NIM. F0108027

advertisement
PERBANDINGAN FAKTOR EKONOMI MAKRO DAN
KARAKTERISTIK NEGARA SEBAGAI DETERMINAN FDI
DI ASEAN 5 DAN CHINA PERIODE 1988-2009
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat untuk
Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh:
ADHIB EKA PAMBUDI
NIM. F0108027
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012
i
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ii
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
iii
commit to user
MOTTO
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ”
(QS 13:11)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
" Karena Sesungguhnya Sesudah KESULITAN itu ada KEMUDAHAN.
Sesungguhnya Sesudah KESULITAN itu ada KEMUDAHAN "
(QS. 94:5-6)
" Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ? "
(QS. 55:13)
" Bercita-cita kaya berarti percaya pada kekayaan Allah, Bermimpi besar berarti
percaya pada kebesaran Allah, Hanya menginginkan hal yang remeh temeh
berarti meremehkan kemampuan Allah "
(Ippho Santosa)
" Letak kesulitan tidak pada bagaimana menyambut ide-ide baru, tetapi
bagaimana kita keluar dari ide-ide lama, yang bercabang-cabang dan kian
membesar menyergap ke dalam sudut-sudut kesadaran kita "
(John Maynard Keynes)
iv
commit to user
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan Penuh Perjuangan, Doa, dan Penuh Rasa
Syukur Kehadirat Allah SWT Akhirnya Karya Kecil
Ini Berhasil Penulis Selesaikan digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Teruntuk Kedua orangtuaku dan adik yang sangat
saya cintai, selalu mendoakanku dan merindukanku
untuk segera sukses
Kepada dosen pembimbing dan bapak ibu dosen FE
UNS yang tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan,
tetapi juga menjadi motivator bagi saya
Sahabat, Senior, dan Adik angkatan yang sudah
menjadi bagian tak terlupakan dalam perjalanan studi
saya. Terima kasih atas sebuah kenangan yang sangat
berharga ini.
v
commit to user
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan
kemudahan-Nya sehingga penulis telah berhasil menyelesaikan sebuah karya skripsi
yang berjudul “PERBANDINGAN FAKTOR EKONOMI MAKRO DAN
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
KARAKTERISTIK NEGARA SEBAGAI DETERMINAN FDI DI ASEAN 5
DAN CHINA PERIODE 1988-2009”. Shalawat beserta salam tak lupa tercurah
kepada suri tauladan kita, Muhammad SAW.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan penyusunan karya ini tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak, baik berupa moral maupun material. Oleh karena itu, dengan
segala kerendahan hati penulis menyampaikan ungkapan terima kasih yang tulus
kepada :
1. Bapak Lukman Hakim, SE., M.Si., Ph.D, selaku pembimbing skripsi dan
motivator yang telah meluangkan waktu, di sela-sela kesibukan beliau masih
bersedia memberikan bimbingan, meminjamkan jurnal, buku, dan senantiasa
memberikan arahan sejak awal hingga akhir penulisan karya ini.
2. Dr. Wisnu Untoro, MS, selaku Dekan Fakultas Ekonomi UNS.
3. Drs. Supriyono, M.Si, selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan.
4. Dwi Prasetyani, SE., M.Si, selaku pembimbing akademik.
5. Ibu Izza Mafruhah, SE, M.Si, selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan
yang telah banyak membantu penulis selama masa studi.
6. Bapak Riwi Sumantyo, SE., M.M dan Drs. Daerobi, MS selaku tim penguji
skripsi penulis. Banyak memberikan saran dan kritik yang sangat bermanfaat bagi
penulisan karya ini.
vi
commit to user
7. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi UNS (pak. BRM. Bambang Irawan, pak.
Suryanto, pak Malik, pak. Sutomo, pak. Guntur, pak. Hery, bu. Evi, bu. Aisyah,
dls). Terima kasih atas semua ilmu, bimbingan, motivasi yang telah diberikan,
serta buku-buku yang dipinjamkan kepada saya.
8. Bapak Djoko Raharto selaku Kepala Bidang Moneter Bank Indonesia Yogyakarta.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Terima kasih atas informasi akses jurnal internasional gratis dan kumpulan data
dari IMF yang telah diberikan kepada saya.
9. Bapak, Ibu, dan Adik atas kasih sayang, doa, kepercayaan, serta motivasi yang
selalu diberikan kepada penulis.
10. Teman-teman seperjuangan Ekonomi Pembangunan 2008, pengurus HMJ EP
2009 s/d 2011, Kost ASSOY, Beswan Djarum DSO Solo, KEI, BEM, dan BPPI
FE UNS.
11. Sahabat dan Senior penulis yang telah memberikan bantuan dan semangat
selama melakukan studi di UNS.
12. Seluruh karyawan dan staf Fakultas Ekonomi UNS.
13. Almamater kebanggaan penulis, Universitas Sebelas Maret.
Penulis menyadari bahwa penulisan karya skripsi ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan di
masa yang akan datang. Akhirnya, semoga karya skripsi ini dapat memberikan
manfaat, baik bagi penulis maupun pihak lainnya.
Magetan , 1 Juli 2012
Penulis,
Adhib Eka Pambudi
vii
commit to user
DAFTAR ISI
Halaman Judul ............................................................................................. i
Halaman Persetujuan Pembimbing ............................................................. ii
Halaman Pengesahan .................................................................................. iii
Motto ........................................................................................................... iv
Halaman Persembahan ................................................................................ v
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Kata Pengantar ............................................................................................ vi
Daftar Isi ..................................................................................................... viii
Daftar Tabel ................................................................................................ xi
Daftar Gambar ............................................................................................. xiii
Daftar Lampiran .......................................................................................... xiv
Abstrak (Indonesia) ..................................................................................... xv
Abstract (English) ....................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah…………………………………………...
1
1.2. Rumusan Masalah………………………………………….............. 10
1.3. Tujuan Penelitian…………………………………………………… 11
1.4. Manfaat Penelitian………………………………………………..... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Foreign Direct Investment (FDI)…………………………………... 13
2.1.1. Konsep dan Pengertian……………………………………....... 13
2.1.2. Jenis dan Bentuk FDI…………………………………………. 15
2.1.3. Dampak Positif dan Negatif FDI……………………………... 17
2.1.4. Perkembangan Teori FDI……………………………………... 19
2.2 Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Dengan FDI…………. 27
2.3. Hubungan Antara Nilai Tukar Dengan FDI……………………... 30
2.4. Hubungan Antara Tenaga Kerja Dengan FDI…………………… 32
2.5. Hubungan Antara Infrastruktur Dengan FDI……………………. 36
2.6. Penelitian Sebelumnya……………………………………………. 38
2.7. Kerangka Pemikiran………………………………………………. 48
2.8. Hipotesis…………………………………………………………… 51
viii
commit to user
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Ruang Lingkup Penelitian………………………………………… 52
3.2. Jenis dan Sumber Data……………………………………………. 52
3.3. Definisi Operasional Variabel…………………………………….. 53
3.3.1. Variabel Dependen (Variabel Terikat)………………………. 53
3.3.2. Variabel Independen (Variabel Bebas)……………………... 54
3.4. Metode Analisis Data……………………………………………..
56
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3.4.1. Metode Analisis Deskriptif…………………………………… 56
3.4.2. Metode Analisis Kuantitatif………………………………….
56
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Perkembangan Variabel Penelitian…………………… . 82
4.1.1. Perkembangan Variabel FDI di ASEAN 5 dan China……… 82
4.1.2. Perkembangan Variabel Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN 5
dan China ............................................................................... 85
4.1.3. Perkembangan Variabel Nilai Tukar di ASEAN 5 dan
China ...................................................................................... 87
4.1.4. Perkembangan Variabel Tenaga Kerja di ASEAN 5 dan
China ...................................................................................... 89
4.1.5. Perkembangan Variabel Infrastruktur di ASEAN 5 dan
China ...................................................................................... 92
4.2. Hasil dan Analisis Kuantitatif………………………………….. 94
4.2.1. Analisis Data Panel………………………………………... 94
4.2.1.1. Hasil Analisis Data Panel………………………………... 94
4.2.1.2. Hasil Uji Pemilihan Model……………………………….. 96
4.2.1.3. Pendekatan Metode Fixed Effect Method (FEM)
dengan General Least Square…………………………… 99
4.2.1.4. Hasil Uji Statistik Model…………………………………. 102
4.2.1.5. Pembahasan Hasil Penelitian…………………………….. 105
4.2.2. Analisis Vector Autoregression (VAR)……………………. 111
4.2.2.1. Penentuan Lag Optimal………………………………….. 111
4.2.2.2. Hasil Estimasi Vector Autoregression (VAR)…………………… 112
4.2.2.3. Analisis Impulse Respon Function (IRF)………………… 118
ix
commit to user
4.2.2.4. Analisis Forecast Error Decomposition of
Variance (FEDV) ................................................................ 132
4.2.2.5. Pembahasan Hasil Penelitian……………………………… 140
BAB V PENUTUP
5.1. Simpulan…………………………………………………………. 146
5.2. Saran……………………………………………………………... 148
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
151
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
LAMPIRAN
x
commit to user
DAFTAR TABEL
Hal.
Tabel 1.1. Ringkasan Perbandingan Determinan FDI Dimensi Lokasi
Paradigma OLI (Ownership, Location, Internalization) .......... 6
Tabel 3.1. Ringkasan Data Penelitian .......................................................
53
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Tabel 4.1. Perkembangan FDI di ASEAN 5 dan China Periode
1988-2009 ................................................................................ 83
Tabel 4.2. Perkembangan FDI di ASEAN 5 dan China Periode
1988-2009 ................................................................................ 86
Tabel 4.3. Perkembangan Nilai Tukar di ASEAN 5 dan China
Periode 1988-2009 .................................................................... 88
Tabel 4.4. Perkembangan Angkatan Kerja di ASEAN 5 dan China
Periode 1988-2009 .................................................................... 91
Tabel 4.5. Perkembangan Infrastruktur Jaringan Telepon di ASEAN 5
dan China Periode 1988-2009 .................................................. 93
Tabel 4.6. Hasil Estimasi Data Panel Determinan FDI ASEAN 5 dan
China Periode 1988-2009 ......................................................... 95
Tabel 4.7. Hasil Uji Hausman Data Panel Random Effect Method
(REM) Periode 1988-2009 ....................................................... 98
Tabel 4.8. Hasil Estimasi Data Panel
Fixed Effect Method (FEM)
GLS Periode 1988-2009 ........................................................... 100
Tabel 4.9. Hasil Uji t-Statistik (α=5%) Model Fixed Effect Method
(FEM) GLS Periode 1988-2009 ............................................... 103
Tabel 4.10. Hasil Uji F-Statistik (α=5%) Model Fixed Effect Method
(FEM) GLS Periode 1988-2009 ............................................... 104
Tabel 4.11. Perbandingan Temuan Empirik dengan Hipotesis Penelitian... 106
Tabel 4.12. Hasil Uji Pemilihan Lag Optimal ............................................. 111
Tabel 4.13. Hasil Analisis FEDV FDI di Indonesia 1988-2009 .................. 133
Tabel 4.14. Hasil Analisis FEDV FDI di Malaysia 1988-2009 ................... 134
Tabel 4.15. Hasil Analisis FEDV FDI di Thailand 1988-2009 ................... 135
xi
commit to user
Tabel 4.16. Hasil Analisis FEDV FDI di Singapura 1988-2009 ................. 136
Tabel 4.17. Hasil Analisis FEDV FDI di Filipina 1988-2009 ..................... 138
Tabel 4.18. Hasil Analisis FEDV FDI di China 1988-2009 ........................ 139
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
\
xii
commit to user
DAFTAR GAMBAR
Hal.
Gambar 1.1. FDI inflows Negara Berkembang dan Transisi Ekonomi
Berdasarkan Kawasan, Rata-rata dari 2005-2007 dan
Periode 2008-2010 ...............................................................
9
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar 2.1. Output dan Dampak Kesejahteraan dari Transfer Modal
Internasional ........................................................................ 18
Gambar 2.2. Tahapan Perkembangan Produk .......................................... 24
Gambar 2.3. Skema Kerangka Pemikiran Penelitian ............................... 50
Gambar 3.1. Daerah kritis Uji-t ................................................................ 66
Gambar 3.2. Daerah kritis Uji-F................................................................ 67
Gambar 4.6. Hubungan Kausalitas VAR di Indonesia.............................. 113
Gambar 4.7. Hubungan Kausalitas VAR di Malaysia ............................. 114
Gambar 4.8. Hubungan Kausalitas VAR di Thailand .............................. 115
Gambar 4.9. Hubungan Kausalitas VAR di Singapura ............................ 116
Gambar 4.10. Hubungan Kausalitas VAR di Filipina ................................ 117
Gambar 4.11. Hubungan Kausalitas VAR di China ................................... 118
Gambar 4.12. Hasil Analisis IRF FDI di Indonesia ................................... 120
Gambar 4.13. Hasil Analisis IRF FDI di Malaysia ..................................... 122
Gambar 4.14. Hasil Analisis IRF FDI di Thailand .................................... 124
Gambar 4.15. Hasil Analisis IRF FDI di Singapura .................................. 126
Gambar 4.16. Hasil Analisis IRF FDI di Filipina ...................................... 129
Gambar 4.17. Hasil Analisis IRF FDI di China ......................................... 130
xiii
commit to user
DAFTAR LAMPIRAN
Hal.
Lampiran 1.
Data Penelitian .................................................................. 157
Lampiran 2.
Hasil Estimasi Data Panel ................................................. 163
Lampiran 3.
Uji Pemilihan Model (Hausman test) ................................
167
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Lampiran 4.
Uji Penentuan Lag Optimal ............................................... 168
Lampiran 5.
Hasil Estimasi VAR .......................................................... 171
Lampiran 6.
Hasil Analisis FEDV ......................................................... 178
xiv
commit to user
ABSTRAK
Perbandingan Faktor Ekonomi Makro dan Karakteristik Negara
Sebagai Determinan FDI di ASEAN 5 dan China Periode 1988-2009
perpustakaan.uns.ac.id
ADHIB EKA PAMBUDI
NIM. F0108027
digilib.uns.ac.id
Kemunculan FDI telah menjadi alternatif dalam pembiayaan pembangunan
ekonomi suatu negara. Keinginan setiap negara untuk menarik investasi FDI telah
menimbulkan adanya persaingan antar negara. Untuk memenangkan persaingan
tersebut masing-masing negara memiliki strategi yang berbeda-beda. Kondisi
tersebut mendorong kalangan akademis untuk mengkaji faktor-faktor yang
menentukan (determinan) masuknya aliran FDI ke suatu negara. Namun demikian,
semakin banyak hasil penelitian yang ditemukan justru menimbulkan sebuah
perdebatan panjang, bahkan sampai saat ini masih berlangsung dan belum menemui
kata sepakat.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan faktor ekonomi makro dan
karakteristik negara sebagai determinan FDI di ASEAN 5 dan China periode 19882009. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah data panel dan Vector
Autoregression (VAR). Hasil penelitian ini, secara umum menegaskan bahwa faktor
ekonomi makro dan karakteristik negara, sama baiknya dalam menentukan
masuknya FDI ke ASEAN 5 dan China. Selain itu, juga ditemukan terdapat pola
perbandingan yang hampir sama antara faktor ekonomi makro dan karakteristik
negara sebagai determinan FDI di ASEAN 5 dan China.
Kata Kunci : Determinan FDI, Ekonomi makro, Karakteristik Negara, Data Panel,
VAR
xv
commit to user
ABSTRACT
Comparison of Macroeconomic Factors and Characteristics of Country as
Determinants of FDI in ASEAN 5 and China Period 1988-2009
perpustakaan.uns.ac.id
ADHIB EKA PAMBUDI
NIM. F0108027
digilib.uns.ac.id
FDI has been the emergence of alternatives financing in emerging market
countries. The desire of each country to attract FDI has led to the existence of
competition between countries. To win the competition each country has a different
strategy. These conditions encourage academics to examine the factors that
determine FDI inflows into a country. However, a growing number of studies that
found it was a cause of a long debate, even to this day is still ongoing and have not
met an agreement.
This study aims to compare the macroeconomic factors and the
characteristics of country as a determinant of FDI in ASEAN 5 and China 1988-2009
period. The model used in this study are data panel and Vector Autoregression
(VAR). The results of this study, it is generally asserted that the macroeconomic
factors and the characteristics of country, as well as to determining FDI inflows into
ASEAN 5 and China. In addition, this study also found a similar pattern of
comparison between macroeconomic factors and the characteristics of country as a
determinant of FDI in ASEAN 5 and China.
Keywords : Determinants FDI, Macroeconomics, Characteristics of Country, Data
Panel, VAR
xvi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
xvii
commit to user
ABSTRAK
Perbandingan Faktor Ekonomi Makro dan Karakteristik Negara
Sebagai Determinan FDI di ASEAN 5 dan China Periode 1988-2009
perpustakaan.uns.ac.id
ADHIB EKA PAMBUDI
NIM. F0108027
digilib.uns.ac.id
Kemunculan FDI telah menjadi alternatif dalam pembiayaan pembangunan
ekonomi suatu negara. Keinginan setiap negara untuk menarik investasi FDI telah
menimbulkan adanya persaingan antar negara. Untuk memenangkan persaingan
tersebut masing-masing negara memiliki strategi yang berbeda-beda. Kondisi
tersebut mendorong kalangan akademis untuk mengkaji faktor-faktor yang
menentukan (determinan) masuknya aliran FDI ke suatu negara. Namun demikian,
semakin banyak hasil penelitian yang ditemukan justru menimbulkan sebuah
perdebatan panjang, bahkan sampai saat ini masih berlangsung dan belum menemui
kata sepakat.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan faktor ekonomi makro dan
karakteristik negara sebagai determinan FDI di ASEAN 5 dan China periode 19882009. Model yang digunakan dalam penelitian ini adalah data panel dan Vector
Autoregression (VAR). Hasil penelitian ini, secara umum menegaskan bahwa faktor
ekonomi makro dan karakteristik negara, sama baiknya dalam menentukan
masuknya FDI ke ASEAN 5 dan China. Selain itu, juga ditemukan terdapat pola
perbandingan yang hampir sama antara faktor ekonomi makro dan karakteristik
negara sebagai determinan FDI di ASEAN 5 dan China.
Kata Kunci : Determinan FDI, Ekonomi makro, Karakteristik Negara, Data Panel,
VAR
commit to user
ABSTRACT
Comparison of Macroeconomic Factors and Characteristics of Country as
Determinants of FDI in ASEAN 5 and China Period 1988-2009
perpustakaan.uns.ac.id
ADHIB EKA PAMBUDI
NIM. F0108027
digilib.uns.ac.id
FDI has been the emergence of alternatives financing in emerging market
countries. The desire of each country to attract FDI has led to the existence of
competition between countries. To win the competition each country has a different
strategy. These conditions encourage academics to examine the factors that
determine FDI inflows into a country. However, a growing number of studies that
found it was a cause of a long debate, even to this day is still ongoing and have not
met an agreement.
This study aims to compare the macroeconomic factors and the
characteristics of country as a determinant of FDI in ASEAN 5 and China 1988-2009
period. The model used in this study are data panel and Vector Autoregression
(VAR). The results of this study, it is generally asserted that the macroeconomic
factors and the characteristics of country, as well as to determining FDI inflows into
ASEAN 5 and China. In addition, this study also found a similar pattern of
comparison between macroeconomic factors and the characteristics of country as a
determinant of FDI in ASEAN 5 and China.
Keywords : Determinants FDI, Macroeconomics, Characteristics of Country, Data
Panel, VAR
commit to user
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Perbedaan pendapat para ahli ekonomi dalam menentukan faktor-faktor
yang menentukan FDI (determinan FDI), hingga saat ini masih terjadi dan belum
menemukan kata sepakat. Artige dan Nicolini (2010) menyatakan bahwa di dalam
kajian literatur ekonomi penentuan determinan FDI juga masih menjadi perdebatan
yang panjang. Lebih lanjut Chakrabarti (2001); Demirhan dan Masca (2008); Faeth
(2009) menyatakan bahwa terjadinya perdebatan tersebut kemungkinan besar
disebabkan karena adanya perbedaan perspektif teori, pendekatan empirik, pemilihan
sampel dan kombinasi variabel determinan yang digunakan. Sehingga berdampak
pada hasil kesimpulan yang berbeda-beda baik dilihat dari arah hubungan maupun
signifikansi statistiknya.
Menurut Moosa dan Cardak (2003) sebagian besar penelitian baik time
series maupun cross section telah dilakukan dalam mengidentifikasikan determinan
FDI (inflows), tetapi tidak ada satupun konsensus atau kesepakatan cara pandang
yang muncul. Sehingga bisa diartikan bahwa tidak ada pengakuan secara luas
terhadap variabel penjelas yang bisa disebut sebagai determinan FDI yang paling
tepat dan benar. Dari sudut pandang sejarah FDI, Faeth (2009) menjelaskan bahwa
penelitian empiris dan model teoritis dikembangkan sebagai bentuk yang berbeda
dari satu cerita yang sama. Pada awalnya penelitian empiris dilakukan dalam bentuk
studi lapangan dengan dasar teori yang terbatas karena belum adanya teori tentang
commit to user
2
FDI dan MNEs, sedangkan teori FDI atau modal bergerak dikembangkan secara
independen berdasarkan perspektif teori perdagangan yang ada.
Kondisi tersebut memunculkan suatu kesimpulan dari Chakrabarti (2001)
yang menemukan bahwa ada beberapa variabel seperti, pertumbuhan ekonomi, nilai
tukar, pajak, tarif, keterbukaan ekonomi, upah, dan neraca perdagangan yang bisa
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
berdampak negatif dan juga bisa berdampak positif terhadap FDI. Hubungan antara
beberapa variabel tersebut dengan FDI sangat sensitif terhadap perubahan kecil
dalam penetapan informasi kondisi yang ada. Pada kenyataannya bahwa dasar teori
yang sudah ada tidak mampu memprediksi secara pasti dampak variabel tersebut
terhadap FDI. Sehingga variable-variabel tersebut juga dikenal sebagai variabel yang
kontroversial.
Fenomena adanya variabel kontroversial tersebut dianggap sebagai salah
satu pemicu perdebatan yang terjadi hingga sekarang. Dengan melihat hasil
penelitian dari beberapa peneliti seperti CMCG (2003); Turkcan et al (2008); Mateev
(2008); Ayanwale (2007) akan diketahui cara pandang yang bervariasi dalam
menentukan indikator (proxy) dan hubungan variabel penelitian. Pada penelitiannya
CMCG (2003) ukuran pasar domestik bisa diukur dari GDP, GDP perkapita, jumlah
kelas menengah, dan pertumbuhan ekonomi. Turkcan et al (2008) pertumbuhan
ekonomi dan FDI memilikki hubungan dua arah yang saling berpengaruh signifikan
positif di negara 23 OECD (Organisation for Economic Co-Operation and
Development).
Studi dengan model gravity yang dilakukan Mateev (2008) menunjukkan
variabel GDP memilikki peran yang signifikan positif dalam menentukan FDI
inflows di Uni Eropa. Selanjutnya Ayanwale (2007) berpendapat bahwa determinan
commit to user
3
utama FDI inflows adalah ukuran pasar domestik yang diukur dengan GDP. Namun,
Dermihan dan Masca (2008) menyatakan variabel yang paling tepat sebagai
indikator ukuran pasar domestik di negera berkembang adalah pertumbuhan GDP
perkapita riil saja. Variabel lain seperti GDP dan GDP perkapita dianggap sebagai
indikator yang lemah dan cenderung tidak berpengaruh.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Dalam penelitian Artige dan Nicolini (2010) berpendapat lain yaitu
penggunaan GDP sebagai indikator market potential dianggap lebih efektif
dibandingkan GDP perkapita. Yavan (2010) mencoba dua variabel sekaligus GDP
perkapita (market size) dan pertumbuhan populasi (market growth) tetapi justru
terjadi multikolinieritas dalam model. Berbeda dari penelitian sebelumnya Nurudeen,
Wafure, dan Aufa (2011) menemukan dampak ukuran pasar domestik dengan
indikator GDP berpengaruh negatif dan signifikan terhadap FDI inflows di Nigeria.
Tidak semua peneliti setuju bahwa variabel GDP, GDP perkapita, Growth
berpengaruh kuat terhadap FDI. Dhakal, Mixon, dan Upadhayaya (2007)
menemukan bahwa ukuran pasar domestik yang diukur dengan GDP tidak
berpengaruh signifikan terhadap FDI inflows di negara sosialis timur dan Eropa
Tengah. Faeth (2005) menyatakan bahwa dalam jangka pendek GDP sebagai
indikator ukuran pasar Australia tidak berpengaruh terhadap FDI inflows.
Selanjutnya Kok dan Ersoy (2009) juga menyimpulkan bahwa pertumbuhan GDP
perkapita tidak berpengaruh terhadap FDI di India, meskipun menunjukkan arah
hubungan yang positif. Studi komparatif Fukao dan Wei (2008) menemukan bahwa
ukuran pasar dengan indikator GDP hanya berpengaruh terhadap jenis FDI horisontal
dan tidak berpengaruh pada jenis FDI vertikal.
commit to user
4
Beberapa peneliti juga belum menemui kata sepakat dalam menentukan
hubungan antara dampak nilai tukar terhadap FDI. Studi tentang hubungan dari
kedua variabel ini sebenarnya sudah cukup lama dilakukan. Menurut Froot dan Stein
(1989) penyebab adanya hubungan antara nilai tukar dan FDI adalah adanya
informasi yang tidak sempurna. Sehingga depresiasi nilai tukar mata uang domestik
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
mendorong akuisisi asset dalam negeri oleh investor asing. Dari sisi upah tenaga
kerja Klein dan Rosengren (1992) di negara industri dengan nilai tukar mengambang,
upah tenaga kerja ditentukan oleh pergerakan nilai mata uang. Sehingga depresiasi
mata uang domestik berdampak pada peningkatan FDI inflows karena upah tenaga
kerja yang murah, sedangkan apresiasi mata uang domestik akan berdampak pada
penurunan FDI inflows akibat tuntutan upah tenaga kerja yang menjadi tinggi.
Analisis lebih lanjut dilakukan Xing dan Wan (2004) yang menyatakan
bahwa nilai tukar memiliki peran yang signifikan dalam terjadinya persaingan antar
negara penerima FDI di ASEAN (10) + 2. Dengan adanya apresiasi nilai tukar mata
uang negara penerima akan menurunkaan nilai FDI inflows dan berdampak pada
berpindahnya FDI ke negara penerima lainnya. Hasil analisis yang dilakukan oleh
Hoang (2010); Yol dan Teng (2009): Chowdury dan Wheeler (2008) menyimpulkan
bahwa nilai tukar berpengaruh positif dan signifikan terhadap FDI inflows. Dilain
pihak Kim dan Yonghyup (2007) menemukan bahwa nilai tukar berpengaruh negatif
dan signifikan terhadap FDI inflows.
Pada penelitian lainnya Dhakal, Mixon, dan Upadhayaya (2007); Schneider
dan Frey (1985) Apergis dan Katrakilios (1998) menyatakan bahwa nilai tukar riil
berpengaruh negatif terhadap FDI inflows. Pendapat yang berbeda muncul dari
penelitian Goldberg dan Kolstad (1994) melalui pendekatan dua arah bilateral FDI
commit to user
5
diketahui bahwa nilai tukar tidak berpengaruh signifikan terhadap investasi selama
goncangan riil dan moneter mendominasi kegiatan aktivitas nilai tukar. Hasil yang
sama juga dialami oleh Srinivasan (2011) yang menemukan bahwa variabel nilai
tukar riil tidak mempengaruhi FDI inflows di negara SAARC (South Asian
Association for Regional Cooperation).
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Secara sederhana Chakrabarti (2001) mengidentifikasikan perilaku beberapa
kombinasi variabel kontroversial tersebut terhadap FDI. Dimana variabel tingkat
pertumbuhan berpengaruh signifikan dan positif terhadap FDI inflows jika
dikombinasikan dengan inflasi, defisit perdagangan dan upah. Variabel nilai tukar
mata uang berpengaruh positif terhadap FDI inflows apabila dikombinasikan dengan
variabel derajat keterbukaan, investasi domestik, dan pengeluaran pemerintah, tetapi
jika variabel investasi domestik dikeluarkan dari model maka nilai tukar akan
berpengaruh negatif terhadap FDI inflows.
Bervariasinya analisis terhadap determinan FDI lebih lanjut dapat dilihat
dari analisis yang dilakukan oleh Assuncao, Fortae, Teixeira (2011) yang membuat
sebuah ringkasan perbandingan analisis determinan FDI dari dimensi lokasi
paradigma OLI. Adapun ringkasan tersebut dapat ditunjukan sebagai berikut.
commit to user
6
Tabel 1.1. Ringkasan Perbandingan Determinan FDI Dimensi Lokasi Dari Paradigma
OLI (Ownership, Location, Internalization)
Determinan
Objek Penelitian
Indikator (Proxy)
16 negara SSA
Metode
Dampak
Regresi Multivariate
0
INFRASTRUKTUR
12 M ENA; 24 DCs
22 negara SSA
HUMAN
CAPITAL
Panel Dat a
44 negara
14 SADC
14 SADC
perpustakaan.uns.ac.id
6 negara SE Eropa
+
M ohamed dan
Sidiropoulos (2010)
Asiedu (2006)
+
Biswas (2002)
+
M hlanga et al. (2010)
+
M hlanga et al. (2010)
-
Botrić dan Škuflić (2006)
+
Vijayakumar et al. (2010)
+
Biswas (2002)
+
Cleeve (2008)
Schneider dan Frey
(1985)
0
Jumlah jaringan telepon per 1000
kediaman
Jumlah jaringan kabel dan mobile Regresi Multivariate
telepone per 1000 kediaman
Jumlah Jaringan Internet
BRICS
Indeks Infrastruktur
44 negara
Kapasitas Listrik yang Terpasang
Perkapita
Panel Dat a
16 negara SSA
Indeks Secondary Education
80 DCs
Regresi Multivariate
0
Angka Buta Huruf Dewasa
0
Cleeve (2008)
22 negara SSA
% Angka Buta Huruf Dewasa
+
Asiedu (2006)
0
Vijayakumar et al. (2010)
0
M hlanga et al. (2010)
Panel Dat a
14 SADC
Regresi Multivariate
80 DCs
-
Tingkat Inflasi
12 M ENA; 24 DCs
Panel Dat a
22 negara SSA
12 MENA; 24 DCs
14 SADC
STABILITAS EKONOMI
digilib.uns.ac.id
16 negara SSA
BRICS
12 M ENA; 24 DCs
6 negara SE Eropa
Penawaran & Cadangan Mata
Uang
Mata uang/GDP
Indeks Perkembangan Sektor
Keuangan
Indeks Perkembangan Sektor
Keuangan
12 M ENA; 24 DCs
Pengeluaran Pemerintah/GDP
80 DCs
Defisit Anggaran
6 negara SE Eropa
Besarnya sektor swasta dalam
ekonomi
Jumlah Privatisasi
Rata-rata mata uang utama
disesuaikan dengan inflasi
Nilai tukar nominal disesuaikan
dengan GDP deflator
% Bantuan eksternal negara
komunis
16 negara SSA
80 DCs
Regresi M ultivariate
Panel Dat a
Regresi M ultivariate
80 DCs
Asiedu (2006)
M ohamed dan
Sidiropoulos (2010)
M hlanga et al. (2010)
+
M ohamed dan
Sidiropoulos (2010)
+
Botrić dan Škuflić (2006)
-
M ohamed dan
Sidiropoulos (2010)
Schneider and Frey
(1985)
+
Botrić dan Škuflić (2006)
Panel Dat a
-
Regresi Multivariate
-
Vijayakumar et al. (2010)
+
Cleeve (2008)
+
Schneider and Frey
(1985)
+
0
Biswas (2002)
-
Botrić dan Škuflić (2006)
Regresi Multivariate
+
Schneider and Frey
(1985)
Panel Dat a
+
Vijayakumar et al. (2010)
Panel Dat a
Upah dan Remiten Pekerja
BRICS
Schneider and Frey
(1985)
M ohamed dan
Sidiropoulos (2010)
+
% Bantuan negara barat
% Bantuan multilateral ekonomi
dan politik
Upah/Pekerja
-
0
44 negara
6 negara SE Eropa
0
Defisit Anggaran
BRICS
Biaya Produksi
Peneliti
Cleeve (2008)
Keterangan : (+) positif dan signifikan secara statistik; (-) negatif dan signifikan secara statistik; (0) tidak berpengaruh secara
statistik
Catatan
: Indeks konsumsi listrik (kWh perkapita), konsumsi energi (kg minyak ekuivalen
perkapita), jaringan telepon per 100 penduduk
Sumber : Kumpulan hasil dari beberapa penelitian yang diringkas oleh Assuncao,
Fortae, Teixeira (2011)
commit to user
7
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
perbedaan
pendapat dalam analisis determinan FDI memang benar terjadi dan masih
berlangsung hingga sekarang. Pada kenyataannya masih banyak variabel-variabel
lain yang memilikki sifat sulit diprediksi pengaruh dan arah hubungannya terhadap
FDI inflows. Pemilihan kombinasi variabel, metode sampel, metode analisis, serta
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
pendekatan teori yang digunakan sangat berpengaruh besar terhadap kemampuan
model menjelaskan determinan FDI. Banyak dari penelitian sebelumnya mencoba
menggabungkan teori, metode, serta sudut pandang yang berbeda-beda. Tujuan
penggabungan tersebut pada awalnya adalah untuk mendapatkan kesimpulan yang
bisa diterima dari sudut pandang manapun. Namun demikian, hasil yang diperoleh
justru terkesan menjadi ambigu.
Sebuah langkah baru dilakukan oleh Catherine dan Rashid (2011) dengan
mengkategorikan variabel penjelas menjadi dua kelompok determinan FDI yaitu
faktor ekonomi makro dan karakteristik negara. Model yang dibangun dalam
penelitian ini berdasarkan studi pustaka dari penelitian sebelumnya bahwa
determinan faktor ekonomi makro sama baiknya dengan karakteristik negara dalam
menjelaskan FDI inflows. Melalui pendekatan tersebut dianggap mampu menjadi
sebuah gambaran bagi investor tentang kondisi negara tujuan FDI. Selain itu, juga
bisa digunakan sebagai masukan bagi pengambil kebijakan dalam mendorong peran
FDI terhadap pertumbuhan ekonomi negara yang berkelanjutan.
