mengatakan anak merupakan individu yang berada dalam satu

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anak Usia Sekolah
Hidayat (2010) mengatakan anak merupakan individu yang berada
dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga
remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang
dimulai dari bayi (0-1 tahun), usia bermain /toddler (1-2,5 tahun), pra sekolah
(2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun), usia remaja (11-18 tahun). Rentang
ini berbeda antara anak yang satu dengan anak yang lainnya karena mengingat
latar belakang anak yang berbeda.
Masa usia sekolah adalah masa matang untuk belajar atau masa untuk
sekolah. Masa matang untuk belajar karena mereka sudah berusaha mencapai
sesuatu, sedangkan masa matang untuk bersekolah, karena mereka sudah
menginginkan kecakapan-kecakapan baru, yang dapat diberikan oleh sekolah
(Conny, 2008).
Mulai anak umur 6 tahun, anak sudah matang untuk masuk sekolah.
Masa anak sekolah adalah usia 6-12 tahun, pada masa ini anak memasuki
masa belajar didalam dan diluar sekolah. Aspek prilaku dibentuk melalui
penguatan (reinforcement) verbal, keteladanan dan identifikasi (Ahmadi,
2005).
Menurut Suprajitno (2004) akhir masa kanak-kanak memiliki beberapa
ciri antara lain:
13
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
14
1. Label yang digunakan oleh orang tua
a. Usia yang menyulitkan dimana suatu masa ketika anak tidak mau lagi
menuruti perintah dan ketika anak lebih dipengaruhi oleh teman
sebaya dari pada oleh orang tua dan anggota keluarga lain.
b. Usia
tidak
rapi,
suatu
masa
ketika
anak
cenderung
tidak
memperdulikan dan ceroboh dalam penampilan.
c. Usia bertengkar, suatu masa ketika banyak terjadi pertengkaran antara
keluarga dan suasana rumah yang tidak menyenangkan bagi semua
anggota keluarga.
2. Label yang digunakan pendidik/guru
a. Usia sekolah dasar adalah suatu masa ketika anak diharapkan
memperoleh dasar pengetahuan yang dianggap penting untuk
keberhasilan penyesuaian diri.
b. Periode kritis dalam berprestasi merupakan suatu masa ketika anak
mencapai sukses, tidak sukses atau sangat sukses.
3. Label yang digunakan oleh ahli psikologi
a. Usia berkelompok merupakan suatu masa ketika perhatian utama
tertuju pada keinginan diterima oleh teman sebaya sebagai anggota
kelompok.
b. Usia penyesuaian diri adalah suatu masa ketika anak ingin
menyesuaikan dengan standar yang disetujui oleh kelompok dalam
penampilan, berbicara dan perilaku.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
15
c. Usia kreatif merupakan suatu masa ketika akan ditentukan apakah
anak akan menjadi konfimis.
d. Usia bermain merupakan suatu masa ketika besarnya keinginan
bermain karena luasnya minat dan kegiatan untuk bermain.
Menurut (Suprajitno, 2004) Perkembangan Usia Sekolah memiliki
beberapa ciri antara lain :
1. Perkembangan biologis
Saat usia dasar pertumbuhan rata-rata 5 cm per tahun untuk tinggi
badan dan meningkat 2 sampai 3 kg per tahun untuk berat badan. Pada
usia ini pembentukan jaringan lemak lebih cepat perkembangannya dari
pada otot.
2. Perkembangan psikososial
Menurut Ericson perkembangan psikososialnya berada dalam tahap
industri inferior. Dalam tahap ini anak mampu melakukan dam menguasai
ketrampilan yang bersifat teknologi dan sosial. Tahap ini sangat dipegang
faktor instrinsik (motivasi, kemampuan, tanggung jawab untuk memiliki,
interaksi dengan lingkungan dan teman sebaya) dan faktor ekstrinsik
(penghargaan yang didapat, stimulus dan keterlibatan orang lain).
3. Temperamen
Sifat temperamen yang dialami sebelumnya merupakan faktor
terpenting dalam perilaku pada masa ini. Pada usia ini temperamen sering
muncul sehingga peran orang tua dan guru sangat besar untuk
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
16
mengendalikannya, yang perlu diperhatikan orang tua adalah menjadi
figur dalam sehari.
4. Perkembangan kognitif
Menurut Peaget usia ini berada dalam tahap operasional konkret
yaitu anak mengekspresikan apa yang dilakukan dengan verbal dan
simbol. Selama periode ini kemampuan anak belajar konseptual mulai
meningkat dengan pesat dan memiliki kemampuan belajar dari benda,
situasi dan pengalaman yang dijumpai.
5. Perkembangan moral
Pada
masa
akhir
kanak-kanak
perkembangan
moralnya
dikategorikan oleh Kohlberg berada dalam tahap konvensional. Pada tahap
ini anak mulai belajar tentang peraturan-peraturan yang berlaku, menerima
peraturan.
6. Perkembangan spiritual
Anak usia sekolah menginginkan segala sesuatu adalah konkret
atau nyata dari pada belajar tentang agama. Mereka lebih tertarik terhadap
surga dan mereka sehingga cenderung akan melakukan atau mematuhi
peraturan, karena takut bila masuk neraka.
7. Perkembangan Bahasa
Pembicaraan yang dilakukan dalam hidup ini lebih terkendali dan
terseleksi karena anak menggunakan pembicaraan sebagai komunikasi.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
17
8. Perkembangan social
Akhir masa kanak-kanak sering disebut usia berkelompok yang
ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan
meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota
kelompok.
9. Perkembangan seksual
Masa ini anak mulai belajar tentang seksualnya dan temantemannya, mengembangkan minat-minat sesuai dengan dirinya.
10. Perkembangan konsep diri
Perkembangan konsep diri sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan
dengan orang tua, saudara dan sanak keluarga lainnya. Saat ini anak-anak
membentuk konsep diri yang ideal.
B. Tugas Perkembangan Anak
Pada masa ini anak sudah semakin luas lingkungan pergaulannya. Anak
sudah banyak bergaul dengan orang-orang di luar rumah. Masyarakat
mengharapkan agar anak menguasai dan menyelesaikan tugas-tugas
perkembangannya agar diterima dengan baik oleh lingkungannya. Adapun
tugas-tugas perkembangan pada masa anak sekolah adalah (Izzaty, 2008):
1. Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain.
2. Sebagai makhluk yang sedang tumbuh, mengembangkan sikap yang sehat
mengenai diri sendiri.
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
18
4. Mulai mengembangkan peran social pria atau wanita.
5. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca,
menulis dan berhitung.
6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan
sehari-hari.
7. Mengembangkan kata batin, moral dan skala nilai.
8. Mengembangkan sikap terhadap kelompok social dan lembaga.
9. Mencapai kebebasan pribadi
Keberhasilan dalam menyelesaikan tugas perkembangan ditentukan oleh
lingkungan keluarga, orang tua, orang-orang terdekat dalam keluarga dan guru
di sekolah. Tugas-tugas perkembangan yang dipaparkan diatas, merupakan
gambaran perwujudan kematangan biologis dan psikologis individu,
ekspektasi masyarakat dan tuntutan budaya dan agama. Penuntasan tugastugas perkembangan tersebut tidak selalu berjalan dengan mulus. Untuk
mencapai tugas-tugas perkembangan tersebut, beberapa upaya yang dapat
dilakukan oleh pihak sekolah, yaitu: (Yusuf, 2011).
