BAB II MASYARAKAT BATAK TOBA DI DESA TOMOK Dalam Bab

advertisement
BAB II
MASYARAKAT BATAK TOBA DI DESA TOMOK
Dalam Bab ini dijelaskan mengenai gambaran umum masyarakat Batak
Toba di Desa Tomok Dolok, yang meliputi Lokasi penelitian, Asal Usul Marga
Sidabutar, Sistem kekerabatan, Sistem kepercayaan, Sistem mata pencaharian,
Sistem kemasyarakatan, dan Sistem kesenian.
2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini bertempat di Desa Tomok Dolok, Kecamatan Simanindo,
Kabupaten Samosir. Kabupaten Samosir memiliki 9 kecamatan yaitu, Kecamatan
Pangururan, Simanindo, Onan Runggu, Nainggolan, Palipi, Harian, Sitio-tio,
Sianjur Mula-Mula dan Ronggur Nihuta. Berdasarkan data yang diperoleh dari
penelusuran data online bahwa luas Kabupaten Samosir adalah 2.434 km
persegi10.
Desa Tomok Dolok bertempat di Kecamatan Simanindo dengan jarak
tempuh perjalanan ± 90 menit dari Pangururan (ibukota Kabupaten Samosir).
Selain indahnya alam dan bukit-bukit yang menjulang tinggi, Kecamatan
Simanindo juga merupakan salah satu pusat pariwisata yang berada di Kabupaten
Samosir karena banyaknya atraksi-atraksi budaya yang ditampilkan disana seperti
pada Museum Huta Bolon yang menampilkan tarian Batak tradisional tortor, Batu
Parsidangan Huta Siallagan yang menampilkan rekonstruksi peradilan pada
masyarakat Batak zaman dahulu dan kesenian-kesenian tradisi lainnya.
10
Wikipedia.com
16
Universitas Sumatera Utara
Dari pengamatan penulis, ada dua Desa di daerah Tomok yang masingmasing mempunyai cakupan wilayah yang ditentukan berdasarkan batas-batas
yang telah disepakati. Adapun dua Desa tersebut adalah Desa Tomok Parsaoran,
dan Desa Tomok Induk. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Desa Tomok
Parsaoran bahwasanya Desa Tomok Induk dulunya merupakan satu Desa dengan
Desa Tomok Parsaoran tetapi Tomok Induk mekar dan membentuk Desa baru.
Masing-masing Desa memiliki 3 (tiga) dusun dengan jumlah keseluruhan
penduduk 3526 jiwa.
Tomok Induk merupakan lokasi yang digunakan pada upacara Horja Bius.
Berdasarkan wawancara dengan kepala Desa Tomok Parsaoran (Mangiring Tua
Sidabutar), beliau berkata bahwa adapun horja bius tomok11 dilaksanakan sesuai
dengan kesepakatan antara dua Desa yakni Tomok Induk, dan Tomok Parsaoran
dan setiap warga kampung terlibat dengan acara tersebut.
2.2 Asal Usul Marga Sidabutar
Tomok merupakan sebuah Desa kecil di pesisir timur pulau samosir dan
merupakan sebuah Desa tradisional yang dikenal sebagai pintu gerbang dan
pengenalan Samosir. Dahulunya, Tomok sebagai tempat Ompu Soribuntu
Sidabutar dan keturunannya selama lebih dari empat abad. Menurut legenda, Si
Raja Batak yang diakui sebagai nenek moyang seluruh orang Batak, tinggal di
Pusuk Buhit sebuah perbukitan yang tidak jauh dari Pangururan ibukota
Kabupaten Samosir sekarang.
11
Pencantuman kata tomok pada horja bius menjadii horja bius tomok didasarkan pada
tempat pelaksanaanya yaitu Desa Tomok
17
Universitas Sumatera Utara
Pada abad ke-14 Masehi diperkirakan satu dari keturunan Ompu Soribuntu
Sidabutar, yakni Tambatua menempati wilayah Tamba Kecamatan Sitio-tio,
Kabupaten Samosir. Lalu seorang datu parngongo (orang pandai) yang
merupakan salah satu keturunan dari Tambatua meninggalkan Desa Tamba hijrah
ke Desa Batu-batu12 dan diperkirakan pada abad ke-15 Masehi di Desa tersebut
lahirlah generasi keempat dari keturunan Datu Parngongo yang diberi nama Raja
Siopat Ama (Raja Sidabutar, Raja Sijabat, Raja Siadari dan Raja Sidabalok).
Setelah cukup lama bermukim di Desa Batu-batu, yakni pada abad ke-16
Masehi seorang dari Toga13 Sidabutar, yakni Guru Hasahatan mencari tempat
baru dan menemukannya di Batu Tanggang, kini masuk dalam wilayah Tuktuk
Siadong, Kecamatan Simanindo. Di batu inilah lahir putra sulungnya Ompu
Soribuntu dan enam putra lainnya, karena di Batu Tanggang juga ikut margamarga lain maka pada abad ke-17 Masehi hampir seluruh putra Ompu Hasahatan
mencari lahan baru secara bertahap.