Kekurangan penelitian yang dilakukan Catherine dan Rashid (2011) yaitu
hasil analisis yang telah dilakukan banyak yang tidak signifikan dan menunjukkan
hubungan yang berlawanan dengan hipotesis teori yang sudah ada, khususnya pada
model faktor karakteristik negara. Kondisi tersebut menyebabkan peneliti tidak
commit to user
8
berani menarik kesimpulan secara pasti terhadap determinan FDI di masing-masing
negara. Kemungkinan besar permasalahan tersebut disebabkan karena konstruksi
model yang dibangun terpisah secara sendiri-sendiri, sehingga kurang efektif jika
dilakukan analisis secara ekonometrika. Selain itu, masing-masing model memilikki
jumlah variabel cukup banyak yang berdampak pada lemahnya model dalam
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
menjelaskan hubungan yang terjadi.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dalam penelitian ini akan mencoba
untuk melengkapi penelitian sebelumnya. Perbedaan penelitian ini dengan
sebelumnya adalah adanya penyerdahanaan konstruksi model dan variabel yang
digunakan. Determinan FDI yang dikategorikan menjadi faktor ekonomi makro dan
karakteristik negara akan dianalisis dalam satu kesatuan model. Sedangkan, variabel
yang digunakan sebagai indikator masing-masing determinan dipilih berdasarkan
observasi oleh peneliti. Secara umum, setidaknya ada tiga pendekatan yang biasanya
digunakan dalam mengestimasi model determinan FDI yaitu, time-series, crosssection, dan pendekatan data panel (Bora, 2002). Namun dalam penelitian ini akan
difokuskan pada pembahasan dengan menggunakan pendekatan data panel dan
pendekatan time series VAR.
Beberapa penelitian yang mendukung penggunaan data panel dalam
estimasi model determinan FDI yaitu, Buckley, Clegg, dan Wang (2010); Shan
(2002); Catherine dan Rashid (2011); Bakir dan Torki (2009); Wahid , Rojid, dan
Boopen (2007); Hoang (2010); Kok dan Bernur (2009); Pourshahabi, Davoud, dan
Ehsan (2011). Metode ini dilakukan dalam upaya untuk mengatasi masalah
keterbatasan data penelitian yang digunakan dalam estimasi model dan besarnya
commit to user
9
sampel penelitian. Mengingat, banyak dari peneliti tersebut yang melihat hubungan
antar negara atau kawasan.
Penggunaan metode VAR yang ditemukan oleh Sims (1980) dalam analisis
determinan FDI didukung oleh Peng et al (2011); Hakro dan Ikhtiar (2005); Iram dan
Ambreen (2008); Chowdury dan Mark (2008); Shan (2002); Mutascu dan Fleischer
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(2008); Hee Ng (2006); Wijeweera dan Mounter (2008); dan Tang et al (2008).
Metode ini dilakukan karena mampu memberikan alternatif metode analisis yang
relatif sederhana, mampu melihat
hubungan dinamis antar variabel, dapat
menghindari kesalahan pada variabel, dan terdapat analisis IRF dan FEDV dalam
menunjukkan respon variabel terhadap goncangan (shock) variabel lainnya.
Penelitian ini mengambil obyek penelitian 5 negara ASEAN yaitu
Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan ditambah dengan China.
Alasan utama pemilihan objek penelitian ini berdasarkan atas adanya kebangkitan
Ekonomi di negara-negara ASEAN 5 dan China, diprediksi akan menjadi kekuatan
baru ekonomi Asia. Kondisi tersebut ikut mendorong peningkatan investasi asing
FDI yang masuk ke negara-negara tersebut seperti yang ditunjukkan pada gambar
berikut ini.
Sumber : World Investment Report, UNCTAD (2011)
Gambar 1.1.
FDI inflows Negara Berkembang dan Transisi Ekonomi
Berdasarkan Kawasan, Rata-rata dari 2005-2007 dan Periode 2008-2010
commit to user
10
Pada gambar 1.1 di atas dapat diketahui bahwa performa FDI inflows di
kawasan
Asia Selatan, Timur, dan Tenggara adalah yang paling tinggi dan
signifikan dibandingkan dengan kawasan negara lainnya. Rata-rata FDI inflows di
kawasan tersebut dari tahun 2005-2007 mencapai angka diatas 200 milyar dollar
Amerika. Memasuki tahun 2010 jumlah tersebut meningkat secara tajam hingga
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
mencapai 300 milyar dollar Amerika atau meningkat sebesar 24 % dari sebelumnya.
Hal tersebut disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang kuat, didorong dengan
permintaan domestik dan eksternal yang kuat, fundamental ekonomi makro yang
bagus, serta harga komoditas yang tinggi di kawasan Asia Selatan, Timur, dan
Tenggara.
Sehingga sangat menarik apabila dilakukan kajian lebih lanjut terhadap
determinan FDI di kawasan tersebut, khususnya ASEAN 5 dan China. Periode
analisis penelitian ini dimulai dari tahun 1988 karena merupakan awal dimulainya
tren positif peningkatan FDI di negara-negara berkembang, khususnya kawasan Asia
Pasifik. Judul yang diambil peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah :
“Perbandingan Faktor Ekonomi Makro dan Karakteristik Negara Sebagai
Determinan FDI di Asean 5 dan China Periode 1988-2009”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana perbandingan faktor ekonomi makro dan karakteristik negara
sebagai determinan FDI di ASEAN 5 dan China dengan pendekatan Data
Panel periode 1988-2009?
commit to user
11
2. Bagaimana pola perbandingan faktor ekonomi makro dan karakteristik negara
sebagai determinan FDI di masing-masing negara ASEAN 5 (Indonesia,
Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina), dan China dengan pendekatan VAR
periode 1988-2009?
perpustakaan.uns.ac.id
1.3. Tujuan Penelitian
digilib.uns.ac.id
Berdasarkan perumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah :
1. Untuk mengetahui perbandingan faktor ekonomi makro dan karakteristik
negara sebagai determinan FDI di ASEAN 5 dan China dengan pendekatan
Data Panel periode 1988-2009.
2. Untuk mengetahui pola perbandingan faktor ekonomi makro dan karakteristik
negara sebagai determinan FDI di masing-masing negara ASEAN 5
(Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina), dan China dengan
pendekatan VAR periode 1988-2009.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ilmiah yang berjudul “Perbandingan Faktor ekonomi makro dan
Karakteristik Negara Sebagai Determinan FDI di ASEAN 5 dan China Periode 19882009” diharapkan bisa memberikan nilai manfaat, yaitu:
1. Bagi Pemerintah ; bisa menjadi informasi tentang perkembangan determinan
FDI di masing-masing negara, sekaligus bisa menjadi bahan pertimbangan
dalam pengambilan keputusan dalam menentukan strategi yang tepat terkait
kebijakan investasi FDI.
commit to user
12
2. Bagi Ilmu Pengetahuan ; memberikan pengetahuan secara empiris mengenai
determinan FDI serta mampu menjadi referensi dalam penelitian-penelitian
selanjutnya.
3. Bagi Masyarakat ; dapat menjadi sarana pengetahuan serta pemahaman
mengenai perkembangan determinan FDI dan dampaknya bagi perekonomian
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
masyarakat di masing-masing negara.
4. Bagi Penulis ; mampu menjadi motivasi dalam mengkaji lebih lanjut
permasalahan – permasalahan yang berhubungan dengan perkembangan FDI
baik di dalam negeri maupun luar negeri.
commit to user
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Foreign Direct Investment (FDI)
perpustakaan.uns.ac.id
2.1.1. Konsep dan Pengertian
digilib.uns.ac.id
Menurut Salvatore (1997:469) menjelaskan bahwa Investasi asing (Foreign
Investment) dapat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu :
a) Investasi portofolio (portofolio investment) adalah investasi yang melibatkan
hanya aset-aset finansial saja, seperti obligasi dan saham, yang didenominasikan
atau
ternilai
dalam
mata
uang nasional. Kegiatan-kegiatan
investasi
portofolio atau finansial ini biasanya berlangsung melalui lembaga-lembaga
keuangan
seperti, bank, perusahaan
dana investasi, yayasan pensiun, dan
sebagainya.
b) Investasi asing langsung (foreign direct investment) meliputi investasi ke
dalam aset-aset secara nyata yaitu berupa pembangunan pabrik-pabrik,
pengadaan berbagai macam barang modal, pembelian tanah untuk keperluan
produksi, pembelanjaan berbagai peralatan inventaris dan sebagainya, dan
biasanya dibarengi dengan penyelenggaraan fungsi-fungsi manajemen, dan
pihak investor sendiri tetap mempertahankan kontrol terhadap dana-dana
yang telah ditanamkannya.
Lebih lanjut Krugman dan Obstfeld (2003) juga mendefinisikan FDI
(Foreign Direct Investment) sebagai arus modal internasional dimana perusahaan
dari suatu negara mendirikan atau memperluas perusahaannya di negara lain, ciri dari
commit to user
14
penanaman modal asing adalah melibatkan bukan hanya pemindahan sumber daya
tetapi juga adanya pemberlakuan pengendalian atau kontrol. Sedangkan menurut
Griffin dan Pustay (2009: 169) penanaman modal asing (FDI) adalah pembelian asetaset luar negeri dengan tujuan untuk mengendalikannya. Para ahli statistik
pemerintah Amerika Serikat mendefinisikan FDI sebagai kepemilikan atas
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
penguasaan 10 persen suara atau lebih dari saham suatu perusahaan atau saham
ekuivalennya dalam suatu bisnis yang bukan perseroan terbatas.
Di dalam OECD Benchmark Definition of Foreign Direct Investment 3rd
Edition (1999:7-8) mendefinisikan FDI sebagai berikut :
“Foreign direct investment reflects the objective of obtaining a lasting interest by
a resident entity in one economy (direct investor) in an entity resident in an
economy other than that of the investor (direct investment enterprise). The lasting
interest implies the existence of a long-term relationship between the direct
investor and the enterprise and a significant degree of influence on the
managementof the enterprise. Direct investment involves both the initial
transaction between the two entities and all subsequent capital transactions
between them and among affiliated enterprises, both incorporated and
unincorporated.”
FDI dapat diartikan perusahaan penanam modal secara de facto atau de jure
melakukan pengawasan atas asset (aktiva) yang ditanam di negara pengimpor modal
dengan cara investasi, dimana FDI tersebut dapat diwujudkan dalam beberapa bentuk
yaitu, melalui pembentukan suatu cabang perusahaan di negara pengimpor modal,
pembentukan suatu perusahaan yang mayoritas sahamnya dimilikki oleh penanam
modal, pembentukan suatu perusahaan di negara pengimpor modal yang sematamata dibiayai oleh perusahaan yang terletak di negara penanam modal, mendirikan
suatu korporasi di negara penanam modal untuk secara khusus beroperasi di negara
lain, atau menaruh asset (aktiva tetap) di negara lain oleh perusahaan nasional dari
negara penanam modal (Jhingan, 2004).
commit to user
15
Penanaman modal asing (Foreign Direct Investment) di Indonesia dijelaskan
dalam pasal 1 (3) UU No. 25 tahun 2007 yang menyebutkan bahwa FDI adalah
kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Republik Indonesia,
dilakukan oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing secara
sepenuhnya, maupun yang menggunakan modal berpatungan dengan penanam modal
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
dalam negeri.
Dari penjelasan diatas bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa FDI
merupakan salah satu bentuk investasi langsung yang bersifat jangka panjang,
dilakukan oleh investor asing tidak hanya dalam bentuk modal finansial saja tetapi
juga berupa, asset (aktiva tetap), alih teknologi, manajerial, dan modal intelektual
dan disertai adanya kontrol langsung dari pemilik modal atau investor.
2.1.2. Jenis dan Bentuk FDI
Dalam perkembangannya FDI dapat dibagi menjadi dua jenis yang
dijelaskan sebagai berikut (Salvatore,1997: 478-479) :
a) FDI Vertikal
FDI yang dilakukan secara vertikal menyangkut desentralisasi secara geografis
dari aliran produksi perusahaan. Sebagai bentuk dari sebagaian besar penanaman
modal asing di negara-negara berkembang dan negara maju yang kaya akan
sumber daya. Perusahaan akan melakukan produksi di negara-negara yang
memilikki biaya tenaga kerja yang rendah, kemudian hasil produksi di negara
tersebut akan disalurkan kembali ke negara induk. Misalnya, suatu produk yang
proses produksinya capital-intensive akan memindahkan proses produksinya ke
negara-negara yang kaya akan modal.
commit to user
16
b) FDI Horisontal
FDI yang dilakukan secara horisontal akan memproduksi barang yang sama di
beberapa negara. Dengan kata lain terjadi perluasan kegiatan produksi ke
wilayah yang lebih luas. Apa yang telah diproduksi Di dalam negeri juga hendak
diproduksi di luar negeri. FDI jenis ini memilikki motivasi untuk mencari pasar
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
yang baru. Keuntungan dari FDI dengan jenis ini adalah efisiensi di dalam biaya
transportasi, karena tempat produksi yang ada menjadi lebih dekat dengan
konsumen.
Berdasarkan bentuknya FDI dapat dibedakan menjadi dua yaitu greenfield
dan akuisisi. FDI dengan bentuk greenfield identik dengan pembangunan unit-unit
produksi yang baru di negara tujuan investasi (Host Country). Sedangkan FDI
dengan bentuk akuisisi dilaksanakan dengan cara membeli sebagian kepemilikan dari
perusahaan yang sudah ada sebelumnya di negara tujuan investasi (Host Country)
(Griffin dan Pustay, 2009: 169).
Sementara itu, J. H Dunning (1994: 8-9) menjelaskan bahwa FDI juga bisa
dibedakan berdasarkan tujuan atau motivasi yang melatarbelakangi investor asing
menanamkan modalnya yaitu :
a) Market Seeking
Investor berupaya untuk memenuhi permintaan pasar domestik dengan cara
melakukan produksi di negara tujuan FDI (Host Country). Dengan cara ini investor
akan
mampu mengurangi biaya ekspor yang dikeluarkan
ketika harus
memproduksinya di negara asal. Dalam kondisi ini ukuran pasar domestik dan
pertumbuhan ekonomi negara tujuan FDI mempunyai peranan penting dalam
keputusan investor.
commit to user
17
b) Resource Seeking
Tujuan investor menanamkan FDI ke suatu negara adalah untuk mendapatkan
sumber daya yang tidak tersedia di negara asal, seperti sumber daya alam, bahan
baku produksi, dan tenaga kerja yang murah.
c) Efficiency Seeking
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Perusahaan berusaha untuk meningkatkan efisiensinya dengan mengambil
keuntungan dari skala dan cakupan perekonomian negara tujuan FDI (Host
Country). FDI jenis ini banyak digunakan di negara-negara berkembang.
d) Strategic Asset-Seeking
Perusahaan menggabungkan keuntungan kompetitif yang diperoleh dari proses
akuisisi dan adanya peningkatan kompetisi diantara perusahaan domestik. Jenis FDI
ini berbeda dengan sebelumnya kemungkinan akuisisi terhadap perusahaan
domestik mempunyai tujuan khusus dalam mentransfer asset yang telah diperoleh
dari host country ke home country.
2.1.3. Dampak Positif dan Negatif FDI
FDI tidak hanya menguntungkan negara asal investasi (Home Country) saja,
akan tetapi juga menguntungkan bagi negara tujuan investasi (Host Country).
Keuntungan FDI bagi negara asal investasi (Home Country) yaitu berdampak positif
terhadap neraca perdagangan negara asal karena mampu menciptakan permintaan
atas ekspor peralatan modal, barang setengah jadi, produk komplementer serta tenaga
ahli. Sedangkan bagi negara tujuan investasi (Host Country) dengan masuknya
investasi asing dalam bentuk FDI berdampak positif pada terciptanya lapangan kerja
baru, adanya tambahan modal baru, transfer teknologi di bidang industrialisasi,
commit to user
18
sehingga mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi (Hill, 2003:200214).
Menurut Fledstein (2000) menjelakan bahwa sebagai salah satu jenis aliran
modal bebas FDI memiliki beberapa keuntungan yaitu, Pertama, aliran modal
tersebut mengurangi risiko dari kepemilikan modal dengan melakukan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
deversifikasi melalui investasi. Kedua, integrasi global pasar modal dapat
memberikan spread terbaik
dalarn
pembentukan
corporate
governance,
accounting rules, dan legalitas. Ketiga, mobilitas modal secara global membatasi
kemampuan pemerintah dalam menciptakan kebijakan yang salah.
Dalam analisisnya Salvatore (1997) mencoba menjelaskan dampak-dampak
kesejahteraan yang ditimbulkan oleh berlangsungnya arus modal internasional dalam
bentuk FDI baik bagi negara sumber investasi maupun negara penerima investasi.
Untuk mempelajari dampak-dampak tersebut dapat dilihat dalam bentuk gambar
sebagai berikut.
Sumber : Salvatore (1997:480)
Gambar 2.1.
Output dan Dampak Kesejahteraan dari Transfer Modal Internasional
Pada gambar 2.1 di atas dapat dilihat bahwa dari total cadangan modal yang
ada, yakni 00’, sebagian diantaranya (0A) dimiliki oleh Negara 1 dan semuanya
commit to user
19
dikerahkan untuk menghasilkan output sebanyak 0’JMA. Seandainya kedua negara
itu menjalin hubungan ekonomi (perdagangan dan atau investasi), akan terjadi
transfer modal sebanyak AB dari negara 1 ke negara 2 yang selanjutnya akan
menyamakan tingkat hasil modal kedua negara tersebut, yakni sebesar BE.
Hal ini akan meningkatkan output dunia secara keseluruhan sebanyak EGM.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Sebagian diantaranya, yakni sebanyak EGR, akan diterima oleh negara 1 sedangkan
sisanya yakni ERM akan diterima oleh negara 2. Dari kenaikan produk domestik di
Negara 2 sebanyak ABEM, sebagian di antaranya yakni sebanyak ABER akan
diterima oleh para investor asing, sehingga ERM merupakan keuntungan netto yang
diterima oleh negara 2 berkat adanya transfer modal.
Perlu disadari juga bahwa keberadaan FDI sebagai aliran modal juga
memiliki dampak negatif khususnya bagi negara penerima. Masuknya perusahaan
multinasional dapat mematikan bisnis perusahaan lokal yang tidak mampu
bersaing
dengan
perusahaan
multinasional dalam
hal
efisiensi
produksi.
Perusahaan multinasional mampu menekan biaya produksi dan menjual produk
dengan
harga
yang
lebih
murah
dibandingkan dengan
perusahaan
lokal.
Perusahaan lokal akan kalah bersaing dari perusahaan multinasional, sehingga
mereka
akan
meminta
proteksi. Tingginya
permintaan proteksi
akan
meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk membiayai proteksi tersebut.
2.1.4. Perkembangan Teori FDI
Munculnya investasi asing khususnya FDI tidak bisa dilepaskan dari
pemikiran-pemikiran yang menjadi dasar digunakannya FDI di dunia Internasional.
Pemikiran-pemikiran tersebut pada hakekatnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
commit to user
20
a) Teori Ketidaksempurnaan Pasar Sthepen Hymer
Teori ini mengemukakan bahwa FDI merupakan efek langsung dari
adanya pasar yang tidak sempurna. Stephen Hymer sendiri dianggap sebagai
pelopor dalam teori investasi luar negeri, yang menekankan peranan keunggulan
spesifik perusahaan dan ketidaksempurnaan pasar dalam menjelaskan motivasi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
atau tujuan yang mendasari perusahaan dalam melakukan investasi.
Pengembalian investasi yang lebih tinggi diluar negeri tidak menjamin
kelengkapan penjelasan arus modal, karena pengembalian investasi itu sendiri
bisa diartikan bahwa modal akan lebih efisien bila dialokasikan melalui pasar
modal dan tidak memerlukan pemindahan perusahaan. Sehubungan dengan
pengembalian investasi yang lebih tinggi dengan mengakuisisi maupun merger
dengan
perusahaan yang sudah ada dan potensial dinegara tuan rumah,
diharapkan dapat menutup kerugian ketidakunggulan operasi perusahaan tersebut
diluar negeri.
Dengan memilikki keunggulan tertentu seperti, akses terhadap sumber
modal yang lebih mudah dan relatif besar, adanya pasar bahan mentah dengan
skala besar, dan memilikki keahlian manajemen, keterampilan pemasaran
mendorong pengembalian investasi yang diperoleh perusahaan akan semakin
besar.
b) Teori Internalisasi Alan M. Rugman
Teori ini sangat mengandalkan konsep biaya transaksi yang menjelaskan
bahwa motivasi atau tujuan perusahaan-perusahaan multinasional, melakukan
penanaman modal dalam bentuk FDI adalah untuk mengambil keuntungan dari
efisiensi internal lingkungan dari negara tujuan FDI (Host Country) (Griffin dan
commit to user
21
Pustay,2009,171-172). Dalam teori internalisasi yang dipopulerkan oleh Alan M.
Rugman ini menjelaskan ada tiga jenis variabel lingkungan yang menjadi
perhatian, yaitu ekonomi, non ekonomi dan pemerintah.
Variabel ekonomi biasanya berupa tenaga kerja dan modal, teknologi dan
tersedianya sumber daya alam dan ketrampilan manajemen. Variabel non
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ekonomi meliputi variabel politik, sosial dan budaya yang pada setiap negara
mempunyai kekhasan masing-masing , yang satu dengan lainnya berbeda-beda. Di
samping kedua variabel tersebut masih ada satu variabel yang harus diperhatikan
oleh perusahaan PMA yaitu variabel pemerintahan di mana modal asing tersebut
akan masuk. Bagaimana ciri khas atau sifat khas pemerintah negara yang akan
dimasuki modal asing tersebut perlu menjadi pertimbangan.
Setiap pemerintah mempunyai kebijakan sendiri-sendiri dalam intervensi
masuknya modal asing. Aparatur pemerintah suatu negara yang harus
diperhatikan bisa bermacam-macam, mulai dari sistem perijinan, pejabat
pelabuan, pejabat bea cukai, pejabat ketenagakerjaan, pemerintah daerah bisa
berbeda-beda karakter penanganannya. Faktor politik, stabilitas keamanan sebagai
faktor non ekonomi juga perlu mendapat perhatian karena hal ini akan sangat
mempengaruhi iklim penanaman modal dan sangat menentukan arus aliran modal
dari negara maju ke negara berkembang.
c) Teori Heckscher – Ohlin Model (H-O Theory)
Teori ini dikemukakan oleh Eli Heckscher dan Bertil Ohlin, dimana teori
ini mendasarkan pembahasan yang bermula dari teori keunggulan komparatif dari
David Ricardo dengan memprediksi pola perdagangan dan produksi berdasarkan
factor endowments. Model H-O menunjukkan bahwa keunggulan komparatif
commit to user
22
dipengaruhi oleh interaksi sumber daya yang dimilikki masing-masing negara
(faktor produksi yang berkelebihan) dan teknologi produksi (yang mempengaruhi
intensitas penggunaan faktor produksi yang berbeda-beda).
Teori model H-O ini menggunakan beberapa asumsi dasar dalam
pembahasan teorinya yakni antara lain (Salvatore, 1997: 118-119) :
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
· Ada dua negara, dua barang yang sama dan dua faktor produksi yang sama
dimana jumlahnya tetap dan diasumsikan berbeda di masing-masing negara.
· Teknologi di dua negara ini adalah sama, sehingga fungsi produksi di kedua
negara tersebut adalah sama.
· Produksi adalah bersifat imbal balik yang tetap (constant return to scale) untuk
kedua komoditas di kedua negara.
· Kedua komoditas mempunyai faktor intensitas yang berbeda, dan faktor
intensitas komoditas adalah sama untuk semua rasio harga dari faktor produksi.
· Selera diasumsikan sama di kedua negara tersebut.
· Persaingan sempurna terjadi di kedua negara.
· Faktor produksi diasumsikan memilikki pergerakan perpindahan sempurna di
masing-masing negara, namun tidak dapat berpindah anatara kedua negara
tersebut.
· Diasumsikan tidak ada biaya transportasi.
· Diasumsikan tidak ada kebijakan yang membatasi pergerakan barang komoditas
antar negara atau kebijakan yang mencoba untuk mempengaruhi penentuan
harga dan output dari pasar.
commit to user
23
d) Teori Product Cycle Raymond Vernon
Teori yang dikembangkan oleh Raymond Vernon pada tahun 1966 ini
pada dasarnya berhubungan dengan siklus hidup sebuah produk baru dan
dampaknya pada perdagangan internasional, dimana produk baru ini memilikki tiga
tahapan. Pada tahap produk baru (new-product stage), suatu perusahaan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
mengembangkan dan memperkenalkan suatu produk inovatif, seperti mesin,
komputer pribadi, sebagai jawaban atas anggapan kebutuhan dalam pasar dalam
negeri. Karena produknya masih baru, perusahaan yang berinovasi tersebut tidak
yakin apakah ada pasar yang menguntungkan bagi produk itu. Eksekutif-eksekutif
dari perusahaan tersebut harus memantau segala reaksi pelanggan dari dekat untuk
memastikan bahwa produk baru itu memuaskan kebutuhan-kebutuhan konsumen.
Tahap yang kedua adalah tahap kedewasaan produk (maturing-product
stage). Pada tahapan ini, terjadi permintaan untuk produk tersebut yang terus
berkembang ketika konsumen mulai mengenali nilainya. Perusahaan yang
berinovasi
tersebut
membangun
pabrik-pabrik
baru
untuk
memperbesar
kapasitasnya dan memenuhi permintaan dalam dan luar negeri untuk produknya.
Pesaing-pesaing dalam negeri dan luar negeri mulai muncul, tergiur oleh prospek
pendapatan yang menguntungkan.
Tahapan terakhir dari proses ini adalah tahap standarisasi produk
(standardized-product stage). Produk tersebut lebih merupakan suatu komoditas,
dan perusahaan-perusahaan dipaksa untuk menurunkan biaya pembuatannya
serendah mungkin dengan memindahkan produksi ke fasilitas di negara-negara
yang biaya tenaga kerjanya murah. Hasilnya, produk tersebut mulai diimpor ke
commit to user
24
pasar dalam negeri perusahaan pelopor tersebut, baik oleh perusahaan itu maupun
pesaing-pesaingnya.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Sumber : Raymond Vernon (1966:199)
Gambar 2.2.
Tahapan Perkembangan Produk
Pada tahun 1979 Raymond Vernon menyarankan untuk dilakukan
modifikasi
terhadap
sebelumnya. Pokok
teori
siklus
permasalahan
hidup produk
utama
yang
yang
dia
kemukakan
dianggap penting
untuk
dimodifikasi adalah mengenai lokasi produk itu diproduksi dan diperkenalkan
pertama kali. Mengingat perusahaan multinasional saat ini memiliki cabang-cabang
dan perwakilan di seluruh dunia, dan pengetahuan terhadap kondisi produksi di
commit to user
25
luar Amerika Serikat lebih lengkap dibandingkan saat periode teori ini
diperkenalkan pada tahun 1966.
e) Teori Eclectic ApproachJ. H. Dunning
Teori ini menjelaskan bahwa fenomena distribusi FDI dapat dipahami
melalui tiga kerangka utama yaitu Ownership, Location, dan Internalization (OLI),
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
adapun penjelasan dari ketiga komponen itu adalah sebagai berikut (J. H. Dunning,
1994, 2001; Krugman dan Obstfeld, 2003; Griffin dan Pustay,2009) :
· Ownership (Keunggulan kepemilikan)
Dunning menjelaskan bahwa faktor kepemilikkan adalah kondisi utama
yang harus dimilikki oleh investor yang ingin menanamkan modalnya di negara
lain. Untuk dapat melakukan penanaman modal asing langsung sebuah perusahaan
harus memilikki sebuah produk atau sebuah proses produksi yang tidak dimilikki
oleh perusahaan lainnya.
Tidak menutup kemungkinan bahwa bentuk kepemilikkan tersebut tidak
berwujud benda, akan tetapi dapat berupa merek dagang atau kualitas reputasi.
Manfaat dari ownership atau kepemilikkan adalah memberikan kepada perusaan
daya saing yang sangat berharga sehingga mampu mengurangi hal-hal yang kurang
menguntungkan dalam mengelola bisnis di luar negeri.
· Location (Keunggulan lokasi)
Lokasi mempunyai peranan yang sangat besar dalam hal penanaman modal
asing langsung. Lokasi di luar negeri yang baik akan memberikan manfaat
berupakeuntungan bagi investor untuk memproduksi di luar negeri dibandingkan di
negeri sendiri. Biaya transportasi dan hambatan-hambatan terhadap perdagangan
akan menentukan pemilihan lokasi dari FDI. Lokasi yang baik biasanya juga
commit to user
26
dihubungkan dengan ketersediaan sumberdaya. Misalnya perusahaan Caterpillar
memproduksi buldoser di Brasil untuk menikmati biaya buruh yang lebih murah
dan menghindari tembok tarif yang tinggi atas barang-barang yang diekspor dari
pabrik-pabriknya di Amerika Serikat.
· Internalization (Keunggulan internalisasi)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Pada bagian ini dijelaskan bahwa FDI akan lebih menguntungkan bagi
perusahaan multinasional untuk melakukan transaksi misalnya, input, teknologi,
dan manajemen di dalam sebuah perusahaan (within a firms). Hal ini akan
menjamin hak kepemilikkan atas keunggulan spesifik yang telah dimilikki. Dengan
kata lain, perusahaan tersebut harus memperoleh keuntungan yang lebih besar
dengan mengendalikan aktivitas bisnisnya di luar negeri daripada dengan menyewa
perusahaan lokal yang independen untuk menyediakan jasa tersebut.
f) Teori Macroeconomic Approach Kiyoshi Kojima
Setiap negara mempunyai beberapa faktor produksi dan permintaan yang
berbeda-beda secara internasional. Meskipun beberapa negara juga dilengkapi
dengan tenaga kerja atau sumber daya alam mereka tidak dapat menghasilkan
efisiensi
karena
ketidaktersediaan
barang
intermediate,
yaitu
kapasitas
manajerial,ilmu pengetahuan dan teknologi. Kojima (1982) mencoba untuk
mengintegrasikan teori perdagangan dengan FDI dan menyarankan bahwa FDI
diperlukan untuk membuat faktor pasar lebih kompetitif dan efisien di tingkat
Internasional. Selain itu, juga untuk meningkatkan proses produksi di negara yang
diberkati dengan sumber daya tertentu.
Dengan masuknya FDI akan mengakibatkan peningkatan produksi dan
ekspor jika ditransfer dalam bentuk paket modal, keahlian manajerial dan teknologi
commit to user
27
dari sebuah industri yang memiliki kelemahan perbandingan dalam investasi negara
dibandingkan dengan negara penerima. Sehingga memberikan kontribusi untuk
keuntungan produktivitas dan perbandingan dari negara tuan rumah. Kemudian
kojima menamakan kondisi tersebut sebagai FDI dengan orientasi pada
perdagangan (the trade oriented) yang khususnya diterapkan oleh Jepang.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Di sisi lain, jika FDI bergerak keluar dari sebuah industri yang memiliki
keunggulan komparatif dalam investasi ke negara lain, akan mengakibatkan
kerugian efisiensi dengan cara pemblokiran reorganisasi perdagangan internasional.
Cara tersebut kemudian disebut sebagai FDI dengan orientasi anti perdagangan
(anti trade oriented). Tipe seperti ini sering digunakan investor-investor dari
Amerika.
2.2. Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Dengan FDI
Profesor Simon Kuznets (di dalam Todaro, 2000:144) mendefinisikan
pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara
yang bersangkutan
untuk menyediakan
berbagai barang ekonomi kepada
penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh
adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, institusional, dan
ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.
Masing-masing dari ketiga komponen pokok dari definisi itu sangat penting
untuk diketahui terlebih dahulu yaitu sebagai berikut :
a) Kenaikan output secara berkesinambungan adalah manifestasi atau perwujudan
dari apa yang disebut sebagai pertumbuhan ekonomi, sedangkan kemampuan
commit to user
28
menyediakan berbagai jenis barang itu sendiri merupakan tanda kematangan
ekonomi (economic maturity) di suatu negara yang bersangkutan.
b) Perkembangan teknologi merupakan dasar atau prakondisi bagi berlangsungnya
suatu pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
c) Untuk mewujudkan potensi pertumbuhan yang terkandung didalam teknologi
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
baru, maka perlu diadakan serangkaian penyesuaian kelembagaan, sikap, dan
ideologi.
Pertumbuhan ekonomi menurut Samuelson (2004:249-252) menjelaskan
bahwa pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya perluasan atau peningkatan dari
Gross Domestic Product potensial/output dari suatu negara. Ada 4 faktor yang
menyebabkan pertumbuhan ekonomi diantaranya,sumber daya manusia, sumber daya
alam, pembentukan modal, serta perubahan teknologi dan inovasi.
Untuk mengukur adanya pertumbuhan ekonomi dari suatu negara dapat
dilihat dari peningkatan jumlah barang dan jasa dalam perekonomian. Peningkatan
barang dan jasa tersebut dapat diartikan sebagai nilai dari Gross Domestik Produk
(GDP), sehingga nilai GDP bisa digunakan sebagai alternatif dalam mengukur
persentase pertumbuhan ekonomi auatu negara. GDP sendiri didefinisikan sebagai
seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai sektor atau lapangan usaha yang
melakukan kegiatan usahanya secara domestik atau agregat.
Cara menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara
dari tahun ke tahun dapat di estimasi dengan data-data pendapatan nasional (GDP).
Dalam penghitungan pendapatan nasional (GDP) dibedakan menjadi dua metode.
Pertama, pendapatan nasional (GDP) yang dihitung berdasarkan pada harga-harga
yang berlaku pada tahun tersebut atau GDP nominal. Apabila menggunakan harga
commit to user
29
berlaku, maka nilai pendapatan nasional (GDP) menunjukkan kecenderungan yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun. Perubahan tersebut dikarenakan oleh
pertambahan barang dan jasa dalam perekonomian serta adanya kenaikan-kenaikan
hargayang berlaku dari waktu ke waktu.
