BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada tahun 2013 di jejaring sosial Twitter, muncul sebuah akun dengan nama @Generasi90an. Kecenderungan akun ini untuk membahas hal-hal yang terkait tahun 90an menjadi daya tarik bagi banyak pengikutnya. Setelah setahun aktif, pemilik akun @Generasi90an mengungkap maksud dari penciptaan akun itu: ia adalah mahasiswi tingkat akhir, dan bahasan dari @Generasi90an akan digunakan sebagai basis dari buku yang merupakan tugas akhir mahasiswi tersebut. Karena besarnya permintaan dari pengikut @Generasi90an, sang mahasiswi memutuskan untuk menerbitkan 100 eksemplar, yang kemudian habis terjual. Kini, mahasiswi tersebut telah menjadikan Generasi 90an sebagai sebuah usaha yang terdiri dari puluhan karyawan dan meraup keuntungan Rp 6070 juta rupiah per bulannya. Di jejaring sosial, Generasi 90an kini memiliki lebih dari 600.000 pengikut (Adyani, n.d.). Kesuksesan Generasi 90an, yang tidak hanya menjadi suatu hiburan melainkan penghasilan, dapat diatribusikan pada nostalgia. Nostalgia didefinisikan sebagai “kerinduan (kadang-kadang berlebihan) pada sesuatu yang sangat jauh letaknya atau yang sudah tidak ada sekarang” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Konsep nostalgia dapat ditemukan di literatur klasik, seperti dalam The Odyssey oleh Homer dan Alkitab, jauh sebelum ditemukan istilah untuk konsep tersebut. Pada abad ke-16, nostalgia mulai mendapatkan perhatian dan pengakuan ilmiah ketika Johannes Hofer (1934, dalam De Diego & Ots, 2014), seorang psikiatris militer Swiss, menemukan beberapa tentara yang mengungkapkan keinginan untuk pulang yang sangat kuat. Ia kemudian menyimpulkan bahwa nostalgia adalah suatu penyakit neurologis, 1 2 dengan faktor pemicu berupa adanya perubahan fisiologis diakibatkan pemisahan geografis antara seseorang dengan kampung halamannya dalam jangka waktu tertentu. Dengan pemicu yang spesifik ini, nostalgia juga disebut sebagai “psikosis imigran” oleh pakar pada saat itu, dan diasosiasikan dengan dampak-dampak negatif seperti menghambat kreativitas, proses pembelajaran dari pengalaman, mencegah kebahagiaan, dan halusinasi (Rosen, 1975 dalam De Diego & Ots, 2014). Selanjutnya berbagai macam teori mengenai faktor pemicu nostalgia mulai bermunculan, seperti perbedaan tekanan pada atmosfer yang akhirnya merusak gendang telinga dan otak dan rusaknya identitas akibat ditempatkan di lingkungan sosial dengan nilai, norma, mitologi, dan budaya yang berbeda. Pada awal abad ke-19, nostalgia masih dipandang sebagai suatu penyakit, kali ini digolongkan sebagai suatu tipe spesifik dari depresi (Zinchenko, 2011). Pandangan nostalgia sebagai patologi mulai berubah di abad ke-20, dimana peneliti menemukan bahwa nostalgia bukanlah suatu penyakit atau semacam depresi, tetapi suatu konsep yang identik dengan homesickness atau rindu kampung halaman. Kemudian, suatu studi yang dijalankan terhadap sejumlah mahasiswa yang merantau menemukan bahwa terdapat perbedaan yang jelas antara homesickness dan nostalgia (Davis, 1979 dalam Baldwin & Landau, 2013). Tidak seperti perasaan homesick yang didominasi oleh afek negatif, para responden menggunakan kata-kata seperti “kehangatan”, “masa kanak-kanak”, “masa lalu”, dan “rindu” untuk mendeskripsikan nostalgia. Meskipun begitu, nostalgia tidak hanya menyebabkan afek positif, melainkan juga afek negatif. Pakar melihat afek negatif dalam nostalgia sebagai perasaan sedih dikarenakan oleh adanya kesadaran bahwa ada bagian dari masa lalu yang tidak bisa didapatkan kembali. Oleh karena itu, nostalgia dikatakan sebagai emosi yang kompleks, yaitu “kebahagiaan dengan sedikit rasa sedih” (Holak & Havlena, 1998). 