Ompu Soribuntu sendiri hijrah ke selatan, beberapa kilometer dari selatan
Batu Tanggang yaitu Tomok. Sejak saat itulah keturunan Ompu Soribuntu dan
keturunan-keturunannya menetap di Tomok. Disini terdapat sarkofagus batu besar
kepala suku Sidabutar, diukir dari satu blok batu, bagian depannya diukir dengan
bentuk wajah singa (makhluk mitos), bagian kerbau, bagian gajah, pada tutup
terbentuk pelana adalah patung kecil seorang wanita membawa mangkok. Areal
yang dijadikan Ompu Soribuntu dan putera-puteranya sebagai perkampungan
12
Batu batu; yang sekarang menjadi Sibatu-batu, merupakan salah satu Desa yang berada
di wilayah Ambarita Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir
13
Dalam bahasa Batak, Toga diartikan sebagai perkumpulan (punguan). Toga digunakan
oleh suku bangsa Batak (Silindung, Samosir, Humbang, Toba) kedalam persatuan (parsadaan)
marga/ klan.
18
Universitas Sumatera Utara
awal adalah Tomok Bolon di tepian Danau toba, namun lahan di seantero Tomok
segera dikuasai dan diusahai, baik untuk pertanian dan peternakan.
Adapun garis perbatasan wilayah yang dijadikan perkampungan, pertanian
dan peternakan yang meliputi seluruh lahan Tomok ialah:
- disebelah Timur berbatasan dengan Danau Toba.
- disebelah Selatan berbatasan dengan Desa Lontung.
- disebelah Barat berbatasan dengan Desa Ronggur ni huta.
- disebelah Utara berbatasan dengan Desa Binanga Jambu Si Lima Tali.
Huta, Lumban, dan Sosor adalah tempat bermukim orang Batak Toba.
Huta merupakan persekutuan hukum dan adat terkecil didalam masyarakat toba.
Huta secara harfiah berarti kota atau kuta, yaitu pemukiman berupa banteng
bertembok dan selalu berbentuk bujursangkar. Lumban berarti tepian adalah
bagian terkecil dari huta yang terdapat pada tepi perkampungan, Sosor adalah
tempat bermukim orang Batak Toba. Huta merupakan persekutuan hukum dan
adat terkecil didalam masyarakat toba. itu berarti sudut/pedalaman adalah bagian
terkecil dari huta yang didalamnya terdapat masyarakat penghuni dan terdapat
pada sudut huta. Huta, lumban, dan sosor yang masuk dalam wilayah Tomok
adalah sebagai berikut :
1. Lumban Silalahi, Sosor Bolon, Bulu duri, Lumban Sidabutar, Siholing,
Gurning, Sitio, Tomok Bolon, Lumban Galung, Sosor Dame, Janji
Marapot, Sosor Pasir, Lumban Sijabat
2. Simangambat, Mual Na Pultak, Sosor Galung, Unte Anggir dan Batu
Manimbun di Tomok.
19
Universitas Sumatera Utara
3. Pangambatan, Sosor Mangandar, Buttu Nauli, Pealilit dan Siharbangan di
Tomok Bagian Selatan.
4. Huta Bolon, Sosor Tolong, Lumban Sinurat, Lumban Simarmata, Lumban
Nadeak, Huta Raja, Tanjungan, Sihudon, Sigarattung dan Siulak Hosa di
Tomok Bagian Barat.
Seluruh wilayah tersebut sejak awal (abad ke-17 Masehi) hingga sekarang
dikuasai secara adat oleh keturunan Ompu Soribuntu Sidabutar dan pusat
kekuasaan tetap berada di Tomok Bolon (tuliskan sumber skripsi)
2.3 Sistem Kekerabatan
Masyarakat Batak Toba di Desa Tomok menganggap bahwa struktur
kekerabatan harus tetap dijaga sebagai budaya turun temurun dari nenek moyang
Dj. Rajanamarpodang mengatakan bahwa sistem kekerabatan memegang peranan
penting dalam jalinan hubungan, baik antara individu dengan individu dengan
masyarakat lingkungan. Di dalam sistem kekerabatan ini pula terdapat kelompok
kekerabatan, sistem keturunan, sistem istilah kekerabatan dan sopan santun
pergaulan kekerabatan.
Pada kelompok kekerabatan ada sistem norma yang mengatur kelakuan warga
kelompok. Pada kelompok yang bersangkutan ada harga dan rasa kepribadian
yang disadari oleh para anggotanya, ada hak dan kewajiban yang turut mengatur
interaksi mereka, di samping pimpinan yang mengorganisir kegiatan kelompok.
Sistem keturunan adalah yang menentukan siapa di antara kerabat yang begitu
luas termasuk ke dalam lingkungan kekerabatannya dan siapa yang tidak termasuk
ke dalamnya.
20
Universitas Sumatera Utara
1. Sisten keturunan melalui garis laki-laki saja disebut prinsip patrilineal.
2. Sistem keturunan melalui garis perempuan disebut prinsip matrilinieal
3. Sistem keturunan yang memperhitungkan hubungan kekerabatan melalui
laki-laki dan perempuan disebut prinsip bilateral.
Pada masyarakat Batak Toba di Tomok sistem keturunan melalui garis
laki-laki (patrineaal) dapat kita perhatikan pada anak dari marga Sidabutar
akan diberi marga (klan) sebagai identitas dari orangtuanya setelah nama anak
tersebut karena bagi masyarakat Batak toba anak adalah penerus keturunan
dari orangtuanya tersebut dan pada seorang perempuan akan diberi marga
pada bagian belakang namanya, akan tetapi menambahkan tulisan boru
sebelum marga daripada ayahnya tersebut.
Pada masyarakat Batak Toba secara umumnya, sistem keturunan melalui garis
perempuan dapat diperhatikan pada anak dari keturunan perempuan tersebut
memanggil tulang kepada saudara laki-laki dari perempuan tersebut. Pada konsep
kehidupan masyarakat Batak Toba, perempuan pada dasarnya akan dipersunting
oleh pihak laki-laki yang tidak semarga dengannya, suami dari perempuan
tersebut akan memanggil lae (abang maupun adik ipar) pada saudara laki-laki
perempuan tersebut dan pihak laki-laki yang telah mepersunting perempuan
tersebut akan marhula-hula pada keluarga pihak perempuan tersebut.