Kedua, pendapatan nasional berdasarkan harga tetap (GDP riil) yakni
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
perhitungan pendapatan nasional dengan menggunakan harga yang berlaku pada satu
tahun (tahun dasar) yang seterusnya digunakan untuk menilai barang dan jasa yang
dihasilkan pada tahun-tahun berikutnya. Nilai pendapatan nasional yang diperoleh
secara harga
tetap ini dinamakan pendapatan nasional riil. Adapun konsep
perhitungan pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan data GDP dapat dijelaskan
sebagai berikut :
(2.1)
dimana : Gt
= Pertumbuhan ekonomi periode t (triwulan atau tahunan)
GDPRt
= Gross Domestik Produk Riil periode t (harga konstan)
GDPR(t-1)
= Gross Domestik Produk Riil periode sebelumnya
Apabila interval waktu lebih dari satu periode maka perhitungan pertumbuhan
ekonomi dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan eksponensial yaitu :
GDPRt = GDPR0. (1+r)2
(2.2)
dimana : GDPRt
= Gross Domestik Produk Riil periode t
GDPR0
= Gross Domestik Produk Riil periode 0
r
= Tingkat pertumbuhan
t
= Jarak periode
Berdasarkan penjelasan diatas pada dasarnya pertumbuhan ekonomi
mencerminkan kondisi aliran barang dan jasa pada suatu perekonomian. Semakin
commit to user
30
besar peningkatan aliran barang dan jasa akan menyebabkan adanya kenaikan pada
pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi merupakan variabel
ekonomi makro yang bisa digunakan sebagai indikator besarnya pasar (market size)
suatu negara. Sehingga terdapat hubungan yang positif antara pertumbuhan ekonomi
dengan FDI, dimana kenaikan pertumbuhan ekonomi mengindikasikan adanya
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
kondisi pasar yang potensial (market potential) yang akan menarik para investor
asing untuk melakukan investasi di dalam perekonomian tersebut (CMCG, 2003).
Menurut ODI (di dalam Dermiham dan Masca, 2008) menjelaskan bahwa
pertumbuhan GDP (GDP Growth) sebagai indikator pertumbuhan ekonomi
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan investor
dalam menanamkan modalnya dalam bentuk FDI. Lebih lanjut Kusumastuti (2008)
melakukan penelitian determinan FDI di ASEAN 6, China, India, dan Korea Selatan
1999-2004. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa investasi asing yang masuk
ke suatu negara dalam jangka pendek maupun jangka panjang dipengaruhi oleh
kinerja ekonomi makro salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi yang memilikki
hubungan secara positif dan signifikan.
2.3. Hubungan Antara Nilai Tukar Dengan FDI
Nilai tukar atau kurs adalah harga satu satuan mata uang dalam satuan mata
uang lain. Nilai tukar valuta asing ditentukan dalam pasar valuta asing, yaitu pasar
tempat berbagai valuta asing yang berbeda diperdagangkan (Samuelson dan
Nordhaus, 2004).
Menurut Kuncoro (1996) mendefinisikan nilai tukar atau kurs merupakan
harga atau nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang asing. Para pelaku dalam
commit to user
31
pasar internasional amat peduli terhadap penentuan kurs valuta asing (valas), karena
kurs valas akan mempengaruhi biaya dan manfaat ”bermain” dalam perdagangan
barang, jasa dan surat berharga. Faktor-faktor fundamental yang diduga kuat
berpengaruh kuat terhadap kurs valas adalah jumlah uang beredar, pendapatan riil
relatif, harga relatif, perbedaan inflasi, perbedaan suku bunga, dan permintaan serta
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
penawaran asset di kedua negara.
Pada perkembangannya Mankiw (2000) membedakan nilai tukar menjadi
dua jenis yaitu, nilai tukar nominal yang merupakan harga relatif uang dua negara,
nilai tukar riil adalah harga relatif dari barang-barang kedua negara. Sedangkan
perubahan nilai tukar dibedakan menjadi apresiasi dan depresiasi. Apresiasi
merupakan suatu peningkatan nilai tukar mata uang yang dihitung oleh jumlah mata
uang asing yang dibelinya. Depresiasi adalah suatu penurunan nilai mata uang asing
yang dihitung oleh jumlah mata uang asing yang dibelinya.
Untuk mengukur besarnya nilai tukar riil yaitu dengan cara menghitung kurs
nominal dan tingkat harga di kedua negara. Jika nilai tukar riil adalah tinggi, barangbarang luar negeri akan relatif murah, dan barang-barang domestik relatif mahal. Jika
nilai tukar riil adalah rendah, barang-barang luar negeri relatif mahal, dan barangbarang domestik relatif murah. Perhitungan nilai tukar riil dapat ditunjukkan sebagai
berikut :
ɛ = ex (P/P*)
dimana : ɛ= nilai tukar riil, e= nilai tukar nominal, P = tingkat harga negara
(2.3)
A, dan
P* = tingkat harga negara B
Dari persamaan diatas juga menunjukkan bahwa nilai tukar nominal
bergantung pada nilai tukar rill dan tingkat harga di kedua negara. Berdasarkan nilai
tukar riil, jika tingkat harga domestik P meningkat, maka nilai tukar nominal eakan
commit to user
32
turun karena nilai mata uang di negara A berkurang nilainya, satu nilai mata uang A
akan membeli lebih sedikit mata uang B. Di sisi lain, , jika tingkat harga domestik P*
meningkat, maka nilai tukar nominal e akan meningkat karena nilai mata uang di
negara B berkurang nilainya, satu nilai mata uang A akan membeli lebih banyak
mata uang B.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Hubungan nilai tukar terhadap pertumbuhan FDI bisa dilihat dari jalur upah
tenaga kerja (Klein dan Rosengen, 1992). Di negara industri dengan nilai tukar
mengambang, upah tenaga kerja ditentukan oleh pergerakan nilai mata uang.
Sehingga depresiasi mata uang domestik berdampak pada peningkatan FDI inflows
karena upah tenaga kerja yang murah. Di sisi lain, terjadinya apresiasi mata uang
domestik akan berdampak pada penurunan FDI inflows akibat tuntutan upah tenaga
kerja yang menjadi tinggi.
Menurut Chowdury dan Mark (2008) yang meneliti tentang dampak
volatilitas nilai tukar terhadap FDI melalui analisis impulse respon VECM diperoleh
hasil bahwa dengan adanya goncangan volatilitas nilai tukar mengakibatkan dampak
yang positif secara jangka panjang terhadap FDI. Hoang (2010) juga menyimpulkan
hasil yang sama dengan melakukan analisis dengan regresi data panel pendekatan
Random Effect Method (REM) yaitu koefisien regresi dari variabel nilai tukar
bertanda positif dan mempunyai pengaruh signifikan secara statistik terhadap FDI.
2.4. Hubungan Antara Tenaga Kerja Dengan FDI
Pengertian tenaga kerja menurut World Bank merupakantotal tenaga terdiri
dari orang-orang usia 15 dan atau lebih tua yang memenuhi definisi International
Labour Organization penduduk aktif secara ekonomi: semua orang yang memasok
commit to user
33
tenaga kerja untuk produksi barang dan jasa selama jangka waktu tertentu. Termasuk
yang bekerja maupun menganggur.
Sementara itu dalam prakteknya setiap negara memilikki perbedaan dalam
memberikan perlakuan definisi dari angkatan kerja itu sendiri. Seperti kelompok
angkatan bersenjata dan pekerja musiman atau paruh waktu, secara umum angkatan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
kerja mencakup angkatan bersenjata, pengangguran, dan orang yang baru mencari
kerja, tetapi tidak termasuk ibu rumah tangga, relawan dan pekerja di sektor
informal.
Tenaga kerja merupakan faktor yang terpenting dalam proses produksi.
Sebagai sarana produksi, tenaga kerja lebih penting daripada sarana produksi yang
lain seperti bahan mentah, tanah, air, dan sebagainya. Karena manusialah yang
menggerakkan semua sumber-sumber tersebut untuk menghasilkan barang (Bakir
dan Manning, didalam Tindaon, 2011).
Pada dasarnya tenaga kerja dibagi dalam dua kelompok, yaitu:
a) Angkatan kerja yaitu tenaga kerja berusia 10 tahun yang selama seminggu yang
lalu mempunyai pekerjaan, baik yang bekerja maupun yang sementara tidak
bekerja karena suatu sebab. Di samping itu, mereka yang tidak mempunyai
pekerjaan tetap sedang mencari pekerjaan atau mengharapkan pekerjaan.
b) Bukan angkatan kerja yaitu tenaga kerja yang berusia 10 tahun ke atas
yang selama seminggu yang lalu hanya bersekolah, mengurus rumah
tangga,
dan
sebagainya
dan
tidak
melakukan
kegiatan
yang
dapat
dikategorikan bekerja, sementara tidak bekerja atau mencari kerja. Ketiga
golongan dalam kelompok bukan angkatan kerja sewaktu-waktu dapat
commit to user
34
menawarkan jasanya untuk bekerja. Oleh sebab itu kelompok ini sering
dinamakan potential labor force.
Teori tentang ketenagakerjaan yang dikemukakan oleh Lewis menjelaskan
bahwa kelebihan pekerja merupakan kesempatan dan bukan masalah. Kelebihan
pekerja satu sektor akan memberikan andil terhadap pertumbuhan output dan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
penyediaan pekerja di sektor lain. Selanjutnya Lewis mengemukakan bahwa ada
dua sektor di dalam perekonomian negara sedang berkembang, yaitu sektor
modern dan sektor tradisional. Sektor tradisional tidak hanya
berupa
sektor
pertanian di pedesaan, melainkan juga termasuk sektor informal di perkotaan
(pedagang kaki lima, pengecer, pedagang angkringan). Sektor informal mampu
menyerap kelebihan tenaga kerja
yang ada selama berlangsungnya proses
industrialisasi, sehingga disebut katub pengaman ketenagakerjaan (Todaro, 2000).
Dengan terserapnya kelebihan tenaga kerja disektor industri (sektor
modern) oleh sektor informal, maka pada suatu saat tingkat upah di pedesaan
akan meningkat. Peningkatan upah ini akan mengurangi perbedaan tingkat
pendapatan antara pedesaan dan perkotaan, sehingga kelebihan penawaran pekerja
tidak menimbulkan masalah pada pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya kelebihan
pekerja justru merupakan modal untuk mengakumulasi pendapatan, dengan
asumsi perpindahan tenaga kerja dari sektor tradisional ke sektor modern berjalan
lancar dan perpindahan tersebut tidak pernah menjadi terlalu banyak.
Ketersediaan tenaga kerja memilikki hubungan yang erat dengan aktivitas
investasi. Karena dalam operasional kegiatan produksi perusahaan membutuhkan
input faktor produksi yang salah satunya adalah tenaga kerja itu sendiri. Sesuai yang
dikemukan oleh Nicholson W (2002) menjelaskan bahwa fungsi produksi suatu
commit to user
35
barang atau jasa tertentu (q) adalah q = f (K, L) dimana k merupakan modal dan L
adalah tenaga kerja yang memperlihatkan jumlah maksimal suatu barang/jasa yang
dapat diproduksi dengan menggunakan kombinasi alternatif antara K dan L maka
apabila salah satu masukan ditambah satu unit tambahan dan masukan lainnya
dianggap tetap akan menyebabkan tambahan keluaran yang dapat diproduksi.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Tambahan keluaran yang diproduksi inilah yang disebut dengan produk
fisik marjinal (Marginal Physcal Product). Selanjutnya dikatakan bahwa apabila
jumlah tenaga kerja ditambah terus menerus sedang faktor produksi lain
dipertahankan konstan, maka pada awalnya akan menunjukkan peningkatan
produktivitas namun pada suatu tingkat tertentu akan memperlihatkan penurunan
produktivitasnya serta setelah mencapai tingkat keluaran maksimal setiap
penambahan tenaga kerja akan mengurangi pengeluaran.
Menurut Pourshahabi (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
semakin tinggi tingkat sumber daya manusia akan berasosiasi positif terhadap
keuntungan yang didapatkan dari kegiatan investasi termasuk FDI.Sehingga bisa
dijelaskan bahwa adanya ketersediaan tenaga kerja berhubungan positif terhadap
penanaman modal tidak terkecuali dalam bentuk FDI.
Seperti diketahui salah satu tujuan adanya FDI adalah untuk mencari
sumber daya (resource seeking). Sumber daya yang dimaksud diantaranya adalah
ketersediaan tenaga kerja itu sendiri sebagai penunjang kegiatan produksi
perusahaan, selain itu dengan penawaran tenaga kerja yang banyak membuat harga
dari tenaga kerja itu sendiri menjadi murah, sehingga perusahaan bisa memangkas
biaya produksinya.
commit to user
36
2.5. Hubungan Antara Infrastruktur Dengan FDI
Pengertian Infrastruktur menurut Moteff dan Parformak (2004) adalah
sebagai sarana prasarana dengan karakteristik umum modal yang tinggi dan investasi
publik yang intensif di semua tingkat pemerintah. Sedangkan Torrisi (2009)
menyatakan bahwa infrastruktur merupakanjumlah material, lembaga, fasilitas
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
pribadi dan data yang tersedia untuk pelaku ekonomi yang berkontribusi dalam
pemerataan pendapatan dari alokasi sumber daya pada tingkat kegiatan ekonomi
secara maksimal.
Para ekonom dan perencana membedakan jenis infrastruktur menjadi
infrastruktur ekonomi dan sosial infrastruktur. Infrastruktur ekonomi didefinisikan
sebagai infrastruktur yang mempromosikan aktivitas ekonomi, seperti jalan, jalan
raya, rel kereta api, bandar udara, pelabuhan laut, listrik, telekomunikasi, pasokan air
dan sanitasi. Infrastruktur sosial (seperti sekolah, perpustakaan, Universitas, klinik,
rumah sakit, pengadilan, museum, teater, taman bermain, taman, air mancur dan
patung-patung) didefinisikan sebagai infrastruktur yang mempromosikan kesehatan,
pendidikan, dan standar kegiatan budaya penduduk baik yang berdampak langsung
maupun tidak langsung pada kesejahteraan (Snieska dan Simkunaite, 2009).
Menurut UN-Habitat Report (2011) menjelaskan bahwa infrastruktur
ekonomi dapat lebih lanjut dibagi menjadi tiga kategori: utilitas (energi, pipa gas,
telekomunikasi, air dan sanitasi, pembuangan kotoran dan pembuangan limbah
padat), pekerjaan umum (jalan dan danau tampungan air di bendungan, irigasi dan
drainase) dan lainnya transportasi sub-sektor (kereta api, air dan pelabuhan, bandar
udara dan sistem angkutan urban). Dalam statistik keuangan nasional ini ditemukan
dalam dua sub-judul dari produk domestik bruto (PDB): listrik, gas dan air terletak di
commit to user
37
sektor sekunder; sementara transportasi, penyimpanan dan komunikasi ditemukan di
sektor tersier.
Secara umum, bentuk dari infrastruktur dapat dikategorikan menjadi
infrastruktur keras (hard infrastructure) dan infrastruktur lunak (soft infrastructure).
Bentuk infrastruktur mengacu pada struktur fisik atau fasilitas yang mendukung
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
masyarakat dan perekonomian, seperti, transportasi (pelabuhan, jalan, dan
perkerataapian); energi (pembangkit
listrik, jalur pipa minyak dan gas);
telekomunikasi (telepon dan internet), serta kebutuhan dasar (pasokan air bersih,
rumah sakit, klinik kesehatan , sekolah , irigasi,dll).
Dalam analisisnya Todaro (2000) menjelaskan bahwa tingkat ketersediaan
infrastruktur di suatu negara memilikki peranan yang sangat penting dalam
menentukan tingkat kecepatan serta perluasan pembangunan ekonomi.Ketersediaan
infrastruktur menjadi salah satu faktor penting bagi investor dalam mengambil
keputusan untuk melakukan investasi tidak terkecuali investasi dalam bentuk FDI.
Dimana dengan adanya infrastruktur yang baik akan berhubungan positif terhadap
besarnya aliran FDI yang masuk ke dalam negeri.
Peran infrastruktur secara luas sangat penting bagi rumah tangga dan
perusahaan. Ketersediaan dan kualitas infrastruktur menghasilkan keputusan yang
berbeda untuk berinvestasi , migrasi, dan pendirian lokasi bisnis. Ketersediaan
layanan infrastruktur secara signifikan mempengaruhi pembangunan daerah dan
negara. Hal ini merupakan alasan mengapa tingkat dan kualitas infrastruktur
memiliki dampak langsung terhadap produktivitas bisnis dan pertumbuhan investasi
(Snieska dan Simkunaite, 2009).
commit to user
38
Menurut Dermiham dan Masca (2008) dalam penelitiannya menemukan
bahwa variabel infrastruktur dengan menggunakan telephone mainlines sebagai
indikator, diperoleh hasil yaitu variabel infrastruktur berpengaruh positif dan
signifikan
secara statistik terhadap
FDI yang masuk ke dalam
negara
berkembang.Hal tersebut juga didukung oleh Catherine dan Rashid (2011) dalam
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
penelitianya menjelaskan bahwa dengan perkembangan infrastruktur yang baik akan
berpengaruh positif terhadap peningkatan aliran FDI. Dalam penelitian ini digunakan
telekomunikasi sebagai indikator perkembangan infrastruktur.
2.6. Penelitian Sebelumnya
Catherine dan Rashid (2011), melakukan penelitian terhadap determinan
FDI dengan memfokuskan pada variabel-variabel ekonomi makro dan karakteristik
di ASEAN 5 periode 1975 – 2009. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah analisis time series. Hipotesis dari penelitian ini adalah model faktor
ekonomi makro sama baiknya dengan model faktor karakteristik negara sebagai
determinan FDI di ASEAN 5. Variabel ekonomi makro yang digunakan terdiri atas,
pertumbuhan ekonomi, tingkat produksi, nilai tukar, inflasi, dan derajat keterbukaan
ekonomi. Sedangkan variabel karakteristik negara yang digunakan adalah
pendapatan perkapita, infrastruktur, telekomunikasi, jumlah tenaga kerja, jumlah
kedatangan turis, dan angka melek huruf. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa variabel-variabel faktor ekonomi makro memilikki hubungan yang kuat
sebagai determinan FDI di ASEAN 5, meskipun beberapa variabel tidak signifikan
dan berdampak sebaliknya di beberapa negara. Di sisi lain, variabel-variabel faktor
karakteristik negara dari model yang dihasilkan menunjukkan hubungan yang lemah
commit to user
39
sebagai determinan FDI. Sehingga peneliti tidak berani menarik kesimpulan secara
pasti terhadap determinan FDI di masing-masing negara.
Pourshahabi, Davoud, dan Ehsan (2011) dalam studinya di negara anggota
OECD periode 1997-2007 menggunakan dua model yang diestimati dengan metode
data panel. Pada model pertama, ditemukan bahwa investasi SDM, ukuran pasar,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
stabilitas politik, dan inflasi bepengaruh positif ddan signifikan terhadap FDI. Selain
itu, dampak keterbukaan ekonomi terhadap FDI di negara OECD juga berpengaruh
positif, meskipun tidak signifikan secara statistik. Pada model kedua, ditemukan hasil
bahwa FDI, keterbukaan ekonomi, pengeluaran konsumsi pemerintah, investasi
publik, dan investasi SDM mendorong pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.
Sedangkan, inflasi dan total utang mempunyai dampak negatif terhadap pertumbuhan
ekonomi, tetapi variabel inflasi tidak signifikan secara statistik.
Nurudeen, Wafure, dan Auta (2011) studi ini mengkaji faktor penentu utama
dari asing langsung investasi (FDI) di Nigeria, menganalisis data tahunan selama
1970-2008, menggunakan teknik OLS dan error correction techniques. Hasil regresi
menunjukkan bahwa keterbukaan ekonomi untuk perdagangan (OP), privatisasi
(PR), tingkat infrastruktur pembangunan (FR), dan depresiasi nilai tukar (EXC)
memiliki efek positif yang signifikan pada FDI inflows ke Nigeria. Selain itu, hasil
penelitian ini juga mengungkapkan bahwa ukuran pasar (PDB) negara tujuan FDI
memiliki efek negatif yang signifikan terhadap FDI, sementara inflasi memilikki
pengaruh signifikan dan positif terhadap FDI inflows ke Nigeria.
Srinivasan (2011) menggunakan pendekatan data panel random effect untuk
mengeksplorasi determinan FDI di negara south asian association for regional
cooperation (SAARC) periode 1970-2007. Hasil penelitian ini mengungkapkan
commit to user
40
bahwa ukuran pasar, GDP per kapita, keterbukaan perdagangan, fasilitas
infrastruktur, inflasi, tingkat resiko dan ketidakpastian, dan pembentukan negara
SAARC adalah faktor paling penting dalam menentukan FDI di negara-negara
SAARC. Selain itu, hasil menunjukkan bahwa variabel lain seperti investasi SDM,
tingkat industrialisasi, nilai tukar riil, investasi domestik tidak signifikan dalam
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
menarik FDI ke negara SAARC.
Peng, et al (2011) menggunakan fungsi impulse respon dan estimasi metode
variance decomposition untuk menyelidiki hubungan dinamis dua arah antara peran
regulasi dan FDI selama 1985 untuk 2009 di China. Hasil dari impulse respon
menunjukkan efek dampak regulasimenyebabkan nilai FDI menjadi menurun dalam
jangka panjang. Dengan adanya dugaan adanya dampak kerusakan yang ditimbulkan,
regulasi terhadap FDI yang dikeluarkan bergantung pada indikator regulasi yang
digunakan. Selain itu, hasil impulse respon juga menunjukkan respon yang positif
bahwa FDI akan mendorong kerusakan ekologi dan adanya intervensi kepada
pemerintah untuk memperlonggar standar regulasi yang telah ditetapkan.
Hoang (2010), melakukan analisis terhadap determinan FDI di negaranegara Asia Tenggara periode 1991-2009 dengan menggunakan pendekatan data
panel. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa ukuran pasar, keterbukaan
ekonomi, kualitas infrastruktur, sumber daya manusia, produktivitas tenaga kerja
adalah faktor utama yang berpengaruh positif terhadap aliran FDI. Selain itu,
kebijakan nilai tukar, tingkat suku bunga riil, resiko politik, dan kualitas institusi juga
berpengaruh terhadap aliran FDI. Secara mengejutkan, tenaga kerja yang murah
tidak mampu menarik aliran FDI di kawasan tersebut, karena investor asing lebih
commit to user
41
tertarik pada produktivitas tenaga kerja. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa
krisis keuangan Asia 1997 berdampak pada jumlah FDI yang masuk.
Kok dan Bernur (2009) melakukan investigasi terhadap determinan FDI
yang paling baik di negara berkembang. Analisis dilakukan dengan metode data
panel dengan menggunakan data 24 negara berkembang, periode 1983-2005 untuk
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
FMOLS dan 1976-2005 untuk cross section SUR. Hasil temuan dalam penelitian ini
adalah beberapa determinan FDI (volume perdagangan, jaringan telepon, gross
capital formation, dan pertumbuhan GDP perkapita) memilikki pengaruh yang kuat
dan positif terhadap FDI. Sedangkan, total utang/GDP dan inflasi memilikki dampak
negatif terhadap FDI. Pada penelitian ini variabel telekomunikasi dengan indikator
jaringan telepon menjadi determinan yang paling kuat pengaruhnya.
Bakir
dan
Alfawwaz
(2009)
penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengidentifikasikan determinan FDI di Jordan. Studi ini menggunakan model
gravity untuk melihat faktor penarik negara di kawasan Arab untuk menanamkan
FDI ke Jordan periode 1996-2007. Selain itu, juga untuk mengetahui dampak
perjanjian GAFTA terhadap FDI Jordan. Estimasi model dilakukan dengan metode
data panel terhadap beberapa negara dan periode waktu. Kesimpulan dari studi ini
menunjukkan ukuran pasar dengan indikator GDP dan GDP perkapita adalah
determinan utama FDI. Sedangkan, variabel jarak, hambatan umum, dan
ketersediaan tenaga kerja di masing-masing negara tidak signifikan terhadap FDI.
Adanya perjanjian GAFTA tidak signifikan mempengaruhi aliran FDI.
Yol dan Teng-teng (2009) melakukan investigasi terhadap faktor-faktor
jangka pendek dan jangka panjang yang mempengaruhi aliran FDI di Malaysia
periode 1975-2006. Alat analisis yang digunakan adalah VECM dengan variabel
commit to user
42
penelitian FDI, keterbukaan, nilai tukar riil, expor, GDP, dan infrastruktur. Hasil
temuan dari kajian ini adalah dalam jangka panjang keputusan investasi FDI ke
Malaysia secara positif dipengaruhi oleh nilai tukar riil, pertumbuhan GDP,
infrastuktur, dan dipengaruhi secara negatif oleh variabel ekspor. Sedangkan, dalam
jangka pendek, aliran FDI yang masuk ke Malaysia dipengaruhi secara negatif oleh
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
lag dari FDI sendiri, pertumbuhan GDP, infrastruktur, ekspor, serta dipengaruhi
secara positif oleh keterbukaan ekonomi, dan nilai tukar riil. Hasil error correction
term (ECT) menyatakan bahwa kurang lebih 12% ketidakseimbangan dalam aliran
FDI yang dikoreksi pada tiap tahunnya di Malaysia selama periode kajian.
Dermihan dan Masca (2008) melakukan studi eksplorasi dengan metode
model ekonometrika cross-sectional dengan sampel 38 negara berkembang periode
2000-2004. Dalam model ini variabel dependenya adalah FDI, sedangkan variabel
independentnya adalah, pertumbuhan GDP perkapita, tingkat inflasi, jaringan telepon
utama per 1000 orang dalam log, biaya tenaga kerja per pekerja di sektor industri
dalam log, derajat keterbukaan, resiko dan pajak korporasi. Berdasarkan hasil
analisis ekonometrika dalam model utama ditemukan bahwa pertumbuhan GDP
perkapita, jaringan telepon utama dan derajat keterbukaan mempunyai pengaruh
yang positif dan signifikan terhadap FDI. Tingkat inflasi dan pajak korporasi
berpengaruh negatif dan signifikan secara statistik. Biaya tenaga kerja berdampak
positif dan resiko berdampak negatif, namun keduanya tidak signifikan secara
statistik.
Kusumastuti (2008) melakukan analisis terhadap determinan FDI di negara
berkembang ASIA dan dampaknya terhadap pertumbuhan industri. Analisis
dilakukan dengan metode data panel untuk sampel 9 negara (ASEAN 6, China, India,
commit to user
43
dan Korea) periode 1999-2004. Pendekatan ekonometrika dengan data panel yang
digunakan adalah dengan fix effect dan random effect. Kesimpulan dari studi ini
adalah besarnya aliran FDI ditentukan oleh variabel resiko yang ada di negara tujuan
dan variabel ekonomi makro seperti inflasi, resiko, keterbukaan ekonomi, dan tingkat
pendidikan. Studi ini juga menemukan bahwa indeks persepsi korupsi dan performa
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
FDI pada periode sebelumnya juga patut dipertimbangkan. Selain itu, adanya indeks
daya saing dan ranking investasi diduga juga potensial dalam mempengaruhi FDI.
Pertumbuhan industri berhubungan positif dengan FDI inflows.
Chowdury dan Wheeler (2008) studi ini mempelajari dampak guncangan
ketidakpastian (volatilitas) nilai tukarterhadap investasi langsung asing (FDI) di
Kanada, Jepang, Britania Raya, dan Amerika Serikat. Analisis ini dilakukan dengan
menggunakan model VAR yang berisi variabel tingkat harga, GDP riil, nilai tukar
riil, volatilitas nilai tukar riil, suku bunga, dan FDI. Hasil dari dekomposisi varians
menunjukkan implikasi kebijakan publik. Di Kanada, Jepang, dan Amerika Serikat,
inovasi variabel ketidakpastian nilai tukar secara signifikan menjelaskan hubungan
jangka panjang dengan FDI. Hasil impulse respon menunjukkan bahwa guncangan
variabel volatilitas nilai tukar telah berdampak positif terhadap FDI dan berlangsung
dengan lag.
Wijeweera dan Mounter (2008) melakukan kajian terhadap dampak jangka
panjang perubahan variabel-variabel ekonomi makro terhadap FDI inflows di
Srilanka. Dalam melakukan estimasi model, teknik yang digunakan dalam penelitian
ini adalah VAR dan variabel yang digunakan adalah FDI, ukuran pasar, GDP riil,
perdagangan, indikator tingkat upah, nilai tukar, dan indikator keterbukaan. Temuan
menunjukkan bahwa, dari kelima variabel penjelas yang digunakan, tingkat upah
commit to user
44
menjadi determinan penting dalam menarik FDI ke Srilanka. Arah hubungan FDI
dengan tingkat upah adalah negatif. Namun, indikator ekonomi utama lainnya seperti
PDB, nilai tukar, suku bunga, dan tingkat perdagangan luar negeri juga harus
diberikan pertimbangan dalam kebijakan yang dirancang untuk menarik FDI inflows.
Dalam jangka panjang hubungan antara FDI dengan GDP riil, FDI periode
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
sebelumnya, keterbukaan, perdagangan adalah positif, sedangkan adanya depresiasi
nilai tukar mata uang Srilanka berdampak negatif terhadap FDI inflows 10 tahun
terakhir ini.
Tang, E.A Selvanathan, dan S. Selvanathan (2008) dalam peneletian ini
melihat hubungan kausal antara investasi langsung asing (FDI), investasi domestik
dan pertumbuhan ekonomi di Cina untuk periode tahun 1988-2003. Untuk
melakukan analisis, dalam penelitian ini digunakan sistem VAR multivarian dengan
model koreksi kesalahan (ECM) atau dikenal sebagai VECM dengan fungsi impulse
respon dan FEDV. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan kausalitas dua
arah antara investasi domestik dan pertumbuhan ekonomi, sedangkan hubungan FDI
terhadap investasi domestik dan pertumbuhan ekonomi adalah kausalitas satu arah
saja. FDI ditemukan menjadi pelengkap adanya investasi domestik. Dengan
demikian, FDI tidak hanya membantu dalam mengatasi kekurangan modal, itu juga
merangsang pertumbuhan ekonomi dengan menjadi pelengkap investasi domestik di
Cina.
Dhakal, Mixon, dan Upadhyaya (2007), mengidentifikasikan faktor-faktor
yang menentukan FDI inflows di negara-negara sosialis timur dan Eropa Tengah
periode 1995-2004. Variabel-variabel penelitian yang digunakan adalah FDI, GDP
riil, tingkat inflasi, nilai tukar riil, neraca transaksi berjalan, keterbukaan ekonomi,
commit to user
45
dan deregulasi pemerintah. Estimasi data dilakukan dengan menggunakan metode
data panel. Hasil dari studi ini menyimpulkan bahwa nilai tukar riil, keterbukaan
ekonomi dan deregulasi adalah faktor utama determinan FDI inflows di negara
tersebut. Dari hasil fix-effect estimator data panel menunjukkan variabel keterbukaan
ekonomi dan deregulasi pemerintah berpengaruh positif terhadap FDI, sedangkan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
perubahan nilai tukar riil dan tingkat inflasi berpengaruh negatif terhadap FDI. Di
lain sisi, ukuran pasar dengan indikator GDP secara statistik tidak berpengaruh
terhadap FDI.
Kim dan Yongyhyup (2007) penelitian ini menganalisa validitas variabel
ekonomi makro seperti, volatilitas nilai tukar, ketidakstabilan ekonomi makro dan
keterbukaan ekonomi, dalam menentukan intra-FDI inflows di ASEAN, Cina,
Jepang, dan Korea. Hasil empiris dengan menggunakan teknik OLS pool data
menunjukkan bahwa keterbukaan, nilai tukar, volatilitas nilai tukar, PDB per kapita
dan akumulasi cadangan asing secara statistik signifikan faktor yang menentukan
intra-FDI inflows. Variabel lain seperti ketidakstabilan faktor ekonomi makro tidak
signifikan. Variabel seperti keterbukaan dan volatilitas nilai tukar memiliki implikasi
langsung untuk FTA (foreign trade area), pengaturan mata uang kawasan, dan
dengan demikian untuk mewujudkan integrasi ekonomi Asia Timur. Temuan ini juga
menunjukkan bahwa FTA regional akan meningkatkan keterbukaan regional sebesar
10 persen dan meningkatkan intra-FDI inflows hampir 2 persen. Pengaturan nilai
tukar kawasan akan mengurangi volatilitas nilai tukar regional sebagian juga akan
meningkatkan intra-FDI inflows sekitar 10 persen.
Kurniati, Y., Prasmuko, A., dan Yanfitri (2007) penelitian ini dilakukan
oleh tiga orang peneliti dari BRE-DKM Bank Indonesia. Model yang digunakan di
commit to user
46
dalam penelitian ini adalah model Dunning dan model gravitasi dengan estimasi
dilakukan secara panel dan OLS. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data sekunder runtut waktu (time series) 1992-2006. Hasil temuan dari penelitian ini
adalah hasil pengujian empiris terhadap determinan FDI ke emerging Asia, dan
khususnya Indonesia memperkuat hasil survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
internasional seperti World Economic Forum, JICA dll mengenai motif dari Investor
asing menanamkan modalnya di Asia dan Indonesia, dimana investor menaruh
perhatian besar terhadap potensi pasar, masalah efisiensi terkait dengan tenaga kerja
dan infrastruktur, dan stabilitas finansial yang tercermin dari stabilitas nilai tukar
serta adanya insentif investasi yang dapat tercermin dari terlibatnya home dan host
countries dalam perjanjian investasi bilateral atau regional.
Aqeel dan Nishat (2005) melakukan identifikasi terhadap determinan
pertumbuhan FDI di Pakistan periode 1961-2003. Fokus utama studi ini adalah untuk
mempelajari bagaimana bervariasinya variabel atau indikator yang digunakan untuk
mencerminkan perdagangan, fiskal, dan liberalisasi sektor keuangan yang menarik
FDI masuk ke Pakistan. Studi ini menggunakan pendekatan analisis VECM untuk
mengidentifikasi variabel yangmenjadi determinan FDI di Pakistan. Studi ini
menganggap variabel tingkat tarif, nilai tukar, tingkat pajak, kredit untuk sektor
swasta dan indeks harga saham mampu menjelaskan FDI di Pakistan. Juga termasuk
upah dan PDB per kapita untuk menguji hipotesis permintaan relatif tenaga kerja dan
ukuran pasar. Semua variabel menunjukkan tanda-tanda yang benar secara statistik
signifikan kecuali untuk upah dan berbagi indeks harga. Hasil studi ini jelas
menekankan peran variabel kebijakan ini dalam menarik FDI dan menentukan
pertumbuhan dalam jangka pendek dan jangka panjang di Pakistan. Studi juga
commit to user
47
menunjukkan dampak yang positif dan signifikan pembentukan FDI terhadap
pertumbuhan ekonomi di Pakistan.
