan untuk terbentuknya
kalus atau sel-sel yang tersuspensi dalam media kultur. Kalus atau sel-sel tersebut
akan terus berkembang sehingga mencapai jumlah yang cukup banyak, sehingga
sebagian besar dari sel-sel tersebut menjadi sel embriogenik
yang dapat
berkembang dan menjadi embrio dan planlet.
Regenerasi tanaman melalui embriogenesis somatik pada jeruk keprok
Batu 55 sangat
penting untuk dikuasai.
Regenerasi tanaman melalui
embriogenesis somatik memberi peluang untuk mendapatkan tanaman jeruk
keprok Batu 55 yang lebih unggul melalui teknik mutasi, fusi protoplas dan teknik
rekayasa genetika.
Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode induksi kalus dan
regenerasi ES yang berasal dari jaringan nuselus tanaman jeruk keprok Batu 55
hingga tahap aklimatisasi dan grafting.
Hipotesis Penelitian
1. Terdapat media yang tepat untuk menginduksi terjadinya kalus
embriogenik jeruk keprok batu 55
2. Terdapat konsentrasi ABA terbaik untuk pendewasaan embrio somatik.
3. Terdapat konsentrasi GA3 terbaik terhadap perkecambahan embrio
somatik.
4. Terdapat konsentrasi biotin terbaik dalam
multiplikasi tunas embrio
somatik
5. Terdapat konsentrasi auksin terbaik dalam induksi akar embrio somatik
4
Diagram alir penelitian
Jeruk keprok Batu 55
Regenerasi
 Pendewasaan
 Perkecambahan
 Multiplikasi tunas
 Induksi akar
Nuselus
Induksi kalus
Proliferasi kalus
Output :

Output :



$
Media terbaik induksi kalus
dan proliferasi kalus
Kalus embriogenik
Populasi kalus embriogenik



Konsentrasi ABA
pendewasaan ES
Konsetrasi GA3
perkecambahan ES
Konsentrasi Biotin
multiplikasi tunas
Konsentrasi & jenis
untuk induksi akar
untuk
untuk
untuk
auksin
 Analisis jumlah kromosom
 Aklimatisasi tunas
 Grafting
Output :



Jumlah kromosom
Tanaman aklimatisasi di polybag
Tanaman hasil grafting
Gambar 1. Alur kerangka pikir regenerasi embrio somatik jeruk Keprok Batu 55
5
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Jeruk Keprok Batu 55
Tanaman jeruk keprok (citrus reticulata. L) varietas Batu 55 merupakan
tanaman subtropik yang dapat tumbuh dan berproduksi secara optimal pada suhu
optimum 25 - 30 °C. Curah hujan optimal untuk pertumbuhan dan produksi
adalah 1.900 -2.400 mm/tahun dengan rata-rata 2 - 4 bulan basah dan 3 - 5 bulan
kering. Tanah yang cocok bertekstur gembur, berpasir, hingga lempung berliat
dengan kedalaman efektif lebih dari 60 cm. Tingkat keasaman tanah (pH) yang
optimum sekitar 5 - 7, cocok adalah ditanam di daerah dengan ketinggian 700 1300 m dpl. Untuk dataran rendah tanaman jeruk keprok dapat tumbuh pada
ketinggian 100 – 400 m dari permukaan laut (dpl). Jeruk keprok menghendaki
iklim relatif kering dengan lama masa kering sekitar 3 bulan untuk proses
pembungan dan berada di tempat terbuka. Klasifikasi Citrus reticulata L. dalam
sistematika tumbuhan (Van Steenis 1975) adalah sebagai berikut:
Divisi
:
Spermatophyta
Subdivisio
:
Angiospermae
Class
:
Dicotyledonae
Ordo
:
Rutales
Familia
:
Rutaceae
Subfamili
:
Aurantioidae
Genus
:
Citrus
Spesies
:
Citrus reticulata L
Tumbuhan ini merupakan jenis pohon dengan tinggi 2 - 5 meter. Tajuknya
tidak beraturan, dahan kecil, cabangnya banyak, dan tajuknya rindang. Daun
berbentuk tunggal, kecil, helaian daun berbentuk bulat telur memanjang, elliptic
atau berbentuk lanset dengan ujung tumpul, sedikit melekuk ke dalam. Tepi daun
bergerigi beringgit sangat lemah dengan panjang 3,5 - 8 cm bertangkai pendek.
Daun berwarna hijau tua, pada permukaan atas daun mengkilat. Tangkai daun
bersayap sangat sempit sampai tidak bersayap, dengan panjang 0,5 - 1,5 cm.
6
Tanaman ini berbunga majemuk dimana bunga keluar dari ketiak daun atau
pada ujung. Daun berbentuk cawan bulat telur dan tajuk bunga umumnya
berjumlah lima lembar. Bekal buah berbentuk seperti bola dengan diameter
rata-rata 0,1 - 0,2 cm. Buah yang sudah jadi bentuknya agak besar hampir
seragam menyerupai bentuk bola tertekan dengan diameter cabang, bentuk bunga
bulat telur panjang ke arah pangkal seragam dan berbau harum. Tangkai bunga
pendek dengan bunga pelindungnya kecil, kelopak 5 - 8 cm dengan ruang buah
(septa buah) 9 - 19. Tebal kulitnya 0,2 - 0,3 cm mudah dikupas, penuh pori-pori
dan daging buahnya berwarna oranye dan sedikit berbau harum. Daging buah
banyak mengandung air, tiap sapta mengandung banyak biji lebih kurang 10 - 30
biji (Badan Litbang Departement Pertanian 2006).
Perkembangan Jeruk Keprok
Karakter tanpa biji, muda dikupas, penampilan yang menarik, dan rasa
yang manis merupakan karakteristik utama untuk pasar buah jeruk segar pada saat
ini (Ladaniya 2008). Selain untuk dikonsumsi sebagai buah segar, karakter unggul
tersebut sangat diharapkan oleh industri yang bergerak dibidang pembuatan jus,
suplemen vitamin, dan senyawa aromatik. Masalah yang dijumpai pada buah
jeruk sering dikaitkan dengan senyawa aromatik yang tidak menguntungkan,
tingkat kepahitan akibat jumlah biji yang banyak dan tampilan yang kurang
menarik (Singh & Rajam 2009).
Perkembangan jeruk keprok di Indonesia mengalami ketidakstabilan
bahkan cenderung mengalami penurunan, hal tersebut ditandai dengan masih
tinginya angka impor jeruk keprok tersebut. Penurunan produksi jeruk keprok
tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor seperti serangan hama dan penyakit
yang ditimbulkan akibat perubahan iklim. Gencarnya impor buah khususnya jenis
keprok juga mengakibatkan konsumen jeruk keprok lokal beralih untuk
mengkonsimsi jeruk keprok impor yang memiliki karakter-karakter unggul atau
beralih ke jeruk jenis Siam.
Perbaikan sifat genetik sangat penting dilakukan untuk perbaikan mutu
buah jeruk terutama untuk perakitan buah unggul. Program pemuliaan tersebut
dilakukan melalui pemuliaan konvensional (hibridisasi), pemuliaan, mutasi dan
teknik bioteknologi. Namun, pemuliaan untuk jeruk keprok masih dihadapkan
7
dengan beberapa tingkat kesulitan seperti inkompatibilitas dan heterosigositas
yang tinggi. Karakter unggul pada jeruk sangat dipengaruhi oleh aksesi jeruk dan
faktor lingkungan (Mayer et al. 2009) Jeruk Mukaku Kishiu merupakan salah satu
jenis jeruk yang benar-benar tanpa biji walau dalam kondisi lingkungan apapun,
sementara pada Navel orange dan Mandarin Satsuma pada umumnya tanpa biji,
namun jika dilakukan penyerbukan pada lingkungan yang berbeda akan
menghasilkan biji (Olitrault et al. 2007).
Perbaikan sifat secara konvensional telah lama dikembangkan untuk
perbaikan karakter akan tetapi masih terkendala oleh beberapa faktor seperti sifat
inkompatibilitas pada tanaman. Selain itu, waktu yang digunakan untuk
persilangan secara konvensional masih tergolong lama. Persilangan konvensianal
pada intergeneric antara jeruk kultivar Kiyomi Tangor dengan jeruk Meiwa
Kumquat untuk membentuk triploid dibutuhkan waktu ± 6 tahun (Yasuda et al.
2010). Sulitnya mendapatkan tanaman bebas virus juga menjadi kendala dalam
perbaikan sifat tanaman. Terlepas dari teknik pemuliaan yang digunakan,
beberapa varietas komersial penting jeruk keprok seperti Batu 55, Garut, SoE, dan
Konde telah dikembangan melalui teknik induksi mutasi. Teknik induksi seperti
iradiasi atau mutagen kimia dapat meningkatkan keragaman dalam spesies
tanaman. Sifat acak yang dimiliki induksi mutasi yang menyebabkan arah mutasi
tidak bisa diatur sehingga sulit dalam memperbaiki sifat genetik secara khusus
(Sutarto 2009). Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan pemuliaan jeruk keprok
di atas maka perlu adanya sentuhan bioteknologi melalui teknik kultur jaringan.
Perbaikan sifat melalui teknik kultur jaringan pada jeruk khususnya embrio
somatik telah lama dikembangkan dan terbuki memberikan hasil yang baik (Husni
2010).
Perkembangan Jeruk Keprok Batu 55
Jeruk keprok Batu 55 banyak disukai karena beberapa sifat unggul yang
secara alami telah dimiliki seperti aroma dan rasa yang khas yang tidak terdapat
pada jeruk manis pada umumnya. Manfaat lain dari jeruk keprok tidak hanya
terfokus pada daging buah saja akan tetapi pada bagian kulit juga terkandung
beberapa senyawa metabolit sekunder (Copriady et al.2005). Kulit jeruk jenis
keprok mempunyai berbagai macam senyawa diantaranya tangeraxanthin,
8
tangeritin, terpinen-4-ol, terpineolene, tetradecanal, threonine, thymol, thymylmethyl-ether, tryptophan, tyrosine, nobiletin, cis-3-hexenol, cis-carveol, citricacid, citronellal, citronellic-acid, citronellyl-acetate, cystine, decanal, decanoicacid, decanol. Senyawa dalam kulit jeruk keprok yang memiliki aktivitas
antikanker adalah tangeritin dan nobiletin. Tangeritin merupakan senyawa
methoxyflavone yang mempunyai potensi sebagai agen antikanker (Ardiani et al.
2008).
Gambar 2. Jeruk keprok Batu 55 (sumber dokumen pribadi)
Gambar 2 menunjukkan bahwa jeruk keprok batu 55 memiliki penampilan
yang menarik dengan karakter warna kulit orange dengan daging berwarna kuning
kemerahan. Selain rasa yang manis dan tanpa biji karakter panampilan yang
menarik merupakan syarat untuk pasar buah segar.
Perkembangan jeruk keprok Batu 55 masih mengalami hambatan, terutama
dalam memproduksi bibit yang bebas penyakit. Sulitnya mendapatkan bibit yang
bebas virus dan seragam menjadi kendala dalam usaha peningkatan produksi jeruk
keprok Batu 55. Menurut Deptan (2010) luas area pertanaman jeruk keprok Batu
55 di kota Batu mencapai 25 Ha. Dari 25 Ha area pertanaman hanya 5 Ha area
terluas ditanami jeruk keprok Batu 55 yang terletak di dusun Dresel kecamatan
Batu. Selain itu ada juga yang ditanam di area tempat tinggal penduduk. Tidak
tersedianya bibit yang bebas penyakit menjadikan para petani jeruk keprok tidak
optimum dalam usaha peningkatkan produksi jeruk tersebut.
9
Penyediaan bibit secara seperti: okulasi, cangkok, stek, dan perbanyakan
melalui biji masih memiliki kelemahan sehingga perlu adanya peran teknik
bioteknologi untuk mengatasi kelemahan tersebut. Teknik ES sangat membantu
program peerbaikan sifat pada tanaman jeruk. Melalui teknik ES banyak kegiatan
pemuliaan yang bisa dilakukan seperti mendapatkan tanaman bebas dari penyakit
yang disebabkan oleh virus (D'Onghia et al. 2001), ketahanan terhadap salinitas
(Carimi 2007), micro grafting (Germana et al. 2000), bahan fusi protoplas (Husni
2010), bahan transformasi gen (Bond et al. 1998) dan mutasi (Ling et al. 2000).
Perbanyakan bibit secara massal dan bebas dari virus dan seragam juga dapat
diusahakan melalui jalur embrio somatik (Sutanto & Azzis 2006).
Kultur Jaringan Tanaman Jeruk
Perbanyakan tanaman secara kultur jaringan dikembangkan berdasarkan
teori sel yang pertama kali dikemukakan oleh Scheleiden dan Schawn, yaitu
totipotensi sel. Namun kemudian pada perkembangannya teknik kultur jaringan
menjadi sarana penting dalam bidang fisiologi tumbuhan dan dalam aspek
biokimia tumbuh-tumbuhan serta pemuliaan tanaman (zulkarnain 2009).
Totipotensi didefinisikan sebagai kemampuan setiap sel yang dari manapun
sumbernya untuk berdeferensiasi dan tumbuh membentuk individu yang
sempurna apabila sel tersebut ditumbuhkan pada lingkungan yang sesuai untuk
pertumbuhannya dan terkendali (Doyle & Griffiths 1999).
Teknik kultur jaringan pada tanaman jeruk berguna dalam mendapatkan
tanamanan atau bibit dalam jumlah banyak dalam waktu singkat, mendapatkan
tanaman yang bebas penyakit terutama virus, preservasi plasma nutfah yang
bebas penyakit, terutama yang digunakan untuk pemuliaan (Alkhyari &
Albahrany 2001). Selain itu perbaikan sifat juga dapat dilakukan dengan seleksi,
transfer gen dan produksi senyawa–senyawa kimia yang bernilai ekonomi tinggi.
Copriady et al. (2005) menyatakan bahwa pada jeruk mengandung senyawa
metabolit skunder kumarin yang berfungsi sebagai antikoagulan darah dan dapat
menghambat efek karsinogenik. Sedangkan kandungan flavanoid dan limbonoid
juga ditemukan pada berbagai fase pertumbuhan jeruk Kalamondin dan purut
(Devy et al. 2010). Keberhasilan teknik kultur jaringan pada tanaman berkayu
khususnya tanaman jeruk sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor penting seperti
10
bahan tanaman (eksplan), medium pertumbuhan, zat pengatur tumbuh yang
digunakan (auksin, sitokinin, giberelin, zat inhibitor) dan asam amino (Carimi
2005).
Ladaniya (2008) menyatakan bahwa kultur jaringan pada jeruk telah lama
dipergunakan sebagai metode untuk propagasi dan perbaikan sifat. Perbaikan sifat
jeruk melalui kultur jaringan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti teknik
ES, induksi mutasi, fusi protoplas, variasi somaklonal, dan seleksi in vitro
(Yuwono 2008).
Eksplan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan suatu
teknik kultur jaringan. Penggunaan eksplan dalam teknik kultur jaringan pada
dasarnya adalah pemanfaatan sifat totipotensi sel yang terdapat pada eksplan
(Wetter & Constabel 1992). Sifat tersebut mungkin terdapat pada semua jaringan
tanaman akan tetapi ekspresinya terbatas pada kondisi tertentu yaitu sel yang
meristematik. Ada lima faktor yang harus diperhatikan dalam regenerasi in vitro
dari eksplan, yaitu: organ yang digunakan, umur fisiologis, musim pada saat
pengambilan eksplan, ukuran eksplan dan kualitas tanaman asal. Hampir semua
jaringan tanaman dapat dijadikan eksplan akan tetapi memerlukan kajian khusus
untuk mempelajari sistem perkembangan sel hingga menjadi jaringan. Daun,
kotiledon, hipokotil, bagian dari embrio, struktur repoduktif, tunas aksilar dan
tunas lateral merupakan organ yang umum untuk regenerasi secara in vitro.
Media tanam yang digunakan dalam teknik kultur jaringan berperan sangat
penting. Media kultur pada prinsipnya harus dapat menyediakan unsur–unsur hara
untuk pertumbuhan seperti tanaman di lapang. Umumnya media pada teknik
kultur jaringan terdiri dari campuran garam-garam anorganik, karbon, vitamin,
asam amino, dan zat pengatur tumbuh. Beberapa kasus tertentu penggunaan arang
aktif biasa digunakan pada media tanam. Dalam kultur jaringan dikenal beberapa
jenis media yang umum digunakan diantaranya media solid dan cair. Pemilihan
jenis media tergantung pada jenis tanaman, faktor aerasi, bentuk pertumbuhan dan
diferensiaisi yang diinginkan.