Di dalam sistem keturunan ini ada pula yang memperhitungkan dimana
sejumlah hak dan kewajiban tertentu, termasuk ke dalam lingkungan kerabat lakilaki, sedangkan pada sejumlah hak dan kewajiban lainnya diperhitungkan masuk
lingkungan kerabat perempuan. Demikian pula pada sistem istilah kekerabatan,
adalah sistem bagaimana seseorang menyapa atau menyebut seseorang yang lain
21
Universitas Sumatera Utara
dari anggota kerabatnya. Sopan santun pergaulan kekerabatan merupakan sistem
tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap terhadap kerabat teretentu dan
bagaimana sikap terhadap anggota kerabat lainnya. Seperti suku lainnya di
Sumatera Utara konsep kekerabatan Batak Toba bisa kita temukan dari marga dan
konsep Dalihan Na Tolu sebagai pilar utama dalam menjalin hubungan
kekerabatan.
2.3.1 Marga
Batak Toba merupakan suku dengan identitas marga pada bagian akhir
dari nama yang diberikan. Marga adalah identitas turun temurun pada masyarakat
Batak Toba. Sebagai suku dengan konsep patrilineal, marga dari ayah secara
otomatis akan disandang oleh keturunannya laki-laki maupun perempuan. Jika
anaknya laki-laki, maka marga melekat setelah nama panggilannya sedangkan
jika keturunannya perempuan maka marga akan melekat setelah nama panggilan
dengan mencantumkan boru sebelum marga.
Berdasarkan data yang diperoleh dari informan penulis bahwa masyarakat
di Desa Tomok didominasi oleh marga Sidabutar, namun jika dicatat secara rinci
bahwa di Desa itu juga terdapat marga lain seperti Samosir, Sijabat, Sigiro,
Siadari, Sitindaon, Sidabalok, Harianja, Sinaga, Samosir, Sitohang, Situmorang
Manik dan Situmorang dengan jumlah yang relatif sedikit14. Dengan mengetahui
marga dan silsilah (tarombo) yang dimiliki dari nenek moyang terdahulu maka
masyarakat Batak Toba di Desa Tomok akan mengetahui partuturon apabila
bertemu dengan masyarakat Batak Toba lainnya di suatu tempat.
14
Marga-marga ini adalah marga pendatang di daerah ini, baik karena perkawinan
maupun karena pekerjaan
22
Universitas Sumatera Utara
2.3.2 Dalihan na tolu
Menurut catatan Dj. Rajamarpodang (cari lagi) dalam bukunya Dalihan
Natolu Prinsip Dan Prinsip Dasar Nilai Budaya Batak, mengatakan bahwa
dalihan artinya tiang tungku yang dibuat dari batu. Na, artinya yang, Tolu artinya
tiga. Jadi Dalihan Na Tolu artinya Tiga Tiang Tungku. Dalihan berasal dari bahan
baku batu yang dibentuk sedemikian rupa, ujung yang satu tumpul dan ujung yang
lain agak segiempat yang berfungsi sebagai kaki dalihan. Bentuk Dalihan harus
dibuat sama besar dan ditanam sedemikian rupa sehingga jaraknya simetris satu
sama lain dengan tinggi yang sama dan harmonis.
Tidak selamanya periuk atau belanga cocok diletakkan diatas dalihan, bisa
saja ukurannya terlalu kecil sehingga diperlukan batu yang lain dengan ukuran
lebih kecil untuk menopang belanga atau periuk, dalam bahasa Batak Toba batu
tersebut dinamai sihal-sihal. Sementara itu tungku yang berasal dari batu tidak
selamanya disebut dalihan. Misalnya ada dua batu yang kemudian diatasnya
diletakkan besi sejajar sebagai penyangga belanga atau periuk, dan tentu saja itu
bisa difungsikan untuk memasak, namun itu tidak akan disebut dalihan. Oleh
karena itu setiap tungku yang bukan berasal dari batu seperti tungku-tungku
keluaran pabrik tidak boleh dinamai dalihan. Karena Dalihan Na Tolu bukan
hanya sekedar tungku nan tiga saja sebagai sarana prasarana untuk memasak
makanan, akan tetapi menyangkut seluruh kehidupan yang bersumber dari dapur.
Nenek moyang suku Batak Toba melihat kehidupan manusia, baik sebagai
individu maupun sebagai keluarga tidak ada obahnya seperti Dalihan Na Tolu.
Bahwa segala sesuatu yang diperlukan menyangkut kepentingan manusia dan
keluarga, yang menjadi sumber sikap perilaku seseorang dalam kehidupan sosial
23
Universitas Sumatera Utara
budaya haruslah bersumber dari tiga unsur kekerabatan, ibarat tiga tiang tungku
yang berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dalam bentuk kerjasama atau samasama memanfaatkan satu sama lain. Ketiga unsur yang berdiri sendiri tidak ada
artinya, tetapi harus ada kerjasama satu sama lain sehingga memperoleh manfaat.
Ketiga unsur itu adalah:
1. Unsur pertama adalah Suhut dengan saudara laki-laki yang disebut
dongan sabutuha.
2. Unsur kedua adalah saudara Suhut perempuan dengan suaminya
disebut boru.