3 Kini nostalgia ditemukan sebagai proses yang wajar dan dapat dijumpai di berbagai belahan dunia dan budaya (Davis, 1979 dalam Baldwin & Landau, 2013; Hepper et al., 2014). Bahkan, munculnya perasaan nostalgia cenderung diikuti oleh proses psikologis lainnya, yang disebut fungsi nostalgia (Wildschut et al., 2006). Wildschut et al. (2006) membagi fungsi nostalgia menjadi tiga, yaitu afek, keterhubungan sosial, dan self-esteem. Nostalgia dapat memunculkan baik afek positif maupun negatif karena individu mengingat masa lalu yang menyenangkan, namun pada saat yang sama juga menyadari bahwa masa kini sudah tidak sama dengan masa lalu tersebut. Nostalgia meningkatkan keterhubungan sosial karena memori nostalgis cenderung berisi tentang hal-hal yang dilakukan bersama orang lain. Self-esteem meningkat ketika individu melakukan perbandingan diri dan melihat perubahan positif yang terjadi antara masa lalu dengan masa kini. Beberapa penelitian lanjutan masih mengacu pada fungsi nostalgia yang dirumuskan oleh Wildschut et al. (2006). Misalnya, Zhou, Sedikides, Wildschut, & Gao (2008) mengacu pada keterhubungan sosial untuk melihat pengaruh nostalgia terhadap rasa kesepian, dan Cheung, Sedikides, & Wildschut (2016) mengacu pada ketiga fungsi nostalgia untuk melihat pengaruh nostalgia terhadap optimisme. Nostalgia dilihat sebagai hal yang wajar dikarenakan banyak faktor yang dapat memicunya. Pemicu nostalgia dapat bersifat internal seperti afek negatif, kesepian, dan usia, dan dapat pula bersifat eksternal seperti pengalaman sensoris (Wildschut, Sedikides, Arndt, & Routledge, 2006). Dari semua pemicu ini, penelitian-penelitian terbaru tentang nostalgia cenderung memanfaatkan input sensoris dan menggunakan stimulus untuk memicu kondisi nostalgia dan melakukan perbandingan dengan kondisi non-nostalgia (contoh: Barrett et al., 2010; Reid, Green, Wildschut, & Sedikides, 2015). Para pakar telah menemukan bahwa nostalgia dapat dimunculkan dengan stimulus yang berkaitan dengan masa lalu. Stimulus dapat berupa tulisan gambar, suara, bahkan 4 bebauan. Cox, Kersten, Routledge, Brown, & Van Enkevort (2015) memberi perlakuan berupa gambar, yang dibedakan oleh deskripsi gambar. Satu kelompok mendapatkan gambar dengan deskripsi teknis, sementara kelompok lain mendapatkan deskripsi personal. Janata, Tomic, & Rakowski (2007) menggunakan musik yang pernah populer di masa lalu untuk memicu nostalgia pada subjek. Reid et al. (2015) menginstruksikan subjek untuk melaporkan tingkat nostalgia dari mengendus berbagai minyak yang memiliki bau nostalgis, seperti bau makanan, parfum, dan bedak. Stimulus berupa input sensori adalah faktor pemicu nostalgia yang bersifat eksternal yang paling efektif (Wildschut et al., 2006). Suara dapat digunakan sebagai stimulus nostalgia karena suara memiliki efek terhadap kognisi dan emosi. Manusia menerima input suara menggunakan telinga. Adanya perbedaan tekanan udara dan frekuensi suara terdeteksi oleh membran basilar yang berada di dalam kedua telinga (Toates, 2011). Membran basilar terdiri dari sekumpulan neuron yang akan teraktivasi oleh gelombang suara tertentu. Sinyal yang dikirim oleh neuronneuron tersebut akan melewati thalamus untuk kemudian diterima oleh korteks dan amigdala. Proses ini mengilustrasikan bagaimana input sensori suara mampu memengaruhi kondisi kognisi dan juga emosi manusia; Korteks adalah bagian dari otak yang memproses kognisi, sementara amigdala meregulasi emosi manusia. Fifer dan Moon (1988, dalam Toates, 2011) menemukan bahwa suara sudah mampu memengaruhi perilaku manusia sejak masih dalam kandungan, dimana suara detak jantung dapat menjadi efek penenang bagi janin. Musik