J{afaman : iJ - arsip.galeri

advertisement
•
•
[
•
•
l{vIrj 2010
J{afaman : iJ-
OLEH ILHAM KHOIRI
•
•
•
ennspIraSl
perseteruan
Komisi
Pemberantasan
Korupsi dan kepolisian beberapa waktu lalu, Radhar Panca
Dahana menulis sekaligus menyutradarai lakon RepubZik ReptiZ. Apakah pertlmjukan teater di
atas
itu tampil sedramatis kasus "cicak versus buaya"
di dunia nyata?
Lakon itu dipentaskan Teater
Kosong di Graha Bhakti Budaya,
Taman Ismail Marzuki (TIM),
Jakarta, 19-20 Januari. Ini adalah
karya terbaru Radhar setelah
pentas terakhirnya, 1 Hari 11 Mata di KepaZa, di TIM tahun 2007.
Lakon kali .ini didukung 23 pemain yang berperan sebagai bermacam reptil.
Pentas dimulai dengan tayangan gambar berbagai reptil
dan konflik manusia Lalu, penonton disuguhi panggung yang
mirip wajah purba Ada bukit
berdinding batu coklat-kehitaman, juga lubang mirip goa.
-
..
Di satu sudut dinding batu,
terpasang bui berterali besi. Di
dalamnya, Cicak A (diperankan
Harry "Bejo" Krama Yadi) mendekam. Sesaat, dia sempat bermesraan dengan Iguana cantik
(Olivia Zaliyanti). Namun, tiba-tiba, muncul Buaya (Denny
Sanggul), penjaga penjara yang
ganaS.
Di luar, rakyat gelisah dan
mempertanyakan, apa sebab Cicak dipenjara? Saat bersamaan,
Komodo (Toto Prawoto), reptil
besar yang jadi pemimpin di negeri itu, tengah berunding dengan dua pejabatnya, Biawak L
(Meritz Hindra) dan Biawak S
(Ireng Sutarno). Di temp at' berbeda, seekor kura-kura (Siswandhi)-yang digambarkan sebagai
pengusaha licin-sibuk merancang konspirasi.
Kekisruhan membuat para
ular menggelar sidang DPR alias
Dewan Perularan Rakyat. Semua
pihak yang terlibat diundang. Sayang, bukannya memperoleh penyelesaian, sidang yang dipimpin
Ular Cobra (Eko D Zenah) itu
berakhir rusuh.
Komodo tUI1.l1l tangan, tetapi
masalah belum reda. Malah
muncul banyak kejutan. Belut
mengaku menyamar sebagai reptil selundupan. Iguana mem-
bongkar kedok baiknya Akbirn~a, seiring raungan T-Rex, din~g ~atu-batu besar di negeri itu
tiba-tiba runtuh berantakan.
Ruang refleksi
L~on
Republik ReptiZ segera
mengmgatkan kita pada kasus
kontlik kepolisian dan KPK beberapa waktu lalu. Tak meleset.
Radhar mengaku, gagasan naskah memang terinspirasi konflik
polit~ yang menyita perhatian
publik Indonesia itu.
Sambil mengingat drama nyata (dengan tokoh dua pimpinan
KPK Chandra M Harnzah dan
Bibit Samad Rianto serta Susno
Duadji juga Anggodo Widjojo) ,
penonton pun dirangsang untuk
menebak reptil-reptil itu mewakill siapa? Soal cicak dan buaya,
diterka
Lalu
batentu
mudah
•
•
g~ana dengan komodo, iguana,
blawak, kura-kura, ular, dan belasan tokoh reptil lain? Setiap
orang boleh bermain dengan tafsir sendiri.
Karakter 20-an reptil
kurang tergarap serius
dengan memainkan naluri
kebinatangan,
baik dalam kostum,
gestur, maupun gaya
bicara .
:Media
Tan a{
J{afaman
Radhar, yang Ketua Federasi
Teater Indonesia (FTD, mengaku
memilih tema aktual ini untuk
mendekatkan teater pada masyarakat. Selama ini teater seperti sibuk dengan diri sendiri
sehingga asing dari masyarakat.
Dia ingin mengembalikan teater
pada masyarakat.
Teater di panggung memang
dapat menjadi ruang refleksi atas
kehidupan sehari-hari. Dari pentas ini, kita bisa lebih jauh merenung: jangan-jangan naluri
reptil yang jahat itu juga telah
tumbuh, bahkan menguasai diri
kemanusiaan kita?
Pemanggungan
Republik Reptil adalah drama
satir. Sebagai drama, pentas
mengolah unsur cerita, alur, kon-
flik, tokoh, dan latar. Satir
muncul lewat pengadeganan
dan dialog para reptil yang mencoba
menyindir,
mengejek,
mengkritik, atau meledek kenyataan.
Pendekatannya realis-simbolik. Art inya, bentuk dasar lakon
berangkat dari realitas sehari-hari. Namun, pemanggungan memanfaatkan bahasa perlambangan demi menggali makna-makna
lebih jauh di baliknya.
Apakah kons~p itu berhasil diwujudkan secara maksimal di atas
panggung? Seperti komentar beberapa penonton, semangat satir
dalam pentas itu terlalu mengandalkan permainan dialog- dengan memelesetkan pernyataan
tokoh-tokoh politik sehari-hari.
Jadinya. pentas terasa verbal.
Karakter 20-an reptil kurang
tergarap serius dengan memainkan
naluri. kebinatangan, baik dalam
kostum, gestur, maupun gaya bicara. Semangat meledek tak muncul dalam alur yang mengalir. Entah kenapa. para pemain teater
senior, sebut saja Toto, Meritz, Andi, Ginting, dan Ireng, juga tak
muncul menjadi tokoh kuat dalam
lakon ini.
Penyair Leon Agusta, yang
menonton pada hari pertama,
menangkap kesan pentas itu belum menunjukkan kematangan
berekspresi seni. "Seni itu sublimasi dari realitas. Saat hadir
sebagai pentas, semestinya karya
seni itu bicara dengan bahasanya
•
•
•
•
•
•
:M.edLa
Tangga[
J{a[arnan
•
•
•
•
•
•
Republik
Reptil,
sutradara
Radhar Panca
Dahana
KOMPAS ,ARBAI • RAMBEY
•
sendiri," katanya
Setelah menonton Republil,
Reptil, akhirnya kita memang sulit menolak godaan untuk membandingkan drama di panggung
itu dengan drama di dunia nyata.
Pada titik ini, terns terang, kasus
cicak versus buaya asli di koran
dan televi i masih lebih teatrikal.
Sebagaimana dibilang sutradara
Teater Tanah Air, Jo e Rizal Manua, tema emacam itu ejatinya
poten ial untuk digarap menjadi
pertunjukan yang asyik.
Download