3. Unsur ketiga adalah saudara laki-laki dari istri suhut yang disebut
hula-hula.
Bagi masyarakat Desa Tomok, Dalihan Na Tolu menjadi pedoman dan
landasan pokok yang selalu diterapkan dalam kehidupan adat istiadat. Suhut pada
masyarakat Desa Tomok dapat kita lihat ketika ada pesta atau upacara adat;
mereka yang mempunyai hajat/pesta tersebut disebut sebagai suhut. Dongan
sabutuha atau teman semarga adalah mereka yang mempunyai garis keturunan
marga yang sama, seperti marga Sidabutar akan memanggil appara pada marga
Sitanggang, Simbolon, Sitio dan lain-lain karena marga-marga tersbut termasuk
kedalam rumpun PARNA (Pomparan Raja Naiambaton).
Boru adalah mereka pihak perempuan yang telah dipersunting oleh lakilaki yang disahkan oleh adat perkawinan. Pada upacara adat istiadat Batak toba,
boru adalah mereka yang telah mempersunting perempuan dari garis keturunan
marga yang berbeda seperti contoh marga Sidabutar mempersunting boru
harianja, maka secara tidak langsung pada upacara Batak toba di tomok boru
24
Universitas Sumatera Utara
adalah marga Sidabutar yang telah mempersunting boru harianja tersebut. Pada
upacara adat di tomok, jika pihak parboru mempunyai hajat maka marga
Sidabutar akan menjadi parhobas15 pada kegiatan tersebut.
Hula-hula adalah pihak laki-laki yang semarga dengan istri, hula-hula
dalam hal adatnya juga dikatakan parrajaon (pihak yang dirajakan). Hula-hula
pada masyarakat Batak toba mempunyai posisi yang sangat tinggi, hula-hula
adalah pihak dari istri yang mencakup orangtua dan semua saudara laki-laki
dari wanita yang dinikahi oleh pria dari marga yang lain yang sesuai dengan
adatnya.
Hula-hula
contohnya
marga Sidabutar
mempersunting
boru
situmorang, maka orangtua dari boru situmorang tersebut adalah hula-hula ni
marga Sidabutar tersebut. Hula-hula bukanlah hanya pihak mertua dan
golongan semarganya tetapi juga bona ni ari yaitu marga asal nenek (istri
kakek) lima tingkat keatas atau lebih tulang yaitu saudara laki-laki ibu, yang
terdiri dari tiga bagian yaitu bona tulang (tulang kandung dari bapak ego),
tulang tangkas (tulang ego saudara), tulang ro robot (ipar dari tulang), lae atau
tunggane (ipar) yang termasuk di dalamnya anak dari tulang anak mertua,
mertua laki-laki dari anak, ipar dari ipar, cucu ipar; bao (istri ipar) yaitu istri
ipar dari pihak hula-hula mertua perempuan dan anak lakilaki, anak perempuan
dari tulang ro robot; paraman dari anak laki-laki, termasuk di dalamnya anak
ipar dari hula-hula, cucu pertama, cucu dari tulang, saudara dari menantu
perempuan, paraman dari bao; hula-hula hatopan yaitu semua abang dan adik
dari pihak hula-hula.
15
Parhobas adalah mereka yang turut membantu mempersiapkan segala kebutuhan dalam
melakukan proses acara yang berhubungan dengan adat.
25
Universitas Sumatera Utara
Dalam pepatah Batak Toba juga dapat ditemukan suatu perumpamaan
yang menempatkan hula-hula sebagai bagian yang disanjung yang mengatakan
”somba marhula-hula, manat mardonggan tubu, elek marboru”. Artinya adalah
hormatlah kepada hula-hula dan rukun serta lakukanlah yang baik mardongan
tubu, dan berikanlah kasih sayang terhadap boru. Dalam hal ini juga
masyarakat Batak Toba juga mempercayai kalau hula hula itu adalah „debata
natarida” maksudnya adalah Tuhan yang nampak. Menurut orang Batak, hulahula itu dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga-keluarga dan dapat
membantu kalau ada keluarga yang butuh terhadap hula-hula.
2.4 Sistem Kepercayaan
Definisi agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem
atau prinsip kepercayaan kepada tuhan, atau juga disebut dengan namadewa atau
nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian
dengan kepercayaan tersebut, sedang kata agama berasal dari bahasa Sansekerta
yang berarti tradisi. Menurut kepercayaan masyarakat Batak Toba berdasarkan
mitologinya, di dalam kehidupan selalu ada sangkut pautnya dengan keilahian.
Mereka mempercayai segala sesuatunya berasal dari mula jadi nabolon. Sistem
kepercayaannya yang hampir sama dengan agama Hindu didalam cerita turun
temurun masyarakatnya. Dalam kepercayaan agama Hindu mereka memiliki
dewa. Masyarakat Batak Toba juga memiliki dewa, yaitu tiga dewa yang bernama
: Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan sebagai aspek dari Mulajadi
Nabolon yang memiliki otoritas di bumi untuk mengatur kehidupan manusia
(Situmorang, 2009:21).
