ABSTRAK. Pada studi ini mencoba untuk menganalisis suatu puisi

advertisement
PUISI ‘KEMUNING’ KARYA SANUSI PANE
ANALISIS SKALA, KATEGORI, LINGUISTIK SISTEMIK FUNGSIONAL
HALLIDAY, DAN SEMIOTIKA PEIRCE
Suddin M. Saleh Djumadil
(Dosen Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate)
E-mail: [email protected]
ABSTRAK. Pada studi ini mencoba untuk menganalisis suatu puisi berjudul
‘Kemuning’. Skala, kategori, linguistik sistemik fungsional yang dikembangkan oleh
Halliday dan semiotik Pierce akan digunakan sebagai alat untuk menganalisisnya. Skala
dan kategori terdiri dari empat kategori dasar yaitu unit, struktur, kelas dan sistem, tetapi
ada hanya dua kategori yaitu unit dan struktur yang diambil untuk didiskusikan dalam
tulisan ini. Analisis puisi dibagi kedalam tiga bagian. Bagian pertama dihubungkan
pada skala dan kategori. Bagian kedua dihubungkan dengan linguistik sistemik
fungsional dan bagian ketiga merujuk ke pendekatan semiotik.
Kata Kunci: Puisi ‘Kemuning’, Skala, Kategori, Linguistik Sistemik Fungsional
ABSTRACT.This study is try to analyse a poem which titled ‘Kemuning.’ The scale, category,
systemic functional linguistics which are developed by Halliday, and Pierce’ semiotics used to
back analyzing up. Scale and category consists of four basic categories namely unit, structure,
classand system, but there are just two categories namely unit and structure taken in order to
discussed here. The analyzing of poem is devided into three parts. Part one is related to scale
and category. Part two deal with systemic functional linguistics and the part three refere to
semiotics.
Keywords: Poem ‘Kemuning’, Scale, Category, Systemic Functional Linguistics
PENDAHULUAN
unsur yang diutamakan. Hubungan dengan
Menurut Dave Smith, puisi adalah
budaya intelek atau dengan suara hati hanya
dialek bahasa memiliki kepadatan metafora,
merupakan hubungan yang serasi. Jika
yang dikodekan dengan makna resonan,
bukan secara kebetulan, ia tidak dapat
Edwin Arlington Robinson berpendapat,
berhubungan langsung dengan kebenaran.
puisi adalah bahasa yang menyampaikan
Puisi merupakan sebuah teks, karena
sesuatu yang sukar hendak dinyatakan.
ia adalah bahasa yang dikomunikasikan.
Edgar Allan Poe mengatakan bahwa puisi
Dan ia juga merupakan salah satu produk
adalah ciptaan tentang sesuatu keindahan
budaya yang penuh dengan tanda-tanda.
dalam bentuk berirama. Citarasa adalah
Pengertian teks secara umum adalah dunia
64
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
semesta ini, bukan hanya teks tertulis atau
gramatika sebagai bagian dari kebudayaan.
teks lisan, akan tetapi adat istiadat,
Halliday mewakili pandangan deskriptif-
kebudayaan, film, drama adalah teks (lihat
etnografis
Sobur, 2004: 54). Menurut Halliday (1975:
pandangan kebahasaan dikenal pendekatan
4-5, 1994: 311; Fairclough (1995b: 4), teks
fungsional yang juga banyak diwarnai oleh
dapat berbentuk lisan atau tulisan. Teks
gagasan-gagasan Bronislow Malinowski
juga dapat berbentuk prosa atau syair,
tentang keterkaitan fungsi sosial dalam
dialog atau monolog (Halliday, 1975: 1).
bahasa.