1. Menciptakan iklim religious yang dapat memfasilitasi perkembangan
kesadaran beragama, akhlak mulia, etika atau karakter peserta didik. Pihak
sekolah perlu menyediakan sarana dan prasarana peribadatan, memberikan
contoh atau suri tauladan dalam melaksanakan ibadah, dan berakhlak
mulia, seperti menyangkut aspek kedisiplinan, ketertiban, kebersihan,
keindahan, kejujuran, dan tanggung jawab.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
19
2. Membangun suasana sosio-emosional yang kondusif bagi perkembangan
keterampilan social dan kematangan emosi peserta didik, seperti
memelihara hubungan yang harmonis antara kepala sekolah dengan guruguru, guru dengan guru, siswa dengan siswa. Guru bersikap ramah dan
respek terhadap peserta didik, begitupun peserta didik kepada guru.
3. Membangun iklim intelektual yang memfasilitasi perkembangan berpikir,
nalar, dan kemampuan mengambil keputusan yang baik. Penciptaan ilkim
intelektual ini bias berlangsung dalam proses pembelajaran di kelas
(seperti guru menerapkan metode pembelajaran yang variatif; menjelaskan
materi pelajaran dengan menggunakan multimedia atau memanfaatkan
laboratorium secara efektif; memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya, dan mengemukakan pendapat atau gagasan) dan kegiatan
kelompok-kelompok belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Menurut Havighurst (2009), tugas perkembangan ialah tugas yang
terdapat pada suatu tahap kehidupan seseorang, yang akan membawa individu
kepada kebahagiaan dan keberhasilan dalam tugas-tugas pengembangan
berikutnya yaitu apabila tahap kehidupan tersebut dijalani dengan berhasil.
Sedangkan kegagalan dalam melaksanakan tugas pengembangan, akan
mengakibatkan kehidupan tidak bahagia pada individu dan kesukarankesukaran lain dalam hidupnya kelak. Tugas perkembangan individu
bersumber pada faktor-faktor :
1. Kematangan fisik
2. Tuntutan masyarakat secara kultural
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
20
3. Tuntutan dan dorongan dan cita-cita individu itu sendiri
4. Norma-norma agama
Di bawah ini dikemukakan rincian tugas perkembangan dari setiap
tahapan menurut Havighurst (2009) pada tugas perkembangan masa kanakkanak akhir dan anak sekolah (6-12 tahun):
1. Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah mempelajari keterampilanketerampilan yang bersifat fisik atau jasmani untuk dapat melakukan
permainan.
2. Belajar membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sendiri sebagai
makhluk biologis.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah belajar untuk membentuk
diri sendiri agar dapat memenuhi tugas biologisnya.
3. Belajar bergaul dengan teman sebaya.
Hakikat
tugas
perkembangan
ini
adalah
bagaimana
cara
berkomunikasi dengan teman-teman dengan baik.
4. Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak belajar bertindak sesuai
dengan peran seksnya sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.
5. Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung.
Hakikat
tugas
perkembangan
ini
adalah
anak
belajar
mengembangkan tiga kemampuan dasar yaitu membaca, menulis, dan
berhitung yang diperlukan untuk hidup di lingkungan masyarakat.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
21
6. Belajar mengembangkan konsep-konsep sehari-hari.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak harus mempelajari
berbagai konsep agar dapat berpikir efektif mengenani permasalahan
sosial di sekitar kehidupan sehari-hari.
7. Mengembangkan kata hati.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah mengembangkan moral yang
bersifat batiniah yaitu hati nurani, serta mengembangkan pemahaman dan
sikap moral terhadap peraturan dan tata nilai yang berlaku dalam
kehidupan anak.
8. Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak menjadi individu yang
otonom atau bebas, dalam arti dapat membuat rencana untuk masa yang
akan datang, bebas dari pengaruh orang tua atau orang lain.
9. Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial.
Hakikat tugas perkembangan ini adalah anak belajar memberi dan
menerima dalam kehidupan sosial antar teman sebaya, dan belajar
membina persahabatan dengan teman sebaya.
C. Tahap Perkembangan Anak
Teori
perkembangan
kepribadian
Erickson
dikenal
sebagai
perkembangan psikososial dan menekankan pada kepribadian yang sehat
(Keperawatan Pediatrik, 2009).
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
22
Banyak teori mengenai perkembangan psikososial, yang paling banyak
dianut adalah teori psikosisal dari Erik Erikson. Teori psikososial dari Erik
Erikson meliputi delapan tahap yang saling berurutan sepanjang hidup. Hasil
dari tiap tahap tergantung dari hasil tahapan sebelumnya, dan resolusi yang
sukses dari tiap krisis ego adalah penting bagi individu untuk dapat tumbuh
secara optimal. Ego harus mengembangkan kesanggupan yang berbeda untuk
mengatasi tiap tuntutan penyesuaian dari masyarakat. Berikut adalah delapan
tahapan perkembangan psikososial menurut Erik Erikson :
1. Tahap I : Trust versus Mistrust (0-1 tahun)
Dalam tahap ini, bayi berusaha keras untuk mendapatkan
pengasuhan dan kehangatan, jika ibu berhasil memenuhi kebutuhan
anaknya, sang anak akan mengembangkan kemampuan untuk dapat
mempercayai dan mengembangkan asa (hope). Jika krisis ego ini tidak
pernah terselesaikan, individu tersebut akan mengalami kesulitan dalam
membentuk rasa percaya dengan orang lain sepanjang hidupnya, selalu
meyakinkan dirinya bahwa orang lain berusaha mengambil keuntungan
dari dirinya.
2. Tahap II: Autonomy versus Shame and Doubt (l-3 tahun)
Dalam tahap ini, anak akan belajar bahwa dirinya memiliki kontrol
atas tubuhnya. Orang tua seharusnya menuntun anaknya, mengajarkannya
untuk mengontrol keinginan atau impuls-impulsnya, namun tidak dengan
perlakuan yang kasar. Mereka
melatih kehendak mereka, tepatnya
otonomi. Harapan idealnya, anak bisa belajar menyesuaikan diri dengan
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
23
aturan-aturan sosial tanpa banyak kehilangan pemahaman awal mereka
mengenai otonomi, inilah resolusi yang diharapkan.
3. Tahap III : Initiative versus Guilt (3-6 tahun)
Pada periode inilah anak belajar bagaimana merencanakan dan
melaksanakan tindakannya. Resolusi yang tidak berhasil dari tahapan ini
akan membuat sang anak takut mengambil inisiatif atau membuat
keputusan karena takut berbuat salah. Anak memiliki rasa percaya diri
yang rendah dan tidak mau mengembangkan harapan harapan ketika ia
dewasa. Bila anak berhasil melewati masa ini dengan baik, maka
keterampilanego yang diperoleh adalah memiliki tujuan dalam hidupnya.
4. Tahap IV: Industry versus Inferiority (6-12 tahun)
Pada saat ini, anak-anak belajar untuk memperoleh kesenangan dan
kepuasan dari menyelesaikan tugas khususnya tugas-tugas akademik.
Penyelesaian yang sukses pada tahapan ini akan menciptakan anak yang
dapat memecahkan masalah dan bangga akan prestasi yang diperoleh.
Ketrampilan ego yang diperoleh adalah kompetensi. Di sisi lain, anak yang
tidak mampu untuk menemukan solusi positif dan tidak mampu mencapai
apa yang diraih teman-teman sebaya akan merasa inferior.