26
Universitas Sumatera Utara
Dalam tulisan lain juga Tampubolon menyebut ketiga dewa itu bukanlah
secara implisit jelmaan Mula Jadi Nabolon, melainkan tiga dewa yang lebih
khusus yaitu 1) Mula Jadi Nabolon, 2) Debata Asi-asi dan 3) Batara Guru yang
sesuai dengan pekerjaannya di Bumi. Mula Jadi Nabolon diyakini sebagai
pencipta dari alam semesta untuk alam yang besar (Nabolon), kemudian
menciptakan dewa-dewa selanjutnya. Debata Asiasi sebagai dewa yang
menurunkan berkat dan kasih melalui oknum perantara (roh leluhur, roh penghuni
suatu tempat). Batara Guru berarti maha guru yang memberi ilmu pengetahuan,
ilmu-ilmu gaib, pengobatan dan penangkalan roh-roh jahat. (Tampubolon, 1978:910. Mitologi Batak pada umumnya disampaikan melalui cerita dari mulut ke
mulut (tradisi lisan). Biasanya pemberitaan seperti ini sukar untuk dipercaya. Hal
ini terbukti dari banyaknya beredar cerita-cerita dongeng di kalangan bangsa
Batak. Lebih lanjut Warneck membenarkan bahwa hampir semua suku bangsa
memiliki dongeng, yang tidak memiliki hubungan satu sama lain. Masing-masing
berdiri sendiri (Hutauruk, 2006:8).
Dalam hal ini masyarakat Batak Toba mempercayai bahwa arwah leluhur
yang sudah meninggal, ada yang baik dan buruk. Maksudnya adalah ada yang
menjadi perusak yang dapat menyebabkan penyakit pembawa malapetaka bagi
manusia. Ada juga yang bersifat untuk memperbaiki diri sehingga mereka
mempercayai serta menakutinya. Mereka melakukannya dengan cara memberikan
penghormatan dan penyembahan pada arwah leluhur yang mereka yakini akan
mendatangkan keselamatan, kesejahteraan bagi orang yang meminta dan juga
keturunannya.
27
Universitas Sumatera Utara
Dalam konteks kepercayaan tradisional “agama Batak” itu, terdapat
konsep bahwa adanya kehidupan setelah manusia tersebut meninggal. Kehidupan
itu berada pada dunia maya, kehidupan para roh-roh yang sudah meninggal.
Terdapat anggapan bahwa roh-roh itu memiliki komunitas dan aktivitas sendiri.
Oleh sebab itu hingga kini masih terdapat kepercayaan bagi masyarakat Batak
untuk ikut mengubur berbagai perlengkapan orang yang sudah mati bersama
jasadnya. Misalnya, pahean (pakaian) yang dikenakan dipergunakan nantinya
setelah roh sebagai pakaian yang membungkus dari rasa dingin, dan ringgit sitio
suara (uang) untuk kebutuhan perjalanan menempuh perjalanan „jauh‟ dari dunia
nyata ke dunia maya atau benda-benda lainnya yang dibutuhkan dalam dunia roh.
(ibid. 1978:10).
Masyarakat Batak juga percaya dengan Roh dan jiwa yang memiliki
kekuatan, Roh yang ada pada masyarakat Batak dibagi atas tiga bagian yaitu :
1. Tondi
Tondi adalah roh atau jiwa dari seseorang yang memiliki kekuatan. Hal ini
dimiliki oleh manusia baik yang hidup maupun yang sudah meninggal bahkan
tumbuhan serta hewan. (Vergouven 1986 : 82). Tondi juga sentral dari
hasipelebeguon16. Tondi diperoleh dari Mulajadi Nabolon baik itu yang masih
hidup maupun yang meninggal ( Tobing 1986 : 97-98 ). Tondi juga dimiliki oleh
bayi yang masih dalam kandungan. Bila tondi meninggalkan badan seseorang,
maka orang tersebut akan sakit atau meninggal sehingga perlu diadakan sebuah
upacara mangalap tondi (menjemput roh) dari sombaon yang menawannya.
16
Kepercayaan kepada dewa-dewa yang ada dalam mitologi Batak Toba, seperti : batara
guru, Ompu Tuan Soripada, Ompu Tuan Mangalabulan, roh nenek moyang dan kekuatan
supranatural yang mendiami tempat-tempat sacral (Vergouven 1986 : 79).
28
Universitas Sumatera Utara
2. Sahala
Sahala dalam filsafat Batak sangat besar pengaruhnya dalam segala gerak
hidup orang Batak. Semua orang Batak pada umumnya harus mempunyai sahala.
Penafsiran sahala menurut Warneck adalah kewibawaan hidup, kekayaan akan
harta benda, keturunan, kemuliaan yang mencakup kebijaksanaan, kecerdikan,
kecerdasan, kekuasaan dan keluhuran budi pekerti. Hal ini terus dilakukan oleh
orang Batak secara turun temurun. Implementasinya tampak pada setiap pekerjaan
adat dan hubungan kehidupan antara orang Batak. Sehingga sahala adalah wujud
dari hagabeon, hamoraon dan hasangapon.17
Sahala adalah perwujudan tondi atau roh yang dimiliki seseorang didalam
kehidupan seseorang itu di dunia. Semua orang biasanya memiliki tondi, tetapi
tidak semuanya memiliki sahala. Sahala biasanya dimiliki oleh orang yang
memiliki kesaktian dan orang penting serta yang memiliki kekuatan lebih.
Memiliki sahala dapat diartikan di dalam Batak Toba sudah berhasil di duniawi.
Sahala juga merupakan sebuah kualitan dan dapat hilang, Sahala juga dipercaya
dapat berpindah ke tubuh orang lain (Pederson 1970 :29-30).
3. Begu
Merupakan orang yang sudah meninggal lalu mendiami suatu tempat,
dimana tingkah lakunya sama dengan tingkah laku manusia. Beberapa begu yang
dikenal dan mempunyai nama tersendiri dalam bahasa Batak yaitu :
1. Begu ganjang, begu yang dipelihara oleh manusia dan dapat
membinasakan orang lain sesuai dengan perintah oleh pemeliharanya
17
Lihat, Bonggud 2013 : 27.