Sukrosa merupakan persenyawaan yang paling sering digunakan sebagai
sumber energi dalam media kultur. Ammirato (1983) menyatakan embriogenesis
somatik in vitro tanaman dikotil menggunakan sukrosa pada konsentrasi 2-4 %.
11
Persenyawaan lain yang dapat digunakan adalah glukosa, maltosa dan fruktosa
(Altaf et al. 2009). Tomaz et al. (2001) menyatakan bahwa jenis dan konsentrasi
gula sebagai sumber energi sangat mempengaruhi inisiasi kalus embriogenik jeruk
keprok. Vitamin yang paling sering digunakan dalam media kultur jaringan
tanaman adalah thiamin, niacin, dan pyridoxine (Gunawan 1992). Beberapa
media juga mengandung pantotenat dan biotin (Gamborg & Shyluk 1981).
Penambahan myoinositol pada media kultur dapat memperbaiki pertumbuhan dan
morfogenesis, sehingga sering dipandang sebagai golongan vitamin untuk
tanaman (George & Sherrington 1984).
Asam-asam amino merupakan sumber nitrogen organik yang lebih cepat
tersedia dari pada nitrogen yang terdapat dalam bentuk nitrogen anorganik media
(shiaty et al. 2004). Asam amino yang umum digunakan pada media kultur adalah
sistein, L-glutamin, asparagin, L-arigin, l-tirosin, glisin serta campuran glutamin
dan asparagin serta campuran asam amino kompleks seperti kasein hidrolisat,
ekstak mal dan yeast ekstrak. Konsentrasi glutamin dan asparagin yang umum
digunakan 100 mg/l, L-argini dan sistein 10 mg/l, L-tirosin 100 mg/l, glisin 2 mg/l
dan asam amino kompleks 0.05% - 0.1% (Wattimena 1999).
Zat pengatur tumbuh (ZPT) merupakan faktor yang menentukan arah
perkembangan eksplan. ZPT memainkan peranan yang sangat penting terhadap
pertumbuhan dan perkembangan, pembelahan, pembesaran dan diferensiasi sel
(Zulkarnain 2009; Davies 2004). Tanpa ZPT pertumbuhan dan perkembangan
tanaman dapat terganggu sebab untuk pembelahan sel dan pembesaran volume sel
suatu jaringan memerlukan ZPT tertentu terutama dari golongan auksin dan
sitokinin (Wattimena 1998). Interaksi dan perimbangan antara ZPT yang
diberikan dalam media dan yang diproduksi secara endogen menentukan arah
perkembangan suatu kultur. Pemberian auksin yang lebih tinggi dari sitokinin
akan menyebabkan diferensiasi mengarah kepada pertumbuhan akar, sebaliknya
jika sitokinin lebih tinggi dari auksin, diferensiaisi akan mengarah kepada
pertumbuhan tunas (Santoso dan Nursandi 2001). ZPT merupakan senyawa
organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah dapat bersifat mendorong,
menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan
tanaman (Watimena
1992).
ZPT
dapat
menstimulasi
pembelahan dan
12
perkembangan sel, terkadang jaringan atau eksplan dapat memproduksi ZPT
sendiri (endogen). Menurut Gunawan (1992) pemberian ZPT dari luar adalah
untuk mengubah nisbah
ZPT yang ada pada tanaman. Perubahan nisbah
selanjutnya dapat mengubah laju pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Penggunaan konsentrasi ZPT yang tepat dapat menghasilkan perkembangan sel ke
arah yang dikehendaki.
Berdasarkan kegunanya ZPT digolongkan kedalam lima golongan yaitu:
auksin, sitokinin, asam absisik (ABA), giberelin dan etilen. Menurut Wattimena
(1998) 2,4-D merupakan salah satu auksin yang mempunyai aktivitas tinggi jika
dibandingkan dengan auksin alami seperti IAA. Senyawa 2,4-D digunakan secara
luas dalam kultur jaringan terutama untuk merangsang pembentukan kalus yang
bersifat embriogenik. Hal tersebut disebabkan karena 2,4-D merupakan auksin
sintesis yang sangat aktif dan kuat, cukup resisten terhadap degradasi ensimatik
dan proses konjungasi dengan senyawa lain (Moore 1979). Sedangkan kelompok
sitokinin yang sering digunakan untuk membantu penginduksian kalus yaitu BAP
dan kinetin. Sitokinin berperan dalam pembelahan sel pada jaringan yang
digunakan sebagai eksplan. Menurut Wattimena (1992) pada beberapa tanaman
sitokinin sangat dibutuhkan untuk proliferasi kalus. Husni (2010) menyatakan
bahwa pemberian BAP dapat digunakan untuk proliferasi kalus embriogenik jeruk
Siam.
Sitokinin di dalam kultur jaringan tanaman dapat berfungsi antara lain
untuk proses pembelahan sel. Selain meningkatkan pembelahan sel dan inisiasi
tunas, sitokinin terlibat pula di dalam kontrol perkecambahan biji, mempengaruhi
absisi daun dan transpor auksin (Davies 2004). Terdapat kisaran interaksi yang
luas antara kelompok auksin dan sitokinin. Keduanya berinteraksi pula dengan
senyawa-senyawa kimia lainnya yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti
suhu dan cahaya (Gunawan 2002). Auksin pada kondisi tertentu dapat bersifat
seperti sitokinin
ataupun sebaliknya. Meskipun demikian, baik auksin dan
sitokinin keduanya seringkali digunakan secara bersamaan pada media kultur
untuk
menginduksi
pola
morfogenesis
tertentu,
walaupun rasio
untuk
menginduksi perakaran maupun tunas tidak selalu bersamaan (Zulkarnain 2009).
13
Kelompok ZPT GA3 merupakan kelompok ZPT yang paling banyak
dijumpai di dalam tanaman. Hampir pada setiap perkembangan tanaman GA3
berperan aktif termasuk pada proses perkecambahan benih, pembentukan trikoma
pada daun, pemanjangan batang dan daun, induksi pembungaan, perkembangan
anter dan buah serta perkembangan benih (Acar et al 2010). Penggunaan GA3
pada kultur jaringan khususnya untuk elongasi tunas. GA3 akan mendorong
percepatan pertumbuhan dari setiap sel jaringan sehingga perkembangan tanaman
menjadi optimal. Ricci et al. 2001 menyatakan bahwa penambahan GA3 pada
media kultur dapat memperbesar peluang jeruk untuk melakukan proses elongasi
tunas.
Embriogenesis Somatik
Perkembangan media kultur jaringan dalam perbanyakan sel dan jaringan
vegetatif telah sampai pada level yang memungkinkan untuk melakukan
industrialisasi perbenihan dan penyediaan bahan dasar industri. Selain mampu
menghasilkan tanaman yang sama dengan induknya, menghasilkan tanaman yang
bebas patogen sistemik, memungkinkan untuk propagasi tanaman secara masal,
dan mengatasi perbanyakan tanaman yang tidak dapat diperbanyak secara
konvensional (zulkarnain 2009). Teknologi ini kemudian dikenal dengan istilah
teknologi embriogenesis somatik. Embriogenesis somatik merupakan teknologi
yang sangat efisien dan memiliki potensi propagasi secara massa yang komersil
dengan biaya yang relatif murah. Embrio somatik berpotensi dikembangkan
dalam sistem regenerasi tanaman karena kapasitas proliferasi yang tinggi,
memungkinkan untuk mendapatkan sel tunggal yang dapat menghindarkan dari
resiko kimera pada pemuliaan mutasi dan teknologi rekombinan DNA ( Lou et al.
1999)
Embriogenesis somatik merupakan suatu proses berkembangnya sel somatik
menjadi suatu jaringan tanpa melalui adanya fusi gamet. Selama fase awal
embriogenesis, sel-sel somatik harus memulai beberapa fase perkembangan
seperti dediferensiasi, induksi dan arah perkembangan . Pierk (1987) menyatakan
bahwa embrio somatik bisa terjadi secara langsung dan tidak langsung. Secara
langsung yaitu proses terbentuknya embrio tanpa melalui proses kalus sedangkan
tidak langsung dimana proses pembentukan embrio melalui proses pembentukan
14
kalus. Proses
embrio somatik dimulai dengan terbentuknya sel-sel yang
embriogenik berukuran kecil dengan isi sitoplasma yang penuh, nukleus yang
besar, vakuola yang kecil dan kaya akan butiran-butiran pati yang padat,
kemudian sel-sel tersebut berubah menjadi pre embrio yang bekembang menjadi
fase globular, jantung, dan kotiledon. Tahapan perkembangan dari embrio somatik
sama dengan perkembangan sel pada embrio zigotik dimana pada embrio somatik
terdapat ciri struktur bipolar yaitu mempunyai dua calon meristem yaitu meristem
akar dan meristem tunas (Husni et al.2010).
Embrio somatik juga bermanfaat sebagai model untuk mempelajari fungsi
gen yang terlibat dalam embriogenesis karena ada persamaan antara regenerasi
tanaman secara in vitro ataupun in vivo. Secara umum perkembangan embrio
somatik terjadi pada dua tahapan, tahap pertama disebut morfogenetik yaitu
pembentukan stuktur dasar sel yang mengarah ke arah pembentukan bipolar dan
pembentukan jaringan-jaringan primer yang meristem (Husni et al. 2010). Tahap
kedua yaitu perkembangan embrio pada fase ini terjadi pematangan sel yang
ditandai dengan
adanya aktifitas perkembangan jaringan menjadi organ dan
penyimpanan makro molekul seperti protein dan karbohidrat yang diperlukan
selama proses perkecambahan dan pertumbuhan (Carimi 2005). Embrio somatik
merupakan salah satu teknik in vitro yang dapat membantu konservasi tanaman
dengan penyediaan bibit yang cepat. Kunitake et al. (2005) menyatakan bahwa
penelitian embrio somatik pada jeruk sangat penting dalam aplikasi teknik
rekayasa sel untuk meningkatkan hasil produksi.
Embriogenesis Somatik pada Jeruk
Teknik embriogenesis somatik pada tanaman jeruk telah banyak diteliti baik
digunakan untuk mendapatkan tanaman yang seragam dan bebas virus ataupun
sebagai bahan untuk perbaikan sifat genetik. Pentingnya mendapatkan bibit
tanaman jeruk yang bebas penyakit terutama virus menjadikan embrio somatik
pada jeruk terus berkembang (Sawi et al. 2005). Selain mendapatkan tanaman
bebas virus teknologi embrio somatik juga dimafaatkan untuk memproduksi jeruk
untuk batang bawah. Ricci et al. (2001) melaporkan bahwa penggunaan embrio
somatik pada jeruk dengan menggunakan eksplan embrio
nuselus dapat
memproduksi secara masal untuk jenis jeruk batang bawah yang seragam.
15
Perbaikan
sifat tanaman
melalui embrio somatik juga telah banyak
dilakukan pada tanaman jeruk salah satu metode yang dapat dilakukan dengan
hibrida somatik (Saito et al. 1994 ; Guo & Deng 1998 ; Guo & Grosser 2005;
Husni 2010), studi protoplas (Kunitake et al. 2005), serta uji ketahan (Gmiter &
Moore 2005; Carimi et al. 2007). Konsep regenerasi tanaman melalui embrio
somatik pada tanaman jeruk tidak berbeda halnya pada tanaman dikotil lainya.
Keberhasilan regenerasi dari embrio somatik juga dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu: eksplan, ZPT, media tanam serta arah tujuan perkembangan yang
diinginkan (Yujin & Xiuyin 2002).
Nuselus pada tanam jeruk merupakan eksplan yang mempunyai peluang
lebih besar dalam mengiduksi sel yang embriogenik (Saito et al. 1994;
Ricci et al 2001; Altaf et al. 2009; Husni 2010). Adapun beberapa keuntungan
menggunakan jaringan nuselus sebagai eksplan antara lain: memiliki struktur
genetik identik dengan tanaman induk (true to type), tingkat keberhasilan
menghasilkan kalus yang embrionik lebih tinggi jika dibandingkan dengan organ
vegetatif lainnya, tidak dipengaruhi oleh mutasi secara alami sebagai mana yang
dialami oleh kebanyakan embrio zigotik (Krueger & Navarro 2007).
Jaringan nuselus berkembang dari jaringan ovul yang mengelilingi atau
menyelimuti kantung embrio seksual (embryo sac) dan mempunyai materi genetik
yang sama dengan indukya (Kepiro & Roose 2007). Jaringan nuselus umumnya
terdapat pada bji yang diperoleh dari buah yang muda.
Gambar 3. Bagian nuselus dan embrio pada jeruk (sumber Carimi F 2005)
Gambar 3 menunjukan bahwa perkembangan jaringan nuselus tidak terlalu
berbeda dengan perkembangan embrio zigotik. Perkembangan nuselus akan
terhenti jika buah telah memasuki fase masak. Nuselus yang terdapat pada buah
muda lebih mudah untuk diinduksi karena pada fase ini jaringan memiliki sel-sel
16
yang aktif membelah (Obukosia & Waithaka 2000). Embrio yang dihasilkan dari
jaringan nuselus mempunyai vigor yang tinggi (Iwamasa et al. 2007). Donghia
et al. (2001) dan Carimi (2007) menambahkan bahwa embrio yang dihasilkan dari
jaringan nuselus sebagai bahan eksplan sering dimanfaatkan pada teknik kultur
jaringan khususnya untuk perbanyakan tanaman jeruk bebas dari virus (Obukosia
& Waithaka 2000).
Penggunaan eksplan nuselus pada jeruk pertama kali digunakan pada kultur
jaringan untuk mengembangkan tanaman yang bebas virus (Tomaz et al. 2000).
Nuselus yang digunakan sebagai sumber eksplan haruslah dari tanaman yang
sehat dan tidak dalam keadaan stress atau mengalami mutasi secara spontan, dan
umur buah saat diisolasi. Hal tersebut penting diperhatikan karena pembentukan
kalus sangat tergantung pada status jaringan. Inisiasi kalus lebih mudah terjadi
pada jaringan yang masih muda karena eksplan masih mengandung sel-sel yang
aktif membelah (Carimi 2007). Nuselus merupakan eksplan yang sangat baik
untuk penginduksian kalus embriogenik (Ricci et al. 2007). Christopani (1991)
menyatakan bahwa nuselus sangat baik digunakan sebagai eksplan karena
memiliki peluang yang lebih besar dalam menghasilkan jumlah sel yang
embriogenik. Faktor
lingkungan tumbuh, genotipe, umur eksplan, komposisi
media tanam juga merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam induksi
kalus embriogenik pada eksplan nuselus (Grosser & Gmiter 1990).
Selain faktor eksplan ZPT juga merupakan hal yang penting dimana ZPT
berperan penting dalam proses induksi kalus embriogenik. Setelah terbentuk kalus
embriogenik peran ZPT selanjutnya adalah mendewasakan serta menumbuhkan
embrio tersebut. Selama proses pendewasaan embrio akan menyimpan cadangan
protein dan karbon untuk selanjutnya memasuki fase perkecambahan pada media
perkecambahan. Ricci et al. (2007) dan Tomaz et al. (2001) menggunakan
konsentrasi gula yang berbeda-beda untuk proses pendewsaan embrio somatik
jeruk. Pendewasaan embrio somatik dengan menggunakan ABA pada tanaman
berkayu telah banyak diteliti seperti: Husni (2010) pada hasil fusi Siam Simadu
dengan Mandarin Satsuma; Husni et al. (2011) pada Siam Pontianak; George et
al. (2008) dengan eksplan daun pada jeruk; Gutman et al. (2006) pada pinus;
Kong et al. (1994) pada cemara.
17
METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboraturium Kultur Jaringan Kelompok
Peneliti Biologi dan Jaringan Sel Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya
Genetik Pertanian dan di Laboraturium Kultur Jaringan Tanaman, Departemen
Agronomi dan Hortikultura Fakutas Pertanian IPB, berlangsung mulai dari
Juni 2010 sampai Mei 2011
Bahan dan Alat
Bahan tanaman yang digunakan adalah jaringan nuselus jeruk keprok Batu
55 dari buah muda berumur 60 - 70 hari setelah antesis. Media tanam yang
digunakan media Murashige & Skoog (1962), Murashige & Tucker (1969) dan
MW (MS modifikasi, Husni et al. 2010) kombinasi zat pengatur tumbuh (2,4-D,
BAP, Picloram, Kinetin, ABA, GA3, NAA, IAA, dan IBA).
Vitamin yang
digunakan meliputi vitamin MS Vitamin MT dan vitamin Morel & Wetmore.