yang
mengembangkan
Selanjutnya Halliday (1975) menyatakan
Oleh karena pandangan kebahasaan
bahwa teks dapat berupa pribahasa atau
Halliday selalu dikaitkan dengan unsur
pepatah. Pandangan yang dikemukakan
tautan situasi sosial misalnya penutur,
Eggins, 1994:2
tempat, waktu, dan pokok bahasa, maka
bahwa (1) bahasa itu
fungsional, (2) fungsi atau kegunaan
pandangan
menciptakan makna atau fungsi yang
Pandangan Halliday yang banyak mendapat
bermakna,
bahasa
masukan dari Aliran Praha, Glossematik,
dipengaruhi oleh konteks budaya dan
Tagmemik terdiri atas dua tahapan (Gusti,
konteks
1990: 62). Tahap pertama dikenal dengan
(3)
sosial
fungsi-fungsi
tempat
fungsi
itu
itu
and
bersifat
dipertukarkan, dan (4) proses penggunaan
Scale
bahasa adalah proses semiotik, yaitu proses
berlangsung hingga tahun 1960-an. Tahap
membuat makna melalui pemilihan.
kedua
ialah
Category
fungsional.
Theory
pengembangan
yang
aspek
Selanjutnya, perdebatan sengit dari
fungsional bahasa yang memulai tahun
dua pandangan tentang hakekat bahasa
1960 sampai sekarang ini (Morly, 1985: v)
yaitu pandangan kaum naturalis dan kaum
dan Gusti (1990: 62). Teori skala dan
konvensionalis, maka Halliday (1977: 37)
kategori (Scale and Category Theory)
melihat kedua kelompok besar itu, ternyata
memperkenalkan empat kategori dasar,
kelompok naturalis didasari oleh sudut
yaitu unit, struktur, kelas, dan sistem
pandang
lebih
(Halliday, 1961). Namun, artikel ini, hanya
mengaitkan bahasa dengan filsafat, dari
dijelaskan dua kategori dasar saja, yakni
situlah
unit dan struktur.
filosofi-logis
peranan
yang
gramatika
merupakan
bagian dari logika. Sedangkan kelompok
Unit meliputi klausa, kelompok kata,
konvensionalis didasari oleh sudut pandang
kata, dan morfem (Halliday 1961: 58).
deskriptif-etnografis, dari situlah peranan
Menurut linguistik sistemik fungsional, ada
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
65
dua jenis unit, yaitu unit bahasa tulis dan
tertinggi dari tanda baca pada jenjang
unit tata bahasa. Konsep unit dapat
grafologi. Satu kalimat direalisasikan oleh
dipahami dalam kaitannya dengan teks. Jadi
satu klausa saja (Rose, 2001, dan 2006). Hal
unit yang dikaji disini ialah bisa bahasa
yang sama juga dikatakan oleh Halliday dan
tulisan dan lisan, maksudnya bahasa atau
Matthiessen (2004: 371) bahwa kalimat
tuturan di dalam teks, bukan suatu tata
adalah unit tertinggi dari tanda baca pada
bahasa.
sebuah
jenjang grafologi, kedua unit tersebut
kalimat bukan merupakan unit tata bahasa,
selanjutnya diberikan terminologi yang
melainkan unit bahasa tulis yang diawali
berbeda, yaitu unit untuk bahasa tulisan dan
dengan huruf kapital dan diakhiri dengan
jenjang
titik.
Singkatnya, dapat dikatakan bahwa unit
Halliday
memandang
kelompok kata, kata, dan morfem
(Halliday,
1961:
58).
(rank)
untuk
tata
bahasa.
Selanjutnya,
merupakan tata urutan yang dimulai dari
dikatakan bahwa unit, menurut linguistik
morfem, kata, kelompok kata, klausa, dan
sistemik, ada dua jenis, yaitu unit bahasa
kalimat.
tulis dan unit tata bahasa. Konsep unit dapat
Struktur adalah susunan unsur-unsur
dipahami dalam kaitannya dengan teks.
secara horizontal. Setiap struktur disusun
Pada teks tulis, misalnya, setiap paragraf
berupa
terdiri atas beberapa unit mulai dari unit
fungsional
terkecil, yaitu morfem, kata, kelompok
predikat, komplemen dan ajung untuk
kata, klausa, dan kalimat. Sementara itu,
klausa;
kalimat dibedakan dengan klausa karena
sintagmatik (Halliday dan Matthiessen,
satu proses direalisasikan oleh sebuah
2004: 22). Selanjutnya, Halliday (1985,
klausa. Kalimat secara tradisional, menurut
2004)
Rose (2001, 2006), merujuk pada unit
fungsional semantik meliputi pelaku -
dalam bentuk teks tertulis, dan klausa
proses – sirkumstan. Sedangkan fungsi
secara luas dalam linguistik merujuk pada
gramatika meliputi subjek dan predikat.