memiliki banyak pengaruh psikologis. Musik digunakan dapat berfungsi untuk memfasilitasi proses problem-focused coping (Van Den Tol & Edwards, 2013; Van Den Tol, Edwards, & Heflick, 2016) dan meregulasi emosi (Saarikallo & Erkillä, 2007; Van Goethem & Sloboda, 2011). Musik tidak hanya mudah diingat (Peynircioglu, Tekcan, Wagner, & Baxter, 1998), namun juga memudahkan proses mengingat kembali hal-hal 5 yang diasosiasikan dengan musik tersebut seperti adegan film (Boltz, Schulkind, & Kantra, 1991). Seorang individu dapat tetap merasakan respon emosional dari musik, bahkan ketika ia tidak bisa mengingat kembali memori yang menimbulkan perasaan tersebut (Schulkind, Hennis, & Rubin, 1999). Implikasi bahwa musik dapat memicu nostalgia pertama kali ditemukan oleh Janata et al. (2007) dalam studi mereka tentang musik dan memori otobiografis. Respon tertulis para subjek menunjukkan bahwa musik yang memicu memori otobiografis cenderung menimbulkan perasaan positif, dan bahwa musik yang diperdengarkan kepada mereka diasosiasikan dengan ingatan-ingatan terhadap situasi dan konteks yang sangat spesifik. Studi selanjutnya oleh Barrett et al. (2010) secara spesifik memiliki tujuan untuk memicu nostalgia melalui musik. Mendengarkan musik yang nostalgis diasosiasikan dengan adanya emosi yang merupakan kombinasi antara rasa bahagia dan sedih, sementara musik nonnostalgis memunculkan rasa kesal. Industri pemasaran menyadari kekuatan nostalgia dalam menarik konsumen, dan telah menggunakan musik nostalgis dalam iklan. Satu studi membandingkan efektivitas iklan yang diputar dengan musik nostalgis dengan yang tidak dan menemukan bahwa iklan dengan musik nostalgis memicu pemikiran yang terkait dengan nostalgia, yang secara tidak langsung mengakibatkan adanya sikap positif terhadap iklan, produk yang diiklankan, dan perilaku konsumen (Chou & Lien, 2010). Studi mengenai nostalgia secara keseluruhan masih terbilang baru. Meski telah mengalami perkembangan yang stabil beberapa tahun terakhir, topik ini tetap belum begitu tergali dalam dunia psikologi internasional, apalagi di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menambah khazanah literatur psikologi di Indonesia tentang nostalgia, sekaligus mendokumentasikan efektivitas musik dalam memicu nostalgia dan mengaktifkan fungsifungsinya. Penelitian ini menyajikan musik untuk menimbulkan nostalgia dan melihat perbedaan fungsi nostalgia antara kelompok yang diberikan perlakuan yang berbeda. 6 Keputusan ini dilatarbelakangi oleh belum banyaknya studi yang menggunakan stimulus berupa musik, meskipun musik ditemukan dapat memicu nostalgia (Barrett et al., 2010; Cheung, Wildschut, Sedikides, & Hepper, 2013; Cheung et al., 2016). B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengaruh penyajian musik terhadap fungsi nostalgia. Selanjutnya, penelitian bertujuan untuk melihat apakah perbedaan kondisi nostalgis, non-nostalgis, dan kontrol dapat menimbulkan perbedaan pada fungsi nostalgia. Penelitian juga ingin menguji efektivitas musik sebagai stimulus dalam eksperimen. C. Manfaat Penelitian Studi ini memiliki beberapa manfaat, antara lain: 1. Manfaat Teoretis Hasil dari studi ini diharapkan mampu berkontribusi terhadap bidang studi psikologi secara keseluruhan dan studi-studi bertema nostalgia secara spesifik, dan juga aplikasi musik sebagai metode penelitian. 2. Manfaat Praktis Studi ini diharapkan mampu mengubah pola pandang pembaca terhadap nostalgia yang mungkin negatif, serta menyadarkan mereka akan efek positif dari nostalgia terhadap kesehatan mental. Selanjutnya, pembaca mungkin akan mampu lebih memahami efek mendengarkan musik nostalgis terhadap keadaan mood mereka.