Sedangkan alat yang digunakan air flow cabinet, dan perlengkapan kultur jaringan
lainnya
Metode Percobaan
Penelitian ini dilakukan dalam 7 tahap kegiatan: 1) induksi kalus
embriogenik.
2)
proliferasi
kalus
embriogenik.
3)
pendewasaan
ES.
4) perkecambahan ES. 5). multiplikasi 6) induksi akar ES. 7) penghitungan
kromosom. 8) aklimatisasi ES. 9) grafting tunas ES
1. Induksi Kalus Embriogenik
Induksi
kalus
bertujuan untuk
mendapatkan kalus
yang
bersifat
embriogenik. Rancangan lingkungan yang digunakan untuk induksi kalus adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan empat perlakuan media
terdiri dari: M1 = Murashige dan Tucker (MT) + 3 mg/l BAP + 1mg/l 2,4-D.
M2 = Murashige dan Skoog (MS) + 3 mg/l BAP. M3 = MS + vitamin Morell dan
Wetmore (MW). M4 = MT + 0,5 mg/l NAA + 1,5 mg/l BAP. Semua media
perlakuan ditambahkan 500 mg/l ekstrak malt. Ulangan 20 kali dimana satu
18
ulangan adalah satu botol sebagai unit percobaan dengan enam eksplan. Bahan
yang digunakan adalah buah jeruk keprok Batu 55 muda yang berumur 60 - 70
hari setelah antesis. Buah disterilisasi dengan alkohol 96% selama 15 menit
kemudian dilewatkan pada bunsen hingga api padam lalu dibilas dengan aquades
steril sebanyak tiga kali. Kulit jeruk dibuka di bawah kondisi steril. Biji muda
diambil dari buah dan dipindah pada petridish steril dengan bantuan stereo
microscope, bagian nuselus (Gambar 4) ditanam pada berbagai kombinasi media
perlakuan.
Nuselus
Nuselus
Zigotik
Gambar 4. Pengamatan mikroskopik dengan binokular (jaringan nuselus dan embrio
zigotik keprok Batu 55 ).
Pengamatan pada percobaan ini meliputi perkembangan eksplan. Peubah
yang diamati adalah: waktu terbentuknya kalus (hari), jumlah PEM (pre embrio)
dan persentase pembentukan kalus. Peresntase pembentukan kalus
Jumlah kalus yang terbentuk
dengan cara :
X 100 %
Jumlah eksplan
didapat
2. Proliferasi Kalus.
Prolifersai kalus embriogenik bertujunan untuk mendapatkan populasi PEM
yang banyak. Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah kalus embriogenik
yang diperoleh dari hasil induksi kalus pada percobaan satu. Data diolah
berdasarkan standar deviasi setiap perlakuan pada setiap minggu. Kalus
disubkultur pada media perlakuan yang terdiri dari: MK1 = MS + 500 mg/l
Ekstrak malt. MK2 = MS + 300 mg/l Casein hidrolisat. MK3 = MW + 500 mg/l
Ekstrak malt. MK4 = MW + 300 mg/l Casein hidrolisat. Semua media kultur
ditambah 3 mg/l BAP. Peubah yang diamati adalah: penambahan diameter kalus
per minggu.
19
3. Pendewasaan Embrio Somatik
Pendewasaan embrio somatik bertujuan agar didapat embrio dewasa pada
fase kotiledon. Rancangan lingkungan yang digunakan adalah RAL satu faktor
dengan empat perlakuan taraf konsentrasi ABA yaitu: 1.5 mg/l, 2 mg/l, 2.5 mg/l
dan 3 mg/l dengan media dasar MW diulang 10 kali. Satu ulangan adalah satu
botol sebagai unit percobaan dengan 15 struktur globular. Bahan yang digunakan
pada percobaan ini adalah struktur globular yang diperoleh dari percobaan dua.
Peubah yang diamati adalah: perubahan globular menjadi fase jantung, fase
terpedo, kotiledon, dan efisiensi pendewasaan. Efisiensi pendewasaan didapatkan
Jumlah tahap pendewasaan ES
dengan cara :
(fase jantung, fase terpedo dan kotiledon) X 100 %
Jumlah globular awal
4. Perkecambahan Embrio Somatik.
Perkecambahan kotledon bertujuan agar didapat planlet dengan sturktur
bipolar. Rancangan lingkungan yang digunakan adalah RAL satu faktor dengan
empat perlakuan konsentrasi GA3 yaitu: 1.5 mg/l, 2 mg/l, 2.5 mg/l dan 3 mg/l
dengan media dasar MW diulang 10 kali. Satu ulangan adalah satu botol sebagai
unit percobaan dengan
10 struktur kotiledon. Bahan yang digunakan pada
percobaan ini adalah struktur kotiledon yang diperoleh dari percobaan tiga dan
ditanam pada media dasar MW. Peubah yang diamati adalah jumlah planlet yang
terbentuk dan fisiensi perkecambahan. Efisiensi perkecambahan didapatkan
dengan cara :
Jumlah planlet yang terbentuk
Jumlah fase kotiledon awal
X 100 %
5. Multiplikasi Tunas
Multiplikasi tunas bertujuan agar didapat duplikasi tunas. Rancangan
lingkungan yang digunakan adalah RAL satu faktor dengan lima perlakuan
konsentrasi biotin yaitu: 0 mg/l, 1 mg/l, 3 mg/l, 5 mg/l, dan 7 mg/l dengan media
dasar MW diulang 15 kali. Satu ulangan adalah satu botol sebagai unit percobaan
dengan 5 tunas emrbrio somatik. Multiplikasi tunas embrio somatik menggunakan
tunas ES yang didapat pada percobaan empat dan ditanam pada media dasar MW.
Peubah yang diamati adalah embrio somatik yang bertunas, jumlah tunas, umur
muncul tunas dan efisiensi multiplikasi tunas.
Efisiensi multiplikasi tunas :
Jumlah tunas yang bermultiplikasi X 100 %
Jumlah tunas awal
20
6. Induksi Perakaran
Induksi akar dilakukan dengan tujuan agar didapat akar sekunder pada
tunas. Rancangan lingkungan yang digunakan adalah RAL satu faktor dengan
ulangan 15 kali. Satu ulangan adalah satu botol sebagai unit percobaan dengan 1
tunas emrbrio somatik. Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah planlet
hasil perkecambahan yang dihasilkan dari percobaan lima dan ditanam pada
media MW. Percobaan dilakukan pada berbagai jenis auksin (IBA, NAA, dan
IAA) konsentrasi 3 mg/l. Sebagai kontrol tunas tanpa media auksin. Peubah yang
diamati adalah:
umur muncul akar, jumlah akar, panjang akar dan efisiensi
induksi akar.
Jumlah tunas yang berakar
Jumlah tunas awal
7. Penghitungan Kromosom
Efisiensi induksi akar :
X 100 %
Penghitungan kromosom dilakukan dengan metode praperlakuan lengkap
(Sastrosumarjo 2006). 20 Sampel akar diambil secara acak kemudian diberi perlakuan.
Pengamatan dilakukan dibawah microscope. Penghitungan kromosom diulang 10
kali pada setiap sampel.
8. Embrio Somatik Sekunder
Bahan yang digunakan adalah embrio somatik sekunder yang didewasakan
pada media dengan konsentrasi ABA terbaik embrio somatik primer. Peubah
yang diamati adalah perubahan globular menjadi fase jantung, fase terpedo,
kotiledon, dan efisiensi pendewasaan. Perkecambahan embrio somatik sekunder
pada media dengan konsentrasi GA3 terbaik embrio somatik primer. Peubah yang
diamati adalah jumlah planlet yang terbentuk dan efisiensi perkecambahan.
9. Aklimatisasi
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah planlet ES yang
mempunyai akar primer dan skunder hasil induksi perakaran. Percobaan
dilakukan pada planlet 20 ES hasil induksi perakaran dan 20 ES tanpa induksi
perakaran. Media aklimatisasi yang digunakan merupakan campuran sekam dan
kompos. Peubah yang diamati adalah: jumlah dan persentase tunas embrio
somatik yang bertahan hidup.
21
10.
Grafting
Grafting dilakukan dengan tujuan agar tunas in vitro dapat menyesuaikan
diri dengan batang bawah. Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah tunas
ES sebanyak 40 tunas. Batang bawah yang digunakan jeruk JC (Japanese
Citroen). Peubah yang diamati adalah jumlah daun baru, tinggi tunas setelah
grafting dan persentase tunas yang hidup setelah digrafting. Efisiensi tunas yang
hidup dapat dicari dengan cara :
Jumlah tunas grafting hidup
Jumlah tunas garfting awal X 100 %
22
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Induksi Kalus Embriogenik.
Jenis media dasar dan komposisi media yang digunakan dalam kultur in
vitro sangat mempengaruhi kecepatan terjadinya induksi kalus dari jaringan yang
digunakan. Selain itu, adanya zat pengatur tumbuh (ZPT) dalam media kultur
juga merupakan faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan induksi kalus
dari jaringan eksplan yang dikulturkan. Shirin et al. (2007) mengatakan bahwa
adanya auksin 2,4-D dalam media kultur dapat mempercepat terjadinya induksi
kalus. Tao (2002) menyatakan bahwa 2,4-D merupakan golongan auksin paling
baik untuk mengiduksi terjadinya kalus dibandingkan golongan auksin 4-CPA,
NAA, 2.4.5-T, MCPA, dicamba, dan picloram.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa respon
nuselus terhadap perlakuan media kultur memberikan pengaruh terhadap peubah
lamanya induksi kalus. Berdasarkan uji F terhadap umur tumbuh kalus dari setiap
media kultur yang di uji (M1, M2, M3, M4) secara umum memperlihatkan adanya
perbedaan yang nyata antar perlakuan. Tabel 1 menunjukan bahwa komposisi
media kultur M1 merupakan media yang terbaik untuk menginduksi terjadinya
kalus dari eksplan nuselus, diikuti oleh media M2, M3 dan M4. Kecepatan
induksi kalus pada media M1 adalah selama 22.4 hari, 25.2 hari pada media M2,
27.3 hari pada media M3, dan 29.1 hari pada media M4.
Tabel. 1 Respon nuselus terhadap perlakuan media kultur terhadap lama inisiasi
kalus dan persentase pembentukan kalus.
Media kultur
M1
M2
M3
M4
Lama inisiasi
kalus (hari)
22.4 a
25.2 ab
27.3 b
29.1 b
Persentase eksplan
menjadi kalus (%)
40.00 a
32.12 b
25.00 b
27.02 b
rata-rata jumlah
PEM
31.0
26.0
22.2
26.1
Keterangan :Angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap peubah pada kolom yang sama
menunjukan tidak berbeda nyata (P>0.05) pada uji DMRT. M1 = Murashige &
Tucker + 3 mg/l BAP + 1 mg/l 24-D, M2 = Murashige & Skoog + 3mg/l BAP, M3 =
Murashige & Skoog + Vit. MW, M4 = Murashige & Tucker + 0,5 mg/l NAA + 1,5
mg/l BAP . Semua media perlakuan ditambah 500 mg/l ekstark malt.
23
Kecepatan terjadinya induksi kalus pada media M1 diduga karena adanya
kombinasi auksin (1 mg/l 2,4-D) dengan sitokonin (3 mg/l BAP) dan penambahan
500 mg/l ekstrak malt. 2,4-D merupakan senyawa golongan auksin yang sangat
baik untuk mengiduksi terbentuknya kalus. Kiong et al. (2008) menyatakan 2,4-D
merupakan senyawa auksin yang paling baik digunakan untuk induksi kalus
embriogenik pada berbagai jenis eksplan jeruk manis dimana waktu inisiasi ratarata selama 25.7 hari. Watter dan Constabel (1992) menyatakan bahwa BAP dapat
memacu
pertumbuhan kalus
baru
dan dapat
meningkatkan
persentase
terbentuknya tunas. Aftal et al. 2009. Menyatakan bahwa BAP merupakan
sitokinin yang sangat baik untuk memacu pertumbuhan kalus setelah terinduksi
oleh auksin. Husni (2010) menyatakan bahwa dengan pemberian 3 mg/l BAP
dapat mempercepat waktu inisiasi kalus dimana rata-rata waktu yang dibutuhkan
selama 14 hari pada jeruk Siam Simadu dan Siam Pontianak. Hal ini didukung
oleh Wattimena (1992) yang menyatakan bahwa pada beberapa tanaman sitokinin
sangat dibutuhkan untuk proliferasi kalus. Sitokinin di dalam kultur jaringan
tanaman berfungsi antara lain untuk proses pembelahan sel.
Pada Tabel 1 juga terlihat bahwa persentase kalus terbesar yang terbentuk
juga berasal dari media kultur M1 dengan persentase kalus tumbuh sebesar 40%.
Hal ini berbeda nyata dengan perlakuan pada media kultur M2, M3 dan M4
dimana persentase terbentuknya kalus tumbuh berturut 32.12%, 25% dan 27.02%.
Husni 2010 menyatakan bahwa media MT merupakan media terbaik bila
dibandingkan dengan media MS dan MW dimana persenatse pembentukan kalus
pada media MT sebesar 82 %. Altaf et al. 2009 menyatakan bahwa kombinasi
0.25 mg/l BAP dan 0.05 mg/l 2,4 D juga dapat menginduksi kalus embriogenik
pada jeruk Kinov Mandarin.
Kalus yang dihasilkan dari media perlakuan M1 bersifat embriogenik
dimana ciri kalus embriogenik yaitu mempunyai sturktur pre embrio (PEM)
(Husni 2010). Tingginya jumlah PEM yang dihasilkan pada media M1, selain
pengaruh ZPT yang diberikan kemungkinan dikarenakan komposisi media dasar
dan vitamin penunjang. Komposisi media dasar pada media kultur M1 adalah
Murashige & Tucker (MT) dimana komposisi vitaminnya10 kali lebih banyak dari
pada kompsisi vitmain media kultur Murashige & Skoog (MS). Hal ini didukung
24
A
C
B
Globular
C
Pre embrio
Pre embrio
Globular
Pre embrio
D
Gambar 5. Induksi kalus embriogenik dari eksplan nuselus pada media perlakuan
M1 (A= nuselus, B = kalus, C = PEM perbesaran 40x, D = kalus
embriogenik mengandung PEM dan globular)
Hasil penelitian Husni (2010) yang
menggunakan media dasar tersebut
mendapatkan persentase pembentukan kalus pada jeruk siam Simadu sebesar 86%
dan jeruk siam Pontianak sebesar 88%. PEM yang dihasilkan merupakan calon
embrio somatik (Gambar 5C). PEM akan berkembang menjadi tanaman baru
setelah ditumbuhkan pada media pendewasaan dan dilanjutkan pada media
perkecambahan. Media M1 merupakan media yang baik untuk menginduksi kalus
embriogenik walaupun hasilnya tidak berbeda nyata dengan media lainnya.
Gambar 5B menunjukkan kalus terbaik pada media M1 stelah 4 MST dengan
tekstur yang remah. Rata-rata PEM yang terbentuk pada media M1 adalah 31.0,
kemudian diikuti media perlakuan M2, M4 dan M3. Gambar 5D memperlihatkan
struktur kalus yang embriogenik dimana pada kalus tersebut terlihat banyak PEM
dan sebagian ada yang mangandung struktur globular.
Selain pengaruh ZPT
diduga komposisi vitamin yang terdapat pada media MT lebih kaya unsur hara
yang dibutuhkan sel untuk dapat berkembang. Hal ini didukung oleh pendapat
Olivera et al. (1994) yang melaporkan bahwa media dasar MT merupakan media
yang baik untuk menginduksi kalus embriogenik pada jeruk Cleopatra Mandarin
(Citrus reticulata Blanco). Hal serupa juga dilaporkan oleh Husni et al. (2010)
25
yang melaporkan bahwa media MW dan MT merupakan media terbaik untuk
menginduksi terjadinya kalus dengan struktur PEM pada jeruk siam Simadu dan
Pontianak.
2. Proliferasi Kalus Embriogenik
Komposisi
media
dasar
sangat
mempengaruhi
pertumbuhan
dan
perkembangan kalus. Inisiasi pembentukan kalus baru berhubungan dengan
penambahan diameter kalus. Diharapkan dengan terbentuknya kalus baru maka
peluang memperbanyak kalus yang embriogenik semakin besar. Selain media
dasar, komposisi vitamin sebagai faktor penunjang juga memberikan peranan
penting dalam terjadinya pembentukan kalus baru.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa
kandungan media dasar, penambahan vitamin dan komponen penunjang sangat
berpengaruh terhadap penambahan diamater kalus yang terlihat pada grafik laju
Pertambahan diameter kalus
(mm)
pertambahan diameter kalus pada Gambar 6.