Nonnemberg dan Mendonea (2004) tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mencari pencerahan tentang determinan FDI di negara-negara berkembang. Dalam
rangka untuk melakukan studi tersebut, digunakan sebuah model yang berbasis
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
analisis data panel 38 negara berkembang (termasuk negara transisi ekonomi) untuk
periode 1975-2000. Kesimpulan utama penelitian ini bahwa FDI berkorelasi dengan
tingkat pendidikan, keterbukaan ekonomi, resiko, dan variabel yang berkaitan
dengan kinerja ekonomi makro seperti inflasi, resiko dan rata-rata tingkat
pertumbuhan ekonomi. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa FDI telah
berhubungan erat dengan kinerja pasar saham. Terakhir, dari sebuah pengujian
kausalitas antara FDI dengan GDP terdapat bukti yang menunjukan keberadaan
hubungan kausalitas GDP yang mendorong aliran FDI. Namun, hubungan yang
sebaliknya yaitu adanya FDI mendorong GDP tidak ditemukan.
Sarwedi (2002) model analisis yang digunakan dalam penelitian ini
merupakankarakteristik dalam negeri suatu negara, yang
akan dikombinasikan
dalam periode jangka pendek dan jangka panjang dengan menggunakan perhitungan
kuadrat terkecil sederhana (ordinary least square = OLS). Dengan mengaplikasikan
model koreksi kesalahan (error correction model=ECM) dan Uji Kausalitas Granger,
akan diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi investasi asing langsung (FDI) di
Indonesia selama periode 1978 – 2001. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa
variabel ekonomi (GDP, Growth, upah, dan ekspor) mempunyai hubungan positif
dengan FDI, sedangkan variabel
non ekonomi yaitu stabilitas politik (SP)
mempunyai hubungan negatif.
commit to user
48
2.7. Kerangka Pemikiran
Kemunculan FDI dianggap sebagai salah satu alternatif dalam pembiayaan
pembangunan ekonomi suatu negara. Mengingat, rendahnya tabungan nasional dan
ancaman krisis utang yang menyebabkan semakin sulitnya akses terhadap pinjaman
dana internasional. Tidak bisa dipungkiri keinginan setiap negara untuk menarik
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
investasi FDI ke dalam negeri telah menimbulkan adanya persaingan antar negara.
Untuk memenangkan persaingan tersebut masing-masing negara memiliki strategi
yang berbeda-beda. Kondisi tersebut mendorong kalangan akademis untuk mengkaji
faktor-faktor apa saja yang menentukan masuknya aliran FDI ke suatu negara.
Dalam perkembangannya penelitian-penelitian yang mengkaji determinan
FDI semakin bertambah banyak jumlahnya. Namun, semakin banyak hasil penelitian
yang ditemukan justru menimbulkan sebuah perdebatan panjang, bahkan sampai saat
ini masih berlangsung dan belum menemui kata sepakat. Inti dari perdebatan tersebut
adalah tidak adanya kesepakatan atas penentuan determinan FDI, dimana masingmasing memilikki kesimpulan dan cara yang berbeda-beda dalam menganalisis
determinan
FDI.
Sebagian
besar
dari
penelitian
sebelumnya
mencoba
menggabungkan teori, metode, serta sudut pandang yang berbeda-beda. Tujuan
penggabungan tersebut pada awalnya adalah untuk mendapatkan kesimpulan yang
bisa diterima dari sudut pandang manapun. Namun demikian, hasil yang diperoleh
justru terkesan menjadi ambigu.
Sebuah terobosan baru dilakukan Catherine dan Rashid (2011) yang
memfokuskan penelitannya bahwa ada dua faktor utama yang menarik aliran FDI ke
suatu negara yaitu fundamental ekonomi makro dan karakteristik negara.
Yang
dimaksud faktor ekonomi makro dalam penelitian ini adalah gambaran kinerja dan
commit to user
49
perkembangan perekonomian dari suatu negara secara keseluruhan. Sedangkan
faktor karakteristik negara menunjukkan ketersediaan fasilitas pendukung investasi
yang dimilikki oleh suatu negara. Kedua faktor tersebut dianggap memilikki
kekuatan yang sama baiknya sebagai determinan FDI. Kekurangan dari penelitian
tersebut terletak pada hasil analisis yang telah dilakukan banyak yang tidak
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
signifikan dan menunjukkan hubungan yang berlawanan dengan hipotesis teori yang
sudah ada, khususnya pada model faktor karakteristik negara.
Berdasarkan penjelasan tersebut dalam penelitian ini dilakukan untuk
melengkapi penelitian sebelumnya. Sedangkan yang membedakan penelitian ini
dengan sebelumnya adalah adanya penyerdahanaan konstruksi model dan variabel
yang digunakan. Determinan FDI yang difokuskan menjadi fundamental ekonomi
makro
dan
karakteristik
negara
akan
dianalisis
dalam
satu
kesatuan
model.Sedangkan, variabel yang digunakan sebagai indikator masing-masing
determinan dipilih berdasarkan observasi oleh peneliti.
Obyek penelitian ini adalah lima negara anggota ASEAN yaitu Indonesia,
Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan ditambah dengan China. Alasan utama
pemilihan objek penelitian ini berdasarkan atas adanya kebangkitan Ekonomi di
negara-negara ASEAN 5 dan khusunya China, diprediksi akan menjadi kekuatan
baru ekonomi Asia. Periode analisis penelitian ini dimulai dari tahun 1988 karena
merupakan awal dimulainya tren positif peningkatan FDI di negara-negara
berkembang, khususnya kawasan Asia Pasifik.
Pendekatan ekonometrika yang digunakan pada penelitian ini juga berbeda
dengan yang sebelumnya. Dalam analisis data penelitian ini akan digunakan metode
data panel untuk melihat perbandingan faktor fundamental ekonomi makro dan
commit to user
50
karakteristik negara sebagai determinan FDI di kawasan ASEAN 5 dan China. Selain
itu, juga akan digunakan analisis VAR untuk melihat pola pengaruh faktor
fundamental ekonomi makro dan karakteristik negara sebagai determinan FDI di
masing-masing negara. Adapun skema kerangka pemikiran dalam penelitian ini
dapat dijelaskan pada gambar berikut ini.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Determinan
FDI
Ekonomi makro
Karakteristik Negara
Pertumbuhan Ekonomi
Tenaga Kerja
Nilai Tukar
Infrastruktur
FDI Inflows
Gambar 2.3.
Skema Kerangka Pemikiran Penelitian
commit to user
51
2.8. Hipotesis
Berdasarkan atas tinjauan teori, penelitian sebelumnya, dan kerangka
pemikiran, maka dapat disusun hipotesis dari penelitian ini sebagai berikut :
Hipotesis 1 (h1)
:
Variabel-variabel fundamental ekonomi makro dan
karakteristik negara sama baiknya sebagaidigilib.uns.ac.id
determinan
perpustakaan.uns.ac.id
FDI di kawasan ASEAN 5 dan China.
Hipotesis 2 (h2)
:
Variabel-variabel fundamental ekonomi makro dan
karakteristik negara sebagai determinan, memilikki pola
pengaruh yang hampir sama pada masing-masing
negara ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Singapura,
Thailand, Filipina) dan China.
commit to user
52
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Ruang Lingkup Penelitian
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menganalisis data
sekunder dalam menguji hipotesis yang diajukan. Ruang lingkup yang digunakan
dalam penelitian ini merupakan kajian Ekonomi Makro dan Ekonomi Internasional.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis dan membandingkan determinan FDI
yang terdiri atas faktor ekonomi makro dan karakteristik negara di negara ASEAN 5
(Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina), dan China.
3.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa data sekunder
yang bersifat time series (runtut waktu) dan berbentuk yearly (tahunan) selama
periode 1988–2009. Data tersebut merupakan representasi dari variabel FDI dan
determinan FDI dari negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan
China. Variabel determinan FDI sendiri terdiri atas pertumbuhan ekonomi dan nilai
tukar sebagai indikator faktor ekonomi makro, sedangkan tenaga kerja dan
infrastruktur sebagai indikator karakteristik negara.
Semua data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil
publikasi
metadata
World
Bank
yang
bisa
diakses
melalui
website
http://data.worldbank.org. Secara ringkas data yang digunakan dalam penelitian ini
dapat dijelaskan pada tabel berikut ini.
commit to user
53
Tabel 3.1. Ringkasan Data Penelitian
No.
1
2
3
Variabel
FDI
Pertumbuhan
Ekonomi
Nilai Tukar
4
Tenaga Kerja
perpustakaan.uns.ac.id
5
Infrastruktur
Data
FDI net inflows
Satuan
Juta US$
Sumber
World Bank
GDP growth
Persen
World Bank
LCU per US$
World Bank
Official
Exchange Rate
Labor Force
Telephone lines
Juta Orang
Per 100 orang
World Bank
digilib.uns.ac.id
World Bank
3.3. Definisi Operasional Variabel
3.3.1. Variabel Dependen (Variabel Terikat)
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabelvariabel independennya. Adapun variabel dependen dalam penelitian ini adalah FDI
(Foreign Direct Investment) yang merupakan salah satu bentuk investasi langsung
yang bersifat jangka panjang, dilakukan oleh investor asing tidak hanya dalam
bentuk modal finansial saja tetapi juga berupa, asset (aktiva tetap), alih teknologi,
manajerial, dan modal intelektual. FDI ditandai dengan adanya arus modal
internasional dimana perusahaan dari suatu negara mendirikan atau memperluas
perusahaannya di negara lain, yang melibatkan bukan hanya pemindahan sumber
daya tetapi juga adanya pemberlakuan pengendalian atau kontrol.
FDI yang digunakan dalam penelitian ini adalah FDI net inflows dari negara
Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan China periode 1988-2009.
FDI net inflows yang dimaksud disini adalah arus investasi bersih yang masuk untuk
mengakuisisi keuntungan dari pengelolaan manajemen (10 persen atau lebih dari
saham hak suara) operasi perusahaan di dalam suatu perekonomian oleh investor.
FDI net inflows adalah jumlah dari ekuitas modal, reinvestasi pendapatan, modal
commit to user
54
jangka panjang lainnya, serta modal jangka pendek seperti yang ditunjukkan dalam
neraca pembayaran.
Didalam laporan perekonomian FDI net inflows ini menunjukkan arus
masuk bersih dari investor asing (arus masuk investasi baru dikurangi dengan
disinvestasi). Untuk memudahkan analisis data dalam penelitian ini variabel FDI
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(Foreign Direct Investment) yang menggunakan FDI net inflows sebagai
indikatornya diberi simbol dengan FDI.
3.3.2. Variabel Independen (Variabel Bebas)
Variabel dependen merupakan variabel yang mempengaruhi variabel
dependen. Dalam penelitian ini variabel independen yang akan dianalisis ada 4
(empat) variabel, antara lain :
a) Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi adalah terjadinya kenaikan kapasitas dalam jangka
panjang dari suatu negara untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada
penduduknya. Pertumbuhan ekonomi ditandai dengan adanya adanya perluasan atau
peningkatan dari Gross Domestic Product potensial/output (GDP Growth) dari
suatu negara, yang dihitung dari persentase pertumbuhan tahunan GDP harga
konstan di pasar berdasarkan mata uang lokal.
GDP yang dimaksud adalah total nilai tambah bruto produksi dalam negeri
ditambah dengan penerimaan pajak dan dikurangi subsidi yang tidak termasuk nilai
dari produk. GDP dihitung tanpa melakukan pengurangan terhadap depresiasi aset
dan penyusutan sumber daya alam. Untuk memudahkan analisis data dalam
penelitian ini variabel pertumbuhan ekonomi yang menggunakan GDP growth
sebagai indikatornya diberi simbol dengan EGROW.
commit to user
55
b) Nilai Tukar
Nilai tukar memilikki definisi sebagai harga atau nilai tukar mata uang lokal
terhadap mata uang asing. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai
tukar nominal resmi dari masing-masing negara yang akan diteliti. Kurs resmi
merujuk pada kurs yang telah ditentukan oleh otoritas nasional atau yang telah
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ditetapkan secara legal di pasar valuta.
Nilai tukar tersebut dihitung sebagai rata-rata tahunan yang didasarkan pada
rata-rata bulanan (mata uang lokal unit secara relatif terhadap dolar AS). Untuk
memudahkan analisis data dalam penelitian ini variabel Nilai Tukar yang
menggunakan Official Exchange Rate sebagai indikatornya diberi simbol dengan
EXCHR.
c) Tenaga Kerja
Tenaga kerja didefinisikan sebagai total tenaga terdiri dari orang-orang usia
15 dan atau lebih tua yang memenuhi definisi International Labour Organization
penduduk aktif secara ekonomi: semua orang yang memasok tenaga kerja untuk
produksi barang dan jasa selama jangka waktu tertentu.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data total angkatan kerja
(labor force) dari masing-masing negara. Untuk memudahkan analisis data dalam
penelitian ini variabel Tenaga Kerja yang menggunakan Total Labor Force sebagai
indikatornya diberi simbol dengan LABOR.
d) Infrastruktur
Infrastruktur didefinisikan sebagai bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar,
peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk
mendukung berfungsinya suatu sistem tatanan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
commit to user
56
Infrastruktur merupakan aset fisik yang dirancang dalam sistem sehingga mampu
memberikan pelayanan prima pada masyarakat.
Salah satu indikator yang sering digunakan dalam penelitian untuk melihat
perkembangan infrastruktur suatu negara adalah tersedianya jaringan telepon
(Telephone lines) yang diukur per 100 orang. Sehingga berdasar atas penelitianperpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
penelitian sebelumnya di dalam penelitian ini menggunakan Telephone lines sebagai
indikator (proxy) dari variabel infrastruktur. Untuk memudahkan analisis data dalam
penelitian ini variabel infrastruktur diberi simbol dengan INFRA.
3.4. Metode Analisis Data
3.4.1. Metode Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif
merupakan
metode
analisis data
yang
dilakukan dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya dengan tujuan agar mudah diinterpretasikan atau
dipahami. Dalam penelitian ini metode analisis deskriptif digunakan untuk
memberikan gambaran umum mengenai kondisi perkembangan variabel-variabel
penelitian di negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan China
selama periode 1988-2009. Variabel-variabel tersebut meliputi investasi FDI,
pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur.
3.4.2. Metode Analisis Kuantitatif
Metode
analisis
kuantitatif
adalah
metode
analisis
data
dengan
menggunakan perhitungan matematis. Metode analisis kuantitatif yang dilakukan
dalam penelitian ini adalah pendekatan ekonometrika dengan menggunakan analisis
Data Panel dan VAR. Kedua analisis tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
commit to user
57
1. Analisis Data Panel
a) Konsep dan Pengertian
Penggunaan
data panel
dalam
mengestimasi
data
didorong
atas
permasalahan dalam penelitian terkait dengan ketersediaan data untuk mewakili
variabel yang digunakan. Terkadang dalam penelitian ditemukan bentuk data dalam
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
series yang pendek sehingga proses pengolahan data dalam bentuk time series tidak
dapat dilakukan berkaitan dengan persyaratan jumlah data yang minim.
Terkadang juga ditemukan bentuk data dengan jumlah cross section yang
terbatas, sehingga sulit untuk dilakukan proses pengolahan data cross section untuk
mendapatkan informasi perilaku dari model yang akan diteliti. Dalam teori
ekonometrika, kedua kondisi tersebut salah satunya dapat dipecahkan dengan
menggunakan analisis data panel (pooled data) agar dapat diperoleh hasil estimasi
yang lebih baik dengan terjadinya peningkatan jumlah observasi yang berimplikasi
terhadap peningkatan derajat kebebasan (degree of freedom).
Menurut Baltagi (2005) menjelaskan bahwa ada beberapa keuntungan yang
diperoleh dari penggunaan analisis data panel. Dalam menjelaskan keuntungan data
panel tersebut Baltagi menggunakan penjelasan sebelumnya yang dikemukakan oleh
Klevmarken (1989) dan Hsiao (2003). Adapun keuntungan penggunaan data panel
yang dimaksud adalah sebgai berikut :
· Mampu mengontrol heterogenitas individu. Panel data memberi peluang
perlakuan bahwa unit-unit ekonomi yang dianalisis seperti individu, rumah
tangga, perusahaan hingga negara adalah heterogen.
commit to user
58
· Memberi informasi yang lebih banyak, lebih beragam, mengurangi
kolinearitas (collinearity),
meningkatkan
derajat
bebas
(degree
of
freedom) dan lebih efisien.
· Panel data lebih baik untuk studi dynamics of adjustment. Salah satu
kekurangan apabila menggunakan pendekatan cross section adalah tidak
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
dapat menggambarkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi.
· Lebih baik dalam mengidentifikasi dan mengukur efek yang tidak dapat
dideteksi oleh pure cross section atau pure time series.
· Dapat membangun dan menguji model perilaku (behavioral models)
yang lebih kompleks dibanding pure cross section atau data time series.
· Micro panel data merupakan pengukuran yang lebih akurat dibanding
variabel yang sama yang diukur pada tingkat makro.
· Macro panel data mempunyai deret waktu (time series) yang lebih
panjang dan tidak seperti masalah nonstandard distribution dari unit root test
dalam metode time series, panel unit root test memiliki standard asymptotic
distribution.
Data panel pada dasarnya juga memilikki keterbatasan dalam melakukan
analisis data. Baltagi (2005) juga menjelaskan beberapa keterbatasan yang dimilikki
oleh data panel sebgai berikut :
· Masalah dalam desain survey panel, pengumpulan, dan manajemen data.
Masalah yang sering dihadapi pada umunya yaitu, cakupan (coverage),
nonresponse, kemampuan daya ingat responden (recall), frekuensi dan waktu
wawancara.
commit to user
59
· Distorsi
kesalahan
pengamatan
(measurement
errors).
Measurement
errors umumnya terjadi karena respon yang tidak sesuai.
· Masalah selektivitas yang mencakup Self-Selectivity muncul karena data yang
dikumpulkan tidak mampu menangkap fenomena yang ada, Nonresponse
disebabkan karena adanya jawaban yang tidak lengkap dari responden,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Attrition yaitu jumlah responden yang cenderung berkurang pada survey
lanjutan.
· Dimensi waktu (time series) yang pendek Jenis panel mikro biasanya
mencakup data tahunan yang relatif pendek untuk setiap individu.
· Cross-section dependence; Sebagai contoh, apabila macropanel dengan
unit analisis negara atau wilayah dengan deret waktu yang panjang
mengabaikan cross-country dependence akan mengakibatkan inferensi yang
salah (misleading inference).
b) Estimasi Model Data Panel
1) Pendekatan Kuadrat Terkecil (Pooled Least Square/Common effect)
Pooled Least Square merupakan pendekatan yang paling sederhana untuk
mengestimasi data panel. Dimana pendekatan ini hanya mengkombinasikan data time
series dan cross section dengan menggunakan metode OLS yang dikenal sebagai
estimasi Common Effect. Dalam pendekatan ini tidak memperhatikan dimensi
individu maupun waktu dan diasumsikan bahwa perilaku data antar variabel sama
dalam berbagai kurun waktu.
Yit = α + β1X1it + β2X2it +....+ βkXkit + ɛit
untuk i = 1,2……..N dan t = 1,2………..T
dimana i adalah cross-section identifiers dan t adalah time-series identifier.
commit to user
(3.1)
60
2) Pendekatan Efek Tetap (Fixed Effect Method)
Permasalahan yang dihadapi dalam analisis Pooled Least Square adalah
asumsi intersep dan slope dari persamaan regresi yang dianggap konstan baik antar
daerah maupun antar waktu. Asumsi tersebut dianggap kurang realistis dan tidak
beralasan. Salah satu contohnya apabila kita akan mengamati pengaruh iklan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
terhadap omset pada 10 perusahaan yang bergerak di bidang yang berbeda-beda.
Tentunya akan menjadi tidak realistis jika hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
perusahaan yang bergerak di bidang jasa memilikki intersept dan slope yang sama
dengan perusahaan yang bergerak di bidang makanan.
Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan
mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasi melalui
perbedaan intersepnya. Setiap α iakan diperlakukan sebagai parameter yang tidak
diketahui dan akan diestimasi. Berdasarkan kenyataan bahwa, meskipun intersep
antar individu berbeda, tetapi setiap intersep individunya tidak bervariasi antar waktu
atau time invariant. Oleh karena itu model ini dinamakan sebagai fixed effects (FEM)
yang secara umum persamaan modelnya dapat dituliskan sebagai berikut :
Yit = αi + β1X1it + β2X2it +....+ βkXkit + ɛit
(3.2)
Cara untuk membuat agar intercept pada model fixed effects bervariasi antar
individu dapat dilakukan dengan memasukkan variabel dummy ke dalam model,
sehingga model bisa menjadi sebagai berikut :
Yit = αi +α2D2i+...+α(n-1)D(n-1)i +β1X1it + β2X2it +...+ βkXkit + ɛit
(3.3)
untuk i = 1,2,…,n dan t = 1,2,…,T
dimana : D2i=1 untuk individu kedua dan 0 untuk individu lainnya D(n-1) =1 untuk
individu ke (n-1) dan 0 untuk individu lainnya.
commit to user
61
Karena digunakan dummy variabel dalam mengestimasi fixed effect maka
model persamaan diatas disebut dengan Least Square Dummy Variable (LSDV)
yaitu intersep untuk masing-masing cross sectional unit berbeda.
Namun demikian, penggunaan LSDV model dapat digunakan jika
persamaan regresi memilikki sedikit unit cross-section, jika unit cross-section yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
akan dianalisis banyak maka penggunaan LSDV dapat mengurangi derajat kebebasan
dan berdampak mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. Pada istilah
fixed effect walaupun intercept mungkin berbeda antar individu, namun intercept
setiap cross-section tersebut tidak bervariasi sepanjang waktu, dengan kata lain time
invariant. Sehingga untuk model data panel dengan jumlah cross-section yang
banyak lebih baik digunakan metode FEM dalam estimasi model penelitian.
3) Pendekatan Efek Acak (Random Effect Method)
Pendekatan analisis data panel panel dengan fixed effect melalui teknik
variabel dummy atau LSDV masih menyisakan sedikit permasalahan yaitu adanya
ketidakpastian model yang kita gunakan. Untuk mengatasi masalah ini bisa
dilakukan dengan menggunakan variabel residual yang dikenal dengan model
random effect. Di dalam model ini kita akan memilih estimasi data panel dimana
residual mungkin saling berhubungan antar waktu dan antar individu.
Model random effect dijelaskan dengan asumsi bahwa setiap variabel
mempunyai perbedaan intersep. Intersep yang dimaksud disini adalah diasumsikan
sebagai variabel random atau stokastik. Model ini sangat berguna jika individual
variabel yang kita ambil sebagai sampel adalah dipilih secara random dan merupakan
wakil dari populasi. Untuk menjelaskan model random effect dapat ditulis sebagai
berikut :
commit to user
62
Yit = β1i + β2X2it + β3X3it + µit
(3.4)
dengan asumsi bahwa variabel random dengan β1 (tidak ada subscript i). Nilai
intersep tiap individu adalah:
β1i = β1 + εi
(3.5)
dimana i = 1,2,………N dan εi adalah random error term dengan nilai rata-rata nol
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
dan varian s e2 .
Dengan mensubtitusikan persamaan (3.5) ke dalam (3.4), maka didapatkan
persamaan baru berikut ini :
Yit
= β1i + β2X2it + β3X3it + εi + µit
= β1 + β2X2it + β3X3it + ωit
(3.6)
dimana,
ωit = εi + µit
(3.7)
Error ωit terdiri dari dua komponen error yaitu εi yang merupakan error
variasi unit dan µit adalah error dari kombinasi runtun waktu dari lintas sektor.
Asumsi ECM (Error Correction Model) adalah:
εi ~ N (0, s e2 )
µit ~ N (0,
s e2 )
E(εi, µit) = 0
(3.8)
E(εi ,εj) = 0
E(µitµis) = E(µitµjt) = E(µitµjs) = 0
( i≠j)
(i≠j;t≠s)
Error komponen tiap unit tidak berkorelasi satu sama lain dan tidak
berkorelasi baik secara runtun waktu maupun lintas sektor. Asumsi
dalam
persamaan (3.6) :
E(ωit) = 0
(3.9)
var(ωit) = s e2 + s u2
(3.10)
commit to user
63
Jika s e2 = 0 maka tidak ada perbedaan antara model (3.2) dan (3.3), dalam
kasus ini dapat observasi pool sederhana (cross-section dan time series) dan
menggunakan regresi pooled, seperti pada persamaan (3.6).
Dalam persamaan (3.8) menunjukkan error term ωit homoskedastis. Dapat
dilihat bahwa ωit dan ωis berkorelasi, yaitu error term memberikan unit cross-section
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
pada waktu yang beda korelasi. Korelasi koefisien, corr (ωit, ωis), sebagai berikut:
Corr (ωit, ωis) =
s e2
s e2 + s u2
(3.11)
Jika tidak memperhitungkan korelasi ini dan diestimasi dengan OLS maka
estimatornya akan tidak efisien. Metode yang biasanya dipakai adalah GLS.
c) Uji Pemilihan Model Data Panel
1) Common Effectatau Individual Effect
Uji Chow Test atau juga sering disebut sebagai uji F Statistik adalah
pengujian yang dilakukan untuk memilih model apakah yang akan digunakan
Common Effect atau Individual Effect. Berdasarkan penjelasan sebelumnya yang
menyatakan bahwa terkadang asumsi bahwa setiap unit croos section memilikki
perilaku yang sama cenderung tidak realistis dan tidak beralasan. Mengingat ada
kemungkinan bahwa setiap unit cross section memilikki perilaku yang berbeda. Oleh
karena itu, dalam pengujian ini dilakukan dengan hipotesa sebagai berikut :
H0
: Model Common Effect (Restricted)
H1
: Model Individual Effect (Unrestricted)
Dalam pengujian hipotesis tersebut digunakan persamaan F statistik seperti
yang telah dirumuskan oleh Chow berikut ini :
commit to user
64
(R - R )/ k - 1
F (k - 1, n - k ) =
((1 - R ))/ n - k
2
UR
2
R
(3.12)
2
UR
2
dimana : RUR
= unrestricted
RR2 = restricted
k=total jumlah koefisien regresi (termasuk konstanta)
n= jumlah sampel
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Apabila hasil perhitungan uji F hitung ≥ F tabel ini berarti H0 ditolak, yang
artinya model yang akan digunakan adalah Fixed Effect, dengan kata lain intersep
untuk semua unit cross section tidak sama. Sebaliknya apabila hasil perhitungan uji F
hitung≤F tabelini
berarti H0diterima, yang artinya model yang akan digunakan adalah
Pooled Least Square, dengan kata lain intersep untuk semua unit cross section adalah
sama.
2) FEM (Fixed Effect Model) atau REM (Random Effect Model)
Seperti yang kita ketahui bahwa penggunaan model Fixed Effect
mengandung suatu unsur trade off yaitu hilangnya derajat kebebasan akibat adanya
variabel dummy yang dimasukkan ke dalam model. Untuk menentukan model
apakah yang akan digunakan Fixed Effect Model atau Random Effect Model dapat
dilakukan dengan cara hausman test. Dalam pengujian ini hipotesis yang digunakan
adalah :
H0
: Model Random Effect (REM)
H1
: Model Fixed Effect (FEM)
Sebagai dasar penolakan H0 yaitu dengan menggunakan statistik hausman
dan membandingkannya dengan Chi Square. Statistik hausman dapat dirumuskan
sebagai berikut :
W = (βfem-βrem)’ (Vfem-Vrem)-1(βrem-βfem)’ ~ c 2(k)
commit to user
(3.13)
65
dimana : βfem adalah koefisien hasil estimasi model FEM, βrem adalah koefisien hasil
estimasi model REM, V adalah matriks kovarians untuk parameter β, dan k adalah
derajat kebebasan (df) yang merupakan jumlah variabel independen.
Jika nilai chi square ( c 2) hitung hasil pengujian hausman lebih besar dari
nilai chi square c 2(k) tabel maka H0 ditolak. Artinya, estimasi yang tepat untuk
model regresi data panel adalah dengan pendekatan Fixed Effect, begitu juga
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
sebaliknya. Cara lain untuk melakukan pengujian ini adalah dengan membandingkan
nilai probabilitas hasil hausman statistik dengan α. Jika hasil hausman test signifikan
(probabilitas dari hausman< α ) maka H0 ditolak, artinya model Fixed Effect yang
akan digunakan, begitu juga sebaliknya.
d) Uji Statistik
1) Uji t statistik (uji parsial)
Uji ini dilakukan untuk menguji kemampuan dari masing-masing variabel
independen secara sendiri-sendiri. Tahap-tahap pengujian uji t statistik adalah
sebagai berikut :
· Menentukan H0 dan Ha (Hipotesis nol dan Hipotesis alternatif)
H0 :β1 = 0, berarti tidak ada pengaruh signifikan variabel independen
terhadap variabel dependen.
Ha :β1≠ 0, berarti ada pengaruh signifikan variabel independent terhadap
variabel dependen.
· Menentukan besarnya level of significance (α) untuk mengetahui tingkat
signifikansi hasil pengolahan data berdasarkan nilai probabilitas dua sisi (uji
dua sisi). Besarnya α yang digunakan adalah 5%.
· Kriteria Pengujian
commit to user
66
Ho diterima
Ho ditolak
Ho ditolak
tα 2; N - K
- tα 2; N - K
perpustakaan.uns.ac.id
Gambar 3.1.
Daerah kritis Uji-t
digilib.uns.ac.id
Keterangan:H0 diterima jika –t (α/2, n – k) ≤ thitung ≤ t (α/2, n – k)
H0 ditolak jika thitung > t (α/2, n – k) atau thitung < -t (α/2, n – k)
· Dari sampel random yang diambil kemudian dihitung nilai t dengan rumus:
(3.14)
tabel = t (α/2, n – k)
dimana :β adalah koefisien regresi, SE adalah Standar error, n adalah jumlah
observasi, dan k adalah jumlah variabel
· Kesimpulan
Apabila thitung > ttabel atau thitung < -ttabel , maka H0 ditolak berarti variabel
independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Sedangkan,
apabila –ttabel ≤ thitung ≤ ttabel , maka H0 diterima berarti variabel independen
tidak ada pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
2) Uji F statistik
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Tahap-tahap pengujian uji F
statistik adalah sebagai berikut :
commit to user
67
· Formula hipotesis
H0 = β1 = β2 = 0, berarti tidak ada pengaruh signifikan variabel independen
terhadap variabel dependen secara besama-sama.
Ha ≠ β1≠β2≠ 0, berarti ada pengaruh signifikan variabel independen terhadap
variabel dependen secara besama-sama.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
· Dipilih level of significance tertentu. Besarnya αyang digunakan adalah 5%
(α= 0,05)
· Kriteria Pengujian
Ho diterima
Ho ditolak
F (a; k-1; n-k)
Gambar 3.2.
Daerah kritis Uji-F
Keterangan :H0 diterima atau Ha ditolak, jika Fhitung < F (α, k – 1, n – k)
H0 ditolak atau H a diterima, jika F hitung > F (α, k – 1, n – k)
· Perhitungan nilai F :
Ftabel = F (α, k – 1, n – k)
R2 / (k-1)
Fhitung =
(3.15)
2
(1–R )(n–k)
dimana; R2: koefisien determinasi
· Kesimpulan
Apabila Fhitung > Ftabel, maka H0 ditolak berarti secara bersama-sama variabel
independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Sedangkan,
commit to user
68
apabila Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima berarti secara bersama-sama variabel
independen tidak ada pengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
3) Uji R 2(koefisien determinasi)
Uji ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen. Tingkat ketepatan regresi ditentukan oleh
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
2
besarnya adjusted R .
Nilai R2adalah diantara 0 < R 2< 1. Jika R 2= 1 maka pengaruh variabelvariabel independen terhadap variabel dependen semakin besar, jika R2= 0 maka
variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
e) Spesifikasi Model Penelitian Dengan Data Panel
Model yang digunakan dalam melakukan estimasi terhadap determinan FDI
di negara Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan China adalah
model yang diadopsi dari penelitian Catherine dan Rashid (2011), yaitu sebagai
berikut :
FDI= f [Macroeconomic Factors, Country Specific Factors]
(3.16)
Sesuai dengan keperluan dalam penelitian ini, variabel independen yang
akan dipilih adalah (a) Pertumbuhan ekonomi, (b) Nilai Tukar, (c) Tenaga Kerja, dan
(d) Infrastruktur, maka model diatas dapat disederhanakan menjadi :
FDI=
f
[(Pertumbuhan
Ekonomi)it,
(Nilai
(Infrastruktur)it]
Tukar)it,
(Tenaga
Kerja)it,
(3.17)
Dalam penelitian ini untuk memudahkan analisis data digunakan beberapa
indikator (proxy) yang mewakili variabel–variabel penelitian yang digunakan, yaitu
FDI inflows sebagai indikator dari FDI diberi simbol FDI, GDP growth sebagai
indikator dari pertumbuhan ekonomi diberi simbol EGROW, Official Exchange Rate
commit to user
69
sebagai indikator dari nilai tukar diberi simbol EXCHR, Total Labor Force sebagai
indikator dari tenaga kerja diberi simbol LABOR, dan Telephone Lines sebagai
indikator dari infrastruktur diberi simbol INFRA. Sehingga model penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut :
FDI= f [EGROW, EXCHR, LABOR, INFRA]
(3.18)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Dengan adanya satuan dari masing-masing variabel penelitian berbeda-beda
maka dalam penelitian ini data yang dianalisis menggunakan data yang sudah
disesuaikan dengan menggunakan log normal (Ln). Adapun bentuk spesifikasi model
yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :
LnFDIit = β0 + β1 EGROWit + β2 LnEXCHRit + β3 LnLABORit
+ β4 LnINFRAit + µit
dimana :
FDI
EGROW
EXCHR
LABOR
INFRA
β0
β1, β2, β3, β4
i
t
µ
(3.19)
: Foreign Direct Investment di ASEAN 5 dan China
: Tingkat pertumbuhan ekonomi
: Nilai tukar
: Jumlah angkatan tenaga kerja
: Infrastruktur
: Koefisien intersep
: Koefisien regresi
: daerah penelitian ke i; i = 1,2,3,4……….n, i = 6Negara
: waktu/tahun
: variabel pengganggu
2. Analisis VAR (Vector Autoregression)
a) Konsep dan Pengertian VAR (Vector Autoregression)
Di dalam suatu model persamaan, teori ekonomi digunakan untuk
menggambarkan hubungan antara variabel yang terkait. Dari hasil model persamaan
akan diestimasi dan digunakan dalam mengkaji keterkaitan empiris dari teori
tersebut. Pada kenyataannya penggunaan teori ekonomi dimungkinkan tidak cukup
commit to user
70
untuk mendukung penentuan spesifikasi yang benar. Penggunaan teori ekonomi yang
dianggap terlalu rumit akan membuat kesulitan dalam menurunkan spesifikasi secara
tepat.