bahasa lisan. Kalimat bukan merupakan
Dengan kata lain, susunan fungsional
unit tata bahasa, melainkan unit bahasa tulis
semantik meliputi pelaku, proses, dan
yang diawali dengan huruf kapital dan
sirkumstan
diakhiri dengan titik.
direalisasikan
Halliday dan Matthiessen (2004: 371)
menyatakan bahwa kalimat adalah unit
66
susunan
kanonik,
gramatika,
dan
(urutan
oleh
partisipan/peristiwa
kelompok
seperti
modifier,
menyatakan
nomina,
morfologis,
subjek,
head,
bahwa
secara
susunan
informasi).
Proses
kelompok
verba,
direalisasikan
dan
oleh
sirkumstan
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
direalisasikan oleh kelompok keterangan
meliputi
dan frasa preposisional. Sedangkan fungsi
eksperiensial, interpersonal dan tekstual
gramatika
(Halliday, 1985) via I. Gusti (1990: 68).
meliputi
subjek,
predikat,
subfungsi
komplemen, ajung, dan objek.
Pandangan
logical
dan
Linguistik sistemik fungsional
Halliday
adalah teori linguistik yang digunakan
mengenai pengkajian bahasa sebagaimana
untuk menganalisis teks, atau suatu bahasa
dituangkan
di dalam bukunya berjudul
yang berfungsi di dalam konteks. Teori ini
Language as Social Semiotic: The Social
mempertimbangkan fungsi dan makna
Interpretation of Language and Meaning
sebagai dasar bahasa manusia untuk
tahun (1978). Domain-domain pengkajian
melakukan komunikasi. Teori ini pada
bahasa sangat luas. Pengembangan yang
awalnya dikenal dengan nama tata bahasa
berkesinambungan dari teori Skala dan
fungsional sistemik (systemic functional
Kategori yang dilakukan oleh Halliday. Hal
grammar).
itu
lahirnya
berkembang menjadi linguistik fungsional
pandangan fungsional yakni keterkaitan
sistemik (systemic functional linguistics).
bahasa dengan jalinan sosialnya. Dengan
Teori itu merupakan suatu model tata
kata
leksikogramatika
bahasa yang dikembangkan oleh Michael
dengan makna. Kemudian, karangannya
Halliday pada tahun enam puluhan. Teori
yang berjudul Note on Ttransitivity and
tersebut merupakan bagian dari pendekatan
Theme in English yang termuat dalam
semiotika sosial terhadap bahasa yang
Journal
disebut
merintis
lain,
M.A.K.
jalan
orientasi
hubungan
of
Linguistics
tahun (1967),
Kemudian,
istilah
itu
linguistik sistemik (bv). Istilah
penjelasan hubungan paradigmatis dan
sistemik merujuk pada pandangan bahasa
sintagmatiis semakin kokoh, lagi pula
sebagai suatu jaringan. Teori linguistik
hubungan itu dijadikan kunci dasar oleh
sistemik fungsional juga merupakan suatu
Halliday untuk mengembangkan lagi fungsi
teori bahasa yang mengkaji fungsi bahasa
makna dari gramatika.
dalam penggunaannya (konteks). Teori
Halliday
menawarkan
empat
komponen fungsi yakni (1) eksperiensial,
(2)
logical,
wacana,
Setelah mengalami perkembangan,
dalam
Halliday merevisi fungsi-fungsi bahasa itu
perkembangan, keempat fungsi itu direvisi
menjadi fungsi-fungsi ideasional meliputi
lagi menjadi fungsi-fungsi ideasional yang
subfungsi
atau tuturan.
dan
unsur yang utama (Halliday, 1985:17).