3,0
2,0
1,5
2,5
2,3
2,5
1,8
1,7
1,4
1,7 1,7
1,4
2,4
2,2
1,8
1,5 1,6 1,5
MK1
1,5
1,2
1,0
MK2
MK3
0,5
MK4
0,0
1
2
3
4
Laju pertambahan kalus minggu ke
Gambar 6. Pertambahan diamater kalus pada media perlakuan MK1, MK2,
MK3, dan MK4.
MK4 merupakan media kultur terbaik jika dibandinagkan dengan media
MK1, MK2, dan MK3. Grafik pertambahan diameter kalus memperlihatkan
bahwa Perlakuan MK4 merupakan media yang sangat responsif terhadap
pertambahan diameter kalus. Selama 4 minggu rata-rata pertambahan diameter
kalus pada media MK4 sebesar 2.3 mm pada minggu ke-1, 2.5 mm pada minggu
ke-2, 2.4 mm pada minggu ke-3, dan 2.2 mm pada minggu ke-4. Media dasar
MK4 adalah MW dengan penambahan Kasein hidrolisat. Kasein hidrolisat
berperan dalam inisiasi pembentukan kalus baru (Shiaty et al. 2004) Kasein
26
hidrolisat merupakan senyawa organik kompleks dan ditambahkan dalam media
in vitro sebagai sumber asam amino (Gunawan 1992). Sukma (2004) menyatakan
Penambahan kasein hidrolisat dapat membantu meningkatkan hasil biomasa dan
kandungan protein total yang didapat dari kultur tanaman paria belut (Trichosanthes
cucumerina).
Vitamin yang digunakan pada media kultur MK4 adalah MW dimana di
dalam komposisi vitamin ini terdapat biotin dan ca-pantothenat. Peran
ca-panthotenat pada media MW sebagai penyumbang kalsium dan asam
panthotenat yang berfungsi untuk mencegah terjadinya penuaan pada jaringan.
Defisiensi kalsium menyebabkan translokasi karbohidrat terganggu sehingga sel
yang terdapat pada jaringan yang aktif membelah menjadi mati (Gunawan 1992).
Sedangkan asam pantotenat yang terdapat pada ca-panthotenat berperan dalam
proses perubahan karbohidrat menjadi energi dan dapat mempercepat proses
proliferasi jaringan (Wetter & Constabel 1992). Hal ini sesuai dengan pendapat
Husni (2010) yang menyatakan bahwa respon inisiasi kalus dari eksplan nuselus
jeruk Siam terbaik berasal dari media kultur dengan penambahan vitamin MW.
Penambahan vitamin MW pada induksi kalus embriogenik, regenerasi kalus
embriogenik menjadi tunas, regenerasi protoplas menjadi kalus dan tunas pada
tanaman terung-terungan sangat baik digunakan (Husni et al. 2004).
Penambahan kasein hidorlisat
pada media MK4 turut memberikan
pengaruh yang lebih baik dibandingkan media kultur lainnya. Pengaruh kasein
hidrolisat terhadap pertumbuhan sel kalus pernah dilaporkan Rahim et al. (2000);
Ricci et al. (2007); Carimi (2005) menyatakan bahwa asam amino yang terdapat
pada kasein hidrolisat dapat meningkatkan bobot dan laju pertumbuhan kalus.
Kasein hidrolisat merupakan senyawa organik kompleks dan dapat ditambahkan
dalam media in vitro sebagai sumber asam amino (Siregar et al. 2004).
Penambahan kasein hidrolisat pada media kultur dapat memperbesar fase
sekunder dari eksplan yang dikulturkan (Sukma et al. 2003).
Penambahan kasein hidrolisat ke dalam media dapat memacu pembentukan
kalus yang embriogenik. Kasein hidrolisat merupakan sumber N di dalam media
dimana asam amino yang terdapat pada kasein hidrolisat merupakan senyawa
organik kompleks sebagai sumber N organik. Sumber N organik lebih cepat
27
diserap tanaman dari pada sumber N anorganik. Lestari et al. (2009) menyatakan
bahwa penambahan 500 mg/l kasein hidrolisat memberikan pengaruh yang baik
dalam regenerasi kalus embriogenik. Kalus yang dihasilkan pada media kultur
MK4 juga tetap bersifat embriogenik dengan struktur kalus yang remah dan
banyak mengandung PEM (Gambar 7C )
A
B
C
Gambar 7. Proliferasi kalus embriogenik dari pada media MK4 (A= umur kalus 3
minggu, B = penampakan kalus secara mikroskopik C= PEM ).
Penambahan kasein hidrolisat pada media yang mengandung vitamin Morel
dan Wetmore (MK4) terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan kalus baru
sehingga diameter kalus bertambah. Gambar 7B menunjukkan bahwa kalus yang
dihasilkan masih bersifat embriogenik dimana terlihat banyak PEM. Heimer dan
Filner (1970) melaporkan bahwa kasein hidrolisat pada media merupakan sumber
nitrogen yang sangat baik untuk pertumbuhan kalus pada tembakau, kacangkacangan (Crocomo et al. 1976) dan produksi kalus dari tanaman ercis (Cardi &
Monti 1993).
Vitamin Morel dan Wetmore merupakan vitamin yang komposisinya lebih
lengkap dibandingkan dengan vitamin MS, yaitu mengandung kalsium pantotenat
dan biotin yang dapat memacu pertumbuhan jaringan. Elshiaty et al. (2004) dan
Badawy et al. (2009) menyatakan bahwa pemberian biotin mempengaruhi
perkembangan kalus embriogenik. Penambahan komponen tersebut pada media
berpengaruh baik terhadap regenerasi kalus sebesar 63% pada pepaya
(Damayanti 2007) dan dapat memacu proliferasi kalus nilam (Hutami el al. 2001)
28
3. Pendewasaan embrio somatik
Embriogenesis somatik secara langsung terbentuk dari sel-sel tunggal yang
meristemoid dengan sifat embrioid serta aktif membelah sehingga tumbuh dan
berkembang membentuk embrio somatik yang mempunyai dua kutub (bipolar)
yang muncul sebagai tunas dan akar (Husni 2010). Salah satu faktor paling
penting yang berkaitan dengan pertumbuhan dan pendewasaan
dari jaringan
embrio somatik adalah komposisi media kultur yang digunakan.
Tabel 2 menunjukan bahwa penambahan 2.5 mg/l ABA berbeda nyata
dengan semua perlakuan pada peubah fase jantung dan fase kotiledon.
Penambahan 2.5 mg/l ABA dalam media kultur merupakan konsentrasi ABA
yang paling baik memacu pertumbuhan
dan perkembangan embrio somatik
struktur globular menjadi fase jantung, fase torpedo, dan fase kotiledon dengan
efisiensi pendewasaan sebesar 98.6 %. Efisiensi pendewasaan adalah kemampuan
ABA dalam mendewasakan struktur globular hingga didapat embrio dengan fase
akhir
yaitu
kotiledon.
Efisiensi
pendewasaan
didapatkan
dengan
cara
menjumlahkan tahap pendewasaan ES (fase jantung, fase terpedo dan kotiledon)
kemudian dibagi dengan jumlah globular awal dan dikali 100%.
Tabel 2. Pengaruh penambahan ABA terhadap rata-rata pendewasaan embrio
somatik pada umur 4 minggu setelah tanam.
Media kultur
Tahap pendewasaan embrio somatik
MW dengan
Jumlah
Fase
Fase
Fase
Efisiensi
globular
Terpedo
Kotiledon
pendewasaan
Jantung
Penambahan
awal
(%)
ABA (mg/l)
1.5
15
3.6 b
3.6 b
3.4 b
70.6
2.0
15
4.4 b
4.4 a
3.8 b
88.0
2.5
15
6.2 a
3.6 b
5.0 a
98.6
3.0
15
4.2 b
4.2 ab
4.0 b
82.6
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap peubah pada kolom yang sama
menunjukan tidak berbeda nyata (P>0.05) pada uji DMRT. Media dasar yang
digunakan Murashige & Skoog dengan penambahaan vitamin Morel & Wetmore
Rata-rata jumlah embrio somatik fase jantung ati adalah 6.2, fase torpedo
3.6 dan fase kotiledon 5.0 kemudian diikuti penambahan 2 mg/l ABA dengan
efisiensi pendewasaan sebesar 88%, penambahan 3 mg/l ABA sebesar 82% dan
pemberian 1.5 mg/l ABA
sebesar 70.6%. Tahapan pertumbuhan dan
perkembangan embrio somatik pada fase globular menjadi fase jantung, torpedo,
kotiledon dan sitologinya terdapat pada Gambar 8. Hasil percobaan pendewasaan
29
embrio somatik pada Tabel 2 terlihat bahwa penambahan konsentrasi 2.5 mg/l
ABA pada medium MW berpengaruh nyata terhadap semua fase pendewasan
embrio.Tingginya efisiensi pendewasaan embrio somatik yang terdapat pada
perlakuan dengan penambahan 2.5 mg/l ABA diduga karena konsentrasi yang
diberikan mampu untuk mempercepat fase pendewasaan embrio somatik.
Perlakuan dengan penambahan 3 mg/l ABA efisensi pendewasannya sebesar
82.6 % lebih kecil jika dibandingkan dengan penambahan konsentrasi 2 mg/l
ABA dengan efisiensi 88%. Hal ini kemungkinan disebabkan ABA yang
diberikan terlalu besar sehingga menghambat proses pendewasaan embrio
somatik. Hal serupa juga disampaikan oleh Kobashi et al. (2001) yang
menyatakan bahwa penambahan konsentrasi 10 -6 mg/l ABA berpengaruh nyata
bila dibandingkan penambahan konsentrasi 10 -4 mg/l ABA dengan sumber gula
fruktosa.
Pendewasaan embrio somatik pada tanaman jeruk sangat tergantung dari
komposisi ZPT yang diberikan kepada eksplan (Husni 2010). Pendewasaan
embrio somatik dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lintasan kultur in vitro,
konsentrasi karbohidrat, dan level dari ABA (Anjaneyulu & Giri 2008). Embrio
somatik pada proses pendewasaan akan berhenti berproliferasi, ukurannya
membesar, dan mulai mengakumulasi cadangan nutrisi seperti karbohidrat,
protein dan lemak. Embrio dirangsang untuk menjadi dewasa dengan
menggunakan asam absisik (ABA) dan meningkatkan potensial osmotik
(Egerstsdotter 1999). Menurut Renukdas et al. (2006) peningkatan efisiensi
pendewasaan embrio somatik dapat dilakukan dengan penambahan etilen
antagonis pada konsentrasi tinggi (10 μM) seperti spermidine, ABA, dan AgNO3.
Pemberian ABA harus sesuai dengan konsentrasi yang diberikan karena akan
mempengaruhi pertumbuhan eksplan (Santi & Kusumo 1996). Husni (2010)
menambahkan bahwa dengan penambahan 0.5 mg/l ABA dapat meningkatan
efisiensi pendewasaan embrio somatik jeruk Siam sampai 90%. ABA merupakan
salah satu inhibitor yang berperan dalam proses pematangan atau pendewasaan.
Gambar 8 menunjukan bahwa terjadi perkembangan globular menjadi fase
jantung. Fase jantung merupakan awal pembentukan embrio dimana terdapat
struktur awal bipolar (Gambar 8B) yang akan terus berkembang menjadi fase
30
terpedo (Gambar 8C). Memasuki fase terpedo, sel akan mengarahkan
pertumbuhannya ke arah bawah dan membentuk meristem akar hal ini ditandai
dengan terbentuknya struktur batang. Akhir dari pematangan embrio akan
terbentuk kotiledon sempurna dimana pada bagian meristem tunas dan meristem
akar mulai terbentuk (Gambar 8D).
Pemberian ABA pada embrio somatik bertujuan agar mempercepat fase
pendewasaan sehingga didapat kotiledon yang siap ditumbuhkan. Selain itu
pemberian ABA juga dapat menekan terjadinya pertumbuhan embrio yang
prematur. Kotiledon yang terbentuk pada akhir fase pematangan kemudian
dipindah ke media perkecambahan agar berkembang menjadi tanaman utuh
(planlet). Hal tersebut juga dilaporkan oleh Cardoza et al. (2002) bahwa
pemberian konsentrasi 0.5 mg/l ABA pada kalus yang diinduksi dari nuselus
menunjukan adanya fase pendewaasan embrio somatik yang dimulai dari globular
kemudian jantung dan kotiledon. Pemberian konsentrasi 10 μM ABA pada oak
dapat meningkatkan persentase pendewasaan sebesar 36% (Mauri 2004).
Pendewasaan embrio somatik pada jeruk dimulai dari terbentuknya globular
kemudian fase jantung, fase terpedo dan kotiledon (Husni 2010). Hasil percobaan
yang telah dilakukan diperoleh bahwa pengaruh konsentrasi ABA terhadap
pendewasaan embrio somatik menunjukan hasil yang nyata. Faktor endogen yang
terdapat pada eksplan juga sudah cukup besar sehingga dengan penambahan
eksogen yang terlalu besar justru memberikan efek negatif. Penurunan efisiensi
perkecambahan juga dilaporkan oleh
Mauri dan Manzenera (2004) yang
menggambarkan bahwa pemberian ABA dengan penambahan 40 μM ABA tidak
lebih baik dari pada penambahan ABA 10 μM untuk pendewasaan embrio
somatik pada Holm oak.
31
A1
B1
C1
A2
B2
C2
kotiledon
Bakal tunas
baru
Bakal akar
D1
D2
Gambar 8. Perkembangan embrio somatic dan sitologinya ( A1 & A2 = Fase
globular, B1 & B2 = Fase heart, CI & C2 = Fase torpedo, D1 & D2 =
Kotiledon)
32
4. Perkecambahan Embrio Somatik.
Perkecambahan embrio somatik setelah fase pendewasaan menjadi tanaman
lengkap sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengaruh faktor
lingkungan (suhu dan cahaya ) dan komposisi ZPT yang terdapat pada media
perkecambahan. Zat pengatur tumbuh merupakan senyawa organik yang mampu
mendorong, mengatur dan menghambat proses fisiologis tanaman. Salah satu ZPT
yang berperan dalam proses perkecambahan embrio somatik adalah GA3 (Davies,
2004). GA3 berperan dalam menggiatkan fungsi kerja aktivitas α-amilase dalam
metabolisme sehingga terjadi perkecambahan (Woodger et al. 2004). Hal ini juga
terbukti pada perkecambahan embrio somatik jeruk siam Simadu dan Pontianak
dengan menggunakan GA3 yang mengakibatkan efisiensi perkecambahan menjadi
meningkat (Husni 2010).
Tabel 3. Pengaruh penambahan GA3 terhadap rata-rata perkecambahaan embrio
somatik pada umur 4 minggu setelah tanam.
Tahap Perkecambahaan embrio somatik
Media kultur
MW dengan
penambahan
GA3 (mg/l)
1.5
2.0
2.5
3.0
Jumlah fase
kotiledon
Awal
Rata-rata
Planlet
Efisiensi perkecambahaan
(%)
10
10
10
10
5.2 b
5.4 b
8.4 a
6.8 b
52.0
54.0
84.0
68.0
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap peubah pada kolom yang sama
menunjukan tidak berbeda nyata (P>0.05) pada uji DMRT. Media dasar yang
digunakan Murashige & Skoog dengan penambahaan vitamin morel & wetmore
Tabel 3 menunjukkan bahwa penambahan 2.5 mg/l GA3 berbeda nyata
dengan semua taraf perlakuan pada peubah jumlah planlet yang terbentuk.
Berdasarkan data percobaan yang telah diperoleh didapatkan informasi bahwa
pemberian konsentrasi GA3 pada media kultur berpengaruh terhadap fase
perkecambahan dari embrio somatik menjadi tanaman lengkap. Tabel 3
menunjukan bahwa efisiensi perkecambahan terbesar terdapat pada perlakuan
penambahan konsentrasi 2.5 mg/l GA3. Efisiensi perkecambahan tanaman pada
media dengan pemberian 2.5 mg/l GA3 adalah sebesar 84% dengan rata-rata
planlet 8.4. Efisiensi perkecambahan adalah kemampuan dari konsentrasi GA3 yag
diberikan dalam mengecambahkan kotiledon hingga tahap planlet. Efisiensi
33
perkecambahan tanaman dengan penambahaan kosentrsi 3 mg/l GA3 sebesar 68%
dengan rata-rata planlet 6.8, penambahan konsentrasi 2 mg/l GA3 sebesar 54%
dengan rata-rata planlet 5.4 dan penambahan konsentrasi 1.5 mg/l GA3 sebesar 52
% dengan rata-rata planlet 5.2.