Bisa juga penggunaan teori dalam model persamaan menggunakan struktur
selang tetapi struktur-struktur selang ini dapat menghasilkan perilaku model dinamis
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
yang berbeda atau kemungkinan besar terdapat perbedaan antar teori yang mendasari
model tersebut. Sehingga ada baiknya untuk membiarkan data itu sendiri berbicara
tanpa harus memaksakan sebuah model persamaan dengan teori-teori yang dianggap
terlalu rumit untuk dipahami.
Menurut Sims (1980a) dalam kajiannya Macroeconomics and Reality
memperkenalkan VAR (Vector Autoregression) sebagai reaksi terhadap kegagalan
model besar ekonomi makro dalam mengestimasi kondisi perekenomian pada era
1970-an. Metode ini dilakukan dengan mengembangkan model ekonometri yang
memininimumkan adanya uji asumsi secara apriori. Permasalahan utama yang
mendasari model ini adalah kritik terhadap jumlah observasi yang terlalu banyak
sehingga menjadi sebuah kendala dalam sebuah sistem ekonometri, seperti yang
terjadi pada model FRB-MIT yang terdiri atas lebih dari 200 persamaan struktural
dan mempunyai 90 variabel eksogen.
Jika memang benar-benar simultan pada sekelompok variabel seharusnya
semua variabel memilikki posisi yang sama, sehingga diantara variabel-variabel itu
sulit untuk dibedakan antara variabel endogen dan eksogen. Oleh karena itu, Sims
meragukan adanya eksistensi dari variabel eksogen.Lebih lanjut Sims juga
menyatakan bahwa untuk memahami sebuah kondisi perekonomian hanya cukup
dibutuhkan beberapa variabel saja, yang semuanya merupakan variabel endogen.
commit to user
71
Sehingga di dalam VAR jumlah variabel yang digunakan relatif sedikit yaitu tidak
lebih dari 6 (enam) variabel.
Pada perkembangannya Gujarati(1995:620) menjelaskan bahwa VAR
merupakan kelanjutan dari kritik monetaris terhadap Keynesian. Beberapa
karakteristik VAR menunjukkan keberpihakan terhadap moneteris, yakni pertama
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
metode VAR dikembangkan atas dasar kritik terhadap model-model besar tersebut.
Kedua, VAR menawarkan model yang sederhana dan menggunakan jumlah variabel
yang minimalis, dengan variabel independennya adalah kelambanannya (lag) yang
semuanya variabel endogen. Ketiga, VAR merupakan kelanjutan dari uji kausalitas.
Karakteristik VAR tidak dapat dilepaskan dari karakteristik kausalitas Granger,
seperti memfokuskan pada studi terhadap sebuah indentitas.
Analisis VAR memilikki beberapa keunggulan seperti yang dijelaskan
sebagai berikut (Gujarati, 2004:853) : (1) Metode ini sederhana, kita tidak perlu
khawatir untuk membedakan mana variabel endogen, mana variabel eksogen; (2)
Estimasinya sederhana, dimana metode OLS biasa dapat diaplikasikan pada tiap-tiap
persamaan secara terpisah; (3) Hasil perkiraan (forecast) yang diperoleh dengan
menggunakan metode ini dalam banyak kasus lebih bagus dibandingkan dengan hasil
yang didapat dengan menggunakan model persamaan simultan yang kompleks
sekalipun. Selain itu, VAR Analisis juga merupakan alat analisis yang sangat
berguna, baik di dalam memahami adanya hubungan timbal balik (interrelationship)
antara variabel-variabel ekonomi, maupun di dalam pembentukan model ekonomi
berstruktur.
Lebih
lanjut
Gujarati
(2004:853)
mencoba
menjelaskankelemahan
penggunaan analisis VAR yaitu : (1) Model VAR lebih bersifat a-theory karena tidak
commit to user
72
memanfaatkan informasi atau teori terdahulu. Oleh karena itu, model tersebut sering
disebut sebagai model yang tidak struktural. (2) Mengingat tujuan utama model VAR
untuk peramalan, maka model VAR kurang cocok untuk analisis kebijakan. (3)
Pemilihan banyaknya lag yang digunakan dalam persamaan juga dapat menimbulkan
permasalahan. Misalnya kita memiliki tiga variabel bebas yang masing-masing
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
memiliki lag sebanyak delapan, maka parameter yang harus diestimasi sebanyak 24
buah. Untuk kepentingan tersebut maka data atau pengamatan yang harus dimiliki
relatif lebih banyak.
Secara garis besar terdapat empat hal yang ingin diperoleh dari
pembentukan sebuah sistem persamaan; deskripsi data, peramalan, inferensi
struktural, dan analisis kebijakan. VAR menyediakan alat analisa bagi keempat hal
tersebut melalui empat macam penggunaannya; Forecasting, ekstrapolasi nilai saat
ini dan masa depan seluruh variabel dengan memanfaatkan seluruh informasi masa
lalu variabel; Impulse Response Functions (IRF), melacak respon saat ini dan masa
depan setiap variabel akibat perubahan atau shock suatu variabel tertentu; Forecast
Error Decomposition of Variance (FEDVs), prediksi kontribusi persentase varians
setiap variabel terhadap perubahan suatu variabel tertentu; Granger Causality Test,
mengetahui hubungan sebab akibat antar variabel.
Menurut Enders (1995:294) mencoba menjelaskan pembentukan model
VAR Sim dengan menggunakan model 2 variabel (bivariate), Y dan Z, yang
memilikki hubungan kausalitas simultan sebagai berikut :
(3.20)
commit to user
73
sistem persamaan diatas dikenal juga sebagai Struktural VAR atau bentuk sistem
primitif. Kedua variabel tersebut (Y dan Z), secara individual dipengaruhi secara
langsung oleh variabel yang lain, dan secara tidak langsung oleh nilai selang dari
setiap variabel di dalam sistem. Sistem persamaan tersebut dapat dibentuk ke dalam
notasi matriks berikut:
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(3.21)
dengan mengalikan inverse B pada notasi matriks persamaan (3.20) diatas akan
diperoleh :
(3.22)
atau dalam persamaan bivariate dapat dituliskan sebagai berikut :
(3.23)
Sistem inilah yang disebut sebagai sistem VAR dalam bentuk standar atau
reduced form. Sistem tersebut juga merepresentasikan sebuah bentuk Wold-Moving
Average. Karena εyt dan εzt white noise (residual yang memilikki rata-rata 0, varians
yang konstan, dan non otokorelasi serial), maka et pun akan memiliki rata-rata 0,
varians yang konstan, serta serial non-otokorelasi.
b) Tahapan Analisis VAR
Metode VAR merupakan salah satu bentuk analisis data time series, dimana
tujuan utama dari analisis time series adalah menjelaskan pola atau perilaku data
sepanjang periode pengamatan dan melakukan peramalan. Namun, penggunaan data
time series dalam analisis sering ditemukan permasalahan statitoneritas data dan
hubugan kointegrasi variabel yang digunakan. Oleh karena itu, dalam pembentukan
commit to user
74
model VAR akan diawali dengan uji stationeritas data. Kemudian, apabila hasil dari
uji tersebut menunjukkan bahwa data stasioner pada tingkat level, maka model yang
dianjurkan untuk digunkan adalah VAR biasa (unrestricted VAR).
Apabila hasil dari uji stasioner menunjukkan data tidak stasioner pada
tingkat level, namun stasioner pada tingkat diferensiasi maka harus dilakukan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
langkah selanjutnya yaitu uji kointegrasi. Dari hasil uji kointegrasi ini akan dapat
disimpulkan yaitu, apabila data tidak terkointegrasi maka model VAR yang
dianjurkan adalah VAR tingkat diferensiasi (VAR in difference). Sebaliknya, apabila
data terbukti terjadi kointegrasi, maka model yang dianjurkan adalah model VAR
yang teretriksi (restricted VAR), bentuk model ini sering disebut sebagai VECM
(Vector Error Correction Model).
Namun demikian,
di dalam pengoperasian estimasi model VAR Sims
(1980a) dan Doan (1992) menyatakan bahwa dalam estimasi model VAR tidak
dianjurkan menggunakan bentuk turunan pertama. Karena tujuan dari analisis
VAR adalah untuk melihat hubungan antar variabel dan bukan mencari
parameter
estimasti. Sehingga apabila data turunan pertama digunakan dapat
menghilangkan informasi penting entang hubungan variabel-variabel dalam sebuah
sistem (Enders, 1995).
Lebih lanjut Sadikin (2010) menjelaskan beberapa pertimbangan kenapa
lebih memilih model VAR level dibandingkan dengan model struktural maupun
VECM. Adapun pertimbangan-pertimbangan tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut :
a) Meskipun cukup banyak literatur menggagas penerapan VECM apabila
variabel-variabel dalam VAR non-restriktif ternyata terkointegrasi, tetapi
commit to user
75
tidak sedikit pula kritikus yang mengargumentasikan bahwa dalam jangka
pendek VAR non-restriktif berperforma lebih baik dibandingkan VAR
terkointegrasi atau VECM. Menurut Hamilton (1994),
apabila
situasinya
adalah seperti itu maka VAR in difference menjadi salah spesifikasi. Selain
itu, dalam jangka pendek estimasi VECM lebih tidak akurat dibandingkan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
VAR.
b) Pada umumnya pakar ekonomi mempunyai ketertarikan tertentu atas perubahan
harga jangka-pendek (Cuvak & Kalinauskas, 2009). Dalam konteks ini modelmodel time-series (dimana VAR merupakan bagian dari model tersebut)
bisa lebih unggul dibandingkan model-model ekonometrik struktural karena
model struktural lebih cocok untuk analisis teori-teori ekonometrik maupun
ekonomi tetapi mempunyai kapasitas karakter peramalan yang lebih kecil.
c) Seperti yang tertulis dalam studi Cuvak & Kalinauskas (2009) maupun
Farzanegan & Markwardt (2009), banyak periset masa kini, misalnya
Enders (1995) dan Fildes & Stekler (2000), menyajikan model-model time series
sebagai sebuah alternatif terhadap model-model struktural yang sangat
besar dan variatif. Dalam banyak kasus, model-model time series tidak
mampu mengkonfirmasikan peramalan yang dikalkulasi berdasarkan modelmodel ekonometrik struktural.
d) Lütkepohl (2001, 2003) dan banyak periset lainnya juga mengusulkan
untuk mengaplikasikan model VAR dalam estimasi peramalan indikatorindikator perekonomian karena semua variabel dalam model VAR bersifat
endogen. Dan oleh karenanya, tidak ada variabel tunggal tertentu yang
dihilangkan ketika menjelaskan perilaku variabel-variabel lainnya yang
commit to user
76
tertera dalam model. Lebih lanjut diungkapkan bahwa dalam jangka-pendek
VAR non-restriktif berperforma lebih baik dibandingkan dengan VAR
terkointegrasi (sebagai contoh lihat Naka & Tufte, 1997).
e) Hasil-hasil studi lainnya, seperti Engle & Yoo (1987), Clements & Hendry
(1995), dan Hoffman & Rasche (1996), mampu memperlihatkan bahwa
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
sebuah VAR non-restriktif lebih superior (dalam hal varian peramalan)
dibandingkan VECM restriktif pada horizon pendek (dalam Maghyereh, 2004).
Naka & Tufte (1997) juga membandingkan performa VECM dan VAR
non-restriktif dalam menganalisa impulse response function jangka-pendek
dan membuktikan bahwa kinerja kedua metode tersebut hampir identik. Hal
ini menggagas bahwa VAR untuk horizon pendek sangat baik, khususnya jika
dispesifikasikan
dengan
tepat,
dalam
menganalisa
hasil
variance
decomposition dan impulse response function.
f) Stock & Watson (2001) menilai VAR sebagai instrumen yang cukup kuat
dalam
mendeskripsikan
data
dan
membangun
benchmark
peramalan
multivariabel yang andal. Apakah VAR telah menghasilkan sumbangan
yang signifikan terhadap inferensi struktural dan analisis kebijakan adalah hal
lain yang masih tetap diperdebatkan. Kendati demikian, Stock & Watson
(2001) menyatakan bahwa perdebatan yang sama juga berlaku atas modelmodel alternatif selain VAR. Namun, menurut Stock & Watson (2001)
model-model yang ada belum cukup sesuai dengan data yang tersedia.
Oleh karenanya, jika VAR digunakan secara bijak dan didasarkan pada
justifikasi ekonomi yang baik dan rinci, maka VAR tidak hanya sesuai
commit to user
77
dengan data tetapi juga bisa dijadikan perangkat estimasi beberapa hubungan
kausal.
Berdasarkan penjelasan diatas maka dalam penelitian ini akan dilakukan
dengan menggunakan VAR pada tingkat level dengan tanpa dilakukannya uji
stasioner pada data sebelumnya.
perpustakaan.uns.ac.id
c) Penentuan Lag Optimal
digilib.uns.ac.id
Penentuan kelambanan atau lag optimal sangat diperlukan dalam
pembentukan model VAR. (Enders, 1995:396). Dalam penentuan lag optimal,
diharapakan adanya lag yang cukup panjang untuk menangkap secara penuh
dinamika sistem yang dimodelkan. Namun dengan lag yang semakin panjang
menyebabkan permasalahan yaitu jumlah parameter yang banyak dan akan
mengurangi derajat kebebasannya (jumlah total parameter yang diestimasi =
n(1+np), dimana n = jumlah persamaan, p = panjang lag endogenous variabel).
Sehingga memaksa untuk terjadinya trade off antara memilih jumlah lag yang
memadai atau derajat kebebasan yang cukup. Pada prakteknya adanya jumlah lag
yang perlu untuk dibatasi menjadi sedikit dari yang secara ideal diberikan pada
model dinamis (Pindyck dan Rubinfeld, 1998:401).
Penentuan lag optimal dapat dibantu dengan menggunakan AIC (Akaike
Information Criterion), SIC (Schwarz Information Criterion) dan LR (Likelihood
Ratio)dimana persamaan dari keduanya dapat ditulis sebagai berikut ini
(Enders,1995) :
(3.24)
(3.25)
commit to user
78
dimana : T = Jumlah observasi dengan residual kuadrat, k = Panjang lag , SSR =
residual sum squares , n = jumlah parameter yang diestimasi
(3.26)
dimana : l = log likelihood, r = restrictive regression , u = unrestrictive
regression
Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan AIC (Akaike Information
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Criterion) untuk menentukan panjang lag optimal. Sebelumnya moodel VAR akan
diestimasi dengan pada tingkat lag 1 dan 2, selanjutnya nilai AIC terkecil akan
digunakan sebagai nilai lag yang optimal.
d) Estimasi Model VAR (Vector Autoregression)
Setelah diperoleh lag yang optimal langkah selanjutnya adalah melakukan
estimasi dengan model VAR. Pada penelitian ini menggunakan lima variabel
endogen yang akan diestimasi yaitu, penanaman modal asing (FDI), pertumbuhan
ekonomi (EGROW), nilai tukar (EXCHR), tenaga kerja (LABOR), dan infrastruktur
(INFRA). Karena adanya perbedaan satuan pengukuran dari variabel penelitian,
bentuk data yang dianjurkan adalah dalam bentuk persentase, sehingga beberapa
variabel dalam penelitian diubah dalam bentuk logaritma.
Lebih lanjut spesifikasi model VAR untuk masing-masing persamaan
dengan lima variabel tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :
...........(3.27)
...........(3.28)
commit to user
79
...........(3.29)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
...........(3.30)
...........(3.31)
dimana : FDI = penanaman modal asing langsung (foreign direct investment),
EXCHR = nilai tukar, EGROW = pertumbuhan ekonomi, LABOR = jumlah tenaga
kerja, INFRA = infrastruktur, (L) = lag, Ln = log normal, µ1t,µ2t ,µ3t,µ4t ,µ5t=
stochastic error terms, yang dalam bahasa VAR disebut impulses atau innovations
shocks (goncangan).
e) Analisis Impulse ResponFunction (IRF)
Impulse Respon Function (IRF) merupakan respon terhadap adanya inovasi
(shock) merupakan salah satu metode pada VAR yang digunakan untuk melihat
respon variabel endogen terhadap pengaruh inovasi variabel endogen lain yang ada
dalam model. Analisis IRF mampu melacak respon dari variabel endogen dalam
model VAR akibat adanya suatu shock atau perubahan di dalam variabel gangguan
(e), yang selanjutnya dapat melihat lamanya pengaruh dari shock suatu variabel
terhadap variabel lain hingga pengaruhnya hilang dan kembali konvergen. Fungsi
impulse response didapat melalui model VAR yang diubah menjadi VMA (vector
moving average) dimana koefisien merupakan respon terhadap adanya inovasi
(Enders, 1995:305-306).
commit to user
80
Goncangan atau shock dari variabel endogen langsung berpengaruh
terhadap variabel itu sendiri dan juga diteruskan terhadap variabel endogen lainnya
melalui struktur dinamis dari VAR. Impulse Respon Function (IRF) memberikan
arah hubungan dan besarnya pengaruh antar variabel endogen karena menunjukkan
pengaruh satu standar deviasi shock variabel endogen terhadap variabel endogen
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
lainnya maupun variabel itu sendiri. Dengan demikian shock atas suatu variabel
dengan datangnya informasi baru akan mepengaruhi variabel itu sendiri dan variabelvariabel lainnya dalam sistem.
Di
dalam
analisis
Impulse
Respon
Function(IRF)
ini
Inovasi
diintepretasikan sebagai “goncangan kebijakan” atau sering juga disebut kebijakan.
Secara statis, respon terhadap kebijakan dirumuskan sebagai sebuah model linier
vektor stokastik x yang diformulasikan sebagai berikut (Sims, 1980b:257) :
(3.32)
Dari persamaan diatas dapat dijelaskan bahwa et = Xt – E(Xt , Xt-1 , Xt-2,
kemudian memilih matriks tringular B, sehingga menghasilkan Bet yaitu sebuah
kovarian diagonal matriks dan B juga mempunyai diagonalnya sendiri, oleh karena
itu A perlu dipindah menjadi C = AB1 dan e menjadi f = Be, sehingga persamaannya
menjadi:
(3.33)
koefisien C adalah respons terhadap kebijakan atau inovasi (responses to
innovations).
commit to user
81
f) Analisis Forecast Error Decomposition of Variance(FEVD)
Menurut
(Enders,1995:311)
menjelaskan
bahwa
Forecast
Error
Decomposition of Variance (FEDV) menunjukkan kepada kita proporsi dalam
sebuah urutan dampak goncangan terhadap dirinya sendiri maupun goncangan
terhadap variabel lain. Dekomposisi varians merinci varians dari error peramalan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(forecast) menjadi komponen-komponen yang dapat dihubungkan dengan setiap
variabel endogen dalam model.
Melalui analisis FEDV akan diketahui informasi mengenai proporsi dari
pergerakan pengaruh goncangan suatu variabel terhadap variabel itu sendiri dan
variabel lainnya, baik yang tejadi pada saat ini maupun pada waktu yang akan
datang. Dengan kata lain, analisis ini mampu memprediksi kontribusi atau peran
prosentase varian setiap variabel karena adanya perubahan variabel tertentu.
Sedangkan analisis sebelumnya yaitu IRF lebih ditekankan untuk melacak dampak
goncangan dari satu variabel endogen terhadap variabel laainnya dalam model VAR.
Sementara itu, formulasi
kovarians dari
datang
dari
dekomposisi varians adalah matriks varians-
xt – E(Xt|Xt-1 , Xt-2, .....), dengan k adalah periode masa yang akan
peramalan
x,
sehingga
dapat
dirumuskan
sebagai
berikut
(Sims,1980b:257) :
(3.34)
commit to user
82
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
2.9. Gambaran Perkembangan Variabel Penelitian
perpustakaan.uns.ac.id
4.1.1. Perkembangan Variabel FDI di ASEAN 5 dan China
digilib.uns.ac.id
Pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang tidak bisa dilepaskan
dari adanya peranan investasi asing dalam bentuk FDI. Besarnya jumlah pembiayaan
yang dibutuhkan dalam mendukung kesuksesan pembangunan ekonomi tidak bisa
hanya mengandalkan tabungan nasional yang tersedia dalam negeri. Sehingga
kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk mencari sumber pembiayaan lain
dengan cara mencari investor dari luar negeri. Salah satu investasi asing yang paling
banyak diminati yaitu investasi asing langsung yang berbentuk FDI.
Ciri utama investasi FDI ini adalah investasi langsung yang bersifat jangka
panjang, dilakukan oleh investor asing tidak hanya dalam bentuk modal finansial saja
tetapi juga berupa, asset (aktiva tetap), alih teknologi, manajerial, dan modal
intelektual. Pada perkembangannya FDI dianggap tidak saja sebagai pendorong
pertumbuhan ekonomi, namun juga sebagai indikator atas kinerja perekonomian
suatu negara, bahkan juga dianggap sebagai indikator kinerja pemerintah dalam
membangun kepercayaan publik, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Semakin besar aliran FDI yang masuk akan meningkatkan kepercayaan
publik kepada pemerintah, demikian juga sebaliknya. Dalam penelitian ini untuk
melihat perkembangan aliran FDI yang masuk ke negara ASEAN 5 (Indonesia,
Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina) dan China periode 1988-2009 digunakan
commit to user
83
data FDI inflows yang diperoleh dari world bank. Adapun perkembangan FDI di
ASEAN 5 dan China dapat dijelaskan berikut ini.
Tabel 4.1. Perkembangan FDI di ASEAN 5 dan China Periode 1988-2009
Tahun
Indonesia Malaysia
1988
576.00
719.42
perpustakaan.uns.ac.id
1989
682.00 1667.87
1990
1093.00 2332.46
1991
1482.00 3998.45
1992
1777.00 5183.36
1993
2004.00 5005.64
1994
2109.00 4341.80
1995
4346.00 4178.24
1996
6194.00 5078.42
1997
4677.00 5136.52
1998
-240.80 2163.40
1999
-1865.62 3895.26
2000
-4550.36 3787.63
2001
-2977.39
553.95
2002
145.09 3203.42
2003
-596.92 2473.16
2004
1896.08 4624.21
2005
8336.26 3966.01
2006
4914.20 6076.12
2007
6928.48 8590.19
2008
9318.45 7375.91
2009
4877.37 1387.39
FDI (Juta US$)
Thailand Singapura
1105.37
3654.80
1775.45
2886.59
2443.55
5574.74
2013.99
4887.09
2113.02
2204.34
1804.04
4686.31
1366.44
8550.17
2067.94 11535.27
2335.84
9682.13
3894.76 13752.71
7314.81
7313.87
6102.68 16577.95
3365.99 16484.46
5067.17 15086.71
3341.61
6401.97
5232.27 11941.34
5860.26 21026.03
8055.35 15459.65
9452.93 29347.86
11323.99 37032.94
8531.08
8588.19
4976.29 15278.57
Filipina
China
936.00
3194.00
digilib.uns.ac.id
563.00
3393.00
530.00
3487.00
544.00
4366.00
228.00 11156.00
1238.00 27515.00
1591.00 33787.00
1478.00 35849.20
1517.00 40180.00
1222.00 44237.00
2287.00 43751.00
1247.00 38753.00
2240.00 38399.30
195.00 44241.00
1542.00 49307.98
491.00 47076.72
688.00 54936.48
1854.00 117208.30
2921.00 124082.00
2916.00 160051.80
1544.00 175147.70
1963.00 114214.50
Sumber : Data World Bank (diolah)
Pada tabel 4.1 terlihat bahwa perkembangan FDI yang masuk ke negara
ASEAN 5 dan China menunjukkan tren yang terus meningkat pada periode tahun
1988 sampai dengan tahun 1996. Namun demikian, terjadinya krisis 1997 ikut
berdampak pada terus merosotnya nilai FDI yang masuk ke beberapa negara yaitu
Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Penurunan jumlah FDI secara tajam di
Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 2000 sebesar -4550,36 Juta US dollar,
dengan kata lain hampir tidak ada investasi FDI yang masuk. Penurunan FDI juga
commit to user
84
terjadi seperti di Malaysia menjadi sebesar 553,95 Juta US$ (tahun 2001), di
Thailand menjadi 3341,61 Juta US$ (tahun 2002), Singapura sebesar 6401,97 Juta
US$ (tahun 2002) dan Filipina sebesar 195 Juta US$ (tahun 2001).
Hal tersebut disebabkan karena kondisi perekonomian, sosial, dan politik di
negara-negara tersebut cenderung tidak stabil, sehingga banyak para investor asing
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
yang menarik investasinya. Sedangkan kondisi yang berbeda terjadi di negara China
yang terus menunjukkan jumlah FDI yang terus tumbuh hingga menjadi 49307,98
Juta US$ (tahun 2002). Dengan kata lain, terjadinya krisis 1997 di kawasan Asia
tidak berpengaruh signifikan terhadap FDI di China. Kondisi sosial-politik yang
cenderung stabil pada masa krisis serta perekonomian yang diprediksi akan terus
tumbuh menyebabkan banyak sebagian besar investor asing masih mempertahankan
investasinya di negara tersebut.
Pasca terjadinya krisis 1997 merupakan masa pemulihan ekonomi dalam
negeri di beberapa negara yang terkena dampak krisis. Proses pemulihan ekonomi
ini cukup berhasil dan mulai menarik kepercayaan para investor asing untuk
berinvestasi kembali ke negara-negara tersebut. Sebagai bukti tren positif tersebut
dapat ditunjukkan dengan terus bertambahnya jumlah FDI yang masuk dari tahun ke
tahun.
Seperti yang terjadi di Indonesia hingga periode 2008 FDI yang masuk
tercatat mencapai 9318,45 Juta US$, di Malaysia menjadi sebesar 8590,19 Juta US$
pada tahun 2007, jumlah FDI di Thailand meningkat secara tajam hingga mencapai
11323,99 Juta US$ di tahun 2007, sedangkan di Filipina mampu menarik investasi
FDI sebesar 2921 Juta US$ di tahun 2006.
commit to user
85
4.1.2. Perkembangan Variabel Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN 5 dan China
Pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari
negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada
penduduknya. Dalam kaitannya dengan investasi, pertumbuhan ekonomi merupakan
variabel ekonomi makro yang bisa digunakan sebagai indikator besarnya pasar
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(market size) serta mengindikasikan adanya kondisi pasar yang potensial (market
potential) suatu negara.
Dalam menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara
dari tahun ke tahun, dapat di estimasi dengan data-data pendapatan nasional (GDP).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data GDP growth dari negara
ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina) dan China periode
1988-2009. Perkembangan FDI di ASEAN 5 dan China dapat dijelaskan sebagai
berikut :
commit to user
86
Tabel 4.2. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di ASEAN 5 dan
China Periode 1988-2009
Pertumbuhan Ekonomi (%)
Indonesia Malaysia Thailand Singapura Filipina China
1988
6.36
9.94
13.29
11.07
6.75
11.30
1989
9.08
9.06
12.19
10.23
6.21
4.10
1990
9.00
9.01
11.17
10.11
3.04
3.80
1991
8.93
9.55
8.56
6.49
-0.58 digilib.uns.ac.id
9.20
perpustakaan.uns.ac.id
1992
7.22
8.89
8.08
7.03
0.34
14.20
1993
7.25
9.89
8.25
11.48
2.12
14.00
1994
7.54
9.21
8.99
10.57
4.39
13.10
1995
8.40
9.83
9.24
7.28
4.68
10.90
1996
7.64
10.00
5.90
7.74
5.85
10.00
1997
4.70
7.32
-1.37
8.55
5.19
9.30
1998
-13.13
-7.36
-10.51
-2.11
-0.58
7.80
1999
0.79
6.14
4.45
6.21
3.08
7.60
2000
4.92
8.86
4.75
9.07
4.41
8.40
2001
3.64
0.52
2.17
-1.22
2.89
8.30
2002
4.50
5.39
5.32
4.24
3.65
9.10
2003
4.78
5.79
7.14
4.60
4.97
10.00
2004
5.03
6.78
6.34
9.24
6.70
10.10
2005
5.69
5.33
4.60
7.38
4.78
11.30
2006
5.50
5.85
5.09
8.70
5.24
12.70
2007
6.35
6.48
5.04
8.77
6.62
14.20
2008
6.01
4.71
2.48
1.49
4.15
9.60
2009
4.58
-1.71
-2.33
-0.77
1.15
9.20
Tahun
Sumber : Data World Bank (diolah)
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat dijelaskan bahwa perkembangan
pertumbuhan ekonomi di ASEAN 5 dan China hingga periode 1996 menunjukkan
tren yang positif. Memasuki tahun 1997 mulai terlihat tanda-tanda penurunan
pertumbuhan ekonomi di beberapa negara. Hal tersebut dikarenakan pada saat itu
kawasan Asia sedang terjadi krisis ekonomi, yang berdampak signifikan terhadap
kondisi perekonomian, sosial, dan politik. Dampak terparah dirasakan oleh negaranegara yang berada di kawasan Asia Tenggara diantaranya, Indonesia, Malaysia,
Thailand, dan Filipina. Pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot
commit to user
87
tajam menjadi (-7,35%) , Malaysia (-2,11%), Thailand (-10,51%), Singapura (-2,11)
dan Filipina sebesar (-0,58%).
Kondisi yang berbeda justru terjadi di negara China yaitu pertumbuhan
ekonomi China masih mampu bertahan pada level 7,8 % pada masa krisis. Meskipun
pertumbuhan ekonomi China juga terjadi penurunan, bisa dikatakan ekonomi China
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
masih pada level yang cukup baik. Mengingat bahwa pada negara-negara
sebelumnya rata-rata pertumbuhan ekonomi pada masa krisis menunjukkan angka
negatif. Kondisi fundamental perekonomian China yang kuat menjadi sebab utama
negara tersebut mampu melewati krisis ekonomi Asia dengan baik.
4.1.3. Perkembangan Variabel Nilai Tukar di ASEAN 5 dan China
Nilai tukar merupakan harga satu satuan mata uang dalam satuan mata uang
lain atau ada juga yang mengatakan bahwa nilai tukar menunjukkan harga mata uang
lokal dengan mata uang asing. Dalam menentukan nilai tukar mata uang yang resmi
merujuk pada nilai tukar atau kurs yang telah ditentukan oleh otoritas nasional atau
yang telah ditetapkan secara legal di pasar valuta.
Nilai tukar tersebut dihitung sebagai rata-rata tahunan yang didasarkan pada
rata-rata bulanan (mata uang lokal unit secara relatif terhadap dolar AS). Penelitian
ini menggunakan data nilai tukar nominal masing-masing negara di ASEAN dan
China terhadap mata uang dollar Amerika.
Pada perkembangannnya rata-rata nilai tukar mata uang di kawasan ASEAN
memasukki tahun 1997 menunjukkan tren yang melemah atau terdepresiasi akibat
krisis ekonomi yang terjadi di Asia yang berawal dari krisis mata uang di Thailand
ditandai dengan pelepasan mata uang baht secara penuh kepada mekanisme pasar
karena adanya serangan spekulan. Kebijakan tersebut menyebabkan perubahan
commit to user
88
ekspektasi terhadap mata uang baht, sehingga berdampak sistemik yang diikuti
terdepresiasinya beberapa mata uang khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Perkembangan nilai tukar mata uang di negara ASEAN 5 dan china dapat dilihat
pada tabel berikut ini.
Tabel 4.3. Perkembangan Nilai Tukar di ASEAN 5 dan China Periode
1988-2009
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Tahun
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009
Indonesia
1685.70
1770.06
1842.81
1950.32
2029.92
2087.10
2160.75
2248.61
2342.30
2909.38
10013.62
7855.15
8421.78
10260.85
9311.19
8577.13
8938.85
9704.74
9159.32
9141.00
9698.96
10389.94
Nilai Tukar (LCU per US$)
Malaysia Thailand Singapura
2.62
25.29
2.01
2.71
25.70
1.95
2.70
25.59
1.81
2.75
25.52
1.73
2.55
25.40
1.63
2.57
25.32
1.62
2.62
25.15
1.53
2.50
24.92
1.42
2.52
25.34
1.41
2.81
31.36
1.48
3.92
41.36
1.67
3.80
37.81
1.69
3.80
40.11
1.72
3.80
44.43
1.79
3.80
42.96
1.79
3.80
41.48
1.74
3.80
40.22
1.69
3.79
40.22
1.66
3.67
37.88
1.59
3.44
34.52
1.51
3.34
33.31
1.41
3.52
34.29
1.45
Filipina
21.09
21.74
24.31
27.48
25.51
27.12
26.42
25.71
26.22
29.47
40.89
39.09
44.19
50.99
51.60
54.20
56.04
55.09
51.31
46.15
44.32
47.68
China
3.72
3.77
4.78
5.32
5.51
5.76
8.62
8.35
8.31
8.29
8.28
8.28
8.28
8.28
8.28
8.28
8.28
8.19
7.97
7.61
6.95
6.83
Sumber : Data World Bank (diolah)
Pada tabel 4.3. diatas menunjukkan bahwa dengan adanya dampak krisis
terhadap nilai tukar mata uang di ASEAN dapat dilihat adanya depresiasi yang tajam
pada tahun 1998 seperti yang terjadi di Indonesia nilai mata uang rupiah melemah
terhadap dollar Amerika hingga mencapai 10013,62 RP/US$, di negara Malaysia
nilai tukar mata uang ringgit melemah terhadap dollar Amerika hingga mencapai
commit to user
89
3,92 RM/US$, di negara Thailand terjadi depresiasi nilai tukar mata uang baht
terhadap dollar Amerika hingga mencapai 41,36 B/US$, sedangkan depresiasi mata
uang peso di Filipina terhadap US$ mencapai 40,89 P/US$. Melemahnya nilai tukar
mata uang dari keempat negara ini terhadap dollar Amerika terus berlangsung hingga
memasukki tahun 2004.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Dampak krisis terhadap nilai tukar dollar Singapura tidak terlalu
berpengaruh besar, meskipun terjadi tanda-tanda depresiasi pada mata uang dollar
Singapura, namun nilainya tidak terlalu besar dibandingkan dengan keempat negara
sebelumnya. Hal ini disebabkan karena fundamental ekonomi Singapura sendiri
masih kuat untuk menahan dampak krisis yang terjadi di kawasan ASEAN pada saat
itu. Pada tahun 1998 dollar Singapura melemah tipis terhadap dollar Amerika yaitu
sebesar 1,67 SGP$ / US$ dan mencapai nilai depresiasi tertinggi pada tahun 2002
sebesar 2,17 SGP$ / US$.