5. Tahap V : Identity versus Role Confusion (12-18 tahun)
Pada tahap ini, terjadi perubahan pada fisik dan jiwa di masa biologis
seperti orang dewasa sehingga tampak adanya kontraindikasi bahwa di
lain pihak ia dianggap dewasa tetapi di sisi lain ia dianggap belum dewasa.
Tahap ini merupakan masa stansarisasi diri yaitu anak mencari identitas
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
24
dalam bidang seksual, umur dan kegiatan. Peran orang tua sebagai sumber
perlindungan dan nilai utama mulai menurun. Adapun peran kelompok
atau teman sebaya tinggi.
6. Tahap VI : Intimacy versus Isolation (masa dewasa muda)
Dalam tahap ini, orang dewasa muda mempelajari cara berinteraksi
dengan orang lain secara lebih mendalam. Ketidakmampuan untuk
membentuk ikatan social yang kuat akan menciptakan rasa kesepian. Bila
individu berhasil mengatasi krisis ini, makaketerampilan ego yang
diperolehadalahcinta.
7. Tahap VII : Generativity versus Stagnation (masa dewasa menengah)
Pada tahap ini, individu memberikan sesuatu kepada dunia sebagai
balasan dari apa yang telah dunia berikan untuk dirinya, juga melakukan
sesuatu yang dapat memastikan kelangsungan generasi penerus di masa
depan. Ketidakmampuan untuk memiliki pandangan generatif akan
menciptakan perasaan bahwa hidup ini tidak berharga dan membosankan.
Bila individu berhasil mengatasi krisis pada masa ini maka ketrampilan
ego yang dimiliki adalah perhatian.
8. Tahap VIII : Ego Integrity versus Despair (masa dewasa akhir)
Pada tahap usia lanjut ini, mereka juga dapat mengingat kembali
masa lalu dan melihat makna, ketentraman dan integritas. Refleksi ke
masa lalu itu terasa menyenangkan dan pencarian saat ini adalah untuk
mengintegrasikan tujuan hidup yang telah dikejar selama bertahun-tahun.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
25
Kegagalan dalam melewati tahapan ini akan menyebabkan munculnya rasa
putus asa.
D. Perilaku Agresif
Perilaku agresif adalah perilaku melukai orang lain baik secara fisik
(non verbal) maupun secara kata-kata (lisan/ verbal). Agresivitas pada kanakkanak ini dapat berupa perilaku seperti memukul, mencubit, menggigit,
marah-marah, bahkan mencaci maki (Yusuf, 2002).
Perilaku agresif dapat dipengaruhi oleh sifat egosentris, yaitu masih
sulitnya memahami apa yang dirasakan dan dipikirkan orang lain atau masih
sulit berempati. Jadi individu tidak dapat memahami jika ia memukul atau
menghina orang lain, orang tersebut akan merasa sakit. Individu juga mudah
menjadi agresif jika kondisi fisiknya sedang tidak nyaman: lelah, lapar,
menagntuk, atau sakit (Itabiliana, 2008).
Perilaku agresif dapat
dikategorikan sebagai
bentuk
gangguan
emosional, biasanya timbul karena ketidakmampuan individu menyesuaikan
diri dengan lingkunganya, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku agresif
atau pemencilan dan penarikan diri. Keagresifan siswa merupakan kesalahan
dalam penyesuaian diri, berbentuk kenakalan, kebrutalan, kekerasan, dan
kemarahan (Sukmadinata, 2007). Lingkungan peserta didik diwarnai dengan
perilaku-perilaku agresif, sehingga agresifitas menjadi pola interaksi,
terbentuk pada setiap anggotanya secara mekanistik, melalui pembiasaan.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
26
Menurut Anantasari (2006), pada dasarrnya perilaku agresif pada
manusia adalah tindakan yang bersifat kekerasan, yang dilakukan oleh
manusia terhadap sesamanya. Dalam agresi terkandung maksud untuk
membahayakan atau mencederai orang lain. Perilaku agresif juga dapat
disebut sikap bermusuhan yang ada dalam diri manusia. Perilaku agresif
diindikasikan antara lain oleh tindakan untuk menyakiti, merusak, baik secara
fisik, psikis, maupun social. Sasaran orang yang berperilaku agresif tidak
hanya ditujukan kepada musuh tetapi juga kepada benda-benda yang ada
dihadapanya yang memberi peluang bagi dirinya untuk merusak. Perilaku
menyerang, memukul, dan mencubit yang ditunjukan oleh siswa bias
dikategorikan sebagai perilaku agresif. Perilaku ini muncul karena siswa
merasa frustasi menghadapi lingkungan yang sulit ia kendalikan atau tidak
sesuai dengan keinginannya (Itabiliana, 2008).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil kesimpulan
bahwa perilaku agresif adalah perilaku seseorang yang diwujudkan dalam
tindakan penyerangan secara fisik maupun non fisik terhadap orang lain yang
dapat membahayakan atau mencederai orang lain. Perilaku agresif juga dapat
disebut sikap yang bermusuhan yang ada pada diri manusia. Hal ini berarti
bahwa tindakan atau perilaku menyakiti orang lain baik secara fisik maupun
non fisik dan sosial dapat diindikasikan sebagai bentuk tindakan perilaku
agresif.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
27
E. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Perilaku Agresif
Menurut Anantasari (2006) faktor-faktor penyebab timbulnya perilaku
agresif dapat dibedakan menjadi enam kelompok faktor, yaitu :
1. Faktor psikologis
a. Perilaku naluriah
Menurut Freud (Taylor et al., 2009) berasumsi bahwa manusia memiliki
naluri untuk bertindak agresif. Menurut teori insting kematian (thanatos)
yang digagasnya, agresi diarahkan pada diri sendiri atau orang lain.
Menurut Konrad Lorenz (Anantasari, 2006) agresi membuahkan bahaya
fisikal buat orang-orang lain berakar dalam naluri berkelahi yang
dimiliki manusia.
b. Perilaku yang dipelajari
Menurut Miles & Carey (Taylor et al., 2009) mekanisme utama yang
menentukan perilaku agresi manusia adalah proses belajar masa lalu.
Bayi yang baru lahir mengekspresikan perasaan agresif secra impulsif,
setiap kali keinginannya dihalangi maka ia akan menangis kencang,
setelah dewasa maka impuls kemarahan dan reaksi agresif ini bisa
dikontrol. Albert Bandura (Anantasari, 2006) menyebutkan perilaku
agresif berakar dalam respons-respons agresif yang dipelajari manusia
lewat pengalaman-pengalamannya di masa lampau. Eksperimen klasik
oleh Albert Bandura dan rekannya Ross & Ross (Taylor et al, 2009)
mengilustrasikan peniruan perilaku agresif ini melalui anak melihat
orang dewasa bermain dengan Tinkertoys dan boneka Bobo, orang
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
28
dewasa tersebut bermain dengan boneka Bobo secara agresif dengan
cara mendudukinya, memukulnya, melemparnya, menendangnya sambil
mengucapkan “hajar hidungnya, tonjok mukanya, dan pow” sang anak
terus menyaksikan dan mulai menirukan banyak perilaku orang dewasa
tersebut. Berdasarkan uraian diatas, gagasan toritis utama dalam
eksperimen yang dilakukan Albert Bandura adalah anak melakukan
tindakan agresif melalui apa saja yang ia lihat dari orang lain yang
melakukan respon agresif tersebut.