Perkecambahan embrio yang sempurna ditandai dengan pembentukan akar
dan munculnya tunas (Gmietter & Moore 1986). Hasil penelitian Husni (2010)
didapatkan informasi bahwa dengan penambahan GA3 dengan konsentrasi 1.5
mg/l memberikan pengaruh yang
nyata terhadap
fase-fase perkecambahan
embrio somatik. Hal ini juga didukung oleh pendapat Kuniktake et al. (1991)
yang menyatakan bahwa penambahan GA3 pada media kultur meningkatkan
efisensi perkecambahan sebesar 5 % dengan waktu 30-60 hari pada jeruk.
Tingginya efisiensi perkecambahan pada perlakuan 2.5 mg/l GA3 diduga
karena konsentrasi tersebut merupakan kondisi optimum yang diperlukan eksplan
untuk melakukan proses perkecambahan dari embrio somatik, sedangkan pada
penambahan konsentrasi 3 mg/l GA3 terlalu tinggi untuk inisiasi perkecambahan
sehingga terjadi penurunan efisiensi perkecambahan. Hal serupa pernah
dilaporkan oleh Acar et al. (2010) yang menyatakan terjadinya penurunan
persentase perkecambahan hingga 50% pada Pistacia vera dengan penambahan
konsentrasi GA3 hingga 100 mg/l. Hal tersebut juga didukung oleh hasil
percobaan
Ake
et
al.
(2007)
yang
mendapatkan penurunan efisiensi
perkecambahan 40% pada konsentrasi 46 μM GA3 bila dibandingkan dengan
konsentrasi yang lebih rendah. Penambahan konsentrasi 3 mg/l GA3 tidak terlalu
efisien dalam perkecambahan embrio somatik karena terjadinya pembelahan sel
yang terjadi terus menerus sehingga menurunkan efisiensi perkecambahan.
Tahap perkecambahaan embrio somatik hingga menjadi tanaman lengkap
menurut Husni (2010) dimulai dari pembentukan fase terompet kemudian diikuti
fase pembukaan kotiledon lalu proses perkecambahan hingga terbentuk tanaman
lengkap (Gambar 9). Tabel 3 menunjukan bahwa pembentukan planlet terbesar
terdapat pada konsentrasi 2.5 mg/l GA3 dengan rata-rata pembentukan planlet
sebesar 8.4 per botol. Hal serupa juga dilaporkan oleh Komatsuda et al. (1992)
dengan penambahan konsentrasi GA3 pada media kultur dapat meningkatkan
proses perkecambahan menjadi planlet sebesar 90% pada tanaman kedelai.
34
A
B
C
D
E
Gambar 9. Fase perkecambahan embrio somatik pada media 2.5 mg/l GA3 (A = fase
terompet, B = fase pembukaan kotiledon, C = fase perkecambahan membentuk
akar, D = perkecambahan membentuk akar dan tunas, E = Planlet umur 4
minggu setelah berkecambah)
GA3 merupakan senyawa yang mengandung gibban skeleton yang berperan
dalam menstimulasi pembelahan sel serta mobilisasi cadangan makanan dari
endosperm untuk pertumbuhan embrio. Perkecambahan dari embrio somatik yang
ditunjukan pada Gambar 9 dimulai dari fase perkembangan kotiledon muda yang
memasuki fase terompet (Gambar A) dan pembukaan kotiledon (Gambar 9B).
Pada fase ini terlihat bahwa perkembangan kotiledon terjadi pada bagian tunas
atas dimana bagian daun mulai terbentuk. Fase perkecambahaan embrio somatik
dimulai ketika kotiledon mulai membuka yang ditandai dengan terbentuknya akar
(Gambar 9C).
Terbentuknya akar akan mengoptimalkan penyerapan hara sehingga
pertumbuhan planlet yang dikecambahkan menjadi maksimal. Akar akan tumbuh
pada fese ini dan berkembang untuk menyerap hara yang terdapat di sekitar
media. Terbentuknya akar pada embrio somatik menjadikan pertumbuhan embrio
somatik menjadi optimal yang ditandai dengan terbentuknya organ lengkap seperti
akar, daun dan batang
pada tanaman (Gambar 9E). Pertumbuhan dan
pekembangan planlet dioptimalkan dengan cara dipindakan ke media tanpa ZPT.
Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko penuaan pada planlet akibat
perkembangan sel yang terjadi secara cepat karena terinduksi oleh ZPT.
Pemberian konsentrasi GA3 yang berbeda pada embrio somatik ternyata
memberikan pengaruh terhadap tipe-tipe perkecambahan embrio somatik (Gambar
10). Variasi pekecambahan yang ditunjukkan merupakan efek dari pemberian
konsentrasi GA3 mulai dari tipe yang sulit untuk berkecambah (roset) pada
gambar 10E, hingga perkecambahan tunas yang lebih dari dua tunas
(Gambar 10D). Variasi tunas yang muncul lebih dari dua paling banyak
35
ditemukan pada perlakuan 2.5 mg/l GA3 sedangkan variasi embrio somatik
dengan tipe roset banyak dijumpai pada perlakuan 3 mg/l GA3. Hal yang sama
juga diperoleh dari hasil perkecambahan biji jeruk yang menghasilkan tunas lebih
dari satu karena sifat poli embrioni yang dimilikinya. Hal ini membuktikan bahwa
embrio somatik yang berasal dari sel-sel nuselus juga memilki sifat yang sama
seperti embrio yang yang tumbuh dari biji jeruk. Gambar 10 memperlihatkan
perbandingan berbagai tipe perkecambahan embrio somatik dan embrio zigotik .
A
B
C
D
E
Gambar 10. Variasi perkecambahan embrio somatik dan perkecambahan biji (A =
perkecambahan biji, B = variasi embrio somatik 1 tunas , C = variasi embrio
somatik 2 tunas , D = variasi embrio somatik labih dari 2 tunas, E = variasi
embrio somatik tipe roset)
Gambar 10A merupakan perkecambahan dengan menggunakan biji pada media
kultur tanpa pemberian GA3 jika dibandingkan dengan Gambar 10C dan 10D
terlihat bahwa melalui ES yang berkembang dari jaringan non zigotik juga
memiliki kemampuan yang sama dalam berkecambah dimana rata-rata tunas yang
dihasilkan lebih dari satu.
5. Multiplikasi Tunas Embrio Somatik.
Multiplikasi tunas pada embrio somatik tanaman jeruk secara khusus
bertujuan untuk memgoptimalkan jumlah tunas yang tumbuh dengan cara
memanfaatkan sifat poli embrioni. Hasil multiplikasi pada teknik kultur jaringan
dioptimalkan dengan cara memodifikasi media tumbuh seperti manambahkan
vitamin (Park et al. 2000) thiamin, pyridoxin (Dods & Robert. 1995) dan biotin
(Shiaty et al. 2004).
Vitamin yang diujikan sebagai perlakuan pada percobaan ini adalah biotin.
Biotin merupakan salah satu jenis vitamin yang umum digunakan untuk embrio
somatik (Shiaty et aI. 2004) serta regenerasi tanaman (Khalil & Elbanna 2003).
36
Embrio somatik yang dihasilkan kemudian dikulturkan pada media MW dengan
penambahan beberapa konsentrasi biotin (0, 1, 3, 5, dan 7 mg/l). Hasil percobaan
pada Tabel 4 menunjukan bahwa pemberian konsentrasi yang berbeda ternyata
berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas baru yang terbentuk. Semakin tinggi
konsentrasi biotin yang ditambahkan maka akan semakin tinggi pula efisiensi
multiplikasi tunas yang dihasilkan dan jumlah tunas yang dihasilkan juga lebih
banyak. Penambahan 7 mg/l biotin merupakan konsentrasi terbaik dimana
efisiensi multiplikasi tunas sebesar 86% dengan pertambahan tunas rata-rata 3.06.
Hal ini berbeda nyata dengan kosentarsi 0, 1, 3, 5 mg/l biotin dimana efisiensi
multiplikasi tunasnya sebesar 24 %, 42 %, 46 % dan 50%.
Tabel 4. Pengaruh konsentrasi biotin terhadap rata-rata jumlah multiplikasi tunas
Multiplikasi tunas
Media kultur
penambahan
biotin (mg/l)
Jumlah
ES
awal
Rata-rata ES
somatik
bermultiplikasi
Rata- rata
jumlah
tunas baru
yg muncul
Saat
muncul
tunas baru
(hari)
0
1
3
5
7
5
5
5
5
5
1.20
2.10
2.30
2.50
4.30
0.20 b
0.40 b
0.46 b
1.00 b
3.06 a
20.2 d
19.1 c
17.9 b
16.9 b
15.0 a
Efisiensi
multiplikasi
tunas (%)
24.0
42.0
46.0
50.0
86.0
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap peubah pada kolom yang sama
menunjukan tidak berbeda nyata (P>0.05) pada uji DMRT. Media dasar yang
digunakan Murashige & Skoog dengan penambahaan vitamin morel & wetmore
Tingginya pembentukan tunas pada media dengan penambahan 7 mg/l
biotin diduga konsentrasi tersebut merupakan konsentrasi yang tepat untuk
menginduksi tunas baru. Tabel 4 juga memperlihatkan bahwa munculnya tunas
baru tercepat juga berasal dari media perlakuan yang sama dengan lama hari 15.0
hari. Penambahan 7 mg/l biotin terhadap peubah umur muncul tunas berbeda
nyata juga terhadap media perlakuan lainnya dimana waktu terlama muncul tunas
terdapat pada media kontrol (0 mg/l biotin) dengan lama waktu 20.2 hari. Selain
berpengaruh terhadap jumlah tunas yang muncul pemberian biotin ternyata
berpengaruh juga terhadap saat muncul tunas baru.
37
A
B
C
D
Gambar 11. Multiplikasi tunas dengan penambahan 7 mg/l Biotin (tanda panah
merupakan tunas baru ) A , B , C = tunas umur 4 mst, D = tunas dewasa)
Gambar 11 memperlihatkan bahwa pemberian 7 mg/l biotin memberikan
pengaruh terhadap jumlah tunas baru. Gambar 11A, 11B, dan 11C menunjukkan
secara jelas bahwa tunas-tunas baru yang muncul setelah 4 mst. Kondisi tunas
pada saat tersebut masih sangat muda dimana jumlah daun rata-rata 2-3 helai
sedangakan pada Gambar 11D umur tunas telah di atas 5 minggu dimana tunastunas baru mulai menunjukan fase dewasa. Gambar 11D memperlihatkan bahwa
batang dan daun telah terbentuk sempurna pada kondisi ini tunas-tunas tersebut
telah siap dipisah untuk ditanam dan atau diberi perlakuan untuk pertumbuhan
perakaran.
6. Induksi Perakaran.
Sistem perakaran pada embrio somatik merupakan hal yang penting dan
sangat dibutuhkan. Secara umum fungsi utama akar pada tanaman in vitro sama
seperti fungsi akar pada tanam lapang yaitu menyerap unsur hara yang terkandung
pada media dan sebagai penopang agar tanaman tidak reba. Sifat poli embrioni
yang terdapat pada embrio somatik jeruk memungkinkan embrio somatik untuk
menumbuhkan tunas-tunas baru. Akar pada kondisi tersebut yang terbentuk pada
tunas primer tidak akan cukup banyak untuk menyarap hara pada media untuk itu
diperlukan pengiduksian akar pada tanaman hasil multiplikasi tunas embrio
somatik tersebut. Percobaan induksi perakaran dilakuan pada tunas hasil
multiplikasi dengan beberapa jenis ZPT golongan auksin. Auksin merupakan
golongan zat pengatur tumbuh yang dapat mengatur terjadinya pertumbuhan akar
(Liu et al. 1998). Gaspar et al. (1996) menyatakan bahwa auksin sangat
diperlukan dalam organogenesis termasuk dalam pembentukan akar. Auksin
38
dengan konsentrasi yang tepat dapat meningkatkan inisiasi dan induksi akar
(IBA, NAA dan IAA) (Nandagopal & Kumari 2007).
Tabel 5. Pengaruh IBA, NAA dan IAA terhadap induksi perakaran 5 mst
Induksi akar
Media kultur
MW dengan
penambahan
ZPT (mg/l)
Jumlah
tunas
Jumlah
tunas
berakar
Saat
muncul
akar
(Hari)
Jumlah
akar
Panjang
Akar
(Cm)
Efisiensi
induksi
akar (%)
Kontrol
IBA 3 mg/l
NAA 3 mg/l
IAA 3 mg/l
15
15
15
15
2
13
11
9
26.0 b
15.3 a
18.0 a
18.4 a
0.30 c
5.40 a
3.70 b
3.50 b
0.46 c
1.34 a
0.96 b
0.93 b
13.3
86.6
73.3
69.0
Keterangan :Angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap peubah pada kolom yang sama
menunjukan tidak berbeda nyata (P>0.05) pada uji DMRT. Media dasar yang
digunakan Murashige & Skoog dengan penambahaan vitamin morel & wetmore.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan diperoleh informasi bahwa
dengan menambahkan 3 mg/l IBA dapat menginduksi terbentuknya akar pada
tunas embrio somatik jeruk. Semua jenis auksin yang digunakan dapat
menginduksi terbentuknya akar (Tabel 5).
Tabel 5 menunjukan bahwa pemberian auksin IBA, NAA, dan IAA pada
tunas tidak berpengaruh nyata terhadap peubah saat muncul akar tetapi berbeda
nyata dengan tunas tanpa auksin. Pemberian 3 mg/l IBA memberikan pengaruh
yang nyata pada peubah jumlah akar dan panjang akar. Pemberian 3 mg/l IBA
lebih baik dari pada 3 mg/l NAA dan 3 mg/l IAA dengan efisiensi keberhasilan
pembentukan akar menggunakan ZPT IBA sebesar 86%. Kemudian diikuti NAA
sebesar 73.3% dan IAA sebesar 69% . Efek IBA terhadap keberhasilan dalam
menginduksi akar juga di laporkan Islam et al. (2005) dimana efesiensi perakaran
tanaman Cicer arietinum naik sampai 90% dengan pemberian 0.50 mg/l IBA.
Sedangkan pada tanaman Sugarcane penambahan 3 mg/l IBA memberikan
efisiensi perakaran sebesar 88 %.
Pengaruh IBA terhadap peubah saat muncul akar lebih baik jika
dibandingkan dengan NAA dan IAA walaupun tidak berpengaruh nyata. IBA
pada peubah muncul akar
merupakan ZPT yang tercepat dalam mengiduksi
terjadinya perakaran dimana lama waktu yang dibutuhkan selama 15.3 hari
kemudian diikuti oleh IAA dan NAA dengan lama induksi 18.4 dan 18 hari
sedangkan tanaman kontrol membutuhakn waktu lebih lama yaitu 26 hari. Hal
39
yang sama dilaporkan Gantait et al. (2009) bahwa IBA merupakan ZPT yang
sangat baik untuk kecepatan induksi perakaran pada tunas Dendrobium
chrysotoxum bila dibandingkan dengan NAA dan IAA.
A
B
C
D
Gambar 12. Variasi induksi perakaran tunas dengan penambahan IBA, NAA dan IAA (A =
tanaman kontrol umur 5 mst, B = induksi perakaran dengan 3 mg/l IBA umur 5
mst, C = induksi perakaran dengan 3 mg/l NAA umur 5 mst, D = induksi
perakaran dengan 3 mg/l IAA umur 5 mst).
Selain itu IBA juga merupakan ZPT yang sangat respon terhadap
pertambahan jumlah dan panjang akar (Polat & Caliskan 2008). Pemberian 2
mg/l IBA juga telah dilaporkan berhasil menginduksi terjadi kecepatan muncul
akar pada tanaman kedelai dimana akar mulai muncul pada hari ke 12 (Liu et al.
1998).
IBA pada peubah jumlah dan panjang akar (Tabel 12) dengan konsentrasi
yang sama masih merupakan ZPT yang lebih baik jika di bandingakn dengan
NAA dan IAA dimana rata-rata jumlah akar yang terbentuk 5.40 sedangkan pada
NAA dan IAA sebesar 3.7 dan 3.5. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Ucelar
et al. (2004) yang menyimpulkan bahwa IBA sangat baik digunakan untuk
menginduksi banyaknya jumlah akar primer pada buah kiwi dan panjang akar
pada jeruk (Bhatt & Tomar 2010). IBA merupakan ZPT yang baik untuk
merangsang aktifitas perakaran seperti memproduksi jumlah akar (Tabel 5) hal
tersebut didukung oleh pendapat Hassan et al. (2010) yang mendapatkan jumlah
akar rata-rata 6.2 dengan penambahan konsentrasi 2.0 mg/l IBA pada tunas Ficus
glomerata. Hal ini menurut Islam et al. (2005) karena pada IBA kandungan
kimianya lebih stabil dan persistensi lebih lama. IAA biasanya mudah menyebar
kebagian lain sehingga menghambat perkembangan serta pembentukan akar.