Nilai tukar mata uang yuan China terhadap dollar Amerika sudah
menunjukkan tren depresiasi sejak awal tahun 1994, dimana yuan melemah tajam
hingga mencapai 8,62 Yuan/US$. Hal ini dimungkinkan adanya kebijakan
pemerintah China dalam melakukan ekspansi ekonomi melalui peningkatan jumlah
ekspor ke luar negeri. Dengan melemahnya nilai tukar yuan akan menyebabkan
barang-barang China di luar negeri semakin murah yang berdampak pada tingginya
permintaan masayarakat dunia terhadap barang-barang China yang murah.
4.1.4. Perkembangan Variabel Tenaga Kerja di ASEAN 5 dan China
Total tenaga terdiri dari orang-orang usia 15 dan atau lebih tua yang
memenuhi definisi International Labour Organization penduduk aktif secara
ekonomi: semua orang yang memasok tenaga kerja untuk produksi barang dan jasa
commit to user
90
selama jangka waktu tertentu. Termasuk yang bekerja maupun menganggur.
Sementara dalam prakteknya setiap negara memilikki perbedaan dalam memberikan
perlakuan definisi dari angkatan kerja itu sendiri.
Pemahaman tentang angkatan kerja di Indonesia adalah tenaga kerja berusia
10 tahun yang selama seminggu yang lalu mempunyai pekerjaan, baik yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
bekerja maupun yang sementara tidak bekerja karena suatu sebab. Di samping itu,
mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetap sedang mencari pekerjaan atau
mengharapkan pekerjaan.
Dalam
penelitian
ini
data
yang
digunakan
untuk
menunjukkan
perkembangan tenaga kerja di negara ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Thailand,
Singapura, Filipina) dan China periode 1988-2009 adalah total angkatan kerja pada
masing-masing negara. Dari data yang disajikan menunjukkan bahwa dari awal
periode penelitian hingga akhir penelitian jumlah total angkatan kerja pada masingmasing negara menunjukkan tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun.
Hal ini didorong dengan adanya jumlah populasi penduduk masing-masing
negara yang terus menerus bertambah dan juga disebabkan karena adanya
peningkatan investasi sumber daya manusia yang sedang dilakukan oleh negaranegara berkembang khususnya di kawasan Asia sendiri. Negara dengan jumlah
angkatan kerja paling besar dalam penelitian ini adalah China disusul dengan,
Indonesia,
Thailand,
Filipina,
Malaysia,
dan
Singapura.
Untuk
melihat
perkembangan jumlah angkatan kerja tersebut bisa dilihat pada tabel berikut ini.
commit to user
91
Tabel 4.4. Perkembangan Angkatan Kerja di ASEAN 5 dan China Periode
1988-2009
Angkatan Kerja (Juta Orang)
Indonesia Malaysia Thailand Singapura Filipina China
1988
74.26
6.45
30.76
1.41
22.55
620.98
1989
75.34
6.76
31.87
1.48
22.93
634.17
1990
77.08
7.08
32.32
1.56
23.60
647.17
1991
78.69
7.31
32.34
1.62
24.28 digilib.uns.ac.id
658.05
perpustakaan.uns.ac.id
1992
80.28
7.55
32.24
1.68
25.15
666.60
1993
82.12
7.77
31.97
1.70
25.70
674.39
1994
83.97
8.01
31.70
1.75
26.41
682.25
1995
86.90
8.26
32.42
1.76
27.60
690.37
1996
89.76
8.53
33.22
1.88
28.31
697.97
1997
91.71
8.80
33.90
1.93
29.04
705.97
1998
92.66
9.09
34.25
1.99
30.10
713.39
1999
98.31
9.37
34.44
2.02
30.76
721.06
2000
100.22
9.80
35.29
2.07
30.95
728.24
2001
101.92
10.08
36.00
2.14
32.48
736.08
2002
103.56
10.33
36.48
2.17
33.20
743.47
2003
105.93
10.57
36.92
2.14
33.92
749.94
2004
108.27
10.80
37.50
2.18
34.49
755.90
2005
110.45
11.04
38.01
2.24
34.67
762.05
2006
112.44
11.26
38.19
2.32
35.10
768.09
2007
114.24
11.50
38.87
2.43
35.79
773.05
2008
116.02
11.74
39.33
2.57
36.72
779.40
2009
118.82
12.00
39.62
2.65
37.56
786.41
Tahun
Sumber : Data World Bank (diolah)
Dari tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun jumlah
angkatan kerja terus meningkat. Populasi penduduk dunia yang terus bertambah
mendorong semakin meningkatnya total angkatan kerja yang ada. Negara China
dengan jumlah penduduknya terbesar dunia terbukti menciptakan total angkatan
kerja yang tinggi juga yaitu mencapai 786,41 juta orang pada tahun 2009. Sedangkan
di negara-negara Asia lainnya pada tahun yang sama seperti, Indonesia mampu
menghasilkan total angkatan kerja sebesar 118,82 juta orang, kemudian disusul
Thailand sebesar 39,61 juta orang, Filipina sebesar 37,55, Malaysia sebesar 11,99
commit to user
92
juta orang, dan yang terakhir adalah Singapura dengan total angkatan kerja sebesar
2.65 juta orang.
4.1.5. Perkembangan Variabel Infrastruktur di ASEAN 5 dan China
Kondisi infrastruktur suatu negara akan menunjukkan kesungguhan suatu
negara dalam memberikan pelayanan publik yang prima bagi masyarakatnya.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Infrastruktur dapat diwujudkan dengan adanya bangunan atau fasilitas-fasilitas dasar,
peralatan-peralatan, instalasi-instalasi yang dibangun dan dibutuhkan untuk
mendukung berfungsinya suatu sistem tatanan kehidupan sosial ekonomi masyarakat.
Ketersediaan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting bagi investor dalam
mengambil keputusan untuk melakukan investasi tidak terkecuali investasi dalam
bentuk FDI.
Dengan adanaya infrastruktur yang baik akan berhubungan positif terhadap
besarnya aliran FDI yang masuk ke dalam negeri. Dalam penelitian ini data yang
digunakan untuk melihat ketersediaan infrastruktur di ASEAN 5 (Indonesia,
Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina) dan China periode 1988-2009 adalah
adanya jaringan telepon yang dihitung per 100 orang.
Pada perkembangannya penggunaan jaringan telepon di masing-masing
negara menunjukkan tren yang terus meningkat secara signifikan hal ini didorong
akan kebutuhan masyarakat terhadap kemudahan berkomunikasi jarak jauh secara
langsung. Peningkatan penyediaan jaringan telepon ini juga didukung dengan usaha
pemerintah
dalam
mengembangkan
investasi
di
bidang
telekomunikasi.
Perkembangan kondisi infrastruktur di masing-masing negara dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
commit to user
93
Tabel 4.5. Perkembangan Infrastruktur Jaringan Telepon di ASEAN 5 dan
China Periode 1988-2009
Infrastruktur Jaringan Telepon (Per 100 orang)
Indonesia Malaysia Thailand Singapura Filipina China
1988
0.47
7.25
1.82
32.98
0.97
0.43
1989
0.48
7.84
2.06
34.05
0.98
0.51
1990
0.58
8.71
2.32
34.59
0.99
0.60
1991
0.69
9.71
2.69
35.12
1.03 digilib.uns.ac.id
0.73
perpustakaan.uns.ac.id
1992
0.87
10.89
3.07
36.19
1.02
0.98
1993
0.96
12.24
3.77
37.59
1.30
1.47
1994
1.25
14.17
4.65
38.95
1.64
2.29
1995
1.65
16.08
5.84
40.53
2.04
3.38
1996
2.07
17.75
6.90
42.57
2.52
4.51
1997
2.43
19.39
7.92
44.39
2.87
5.72
1998
2.68
19.64
8.17
45.27
3.37
7.04
1999
2.89
19.38
8.36
47.40
3.82
8.68
2000
3.12
19.79
8.85
48.31
3.96
11.47
2001
3.34
19.65
9.47
47.06
4.20
14.18
2002
3.54
19.05
10.14
46.15
4.11
16.73
2003
3.63
18.24
10.15
45.92
4.06
20.39
2004
4.62
17.37
10.31
44.57
4.10
24.05
2005
5.94
16.73
10.55
43.24
3.94
26.88
2006
6.45
16.33
10.51
42.11
4.17
28.05
2007
8.40
16.08
10.36
40.57
4.44
27.74
2008
12.93
15.61
10.29
38.37
4.52
25.73
2009
14.30
15.43
10.22
37.14
7.40
23.56
Tahun
Sumber : Data World Bank (diolah)
Berdasarkan tabel 4.5 diatas menjelaskan bahwa hingga memasuki periode
tahun 2009, penggunaan jaringan telepon masih cukup tinggi dan cenderung naik di
negara Indonesia, Thailand, dan Filipina. Jumlah penggunaan jaringan telepon di
Indonesia tahun 2009 mencapai 14,30 per 100 orang, Thailand sebesar 10,22 per 100
orang, dan Filipina mencapai angka 7,39 per 100 orang.
Untuk negara Malaysia, Singapura, dan China pada dasarnya penggunaan
jaringan telepon sebagai infrastruktur cukup besar dibandingkan dengan ketiga
negara sebelumnya. Namun demikian, memasuki periode 2009 tren penggunaan
jaringan telepon ini mulai menurun. Pada tahun 2009 di Malaysia penggunaan
commit to user
94
jaringan telepon tercatat sebesar 15,43 per 100 orang atau turun 2,8% dari tahuntahun sebelumnya. Penggunaan jaringan telepon di Singapura 2009 tercatat sebesar
37,14 per 100 orang atau turun 3% dari tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan di
China pada tahun yang sama penggunaan telepon diketahui sebesar 23,56 per 100
orang atau turun 1,9% dari sebelumnya.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
2.10. Hasil dan Analisis Kuantitatif
2.10.1. Analisis Data Panel
2.10.1.1.Hasil Estimasi Data Panel
Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan
determinan FDI di ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina)
dan China periode 1988-2009. Determinan FDI yang digunakan dalam penelitian ini
terdiri atas faktor ekonomi makro (pertumbuhan ekonomi, nilai tukar) dan
karakteristik negara (tenaga kerja, infrastruktur). Teknik analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalah analisis data panel (pooling data) yaitu dengan
menggabungkan data yang bersifat time series dan cross section.
Dalam melakukan analisis data penelitian dengan data panel,
peneliti
menggunakan tiga jenis estimasi model yaitu, Pooled Least Square (PLS), Fixed
Effect Methode (FEM), dan Random Effect Methode (REM). Hasil yang akan
digunakan dalam mengambil kesimpulan dalam penelitian ini adalah hasil dari model
terbaik atas pengujian model yang dilakukan. Hasil perhitungan dari tiga model
tersebut diperoleh dengan menggunakan software eviews 6, adapun hasil estimasi
yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :
commit to user
95
Tabel 4.6.
Hasil Estimasi Data Panel Determinan FDI ASEAN 5 dan China
Periode 1988-2009
Variabel Dependen : LnFDI
Variabel
PLS
FEM
REM
C
4.778489
3.229600
5.329934
(17.50641)
(2.029134)
(10.99243)
EGROW
0.058746
0.034894
0.030869
(3.488939)
(2.262005)
(2.117713)
LnEXCHR
-0.101558
-1.135508
-0.261727
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
(-3.086610)
(-4.909184)
(-3.100184)
LnLABOR
0.545000
1.913422
0.651150
(12.86480)
(3.806764)
(5.172318)
LnINFRA
0.865156
0.884715
0.748127
(13.65336)
(9.089651)
(12.12061)
Indonesia
4.307260
0.786078
Malaysia
-0.659132
-0.553815
Thailand
0.328967
-0.053881
Singapura
1.707360
0.524120
Filipina
0.366849
-0.416036
China
-5.072382
-0.286466
2
R
0.742323
0.840720
0.544487
F-statistik
87.86509
68.61747
36.45745
Catatan : angka pada tanda ( ) menunjukkan nilai t-statistik dan semua
variabel signifikan pada tingkat level 5% (t-tabel = 1,645)
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Berdasarkan tabel 4.6 diatas diketahui bahwa hasil estimasi dengan
menggunakan pendekatan PLS, FEM, dan REM menunjukkan seluruh variabel
independen yaitu pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, dan infrastruktur memilikki
pengaruh positif dan signifikan terhadap FDI di ASEAN 5 dan China pada α=5%.
Sedangkan, variabel nilai tukar memilikki pengaruh negatif dan juga signifikan
terhadap FDI di ASEAN 5 dan China pada α=5%.
Dilihat dari nilai koefisien determinasi (goodness of fit test) menunjukkan
bahwa model FEM adalah yang terbaik dengan nilai R2 sebesar 0,841 dibandingkan
dengan R2 model PLS sebesar 0,742 dan REM sebesar 0,544. Dengan kata lain
variabel independen (pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja,dan
infrastruktur) pada model FEM mampu menjelaskan 84% variansi variabel dependen
commit to user
96
(FDI). Sedangkan, sisanya yaitu sebesar 16% dijelaskan variabel lain yang tidak
dimasukkan dalam model penelitian ini.
Pada model FEM nilai intersep pada masing-masing negara adalah,
Indonesia sebesar 4.307260, Malaysia sebesar -0.659132, Thailand sebesar
0.328967, Singapura sebesar 1.707360, Filipina 0.366849, dan China sebesar perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
5.072382. Dengan demikian, pendekatan Fixed Effect Methode (FEM) menjelaskan
adanya pebedaan perilaku determinan FDI dari keenam negara tersebut. Sedangkan,
nilai intersep model REM pada masing-masing negara adalah, Indonesia sebesar
0.786078, Malaysia sebesar -0.553815, Thailand sebesar -0.053881, Singapura
sebesar 0.524120, Filipina -0.416036, dan China sebesar -0.286466.
Nilai intersep pada random effect menunjukkan seberapa besar perbedaan
random error component sebuah negara terhadap nilai intercept (c). Jika semua nilai
random effect dijumlahkan, maka akan menghasilkan angka nol. Sehingga dengan
adanya perbedaan nilai intersep pada masing-masing negara ini menunjukkan
heterogenitas, dimana terdapat faktor yang berbeda-beda dalam mempengaruhi
determinan pada masing-masing negara di ASEAN 5 dan China.
2.10.1.2.Hasil Uji Pemilihan Model
Setelah dilakukan estimasi data panel dengan ketiga pendekatan yaitu,
Pooled Least Square (PLS), Fixed Effect Methode (FEM), dan Random Effect
Methode (REM), maka langkah selanjutnya adalah melakukan uji pemilihan model
untuk menentukan model terbaik yang hasilnya akan digunakan untuk membuat
kesimpulan dari analisis yang telah dilakukan dalam penelitian ini. Adapun tahapan
uji pemilihan model data panel dapat dijelaskan sebagai berikut.
commit to user
97
3) Common Effect atau Individual Effect
Untuk mengetahui model apakah yang cocok untuk digunakan dalam
penelitian ini Common Effect atau Individual Effect, dapat dilihat dari hasil Uji Chow
Test atau juga sering disebut sebagai uji F Statistik. Seperti yang sudah dijelaskan
sebelumnya bahwa untuk melakukan uji ini digunakan hipotesis yaitu :
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
H0
: Model Common Effect (Restricted)
H1
: Model Individual Effect (Unrestricted)
Dalam pengujian hipotesis tersebut digunakan persamaan F statistik seperti
yang telah dirumuskan oleh Chow berikut ini :
(R - R ) / k - 1
F (a , k - 1, n - k ) =
(( 1 - R ) )/ n - k
2
UR
2
R
2
UR
Sehingga hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan diatas dapat dilihat
berikut ini :
F (5%,4,122)
=
(0.840720 - 0.742323 ) /( 5 - 1)
(1 - 0.840720 ) / (127 - 5)
=
0.02459925
= 18,84177
0.00130557
Berdasarkan hasil perhitungan diatas diperoleh nilai F hitung yaitu sebesar
18,84177, sedangkan nilai dari Ftabel dengan df for numerator = 5, df for denumerator
= 122, pada tingkat kepercayaan 5% adalah sebesar 2,45. Dapat diketahui bahwa
Fhitung jauh lebih besar di atas nilai Ftabel , dengan demikian H0 ditolak. Dengan kata
lain asumsi bahwa koefisien intersep dan slope adalah sama tidak berlaku
sebagaimana pada persamaan PLS.
Sehingga model data panel yang cocok untuk digunakan dalam
mengestimasi determinan FDI di ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Thailand,
commit to user
98
Singapura, Filipina) dan China adalah model data panel dengan pendekatan
Individual Effect dibandingkan dengan pendekatan Common Effect.
4) FEM (Fixed Effect Model) atau REM (Random Effect Model)
Dari hasil pemilihan model sebelumnya menunjukkan sebuah kesimpulan
bahwa Individual Effect adalah model yang cocok untuk digunakan dalam
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
melakukan analisis dalam penelitian ini. Untuk itu, langkah selanjutnya adalah
dilakukan uji Hausman Test Untuk menentukan model apakah yang akan digunakan
Fixed Effect Model atau Random Effect Model. Dalam pengujian ini hipotesis yang
digunakan adalah :
H0
: Model Random Effect (REM)
H1
: Model Fixed Effect (FEM)
Pengujian Hausman Test dengan menggunakan software eviews 6 diperoleh
hasil sebagai berikut ini :
Tabel 4.7. Hasil Uji Hausman Data Panel
Periode 1988-2009
Test Summary
Cross-section
random
Chi-Sq. Statistic
Random Effect Method (REM)
Chi. Sq. d.f.
Prob.
4
0.0003
21.047379
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Berdasarkan hasil perhitungan uji Hausman Test diatas diperoleh nilai chi
square ( c 2) hitung sebesar 21.047379, sedangkan nilai dari chi square ( c 2) tabel
dengan df = 4, pada tingkat kepercayaan 5% adalah sebesar 9.48773. Sehingga,
dapat diketahui bahwa chi square ( c 2) hitung jauh lebih besar di atas nilai square
( c 2) tabel , dengan demikian H0 ditolak.
Dengan kata lain, model data panel yang cocok untuk digunakan dalam
mengestimasi determinan FDI di ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Thailand,
commit to user
99
Singapura, Filipina) dan China adalah model data panel dengan pendekatan Fixed
Effect Method (FEM).
2.10.1.3.Pendekatan Metode Fixed Effect Method (FEM) dengan General Least
Square
Dalam penelitian yang menggunakan data cross section, memilikki
kecenderungan terjadinya heteroskedastisitas (data tidak homoskedastisitas)
pada
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
data penelitian. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis mencoba untuk melihat
apakah pada estimasi yang dilakukan melalui metode pendekatan Fixed Effect
Method (FEM) terjadi heteroskedastisitas.
Cara yang dapat dilakukan untuk melihat adanya heteroskedastisitas pada
estimasi Fixed Effect Method (FEM) yaitu dengan melakukan estimasi FEM dengan
GLS kemudian membandingkan nilai sum square resid pada weighted statistics dan
sum square resid unweighted statistics. Apabila nilai sum square Resid pada
Weighted statistics lebih kecil sum square Resid Unweighted statistics, maka model
terjadi heteroskedastisitas.
Dari hasil estimasi dengan menggunakan software eviews 6 diperoleh nilai
sum square resid pada weighted statistics sebesar 39.27337, sedangkan nilai sum
square resid unweighted statistics adalah sebesar 39.78809. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa nilai sum square resid pada weighted statistics lebih kecil sum
square resid unweighted statistics, dengan kata lain estimasi dengan pendekatan
Fixed Effect Method (FEM) terjadi heteroskedastisitas.
Untuk mengatasi permasalahan heteroskedastisitas ini dapat dilakukan
sebuah treatment yaitu mengestimasi pendekatan Fixed Effect Method (FEM) dengan
General Least Square (GLS). Metode GLS ini pada intinya adalah memberikan
pembobotan kepada variasi data yang digunakan, dengan kuadrat varians dari model.
commit to user
100
Lebih lanjut Gujarati (2003) menyebutkan bahwa metode OLS yang umum tidak
mengasumsikan bahwa varians variabel adalah heterogen, pada kenyataannya variasi
data pada data pooling cenderung heterogen.
Metode GLS sudah memperhitungkan heterogenitas yang terdapat pada
variabel independent secara eksplisit sehingga metode ini mampu menghasilkan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
estimator yang memenuhi kriteria BLUE (best linear unbiased estimator). Sehingga
dalam penelitian ini peneliti memutuskan untuk menggunakan pendekatan Fixed
Effect Method (FEM) GLS. Adapun hasil pengolahan data dengan software eviews 6
diperoleh hasil estimasi seperti dibawah ini :
Tabel 4.8.
Hasil Estimasi Data Panel
Periode 1988-2009
Variabel Dependen : FDI
Variabel
Koefisien
C
2.186841
EGROW
0.034938
LnEXCHR
-1.011203
LnLABOR
2.142890
LnINFRA
0.826995
Indonesia
3.328194
Malaysia
-0.112210
Thailand
0.230755
Singapura
2.748027
Filipina
0.240580
China
-5.678937
R2
= 0.853812
F-statistik = 75.92674
Fixed Effect Method (FEM) GLS
SE
1.503288
0.014129
0.240386
0.450012
0.088210
t-Statistik
1.454706
2.472793
-4.206582
4.761849
9.375275
Prob.
0.1484
0.0148
0.0001
0.0000
0.0000
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Berdasarkan tabel 4.8 diatas diketahui bahwa hasil estimasi dengan
menggunakan pendekatan Fixed Effect Method (FEM) GLS menunjukkan hampir
seluruh variabel independen yaitu pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, dan
infrastruktur memilikki pengaruh positif dan signifikan pada α=5%. Sedangkan,
variabel nilai tukar memilikki pengaruh negatif dan juga signifikan pada α=5%.
commit to user
101
Nilai R2 yang dihasilkan dari hasil estimasi ini relatif lebih besar
dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan sebelumnya yaitu sebesar 85 % selama
masa periode pengamatan. Hal ini dapat berarti bahwa estimasi yang dilakukan
dengan menggunakan Fixed Effect Method (FEM) GLS, variabel independen
(pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja,dan infrastruktur) dalam penelitian
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
ini mampu menjelaskan 85% variansi variabel dependen (FDI). Untuk sisanya yaitu
sebesar 15% dijelaskan variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian
ini.
Nilai intersep (c) sebesar 2.186841 pada model FEM GLS merupakan nilai
rata-rata dari komponen kesalahan (error). Sedangkan nilai individual effect pada
masing-masing negara menunjukkan seberapa besar perbedaan komponen kesalahan
(error) sebuah negara terhadap nilai rata-rata intersep semua negara. Berdasarkan
hasil diatas dapat dijelaskan bahwa perbedaan komponen kesalahan negara terhadap
nilai rata-rata semua negara yaitu Indonesia (3.328194), Malaysia (-0.112210),
Thailand (0.230755), Singapura (2.748027), Filipina (0.240580), dan China (5.678937).
Dari hasil estimasi diatas dapat ditulis sebuah persamaan model untuk
determinan FDI di ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina)
dan China yaitu :
· INDONESIA
LnFDI = 3.328194 + 0.034938*EGROW - 1.011203*LnEXCHR +
(1.454706)
(2.472793)
(-4.206582)
2.142890*LnLABOR + 0.826995*LnINFRA + µit
(4.761849)
(9.375275)
commit to user
102
· MALAYSIA
LnFDI = -0.112210 + 0.034938*EGROW - 1.011203*LnEXCHR +
(1.454706)
(2.472793)
(-4.206582)
2.142890*LnLABOR + 0.826995*LnINFRA + µit
(4.761849)
(9.375275)
· THAILAND
LnFDI = 0.230755 + 0.034938*EGROW - 1.011203*LnEXCHR +
(1.454706)
(2.472793)
(-4.206582)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
2.142890*LnLABOR + 0.826995*LnINFRA + µit
(4.761849)
(9.375275)
· SINGAPURA
LnFDI = 2.748027 + 0.034938*EGROW - 1.011203*LnEXCHR +
(1.454706)
(2.472793)
(-4.206582)
2.142890*LnLABOR + 0.826995*LnINFRA + µit
(4.761849)
(9.375275)
· FILIPINA
LnFDI = 0.240580 + 0.034938*EGROW - 1.011203*LnEXCHR +
(1.454706)
(2.472793)
(-4.206582)
2.142890*LnLABOR + 0.826995*LnINFRA + µit
(4.761849)
(9.375275)
· CHINA
LnFDI = -5.678937 + 0.034938*EGROW - 1.011203*LnEXCHR +
(1.454706)
(2.472793)
(-4.206582)
2.142890*LnLABOR + 0.826995*LnINFRA + µit
(4.761849)
(9.375275)
2.10.1.4.Hasil Uji Statistik Model
Langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah melakukan uji statistik
model yang telah dipilih sebelumnya. Tahapan uji statistik model penelitian ini
terdiri atas :
4) Uji t statistik (uji parsial)
Uji t statistik atau uji parsial merupakan pengujian variabel secara individu
atau sendiri-sendiri yang dilakukan untuk melihat apakah variabel Independen
berpengaruh secara statistik terhadap variabel dependen. Pengujian secara sendiri-
commit to user
103
sendiri
terhadap
koefisien
regresi
masing-masing
variabel
bebas
dengan
menggunakan level of significant 5% diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.9. Hasil Uji t-Statistik (α=5%) Model Fixed Effect Method (FEM) GLS
Periode 1988-2009
Variabel Dependen : FDI
Variabel
t-statistik
perpustakaan.uns.ac.id
Independen
EGROW
LnEXCHR
LnLABOR
LnINFRA
2.472793
-4.206582
4.761849
9.375275
t-tabel
df (α/2,n-k)
df (0.025%, 122)
± 1.96
± 1.96
± 1.96
± 1.96
Prob.
0.0148
0.0001
0.0000
0.0000
Kesimpulan
digilib.uns.ac.id
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Signifikan
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
a.
Variabel EGROW (Pertumbuhan Ekonomi)
Berdasarkan hasil estimasi data diperoleh nilai thitung 2.472793 > ttabel ±1.96,
memiliki nilai signifikansi 0.0148 yang berarti dibawah α = 0.05. Maka dapat
disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima Ha yang artinya variabel
Pertumbuhan Ekonomi mempunyai pengaruh signifikan secara statistik
terhadap FDI yang masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
b.
Variabel LnEXCHR (Nilai Tukar)
Berdasarkan hasil estimasi data diperoleh nilai thitung -4.206582 > ttabel ±1.96,
memiliki nilai signifikansi 0.0001 yang berarti dibawah α = 0.05. Maka dapat
disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima Ha yang artinya variabel Nilai
Tukar mempunyai pengaruh signifikan secara statistik terhadap FDI yang
masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
c.
Variabel LnLABOR (Tenaga Kerja)
Berdasarkan hasil estimasi data diperoleh nilai thitung 4.761849 > ttabel ±1.96,
memiliki nilai signifikansi 0.0000 yang berarti dibawah α = 0.05. Maka dapat
disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima Ha yang artinya variabel Tenaga
commit to user
104
Kerja mempunyai pengaruh signifikan secara statistik terhadap FDI yang
masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
d.
Variabel LnINFRA (Infrastruktur)
Berdasarkan hasil estimasi data diperoleh nilai thitung 9.375275 > ttabel ±1.96,
memiliki nilai signifikansi 0.0000 yang berarti dibawah α = 0.05. Maka dapat
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima Ha yang artinya variabel
Infrastruktur mempunyai pengaruh signifikan secara statistik terhadap FDI
yang masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
5) Uji F statistik (Uji Secara Bersama-sama)
Uji F statistik merupakan pengujian yang bertujuan untuk mengetahui
besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersamasama. Pengujian secara bersama-sama terhadap koefisien regresi variabel independen
dengan menggunakan level of significant 5% diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.10. Hasil Uji F-Statistik (α=5%) Model Fixed Effect Method (FEM)
GLS Periode 1988-2009
Variabel Dependen : FDI
Variabel Independen
F-statistik
F-tabel
df (α, k-1, n-k)
df (5%, 4, 122)
Kesimpulan
EGROW, LnEXCHR,
LnLABOR, LnINFRA
75.92674
2.45
Signifikan
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Berdasarkan dari hasil pengujian F statistik dari model Fixed Effect Method
(FEM) GLS pada derajat signifikansi 5% diperoleh nilai F hitung 75.92674 > Ftabel 2.45.
Hal ini berarti bahwa dalam hasil estimasi data panel dengan pendekatan Fixed Effect
Method (FEM) GLS secara bersama-sama variabel pertumbuhan ekonomi, nilai
tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur mempunyai pengaruh yang signifikan/nyata
secara statistik terhadap FDI yang masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
commit to user
105
6) Uji R2 (Koefisien Determinasi)
Tujuan dilakukannya Uji Koefisien Determinasi (R2) adalah untuk
mengetahui seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel
terikat (dependen). Besarnya R2 menunjukkan pengaruh yang dijelaskan oleh
variabel dependen.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan pendekatan Fixed
Effect Method (FEM) GLS diperoleh nilai R2 sebesar 0.853812 atau sekitar 85 %.
Hal tersebut berarti bahwa
85% variabel FDI dapat dijelaskan oleh variabel
pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur, sedangkan sisanya
15% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar model.
2.10.1.5.Pembahasan Hasil Penelitian
Seperti yang telah dijelaskan bahwa dari hasil serangkaian pemilihan model
diperoleh kesimpulan bahwa model yang paling sesuai dan tepat untuk digunakan
dalam melakukan estimasi pada penelitian ini adalah model data panel dengan
pendekatan Fixed Effect Method (FEM) GLS.
Dari persamaan model tersebut dapat digunakan untuk membuat kesimpulan
dari penelitian ini dengan menjelaskan perbandingan antara temuan empirik dengan
hipotesis yang telah dibuat oleh penulis dalam menganalisis data dalam penelitian
ini. Hipotesis yang dimaksud adalah adanya pengaruh yang signifikan/nyata secara
statistik dari variabel determinan FDI yang terdiri atas faktor ekonomi makro
(pertumbuhan ekonomi, nilai tukar) dan karakteristik negara (tenaga kerja,
infrastruktur) terhadap FDI yang masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
Adapun ringkasan perbandingan antara temuan empirik dengan hipotesis
penelitian ini dapat disajikan sebagai berikut :
commit to user
106
Tabel 4.11. Perbandingan Temuan Empirik dengan Hipotesis Penelitian
Hipotesis
Makna
Statistik
Pengaruh
Temuan Empirik
Makna
Statistik
Pengaruh
Pertumbuhan Ekonomi
terhadap FDI
Signifikan
Positif
Signifikan
Positif
Nilai Tukar terhadap FDI
Signifikan
Positif
Signifikan
Negatif
Tenaga Kerja terhadap FDI
Signifikan
Positif
Signifikan
Positif
Infrastruktur terhadap FDI
perpustakaan.uns.ac.id
Signifikan
Positif
Signifikan
Pengaruh Variabel
Positif
digilib.uns.ac.id
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Dari tabel 4.11 diatas dapat diketahui bahwa temuan empirik dari hasil
analisis data penelitian, hampir sebagaian besar variabel independen diantaranya
pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, dan infrastruktur memilikki pengaruh yang
positif dan signifikan secara statistik terhadap aliran FDI yang masuk ke negara
ASEAN 5 dan China.. Sedangkan variabel nilai tukar yang diharapkan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap FDI justru menunjukkan hasil yang negatif dan
signifikan terhadap aliran FDI di ASEAN 5 dan China.
Secara garis besar penelitian ini mampu menjawab hipotesis awal dari
penelitian sebelumnya Chaterine dan Rashid (2011) bahwa variabel determinan FDI
yang dikategorikan menjadi ekonomi makro dan karakteristik negara sama baiknya
dalam menjelaskan determinan FDI inflows khususnya, di ASEAN 5 dan China.
Selanjutnya akan dilakukan pembahasan lebih lanjut untuk melihat konsistensi hasil
temuan empirik dengan teori serta penelitian-penelitian sebelumnya yaitu :
1) Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (EGROW) terhadap FDI
Berdasarkan persamaan model dengan pendekatan Fixed Effect Method
(FEM) GLS, menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi mempunyai
pengaruh yang positif dan signifikan secara statistik pada α = 5% terhadap aliran FDI
yang masuk ke negara ASEAN 5 dan China. Nilai koefisien regresi dari variabel
commit to user
107
pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0.034938. Dapat diartikan apabila terjadi
perubahan pada pertumbuhan ekonomi di ASEAN dan China sebesar 1% maka akan
menyebabkan terjadinya perubahan aliran FDI yang masuk ke ASEAN dan China
sebesar 0.034938 % dengan arah hubungan yang sama (searah) dan diasumsikan
variabel-variabel lain cateris paribus.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Hasil tersebut sesuai dengan temuan (CMCG, 2003) pertumbuhan ekonomi
yang tinggi akan menunjukkan adanya kondisi pasar domestik yang potensial
(market potensial) yang tentunya akan menjadi daya tarik bagi investor asing untuk
menanamkan modalnya. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga bisa dijadikan
sebagai indikator ekonomi makro yang menunjukkan besarnya pasar (market size)
suatu negara, sehingga keberadaan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat akan
menjadi bahan pertimbangan penting bagi investor asing untuk menanamkan
modalnya dengan harapan keuntungan yang akan diterimanya juga akan ikut terus
meningkat.