2. Faktor Sosial
a. Frustasi
Tidak diragukan lagi pengaruh frustasi dalam peruyakan perilaku
agresif, seperti yang diuraikan dalam hipotesis frustasi-agresi oleh John
Dollard (Anantasari, 2006) bahwa frustasi dapat mengakari agresi.
Frustasi menurut Geen (Taylor et al., 2009) berasal dari terhambatnya
atau dicegahnya upaya mencapai tujuan.Ketika upaya pencapaian tujuan
itu dihambat, maka akann timbul frustasi. Frustasi ini kemudian
menimbulkan agresi, hal ini mungkin karena agresi dapat meringankan
emosi negative, Bushman, Baumeister, dan Philips (Taylor et al., 2009).
Frustasi didefinisikan sebagai interferensi eksternal terhadap perilaku
yang diarahkan pada tujuan. Pengalaman frustasi mengaktifkan
keinginan beritindak agresif terhadap sumber frustasi yang sebagai
akibatnya mencetuskan perilaku agresif (Krahe, 2005). Berdasarkan
uraian tentang frustasi-agresi diatas, dapat disimpulkan bahwa efek dari
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
29
adanya frustasi sering ditunjukkan dalam perilaku menyakiti orang lain
atau perilaku agresif dengan maksud meluapkan kekesalannya terhadap
pencapaian tujuan yang tertunda atau yang pencapaian tujuan yang
dihambat.
b. Provokasi langsung
Bukti-bukti mengindikasikan betapa pencideraan fisikal (physical
abuse) dan ejekan verbal dari orang-orang lain dapat memicu perilaku
agresif, Anantasari (2006). Menurut Taylor (2009) faktor lain yang
memperbesar siklus agresi adalah motivasi balas dendam. Riset
eksperimental menunjukkan bahwa pria yang marah dan yang merasa
mampu membalas dendam lebih mungkin untuk mengingat informasi
negatif, selama kemarahan dan keinginan balas dendam membuat
pikiran selalu negatif, maka kemungkinan agresi akan bertambah besar.
Balas dendam merupakan penyaluran frustasi melalui proses internal
yakni merencanakan pembalasan terhadap obyek yang menghambat dan
merugikannya, Willis (2012). Berdasarkan uraian diatas, dapat dipahami
bahwa perilaku agresif dapat muncul apabila adanya provokasi langsung
yang diterima oleh individu baik secara fisik maupun secara verbal.
Provokasi tersebut menimbulkan cidera fisik maupun verbal (kata-kata
yang menyakitkan hati) pada individu sehingga ia akan timbul rasa
kesal, kemudian muncullah rasa keinginan balas dendam sebagai upaya
penyaluran frustasi dalam bentuk perilaku agresif terhadap obyek yang
menghambat dan merugikannya.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
30
c. Pengaruh tontonan perilaku agresif di televisi
Diasumsikan secara umum bahwa kekerasan di media memicu
orang untuk berperilaku agresif, Taylor (2009). Pengaruh media
dianggap salah satu faktor terkuat yang bertanggung jawab atas
peningkatan agresi, khususnya dikalangan remaja dan anak-anak (Krahe,
2005). Kekerasan yang disajikan dalam acara TV dapat memicu
perkembangan perilaku agresif anak, karena anak lebih tertarik untuk
melihat acara TV yang mengandung kekerasan. Tidak hanya pada acara
TV, pengaruh media juga berkembang dalam games online yang
memiliki
unsur
kekerasan.
Secara
keseluruhan,
(Krahe,
2005)
menunjukkan keberadaan lingkaran setan. Individu yang agresif lebih
menyukai acara-acara yang mengandung kekerasan, yang kemudian
menguatkan disposisi agresif mereka. Menurut Anantasari (2006)
terdapat kaitan antara agresi dan paparan tontonan kekerasan lewat
televisi. Semakin banyak anak menonton kekerasan lewat televise,
tingkat agresi anak tersebut terhadap orang lain dan bisa makin
meningkat pula. Berdasarkan uraian secara keseluruhan diatas, dapat
dipahami bahwa terdapat kaitan antara tontonan kekerasan lewat televisi
dan pengaruh media dengan tingkat agresifitas anak yang berkembang
saat ini. Semakin banyak anak menonton kekerasan melalui televisi, dan
semakin banyak anak menggunakan games online yang memiliki unsur
kekerasan, maka semakin besar pula tingkat agresifitas anak tersebut.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
31
d. Stres
Hude (2006) menyebutkan lingkungan sosial dan non-sosial
berpotensi memicu stress, khususnya jika mengancam stabilitas individu.
Stres dapat memicu timbulnya sikap agresif, diantaranya kepadatan
penduduk, ketidakbebasan, irama kehidupan rutin atau monoton, dan
kurangnya privasi.
e. Hilangnya identitas diri
Masa remaja puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan
adanya proses perubahan dari kondisi entropy ke kondisi negentropy
Sarlito (Sunarto, 2008). Entropy adalah keadaan dimana kesadaran
manusia masih belum tersusun rapi, sedangkan negentropy adalah
keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik. Masa peralihan ini
membuat remaja kehilangan identitas diri dan kehilangan kontrol diri
dan akibatnya mereka akan mudah melakukan tindakan agresif.
3. Faktor Lingkungan
a. Lingkungan keluarga
Bandura (Walgito, 2007) menyebutkan orang tua sebagai contoh
anak-anaknya, hal tersebut menunjukkan perilaku berdasarkan model.
Maka seorang anak akan melakukan perilaku agresif sesuai dengan apa
yang telah diajarkan dalam lingkungan keluarganya atau apa yang anak
dapatkan seputar agresifitas dari lingkungan keluarganya tersebut.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
32
b. Interaksi teman sebaya
Menurut (Krahe, 2005) munculnya pola-pola perilaku agresif
berawal dari konflik dengan teman sebaya dan orang dewasa muncul
dalam kehidupan seseorang dalam bentuk perilaku agresif dan
penggunaan kekuatan fisik seperti memukul, mendorong, menendang).
Dengan demikian interaksi yang terjadi dengan teman sebaya sangatlah
berpengaruh terhadap munculnya perilaku agresif. Menurut Anantasari
(2006) perilaku agresif adalah suatu ledakan emosi yang kuat sekali,
disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit dan
sebagainya. Interaksi teman sebaya sangat mempengaruhi munculnya
perilaku agresif, kombinasi antara ditolak oleh teman sebaya dan
bersikap agresif meramalkan adanya masalah, Ladd et al (Santrock,
2007). Studi terbaru lainnya menemukan bahwa ank kelas tiga yang
sangat agresif dan ditolak oleh sebaya mereka menunjukkan tingkat
kenakalan yang lebih tinggi sebagai remaja dan pemuda disbanding
anak-anak lain, Miller-Johnson et al (Santrok, 2007). Berdasarkan uraian
diatas,
dapat
dipahami
bahwa
interaksi
mempengaruhi munculnya perilaku agresif.
teman
sebaya
sangat
Anak yang ditolak oleh
teman sebayanya maka akan cenderung menunjukkan perilaku agresif.
c. Suhu udara
Temperatur udara sekeliling adalah determinan situasional agresi.
Kebanyakan penelitian menyebutnya hipotesis hawa panas (heat
hypothesis) yang menyatakan bahwa temperatur tinggi yang tidak
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
33
nyaman meningkatkan motif maupun perilaku agresif, Anderson et al
(Krahe, 2005).