29
Universitas Sumatera Utara
2. Silan, begu dari nenek moyang sipukka huta (yang membuka suatu
perkampungan) yang berasal dari suatu kelompok marga.
3. Sombaon, begu yang bertempat tinggal disuatu hutan atau pegunungan
contohnya yang bertempat di sebuah hariara (pohon yang rimbang
yang besar)
4. Solobean, yaitu begu yang dianggap penguasa di tempat tertentu.
Dalam perkembanggannnya tahun 1880-an banyak raja-raja Batak Toba
yang membetuk aliran kepercayaan yang merupakan perwujudan dari aliran
kepercayaan Purba, yaitu : Si Raja Batak
18
Parmalim19 dan parbaringin20. Itulah
beberapa religi dan kepercayaan yang dianut pada zaman dahulu. Meskipun pada
zaman sekarang sudah mengalami perubahan dan masyarakatnya sudah dominan
mengikuti ajaran agama kristen, tetapi sampai saat ini masih ada masyarakat yang
mengikuti ajaran yang dahulu yang di lakukan oleh nenek moyang.
Bagi masyarakat Desa Tomok, kepercayaan yang menyangkut dengan
tondi, sahala dan begu masih tertanam kuat pada mereka. Sebagai bukti adalah
upacara-upacara adat keagamaan yang masih mereka laksanakan, seperti
memberikan sesajen kepada leluhur mereka, manguras tao atau memberikan
sesajen kepada penghuni air danau toba yang mereka percayai memiliki penghuni.
Walaupun mayoritas masyarakat yang tinggal di Desa Tomok telah memeluk
18
Aliran yang meyakini leluhur nenek moyang orang Batak bertempat di daerah samosir.
Aliran yang dikembangkan oleh sisingamangaraja XIIyang tujuannya meneruskan
sikap hamalimon(Kesucian).
20
Organisasi bius (merupakan suatu kesatuan territorial yang memiliki suatu identitas
social tertentu, meliputi suatu marga. Tetapikadang-kadang meliputi beberapa marga yang masih
berada dalam satu ikatan genealogis/asal-usul) yang mengatur tata kehidupan mayarakat Batak
Toba dalam asen taon(acara sacral tahunan yang bertujuan memohon kepada Mulajadi Nabolon
untuk mendatangkan hujan agar segala jenis tanaman subur dan memberikan hasil panen yang
baik).
19
30
Universitas Sumatera Utara
agama, akan tetapi upacara-upacara penghormatan kepada leluhur mereka masih
tetap dilaksanakan.
Berdasarkan pengamatan penulis, ini merupakan kebiasaan yang telah
ditanamkan oleh orangtua-orangtua mereka terdahulu agar tetap meneruskan yang
telah mereka mulai, ada umpasa Batak yang mengatakan “ ompunta sijolo-jolo
tubu martukkothon sialagundi, adat napinungka ni naparjolo siihuthon ni na
parpudi”. Umpasa/ falsafah hidup yang tertulis ini menjadi sebuah acuan bagi
para masyarakat Batak toba untuk tetap meneruskan kebiasaan yang telah dimulai
oleh orangtua-orangtua mereka.
Kecamatan Simanindo termasuk salah satu daerah pariwisata dan
pertumbuhan ekonomi yang cepat berkembang seiring program pemerintah daerah
dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Samosir, sehingga tidak
mengherankan apabila para perantau dari luar Sumatera datang untuk mengadu
nasib dan mendiami daerah ini seperti Minangkabau, Pulau Jawa, Nias dan lainlain untuk mencari taraf hidup yang lebih baik. Dengan demikian sistem
kepercayaan yang dianut masyarakatnya juga berbeda seperti Kristen protestan,
Kristen Khatolik, Islam dan ada sedikitnya 18 KK yang masih menganut aliran
kepercayaan Ugamo Malim yang bertempat tinggal di Desa Lumban Sijabat.
31
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.1 Rumah peribadatan bagi penganut Ugamo Malim di Desa Tomok
Gambar 2.2 Gereja di Tomok
32
Universitas Sumatera Utara
2.5 Sistem Mata Pencaharian
Secara tradisional masyarakat Batak Toba memenuhi keperluan hidup
sehari-hari dengan bercocok tanam. Hal ini tentu saja didukung oleh wilayah
tempat tinggal yang merupakan daerah agraris. Pada masyarakat Desa Tomok
sektor pertanian adalah profesi yang banyak digeluti. Secara statistik dari data
yang dihimpun dari Kantor Kepala Desa, bahwa di Desa Tomok Parsaoran
terdapat 80 persen warga dengan profesi sebagai Petani, 10 persen sebagai
Pegawai Negeri Sipil dan 10 persen lagi berprofesi sebagai Pedagang/Wiraswasta.
Berbeda dengan Desa Tomok Induk, sebagai daerah yang sering
dikunjungi oleh wisatawan, masyarakat Tomok Induk lebih banyak bekerja
sebagai Pedagang/Wiraswasta. Dapat kita lihat ketika kita berkunjung ke Tomok;
banyaknya penjual souvenir khas yang dibuat oleh masyarakat setempat seperti
contoh; alat musik, gelang yang terbuat dari bambu/kayu, kain-kain tradisional
yang dibentuk menjadi sebuah kemeja maupun celana/rok, dan pertunjukanpertunjukan budaya yang sering dilaksanakan disana menjadi salah satu wadah
bagi masyarakat Tomok untuk menambah penghasilan, kita dapat melihatnya
seperti contoh guide pada patung khas Batak Sigale-gale, makam-makam purba
yang usianya telah mencapai ratusan tahun tak luput dari perjalanan wisata ketika
berkunjung ke Tomok.