Penelitian ini juga menunjukkan temuan yang sama dengan penelitian
sebelumnya oleh Hoang (2010) yang meneliti determinan dan distribusi spasial FDI
di Asia Tenggara periode 1991-2009 menggunakan perkembangan GDP sebagai
proxy besarnya pasar (market size) masing-masing negara di Asia Tenggara. Salah
satu kesimpulan dari penelitian tersebut menyatakan bahwa besarnya pasar (market
size) memilikki pengaruh yang positif dan signifikan secara statistik terhadap FDI
inflows di kawasan negara Asia Tenggara.
2) Pengaruh Nilai Tukar (EXCHR) terhadap FDI
Berdasarkan persaman model dengan
pendekatan Fixed Effect Method
(FEM) GLS, menunjukkan bahwa variabel nilai tukar mempunyai pengaruh yang
commit to user
108
negatif dan signifikan secara statistik pada α = 5% terhadap aliran FDI yang masuk
ke negara ASEAN 5 dan China. Nilai koefisien regresi dari variabel nilai tukar
adalah sebesar -1.011203. Dapat diartikan apabila terjadi perubahan pada nilai tukar
di ASEAN 5 dan China sebesar 1% maka akan menyebabkan terjadinya perubahan
aliran FDI yang masuk ke ASEAN dan China sebesar -1.011203% dengan arah
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
hubungan yang berlawanan dan diasumsikan variabel-variabel lain cateris paribus.
Hasil tersebut berbeda dengan penelitian sebelumnya Hoang (2010) yang
mnyimpulkan dari analisis regresi data panel pendekatan Random Effect Method
(REM) koefisien regresi dari variabel nilai tukar bertanda positif dan mempunyai
pengaruh signifikan secara statistik terhadap FDI. Dalam penelitian ini diperoleh
hasil estimasi yang berbeda dengan hipotesis awal, dimana nilai tukar yang
diharapkan berpengaruh positif justru menunjukkan hasil estimasi yang berpengaruh
negatif dan signifikan secara statistik. Kondisi yang tidak sesuai antara hipotesis dan
temuan empirik diduga akibat kondisi perekonomian, sosial dan politik yang tidak
stabil di sebagain besar negara ASEAN 5 pasca terjadinya krisis ekonomi pada
tahun 1997.
Pada saat terjadi krisis nilai tukar beberapa negara ASEAN 5 menunjukkan
tren depresiasi namun tidak terbukti mampu menarik FDI ke dalam negeri,
dibuktikan dengan terus menurunnya jumlah FDI di negara ASEAN 5 pasca krisis
1997, salah satu contohnya adalah nilai FDI yang masuk ke Indonesia menurun tajam
hingga pada tahun 2000 tercatat minus. Hal tersebut menunjukkan bahwa
terdepresiasinya mata uang beberapa negara ASEAN 5 yang berawal pada tahun
1997 bukan semata-mata sebuah keuntungan di mata investor, karena dilihat asal-
commit to user
109
usulnya depresiasi mata uang yang terjadi merupakan dampak sistemik dari krisis
mata uang baht di Thailand.
Dampak krisis mata uang tersebut juga menyebabkan kondisi stabilitas
sosial dan politik di beberapa negara terguncang. Sehingga dapat disimpulkan
meskipun terjadi depresiasi mata uang pada beberapa negara bukan berarti investor
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
asing akan segera melakukan ekspansi, tetapi para investor asing juga
mempertimbangkan aspek kestabilan sosial, ekonomi, dan politik pada saat itu yang
memang sedang tidak kondusif untuk berinvestasi, khususnya ke negara-negara yang
terkena dampak krisis paling parah seperti Indonesia, Thailand, Filipina, dan
Malaysia.
3) Pengaruh Tenaga Kerja (LABOR) terhadap FDI
Berdasarkan persaman model dengan pendekatan Fixed Effect Method
(FEM) GLS, menunjukkan bahwa variabel tenaga kerja mempunyai pengaruh yang
positif dan signifikan secara statistik pada α = 5% terhadap aliran FDI yang masuk ke
negara ASEAN 5 dan China. Nilai koefisien regresi dari variabel tenaga kerja adalah
sebesar 2.142890. Dapat diartikan apabila terjadi perubahan pada tenaga kerja di
ASEAN 5 dan China sebesar 1% maka akan menyebabkan terjadinya perubahan
aliran FDI yang masuk ke ASEAN dan China sebesar 2.142890% dengan arah
hubungan yang sama (searah) dan diasumsikan variabel-variabel lain cateris paribus.
Hasil estimasi dalam penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Pourshahabi Davoud, dan Ehsan (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
semakin tinggi tingkat sumber daya manusia akan berasosiasi positif terhadap
keuntungan yang didapatkan dari kegiatan investasi termasuk FDI. Lebih lanjut
Ismail dan Ishak (2003) menyimpulkan bahwa dari hasil analisis dalam penelitiannya
commit to user
110
ditemukan bahwa ketersediaan jumlah angkatan kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap FDI yang masuk ke Thailand.
4) Pengaruh Infrastruktur (INFRA) terhadap FDI
Berdasarkan persamaan model dengan pendekatan Fixed Effect Method
(FEM) GLS, menunjukkan bahwa variabel infrastruktur mempunyai pengaruh yang
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
negatif dan signifikan secara statistik pada α = 5% terhadap aliran FDI yang masuk
ke negara ASEAN 5 dan China. Nilai koefisien regresi dari variabel infrastruktur
adalah sebesar
0.826995. Dapat diartikan apabila terjadi perubahan pada
infrastruktur di ASEAN dan China sebesar 1% maka akan menyebabkan terjadinya
perubahan aliran FDI yang masuk ke ASEAN dan China sebesar 0.826995% dengan
arah hubungan yang sama (searah) dan diasumsikan variabel-variabel lain cateris
paribus.
Hasil estimasi diatas juga sama dengan hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Dermiham dan Masca (2008) yang melakukan penelitian tentang
determinan FDI dari 38 negara berkembang periode 2000-2004 yang salah satu
variabel independenya adalah infrastruktur. Dalam penelitian tersebut juga
menggunakan telephone mainlines sebagai proxy dari variabel infrastruktur dan hasil
yang diperoleh adalah adanya pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel
infrastruktur terhadap FDI yang masu ke dalam negara berkembang.
Menurut Catherine dan Rashid (2011) di dalam penelitianya juga
menjelaskan bahwa dengan perkembangan infrastruktur yang baik di negara-negara
ASEAN akan berpengaruh positif
terhadap peningkatan aliran FDI. Dalam
penelitian ini digunakan jaringan telekomunikasi sebagai indikator perkembangan
infrastruktur.
commit to user
111
2.10.2. Analisis Vector Autoregression (VAR)
4.2.2.1. Penentuan Lag Optimal
Penentuan Lag Optimal sebagai bagian pertama yang dilakukan dalam
penelitian ini sebelum dilakukannya analisis VAR lebih lanjut. Pentingnya penentuan
lag yang optimal didasari atas analisis VAR sendiri yang peka terhadap panjang lag.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Selain itu dalam analisis VAR, variabel endogen yang dipakai dalam sistem
persamaan juga akan digunakan sebagai variabel eksogen. Penentuan lag optimal
berguna untuk menghilangkan masalah autokorelasi dalam sebuah sistem VAR dan
mampu menunjukkan berapa lama reaksi dari suatu variabel terhadap variabel
lainnya.
Dalam menentukan lag optimal dalam penelitian ini dibantu dengan melihat
nilai Akaike Criteria (AIC). Sebelumnya data dalam penelitian ini akan dianalisis
terlebih dahulu dengan metode VAR pada lag 1 dan 2, kemudian setelah diperoleh
hasil estimasinya langkah selanjutnya adalah membandingkan nilai yang didapatkan
dari hasil estimasi pada masing-masing tingkat lag tersebut.
Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah Akaike Criteria (AIC),
sehingga untuk menentukan lag yang optimal adalah dengan melihat nilai Akaike
Criteria (AIC) yang paling kecil. Hasil pengujian lag dari keenam negara yang
menjadi obyek penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut ini :
Tabel 4.12. Hasil Uji Pemilihan Lag Optimal
Akaike Criteria (AIC)
Lag (1)
Lag (2)
-1.384291
-2.677306
-8.706866
-10.97164
-8.361881
-10.48318
-8.668382
-9.931375
-4.487861
-5.430181
-10.39153
-13.41790
Negara
Indonesia
Malaysia
Thailand
Singapura
Filipina
China
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
commit to user
112
Berdasarkan hasil pengujian pemilihan lag optimal pada tabel 4.12 diatas
menunjukkan bahwa untuk negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura,
Filipina, dan China nilai minimum Akaike Criteria (AIC) terletak pada lag (2).
Sehingga lag optimal untuk keenam negara tersebut adalah ketika estimasi dilakukan
pada lag (2). Hasil estimasi dengan lag optimal inilah yang akan digunakan untuk
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
melakukan tahap analisis metode VAR selanjutnya.
4.2.2.2. Hasil Estimasi Vector Autoregression (VAR)
Setelah diperoleh lag optimal tahap analisis berikutnya adalah melakukan
estimasi model VAR. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa lag optimal
dari penelitian ini terletak pada lag (2). Sehingga estimasi model VAR dari keenam
negara yang menjadi objek penelitian ini menggunakan lag (2). Sedangkan untuk
mengetahui tingkat signifikansi hasil estimasi model dilakukan pada tingkat 1%, 5%,
dan 10% dengan nilai tabel masing-masing sebesar 2.624, 1.761, dan 1.345. Estimasi
model VAR ini dilakukan dengan menggunakan software eviews 6 dan hasil dari
estimasi tersebut dapat dilihat pada penjelasan berikut ini :
1) Hasil Estimasi VAR di Negara Indonesia
Berdasarkan hasil estimasi model VAR dapat diketahui bahwa variabel
dependen LNFDI_IDN secara signifikan dipengaruhi oleh variabel LNFDI_IDN(-2),
LNLABOR_IDN(-1) dengan arah hubungan positif, dan
LNINFRA_IDN(-2)
dengan arah hubungan yang negatif. Sedangkan variabel EGROW_IDN ,
LNEXCHR_IDN, dan variabel LNFDI_IDN itu sendiri tidak memberikan pengaruh
yang signifikan secara statistik terhadap variabel LNFDI_IDN (lihat lampiran 5.1).
Secara lebih lanjut, bahwa dari hasil estimasi model tersebut juga dapat digunakan
untuk melihat hubungan dinamis variabel dependen lainnya.
commit to user
113
Diantaranya adalah variabel independen LNEXCHR_IDN yang dipengaruhi
oleh variabel LNFDI_IDN(-2) secara negatif, variabel dependen LNLABOR_IDN
yang dipengaruhi oleh variabel EGROW_IDN(-1) secara negatif, LNLABOR_IDN(1) dan
LNINFRA_IDN(-1) secara positif.
Sedangkan
variabel
dependen
LNINFRA_IDN hanya dipengaruhi oleh variabel LNINFRA_IDN(-1) secara positif.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Sehingga hubungan dinamis antar variabel penelitian dari hasil estimasi model VAR,
atau juga sering dikenal sebagai kausalitas VAR di negara Indonesia dapat
digambarkan sebagai berikut :
LNFDI
LNINFRA
LNEXCHR
EGROW
LNLABOR
Gambar 4.1.
Hubungan Kausalitas VAR di Indonesia
2) Hasil Estimasi VAR di Negara Malaysia
Hasil estimasi model VAR dari negara Malaysia menunjukkan bahwa
variabel dependen LNFDI_MYS secara signifikan dipengaruhi oleh variabel
LNLABOR_MYS(-1) dengan arah hubungan negatif, dan LNLABOR_MYS(-2)
dengan arah hubungan yang positif. Sedangkan variabel
LNEXCHR_MYS,
LNINFRA_MYS,
dan
LNFDI_MYS
EGROW_MYS,
itu
sendiri
tidak
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel LNFDI_MYS IDN (lihat
lampiran 5.2). Dari hasil estimasi tersebut juga dapat ditunjukkan adanya hubungan
dinamis dari variabel-variabel lainnya.
commit to user
114
Dimana
variabel-variabel
LNLABOR_MYS(-2)
secara
seperti
signifikan
LNLABOR_MYS(-1)
juga
mempengaruhi
serta
variabel
EGROW_MYS, dengan arah hubungan masing-masing positif dan negatif. Variabel
LNINFRA_MYS(-1) dan LNINFRA_MYS(-2) secara signifikan mempengaruhi
variabel dependen LNEXCHR_MYS. Variabel dependen LNLABOR_MYS secara
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
signifikan dipengaruhi oleh variabel LNFDI_MYS(-1), LNFDI_MYS(-2),
EGROW_MYS(-2), LNLABOR_MYS(-1), dan LNLABOR_MYS(-2). Sedangkan
variabel
LNINFRA_MYS
dipengaruhi
oleh
variabel
LNFDI_MYS(-2),
EGROW_MYS(-2), LNLABOR_MYS(-1), dan LNLABOR_MYS(-2). Hubungan
dinamis antar variabel penelitian dari hasil estimasi model VAR tersebut dapat
dijelaskan melalui gambar berikut ini :
LNINFRA
LNFDI
LNEXCHR
EGROW
LNLABOR
Gambar 4.2.
Hubungan Kausalitas VAR di Malaysia
3) Hasil Estimasi VAR di Negara Thailand
Dari hasil estimasi model VAR dari negara Thailand justru menunjukkan
hasil yang berbeda dari negara-negara lainnya. Variabel-variabel LNFDI_THA
EGROW_THA,
LNEXCHR_THA,
LNLABOR_THA,
LNINFRA_THA,
dan
LNFDI_THA itu sendiri tidak memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik
terhadap variabel LNFDI_THA (lihat lampiran 5.3). Di lain pihak, untuk model
commit to user
115
VAR dengan variabel dependen EGROW_THA dipengaruhi secara signifikan oleh
variabel
EGROW_THA(-1),
EGROW_THA(-2),
LNEXCHR_THA(-1),
dan
LNEXCHR_THA(-2).
Variabel
dependen
LNEXCHR_THA
dipengaruhi
oleh
variabel
EGROW_THA(-1),
LNINFRA_THA(-2),
LNEXCHR_THA(-1),
dan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
LNEXCHR_THA(-2). Model VAR dengan variabel dependen LNLABOR_THA
secara signifikan dipengaruhi oleh LNLABOR_THA(-1) dan LNLABOR_THA(-2).
Sedangkan,
variabel
dependen
LNINFRA_THA
dipengaruhi
oleh
LNLABOR_THA(-1) dan LNINFRA_THA(-1). Hubungan antar variabel penelitian
tersebut dapat dijelaskan pada gambar berikut ini :
LNFDI
LNEXCHR
LNINFRA
EGROW
LNLABOR
Gambar 4.3.
Hubungan Kausalitas VAR di Thailand
4) Hasil Estimasi VAR di Negara Singapura
Berdasarkan hasil estimasi model VAR dari negara Singapura dapat
dijelaskan bahwa variabel LNFDI_SGP secara signifikan hanya dipengaruhi oleh
variabel LNINFRA_SGP(-1) dengan arah hubungan yang positif. Sedangkan
variabel
independen
lainnya
seperti
EGROW_THA,
LNEXCHR_THA,
LNLABOR_THA, dan variabel LNFDI_SGP itu sendiri tidak memberikan pengaruh
yang signifikan terhadap LNFDI_SGP (lihat lampiran 5.4). Untuk variabel dependen
commit to user
116
lainnya seperti LNEXCHR_SGP dipengaruhi secara signifikan oleh variabel
LNEXCHR_SGP(-1), variabel dependen LNLABOR_SGP secara signifikan
dipengaruhi
oleh
variabel
LNFDI_SGP(-1),
LNLABOR_SGP(-1),
LNLABOR_SGP(-2), dan LNINFRA_SGP(-2).
Variabel LNINFRA_SGP dipengaruhi oleh variabel EGROW_SGP(-1),
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
EGROW_SGP(-2),LNEXCHR_SGP(-2),LNLABOR_SGP(-1), LNINFRA_SGP(-1)
signifikan secara statistik. Namun demikian, ditemukan bahwa tidak ada satupun dari
variabel independen yang berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen
EGROW_SGP. Lebih lanjut hubungan dinamis antar variabel dari hasil estimasi
model VAR tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
LNFDI
LNINFRA
LNLABOR
LNEXCHR
EGROW
Gambar 4.4.
Hubungan Kausalitas VAR di Singapura
5) Hasil Estimasi VAR di Negara Filipina
Berdasarkan hasil estimasi model VAR dari negara Filipina dapat diketahui
bahwa variabel dependen LNFDI_PHL secara signifikan dipengaruhi oleh variabelvariabel
LNFDI_PHL(-1),
LNEXCHR_PHL(-1),
EGROW_PHL(-1),
LNEXCHR_PHL(-2),
EGROW_PHL(-2),
LNINFRA_PHL(-1),
dan
LNINFRA_PHL(-2). Sedangkan variabel LNLABOR_PHL tidak memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen LNLABOR_PHL (lihat
commit to user
117
lampiran 5.5). Dengan melihat hasil estimasi model VAR tersebut juga dapat
diperoleh informasi bahwa variabel EGROW_PHL secara signifikan hanya
dipengaruhi oleh variabel LNINFRA_PHL(-2).
Variabel dependen LNEXCHR_PHL secara signifikan dipengaruhi oleh
variabel
EGROW_PHL(-2),
LNEXCHR_PHL(-1),
LNEXCHR_PHL(-2),
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
LNINFRA_PHL(-1), dan LNINFRA_PHL(-2). Variabel LNLABOR_PHL
dipengaruhi oleh variabel LNFDI_PHL(-1) dan LNLABOR_PHL(-1). Namun
demikian, ditemukan bahwa tidak ada satupun dari variabel independen yang
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen LNINFRA_PHL. Lebih lanjut
hubungan dinamis antar variabel dari hasil estimasi model VAR tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
LNFDI
LNLABOR
LNINFRA
EGROW
LNEXCHR
Gambar 4.5.
Hubungan Kausalitas VAR di Filipina
6) Hasil Estimasi VAR di Negara China
Dari hasil estimasi model VAR China yang telah dilakukan sebelumnya,
menunjukkan bahwa variabel-variabel EGROW_CHN(-1), LNEXCHR_CHN(-1),
dan LNINFRA_CHN(-1) mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik
terhadap variabel dependen LNFDI_CHN. Sedangkan variabel LNFDI_CHN itu
sendiri dan variabel LNLABOR_CHN tidak berpengaruh signifikan terhadap
commit to user
118
variabel dependen LNFDI_CHN (lihat lampiran 5.6). Hasil estimasi model VAR
pada tabel diatas
juga memberikan
informasi bahwa variabel dependen
EGROW_CHN secara signifikan dipengaruhi oleh variabel LNEXCHR_CHN(-1),
LNEXCHR_CHN(-2), LNLABOR_CHN(-1), LNLABOR_CHN(-2).
Variabel dependen LNEXCHR_CHN dipengaruhi oleh variabel
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
LNFDI_CHN(-1), EGROW_CHN(-2), LNINFRA_CHN(-1), dan LNINFRA_CHN(2). Untuk variabel dependen LNLABOR_CHN dipengaruhi secara signifikan oleh
variabel
LNFDI_CHN(-2),
LNINFRA_CHN(-1),
dan
LNEXCHR_CHN(-1),
LNINFRA_CHN(-2).
LNLABOR_CHN(-1),
Sedangkan
variabel
LNINFRA_CHN secara signifikan dipengaruhi oleh LNINFRA_CHN(-1), dan
LNINFRA_CHN(-2). Hubungan dinamis antar variabel penelitian tersebut dapat
dijelaskan pada gambar berikut ini :
EGROW
LNFDI
LNEXCHR
LNINFRA
LNLABOR
Gambar 4.6.
Hubungan Kausalitas VAR di China
4.2.2.3. Analisis Impulse Respon Function (IRF)
Analisis Impulse Respon Function (IRF) ini mampu menunjukkan
bagaimana respon variabel dependen terhadap guncangan (shock) atau inovasi dari
variabel independen sebesar satu standar deviasi. Analisis IRF dalam penelitian
commit to user
119
bertujuan untuk melihat respon variabel FDI terhadap guncangan (shock) atau
inovasi dari variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja dan
infrastruktur di negara ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura,
Filipina) dan China periode 1988-2009.
Sehingga dari hasil analisis IRF diharapkan mampu membuktikan hipotesis
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
dari penelitian ini. Adanya pengurutan variabel dalam IRF berdasarkan pada
faktorisasi Cholesky, sedangkan analisis ini akan melihat IRF dalam kurun waktu 20
tahun. Untuk melakukan analisis IRF ini digunakan software eviews 6, adapun hasil
analisis tersebut dapat dijelasakan berikut ini :
1) Analisis IRF Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Indonesia
Pada bagian ini akan menjelaskan respon variabel FDI terhadap guncangan
(shock) atau inovasi dari variabel FDI itu sendiri, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar,
tenaga kerja dan infrastruktur di negara Indonesia melalui analisis IRF yang telah
dilakukan. Adapun hasil analisis IRF untuk negara Indonesia dapat dilihat pada
gambar berikut ini :
commit to user
120
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar. 4.7.
Hasil Analisis IRF FDI di Indonesia
Hasil dari analisis IRF Indonesia diatas menunjukkan bahwa respon FDI
akibat shock FDI itu sendiri dimulai pada tahun ke-2 yang bernilai positif sebesar
20% dan cenderung menuju ke garis base line. Pada periode tahun ke-4 respon FDI
terhadap shock FDI itu sendiri menjadi negatif yaitu sebesar -10%, namun demikian
ketika memasuki periode tahun ke-10 terjadi keseimbangan kembali dan hingga
akhir periode respon yang dihasilkan cenderung positif.
Respon FDI terhadap variabel-variabel determinan FDI diantaranya, respon
FDI terhadap goncangan pertumbuhan ekonomi pada tahun ke-2 bernilai positif
commit to user
121
20%, pada tahun ke-3 menjadi bernilai negatif diantara 0 sampai -10% dan
memasukki tahun ke-4 hingga akhir periode respon FDI selalu berada diatas base
line atau positif. Respon FDI terhadap goncangan nilai tukar dan tenaga kerja, dan
infrastruktur dari awal periode berfluktuasi di sekitar garis base line berada pada
nilai 0-10% dan tercatat sebanyak tiga kali terjadi keseimbangan .
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa respon FDI yang
paling besar atau kuat disebabkan oleh shock dari FDI itu sendiri yang bernilai
positif, meskipun pada perkembangannya tidak menyebabkan keseimbangan. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam melakukan investasi FDI di Indonesia investor asing
mempertimbangkan kinerja FDI itu sendiri dari tahun ke tahun sebagai bahan
pertimbangan paling utama diantara variabel lainnya. Terjadi persamaan pola respon
FDI dari variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar , infrstruktur dan tenaga kerja.
2) Analisis IRF Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Malaysia
Pada bagian ini akan menjelaskan respon variabel FDI terhadap guncangan
(shock) atau inovasi dari variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja dan
infrastruktur di negara Malaysia melalui analisis IRF yang telah dilakukan. Adapun
hasil analisis IRF untuk negara Malaysia dapat dilihat pada gambar berikut ini :
commit to user
122
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar. 4.8.
Hasil Analisis IRF FDI di Malaysia
Berdasarkan hasil analisis IRF pada gambar 4.8 diatas menunjukkan bahwa
respon FDI akibat goncangan FDI itu sendiri dimulai tahun ke-1 yang bernilai positif
hampir mendekati nilai 60%, pada periode tahun ke-2 hingga tahun ke-7 berfluktuasi
diatas base line tercatat menyebabkan 3 kali keseimbangan, setelah itu respon FDI
dari periode tahun ke-8 hingga akhir periode selalu berada di atas base line atau
positif.
Respon FDI terhadap variabel-variabel determinan FDI diantaranya, respon
FDI terhadap goncangan pertumbuhan ekonomi pada tahun ke-2 bernilai negatif
commit to user
123
diantara 0 sampai -20%, pada tahun ke-4 menjadi bernilai positif dianatara 20%
sampai 40% , memasukki tahun ke-6 hingga tahun ke-9 kembali bernilai negatif dan
pada tahun ke-10 hingga akhir periode respon FDI selalu berada diatas base line atau
positif. Tercatat terjadi tiga kali keseimbangan pada kondisi ini.
Respon FDI terhadap goncangan nilai tukar dimulai pada periode tahun ke-2
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
dan hingga akhir periode selalu berada di atas garis base line atau positif. Pada
respon FDI terhadap goncangan tenaga kerja juga dimulai pada periode tahun ke-2
dan hingga akhir periode berada di bawah garis base line atau negatif. Sedangkan
respon FDI terhadap goncangan infrastruktur memilikki pola yang hampir sama
dengan pertumbuhan ekonomi dimana pada periode tahun ke-2 hingga tahun ke-9
berfluktuasi di sekitar garis base line dengan beberapa kali terjadi keseimbangan,
memasukki periode ke-10 hingga mencapai akhir periode respon FDI selalu berada
diatas base line atau positif.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa respon FDI yang
paling besar atau kuat disebabkan oleh goncangan dari FDI itu sendiri yang bernilai
positif dan beberapa kali menyebabkan keseimbangan. Hal ini menunjukkan hal yang
sama pada analisis sebelumnya bahwa dalam melakukan investasi FDI di Malaysia
investor asing mempertimbangkan kinerja FDI itu sendiri dari tahun ke tahun sebagai
bahan pertimbangan paling utama diantara variabel lainnya. Kemudian variabel
lainnya yang cukup kuat mempengaruhi respon FDI adalah pertumbuhan ekonomi
dan nilai tukar yang keduanya juga cenderung bernilai positif, disusul dengan tenaga
kerja yang berniali negatif dan infrastruktur yang cenderung positif.
commit to user
124
3) Analisis IRF Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Thailand
Pada bagian ini akan menjelaskan respon variabel FDI terhadap guncangan
(shock) atau inovasi dari variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja dan
infrastruktur di negara Thailand melalui analisis IRF yang telah dilakukan. Adapun
hasil analisis IRF untuk negara Thailand dapat dilihat pada gambar berikut ini :
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar. 4.9.
Hasil Analisis IRF FDI di Thailand
Berdasarkan hasil analisis IRF pada gambar 4.9 diatas menunjukkan bahwa
respon FDI akibat goncangan FDI itu sendiri dimulai sejak tahun ke-2 yang bernilai
positif berada diantara 20% - 30% , pada periode tahun ke-6 respon FDI sempat
commit to user
125
bernilai negatif, memasukki tahun ke-9 hingga mencapai akhir periode respon FDI
bernilai positif namun cukup lemah yaitu hanya berada pada nilai 0% sampai 10%.
Sedangkan respon FDI terhadap variabel-variabel determinan FDI diantaranya,
respon FDI terhadap goncangan pertumbuhan ekonomi pada tahun ke-2 bernilai
negatif diantara 0 sampai -10%, pada tahun ke-3 menjadi bernilai positif diantara 0%
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
sampai 20% , ketika memasukki tahun ke-5 akhir periode respon FDI bernilai
negatif.
Respon FDI terhadap goncangan nilai tukar dimulai pada periode tahun ke-2
hingga akhir periode berfluktuaktif di sekitar base line dan cenderung positif. Pada
respon FDI terhadap goncangan tenaga kerja pada periode tahun ke-4 hingga akhir
periode cenderung bernilai negatif diantara 0 sampai -10%, pada akhir periode yaitu
tajhun ke-20 respon FDI mulai mendekati base line. Sedangkan respon FDI terhadap
goncangan infrastruktur memilikki pola yang hampir sama dengan niali tukar dimana
pada periode tahun ke-2 hingga akhir periode hanya berfluktuasi di sekitar base line
dan terlihat menunjukkan respon positif yang lemah.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa respon FDI yang
paling besar atau kuat disebabkan oleh goncangan dari FDI itu sendiri yang bernilai
positif dan beberapa kali menyebabkan keseimbangan. Hal ini menunjukkan hal yang
sama pada analisis sebelumnya bahwa dalam melakukan investasi FDI di Thailand
investor asing juga mempertimbangkan kinerja FDI itu sendiri dari tahun ke tahun
sebagai bahan pertimbangan paling utama diantara variabel lainnya. Kemudian
variabel lainnya seperti respon FDI terhadap goncangan pertumbuhan ekonomi
sempat memperlihatkan respon yang relatif kuat dibandingkan variabel determinan
FDI yang lainnya dan cenderung bernilai positif.
commit to user
126
4) Analisis IRF Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Singapura
Pada bagian ini akan menjelaskan respon variabel FDI terhadap guncangan
(shock) atau inovasi dari variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja dan
infrastruktur di negara Singapura melalui analisis IRF yang telah dilakukan. Adapun
hasil analisis IRF untuk negara Singapura dapat dilihat pada gambar berikut ini :
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar. 4.10.
Hasil Analisis IRF FDI di Singapura
Berdasarkan hasil analisis IRF pada gambar 4.10 diatas menunjukkan bahwa
respon FDI akibat shock FDI itu sendiri dimulai sejak tahun ke-1 yang bernilai
positif berada diantara 40% - 50% , pada periode tahun ke-4 respon FDI sempat
commit to user
127
bernilai negatif diantara 0 sampai -20%, memasukki tahun ke-5 hingga mencapai
akhir periode respon FDI bernilai positif. Sedangkan respon FDI terhadap variabelvariabel determinan FDI diantaranya, respon FDI terhadap goncangan pertumbuhan
ekonomi pada tahun ke-2 bernilai positif diantara 0 sampai 20%, pada tahun ke-4
menjadi bernilai negatif diantara 20% sampai 40% , ketika memasukki tahun ke-5
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
akhir periode respon FDI berfluktuatif di sekitar base line. Tercatat beberapa kali
terjadi keseimbangan pada kondisi ini.
Respon FDI terhadap goncangan nilai tukar dimulai pada periode tahun ke-2
hingga periode tahun ke-7 berfluktuaktif di sekitar base line dan pada tahun ke-8
hingga akhir periode selalu berada di atas garis base line atau positif dan relatif kuat
hampir mendekati 40%. Pada respon FDI terhadap goncangan tenaga kerja juga
dimulai pada periode tahun ke-2 berfluktuasi di sekitar base line hingga akhir periode
dan cenderung positif. Sedangkan respon FDI terhadap goncangan infrastruktur
memilikki pola yang hampir sama dengan pertumbuhan ekonomidimana pada
periode tahun ke-2 hingga akhir periode hanya berfluktuasi di sekitar base line dan
terlihat menunjukkan respon yang lemah.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa respon FDI yang
paling besar atau kuat disebabkan oleh goncangan dari FDI itu sendiri yang bernilai
positif dan beberapa kali menyebabkan keseimbangan. Hal ini menunjukkan hal yang
sama pada analisis sebelumnya bahwa dalam melakukan investasi FDI di Singapura
investor asing juga mempertimbangkan kinerja FDI itu sendiri dari tahun ke tahun
sebagai bahan pertimbangan paling utama diantara variabel lainnya. Kemudian
variabel lainnya seperti respon FDI terhadap goncangan pertumbuhan ekonomi
commit to user
128
sempat memperlihatkan respon yang kuat pada awal periode, namun respon FDI
menjadi melemah ketika mendekati akhir periode.
Begitu juga yang ditunjukkan oleh respon FDI terhadap goncangan tenaga
kerja dan infrastruktur di Singapura menunjukkan respon yang lemah, salah satunya
dimungkinkan karena investasi di Singapura lebih mengarah ke investasi yang padat
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
modal. Sedangkan, shock dari nilai tukar menyebabkan respon FDI yang lemah pada
awal periode, namun terjadi penguatan ketika mendekati akhir periode dan bernilai
positif yang hampir mendekati nilai 40 %.
5) Analisis IRF Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Filipina
Pada bagian ini akan menjelaskan respon variabel FDI terhadap guncangan
(shock) atau inovasi dari variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja dan
infrastruktur di negara Filipina melalui analisis IRF yang telah dilakukan. Adapun
hasil analisis IRF untuk negara Filipina dapat dilihat pada gambar berikut ini :
commit to user
129
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Gambar. 4.11.
Hasil Analisis IRF FDI di Filipina
Berdasarkan hasil analisis IRF pada gambar 4.11 diatas menunjukkan bahwa
respon FDI akibat shock FDI dan variabel-variabel determinan FDI menunjukkan
pola yang hampir sama dan rata-rata dimulai pada periode tahun ke-2. Nilai akibat
shock dari variabel determinan FDI berfluktuasi antara 0-10%. Sedangkan respon
FDI yang paling kuat disebabkan oleh adanya goncangan dari infrastruktur.
Respon FDI terhadap shock dari variabel-variabel lainnya seperti FDI itu
sendiri, pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, dan angkatan kerja cenderung lebih lemah
dibandingkan dengan goncangan yang diberikan infrastruktur. Hal ini dapat diartikan
commit to user
130
pembangunan infrastruktur menjadi faktor utama yang menjadi perhatian investor
asing dalam menanamkan modalnya ke negara Filipina. Dari kelima gambar tersebut
diketahui juga bahwa respon FDI dari shock variabel-variabel FDI dan determinan
FDI beberapa kali menyebabkan keseimbangan.
6) Analisis IRF Foreign Direct Investment (FDI) di Negara China
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Pada bagian ini akan menjelaskan respon variabel FDI terhadap guncangan
(shock) atau inovasi dari variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja dan
infrastruktur di negara China melalui analisis IRF yang telah dilakukan. Adapun
hasil analisis IRF untuk negara China dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar. 4.12.
Hasil Analisis IRF FDI di China
commit to user
131
Berdasarkan hasil analisis IRF pada gambar 4.12 diatas menunjukkan bahwa
respon FDI paling kuat disebabkan oleh dua variabel yaitu FDI itu sendiri dan
pertumbuhan ekonomi. Respon FDI pada tahun ke-1 berniali positif mendekati angka
20%, pada tahun ke-5 menjadi bernilai negatif diantara 0 sampai 10%, memasukki
periode tahun ke-7 mulai bernilai postif lagi hingga periode tahun ke-18, ketika
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
mencapai akahir periode yaitu pada periode tahun ke-19 respon FDI mendekati base
line.
Respon FDI terhadap pertumbuhan ekonomi dimulai pada tahun ke-2 yang
bernilai positif mendekati angka 20%, pada tahun ke-5 menjadi bernilai negatif
diantara -10% sampai -20%, memasukki periode ke-8 mulai bernilai postif lagi
hingga periode tahun ke-19, ketika mencapai akahir periode yaitu pada periode tahun
ke-20 respon FDI mendekati base line.