4. Faktor Situasional
a. Kondisi emosional atau kerentanan emosional
Menurut
Krahe
(2005)
kerentanan
emosional
(emotional
susceptibility) didefinisikan sebagai kecenderungan individu untuk
mengalami perasaan tidak nyaman, putus asa, tidak adekuat, dan ringkih.
Orang-orang yang rentan secara emosional memperlihatkan perilaku
agresif lebih tinggi.
Menurut Hude (2006) tidak jarang peristiwa-peristiwa yang
dialami manusia menjadikannya menangis tersedu-sedu, muka pucat
atau merah padam, nada bicaranya terputus-putus, bergetar seluruh
tubuhnya, melompat kegirangan, berteriak, membanting pintu, dan
sebagainya, hal itu tidak lain dipicu oleh kadar emosi yang amat dalam
dan meluap-luap. Kondisi emosional yang dimiliki seseorang dapat
memicu terjadinya perilaku agresif.
5. Faktor Biologis
Para peneliti yang menyelidiki kaitan antara cedera kepala dan
perilaku kekerasan mengindikasikan betapa kombinasi pencideraan fisikal
yang pernah dialami dan cidera kepala, ikut melandasi terjadinya perilaku
agresif, Anantasari (2006).
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
34
6. Faktor Genetik
Pengaruh faktor genetik antara lain ditunjukkan oleh kemungkinan
yang lebih besar untuk perilaku agresif bagi pria yang memiliki kromosom
XYY, Anantasari (2006). Anak laki – laki pada umumnya memperlihatkan
tingkat agresi fisik yang lebih tinggi daripada anak perempuan. Menurut
Poerwandari (2004) tentang kecenderungan laki-laki untuk lebih agresif,
hal itu dapat dijelaskan melalui penjelasan biologis. Berkaitan dengan
perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam perilaku agresif secara
keseluruhan, menemukan temuan yang sangat jelas mengenai hal ini.
Penjelasan hormonal mengungkapkan kecenderungan agresif yang
meningkat pada hormon seks laki-laki, testoteron. Menurut pandangan ini,
perbedaan jenis kelamin dalam agresi ini berhubungan dengan tingkat
testoteron yang lebih tinggi pada laki-laki, Archer (Krahe, 2005).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan jenis
kelamin menunjukkan perbedaan tingkat agresifitas antara perempuan dan
laki-laki, hal ini dikarenakan tingkat hormon testoteron yang lebih tinggi
pada laki-laki menunjukkan tingkat maskulinnya.
F. Ciri-Ciri Perilaku Agresif
Menurut Sukmadinata (2007), perilaku-perilaku agresif dimanifestasikan
keluar supaya dapat diamati oleh orang lain. Oleh karena itu, untuk menilai
siswa memilki kecenderungan perilaku agresif atau tidak, guru atau konselor
dapat mengidentifikasi dan melihatnya berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
35
Siswa seringkali berbohong, walaupun ia seharusnya berterus terang,
menyontek, meskipun seharusnya tidak perlu menyontek. Suka mencuri, atau
mengatakan ia kecurian bila barangnya tidak ada. Suka merusak barang orang
lain atau barangnya sendiri, melakukan kekejaman, menyakiti orang lain,
berbicara kasar, menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli pada orang
lain yang membutuhkan pertolongannya, dan suka menggangu siswa lain yang
lebih kecil atau lebih lemah. Serta seringkali marah-marah, uring-uringan,
memukulkan kaki tangan, menangis dan menjerit. Sementara itu menurut
Anantasari (2006), ciri-ciri perilaku agresif sebagai berikut:
1. Perilaku menyerang; perilaku menyerang lebih menekankan pada suatu
perilaku untuk menyakiti hati, atau merusak barang orang lain, dan secara
sosial tidak dapat diterima.
Contoh; sikap anak yang mempertahankan barang yang dimiliknya dengan
memukul.
2. Perilaku menyakiti atau merusak diri sendiri, orang lain, atau objek-objek
penggantinya; perilaku agresif termasuk yang dilakukan anak, hampir
menimbulkan adanya bahaya berupa kesakitan yang dapat dialami oleh
dirinya sendiri atau orang lain. Bahaya kesakitan dapat berupa kesakitan
fisik, misalnya pemukulan, dan kesakitan secara psikis misalnya hinaan.
Selain itu yang perlu dipahami juga adalah sasaran perilaku agresif sering
kali ditujukan seperti benda mati.
Contoh : memukul meja saat marah.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
36
3. Perilaku yang tidak diinginkan orang lain perilaku agresif pada umumnya
juga memiliki sebuah cirri yaitu tidak diinginkan oleh orang yang menjadi
sasaranya.
Contoh: tindakan menghindari pukulan teman yang sedang marah.
4. Perilaku yang melanggar norma sosial; perilaku agresif pada umumnya
selalu dikaitkan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial.
5. Sikap bermusuhan terhadap orang lain; perilaku agresif yang mengacu
kepada sikap permusuhan sebagai tindakan yang di tujukan untuk melukai
orang lain. Contoh: memukul teman
6. Perilaku agresif yang dipelajari; perilaku agresif yang dipelajari melalui
pengalamannya di masa lalu dalam proses pembelajaran perilaku agresif,
terlibat pula berbagai kondisi sosial atau lingkungan yang mendorong
perwujudan perilaku agresif.
Contoh: kekerasan dalam keluarga, tayangan perkelahian dari media.
Dilihat dari uraian pendapat diatas maka penulis dapat mengambil
kesimpulan bahwa ciri-ciri perilaku agresif yaitu: perilaku atau tindakan
menyerang, kekejaman, seringkali marah-marah, perilaku menyakiti atau
merusak diri sendiri, orang lain atau objek-objek penggantinya, dan
perilaku melanggar norma sosial sehingga menjadikan sikap bermusuhan
terhadap orang lain, dan kerugian pihak yang menjadi korban perilaku
agresif.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
37
G. Pemicu Terjadinya Perilaku Agresif
Perilaku agresif dapat terjadi karena dipicu oleh: (Anantasari, 2006).
1. terpicu oleh hal kecil
2. menyakiti teman
3. untuk mencari perhatian
Menurut Itabiliana (2008), dalam keadaan frustasi, anak menjadi mudah
terpicu untuk bereaksi secara fisik. Anak juga mudah menjadi agresif jika
kondisi fisiknya sedang tidak nyaman: lelah, lapar, mengantuk, atau sakit.
H. Dampak Perilaku Agresif
Dampak buruk perilaku agresif bagi korban-korbanya meniscayakan kita
selalu berupaya mengeliminasikan faktor-faktor penyebab perilaku agresif.
Dengan upaya tersebut diharapkan dapat meminimalkan terjadinya
tindakan perilaku agresif. Menurut Anantasari (2006), dampak buruk bagi
korban perilaku agresif meliputi perasaan tidak berdaya korban,
kemarahan setelah menjadi korban perilaku agresif, perasaan bahwa diri
sendiri mengalami kerusakan permanent, ketidakmampuan memercayai
orang lain dan ketidakmampuan menggalang relasi dekat dengan orang
lain, keterpakuan pada pikiran tentang tindakan agresif atau kriminal.