Selain itu usaha nelayan atau penangkapan ikan dilakukan sebagian
penduduk yang bermukim di daerah Tomok Induk dan Tomok Parsaoran.
Sebagian dari mereka beternak ikan dan umumnya menggunakan jaring terapung
33
Universitas Sumatera Utara
yang dikenal dengan istilah doton21. Jenis ikan yang diternakkan pada umumnya
adalah ikan mas dan ikan mujair. Jika ditelusuri dari berbagai daerah di sepanjang
pinggiran Samosir, misalnya mulai dari Tomok, Desa-Desa kecil sekitar kota
Pangururan, hingga wilayah Palipi, kita akan menemukan peternakan ikan seperti
ini. Hasil dari pertanian dan peternakan tersebut sebagian dijual di pasar dan
sebagian lagi dikonsumsi oleh keluarga. Sedangkan penduduk yang bermukim
jauh dari kawasan pantai biasanya bermatapencaharian sebagai petani, peternak
ataupun wiraswasta. Sektor kerajinan tangan juga berkembang. Misalnya tenun,
anyaman rotan, ukiran kayu, tembikar, yang ada kaitannya dengan pariwisata.
Jika ditinjau secara keseluruhan sebagian besar masyarakat di Samosir saat
ini bermata pencaharian sebagai petani, peladang, nelayan, pegawai, wiraswasta
dan pejabat pemerintahan. Dalam berwiraswasta bidang usaha yang banyak
dikelola oleh masyarakat adalah usaha kerajinan tangan seperti usaha penenunan
ulos, ukiran kayu, dan ukiran logam. Saat ini sudah cukup banyak juga yang
memulai merambah ke bidang usaha jasa.
21
Doton adalah sejenis jaring yang digunakan untuk menangkap ikan yang ada di Danau
Toba
34
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.3 Guide pada atraksi Patung Sigale-gale
Gambar 2.4 Sektor Pertanian merupakan salah satu mata pencaharian di Tomok
35
Universitas Sumatera Utara
2.6 Sistem Kemasyarakatan
Koentjaraningrat (1995:110) mengatakan bahwa stratifikasi sosial orang
Batak dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan menjadi empat (4) prinsip
yaitu:
1. Perbedaan tingkat umur. Yakni, sistem pelapisan sosial masyarakat Batak
Toba berdasarkan perbedaan tingkat umur yang dapat dilihat dalam sistem
adat istiadat. Dalam pesta adat, orang-orang tua yang tingkat umurnya
lebih tinggi, akan lebih banyak berbicara atau disebut raja adat.
2. Perbedaan pangkat dan jabatan. Sistem pelapisan sosial berdasarkan
perbedaan pangkat dan jabatan ini dapat dilihat pada perbedaan harta dan
keahlian yaitu pada keturunan raja-raja, dukun, pemusik (pargonsi) dan
juga pandai-pandai seperti besi, tenun, ukir, dan lain-lain.
3. Perbedaan sifat keaslian. Sistem pelapisan sosial berdasarkan perbedaan
sifat dan keaslian dapat kita lihat dalam jabatan dan kepemimpinan. Dalam
sistem ini berlaku sifat keturunan contohnya, di daerah Tomok adalah asal
muasal dari marga Sidabutar. Maka secara otomatis turunan marga
Sidabutar ini lebih berhak atas jabatan kepemimpinan di daerah tersebut
seperti Kepala Desa atau yang di luar jabatan pemerintahan. Demikian
juga halnya dalam hak ulayat dalam pemilikan tanah.
4. Status kawin adalah sistem pelapisan sosial berdasarkan status kawin dapat
lihat di dalam kehidupan sehari-hari yaitu pada orang Batak yang sudah
berkeluarga. Mereka sudah mempunyai wewenang untuk mengikuti acara
adat atau berbicara dalam lingkungan keluarganya, dan biasanya orang
Batak yang sudah berkeluarga akan menjaga wibawanya dalam adat
36
Universitas Sumatera Utara
ataupun dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu sangat besar arti
perkawinan pada masyarakat Batak Toba.
2.7 Sistem Kesenian
Sistem kesenian pada masyarakat Batak Toba di Desa merupakan aspek
yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat. Sistem kesenian
pada msasyarakat Batak Toba dapat ditemukan dalam berbagai bentuk kesenian
seperti seni rupa, seni tekstil, seni sastra, seni tari, dan seni musik. Seni rupa dapat
dijumpai yaitu berupa patung yang terbuat dari batu dan kayu. Seni tekstil berupa
ulos yaitu jenis kain tenunan yang terbuat dari bahan benang berwarna-warni.
Dasar pembuatan ulos adalah bonang manalu, perobahan pengertian dari bonang
manolu. Bonang manolu bersumber dari pengertian kepercayaan yang
bersimbolkan warna tiga bolit , sedangkan tiga bolit adalah bersumber mula dari
tiga warna hembang sebagai lambang dari pancaran kuasa Mulajadi Na Bolon,
ketiga warna tersebut adalah warna hitam sebagai perlambang Debata
Bataraguru, warna putih sebagai perlambang Debata Sorisohaliapan dan warna
merah sebagai perlambang Debata Balabulan.