Pola respon FDI terhadap goncangan nilai tukar hampir sama dengan
infrastruktur, dimana pada awal periode menunjukkan pola yang berfluktuasi di
sekitar base line dengan beberapa kali terjadi keseimbangan dan ketika memasukki
periode tahun ke-5 hingga akhir periode respon FDI cenderung menunjukkan nilai
yang negatif. Sedangkan, respon FDI terhadap goncangan tenaga kerja dimulai pada
awal periode menunjukkan fluktuasi di sekitar base line, pada periode ke-5 mulai
menunjukkan respon yang berniali positif hingga akhir periode.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa respon FDI yang
paling besar atau kuat disebabkan oleh goncangan dari FDI itu sendiri dan
pertumbuhan ekonomi yang bernilai positif dan beberapa kali menyebabkan
keseimbangan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam melakukan investasi FDI di China
investor asing mempertimbangkan kinerja FDI itu sendiri dari tahun ke tahun dan
commit to user
132
yang tidak kalah penting adalah pertumbuhan ekonomi di China sendiri yang terus
mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dan mampu melewati dua krisis
ekonomi mendorong investor asing untuk menanamkan investasinya ke China.
Kemudian variabel lainnya seperti respon FDI terhadap goncangan nilai
tukar dan infrastruktur menunjukkan pola yang hampir sama dan cenderung negatif.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Sedangkan respon FDI terhadap goncangan tenaga kerja berniali positif, karena
jumlah angkatan kerja di China cukup besar dan cukup murah.
4.2.2.4. Analisis Forecast Error Decomposition of Variance (FEDV)
Analisis FEVD pada penelitian ini dilakukan untuk melihat peran atau
kontribusi variabel-variabel pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja, dan
infrastruktur dalam menjelaskan variabilitas variabel FDI di negara Indonesia,
Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, dan China. Dalam penelitian ini akan dilihat
analisis FEDV dalam kurun waktu periode 20 tahun. Sehingga dari hasil analisis
FEDV ini akan membuktikan hipotesis dalam penelitian ini. Untuk melakukan
analisis FEDV ini digunakan software eviews 6, adapun hasil analisis tersebut dapat
dijelasakan berikut ini :
1) Analisis FEDV Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Indonesia
Dari hasil analisis FEDV ini akan menunjukkan variabilitas dari Foreign
Direct Investment
(FDI) di Negara Indonesia. Dengan melihat variance
decomposition akan diketahui komposisi dari variabel FDI itu sendiri, pertumbuhan
ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur. Adapun hasil analisis FEDV
untuk negara Indonesia periode 1988-2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
commit to user
133
Tabel 4.13. Hasil Analisis FEDV FDI di Indonesia 1988-2009
Variance Decomposition : LnFDI
Periode
LnFDI
EGROW LnEXCHR
1
100.0000
0.000000
0.000000
5
60.26386
16.72148
5.485038
10
60.66964
15.48405
5.663732
15
60.68062
15.49341
5.756430
20
60.43859
15.81195
5.822206
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
perpustakaan.uns.ac.id
LnLABOR
0.000000
12.52676
13.09308
13.07987
12.97773
LnINFRA
0.000000
5.002871
5.089495
4.989665
4.949531
digilib.uns.ac.id
Berdasarkan hasil analisis Variance Decomposition pada tabel diatas dapat
menunjukkan variabilitas FDI di Indonesia. Dimana, pada periode pertama variabel
FDI itu sendiri yang paling berperan dalam menjelaskan variabilitas FDI di Indonesia
yaitu sebesar 100 persen. Pada periode ke-5 terjadi perubahan yang sangat signifikan
peran variabel-variabel dalam menjelaskan variabilitas FDI di Indonesia, namun
variabel FDI sendiri masih berperan kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI sebesar
60.264.
Diikuti oleh variabel pertumbuhan ekonomi dengan 16.722 persen, tenaga
kerja dengan 12.527 persen, dan variabel nilai tukar dengan 5.485 persen. Sedangkan
pada periode ini infrastruktur menjadi variabel yang mempunyai peran paling kecil
dalam menjelaskan variabilitas FDI yaitu sebesar 5.003 persen. Pada periode
selanjutnya terjadi perubahan komposisi peran, akan tetapi tidak terlalu signifikan.
Sampai akhir periode urutan tersebut tetap bertahan dalam menjelaskan
variabilitas FDI di Indonesia, dengan FDI itu sendiri menjadi variabel yang paling
berperan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka waktu panjang variabel FDI
sendiri memilikki peran yang kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI di Indonesia
dibandingkan dengan variabel-variabel lainnya.
commit to user
134
2) Analisis FEDV Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Malaysia
Dari hasil analisis FEDV ini akan menunjukkan variabilitas dari Foreign
Direct
Investment
(FDI) di Negara Malaysia. Dengan
melihat
variance
decomposition akan diketahui komposisi dari variabel FDI itu sendiri, pertumbuhan
ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur. Adapun hasil analisis FEDV
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
untuk negara Malaysia periode 1988-2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.14. Hasil Analisis FEDV FDI di Malaysia 1988-2009
Variance Decomposition : LnFDI
Periode
LnFDI
EGROW
1
100.0000
0.000000
5
58.16556
14.72660
10
47.03639
15.82375
15
37.18964
17.46139
20
27.66077
12.42319
LnEXCHR
0.000000
10.78149
19.54444
21.68193
29.41381
LnLABOR
0.000000
15.52477
16.09009
19.15865
26.04155
LnINFRA
0.000000
0.801592
1.505326
4.508395
4.460678
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Berdasarkan hasil analisis Variance Decomposition pada tabel diatas dapat
menunjukkan variabilitas FDI di Indonesia. Dimana, pada periode pertama variabel
FDI itu sendiri yang paling berperan dalam menjelaskan variabilitas FDI di Malaysia
yaitu sebesar 100 persen. Pada periode ke-5 terjadi perubahan yang sangat signifikan
peran variabel-variabel dalam menjelaskan variabilitas FDI di Malaysia, namun
variabel FDI sendiri masih berperan kuat dalam menjelaskan FDI sebesar 58.166.
Diikuti dengan variabel tenaga kerja dengan 15.525 persen, pertumbuhan ekonomi
dengan 14,727 persen, dan variabel nilai tukar dengan 10.782. Sedangkan pada
periode ini infrastruktur menjadi variabel yang mempunyai peran paling kecil dalam
menjelaskan variabilitas FDI yaitu sebesar 0.806 persen.
Pada periode ke-10 dan ke-15 urutan tersebut tetap bertahan dalam
menjelaskan variabilitas FDI di Malaysia, dengan FDI itu sendiri menjadi variabel
yang paling berperan. Namun, pada periode ke-20 terjadi perubahan urutan peran
commit to user
135
dalam menjelaskan variabilitas FDI yaitu variabel yang paling berperan pada periode
ini adalah nilai tukar dengan nilai sebesar 29.414. Diikuti dengan variabel FDI itu
sendiri dengan 27.661 persen, tenaga kerja dengan 26.042, dan pertumbuhan
ekonomi dengan 12.423 persen.
Hingga pada periode ke-20 variabel infrastruktur tetap menjadi variabel
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
yang mempunyai peran paling kecil dalam menjelaskan variabilitas cadangan devisa
yaitu sebesar 0.791 persen. Hal ini menunjukkan bahwa variabel FDI itu sendiri
memilikki peran yang kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI di Malaysia, terlihat
selama tiga periode menjadi variabel yang paling berperan, meskipun pada akhir
periode posisi tersebut diambil alih oleh variabel nilai tukar.
3) Analisis FEDV Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Thailand
Dari hasil analisis FEDV ini akan menunjukkan variabilitas dari Foreign
Direct
Investment
(FDI) di Negara
Thailand. Dengan
melihat
variance
decomposition akan diketahui komposisi peran dari variabel FDI itu sendiri,
pertumbuhan ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur. Adapun hasil
analisis FEDV untuk negara Thailand periode 1988-2009 dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 4.15. Hasil Analisis FEDV FDI di Thailand 1988-2009
Variance Decomposition : LnFDI
Periode
LnFDI
EGROW
1
100.0000
0.000000
5
73.80469
15.06578
10
45.46711
29.05211
15
38.61379
27.97027
20
37.91709
27.84428
LnEXCHR
0.000000
2.366417
4.978499
4.811798
4.711679
LnLABOR
0.000000
5.627150
18.04077
26.06628
26.90769
LnINFRA
0.000000
3.135971
2.461511
2.537864
2.619261
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Berdasarkan hasil analisis Variance Decomposition pada tabel diatas dapat
menunjukkan variabilitas FDI di Thailand. Dimana, pada periode pertama variabel
commit to user
136
FDI itu sendiri yang paling berperan dalam menjelaskan variabilitas FDI di Thailand
yaitu sebesar 100 persen. Pada periode ke-5 terjadi perubahan yang sangat signifikan
peran variabel-variabel dalam menjelaskan variabilitas FDI di Thailand, namun
variabel FDI sendiri masih berperan kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI sebesar
73.805. Diikuti dengan variabel pertumbuhan ekonomi dengan 15.066 persen,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
tenaga kerja dengan 5.627 persen, dan variabel infrastruktur dengan 3.136 persen.
Sedangkan pada periode ini nilai tukar menjadi variabel yang mempunyai peran
paling kecil dalam menjelaskan variabilitas FDI yaitu sebesar 2.366 persen.
Sampai akhir periode FDI itu sendiri tetap menjadi variabel yang paling
berperan, meskipun terjadi perubahan urutan pada variabel lainnya dalam
menjelaskan variabilitas FDI. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka waktu
panjang variabel FDI sendiri memilikki peran yang kuat dalam menjelaskan
variabilitas FDI di Thailand dibandingkan dengan variabel-variabel lainnya.
4) Analisis FEDV Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Singapura
Dari hasil analisis FEDV ini akan menunjukkan variabilitas dari Foreign
Direct Investment (FDI) di Negara Singapura. Dengan melihat variance
decomposition akan diketahui komposisi dari variabel FDI itu sendiri, pertumbuhan
ekonomi, nilai tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur. Adapun hasil analisis FEDV
untuk negara Singapura periode 1988-2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.16. Hasil Analisis FEDV FDI di Singapura 1988-2009
Variance Decomposition : LnFDI
Periode
LnFDI
EGROW
1
100.0000
0.000000
5
78.44497
16.61470
10
77.18015
15.83203
15
67.65108
12.20925
20
53.46525
6.651379
LnEXCHR
0.000000
0.875720
2.367908
13.34411
29.97939
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
commit to user
LnLABOR
0.000000
2.064884
2.733071
5.339695
9.113155
LnINFRA
0.000000
1.999721
1.886832
1.455866
0.790831
137
Berdasarkan hasil analisis Variance Decomposition pada tabel diatas dapat
menunjukkan variabilitas FDI di Singapura. Dimana, pada periode pertama variabel
FDI itu sendiri yang paling berperan dalam menjelaskan variabilitas FDI di
Singapura yaitu sebesar 100 persen. Pada periode ke-5 terjadi perubahan yang sangat
signifikan peran variabel-variabel dalam menjelaskan variabilitas FDI di Indonesia,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
namun variabel FDI sendiri masih berperan kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI
sebesar 78.445. Diikuti dengan variabel pertumbuhan ekonomi dengan
16.615
persen, tenaga kerja dengan 2.065 persen, dan variabel infrastruktur dengan 1.910
persen. Sedangkan pada periode ini nilai tukar menjadi variabel yang mempunyai
peran paling kecil dalam menjelaskan variabilitas FDI yaitu sebesar 0.876 persen.
Sampai akhir periode variabel FDI itu sendiri tetap menjadi variabel yang
paling berperan dalam menjelaskan variabilitas FDI di Singapura, meskipun terjadi
perubahan urutan pada variabel lainnya dalam menjelaskan variabilitas FDI. Hal ini
menunjukkan bahwa dalam jangka waktu panjang variabel FDI sendiri memilikki
peran yang kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI di Singapura dibandingkan
dengan variabel-variabel lainnya.
5) Analisis FEDV Foreign Direct Investment (FDI) di Negara Filipina
Dari hasil analisis FEDV ini kita akan melihat variabilitas dari Foreign
Direct Investment (FDI) di Negara Filipina. Dengan melihat variance decomposition
akan diketahui komposisi dari variabel FDI itu sendiri, pertumbuhan ekonomi, nilai
tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur. Adapun hasil analisis FEDV untuk negara
Filipina periode 1988-2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
commit to user
138
Tabel 4.17. Hasil Analisis FEDV FDI di Filipina 1988-2009
Variance Decomposition : LnFDI
Periode
LnFDI
EGROW LnEXCHR
1
100.0000
0.000000
0.000000
5
24.17727
3.467003
4.134026
10
19.83620
4.117411
4.957260
15
18.87753
5.886631
5.677319
20
16.31102
5.630592
4.998517
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
perpustakaan.uns.ac.id
LnLABOR
0.000000
3.122807
4.257610
4.664671
6.533143
LnINFRA
0.000000
65.09889
66.83152
64.89385
66.52673
digilib.uns.ac.id
Berdasarkan hasil analisis Variance Decomposition pada tabel diatas dapat
menunjukkan variabilitas FDI di Filipina. Dimana, pada periode pertama FDI itu
sendiri yang paling berperan dalam variabilitas FDI di Filipina yaitu sebesar 100
persen. Pada periode ke-5 terjadi perubahan yang sangat signifikan peran variabelvariabel dalam menjelaskan variabilitas FDI di Filipina, variabel Infrastruktur
berperan kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI sebesar 65.100. Diikuti dengan
variabel FDI itu sendiri dengan 24.177 persen, nilai tukar dengan 4.134 persen, dan
variabel pertumbuhan ekonomi dengan 3.467 persen. Sedangkan pada periode ini
tenaga kerja menjadi variabel yang mempunyai peran paling kecil dalam
menjelaskan variabilitas FDI yaitu sebesar 3.123 persen.
Pada periode selanjutnya terjadi perubahan komposisi peran namun tidak
terlalu signifikan. Sampai akhir periode variabel infrastruktur menjadi variabel yang
paling berperan, meskipun terjadi perubahan urutan pada variabel lainnya dalam
menjelaskan variabilitas FDI. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka waktu
panjang variabel Infrastruktur memilikki peran yang kuat dalam menjelaskan
variabilitas FDI di Filipina dibandingkan dengan variabel-variabel lainnya.
6) Analisis FEDV Foreign Direct Investment (FDI) di Negara China
Dari hasil analisis FEDV ini akan menunjukkan variabilitas dari Foreign
Direct Investment (FDI) di Negara China. Dengan melihat variance decomposition
commit to user
139
akan diketahui komposisi dari variabel FDI itu sendiri, pertumbuhan ekonomi, nilai
tukar, tenaga kerja, dan infrastruktur. Adapun hasil analisis FEDV untuk negara
China periode 1988-2009 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.18. Hasil Analisis FEDV FDI di China 1988-2009
Variance Decomposition : LnFDI
Periode
LnFDI
EGROW
perpustakaan.uns.ac.id
1
100.0000
0.000000
5
33.54533
55.35452
10
21.64321
39.65188
15
17.87735
33.56006
20
17.27328
32.61625
LnEXCHR
0.000000
6.566775
13.84186
16.56717
16.93409
LnLABOR
0.000000
1.082242
12.38815
15.98136
16.79073
LnINFRA
digilib.uns.ac.id
0.000000
3.451131
12.47490
16.01406
16.38564
Sumber : Hasil Pengolahan Data Eviews 6
Berdasarkan hasil analisis Variance Decomposition pada tabel diatas dapat
menunjukkan variabilitas FDI di China. Dimana, pada periode pertama FDI itu
sendiri yang paling berperan dalam variabilitas FDI di China yaitu sebesar 100
persen. Pada periode ke-5 terjadi perubahan yang sangat signifikan peran variabelvariabel dalam menjelaskan variabilitas FDI di China, variabel pertumbuhan
ekonomi berperan kuat dalam menjelaskan variabilitas FDI sebesar 55.355. Diikuti
dengan variabel FDI itu sendiri dengan 33.545 persen, nilai tukar dengan 6.567
persen, dan variabel infrastruktur dengan 3.451 persen.
Sedangkan pada periode tersebut tenaga kerja menjadi variabel yang
mempunyai peran paling kecil dalam menjelaskan variabilitas FDI yaitu sebesar
1.082 persen. Hingga akhir periode variabel pertumbuhan ekonomi menjadi variabel
yang paling berperan, meskipun terjadi perubahan urutan pada variabel lainnya
dalam menjelaskan variabilitas FDI. Hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka
waktu panjang variabel pertumbuhan ekonomi memilikki peran yang kuat dalam
menjelaskan variabilitas FDI di China dibandingkan dengan variabel-variabel
lainnya.
commit to user
140
4.2.2.5. Pembahasan Hasil Penelitian
Dari hasil analisis dengan model VAR tersebut dapat digunakan untuk
menjawab hipotesis yang telah dibuat oleh penulis. Hipotesis yang dimaksud adalah
adanya pola perbandingan yang hampir sama dari faktor ekonomi makro
(pertumbuhan ekonomi, nilai tukar) dan karakteristik negara (tenaga kerja,
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
infrastruktur) sebagai determinan FDI di masing-masing ASEAN 5 dan China.
Adapun pembahasan lebih lanjut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Perbandingan Pola Hasil Estimasi Model VAR di Asean 5 dan China
Salah satu tujuan utama dalam penelitian ini adalah untuk melihat
perbandingan faktor fundamental ekonomi makro dan karakteristik negara sebagai
determinan FDI di masing-masing negara ASEAN 5 dan China. Dengan
menggunakan estimasi model VAR dapat diketahui pola perbandingan kedua faktor
dari masing-masing negara. Dalam penelitian ini faktor fundamental ekonomi makro
terdiri atas pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar.
Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi
mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan secara statistik terhadap FDI,
khususnya di negara Filipina dan China. Hasil ini sesuai dengan penelitian
Kusumastuti (2008); CMCG (2003) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi
sebagai indikator kondisi pasar yang potensial (market potential) memilikki pengaruh
yang postif dan signifikan terhadap masuknya FDI ke suatu negara. Hubungan yang
positif antara pertumbuhan ekonomi dan FDI juga terjadi di Indonesia, Thailand,
Malaysia, dan Singapura, namun tidak signifikan secara statistik.
Selanjutnya adalah variabel nilai tukar yang menunjukkan pengaruh yang
positif dan signifikan khususnya di negara Filipina dan China. Seperti yang pernah
commit to user
141
dikemukan oleh Chowdury dan Mark (2008) bahwa dampak pergerakan nilai tukar
akan berdampak positif terhadap aliran FDI yang masuk. Hubungan yang positif nilai
tukar dengan FDI juga terjadi di negara Malaysia dan Singapura, namun tidak
signifikan. Sedangkan hubungan yang berlawanan terjadi di Indonesia dan Thailand
yaitu nilai tukar berpengaruh negatif terhadap FDI, meskipun tidak signifikan secara
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
statistik. Menurut Klein dan Rosengen (1992) menjelaskan bahwa hubungan nilai
tukar juga bisa berdampak negatif terhadap FDI karena terjadinya apresiasi mata
uang domestik akan berdampak pada penurunan FDI inflows akibat tuntutan upah
tenaga kerja yang menjadi tinggi.
Untuk faktor karakteristik negara dalam penelitian ini terdiri atas
ketersediaan tenaga kerja dan infrastruktur. Adapun dari hasil estimasi model VAR
yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel tenaga kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap FDI di negara Indonesia dan Malaysia. Hal tersebut sesuai
dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pourshahabi (2011) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat sumber daya manusia akan berasosiasi
positif terhadap keuntungan yang didapatkan dari kegiatan investasi termasuk FDI.
Berdasarkan hasil estimasi model yang dilakukan juga dapat dijelaskan
bahwa, variabel infrastruktur memilikki pengaruh yang positif dan signifikan
terhadap aliran FDI di negara Singapura. Hubungan yang positif juga terjadi di
negara Thailand, China, dan Malaysia, namun pengaruh yang disebabkan tidak
signifikan secara statistik. Penelitian ini mendukung Dermiham dan Masca (2008)
dalam penelitiannya menemukan bahwa variabel infrastruktur dengan menggunakan
telephone mainlines sebagai indikator, diperoleh hasil yaitu variabel infrastruktur
commit to user
142
berpengaruh positif dan signifikan secara statistik terhadap FDI yang masuk ke
dalam negara berkembang.
Meskipun demikian, juga terjadi hubungan yang negatif dan signifikan dari
infrastruktur terhadap FDI di Indonesia dan Filipina. Mengingat kedua negara
tersebut memang mempunyai permasalahan dalam pengembangan serta penyediaan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
infrastruktur dalam negeri. Peringkat infrastruktur dari kedua negara tersebut juga
lebih rendah jika dibandingkan dengan keempat negara sebelumnya. Sehingga
dengan kurang bagusnya infrastruktur tersebut berdampak pada keputusan para
investor untuk menanamkan modalnya. Dengan kata lain investor tidak mau
terbebani dengan peningkatan biaya distribusi akibat buruknya infrastruktur yang
ada.
2) Perbandingan Pola Hasil Analisis IRF di Asean 5 dan China
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa model VAR memilikki
perilaku yang dinamis. Untuk melihat perilaku yang dinamis tersebut dapat dilihat
dari respon setiap variabel terhadap shock atau goncangan dari variabel itu sendiri
maupun variabel endogen lainnya. Respon dari perubahan masing-masing variabel
dengan adanya goncangan diukur dengan 1 standar deviasi atau yang lebih dikenal
dengan analisis IRF. Pada dasarnya dalam analisis IRF ini akan dapat diketahui
respon positif atau negatif dari suatu variabel terhadap variabel lainnya. Dalam
jangka pendek respon yang muncul biasanya cukup signifikan, sedangkan respon
dalam jangka panjang cenderung konsisten dan terus mengecil.
Dalam penelitian ini analisis akan difokuskan kepada respon variabel FDI
terhadap goncangan atau shock dari variabel FDI itu sendiri, faktor fundamental
ekonomi makro dan karakteristik negara. Faktor fundamental ekonomi terdir atas
commit to user
143
pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar, untuk faktor karakteristik negara terdiri atas
tenaga kerja serta infrastruktur. Berdasarkan hasil analisis IRF yang dilakukan,
apabila dilihat dari penyebab respon terkuat bahwa negara Indonesia, Malaysia,
Thailand, Singapura, dan China memilikki pola respon hampir sama. Respon FDI
yang paling kuat dari kelima negara tersebut disebabkan dari goncangan variabel FDI
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
itu sendiri. Hal tersebut bisa diartikan dalam melakukan investasi FDI investor asing
mempertimbangkan kinerja FDI itu sendiri dari tahun ke tahun sebagai bahan
pertimbangan paling utama diantara variabel lainnya.
Hasil yang berbeda terjadi di negara Filipina yaitu respon FDI yang paling
kuat justru disebabkan oleh guncangan variabel infrastruktur. Kondisi ini
menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur di negara tersebut masih menjadi
sorotan utama para investor dalam pengambilan keputusan investasi FDI. Mengingat
peringkat infrastruktur Filipina sendiri juga tidak begitu bagus untuk masalah
penyediaan infrastruktur dalam negeri, jika dibandingkan dengan negara-negara
sebelumnya.
Selanjutanya dilihat dari perbandingan faktor fundamental ekonomi makro
dan karakteristik negara, ada beberapa negara yang memilikki pola hampir sama.
Dari hasil analisis menunjukkan pola yang hampir sama terjadi di negara Indonesia,
Malaysia, Thailand, Singapura, dan China. Dimana respon FDI akibat guncangan
yang ditimbulkan oleh faktor fundamental ekonomi makro lebih kuat dan dominan
diabndingkan dengan faktor karakteristik negara. Kondisi tersebut cukup beralasan
karena memasukki beberapa dekade terakhir ini banyak investor yang melakukan
FDI dengan mengakuisisi maupun kerja sama merger dengan perusahaan domestik
yang ada. Mengingat untuk membuka perusahaan baru di negara tujuan FDI juga
commit to user
144
tidak mudah, karena membutuhkan proses ddan biaya yang tidak sedikit. Untuk
melakukan akuisisi maupun merger sudah pasti faktor ekonomi makro sangat
berpengaruh pada potensi keuntungan yang akan diterima di masa yang akan datang.
Dari perilaku guncangan yang ditimbulkan oleh variabel endogen terhadap
FDI. Terdapat dua negara yang memilikki kemiripan pola yaitu Indonesia dan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Filipina. Di kedua negara tersebut respon FDI akibat guncangan variabel endogen
senantiasi berfluktuasi dari periode awal hingga akhir. Sehingga bisa dilihat rata-rata
terjadi lebih dari tiga kali keseimbangan yang dihasilkan di kedua negara tersebut.
Sedangkan di negara-negara lainnya seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan
China pola perilaku respon FDI dari periode awal memang ditemukan juga
berfluktuasi. Namun demikian, memasukki periode tahun ke-8 respon tersebut
cenderung menjadi permanen hingga mencapai akhir periode baik respon positif
maupun negatif.
3) Perbandingan Pola Hasil Analisis FEDV di Asean 5 dan China
Dengan melihat hasil analisis FEDV yang sudah dilakukan akan diketahui
peran atau kontribusi variabel-variabel endogen terhadap variabilitas variabel FDI di
masing-masing negara. Adapun hasil analisis FEDV di Asean 5 dan China diketahui
ada beberapa negara yang memilikki pola komposisi peran yang hampir sama yaitu
Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Komposisi peran variabel endogen
dalam menjelaskan variabilitas FDI didominasi oleh peran variabel FDI itu sendiri.
Mengingat dari hasil analisis dari ketiga negara tersebut variabel FDI itu sendiri
beperan paling kuat dari periode awal hingga periode akhir penelitian.
Hasil yang berbeda terjadi di negara Filipina yaitu variabel infrastruktur
memilikki peran atau kontribusi yang paling besar dalam menjelaskan variabilitas
commit to user
145
FDI yang masuk ke dalam negera tersebut. Sedangkan di negara China variabel yang
berperan paling besar dalam menjelaskan variabilitas FDI adalah pertumbuhan
ekonomi.
Selanjutanya dengan hasil analisis FEDV juga dapat ditemukan pola
perilaku yang sama di negara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan China. Pola
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
perilaku faktor fundamental ekonomi makro dan karakteristik negara dari keempat
negara tersebut memilikki peran yang sama kuatnya dalam menjelaskan variabilitas
FDI. Sedangkan di negara Singapura menunjukkan pola perilaku dimana faktor
fundamental ekonomi makro mempunyai peran yang lebih kuat dibandingkan
karakteristik negara. Mengingat bentuk investasi di negara tersebut sebagian besar
berorientasi pada investasi padat modal. Sehingga sudah bisa dipastikan bahwa
kondisi ekonomi makro memilikki peranan penting terhadap keputusan investor.
Hasil yang berbeda terjadi di Filipina yaitu peranan faktor karakteristik negara lebih
kuat dibandingkan faktor ekonomi makro.
commit to user
146
BAB V
PENUTUP
2.11. Kesimpulan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
Bagian ini merupakan rangkuman dari hasil analisis yang telah dilakukan
pada beberapa bab sebelumnya dan sebagai jawaban atas permasalahan serta tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini. Berdasarkan atas hasil pengujian dan temuan
empiris dari analisis data yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan dari penelitian
tentang determinan FDI di negara ASEAN 5 (Indonesia, Malaysia, Singapura,
Thailand, Filipina) dan China periode 1988-2009 ini adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan model data panel dengan
pendekatan Fixed Effect Method (FEM) GLS menunjukkan bahwa faktor
fundamental dan karakteristik negara sama baiknya dalam menjelaskan
pengaruhnya terhadap FDI di ASEAN 5 dan China. Adapun secara lebih lengkap
hasil estimasi model yang sudah dilakukan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a) Variabel pertumbuhan ekonomi mempunyai pengaruh yang positif dan
signifikan secara statistik pada derajat kepercayaan 5%. Adanya kenaikan
tingkat pertumbuhan ekonomi akan menyebabkan terjadinya kenaikan aliran
FDI yang masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
b) Variabel nilai tukar mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan secara
statistik pada derajat kepercayaan 5%. Adanya nilai mata uang yang
terdepresiasi akan menyebabkan terjadinya penurunan aliran FDI yang masuk
ke negara ASEAN 5 dan China. Terjadinya depresiasi mata uang di ASEAN
commit to user
147
merupakan dampak dari krisis ekonomi yang berimbas pada kondisi
perekonomian, sosial, dan politik di ASEAN menjadi tidak kondusif.
Meskipun depresiasi ini dipandang menguntungkan bagi investasi asing,
namun investor asing sendiri tidak mau mengambil resiko akibat kondisi
perekonomian yang tidak stabil.
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
c) Variabel tenaga kerja mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan secara
statistik pada derajat kepercayaan 5%. Adanya kenaikan tingkat jumlah
tenaga kerja akan menyebabkan terjadinya kenaikan aliran FDI yang masuk
ke negara ASEAN 5 dan China.
d) Variabel infrastruktur mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan
secara statistik pada derajat kepercayaan 5%. Adanya kenaikan tingkat
ketersediaan infrastruktur akan menyebabkan terjadinya kenaikan aliran FDI
yang masuk ke negara ASEAN 5 dan China.
2. Dari hasil estimasi model VAR diketahui bahwa variabel pertumbuhan ekonomi
mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan secara statistik terhadap FDI
khususnya di negara Filipina dan China, variabel nilai tukar yang menunjukkan
pengaruh yang positif dan signifikan khususnya di negara Filipina dan China,
bahwa variabel tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap FDI di
negara Indonesia dan Malaysia, dan yang terakhir variabel infrastruktur memilikki
pengaruh yang positif terhadap aliran FDI di negara Singapura. Meskipun
demikian, juga terjadi hubungan yang negatif dan signifikan dari infrastruktur
terhadap FDI di Indonesia dan Filipina.
3. Hasil analisis Impulse Respon Function (IRF) terhadap FDI di menunjukkan pola
yang hampir sama di beberapa negara ASEAN 5 dan China. Pola yang hampir
commit to user
148
sama ditemukan di negara Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan China.
Dimana respon FDI akibat guncangan yang ditimbulkan oleh faktor fundamental
ekonomi makro lebih kuat dan dominan dibandingkan dengan faktor karakteristik
negara. Sedangkan di negara Filipina yaitu respon FDI yang paling kuat justru
disebabkan oleh guncangan variabel infrastruktur. Namun demikian, secara
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
keseluruhan respon FDI yang paling kuat dari keenam negara tersebut disebabkan
dari goncangan variabel FDI itu sendiri.
4. Hasil analisis Forecast Error Decomposition of Variance (FEDV) terhadap FDI di
negara ASEAN 5 dan China periode 1988-2009 ditemukan pola perilaku yang
sama di negara Indonesia, Malaysia, Thailand, dan China. Pola perilaku faktor
fundamental ekonomi makro dan karakteristik
negara dari keempat negara
tersebut memilikki peran yang sama kuatnya dalam menjelaskan variabilitas FDI.
Hasil yang berbeda hanya terjadi di negara Singapura yaitu faktor fundamental
ekonomi makro mempunyai peran yang lebih kuat dibandingkan karakteristik
negara dalam menjelaskan variabilitas FDI.
2.12. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dijelaskan diatas, maka penulis
memberikan beberapa saran yang berkaitan dengan penelitian ini. Adapun saran
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Untuk tetap mempertahankan aliran FDI yang berkelanjutan, maka pemerintah
dan
stakeholders
sebagai
pengambil
kebijakan
perlu
memperhatikan
perkembangan FDI itu sendiri. Mengingat variabel tersebut merupakan faktor
penting yang menjadi pertimbangan investor asing. Catatn yang baik tentang
commit to user
149
perkembangan variabel FDI dalam suatu negara menjadi prioritas utama dalam
pengambilan keputusan investor untuk menanamkan modalnya. Dari pihak
pemerintah juga diharapkan harus selektif dalam memilih mitra kerja, khususnya
yang terkait dengan FDI. Penyerapan manfaat FDI terhadap perekonomian dalam
negeri juga harus menjadi kajian yang harus mendapat perhatian lebih untuk
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
menghindari dampak yang tidak diinginkan dari investasi FDI yang telah
disetujui.
2. Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus mampu mendorong pertumbuhan
ekonomi agar terus tumbuh dan berupaya untuk menjaga kestabilan pertumbuhan
ekonomi tersebut, mengingat pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu variabel
ekonomi makro yang menjadi pertimbangan penting investor asing dalam
menanamkan modalnya. Kestabilan nilai tukar mata uang juga perlu dijaga
volatilitasnya, karena kestabilan nilai tukar merupakan indikator kepastian tingkat
pengembalian investasi yang akan diterima oleh investor.
3. Variabel infrastruktur dan tenaga kerja sebagai kekuatan spesifik yang dimilikki
negara juga patut mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah beserta
stakeholders yang terlibat didalamnya. Kondisi ketersediaan infrastruktur yang
baik akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing, kemudian perlunya
peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi sangat penting dengan adanya tuntutan
pasar tenaga kerja yang menuntut penyediaan tenaga kerja yang memilikki skill
memadai. Sehingga investasi SDM dalam bentuk peningkatan skill sampai dengan
tingkat pendidikan sudah harus menjadi agenda utama pemerintah saat ini.
4. Besarnya FDI yang masuk ke dalam negeri juga bisa berdampak negatif jika
pemerintah tidak pandai dalam mengontrol kegiatan perusahaan asing yang masuk
commit to user
150
di dalam negeri. Pemerintah juga harus bisa memperhitungkan cost-benefit yang
akan diterima dari investasi FDI ini dengan tidak melupakan keberadaan
perusahaan domestik sendiri. Diharapkan jangan sampai terjadi penurunan daya
saing perusahaan domestik akibat adanya FDI ini.
5. Pada penelitian ini variabel determinan FDI yang digunakan dalam melakukan
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
analisis terbatas pada beberapa variabel saja, diharapkan untuk penelitian
selanjutnya dapat menggunakan variabel-variabel determinan FDI lainnya yang
memilikki cakupan data yang lebih luas dan bervariasi dalam menjelaskan aliran
FDI.
commit to user
Download