Hilangnya keyakinan bahwa dunia bias berada dalam tatanan yang adil.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
38
I. Mengatasi Perilaku Agresif
Menurut Itabiliana (2008), untuk menghilangkan perilaku agresif
dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman pada anak bahwa
perilaku agresifnya tidak dapat diterima. Perkenalkan anak terhadap akibat
dari perilakunya tersebut. Misalnya, tidak boleh masuk kelas lagi kalau
memukul teman. Sekecil apapun berikan perhatian besar terhadap perilaku
yang positif, dengan demikian anak akan belajar perilaku mana yang
diharapkan, dan perilaku perilaku mana yang ditolak oleh lingkungan
sosialnya.
Menurut Anantasari (2006), cara mengatasi perilaku agresif adalah dengan
memberi empati, dorong anak untuk mencurahkan perasaanya, tanggapi
dengan bijak, jangan terlalu melindungi, tumbuhkan percaya diri dan
kembangkan kemampuanya, lakukan pengamatan, dan diskusikan dengan
guru.
1. Beri empati dorong anak untuk mencurahkan perasaannya, menjadi
pendengar yang baik berarti mendengarkan secara aktif tidak hanya
mendengarkan apa yang diucapkan, tetapi juga memperhatikan bahasa
tubuhnya. Yang penting adalah usahakan untuk menunjukan empati
dapat memahami perasaan atau situasi yang dihadapi anak. Dorong
anak supaya mau mencurahkan isi hatinya. Yakinkan anak bahwa anda
mendengar
dan
memahaminya
dengan
mengulang
apa
yang
dikatakannya dan rumuskan kembali pernyataan anak.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
39
2. Tanggapi secara bijak tanggapan yang bijaksana, penuh empati, dan
jauhdari kesan menginterogasi, akan mendorong anak untuk lebih
terbuka. Jangan menaggapi cerita secara emosional dan terburu-buru
memberi komentar dan saran, apalagi kalau sampai memarahinya.
3. Jangan terlalu melindungi ajarkan pada anak untuk mengatasi
masalahnya sendiri. Sikap selalu melindungi akan membuat terus
bergantung dan kurang mengembangkan kemampuan untuk bersikap
yang tepat bila menghadapi kejadian serupa. Berikan pertanyaanpertanyaan yang membimbing dan alternatif tindakan yang dapat
diambilnya, misalnya dengan mengatakan “menurutmu, sebenarnya
kamu bisa berbuat apa?”.
4. Tumbuhkan percaya diri dan kembangkan kemampuanya anak yang
sering menjadi korban agresifisitas biasanya kurang mempunyai
kepercayaan diri. Ia merasa inferior dibandingkan dengan seorang
agresor sehingga merasa tidak berdaya menghadapinya. Tunjukkan
kepada anak bahwa masing-masing individu memiliki kelebihan dan
kekurangan.
5. Lakukan pengamatan amati setiap perkembangan yang terjadi, tidak
perlu terlibat langsung tetapi perhatikan bagaimana anak berinteraksi
dengan temannya. Sediakan diri menjadi teman untuk mengadu dan
mendapatkan rasa aman untuk mendorongnya dan ajak anak untuk
mengevaluasi keadaan dirinya.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
40
6. Diskusikan dengan guru ada baiknya dari permasalahan yang dihadapi
anak dapat didiskusikan dengan guru atau wali kelasnya apabila
kejadianya disekolah. Mintalah bantuan guru untuk mengamati.
J. Pola Asuh Orang Tua
Pola asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2008) bahwa pola adalah model, sistem, atau cara
kerja. Sedangkan asuh adalah menjaga, merawat, mendidik, membimbing,
membantu, melatih, dan sebagainya Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008).
Gunarsa (2000) mengemukakan bahwa Pola asuh tidak lain merupakan
metode atau cara yang dipilih pendidik dalam mendidik anak-anaknya yang
meliputi bagaimana pendidik memperlakukan anak didiknya. Jadi yang
dimaksud pendidik adalah orang tua terutama ayah dan ibu atau wali.
Casmini (dalam Palupi, 2007) menyebutkan bahwa: Pola asuh sendiri
memiliki definisi bagaimana orang tua memperlakukan anak, mendidik,
membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak dalam mencapai
proses kedewasaan, hingga kepada upaya pembentukan norma-norma yang
diharapkan oleh masyarakat pada umumnya.
Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berhubungan dengan
anaknya. Sikap ini dapat dilihat dari berbagai segi, antara lain dari cara orang
tua memberikan pengaturan kepada anak, cara memberikan hadiah dan
hukuman, cara orang tua menunjukkan otoritas dan cara orang tua
memberikan perhatian, tanggapan terhadap keinginan anak. Dengan demikian
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
41
yang dimaksud dengan pola asuh orang tua adalah bagaimana cara mendidik
anak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Berdasarkan uraian di
atas maka dapat disimpulkan bahwa pola asuh orang tua adalah suatu proses
interaksi antara orang tua dan anak, yang meliputi kegiatan seperti
memelihara, mendidik, membimbing serta mendisplinkan dalam mencapai
proses kedewasaan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Terdapat perbedaan yang berbeda-beda dalam mengelompokkan pola
asuh orang tua dalam mendidik anak, yang antara satu dengan yang lainnya
hampir mempunyai persamaan. Diantaranya sebagai berikut:
Menurut Baumrind (dalam King, 2014) terdapat empat macam pola asuh
yang diberikan orang tua kepada anak yaitu :
1. Pola asuh otoriter.
Dalam pola asuh ini, semua tingkah laku, pengambilan keputusan,
dan cara berpikir anak diatur oleh orang tua. Orang tua memiliki kendali
penuh terhadap segala aspek kehidupan anaknya. Dalam menyampaikan
keinginannya, orang tua cenderung memaksa, memerintah, memberi
ancaman, dan menghukum. Dalam pola asuh ini sedikit sekali komunikasi
secara verbal. Komunikasi yang terjadi hanya bersifat satu arah. Orang tua
tidak lagi memberi pertimbangan terhadap pendapat anaknya.
Dampak pola asuh otoriter terhadap kepribadian anak. Baumrind
(dikutip dalam King, 2014) menyatakan bahwa pola asuh ini akan
membentuk anak yang pendiam, tertutup, sulit berinteraksi sosial, dan
cenderung menarik diri dari kehidupan sosial. Selain itu, anak juga akan
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
42
menjadi penakut, mudah tersinggung, pemurung, dan mudah stress. Dalam
berinteraksi sosial anak akan terlihat kurang memiliki inisiatif untuk
melakukan sesuatu dan mudah dipengaruhi (tidak memiliki pendirian yang
kuat). Anak juga bisa memiliki sikap yang suka menentang, memberontak,
dan tidak mau mematuhi peraturan.
2. Pola asuh otoritatif.
Dalam pola asuh ini orang tua mendorong anak untuk bersikap
mandiri, tetapi orang tua masih memberikan kontrol terhadap perilaku
anak. Anak diperbolehkan untuk mengemukakan pendapatnya. Orang tua
menanamkan nilai-nilai yang berlaku dengan cara yang lebih hangat.
Dalam menanamkan nilai, orang tua akan menjelaskan dampak-dampak
secara rasional dari suatu perbuatan yang dilakukan oleh anak.
Komunikasi antara orang tua dan anak bersifata dua arah. Kepentingan
anak menjadi prioritas utama orang tua, tetapi masih dikontrol dalam
pemberian kebebasan anaknya.