Namun dalam perkembangan terakhir penulis melihat bahwa warna yang
terdapat dalam motif ulos sudah beraneka ragam, tentu saja ini merupakan hasil
kreativitas dari penenun ulos .Penggunaan ulos juga tidak hanya terbatas pada
unsur sosial budaya spritual yang mengatakan bahwa ulos merupakan simbol dari
ugamo. Namun berbagai kreativitas lain bermunculan seperti tas dan pakaian yang
terbuat dari bahan dasar ulos. Seni sastra dalam masyarakat Batak Toba dapat kita
lihat dari adanya umpasa, tongo-tongo,turi-turian, dan huling-huling ansa. Seni
37
Universitas Sumatera Utara
sastra yang sering dijumpai adalah umpasa, karena selalu digunakan dalam
pelaksanaan adat istiadat di masyarakat.
Seni tari yaitu tortor,dan tumba, tortor merupakan tarian yang dilakukan
dalam konteks kegiatan adat atau ritual keagamaan tradisional. Sedangkan tumba
merupakan bentuk tarian yang dimainkan dalam bentuk hiburan.
Dalam
perkembangan terakhir tortor dan tumba sudah mengalami perubahan dalam
konteks penggunaan dimana keduanya sudah dijadikan sarana pertunjukan baik
dalam festival maupun sebagai kegiatan untuk mengisi sebuah acara tertentu yang
berhubungan dengan budaya, khususnya budaya Batak Toba. Seni musik sebagai
salah aspek dari sistem kesenian selalu hadir dalam keseharian masyarakat Batak
Toba, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sosial adat istiadat maupun
sebagai sarana hiburan.
2.7.1 Seni musik
Menurut asumsi penulis bahwa seni musik merupakan seni yang paling
menonjol dalam budaya masyarakat Batak Toba. Karena kita bisa menemukan
musik dijadikan sebagai kebutuhan sehari-hari, artinya musik memiliki peranan
penting dalam kegiatan masyarakat, terutama sebagai sarana hiburan dan juga
pelengkap proses adat istiadat yang ada.
Seni musik di Desa Tomok sama berkembangnya dengan daerah lainnya
yang terdapat pada cakupan wilayah Samosir. Samosir sebagai salah satu daerah
yang paling banyak menyimpan sejarah kebudayaan Batak memiliki ciri khas
tersendiri dalam menggunakan musik dalam kehidupan sehari-hari. Di Samosir
kita bisa melihat pertunjukan musik tradisional Batak Toba beserta tarian dalam
38
Universitas Sumatera Utara
lokasi-lokasi wisata yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah
setempat. Musik juga bisa dijumpai di lapo tempat orang-orang berkumpul
khususnya pada malam hari, kita bisa melihat taganing ditempat ini dan
dimainkan bergantian untuk mengisi hiburan dalam kumpulan orang-orang di lapo
tersebut.
Perkembangan musik di Tomok dapat kita lihat pada satu band yang
berasal dari daerah tersebut yang namanya sudah terkenal sampai ke belahan
penjuru dunia. Mereka adalah grup Marsada Band yang dibentuk oleh Amput
Sidabutar yang merupakan warga asli Tomok. Marsada Band memadukan musik
tradisi dan musik modern untuk dapat dinikmati oleh semua kalangan (orangtua,
anakmuda dan anak-anak). Adapun formasi band pada Marsada Band yaitu ; 3
orang pemain gitar sekaligus sebagai vocal pada band ini, satu orang pemain bass,
taganimg, sulim, sambo (samosir bonggo) yang juga alat musik yang dibuat oleh
band ini juga. Ini merupakan sebuah inovasi dari masyarakat yang berasal dari
Tomok untuk mengembangkan musik tradisional Batak Toba dan ingin berkarya
supaya musik tradisional dapat disukai oleh kalangan muda.
2.7.2 Seni ukir
Seni ukir juga merupakan salah satu kesenian yang terdapat pada
masyarakat Desa Tomok. Kebiasaan mengukir masih sangat melekat pada
masyarakat Tomok, berdasarkan pengamatan penulis dilapangan bahwasanya
kebiasaan ukir-mengukir diwarisakan dari orangtua mereka akan tetapi
perkambangan pengukir dari tahun ketahun mengalami penurunan akan tetapi
tidak terlalu drastis karena sektor pertanian menjadi pencaharian yang
39
Universitas Sumatera Utara
menjanjikan di Desa Tomok, selain karena lahannya yang agraris cocok untuk
pertanian masyarakat Tomok yang bekerja sebagai pengukir hanya sebagai
sampingan dari pekerjaan utama mereka sebagai petani, nelayan dan pegawai
pemerintahan. Selain perkembangan, motif ukiran yang diciptakan oleh pengrajin
seni ukir juga bermacam-macam seperti contoh ukiran gorga pada ruma bolon,
ukiran untuk diperjualkan untuk oleh-oleh kepada pengunjung. Kalau dituliskan
secara rinci masyarakat yang bekerja sebagai pengukir 10% dari jumlah penduduk
Desa Tomok, dan masyarakat dengan pekerjaan sebagai pengukir paling banyak
berasal dari Desa Tomok Induk dan Tomok Parsaoran. Hasil ukiran yang akan
dijual akan dikumpulkan kepada para distributor penjual pernak-pernik yang
bertempat di Desa Tomok Parsaoran.
Dalam hal ini seni ukir-mengukir sangat bernilai tinggi pada masyarakat
Desa Tomok, selain menjadi tradisi lisan masyarakat Tomok seni ini juga
dimanfaatkan masyarakat Tomok untuk menambah pencaharian mereka.
Gambar 2.5 Ukiran dengan ornamen cicak.
40
Universitas Sumatera Utara
Download