40
Penggunaan NAA yang kurang tepat konsentrasinya akan memperkecil peluang
terbentuknya akar (Ghopitha et al. 2010).
Gambar 12A memperlihatkan bahwa tunas pada media kontrol (MW tanpa
ZPT) juga dapat tumbuh akar tetapi tidak sebanyak tunas yang diberi ZPT
(Gambar 12B, 12C dan 12D). Waktu yang diperlukan untuk induksi akar pada
media kontrol cukup lama sekitar rata-rata 26 hari dengan jumlah akar rata-rata
0.30. Hal ini dapat terjadi karena kandungan endogen auksin yang terdapat pada
tunas masih dapat digunakan untuk pembentukan akar. Liu et al. (1998) yang
menyatakan bahwa endogenous auksin pada tunas dapat merubah arah
perkembangan atau pertumbuhan.
7. Penghitungan Jumlah Kromosom
Keseragaman tanaman yang dihasilkan melalui jalur embriogenesis
somatik sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan bibit yang
seragam dan identik dengan induk. Variasi jumlah kromosom yang timbul dalam
sistem regenerasi embriogenesis somatik dipengaruhi oleh lingkungan dan
lamanya umur kultur. Indrayasa (2010) melaporkan bahwa umur kultur yang lama
pada tanaman jeruk Siam Pontianak menyebabkan terjadinya variasi jumlah
kromosom. Variasi jumlah kromosom yang muncul diduga karena pengaruh
subkultur yang berulang-ulang dan berlangsung dalam tempo yang lama.
Analisis kromosom dilakukan secara acak terhadap sampel akar dari tunas
ES. Tujuan dari analisis ini untuk mengetahui ada atau tidaknya variasi jumlah
kromosom pada tanaman yang dihasilkan melalui regenerasi secara ES. Variasi
jumlah kromosom yang timbul berdasarkan perbedaan fenotip bisa disebabkan
oleh pengaruh faktor lingkungan sehingga perlu dilakukan pengamatan terhadap
jumlah kromosom.
Gambar 13. Pengamatan kromosom pada akar tunas jeruk keprok batu 55 hasil regenerasi
embrio somatik
41
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada sampel akar dari tunas hasil
ES diketahui bahwa jumlah kromosom tanaman sampel berjumlah 2x = 18. Hal
ini membuktikan bahwa pada sistem perbanyakan dengan teknologi ES ternyata
tidak mempengaruhi jumlah kromosom dari pada tanaman sampel.
Gambar 13 menunjukkan bahwa jumlah kromosom pada akar 2n=2X=18
artinya bahwa secara in vitro tidak terdapat perbedaan yang nyata antara jumlah
kromosom hasil ES dengan jumlah kromosom hasil in vivo. Indarayasa (2010)
menyatakan bahwa umur kultur yang lama dapat mempengaruhi tingkat ploidi
pada tanaman in vitro jeruk 2n = 2X=18 menjadi 2n = 3X=27.
Jumlah kromosom berhubungan dengan ukuran sel karena semakin banyak
jumlah kromosom yang terdapat dalam satu sel maka akan mempengaruhi ukuran
sel tersebut, selain itu jumlah kromosom juga dapat mewakili tingkat ploidi
(Suryo 2007). Jumlah kromosom merupakan sarana karakterisasi pada tingkat
seluler untuk identifikasi pada tanaman. Pengamatan kromosom hasil regenerasi
secara ES memperlihatkan bahwa jumlah kromosom tersebut dapat mewakili
tingkat ploidi dari jeruk keprok batu 55 hasil ES. Hal tersebut sesuai dengan
pernyataan dari Sastrosumarjdo (2008)
yang menyatakan bahwa pengamatan
pada kromosom dapat digunakan untuk klasifikasi atau penggolongan dari spesies
yang dilihat dari jumlah dan bentuknya.
8. Embrio Somatik Sekunder
Embrio somatik sekunder merupakan produk dari embrio somatik primer
dimana pada keadaan tertentu embrio somatik primer mampu memproduksi lagi
embrio somatik. Embrio somatik sekunder pada jeruk muncul ketika media kultur
mengandung GA3. Tepatnya ketika proses perkecambahan dari embrio somatik
primer. Tokuji dan Kuriyama (2003) melaporkan bahwa GA3 mampu
memproduksi embrio somatik sekunder ketika embrio somatik primer memasuki
fase globular. Kemunculan embrio somatik sekunder juga dikaitkan dengan
perlakuan eksogen yang diberikan seperti pengaruh pemberian GA3 (Sutanto &
Azis 2006). Banyak embrio somatik pada saat melakukan pengecambahan
membentuk embrio somatik sekunder, sehingga menyebabkan jumlah embrio
somatik bertambah banyak, akan tetapi untuk memperoleh planlet dari jumlah
42
embrio yang dihasilkan diperlukan waktu yang lama karena memerlukan waktu
untuk mendewasakan embrio somatik sekunder menjadi planlet (Mujib & Samaj
2009).
Pendewasaan embrio somatik sekunder menggunakan konsentrasi media
terbaik pada embrio somatik primer yaitu 2.5 mg/l ABA. Hal yang sama juga
digunakan pada perkecambahan embrio somatik sekunder dimana konsentrasi
terbaik terdapat pada 2.5 mg/l GA3.
Tabel 6. Pengaruh penambahan ABA terhadap pendewasaan embrio somatik
sekunder dan primer pada umur 4 minggu setelah tanam
Tahap pendewasaan embrio somatik sekunder
Media kultur
MW dengan
Penambahan 2.5
mg/l ABA
ES sekunder
ES primer
Jumlah
globular
awal
15
15
jantung
Fase
Fase
terpedo
Fase
Kotiledon
5.4
6.2
4.2
3.6
4.3
5.0
Efisiensi
pendewasaan
(%)
92.6
98.6
Tabel 6 menunjukan bahwa terdapat penurunan efisiensi pendewasaan pada
embrio somatik sekunder. Efisiensi pendewasaan pada embrio somatik sekunder
sebesar 92.6% jika dibandingkan dengan embriosomatik primer sebesar 98.6%
terjadi penurunan 0.6%. Ini berarti dengan menggunakan embrio somatik
sekunder kita masih bisa mendapatkan efisiensi pendewasaan yang tinggi
sehingga embrio somatik sekunder masih bisa digunakan untuk perbanyakan
selanjutnya. Pola fase pendewasaan pada embrio somatik sekunder sam dengan
embrio somatik primer dimana perkembangan setelah fase globular adalah fase
jantung, fase terpedo dan kotiledon.
43
B
A
C
Gambar 14. Embrio somatik sekunder (A dan B = kalus embrio somatik sekunder
pada fase perkeecambahan embrio somatik primer. C= kalus embrio
somatik sekunder pada fase globular)
Embrio somatik sekunder pada Gambar 14 terlihat dapat tumbuh pada saat
fase-fase tertentu. Gambar 14A dan 14B menjelaskan bahwa embrio somatik
sekunder tumbuh pada media perkecambahan embrio somatik primer dimana pada
media kultur tersebut mengandung GA3. Pada Gambar 14C kalus embrio somatik
sekunder tumbuh pada fase globular hal ini diduga karena pengaruh eksogen yang
diberikan mampu menumbuhkan embrio somatik sekunder. Oktavia et al. 2003
menjelaskan bahwa eksogen sangat berperan aktif dalam membantu proses
pembelahan sel pada planlet yang dikulturkan.
Tabel 7. Pengaruh penambahan GA3 terhadap perkecambahaan embrio somatik
sekunder dan primer pada umur 4 minggu setelah tanam
Tahap Perkecambahaan embrio somatik sekunder
Media kultur
MW dengan
Penambahan
2.5 mg/l GA3
ES sekunder
ES primer
Jumlah kotiledon
Awal
Planlet
Efisiensi perkecambahaan
(%)
10
10
8.8
8.4
88.0
84.0
Tabel 7 menunjukan bahwa pada perkecambahan embrio somatik
sekunder mengalami kenaikan sebesar 4% dimana efisiensi perkecambahan
menjadi 88.0%. planlet yang terbetuk pada perkecambahan embrio somatik
sekunder sebesar 8.8 sedangkan pada perkecambahan embrio somatik primer
sebesar 8.4. terjadi peningkatan 0.4.
Gambar 15 menjelaskan urutan fase
pendewasaan embrio somatik sekunder dengan penambahan 2.5 mg/l ABA,
44
sedangkan pada efisiensi perkecambahan embrio somatik primer hanya 84.0%.
Hal serupa pernah dilaporkan Sukmadjaja (2005) yang mendapatkan embrio
somatik sekunder dihasilkan relatif sama dengan embrio somatik primer pada
media dengan kandungan GA3 pada cendana
A
B
C
D
Gambar 15. Fase pendewasaan embrio somatik sekunder dengan penambahan 2.5 mg/l
ABA (A = fase globular, B = fase jantung, C = fase terpedo, D = fase
kotiledon)
9. Aklimatisasi
Tahapan akhir dari perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan
adalah aklimatisasi planlet. Akllimatisasi merupakan masa penyesuaian tanaman
in vitro yang akan dipindah ke lapang. Aklimatisasi dilakukan dengan
memindahkan planlet ke media aklimatisasi dengan intensitas cahaya rendah dan
kelembaban nisbi tinggi, kemudian secara berangsur-angsur kelembabannya
diturunkan dan intensitas cahayanya dinaikkan (Yusnita 2003). Tahap ini
merupakan tahap yang kritis karena kondisi iklim di rumah kaca atau rumah
plastik dan di lapangan sangat berbeda dengan kondisi di dalam botol kultur.
Tabel 8. Pengaruh aklimatisasi pada embrio somatik 4 MST
Jumlah ES yang hidup
Kondisi ES yang
diaklimatisasi
Jumlah embrio
somatik
2 MST
3 MST
4 MST
Efisiensi
aklimatisasi
%
ES tanpa akar
20
14
8
1
5
ES berakar
20
19
19
18
90
Keterangan : Media aklimatisasi yang digunakan adalah campuran humus dan tanah dengan
penambahaan vitamin morel & wetmore.
Dari hasil percobaan didapatkan informasi bahwa ES yang berakar dapat
bertahan hidup sedangkan ES tanpa akar tidak dapat bertahan hidup (Tabel 8).
45
Tabel 8 memperlihatkan bahwa efisiensi aklimatisasi dari planlet ES yang berakar
sebesar 90%. Hal ini sangat berbeda jauh terhadap ES tanpa akar diamana
efisiensinya hanya sebesar 5%.
Tebel 9 menunjukan perbedaan yang signifikan terjadi setiap minggu pada planlet
embrio somatik yang hidup. Planlet ES tanpa akar dan planlet ES berakar pada
minggu pertama setelah aklimatisasi (data tidak ditampilakan) semuanya masih
bertahan hidup (100%). Planlet ES yang mati pada minggu ke 2 mulai terlihat
terutama pada planlet ES yang tidak memiliki akar. Hal tersebut berlangsung terus
menerus hingga minggu ke 4 hanya satu planlet ES yang bertahan hidup
sedangkan pada ES yang berakar mampu bertahan hidup sebanyak 18 planlet ES.
Keberhasilan aklimatisasi ES tidak terlepas dari jumlah akar yang
terbentuk pada saat induksi perakaran. Semakin banyak akar yang terbentuk
maka akan semakin besar peluang ES bertahan hidup ketika diaklimatisasi. ES
yang mampu bertahan hidup ketika diaklimatisasi memiliki warna yang cerah dan
segar (Gambar 16A, dan 16B) sedangkan ES tanpa akar umumnya batang dan
daun berwarna kuning dan layu ketika diaklimatisasi (Gambar 16C dan 16D),
Akibatnya daun dan batang menjadi transparan, berwarna hijau muda hingga
pucat dengan kandungan klorofil yang rendah (Olmos & Hellin 1998).
Tingginya efisiensi aklimatisasi ES yang berakar dikarenakan kondisi awal
ES. Hal ini didukung oleh Rohayati dan Marlina (2009) yang menyatakan
keberhasilan aklimatisasi
sangat
tergantung dari kondisi awal planlet.
Pertumbuhan ES yang diaklimatisasi akan semakin optimum sejalan dengan
berkembangnya akar. Semakin berkembangnya akar maka akan semakin optimum
pertumbuhan tanaman tersebut (Gambar 16E) sedangkan planlet ES tanpa akar
akan mengalami kematian karena planlet ES tanpa akar tidak sanggup membentuk
akar (Gambar 16F). akar pada kondisini ini akan lebih aktif dalam menyerap hara
pada media tanam,
jumlah akar.
hal tersebut terbukti dengan bertambahnya panjang dan
46
A
B
E
C
F
D
G
Gambar 16. Aklimatisai tunas embrio somatik (A dan B = planlet ES yang diinduksi
perakaran , C dan D = planlet ES tanpa induksi akar, E = Planlet ES berakar
4 minggu setelah aklimatisasi, F = Planlet ES tanpa induksi akar sekunder 3
minggu setelah aklimatisasi, G = planlet umur 5 minggu )
Gambar 16E dan 16F menunjukan bahwa pertumbuhan akar setelah
aklimatisasi selama 4 minggu bertambah panjang jika dibandingkan dengan ES
sebelum diaklimatisasi (Gambar 16B, 16C, dan 16D). Hal ini diduga karena
keaktifan dari hormon auksin yang terdapat pada jaringan akar yang bekerja
optimal ketika ES berada didalam tanah. Dalam kondisi gelap auksin lebih aktif
bekerja terutama pada akar sehingga terjadi pertambahan panjang dan jumlah dari
akar tersebut . Hal tersebut menyebabkan terjadinya pemanjangan pada akar
(Gambar 16E) semakin banyak akar maka semakin banyak hara yang diserap
sehingga pertumbuhan ES semakin optimum.
10. Grafting
Teknik regenerasi ES dapat diterapkan juga untuk program perbaikan sifat,
salah satu cara yang dapat ditempuh dengan cara grafting atau metode sambung.
Garfting dilakukan dengan cara menyambungkan batang bawah yang unggul
47
dengan tunas batang atas hasil regenersai ES. Hasil akhir dari grafting adalah
didapatkan tanaman dengan batang bawah yang kompatibel dengan batang atas
agar didapatkan tanaman elit.
Model yang digunakan untuk batang atas pada penelititan ini berasal dari
in vitro jeruk batu 55 dengan batang bawah yang berasal dari Jeruk JC (Japanish
citroen). Batang atas yang digunakan harus bebas dari virus dan mempunyai
karakter unggul. Hasil penelitian yang telah dilakuan terhadap metode grafting
menunjukan bahwa dari 40 batang atas yang disambung dengan batang bawah
menunjukan tingkat kompatibel yang baik. Rata –rata persentase keberhasilan
batang untuk bertahan hidup sampai minggu keempat menunjukan 62.4% batang
atas dapat bertahan hidup (Tabel 9).
Tabel 9. Perkembangan batang atas ES setelah grafting pada 4 mst
Pengamatan
(minggu ke)
1
2
3
4
Rata-rata
keseluruhan
Rata-rata
jumlah daun
(helai)
0.58
1.33
1.99
2.05
1.48
Rata-rata pertambahan
pertumbuhan perminggu
Rata-rata
Persentase tunas
Tinggi tanaman (cm)
Hidup (%)
0.16
0.47
0.97
1.13
0.68
67.4
65.0
65.0
52.2
62.4
Grafting yang hidup pada minggu pertama rata-rata pertambahan daun
masih relatif sedikit yaitu 0,58 helai sedangkan pertambahan tinggi hanya
0,16 cm. tunas yang disambung pada minggu pertama masih mengalami adaptasi
terhadap lingkungan baru sehingga terjadi stress pada tunas baru sehinga
pertmbuhan daun dan tinggi tanaman belum stabil. Untuk mengurangi penguapan
tunas harus dibungkus dengan plastik transparan hal ini bertujuan mengurangi
stress pada tunas akibat penguapan.
Persentase tunas yang hidup pada minggu pertama sebesar 67.4%, 65.0%
pada minggu kedua, 65.0% pada minggu keempat 62.4%. Banyak tunas pada
minggu pertama yang mengalami sterss akibatnya sebagian tunas mati. Adapatsi
tunas ES terhadap grafting sangat dipengaruhi oleh faktor suhu. Suhu sangat
menentukan keberhasilan metode dari grafting tersebut dimana tanaman in vitro
48
selama siklus hidupnya selalu mendapatkan suhu yang stabil ketika tunas tersebut
digunakan di lapang maka akan terjadi proses adaptasi. Tunas
yang dapat
bertahan pada masa penyesuaian maka akan memilikin peluang untuk hidup
sedangkan tunas yang tidak bisa bertahan akan mengalami stres dan akhirnya
mati.