Dampak pola asuh otoritatif terhadap kepribadian anak. Dengan
pengasuhan yang hangat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang
bersahabat. Selain itu, motivasi dan komunikasi yang dilakukan oleh orang
tua akan mendorong anak untuk bersikap percaya diri, bertanggung jawab,
kooperatif, dan mampu mengontrol diri. Anak juga akan cenderung
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan memiliki orientasi terhadap
prestasi (Baumrind, dikutip dalam King, 2014).
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
43
3. Pola asuh penelantar.
Orang tua yang mengasuh anaknya dengan tipe ini akan cenderung
tidak terlibat dalam kehidupan anaknya. Orang tua tidak peduli dengan apa
yang dilakukan oleh anaknya. Dalam membesarkan anaknya, orang tua
tidak memberikan kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan fisik yang
cukup.
Dampak pola asuh penelantar terhadap kepribadian anak. Oleh
karena tidak merasa dipedulikan atau diurus, anak akan beranggapan
bahwa orang tua memiliki hal lain yang lebih penting daripada dirinya.
Selain itu, anak akan merasa kekurangan kasih sayang. Hal tersebut akan
membuat anak cenderung memiliki sikap yang kurang mandiri dan kurang
bisa mengontrol dirinya. Anak cenderung memiliki tempramen yang
lemah, agresif, kurang bertanggung jawab, memiliki self esteem yang
rendah, dan sering bermasalah dalam melakukan interaksi sosial
(Baumrind, dikutip dalam King, 2014).
4. Pola asuh permisif.
Orang tua memberikan kebebasan yang besar kepada anaknya (anak
bebas melakukan apa yang diinginkannya). Kebebasan diberikan dengan
batasan-batasan yang sangat sedikit. Dengan kata lain, kontrol orang tua
terhadap perilaku anak sangat sedikit. Akan tetapi, orang tua masih terlibat
dalam aspek-aspek kehidupan anaknya. Orang tua cenderung tidak
menegur anaknya jika anaknya melakukan perbuatan yang salah.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
44
Dampak pola asuh permisif terhadap kepribadian anak. Menurut
Baumrind (dikutip dalam King, 2014), anak yang diberikan kebebasan
yang berlebihan oleh orang tuanya cenderung tumbuh dengan kepribadian
yang kurang bisa menghargai orang lain. Selain itu, anak juga menjadi
manja, tidak patuh, agresif, dan mau menang sendiri. Anak kurang
memiliki rasa percaya diri dan pengendalian diri yang cukup. Anak juga
kurang matang secara sosial. Prestasi pun tidak mendapat perhatian yang
cukup dari anak dengan orang tua yang permisif. Anak juga cenderung
memiliki tingkat inisiatif yang tinggi tetapi anak menuntut agar semua
permohonannya dikabulkan.
Pola ini ditandai dengan sikap acuh tak acuh orang tua terhadap anaknya.
Dari berbagai macam bentuk pola asuh di atas pada intinya hampir sama.
Misalnya saja antara pola asuh parent oriented, authoritarian, otoriter,
semuanya menekankan pada sikap kekuasaan, kedisiplinan dan kepatuhan
yang berlebihan. Demikian pula halnya dengan pola asuh authoritative atau
demokratis menekankan sikap terbuka dari orang tua terhadap anak.
Sedangkan pola asuh neglectful, indulgent, children centered, permisif dan
laissez faire orang tua cenderung membiarkan atau tanpa ikut campur, bebas,
acuh tak acuh, apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua, orang
tua menuruti segala kemauan anak.
Menurut Erik Erikcson (2009) Salah satu aspek penting dalam hubungan
orang tua dan anak adalah pola asuh. Pola asuh bertujuan untuk
mempertahankan kehidupan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya,
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
45
memfasilitasi anak untuk mengembangkan kemampuan sejalan dengan
tahapan perkembangan dan mendorong peningkatan kemampuan berperilaku
sesuai dengan nilai agama danbudaya yang diyakini. Ada 3 bentuk pola asuh
orang tua:
1. Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi
dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Orang tua
yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri-ciri bersifat kaku,
tegas, suka menghukum dan kurang kasih sayang. Orang tua memaksa
anak-anak untuk patuh terhadap nilai-nilai dan peraturan mereka. Dalam
memberikan peraturan itu tidak ada usaha untuk menjelaskan kepada anak
mengapa ia harus patuh pada peraturan itu. Anak dari orang tua yang
otoriter cenderung bersifat curiga pada orang lain dan merasa tidak
bahagia dengan dirinya sendiri merasa canggung berhubungan dengan
teman sebaya, canggung menyesuaikan diri pada awal masuk sekolah dan
memiliki prestasi belajar yang rendah dibandingkan dengan anak-anak
lain. Anak cenderung agresif, impulsive, pemurung dan kurang mampu
konsentrasi.
2. Pola asuh demokratis
Pola asuh demokratis adalah salah satu gaya pengasuhan yang
memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah laku anak-anak,
tetapi mereka juga bersikap responsif. Orang tua yang demokratis
memandang sama kewajiban dan hak antara anak dan orang tua. Secara
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
46
bertahap orang tua memberikan tanggung jawab bagi anak anaknya
terhadap segala sesuatu yang diperbuatnya sampai mereka dewasa. Orang
tua yang demokratis memperlakukan anak sesuai dengan tingkat-tingkat
perkembangan anak dan dapat memperhatikan serta mempertimbangkan
keinginan anak. Pola asuh yang ideal atau pola asuh yang baik adalah pola
asuh demokratis dimana anak mempunyai hak untuk mengetahui mengapa
peraturan-peraturan dibuat dan memperoleh kesempatan mengemukakan
pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan itu tidak adil.
Dampak perkembangan psikologi anak dengan pola asuh demokratis yaitu
rasa harga diri yang tinggi, memiliki moral yang standar, kematangan
psikologisosial,
kemandirian
dan
mampu
bergaul
dengan
teman
sebayanya.
3. Pola asuh permisif
Pola asuh yang permisif, anak dituntut sedikit sekali tanggung jawab
tetapi mempunyai hak yang sama seperti orang dewasa. Anak diberi
kebebasan untuk mengatur dirinya sendiri dan orang tua tidak banyak
mengatur anaknya. Dalam pola asuh ini diasosiasikan dengan kurangnya
kemampuan pengendalian diri anak karena orang tua yang cenderung
membiarkan anak mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan dan
akibatnya anak selalu mengharap semua keinginannya dituruti. Dalam
pola asuh permisif, bimbingan terhadap anak kurang dan semua keputusan
lebih banyak dibuat oleh anak daripada orang tuanya. Dalam pola asuh ini,
sikap acceptance orang tua tinggi namun tingkat kontrolnya rendah.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
47
Dampak perkembangan terhadap psikologi anak yaitu kurang percaya
diri, pengendalian diri buruk,rasa harga diri yang rendah.
K. Faktor Lingkungan Sekolah
1. Pengertian Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan pendidikan formal, karena pendidikan tersebut
diselenggarakan dalam secara terstruktur, berjenjang, dan diselenggarakan
sesuai dengan peraturan-peraturan pemerintah sebagaimana dijelaskan
dalam undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pasal 1 yang berbunyi pendidikan nasional adalah jalur
pendidikan yang berstruktur dan berjenjang, yang terdiri atas pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi, mengenai pengertian
sekolah ada beberapa ahli yang mengungkapkan tentang pengertian
sekolah.