(4)
interpersonal
(3)
tersebut menempatkan bahasa sebagai
Di
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
logikal
dan
eksperiensial,
67
interpersonal, dan tekstual (Halliday, 1985)
dewasa
via Gusti (1990: 68). Fungsi ideasional
(Nurgiyantoro, 2002: 41). Proses pewakilan
berperan sebagai pengungkap isi atau
tanda terhadap acuannya terjadi pada saat
makna.
berperan
tanda itu ditafsirkan dalam hubungannya
membentuk dan memelihara hubungan-
dengan yang diwakili disebut interpretant,
hubungan sosial. Fungsi tekstual berperan
yakni pemahaman makna yang timbul
untuk memberikan kemungkinan bagi
dalam kognisi lewat interpretasi. Hoed
penutur/penulis untuk menghasilkan teks
(1992: 3) dalam Nurgiyantoro (2002: 41)
atau wacana yang runtut berdasarkan tautan
mendeskripsikan bahwa semiosis adalah
suatu situasi.
suatu proses dimana suatu tanda berfungsi
Fungsi
Untuk
interpersonal
tautan
biasa
disebut
referen
Halliday
sebagai tanda yaitu mewakili sesuatu yang
menawarkan tiga unsur yakni field yang
ditandai. Proses semiosis yang menuntut
mengacu pada apa yang tengah terjadi dan
kehadiran bersama antara tanda, objek, dan
sifat hubungan sosialnya. Tenor mengacu
interpretant itu oleh Peirce disebut sebagai
pada
Triadik
partisipan
situasi,
ini
yang
terlibat.
Mode
mengacu pada bagian makna dari bahasa
Peirce membedakan hubungan antara
yang digunakan (Gusti, 1990: 68-69).
tanda dengan acuanya ke dalam tiga jenis
Halliday (1985, 2004) menyatakan bahwa
hubungan yaitu (1) ikon, jika ia berupa
susunan fungsional
semantik meliputi
hubungan kemiripan (2) indeks, jika ia
pelaku - proses - sirkumstan ataupun urutan
berupa hubungan kedekatan eksistensi, dan
informasi.
Proses
oleh
(3) simbol, jika ia berupa hubungan yang
kelompok
verba,
partisipan/peristiwa
sudah terbentuk secara konvensi (Abrams,
direalisasikan oleh kelompok nomina, dan
1981: 172; van Zoest, 1992: 8-9) via
sirkumstan direalisasikan oleh kelompok
Nurgiyantoro (2002: 24). Charles Sanders
keterangan dan frasa preposisional.
Peirce melihat tanda sebagai sesuatu yang
Selanjutnya,
direalisasikan
Peirce
mewakili seuatu. Sesuatu itu dapat berupa
mengatakan bahwa sesuatu itu dapat
hal yang konkret, kemudian melalui suatu
disebut sebagai tanda jika ia mewakili
proses mewakili sesuatu yang ada di dalam
sesuatu yang lain. Sebuah tanda yang
kognisi manusia, tanda bukanlah suatu
disebutnya sebagai representamen haruslah
struktur melainkan suatu proses kognitif
mengacu atau mewakili sesuatu yang
yang berasal dari apa yang ditangkap oleh
disebut sebagai objek atau acuan yang
panca indra. Sesuatu perwakilan yang
68
semiotika
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
konkret itu disebut representamen atau
dan aku selalu terdapat 1 frasa koordinatf,
ground, sesuatu yang ada di dalam kognisi
6 kata, 7 morfem. Melihat adinda
disebut objek, dan ada satu proses lagi yang
mendapatkan daku terdapat 1 kalimat, 2
disebut interpretant atau proses penafsiran.
klausa, 2 grup verba, 4 kata, 6 morfem.