C
B
A
D
E
E
Gambar 17. Pertumbuhan tunas ES grafting pada umur 1 minggu (A = hasil
grafting, B = penyungkupan dengan plastik, C & D = umur garfting
1 minggu E = tunas yang mati)
Tunas yang mampu bertahan pada saat grafting akan terlihat lebih vigor
sedangkan tunas yang tidak mampu bertahan akan layu. Tunas yang tidak dapat
bertahan
menunjukan gejala kematian (Gambar 17E). Persentase tunas hasil
grafting yang hidup pada minggu ke 3 minggu ke 4 cenderung meningkat. Hal itu
disebabkan oleh tunas yang dapat bertahadan tidak lagi mengalami stres dan dapat
beradaptasi dengan batang bawah. Tunas ES pada umur dua minggu yang
digrafting telah mendapat menyerap unsur hara melalui
batang bawah dan
fotosintesis mejadi lebih optimal ketika sungkup plastik dibuka. Tunas yang vigor
ditandai dengan bertambahnya jumlah daun dan tinggi tunas seperti yang terlihat
pada Tabel 9. Jumlah daun dan tinggi tanaman akan terus bertambah setiap
49
A
B
C
Gambar 18.Perkembangan tunas ES grafting. (A = tunas grafting umur 2 minggu,
B = Tunas grafting umur 3 minggu, C = tunas grafting umur
4 minggu).
minggunya jika kebutuhan hara yang tersedia di dalam tanah tersedia dengan
baik. Kompabilitas antara batang bawah dan batang atas sangat menentukan
keberhasilan dalam teknik grafting. Secara umum Mathius et al. (2006)
menjelaskan bahwa sel-sel parenkim dari batang bawah dan batang atas saling
kontak, menyatu dan membaur, sel-sel parenkima yang terbentuk dan
terdiferensiasi membentuk kambium sebagai lanjutan dari lapisan kambium
batang bawah dan batang atas yang lama. Dari lapisan kambium akan terbentuk
jaringan pembuluh sehingga proses translokasi hara dari batang bawah ke batang
atas atau sebaliknya hasil fotosintesis dari batang atas ke batang bawah
berlangsung sebagaimana mestinya.
Diharapkan melalui proses grafting ini didapatkan model untuk batang atas
yang berasal dari regenerasi tanaman secara embriogenesis somatik dengan batang
bawah yang berasal dari biji dan stek. Selain itu dengan teknik grafting ini
diharapkan akan mempersingkat masa vegetatif pada tanaman jeruk dimana
tanaman ini mempunyai juvenilitas yang tinggi menyebabkan masa vegetatif yang
lama. Metode grafting juga menguntungkan untuk tanaman yang memiliki
perakaran yang tidak kuat, dan dapat bertahan pada berbagai kondisi yang tidak
menguntungkan. Gambar 18C memperlihatkan bahwa antara batang atas dan
batang bawah telah memiliki kompatibiltas yang satbil. Pertumbuhan tunas hasil
grafting akan maksimal jika dilakukan pemangkasan tunas-tunas muda dari batang
bawah yang tumbuh kembali dan perawatan terhadap tunas batang atas
50
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
1. Jaringan nuselus merupakan eksplan terbaik untuk menginduksi terjadinya
kalus yang bersifat embriogenik. Induksi kalus embriogenik terbaik
terdapat pada media MT + 3 mg/l BAP + 1 mg/l 24-D + 500 mg/l ekstrak
malt.
2. Media proliferasi kalus terbaik adalah MS + vitamin Morel dan Wetmore
+ 3 mg/l BAP + 300 mg/l Kasein hidrolisat.
3. Pendewasaan embrio somatik terbaik adalah MS + vitamin Morel dan
Wetmore + 2.5 mg/l ABA + 500 mg/l ekstrak malt.
4. Penambahan 2.5 mg/l GA3 pada media MW sangat baik digunakan untuk
proses perkecambahan embrio somatik terbaik.
5. Multiplikasi tunas terbaik terdapat pada perlakuan media MS + vitamin
Morel dan Wetmore + 7 mg/l biotin + 500 mg/l ekstrak malt.
6. Penginduksian akar sekunder pada tunas embrio somatik terbaik adalah
MS + vitamin Morel dan Wetmore + 3 mg/l IBA
7. Keberhasilan aklimatisasi tunas embrio somatik yang berakar adalah
sebesar 90%.
8. Rata-rata keberhasilan grafting yang hidupadalah sebesar 62.4 %.
SARAN
Perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut terhadap tanaman yang hidup setelah
diaklimatisasi guna mendapatakan informasi tentang keragaman yang muncul
akibat pengaruh lingkungan di lapangan.
51
DAFTAR PUSTAKA
Acar I, Erol B, Sarpkaya K. 2010. Effects of boron and gibberellic acid on in
vitro pollen germination of pistachio (Pistacia vera L.) African Journal of
Biotechnology 9(32):5126-5130.
Aftal N, Rahman A, Bhatti A, Ali L. 2009. Tisuue culture of Citrus cultivars.
Science direct 8(1):43-51.
Alkahyari MJ, Albahrany MA. 2001. Invitro micropropagation of Citrus auranty
folia (lime). Current science. 81(9):1-5.
Ake AP, Maust B, Segovia O , Oropeza C. 2007. The Effect of gibberellic acid
on the in vitro germination of coconut zygotic embryos and their conversion
into plantlets in vitro cell. Dev Biol Plant 43:247–253.
Ammirato PV, Evans DA, Sharp WR, Yamada Y. 1983. Handbook of Plant Cell
Culture. MacMillan Publ. Co. New York and London.
Anjaneyulu C. & Girri CC. 2008 Factors influencing somatic embryo maturation,
high frequencygermination and plantlet formation in Terminalia chebula
Retz. Plant Biotechnol Rep 2:153–161.
Ardiani M, Puspita N, Fina G, Septiani, Meiyanto. 2008. Ekstrak etanolik kulit
buah jeruk keprok (Citrus reticulata) memacu proliferasi danekspresi cox-2
pada sel kanker kolon WiDr. Prosiding Kongres Ilmiah XVI ISFI. Jakarta.
Badawy EM, Habib AM, El-Banna AA, Yousry GM. 2009. Effect of ome factors
on somatic embryos formation from callus suspensions culture in phoenix
dactylifera L. Cv. Sakkoty. 4th Conference on Recent Technologies in
Agriculture. 593-599.
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian. 2005. Prospek dan
Arah Pengembangan Agribisnis Jeruk. Balitbangtan Deptan. Jakarta
Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian. 2006 Pelepasan
Jeruk Keprok Batu 55 Sebagai Varietas Unggul. Balitbangtan Deptan.
Jakarta.
Bhatt BB, Tomar YK. 2010. Effects of iba on rooting performance of citrus
uriantifolia swingle (kagzi-lime) in different growing conditions. Nature
and science 7:16-22.
Bond JE, Roose ML. 1998. Agrobacterium-mediated transformation of the
commercially important citrus cultivar washington navel orange. Plant Cell
Reports 18:229–234.
52
Berthouly M, Michaux NM. 1995. High frequency somatic embryogenesis in
Coffea canephora. plant cell, Tissue and Organ Culture.vol.44: 169-176
Badan Pusat Statistik. 2010. Jakarta
Cardi 1, Monti M. 1993. Optimization of callus culture in Pea (Pisum sativum).
Annali Della Facolta di Scienze, vol.24: 11-15.
Cardoza V & D‟Souza L. 2002. Induction, development and germination of
somatic embryos from nucellar tissues of cashew (Anacardium occidentale
L.) Scientia Horticulturae Volume 93, Issues 3-4, 19 April 2002, Pages
367-372
Carimi.F. 2007.Somatic embryogenesis and organogenesis in citrus for sanitation
and in vitro conservation. Options Mediterranennes 33:86-93
Carimi F. 2005. Protocol Somatic Embryogenesis: citrus sp in Book : Protocol for
Somatic Embryogenesis in Woody Plants. Edd by Jain SM & Gupta PK.
Pages : 321-343. Forestry science vol 77. Springer.
Copriady J, Yasmi E, Hidayanti. 2005. Isolasi dan karakterisasi senyawa kumarin
dari kulit buah jeruk purut (Citrus hystrix DC). Jurnal Biogenesis 1:13-15
Crocomo OJ, Sharp WR, and Peter JC. 1976. Platelets morphogenesis and control
of callus growth and root induction of Phaseolusvulgaris with the addition
of bean seed extract. Pflanzen PhysioI. 78:456-462.
Davies. J.P 2004. Palnt hormones Biosynthesis, signal transduction, Action
Kuwer Academic publisher Dordrecht/ Boston / London
Devi MY, Yulainti F, Andrini. 2010. Kandungan flavanoid dan limbonoid pada
jeruk kalamondin( Citrus mitis blanco) dan jeruk purut (Citrus hystix DC).
J. Hort. 20 (1):360 – 367.
Deptan. 2003. Buletin Info Mutu. http:// www. Deptan. go.id/ Buletin/ infomutu/
febuari/ html
Direktorat Jendral Hortikultira Departemen Pertanian. 2008. Pengembangan Jeruk
Keprok Nasional. Dirjen Hortikuktura Deptan. Jakarta
D'Onghia AM, Carimi F, De Pasquale F, Djelouah K and Martelli GP .2001.
Elimination of citrus psorosis virus by somatic embryogenesis from stigma
and style cultures. Plant Pathol. 50: 266-269.
Doyle A, Griffiths BJ. 1999. Cell & Tissue Culture: Laboratory Procedures in
Biotechnology. J.Wiley & Son Ltd. England
53
Egertsdotter, U. 1999. Somatic embriogenesis in picea suspensions culture,
p.51-60. In : Hall DR. (Ed.), Plant Cell Culture Protocols. Humana
Press.New Jersey.
Gaspar TC, Kevers C, Penel H, Greppin DM, Reid, Thorpe TA. 1996. Plant
hormones and plant growth regulators in plant tissue culture. In Vitro
Cell Dev. Biol. Plant 32: 272-289.
Germana, MA, Crescimanno FG, Reforgiato G, and Russo MP. (2000)
Preliminary characterization of several doubled haploids of Citrus
clementina cv. Nules. Acta Horticulturae 535:183–190.
Gunawan LW. 1992. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Pusat antar universitas
bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. 86 hal. Bogor
Gantait S, Mandal N, Das PK. 2009. Impact of auxins and activated charcoal on
in vitro rooting of Dendrobiumchrysotoxum Lindl. cv. Golden Boy Journal
of Tropical Agriculture 47(12):84-86.
Gmiter F & Moree G.A .1986 Plant regeneration from undeveloped ovules and
embryogenic calli of Citrus: Embryo production, germination, and plant
Survival. Plant Cell, Tissue and Organ Culture 6:139-147
Guo WW, Grosser JW. 2005. Somatic hybrid vigor in Citrus: Direct evidence
from protoplast fusion of an embryogenic callus line with a transgenic
mesophyll parent expressing the GFP gene. Plant Science 168:1541–1545.
Guo WW, Deng XX. 1998. Somatic hybrid plantlets regeneration between Citrus
and its wild relative,Murraya paniculata via protoplast electrofusion. Plant
Cell Reports 18:29-34.
Gutman M, Aderkas PV, Label P. Anne M. 2006. Efek absisic acid on somatic
embryo maturation of hybrid Larch. Journal of Experimental Botany.
47(305):1905–1917.
George EF, Geert AM, Klerk D. 2008. Plant Propogation Tissue Culture 3
Edition. Pub by Springer. P.O. Box 17, 300 AA Dordencht, The
Netherlands.
George EF, Sherrington PD. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture. Great
Britian: Eastern Press.
Gopitha K, Bhavani L, Senthilmanickam J. 2010. Effect of the different auxins
and cytokinins in callus induction, shoot,root regeneration in sugarcane.
International Journal of Pharma and Bio Sciences 1:3-11.
Hassan KMY, Khatun R. 2010. regeneration of ficus glomerata roxb using shoot
tips and nodal explants. Bangladesh J. Bot. 39(1):47-50.
54
Heimer NY, Filner P. 1970. Regulation of the nitrate assimilation pathway of
cultured tobacco cells II. Properties of a Variant Cell Line. Biochimica et
Biophysica Acta (BBA) 215: 152-165.
Husni A. Mariska I. Hobir 2004. Fusi Protoplas dan Regenerasi Hasil Fusi antara
Solanum melongena dan Solanum torvum.Jurnal Bioteknologi Pertanian
Vol.9 no.1 pp 1-7
Husni A. 2010 Fusi Interspesies antara Jeruk Siam Simadu (Citrus nobilis Lour)
dengan Mandarin Satsuma (Citrus Unshlu Marc.) [Disertasi]. Bogor:
Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Husni A, Purwito, Mariska I, Sudarsono. 2011. Regenrasi jeruk siam melalui
embrio somatik. Jurnal Agrobiogen 6(2):75-83.
Islam AM, Zubair H, Imtiztiaz N. Chaudhary AF. 2007. Production of in vitro
root cultures of Cicer arietinum. International journal of Agriculture &
Biology 7(4):621–626.
Iwamasa M, Ueno I, Nishiura M. 2007. Inthertince of nucellar embryony in citrus.
J.Hort.Res.sta 12(4):35-42.
Indrayasa A. 2010. Induksi keragaman pada jeruk siam Pontianak dengan
menggunakan radiasi sinar Gama. [Skripsi] : bogor :Institut Prtanian Bogor.
Kepiro JL, and Roose ML. 2007. Nucellar Embriony in Book : Citrus genetic
Breeding and Biotechology. Edition by Khan.I. pages : 141-149. Library of
Congress. Washington, DC
Khalil MS, and Elbanna AA 2004 Highly efficient somatic embryogenesis and
plant regenerationvia suspension cultures of banana (Musa spp.) Arab J.
Biotech. 7(1): 99-110
Kiong AL, Wan LS, Hussein S, Ibrahim R. 2008. Induction of somatic embryos
from different explants of Citrus sinensis. Journal of Plant Science
3(1):18-32
Kobashi K, Sugaya S, Gemma H, Iwahori S. 200. Effect of abscisic acid (ABA)
on sugar accumulation in the flesh tissue of peach fruit at the sart of the
maturation stage Plant Growth Regulation 35:215–223.
Komatsuda T, Lee W, Oka S .1992. Maturation and germination of somatic
embryos as affected by sucroseand plant growth regulators in soybeans
Glycine gracilis Skvortz and Glycine max (L.) Merr. Plant Cell, Tissue and
Organ Culture 28:103-113.
55
Kruger RR, Navarro L. 2007. Citrus Germplasm Resource in Book : Citrus
genetic Breeding and Biotechology. Edition by Khan.I. pages : 45-111.
Library of Congress. Washington, DC
Kunitake H, Kagami H, Mii M. 2005. Somatic embryogenesis and plant
regeneration from protoplasts of „Satsuma‟ mandarin (Citrus unshiu Marc.)
Scientia Horticulturae 47(2):7-33
Ladaniya MS. 2008. Citrus : Biology, Technology and Evaluation. Academic
Press is an imprint of Elsevier. London
Lestari GA, Purnamaningsih, Mariska I, Hutami S. 2009. Induksi keragaman
somaklonal dengan iradiasi sinar gamma dan seleksi in vitro kalus pisang
rajabulu menggunakan asam fusarat dan aklimtaisasi. Berita biologi
9(4):1 -7
Ler AM, Parlak S. 2004. Effects of iba and cutting dates on the rooting ability of
semi-hardwood kiwifruit (actinidia deliciosa a.chev.) cuttings. Turk J Agric.
28: 192-201.
Ling P, Duncan LW, Deng Z, Dunn D, Hu, X, Huang S. and Gmitter FG. 2000.
Inheritance of citrus nematode resistance and its linkage with molecular
markers. Theoretical and Applied Genetics 100:1010–1017.
Liu ZH, Wang CW, Yen YY. Effect of hormone treatment on root formation and
endogenous indole-3-acetic acid and polyamine levels of Glycine max
cultivated in vitro. J. Agric. Sciences. 8(9):121-127.
Luo JL, Jia JL,Gu H, Jing Liu. 1999. High frequency somatic embryogenesis and
plant regeneration in callus cultures of Astragalus adsurgens Pall. Plant
Science (143): 93–99
Maheshwari P and Rangaswamy NS .1958. Poly embryony and in vitro Culture of
embryos of Citrus and Mangifera. Ind. J. Hort. 15: 275-282.