Lingkungan sekolah yang aman dan tertib, optimis dan harapan yang
tinggi dari warga sekolah, kesehatan sekolah dan kegiatan-kegiatan yang
berpusat pada siswa merupakan iklim sekolah yang dapat menumbuhkan
semangat belajar siswa. Slameto (2003). Lingkungan belajar di sekolah
merupakan situasi yang turut serta mempengaruhi kegiatan belajar
individu.
2. Faktor-faktor Lingkungan Sekolah
Sebagaimana halnya dengan keluarga dan institusi sosial lainya,
sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
48
sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada
anak, sekolah merupakan suatu sistem sosial yang mempunyai organisasi
dan pola relasi sosial diantara para anggota yang unik. Ini kita sebut
dengan kebudayaan sekolah. (Slameto, 2010).
Lingkungan belajar di sekolah merupakan situasi yang turut serta
mempengaruhi kegiatan individu menurut Slameto (2010) faktor-faktor
sekolah yang mempengaruhi belajar antara lain:
a. Metode Mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara/jalan yang harus dilalui di dalam
mengajar. Metode mengajar yang kurang baik dapat mempengaruhi
belajar siswa yang tidak baik pula. Demikian sebaliknya. Oleh sebab
itu agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus
diusahakan yang setepat, efisien, dan efektif mungkin.
b. Kurikulum
Kurikulum adalah sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa.
Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar
siswa menerima, menguasai dan mengembangkan pelajaran itu.
Jelaslah bahan pelajaran itu mempengaruhi belajar siswa.
c. Relasi guru dengan siswa
Guru yang relasi dengan siswa baik, maka siswa akan menyukai
gurunya, juga suka mata pelajarannya, sedangkan guru yang kurang
berinteraksi dengan siswa secara akrab, menyebabkan proses belajar
mengajar itu kurang lancar.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
49
d. Relasi siswa dengan siswa
Relasi siswa yang satu dengan siwa yang lain juga akan mempengaruhi
belajar. Relasi yang baik akan memberikan pengaruh positif terhadap
belajar siswa.
e. Disiplin sekolah
Agar siswa belajar lebih maju, siswa harus disiplin di dalam belajar
baik di sekolah, di rumah dan di perpustakaan. Agar siswa disiplin
haruslah guru beserta staf yang lain disiplin.
f. Alat Pelajaran
Mengusahakan alat pelajaran yang baik dan lengkap adalah perlu agar
guru dapat mengajar dengan baik, sehingga siswa dapat menerima
pelajaran dengan baik serta dapat belajar dengan baik pula.
g. Waktu Sekolah
Yaitu waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah, waktu
dapat pagi hari, siang, sore/malam hari. Di mana siswa melakasanakan
pembelajaran di sekolah, biasanya dilakukan pada pagi sampai dengan
siang hari.
h. Standar pelajaran di atas ukuran
Guru yang menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan
kemampuan siswa masing-masing yang penting tujuan yang telah
dirumuskan dapat tercapai.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
50
i. Keadaan gedung sekolah
Dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi karakteristik mereka
masing-masing menuntut keadaan gedung harus memadai di dalam
setiap kelas.
j. Metode Belajar
Banyak siswa melaksanakan cara belajar yang salah. Dalam hal perlu
pembinaan dari guru. Maka perlu belajar setiap hari secara teratur,
membagi waktu dengan baik, memilih cara belajar dengan tepat dan
cukup istirahat dapat meningkatkan hasil belajar.
k. Tugas rumah Waktu belajar terutama adalah di sekolah, di samping
untuk belajar waktu di rumah biarlah digunakan untuk kegiatan yang
lain. Maka diharapkan guru jangan terlalu banyak memberi tugas yang
harus dikerjakan di rumah, sehingga mereka tidak jenuh dengan
kegiatan belajarnya dan anak masih mempunyai waktu yang dapat
digunakan untuk kegiatan yang lain.
Menurut Syah (2005), lingkungan sekolah terdiri dari dua macam,
yaitu lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Lingkungan sosial
sekolah seperti para guru, para tenaga pendidikan, dan teman sekelas.
Lingkungan nonsosial sekolah meliputi gedung sekolah, alat-alat belajar,
cuaca, dan sebagainya. Menurut Syaodih (2009) lingkungan sekolah
meliputi:
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
51
a. Lingkungan fisik seperti sarana dan prasarana belajar, sumber-sumber
belajar dan media belajar.
b. Lingkungan sosial menyangkut hubungan siswa dengan teman
temanya, guru-gurunya dan staf yang lain.
c. Lingkungan akademis yaitu suasana sekolah, pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar dan kegiatan ekstra kulikuler. Berdasarkan uraian di
atas, maka indikator lingkungan sekolah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Keadaan gedung sekolah
2. Metode mengajar
3. Relasi siswa dengan siswa
4. Relasi guru dengan siswa
5. Disiplin sekolah
Pengambilan 5 indikator dari 6 indikator didasarkan dari
pertimbangan jumlah indikator yang disesuaikan dengan kemampuan
peneliti dan waktu pelaksanaan penelitian. Pemilihan indikator dari teori
Slameto tersebut disederhanakan agar mudah dijabarkan, mudah
dimengerti dan mempunyai maksud yang hampir sama dengan indikator
dari teori lain yakni teori Syaodih.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
52
L. Kerangka Teori Penelitian
Kerangka teori dalam penelitian ini disusun dari berbagai sumber yaitu
Sukmadinata (2004), Erikcson (2009). Kerangka teori dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut:
Pola asuh orang tua
 Pola asuh otoriter
 Pola asuh demokratis
 Pola asuh permisif
Penyebab perilaku agresif:
Factor lingkungan sekolah
 Lingkungan fisik
 Lingkungan social
 Lingkungan akademik






Factor psikologis
Factor social
Factor lingkungan
Factor situasional
Factor biologis
Factor genetik
Tahap perkembangan anak








Percaya vs tidak percaya
Otonomi vs Ragu-ragu/Malu
Inisiatif vs Merasa Bersalah
Industri vs Inferior
Identitas vs Bingung Peran
Intimasi vs Isolasi
Generativitas vs Stagnasi
Integritas vs Putus Asa
Ciri-ciri perlaku agresif:
 Perilaku menyerang
 Perilaku menyakiti
 Perilaku yang tidak di
inginkan orang lain
 Perilaku melanggar
norma-norma social
 Sikap bermusuhan
terhadap orang lain
 Perilaku agresif yang di
pelajari
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
53
M. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep merupakan focus penelitian yang akan diteliti,
kerangka konsep ini meliputi variable bebas (independen) dan variable terikat
(dependen). Kerangka konsep dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Variable independen
Variable
dependen
Ciri-ciri perlaku agresif:
Pola asuh orang tua

Pola asuh otoriter
 Perilaku menyerang

Pola asuh demokratis
 Perilaku menyakiti

Pola asuh permisif
 Perilaku yang tidak di
inginkan orang lain
 Perilaku melanggar
Factor lingkungan sekolah
 Lingkungan fisik
norma-norma sosial
 Sikap bermusuhan
terhadap orang lain
 Lingkungan social
 Lingkungan akademik
 Perilaku agresif yang di
pelajari

N. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep diatas, maka peneliti
menggunakan hipotesis kerja dalam penelitian yaitu ada hubungan antara pola
asuh orang tua dan faktor lingkungan sekolah terhadap perilaku agresif pada
anak usia sekolah.
Hubungan Pola Asuh..., Itsna Maftuhatul Hammi, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2017
Download