Ketiga proses itu dikenal teori semiotika
Kami membisikkan cinta berganti-ganti
trikotomis atau dengan istilah lain triadik
terdapat 1 klausa, 1 grup verba, 4 kata, 7
(lihat Hoed, 2008: 4). Dengan demikian
morfem. Sekarang, ah, ku menanti
teori semiotika dapat diilustrasikan sebagai
sudahlah lama terdiri atas 1 klausa, 1 grup
berikut.
verba, 6 kata, 6 morfem. Setelah bertahun
tiada bersua terdiri atas 2 klausa, 2 grup
Interpretant
verba, 4 kata, 6 morfem. Tidak datang
seorang pun juga terdiri atas 1 klausa, 1
grup verba, 5 kata, 5 morfem. Kemuning,
Ground
objek
di mana gerang, dinda utama? Baris
terakhir puisi terdiri atas
ANALISIS
klausa, 1 grup adjektiva, 6 kata, 6 mofem.
Analisis 1
Kemuning
1 kalimat, 1
Struktur; Kemuning ialah subjek,
waktu dahulu berupa ajung, aku ialah
Kemuning waktu dahulu aku menanti di
subjekdan menanti berupa predikat. Baris
bawah daunmu dan aku selalu melihat
kedua, di bawah daunmu merupakan
adinda mendapatkan daku.
keterangan dan aku selalu subjek. Pada
Kami membisikkan cinta berganti-
baris ketiga, melihat ialah predikat, adinda
gantisekarang, ah, ku menanti sudahlah
ialah objek, mendapatkan berupa predikat,
lama, setelah bertahun tiada bersua, tidak
daku ialah objek. Kami berupa subjek,
datang seorang pun juga, kemuning, di
membisikkan ialah predikat, cinta ialah
mana gerang, dinda utama?
objek
Karya: Sanusi Pane (dikutip dalam
Jakob Sumardjo, 1984: 82)
Unit: pada baris pertama puisi ini,
berganti-ganti
merupakan
keterangan. Sekarang, ah, merupakan
keterangan, ku ialah subjek, menanti
merupakan
predikat,
sudahlah
lama
kemuning waktu dahulu aku menanti
merupakan keterangan. Setelah bertahun
terdiri atas 1 klausa, 1 grup verba, 5 kata,
merupakan ajung, tiada bersua ialah
dan 5 morfem bebas. Di bawah daunmu
predikat ingkar. Tidak datang merupakan
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
69
predikat
ingkar,
seorang
pun
juga
Peranan
fungsi
ideasional
yang
merupakan subjek. Kemuning merupkan
dianggap sebagai bagian dari fungsional
subjek, di mana gerang ialah keterangan,
semantik dapat dianalisiskan lewat puisi
dinda
Sanusi Pane ini.
berupa
subjek,
utama?
ialah
predikat
Analisis 2
Kemuning
waktu dahulu
aku
menanti
actor
keterangan
actor
proses
partisipan
waktu
partisipan
nomina
nomina
di bawah daunmu
dan
aku
selalu
frasa preposisi
conjungtif
actor
ajung
partisipan
aktif
nomina
Melihat
adinda
mendapatkan
daku.
proses
partisipan
proses
partisipan
aktor
actor
nomina
nomina
kami
membisikkan
cinta
berganti-ganti
partisipan
proses goal
keterangan
actor
nomina
sekarang, ah,
ku
menanti
sudahlah lama,
temporal
partisipan
proses
temporal
waktu
actor
waktu
nomina
70
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
setelah
bertahun
tiada bersua,
conjungtif
proses
proses (ingkar)
pasif
pasif
tidak datang
seorang
pun juga,
proses (ingkar)
partisipan
keterangan
actor
nomina
kemuning,
di mana gerang,
dinda
utama?
partisipan
keterangan
partisipan
proses
actor
actor
pasif
nomina
nomina
Tema atau pokok pembicaraan puisi
makna ideasional yaitu elemen pertama
Sanusi Pane terdapat pada baris terakhir
dalam suatu klausa yang menyatakan
kemuning, di mana gerang, dinda utama?
representasi pengalaman. Secara teknis,
Sanusi Pane melukiskan kehilangan orang
tema topikal ini merupakan fungsi dari
yang dicintainya. Oleh karenanya, banyak
struktur transitivitas dari suatu klausa
persoalan yang memperkuat timbulnya rasa
(Martin,1997: 24). Ini berarti tema topikal
kehilangan kekasihnya. Apabila hanya
dapat
pokok pembicaraan saja yang ditulis tanpa
sirkumstan.