Mauri PV, & Manzenara J A. 2004 Effect of absisic acid & stratification on
somatic embryo maturation & germination of holm oak (Quercus ilex L.) In
Vitro Cell. Dev. Biol.Plant. 40:495–498.
Mayer DC, Fanciulino LA, Dubois C, Olitrault P. 2009. Effect genotype and
environment on citrus juice content. J. Agric. Food Chem. 57(59): 91609168.
Mathius NT, Lukman, Purwito A. 2006. Teknik sambung mikro in vitro kina
Cinchona succirubra dengan Cichona ledgeriana. Menara perkebunan.
74(2):63-75.
56
Moore TC. 1979. Biochemistry and Physiology of Plant hormone. Pringer
Verlag. New York.
Nindita A. 2010. Regenerasi Tanaman Jarak (Jatropha curacas) melalui Lintasan
Organogenesis dan Embriogenesis Somatik. [tesis] . Bogor : Program Pasca
Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Nandagopal S, kumara BDR. 2007. effectiveness of auxin induced in vitro root
culture in chicory. Journal Center Eroupean of agriculture 8(1):73-80).
Obukosia SD, Waithaka K. 2000. Nucellar embryo culture of Citrus cinensis and
Citrus limon. African Crop Science Journal. 8(2) :109-116.
Olmos, E. and E. Hellin. 1998. Ultrastructural differences of hyperhydric and
normal leaves from regenerated carnation plants. Scientia Horticulturae.
75: 91-101.
Oktavia F, Siswanto, Budiani A, Sudarsono. 2003. Embiogenesis somatic
langsung dan regenerasi planlet kopi arabika (coffea Arabica) dari berbagai
eksplan. Menara perkebunanan.71(2):44-45.
Polat AO, Caliskan O. 2008. Effect of indolebutyric acid (iba) on rooting of
cutting in various pomegranate genotypes. SHS Acta Horticulturae 818: 1-7.
Rangan TS, Murashige T ,Bitters WP .1968. In vitro Initiation of nucellar
embryons in monoembryonic Citrus. Hort. Science 3:226-227.
Renukdas, N.N., M.L.Mohan, S.S.Khuspe, and S.K.Rawal. 2006. Influence of
phytohormones, culture conditions, and ethylene antagonist on somatic
embryo maturation and plant regeneration in papaya. International Journalof
Agricultural Research 1 (2): 151-160.
Ricci AP, Filho AF, Januzi MB. 2001. Somatic embryogenesis, C. Reticulata, C.
Nobilis, C. Diliciosa. Plant science 16(3):267-275.
Rohayati E, Marlina N. 2009. Teknik aklimatisasi planlet anyelir (Dianthus
caryophyllus L.) untuk tanaman induk. Buletin Teknik Pertanian.
14(2):72-75
Rahim M, Sidik L, Mirth S, Toda H. 2000. Effect of diferend amino source in
palm. Arab J. Biotech. 5 (3): 162-168.
Sawy EA, Gomma A, Reda A, Danial N. 2006, somatic enbryogensis and plant
regeneration from undeveloped ovules of citrus. Arab J. Biotech.
9(1):189-202.
Saito W, ohgawara T, Shimizu, Kobayashi S. 1994. Somatic hybridization in
Citrus using embryogenic cybrid callus. Plant science. Vol. 99 (1) :89-95
57
Santi, A. dan S. Kusumo. 1996. Komposisi media tumbuh yang cocok untuk
perbanyakan in vitro bromelia (Tilandsia puctulata). Jurnal Hortikultura
5(5): 94-98.
Santoso U, Nursndi F. 2001. Kultur Jaringan Tanaman. Malang : Penerbitan
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
Shirin F, Hossain M, Kabir MF, Roy M, Sharjer SM 2007 Caluss Induction and
plant Regeneration from iternodal lLeaf Eksplan of Four Pottato (Solanum
tuberosum L) Cultivar. World Jurnal of Agricultural science 3 (1):0–06
Siregar M A L, Lei-Keng C, Peng-Lim B. 2010 Pengaruh Kasein Hidrolisat dan
Intensitas Cahaya terhadap Produksi Biomassa dan Alkaloid Canthinone
didalam Kultur Suspensi Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack). Makara,
Saint 14 (1):15-21
Sukma D, Sudiato S, Haran S, Sudarsono . 2003 Pengaruh jumlah Eksplan, Umur
Kultur dan Kasein Hidrolisat terhadap biomasaa Paria belut (Trichosanthes
cucumerina var. Anguina) Jurnal Hayati 3:48-54.
Sukmadjaja D, Novianti S.E.,G. Lestari, Ika R, dan T. Suhartini. 2007. Teknik
Isolasi dan Kultur Protoplas Tanaman Padi. Jurnal Bioteknologi Pertanian
Vol.5:1-7
Sutanto A dan Aziz M A. 2006. Induksi dan regenerasi embriogenesis somatik
pepaya J. Hort. 16(2):89-95
Sutarto I, Agisimant D, Supriyant A. 2009 Development of Promising Seedless
Citrus Mutants through Gamma Irradiation Induced Plant Mutations in the
Genomics Era. Food and Agriculture Organization of the United Nations,
Rome, 306-308.
Suryo. 2007. Sitogenetika Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Satrosumardjo S. 2008. Sitogenetika Tanaman. 128 hal. IPB Pers. Bogor
Shiaty OH, Sharabasy SF, Kareim A. 2004. Effect of some amino acids and
biotin on callus and proliferation of Date palm (Phoenix dactylifera L.)
Sewy cultivar Arab J. Biotech. 7 (2): 265-272
Tao H, Shaolin P, gaofeng, Lanying Z, Gengguang L. 2002 Plant regeneration
from leaf-derived callus in Citrus grandis (pummelo): Effects of auxins in
callus induction medium
Plant Cell, Tissue and Organ Culture
69: 141–146, 2002.
58
Tomaz ML, Mendes BJ, Assis F, Filho M, Jansakul N, Rodriguez AD. 2000.
Somatic embyogenesis in citrus SPP : carbohydrate stimulation and
hutododifferentation. Scientia Horticulturae Vol 93 :295-301.
Tokuji Y, Kuriyama K. 2003. Involvement of gibberellin and cytokinin in the
formationof embryogenic cell clumps in carrot (Daucus carota). J Plant
Physiol 160:133–141.
Van Steenis CG. 1975. Flora Voor de Scholen in Indonesie. Ed. Sorjowinoto M,
edisi VI. PT. Pradnya Paramitha, Jakarta.
Wattimena GA. Gunawan LW, Mattjik NA, Syamsudin, iendi NMA, Ernawati A.
1992. Bioteknologi Tanaman Kultur Jaringan. Pusat Antar Universitas
Institut Pertanian Bogor. hlm. 66-67.
Wattimena G.A 1998. Zat pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas
Institut Pertanian Bogor. hlm. 145.
Wattimena G.A 1999. Aplication of Biotechonology on Horticultural Crops
Production. In Proseding Seminar on bioteknology: Aplication of of
Biotechonology on Horticultural Crops Production. Bogor Agricultural
University-DFID British Council, bogor, April 14.
Wetter, L.R, F. Constabel. 1992. Plant Tissue Culture Methods. Praire Regional
Laboratory, Saskatoon, Saskatcchewan, Canada. 190 pp.
Woodger F, Jacobsen JV, Gubler F. 2004. Gibberllin Action in germinated cereal
grains in davies, P.J (Eds) Plant Hormones. Kluwer Academics Publisher.
Yasuda K, Yahata M, Komatsu H, Kurogi Y, Kunitake H. 2010. Triploid and
Aneuploid Hybrids from Diploid-diploid Intergeneric Crosses between
Citrus Cultivar „Kiyomi‟ Tangor and Meiwa Kumquat (Fortunella
Crassifolia Swingle) for Seedless Breeding of Kumquats. J.Japan. Soc.
Hort. Sci. 79 (1):16-22.
Yuwono, T. 2008. Bioteknologi Pertanian. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Yujin H, Xiuxin D. 2002. Stress treatment and DNA methylation affect the
somatic embryogenesis of citrus callus. Acta Botanica Sinica. 44(6):673677.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Jakarta. Bumi aksara
59
LAMPIRAN
Lampiran 1.Deskripsi jeruk keprok Batu 55
DESKRIPSI JERUK KEPROK VARIETAS BATU 55
Nomor : 307/Kpts/SR.1204/4/2006
Asal : Loka Peneliiitian Tanaman Jeruk dan Hortikultura Subtropik, Desa
Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Kota Batu Propinsi Jawa Timur.
Silsilah
Golongan tanaman
Bentuk tanaman
Tinggi tanaman
Bentuk tajuk
Ukuran tajuk
Bentuk penampang batang
Duri batang
Diameter pangkal batang
Percabangan
Tipe daun
Warna daun bagian atas
Permukaan daun bagian atas
Warna daun bagian bawah
Permukaan daun bagian bawah
Bentuk daun
Ukuran daun
Tepi daun
Ujung daun
Panjang tangkai daun
Warna mahkota bunga
Panjang mahkota bunga
Jumlah mahkota bunga
Warna kepala putik
Panjang putik
Warna benang sari
Panjang benang sari
Jumlah benang sari
Warna bunga mekar
Panjang bunga
Panjang Kelopak bunga
Panjang tangkai bunga
Jumlah bunga per tandan
Warna kulit buah matang
Permukaan kulit buah matang
Ketebalan kulit buah
Bentuk buah
Bentuk pangkal buah
: Seleksi pohon induk
: Klon
: Bulat agak memanjang (speroid)
: ± 2,2 m
: Relatif bulat
: Panjang ± 0,75 m, lebar ± 0,75 m
: Bulat
: Tidak ada
: ± 8,5 cm
: Rapat mengarah kaatas
: Tunggal
: Hijau tua
: Halus
: Hijau muda
: Halus
: Oval
: Panjang ± 7,1 cm, lebar ± 3,8 cm
: Beringgit
: Meruncing
: ± 1,5 cm
: Putih
: ± 0,9 cm
: 5 buah
: Kuning kecoklatan
: ± 0,2 cm
: Kuning kecoklatan
: ± 0,5 cm
: 17 buah
: Putih
: ± 1,1 cm
: ± 0,2
: ± 0,3 cm
: 2 – 6 kuntum
: Kuning kehijauan
: Kasar agak bergelombang
: ± 3 mm
: Bulat
: Agak datar
60
Bentuk ujung buah
Ukuran buah
Warna daging buah
Rasa daging buah
Tekstur daging buah
Kadar gula
Kadar asam
Kadar air
Kandungan vitamin C
Volume sari buah
Berat sari buah
Bentuk biji
Ukuran biji
Jumlah biji per buah
Jumlah juring per buah
Persentase buah yang dapat
dimakan
Berat per buah
Panjang tangkai buah
Jumlah buah per dompol
Waktu berbunga
Waktu panen
Hasil
Identitas pohon induk tunggal
: Cekung ke dalam
: Tinggi ± 7,9 cm, diameter ± 5,9 cm
: Oranye
: Manis agak masam
: Lunak
: 11,6 %
: 0,52 %
: 89,88 %
: 32,27 mg/100 g
: 61 ml/buah
: ± 60 g/buah
: Oval
: Panjang 1,1 – 1,2 cm, lebar 0,6 – 0,7cm
: 12 biji
: 10 juring
: 80 %
: ±110,62 g
: ± 0,5 – 1,4 cm
: 2 – 5 buah
: September – Oktober
: Juni – Juli
: 15 - 25 kg/pohon/tahun
:Tanaman milik Loka Penelitian Tanaman
Jeruk dan Hortikultura Subtropik, Desa
Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Kota
Batu, Propinsi Jawa Timur dengan PIT
nomor : PIT/JR/a/JTM/104;7855
Perkiraan umur pohon induk tunggal : 15 tahun
Keterangan
: Beradaptasi dengan baik di dataran tinggi
dengan ketinggian 700 –1.200 m dpl
61
Lampiran 2. Komposisi media dasara kultur, vitamin dan komponen lainya.
Komposisi
MS
(mg/l)
MW
(mg/l)
MT
(mg/l)
Macronutrient
KNO3
NH4Cl
NH4NO3
(NH4 )2.SO4
MgSO4.7H2O
CaCl2.2H2O
NaH2PO4.2H2O
K2HPO4
KH2PO4
KCl
1900.00
1650.00
180.54
332.02
170.00
-
1900.00
1650.00
180.54
332.02
170.00
-
1900.00
1650.00
180.54
332.02
170.00
-
Micronutrient
Na2EDTA
FeSO4.7H2O
FeNaEDTA
MnSO4.4H2O
ZnSO4.7H20
CuSO4.5H2O
CoCl2.6H2O
KI
H3BO3
Na2MoO4.2H2O
36.700
16.900
8.600
0.025
0.025
0.830
6.200
0.250
36.700
16.900
8.600
0.025
0.025
0.830
6.200
0.250
36.70
16.90
8.600
0.025
0.025
0.830
6.200
0.250
Vitamin
Myo inositol
Nicotinic acid
Pyridoxine HCl
Thiamine HCl
Biotin
Ca-panthotenat
Nicotinamide
10.00
0.50
0.50
0.10
0.50
10.00
1.0
1.0
1.0
1.0
0.5
1.0
100.00
5.0
5.0
1.0
5.0
5.8
500
300
5.8
500
300
5.8
500
300
Ph
Extract malt
Casein hydrolisat
MS = Murashige dan Skoog + vitamin Murashige dan Skoog
MW = Murashige dan Skoog + vitamin Morell dan Wetmore
MT = Murashige dan Tucker + vitamin Murashige dan Tucker
62
Lampiran 3. Metode analisis kromosom (Sarsidi Sastrosumerdjo 2008)
a. Metode dengan Pra-perlakuan Lengkap
Bahan :

8-Hydroxyquinolin 0,002M

Asam asetat 45%

HCl 1N

Aceto orcein 2%
Metode:
1. Ujung akar dipotong 0,5-1 cm. Kemudian dimasukkan ke dalam botol
yang berisi larutan 8-Hydroxyquinolin 0,002 M. Cara pembuatan
larutannya : Hydroxyquinolin 0,002 M ditimbang sebanyak 0,3 g
dilarutkan dalam 1 liter aquades pada suhu 70oC, kemudian diaduk
menggunakan magnetic stirrer selama 1 jam sampai terlihat warna
kekuningan. Botol dimasukkan ke dalam lemari pendingin (± 4 oC) selama
90 menit.
2. Setelah 90 menit dalam lemari pendingin, botol dikeluarkan dan akar
kemudian dicuci dengan air, direndam dalam asam asetat 45% selama 10
menit.
3. Akar dimasukkan dalam botol yang berisi campuran HCl dengan asam
asetat 45% dengan perbandingan 3 : 1 selama 2 menit. Kemudian
dipanaskan dalam waterbath dengan suhu 60oC selama 2 menit.
4. Setelah proses pemanasan, akar dipindahkan dalam gelas arloji dengan
posisi ujung akar di bagian dalam gelas arloji. Teteskan Aceto orcein 2%
dan diamkan selama 10 menit.
5. Ujung akar diletakkan pada gelas objek. Ujung akar dipotong 1–2 mm,
kemudian ditetesi dengan Aceto orcein 2% lalu tutup dengan cover glass.
Preparat dilewatkan di atas api bunsen 2-3 kali. Kemudian diketuk dengan
pensil berkaret (squashing), kemudian ditekan dengan ibu jari. Diamati di
bawah mikroskop. Penyebaran kromosom yang baik diambil gambarnya.
63
b. Metode tanpa Pra-perlakuan Lengkap
Bahan :

HCl 1N

Aceto orcein 2%
Metode :
1.
Ujung akar 0,5-1 cm dipotong. Dimasukkan dalam cawan petri yang telah
diberi
2.
HCl 1 N dan dibiarkan selama 10-15 menit.
Akar dipindahkan ke dalam cawan petri dengan posisi ujung akar berada
di bagian dalam gelas arloji.
3.
Teteskan Aceto orcein 2% dan biarkan selama 10-15 menit.
4.
Ujung akar kemudian diletakkan di gelas objek. Ujung akar dipotong 1-2
mm, ditetesi Aceto orcein 2% dan ditutup dengan cover glass.
5.
Preparat dilewatkan terlebih dahulu di atas api bunsen sebelum diketuk
dengan pensil berkaret (squashing); kemudian ditekan dengan ibu jari.
Diamati di bawah mikroskop dan dilakukan pemotretan pada kromosom
yang penyebarannya baik.
Download