disertakan
yang
dengan
puitis,
puisi
gambaran-gambaran
tidak
poses,
partisipan,
dan
Di dalam puisi Sanusi Pane tersebut
akan
di atas, topik dapat ditemukan pada
memberikan persoalan yang berarti dan
konstruksi aktor fokus, yakni kemuning
lengkap.
hanya
karena kemuning yang dijadikan fokus
penggambaran-penggambaran saja yang
pembicaraan oleh pengarang. Kemuning
uraikan oleh Sanusi Pane tanpa disertakan
dimunculkan dua kali pada awal baris
kalimat terakhir itu, maka puisi Sanusi akan
pertama dan baris terakhir.
Namun
itu
berupa
sebaliknya
menjadi kabur. Tema topikal disebut juga
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
71
Analisis 3
sesuatu yang bersifat lokatif, daunmu itu
Kemuning waktu
dahulu aku menanti
sendiri adalah tanda berupa indeksikalitas
yang mengacu kepada diri kekasihnya.
di bawah daunmu
dan aku selalu
Kemudian aku sebagai actor, partisipan,
nomina adalah tanda yang dapat mewakili
Melihat adinda
seorang perjaka, atau manusia selalu ialah
mendapatkan daku.
keterangan yang menandakan bahwa actor
kami membisikkan
cinta berganti-ganti
atau partisipan berulang-ulang melakukan
sesuatu.
sekarang, ah, ku
Baris ketiga, melihat sebagai proses
menanti sudahlah lama,
verba adalah tanda yang dapat mengacu
setelah bertahun
tiada bersua,
kepada
aktivitas
pengindraan,
adinda
sebagai aktor, partisipan, dan nomina ialah
tidak datang seorang
pun juga,
tanda yang mengacu kepada seorang gadis,
mendapatkan sebagai proses verba yang
kemuning, di mana
gerang, dinda utama?
dapat mengacu kepada
aktivitas
yang
suatu tindakan
dilakukan
oleh
aktor
Pada baris pertama puisi tersebut di
(subjek), daku sebagai aktor, partisipan,
atas terdiri atas satu klausa, kemuning dan
nomina ialah tanda yang dapat mengacu
aku sebagai aktor, partisipan, dan nomina
kepada aktor (obejek) atau insan yang
adalah tanda yang berupa simbol, yang
bernyawa.
yang
Pada baris keempat, kami sebagai
bernyawa gadis, manusia atau orang,
aktor, partisipan, nomina yang dapat
kemudian
mewakili
dapat
mengacu
kepada
waktu
insan
dahulu
sebagai
aktor
(subjek)
atau
insan
keterangan waktu adalah tanda berupa
bernyawa, membisikkan berfungsi sebagai
indeks yang mengacu kepada keberadaan
proses yang merupakan tanda mengacu
subjek pada saat itu, menantisebagai proses
kepada
adalah tanda berupa indeks yang mengacu
berfungsi sebagai objek, ia merupakan
kepada suatu aktivitas yang dilakukan. Pada
tanda indeksikalitas yang mengacu kepada
baris kedua terdapat satu klausa , di bawah
hubungan kasih sayang, berganti-ganti
daunmu sebagai frasa preposisi ialah suatu
sebagai proses yang dapat mengacu kepada
tanda berupa indeks yang mengacu kepada
suatu tindakan yang sering terjadi. Baris
72
penyampaian
hasrat,
cinta
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
kelima, sekarang, sebagai keterangan
mengacu kepada seorang gadis. Kemudian,
waktu merupakan suatu tanda yang dapat
di mana gerang, sebagai frasa preposisi, ia
mengacu kepada kondisi yang temporal, ah,
merupakan tanda yang dapat mengacu
merupakan sebuah kalimat minor yang
kepada rasa bimbang, dinda utama?
biasanya digunakan untuk mengungkapkan
sebagai frasa nomina, actor, dan partisipan.
perasaan. Ia juga berupa sebuah tanda yang
Ia merupakan tanda yang dapat mengacu
dapat mewakili suatu kekokohan mental
kepada gadis yang hanya satu-satu yang
untuk bertindak. Kemudian, ku ialah aktor
dapat diberi harapan.
dan partisipan, yang merupakan tanda, yang
mengacu kepada insan atau manusia,
KESIMPULAN
sudahlah lama ialah keterangan waktu. Ia
Berdasarkan analisis puisi tersebut di
merupakan tanda yang dapat merujuk
atas, hasilnya dapat disimpulkan berikut
kepada masa yang telah silam.
ini. Penganalisisan unit ditemukan rank
Pada baris keenam, setelah bertahun
klausa, grup, kata, dan morfem. Analisis
sebagai sebuah frasa verba dan sebagai
struktur ditemukan fungsi gramatika antara
fungsi proses, yang juga merupakan sebuah
lain
tanda yang dapat mengacu kepada suatu
keterangan atau ajung. Analisis ideasional
aktivitas yang kian berlangsung. Kemudian,
atau
tiada bersua sebagai frasa verba dan fungsi
sintagmatik ditemukan actor, partisipan,
proses. Ia juga merupakan suatu tanda yang
proses aktif, proses pasif, temporal waktu,
dapat merujuk kepada rasa rindu yang
conjungtif, frasa preposisi, ajung atau
mendalam. Pada baris ketujuh, tidak
keterangan.
datang sebagai frasa verba atau fungsi
ialah
subjek,
fungsional
objek,
semantik
predikat,
secara
Kemudian analisis puisi Sanusi Pane
proses yang merupakan tanda yang dapat
dengan
mengacu
tak
ditemukan tanda yang berupa simbol dan
terpenuhi. Kemudian, seorang pun juga
sebagian besar ditemukan tanda berupa
sebagai keterangan, aktor, dan partisipan ia
indeks. Topik puisi dapat ditemukan pada
merupakan tanda yang dapat merujuk
awal baris puisi yakni Kemuning. Tema
kepada kekasih yang dicintai.
puisi terdapat pada baris terakhir yakni
kepada
harapan
yang
Pada baris kedelapan, kemuning,
sebagai actor, partisipan, dan nomina, ia
pendekatan
semiotika
Peirce
Kemuning, di mana gerang, dinda
utama?
berupa tanda yang menyimbolkan atau
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
73
DAFTAR PUSTAKA
Gusti, I. 1990. Perkembangan Teori M.A.K.
Halliday. PELLBA 3. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Halliday, M.A.K. 1978. Language as Social
Semiotics;
The
Social
Interpretationof Language and
Meaning. London: Edward Arnold
Ltd.
Halliday, M.A.K. 1994. An Introduction to
Functional Grammar 2nd Edition,
London: Edward Arnold.
Hoed, H. Benny. 2008. Semiotika dan
Dinamika Sosial Budaya. Depok:
FIB UI
Kaelan. 2009. Filsafat Bahasa Semiotika
dan Hermeneutika. Yogyakarta:
Penerbit Paradigma
Noth, Winfried. 1990. Handbook Of
Semiotics. Indiana University Press.
74
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori
Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Rose, David. 2002. “Some Variation In
Theme
Across
Language”.
Discourse
Studies Volume 4. London: Thousand Oaks,
CA and New Delhi.: SAGE
Publications.
Saragih, Amrin. 2003. Bahasa dalam
Konteks Sosial. Medan: PPs.
Sinar, T. Luckman. 2001. Pantun dan
Pepatah Melayu. Medan: LPPSBM
MABMI.
Sinar, T. Silvana. 2002. An Introduction to
A Systemic-Functional LinguistikOriented
Discourse
Analysis,
Singapore: DeeZed Consult.
Sumardjo, Jakob. 1984. Memahami
Kesusastraan. Bandung: Penerbit
Alumni.
Jurnal Penelitian Humano Vol. 7 No. 1 Edisi Juni 2016
Download